Last chapter

"Kau harus segera ke ruang kesehatan." Ucapnya yang masih setia menatap Hyera.

"Ruang kesehatan tutup hari ini." Jimin teringat ruangan itu selalu tertutup jika ada kegiatan seperti ini.

"Jadi? Ke rumah sakit?" Jungkook menatap teman-temannya bingung.

"Ini tidak parah. Aku hanya terkilir, teman-teman. Jadi jangan masalah."

"Ah, aku ingat!" Hoseok melempar botol yang sudah kosong itu sembarangan lalu berlari. "Seokjin, gendong dia ke kelas!"


Chapter 6

Seokjin benar-benar menggendong gadis itu sampai ke kelas mereka di lantai dua lalu mendudukkannya di atas meja. Sedangkan penyuruhnya, Jung Hoseok sedang sibuk membongkar isi tasnya.

"Aku hanya membawa salep. Setidaknya cukup untuk mengurangi sakitnya." Hoseok mengeluarkan sebotol salep yang dimaksudnya.

Taehyung sibuk membuka sepatu dan kaos kaki milik Hyera lalu membantu gadis itu menaikkan kakinya ke atas meja.

"Aku ada perban untuk bermain basket." Yoongi datang dengan sebuah gulungan perban yang baru saja diambilnya dari tas.

"Tidak masalah. Setidaknya bisa untuk menutupi memarnya." Seokjin mengoleskan salep milik Hoseok ke pergelangan kaki Hyera. "Aku tidak bisa menggunakan perban."

"Biar aku saja." Yoongi melangkah maju, menggantikan posisi Seokjin yang sudah bergeser. Tangannya dengan lihai membalut kaki itu dengan perban miliknya sampai selesai.

"Kalian bertiga, cepat ke lapangan. Basket akan dimulai 15 menit lagi." Teriakan Jimin berhasil mengalihkan perhatian Namjoon, Taehyung dan Yoongi secara bersamaan. Membuat ketiga orang itu langsung mengambil tas mereka lalu berlari keluar kelas.

"Pastikan dia tidak bergerak dulu!" Amanat Namjoon sebelum benar-benar pergi.

"Aku ingin menonton mereka."

"Tidak!"

Bukan satu orang yang menjawab, tapi keempat temannya yang tersisa.

"Kenapa kalian kompak sekali?"

"Kau, kakimu sedang terluka."

"Hanya memar, Kook."

"Tetap saja cedera."

"Tidak parah, Jim."

"Ingin patah?"

"Kau ingin mendoakanku ya, Jung?"

"Berjalan saja sulit."

"Bantu aku, Jin."


Keputusan terakhir. Lima orang itu tidak menonton pertandingan three on three karena harus mencegah salah satu dari mereka untuk bergerak. Tampaknya keempat orang itu sangat mendengarkan pesan Namjoon dengan baik dan mengabaikan protesan dari Hyera.

"Oh, karena aku kalah, kalian tidak perlu datang besok."

"Kau mengatakan apa?"

"Tentang taruhan tadi. Aku kalah lomba lari jadi kalian tidak perlu datang ke rumahku untuk latihan tapi pastikan kalian menang."

Keempatnya terdiam.


Basket three on three adalah pertandingan terakhir hari ini. Hasil akhir dimenangkan kelas 2-F, tentu saja. Seluruh murid sudah membubarkan diri dan tidak terkecuali delapan orang yang sedang berdiri di parkiran itu. Setelah berdebat panjang soal siapa yang mengantar Hyera, maka mereka memutuskan untuk segera bubar. Jungkook yang bertanggungjawab untuk mengantar Hyera ke rumahnya walaupun diiringi penolakan oleh si penerima, namun ketujuh orang itu selalu punya cara untuk memutar otak mereka dengan baik.


