Baiklah, Hyera sudah cukup muak dengan hal yang ada di hadapannya saat ini. Sudah hampir dua jam setengah dia duduk di ranjangnya sambil mengamati sembilan orang yang ada disana terdiam dalam pikiran mereka. Tidak ada suara, bahkan ketika dokter mengunjungi ruangan untuk memastikan keadaannya dan Yoongi lalu mengatakan mereka bisa pulang sore itu.
Oh, mereka dalam keadaan sadar, termasuk Yoongi yang hanya tertunduk.
Helaan nafas dari Daniel memecah keheningan. Pemuda itu menatap sepupunya yang sudah bersiap seperti akan melemparkan sejuta pertanyaan.
"Apa?!"
Daniel menggeleng. Suara Hyera sudah cukup mengentak keadaan yang aneh dan hening itu. Jadi dia memutuskan untuk menatap Chanyeol yang hanya terduduk di samping kanan Jimin.
"Sampai kapan kalian akan terdiam? Kau ingin harimau betina itu mencekikmu sambil berteriak?"
Chanyeol mengangkat kepalanya, menatap Hyera yang memberi tatapan tersindir akan ucapan sepupunya. Detik berikutnya dia menghela nafas lalu melirik Yoongi yang sebisa mungkin ingin memutuskan kontak matanya dengannya.
"Ayolah!"
Oh, gadis itu sudah berteriak terlebih dahulu. Lebih lagi dia tampak akan segera menurunkan tubuhnya dari ranjang dan mendekati Chanyeol untuk mencekik pemuda itu jika saja Taehyung tidak menekan keningnya agar tetap berbaring.
"Jelaskan padaku tentang segala hal!" Dia menyerah dan memutuskan untuk duduk sambil melipat kedua tangannya. "Kenapa kalian terdiam? Kenapa mata Jimin memerah? Kenapa Yoongi menangis? Kenapa Chanyeol duduk disana? Kenapa Jimin memegang tangan Chanyeol? Kenapa tidak ada yang bersuara? Jungkook? Hoseok? Namjoon? Seokjin? Taehyung? Daniel?"
Oh, bukan tanpa alasan. Hyera benar-benar melihat apa yang ditanyakannya. Bahkan dia beralih pada pemilik nama yang disebutkannya satu persatu. Mereka sendiri tampak memasang wajah tidak mengerti. Ah, kecuali untuk Jungkook.
"Jung~"
"Katakan saja, hyung." Jungkook beranjak dari posisinya lalu menatap Chanyeol yang menatapnya bingung. "Itu kewajibanmu untuk menjelaskannya." Kemudian melangkah menuju pintu ruangan.
"Hei, hei! Aku tidak memintamu keluar, Jeon!"
Jungkook menatap Hyera, dingin. "Kenapa? Siapa kau? Diam dan biarkan aku pergi!"
Baru saja Jungkook akan meraih ganggang pintu, seseorang sudah menahannya. Namjoon mengulurkan tangannya untuk menepis tangannya.
"Jeon, aku rasa penjelasan ini tidak akan lengkap tanpamu walaupun aku sendiri tidak tahu apa yang terjadi."
Jungkook memejamkan matanya lalu menghela nafasnya. Dia membalikkan badannya lalu menatap seluruh teman-temannya.
"Baiklah." Seokjin menengahi. Kini matanya melirik Jungkook, Chanyeol dan Jimin secara bergantian. "Aku penasaran dari awal kenapa Jungkook mengenal Chanyeol dan sekarang Jimin."
"Maafkan aku karena sudah membuat tanda tanya besar di antara kalian," Chanyeol mengusap punggung Jimin yang masih menggenggam lengannya, "intinya, Jimin itu adikku. Tepatnya adik tiri."
"Sedikit terjawab," Hoseok yang mendudukkan dirinya di pinggir jendela mengangguk, "tidak perlu menceritakan detailnya. Cukup inti-intinya saja."
"Aku pikir, informasi tentang Tuan Park memiliki dua putra itu hanya kesalahan penulis artikel." Hyera bersuara. Dia tidak terlalu bodoh untuk tidak mengenal siapa Ayah Jimin karena Tuan Park adalah teman sekolah Pamannya dan sering berkunjung ke rumah saat mereka masih kecil. "Tapi aku tidak menduga, si tiang itu juga putranya."
