Last chapter
"Siapa? Tidak mungkin salah satu dari mereka, 'kan?" Jungkook bersuara sambil melirik lima orang yang dimaksudnya.
Hyera tampak berpikir lalu menarik kursinya kembali. Sedikit berharap ada tempat lain yang dapat dijadikan tempat berkumpul mereka selain rumahnya. Ah, Paman Kang tidak mungkin marah jika dia membawa teman, hanya saja rasanya akan sedikit tidak nyaman mengingat bagaimana hebatnya tujuh temannya itu dalam membuat kehebohan.
Oh, matanya tertuju pada Yoongi yang tampak sibuk dengan ponselnya. "Aku tahu satu tempat."
Chapter 9
Yoongi hanya pasrah saat bangku tersudut café di tempatnya bekerja sudah dipenuhi oleh tujuh orang yang sepakat untuk mengerjakan tugas mereka disana. Ah, dia penasaran, apa yang membuat enam teman sekelasnya itu begitu mendengarkan ucapan orang yang menjadi satu-satunya perempuan di antara mereka.
"Dua frappe, satu affogato, dua smoothie, dua latte dan satu espresso. Benar, 'kan?"
Yoongi hanya mengangguk sebagai jawaban akan pertanyaan dari rekan kerjanya itu sambil memandangi satu nampan berisi tujuh gelas aneka olahan minuman.
"Yoon, siapa yang minum espresso di jam seperti ini?"
Ah, benar. Sedari tadi tatapannya hanya tertuju pada secangkir espresso. Memangnya remaja mana yang mau minum espresso di tengah hari seperti ini? Maka jawabannya adalah Kang Hyera. Ya, disaat yang lain minum minuman dingin di cuaca panas seperti sekarang, gadis itu malah memesan segelas espresso. Aneh, bukan?
"Hanya satu orang aneh yang selalu membuat keputusan seenaknya." Yoongi mengambil nampan itu lalu membawanya menuju teman-temannya.
"Ya ampun, tanganku bisa lentur karena banyak mengetik." Jungkook menggerutu, mengibaskan tangannya yang sudah pegal karena sudah mengetik sedari tadi.
"Mataku saja sudah ingin berputar rasanya karena harus menatap buku dan ponsel untuk mencari referensinya." Seokjin melempar ponselnya ke atas meja. Dia ingin menyerah.
Yoongi hanya meletakkan nampan yang berisi gelas itu di tengah-tengah lalu menarik kursi untuk duduk di antara Namjoon dan Hyera.
"Kemana tiang listrik?" Tanya Hyera sambil menyikut lengan Yoongi.
"Sebentar lagi datang." Yoongi mengambil buku yang terletak di depan Namjoon lalu membacanya.
Taehyung menutup bukunya lalu mengambil gelas yang berisi berry smoothie dan menyeruputnya. "Ada beberapa hal yang diperlukan dari buku yang kita gunakan sebelumnya."
Jimin meletakkan ponselnya lalu menatap Taehyung yang duduk di depannya. "Ah, kau benar. Bukunya, aku lupa ada dimana."
Hyera mengambil cangkir espresso. "Masih di rumahku. Tersimpan dengan rapi." Kemudian menyeruputnya.
"Ambil sana!" Hoseok menyahut, sudah kembali menjadi sosok menyebalkan seperti sebelumnya.
"Kau tidak lihat aku sedang menikmati espresso-ku?"
Hoseok mendengus. "Aku tidak yakin kau masih waras. Perempuan mana yang hobi meminum espresso ditambah cuaca seperti ini?"
"Dan orangnya adalah aku." Hyera tampak membanggakan dirinya tanpa ragu. "Lalu siapa yang ikut denganku mengambil bukunya?"
Seokjin langsung mengambil ponselnya sebelum bersuara. "Suruh Jimin saja. Dia sudah menyimpan ponselnya."
"Apa? Aku?"
Hyera menyimpan cangkir espresso-nya yang sudah kosong lalu beranjak dari posisinya, meraih ranselnya. "Ayo, Park!"
"Aku bahkan tidak menjawab iya."
Saat yang sama dengan perginya dua orang tadi, Chanyeol datang memasuki café. Matanya langsung tertuju pada Yoongi yang sedang mengerjakan tugas kelompoknya.
