Last chapter
"Bagaimana keadaanmu sekarang?"
"Aku baik-baik saja."
"Yakin? Taehyung saja sampai demam karena menemukanmu kemarin malam."
"Taehyung demam karenaku?"
Jungkook mengangguk. "Ah, aku harus ke kamar mandi." Kemudian berlari meninggalkan dua temannya itu.
Kini Hyera mengalihkan pandangannya pada Yoongi yang hanya terdiam. "Memangnya apa yang terjadi?"
Yoongi mengedikkan bahunya. "Nanti saja. Aku sendiri tidak tahu apa yang terjadi padamu."
Chapter 11
Namjoon terbangun dari tidurnya saat sesuatu mengganggu tidur lelapnya. Hampir saja dia mengumpat kasar saat tahu jika Taehyung yang membangunkan dirinya.
Taehyung sudah duduk di pinggir ranjang. Wajahnya masih tampak pucat namun tak separah kemarin malam. Suhu tubuhnya juga sedikit menurun.
"Apa punggungmu tidak sakit tidur seperti itu?"
Pertanyaan pertama terlontar dari mulut Taehyung begitu saja walaupun dia sendiri ragu Namjoon akan menjawabnya.
"Ah, bagaimana keadaanmu?"
Atau tidak? Karena selanjutnya Namjoon sudah mengulurkan tangan kanannya, meletakkan punggung tangannya tepat di kening Taehyung.
"Sudah sedikit menurun. Apa kepalamu masih pusing?"
"Sedikit."
Namjoon beranjak dari posisinya lalu melakukan sedikit perenggangan pada tubuhnya. "Istirahatlah. Aku akan meminta Seokjin untuk membuatkanmu bubur."
"Tidak perlu. Aku akan turun."
"Kau yakin?"
Taehyung mengangguk lalu ikut beranjak dari posisinya. Bersama dengan Namjoon, kakinya melangkah keluar kamarnya dengan perasaan ragu akan kepedulian yang diterimanya dari Namjoon.
Semuanya sudah berkumpul di ruang makan saat Namjoon dan Taehyung tiba. Mereka tampak sibuk membahas makanan apa yang akan disiapkan oleh asisten rumah tangga Kim bersaudara untuk mereka.
"Oh, Kim bersaudara!"
Hoseok mengangkat tangannya, menyapa Kim bersaudara yang sudah ada didekat mereka.
"Sudah membaik?"
Seokjin mengajukan pertanyaan singkat kepada Taehyung yang kemudian mengangguk canggung.
"Aku baik-baik saja."
Kini tatapannya beralih pada Hyera yang sibuk dimarahi oleh Yoongi karena tidak berhenti-hentinya bertanya tentang apa yang terjadi padanya kemarin malam.
"Bagaimana keadaanmu?"
Itu bukan Taehyung, melainkan Namjoon yang sudah menarik kursi dan duduk di hadapan Hyera.
"Aku merasa baik-baik saja dan sedikit tidak paham kenapa aku bisa ada disini bersama kalian."
Yoongi menepuk kening Hyera tanpa perasaan. "Sudah aku katakan, bicarakan hal ini setelah makan."
Hyera mendengus kesal sambil mengusap keningnya yang perih. "Aku hanya penasaran."
"Kau tidak ingat?" Taehyung ikut bertanya seraya menghantarkan tubuhnya untuk duduk di sampin kanan Namjoon.
"Makanannya datang! Kita bicarakan nanti saja ya!"
Agaknya ini sungguh diluar kepribadian Yoongi yang tiba-tiba berseru heboh ketika melihat makanan yang dibawa asisten rumah tangga Kim bersaudara. Bahkan hampir mengalahkan seruan Jungkook dan Jimin yang dirundung rasa lapar.
"Harusnya aku membawa tugas kita kesini agar cepat selesai."
Jimin memutar-mutar remote yang terletak di atas meja kaca dengan jari telunjuknya.
"Jangankan tugas, aku bahkan tidak membawa ponsel kesini."