Ayolah, Daniel sangat ingin menghadiahi mulut itu dengan lakban atau sejenisnya lalu mengikatnya di jendela ruangan. Namun Taehyung sudah mendahuluinya dengan memukul belakang kepala gadis itu. Pelan, oke?
"Lalu, kenapa kau pergi?"
Sepertinya Daniel tidak mau ketinggalan seputar informasi sahabatnya itu. Dia juga penasaran.
"Sejak Ayah meninggal, aku selalu diusir oleh Ibunya Jimin. Berulang kali dia berusaha memisahkan aku dan Jimin. Tapi, hari itu aku sudah tidak bisa bertahan karena hal yang sama dan memutuskan untuk pergi meninggalkan Jimin. Setiap langkah aku menjauhi rumah, hanya Jimin yang ada di pikiranku."
"Kenapa kau pergi? Bukannya jika memang kau memikirkan Jimin, harusnya kau tidak pergi? Apa kau sadar apa yang sudah kau lakukan pada sahabatku, adikmu sendiri?!"
Namjoon menahan Jungkook yang sudah mengebu-ngebu. Sepertinya amarahnya sudah cukup terpancing begitu saja ketika Chanyeol menyebutkan nama Jimin.
Diam-diam, Chanyeol mengepalkan kedua tangannya, membuat Jimin tersadar dari lamunannya dan segera melepaskan lengan itu.
"Hyung?!"
"Aku tahu, aku bodoh! Harusnya aku tidak meninggalkan Jimin saat itu. Harusnya aku tetap pada diriku yang keras kepala. Tapi, wanita itu bilang Jimin tidak akan bahagia jika terus bersamaku. Jimin tidak akan menemukan mimpinya jika bersamaku. Jimin tidak akan bisa dewasa jika terus bersamaku. Dia mencuci otakku dengan kalimat-kalimat seolah Jimin tidak bisa bahagia tanpaku dan aku sangat bodoh karena mempercayai hal itu."
Jungkook menepis tangan Namjoon lalu melangkah dan memberikan pukulan telak pada Chanyeol. "Sudah aku katakan sebelumnya, Jimin menderita selama kau pergi. Dia takut tidur. Dia takut semua orang akan meninggalkan dirinya sepertimu, hyung. Dia, selama sepuluh tahun ini hanya mengonsumsi obat tidur yang sama sekali tidak membantunya. Dia bisa tidak tidur selama berhari-hari hanya karena memikirkanmu, hyung. Kau harusnya sadar BETAPA HANCURNYA JIMIN SAAT KAU PERGI! BETAPA PENTINGNYA DIRIMU BAGI JIMIN!"
"Jung~"
"Biarkan dia!"
Chanyeol berhasil menghentikan langkah Seokjin yang berusaha menarik Jungkook yang baru saja memberikannya pukulan kedua.
"Aku hanya ingin Jimin kembali seperti dulu. Jimin yang tidak pernah berpura-pura dan bertingkah seolah baik-baik saja. Jimin yang selalu jujur dan tidak berbohong jika dia sedang sakit."
Tampaknya kedua kaki remaja Jeon sudah tidak mampu menopang tubuh, karena detik berikutnya Jungkook jatuh berlutut di depan saudara sahabatnya itu.
Hyera menggelengkan kepalanya lalu menarik bantal dan memangkunya. "Drama sekali."
Oh, ayolah! Siapapun sangat ingin membungkam mulut gadis itu. Atau mereka harusnya tidak bercerita disana, disusul celotehan tidak masuk akal dari Hyera.
"Aku rasa anak itu memerlukan scan kepala untuk memastikan otaknya masih dapat berfungsi dengan baik." Hoseok menggelengkan kepalanya. Dia sendiri geram dengan perkataan singkat namun menyebalkan itu.
"Mulutmu itu ya!"
Lihatlah, Daniel bahkan ikut-ikut geram. Sepupunya itu sama sekali tidak bisa membaca keadaan dengan baik. Berkomentar seenak hatinya tanpa memikirkan perasaan orang lain.
