Last chapter
Namjoon menatap kelima temannya, meminta bantuan untuk menjawab. Dia tidak tahu pasti jadi mulutnya tidak ingin asal bicara.
"Kami juga tidak tahu, Dok. Saat ditemukan, mereka sudah berada di pinggir sungai."
Mendengar penjelasan Taehyung, dokter itu hanya mengangguk. "Selain hipotermia, hanya ada beberapa memar kebiruan di tubuh mereka tapi mereka baik-baik saja. Jadi mereka hanya perlu istirahat."
"Terima kasih, Dok." Namjoon membungkukkan badannya, membiarkan dokter tersebut lewat.
Helaan nafas lega menggema di koridor. Setidaknya mereka cukup tenang seputar keadaan teman sekelas mereka.
Chapter 14
Hoseok baru saja akan terlelap saat suara Seokjin menginterupsinya dan membuat dirinya segera membangunkan dirinya dan berlari ke arah Seokjin yang sudah berdiri di samping ranjang sebelah kanannya.
"Hyera sadar!"
Bahkan Namjoon tampak tidak peduli pada ponselnya yang tergeletak di lantai karena harus beranjak dari posisinya secara tiba-tiba.
"Bagaimana? Apa ada yang sakit?"
Hyera mengerjapkan matanya, mengumpulkan seluruh fokus cahaya yang masih berbayang. Kepalanya masih sedikit pusing ditambah perutnya juga sedikit sakit.
"Dokter sempat bilang perut dan pinggangmu sedikit memar karena menghantam sesuatu." Taehyung bersuara, menjawab rasa sakit yang dirasakan gadis itu.
Hyera mengangguk paham. Ah, benar. "Dimana Yoongi?"
Jimin dan Hoseok yang berada di sisi kiri ranjang langsung menepi, memperlihatkan satu ranjang lainnya dimana Yoongi masih enggan membuka matanya.
"Dia terlalu banyak tertelan air." Jungkook bersuara. Dia satu-satunya yang duduk di sisi kiri ranjang Yoongi.
"Jadi, kenapa kalian ada disana?" Hoseok bertanya, bersamaan dengan rasa penasaran yang baru saja menelan kantuknya.
Jimin menyikut Hoseok. "Hyera tidak ingat. Apa kau lupa?"
"Aku ingat, Jim. Jangan tanya kenapa tapi aku cukup ingat apa yang terjadi padaku." Dia menggeleng untuk meralat kalimatnya. "Pada Yoongi."
Namjoon menepuk pundak Taehyung dan Seokjin bersamaan, menghasilkan suara yang mengalihkan pandangan yang lain.
"Kau bisa jelaskan nanti. Kau butuh istirahat."
Seokjin mengangguk, ikut menambahkan. "Benar juga. Kita bisa lanjutkan besok. Hitung-hitung menunggu Yoongi."
Hyera menggeleng. "Tidak." Dia beranjak bangun dari posisinya yang berbaring menjadi duduk. "Aku tidak bisa kembali tidur."
"Baiklah. Kami akan mendengarkan." Taehyung mengambil langkah mundur untuk bersandar pada jendela ruangan.
Hyera menghirup nafasnya sedalam mungkin lalu menghembuskannya perlahan. "Kami melompat dari jembatan."
"Oh~"
"APA?!"
Telinga Hyera masih normal dan sangat terganggu saat keenam temannya itu berteriak dalam waktu yang bersamaan.
"Kau, gila?!" Jungkook menggelengkan kepalanya, tidak percaya. "Kau harusnya tidur saja."
"Aku serius."
Seokjin menatap saudara tirinya lalu mengangguk, memberi isyarat agar mendengarkan cerita Hyera.
"Teman serumah Yoongi menghubungiku dan menanyakan keberadaan Yoongi karena dia tidak meninggalkan pesan apapun." Hyera menjeda sedikit ceritanya, membiarkan keenam temannya mencerna.
"Jadi itu alasanmu menghubungiku?"
Hyera mengangguk atas pertanyaan Hoseok lalu melanjutkan kalimatnya. "Aku menyusuri jembatan untuk mencarinya berdasarkan informasi dari Hoseok dan ketemu."
