Last chapter
"Kalian sudah seperti saudara. Aku rasa orang tua kalian cocok." Hyera tersenyum, menggoda dua orang itu tampaknya sangat menyenangkan.
"TIDAK!"
"Sungguh. Bahkan kalian sangat kompak. Tidak seperti Taehyung dan Namjoon. Mereka pasangan yang kaku."
"Aku setuju." Jungkook berseru seraya mengangguk, "mereka seperti sepasang kekasih."
"Namjoon saja yang kaku. Bertingkah tidak peduli padahal setiap melihat Taehyung bermasalah sedikit saja dia selalu berkata 'apa dia akan baik-baik saja?'"
"Jika saja dia ada disini, aku tidak yakin kau akan selamat darinya." Hyera melirik Seokjin sambil membayangkan kemungkinan yang akan terjadi jika saja Namjoon mendengar pernyataan dari mulut itu.
Chapter 12
Minho melipat kedua tangannya di atas meja sambil tersenyum, menatap dua pria yang berstatus sebagai mantan gurunya itu.
Pria yang sedang merokok langsung mematikan rokoknya lalu menatap Minho. "Dua jam lebih sepuluh menit. Jadi apa tujuanmu mengajak kami kesini?"
Minho terkekeh kecil. "Sebelumnya aku minta maaf karena sudah datang terlambat, ssaem." Dia berdeham sejenak lalu menarik nafas sebelum melanjutkan kalimatnya, "jadi tujuanku adalah membantu kalian mengumpulkan bukti."
Pria lainnya menopang dagu dengan sebelah tangannya. "Bukti apa? Kami sudah tidak melakukan apa-apa kali ini. Kami menyerah."
Minho menggeleng lalu kembali tersenyum. Kedua tangannya sibuk membuka tasnya lalu mengeluarkan beberapa lembar kertas dari dalam sana. "Ini profil murid-murid kelas F tahun ini, 'kan? Kalian tidak mungkin berhenti, setidaknya untuk yang terakhir."
Pria yang tadi merokok hanya melirik, memperhatikan beberapa lembar kertas dengan foto dan informasi umum murid-muridnya. "Aku tidak suka basa-basi jadi langsung saja katakan apa tujuanmu mengajak kami kesini sampai kami harus menunggumu selama dua jam lebih."
"Oh, Lee Jungshin-ssaem, aku tadi ada wawancara mendadak di kantor." Minho melepaskan kancing setelannya lalu kembali menatap pria merokok tadi. "Dan aku juga tahu, kalian tidak mungkin menyerah begitu saja."
Jungshin mengibaskan tangannya. "Terserah kau saja."
"Bagaimana denganmu, Nam Joonhyuk-ssaem?"
Yang dipanggil hanya bisa mengedikkan bahunya. "Aku siap mendengarkannya."
"Joonhyuk?!"
"Apa salah? Setidaknya untuk terakhir sebelum kita benar-benar pergi dari sana atau memberikan lebih banyak jejak daripada tidak melakukan apapun, 'kan?" Joonhyuk melirik Jungshin mulai kembali menyalakan rokoknya lalu beralih pada Minho. "Jadi, apa buktinya?"
"Tapi aku butuh informasi tentang perkembangan dari awal kelas itu terbentuk."
Joonhyuk kembali mengedikkan bahunya. "Tidak masalah."
Keempat remaja itu –Namjoon, Taehyung, Yoongi dan Jungkook memutuskan pergi ke kantin saat seluruh penghuni kelas mereka untuk beristirahat di gedung olahraga.
"Apa hari ini kunjungan dari pusat?"
Pertanyaan Jungkook berhasil menghentikan langkah ketiga temannya. Dia berada di salah satu jendela koridor yang terbuka, menatap ke halaman dimana beberapa mobil berwarna hitam terparkir disana. Disusul beberapa orang berpakaian formal keluar dari sana dan disambut oleh pihak sekolah yang menanti di depan gedung.
"Kunjungan untuk anak-anak mereka?!"