Hyera tidak melakukan apa-apa hari ini selain duduk di kasurnya sambil menulis sesuatu di buku catatannya. Ah, jangan lupakan earphone yang terpasang di kedua telinganya. Keadaan kakinya cukup menyakitkan jika dibawa bergerak, ditambah lagi Daniel tidak ada di rumah dan membuatnya harus melewatkan sarapan pagi seperti sekarang. Terkumpul sudah alasan-alasan untuknya bermalas-malasan hari ini. Untung saja teman sekelasnya sepakat untuk menghadiri sekolah hari ini, mengingat masih ada beberapa perlombaan yang dilaksanakan.

Hyera harus menghentikan kegiatannya ketika merasa ponselnya berdering. Tanpa melepaskan earphone-nya, dia langsung menggeser tombol hijau yang tertera di layar ponselnya.

"Apa?" tanyanya diiringi dengusan kesal ketika menyadari siapa yang baru saja menelponnya.

"Kau dimana? Aku di depan rumahmu bersama Yoongi dan Taehyung. Kami pikir kau sudah tidak bernafas lagi."

Refleks Hyera beranjak dari kasurnya, melangkah menuju balkon kamarnya. Sepertinya dia lupa dengan keadaan kakinya. Dari balkonnya, dia dapat melihat tiga orang sedang berdiri di depan pintu utama rumahnya. Gadis itu mematikan teleponnya lalu berteriak.

"Masuk saja. Pintunya tidak berkunci! Aku tidak bisa turun ke bawah."

Hoseok, Taehyung dan Yoongi menoleh ke sumber suara. Sedikit terkejut ketika melihat teman sekelas mereka sudah berdiri di depan pagar balkon dengan satu kaki yang bertumpu di pagar. Mereka saling bertatapan selama beberapa saat lalu melangkah masuk ke dalam rumah setelah Hoseok membuka pintu.

"Akh." Hyera meringis ketika menyadari kakinya sudah memprotes kesakitan. "Aku bahkan lupa dengan keadaan kakinya."

Perlahan, Hyera melangkah masuk kembali ke kamarnya. Bukan menuju kasur tapi pintu. Dia sempat berpikir untuk menyuruh salah satu dari ketiga temannya masuk untuk menggendongnya sampai ke bawah. Namun urung jika mengingat salahnya juga yang meladeni Seojung dan teman-temannya kemarin.

Terlalu sibuk dengan ingatannya, Hyera baru tersadar jika sedari tadi ada yang mengetuk pintu kamarnya.

"Hyer, kau masih bernafaskan? Kau tidak loncat dari balkon, 'kan?"

Hyera sangat mengenal suara manusia yang baru-baru ini mengecat rambutnya menjadi hitam.

Pintu terbuka perlahan, menampakkan Hoseok sudah berdiri di depan pintu kamar sambil menelisik ke dalam kamar.

"Hyer?"

"Ah, syukurlah kau disini."

"Oh." Hoseok tersadar jika Hyera sudah berdiri di tengah ruangan. "Ayo ke bawah!"

"Kebetulan sekali. Gendong aku!"

Hoseok mendengus kesal. Dia teringat bagaimana Yoongi mendorong tubuhnya untuk menyusul Hyera di kamar. "Aish, coba saja aku tidak menuruti Yoongi." Walaupun menggerutu, dia tetap saja datang menghampiri Hyera, berjongkok di hadapan gadis itu dan membiarkannya menaiki punggungnya.

"Terima kasih, Jung. Setelah ini aku akan memaafkan semua kesalahanmu."


Apa yang Hyera lihat saat ini adalah suatu pemandangan yang benar-benar tidak diduganya. Dia sempat berpikir, berapa lama waktunya di kamar tepat saat tiga temannya datang ke rumah. Kemudian, ketika Hoseok sudah menurunkannya dari punggung si pemuda Jung itu, Hyera harus melihat empat orang yang harusnya, dia pikir, tidak harus berada disana.

Dia dapat melihat Seokjin dan Yoongi yang sedang melakukan sesuatu di dapur, Jungkook sedang bermain gitar yang dibawanya, Jimin sedang melakukan gerakan-gerakan di depan pintu utama, Taehyung sedang membaca komik dan Namjoon yang tampak sibuk dengan ponselnya.

