Last chapter

"…Juara tiga jatuh kepada tim So Far Away."

Disaat semua saling bertatapan dan bertanya tim siapa, kelas Fiapeless bersorak gembira. Itu tim Yoongi, Seokjin dan Jungkook.

"Juara dua, selamat kepada Hope-Min."

Sepertinya de javu harus diterima kelas Fiapeless. Mereka bahkan melompat-lompat sambil memukul pundak dua orang yang baru saja disebut.

"…dan yang ditunggu-tunggu. Juara satu diberikan kepada, wah, sepertinya sebuah pemborongan terjadi disini. Selamat kepada kelas Fiapeless untuk tim 4 O'clock!"


Chapter 7

Seluruh murid kelas Fiapeless menatap delapan teman mereka yang masih berdiri sambil memandangi piala yang ada di tangan mereka. Beberapa menit yang lalu setelah pengumuman, seluruh murid kelas Fiapeless memutuskan untuk berkumpul di parkiran.

"Jadi? Kita tidak mungkin langsung bubar saja, 'kan?"

Pertanyaan Sungjae berhasil mengalihkan pandangan seluruhnya, tenggelam dalam pemikiran masing-masing.

"Lalu, kemana? Berkumpul atau melakukan sesuatu?"

"Sepertinya malam ini cukup nyaman jika kita kumpul bersama."

"Aku setuju. Kita tidak pernah berkumpul seperti ini."

"Seongcheol, bagaimana?"

Si ketua kelas hanya melipat kedua tangannya di depan dada sambil berpikir. Dia juga tidak terlalu menyangka jika kelas mereka baru saja memborong tiga piala karena penampilan teman-temannya malam ini.

"Kita tidak mungkin kumpul di restoran saat jam seperti ini. Harus ada satu lokasi yang bisa menampung acara kumpulan kita secara mendadak."

"Misalnya?"

"Rumah seseorang yang tidak begitu jauh dan cukup untuk menampung kita."

Seokjin berdehem, mengalihkan seluruh perhatian yang sebelumnya tertuju pada Seongcheol. "Aku tahu satu rumah, ya, jika pemiliknya tidak keberatan."

"Siapa?" Hoseok menatap Seokjin yang hanya tersenyum sambil memandangi satu orang yang saat ini masih memandangi piala. "Ah, aku setuju. Kalian tidak perlu bertanya karena dia pasti akan setuju."

"Rumah siapa yang kalian maksud?"

Tatapan-tatapan penasaran tertuju pada dua orang yang –hmm, tidak akur sedang bertos ria.

"Rumah Kang Hyera!"

Pemilik nama tersentak. Hampir saja menjatuhkan piala dari tangannya. Matanya membulat lucu karena keterkejutan akan suara Seokjin dan Hoseok yang menyentak pendengarannya. Kali ini dia menjadi objek perhatian teman-temannya.

"Aku setuju." Jimin langsung merangkul pundak gadis itu tanpa pikir panjang.

Jungkook mengangguk semangat. "Kita langsung saja ke rumahnya."

"Tunggu! Apa? Rumahku? Apa yang kalian bicarakan?"

"Bukan apa-apa. Yang lain hanya ingin mengunjungi rumahmu." Jimin berbisik lalu mengacak-acak rambut panjang gadis itu.

"Oh, ternyata kalian disini?!"

Suara Nam Joonhyuk langsung mengalihkan pandangan seluruh murid kepadanya.

"Aku pikir kalian sudah bubar."

"Belum, ssaem. Kami ingin membuat acara kecil-kecilan." Seongcheol menjawab, mewakili teman-temannya.

"Oh ya? Dimana?"

"Rencananya di rumah Hyera." Taeyong bersuara sambil melirik Hyera yang masih berusaha mengajukan protes.

"Kalau begitu, pizza-nya aku kirim ke rumah Hyera saja ya?"

"Ssaem tidak ikut?"

Joonhyuk menggeleng lalu tersenyum. "Masih banyak yang harus aku kerjakan. Jadi, bersenang-senanglah!" Dia pergi lalu melambaikan tangannya.

"Kalau begitu, kita langsung saja ke rumah Hyera!"


Hyera tidak menyangka, tanpa persetujuan ataupun meminta pendapatnya, seluruh teman-teman sekelasnya saat ini sudah memenuhi halaman belakang rumahnya. Bahkan dia masih mengajukan protes pada dua orang yang memulai mengajukan rumah pamannya ini sebagai tempat acaranya. Beruntunglah pamannya dan Daniel tidak ada di rumah malam ini.