"Apa?" Merasa seluruh pandangan kini tertuju padanya, Hyera mendengus sebal. "Aku memang mengatakan ini drama. Apa kalian lupa, ada satu orang yang butuh dijelaskan juga keberadaannya?"
Kini pandangan beralih pada Yoongi yang memilih untuk memejamkan matanya dan menutup wajahnya dengan selimut. Dia sendiri terlihat sudah tidak peduli. Atau merasa diabaikan oleh seluruh yang ada di ruangan?!
"Aku rasa hubungan antara Jimin dan Chanyeol serta Jungkook sudah cukup jelas. Dan aku minta maaf karena sudah membuat atmosfer aneh ini tapi Chanyeol," Hyera memutuskan pandangannya pada Chanyeol, "kau juga punya satu orang yang membutuhkanmu saat ini. Ini bukan masalah siapa membela siapa tapi sepertinya kau lupa siapa yang menjadi tujuan awal kedatanganmu kesini."
"Yoon~"
"Tidak perlu. Aku bersyukur kau sudah menemukan saudaramu jadi kau juga berhak tinggal dengan keluargamu lagi."
"Dengarkan aku, Yoon~"
Yoongi menyibak selimutnya, menatap Chanyeol dingin. "Kau yang dengarkan aku, Park Chanyeol-ssi! Terima kasih atas kebaikanmu karena sudah memungut anak yang tidak memiliki tujuan ini dan mengizinkanku untuk menetap bersamamu selama ini. Aku cukup tahu diri saat kau menceritakan saudaramu dengan antusias sedangkan aku tidak mempunyai siapa-siapa lagi di dunia ini. Jadi kau bisa pergi. Ah, maksudku aku yang pergi."
"Aku sudah menduga. Kau kaya, tapi kenapa tinggal di apartemen tak layak itu? Dulu aku bertanya seperti itu. Kau bahkan punya ratusan puluhan juta di dalam tabunganmu dan bisa hidup selama bertahun-tahun tapi kau memilih bekerja sebagai barista dan dancer. Membelikanku pakaian bagus, memberiku makan sampai membiayai sekolahku."
Yoongi beranjak dari posisinya, membiarkan telapak kaki putihnya menyentuh dinginnya keramik ruangan tanpa alas kaki. "Aku terlalu besar kepala sampai lupa fakta jika kau juga memiliki adik. Aku pikir kau, kita bisa terus bersama. Kau bahkan selalu membantuku menghilangkan ketakutanku selama sepuluh tahun ini. Jadi, sekali lagi, terima kasih atas kebaikanmu. Setelah ini aku akan mengemaskan barang-barangku dan mencari tempat tinggal lain."
Chanyeol habis kesabaran. Dia berusaha menjeda setiap kata yang dilotarkan Yoongi tapi remaja itu sama sekali tidak memberinya kesempatan untuk melakukannya. Bahkan saat mulutnya akan terbuka, Yoongi sudah menghilang dari balik pintu ruangan.
"Yoon~"
"Tidak. Biar aku yang menyusulnya." Daniel yang sudah beranjak dari posisinya lalu berlari keluar ruangan untuk menyusul Yoongi.
Hyera menghela nafas lalu memejamkan matanya selama beberapa detik kemudian membukanya dan kembali bersuara, "aku rasa cukup untuk semuanya. Aku dan yang lain minta maaf karena berusaha memojokkan kalian untuk menceritakan semuanya. Chan, kau harus menyelesaikan masalahmu dengan Yoongi."
Chanyeol menggeleng. "Kalian harus tahu dan aku juga ingin meminta bantuan kalian semua, terutama padamu, Hyer."
"Padaku?!"
"Masih tidak ingin menangis?"
Yoongi tidak bergeming. Matanya hanya menatap kosong ke arah depan. Tidak ada cahaya disana dan Daniel cukup mudah menebak.
"Apa Hyera memojokkanmu?"
Sama sekali tidak ada jawaban dari remaja berkulit pucat itu. Ah, sepertinya Daniel tidak peduli. Dia akan terus berbicara sampai anak itu menyahut ucapannya.
"Ibuku sudah meninggal dan hanya menyisakan aku, Ayahku dan anak menyebalkan itu. Hal ini bukan rahasia umum lagi untuk kalian." Daniel menatap langit biru yang ditutupi oleh awan-awan putih. "Aku dan Hyera bukan saudara kandung tapi banyak orang yang beranggapan kami benar saudara apa adanya. Padahal kami hanya sepupu dan tidak ada masalah dengan hal itu."
