Last chapter
"Kau pikir aku sangat mengharapkan kelahiranmu? Kau pikir aku menginginkanmu? Kau bahkan hampir menghancurkan impianku. Harusnya kau tidak terlahir di dunia ini, Byun Hyera."
"IBU!"
"YOONA!"
"Hyera."
"Dan kau." Kini telunjuk Hyera tertuju pada wajah Baekhyun. "Kau dan adikmu, selamat karena selalu mendapat kasih sayang mereka. Oh, aku tidak iri. Aku sendiri tidak butuh mereka."
"Ah ya, Nyonya Byun. Mungkin kau sangat kesal karena aku terlahir dan masih bernafas di depanmu sekarang." Hyera membalikkan badannya untuk menatap Yoona. "Kenapa waktu itu kau tidak menggugurkannya saja? Pasti aku tidak akan berdiri di depanmu seperti ini dan menerima hadiah langsung darimu untuk pertama kalinya. Kalian pasti tidak peduli jikapun aku mati. Dan juga, terima kasih atas tamparannya. Aku pergi!"
Tanpa mempedulikan Baekhyun dan Minhyuk yang terus menyerukan namanya, serta Daniel yang hanya berdiri dalam diam, Hyera benar-benar pergi dari sana. Tidak peduli jika rintik hujan sudah mulai menunjukkan diri.
Chapter 10
Taehyung bersumpah, perutnya benar-benar menuntut banyak malam ini. Padahal dia baru saja sampai di rumah sekitar satu jam yang lalu dan akan terlelap. Namun, perutnya berkata lain. Dia butuh makanan.
Jadi, setelah lelah bergulat dengan pikirannya dan perut yang tidak sinkron, Taehyung memutuskan untuk mengambil jaket dan dompetnya yang tergeletak di atas meja lalu melangkah keluar dari kamarnya dan pergi menuju ke minimarket terdekat.
Rumah besar ini sedang kosong. Kedua orang tuanya sedang pergi keluar negeri untuk urusan bisnis, sedangkan Namjoon masih menetap di rumah Seokjin. Asisten rumahnya, mungkin sudah berada di alam mimpi dan Taehyung tak ingin mengganggu. Hoseok juga sudah pulang ke rumahnya.
Sebenarnya bisa saja pemuda Kim itu membuat makanannya sendiri tapi sungguh, ketika membuka kulkas dan hanya menemukan warna-warni dari sayuran serta beberapa bahan makanan lainnya, nafsu makannya berubah. Dia ingin makan ramyeon atau sejenisnya.
Duduk di sudut minimarket dengan satu cup ramyeon dan sekaleng cola sudah cukup untuk menemani Taehyung yang sedang mengisi perutnya. Matanya menelisik keluar minimarket dari dinding kaca, mengamati beberapa orang yang sedang berlari sambil menutupi kepala mereka dari jatuhan air.
Hujan.
Untung saja dia sudah tiba disini jadi tidak perlu berlari dan menghindari basahnya hujan.
Setengah jam berlalu dan tiga cup ramyeon bersama dua kaleng cola menemaninya untuk menanti hujan mereda. Namun sepertinya hujan itu tidak menunjukkan akan reda dalam waktu dekat.
Bahkan Taehyung sampai mengambil sebungkus keripik kentang dan membayarnya lalu kembali duduk di kursinya. Sedikit menyesali tidak membawa ponsel.
"Baiklah, tunggu sampai lima belas menit lagi, Kim Taehyung!" Dia berbisik pada dirinya sendiri sambil menatap jam tangan yang terpasang di tangan kirinya.
Dua puluh menit berlalu dan hujan tampak enggan mereda. Namun, setidaknya derasnya hujan tadi sudah berganti dengan rintikan tapi tidak melepas kemungkinan akan membasahi tubuh saat sampai di rumah.
Dan Taehyung menyerah. Dia memutuskan untuk beranjak dari kursinya, mengambil sebuah payung lalu membayarnya. Setelah itu, dia memutuskan untuk pulang di bawah rintikan hujan yang tersisa.