Seluruh murid kelas Fiapeless menghabiskan seluruh malam mereka disana. Berbekal pizza yang dibelikan Joonhyuk dan beberapa camilan kecil, mereka menikmati acara berkumpul yang diadakan secara mendadak itu. Berbicara banyak hal, bercanda, bermain, apapun yang bisa mereka lakukan. Seolah melupakan berapa lama lagi mereka bisa bertahan di kelas tanpa harapan itu. Sekarang mereka melupakan bagian itu. Hanya menikmati. Tertawa di bawah langit malam.


Waktu sudah menunjukkan pukul satu dinihari dan mereka mulai meninggalkan rumah Hyera satu persatu. Tidak lupa untuk sedikit membereskan sampah-sampah yang mereka buat.

Tidak seluruhnya tapi masih ada tujuh siswa yang setia membereskan halaman belakang. Merapikan kursi-kursi, menggulung karpet, mencuci piring kotor, menyapu sampai mengumpulkan sampah.

Setelahnya, mereka berkumpul di ruang tengah sebelum pulang sambil menunggu Hyera yang masih keluar untuk membuang sampah –setelah berdebat tentang siapa yang akan membuangnya.


Jimin memutuskan untuk mengambil gitar Jungkook yang berada di ruang musik. Gitar yang dicarinya berada di atas kursi grand piano yang berada di sudut ruangan. Namun langkahnya harus terhenti ketika dua lembar kertas terjatuh di bawah kakinya. Berniat mengembalikan ke tempatnya, Jimin malah tidak sengaja membaca dua baris kalimat yang terdapat di dua kertas putih itu.

Aku hanya mempercayai ini kepada kalian

jadi aku mohon kepada kalian untuk bertahan di kelas itu lebih lama

Kalian pasti bertanya-tanya kenapa sistem aneh di sekolah ini.

Tujuanku hanya satu, yaitu untuk mengungkap kebenaran yang ada dibalik ketidakadilan yang kalian terima.

"Dia mendapatkannya juga?"


Hyera baru saja kembali setelah membuang sampah dan hampir saja menyumpahi Jimin yang menariknya ke arah garasi.

"Kau dapat ini juga?"

Hyera mengernyit ketika Jimin menunjukkan dua lembar kertas putih di tangannya. Hanya beberapa detik sampai akhirnya dia mengingat apa yang dimaksud Jimin.

"Tunggu, maksudmu juga?"

"Aku dan Jungkook juga mendapatkan surat seperti ini. Awalnya kami pikir ini hanya sebuah bualan." Jimin kembali menatap lembar kertas di tangannya itu lalu mengalihkan pandangannya kepada Hyera.

"Kalian juga?"

Tidak, itu bukan suara Hyera.

Keduanya langsung menoleh ke sumber suara dimana Seokjin sedang berdiri di belakang mereka sambil memegang kunci mobil. Awalnya pemuda Kim itu berniat untuk mengambil sesuatu di mobilnya namun harus terhenti ketika tanpa sengaja mendengar percakapan antara dua temannya itu.

"Juga apa?"

Jimin berusaha mengalihkan pembicaraan. Kedua tangannya langsung ditarik untuk menyembunyikannya di belakang punggungnya.

Seokjin melangkah untuk mendekati dua orang itu. "Suratnya. Kalian juga mendapatinya?"

"Jika maksudmu surat tanpa nama pengirim itu, iya." Hyera menjawab sambil mengangguk lalu melirik Jimin. "Jungkook dan Jimin lalu aku dan kau. Siapa lagi?"

"Namjoon. Dia juga dapat surat itu. Aku pikir hanya kami saja yang mendapatkannya."

Hyera terdiam sejenak. Dia masih memikirkan apa maksud dari surat yang didapatkan oleh mereka. Dia –mereka semua berpikir jika itu hanya bualan. Namun jika yang menerimanya lebih dari dua orang, apa itu masih termasuk bualan?

Jimin melipat kertas itu lalu memasukkannya ke dalam saku jaketnya. "Untuk sementara kita hanya perlu diam dulu. Maksudku jika memang pengirim surat itu bermaksud baik, dia akan mengirim sebuah petunjuk lagi."

Seokjin dan Hyera saling bertatapan sebelum akhirnya mengangguk. Kemudian ketiganya menghentikan percakapan itu sebelum akhirnya memutuskan untuk segera masuk.


Yoongi mengumpulkan sampah kotak pizza yang tertinggal ke dalam kantung sampah lalu melangkah untuk menuju ke dapur dimana Hoseok dan Taehyung sedang mencuci piring. Dia tidak bersuara selain mengamati dua orang itu tampak sibuk berbincang selama beberapa saat lalu meletakkan kantung sampah tadi di sudut dapur dan kembali bergerak untuk mengumpulkan sampah-sampah yang tersisa.

