Last chapter

"Aku menyukai pelukan itu. Harum pappermint-nya saja masih terasa. Tapi tidak lama. Aku mendorong tubuhnya. Aku takut terlena lalu menyakitkan lagi. Jantungku sudah seakan ingin lepas dari tempat. Aku tidak tahan. Aku ingin merasakan pelukannya lagi, lebih lama tapi saat yang sama aku takut, Yoon, sangat takut jika itu hanya bualan."

"Sudah, sudah. Aku akan menggantikan kehangatan itu sementara. Jadi cukup, jangan lari lagi!"


Chapter 8

Hal terakhir yang Hyera ingat adalah ketika tubuhnya direngkuh oleh Yoongi dan setelah itu dia sama sekali tidak ingat sampai akhirnya dia terbangun di pagi ini dan menemukan Daniel yang masuk ke kamarnya dengan hanya menggunakan celana pendek tanpa baju.

"Bagaimana tidurmu?"

Hyera menguap sebelum akhirnya menjawab, "nyenyak. Apa semalam terjadi sesuatu?"

"Begitulah. Tidak perlu dibahas lagi."

Hyera mengangguk paham. "Aku hanya ingat dipeluk Yoongi."

Daniel mendekati Hyera lalu duduk di ranjang sepupunya itu. "Yoongi, sepertinya dia mengurusmu dengan baik dan membuatku menceritakan beberapa hal tentangmu."

"Apa itu? Kau menceritakan hal memalukan ya?"

Daniel mengedikkan bahunya acuh lalu tertawa kecil. "Yang pasti, sesuatu yang bisa aku percayakan dengannya."

"Tidak biasanya kau mempercayai aku dengan orang lain. Maksudku, kau bahkan tidak mengizinkan teman-temanmu bertemu denganku. Bahkan Chanyeol saja harus ditendang saat pertama kali berbicara denganku."

"Itu artinya aku peduli." Daniel menepuk kepala Hyera lalu beralih mencubit pipinya. "Sepertinya aku akan menitipkanmu pada Yoongi saja jika aku dan Ayah tidak di rumah."

"Berlebihan sekali. Kau pikir aku baru pertama kalinya ditinggal sendirian?! Aku bukan anak kecil."

"Oh, kau tetap adik kecilku."

"Tiba-tiba aku ingin Yoongi menjadi sepupuku daripada kau."

"Ya sudah, jadi adik Yoongi sana!"

"Call!"


Yoongi masih dapat melihat sirat kesedihan pada wajah itu walaupun saat ini gadis yang sedang diperhatikannya sudah kembali pada sifatnya yang biasa. Seolah kejadian kemarin bukan apa-apa. Bahkan saat ini, gadis itu sedang berkumpul dengan teman perempuan sekelasnya di depan kelas –setelah menyumpahi Hoseok yang lupa membawa buku catatannya.

"Teman-teman."

Seperti biasa, suara sang ketua kelas mengudara saat itu. Mengalihkan seluruh pandangan ke arah pintu masuk yang ada di belakang. Ah, sepertinya ada sesuatu yang serius. Begitulah pemikiran Yoongi.

"Nilai kita terus menurun dan itu membuat masalah untuk ujian yang akan datang."

"Tunggu! Maksudmu nilai kita sama sekali tidak ada harapan?" Taeyong menatap tidak percaya.

Seongcheol tampak menundukkan kepala. "Jika nilai kita tidak meningkat saat ujian, maka tidak ada harapan untuk kita bertahan di sekolah ini."

"Aku tidak bisa pindah begitu saja. Pasti biaya untuk pindah sekolah sangat besar."

"Padahal aku sudah berusaha untuk mempertahankan semuanya."

"Harapanku hanya pada beasiswa ini."

"Hampir seluruh penghuni kelas ini adalah murid beasiswa. Apa tujuannya hanya untuk menyingkirkan mereka?"

Pernyataan Sungjae mengalihkan seluruh atensi kepadanya.

"Maksudku, coba kalian pikirkan. Seluruh penghuni kelas kita termasuk ke dalam daftar murid terbaik tapi kita semua terlempar ke daftar murid terburuk hanya dalam enam bulan. Aku jadi berpikir, apa kita pernah membuat kesepakatan agar berada di kelas ini? Bahkan peringkat 10 besar saja ikut terdepak ke kelas ini."