Seokjin ikut menambahkan sambil mengingat bagaimana dirinya dan Namjoon yang langsung melemparkan ponsel masing-masing ke atas tempat tidur dan mengambil kunci mobil lalu pergi kesini.
"Bisa tidak kita meliburkan diri dari tugas-tugas menyebalkan itu sepanjang hari ini? Kita berdelapan bahkan sudah terlanjur membolos."
Jungkook tampak mengangguk setuju atas pernyataan Hoseok barusan. "Aku ingin mengistirahatkan jari-jariku dari tombol-tombol keyboard itu."
"Jadi," suara Namjoon mengudara sambil melirik ke arah Hyera yang sedang membaca komik yang ditemukannya di kamar Taehyung, "bukannya kau bilang akan pulang ke rumah?"
Hyera menoleh ke arah Namjoon lalu berpikir sejenak. "Aku juga berpikir begitu. Aku sendiri bingung kenapa bisa berakhir disini bersama kalian."
Jungkook ingin sekali mencubiti pipi Hyera karena gemas. "Hei, kami disini karena Taehyung mengatakan keadaanmu yang tidak baik."
"Keadaanku yang tidak baik?" Hyera melirik Taehyung yang duduk di single sofa tanpa niat untuk menatapnya. "Memangnya aku kenapa?"
"Aduh, Hyera!" Ah, Seokjin sangat gemas untuk menahan kakinya agar tidak menendang tulang kering gadis itu lagi. "Jika kau mengerjai kita, aku benar-benar akan menyelamkanmu ke kolam ikan milik Ayahnya Namjoon."
"Serius, aku tidak ingat."
"Masalah itu," Yoongi angkat bicara, berusaha menengahi percakapan teman-temannya, "Hyera mudah melupakan sesuatu setelah dia tertidur."
Hoseok menyipitkan matanya, menatap Yoongi tidak percaya. "Kau tahu darimana?"
"Sepupunya. Dia pernah bercerita sedikit soal kebiasaan Hyera yang ini." Yoongi menghela nafas lalu melirik gadis yang menjadi bahan diskusi mereka siang itu. "Aku tidak tahu pastinya, intinya Hyera akan melupakan hal buruk yang menimpanya setelah dia tidur."
"Aneh." Jimin beralih untuk menatap Hyera yang masih terdiam untuk mencerna maksud dari penjelasan Yoongi. "Kau benar-benar tidak ingat?"
Hyera menggeleng. Dia sama sekali tidak mengingat apa yang terjadi padanya kemarin malam. Bahkan dirinya terlihat ragu saat mendengar penjelasan Yoongi.
Namjoon angkat bicara, "kau sama sekali tidak ingat saat Taehyung menemukanmu di lapangan basket di wilayah rumah kami?"
Hyera menggeleng. Dia sama sekali tidak ingat.
"Kau tidak ingat bagaimana kau bisa berakhir disana?"
Sekali lagi, sebuah gelengan menjawab.
"Lalu, hal terakhir apa yang kau ingat?"
Hyera tampak memikirkan pertanyaan Hoseok sebelum menjawab, "aku hanya ingat terakhir kita berada di café Yoongi lalu pulang."
"Apa kau pulang?" Taehyung bertanya, bibirnya sedikit kaku untuk melanjutkan pertanyaannya. "Maksudku, apa kau benar-benar pulang ke rumah Pamanmu?"
Hyera memiringkan kepalanya, sedikit ragu akan ingatan yang dimilikinya. "Bisa beritahu apa yang aku lakukan saat kau menemukanku?"
Taehyung mengangguk lalu mengingat-ingat setiap detail kejadian kemarin malam. "Aku melihatmu berbaring di lapangan saat hujan deras lalu menarik tubuhmu agar bangun dan kau tiba-tiba memelukku lalu menangis. Saat aku tanya, kau sama sekali tidak menjawab dan hanya diam bahkan saat aku membawamu pulang."
Yoongi menyandarkan tubuhnya lalu menghela nafas. "Apa kau bertengkar dengan Daniel atau Pamanmu?"