Jalanan yang sepi, cukup untuk membuat Taehyung bersenandung kecil sambil menikmati perjalanan pulangnya. Langkah kakinya terhenti untuk menatap ke sisi kanannya, sebuah lapangan basket yang biasa menjadi tempat bermain anak-anak di sekitar rumahnya. Lampu yang remang-remang menyinari lapangan membuat Taehyung dapat melihat jelas apa yang ada disana.
Tidak, orang bodoh mana yang bermain basket saat hujan seperti ini? Setidaknya itulah pikirannya ketika menyadari ada seseorang berbaring tepat di tengah lapangan. Dan Taehyung tidak sempat berpikir aneh-aneh ketika kakinya membawa tubuhnya kesana.
Semakin dekat, Taehyung semakin yakin jika tubuh itu berbalut seragam sekolahnya dan dia juga semakin yakin jika orang yang sempat dikatainya bodoh itu adalah seorang perempuan. Wajahnya tidak terlihat karena tertutupi oleh tangan kanannya. Tapi Taehyung dapat menyimpulkan, gadis itu adalah orang yang dikenalnya.
Hyera sadar. Dia sadar sepenuhnya ketika tubuhnya berjalan di bawah derasnya guyuran hujan menuju daerah yang menjadi tempatnya berada saat ini bukanlah areal yang dikenalnya. Dia hanya tidak sadar sudah berapa lama dan sejauh apa kakinya melangkah. Yang dia sadar hanyalah kata-kata menyakitkan yang dilontarkan Ibunya, tatapan tidak peduli adiknya, kekecewaanya pada sang Ayah. Hanya itu yang mendominasi pikirannya.
Langkahnya terhenti tepat di tengah lapangan basket. Masih di bawah guyuran hujan, Hyera memilih untuk berbaring disana. Tidak peduli seberapa dinginnya cuaca menerpa tubuhnya yang hanya berbalut seragam. Tangan kanannya terangkat untuk menutup wajahnya. Dia lelah dan ingin beristirahat.
Cukup lama gadis itu berbaring disana sampai sebuah suara menginterupsinya.
"Hyera?!"
Tangannya terangkat untuk membuka matanya dan melihat sebuah payung sudah melindungi wajahnya serta seseorang berjongkok tepat di ujung kepalanya.
"Kenapa kau disini?"
Hyera tidak menjawab. Berusaha mengenali suara yang menyapa pendengarannya itu.
"Hei, bangun! Apa yang kau lakukan disini?"
Pandangan Hyera mengabur tapi sebisa mungkin dia memfokuskan pandangannya pada pemilik payung.
Taehyung jengah ketika tidak mendapat jawaban dari gadis yang masih terbaring itu. Jadi dia meletakkan payungnya dan berpindah posisi di samping kiri gadis itu lalu menarik tubuh itu agar dalam posisi duduk. Taehyung tidak peduli jika tubuhnya sudah setengah basah karena hujan.
"Hei! Sadarlah! Kau, kenapa ada disini?"
Taehyung menggapai kedua pipi Hyera lalu menepuk pelan, berusaha menyadarkan gadis itu. Namun Hyera tetap diam. Cukup lama, sampai gadis itu menjatuhkan kepalanya di dada Taehyung dan mulai kembali terisak.
"Hyera?!"
Taehyung bingung harus bereaksi bagaimana. Dia ingin bertanya lagi namun semakin enggan ketika Hyera semakin terisak.
Taehyung memutuskan untuk membawa Hyera ke rumahnya. Setelah memastikan Hyera sudah mengganti seragam yang basah, Taehyung kembali ke kamarnya dengan segelas cokelat hangat di tangannya dan menatap teman sekelasnya itu masih duduk di sofa sambil memeluk lututnya.
Setelah meletakan gelas ke nakas kecil di samping sofa, Taehyung memutuskan untuk duduk di pinggir kasurnya sambil memandangi Hyera, sekedar memastikan Hyera tidak melakukan hal yang tidak diinginkan.
Hening selama beberapa menit sampai terdengar suara berisik dari lantai bawah dan langkah kaki yang menaiki tangga sampai sebuah dobrakan pada pintu kamar Taehyung.
