Jungkook hanya bisa menghela nafas kasar ketika melihat satu orang sedang berbaring di tempat tidurnya. Bukan, bukan itu masalahnya. Yang jadi masalah, orang itu adalah Hyera. Seorang perempuan pertama yang menginjakkan kakinya di kamar ini. Bahkan Ibunya Seokjin saja dia setengah mati melarang.

"Tae, kau yakin rumahku tidak akan jadi tempat pertumpahan darah?"

Pertanyaan itu ditujukan pada Taehyung yang sedang mengerjakan tugas kelompok mereka di meja belajarnya.

"Aku hanya bisa membantumu dengan doa."

Jungkook lemas. Sumpah, kakinya sudah tidak bertenaga lagi untuk menopang tubuhnya. Bahkan untuk sekedar pindah posisi saja rasanya sulit. Dia tidak siap jika rumahnya dijadikan areal peperangan bagi dua orang yang sedang perang dingin. Jungkook masih ingin selamat dari tangan Ayahnya.

"Kook, kau dimana?"

"Oh, itu mereka. Temui sana!" Taehyung menyuruh seraya melempar sebuah penghapus yang mendarat tepat di kepala Jungkook.

Jungkook mendengus kesal. Dia sempat berpikir, kenapa dua orang itu harus ada di rumahnya? Tapi karena tidak ingin rencana Hyera batal dan berakhir dengan sebuah bogeman di wajahnya lagi, Jungkook harus melakukan bagiannya.

"Baiklah, mari kita akhiri perang dingin di antara mereka."


"Hanya ini yang ada denganmu?"

Jungkook melirik lima tumpuk buku yang tergeletak di atas mejanya. Ah, dia harus mencari ide agar menahan Jimin lebih lama lagi sampai Yoongi dan Daniel tiba.

"Kook, aku permisi ke toilet ya?!"

Tanpa mendengarkan jawaban dari pemilik rumah, Chanyeol langsung berlari ke arah dapur Jungkook tanpa ragu. Sukses membuat Jimin hanya bisa menghela nafas.

"Dia terus mengoceh sakit perut sepanjang jalan." Ucapnya seraya menghantarkan bokongnya untuk duduk di sofa. "Seokjin tidak disini?"

Jungkook menggeleng. Tangannya bergerak untuk mengambil salah satu buku lalu membacanya. "Kau sudah mulai mengerjakan?"

Jimin hanya mengangguk sebagai jawaban. "Aku sudah mengirimnya kepada Namjoon untuk yang satunya. Bagianku ada pada Hyera. Anak itu masih belum membaca emailku sampai sekarang padahal aku berniat mengerjakannya malam ini."

"Permisi!"

Jungkook langsung menyimpan bukunya ke atas meja kemudian berlalu menuju pintu utama. Disana, Daniel dan Yoongi berdiri berdampingan.

"Kalian? Ada apa?"

Baiklah. Akting yang sebenarnya akan dimulai.

"Ayahku meminta bantuan untuk mengambil barang di alamat ini. Aku tidak menduga ini rumahmu."

"Ayahmu?" Jungkook memiringkan kepalanya, tidak mengerti. "Nama atau jabatan?"

"Kang Minhyuk. Jabatannya aku tidak tahu. Dia mengerjakan apapun yang dia bisa." Daniel mengedikkan bahunya acuh lalu melirik Yoongi sebelum akhirnya kembali bersuara. "Jadi, apa ada titipan dari Nyonya Kim?"

"Bagaimana ya? Ibu memang mengatakan ada barang yang dititipkannya tapi aku tidak yakin ada disini. Jadi biarkan aku mencarinya. Ayo, masuk!"

Jungkook mendahului langkahnya, membiarkan Daniel dan Yoongi mengikutinya dari belakang sampai ke ruang tengah.

"Oh, Jimin?!"

Jimin mengangkat kepalanya dan mendapati Daniel yang menyapanya dengan ramah, serta Yoongi. Ah, orang yang entah kenapa ingin dihindarinya untuk sekarang. Bukan berarti benci tapi ada titik dimana Jimin merasa dia sangat iri pada pemuda berkulit pucat itu.

"Kook, panggilkan Chanyoel-hyung! Aku rasa kami harus segera pulang."

"Niel, aku tunggu di mobil saja!"

"Hei, tidak ada yang bisa meninggalkan rumah ini sampai masalah kalian benar-benar selesai."

Yoongi baru saja akan membalikkan badannya kala matanya mendapati Hyera yang sedang menuruni anak tangga. Oh, disusul Taehyung di belakangnya.

Jimin memincingkan matanya ke arah dua orang yang melangkah untuk menghampiri mereka. Saat yang sama, Chanyeol datang dari arah dapur dengan raut wajah yang sulit ditebak.

Yoongi berdecih lalu berucap, "kalian merencanakan ini? Oh, lucu sekali."