"Aku senang saat Hyera kecil datang ke tangan Ibuku dan menjadi bagian dari kami. Ah, harusnya anak itu memanggil Ayahku dengan Ayah bukannya Paman. Dia bilang, dia hanya ingin merebut Ibu dan tidak butuh Ayah. Jadi kami sering bertengkar untuk memperebutkan Ibu. Sederhana tapi aku senang Hyera bisa bahagia dan melupakan beberapa hal yang sekali terjadi dapat menghancurkan dirinya."
"Hyera dan segala keegoisannya? Tidak ada yang memperkirakan alasan yang tersembunyi di dalamnya." Daniel menghela nafas sejenak lalu melirik Yoongi yang kini hanya menundukkan kepalanya. Ah, sepertinya cara ini berhasil mengundang rasa penasaran dalam diri remaja berkulit pucat itu. "Tapi, ada beberapa hari dimana Hyera berada di titik terendahnya."
"Lima belas tahun yang lalu, Ibu kami meninggal. Menangis? Siapa yang tidak sedih ditinggalkan oleh Ibu yang menyayangi kita tanpa membeda-bedakan? Aku bahkan menangis seminggu berturut-turut. Apalagi Hyera. Aku pernah cerita tentang kebiasaannya, 'kan? Saat dia mendapat masalah buruk lalu jatuh tidur maka saat bangun, dia akan melupakannya."
Daniel sedikit terkejut kala Yoongi merespon ucapannya. Remaja itu mengangguk dalam diamnya. Jadi Daniel memutuskan untuk melanjutkan ceritanya.
"Hal itu terus terjadi selama beberapa hari. Hari ini dia menangis sampai tidur lalu bangun dalam keadaan lupa kemudian teringat dan kembali menangis. Puncaknya hari ketujuh Ibu meninggal. Hyera menolak untuk makan dan minum bahkan terus menangis meneriakkan nama Ibu. Tidurpun tidak membantunya. Ayah sampai membawanya ke psikiater dan butuh seminggu untuk mengembalikan keadaannya dan memberinya pengertian."
"Sayang sekali, itu tidak bertahan lama. Ibu Hyera datang. Maksudku, Ibu yang sebenarnya. Ibu yang melahirkannya lalu membuangnya." Daniel merasa lehernya tercekat karena ucapannya sendiri, bahkan perutnya ikut mual menceritakan hal tersebut. "Wanita itu datang ke rumah kami dan langsung mengomeli Hyera karena kejadian itu. Berhasil membuat gadis itu jatuh ke titik terbawahnya lagi dalam satu bulan. Memakinya, mengatainya, apapun yang harusnya tidak diterima Hyera saat ittu. Wanita itu bahkan menyeret Hyera untuk dibawa ke panti asuhan dengan alasan hanya akan menyusahkan aku dan Ayah. Jahat, bukan? Padahal itu Ibunya sendiri. Sejak hari itu, aku sangat membenci Ibunya, wanita yang juga bibiku."
"Dia pernah bertanya, apa rasanya dipeluk oleh orang tua, apa rasanya hangat."
Ah, Yoongi bersuara dan Daniel berusaha mengulum senyumnya. Kemajuan yang signifikan.
"Begitukah? Dia memang tidak pernah mendapatkannya kecuali dari aku dan orang tuaku. Hanya itu. Setidaknya itu cukup untuk menjawab rasa penasarannya walaupun tidak mungkin menutup keinginannya."
"Yoon!" panggilnya pada Yoongi dan entah kenapa panggilan itu berhasil membuat remaja itu menoleh. "Ada satu hal yang pernah membuatku menangis hampir ingin mati. Rasanya lebih tajam daripada tanganmu yang teriris atau sejenisnya."
Daniel dapat melihat Yoongi yang masih setia menatapnya, dengan kedua tangannya yang saling menggenggam.
"Apa tentang Hyera?"
Yoongi hilang kesabaran karena Daniel tak kunjung melanjutkan ceritanya.