Hyera bingung. Dia ingat sekali jika mereka semua sedang libur akan tugas kelompok jadi apa tujuan tujuh orang itu datang ke rumahnya dengan kompak?

"Jadi, kenapa kalian disini?"

Namjoon yang berbaring langsung bangun dari posisinya dan duduk dengan kaki yang bersilang di atas sofa. "Kau bilang kita akan latihan hari ini. Makanya kami datang."

"Latihan?"

Hoseok merangkul pundak teman perempuannya itu. "Latihan untuk festival seni. Jangan bilang kau lupa?!"

"Tunggu!" Hyera mengangkat tangannya tidak paham, membuatnya menjadi objek yang diperhatikan oleh tujuh orang itu. "Hei, aku kalah kemarin, oke? Bukannya itu kesepakatannya?"

"Apa kami bilang setuju?"

"Benar kata Seokjin. Kami sama sekali tidak menjawab bahkan mengiyakan keputusan anehmu itu." Jungkook sudah menyimpan gitarnya dan mengalihkan fokus pada Hyera. "Apa otakmu juga terbentur?"

Hyera masih diam. Dia berusaha mencerna setiap kalimat yang disampaikan oleh teman-temannya satu persatu. Tunggu, apa kepalanya benar-benar membentur sesuatu?

"Cukup kakimu saja yang cedera. Jangan otakmu juga, oke?" Jimin sudah bersandar di salah satu pilar rumah sambil memainkan ponselnya. "Jadi? Kau bilang menemukan lagu yang pas untuk mereka berlima?"

"Ah, umm. Aku menyimpannya di ruang musik." Hyera masih diselimuti rasa bingung namun kakinya tetap melangkah menuju sebuah ruangan di samping tangga.

Dengan langkah yang tertatih diiringi ringisan, dia membuka pintu tersebut dan membuat aroma vanila menyambut mereka. Semuanya sudah berdiri di belakang gadis itu dengan mulut yang mengaggumi ruangan bergaya klasik itu.

Sebuah rak besar berwarna cokelat yang dipenuhi buku, lukisan beethoven dan mozart tidak ketinggalan memenuhi dinding. Karpet bulu dengan gambar not-not lagu. Sebuah meja dengan lembaran kertas musik. Sebuah grand piano putih yang menghadap jendela. Berbagai hal menarik menyambut mereka.

"Kita bisa gunakan ini untuk latihan."

"Wah, aku tidak tahu ada ruangan seperti ini di rumahmu." Seokjin masih menatap kagum setiap detail ruangan.

"Ibuku sangat menyukai musik klasik dan piano. Jadi inilah ruangan favoritnya." Hyera menatap Hoseok dan Jimin yang sedang menghadap lukisan Beethoven dan Mozart yang terpajang pada dinding di hadapan mereka. Ah, mereka bahkan mengedarkan pandangan ke sisi lainnya dimana kumpulan lukisan komponis musik terkenal lainnya terpajang, seperti Sebastian Bach, Chopin, sampai Schubert. "Maaf, aku tidak bisa membuat gerakannya tapi aku punya beberapa rekomendasi musik yang mungkin sesuai."

"Hoseok dan Jimin sudah membuat beberapa koreografi. Jadi kau tidak perlu khawatir." Jungkook menepuk pundak Jimin sambil tersenyum.

"Lalu, bagaimana dengan kami?"

Suara Namjoon mengudara, membuat Hyera tersadar untuk mengambil beberapa lembar kertas yang terletak di atas meja. "Aku sedang tertarik dengan piano baru-baru ini, jadi aku menyiapkan dua lagu yang aku pikir pas." Tangannya terulur untuk membagikan kertas-kertas yang diambilnya kelima temannya yang tersisa. "Yoongi, Seokjin dan Jungkook akan membawakan lagu So Far Away dari Suga, lalu kalian berdua, hmm, 4 O'clock dari RM dan V. Aku rasa lagu itu pas untuk kalian."

"Kau?"