"Lalu, kenapa kalian berada di bawah jembatan?"
"Mereka melompat, Jim. Jika kau lupa." Jungkook menatap sahabatnya yang berdiri di seberangnya.
Hyera menghela nafas. Akhir-akhir ini, dua orang itu jadi sering bercekcok kecil.
"Perlu aku lanjutkan atau tidak?"
"Abaikan saja mereka berdua." Namjoon memilih duduk di sofa sambil mendengarkan Hyera. Kakinya sedikit pegal karena berdiri tiba-tiba.
"Yoongi berdiri diluar pagar pembatas saat aku melihatnya." Hyera mengangkat kedua tangannya lalu menatapnya. "Aku harusnya bisa menarik tubuhnya tapi terlambat. Dia melompat."
"Dan kau terjun?" Taehyung memotong, mengundang sebuah anggukan dari gadis itu.
"Kenapa dia terjun?"
Pertanyaan Jungkook kini mewakili pertanyaan yang ada di pikiran keenam temannya yang lain. Tentang alasan Yoongi melompat dari jembatan.
"Aku harus ke kamar mandi." Jungkook beranjak dari posisinya dan pergi dari ruangan.
Namjoon sudah terlelap bersamaan Seokjin dan Hoseok di sisi kiri dan kanannya. Jimin masih setia duduk di samping ranjang Hyera sambil memainkan ponselnya. Sedangkan Taehyung memilih untuk duduk di pinggir jendela sambil memejamkan matanya.
"Jim, boleh pinjam ponselmu?"
Jimin menghentikan pergerakkan jarinya pada ponsel lalu melirik Hyera. "Untuk apa?"
"Menghubungi teman serumah Yoongi. Setidaknya aku memberi kabar pada tiang itu sebelum dia meneror sepupuku."
Jimin terdiam sejenak lalu mengangguk, menyerahkan ponselnya pada Hyera tanpa ragu. "Kau tahu nomornya?"
"Dia memiliki nomor yang sama dengan sepupuku jadi tidak sulit untuk menghafalnya." Hyera menerima ponsel Jimin, mengetik nomor yang akan dihubunginya dan menekan tombol hijau.
"Halo?!"
"Yo, tiang!"
"Oh, Hyera?! Kenapa? Aku dan Daniel terus menghubungimu tapi kau malah menghubungiku dengan nomor yang lain."
"Ponselku mungkin sedang berenang di suatu tempat di sungai." Ah, Hyera ingat bagaimana dia meminta Seokjin untuk mengecek ponsel miliknya tapi tidak ditemukan dimanapun dan membuat gadis itu berkesimpulan ponselnya sudah berada di dasar sungai.
"Aku serius. Daniel sampai mendatangiku setengah jam yang lalu. Dimana Yoongi? Apa kau bertemu dengan dia?"
"Katakan maaf pada Daniel." Hyera melirik Yoongi yang masih terbaring di ranjang sebelahnya. "Untuk soal Yoongi, dia sedang bersamaku di rumah sakit."
"APA? RUMAH SAKIT? BAGAIMANA BISA?"
Oh, ingatkan Hyera untuk memeriksakan telinganya ke dokter THT setelah ini. Untuk sekedar memastikan pendengarannya masih berfungsi baik walaupun sudah mendengarkan teriakan beroktaf milik Chanyeol.
"Sepertinya dia berusaha bunuh diri dengan terjun ke sungai."
Hyera yakin panggilan mereka masih tersambung karena Hyera masih dapat mendengar suara nafas dari Chanyeol.
Sesuatu terjadi?
"Aku akan menjelaskannya padamu dan kau juga harus menjelaskan sesuatu padaku disini."
Jimin merogoh saku jaketnya lalu melirik Jungkook yang duduk di samping ranjang Yoongi. "Apa aku harus tidur?"
Jungkook memejamkan matanya, jengkel akan pertanyaan Jimin yang terus berulang sejak hampir limabelas menit yang lalu.
"Tidur! Aku mohon. Kau sudah tidak tidur dua hari ini."
