"Kemana saja kalian kemarin?"

Seongcheol berdiri tepat di depan pintu masuk dimana delapan temannya baru saja tiba. Matanya bergerak untuk menatap mereka satu persatu dan mengulang pertanyaan yang sama.

"Kalian berulang kali tidak masuk bersamaan. Apa terjadi sesuatu?"

Hyuna tidak mau ketinggalan untuk mendapatkan informasi dari delapan orang yang sama sekali tidak diberi kesempatan untuk duduk itu.

"Lee-ssaem mencari kalian dan khawatir dengan keadaan kalian."

Taeyong ikut berkumandang. Dia sedikit melangkah mundur setelah didorong oleh Namjoon yang ingin melangkah masuk.

"Kami hanya liburan. Jenuh karena harus berakhir di sekolah."

"Yakin? Tidak ada masalah, 'kan?"

Taehyung tersenyum tipis sebagai respon dari pertanyaan Sungjae. "Tidak ada masalah."

Hoseok melipat tangannya, "kenapa kalian terlihat khawatir?"

"Tentu saja. Kami berpikir kalian mengkhianati kami dan berniat meninggalkan sekolah ini secara diam-diam." Seongcheol angkat bicara.

Namjoon menepuk pundak ketua kelas mereka beberapa kali lalu berucap, "tidak akan. Terlalu menyenangkan disini. Tenang saja."

"Ujian tidak lama lagi jadi kami semua pesimis." Taeyong menundukkan kepalanya disusul dengan helaan nafas kecil.

"Kita lihat saja selanjutnya. Banyak hal yang akan terjadi." Jungkook menepuk pundak Taeyong lalu melangkahkan kakinya menuju bangkunya.


Sejak kejadian di rumah sakit, sore itu Chanyeol dirundung kebingungan yang luar biasa. Disatu sisi, dia ingin pulang bersama Yoongi, satu sisi dia tidak tega pada Jimin yang terus-terusan mengajaknya pulang. Walaupun Yoongi sudah mengatakan berulang kali jika dia akan pulang sendiri tapi Chanyeol masih khawatir remaja itu akan melakukan hal-hal yang ada di pikirannya.

"Kau pulang saja sana. Aku bisa pulang sendiri."

"Tapi, Yoon, bagaimana jika kau~"

Yoongi menatap Chanyeol tajam. Kedua tangannya terkepal di dalam saku jaket bombernya. "Aku bukan anak kecil. Pulanglah karena sekarang kau sudah memiliki alasan kembali. Aku akan mengemasi barang-barangku dan mencari tempat tinggal yang baru. Terima kasih untuk sepuluh tahun ini."

"Yoon~"

"Bodoh!"

Saat itu, Yoongi langsung merasa kepalanya pening dalam beberapa saat. Hyera, pelaku yang berhasil membuat kepala Yoongi berdenyut, berdiri di belakang remaja pucat itu sambil mencebik.

"Kau akan tinggal kemana? Depan pertokoan? Bawah jembatan? Kursi taman?"

"Anak ini!" Giliran Daniel yang dirundung rasa geram pada sepupunya. Dia langsung mencubiti bibir Hyera. "Tangan dan mulutmu sangat sinkron dalam hal menyakiti orang lain ya? Maafkan dia, Yoon."

Oh, tolong ingatkan mereka tentang tempat dimana mereka bertengkar. Ini masih di lobi rumah sakit dan mereka bertengkar seperti anak kecil disana. Agaknya Jungkook sangat bersyukur jika empat temannya sudah pulang duluan dan hanya tersisa mereka berenam. Mungkin jika ada Taehyung, Hyera akan mendapat pukulan yang lebih atau Yoongi yang sedang dalam keadaan normal akan dengan setia mencekik lehernya.

"Jawab aku, Yoon! Kau akan tinggal dimana?"

Yoongi memalingkan wajahnya, berusaha memutuskan kontak mata dengan Hyera yang terus-terusan mengikuti langkahnya.

"Teman-teman, sepertinya kita harus mencari tempat lain. Apa kalian tidak lihat orang-orang memperhatikan kita?"

Jungkook melirik sekitarnya, dimana banyak orang berlalu lalang sambil mengamati mereka dan memberikan tatapan aneh.


Baiklah, setelah peringatan Jungkook, mereka benar-benar pindah. Maksudnya pindah dari lobi menuju parkiran yang sepi dan masih ruang lingkup rumah sakit. Setidaknya Jungkook tidak harus menahan diri untuk membungkam mulut gadis itu dengan mencelupkan kepalanya ke dalam bak mandi.