Daniel mengangguk. "Kejadiannya baru. Dua tahun yang lalu, wanita itu datang dengan sebuah tas yang berisi uang sebagai bayaran karena sudah merawat Hyera. Aku tidak peduli apapun yang dibicarakannya pada Ayahku."
"Aku dan Hyera sedang bertengkar saat itu. Kami hanya bertengkar karena hal sepele, seperti saudara pada umumnya. Tapi sepertinya wanita itu salah memperkirakan. Jadi dia langsung memarahi Hyera. Tidak, bukan masalah dia memarahi tapi bagaimana dia mengatakan kalimat-kalimat sialan itu. Aku tanya padamu, bagaimana perasaanmu saat Ibumu sendiri mengatakan lebih baik dirimu mati daripada dia menghabiskan ratusan juta uang untuk merawatmu?"
Daniel tidak tahu jika Yoongi baru saja membuat telapak tangannya berdarah karena genggamannya sendiri.
"Wanita itu berkata seolah Hyera tidak lebih berharga daripada tumpukan uang yang diserahkannya kepada Ayahku. Kau pikirkan saja betapa menyakitkannya ucapan wanita itu padahal Hyera sama sekali tidak melakukan apapun yang merugikan padanya. Hei, Hyera tinggal dengan Ayahku kenapa dia yang harusnya repot dengan apa yang dilakukan Hyera?"
"Lalu, apa yang dilakukan Hyera? Bukannya dengan tidur dia akan melupakan apa yang terjadi?!"
"Awalnya kami pikir begitu, tapi yang terjadi justru sebaliknya." Daniel menutup wajahnya, mengingatkan hari-hari berat yang dialami oleh Hyera adalah satu kesakitan sendiri baginya. "Hyera tidak keluar kamar setelah kejadian itu. Dia hebat, serius. Dia jago berbohong dan mengatakan semuanya baik-baik saja. Dia mengatakan jika dirinya sedang pusing memikirkan ujian sekolah menengah pertama. Aku dan Ayah tertipu. Kami sangat bodoh saat itu dan mempercayainya selama dua hari."
"Hyera semakin sering menghabiskan waktunya di kamarnya yang terkunci. Kami bahkan tidak tahu jika anak itu membolos sekolah selama beberapa hari. Sampai hari keempat, gurunya datang ke rumah dan menanyakan kabarnya yang sudah membolos selama empat hari ini. Setelah itu, kami sadar jika Hyera melakukan sesuatu diam-diam. Kau tahu, dia melukai dirinya sendiri hanya dengan tangan-tangannya. Tidak ada benda tajam, hanya dengan kuku-kukunya sudah berhasil membuat berbagai luka di tubuhnya."
"Hal terparah, dia merendam dirinya dalam bak mandi dan menangis disana. Menenggelamkan kepalanya. Aku sangat beruntung karena masih bisa melihatnya bernafas sampai detik ini. Aku takut, aku sangat takut dia melakukan hal-hal yang mengancam dirinya. Aku tidak mau kehilangan Hyera apapun yang terjadi."
"Aku juga."
Daniel langsung menolehkan kepalanya, menatap Yoongi yang kini telah kembali tertunduk.
"Aku juga pernah mencoba bunuh diri. Bukan sekali tapi berkali-kali." Yoongi menjeda kalimatnya untuk menghela nafas. Dia ingat tiap detik saat hari-hari itu terjadi. "Kemarin aku berniat untuk melakukannya lagi. Aku pikir itu satu-satunya cara menghilangkan semua rasa sakit yang ada. Aku ingin berhenti. Aku ingin menyerah."
Dia sedikit tertawa kecil lalu melanjutkan ceritanya, "tapi aku tidak menduga Hyera akan ikut lompat denganku padahal aku sudah memastikan tidak akan bertemu dengan siapapun yang aku kenal disana. Dia memakiku dan menyadarkanku akan beberapa hal."
"Anak itu memang otaknya selalu tertinggal di suatu tempat dan melakukan hal bodoh. Tapi aku juga bersyukur kalian berhasil selamat." Daniel menepuk punggung Yoongi, pelan.