Jungkook menoleh ke arah Taehyung yang berhenti beberapa meter di depannya. "Benar juga. Sudah beberapa minggu mereka tidak muncul untuk menyaksikan kehidupan busuk anak-anak mereka."
"Sudah?" Yoongi bertanya sambil mengarahkan layar ponselnya kepada Namjoon. "Anak itu baru saja berkicau kehausan."
Pesan singkat dengan nama pengirim Hyera, dimana beberapa pesan spam yang berisi seputar betapa kehausan dirinya.
"Dia hanya berani merengek ke Yoongi saja." Namjoon mendahului langkahnnya, diikuti Taehyung. "Ayo!"
Pria itu menghentikan langkahnya tepat di depan jendela sebuah kelas tahun kedua dimana penghuni peringkat tertinggi berada.
"Sepertinya mereka belajar dengan giat."
Oh Handong, pria paruh baya tanpa rambut itu mengangguk setuju sambil terus mengikuti langkah pria yang berada di depannya.
"Mereka adalah murid-murid terbaik di sekolah ini."
Pria itu tersenyum. Kedua tangannya saling bergenggaman di punggungnya sambil melanjutkan langkah.
"Lalu, bagaimana dengan anak-anak di kelas F? Apa mereka sudah kembali berkembang?"
Handong segera memasang wajah memelas, sesuatu membuatnya menyesal. "Maaf untuk masalah itu, Tuan Choi. Aku dan guru-guru disini sudah berusaha membangun semangat mereka tapi sepertinya mereka sama sekali tidak bisa diharapkan. Maksudku, mereka dimotivasi untuk bangun."
"Aku harap kelas itu akan terus ada. Mereka adalah anak-anak beruntung yang secara tidak langsung menjadi bagian tak diinginkan. Aku masih berharap mereka bertahan dan akan lulus atas nama sekolah ini."
Pak tua Handong itu tampak mencibir kecil sebelum akhirnya mengangguk sambil tersenyum, paksa. "Semoga saja."
Pria yang tampak berusia pertengahan lima puluh tahun itu tampak tersenyum, membuat matanya menyipit. Kakinya kembali melangkah, melewati beberapa kelas yang tampak sibuk dengan waktu belajar murid-murid Creighton. Sampai akhirnya, pandangannya tertuju pada empat siswa dengan pakaian olahraga yang baru saja berbelok ke arah mereka.
"Oh, apa kalian sedang dalam pelajaran olahraga?"
Pertanyaan itu langsung saja membuat keempatnya menghentikan langkah mereka lalu membungkukkan badan mereka sebagai tanda hormat.
"Ah, benar." Itu Namjoon yang menjawab, melirik ke arah kepala sekolah mereka yang sedang berdecak kesal akan kehadiran mereka. Kemudian kembali menatap pria pertengahan limapuluh yang berdiri di depan mereka. "Kami sedang dalam jam istirahat."
Pria itu mengangguk paham. Masih tersenyum. "Kalian berada di kelas mana?"
"Kami di kelas F." Jungkook menjawab dengan bangga sambil tersenyum ramah. Tidak peduli jika ada beberapa dari rombongan di belakang pria itu sedang berbisik.
"Oh, kelas F? Suatu kebanggaan bsa bertemu dengan salah satu dari kalian. Bagaimana rasanya berada di kelas F? Apa kalian merasa tertekan atau sejenisnya? Kalian bisa menceritakannya kepadaku."
Yoongi tersenyum simpul lalu bersuara, "boleh aku katakan menyenangkan?"
"Benarkah?" Pria itu tampak tertarik akan pernyataan Yoongi, dia tersenyum lalu melirik Taehyung yang masih terdiam. "Seberapa menyenangkan?"
Tersadar akan tatapan pria itu, Taehyung ikut membuka suara, "sangat menyenangkan sampai rasanya ingin bertahan disana."
"Kalau begitu, pertahankan nilai kalian."
Namjoon mengedikkan bahunya lalu melemparkan pandangannya pada kepala sekolah mereka. "Nilai? Mungkin lebih dari itu."
Merasa bosan, Hyera memutuskan keluar dari gedung olahraga sendirian. Kerongkongannya sudah sangat kering dan butuh minuman. Sedangkan empat orang yang pergi ke kantin belum juga menunjukkan tanda-tanda mereka.