Hyera memeluk bantal sofa lalu menatap langit-langit rumah Kim bersaudara. "Aku rasa tidak karena ka~"
Atau dia baru saja mengingatnya?
"Hye?!"
"Apa kau mengingat sesuatu?"
Agaknya panggilan dan pertanyaan dari Jungkook dan Hoseok sama sekali tidak menembus pendengaran Hyera. Karena gadis itu langsung menutup mulutnya dan mempererat pelukannya pada bantal sofa.
"Apa ini ada hubungannya dengan orang-orang kemarin?" Jimin mengangkat suara. Dia sangat penasaran karena sikap Hyera yang berubah mendadak saat bertemu dengan orang-orang yang di rumah gadis itu dua hari yang lalu.
"Orang-orang siapa maksudmu, Jim?" Tanya Namjoon yang tampak penasaran.
"Keluarga Pamannya? Aku sendiri tidak tahu tapi hari itu Hyera menangis setelah melihat mereka."
Yoongi menegakkan tubuhnya saat merasa Hyera terdiam cukup lama. Dia juga mendadak teringat sesuatu.
"Apa ada hubungannya dengan Baekhyun?"
Seokjin mengernyit lalu bertanya, "Baekhyun siapa?"
"Jim!" Yoongi mengabaikan pertanyaan Seokjin dan memilih memanggil Jimin yang duduk di lantai. "Apa kau melihat seorang laki-laki, rambutnya berwarna cokelat?"
"Ah, iya. Aku rasa itu anak dari…ah, tunggu. Itu Byun Seojoon. Iya, aku ingat. Pria itu mantan hakim yang beritanya kita tonton kemarin."
"Apa kau yakin?"
"Aku yakin." Jimin mengangguk mantap. "Aku sangat yakin dia Byun Seojoon, mantan hakim sekaligus anggota parlemen."
"Aku mohon, berhenti menyebut namanya."
Sepertinya suara Hyera yang bergetar baru saja membungkam kehebohan yang dibuat Jimin.
"Tolong, berhenti menyebutkan namanya!" Kali ini Hyera menutup kedua telinganya sambil terus menundukkan kepalanya. "Jangan sebut namanya lagi! Aku mohon!"
Sepertinya Yoongi sedikit paham akan gumaman Hyera. Dia langsung menarik kedua tangan Hyera dan berusaha menenangkan gadis itu.
"Baiklah, kami sudah berhenti. Tidak apa-apa."
Seokjin yang duduk di belakang Yoongi langsung menyikut punggung itu. "Apa yang terjadi?"
Yoongi menoleh lalu menggeleng. Dia menatap keenam teman-temannya. "Aku rasa kita harus berhenti menanyakan apa yang sedang terjadi."
Semuanya mengangguk setuju dan memutuskan untuk bungkam. Tidak ingin mengungkit hal yang sama bahkan ketika Hyera bertanya kembali nantinya. Mereka memilih diam dan membiarkan Hyera tidur lalu bangun dalam keadaan dia lupa tentang apa yang terjadi sebelumnya.
Yoongi memutuskan untuk beranjak keluar dari kamar Taehyung setelah memastikan Hyera terlelap di dalam sana. Langkah kakinya terhenti di depan pintu balkon lantai dua yang tertutup. Tangan kirinya bergerak untuk merogoh saku celananya, mengambil ponselnya lalu menyalakannya. Saat yang sama, ratusan notifikasi memenuhi layar ponsel itu dengan nama-nama khas teman sekelasnya. Baru saja jarinya bergerak untuk membuka notifikasi pesan-pesan tersebut saat sebuah nomor tak dikenal menghiasi layarnya kembali.
"Halo?!"
"Yoongi, ini kau bukan? Aku Daniel."
Yoongi sedikit terkejut ketika mendengar suara panik penelpon yang tak lain adalah sepupu teman sebangkunya.
"Apa kau menemukan Hyera? Aku bingung dimana anak itu berada. Ponselnya juga tidak bisa dihubungi."