"Dia bodoh dan aku lebih bodoh." Yoongi membuka telapak tangannya yang sudah dipenuhi bercak darah kering. "Saat tubuhku menyentuh air, bayangan mereka muncul. Bayangan yang membuatku teringat kegiatan kami hari itu. Merayakan ulang tahun Hyera, pergi ke pusat perbelanjaan dan lainnya. Lalu, aku tidak tahu kenapa bayangan Chanyeol juga ikut muncul. Bagaimana dia marah dan menamparku beberapa kali hanya untuk menyadarkanku dari ide bodohku."
"Sebenarnya Chanyeol itu peduli padamu. Hari itu dia menghubungiku hampir tiap setengah jam sekali hanya untuk menanyakan keadaanmu lewat Hyera. Dianya saja yang terlalu bodoh untuk menunjukkan cara menunjukkan rasa pedulinya. Aku tahu, kau juga seperti itu, 'kan? Bertingkah seolah Chanyeol hanya musuh tapi sebenarnya kau sama sekali tidak menginginkan dia pergi sama sekali."
"Kau benar. Aku hanya tidak mau kehilangan lagi. Chanyeol adalah satu-satunya orang yang mengulurkan tangannya dan menawarkan tempat tinggal saat aku sendiri tidak tahu kemana kakiku harusnya melangkah pulang. Aku setuju, dia dan aku sama-sama bodoh. Sangat bodoh malah. Tapi sekarang, dia sudah menemukan rumah yang sebenarnya jadi aku harus berhenti. Berhenti menerima uluran tangannya."
"Oh, aku tidak berpikir tiang itu akan melepaskanmu begitu saja. Kau tahukan bagaimana dia tanpamu? Saat kau menginap, dia menerorku beberapa kali dan aku mengaku harus berbohong saat itu. Kalian sungguh sangat menyebalkan."
"Jadi, aku harus bagaimana? Aku tidak ingin dia pergi tapi aku juga tidak ingin melarangnya."
"Kalian bisa membicarakan itu baik-baik. Kau tahu, Hyera ataupun aku akan membuka pintu untukmu juga. Karena Hyera sendiri mengatakan ingin mempunyai saudara sepertimu. Dia bahkan sering membandingkan aku dan kau. Tunggu! Kau bilang merayakan ulang tahu Hyera?"
Yoongi langsung menoleh ke arah Daniel lalu mengangguk. "Ada apa?"
"Dia tidak suka merayakan ulang tahun karena hari itu juga dia dibuang oleh orang tuanya. Jadi Hyera sama sekali tidak menyukai ulang tahun. Dia hanya menghitung umurnya setiap pergantian tahun."
"Jadi, maksudmu hari ulang tahun Hyera adalah hari dimana dia tidak dianggap oleh orang tuanya?"
Daniel mengangguk. "Anak itu penuh rahasia yang mengejutkan. Tapi aku rasa, kalian sudah menemukan sebagiannya."
Yoongi menatap langit yang berubah mendung. "Hari itu juga hari kematian orang tuaku."
"Jadi, maksudmu Yoongi sudah sering mencoba bunuh diri?"
Seokjin bersuara, tidak percaya akan cerita yang dibeberkan Daniel tentang teman sekelasnya yang berkulit pucat itu.
Chanyeol tampak mengangguk. "Dia hanya mencoba bunuh diri di satu hari yang sama setiap tahun dan itu kemarin. Alasannya hanya satu karena hari itu adalah hari dimana orang tuanya meninggal karena kecelakaan."
"Kemarin?" Namjoon melirik Hyera yang masih menatap Chanyeol. "Hari ulang tahun Hyera?"
Semua kepala kini terangkat dan tertuju pada satu orang yang satu-satunya berjenis kelamin yang berbeda dengan mereka. Gadis itu hanya mengangkat bahunya acuh.
"Jadi, maksudmu hari kematian orang tua Yoongi bertepatan dengan hari ulang tahun Hyera?" Hoseok menatap Chanyeol yang memberikan jawaban berupa anggukan.
"Lupakan masalah ulang tahunnya. Aku sendiri tidak berharap terlahir jadi lanjutkan saja ceritanya." Hyera mengibaskan tangan kirinya lalu kembali melipat kedua tangannya.
Chanyeol menghela nafas. Dia sedikit tahu perihal Hyera yang tidak menyukai hari kelahirannya bahkan sampai detik ini. Jadi dia memutuskan untuk melanjutkan penjelasannya.