Kini seluruh pandangan beralih pada tujuh siswa yang masih duduk dalam diam di barisan belakang. Tak ketinggalan Hyera yang masih berdiri di depan kelas.

"Aku, tujuh dari mereka, dan Hyuna bukan murid beasiswa, sedangkan sisa dari yang lainnya adalah murid beasiswa, termasuk Yoongi, Seongcheol, Taeyong dan kalian semua. Aku, menurutku ada hal yang tidak beres dengan sistem di sekolah ini."

Dalam diam, seluruh penghuni kelas Fiapeless tenggelam dalam pikiran mereka. Memikirkan tentang pernyataan Sungjae dan nasib kelas mereka. Oh, tidak semua. Karena delapan dari mereka baru saja bertukar pandangan.


"Sejauh ini tidak ada laporan pengunduran diri dari seluruh murid kelas itu."

"Apa maksudmu?"

Suara itu berhasil membuat pembicara pertama bungkam. Sedangkan wanita yang baru saja mengeluarkan suara tinggi itu langsung beranjak dari posisinya.

"Aku tidak mau tahu. Kelas itu harus sudah kosong sebelum semester baru. Terutama dia, dia, dia, mereka yang sudah mempersulitku dan putriku."

"Sepertinya itu sulit. Banyak dari mereka adalah murid beasiswa dan ingin mempertahankan diri di sekolah itu."

Wanita itu sedikit melunak sambil menatap sebuah bingkai foto yang kini sudah berada di tangannya. "Lihat saja sampai kapan mereka akan bertahan disana. Kita akan mulai dengan mereka." Senyum yang penuh arti baru saja ditunjukkannya. Sebisa mungkin, dia harus bisa menyingkirkan penghuni kelas itu. Bertingkah seolah semuanya sama saja dengan tahun-tahun sebelumnya.


"Aku ingin bertanya, apa salah satu dari kalian ada yang sudah mengurus kepindahan?"

Hyera mendudukkan dirinya di atas meja setelah memberikan pertanyaan yang membuat tujuh temannya saling melemparkan tatapan selama beberapa saat sebelum akhirnya menggeleng bersamaan.

Sebenarnya mereka sudah pulang sekitar tiga puluh menit yang lalu. Namun urung karena kepala mereka masih berisi beberapa pertanyaan yang jawabannya belum ditemukan.

Jungkook yang masih betah di kursinya menghela nafas sebelum menjawab. "Aku akan mengurusnya saat benar-benar dikeluarkan dari sekolah."

Jimin tampak mengangguk setuju atas pernyataan sahabatnya. Ibunya saja tidak terlalu peduli dengan masalah sekolahnya, jadi dia juga tidak ingin ambil pusing.

"Apalagi aku." Hoseok menghela nafas pendek. "Orang tuaku terlalu sibuk mengurus pekerjaan mereka."

Hyera melirik Yoongi yang setia duduk di kursinya tanpa minat untuk menjawab. "Aku juga sebenarnya ingin bertahan disini. Setidaknya sampai kita menemukan jawaban kenapa kelas ini terbentuk dan alasan kita berada disana."

"Soal itu, apa tidak ada yang mendapatkan petunjuk lain?" Seokjin menopang dagunya pada sandaran kursi lalu melirik teman-temannya satu persatu. Dia teringat akan petunjuk terakhir yang mereka dapatkan di rumah Hyera.

"Tidak ada sama sekali." Jimin menjawab, mendudukkan dirinya ke atas meja lalu menyilangkan kakinya. "Aku sedikit penasaran siapa yang mengirimi petunjuk itu kepada kita."

"Dan kenapa kita?!" Namjoon yang bersandar di loker sambil mengamati ketujuh temannya dari belakang ikut bersuara. "Ingat hal terakhir yang kita dapat?"

"Daftar murid beasiswa dan nilai." Taehyung menjawab, melirik sekilas ke arah Namjoon lalu kembali menutup matanya. Ah, dia menyesal karena terlalu cepat merespon pertanyaan saudara tirinya itu.

"Soal murid beasiswa, jika kalian mengamati setiap berita seputar murid yang menerima beasiswa di sekolah pasti ada banyak hal buruk."

"Hal buruk dalam artian?" Hoseok memutar kursinya untuk menatap Namjoon yang masih setia berdiri di belakangnya.