Namjoon sudah berdiri di ambang pintu bersama lima temannya yang lain. Mereka tampak setengah basah karena hujan diluar yang belum kunjung reda. Taehyung tidak berpikir jika pesan yang dikirimnya ke grup mereka tentang keadaan Hyera dapat membuat enam temannya itu datang kesini hanya dalam waktu kurang dari 15 menit.
Hoseok mengambil langkah lalu berdiri di depan Hyera. "Hyer, kenapa kau bisa di rumah Taehyung?"
Tidak ada jawaban.
"Kau bilang akan pulang ke rumahmu, tapi kenapa kau ada disini?" Seokjin tampak mengikuti Hoseok dan berdiri di samping pemuda itu.
Sekali lagi, tidak ada jawaban.
Namjoon menatap Taehyung yang baru saja menghela nafas lalu mendekati saudaranya itu. "Apa yang terjadi?"
Mendengar itu, Taehyung sedikit tersentak ketika tangan Namjoon menepuk pelan pundak kanannya. Namun tidak lama, karena dengan segera Taehyung mengalihkan pandangannya ke arah Hyera lalu menggeleng.
"Dia berbaring di lapangan basket di dekat taman." Jawabnya disusul suara bersin. "Aku sudah bertanya apa yang terjadi tapi dia tidak menjawab sama sekali." Sekali lagi, diiringi suara bersin.
Jimin yang mendengar penjelasan Taehyung langsung teringat pada orang-orang yang pernah dilihatnya saat berada di rumah Hyera kemarin dan dia yakin pasti ada hubungannya.
Jungkook menyahut, "kau tidak bertengkar dengan Pamanmu, 'kan?"
Hyera tidak menjawab namun menggeleng sebagai respon. Kepalanya semakin tertunduk, tersembunyi di antara kedua lututnya.
"Kau tidak ingin menceritakannya dengan kami?" Namjoon bersuara tapi Hyera sama sekali tidak menjawab.
Yoongi yang masih berdiri di depan pintu harus melangkah mundur ketika ponselnya bergetar. Keningnya sedikit berkerut ketika nama Chanyeol tertera pada layar ponselnya.
"Ha~"
"Yoon, apa kau sedang bersama Hyera?"
Yoongi terdiam sejenak lalu melirik ke arah kamar Taehyung dan melihat bayangan Hyera di sela antara Jimin dan Jungkook yang masih berdiri di ambang pintu.
"Memangnya ada apa?"
"Daniel menghubungiku. Katanya Hyera kabur dari rumah. Mereka pikir Hyera sedang di café tapi tidak ada. Apa kau tahu dia ada dimana?"
"Ah, aku tidak tahu."
Chanyeol tampak terdiam beberapa saat sebelum kembali bersuara. "Aku sempat melihatmu lari keluar café setelah melihat ponselmu. Apa yang terjadi?"
Yoongi bungkam. Dia tidak mau menarik kata-katanya dan dia sendiri tidak tahu alasan kenapa membohongi tentang keberadaan Hyera. Dia hanya merasa harus berbohong saat ini.
"Padahal kerjaanmu belum selesai."
Haruskah Yoongi bersyukur karena Chanyeol tidak curiga padanya? Tentang alasan kenapa dia meninggalkan pekerjaannya dan berlari keluar café untuk menembus hujan?
"Untung saja café sedang sepi. Ya sudah, aku tutup. Jika bertemu dengan Hyera, tolong kabari Daniel!"
Panggilan terputus dan Yoongi menghela nafas lega. Tapi masalahnya, kenapa Hyera kabur dari rumah? Hanya itu pertanyaan yang terlintas di kepalanya saat ini.
Belum sempat menyimpan ponselnya, Yoongi melihat Jungkook yang melangkah mundur dan melangkah menjauh dari kamar Taehyung. Pemuda itu tampak menjawab panggilan dari seseorang dalam diam. Namun pandangan mereka bertemu. Jungkook tampak memasang ekspresi bingung lalu dengan segera menggeleng.
"Tidak ada, hyung."
