Last chapter
Serius, bolehkah Jungkook memukul kepala gadis itu? Paling tidak menyadarkan dimana dirinya berada.
"Hye, aku tidak tahu kau pura-pura atau memang tidak tahu," dia menghela nafas, "nomor induk kita berdasarkan tanggal lahir. Ingat?"
"Ah, benar juga."
"Aku jadi tidak yakin kau bisa berada di peringkat delapan." Hoseok menutup wajahnya. Sesuatu yang benar-benar diluar dugaan.
Seokjin menyodorkan kue ke arah Hyera. "Jadi, potong kuenya dan kita makan bersama."
Hyera mengangguk lalu menerima kue itu dengan senang hati.
Ah, mereka tidak sadar jika ada beberapa hal yang tersembunyi dibalik hari itu. Tentang apa dan siapa. Dua kenangan yang tidak baik dan sangat menyesakkan.
Hari ini, bukan hanya sekedar tentang ulang tahun. Namun juga tentang kisah ditinggalkan.
Chapter 13
Sepertinya perayaan ulang tahun itu tidak sepenuhnya berakhir. Setelah duduk di atas rumput hijau, di bawah pohon besar tadi selama kurang dari dua jam, kedelapannya beranjak dari posisi mereka, melangkah menuju parkiran dan bersiap melanjutkan kegiatan tak terencana mereka.
Ah, awalnya tujuh –enam dari tujuh pemuda itu, terkecuali untuk Yoongi, hanya bertujuan untuk membuat kejutan ulang tahun Hyera dan setelah itu mereka akan membubarkan diri. Namun, sebuah pikiran tak terencana membuat mereka memutuskan untuk berkeliling, makan, taman bermain, pusat perbelanjaan, game center, kemanapun itu.
Hyera melirik Yoongi yang sedari tadi hanya terdiam. Tidak sepenuhnya terdiam karena sesekali teman sebangkunya itu ikut menimpali. Sesekali, tidak lebih seperti biasa.
"Kau dengan siapa?" Tanyanya sedikit berbisik. Oh, mereka berjalan sedikit di belakang yang lain.
Yoongi menoleh ke arah Hyera sekilas lalu kembali mengalihkan pandangannya untuk menatap punggung seseorang yang berjalan di depannya. "Hoseok." Ingatannya berputar ke beberapa jam yang lalu saat Hoseok tiba-tiba datang ke café tempatnya bekerja saat pagi hari dan menyeretnya pergi.
Setelah itu tidak adalagi percakapan. Keduanya kembali terdiam dalam pikiran masing-masing. Hyera dan kenangannya, sedangkan Yoongi dan ingatannya.
Tujuan pertama mereka saat ini adalah sebuah restoran keluarga di pinggir kota setelah gerutuan menyebalkan dari tiga manusia berbeda kepribadian –Seokjin, Hoseok dan Jimin menuntut sarapan. Jaraknya hanya dua puluh menit dari taman.
"Jadi, siapa yang memiliki ide ini?" Hyera menatap Jimin dan Namjoon yang duduk tepat di hadapan. Ah, mereka sedang menunggu pesanan.
"Jika soal ulang tahunmu, itu Jungkook dan Hoseok." Jimin melirik dua orang yang dimaksud sedang memainkan tusuk gigi. "Sebenarnya mereka mengajak tadi malam tapi kami memiliki beberapa hal masing-masing. Makanya pagi ini."
Namjoon mengangguk setuju. "Agaknya memang sedikit berlebihan tapi jika mereka berdua ditambah Seokjin, aku mengikut saja."
Hyera menghela nafas lalu bertopang dagu. Dia tidak suka perayaan ulang tahun tapi tidak mungkin juga dia menolak usaha teman-temannya itu. Setidaknya sesekali, bukanlah masalah. Lagipula, belum tentu tahun depan mereka akan bersama lagi.
Lamunannya harus tersadar saat ponselnya yang terletak begitu saja di atas meja berdering. Nama Daniel tertera disana dan membuatnya hanya menggeser malas tombol hijau lalu menjawab panggilan tersebut.
"Hye, mungkin sedikit terlambat selama tujuhbelas tahun tapi aku ingin mengucapkan selamat ulang tahun, sepupuku. Aku tahu dari Chanyeol, katanya Yoongi dan teman-temanmu merayakan ulang tahunmu hari ini. Maaf untuk kali ini aku dan Ayah tidak ada di sampingmu. Nikmati waktu bersama teman-temanmu. Tidak masalahkan jika harus merayakan ulang tahunmu sekali saja?!"