Seruan Taehyung mengundang senyum tipis dari Hyera. "Pengiring kau dan Namjoon. Aku ingin bermain piano."

"Sepertinya ini akan jadi kolaborasi terbaik sepanjang masa."

Hoseok selalu tahu apa yang dipikirkan oleh Hyera dan membuat gadis itu bertepuk tiga kali untuk menyemangati ketujuh temannya. "Ayo, kita tidak punya waktu yang banyak!"


Kedelapan penghuni kelas Fiapeless itu mulai berlatih. Tidak ada masalah yang kompleks, seperti yang diharapkan Hyera. Terkecuali untuk perdebatan kecil. Misalnya ketidaksesuaian nada antara Seokjin dan Jungkook atau Namjoon yang kesulitan untuk mengatur suaranya dan jangan lupakan Hoseok dan Jimin yang selalu bertengkar hanya karena salah gerakan atau tidak sinkron. Syukurlah, Hyera selalu menjadi penengah dengan memukul kepala kedua orang itu tanpa perasaan.


Mereka berlatih selama beberapa hari yang kemudian dilanjutkan dengan latihan gabungan dengan seluruh teman sekelas mereka. Seongcheol juga mengumumkan urutan yang didapat tim-tim yang akan tampil.

"…Seokjin, Yoongi dan Jungkook berada diurutan sembilan lalu," dia sedikit menjeda kalimatnya untuk melirik tiga orang pemilik nama yang disebutnya sebelum akhirnya melanjutkan. "Setelah itu, Hoseok dan Jimin kemudian kalian bertiga diurutan tigabelas." Terakhir, matanya tertuju pada Hyera dan dua nama yang dimaksudnya.

"Wah, kalian berurutan?" Hyuna bersuara sambil bertepuk singkat.

"Aku menanti kolaborasi yang tidak biasa ini." Sungjae tampak tak mau ketinggalan untuk menambahkan.

"Baiklah. Semuanya sudah selesai. Pastikan besok kalian beristirahat. Kelas Fiapeless pasti bisa!"

Kalimat terakhir itu berhasil mengundang sorakan semangat dari yang lain. Tidak, mereka pasti bisa. Tim olahraga mereka sudah memenangkan beberapa cabang dan dengan segala keyakinan, mereka pasti bisa memberi kejutan yang tak biasa bagi sekolah.


Malam itu sudah dipenuhi antusias dari penonton yang ada. Bukan hanya murid sekolah namun beberapa penonton dari luar sekolah tampak tak mau ketinggalan. Beberapa stan makanan, minuman sampai aksesoris ikut dibuka di sepanjang malam itu.

Tidak terkecuali untuk penghuni kelas 2-F yang tengah berkumpul di koridor yang jauh dari jangkauan orang-orang. Mereka tampak sibuk dengan penampilan, khususnya untuk mereka yang akan tampil.

"Tidak. Aku tidak yakin anak itu akan mengenakan dress." Hoseok sibuk merapikan rambutnya lalu beralih pada sweater abu-abu yang dikenakannya.

"Kau jangan terlalu meremehkan anak itu, Jung." Jimin tampak tak mau ketinggalan, dia beberapa kali menyisir rambutnya ke belakang tanpa sadar dan itu cukup membuat Jungkook jengah karena harus melihatnya berulang kali.

"Aku tidak meremehkan, Park." Hoseok menghentikan aksinya untuk menatap Jimin. "Apa kau lupa bagaimana Hyuna dan yang lain menyeretnya untuk mengenakan dress?"

Jimin mendengus sebelum akhirnya kembali menyahut. "Oh, Jung! Apa kau lupa? Bagaimana anak itu mengejutkan kita semua?"

"A...aaa, aku rasa kalian harus melihatnya sekarang." Seokjin memecahkan perdebatan sambil melemparkan pandangannya ke ujung koridor dimana seorang gadis dengan dress putih selutut sedang menghampiri mereka.

"Sudah aku duga, anak itu selalu mempunyai cara untuk membuat semua orang terkejut." Jimin berujar menang.