Namjoon mengeluarkan ponselnya, mencari sesuatu di laman pencarian. "Berita di dunia pendidikan itu beragam, salah satunya tentang murid beasiswa. Di setiap artikel sekolah yang dikeluarkan setiap semester dengan kata kunci beasiswa, pasti akan ada berita tentang sikap penerima beasiswa setiap tahunnya." Kemudian mengarahkannya tepat di wajah Hoseok.

Hoseok memiringkan kepalanya. "Aku tidak mengerti."

Yoongi mendengus kesal lalu meraih ponsel Namjoon dan membaca sebuah artikel. "Artikel seperti ini akan keluar setiap semesternya, tentang sikap yang tidak seharusnya dilakukan oleh murid beasiswa." Dia mengulurkan ponsel tadi kepada Jungkook lalu menghela nafas. "Singkatnya sikap tidak tahu diri yang dirangkum dari masalah-masalah yang pernah dilakukan oleh murid-murid penerima beasiswa."

"Dan salah satunya kau?"

Yoongi mengangguk. "Semakin banyak murid beasiswa yang diterima sekolah ini maka pamor sekolah akan naik karena tindakan sosialnya. Orang-orang akan bertanggapan betapa mulianya pihak sekolah memberikan beasiswa kepada murid-murid yang tidak mampu."

Namjoon mengangguk lalu beranjak dari posisinya. "Itu positifnya. Setiap sisi positif pasti memiliki lawan yang negatif."

Jimin bergerak turun dari atas meja lalu mendekati Jungkook yang masih membaca artikel melalui ponsel Namjoon. "Dan sisi negatifnya, pihak sekolah mungkin akan mengalami kerugian karena menerima banyak murid beasiswa. Benarkan?"

Taehyung membuka matanya lalu mengangguk setuju. "Cara jitu untuk mengatasi masalah itu adalah dengan menyingkirkan murid-murid beasiswa yang melakukan kesalahan. Sekecil apapun maka tidak ada tolerir sama sekali."

"Dengan tersingkirnya seluruh murid kelas kita maka sudah dapat mengurangi kurang lebih tiga perempat murid beasiswa di sekolah. Dan, kursi-kursi yang kosong akan dijual kepada pengusaha atau pejabat yang berpengaruh di sekolah tapi kelas F sudah tidak adalagi."

"Tunggu!" Hyera beranjak dari posisinya lalu menatap Taehyung yang masih di kursinya. "Aku ingin bertanya, apa orang tua salah satu dari kalian adalah donatur sekolah?"

Hoseok menggeleng. "Orang tuaku tidak melakukan hal seperti itu. Mereka terlalu sibuk."

"Sejauh yang aku tahu, keluarga kami tidak pernah melakukan hal itu disini." Seokjin ikut menambahkan.

"Ayah Jungkook dan Ibuku pernah menjadi donatur disini tapi itu jauh sebelum terbentuknya kelas Fiapeless." Jimin melirik Jungkook yang sudah mengembalikan ponsel Namjoon.

"Bagaimana dengan Sungjae dan Hyuna? Hanya mereka berdua yang bukan murid beasiswa selain kita." Hyera kembali melirik Namjoon untuk meminta jawaban.

"Orang tua Hyuna mengembangkan usaha mereka diluar negeri jadi tidak ada nama mereka disini." Namjoon menatap layar ponselnya, jari-jarinya masih setia bergerak di atas layar itu. "Orang tua Sungjae juga bukan tipe orang yang berpengaruh."

"Untuk tahun ini, donatur terbesar sekolah adalah orang tua dari Baek Seojung, Yeri, Eunha dan Gracia." Lanjutnya lalu mengarahkan layar ponselnya ke arah wajah Hyera.

Hyera mengamati tabel-tabel yang tertera di layar ponsel Namjoon lalu berdecih. "Sudah aku duga. Ini pasti ada hubungannya."

Jungkook menyipitkan matanya lalu melirik Hyera tidak mengerti. "Maksudmu?"

Hyera melipat kedua tangannya di depan dada. "Terlalu banyak hal yang aku simpulkan. Pertama, tentang murid beasiswa. Kemungkinan besar dari pernyataan kita ini, pihak sekolah ingin menyingkirkan murid beasiswa dan menjual kursi kosong itu dengan harga yang tinggi." Matanya melirik ketujuh temannya satu persatu.

"Kedua, tentang nilai akhir kita. Dari pemikiranku, sekolah menjual atau menyerahkan peringkat terbaik kepada donatur-donatur mereka dan menyingkirkan kita yang bukan bagian apapun di sekolah ini."