Yoongi tidak menjawab. Sedikit menimang-nimang jawaban yang harus diberikannya kepada Daniel.
"Yoon, kau tahu dimana Hyera, 'kan?"
Yoongi menghela nafas sebelum menjawab, "aku tidak akan mengatakan Hyera dimana. Yang pasti dia sudah baik-baik saja."
"Syukurlah. Dimana dia?"
"Sedang tidur."
"Hubungi aku jika dia sudah bangun."
"Tunggu! Aku hanya ingin memastikan, apa ini ada hubungannya dengan Baekhyun-hyung?"
Yoongi yakin dia mendengar helaan nafas dari seberang telepon.
"Seperti itulah. Terlalu banyak hal jika aku menceritakannya."
"Tidak perlu. Aku hanya ingin memastikan. Hubungi aku jika mereka sudah pergi."
"Mereka akan pergi hari ini. Harusnya aku tidak membohongi Hyera dan membuatnya pulang ke rumah."
"Sudahlah. Lagipula sudah terjadi. Tinggal katakan saja jika mereka benar-benar sudah pergi lalu aku akan mengantarnya pulang."
"Baiklah. Terima kasih, Yoon. Aku berhutang padamu."
Yoongi memutuskan panggilan itu. Dia sudah tidak berminat untuk menjawab ratusan chat yang memenuhi notifikasinya dan memilih untuk menyimpan kembali ponselnya.
Byun Seojoon, ya?
Sejak hari itu, tampaknya tidak ada masalah lagi antara Hyera dengan Daniel dan Pamannya. Mereka kembali berkomunikasi dengan baik seolah tidak terjadi apapun. Tentu saja hanya di pihak Hyera.
Daniel dan Ayahnya sendiri masih dirundungi rasa bersalah karena kejadian itu. Mereka ingin meminta maaf secara langsung kepada Hyera tapi gadis itu sudah terlihat baik-baik saja. Jadi mereka memutuskan untuk diam dan membiarkan semuanya berlalu begitu saja.
Begitu juga dengan teman-temannya. Mereka juga tampak tidak ingin membahas masalah yang sama lagi walaupun Hyera pernah bertanya kenapa mereka sampai berada di rumah Kim bersaudara dan membolos sampai dua hari. Ah, mereka memang membolos sampai keesokkan harinya ngomong-ngomong. Mereka beralasan melakukan kerja kelompok seputar tugas mereka, yang pada akhirnya tetap harus kejar-kejaran karena dikumpulkan pada keesokkan harinya. Untung saja mereka benar-benar menyelesaikan tugas-tugas itu dan berakhir datang ke sekolah dalam keadaan mengantuk.
Kembali ke hari ini, Hyera sibuk memasukkan beberapa pakaian ke dalam sebuah ransel hitam. Dia membuka lemari satu persatu untuk mencari pakaian yang tepat sesuai perintah Pamannya sambil mendengar suara melalui speaker ponselnya yang bergema di kamar Pamannya ini.
"Kemeja kotak-kotak putih dan jas biru di lemari ujung."
Hyera berjalan menyusuri lemari empat pintu dan membuka pintu yang dimaksud lalu mengeluarkan sebuah jas biru yang membalut kemeja berwarna putih dengan garis hitam tipis yang pudar.
"Apalagi?"
"Yang lainnya sudah, 'kan?"
"Sudah. Apa ini cukup untuk perjalanan dua minggunya?"
"Cukup. Lagipula masih ada beberapa pakaian Paman di kantor."
Hyera menghela nafas. "Paman sepertinya sudah menemukan rumah kedua."
"Haha, begitulah."
"Ya sudah. Aku akan mengantarnya lima menit lagi."
"Hati-hati."
Panggilan terputus bersamaan Hyera yang menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur Pamannya.
"Daniel pergi, Paman pergi. Ya ampun, kenapa minggu-minggu seperti ini mereka selalu pergi?"
Hyera memasuki lift bersamaan dengan beberapa orang lainnya yang akan turun ke lantai dasar. Kedua tangannya sibuk membuka paper bag yang sebelumnya diberikan oleh Pamannya setelah mengantarkan perbekalan pria itu.