Dia dapat melihat Hyera, Jimin dan Seokjin yang baru saja memasuki rumah. Kemudian beralih pada Namjoon yang sedang menyapu dan Jungkook yang sedang mengelap meja di ruang tengah. Kakinya melangkah menuju meja makan untuk mengambil satu kotak pizza.

Tanpa pikir panjang, pemuda Min itu menarik kotak pizza yang kosong lalu berniat memasukkannya ke dalam kantung sampah jika saja sesuatu tidak terjatuh dari sana. Sebuah amplop cokelat dengan beberapa lembar kertas yang setengah menampakan diri.

Yoongi berniat memungut kembali amplop itu lalu meletakkannya di atas meja jika saja judul salah satu kertas yang muncul itu tidak membuatnya tertegun selama beberapa saat.

Daftar nilai murid kelas Fiapeless (asli)

Bersamaan dengan itu, sebuah catatan kecil terjatuh dengan goresan tinta hitam.

Ini adalah petunjuk yang bisa kudapatkan untuk kalian

aku harap ini cukup berguna sebagai bukti atas segala kecurangan

yang terjadi dan bisa menahan kalian .

Ini adalah daftar nilai asli milik kalian bersamaan dengan

daftar murid yang mendapatkan beasiswa.

"Tunggu, apa ini ada hubungannya dengan surat yang aku dapatkan itu?"

"Yoon, apa yang kau lakukan?"

Yoongi tersentak ketika suara Hyera berhasil mengembalikan fokusnya. Namun Yoongi tak menjawab dan malah terfokus pada catatan kecil itu.

"Kau sedang menangkap tikus atau sejenisnya?"

Sama sekali tidak ada jawaban yang diberikan oleh lawan bicara, membuat Hyera memutuskan untuk ikut berjongkok dan menatap apa yang sedang dilakukan teman sebangkunya yang sedang duduk di lantai.

"Apa kau mendapatkannya juga?"

Hyera menoleh, memandang bingung Yoongi yang masih menatap catatan kecil tadi. "Mendapatkan apa?"

"Surat-surat misterius yang berisi untuk bertahan di kelas kita."

Tidak butuh lama bagi Hyera untuk mencerna maksud dari kalimat Yoongi. Dia baru saja membahasnya dengan Jimin dan Seokjin, jika lupa.

"Surat tanpa pengirim itu?"

Suara Taehyung menginterupsi kedua orang itu. Tidak ketinggalan Hoseok yang berlutut di belakang Hyera.

"Lihat ini!"

Yoongi mengulurkan catatan kecil tadi ke Hyera, membiarkan Taehyung dan Hoseok ikut membacanya.

"Aku rasa kita semua mendapatkan hal yang sama."


"Jadi maksud kalian, ini adalah nilai asli ujian kita?"

Hyera mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Namjoon.

Mereka berdelapan sudah berkumpul di ruang tengah. Begitu menyadari sesuatu yang didapat Yoongi tadi, Hyera memutuskan untuk segera memberi tahu ketujuh temannya. Jadilah saat ini kedelapannya sedang saling menatap lembaran kertas yang disusun di atas meja.

"Aku rasa memang iya." Hyera mengambil kertas yang berjudul daftar nilai lalu membacanya. "Nilai kita bahkan lebih baik dari yang diumumkan."

"Maksudmu, selama ini kita sudah dipermainkan?"

"Bukan hanya selama ini, Jeon tapi dari awal. Kita sudah ditargetkan untuk berada di kelas itu. Masalah dan nilai sepertinya hanya bagian dari rencana." Seokjin melipat tangannya di depan dada.

"Nilai asli kita dimanipulasi oleh mereka sejak awal. Ini sama sekali tidak bisa dibiarkan." Jimin mengerang geram. Dia sudah mengepalkan tangannya. "Kita harus segera melaporkan ini."

"Tidak." Taehyung berseru untuk mengambil lembar kertas lain dengan judul yang berbeda. "Sepertinya permintaan seperti ini belum cukup membuktikan alasan kenapa kita harus berada di kelas ini." Matanya masih terfokus pada lembar kertas yang diambilnya dengan judul:

Daftar murid beasiswa

"Hampir seluruh dari daftar nama ini adalah murid di kelas 2-F." Lanjutnya sambil menunjukkan lembar kertasnya ke hadapan seluruh temannya. "Termasuk Yoongi."

"Lalu, menurutmu bagaimana? Apa karena murid beasiswa? Apa hubungannya dengan kita?" Namjoon tampak tidak paham.

Taehyung menatap lembar kertas itu lagi. "Ini hanya sekedar hipotesaku saja. Sekolah kita adalah satu-satunya sekolah yang menerima banyak murid beasiswa. Hampir 30% murid di sekolah ini adalah penerima beasiswa penuh. Termasuk Yoongi." Dia meletakkan kertas itu ke atas meja lalu menatap temannya satu persatu. "Jika kalian ingat tahun lalu, setengah dari murid beasiswa berada di kelas 2-F dengan alasan nilai mereka menurun dan bermasalah."