"Kalau begitu, semuanya sudah terjawab. Jadi, apa selanjutnya?" Hoseok menatap Hyera yang kembali ke kursinya.

"Kita memerlukan seseorang dari dalam sekolah untuk membantu kita. Hal seperti ini tidak akan cukup untuk menjatuhkan kepala sekolah dan para donatur itu."

"Sebenarnya aku sedikit penasaran," Seokjin menatap Yoongi yang baru saja membuka matanya, "bagaimana kau mendapatkan daftar itu?"

Yoongi menyipit. "Apa ini semacam tuduhan?"

"Tidak. Aku hanya penasaran bagaimana kau bisa mendapatkan daftar-daftar itu."

"Sudah aku katakan sebelumnya, aku menemukan itu terjatuh dari kotak pizza di meja makan Hyera."

Jungkook tenggelam dalam pikirannya. Dia teringat ketika petugas delivery mengantar paket pizza ke rumah Hyera malam itu. "Pizza yang dikirim Joonhyuk seosaengnim ada sekitar sebelas kotak termasuk pizza bonusnya."

"Aku memberikan satu kotaknya kepada Taeyong ." Hyera bergumam. Dia juga ingat itu karena saat pesanan pizza mereka datang, dia dan Jungkook adalah orang yang menerimanya. "Jangan bilang pizza bonus itu memang sengaja diisi oleh daftar itu?"

Jungkook memekik tertahan. "Tunggu! Maksudmu, bonus yang diberikan itu hanya kotak kosong yang diisi oleh daftar-daftar itu?"

"Ah, aku paham." Yoongi memukul mejanya pelan, berhasil mengalihkan seluruh pandangan ke arahnya. "Kertas itu terjatuh dari dalam kotak saat aku mengambilnya. Aku pikir itu memang ada di mejamu."

Hoseok menyipitkan matanya, berusaha keras mencerna setiap percapakan teman-temannya. "Jadi, kotak bekas itu memang kosong dari awal?"

"Aku yang memindahkan kotak kosong itu ke meja makan karena aku pikir memang sudah kosong." Ucapan Jimin berhasil mengundang perhatian ketujuh teman-temannya. "Untung saja tidak langsung kubuang."

"Intinya," Taehyung menyandarkan tubuhnya lalu mengamati kelas mereka, "dari awal ada seseorang yang memang berencana memberikannya kepada kita dan dia langsung menemukan caranya seperti itu."

Tiba-tiba saja keheningan melanda. Kedelapan remaja itu bergelayut dalam pikiran mereka sambil sesekali adu pandang lalu menggeleng.

"Tunggu!"

Sampai suara Hoseok mengudara dan sukses membuat Hyera mengumpat.

"Joonhyuk seosaengnim. Dia yang mentraktir kita pizza."

Seokjin menjentikkan jarinya. "Benar. Kemungkinan besar dia tahu tentang ini."

Hyera mengangguk setuju. "Aku juga pikir begitu," pandangannya tertuju pada jendela kelas yang terbuka, "dia bahkan tidak menanyakan apapun seputar alamatku."

Namun Yoongi menggelengkan kepalanya. "Kemungkinannya lima puluh persen." Tubuhnya yang sedari tersandar akhirnya beranjak. "Bisa saja salah satu dari kita memberitahu alamatmu. Hyuna atau Seongcheol?!"

"Aku juga setuju." Taehyung mengangguk lalu memutar tubuhnya untuk menatap Hyera. "Semuanya sama-sama berkemungkinan. Kita tidak bisa memutuskan begitu saja."

"Atau," seru Jimin setelah cukup lama memikirkan segala kemungkinan, "ada yang sengaja meninggalkannya?"

"Aku meragukan itu, Jim." Namjoon adalah orang pertama yang menyela.

"Intinya, siapa yang memberikan kita semua permintaan bersama bukti itu?"

Satu pertanyaan yang saat ini ada di kepala kedelapan remaja, membuat mereka semakin berpikir keras dan berhati-hati.

Ini tidak mudah.


"Apa? Aku sudah mengurus surat perceraian itu. Sekarang kau mau apa?"

"Kau tidak lihat aku sedang sibuk?"

"Apa peduliku? Kau hanya sibuk pada klien-klien yang membutuhkan keadilan, bukan padaku. Cepat tanda tangan!"

"Kenapa kau begitu memaksa? Aku harus menandatangani dokumen-dokumen ini."