"Baiklah." Jimin mengeluarkan sebuah tube kecil dan mengeluarkan satu pil putih dari dalam sana. Kakinya melangkah menuju nakas kecil yang memisahkan ranjang Hyera dan Yoongi lalu mengambil sebotol air mineral yang terletak disana.
"Kau minum apa?"
Jimin melirik Hyera yang sedang membaca buku yang sempat dibeli Jungkook saat mereka mengitari pusat perbelanjaan dan mampir ke toko buku.
"Hanya vitamin."
Hyera hanya mengangguk paham.
Jimin meneguk air mineralnya lalu menelan pil putih itu ke dalam mulutnya dan kembali meneguk airnya, bersamaan dengan suara derit pintu mengalihkan perhatiannya.
Disana, arah pintu ruangan yang terbuka, dua orang pemuda dengan proporsi tubuh yang berbeda sedang berdiri. Satunya berambut merah muda dan lainnya mengenakan hoodie.
"Oh, kalian? Aku pikir kalian akan muncul besok pagi."
"Besok pagi? Kepalamu terbentur? Ini sudah hampir pukul empat pagi dan matahari akan terbit dalam hitungan jam." Daniel, pemilik rambut merah muda berujar jengkel. Dia langsung melangkah maju, mendekati ranjang Hyera. "Kau, kenapa bisa ada disini? Kau membuatku panik, sialan!"
"Yak! Kau mengumpat padaku!"
"Persetan dengan hal itu." Daniel tidak peduli jika dia sudah mengumpat atau mengatai sepupunya. Intinya dia sedang khawatir dan jengkel dalam waktu yang bersamaan.
Chanyeol melirik ke sisi kanan pintu, dimana tiga orang terlelap. "Bagaimana keadaan Yoongi?"
"Dia belum bangun."
Daniel melirik ranjang di belakangnya dan mendapati Yoongi yang masih menutup matanya. Kemudian matanya beralih untuk menyapa Jungkook serta Jimin yang berdiri di sampingnya.
"Oh, sepertinya aku mengenal kalian?!"
Daniel menunjuk kedua orang itu secara bergantian.
Jungkook memiringkan kepalanya untuk berpikir. Dia juga merasa tidak asing pada sosok Daniel yang saat ini mengundang perhatiannya.
"Kang Daniel, benarkan?" Jimin bersuara ragu seraya mengarahkan telunjuknya kepada Daniel.
Daniel mengangguk semangat. "Tidak kuduga dapat bertemu rival disini. Kalian berteman dengan Hyera?"
Jimin mengangguk, "seperti itulah."
"Kang Daniel yang satu tim dengan Hoseok?" Pertanyaan Jungkook dijawab oleh sebuah anggukan dari Jimin.
"Oh, kalian kenal?"
"Tentu saja. Aku sering bertemu dengan mereka saat lomba dance. Tidak kusangka kau berteman dengan mereka." Daniel mengulurkan tangannya pada Jimin.
Jimin membalas uluran tangan itu sambil tersenyum. "Aku juga tidak menduga jika kau sepupunya Hyera."
"Syukurlah. Jadi aku tidak perlu memperkenalkan kalian." Hyera menutup bukunya lalu melirik Chanyeol yang masih berdiri di depan pintu. "Buka hoodiemu, tiang! Kau pikir aku akan menebak siapa dirimu?!"
"Hanya menduga saja." Chanyeol melangkah mendekati Daniel namun memilih untuk menatap Yoongi. Kedua tangannya bergerak untuk membuka hoodie-nya, bersamaan dengan pandangannya yang bertemu dengan Jungkook. "Jungkook?!"
Jungkook bungkam. Tidak. Bukan Chanyeol yang menjadi masalahnya. Namun Jimin, sahabatnya yang tiba-tiba saja ambruk di belakang Chanyeol.
"JIMIN?!"
Berkat pekikan Hyera, empat orang yang sebelumnya terlelap harus tersadar. Mereka langsung membantu Daniel untuk membopong Jimin dan membaringkannya di sofa.
"Kau yakin dia tidak apa-apa?"