"Yogurt lagi?"
Dentingan lift pertanda mereka sudah sampai di lantai dasar terdengar. Satu persatu langkah kaki membubarkan diri.
Hyera menyusuri lobby kantor yang sangat besar ini dan tak terlepas dari lalu lalang orang-orang yang sibuk dengan pekerjaan mereka. Dia sendiri sedikit paham dengan posisi Pamannya yang sedang berjuang untuk menaikkan popularitas perusahaan cabang yang terhitung baru ini.
Gadis itu sempat menggerutu jika mengingat perihal Pamannya yang dipindah tugaskan disini sejak tiga tahun yang lalu, bersamaan dengan semakin sibuknya pria yang hampir menginjak usia limapuluh itu.
"Oh, jadi kalian satu kelas?"
"Berarti Jungkook juga mengenal Namjoon dan Taehyung?"
Hyera menghentikan langkahnya saat merasa telinganya mendengar tiga nama yang disebutkan oleh seorang wanita. Kepalanya segera berpaling, mencari sumber suara di tengah kerumunan orang-orang.
"Mereka keponakanku, sepupunya Seokjin."
Bahkan satu nama yang tak asing ikut disebutkan.
"Hyera?!"
Kini beralih satu suara yang dulu paling dianggapnya menyebalkan.
Saat yang sama, Hyera dapat melihat dua orang yang dikenalnya duduk di bangku kosong yang ada di belakangnya. Oh, tidak hanya berdua tapi dengan seorang pria dan wanita.
"Kenapa kau ada disini?"
Ah, itu Seokjin bersama Jungkook?
"Oh, bukannya kau Kang Hyera?"
Hyera menunjuk dirinya sendiri sambil melangkahkan kakinya mendekati keempat orang itu secara perlahan.
"Kau benar-benar Kang Hyera. Aku masih mengingatmu."
Itu wanita yang dia tahu sebagai Kim Jungra, atasan Pamannya.
"Oh, ya." Hyera gugup, tidak biasa menyapa orang yang menjadi atasan Pamannya itu.
"Apa kau mengantar perbekalan Pamanmu lagi? Aku meminta dia pergi keluar kota selama dua minggu ini."
"Ah, benar. Aku baru saja mengantarnya."
"Apa kalian mengenalnya?"
Kini pria yang berada di antara ketiga orang itu bersuara. Matanya menatap dua pemuda yang ada di kiri dan kanannya secara bergantian.
"Apa kalian saling kenal?"
Kini Jungra ikut bertanya tapi tertuju pada Hyera.
"Ya, hmm, kami hanya sekedar kenal." Hyera menjawab ragu. Dia mendadak merasa terintimidasi oleh suara pria tadi, dalam dan dingin.
"Dia teman sekelasku, dan Jungkook." Seokjin bersuara dan menyebut nama Jungkook ragu. Dia terlihat jelas tidak nyaman berada disana, menurut Hyera. Dia ingin segera pergi.
Jungkook sendiri tampak tidak peduli bahkan ketika pandangan mereka bertemu. Hyera merasa kepribadian Jungkook yang dingin ini tidak pernah ditemuinya.
"Aku rasa pertemuan hari ini sudah cukup." Jungkook beranjak dari posisinya sambil memasukkan kedua tangannya ke saku ripped jeans yang dikenakannya. "Kau, ikut aku!" Tunjuknya pada Hyera yang langsung melangkah pergi.
"Aku?!" Hyera menunjuk dirinya tidak mengerti lalu melirik Seokjin yang hanya mengangkat bahunya.
Detik berikutnya, Seokjin merasa tubuhnya tertarik bersamaan dengan suara pamitan Hyera pada pria dan wanita tadi.
"Maaf, Tuan dan Nyonya, aku pinjam Seokjin ya?!"
Jungra hanya tertawa kecil sambil memperhatikan kepergian ketiga remaja itu dan menghilang di antara orang-orang yang berlalu lalang.
"Mereka benar-benar lucu."
