Apa-apaan tadi? Yang barusan terjadi tentu saja membuat hati manisnya bergetar tak mau kalah. Sepanjang lorong menuju kelas, Katsuki terus memikirkan itu, soal Aiko yang secara illegal menjabat tangannya, menyentuh permukaan kulit hangatnya hingga membuat ia salah tingkah bukan main. Entah bagaimana, mau tak mau, ia terus memikirkan soal Aiko meski sudah membuangnya jauh-jauh seperti sedang meniup gelembung sabun.

Sejak awal mereka bertukar tatap, Katsuki sudah terseret oleh pesona yang memabukan, terlena dan menjadi mabuk akibat pesona yang tak bisa dia gambarkan oleh ucapan.

sepertinya ia pertama kali merasakan hal terkesan manis seperti itu, meski menolak atas apa yang terjadi padanya, ia sebenarnya menjadi ketagihan, ingin merasakannya sekali lagi dan bertemu lagi. Ah, hatinya sudah memilih siapa yang akan menempati dalam beberapa saat.

Ketika tiba di pintu masuk Kelas, Izuku melirik sejenak, sebuah lirikan yang membuat hati dan pikirannya bertanya tentang apa yang terjadi. Ada sesuatu yang salah, ya, ia menemukan sesuatu yang tak biasa dari bola mata Katsuki. Izuku tak begitu tahu apa itu, catatannya tidak menjelaskan apapun tentang sifat teman masa kecilnya yang sangat janggal.

Merasa diperhatikan, Katsuki memalingkan padangan pada Izuku, sempat menatap sinis si Ketua Kelas dan Kirishima yang sedang bergosip. Mungkin ia merasakan jika teman-temannya sedang memperhatikan.

Rahangnya menengang, ia bersiap untuk berteriak. "APA?!" bentak Katsuki begitu.

Izuku dan Kirishima langsung membuang wajah dan sedikit lega karena tidak ada hal istimewa yang menimpa Bakugo Katsuki. Mereka merasa melihat Bakugo Katsuki yang seperti biasanya, kasar, tukang teriak, segalanya melayang dan jutek.

Si empunya duduk, pura-pura membaca buku, merasa sedikit salah tingkah, sembari mendengarkan lagu. Hal yang tak biasa ia lakukan, itupun ia lakukan setelah menjarah earphone dari Shidou.

Lagu yang berputar adalah lagu bertema Cinta Pertama, entah bagaimana itu langsung terputar begitu saja seperti di sengaja.

Dalam lamunan panjang yang berarti, Katsuki bergumam. Suara kecil yang keluar dari mulutnya adalah sebuah kejujuran, lirik lagu dan beberapa rapalan doa juga harapan-harapan kecil.

Aku hanya berharap kalau kita akan sekelas. Aku hanya meminta itu...

"Kacchan..."

"Hmm..."

"Kau agak aneh, apa ada masalah?"

"Apa urusanmu, HAH!?"

Izuku bergidik ngeri, ia berkeringat berlebihan dan melakukan gerakan-gerakan aneh, gertakan Katsuki membuat nyalinya menciut. Sebenarnya Izuku tak mau bertanya, tapi ada hal lain yang mengganjal dalam benak, sesuatu yang sulit ia jelaskan dengan kata-kata, kalimat maupun sebuah paragraf yang menjual.

Katsuki mengerling, berhenti mendengarkan musik dan sedikit penasaran. "Kenapa?" Suaranya agak sedikit pelan. Sesuatu yang tak biasa.

Izuku yang masih ketakutan dalam panik, langsung menyambar. "Tadi pagi aku melihatmu jalan bareng perempuan."

Seketika itu, wajah Katsuki berubah drastis. Ia merasa tak enak badan, wajahnya memucat pasi, bukan rona merah seperti ketika bertemu gadis itu, seperti sihir beberapa jam lalu. Ia menjadi sangat, sangat tak nyaman, meski Katsuki tak dapat menjelaskan bagaimana itu bisa terjadi.

"K-Kau mungkin salah lihat, Deku!"

"Tidak. Aku melihatmu jalan dengan Tenshouin-san."

Bagaimana mungkin mereka bisa saling kenal? Itu hal pertama yang Katsuki tanya, dalam benaknya dan tersimpan di dalam otak. Terlalu gengsi untuk bertanya bagaimana Izuku bisa kenal gadis semenarik Tenshouin Aiko, ia benar-benar tak percaya dengan hal itu. Bukannya mau meledek, Aiko adalah seseorang yang lain, berbeda dengan lainnya.