Sepertinya gadis itu harus menghentikan langkah kakinya ketika menyadari sedikit perubahan di lobi sekolahnya. Beberapa kursi dan meja tersusun rapi disana, bersamaan sebuah spanduk selamat datang yang terpasang di pintu.
"Kunjungan?!"
Hyera memiringkan kepalanya untuk membaca lengkap tulisan yang ada pada spanduk tersebut lalu menghela nafas. Kakinya bersiap melangkah lagi jika saja suara seseorang tidak menginterupsinya.
"Byun Hyera?!"
Gadis itu mengepalkan kedua tangannya.
"Oh, sudah kuduga kau adalah Byun Hyera. Putri kedua Byun Seojoon yang dibuang, bukan?"
Hyera mengumpat. Tubuhnya berbalik dan mendapati seorang wanita dengan setelan formal berwarna merah dipadu jaket bulu berwarna putih dan kaca mata hitam. Khas dengan gaya angkuh.
"Kau, berani sekali mengumpat pada orang tua."
"Oh, aku tidak menduga jika itu adalah kau, Nyonya Lee Nayoung."
"Bahasamu sungguh kurang, ah, lupakan saja." Wanita itu tersenyum maklum lalu mendekati Hyera tanpa ragu. "Kelas F, tempat yang pas untuk orang-orang yang kurang pengajaran sepertimu."
Hyera tersenyum lalu bertingkah hormat seperti menghormati seorang tuan putri. "Suatu kehormatan yang menyedihkan dapat bertemu denganmu disini."
"Apa ini penyebab pasangan Byun menyerahkanmu kepada adik mereka? Kau sungguh mengerikan."
"Ah, Nyonya Lee Nayoung. Sejujurnya aku merindukanmu. Saat aku dan mantan teman-temanku mengunjungi rumahmu untuk bertemu putrimu." Hyera menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. "Sungguh, seperti penyesalan. Sekarang aku sedikit paham darimana Seojung bertingkah paling hebat. Sepertinya sungguh tipikal dirimu, Nyonya Lee Nayoung. Selalu menginjak-injak orang lain."
Sebuah tamparan pada pipi kanan diterima Hyera. Oh, wanita itu agaknya sudah termakan ucapan. Sungguh, Hyera adalah salah satu gadis yang memiliki bakat membuat orang lain mendidih.
"Mulutmu, sepertinya Yoona melakukan hal yang tepat. Membuangmu adalah keputusan yang benar."
"Terima kasih, Nyonya Lee Nayoung. Aku anggap itu sebagai pujian."
"Oi, Hyera!"
Hyera langsung menoleh ke sumber suara, tepat di belakang wanita itu. Keempat temannya berdiri disana dengan beberapa kantong yang berisi botol air minum.
"Kenapa kau ada disini?"
Hyera melirik wanita yang masih menatapnya itu lalu tersenyum. "Sedikit melakukan reuni dengan Ibu dari mantan temanku."
Wanita itu agaknya tampak kesal namun sebisa mungkin dia menahan dirinya agar tidak menunjukkan seberapa kesal dirinya pada gadis itu. Jadi dia memutuskan untuk membalikkan badannya, menatap empat remaja yang berdiri di belakangnya. Oh, satu orang baru saja membuat senyumnya mengembang.
"Komplotan anak-anak yang menyedihkan." Disusul dengan suara decihan yang dapat didengar oleh kelima remaja disana.
Lee Nayoung memutuskan untuk melangkahkan kakinya, pergi ke arah empat pemuda itu. Masih dengan senyuman yang memuakkan, wanita itu menghentikan langkahnya sebentar tepat di samping Yoongi.
"Senang bertemu denganmu lagi, Min Yoongi."
Wanita itu~
Jungkook bertanya, "apa yang kau lakukan disini? Bukannya Yoongi sudah menyuruhmu untuk menunggu?"
Hyera menggaruk kepalanya lalu menghampiri keempat temannya. "Tadinya aku haus tapi sekarang tidak lagi."