Hyera hanya menghela nafas. Mendengarkan suara lembut dari seberang telepon. Ah, dia tidak menyalahkan Daniel karena tidak pernah mengucapkan kata-kata seperti 'Selamat ulang tahu' atau 'Selamat hari kelahiran'. Sekarang, detik itu untuk pertama kalinya dia mendapatkan ucapan selamat dari Daniel walaupun dia tidak memintanya.
"Terima kasih dan tidak masalah."
"YAK! Hanya itu responmu?"
Agaknya suara Daniel berhasil mengundang perhatian ketujuh pemuda yang sedang sibuk dengan pemikiran mereka. Taehyung yang duduk di samping kirinya sampai menjauhkan kepalanya.
"Terima kasih dan tidak masalah? Apa-apaan jawaban itu? Tiba-tiba aku menyesal sudah mengatakannya. Bisa aku tarik kembali?"
Hyera kembali menggeleng, sedikit pasrah ketika seluruh mata tertuju padanya. Dia juga tidak peduli jika teman-temannya itu mendengar percakapannya dengan Daniel.
"Silahkan saja. Aku tutup!"
"Tap~"
Benar-benar ditutup sepihak. Seokjin saja sampai menggeleng takjub begitu mendengar kalimat singkat dan aksi menutup panggilan secara sepihak.
"Jika itu Seokjin, mungkin aku langsung didatanginya." Namjoon melirik sisi kirinya, dimana sang sepupu duduk.
"Pesanannya datang!"
Satu suara itu berhasil mengalihkan delapan kepala ke arah seorang pelayan yang membawa makanan pesanan mereka.
Ah, apa Hyera boleh bersyukur untuk hari ini? Karena untuk pertama kalinya dia makan bersama diluar seperti ini, selain bersama Daniel dan Pamannya. Itupun hanya bertiga dan tidak seramai dan serepot ini. Pertama kalinya dia mendapat kue ulang tahun dan dinyanyikan oleh orang lain. Dan pertama kalinya Hyera ingin bertahan dalam situasi seperti ini.
Atau mari kita buat, makan di restoran tadi adalah sebuah awal? Karena selanjutnya, kedelapan remaja itu pergi ke pusat perbelanjaan, memasuki pertokoan untuk sekedar melihat pakaian dan sepatu lalu keluar. Kemudian berlanjut memasuki pertokoan lainnya dan melakukan hal yang sama.
Belum cukup hanya mengelilingi pusat perbelanjaan selama dua jam lalu berakhir dengan membeli camilan, mereka berlanjut ke bioskop untuk menonton film yang tak direncanakan. Kemudian berlanjut lagi ke game center sampai malam menjelang. Tampaknya benar-benar ingin menikmati waktu libur yang mereka dapatkan ini sebaik mungkin. Oh, mereka tidak akan pergi begitu saja jika Kim bersaudara –kecuali Seokjin tidak mengorbankan kartu kredit mereka karena mereka bertiga ditunjuk sebagai orang yang bertanggungjawab atas perjalanan mereka selama seharian ini. Ide konyol Hoseok dan Jungkook.
Ah, tampaknya mereka melupakan banyak hal. Salah satunya tentang bagaimana tidak akurnya kedelapan remaja itu saat awal-awal. Pertengkaran sampai perkelahian yang pernah terjadi seolah terlupakan begitu saja. Hubungan tidak baik yang terperbaharui begitu saja. Banyak hal yang terjadi tapi melihat sekarang, siapapun berpikir mereka adalah sekumpulan remaja yang sudah menjalin hubungan baik sejak lama.
Misalnya Seokjin dan Jungkook yang secara kompak mengatai tinggi Jimin atau Yoongi yang menawarkan diri untuk menggantikan Hoseok mengendarai motor. Atau Hyera yang melompati punggung Namjoon saat mereka menuruni tangga dan Hyera yang baru saja berpaling kompak dengan Hoseok. Mungkin juga termasuk hubungan saudara tiri antara Namjoon dan Taehyung yang berdiskusi masalah keuangan mereka yang terkuras oleh teman-temannya.
Kegiatan seharian tak terencana itu sudah berakhir saat waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Mereka semua membubarkan diri dan menghantarkan diri ke tempat masing-masing. Ah, kecuali Hoseok yang mengantar Yoongi dan Taehyung yang mengantar Hyera.
Hyera tidak benar-benar pulang. Dia meminta Taehyung untuk mengantarnya ke sebuah jembatan yang terletak di antara rumahnya dan sekolah. Awalnya Taehyung enggan meninggalkan gadis itu seorang diri tapi Hyera tetap memaksa untuk kesana seorang diri.