"Kenal dia?" Tapi pada akhirnya dia bertanya begitu, membuat Katsuki bingung sendiri.

"Tentu saja, dia 'kan tetanggaku. Dia anak pindahan, tadinya kami berangkat bersama. Tapi dia tiba-tiba hilang! Kupikir dia tersesat, lalu aku melihat dia bersamamu, Kacchan.."

"Uh..."

"Kau tampak tidak nyaman, Kacchan. Apakah Tenshouin-san mengatakan hal aneh padamu? Maafkan dia..."

"Bukan itu, Bodoh!"

"Apa?"

"...Line. Kau punya akun Linenya Tenshouin?"

Mulai saat itu, mungkin Katsuki tidak akan bersikap kasar lagi.

...khususnya pada Midoriya Izuku.

.

.

Gadis itu tak terlihat! Padahal, Katsuki sudah bulak-balik di sepanjang koridor, tapi ia tak melihat Aiko. Ia bahkan melewatkan makan siang dan kabur ketika Izuku memanggil-manggil dengan riang, sekarang kepalanya menjadi pusing dan dia kelaparan karena belum makan. Padahal ia membawa Bento dari rumah. Tentu saja nanti akan menjadi amukan sang Ibu jika melihat Katsuki tidak menyentuh si Bento itu!

"Sial, kau di mana sih?"

Perutnya bergemerisik, pertanda bahwa Katsuki kelaparan, ia merasa bahwa jatuh cinta membuat dirinya terlihat kurang masuk akal, perasaannya bergejolak antara menolak dan pergi makan atau membuat kebohongan jika bertemu Aiko. Katsuki akan mengajaknya makan siang dan mungkin pulang bersama. Itupun jika ia sanggup mengatakannya.

Pasti rasanya sulit berada di dekat orang yang kau suka, bukan? Tentu saja! Apalagi perutmu sudah kelaparan! Pasti akan canggung sekali. Sekarang Katsuki merasa sangat tidak berguna sama sekali, seharusnya ia makan siang dulu dan mencari Aiko... tapi kenapa nalarnya berkata lain, ya?

Tentu saja Aiko sedang ada di Ruang Guru, mengerjakan test masuk atau melakuan hal-hal sama yang pernah Katsuki lakukan sebelum masuk Sekolah ini. Sekolah ini menjadi sangat ketat peraturannya, semenjak ada kejadian-kejadian aneh diluaran sana. Katsuki tidak sedang memikirkan kejadian aneh itu, tapi belakangan ini di kotanya sering terjadi kerusuhan aneh yang menganggu.

"Eh, kita bertemu lagi..."

"Eh?"

Seketika itu juga waktu berhenti, seolah Tuhan memustuskan kehendak-Nya untuk membuat situasi manis. Pertemuan kedua antara Katsuki dengan Aiko, dalam jalur yang sama, tatapan mata yang terkoneksi bagai sedang berdansa, bersama dengan lagu musim semi beromansa manis yang menggema di atmosfer.

Aiko ada di sana, tersenyum manis bagai Ratu Sejagat. Bola matanya menerawang penasaran, jatuh pada sosok Katsuki yang beridiri canggung karena doa yang ia rapalkan sepertinya terkabulkan dengan kemudahan.

"Wah, kebetulan sekali Bakugo-kun, aku ingin memintamu jalan-jalan di Sekolah. Apa kau sudah makan sebelumnya?"

Tapi waktu itu Bakugo Katsuki cuma diam seperti patung. Itu terjadi setelah ia melihat buku catatan Aiko. Tertulis nama dan keterangan yang sama, dalam hati ia ingin sekali berteriak, kemudian berkata...

Ah, kita Sekelas!

.

.

A/N : Hallo, lama gak ketemu. Terima kasih buat teman-teman yang sudah menyempatkan diri main kesini dan maaf updatenya lama, akhir-akhir ini aku sibuk banget dan kalau libur cuma nonton TV, baca novel, main game aja, hahaha. Oh iya, aku tau kalau Bakugo disini OOC banget, seperti yang aku bilang di chap dulu tapi aku harap kalian gak terganggu. Thanks all, love you.