"Apabila kita bandingkan dengan daftar nilai asli ini," tangannya mengambil satu lembar kertas lainnya, "nilai seluruh penghuni kelas kita adalah yang terbaik. Jika kita kembali ingat, seluruh penghuni kelas kita pernah berada ke dalam 30 besar pada awal tahun."

"Tunggu, tunggu! Aku semakin tidak mengerti." Hoseok mengangkat kedua tangannya, menampilkan wajah yang jelas sekali terlihat bingung.

Taehyung menghela nafas kecil. "Seluruh murid kelas 2-F yang tahun ini pernah berada dalam peringkat 30 besar terbaik di awal tahun, terlempar ke dalam 30 besar nilai terburuk. Ada beberapa fakta yang dapat kita simpulkan disini. Pertama, nilai kita sudah dimanipulasi. Kedua, pihak sekolah sepertinya berusaha mengurangi jumlah murid beasiswa. Ketiga, yang jadi pertanyaan, apa tujuannya dengan kita yang tidak mendapat beasiswa?"

"Tidak bisakah kita hanya melaporkan hal ini?"

Namjoon menggeleng sebagai respon dari pertanyaan Seokjin. "Tidak. Tahun lalu juga pernah melaporkan hal yang sama tapi laporan itu ditarik kembali karena tidak ada cukup bukti dan kurangnya saksi. Bahkan pelapor dituntut atas pencemaran nama baik sekolah."

"Sepertinya aku sedikit paham maksud dari pengirim ini." Hyera bersuara sambil menghantarkan punggungnya untuk bersandar. "Dia meminta kita untuk mengungkap masalah ini."

"Yang kita butuhkan hanya alasan kenapa nilai asli kita ditukar. Kelas ini tentu bukan hanya untuk menampung murid-murid bermasalah dengan nilai dan aturan tapi kelas ini seperti tempat pengasingan untuk menyingkirkan orang-orang yang tidak tahu apa-apa seperti kita." Yoongi meremas catatan kecil yang masih ada di tangannya.

"Jadi, kita harus mencari tahu alasannya?"

"Bukan hanya alasan, Jim tapi juga bukti. Bukti yang dapat mengungkapkan kebenaran tentang apa yang salah dengan sistem pendidikan di sekolah ini."


"Bagaimana bisa?"

Pria yang duduk di depannya hanya bisa tertunduk, tak berani menatap wajah murka wanita yang baru saja melabrak masuk ke dalam ruangannya.

"Ini sudah mendekati ujian semester awal. Kenapa tidak ada yang keluar lagi?"

"Ma-maafkan aku. Kami sudah berusaha untuk menyingkirkan mereka dari awal tapi sepertinya mereka sangat bersikeras untuk bertahan disana."

"Kau tahu berapa banyak yang sudah aku serahkan padamu dan sekolah ini? Sangat banyak bahkan sudah tak terhitung. Apa kau mau sekolahmu menjadi miskin karena memiliki banyak murid beasiswa?"

"Tentu saja tidak. Aku ingin sekali menyingkirkan mereka."

Wanita itu beranjak dari posisinya dengan angkuh. "Aku tidak mau tahu, mereka harus segera pergi sebelum ujian kenaikan kelas dimulai."


"Hye, apa kau sibuk malam ini?"

Hyera yang sedang membaca buku hanya menoleh dan mendapati Daniel yang sedang berdiri di ujung kakinya. "Bukannya kau yang selalu sibuk?"

"Ya ampun, aku serius." Daniel duduk di pinggir tempat tidur lalu menarik buku Hyera. "Ikut aku bertemu dengan temanku."

"Temanmu? Yang mana? Perempuan? Oh, kau mau kencan?"

"Hye, aku serius. Hitung-hitung sebagai bayaran karena sudah meninggalkanmu selama seminggu ini di rumah."

Hyera menatap heran ke arah Daniel. Hei, tidak biasanya sepupunya itu mengajaknya untuk pergi menemui teman-temannya. Bahkan Daniel sering kali mencegah teman-temannya untuk bertemu Hyera. Dia begitu melindungi Hyera.

"Kau tidak sedang merencanakan sesuatu, 'kan?"

Daniel menggeleng lalu beranjak dari posisinya. "Kau ini sepertinya berpikiran negatif padaku, ya? Ganti bajumu, setelah itu kita pergi. 15 menit!"

"Sudah lama aku tidak melihatmu, hyung." Yoongi menatap sosok pemuda kurus di depannya itu dengan berbinar. Ah, rasanya sudah lama sejak terakhir mereka bertemu.