Akhirnya, disinilah gadis itu berakhir. Di pinggir jembatan. Kakinya masih enggan untuk beranjak dari sana. Matanya hanya mengamati kendaraan yang lalu lalang. Singkatnya, pikirannyalah yang membawa dirinya ingin menuju ke tempat ini. Dia hanya ingin menenangkan diri, melupakan sejenak kesenangan yang baru saja berakhir sekitar empat puluh menit yang lalu.
Merasa cukup untuk mengamati kendaraan, Hyera memilih untuk membawa tubuhnya ke pagar pembatas jembatan, mengamati sungai gelap yang hanya mendapat pencahayaan dari lampu pertokoan di pinggir sungai dan lampu jalanan. Dia sempat berpikir apa rasanya terjatuh dari ketinggian puluhan meter lalu masuk ke dalam air yang gelap dan dingin. Apakah ada sensasi lain yang dapat menyingkirkan ingatan di kepalanya? Ingatan yang sama sekali tidak ingin dia pikirkan.
Menjadi orang yang dibuang sejak dirinya menghirup nafas, agaknya itu pemikiran yang berlebihan tapi Hyera tidak menyangkalnya. Dia dibuang, tak diinginkan dan diserahkan kepada orang lain seolah dia hanya sebuah barang tak terpakai. Salahkah jika Hyera membenci orang-orang yang membuangnya? Membenci orang-orang yang harusnya mengisi kehidupannya? Orang-orang yang setidaknya mengucapkan 'terima kasih sudah terlahir' atau sejenisnya.
Kedua tangannya saling bertautan erat di atas besi pagar yang dingin. Hal yang paling dibencinya saat mengingat hal-hal seperti ini. Nafasnya akan sesak, ucapan benci itu akan tertahan di tenggorokan seakan tidak ingin keluar dari sana. Dia ingin membenci tapi hatinya tidak bisa dan itulah kelemahan seorang Kang Hyera. Dia tidak bisa membenci orang-orang yang membuangnya.
Lamunannya harus terhenti saat ponselnya kembali berdering, membuatnya dengan segera merogoh sakunya dan menatap layar ponsel. Nama Daniel kembali tercantum disana. Bukannya apa, Hyera tidak berminat untuk melanjutkan perdebatan pagi tadi jadi dia membiarkan sampai ponselnya berhenti berdering. Lagipula dengan begitu, Daniel akan berhenti mengganggunya.
Atau tidak.
Karena detik berikutnya nama Daniel kembali tertera di layar ponselnya dan membuat Hyera mengernyit bingung. Jika tidak terlalu penting, Daniel akan menghubunginya sekali kemudian mengirimkan ratusan pesan yang hanya akan dibawa Hyera. Tapi Daniel sudah menelponnya untuk kedua kali artinya ada hal penting. Maka tak butuh waktu lama, Hyera langsung menggeser tombol hijau dan menjawab panggilan tersebut.
"Apa?"
"Kalian sudah pulang?"
Hyera melirik waktu pada ponselnya. "Hampir sejam yang lalu."
"Apa kau masih bersama Yoongi? Chanyeol mengatakan Yoongi tidak kembali sampai sekarang. Dia berpikir kalian masih bersama dan bertanya untuk sekedar memastikan."
"Dia sudah pulang dengan temanku sejam yang lalu. Suruh tiang itu cari di café atau di rumah."
"Dasar! Jika dari tadi ketemu tidak mungkin dia menghubungiku. Masalahnya ada hal penting yang mengganggu Chanyeol."
"Ah, tiang itu 'kan selalu merasa terganggu padahal dia sumber masalahnya."
"Hye!"
"Oke, maaf. Sudah menghubungi nomornya?"
"Tidak aktif. Coba tanyakan pada teman-temanmu."
"Baiklah. Aku akan segera mengabarkanmu."
Panggilan terputus.
Hyera segera menggerakan tangannya untuk menghubungi satu nama yang terlintas di kepalanya. Jung Hoseok.
Hyera menyusuri sepanjang jembatan. Matanya sibuk mengedarkan pandangan untuk menemukan sosok yang dicarinya. Sesekali mengeratkan blazer abu-abunya, Hyera melangkah cepat berdasarkan informasi yang didapatnya dari Hoseok.
"Dia memintaku untuk mengantarnya di tengah jembatan karena ada hal yang perlu dilakukannya. Jadi aku menurutinya saja setelah itu aku pergi."
Hoseok mengantar Yoongi ke jembatan dimana dirinya berada. Masalahnya, jembatan ini sangat panjang dan Hyera harus menemukan teman sebangkunya sendirian.