"Kenapa kau membawanya?"
Tuding Jungkook pada Seokjin yang kini sudah duduk di hadapannya. Matanya melirik Hyera yang sedang menyeruput vanilla-nya dalam diam.
"Hmm," Hyera menopang dagu dengan kedua tangannya lalu menatap Jungkook dan Seokjin secara bergantian, "sekarang aku tanya padamu, apa kau membawa kendaraan?"
Jungkook menggeleng.
"Selesai. Coba saja kita tidak bersama Seokjin, mungkin kita akan sampai kesini besok pagi." Hyera menyandarkan punggungnya lalu menepuk bahu Seokjin yang duduk di sebelah kirinya. "Terima kasih atas tumpangannya, Jin."
"Lalu, kenapa aku disini?"
Itu Yoongi yang duduk di hadapan Hyera. Kedua tangannya berlipat di depan dada dan menatap tajam Hyera.
"Hanya pelengkap saja berhubung kami bertiga disini."
"Ini jam kerjaku, jika kalian lupa."
Mereka sedang di café tempat Yoongi bekerja, ngomong-ngomong.
"Jadi, kenapa kau bisa mengenal Ibuku?"
Hyera yang baru kembali menikmati minumannya harus tersedak. Matanya membulat begitu mendengar pertanyaan Seokjin.
"Tunggu, dia Ibumu?"
"Ibuku yang akan menjadi Ibunya juga." Seokjin menunjuk Jungkook dengan bibirnya.
"Jangan sebut dia sebagai Ibuku." Jungkook memalingkan wajahnya untuk menatap Hyera. "Kau juga, kenapa ada disana?"
"Aku mengantar pakaian Pamanku. Dia bekerja disana."
Yoongi beranjak dari posisinya ketika dirinya semakin menyadari jika kehadirannya sama sekali tidak ada hubungan dengan percakapan ketiga orang itu. "Sepertinya percakapan kalian sama sekali tidak ada hubungannya denganku. Jadi aku pergi!"
"Selamat bekerja, Yoongi-ah!"
Tolong tahan Yoongi agar tidak membungkam mulut gadis itu dengan apron hitam yang sedang terikat di pinggangnya. Tak ingin ambil pusing, Yoongi memilih pergi dari sana.
"Jadi, Pamanmu adalah bawahan wanita itu?"
"Aku sedikit tersinggung kau menyebut Ibuku seperti itu."
"Sudah seharusnya sebagai putranya, kau harus membela Ibumu."
"Ayolah, apa yang salah dengan kalian?" Hyera menghela nafas, bingung dengan pertengkaran aneh kedua orang itu. "Jadi, pria tadi itu Ayahmu ya?" Oh, pertanyaan itu tertuju untuk Seokjin tapi Jungkook langsung membantah.
"Dia Ayahku."
"Yang akan menjadi Ayahku juga."
"Aku tidak pernah menyetujui pernikahan mereka."
"Kau pikir aku mau? Aku sudah lelah selama setahun ini harus bertengkar dengan Ibuku hanya karena menentang pernikahan mereka tapi apa? Mereka akan tetap meneruskan pernikahan itu, 'kan? Minggu depan? Tanpa mengabari kita? Kau pikir saja bagaimana perasaanmu yang berusaha menentang berkali-kali tapi hasilnya tetap sama saja. Aku sudah menyerah, Jeon."
Jungkook terdiam. Dia tahu bagaimana emosi Seokjin saat ini. Dia juga tidak menginginkan semua ini terjadi. Ayolah, siapa yang setuju posisi Ibunya digantikan orang lain? Oke, mungkin ada tapi tidak untuk Jungkook.
"Oh, hold up! Ini tentang Ayahnya siapa jadi Ayahnya siapa? Atau Ibunya siapa jadi Ibunya siapa? Jadi, ada yang ingin menjelaskan apa yang sedang terjadi? Ya, kalaupun kalian tidak keberatan."
Seokjin menggeleng, heran dengan Hyera. Gadis itu pura-pura tidak tahu atau memang sangat ketinggalan informasi?