Jungkook terus mengamati tiga kubu yang saat ini ada di hadapannya. Daniel dan Yoongi di sisi kirinya, Taehyung dan Jimin di sisi kanan, serta Hyera dan Chanyeol yang duduk di hadapannya.

"Jadi, apa masalah kalian?"

Jimin membuka suara untuk pertama kali. Matanya tertuju pada Hyera yang sedang mengunyah permen karet.

"Bagaimana ya? Kau tahu, melihat kalian perang dingin seperti ini sungguh menyebalkan." Hyera menyandarkan punggungnya lalu menatap Jimin dan Yoongi secara bergantian. "Sebenarnya aku dan yang lain tidak perlu ada disini tapi kalian berdua saling menghindari. Aku hanya ingin masalah ini cepat selesai. Jadi, terserah kalian ingin memaki atau mengumpatku."

Sungguh, Yoongi tidak ingin memaki Hyera maupun Daniel. Dua orang itu sudah berbaik hati menyeret dirinya untuk tinggal bersama mereka. Ah, jika saja masalah Chanyoel dan Jimin tidak terjadi. Jika saja Chanyeol masih bersamanya.

Tidak, apa Yoongi cemburu? Apa Yoongi tidak suka saat Chanyeol bertemu kembali dengan adiknya yang merupakan teman sekolahnya?

"Yoon, aku harap telingamu tidak tinggal di suatu tempat."

Yoongi tersadar dan langsung menatap ke arah Hyera yang sedang bersidekap. Dia menghela nafas untuk beberapa saat. Dia juga memilih untuk tidak menjawab dan malah memejamkan matanya.

"Chan, sebaiknya kau mulai saja. Selesaikan masalah kalian bertiga." Daniel memandangi Taehyung, Jungkook dan Hyera secara bergantian lalu memberikan isyarat agar mereka beranjak. "Aku harap kalian tidak benar-benar menghancurkan rumah ini."

Jungkook yang sedari tadi terdiam hanya mengangguk. Sebelum benar-benar pergi, matanya melihat Jimin yang memintanya untuk tetap disana tapi Jungkook hanya menggeleng sambil tersenyum. Teman-temannya benar, Jimin harus bisa menyelesaikan masalahnya sendiri.

Sepeninggalan Hyera, Taehyung, Jungkook dan Daniel beberapa menit yang lalu, ketiganya langsung bungkam. Tidak ada yang berbicara, seolah ragu untuk memulai perkataan yang tepat. Bahkan masing-masing dapat mendengar suara nafas mereka.

"Apa kalian sedang berdiskusi dalam pikiran?"

Jimin adalah orang pertama yang membuka pembicaraan. Matanya terus bergerak mengamati dua orang yang ada di sekitarnya.

Chanyeol menghela nafas. Benar, jika mereka terus diam maka masalah kecil ini tidak akan pernah selesai.

"Aku sungguh minta maaf kepada kalian berdua. Yoongi, kau benar, seharusnya aku kembali saja pada saudaraku waktu itu tapi kau sendiri tahu, kakiku sendiri sudah berat untuk melangkah kesana. Pikiran bodoh itu sukses membuatku takut untuk bertemu Jimin. Aku benar-benar takut membuat Jimin tersakiti tapi nyatanya Jimin lebih tersakiti setelah aku pergi."

"Tapi, aku sendiri sangat bersyukur karena tidak meninggalkanmu sendiri. Aku tidak bisa membayangkan kemana kau akan berakhir jika aku benar-benar pergi dari awal. Apakah kau masih di dunia ini atau bahkan di suatu tempat yang tidak pernah bisa aku bayangkan. Aku sudah memikirkannya selama beberapa hari ini, bagaimana kehidupanmu tanpaku."

"Mungkin aku terlalu egois karena hanya membutuhkanmu sebagai teman serumah tapi setelah pertemuanku dengan Jimin lagi, aku malah takut kau kenapa-kenapa. Aku takut kau marah padaku padahal kau berhak. Egois, 'kan?"

Yoongi masih menatap Chanyeol dengan wajah tanpa ekspresinya, sedangkan Jimin malah membuang muka.

"Jimin, aku sebagai hyung-mu minta maaf karena sudah meninggalkanmu sepuluh tahun yang lalu. Aku juga minta maaf karena sudah membuat keadaanmu memburuk. Harusnya aku tidak meninggalkanmu. Itu yang aku pikirkan saat bertemu denganmu lagi. Tapi setelah aku pikir lagi, aku harusnya tidak mengatakan hal itu karena Yoongi."

"Kau benar, aku lebih lama tinggal bersama Yoongi dibanding denganmu. Jadi, aku memutuskan untuk membayar semua hal yang seharusnya kau dapatkan selama sepuluh tahun ini dariku. Tapi aku juga tidak bisa membiarkan Yoongi sendirian. Aku takut, dia sering melakukan hal bodoh saat sendirian."