Hanya kalimat itu yang dapat Yoongi dengar sebelum akhirnya Jungkook mengakhiri panggilannya.
Jungkook memutuskan untuk mendekati Yoongi. "Apa pekerjaanmu di café sudah selesai?"
Yoongi menggeleng seraya menyimpan ponsel ke sakunya. "Aku langsung berlari kesini ketika Taehyung memberitahu keadaan Hyera. Untungnya di jalan aku bertemu dengan Hoseok."
Jungkook hanya mengangguk paham seraya memejamkan matanya lalu bersandar pada pagar pembatas lantai atas. Kepalanya sedikit pusing akhir-akhir ini jika mengingat kejadian yang beberapa kali dialaminya. Masalah sekolah, Ibunya, bahkan Hyera ikut membuatnya pusing.
"Siapa yang menelponmu?"
Pertanyaan Yoongi, membuat Jungkook langsung membuka matanya lalu menoleh ke arah kamar Taehyung yang terbuka untuk menatap punggung Jimin yang masih setia berdiri pada posisi yang sama.
"Bukan siapa-siapa."
"Apa Park Chanyeol?"
"Aku hanya mengenalnya secara tidak sengaja."
Jungkook berdalih. Bagaimana Yoongi bisa tahu jika yang menelponnya tadi adalah Chanyeol? Dia bahkan tidak pernah menyebutkan nama-
Ah, tampaknya Jungkook lupa satu hal perihal kemarin. Tentang kehadiran Chanyeol di café yang menjadi tempat mereka berkumpul.
"Kau pasti sangat mengenalnya, ya? Apalagi kalian sepertinya pergi untuk membicarakan sesuatu yang penting."
Jungkook menggigit bibirnya. Bibirnya bergetar untuk sekedar menyangkal pertanyaan Yoongi. Ini terlalu sulit. Apalagi untuk sahabatnya, Park Jimin. Hanya nama itu yang ada di kepalanya. Maka, untuk menghilangkan kegugupannya, Jungkook segera mengepalkan tangannya dan menatap tajam ke arah Yoongi.
"Jangan pernah menyebut nama itu di depan Jimin!"
Setelah itu dia langsung masuk ke kamar Taehyung dan menghampiri Jimin.
Kembali pada mereka yang sudah kembali berkumpul di kamar Taehyung. Hyera masih duduk pada tempat, masih dengan posisi yang sama. Seokjin memutuskan keluar untuk membuat makanan bersama Jungkook dan Hoseok. Taehyung dan Yoongi duduk bersebelahan di ranjang. Namjoon memutuskan untuk bersandar di jendela kamar. Terakhir, Jimin yang masih setia berdiri di tengah ruang sambil menatap Hyera.
Cukup lama mereka terdiam sampai suara bersin menginterupsi penghuni lainnya.
Taehyung, kembali bersin untuk kesekian kalinya. Ah, siapapun disana dapat menyimpulkan jika pemuda itu terkena flu.
Namjoon bergerak dari posisinya untuk mendekati ranjang Taehyung. Tangannya terulur untuk menyentuh kening saudara tirinya itu lalu berkomentar.
"Badanmu panas."
Taehyung mengangkat kepalanya, menoleh ke arah Namjoon yang sudah membuang muka untuk menghindari kontak mata dengannya.
"Aku baik-baik saja."
"Baik?"
Seolah melupakan jika dia baru saja menghindari kontak mata dengan Taehyung, Namjoon langsung menatap tegas ke arah Taehyung yang sudah mengalihkan pandangannya untuk menatap Hyera.
"Kau sudah terserang demam jadi lebih baik kau istirahat."
Taehyung berdecih. Apa ini? Kenapa mendadak Namjoon peduli padanya? Namun dalam lubuk hatinya, dia senang walaupun sedikit ragu dengan sifat peduli.
"Apa kau ada selimut lebih?"