"Apa susahnya? Ini hanya dua lembar. Kau tidak perlu membacanya lagi."

"Kau, kau tidak memikirkan bagaimana rasa bersalahku karena sudah membuat dia meninggal. Apa kau tidak pikir?"

"Oh, akhirnya kau sadar. Ya, kau penyebab kematian Hana. Kau membuat putri kecilku pergi untuk selamanya. Justru karena itu, aku ingin pergi darimu."

Hal terakhir yang dapat dia dengar adalah suara isakan dari Ibunya. Hoseok tidak tahan lagi. Bahkan pertengkaran kali ini, dua orang yang disebutnya sebagai Ayah dan Ibu itu kembali mengungkit perihal kematian adiknya. Itu sudah sangat lama, terlalu lama untuk kembali dibahas. Bukan, bukannya Hoseok tidak suka.

Makanya, setelah kembali mendengar bunyi gebrakan dari ruang kerja Ayahnya itu, Hoseok beranjak dari posisinya yang sudah cukup lama mendengar pertengkaran kedua orang tuanya yang tiada habisnya. Dia tidak tahan lagi.

Pintu bercat cokelat itu didobraknya, sontak membuat dua orang di dalamnya terkejut.

"Hoseok?!"

Suara Ibunya hampir terdengar seperti cicitan tikus, ditambah lagi isakan yang masih terdengar darinya.

"Belum cukup? Belum cukupkah kalian bertengar setiap hari dan membahas hal yang sama? Apa kalian tidak lelah? Aku saja sudah lelah mendengarnya." Hoseok berdecih. Airmatanya sudah menerobos keluar, dadanya sakit karena sesak. "Perceraian? Hana? Apa kalian pikir adikku akan bahagia mendengar kalian bicara seolah hal ini mudah di atasi?"

"Aku pikir, kalian telah melupakan sesuatu yang saat ini berada di tengah kalian. Apa kalian lupa jika masih ada aku disini? Aku, putra kalian yang masih bernafas ini, berdiri di depan kalian. Apa kalian lupa?"

Luapan emosi yang saat ini ditahannya keluar sudah. Hoseok benar-benar sudah lama menahan diri dan hanya berpikiran jika kedua orang tuanya sama-sama lelah dengan pekerjaan mereka. Dan itu semua berlalu selama bertahun-tahun.

Kakinya melangkah untuk mengambil surat perceraian yang terletak di atas meja kerja Ayahnya. Sedikit tidak menyangka jika Ibunya benar-benar ingin menceraikan Ayahnya, terbukti dari tanda tangan yang sudah ada disana.

"Baiklah, jika itu keinginan kalian." Hoseok melempar surat itu kembali ke meja Ayahnya. "Silahkan kalian berdua cerai dan lupakan aku. Kalian bahkan terlihat sudah tidak peduli padaku. Apakah Hoseok sudah makan, apakah Hoseok tidak ada masalah, apakah Hoseok lelah. Kalian tidak pernah mempertanyakan hal itu kepadaku. Jadi, urus saja surat perceraian kalian dan jangan harap aku akan ikut dengan salah satu dari kalian."

Hoseok pergi. Benar-benar pergi dari hadapan kedua orang tuanya.


Hyera sedang berada di perjalanan pulang setelah mengantar barang-barang milik Pamannya. Sejujurnya, dia sedikit mengeluh ketika Daniel melemparkan sebuah paper bag ke arahnya dan memintanya untuk mengantar barang Pamannya. Padahal Daniel yang diminta, tapi pemuda itu malah menyuruh sepupunya menaiki bus sendirian menuju kantor Ayahnya, sedangkan dia harus kembali latihan. Menyebalkan.

"Ah, lagipula kenapa Paman harus mengajakku makan malam lagi?"

Diiringi dengusan kesal, Hyera hanya menatap jadwal bus yang sudah berakhir sejak sejam yang lalu. Apalagi yang bisa dia lakukan? Taksi? Dia hanya membawa uang pas untuk naik bus. Lagipula di tempatnya sekarang, taksi jarang melewati wilayah itu. Pilihan terakhir, pulang dengan jalan kaki. Hanya perlu waktu kurang lebih 40 menit dari sana.

Setengah perjalanan sudah gadis itu menempuh jalan pulang. Jarak rumahnya juga tidak terlalu jauh. Langkah santainya berubah menjadi larian kecil ketika mendapat satu orang di depannya sedang berdiri untuk menyeberang. Ah, itu Jung Hoseok, teman sekelasnya.