"Pipimu merah?!" Namjoon memiringkan kepalanya untuk melihat pipi kanan Hyera.
"Ah," Hyera menyentuh pipinya yang masih terasa perih, "bukan apa-apa."
"Katakan saja, wanita itu menamparmu, 'kan?" Taehyung membuka suara, mengambil sebotol minuman yang dingin lalu menempelkannya pada pipi kanan Hyera. "Tadi itu Ibunya Cha Seojung, 'kan?"
Hyera mengambil alih botol yang masih menempel di pipinya. "Bisa dibilang begitu. Ayo, kembali!"
Wanita itu, Ibunya Cha Seojung?
Selama dua hari ke depan, libur akan menyapa seluruh murid Sekolah Creighton. Dan selama dua hari juga, Hyera akan menghabiskan waktunya dengan uring-uringan di rumah. Pamannya harus kembali pergi keluar kota kemarin malam dan sepupunya juga pergi keluar kota untuk mengikuti lomba dance-nya selama seminggu.
Sebenarnya bukan masalah besar jika Hyera ditinggal sendirian. Lagipula ini bukan pertama kalinya. Ah, terlalu sering. Bahkan saat libur panjang, Hyera hanya akan menghabiskan waktu liburnya dengan bermain di ruang musik, membaca buku atau tidur seharian.
Tapi, bolehkah sekarang dia menuntut untuk tidak ditinggalkan sendirian? Sekarang dia benar-benar dilanda kebosanan yang memasuki level tertinggi. Dua hari di rumah, tanpa sekolah dan siapapun? Kang Hyera sedang ingin bermain tapi dia tidak ingin keluar rumah. Minimal ada teman bicara saja sudah cukup.
Ditambah lagi, seluruh kendaraan di rumah sudah disegel Daniel. Mobil Ayahnya dan motor sport-nya dia titipkan ke bengkel dengan alasan untuk pengecekan mesin. Padahal dasarnya, Daniel dan Ayahnya tidak mengizinkan Hyera berkendara sendirian. Bersyukurlah Hyera masih dibiarkan berangkat sekolah dengan bus.
Tubuhnya menuntut untuk diisi ketika dirinya baru saja menyilangkan kakinya di sofa. Seraya mengikatkan bandana di kepala, Hyera memutuskan untuk melangkahkan kakinya ke dapur, menuju meja makan dimana sebungkus roti dan setoples selai berry menantinya. Dia sedikit beruntung bukan pemilih dalam urusan makan jadi apapun makanan yang tersisa, selama masih layak maka itu yang akan dimakannya.
Kedua tangannya sibuk membuka toples selai, mengambil selembar roti lalu dioleskannya. Setelahnya, bel rumah berdering membuat gadis itu hanya menggigit ujung roti tanpa minat untuk mengunyahnya. Membiarkan roti itu menggantung di mulut, Hyera kembali melangkah menuju pintu utama dan sedikit mengumpat di dalam hati ketika suara bel kian anarkis.
Baiklah. Apa yang ditinggalkan si monster kelinci itu kali ini?
Hyera berpikir itu Daniel. Kang Daniel, sepupunya. Mulutnya sudah bersiap untuk memaki sepupunya itu. Namun sungguh itu bukan orang yang tepat untuk dimakinya.
Kim Taehyung, Jeon Jungkook dan Park Jimin. Berdiri berdasarkan urutan tinggi mereka.
Jungkook masih setia menekan bel, tidak peduli jika Hyera sudah membuka pintu dan berdiri di depan mereka. Jimin berkecak pinggang sambil menggelengkan kepalanya. Taehyung, pemuda itu menutup matanya dan menghela nafas.
"Yo!" Jungkook berhenti menekan bel, melirik sebentar ke arah jam tangannya lalu menatap Hyera. "Selamat pagi!"
Jimin menarik sebagian roti dari mulut Hyera, membiarkan sebagiannya lagi bergantung di mulut gadis itu. "Roti dan selai berry?" Kemudian memasukkan potongan roti itu ke dalam mulutnya.