Namjoon melirik Jungkook yang hanya berdiri mematung sambil memandangi Jimin.
"Tidak masalah. Dia hanya tertidur. Efek obatnya sedikit terlambat kali ini."
"Untung saja aku menangkapnya," Daniel memperbaiki posisi kepala Jimin lalu kembali berdiri, "jika tidak, kepalanya akan membentur kursi."
"Terima kasih."
"Tidak masalah." Daniel menepuk pundak Jungkook sambil tersenyum.
Hoseok menyikut Chanyeol yang hanya terdiam di tempat. "Hyung, kau baik-baik saja?"
"Ah, ya. Aku tidak apa-apa."
Namun fokus Chanyeol saat ini adalah tertuju pada sosok Jimin yang terbaring disana. Dia merasa ada kekosongan di dalam dirinya yang mengundang rasa sesak. Sama seperti dulu.
Chanyeol memilih membawa tubuhnya keluar dari ruangan setelah mendengarkan cerita awal bagaimana Yoongi dan Hyera bisa berakhir di rumah sakit. Pikirannya tidak menduga Yoongi akan melakukan hal itu, sekali lagi.
Ah, pikirannya sedang terbelah saat ini. Bukan perkara Yoongi. Tapi sosok bernama Jimin yang jatuh tertidur saat mereka baru saja tiba.
Chanyeol mengusap wajahnya berkali-kali. Dia ingin menepis semua kemungkinan yang ada tentang Jimin. Dia tidak ingin mempercayai begitu saja.
"Hyung?!"
Chanyeol mendongak, melihat Jungkook yang berdiri di depannya dengan kepala yang tertunduk. "Kook, dia bukan Jimin, 'kan?"
Jungkook memalingkan wajahnya, menatap koridor rumah sakit yang masih sepi pada jam-jam seperti ini.
"Tinggal katakan bukan, Kook!"
"Maaf, hyung, tapi itu memang Jimin. Park Jimin yang kau tinggalkan sepuluh tahun yang lalu."
"Kau yakin, dia tidak mengatakan apapun lagi?"
"Sudah aku katakan sebelumnya, Hyera." Daniel menarik nafasnya sedalam mungkin, "Chanyeol hanya bilang hari ini adalah harinya. Tidak lebih."
"Informasimu sangat tidak berguna!"
"Aku mengatakan apapun yang aku tahu. Chanyeol khawatir tentang Yoongi dan aku sendiri tidak tahu apa."
Hoseok menyikut Seokjin yang berdiri di samping kirinya lalu berbisik, "aku jadi meragukan jika mereka benar-benar sepupu."
"Aku juga."
"Bagaimanapun informasimu tetap tidak berguna, Kang Daniel."
"Aku hanya memberitahumu apapun yang aku tahu, Kang Hyera."
"Bisakah kalian berhenti bertengkar?!"
Hei, itu bukan suara salah satu dari empat orang yang sedari jadi penonton. Atau suara Chanyeol dan Jungkook yang tadi keluar. Atau bahkan Jimin yang masih mendengkur halus dalam tidurnya.
"YOONGI?!"
Kali ini giliran Daniel yang harus mengingatkan diri memeriksakan telinganya kepada dokter bagian THT untuk memastikan telinganya masih berfungsi dengan baik.
"Tanpa teriak, Hyera."
Hyera tidak peduli. Dia menyibak selimut, turun dari ranjang dan langsung menghampiri Yoongi yang masih memejamkan matanya.
"Kau sudah sadar?"
"Menurutmu? Kenapa aku berbicara?" Yoongi membuka matanya, menatap Hyera yang sudah berada di samping ranjangnya.
"Baguslah. Jadi aku bisa," Hyera merenggangkan kedua tangannya lalu tersenyum seraya mencapai kerah baju Yoongi, "BODOH! Kenapa kau lompat dari jembatan, huh? Apa isi otakmu? Apa kau pikirkan saat melompat kesana?"
Taehyung dan Seokjin harus turun tangan untuk menarik gadis itu dari amukannya. Gadis itu menarik kerah baju Yoongi yang masih terbaring.