Taehyung tersentak ketika Yoongi bertanya padanya. Namun dengan segera dia mengulurkan sebuah selimut cokelat yang terlipat di atas tempat tidurnya dan menyerahkannya pada pemuda pucat itu. Yoongi menerimanya lalu segera menghampiri Hyera yang sudah terlelap. Ah, benar. Mereka lupa jika gadis yang menjadi alasan mereka berkumpul sudah terlelap dengan posisi yang sama.
"Ya ampun," seru Jimin yang sudah mendudukkan dirinya di lantai, "aku bahkan baru sadar jika dia sudah terlelap."
Yoongi menoleh sekilas lalu kembali mengangkat kepala Hyera agar berbaring di sofa. Memperbaiki posisi gadis itu sebisa mungkin lalu menyelimutinya.
"Dia selalu tertidur ketika selesai menangis."
"Seperti kau pernah melihatnya saja."
Yoongi ingat sekali kejadian di halte, saat dia memeluk gadis itu dengan tujuan untuk menenangkan. Namun hanya perlu waktu sekitar setengah jam saat dia merasa tubuh itu mendengkur halus di pelukannya. Ah, Daniel juga mengatakan hal itu. Tentang Hyera yang akan langsung tidur sesudah menangis dan besoknya dia akan kembali seperti biasa.
Untuk sekali lagi, suara bersin berhasil memecahkan keheningan. Tidak sekali, mungkin sekitar tiga atau lima kali dalam satu waktu.
Kim Taehyung, mengerang kecil ketika kepalanya didera rasa sakit secara tiba-tiba. Berhasil membuat Namjoon dan Jimin berjengit. Bahkan si pemuda Park langsung beranjak dari posisinya untuk menghampiri si Kim bersaudara.
"Kenapa? Kepalamu sakit?"
Taehyung menggeleng sambil memijit pelipisnya. Bohong sekali jika tidak sakit, bahkan matanya terasa berat.
"Bodoh!"
Namjoon langsung mendorong tubuh saudara tirinya itu agar berbaring lalu menarik selimut dan menutupi tubuh Taehyung sampai leher.
"Jim, tolong ambil handuk dan air untuk kompresnya. Sekalian minta obat penurun panas pada Seokjin."
Jimin tak menjawab. Cukup lama dia memperhatikan Namjoon dan Taehyung secara bergantian, hanya sekedar untuk memastikan jika yang baru saja terjadi bukanlah mimpi. Namun setelah beberapa putaran detik, dia langsung beranjak dari posisinya dan berlari keluar kamar.
"Sudah kukatakan kau terserang demam, bodoh!"
Namjoon terus mengomel, seakan lupa dengan rasa bencinya pada sosok Taehyung. Seolah dia lupa jika selain mereka, ada dua orang lain disana.
Yoongi hanya mengamati dalam diam sambil tangannya sibuk mengusap kepala Hyera yang berada di pangkuannya. Ah, dia juga mengakui ini seperti pemandangan yang langka. Melihat bagaimana tingkah khawatir Namjoon pada Taehyung yang tidak ditunjukkan melalui ekspresi.
Mereka yang berada di kamar dapat mendengar gemuruh dari tangga. Suara langkah kaki, ocehan-ocehan yang merusak pendengaran. Suara gemuruh itu kian mendekat, sampai ketika Jimin berdiri di ambang pintu sambil membawa sebuah baskom kecil berisi air dan handuk yang berada di lehernya.
"Siapa yang sakit? Apa Hyer?"
"Ada apa? Kenapa Namjoon meminta obat penurun panas? Apa dia sakit?"
Setidaknya itulah pertanyaan yang terdengar panik dari seorang Jung Hoseok dan Kim Seokjin. Dua orang yang berdiri dengan keadaan terengah-engah di belakang Jimin yang sudah menghela nafas seraya menghampiri Namjoon.
"Ada apa?"
Jimin hanya mengangkat bahu sebagai jawaban akan pertanyaan Namjoon. Setelah itu, dia meletakkan baskom di atas nakas kecil lalu memberikan handuk yang tergantung di lehernya kepada Namjoon.
"Joon, kau baik-baik saja, 'kan?"