Chanyeol tampak mengangguk setuju sambil merangkul pemuda kurus itu dengan akrab. "Kau bahkan tidak mengabari kami jika akan berkunjung."

"Haha, maafkan aku." Pemuda kurus itu tertawa sambil menatap areal café yang cukup dipenuhi oleh pengunjung. "Aku baru kembali dari luar negeri kemarin."

Yoongi menyikut pemuda kurus itu lalu tersenyum. "Susah juga yang kuliah diluar negeri. Kau juga harusnya seperti Baek-hyung, Park Chanyeol." Tangannya mencubit perut Chanyeol tanpa perasaan.

"Aku ini lebih tua darimu, Yoon. Bisakah, paling tidak, panggil aku hyung juga."

"Tidak, tidak. Siapa yang mau memanggilmu hyung jika kau sendiri tidak kembali ke rumahmu selama beberapa tahun."

"Hei, kau tinggal di rumahku yang sekarang, jika kau lupa."

"Bukan rumah tapi sebuah gudang kosong di apartemen yang diberikan secara cuma-cuma oleh pemiliknya."

Baekhyun tertawa melihat interaksi dua orang yang dikenalnya itu. Sudah lama memang dia tidak mengunjungi tempat ini mengingat dirinya yang berkuliah diluar negeri.

"Oh iya, hyung, kau ingin pesan apa?"

"Hmm, sepertinya vanila frappe saja."

"Tidak caffe latte?"

Baekhyun menggeleng. "Ini bukan untukku tapi untuk seseorang."

"Pacarmu?" Celetuk Chanyeol yang kemudian dihadiahi sebuah sikuan dari Baekhyun.

"Abaikan dia, hyung. Aku akan membuat pesananmu dulu. Duduk saja!"

"Terima kasih, Yoon." Baekhyun berlalu menuju satu bangku kosong di sudut café, diikuti Chanyeol.

Chanyeol berdehem sejenak. "Kau ingin bertemu Daniel dan dia, ya?"

Baekhyun tersenyum canggung. Seperti yang diduga, Chanyeol selalu tahu apa yang sedang dipikirkannya. "Sedang ingin mencoba untuk memperbaiki hubungan lama."

"Untuknya? Tidak akan semudah itu. Tapi aku harap kau berhasil." Chanyeol menepuk pundak Baekhyun, berusaha memberikan sedikit semangat. "Aku harus kembali bekerja."

Setelah kepergian Chanyeol, Baekhyun memutuskan untuk duduk di kursi lalu menyalakan ponselnya untuk melihat sebuah foto seorang gadis yang sedang tersenyum. Sosok yang sangat dirindukannya lebih dari apapun.


Tepat ketika kaki mereka memasuki café, Daniel langsung mengedarkan pandangannya untuk mencari sosok yang dicarinya, sedangkan Hyera hanya menatap malas punggung sepupunya itu. Detik berikutnya, tangan kanan Hyera kembali ditarik dan melangkah menuju meja pemesanan dimana seorang pemuda bertubuh tinggi sedang melambaikan tangan ke arah mereka.

"Yo, Daniel!"

"Hyung!"

Daniel masih enggan melepaskan tangan Hyera bahkan sampai mereka berhenti. Keduanya sudah berdiri di depan pemuda tinggi yang masih tersenyum menyebalkan, menurut Hyera. Ah, gadis itu sudah menduga jika mereka akan bertemu dengan makhluk besar dengan tinggi yang tidak lazim itu.

"Yo, Hyer!"

Hyera langsung membuang muka. "Sudah aku duga kau akan bertemu tiang ini."

"Ya ampun, Hyer. Ucapanmu cukup menusuk."

Daniel menggelengkan kepalanya lalu menepuk pundak pemuda tinggi itu. "Chanyeol-hyung, dia sudah datang?"

Dia, Chanyeol menatap jam tangannya sebelum menjawab. "Hampir setengah jam yang lalu. Di sudut sana!"

"Hyung, hari ini aku selesai lebih cepat!"

Satu suara langsung mengalihkan atensi ketiga orang itu kepada satu pemuda dengan rambut abu-abu yang baru saja keluar dari pintu di belakang meja. Tidak lama sampai akhirnya, atensi itu berubah menjadi keterkejutan antara dua orang dari mereka.

"Yoongi?!"

"Hyera?!"

Daniel dan Chanyeol saling bertatapan selama beberapa saat sebelum akhirnya menatap dua remaja yang lebih muda dari mereka itu.

"Kau kerja disini?"

Yoongi mengangguk lalu menatap Daniel. "Kau sepupunya Daniel?"

Hyera balas mengangguk. "Sayang sekali, aku sepupunya."