Tinggal beberapa langkah lagi, Hyera menyadari ada hal yang aneh dari temannya itu. Lampu lalu lintas untuk pejalan kaki sudah berubah menjadi merah namun Hoseok melangkahkan kakinya untuk menyeberang.

Saat yang sama, sebuah mobil melaju ke arah pemuda itu, membuat Hyera harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk menyelamatkan temannya. Tubuh kecilnya berlari di tengah dinginnya cuaca malam, memasuki areal penyebrangan untuk membantu Hoseok.

Decitan antara ban dan aspal terdengar bersamaan dengan dua orang yang sudah ikut terjatuh di aspal.

"Hei, kalian gila ya? Ini jalanan!"

Teriakan dari pengendara mobil membuat Hyera meminta maaf berulang kali. Setelah itu, mobil itu kembali melaju.

Hyera berusaha berdiri dari posisinya walaupun sadar jika celana jeans-nya sudah menampakkan cairan merah di bagian lutut. Namun memang dasarnya Hyera yang keras kepala, gadis itu langsung menyumpahi Hoseok dengan berbagai macam umpatan. Tidak peduli jika beberapa bagian tubuhnya sedang terluka.

"Kau gila! Apa yang kau pikirkan? Kau sedang buta warna ya?"

Bukan jawaban yang diterima Hyera, melainkan sebuah isakan kecil saat Hoseok menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan sontak membungkam Hyera dalam diam.

"Aku lelah, Hyer. Mereka bertengkar dan mengatakan akan bercerai tanpa memikirkan aku. Apa mereka lupa jika mereka juga memiliki satu anak lainnya?"

"Mereka bertengkar karena hal yang sama dan setiap hari. Tidak pernah menanyakan kabarku ataupun masalahku. Aku iri dengan yang lain, saat orang tua mereka mempertanyakan keadaan anak mereka. Aku, aku ingin menyusul Hana saja."

Hyera masih diam. Dia tidak bisa dan tidak pernah berada di posisi ini. Bingung harus melakukan apa, gadis itu malah menunduk lalu menarik tangan Hoseok dan menampilkan wajah sembab pemuda itu.

"Aku tidak tahu harus bereaksi bagaimana dan melakukan apa. Tapi aku tahu satu hal, kau butuh tempat untuk menenangkan diri saat ini."


Taehyung langsung memarkirkan motornya sembarangan lalu berlari menuju rumah yang akhir-akhir ini sering menjadi tempat berkumpul mereka. Langkahnya terburu-buru, membuka pintu yang tidak terkunci itu lalu masuk ke dalamnya. Mengamati dengan hati-hati, mencari sosok yang tinggal di rumah ini.

"Oh, kau sudah datang?"

Hyera yang udah mengganti pakaiannya kini sedang duduk di tangga sambil memangku kotak P3K. Bibirnya sedikit tersenyum kecil menyambut kedatangan Taehyung.

"Dimana Hoseok? Bagaimana keadaannya? Apa dia terluka?"

"Calm down!" Hyera beranjak dari posisinya lalu menuruni tangga. Berhenti sebentar di depan Taehyung sebelum akhirnya menatap pintu yang ada di sisi kanannya. "Dia sedang tidur. Badannya panas dan aku baru selesai mengganti kompresnya."

Taehyung sedikit menghela nafas lega. Dia sangat panik ketika mendapat pesan dari Hyera yang mengatakan jika sahabatnya dalam keadaan yang tidak baik. Itulah salah satu alasan kenapa pemuda itu langsung keluar dari rumahnya tengah malam dan melajutkan motornya ke rumah ini.

Hyera membalikkan badannya untuk menaiki tangga. "Kalau ingin menginap, kau bisa tidur di kamar sepupuku atau menemani Hoseok. Aku harus kembali ke kamar."

Hyera baru menaiki satu anak tangga saat tangan Taehyung menariknya. Keduanya terdiam untuk beberapa saat sampai akhirnya Hyera meringis karena kakinya ngilu, mengingat dia berdiri terlalu lama.

"Obati lukamu lalu kembali ke kamar." Taehyung bersuara sambil menatap Hyera yang memijat kaki kanannya.

"Aku akan mengobatinya di kamar." Hyera kembali berdiri tegak, masih memeluk kotak P3K yang dibawanya tadi. "Kau juga, temani Hoseok sana."