Hyera sibuk mengunyah rotinya saat Jungkook mendorong mundur tubuhnya untuk masuk ke dalam. "Dari aromanya, kau sudah mandi? Baguslah kalau begitu. Jadi ganti pakaianmu sekarang lalu kita pergi!"
"Tunggu! Apa? Ganti pakaian? Pergi? Kemana?"
Jimin mengibaskan tangan kirinya, mengisyaratkan agar gadis itu segera pergi.
"Cepat ganti!" Perintah Jungkook lagi.
Hyera mendengus kesal, matanya melirik ke arah Taehyung untuk menuntut penjelasan. Namun, tampaknya pemuda Kim itu sama tidak tahunya dengan dia. Alhasil, Hyera memutuskan untuk segera melangkahkan kakinya menaiki tangga dan menuju kamarnya.
Butuh sekitar tiga puluh menit bagi Hyera bertahan di motor sport Taehyung sampai akhirnya mereka berempat tiba di sebuah taman kota. Keadaan tidak terlalu ramai jika mengingat baru pukul delapan kurang dari sepuluh menit atau sudah sedikit siang bagi mereka yang biasa berolahraga. Namun tetap masih ada beberapa orang yang lari pagi atau berolahraga ringan, sekedar menghirup udara pagi.
Agaknya, tiga orang itu bukan bertujuan untuk berolahraga, mengingat Jimin dan Jungkook yang mengenakan celana jeans panjang dengan kaos hitam dan jaket. Sedangkan Taehyung, tidak berbeda jauh. Ripped jeans berwarna putih dan sweater abu-abu kebesaran, serta topi baseball. Dan Hyera? Dia hanya men-copy gaya Jimin dan Jungkook, hanya bedanya dia mengenakan blazer abu-abu.
"Jadi?"
Oke, cukup. Mereka berempat hanya berjalan di pinggiran sungai sedari tadi tanpa mengatakan tujuan dan Hyera sudah jengah.
"Sebentar lagi, Hye. Atau perlu aku suruh Jungkook menggendongmu?"
Merasa terpanggil, Jungkook langsung membalikkan badannya untuk menatap Hyera yang sudah menghentikan langkahnya. Sepertinya rasa usil baru saja menyerang pemuda bermarga Jeon itu. Karena detik berikutnya, dia mengedipkan matanya lalu menggoda Hyera.
"Oh, atau ingin reka adegan seperti tahun lalu?"
Hyera berjengit. Kakinya langsung melangkah mundur dan bersembunyi di belakang Taehyung. Mulutnya bahkan sudah mengeluarkan sumpah serapah yang sempat membuat orang yang berlalu lalang menatap ke arahnya.
"Kau…sekali lagi, aku benar-benar tidak akan membuat hidupmu tenang!"
"Begitukah?" Jungkook kembali mencoba mengganggu teman perempuannya itu. Ah, puas juga karena sudah sedikit mengusili gadis itu. Setelahnya, dia langsung melanjutkan langkah mereka. "Ayo! Yang lain sudah menunggu."
Sepertinya Hyera benar-benar dilanda rasa bingung yang semakin menjadi-jadi. Ditambah lagi ketika langkah mereka terhenti di bagian taman yang jarang terjamahi oleh sebagian orang. Berbagai sugesti negatif menyapa di kepalanya, menatap takut ke arah tiga temannya.
Jimin dan Jungkook sudah berlari ke arah satu pohon besar lalu melakukan hal aneh yang sudah biasa bagi Hyera. Sedangkan Taehyung memilih untuk duduk di kursi panjang yang berada tak jauh dari pohon. Ah, Hyera semakin menjerit di dalam hatinya.
Tolong! Jelaskan apa maksud kalian?
"Kalian mengajakku lalu mengabaikanku?"
Agaknya, ketiga temannya itu sedikit berlebihan. Setelah menjemput dan mengajaknya kesini tanpa alasan lalu mengabaikan Hyera? Hei, lalu apa tujuan dia berdiri disini tanpa tahu apapun yang harus dilakukan.
"Jika tidak ada hal penting, aku pulang!"