"Bodoh! Harusnya kau menceritakan bukannya melempar dirimu ke dalam air. Apa kau tidak berpikir, air juga dapat membunuhmu?!"
Hyera membalikkan badannya, mencengkram baju Seokjin dan terisak disana.
"Hei, hei! Harusnya Chanyeol yang memarahi dia, kenapa kau yang malah mengamuk?" Daniel melipat kedua tangannya di depan dada. Bertingkah seolah itu bukan hal apa-apa.
"Apa yang terjadi?"
Semakin tinggilah Chanyeol karena muncul disaat yang tepat. Dia segera menghampiri Yoongi yang kini hanya menampilkan wajah tanpa emosi.
"Bagaimana keadaanmu? Ada yang sakit?"
Yoongi menggeleng dan memilih untuk memunggungi Hyera. "Aku ingin tidur."
Chanyeol menghela nafas. "Berhenti berpikiran untuk bunuh diri, Yoon. Orang tuamu tidak akan suka."
Entah apa atau bagaimana, tapi pernyataan Chanyeol berhasil membuat semua yang ada disana langsung bungkam. Bahkan Jungkook menghentikan gerakan tangannya untuk menutup pintu.
"Cukup, Yoon. Cukup bertingkah bodoh seperti kau tidak pantas hidup." Chanyeol mengusap rambut Yoongi dengan lembut. "Sekarang kau masih memiliki aku, memiliki Hyera dan teman-temanmu yang lain. Tolong, lupakan keinginanmu untuk bunuh diri. Orang tuamu tidak ingin kau seperti ini."
Chanyeol sadar saat tangan Yoongi mencengkram bajunya. Dia sadar jika Yoongi saat ini tengah terisak di antara bantal dan jaket hoodie-nya. Dan dia cukup dia sambil memberikan elusan lembut pada kepala itu. Walaupun fokusnya kini terbagi pada Jimin yang masih tertidur.
"Berapa lama anak itu akan tidur?"
Hoseok melirik Jungkook yang duduk di ujung kaki Jimin. Anak itu sama sekali tidak bergerak dari sana sejak sejam yang lalu.
"Normalnya dua sampai lima jam."
Jungkook menatap sahabatnya yang masih terlelap sejak tiga jam yang lalu. Efek obat yang dikonsumsi sahabatnya itu sama sekali tidak bisa membantu Jimin untuk tidur selama waktu tidur normal. Dia melirik Chanyeol yang masih duduk di samping Yoongi, memberi teman sekelasnya itu sebuah kenyamanan yang seharusnya didapatkan oleh Jimin. Haruskah Jungkook marah?
Keadaan ruangan kembali hening setelah itu. Namjoon dan Seokjin sudah keluar dari ruangan untuk mencari makanan. Daniel memilih duduk sambil memejamkan matanya. Taehyung mengusap Hyera yang juga terlelap. Ah, raut lelah tak lepas dari wajah mereka. Bahkan Hoseok berusaha menahan diri agar tidak jatuh tertidur.
Jimin membuka matanya saat itu. Bibirnya bergumam pelan seraya bangun dari posisinya dan mendapati Jungkook yang duduk di ujung kakinya.
"Kau tidak tidur?"
Jungkook menoleh, sedikit terkejut namun sebisa mungkin bertingkah seperti biasanya. "Aku juga baru bangun." Ah, bohong sekali. Matanya sama sekali tidak bisa terpejam apalagi sejak matanya menangkap sosok Chanyeol.
Oh iya, Chanyeol?!
"Jim," Jungkook memanggil sahabatnya itu dengan suara pelan, "maafkan aku."
Jimin mengerjapkan matanya, tidak mengerti maksud perkataan sahabatnya. "Apa maksudmu?"
"Soal dia," Jungkook mengangkat kepalanya, menatap ke arah Jimin tapi bukan pada Jimin, melainkan Chanyeol yang sudah berdiri di belakang Jimin. "Soal hyungmu, Park Chanyeol."
Detik itu juga Jimin merasakan sebuah rengkuhan dari belakang tubuhnya. Hembusan nafas membuat tengkuknya merinding. Jimin tidak mengerti apa yang sedang terjadi sampai sebuah suara lirih tertangkap pendengarannya.