"Teman-teman, apa kalian siap?" Seongcheol berseru dengan semangat namun fokusnya teralih pada Hyera yang sudah berdiri di belakangnya. "Wah, Hye! Kau cantik."

Bohong jika Hyera tidak bersemu. Buktinya rona merah sempat mengambil alih warna putih kulitnya yang dipadu dengan bedak tipis.

"Coba saja aku laki-laki, mungkin aku sudah mengajakmu kencan."

"Hye, wah, kau benar-benar diluar dugaan."

"Say thanks pada Hyuna yang sudah berjuang untuk menyeret anak itu melakukan make up."

"Sudah?" Hyera mencibir. "Sebentar lagi akan dimulai. Kita harus berada disana sebelum kata diskriminasi dilakukan kembali."

Pernyataan itu direspon oleh anggukan kompak sebelum akhirnya mereka meninggalkan koridor.


Satu persatu penampilan dari tim-tim sekolah Creighton ditunjukkan. Tanpa terasa sudah giliran Yoongi, Seokjin dan Jungkook. Tiga pemuda itu sudah duduk di kursi di atas panggung. Oh, berhasil mengundang keterkejutan yang mendalam ketika melihat bagaimana seharusnya tiga orang itu tidak akrab satu sama lain.

"Aku tidak percaya Jungkook dan Yoongi ada dalam satu tim."

"Jangan lupakan Seokjin, teman."

"Apa ini? Apa kelas tanpa harapan itu sedang membuat lelucon untuk menghancurkan mereka?"

"Sayang sekali, padahal penampilan Namjoon dan Seokjin adalah yang paling aku tunggu."

"Lihatlah, sejauh apa mereka bisa."

Lampu meredup. Musik dimulai. Satu persatu suara dari tiga orang yang diremehkan itu mengalun di tengah ramainya penonton. Diam-diam mereka ikut terlarut ke dalamnya. Bahkan ketika musik berhenti, suara tepuk tangan memenuhi lapangan sampai berganti pada suara MC yang mengalihkan pada penampilan selanjutnya.

Satu lagi penampilan yang masih diragukan oleh mereka. Hoseok dan Jimin. Dua orang itu cukup mencolok. Tidak seperti yang sebelumnya. Bagaimana persaingan antara dua orang itu sangat jelas di perebutan ranking.

Tatapan remeh terus diberikan sampai dua orang itu mulai bergerak dengan luwesnya. Memberi tanda jika panggung hanya milik mereka malam itu. Musik dengan beat yang bercampur, dance Hoseok yang sangat menakjubkan, sampai gerakan lembut Jimin, sekali lagi, membungkam seluruhnya.

Penampilan terakhir untuk tim deretan belakang. Sekali lagi, penampilan yang sangat diragukan. Namjoon, Taehyung dan Hyera. Dua Kim bersaudara yang sangat bertentangan dan gadis Kang yang terkenal karena memecahkan kaca mobil Pak Tua adalah satu kolaborasi yang sangat diragukan. Hubungan antara mereka adalah hal yang sangat memperkuat rasa ragu yang mendalam. Bahkan dengan dua penampilan sebelumnya, mereka hanya bertanggapan itu sebuah kebetulan.

Lalu bagaimana dengan kebetulan terakhir ini? Tiga kali terjadi kebetulan dalam hal berturut, itu bukan kebetulan, 'kan? Maka, apa mereka masih percaya dengan kebetulan ini?

Hening menyapa ketika nada-nada yang dihasilkan dari tuts piano yang ditekan itu membukam bisikan-bisikan. Suara lembut Taehyung memulai lagu bersamaan dengan jari-jari Hyera yang bermain di atas tuts piano. Tidak mau kalah, Namjoon menyanyikan bagiannya. Seluruh lapangan hening. Bahkan ketika penghuni kelas Fiapeless sepakat untuk bersorak, mereka memilih diam dan larut disana.