Mungkin sudah sekitar lima belas menit kakinya menyusuri jalanan sambil mengamati keadaan sekitarnya untuk menemukan Yoongi dan dia sedikit bersyukur ketika mendapati orang yang dicarinya itu sedang berdiri di seberangnya. Namun rasa syukur itu tidak bertahan lama karena lokasi pemuda berkulit pucat itu berdiri berada diluar pagar pembatas jembatan.
"Yoongi!"
Suara teriakannya terkalahkan oleh klakson dan deru kendaraan yang ada. Bahkan Hyera sampai lupa jika dia baru saja berlari ke tengah jalan dan mendapat umpatan dari pengendara mobil yang mengerem mendadak. Setelah berteriak maaf, Hyera segera berlari ke arah Yoongi.
Semakin dekat, jelas sekali Yoongi melepaskan tangannya dari pagar, membiarkan tubuhnya yang mungkin akan jatuh kapan saja.
"YOONGI! BERHENTI!"
Terlambat adalah kata yang tepat untuk mendeskripsikan keadaan Hyera saat ini. Saat kedua tangannya terulur untuk menarik Yoongi, tubuh itu sudah menjatuhkan dirinya ke gelapnya sungai.
Sial.
Entah sadar atau tidak, Hyera memanjat pagar pembatas lalu melemparkan dirinya ke udara dan ikut masuk ke dalam dinginnya air sungai. Berbekal pencahayaan dari jalanan, dia dapat melihat tubuh Yoongi yang semakin tertarik ke dalam. Tangannya terulur, berusaha menggapai setiap inci bagian tubuh Yoongi yang sudah tidak sadarkan diri dan menariknya.
Semakin dalam, udara yang dimilikinya terbatas. Namun tangannya tetap berusaha menggapai tubuh Yoongi sampai akhirnya dia berhasil mencengkeram kaos yang dikenakan Yoongi lalu menariknya ke dalam pelukan dan bergerak naik ke permukaan.
Keduanya tiba di permukaan. Hyera segera meraup oksigen sebanyak mungkin. Setelah merasa cukup, tubuhnya mulai berenang ke pinggir sungai sambil membawa tubuh Yoongi.
Berbekal kekuatan yang tersisa, Hyera langsung membaringkan tubuh mereka berdua. Hanya beberapa detik ketika Hyera menyadari tidak ada tanda-tanda Yoongi akan sadar. Kemudian tubuhnya langsung beranjak, menepuk pipi pemuda Min yang pucat dan dingin itu.
"Yoon, bangun!"
Hyera segera melakukan CPR dan sesekali memberikan nafas buatan. Terus berulang kali. Berteriak frustasi dan meminta agar teman sebangkunya itu segera bangun. Bahkan airmata sudah tersamarkan oleh air yang membasahi tubuhnya.
Setidaknya keputusasaannya terjawab. Yoongi terbatuk dan perlahan membuka matanya. Mengeluarkan seluruh air yang memenuhi tenggorokannya kemudian menatap Hyera yang menampilkan wajah paniknya.
"Hyera?!"
"Bodoh!" Hyera memukul dada pemuda itu sambil terisak. "Kenapa kau bodoh? Apa yang kau lakukan sangat bodoh! Bodoh! Kenapa Min Yoongi sangat bodoh? Apa yang kau pikirkan, bodoh?!"
Yoongi tidak menghentikan perlakuan Hyera padanya. Dia memilih untuk tetap berbaring dan memalingkan wajahnya. Meruntuki apa yang sudah dilakukannya.
"Jangan melakukan hal seperti itu, Yoon! Apa kau lupa kita seharian ini bersenang-senang?"
"Tidak. Aku tidak merasakannya."
"BOHONG! Kau bahkan tadi tertawa sangat lebar. Apa kau lupa?"
Yoongi kembali memalingkan wajahnya. Bohong jika dia lupa tentang hari ini. Kegiatan yang berhasil membuatnya melupakan sejenak apa yang diingatnya.
Hyera menjatuhkan kepalanya tepat di atas dada Yoongi saat dua suara meneriakan nama mereka.
"Yoongi?! Hyera?!"
"Apa yang kalian lakukan disini?"
Yoongi menoleh namun cahaya disana membuat silau matanya. Kepalanya juga pusing dan merasa kegelapan berusaha merenggut kesadarannya. Tapi hal yang dia sadari adalah pemilik suara yang meneriaki nama mereka, Jeon Jungkook dan Park Jimin.
Namjoon baru saja akan mematikan lampu kamarnya saat pintu kamarnya mendadak didobrak paksa. Bibirnya berdecih kesal ketika menyadari sosok saudara tirinya berdiri di ambang pintu.