"Baiklah, ayo lanjutkan!" Hyera menggulung lengan kaosnya yang panjang lalu berkecak pinggang. Matanya menatap lurus ke arah Yoongi yang berdiri di depannya. "Aku tanya, kau akan tinggal dimana?"

Yoongi muak. Dia benar-benar muak.

"Apa maumu, huh? Aku tinggal dimanapun bukan urusanmu. Kau harusnya tidak perlu ikut campur karena kau bukan siapa-siapa."

Ah, sepertinya ucapan Yoongi baru saja menusuk Hyera.

"Lalu, apa aku selama ini? Bukan temanmu? Bukan teman sebangkumu?"

Semua yang ada disana dapat menyimpulkan Hyera sangat kecewa. Dia berlalu dan memilih masuk ke dalam mobil Daniel yang terparkir di depan mereka.

"Jim, kau pulang saja dengan Jungkook. Akan kupastikan saudaramu ini sampai ke rumahmu malam ini."

"Niel, apa yang~"

"Yoongi, kau ikut denganku!"

"Tapi~"

Daniel menepuk pundak Chanyeol lalu mengangguk. "Selesaikan masalahmu satu persatu. Pertama, dengan Jimin lalu Yoongi dan terakhir kalian selesaikan bersama. Untuk urusan Yoongi," dia melirik Yoongi yang masih membuang muka, "dia ada di rumahku untuk sementara."

Begitulah hari itu berakhir.

Chanyeol pulang ke rumahnya yang ditinggalkannya selama ini dan Yoongi, dia diseret Daniel untuk tinggal di rumahnya selama beberapa hari ke depan.


"Bagaimana dengan Jimin?"

Chanyeol mengangguk. Matanya terpaku pada cangkir cappucino yang ada di depannya. "Jimin, dia sudah mulai bisa tidur dengan baik. Tentu saja harus ada aku di sampingnya. Dia mulai berhenti mengonsumsi obat tidurnya."

"Sudah membicarakannya dengan Jimin?" Daniel mengetuk-ngetukkan jarinya pada meja. "Dan keputusanmu?"

"Dia sama sekali tidak mengizinkanku pergi lagi. Tidak peduli jika pada akhirnya hubungan mereka akan terganggu." Chanyeol menghela nafas lalu meraih cangkir cappucino dan menyeruputnya. "Dia sudah egois."

"Wajar saja." Daniel melipat kedua tangannya lalu kembali menatap Chanyeol. "Siapa yang tidak iri jika selama ini saudaranya pergi dari rumah dan tinggal dengan teman sekelasnya selama bertahun-tahun. Bahkan lebih lama daripada waktu tinggal dengannya."

"Kau benar. Aku lebih lama tinggal dengan Yoongi daripada dengan Jimin." Chanyeol tertawa hambar, mengingat betapa bodohnya dia selama ini. "Bagaimana dengan Yoongi?"

"Dia selalu bertengkar dengan Hyera saat di rumah dan menjadi pendiam saat di sekolah. Itupun aku minta bantuan teman mereka yang kepala biru. Aku lupa siapa namanya, Kim apa ya?"

"Kim Taehyung. Aku sedih kau melupakan nama temanku."

Dua kepala pemuda itu langsung menoleh dan mendapati Hyera dengan segelas vanilla frappe di tangannya. Gadis itu menarik kursi dan duduk tanpa permisi, seperti biasa.

Daniel tersentak. "Kau? Kenapa disini? Bukannya ini jam sekolah?"

"Aku membolos. Diam-diam meminjam motor Hoseok untuk membeli frappe disini dan tidak menyangka akan bertemu kalian disini."

"Kebetulan? Niel, seketika aku tidak yakin dia benar-benar kesini karena hal tak disangka yang dikatakannya." Chanyeol melirik Daniel yang hanya bisa menghela nafas.

"Aku memang mengabarinya akan bertemu denganmu disini tapi tidak menyangka dia akan datang kesini. Ditambah lagi dengan membolos. Apa Yoongi tahu kau akan kesini?"

Hyera menggeleng sambil menyeruput minumannya. "Aku hanya mengatakan pada Taehyung akan membeli vanilla frappe disini lalu mengambil kunci Hoseok."

"Kau bukan meminjamnya, sialan!" Daniel benar-benar memukul kepala sepupunya itu tanpa peduli status gender.