Taehyung terdiam. Tangannya melepas lengan Hyera. Matanya masih menatap Hyera yang membalas tatapannya dengan bingung. "Hah, aku pikir kau tipe perempuan yang selalu ingin tahu urusan orang lain."

Hyera mengerjap. Tidak mengerti maksud dari ucapan Taehyung. "Maksudmu?"

"Saat sedang terjadi sesuatu kau akan langsung menanyakan untuk sekedar mencari tahu apa yang terjadi pada Hoseok." Taehyung mengedikkan bahunya lalu membalikkan badannya, berniat untuk duduk di sofa yang berada di ruang tengah.

Entah kenapa, tapi Hyera malah mengikuti langkah Taehyung dan duduk di singel sofa. "Aku juga tidak terlalu ingin ikut campur. Jika ingin cerita, silahkan. Selama bisa membantu, aku akan diam saja."

"Tidak buruk juga. Kau, aku pikir banyak hal positif yang ada padamu." Taehyung menatap Hyera yang mulai membuka kotak P3K miliknya. "Kecuali untuk kebiasaanmu memutuskan kehendak sendiri dan mengumpat."

"Aku ini anak baik, tahu?! Tidak pernah membangkang Pamanku." Hyera menggulung celana panjangnya sampai lutut dan memperlihatkan jejak luka disana. "Walaupun hanya pada Paman."

"Kau juga cukup penurut pada Yoongi, tapi tidak padaku dan yang lain." Taehyung memutuskan untuk beranjak dari posisinya dan berlutut di depan Hyera, membantu gadis itu untuk mengobati lukanya.

"Padamu? Memangnya kau pernah menyuruhku apa? Selain diam atau mengajukan protes yang tak berarti."

Taehyung mencibir sambil membasahi kapas dengan antiseptik. "Terima kasih sudah membantu Hoseok."

"Bukan apa-apa. Daripada aku hanya berdiam diri dan melihatnya yang ingin melukai dirinya atau bahkan membunuh dirinya."

Taehyung yang saat itu sedang membersihkan luka Hyera harus menghentikan aksinya lalu menatap gadis itu. "Bunuh diri? Apa maksudmu?"

"Aku tidak terlalu tahu apa yang dipikirkannya saat itu tapi yang aku pahami, dia terlihat putus asa. Menceritakan orang tuanya bertengkar dan akan bercerai lalu ingin menyusul adiknya. Dia hampir tertabrak jika aku tidak mendorongnya."

"Bercerai?" Tampak terkejut untuk beberapa saat sampai akhirnya Taehyung tampak memejamkan matanya selama beberapa detik lalu menghela nafas. "Aku tidak menyangka mereka benar-benar akan bercerai tanpa memikirkan anaknya."

"Sebenarnya aku tidak ingin tahu tapi karena sudah terlanjur membahasnya, apa yang terjadi pada idiot itu?"

"Hye, aku cukup tersinggung saat kau memanggilnya idiot." Taehyung menggelengkan kepalanya lalu melanjutkan kegiatannya untuk mengobati luka Hyera. "Tidak ada masalah, sebenarnya. Keluarga Hoseok tergolong keluarga yang bahagia. Ayahnya seorang pengacara ternama dan Ibunya pemilik butik yang cukup terkenal. Mereka sangat jauh dari kata masalah jika saja lima tahun yang lalu kecelakaan itu tidak terjadi. Kecelakaan yang merenggut adiknya, Hana."

Oh, tiba-tiba Hyera menyesal sudah menanyakan hal seperti itu. mungkin dia akan meminta maaf pada Hoseok karena sudah mendengarkan cerita ini.

"Semenjak kejadian itu, orang tuanya selalu bertengkar, saling menyalahkan satu sama lain lalu bertengkar. Mereka berdua seolah lupa dengan keberadaan Hoseok. Anak itu saja yang sok kuat. Dia selalu diam selama lima tahun ini, mengabaikan pertengkaran orang tuanya. Tapi sepertinya sekarang dia sudah tidak tahan lagi."

Taehyung mengakhiri kegiatan mengobati luka Hyera dengan membalut luka gadis itu dengan perban. "Hoseok memang menyebalkan tapi itu semua demi mengelabuhi kemarahannya."

"Ah, kau membuatku harus benar-benar mengucapkan maaf pada anak itu."

"Kau tidak harus meminta maaf, Hyer."