"Aku dan Yoongi bertemu sepuluh tahun yang lalu, tepat dua minggu setelah aku pergi dari rumah. Dia sedang berada di titik terbawahnya. Orang tuanya meninggal, kasus kecelakaan orang tuanya dianggap sebagai kecelakaan yang tidak disengaja, tidak ada keluarga yang mau merawatnya. Hari itu aku melihat sosok Jimin di matanya. Dia sama seperti Jimin tapi Yoongi tidak seceria Jimin. Aku rasa, dia dan Jimin adalah sama. Untuk saat itu."
"Lama kelamaan, aku tersadar jika Yoongi dan Jimin adalah dua orang yang berbeda. Jimin dengan segala sisi ceria dan berisiknya sedangkan Yoongi dengan segala sisi dingin dan kelamnya. Hal itu membuatku selalu merindukan Jimin tapi aku juga tidak ingin kehilangan Yoongi."
"Aku semakin tersadar saat setahun tinggal dengannya. Untuk pertama kalinya aku melihat Yoongi menyayat lengannya." Chanyeol tersenyum miris jika mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu. "Dia berhasil selamat walaupun sempat tak sadarkan diri beberapa hari. Dan itu terus berulang selama tiga tahun sampai akhirnya aku menyadari Yoongi tidak dalam keadaan baik sepenuhnya. Dia berusaha melukai dirinya dengan atau tanpa apapun. Hanya berbekal kuku-kukunya, anak itu sudah berhasil melukai tangannya. Yoongi tertekan dan aku dengan bodohnya tidak tahu. Aku bertanya pada teman sekolahku dan dia menyuruhku untuk membawa Yoongi ke psikiater."
"Yoongi mulai berhenti melukai tubuhnya, kecuali saat dia mendapat mimpi buruk. Tapi puncaknya, dia akan terus berusaha mengakhiri hidupnya di tanggal dan bulan yang sama. Saat Hoseok datang menjemputnya, aku sama sekali tidak ingat tentang hari itu dan malah membiarkannya pergi. Saat aku tersadar, Hyera mengatakan Yoongi sedang bermain dengan kalian. Sungguh, aku pikir Yoongi melupakan hari itu tapi aku tetap menghubungi Daniel untuk memastikannya."
Chanyeol mengangkat kepalanya untuk menatap teman-teman adiknya itu lalu tersenyum simpul. "Terima kasih sudah menyelamatkan Yoongi. Aku bersyukur karena dia masih bisa bernafas sampai sekarang."
Namjoon yang berdiri tak jauh dari Chanyeol langsung menepuk pundak pemuda itu dan berkata, "sebagai teman, sudah sewajarnya saling membantu."
"Jadi, apa yang akan kau lakukan, hyung?"
Chanyeol melirik Jungkook lalu beralih pada adiknya, Jimin kemudian menggeleng. "Aku tidak tahu. Jimin tidak ingin melepaskanku lagi sepertinya tapi Yoongi juga butuh seseorang di sisinya." Ah, Jimin kembali menarik lengannya sejak beberapa menit yang lalu. Mencengkeramnya erat.
Hyera memilih untuk menatap kedua tangannya lalu menghela nafas. "Aku rasa kalian perlu menyelesaikan hal ini bersama."
"Dasar Pak Tua sialan. Apa sulitnya menyingkirkan mereka dari sekolah? Aku hanya perlu menyingkirkan mereka."
Wanita itu mencengkeram erat pulpennya lalu melemparnya ke sembarang arah. Detik berikutnya dia kembali tersenyum sinis.
"Jika sampai waktu ujian berakhir mereka masih disana, aku akan melakukan sesuatu yang dapat merusak hubungan mereka. Min Yoongi, Byun Hyera dan Jung Hoseok, kalian bertiga akan mendapat jatah yang spesial tentang kenyataan yang sebenarnya."
Next chapter
"Kemana saja kalian kemarin?"
"Kau akan tinggal kemana? Depan pertokoan? Bawah jembatan? Kursi taman?"
"Lalu, apa aku selama ini? Bukan temanmu? Bukan teman sebangkumu?"
"Bagaimana dengan Jimin?"
"Jadi aku salah?"
"Kenapa rumahku?"
Gli.