"Sakit, Niel." Hyera mengeluh sambil mengusap keningnya yang memerah. "Mau aku adukan pada Yoongi?"

Chanyeol mengernyitkan keningnya sambil menatap Hyera. "Oh, sekarang kau sudah mempunyai tempat mengadu ya?"

"Tentu saja. Aku sudah tidak membutuhkan Daniel. Dia selalu memukulku seperti tadi."

"Kau pantas mendapatkannya." Daniel membalas dengan mencebik. "Kembali ke topik utama, bagaimana keputusanmu?"

"Aku ingin membicarakannya pada mereka berdua dan juga kalian." Chanyeol kembali menyandarkan tubuhnya pada kursi. "Aku ingin membawa Yoongi tinggal di rumahku tapi aku yakin dia tidak akan pernah mau. Ditambah lagi, sepertinya Ibu belum menerimaku dengan baik. Dia bahkan bertingkah tidak peduli."

"Jangan. Biarkan Yoongi tinggal di rumah saja. Kau ambil saja Daniel untuk pajangan di depan rumah."

Oh, ayolah! Daniel ingin memukul gadis itu lagi. Kelewat sangat ingin malah. Tapi dia harus menahan diri karena café tempat mereka berada semakin ramai oleh pengunjung.

"Aku tidak membutuhkan junior yang tidak hormat pada seniornya. Ambil saja."

Tuhkan, bahkan Chanyeol mulai ikut-ikutan menjatuhi dirinya. Tidak ingin berlarut pada kekesalan, Daniel memutuskan untuk melanjutkan argumennya.

"Seperti apapun keputusanmu, kau harus membicarakan pada mereka berdua." Daniel mengambil gelas minumannya lalu kembali menatap Chanyeol. "Sebenarnya, Ayahku juga setuju jika Yoongi tinggal di rumah. Dia bilang setidaknya Hyera ada teman saat kami semua pergi. Akan lebih menyenangkan lagi jika Yoongi sendiri mau."


Daniel hanya pasrah saat melihat interaksi dua remaja di ruang tengah. Dia merasa sedang berada di dunia yang berbeda. Hei, padahal dia juga ada disana. Entah kenapa rasanya dia sedang menonton televisi.

"Jadi maksudmu sebenarnya ini hanya pengalih?"

"Sudah aku katakan dari tadi. Ya ampun, pantas saja Daniel bilang otakmu sering bertukar."

"Bagaimana dengan yang dikatakan Namjoon? Harusnya ini bisa digunakan."

"Otakmu benar-benar tertinggal di suatu tempat ya? Dia menjelaskan soal sebelumnya, bukan yang ini."

"Jadi aku salah?"

"Kau positif salah semuanya. Bagaimana bisa kau masuk ke dalam sepuluh besar jika otakmu saja seperti ini?"

"Yoon, seluruh penghuni kelas juga tahu aku terlalu bodoh untuk pelajaran ini."

"Makanya, lain kali otakmu itu dibawa. Disegel kalau perlu."

Daniel dapat melihat, sepupunya itu sedang mencebik. Dia heran, kenapa saat bertengkar dengan Yoongi, gadis itu tidak pernah berkata kasar? Padahal jika itu dia, pasti umpatan dan sumpahan tidak akan terlepas dari mulut Hyera.

"Apa kalian sibuk?"

Tiga kepala itu langsung menoleh ke sumber suara dan mendapati Minhyuk yang baru saja tiba sedang melangkah mendekati mereka.

"Tidak terlalu. Aku hanya menonton drama."

Minhyuk langsung menoleh ke arah televisi yang dalam keadaan mati lalu kembali melirik putranya. "Drama apa?"

"Itu." Daniel menunjuk ke arah Hyera dan Yoongi dengan bibirnya. "Bertengkar karena tugas."

"Seperti kalian tidak bertengkar saja." Minhyuk menepuk puncak kepala putranya lalu duduk di sebelah Daniel. "Hyera, kau masih bisa main piano, 'kan?"

Hyera mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya mengangguk.

"Paman dapat tugas dari atasan untuk menyelesaikan lagu ini." Minhyuk mengeluarkan beberapa lembar kertas yang berisi coretan nada. "Produser utama kami dipecat karena ketahuan melakukan korupsi. Jadi semua pekerjaannya dilimpahkan pada Paman."

"Aku jadi heran, sebenarnya Ayah bekerja di bidang apa? Sekretaris, iya. Keuangan, iya. General manager, iya. Sekarang apa? Produser musik?"