"Maksudmu kau tidak bersyukur menjadi sepupuku?"

"Oh, tentu saja 50 banding 50. Bersyukur dan tidak." Hyera menjulurkan lidahnya, membuat sepupunya itu mencibir.

Yoongi mendekati tiga orang itu. "Kenapa kau disini?"

"Menemani Tuan Kang bertemu dengan tiang ini." Hyera melirik Daniel tidak ketinggalan jari telunjuknya yang mengarah tepat ke wajah Chanyeol.

"Tidak. Tujuanku bukan bertemu Chanyeol tapi orang lain."

"Aku hanya berharap kau tidak kencan." Hyera mencibir.

"Sudah temui dia! Aku harus menyelesaikan pekerjaanku." Chanyeol mendorong tubuh Daniel dan Hyera bersamaan. Setelah itu, dia hanya menatap dua orang itu sedang menuju satu meja dimana orang yang dimaksud sedang duduk disana.

Semoga saja tidak ada masalah lagi.


Daniel menyapa lalu mendudukkan dirinya. Hyera masih berdiri mematung. Orang yang ditemui mereka hanya tersenyum. Tidak ada yang bersuara setelah itu selama beberapa sekon.

Hyera jengah. Tanpa perasaan, gadis itu memukul punggung sepupunya sebelum memaki. "Kalian bicara saja. Aku tunggu diluar!"

Baru hendak membuka langkah, Daniel segera menahan lengan gadis itu lalu menariknya duduk. Dia sudah menduga ini akan terjadi tapi tentu saja tidak akan dibiarkan.

"Bagaimana sekolah kalian?"

Hyera diam, membuang muka. Sedangkan Daniel hanya menghela nafas.

"Aku memutuskan untuk tidak lanjut perguruan tinggi tahun ini. Ingin libur dan fokus pada dance." Daniel menjeda untuk melihat respon lawan bicaranya itu. "Bagaimana denganmu, Baek-hyung?"

Baekhyun tersenyum sambil mendorong segelas vanila frappe ke arah Hyera. "Tinggal mengurus berkas."

"Sebenarnya aku dan Ayah ingin hadir di acara wisudamu, tapi," Daniel melirik sepupunya yang masih membuang muka, "ada sedikit masalah."

Baekhyun mengangguk paham. "Apa dia selalu menyusahkanmu dan Paman?"

Daniel menggeleng lalu menepuk puncak kepala Hyera. "Dia baik malah sangat baik. Selalu menurut dan tidak pernah membangkang."

"Maaf ya jika selama ini kami menyusahkanmu dan Ayahmu."

"Tidak apa, hyung. Kita juga masih keluarga sampai kapanpun." Daniel menghentikan tepukannya dan memutuskan untuk beranjak dari posisinya. "Aku pergi dulu. Kalian pasti banyak yang ingin dibicarakan."

"Dan~"

"Diam disini dan bicara pada Baek-hyung!" Daniel benar-benar pergi dari sana. Meninggalkan Hyera yang memasang wajah memohon.

"Jadi," Baekhyun melipat tangannya di atas meja dan menatap Hyera dengan lembut, "apa kabarmu?"

Hyera membalas tatapan Baekhyun sekilas lalu tersenyum sinis. "Apa pedulimu?"

"Aku hanya ingin tahu keadaan adikku, Hyera."

"Wah, kau masih menganggapmu sebagai adikku? Sungguh luar biasa." Hyera bertepuk tangan dengan seruan 'wow' yang dibuat-buat. "Bagaimana kuliahmu? Apa wisudamu lancar? Apa teman-temanmu baik? Kau pasti memiliki nilai yang baik, 'kan? Oh, aku lupa. Kau akan selalu menjadi yang terbaik sampai kapanpun."

Senyum Baekhyun luntur dalam hitungan detik. Bukan karena pertanyaannya. Bukan karena sindirannya. Namun karena nada bicara yang dingin dan terkesan datar, membuat sayatan-sayatan kecil dan dalam yang menyakitkan di hati Baekhyun. Adiknya sama sekali tidak berubah.

"Kenapa kau tidak pernah membalas pesanku?"

Hyera menghela nafasnya, kasar. "Kenapa? Harus sekali aku membalas pesanmu? Untuk apa? Kau bahkan tidak akan ada di sampingku jika aku terluka. Kenapa? Karena kau akan selalu dihalangi oleh mereka."

"Aku tidak butuh kasih sayang dan kepedulianmu, Baekhyun-ssi. Aku sudah bahagia tinggal bersama Daniel dan Paman. Aku bersyukur karena mereka masih mau merawatku dengan baik bahkan sampai menyekolahku. Tidak pernah membedakan antara aku dan Daniel. Mereka malah bersyukur aku hadir di antara mereka."