Namjoon sibuk mengompres Taehyung saat Seokjin bertanya seraya mendekatinya. Tersirat jelas raut panik dan khawatir di wajah seorang Namjoon yang selalu menampilkan ketenangan dan ketegasan. Namun sepertinya keadaan Taehyung berhasil meruntuhkan tiga seperempat keegoisan Namjoon selama ini.
Jimin mendekati Seokjin untuk berbisik, "Namjoon tidak baik ketika tahu Taehyung terserang demam."
Seokjin menghela nafas lalu bergumam kecil, "dasar! Percuma saja kau pasang wajah tidak peduli selama ini."
"Oh ya, dimana Jungkook?"
Ah, Jimin baru tersadar jika sahabatnya tidak berada disana. Hanya ada mereka tanpa Jungkook.
"Tidur di ruang tengah. Sepertinya dia sangat lelah." Hoseok menjawab lalu menguap. Dia masih menatap Namjoon yang terus mengompres kening Taehyung. "Kau bisa istirahat, Joon, biar aku yang mengurus Taehyung."
Namjoon menggeleng. "Kalian bisa istirahat. Biar aku mengurus anak ini. Dia tetap saudaraku, apapun itu."
Ah, jika saja petir menggelegar di langit saat itu pasti akan membuat mereka seolah tersambar. Baik Seokjin, Hoseok, Jimin maupun Yoongi agaknya sedikit terkejut dengan kalimat yang keluar dari mulut si Kim yang satu itu.
"Dia tidak tersambar petir atau sejenisnya, 'kan?" Jimin berbisik pada Seokjin yang hanya menghela nafas.
"Kalian bisa menggunakan kamar tamu di sebelah kanan. Aku akan kembali ke bawah." Seokjin bersuara. Kepalanya tak berminat untuk memikirkan perihal Namjoon yang baru saja disaksikannya. Jadi dia memutuskan untuk membalikkan badannya, menepuk bahu Jimin dan Hoseok lalu melangkah pergi.
Jimin dan Hoseok saling bertatapan selama beberapa saat lalu melirik Yoongi yang masih mengurus Hyera yang terlelap. Setelah itu, keduanya memutuskan untuk pergi dari kamar itu.
Tangan kirinya bergerak untuk menyalakan keran air. Bukannya apa, Jimin hanya ingin membuat keributan di kamar mandi agar terkesan dia sedang melakukan sesuatu disini. Walaupun yang dilakukannya hanya menatap pantulan dirinya dari cermin.
Merasa cukup, kedua tangannya terulur di bawah aliran air, menadahnya lalu membasuh wajahnya beberapa kali. Kemudian kembali menatap cermin, bibirnya tersenyum miris seraya memandangi wajahnya yang pucat dan basah.
"Aku sangat menyedihkan, ya?"
Tangannya merogoh saku jaket yang dikenakannya lalu mengeluarkan satu tube kecil yang berisi beberapa butir pil obat.
"Bahkan aku tidak bisa tidur tanpa benda ini. Aku ingin berhenti. Ayah, tolong jemput aku!"
Malam ini berakhir dengan Seokjin dan Jungkook yang tidur di ruang tengah, Jimin dan Hoseok yang tidur di satu kamar namun berbeda tempat. Jimin memilih untuk tidur di sofa, membiarkan Hoseok menjadi penghuni tunggal tempat tidur yang berukuran king size itu.
Namjoon dan Yoongi memilih tetap di tempat yang sama, menemani dua orang yang sedang dalam keadaan tidak baik. Kedua orang itu tidur dalam keadaan duduk. Namjoon yang tidur dengan tempat tidur Taehyung sebagai sandarannya sedangkan Yoongi memilih tidur dengan meja sebagai sandarannya.
Malam yang sepertinya sangat melelahkan bagi mereka. Bahkan ketika pagi menjelang, kedelapan orang itu sama sekali tidak berminat untuk membuka mata mereka. Seolah melupakan fakta jika pagi ini mereka harus berada di sekolah.
