One Dream
Hanya ada satu mimpi Katsuki. Bertemu Aiko setiap hari dan melihat bagaimana gadis merah muda itu tersenyum kecil. Terasa gerah dan sesak kala Aiko mulai menunjukan tanda-tanda bahwa ia terkesan pada suasana. Dalam beberapa situasi, Katsuki menjadi bingung bagaimana untuk membuat jalur pecakapan.
Kadang malah Aiko yang pertama kali bertanya padanya. Itu hal-hal biasa yang sangat klise, tapi Katsuki menganggap itu sebagai langkah jitu yang mulus dalam percintaan. Dirinya sendiri tak pernah kepikiran tertarik terhadap lawan jenis, selalu beranggapan bahwa setiap manusia itu sama.
Ia tak pernah memperlakukan seseorang dengan sangat spesial. Menurutnya itu sesuatu yang aneh. Tapi... kala ia bertemu dengan Aiko, mendengar gadis itu berbicara dan melihat bagaimana garis mata Aiko melirik dalam senyum yang agak menggoda membuatnya dilema.
Ia sangat tertarik, diperdaya oleh Tenshouin Aiko yang menyihirnya menjadi makhluk paling tunduk sejagad raya. Sesuatu yang sangat mengerikan ketika kau jatuh cinta.
"Sebelumnya kau dari mana, Tenshouin?" Entah bagaimana, sejak mereka saling berbicara, Katsuki belum pernah menanyakan darimana si gadis berasal.
"Aku?" Aiko berhenti menulis, menyelipkan helai rambutnya ke belakang telinga. Ia seperti sedang memikirkan jawaban paling bagus yang akan dilontarkan. Dalam diam, Katsuki menantikan jawaban apa yang akan didengarnya.
"Aichi... Tapi aku sudah pindah Sekolah beberapakali, jadi agak sulit beradaptasi lagi." Aiko berpaling pada papan tulis, si guru yang hobi tidur itu kembali menjelaskan sesuatu yang sudah-sudah setiap harinya. Lelaki aneh dengan gaya rambut macam buronan.
"Sesulit itukah?"
"Ketika kau sudah nyaman dengan seseorang, akan sangat sulit pergi darinya." Aiko menjelaskan, sekarang ia menatap dengan sangat teliti ke dalam wajah Katsuki. "Kau adalah teman keduaku di Kota ini setelah Midoriya-kun..."
Sebenarnya agak sedikit menjengkelkan ketika orang yang hampir kau sukai menyebut-nyebut nama lelaki lain. Terlebih dia adalah orang yang paling kau benci sekaligus rivalmu. Katsuki paham kalau ia akan terlihat tolol jika berterus terang bahwa ia tak terlalu menyukai keberadaan Izuku. Tapi faktanya, Izuku telah melakukan hal yang tak akan dapat Katsuki bayar.
Akun Line milik Tenshouin Aiko adalah contohnya, pencapaian terbesarnya mendekati gadis random yang ia lihat di jalan. Katsuki bahkan sempat mencuri foto avatar gadis itu, foto Aiko dengan helaian merah muda susu strawberry, memeluk seekor anjing Labrador selalu masuk ke dalam mimpi setiap malamnya.
"Oh, begitu... menurutmu Tenshouin. Apa kau setuju tentang itu?"
"Soal apa?"
"Apa kau mau belajar bersama di rumahku?"
Ajakan itu terlalu spontan, tiba-tiba dan tanpa perhitungan. Tapi jawaban Aiko membuat Katsuki tak dapat membuat alasan palsu untuk membatalkan acara. Ia cukup yakin dengan begini hubungan asmara yang masih samar itu akan terbang tinggi.
Aiko menjawab "Ya" ketika Katsuki mengajak untuk belajar bersama, terasa seperti ajakan berkencan diam-diam yang tentu saja menurut sudut pandang Katsuki. Kemudian dirinya lupa perihal sosok Ibunda yang akan menggerecoki dengan sejuta pertanyaan ketika tahu ia membawa gadis ke rumah, cantik, anak baru dan tampak asing.
Tapi jika dipikirkan lagi mungkin sang Ibu sudah tahu tentang Aiko, mendengar desas-desus serta gosip dari orangtua Izuku atau gosip murahan dari para Ibu yang sedang belanja sayur. Itu baru spekulasi, pikiran liar dari Katsuki yang takut jika Aiko diperlakukan aneh oleh Ibunya. Setidaknya, itu yang baru ia pikirkan.