"Apa pedulimu? Lebih baik kau pedulikan adikmu dibanding aku. Kau tahu, aku hanya menyusahkanmu karena aku, kau harus membiayai sekolahku. Karena aku, kau harus membagi uang tabunganmu demi menghidupi aku." Diam-diam Yoongi meremas kedua tangannya yang dimasukkannya ke dalam saku jaketnya. "Aku hanya menyusahkanmu selama ini jadi beri aku waktu untuk melunasi semua uang yang sudah aku gunakan."

"Tidak. Tidak perlu, Yoon. Tinggal denganmu, aku sangat bersyukur."

"Aku harus membayar semuanya. Lagipula aku tidak peduli kau akan menerima atau menolaknya. Aku tetap akan membayar semuanya."

"Hei, ayolah! Ini juga tentangku, kenapa hanya kalian saja yang ribut?"

Jimin berdecak kesal. Bibirnya sedari tadi gatal ingin mengatakan apa yang ada di otaknya tapi sungguh tidak diberi kesempatan. Ah, Jimin juga sebenarnya tidak ingin marah dengan Yoongi terlalu lama apalagi saat Chanyeol menceritakan segala hal tentang Yoongi. Tapi, hei, dia terlalu gengsi.

"Oke, baiklah. Aku potong sampai disini." Hyera datang sambil menepuk tangannya tiga kali lalu berdiri di belakang Chanyeol. "Hasilnya?"

"Hasil apa? Kau pikir kami sedang diskusi kelompok?" Ah, Jimin ingin mengatai gadis itu rasanya tapi mulutnya terlalu tidak biasa mengumpat Hyera. Oh, tidak di depan Chanyeol.

"Hmm, sejenis. Oke, Park Chanyeol! Sampaikan pemikiranmu!"

Chanyeol agak tersentak saat Hyera menepuk pundaknya dari belakang secara tiba-tiba. Pemuda itu bahkan hampir mengumpat gadis itu jika saja tidak memikirkan tempatnya berada atau parahnya akan dilempar sepatu dari Daniel yang saat ini sedang menonton mereka dari lantai atas.

"Aku ingin mengajak Yoongi tinggal bersama jika Jimin tidak keberatan."

"Bagaimana denganmu, saudara Park Jimin?"

Jimin agak mencibir sebelum akhirnya mengedikkan bahunya sambil melirik Yoongi yang memalingkan wajahnya. "Aku tidak keberatan asal Chanyeol-hyung tidak pergi lagi."

"Berikutnya, saudara Min Yoongi? Bagaimana keputusanmu?"

"Aku~"

"Oke. Yoongi sudah menolak jadi dia akan tinggal dengan kami. Terima kasih atas kehadirannya dan diskusi ini aku tutup."

Sebuah bantal baru saja melayang dan mendarat tepat di wajah Hyera. Pelakunya, Min Yoongi tampak memandang Hyera dengan jengkel.

"Rasanya Yoongi baru mengatakan satu kata." Jungkook menyikut Taehyung yang berjalan di sampingnya lalu dijawab oleh sebuah anggukan dari pemuda Kim.

Hyera mendekati Yoongi lalu membungkukkan badannya ke arah Yoongi. "Memangnya kau akan jawab apa? Sudah positif kau akan menolak, 'kan?"

"Kau benar tapi soal tinggal dengan kalian? Aku tidak pernah memutuskan itu."

"Kau tidak perlu memutuskan." Tiba-tiba saja Daniel mendudukkan dirinya di samping Yoongi lalu merangkul pundak pemuda itu. "Semuanya sudah diputuskan oleh seseorang."

Oh, siapapun tahu pasti seluruh pandangan akan tertuju pada Hyera yang sudah kembali pada posisi berdirinya.

"Apa-apaan dengan pandangan kalian?"

"Kau yang biasanya membuat keputusan seenaknya." Jimin bersuara kemudian dijawab oleh empat anggukan.

"Hei, hei. Jangan menghardik sepupuku! Dia memang kadang seperti itu tapi untuk masalah ini tentu saja bukan dia." Jawab Daniel sambil menggelengkan kepalanya.

"Lalu siapa? Kau?" kini giliran Chanyeol yang bertanya.

"Ayahku."

"Paman Minhyuk?"

Daniel mengangguk. "Dia memintamu untuk tinggal di rumah. Malah harus."

Yoongi langsung menggeleng. "Tidak. Aku tidak mau menyusahkan kalian lebih banyak. Lagipula aku berterima kasih karena kalian sudah menampungku."

"Oh, pada kamus seorang bernama Kang Minhyuk maka tidak ada kata penolakan." Hyera melipat tangannya di depan dada lalu menggeleng. "Kau ingat, apa yang terakhir terjadi saat Daniel menolak permintaannya?"