Ah, seperti keajaiban bagi penghuni kelas Fiapeless begitu melihat delapan kursi barisan paling belakang dalam keadaan kosong. Mereka bahkan saling bertanya dan mencoba menghubungi dan meninggalkan pesan kepada setiap orang yang tidak menampakkan wajah mereka hari itu. Namun sepertinya tidak ada yang menjawab ataupun sekedar membalas pesan mereka.
"Mereka sama sekali tidak bisa dihubungi."
Sungjae menatap ponselnya yang sudah mengirimkan puluhan pesan singkat kepada Taehyung.
"Aku juga. Namjoon tidak menjawab teleponku bahkan nomor Seokjin saja tidak bisa dihubungi. Bagaimana denganmu, Hyuna?"
Hyuna menoleh ke arah Seongcheol lalu menggeleng. "Aku dan Taeyong sudah berulang kali menghubungi Hyera dan Jimin."
"Yoongi, Jungkook dan Hoseok juga tidak bisa dihubungi. Apa mereka terlambat?"
Taeyong menatap ketiga temannya secara bergantian lalu dijawab oleh gelengan dari Sungjae.
"Aku tidak melihat kendaraan salah satu dari mereka. Bahkan aku sedikit ragu mereka datang ke sekolah hari ini."
"Mereka tidak ada masalah, 'kan? Rasanya sedikit mengkhawatirkan saat mereka kompak tidak masuk seperti ini."
Hyuna menatap ponselnya, raut cemas tercetak jelas di wajahnya. Dia tampaknya sedang mengkhawatirkan kedelapan temannya itu walaupun mereka tidak dekat.
Seongcheol menggelengkan kepalanya. "Rasanya tidak mungkin. Kita sendiri lihat, mereka sudah jarang bertengkar kecuali keributan antara Hyera dengan Hoseok dan Seokjin."
"Kita hanya bisa berharap karena mereka yang banyak membuat kita bertahan disini."
Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan pagi saat Hyera membuka matanya. Dia sedikit meringkuk dan mempererat selimutnya kala suhu dingin menyapa.
Butuh waktu selama beberapa detik saat dirinya tersadar jika ruangan yang menjadi tempatnya berada saat ini bukanlah ruangan yang dia kenal. Ditambah lagi saat dirinya menangkap sosok Namjoon dan Taehyung yang masih terlelap.
Tubuhnya terlonjak untuk bangun, meyakinkan dirinya jika apa yang dilihatnya saat ini adalah masih dari bagian bunga tidurnya. Dan semakin meragukan keyakinannya saat melihat Yoongi yang menggeliat lalu membangunkan dirinya.
"Kau sudah bangun?"
Hyera menjerit, hampir saja jika Yoongi tidak melompat dan membungkam mulut gadis itu.
"Jangan berisik! Namjoon baru terlelap beberapa jam yang lalu."
Hyera mengangguk, seiringan dengan Yoongi menarik tangannya. Hyera hanya memperhatikan pergerakan Yoongi yang mulai beranjak dari posisinya, mengambil selimut yang dikenakan Hyera sebelumnya lalu melangkah mendekati Namjoon dan menyelimuti tubuh si pemuda Kim yang masih bertahan pada posisi tidurnya.
Hyera ikut beranjak dari posisinya saat Yoongi mengajaknya keluar dan mereka segera melangkah keluar dari kamar.
"Kenapa aku berada disini?"
Yoongi menoleh ke gadis yang masih setia mengekorinya lalu menghela nafas. "Tidak ingat?"
Hyera menggeleng. Matanya sibuk mengedarkan pandangannya ke seluruh bagian rumah yang terasa asing baginya itu dan berhenti saat mereka sudah menuruni tangga.
"Jadi, bisa beritahu aku dimana kita sekarang?"
"Seperti yang kau lihat, tadi kita terbangun di kamar Taehyung jadi silahkan simpulkan sendiri."
Sepertinya Yoongi tidak sedang dalam mode untuk memberikan jawaban singkat. Untungnya saja Hyera langsung memfungsikan otaknya dengan baik dan segera menyimpulkan jika mereka sedang berada di rumah Taehyung dan Namjoon.
"Dan kau sendiri, kenapa ada disini?"