"Ayah sendiri tidak tahu. Selama bisa memenuhi kebutuhan kalian, itu tidak masalah."

Hyera merangkak lalu mengambil lembaran-lembaran kertas tadi. "Butuh waktu berapa lama?"

"Deadline-nya besok tapi Paman meminta tambah dua hari. Apa bisa?" Minhyuk memandang keponakannya itu cemas. Ini pertama kalinya dia meminta bantuan seperti ini kepada Hyera.

"Hmm," Hyera mengamati setiap lembaran kertas dengan tangan kanannya sedangkan tangan kirinya bergerak seolah menekan tuts piano.

"Ibunya Seokjin memang benar-benar hanya mengandalkan Paman ya?"

Minhyuk menoleh ke arah Yoongi yang baru bersuara lalu tersenyum. "Bisa dibilang begitu. Apalagi sekarang sedang perombakan jabatan dan pemeriksaan habis-habisan. Siapa yang ketahuan berbuat curang, positif dikeluarkan dan untuk sementara beberapa karyawan yang dipercayai harus merangkap untuk mengisi bagian-bagian yang kosong."

"Paman, mungkin ini akan selesai sedikit lebih lama. Sepertinya produser itu hanya memberikan dasar-dasar yang sedikit tidak sesuai."

Minhyuk baru sadar jika keponakan perempuannya itu sudah mencoret beberapa bagian yang terdapat pada setiap lembaran kertas.

"Jadi, apa yang perlu Paman lakukan? Ah, Ibu Kim pasti akan menuntut Paman. Padahal itu baru melodinya. Paman belum mendapatkan orang yang pas untuk menulis liriknya dan ini harus selesai dalam waktu kurang dari seminggu."

"Maaf, Paman," Yoongi yang tadinya sedang mengamati catatan di lembar kertas itu langsung menatap Minhyuk, "aku rasa aku sedikit bisa membantu menyusun melodi dan liriknya."

"Benarkah?"

Yoongi mengangguk ragu tapi dengan senyum tipis yang meyakinkan.

Oh, sepertinya ada satu alasan yang bisa menahan Yoongi disini.


Hoseok sepertinya mulai muak dengan perang dingin yang terjadi antara Jimin dan Yoongi. Sejak kejadian di rumah sakit, kedua temannya itu sama sekali tidak menunjukkan interaksi yang berarti. Bahkan keduanya tampak saling menghindari. Misalnya saja pada jam olahraga. Biasanya Yoongi adalah relawan yang akan menawarkan diri untuk ke kantin, bersama Namjoon, Taehyung dan Jungkook. Mereka pergi ke kantin dan membeli minuman lalu membagikannya keempat teman mereka yang lain. Sekarang, Yoongi malah jadi orang pertama yang meninggalkan gedung olahraga dan berakhir di kelas dalam keadaan tidur.

Biasanya juga, Jimin menjadi orang pertama yang berteriak saat tiba di kelas. Menghampiri Hyera lalu mengganggunya dan sekalian mengusili Yoongi. Sekarang, Jimin menjadi orang yang paling diam. Jangankan membuat keributan, mengganggu Hyera saja sudah tidak pernah. Terlihat jelas jika si pemuda Park itu juga menghindari Hyera.

"Tugas kelompok kali ini kita kerjakan dimana?"

Setidaknya itulah harapan terakhir Hoseok untuk mempersatukan dua orang itu. Namun, hasil yang didapatkannya sama saja.

"Maaf, aku harus menyelesaikan pekerjaanku. Jadi tugasnya aku kumpulkan dengan Hyera saja." Yoongi jadi orang pertama yang menolak ide Hoseok dan satu-satunya harapan hanya pada Jimin.

Jimin beranjak dari posisinya, mengambil ransel lalu melangkah keluar kelas. "Aku akan mengerjakannya di rumah saja lalu mengirimkannya kepada Namjoon."

Namjoon, Seokjin, dan Jungkook saling bertatapan lalu mengalihkan pandangan mereka pada Yoongi yang mulai beranjak dari posisinya dan melangkah keluar kelas.

"Hyer!" Seokjin berusara, memanggil Hyera yang sedang mengemaskan barang-barangnya. "Aku tidak tahan lagi melihat mereka seperti itu. Kapan berakhir?"

Hyera menghela nafas. Dia sendiri tidak tahu bagaimana caranya mendamaikan kedua orang itu. Padahal dia sudah meneror Chanyeol tapi sepertinya masih tidak ada jalan keluar untuk mendamaikan dua orang itu.