"Yoon!"
Yoongi menoleh, ke arah Chanyeol yang berdiri sambil bersandar pada meja pemesanan. Dia menatap aneh ke arah pemuda tinggi itu.
"Dimana Hyera?"
Yoongi mendengus. "Kau memanggilku hanya menanyakan hal itu? Dia baru saja pergi mengambil buku."
"Chanyeol-hyung?"
Tidak mungkin?!
Daniel hanya bisa berdiri di samping sofa dimana Ayahnya sedang duduk. Matanya menatap ke arah empat orang yang duduk di depan mereka. Sepasang suami istri, seorang remaja perempuan dan seorang pemuda.
"Jadi kalian akan menginap disini?"
Si pria berstatus suami itu mengangguk. "Hanya sampai pekerjaanku disini selesai. Lagipula Baekhyun juga meminta untuk berkunjung."
Kang Minhyuk melirik putranya sejenak sebelum akhirnya beralih pada empat orang di depannya. "Baiklah. Lagipula sudah lama kalian tidak berkunjung."
"Ya, jika bukan karena Baekhyun, kami juga tidak akan menginjakkan kaki disini."
Oh, Daniel ingin sekali membungkam wanita yang berstatus sebagai Bibinya itu. Bisa-bisanya wanita itu masih bertahan hidup dengan keegoisan yang mendarah daging itu.
"Daniel," panggil Minhyuk pada putranya agar mendekat, "kau sudah menghubungi Hyera?"
Daniel menggeleng. Ah, dia lupa untuk mengabari sepupunya itu jika mereka sedang kedatangan tamu.
"Baekhyun, sebelumnya Paman minta maaf karena tidak bisa datang ke wisudamu."
"Tidak apa, Paman." Baekhyun tersenyum lalu melirik Daniel. "Melihat kalian sekarang baik-baik saja, aku sudah senang."
"Aku pulang!"
Minhyuk tersentak, Daniel gelagapan, sedangkan keempat tamu mereka langsung menoleh ke sumber suara. Dimana Hyera dan Jimin baru saja melangkah masuk.
"Pa~"
Hyera tidak menyelesaikan sapaannya ketika menyadari ada orang lain disana. Empat orang yang sangat dia kenal.
"Oh, Hyera? Baru pulang?" Sapa sang suami dengan nada ramah.
Dengan cepat, Hyera membuang muka dan menatap Pamannya, kedua matanya menatap seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Hye~"
"Aku harus mengambil buku untuk bahan tugas. Ayo, Jim!"
Jimin yang tidak mengerti dengan situasi yang baru saja terjadi hanya bisa pasrah saat lengannya ditarik paksa oleh Hyera.
"Ah, sial. Dimana aku menyimpannya?"
"Hye?"
"Sabar, Jim. Aku lupa menyimpannya dimana."
"Hye~"
"Kenapa aku bisa lupa?"
Jimin geram. Dia sudah mendapatkan buku-buku yang mereka cari, terletak di atas meja sedangkan Hyera masih membongkar meja belajarnya dan rak buku. Tak ingin berlama-lama, Jimin langsung menarik kerah seragam gadis itu agar berhenti.
"Aku sudah menemukannya. Jadi berhenti menyibukkan dirimu untuk membongkar semuanya."
Hyera menghentikan pergerakannya. Tubuhnya masih setia membelakangi Jimin dengan pandangan yang tertuju pada sebuah foto yang berada di atas mejanya. Dimana sosok kecil dirinya bersama Daniel dan orang tuanya.
"Hye, Namjoon sudah mengomel di grup. Ayo kembali!"
Jimin sibuk memasukkan buku-buku itu ke dalam ranselnya. Tidak mengetahui Hyera yang sedang berusaha menahan isakannya. Bahkan sampai pemuda itu selesai dengan kegiatannya dan bersiap keluar dari kamar.
"Hyera?!"
Butuh waktu beberapa detik untuk membuat Hyera membalikkan badannya dan wajah itu berhasil membuat Jimin mengurungkan niat untuk meneriakkan namanya.
"Kau menangis?"