Ah, kalimat sialan.

Hyera menyeka airmatanya yang sudah siap mengalir, menatap Baekhyun yang masih tak melepaskan pandangan darinya.

"Aku ingin sekali menyapa kalian. Aku ingin memeluk kalian satu persatu. Aku ingin mengatakan 'aku merindukan kalian'. Aku ingin mendengar mereka memujiku. Aku ingin tertawa bersamamu. Aku ingin semuanya seperti keluarga pada umumnya."

Tidak ketinggalan isakan kecil ikut terlepas bersamaan airmata yang mengalir di pipi. Hyera ingin memeluk Baekhyun. Ingin sekali.

"Tapi semuanya tidak lagi. Aku sadar karena aku bukan siapa-siapa lagi. Aku bukan bagian dari kalian. Aku sudah terbuang, Baek. Aku dibuang oleh orang tuamu. Ah, airmata sialan."

Baekhyun langsung beranjak dari kursinya, mendekati Hyera lalu berlutut di depan gadis itu. "Aku ingin membelamu, Hyera, tapi mereka selalu mengatakan kau bukan siapa-siapa. Kau hanya sebuah pengganggu. Tapi kau adalah adikku. Adik kandungku juga." Kedua tangannya menggenggam erat tangan Hyera, ikut terisak karena sesak yang ditahannya selama beberapa tahun.

Namun, genggaman hangat itu tidak bertahan lama sampai Hyera menarik tangannya dan menatap tajam Baekhyun.

"Kau sama sekali tidak pernah membelaku, Baekhyun-ssi. Disaat aku yang tidak tahu apa-apa hanya bisa berdiri di depan pintu rumah Paman sambil menatap kalian pergi dari sana. Ah, tidak." Hyera mengelap airmatanya dengan kasar. "Disaat aku lahir ke dunia, tidak pernah sekalipun aku mendapatkan kehangatan dari tangan dua orang itu. Kau tahu, hanya Paman dan Ibu yang membuka tangan mereka untuk mendekapku. Memberikan aku kehangatan di antara mereka. Bahkan Daniel membagi kesehariannya denganku."

"Lalu, apa yang aku dapatkan darimu? Dari mereka? Kasih sayang? Perhatian? Pelukan hangat? Ucapan lembut? Tidak ada, Baekhyun-ssi. Tidak ada, selain lembaran uang yang diterima Paman sebagai hadiah karena sudah membagi waktunya untuk merawatku. Kau bahkan tidak pernah memelukku. Apa yang aku dapatkan darimu? Pesan-pesan yang kau kirim lewat Daniel?"

Baekhyun berusaha berdiri walaupun kakinya sudah lemas karena bergetar. Hatinya semakin ngilu mendengar kalimat-kalimat kekecewaan adiknya itu. Apa sungguh tidak adalagi yang bisa dia perbaiki?

Sebuah pelukan yang untuk pertama kalinya Hyera terima dari orang yang sangat didambakannya, dulu. Sebuah kehangatan yang sejak lama dia inginkan, dulu.

Sekali lagi, hal itu tidak bertahan lama. Karena yang selanjutnya terjadi adalah Hyera mendorong tubuh kurus itu lalu berlari meninggalkan café.

Dari kejauhan, tiga orang yang sedari tadi sedang berbincang sambil sesekali mengamati dari kejauhan hanya bisa bungkam sampai akhirnya salah satu dari mereka memutuskan untuk mengejar Hyera.


Langkah itu terhenti pada sebuah halte yang berada cukup jauh dari café. Menghantarkan tubuh rapuhnya untuk duduk di bangku panjang. Tidak ada siapapun disana selain terpaan dinginnya udara malam dan silaunya lampu jalan.

Yoongi terdiam sebentar sambil mengamati tubuh itu dari kejauhan. Cukup lama sampai akhirnya dia memutuskan untuk menghampirinya. Ah, dia sudah mendengar sedikit cerita tentang gadis yang menjadi teman sebangkunya itu dengan Baekhyun dari dua orang sebelumnya. Tidak semuanya, hanya sebatas inti Hyera sangat membenci Baekhyun entah karena apa.

"Hyera?!"

Gadis itu mendongak, melihat Yoongi yang sudah berdiri di depannya sambil memasang wajah bingung.

"Kenapa kau disini?" Ah, dia sedang bertingkah seolah tidak tahu apa-apa. "Aku sedang dalam perjalanan pulang dan melihat kau disini, sambil menangis?"

Hyera kembali menunduk, membiarkan Yoongi duduk di sampingnya tanpa izin.

"Aku tidak tahu apa yang akan dikatakan Jimin dan Jungkook ketika mendengarmu menangis seperti ini."