"Chanyeol dan Daniel selalu gagal membuat mereka bertemu. Ah, malam ini harus berakhir."

Gadis itu kembali membongkar isi ranselnya lalu mengeluarkan ponselnya. Mengetuk-ngetuk smartphone-nya sembarang sampai akhirnya sebuah nama muncul di layarnya.

"Aku tidak mau tahu, malam ini bawa mereka ke rumah Jungkook!"

Satu kalimat itu sudah cukup untuk mengakhiri panggilan. Tidak peduli apa respon penerima panggilan.

"Yak!"

Taehyung heran, kenapa laki-laki di sekitarnya ini hobi sekali memukul kepala Hyera? Namun karena tidak terlalu ambil pusing, pemilik rambut biru itu hanya membalikkan badannya untuk menatap Hyera yang sedang mengusap kepala.

"Kenapa rumahku?"

Jungkook atau pelaku pemukulan sekaligus korban tidak langsung, mengajukan protes. Dia sedikit tersentak ketika namanya disebut oleh gadis itu.

Hyera mengumpat pelan sebelum akhirnya memberi jawaban. "Seokjin bilang, rumahmu kosong hari ini. Ayah dan Ibu kalian sedang keluar kota untuk perjalanan bisnis."

"Kenapa tidak rumah Seokjin? Hoseok? Atau Namjoon?"

"Untuk rumah Kim bersaudara, rumah mereka sudah diketahui. Hoseok? Aku tidak pernah ke rumahnya."

"Lalu, memangnya kau pernah ke rumahku?"

Hyera menggeleng. "Sekalian. Lagipula Jimin itu temanmu. Memangnya dia menolak untuk datang ke rumahmu?"

"Tidak juga sih." Jungkook mengusap belakang kepalanya. Rasanya dia kalah argumen kali ini.

"Lalu, bagaimana dengan Yoongi?"

Hyera menoleh ke arah Namjoon lalu berpikir. "Hmm, aku rasa Daniel punya rencana sendiri. Intinya, malam ini perang dingin akan dinyatakan selesai."


"Yoon," Daniel berlari menuruni tangga menuju ruang tengah untuk menghampiri Yoongi yang sedang mengerjakan tugasnya, "apa kau sibuk?"

Yoongi mengangkat kepalanya lalu menoleh ke Daniel yang baru saja melompati sofa yang ada di belakangnya. "Hanya menyusun tugas. Kenapa?"

"Bisa temani aku? Harusnya aku mengajak Hyera tapi anak itu belum kembali sampai detik ini." Daniel menatap jam tangannya lalu mencebik kesal.

Yoongi terdiam. Masih menatap Daniel dengan tatapan datar yang menuntut penjelasan lebih lanjut.

Daniel menghela nafas seolah paham maksud remaja berkulit pucat itu. "Ayahku meminta bantuan untuk mengambil barang di rumah temannya. Katanya cukup sulit untuk diangkat sendiri jadi dia menyuruhku mengajak Hyera tapi anak itu sedang pergi."

"Baiklah." Yoongi langsung beranjak dari posisinya lalu meraih jaket yang ada di atas sofa.


"Tidak perlu, hyung. Aku bisa pergi sendiri."

"Ayolah, Jim! Aku juga bosan di rumah. Izinkan aku pergi ya?"

"Hyung, bukannya tadi kau baru pulang dari café?"

Chanyeol menggeleng. "Intinya aku pergi. Aku tidak mau membiarkanmu berkendara sendirian. Diam dan tunggu aku!"

Jimin menghela nafas saat Chanyeol beranjak dari kamarnya dan berlari keluar. Padahal dia hanya ingin pergi ke rumah Jungkook untuk mengantarkan buku-buku bahan yang ada di rumahnya. Sebenarnya Jimin sendiri malas keluar malam ini tapi memang dasar sahabatnya itu menuntut karena kekurangan bahan materi jadi dia memutuskan untuk pergi. Hanya sekedar mengantarkan tapi Chanyeol merengek ingin ikut.

"Jim, ayo!"

"Ya ampun, hyung! Aku yang menunggumu disini."


Next chapter

"Tae, kau yakin rumahku tidak akan jadi tempat pertumpahan darah?"

"Kook, panggilkan Chanyoel-hyung! Aku rasa kami harus segera pulang.

"Yoon, aku harap telingamu tidak tinggal di suatu tempat."

"Paman Minhyuk?"


Gli.