"Tidak. Hanya kelilipan." Hyera memilih untuk meraih ranselnya yang lain, mengambil sebuah sweater dan kaos hitam dari lemarinya lalu memasukkan ke dalam ranselnya. "Sudah, 'kan? Ayo, pergi!"
Kembali ke ruang tengah yang hanya tersisa tiga orang dewasa disana. Baekhyun dan adik perempuannya sudah berada di kamar mereka, Daniel memilih untuk menenangkan diri di halaman belakang. Ketiga orang itu tampak tidak bicara, sampai Hyera dan Jimin kembali dan membuat Minhyuk segera menoleh.
"Kau akan pergi lagi?"
Hyera mengangguk dengan senyum tipis.
"Jangan pulang terlambat!"
"Maaf, Paman, sepertinya aku akan menginap di rumah temanku karena tugas."
Jimin menoleh ke arah teman sekelasnya itu. Kemudian beralih pada sepasang suami-istri, dimana sang suami sedang menatapnya ramah, sedangkan sang istri tampak tidak peduli dengan keberadaan mereka.
"Aku pergi dulu!"
Hyera mendahului langkahnya, membuat Jimin tersadar dari kegiatan pengamatannya. Pemuda Park itu langsung membungkukkan badannya dan berpamitan lalu menyusul Hyera.
Jimin sadar ada yang berbeda dengan Hyera sejak mereka tiba di rumah tadi. Ekspresi menjengkelkan gadis itu jelas sekali telah sirna. Padahal sebelumnya, gadis itu sempat mengatai Jimin dan memukulnya sepanjang jalan.
Bahkan sepanjang jalan mereka kembali ke café, Hyera hanya terdiam. Jimin tidak bodoh. Walaupun sedang berada di jalan ditambah deruan kendaraan, telinganya masih baik. Dia dapat mendengar isakan kecil dari belakangnya. Tidak, dia tidak ingin mengganggu gadis itu. Namun Jimin teringat tentang sepasang suami-istri tadi. Dia pernah melihatnya di suatu tempat.
"Kalian kemana saja? Hampir saja aku pulang."
Suara Hoseok berhasil mengundang dengusan sebal dari Jimin yang baru saja mendudukkan dirinya di antara Jungkook dan Taehyung.
"Mana bukunya?" Namjoon bersuara sambil mengulurkan kedua tangannya di tengah mereka, tertuju pada Hyera yang baru saja duduk.
"Ada padaku." Jimin mengangkat ranselnya ke atas meja, membiarkan Namjoon mengobrak-abrik isinya. "Yoon, boleh aku pesan berry smoothie?" Ah, dia baru saja akan meneguk gelas caffe latte yang tak sempat disentuhnya namun sudah berakhir kosong.
Yoongi mengangguk lalu beranjak dari posisinya untuk pergi memesan.
"Tunggu! Oi, Park!" Seokjin berseru, membuat Jimin langsung menoleh dengan malas. "Kau apakan Hyera? Matanya sembab, menangis?"
Oh, ini tidak baik.
"Benar. Kau kenapa, Hyer? Kau diapakan si pendek itu?"
Hyera menatap teman-temannya lalu menggeleng. "Aku tidak menangis."
"Lalu? Kenapa matamu sembab?" Kini giliran Taehyung melempar pertanyaan, dia merasa ada yang salah dengan teman mereka itu.
"Aku dan Jimin bertaruh tidak menggunakan helm dari rumah. Makanya mataku jadi begini." Hyera meraih tisu lalu mengelap wajahnya. "Sudah sampai mana?" tanyanya pada Namjoon.
Kedelapan remaja itu terlalu menikmati tugas mereka sampai lupa jika waktu makan malam sudah berakhir sejak sejam yang lalu. Beberapa gelas minuman dan botol air mineral, serta snack kecil menjadi teman mereka.
Hoseok merenggangkan tubuhnya. "Hei, perasaanku saja atau memang hari semakin malam?" Matanya tertuju keluar jendela, menatap lampu jalanan yang sudah menyala.
Yoongi menatap jam tangannya. "Sudah jam delapan lewat, sepertinya cukup dulu sampai disini."
"Aku setuju. Pinggangku sakit." Jimin ikut merenggangkan tubuhnya.