Bohong jika Yoongi tidak mengingatnya. Dia sangat ingat, bagaimana Daniel menolak untuk pergi belanja kebutuhan sehari-hari di rumah dan malah menyuruh Hyera dan dirinya yang baru saja tiba. Setelah adegan penolakan itu, yang terjadi berikutnya adalah sesuatu yang mengejutkan. Kang Minhyuk menyeret tubuh Daniel dari ruang tengah menuju kolam renang. Sungguh, Yoongi saja sampai merinding ketika melihatnya.

"Bisa tidak mengingat hal itu?" Daniel saja masih merinding jika mengingat detail kejadiannya. "Lagipula, bukannya kau ingin membayar hutangmu pada Chanyeol?"

Yoongi terdiam. Daniel benar, dia ingin membayar kembali uang yang digunakan Chanyeol untuknya.

"Memangnya dia akan membayar dengan apa? Hanya bekerja di café?"

Tidak ada yang tahu maksud kalimat Jimin itu mengemukakan pendapat atau malah menghina. Jimin sendiri baru tersadar dan langsung memukul mulutnya.

"Maaf."

"Kau benar, aku hanya bekerja di café dan butuh puluhan tahun untuk mengganti uang Chanyeol." Yoongi tertunduk. Dia tidak marah akan ucapan Jimin. Jimin memang benar.

"Yoon, kau tidak perlu mengganti uangku. Aku senang uang itu bermanfaat untukmu."

"Hyung, aku rasa itu tidak masalah. Jika seseorang memiliki hutang maka dia harus membayarnya sampai lunas. Setidaknya Yoongi masih ada pekerjaan lain daripada membiarkannya putus dan memilih bunuh diri?"

Ah, Taehyung benar.

"Lagipula Hyera dan Yoongi sudah mendapatkan pekerjaan baru. Mereka ditunjuk langsung sebagai penulis lagu dan produser dari perusahaan Ibunya Seokjin." Daniel membuka suara lalu merentangkan tubuhnya ke sofa. "Jadi, Yoongi tidak perlu bekerja di café lagi."

Hyera mengerjapkan matanya tidak percaya. "Hah? Aku tidak mendengar soal itu."

"Aku sudah tahu sejak kalian menyelesaikan lagu kemarin. Ibu Seokjin langsung menghubungi Ayah dan menanyakan siapa yang membuatnya. Ayah mengatakan nama kalian." Daniel mengambil bantal sofa lalu memeluknya. "Ibu Seokjin positif menarik kalian menjadi songwriter dan produser-nya. Ya, tidak optimal karena kalian masih sekolah tapi tidak ada salahnya kalian menulis atau membuat melodi."

"Namjoon juga." Taehyung berhasil mengalihkan perhatian seluruhnya. "Dia kemarin menyumbangkan satu lagu untuk penyanyi yang sama."

"Aku tidak menyangka, kalian mempunyai bakat diam-diam." Jungkook menepuk pundak Hyera, sedikit kuat.

"Sakit, Kook." Hyera menepis tangan Jungkook lalu beralih menepuk tangannya. "Jadi sidang diputuskan, Chanyeol diambil oleh Jimin dan Yoongi diambil oleh Kang Minhyuk. Sidang ditutup. Senang berdiskusi dengan kalian dan sepertinya Jungkook bersyukur karena rumahnya tidak hancur."

Yoongi terlanjur geram dengan gadis yang masih setia berdiri di sebelahnya jadi. "Aku bahkan belum memberikan jawaban."

Hyera menoleh lalu mengedipkan matanya. "Aku tahu, kau tidak akan menolak. Pikiran kita sedang terkoneksi malam ini."

Hal terakhir yang terjadi adalah terbangnya bantal sofa yang berhasil mendarat tepat di wajah Hyera, sedangkan sang pilot alias pelakunya, Park Jimin hanya bisa mendengus sebal melihat tingkat kepercayaan diri teman perempuannya itu.

Ah, setidaknya malam itu berakhir dengan damai. Jimin dan Yoongi tidak menyebarkan perang dingin. Chanyeol resmi kembali ke rumahnya dan tinggal bersama Jimin. Yoongi menetap di rumah Hyera dan keduanya mulai melakukan pekerjaan baru mereka, yaitu membuat musik. Oh, jangan lupakan seorang Jeon Jungkook yang sangat bersyukur karena rumahnya tidak menjadi areal perang.


Next chapter

"kau putranya hakim Byun Seojoon, ya?"

"Apa mereka tidak pulang malam ini?"

"Sudah menghubungi Yoongi dan Hyera?"

"Ya. Aku butuh bantuanmu sedikit."

"Ingin mengatakan sesuatu?"

"Siapa yang akan menjaga Yoongi?"


Gli.