"Apa maumu?"
"Rumah sakit. Kita harus ke rumah sakit sekarang!"
"Siapa yang~"
Namun detik itu juga Taehyung sudah melangkah kakinya terlebih dahulu, membuat Namjoon mau tak mau harus beranjak dari posisinya dan segera menyusul saudaranya itu.
Setidaknya empat orang itu harus bersyukur karena penampilan mereka tidak terlalu kacau walaupun Seokjin hanya mengenakan piyama putih bergambar alpaca, Hoseok yang mengenakan baju kaos dan celana pendek, Namjoon yang sebelumnya hanya mengenakan baju tak berlengan lalu dipinjamkan jaket yang dikenakan Taehyung, sedangkan Taehyung masih mengenakan pakaian yang sama.
Di depan keempat pemuda itu, dua orang lainnya sedang duduk di kursi tunggu dengan kepala yang menunduk. Pakaian mereka masih sama dengan terakhir mereka bertemu, hanya saja keadaannya sedikit basah.
"Jadi, apa yang terjadi pada mereka berdua?"
Suara Namjoon membuat keduanya mengangkat kepala. Jungkook mengangkat tangannya, meminta waktu untuk menetralkan kepanikan yang melandanya.
"Hah, aku juga tidak tahu. Aku dan Jimin sedang makan ramyeon di minimarket di bawah jembatan saat mendengar suara teriakan dari arah sungai."
Ah, Jungkook benar. Sepulang dari mereka berkumpul, Jungkook dan Jimin memutuskan untuk mampir ke minimarket di bawah jembatan dan makan ramyeon disana. Awalnya tidak ada yang aneh sampai mereka mendengar suara seorang perempuan berteriak menyuruh bangun. Mereka sempat berpikir hanya gurauan sampai akhirnya teriakannya diiringi isakan dan berhasil membuat mereka beranjak dari posisi dan melangkah menuju sumber suara. Saat itulah mereka mendapati dua orang yang mereka kenal dalam keadaan basah dan tidak sadarkan diri.
"Mereka tidak mungkin lompat dari jembatan, 'kan?"
Pertanyaan Seokjin kontan mengundang perhatian kelima temannya yang lain. Dia sendiri tiba-tiba saja berpikiran seperti itu tanpa sadar.
"Orang bodoh mana yang akan lompat berdua dari jembatan?!" Seru Namjoon yang takut membenarkan kemungkinan dari pernyataan sepupunya.
"Sebelum kalian memberitahu ini," Hoseok menghantarkan tubuhnya untuk duduk di samping kiri Jimin, "Hyera menghubungiku dan bertanya seputar keberadaan Yoongi. Aku tidak tahu apa yang terjadi."
"Kita tunggu saja mereka sampai sadar." Taehyung menengahi, dia juga setengah berharap apa yang dikatakan Seokjin tidaklah benar.
Tak lama kemudian, seorang dokter keluar dari ruangan dan menghampiri keenam remaja itu.
"Siapa wali pasien?"
Keenamnya saling bertatapan selama beberapa saat lalu mengangguk. Kemudian Namjoon melangkah maju mendekati sang dokter.
"Kami temannya, Dok. Wali mereka sedang berada diluar kota."
Dokter itu mengangguk paham. "Kedua pasien mengalami hipotermia yang parah karena terlalu lama di dalam air. Selain itu, apa mereka baru saja terjatuh dari suatu tempat?"
Namjoon menatap kelima temannya, meminta bantuan untuk menjawab. Dia tidak tahu pasti jadi mulutnya tidak ingin asal bicara.
"Kami juga tidak tahu, Dok. Saat ditemukan, mereka sudah berada di pinggir sungai."
Mendengar penjelasan Taehyung, dokter itu hanya mengangguk. "Selain hipotermia, hanya ada beberapa memar kebiruan di tubuh mereka tapi mereka baik-baik saja. Jadi mereka hanya perlu istirahat."
"Terima kasih, Dok." Namjoon membungkukkan badannya, membiarkan dokter tersebut lewat.
Helaan nafas lega menggema di koridor. Setidaknya mereka cukup tenang seputar keadaan teman sekelas mereka.
Next chapter
"Kenapa dia terjun?"
"APA? RUMAH SAKIT? BAGAIMANA BISA?"
"Apa aku harus tidur?"
"Tidur! Aku mohon. Kau sudah tidak tidur dua hari ini."
"Hanya vitamin."
"Dia belum bangun."
Yoongi lompat, Hyera lompat, aku juga lompat.
Mari lompat ke chapter selanjutnya.
Gli.