"Ya sudah, besok kita lanjutkan lagi." Namjoon menutup buku dan notebook-nya lalu memasukkan kedua benda itu ke dalam tasnya. "Tetap di café?"
Semuanya mengangguk setuju, terkecuali Hyera dan Yoongi.
"Aku, terserah kalian saja."
"Jadi, sepulang sekolah kita langsung kumpul disini." Namjoon beranjak dari posisinya, diikuti Seokjin.
Jimin menarik dua buku yang berada di atas meja lalu memasukkan ke dalam tasnya. Kemudian matanya beralih pada Hyera yang sudah beranjak dari posisinya.
"Kau akan menginap di rumah siapa?"
Ah, Jimin keceplosan.
Namjoon dan Seokjin yang baru saja akan melangkah pergi langsung menghentikan pergerakan mereka lalu menatap Hyera.
Hoseok mengernyit sebelum akhirnya bertanya. "Dalam rangka apa?"
Hyera menghela nafas. Amarahnya sedang hilang entah kemana. "Ada keluarga Pamanku yang baru tiba dari luar negeri. Mereka sudah lama tidak bertemu jadi aku tidak mau mengganggu."
"Lalu, kau akan menginap dimana?" tanya Taehyung.
"Rumah Hyuna. Aku sudah menghubunginya tadi."
"Wah, kau sadar atau tidak? Rumah Hyuna itu berjarak satu jam dari sini. Kau yakin akan kesana?" Seokjin bersuara, tidak percaya.
"Bagaimana dengan keluargamu yang lain?"
Hyera menatap Taehyung ragu lalu menggeleng. "Aku tidak mempunyai keluarga lain selain Paman dan sepupuku."
Ketujuh pemuda itu terdiam lalu saling bertatapan. Saling bertarung dengan pikiran mereka. Bukannya melarang gadis itu untuk menginap ke rumah Hyuna. Hanya saja, jika dipikirkan lagi, jarak rumah Hyuna dari café sangat jauh. Ditambah lagi, bus pada saat seperti ini tidak ada yang menuju kesana.
"Aku ingin menawarkan rumahku tapi aku sedang menginap di rumah Taehyung." Hoseok menyikut sahabatnya yang sedang berdiri di sebelahnya itu.
"Apalagi aku." Jungkook melirik Jimin.
Yoongi mengangkat bahunya. "Aku tinggal bersama temanku."
Kini seluruh pandangan tertuju pada Seokjin –kecuali Hyera.
"Ayolah, kalian tidak perlu seperti ini." Hyera meraih ranselnya, bersiap pergi.
Seokjin mendengus ketika menyadari maksud tatapan dari keenam temannya itu. "Aku tidak masalah jika memang Hyera ingin menginap di rumahku. Tapi biar aku peringatkan, Ibuku sedang tidak berada di rumah."
Hoseok menepuk pundak Seokjin. "Jin, aku lebih percaya jika Hyera bersamamu."
"Oh, peringatan kedua." Seokjin melirik Namjoon sejenak. "Manusia ini juga menginap di rumahku."
"Kau!" Jimin menunjuk Namjoon tepat di wajahnya. "Sesuatu yang sangat berbahaya bagi seluruh perempuan di muka bumi ini."
"A-apa maksudmu?"
Seokjin memiringkan kepalanya. "Dia sering menonton video dewasa di kamar jadi aku sedikit khawatir dengan Hyera."
"Kalau begitu, suruh saja dia pulang!" Kini Hoseok ikut-ikut menunjuk wajah Namjoon.
Namjoon menepis kedua tangan yang menunjuknya itu. "Memangnya kau siapa menyuruhku pulang? Harusnya kau sendiri sadar diri."
"Ya ampun, teman-teman. Café mulai ramai dan kalian bertengkar?" Hyera mendadak merasa heran dengan pertengkaran hanya perkara kecil. "Aku akan tetap menginap di rumah Hyu~"
"Tidak. Hyera tetap akan menginap di rumah Seokjin dengan syarat Yoongi ikut dengan mereka."
Lihatlah, sepertinya Hoseok baru saja membuat keputusan secara sepihak tanpa memikirkan pihak-pihak yang terlibat.