"Jim, maafkan hyungmu ini."
Jimin memberontak, melepaskan paksa rengkuhan hangat itu dan langsung berdiri. Membalikkan badannya lalu menatap Chanyeol.
"Siapa kau?"
"Aku hyungmu yang bodoh, Park Chanyeol."
Jimin menggeleng. "Chanyeol-hyung sudah pergi. Dia tidak mau kembali lagi. Dia sudah pergi jauh."
"Aku, Park Chanyeol, Chanyeol-hyungmu, Jim."
Jimin melangkah maju, mendekati Chanyeol lalu mendongak untuk menatap pemuda yang lebih tinggi darinya itu.
"Hyung?!"
Chanyeol mengangguk lalu tersenyum. Kedua matanya dapat menangkap airmata yang mulai mengalir di pipi Jimin.
"Chanyeol-hyung?!"
Saat itu juga, Jimin berjanji tidak akan membiarkan saudaranya pergi lagi.
Pria dengan sebatang rokok itu mengernyitkan keningnya ketika mendengar penjelasan dari seberang teleponnya.
"Jadi, untuk masalah tahun ini anak-anak itu mempunyai masalah dengan salah satu donatur sekolah?"
"Benar. Berdasarkan informasi yang aku dapat, wanita itu sangat ingin menyingkirkan mereka karena masalah itu. Mungkin dengan bukti ini bisa mempertegas bukti lainnya."
Pria itu menghisap rokoknya lalu menghembuskannya ke udara. "Kau yakin masalah itu?"
"Aku yakin. Maksudku, kenapa tidak kita coba? Bukannya ini cara terakhir untuk menutup kelas F dan menyelamatkan anak-anak dari masalah lain."
Pria itu melempar rokoknya yang masih menyala lalu menginjaknya. "Aku tidak akan membiarkan anak-anak itu kehilangan masa depannya di sekolah ini. Katakan pada Minho, aku akan mengikuti rencananya."
"Haha, kau ini gampang sekali dibujuk jika berkaitan dengan anak-anak kelas itu. Lee Jungshin memang penyayang mereka."
"Aku tidak ingin mereka dimanipulasi oleh Pak Tua itu dan berhenti disini."
"Baiklah. Aku paham. Lagipula aku baru saja selesai mengambil beberapa jebakan yang aku pasang setahun terakhir. Hitung-hitung sebagai bukti tambahan yang akan berguna."
"Kau benar-benar memasang benda itu?"
"Oh, kau meragukanku? Apa kau lupa, aku ini Nam Joonhyuk. Seorang penyelinap di antara musuh. Tidak ada salahnya aku bermain dengan mereka sampai terakhir."
"Tapi kenapa mereka ingin menyingkirkan kau juga? Padahal hanya aku yang menentang mereka secara terang-terangan."
"Hei, mereka tahu kita sahabat. Lagipula aku baru ketahuan beberapa minggu yang lalu dan keputusan mereka baru dibuat seminggu selanjutnya. Izinkan aku bermain sekali ya?"
"Terserah kau saja. Pastikan kita bertemu Choi Minho dalam beberapa hari ini."
"Siap, Kapten Lee. Demi anak-anakmu, lautanpun akan kuseberangi."
"Menjijikan."
Pria itu melempar ponselnya ke atas sofa lalu menghela nafas.
"Aku harap ini benar-benar berakhir."
Next chapter
"Sampai kapan kalian akan terdiam? Kau ingin harimau betina itu mencekikmu sambil berteriak?"
"Hei, hei! Aku tidak memintamu keluar, Jeon!"
"Kenapa kau pergi? Bukannya jika memang kau memikirkan Jimin, harusnya kau tidak pergi? Apa kau sadar apa yang sudah kau lakukan pada sahabatku, adikmu sendiri?!"
"Tidak perlu. Aku bersyukur kau sudah menemukan saudaramu jadi kau juga berhak tinggal dengan keluargamu lagi."
"Dengarkan aku, Yoon~"
Gli.