Yoongi menghentikan langkah kakinya ketika mereka tiba di lantai dasar. Badannya berbalik untuk menatap Hyera lalu mendengus sebal.
"Aku tidak ingin menjawabnya. Lebih baik kau tidak mengetahuinya sama sekali."
"Baiklah."
"Aku pikir kalian tidak bangun lagi."
Hyera terlonjak ketika suara itu menginterupsinya. Itu Jungkook yang baru saja menuruni tangga di belakang mereka.
"Sialan. Ah, aku jadi mengumpat pagi ini karenamu."
"Ups, itu salahmu karena tidak bisa mengontrol mulutmu."
"Terima kasih atas sarapan paginya, Jeon Jungkook."
"Dengan senang hati, Kang Hyera." Jungkook melompati dua anak tangga terakhir lalu merangkul bahu Hyera. "Bagaimana keadaanmu sekarang?"
"Aku baik-baik saja."
"Yakin? Taehyung saja sampai demam karena menemukanmu kemarin malam."
"Taehyung demam karenaku?"
Jungkook mengangguk. "Ah, aku harus ke kamar mandi." Kemudian berlari meninggalkan dua temannya itu.
Kini Hyera mengalihkan pandangannya pada Yoongi yang hanya terdiam. "Memangnya apa yang terjadi?"
Yoongi mengedikkan bahunya. "Nanti saja. Aku sendiri tidak tahu apa yang terjadi padamu."
Next chapter
"Hye?!"
"Apa kau mengingat sesuatu?"
"Apa ini ada hubungannya dengan orang-orang kemarin?"
"Orang-orang siapa maksudmu, Jim?"
"Keluarga Pamannya? Aku sendiri tidak tahu tapi hari itu Hyera menangis setelah melihat mereka."
"Apa ada hubungannya dengan Baekhyun?"
"Baekhyun siapa?"
Aku double update, yeay...hehe...
Untuk soal Hyera yang bangun tidur selalu ngelupain hal buruk, itu juga dialami sama aku. Hehe...
Jadi kalo aku ada masalah terus tidur, pas bangun pasti lupa apa yang terjadi kemarin. Kadang aku coba ingat apa yang terjadi kemarin tapi agak susah. Biasanya kalo ada pemicu, itu bisa membuat ingatannya balik lagi. Gak sering lupanya. Cuma biasanya butuh waktu buat ngingatnya. Misalnya kemarin aku berantem sama teman, lalu aku tidur dan pas bangun udah kayak biasa aja gitu. Mungkin butuh beberapa jam atau seharian buat ingat apa yang terjadi, tergantung kalo aku ngeliat temen aku. Pas udah ngeliat pemicu, aku langsung mikir dan takut (kadang panik) kemarin aku berantem sama dia gara-gara ini. Buat lupainnya, paling gak aku harus langsung nyapa atau minta maaf lalu tidur lagi. Besoknya jadi fine gitu aja dan gak ingat masalah kemarin.
Ada satu kejadian yang buat aku takut atau lebih kayak trauma, mungkin gak parah tapi tetap aja menyiksa. Kejadiannya sama sekali gak bisa aku lupain bahkan sampai saat aku ngetik ini (soalnya ada banyak yang 'sengaja' memicunya). Jadi buat ngelupainnya, aku mesti tidur. Kalo gak, aku bisa paranoid atau sampai bisa agak stress sendiri. Dan untuk kali ini aku gak bisa lupa karena 'pemicunya' masih ada walaupun aku tidur. Oh ya, 'pemicu' disini bisa sesuatu atau seseorang dan untuk aku, kedua hal itu jadi pemicunya. Jadi, sebesar apapun usaha aku buat ngindarin itu, semuanya sia-sia.
Mungkin otak aku ter-setting untuk melupakan hal-hal buruk. Dan tidur, mungkin, salah satu pilihan terbaik saat merasa tertekan.
Apa sih? Kok aku ini jadi curhat disini?!
Oke, sorry karena jadi buat kalian baca curhatan ini. Hehe, tapi sejujurnya aku gak berani cerita ini di real life karena ntar dianggap imajinasi aja.
Salam hangat,
Gli.