"Apa? Aku? Kenapa?"
"Tidak buruk juga. Setidaknya Yoongi bisa menghajar si otak mesum itu jika bertingkah." Jimin mengedikkan bahunya. "Kalau begitu, sampai jumpa besok!" Dia merangkul Jungkook dan melangkah pergi.
Yoongi bergumam, "kenapa harus aku?"
Rumah Seokjin kosong. Ibunya sedang berada diluar kota. Itu juga yang menjadi alasan Namjoon menginap di rumah Seokjin walaupun Hyera sedikit tahu ada alasan lainnya.
Setelah makan malam, keempatnya berkumpul di ruang tengah untuk melanjutkan tugas kelompok mereka. Tidak ada yang bersuara, bahkan ketika waktu menunjukkan hampir tengah malam.
Seokjin memutuskan untuk menutup bukunya. Matanya sudah lelah karena harus mengejar target tugas kelompok mereka. Begitupula Namjoon yang sudah bersandar pada sofa, sedangkan Yoongi yang sudah menelungkupkan wajahnya di atas meja.
Hyera yang baru saja akan meletakkan ponselnya ke atas meja setelah mengecek grup chat kelompoknya harus kembali meraih ponselnya ketika benda persegi panjang itu berdering. Gadis itu melirik pada layar ponselnya, dimana sebuah nomor tak dikenal menghubunginya. Tidak, bukannya Hyera tidak kenal, dia hanya terlalu malas untuk menyimpannya.
Jadi, dia beranjak dari posisinya, melangkah menuju dapur rumah Seokjin lalu menjawab panggilan itu.
"Hyera, kau dimana? Kau menginap di rumah temanmu yang dimana? Kau tidak apa-apa, 'kan? Aku akan menjemputmu sekarang. Paman dan Daniel mengkhawatirkanmu."
Hyera sama sekali tidak berminat untuk menjawabnya. Dia terus membiarkan ocehan kekhawatiran itu terus berlanjut sampai beberapa saat.
"Apa mereka mencariku? Apa yang harusnya aku sebut orang tua itu mencariku?"
Penelpon tidak menjawab namun dengan cepat suara itu mengalihkan pembicaraan.
"Kau dimana? Aku dan Daniel akan menjemputmu sekarang jadi kirimkan alamatmu."
"Tidak perlu. Aku lebih baik disini."
Hyera langsung memutuskan panggilan itu secara sepihak. Tangan kanannya meremas ponsel dengan geram, menyalurkan emosinya disana.
Keesokkan harinya
Jimin, Jungkook dan Hoseok langsung menginterogasi Yoongi, Seokjin dan Namjoon yang baru saja mendudukkan diri mereka. Pertanyaan seputar kenapa Hyera tiba dengan wajah sembab. Bahkan ketika tiga orang yang diinterogasi itu menjawab tidak tahu, tiga orang itu pindah untuk menanyai Hyera secara langsung. Namun hasilnya tetap sama. Hyera tidak menjawab, memilih untuk keluar kelas dan membolos.
Yoongi tahu, jika teman sebangkunya itu sedang mempunyai masalah walaupun dia sendiri tidak yakin apa masalahnya. Dia teringat tadi malam, dimana Hyera pergi ke dapur, menjawab telepon lalu memutuskan sepihak. Setelah itu, airmata mengalir di wajahnya dan gadis itu menangis di kamar Seokjin semalaman. Yoongi tahu. Dia mendengarnya tapi dia menyimpannya sendiri. Lagipula ini bukan pertama kalinya Yoongi melihat Hyera menangis seperti itu.
"Apa ini? Sedang membolos, eum?"
Hyera memejamkan matanya, muak dengan suara itu. Seojung dan teman-temannya. Padahal dia sudah menikmati duduk di taman sekolah, di bawah rindangnya pepohonan.
"Kapan kalian akan meninggalkan kelas itu? Aku sudah tidak sabar lagi melihat kelas itu kosong." Gracia menoyor kepala Hyera tanpa perasaan.
"Jangan cepat-cepat, Grace. Kasihan. Mereka hanya penghuni dengan beasiswa. Jika sudah dicabut, mereka akan pergi dengan sendirinya." Eunha memainkan rambut Hyera.