Atau, Hyera harus mengajukan protes pada empat orang yang sudah berdiri di depannya tepat saat gadis itu membalikkan badannya? Kepalanya sedikit memiring ketika melihat Hoseok berdiri di belakang Namjoon, disusul Seokjin dan Yoongi di belakang si pemilik cengiran menyebalkan, menurut Hyera.
"Apalagi?"
Ah, mood-nya sudah rusak karena ketidakjelasan pagi ini. Ditambah lagi empat orang itu tampak berdiri berdempetan. Gadis itu bersiap mengajukan protes saat matanya mendadak ditutup dari belakang dan bersamaan dengan hal itu, nyanyian ulang tahun terdengar mengudara.
"…happy birthday Kang Hyera! Happy birthday, happy birthday. Happy birthday to you!"
Sebuah cake dengan lilin-lilin kecil yang menyala sudah menyapa penglihatan Hyera saat pelaku penutupan mata –Kim Taehyung menyingkirkan tangannya. Kue berlumuran krim putih dan aneka buah yang dijadikan toping di atasnya itu dipegang oleh Seokjin.
Butuh waktu bagi Hyera untuk memproses apa yang baru saja terjadi selang beberapa detik yang lalu. Matanya mengerjap lalu menatap ketujuh temannya satu persatu sampai sebuah pertanyaan mengudara.
"Siapa yang ulang tahun?"
Atau, kali ini tujuh pemuda itu yang saling melemparkan pandangan bingung. Jungkook menyikut Hoseok yang sudah berdiri di sampingnya.
"Kau, Hye. Ah, jangan bilang salah tanggal. Sungguh ini tidak lucu." Hoseok berdelik tidak suka.
"Aku?"
Mari simpulkan, Hyera lupa jika tanggal di hari ini adalah tanggal dimana dirinya terlahir ke dunia. Karena detik berikutnya, otak gadis itu berhasil tersambung dan memahami situasi yang ada. Dia tersenyum tapi hambar.
"Tiup, Hye!"
Suara Namjoon mengudara, menyadarkan Hyera yang baru saja terlempar ke ingatannya yang lama. Matanya terpejam selama beberapa detik sebelum akhirnya meniup lilin dan berterima kasih.
"Aku lupa jika hari ini ulang tahunku." Disusul senyuman manis namun penuh kehampaan. Karena aku tidak pernah ingin mengingatnya.
"Hampir saja aku berpikiran kalau ini bukan hari ulang tahunmu." Jimin menghela nafas panjang lalu menepuk pundak Hyera. "Sekali lagi, selamat ulang tahun."
Hyera mengangguk. "Terima kasih sudah mengingatnya. Ngomong-ngomong kalian tahu darimana?"
Serius, bolehkah Jungkook memukul kepala gadis itu? Paling tidak menyadarkan dimana dirinya berada.
"Hye, aku tidak tahu kau pura-pura atau memang tidak tahu," dia menghela nafas, "nomor induk kita berdasarkan tanggal lahir. Ingat?"
"Ah, benar juga."
"Aku jadi tidak yakin kau bisa berada di peringkat delapan." Hoseok menutup wajahnya. Sesuatu yang benar-benar diluar dugaan.
Seokjin menyodorkan kue ke arah Hyera. "Jadi, potong kuenya dan kita makan bersama."
Hyera mengangguk lalu menerima kue itu dengan senang hati.
Ah, mereka tidak sadar jika ada beberapa hal yang tersembunyi dibalik hari itu. Tentang apa dan siapa. Dua kenangan yang tidak baik dan sangat menyesakkan.
Hari ini, bukan hanya sekedar tentang ulang tahun. Namun juga tentang kisah ditinggalkan.
Next chapter
"Yoongi!"
"YOONGI! BERHENTI!"
"Yoon, bangun!"
"Hyera?!"
"Bodoh! Kenapa kau bodoh? Apa yang kau lakukan sangat bodoh? Bodoh! Kenapa Min Yoongi sangat bodoh? Apa yang kau pikirkan, bodoh?!"
Kira-kira selain ulang tahun Hyera, hari itu bertepatan dengan apa ya? Mungkin ada yang bisa nebak?
Gli.