"Apa kau tidak tahu masalahku dengan Seokjin?"
Hyera memiringkan kepalanya lalu menggeleng. "Namjoon hanya bilang kalian memiliki masalah pribadi dan aku sendiri tidak tahu. Tapi karena sudah terlanjur terjun kenapa tidak sekalian diselami?"
Jungkook mengangkat tangan kirinya lalu menepuk puncak kepala Hyera. "Mungkin seluruh penjuru sekolah sudah tahu apa masalah kami berdua, mustahil kau tidak tahu."
"Serius, aku tidak tahu apapun. Aku hanya pernah bermasalah dengan kalian bertujuh bukannya mengetahui masalah di antara kalian." Hyera menepis tangan Jungkook lalu kembali menopang dagunya. "Aku dulu bukan tipe penggosip seperti yang lain."
"Lalu, sekarang? Kau penggosip?"
Hyera menggeleng sebagai jawaban atas pertanyaan Seokjin. "Aku akan tetap jadi orang yang akan ketinggalan informasi."
Jungkook menghela nafas lalu berucap, "intinya kau juga ingin tahu."
"Well, aku tidak menyangkalnya. Jadi, bisa beritahu aku? Mungkin pokok inti permasalahannya."
"Baiklah, karena kau lucu dan menggemaskan." Seokjin menyandarkan punggungnya lalu melirik Hyera. "Wanita tadi itu Ibuku sedangkan pria itu adalah Ayah Jungkook."
Hyera mengangguk paham sebagai respon.
"Ayahku dan Ibunya sudah menjalin hubungan sejak beberapa tahun terakhir." Jungkook menyeruput minumannya lalu kembali menatap Hyera. "Mereka akan menikah minggu depan."
"Lalu?"
"Aku dan Jungkook tidak pernah setuju tentang hubungan mereka. Bahkan rasanya sangat menjengkelkan saat mereka mengumumkan pernikahan di konferensi pers tadi tanpa sepengetahuan kami."
"Aku masih menentang tapi dia menyerah." Jungkook menatap Seokjin yang hanya bisa menghela nafas.
"Aku sudah lelah, Jeon." Seokjin menjatuhkan kepalanya ke atas meja. Dia tidak ingin memperdebatkan hal seperti ini. Otaknya sudah cukup lelah selama setahun ini harus menentang keinginan Ibunya untuk menikah dengan Ayah Jungkook.
"Bagaimana saranmu? Biasanya kau memiliki sesuatu untuk diteriaki."
"Saranku? Entahlah, cukup terima saja lalu selesai." Hyera menggigit bibir bawahnya lalu kembali melanjutkan ucapannya. "Menentang, kenapa? Alasannya? Apa karena Seokjin atau karena Jungkook? Ini hanya masalah keegoisan kalian. Orang tua kalian juga bisa egois. Mereka juga berhak mempertahankan pendapat demi kebahagiaan. Mungkin kalian sama sekali menentang pernikahan mereka, tapi bagaimana jika mereka bahagia dengan hal itu? Menikah lagi dan memulai kehidupan bersama?"
Hyera menatap kedua teman sekelasnya itu secara bergantian. Kedua tangannya sudah terlipat di atas meja, bersiap mendengar sanggahan salah satu dari mereka. Atau tidak?
"Mungkin aku tidak tahu apa yang membuat kalian berdua tidak setuju, tapi sebisa mungkin kalian bicarakan dengan baik. Jungkook harus mengatakan kepada Ayahnya kenapa dia tidak setuju. Begitu juga dengan Seokjin yang harus mengatakan kepada Ibunya kenapa dia tidak setuju. Mungkin dari sana kalian bisa mendapat titik terang. Tidak ada yang tahu bagaimana ke depannya, memang."
"Aku hanya tidak mau seseorang menggantikan sosok Ibuku. Hanya dia satu-satunya wanita yang akan menjadi Ibuku."