Entah sadar atau tidak, para penonton baru saja bertepuk tangan sambil berteriak encore. Bahkan penampilan tim lain sudah tidak terlalu penting bagi mereka. Ah, syukur saja tim kelas Fiapeless dilempar mereka pada penampilan awal jadi tidak terlalu memalukan. Setidaknya masih ada sorak dan tepuk tangan walaupun tidak semeriah tiga tim mereka barusan.


Kembali lagi pada kelas Fiapeless yang sudah berkumpul di belakang panggung sambil berbincang di antara mereka. Terlalu mengabaikan kebisingan dimana speaker menggema di samping mereka.

"Anak-anak!"

Oh, itu suara guru olahraga itu berhasil menyampai pendengaran mereka. Saat ini, Nam Joonhyuk sedang berdiri dengan setelan semi-formal dengan keringat yang sudah membasahi wajahnya.

"Maafkan aku karena sudah datang terlambat."

"Tidak apa, ssaem."

"Aku langsung kesini ketika sampai di bandara."

"Kau disini saja, kami sudah syukur."

"Walikelas kalian minta maaf tidak bisa mendampingi. Pak Tua mengirimnya keluar kota untuk pelatihan." Joonhyuk sudah mengelap keringatnya lalu menatap murid temannya itu satu persatu. Sampai akhirnya penampilannya tertuju pada delapan orang yang mencolok. "Aku sempat menonton penampilan kalian dan wah, aku sempat lupa dimana aku berada. Kalian hebat."

"Terima kasih, ssaem." Mereka menjawab, kompak.

"Baiklah. Jika kalian menang, aku akan mentraktir pizza. Bagaimana?"

"Wah, setuju, ssaem. Kami sudah mengeluarkan senjata yang berbahaya malam ini."

Sebut saja delapan orang penghuni deretan belakang.

"Pastikan itu, anak-anak. Cepat kumpul, sebentar lagi pengumuman."


"…selanjutnya untuk juara satu sampai tiga. Kira-kira kelas mana, ya?"

Sorak-sorak menyebut nama kelas terdengar. Namun kelas Fiapeless hanya memberikan helaan nafas yang kompak.

"…Juara tiga jatuh kepada tim So Far Away."

Disaat semua saling bertatapan dan bertanya tim siapa, kelas Fiapeless bersorak gembira. Itu tim Yoongi, Seokjin dan Jungkook.

"Juara dua, selamat kepada Hope-Min."

Sepertinya de javu harus diterima kelas Fiapeless. Mereka bahkan melompat-lompat sambil memukul pundak dua orang yang baru saja disebut.

"…dan yang ditunggu-tunggu. Juara satu diberikan kepada, wah, sepertinya sebuah pemborongan terjadi disini. Selamat kepada kelas Fiapeless untuk tim 4 O'clock!"

Delapan orang itu naik ke panggung dengan senyum puas. Mereka bisa melihat kumpulan bahagia, biasa saja sampai orang-orang yang baru saja menyumpahi mereka. Hei, kami berdiri di atas kalian.

"Penampilan tiga tim ini benar-benar berhasil membungkam penonton dengan penampilan yang luar biasa. Sekali lagi selamat untuk pemenang."


Next chapter

"Tunggu! Apa? Rumahku? Apa yang kalian bicarakan?"

"Bukan apa-apa. Yang lain hanya ingin mengunjungi rumahmu."

"Oh, ternyata kalian disini?!"

"Aku pikir kalian sudah bubar."

"Belum, ssaem. Kami ingin membuat acara kecil-kecilan."

"Oh ya? Dimana?"

"Rencananya di rumah Hyera."


Bagaimana dengan chapter ini?

Untuk karakter perempuan di cerita ini, karakternya aku berdasarkan imajinasi aja. Kalo yang laki-laki, jangan ditanya lagi, hehe...

Jadi misalnya ada yang bertanya karakter Hyera disini itu siapa, aku gak bisa menjawab karena pada dasarnya aku hanya ngebayangin sekilas aja untuk sosok yang pas. Mungkin kalian punya imajiner lain tentang sosok yang pas sama karakter ini.

Sampai jumpa di chap selanjutnya.

Gli.