Seojung langsung mencengkram dagu Hyera agar menghadapnya. "Aku tidak sabar ingin mengetahui dimana sekolah barumu nanti, Kang Hyera."
Hyera langsung menepis tangan itu dan beranjak dari posisinya. "Tunggu saja kabar yang mengejutkannya nanti." Kakinya bersiap melangkah pergi jika saja tidak ditahan Yeri.
"Lihatlah! Berani sekali melawan anak pengurus yayasan sekolah."
"Hanya anak dari pengurus, kalian bukan kepala yayasan." Hyera berhasil menepis tangan Yeri. Namun pipinya harus berakhir perih ketika sebuah tamparan diterimanya dari Seojung.
"Sepertinya kau sudah membuat kesalahan yang besar, Hyera." Tangan itu menepuk pipi Hyera beberapa kali. "Ayo pergi!"
Hyera menghela nafas, dia benar-benar sedang tidak berminat untuk melawan keempat gadis itu dan memilih untuk kembali mendudukkan dirinya.
"Bagaimana kegiatan membolosnya, Nyonya Kang?"
Hyera menatap jengah begitu mendapati Hoseok yang sedang berdiri di depan kelas, tepat saat gadis itu membuka pintu. Tak ingin menanggapi, dia memutuskan untuk segera menghantarkan diri ke kursinya.
"Aku tidak tahu kau tidak tahu atau memang sengaja." Jimin menghantarkan bokongnya untuk duduk di meja lalu menyilangkan kedua kakinya. "Tapi kau sangat beruntung, membolos saat kelas kita sama sekali tidak dimasuki guru."
Pernyataan Jimin berhasil membuat Hyera menghentikan gerakan untuk menghantarkan kepalanya di atas meja lalu menoleh Jimin. "Maksudmu?"
"Beruntunglah, Kang." Jungkook menepuk puncak kepala Hyera beberapa kali. "Seluruh guru sekolah ini sedang mengadakan rapat persiapan ujian."
Ah, Hyera baru tersadar jika seisi kelas ini sepi. Hanya ada dirinya, Jungkook yang sudah memainkan rambut apel Jimin, Taehyung yang tertidur dan Hoseok yang sedang mencoret-coret papan tulis. Bahkan dia tidak menyadari jika teman sebangkunya, Min Yoongi sudah tidak berada disana. Termasuk Seokjin dan Namjoon.
"Namjoon mengajak bertemu di café Yoongi jam lima sore nanti. Dia bilang ada urusan sedikit." Jungkook mengangkat bahunya lalu melanjutkan kegiatannya untuk memainkan rambut Jimin.
"Aku juga harus pulang sebentar." Jimin bersuara sambil mengeluarkan setangkai permen. "Ya, setidaknya mengganti seragam."
Hyera mengangguk paham lalu menguap. "Kalau begitu aku akan langsung saja. Pulang ke rumah akan memakan waktu."
Sesuai perjanjian, kedelapan remaja itu sudah menghuni bangku di sudut café seperti kemarin. Tumpukan buku, beberapa notebook dan delapan gelas minuman menjadi teman mereka. Sesekali diskusi antar mereka terjadi, umpatan pun tak kunjung terlepas dari mereka. Mengabaikan keributan yang terdengar di café.
"Byun Seojoon masih menjadi panutan untuk calon hakim muda. Setelah ditetapkan sebagai anggota parlemen, Seojoon mengundurkan diri sebagai hakim. Dia masih sering berkunjung ke kantor pengadilan untuk sekedar menyapa rekan, junior dan calon hakim muda."
"Sayang sekali dia berhenti menjadi hakim. Padahal kasus yang ditanganinya akan selesai dengan baik." Jungkook berkomentar sambil menatap televisi yang menampilkan seorang pria 50-an yang sedang diwawancarai.
"Oh, orang yang pernah membuatmu ingin menjadi hakim?"
Tanpa menoleh, Jungkook mengangguk atas pertanyaan sahabatnya. "Tapi aku sudah tidak tertarik pada hukum lagi."