Hening membelenggu, si pak guru mengomentari soal kejadian aneh yang terjadi akhir-akhir ini. Semula, Katsuki tampak memperhatikan kemudian segalanya berubah aneh ketika pikiran acak akan apa yang terjadi selanjutnya antara dia dan Aiko membuat Katsuki tak dapat berkonsentrasi.
Ketika semua murid tertawa karena si pak guru kedapatan melucu, Katsuki malah kepusingan dengan suara tawa teman-teman sekelasnya. Kemudian, suara lembut Aiko yang bercampur tawa itu terdengar bagai sebuah gelitik, Katsuki memasang telinga baik-baik, berharap ia bisa mendengar apa yang Aiko katakan.
Tapi, beberapa tawa yang terlalu dibuat-buat dan sangat keras, menabrak suara Aiko hingga nyaris tak terdengar sama sekali ketika gadis itu mengulangi ucapannya untuk yang ketiga kali. Katsuki menahan napas, frustasi. Lalu berteriak seperti kesetanan.
"DIAM KALIAN SEMUA!"
Seperti sebuah tabrakan distorsi, tawa itu seketika senyap dan tergantikan oleh tatapan takut dan heran tertuju pada Katsuki. Kemudian dirinya tersadar telah melakukan tindakan diluar batas, malu setengah mati dan berharap seseorang menguburnya saat ini juga.
"Kacchan?"
Jatuh cinta itu ternyata hal paling sulit yang kau hadapi. Kau harus bisa mengontrolnya dengan baik.
.
.
.
"Jam berapa?"
"A-Apa?"
"Bakugo-kun mau belajar bersama bukan? Jam berapa kira-kira? Hari apa? Aku akan mempersiapkannya!"
Katsuki belum menjawab, ia menatap langit biru musim semi yang terasa panas, sembari berjalan santai mendekati gerbang sekolah. Rasanya hawa tahun ini tak seperti musim semi tahun kemarin. Aneh.
Sebenarnya ia masih menahan malu akibat kedapatan berteriak di kelas, Katsuki tak sepenuhnya sadar kalau guru itu masih ada di depan, menatapnya heran juga malas-malasan setelah mendengar teriakan yang menggelegar.
Ketika itu terjadi. Katsuki tak dapat berkutik untuk mencari alasan bagus, yang kemudian diberi penjelasan berupa kebohongan dari Aiko. Ia berkata kalau Katsuki tak mampu mendengarkan penjelasan pak guru, yang menyebabkan ia berteriak saking marahnya. Itu alasan yang bagus, tapi terdengar aneh untuk seorang Bakugo Katsuki.
Ketika mereka berdua berjalan beriringan, sembari Aiko mengoceh sesuatu yang tak jelas. Katsuki tahu bahwa sejak tadi ada seseorang yang mengikuti dari belakang, meski ia tahu kalau ini adalah jam pulang dan tentu saja semua orang berjalan menuju tempat yang sama. Gerbang masuk dan keluar sekolahan.
Katsuki berhenti secara mendadak, memutar tubuh dan menatap sosok itu garang. Aiko yang tampaknya sedang bercerita tentang siaran televisi, berhenti. Ikut memutar tubuh dan bingung.
"Ada apa?" Itu Aiko yang berbicara, tapi entah ditujukan kepada siapa.
Orang yang dirasa Katsuki telah mengikuti mereka sepanjang 2 menit terakhir itu tak menjawab, merasa bahwa pertanyaan itu tak ditujukan kepada dirinya. Selagi Katsuki tak bergerak, orang itu berjalan santai mendekati mereka. Berdiri tepat di depan Aiko yang sama bingungnya ketika pertama kali bertemu Katsuki.
"Apa ada yang bisa aku bantu, Todoroki?"
Si pemilik nama tak menjawab, ia juga tak terlihat seperti sedang memikirkan jawaban. Matanya terlalu sulit untuk diprediksi, seperti sedang bermain dalam papan catur melawan pemain catur terhebat yang pernah ada.
Tak ada satupun ucapan yang keluar dari Shoto. Ia bingung bagaimana menjelaskan tentang apa yang terjadi pada dirinya. Manik matanya berubah seketika, lalu ia berbicara dengan nada yang tak pernah didengar sama sekali dari Katsuki.