Yoongi dapat mendengar decihan kecil keluar dari mulut gadis di sebelahnya itu sebelum akhirnya digantikan lagi oleh isakan.

"Jadi, tidak ingin cerita?"

Sekali lagi tidak ada jawaban dan membuat Yoongi harus ekstra sabar. Kedua tangannya saling bergesek untuk menciptakan kehangatan di tengah udara seperti ini. Kemudian beralih untuk melirik gadis di sebelahnya untuk memastikan dia masih bernafas.

Hening digantikan oleh deruan mobil yang sedang menyusuri jalan, seperti hiasan yang menggantikan keheningan malam itu.

"Yoon, apa rasa ditolak itu seperti ini? Rasanya sakit sekali sampai kau sulit bernafas."

Yoongi tertegun. Dia menatap Hyera yang mulai mengangkat kepalanya, menampakkan wajah sembab khas orang habis menangis.

"Apa kau pernah dipeluk orang tuamu. Yoon? Bagaimana rasanya? Apakah hangat?" Hyera terkekeh. "Apa ini? Abaikan pertanyaan bodohku."

"Sangat hangat. Rasanya seperti membuatmu kecanduan. Ingin lagi bahkan lebih. Pelukan, bagaimana kedua tangan itu mendekapku dengan lembut, mengelus punggungku, mengusap kepalaku. Hembusan nafas di leherku, bahkan kecupan lembut di wajahku. Aku masih ingat bagaimana rasanya walaupun sudah lama."

Yoongi mengangkat kedua tangannya lalu menatapnya. Terbayang bagaimana tubuh kecilnya direngkuh oleh dua orang yang disebutnya sebagai Ayah dan Ibu. Memberikan sebuah kehangatan yang luar biasa sampai membuat tidak bisa melupakannya.

"Beruntung sekali. Aku juga ingin." Hyera mendongakkan kepalanya, menatap atap halte kosong.

Yoongi tersadar dari kerinduannya. Suara Hyera sepertinya sudah seperti racun sendiri untuknya.

"Aku ingin tapi tidak bisa. Bahkan sampai detik ini. Bohong sekali jika aku tidak menginginkannya."

Yoongi sadar, jika ada orang yang tidak seberuntungnya dan itu adalah teman sebangkunya sendiri. Bagaimana gadis itu menyumpahi Hoseok, Jimin dan Namjoon. Bagaimana gadis itu mengejek Jungkook. Bagaimana gadis itu mencibir Seokjin. Bagaimana gadis itu begitu menuruti perkataannya dan Taehyung. Bagaimana dengan keputusan sepihak yang selalu dibuatnya. Itu hanya sebuah tameng untuk menutupi keinginan dan kerapuhan yang mendalam.

"Tapi tadi, aku baru saja mendapat kehangatan walaupun bukan dari orang yang melahirkanku ataupun dari orang yang harusnya menjadi pahlawanku." Hyera menatap Yoongi, airmatanya kembali mengalir. "Pelukannya sangat hangat. Aku hampir saja terbuai."

Airmata itu semakin deras, membuat lupa rasa dingin yang menyerang seluruh permukaan kulit. Yoongi dapat melihat bagaimana rapuhnya tubuh itu dan membuatnya langsung merengkuh tubuh itu ke dalam pelukannya. Berusaha membagi kehangatan yang diperlukan walaupun tidak banyak.

"Aku menyukai pelukan itu. Harum pappermint-nya saja masih terasa. Tapi tidak lama. Aku mendorong tubuhnya. Aku takut terlena lalu menyakitkan lagi. Jantungku sudah seakan ingin lepas dari tempat. Aku tidak tahan. Aku ingin merasakan pelukannya lagi, lebih lama tapi saat yang sama aku takut, Yoon, sangat takut jika itu hanya bualan."

"Sudah, sudah. Aku akan menggantikan kehangatan itu sementara. Jadi cukup, jangan lari lagi!"


Next chapter

"Sejauh ini tidak ada laporan pengunduran diri dari seluruh murid kelas itu."

"Apa maksudmu?"

"Aku tidak mau tahu. Kelas itu harus sudah kosong sebelum semester baru. Terutama dia, dia, dia, mereka yang sudah mempersulitku dan putriku."

"Sepertinya itu sulit. Banyak dari mereka adalah murid beasiswa dan ingin mempertahankan diri di sekolah itu."

"Lihat saja sampai kapan mereka akan bertahan disana. Kita akan mulai dengan mereka."


Jreng, jreng, jreng...

Part ini sepertinya kurang greget. Ada yang paham hubungan Baekhyun dan Hyera? Atau gimana kelanjutan hubungan Hyera dan Yoongi? Hehe...

Masih banyak hal yang akan terungkap satu persatu...

So, stay on this way...

Gli.