"Apa kalian pikir semua hakim dan pengacara itu jujur?" Namjoon meletakkan bukunya, ikut menatap ke arah televisi. "Dulu aku pernah mendengar seorang anak yang menuntut seorang hakim dan orang-orang yang terlibat karena ketidakadilan. Tapi karena hanya seorang anak kecil, semuanya hanya mengabaikan hal kecil itu tanpa memikirkan seberapa berartinya penyelesaian masalahnya. Selama uang masih menjadi penerang kehidupan, maka tidak akan ada yang namanya keadilan seratus persen."
"Uang? Benda yang sangat mengerikan. Beberapa orang akan melakukan apapun demi lembaran kertas itu." Hoseok mengedikan bahu lalu menyeruput minumannya. "Tapi aku tidak mau munafik. Aku juga butuh uang."
Taehyung mengangguk. "Semua orang butuh itu."
"Ketidakpuasan selalu menyelimuti manusia. Apalagi segala hal yang berhubungan dengan uang. Uang membutakan semuanya." Seokjin ikut menimpali.
Keenam remaja itu tampak mengalihkan pemikiran mereka kepada berita yang baru saja ditayangkan. Tanpa mengetahui jika dua orang lainnya sedang tenggelam dalam pikiran yang penuh emosional.
From : Daniel
Kau bisa pulang. Ayahmu sudah pergi.
Hyera mengecek kembali pesan yang didapatnya sejam yang lalu hanya untuk memastikan jika pesan dari Daniel tidak salah. Padahal malam itu dia sudah memutuskan untuk tidak pulang. Bahkan dia sudah meminta izin pada Seokjin untuk menginap di rumah pemuda itu semalam lagi.
"Kau yakin akan pulang sendiri?"
Hyera menatap Yoongi yang sedang menyusun gelas-gelas kosong di nampan. Keenam teman mereka sudah pulang terlebih dahulu. Walaupun Seokjin sampai Jungkook sudah menawarkan tumpangan, tapi gadis itu tetap memutuskan untuk pulang sendiri.
"Aku yakin. Lagipula aku tidak ingin menyusahkan Seokjin lebih lama."
Yoongi menatapnya ragu. Entahlah, rasanya keputusan Hyera untuk pulang itu cukup mendadak jika mengingat kemarin gadis itu terlihat jelas sudah menangis beberapa kali.
"Aku duluan!"
Setelah membantu Yoongi membereskan sisa kegiatan mereka, Hyera memutuskan untuk berpamitan dan meninggalkan café.
Sial.
Hanya kata itu yang terus keluar dari pikirannya ketika sudah menginjakkan kakinya di ruang tengah dan mendapati dua orang perempuan yang sedang berbincang. Ditambah lagi, ketika dia mendapati Daniel dan Baekhyun sudah berdiri di depan pintu.
"Biarkan aku pergi!"
Suara dingin yang kentara dan Hyera sama sekali tidak peduli. Dia hanya ingin pergi dari sana dan tidak melihat wajah orang-orang itu.
Baekhyun berupaya untuk menggapai pundak Hyera namun sebuah tepisan sebagai penolakan yang diterimanya.
Mata Hyera beralih pada Daniel yang berdiri sedikit di belakang Baekhyun. "Aku tidak suka berbohong, Niel, tapi malam ini kau membohongiku."
"Oh, Hyera sudah pulang?"
Hyera menoleh ke sumber suara dan mendapati Pamannya serta seorang pria yang sangat dibencinya.
"Paman, katakan pada Daniel untuk membiarkanku pergi!"
Minhyuk menatap sendu pada keponakan tersayangnya itu. "Hyera, kau harus pulang malam ini. Paman khawatir padamu. Bahkan Baekhyun dan Ayahmu mencarimu."
Hyera menatap pria dengan ekspresi wajah yang sulit gadis itu artikan. "Terima kasih sudah mengkhawatirkanku, Tuan." Kemudian beralih pada Pamannya. "Paman, aku mohon katakan pada Daniel untuk membiarkanku pergi sekarang."
"Hyera."
Suara yang terkesan datar itu menyapa pendengaran Hyera. Berhasil membuat jantung gadis itu berpacu tanpa sebab. Hyera benci. Dia sangat membenci suara itu. Suara pria yang harusnya berstatus sebagai Ayahnya. Byun Seojoon.
