Park Jimin dan Park Chanyeol adalah saudara tapi bukan saudara kandung. Jimin dan Chanyeol adalah saudara tiri dari satu Ayah dan Ibu yang berbeda.
Chanyeol adalah anak dari istri pertama Tuan Park sebelum wanita itu meninggal saat akan melahirkan putra keduanya. Chanyeol yang berumur dua tahun saat itu harusnya mendapat adik laki-laki tapi dia justru kehilangannya dan Ibunya. Jadi Chanyeol pindah untuk tinggal bersama neneknya di luar negeri.
Tiga tahun kemudian, Tuan Park mengumumkan akan menikahi seorang wanita yang juga memiliki pekerjaan yang sama dengannya. Mereka sama-sama pengusaha, wanita tersebut merupakan salah seorang pengusaha yang berada di bawah perusahaan Tuan Park.
Setelah setahun, Tuan Park mendapatkan satu anak laki-laki yang diberinya nama Jimin. Sebuah nama yang dulu diusulkan oleh putra pertamanya untuk adik laki-lakinya.
Jimin beranjak setahun dan berniat untuk membawa kembali putra pertamanya yang saat itu berusia enam tahun. Chanyeol tampak bahagia ketika dia mendapatkan adik baru yang lucu, tidak peduli jika mereka berbeda Ibu.
Selama beberapa tahun, mereka hidup di bawah kebahagian. Baik Jimin ataupun Chanyeol, mereka selalu mendapatkan kehangatan dari rasa kasih sayang yang dibagi oleh kedua orang tuanya. Mereka tidak pernah merasakan kekurangan apapun.
Sampai hari itu, Jimin berumur tujuh tahun dan Chanyeol berumur 12 tahun, Ayah mereka meninggalkan mereka untuk selamanya dan membuat Ibu mereka harus menanggung semua pekerjaan yang ditinggalkan Ayah mereka.
Nyonya Park mulai memperlihatkan perangai aslinya. Dia membeda-bedakan kasih sayangnya pada Jimin dan Chanyeol. Saat itu, Chanyeol memang berpikir Ibunya seperti itu karena Jimin masih kecil. Namun tetap saja tidak merubah sifat Jimin yang sangat manja pada Chanyeol.
Jimin sangat menyayangi Chanyeol lebih dari apapun. Anak itu tidak akan rela jika sang kakak bersama orang lain yang seusianya, terutama Jungkook, sahabatnya. Jimin akan merajuk selama seharian jika melihat Chanyeol dan Jungkook main bersama walaupun dia juga ikut bermain tapi Jimin tetap tidak bisa mengikhlaskan saudaranya itu bermain dengan sahabatnya. Bahkan tidak jarang, Chanyeol dan Jungkook sangaja membuat Jimin merajuk walaupun pada akhirnya Jimin tidak bisa marah terlalu lama pada kedua orang itu.
Beberapa bulan berlalu dan Nyonya Park semakin memperjelas jarak antara dirinya dan Chanyeol. Bahkan dia tidak segan-segan melarang Jimin untuk bermain dengan Chanyeol, tidak peduli jika Jimin akan menangis atau bahkan meraung.
Hari itu, Jimin belum pulang sekolah saat Nyonya Park berada di rumah bersama Chanyeol yang sedang terserang flu.
Nyonya Park masuk ke kamar Chanyeol tanpa mengetuk ataupun berkata sesuatu. Dia menatap tajam Chanyeol yang sedang mengerjakan tugas sekolahnya.
"Biar aku mengatakan sesuatu, aku dari awal tidak pernah setuju saat Ayahmu itu memutuskan untuk membawamu kembali disini. Kami sudah bahagia hidup bertiga saat itu tapi kenapa kau muncul? Kenapa kau kembali? Kenapa kau tidak tinggal saja dengan nenekmu di California sana? Harusnya kau menetap disana dan biarkan Jimin bahagia!"
Sejak hari itu, Chanyeol tahu jika Ibu tirinya tidak pernah menyukainya. Ucapan seperti itu terus terlontar selama beberapa bulan. Bahkan tidak segan dengan embel-embel mengusir Chanyeol dari rumahnya sendiri.
Chanyeol bertahan karena Jimin. Jimin adalah alasannya berada disana. Namun kalimat terakhir dari Ibu tirinya itu menjadi sebuah tanda tanya besar untuk dirinya dan membuat sebuah keraguan menghantuinya selama beberapa hari.
"Kau pergi maka Jimin akan sangat bahagia. Kau adalah penghalang kebahagiaan Jimin selama ini. Jadi sebagai Ibu Jimin, aku harap kau pergi."
Malam itu, Chanyeol benar-benar pergi dari rumahnya. Berbekal dengan uang tabungan yang dimilikinya selama ini, Chanyeol meninggalkan rumahnya dan kebahagiannya disana. Dia pergi saat Jimin tertidur, tidak ingin membuat adik kecilnya itu menangis.
Chanyeol tidak tahu, jika malam itu adalah awal dari kehancuran seorang Park Jimin. Jimin menangis selama beberapa malam, menolak tidur dan makan. Mulutnya terus meracau meneriakkan nama Chanyeol tanpa henti. Bahkan Ibunya tidak bisa menghentikan amukan putranya.
Butuh waktu yang sangat lama untuk menenangkan seorang Jimin. Bahkan Jungkook turut andil dalam mengusahakan untuk menenangkan sahabatnya. Namun hal terparahnya baru saja dimulai.
Jimin sama sekali tidak bisa tidur saat malam hari. Dia menolak untuk tidur karena takut orang-orang di sekitarnya akan kembali pergi meninggalkannya seperti Chanyeol. Jimin takut jika Jungkook dan Ibunya akan ikut pergi saat dirinya tertidur.
Bukan hanya hal itu, Nyonya Park bahkan perlahan-lahan meninggalkan Jimin dan mengabaikan putranya demi pekerjaannya yang sangat menyita waktu. Dan hal itu terus berlanjut sampai sepuluh tahun berlalu.
Hubungan Jimin dan Ibunya renggang. Remaja itu juga harus mengonsumsi obat tidur selama bertahun-tahun hanya untuk memastikan tubuhnya terus beristirahat.
Selama ini Jungkook-lah orang yang selalu ada di samping Jimin. Menemaninya pergi ke psikiater untuk berkonsultasi keadaan mental Jimin. Jimin tidak gila dan Jungkook tahu itu. Jungkook hanya ingin sahabatnya sembuh. Namun sepertinya dengan Chanyeol yang hadir sekarang akan merubah semuanya dan Jungkook semakin takut jika Jimin akan semakin parah.