Keduanya terkejut oleh suara serak khas orang baru bangun tidur lalu menoleh ke sumber suara, dimana Hoseok sudah berdiri di belakang mereka berdua.

"Aku yang harusnya minta maaf karena sudah menyusahkanmu dan membuatmu terluka."

Ah, pandangan itu tertuju pada lutut Hyera yang berbalut perban. Dia sudah berdiri disana sejak kedua orang itu sudah membicarakan masalahnya.

"Ini hanya luka kecil jadi jangan berlebihan." Hyera hanya mengangkat bahunya lalu tersenyum.

"Bagaimana keadaanmu, Seok?"

Pandangan Hoseok tertuju pada sahabatnya, Taehyung. "Baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir."

Senyuman itu, senyuman yang Hyera dan Taehyung yakini hanya topeng yang digunakan Hoseok selama ini.

Taehyung beranjak dari posisinya, melangkah mendekati Hoseok lalu menatap sahabatnya itu. Keduanya terdiam selama beberapa saat sampai akhirnya Taehyung memutuskan untuk memeluk sahabatnya itu.


"Hei, Kim Tae! Dimana temanmu? Dua hari tidak kelihatan."

Taehyung sama sekali tidak ada niat untuk menggubris pertanyaan Jungkook. Dia malah menghantarkan kepalanya ke atas meja, memutuskan untuk tidur.

Ah, sudah dua hari Hoseok tidak hadir ke sekolah sejak kejadian malam itu. Dia memutuskan untuk pulang keesokkan harinya untuk membicarakan kepada kedua orang tuanya. Ditambah lagi, Taehyung terus memaksanya untuk pulang karena pemuda Kim itu berkali-kali mendapat telepon dari orang tua Hoseok.

"Teman-teman."

Seperti biasa, Seongcheol selalu memanggil temannya seperti itu jika sedang ingin menyampaikan sesuatu.

"Hari ini Seo-ssaem tidak masuk kelas."

"Lagi?"

"Syukurlah."

"Aku rasa itu lebih baik."

"Tapi dia menitipkan tugas kelompok untuk membuat resume dari seluruh materi yang diberikan. Oh, sama bikin sepuluh makalah lagi. Materinya aku bagikan di grup chat ya."

"Materi apanya? Hadir saja hanya tiga kali."

"Turuti saja daripada menambah masalah."

"Tugas apa?"

Seluruh mata penghuni barisan belakang langsung tertuju ke arah pintu belakang, dimana Hoseok berdiri dengan hoodie yang menutupi kepalanya. Oh, terkecuali untuk Kim Taehyung yang sudah terlelap.

Hyera memutar kursinya untuk menyambut Hoseok yang baru saja memasuki sekolah. "Oh, kau sudah kembali? Bagaimana?"

Hoseok hanya menghela nafas lalu menggeleng. "Dia tidur?" Tanyanya sambil menatap Taehyung yang tertidur. "Jadi, kapan kita akan mengerjakan tugasnya?"

Seokjin mengangkat bahunya sebagai jawaban lalu melirik Namjoon yang sudah membuka bukunya. "Terserah kalian saja."

"Lokasinya tetap saja di rumah Hye~"

Hyera menggeleng sambil mengangkat tangannya untukmenghentikan kalimat Jimin. "Tidak, tidak. Pamanku sudah pulang kemarin. Kalian harus mencari markas baru."

"Siapa? Tidak mungkin salah satu dari mereka, 'kan?" Jungkook bersuara sambil melirik lima orang yang dimaksudnya.

Hyera tampak berpikir lalu menarik kursinya kembali. Sedikit berharap ada tempat lain yang dapat dijadikan tempat berkumpul mereka selain rumahnya. Ah, Paman Kang tidak mungkin marah jika dia membawa teman, hanya saja rasanya akan sedikit tidak nyaman mengingat bagaimana hebatnya tujuh temannya itu dalam membuat kehebohan.

Oh, matanya tertuju pada Yoongi yang tampak sibuk dengan ponselnya. "Aku tahu satu tempat."


Next chapter

"Yoon!"

"Dimana Hyera?"

"Kau memanggilku hanya menanyakan hal itu? Dia baru saja pergi mengambil buku."

"Chanyeol-hyung?!"


Hubungan Hoseok dan orang tuanya tidak baik. Kira-kira Hoseok bisa kelarin masalahnya atau malah makin panjang ya?

Gli.