"Menetaplah di rumah untuk malam ini."
Hyera segera membalikkan badannya untuk menatap Daniel. "Cepat buka pintunya, Kang Daniel!"
"Tidak. Istirahatlah di rumah, Hyer!"
Hyera memejamkan matanya erat. Detak jantungnya masih tak mau kembali normal, ditambah lagi kepalanya sedikit sakit karena kejadian ini.
"Kemarin malam kau menginap dimana?"
Suara lembut Baekhyun berhasil membuat Hyera membuka matanya dengan paksa lalu menatap tajam pemuda Byun. "Apa urusannya denganmu?" Sekali lagi Hyera memutuskan untuk memejamkan matanya. "Paman, aku akan menganggap hal ini tidak terjadi kalau kau menyuruh Daniel untuk menyingkir dari sana."
"Hye~"
"Mereka yang pergi dari sini atau aku?"
Kali ini diiringi dengan teriakan. Erangan frustasi dan putus asa menjadi satu. Mata Hyera sudah memerah karena berusaha keras menahan airmatanya.
"Apa Paman lupa, bagaimana aku yang tidak tahu apa-apa, diserahkan kepada Paman dan Ibu. Dimana seharusnya seorang bayi yang baru saja menghirup udara harus dibuang oleh orang tuanya sendiri. Bayi yang hanya bisa mengikuti pergerakan orang dewasa. Bayi yang bahkan selama 18 tahun ini tidak pernah merasakan apa itu kasih sayang."
"Kasih sayang? Bahkan hanya untuk mendengar suara mereka saat aku sudah mulai sekolah saja rasanya sangat mustahil. Membayangkan bagaimana Ayah kandungku mengantar ke sekolah, Ibu kandungku membuatkan makanan untuk sarapan atau bermain dengan dua saudara kandungku."
"Mengatakan segala hal tentang keadilan dan kesejahteraan tapi mereka sendiri tidak sadar jika ada setumpuk debu yang membutuhkan perhatian. Adil dan sejahtera? Aku mendapatnya dari Paman bukan MEREKA!"
Diiringi dengan jari telunjuk yang tertuju pada Seojoon yang hanya berdiri dalam diam. "Paman tidak pernah membeda-bedakan kasih sayangku dengan Daniel. Ibu bahkan selalu marah kalau aku berbuat salah."
Plakk
Saat yang sama, pipi Hyera memanas karena tamparan yang diberikan oleh wanita yang harusnya berstatus sebagai Ibu kandungnya.
"Kau pikir aku sangat mengharapkan kelahiranmu? Kau pikir aku menginginkanmu? Kau bahkan hampir menghancurkan impianku. Harusnya kau tidak terlahir di dunia ini, Byun Hyera."
"IBU!"
"YOONA!"
"Hyera."
"Dan kau." Kini telunjuk Hyera tertuju pada wajah Baekhyun. "Kau dan adikmu, selamat karena selalu mendapat kasih sayang mereka. Oh, aku tidak iri. Aku sendiri tidak butuh mereka."
"Ah ya, Nyonya Byun. Mungkin kau sangat kesal karena aku terlahir dan masih bernafas di depanmu sekarang." Hyera membalikkan badannya untuk menatap Yoona. "Kenapa waktu itu kau tidak menggugurkannya saja? Pasti aku tidak akan berdiri di depanmu seperti ini dan menerima hadiah langsung darimu untuk pertama kalinya. Kalian pasti tidak peduli jikapun aku mati. Dan juga, terima kasih atas tamparannya. Aku pergi!"
Tanpa mempedulikan Baekhyun dan Minhyuk yang terus menyerukan namanya, serta Daniel yang hanya berdiri dalam diam, Hyera benar-benar pergi dari sana. Tidak peduli jika rintik hujan sudah mulai menunjukkan diri.
Next chapter
"Hyera?!"
"Kenapa kau disini?"
"Hei, bangun! Apa yang kau lakukan disini?"
"Hei! Sadarlah! Kau, kenapa ada disini?"
"Hyera?!"
Terungkap sudah soal Hyera...
Kira-kira dia bakal ketemu siapa ya?
Gli.