"Kalau begitu, kau sama seperti Namjoon." Hyera menyandarkan punggungnya. Entah sudah berapa kali dia mengubah posisinya seperti ini. "Ayahmu menikah lagi bukan berarti dia menggantikan posisi Ibu kandungmu. Ibumu tetaplah Ibumu sampai kapanpun. Tidak ada yang akan bisa menggantikan wanita yang sudah memperjuangkan hidupnya demi anak mereka, Jeon."
"Mungkin Ibunya Seokjin jadi Ibumu. Tapi seorang Ibu tetaplah seorang Ibu. Orang yang akan membagi kasih sayangnya kepada anak-anak mereka. Aku pernah membicarakan hal ini dengan Namjoon."
Kini pandangan Hyera tertuju pada Seokjin yang memilih untuk tertunduk dalam diam. "Jadi, bagaimana denganmu, Kim Seokjin-ssi?"
Seokjin tersentak ketika namanya disebut oleh Hyera. "Ah, tidak. Aku, entahlah." Dia menghela nafas panjang. "Aku takut Ibuku kembali tersakiti lagi. Cukup pria itu pergi dan meninggalkan kami tanpa mengatakan apapun."
"Kau sepertinya menyamakan Ayahku dengan mantan Ayahmu ya?"
"Ah, maaf. Aku tidak bermaksud." Seokjin kembali tertunduk. "Tidak, entahlah. Aku senang saat dia kembali bahagia seperti itu tapi aku takut dia kembali tersakiti."
"Hmm," Hyera mengusap belakang lehernya, "aku paham ketakutanmu tapi kau tidak bisa menyamakan semua orang. Ayah Jungkook mungkin bukan yang terbaik tapi dia tetap pria yang berusaha memperjuangkan hal yang harus diperjuangkannya. Buktinya, orang tua kalian masih mempertahankan hubungan mereka walaupun kalian menolaknya secara telak. Tapi boleh aku mengakui sesuatu? Ayah Jungkook menyeramkan, sungguh."
"Wah, Ayahku sangat baik."
"Walaupun kau sering mengabaikannya dan mengatakan jika Ayahmu sedang latihan akting saat dia memarahimu."
"Darimana kau tahu itu?"
"Hoho, jangan salah. Ayahmu banyak menceritakan segala hal tentangmu kepada Ibuku."
"Oh, Ibumu juga. Dia sering mengatakan kau akan sangat takut ditinggal sendirian di rumah, makanya Namjoon sering berada di rumahmu."
"I-itu tidak benar."
"Ayolah! Akui saja!"
"Kau sendiri? Selalu merengek ketika Jimin menghabiskan camilanmu."
"Apa katamu? Itu tidak benar."
"Kalian sudah seperti saudara. Aku rasa orang tua kalian cocok." Hyera tersenyum, menggoda dua orang itu tampaknya sangat menyenangkan.
"TIDAK!"
"Sungguh. Bahkan kalian sangat kompak. Tidak seperti Taehyung dan Namjoon. Mereka pasangan yang kaku."
"Aku setuju." Jungkook berseru seraya mengangguk, "mereka seperti sepasang kekasih."
"Namjoon saja yang kaku. Bertingkah tidak peduli padahal setiap melihat Taehyung bermasalah sedikit saja dia selalu berkata 'apa dia akan baik-baik saja?'"
"Jika saja dia ada disini, aku tidak yakin kau akan selamat darinya." Hyera melirik Seokjin sambil membayangkan kemungkinan yang akan terjadi jika saja Namjoon mendengar pernyataan dari mulut itu.
Next chapter
"Kalian berada di kelas mana?"
"Kami di kelas F."
"Oh, kelas F? Suatu kebanggaan bsa bertemu dengan salah satu dari kalian. Bagaimana rasanya berada di kelas F? Apa kalian merasa tertekan atau sejenisnya? Kalian bisa menceritakannya kepadaku."
"Boleh aku katakan menyenangkan?"
"Benarkah? Seberapa menyenangkan?"
Jadi, bagaimanakah hubungan Jungkook dan Seokjin? Tunggu di chapter selanjutnya...
Gli.
