Chapter Side Story : Jeon Jungkook

Awalnya Jungkook sangat fokus pada tugasnya sampai tidak terlalu peduli pada Yoongi yang sedang berbincang dengan rekan kerjanya. Itu awal, benar-benar awal jika saja telinganya tidak menangkap suara Hoseok meneriakkan sebuah nama yang tak asing di telinganya.

"Chanyeol-hyung?"

Tidak mungkin?!

Kepalanya langsung menoleh, mengikuti pergerakan Hoseok yang sudah beranjak dari posisinya lalu menghampiri seorang pemuda bertubuh tinggi yang berdiri di depan meja kasir. Harusnya Jungkook tidak menoleh jika dia tahu orang yang dilihatnya itu adalah orang yang dikenal.

Jungkook tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Hoseok yang sedang berbicara dengan orang itu. Mulutnya terus bergumam untuk berhenti memandangi mereka tetapi matanya tetap tidak bisa berpaling. Hoseok tertawa disana, bersama pemuda itu. Cukup lama sampai akhirnya suara Namjoon memecahkan lamunannya.

"Hei, Jeon! Bisa aku lihat milikmu sebentar?"

"Ah, hmm, silahkan!"

Tangannya langsung mendorong notebook miliknya ke arah Namjoon kemudian segera beralih untuk meneguk minumannya.

"Kau mengenal Chanyeol?"

Itu suara Yoongi yang bertanya pada Hoseok yang sudah kembali ke kursinya.

"Tentu saja. Kami satu klub dance sampai sekarang tapi kami jarang bertemu karena beda lokasi."

"Yoon, aku pergi du…Jungkook?!"

Jungkook tersentak ketika namanya disebut oleh orang itu. Kepalanya menoleh perlahan sampai akhirnya pandangan mereka bertemu. Itu benar-benar Park Chanyeol yang dikenalnya.

"Kau kenal dia juga, Jeon?"

Jungkook menoleh ke arah Yoongi lalu mengangguk ragu. Dia melirik Chanyeol yang sudah melangkah ke arah meja mereka.

"Kau Jeon Jungkook, bukan?"

Ah, tidak. Percuma saja dia berpura-pura tidak kenal. Jadi dia putuskan untuk segera beranjak dari posisinya, menatap Chanyeol yang berdiri di depannya.

"Hai, hyung! Sudah lama ya?"

"Ah, benar juga." Chanyeol terdengar gugup saat membalas ucapan Jungkook.

Jungkook melangkah maju lalu berbisik kepada Chanyeol, "hyung, bisa kita berbicara sebentar?"

Jungkook tahu dia sangat gegabah sekarang tapi dia harus mengatakan apa yang ada di kepalanya. Amarahnya semakin menguasai dirinya sejak kakinya melangkah keluar café menuju sebuah gang kecil yang sepi.

Chanyeol terus mengikuti langkah Jungkook sampai mereka berdua berhenti melangkah. Saling memberikan tatapan yang sulit diartikan.

"Kenapa hyung ada disini?"

"Apa maksudmu, Jeon? Harusnya aku yang bertanya, kenapa kau disini? Berada di café tempatku bekerja. Aku tidak menyangka kau berteman dengan Yoongi."

Jungkook berdecih lalu menyandarkan punggungnya pada dinding bangunan yang membatasi gang. Kedua tangannya terlipat di depan dada.

"Aku sangat berharap kau kembali saat itu tapi saat melihatmu, aku rasa sangat menyesal sudah melihatmu sekarang."

Entahlah, sudah lenyap kemana rasa gugup Jungkook yang dirasakannya tadi

"Jadi, setelah ini aku berharap kita tidak bertemu lagi, hyung. Baik denganku ataupun dengan Jimin."

Jungkook bersiap melangkah pergi saat suara Chanyeol berhasil membuat langkahnya terhenti.

"Bagaimana keadaan Jimin?"

"Kau bertanya itu sekarang?" Jungkook kembali berdecih lalu membalikkan badannya untuk menatap Chanyeol. "Hidup Jimin sudah hancur karenamu, hyung! Hidupnya sudah berhenti sejak kau pergi."

"Kau tidak bisa membayangkan bagaimana kehidupan Jimin setelah hari itu. Jimin terus menangis dan tidak tidur. Dia terus berkata kau akan kembali tapi buktinya kau tidak kembali selama sepuluh tahun ini."

"Jimin hancur, hyung. Sangat hancur. Dia seperti benda rapuh yang saat kau pegang akan berubah menjadi debu. Jimin tidak pernah seceria dulu. Mungkin sekarang dia sedikit tertawa karena keadaan sekitarnya tapi itu tidak merubah semuanya. Jimin sangat rapuh."

"Argh, harusnya aku tidak menceritakan ini padamu, hyung. Harusnya, harusnya aku tidak berbicara denganmu seperti ini. Nyonya Park bahkan sudah tidak peduli padanya. Jimin benar-benar sendiri jika saja aku tidak ada di sampingnya."

Jungkook dapat melihat raut penyesalan dari wajah Chanyeol. Tidak, dia tidak peduli pada penyesalan apapun yang ada di pikiran Chanyeol.

"Untuk informasi saja, hyung. Jimin tidak pernah bisa tidur dengan tenang selama sepuluh tahun ini. Dia tidak akan bisa tidur tanpa pil-pil sialan itu. Dan itu semua karenamu, hyung. Dia takut semuanya akan kembali pergi saat dia tidur. Jadi aku mohon, hyung, aku harap kau tidak pernah menemui Jimin apapun alasannya karena Jimin sudah cukup bahagia sekarang."

Setelah itu Jungkook benar-benar pergi. Dia meninggalkan Chanyeol yang masih tertunduk penuh penyesalan. Jungkook sudah tidak peduli lagi, dia hanya ingin Jimin terus tersenyum setiap harinya dan melupakan setiap kenangan yang menyesakkan hati sahabatnya itu.

Jungkook hanya ingin Jimin bahagia.