"Sudahlah..." Shoto berkata begitu, berlalu mendahului Katsuki tanpa penjelasan sama sekali. Merasa jengah dan hendak memarahi untuk melancarkan aksi, Katsuki langsung meredam ketika Aiko melanjutkan kembali cerita soal siaran televisi.
Shoto tampak sangat kecewa dan Katsuki tahu itu. Kali ini ia dapat membacanya, ia juga sering begitu kalau hatinya tersakiti. Tapi, Katsuki tak tahu apa alasannya lelaki berhelai belang itu begitu.
"Ia sering menatapmu begitu, Tenshouin."
Seolah tahu tentang kebiasaan Todoroki Shoto. Aiko menjelaskan "Aku mengajak Todoroki bicara ketika awal masuk sekolah, dia yang mendekatiku dan menawarkan bantuan untuk berkeliling. Tapi ia kecewa parah ketika aku menyebut namanya, kemudian meninggalkanku. Aku pikir, aku telah salah mengeja namanya dan membuatnya tersinggung. Ia mengatakan sesuatu yang tak jelas keesokan harinya. Ia mengatakan hal yang tak dapat aku mengerti."
"Sesuatu seperti apa?"
Oh ya, bagaimana kabarmu? Kau menghilang lama sekali. Aku rindu padamu.
"Kemudian dia melanjutkan."
Aku benar-benar tidak tahu kau ada di mana dan aku tak dapat mencarimu. Orangtuaku tak mengatakan apa-apa soal ini dan mereka menjadi marah ketika aku tanya tentang kemana perginya dirimu.
"Lalu aku berkata padanya begini..."
Aku tidak paham apa yang kau katakan. Kau mungkin salah orang, Todoroki. Maaf.
"Kemudian ia pergi, kupikir ia marah karena aku mengatakan hal yang kurang sopan. Lalu hari berikutnya ia selalu mengawasiku begitu, seperti kebingungan. Ia mengatakan hal-hal lain yang bagiku terdengar aneh, berbicara seolah aku dan dia pernah kenal."
"Contohnya?"
Bagaimana kabar Ibumu?
"Aku bahkan tidak ingat bagaimana wajah Ibuku."
Katsuki bingung, ia tak paham dengan maksud dari Aiko. Seluruh ucapan gadis itu seolah berada diluar nalarnya, meski ia mencoba memahami dengan kemungkinan yang ada, tetap saja ia tak mendapatkan jawaban yang pasti.
Jadi, ia bertanya. "Maksudnya bagaimana? Aku tak paham."
"Ya, Todoroki berbicara seperti ia mengenalku sangat lama dan tahu apa yang terjadi padaku di masa lalu, dia menceritakan apa yang terjadi diantara kami di masa lalu dan mendorongku untuk mengingatnya. Tapi masalahnya... aku tak ingat detail apapun tentang masa kecilku, ada yang menghalangi itu dan aku tak tahu kenapa."
Aiko melanjutkan. "Kebanyakan anak akan ingat masa kecil mereka meski itu samar, tapi aku tak punya ingatan itu. Ingatan terakhirku adalah ketika aku bangun pagi dan mulai sekolah SD, itu saja."
"Bukankah itu agak aneh, Tenshouin?"
"Benar. Aku sendiri juga tidak mengerti, dia menanyakan soal Ibuku. Padahal aku tak merasa punya Ibu."
Katsuki berkomentar. "Kau mungkin benar, dia cuma salah orang."
Tapi dengan mendengar itu semua Katsuki langsung merinding. Teringat akan rumor yang pernah ia dengar ketika masih SD. Rumor agak aneh dari mulut Izuku, ia menganggap itu cuma bualan belaka dan cerita yang dibuat-buat, akal-akalan, mencari perhatian.
Waktu itu Izuku bilang, ada seseorang dengan Quirk yang dapat menghapus ingatan. Orang itu menyerang anak berusia 7 tahun, menghapus ingatan si anak dan berniat membuatnya mati. Si anak dibuat melupakan segalanya, bahkan cara bernapas dan makan, kematian yang mengerikan. Entah bagaimana anak itu selamat, tapi ingatannya menjadi kacau dan acak, ia hanya mampu mengingat beberapa hal dan separuh ingatannya terhapus.
Lalu keluarga si anak menghilang.
.
.
