Keadaan café sedang lenggang saat Baekhyun datang berkunjung. Ditemani segelas affogato yang terletak di atas meja, Baekhyun mengamati setiap pergerakan para pekerja café seraya menunggu dua orang yang ingin ditemuinya.
Cukup lama sampai akhirnya Chanyeol menjadi orang yang pertama menampakkan dirinya dengan segelas cappucino yang ada di tangannya. Dia langsung duduk di hadapan Baekhyun sambil mendesah kesal.
"Kenapa?"
Chanyeol hanya melirik Baekhyun sekilas sebelum akhirnya bertopang dagu, mengalihkan pandangannya ke arah televisi yang sedang menayangkan berita.
"Adikku, dia terus memaksaku berhenti bekerja padahal dia tahu aku sama sekali tidak ada hal yang dilakukan di rumah."
"Kuliah saja."
Chanyeol mencibir lalu mendengus sebal. "Aku sudah tidak berminat meneruskan pendidikan. Lebih baik sekarang menikmati kegiatan yang ada sambil bekerja dan mengumpulkan uang sebanyak mungkin."
"Kau ini, padahal ibu kalian memegang perusahaan besar."
"Bukan berarti dia menerimaku, Baek. Kami saja seperti orang asing saat bertemu di rumah."
Baekhyun menyeruput affogato-nya lalu ikut menatap televisi. "Yoongi? Dia masih bekerja disini?"
Chanyeol mengangguk seraya menyeruput cappucino-nya. "Dia masih enggan berhenti dari café."
"Jadi, dia tinggal dimana sekarang?" tanya Baekhyun, melirik Chanyeol sekilas. Tidak banyak hal yang dia tahu seputar keadaan Chanyeol dan Yoongi. Selain informasi soal Chanyeol yang kembali ke rumahnya dan Yoongi yang tinggal di suatu tempat.
"Oh, hyung? Sudah lama?"
Yoongi datang sambil melepas apron yang terikat di pinggangnya. Tanpa ragu, pemuda itu menghantarkan bokongnya untuk duduk di sebelah Baekhyun.
"Tidak juga. Sudah selesai?"
Yoongi mengangguk. "Shiff-ku sudah habis untuk hari ini. Oh ya, aku dengar hyung ingin mengatakan sesuatu."
Benar. Tujuan Baekhyun datang ke tempat kerja kedua orang itu karena ingin menyampaikan sesuatu. Namun sebelum benar-benar mengatakannya, Baekhyun mengisyaratkan keduanya untuk melihat ke televisi.
"Lihat saja beritanya!"
Saat yang sama, sebuah berita menampilkan wajah Baekhyun. Bersamaan dengan beberapa orang lain yang –mungkin mereka kenal.
Byun Baekhyun, putra pertama Byun Seojoon resmi bergabung dengan kantor pengadilan. Dia mengikuti jejak sang ayah untuk bekerja di bidang hukum.
Setidaknya itulah kalimat yang disampaikan oleh pembawa berita. Sontak mengundang seruan heboh dari seorang Chanyeol.
"Kau serius akan menjadi pengacara?"
Baekhyun menggeleng. "Hakim. Ayahku meminta aku agar menjadi hakim."
"Aku pikir ini keinginanmu." Chanyeol mencebik.
"Kenapa kau yang marah?" tanya Baekhyun seraya bercanda.
"Hanya bukan ini yang kau inginkan. Sungguh, kau seperti diperalat orang tuamu."
"Hyung," panggil Yoongi secara tiba-tiba, "kau putranya hakim Byun Seojoon, ya?"
Baekhyun menoleh ke arah Yoongi sebelum akhirnya menjawab. "Ya, begitulah. Menyedihkan bukan?!"
"Sangat!" sahut Chanyeol.
Yoongi sadar saat kedua tangannya saling meremas, geram dan cemas menjadi satu. Dia tidak menduga jika orang yang dikenalnya selama ini adalah anak dari salah satu orang yang sudah menghancurkan keadilan untuk orang tuanya.
Hyera terlalu sibuk menekan tuts piano-nya lalu beralih menulis pada selembar kertas lalu piano lagi lalu menulis lagi. Hanya hal itu yang dia lakukan selama satu jam ini. Karena pekerjaan barunya, Hyera sebisa mungkin mengalihkan hampir seluruh waktunya untuk membuat musik sebanyak mungkin.
Merasa cukup, Hyera memilih untuk merenggangkan badannya lalu beralih pada beberapa kertas yang dicoret oleh pensil, terletak di atas meja. Tangan kanannya terulur untuk mengambil lembaran kertas tersebut lalu menatapnya satu persatu.
"Otak anak itu terlalu genius, ya? Hanya dalam waktu kurang dari 12 jam dia bisa membuat lima lembar melodi acak."
Dia sangat kenal coretan khas itu milik seorang Min Yoongi. Oh, ngomong-ngomong harusnya Yoongi sudah sampai di rumah sekitar tigapuluh menit yang lalu.
Jadi dia memutuskan untuk beranjak dari posisinya, merapikan kertas-kertasnya dan meletakkannya kembali ke atas meja. Kemudian melangkah keluar dari ruangan. Mengamati setiap sudut ruang tengah, memastikan adanya orang lain di rumah ini selain dirinya.
"Apa tidak ada yang pulang?" desahnya sambil melanjutkan langkahnya menuju pintu utama.
Hyera menghela nafasnya sejenak sebelum akhirnya membuka lebar pintu itu. Gadis itu beru tersadar jika hujan deras sudah membasahi halaman rumah. Bersamaan dengan itu, udara dingin menyapa permukaan kulitnya, sukses membuat tubuhnya bergidik.
"Apa mereka tidak pulang malam ini?"
Atau tidak. Karena atensinya kini terfokus pada seseorang yang sedang melangkah di bawah derasnya hujan tanpa pelindung apapun.
"Yoongi!" pekiknya tanpa sadar.
Min Yoongi, pemuda dengan kulit pucat itu menghentikan langkahnya di tengah derasnya hujan. Kepalanya mendongak untuk menatap Hyera yang sudah berdiri di ujung teras dengan raut wajah yang tak bisa ditebak.
Beberapa detik berlalu, tapi Yoongi tampak enggan melangkahkan kakinya dari sana. Seolah tidak peduli jika kulit putih pucatnya kian memucat karena diguyur hujan. Sedangkan Hyera, gadis itu terlihat ragu untuk melangkahkan kakinya karena dia bisa melihat raut putus asa di wajah datar Yoongi.
"Yoon~"
Belum selesai tapi Hyera harus menyaksikan Yoongi terjatuh berlutut di hadapannya. Sukses membuat gadis itu melompati hujan dan tidak peduli dengan pakaian tipis yang dikenakannya. Yoongi sedang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja.
"Apa yang terjadi?"
Yoongi menggeleng sebagai jawaban. Kepalanya tertunduk, menatapi aspal yang menjadi alasnya berlutut saat ini. Hanya beberapa saat sampai dia kembali mengangkat kepalanya dan menatap Hyera sambil tersenyum.
"Aku, menyedihkan, bukan?"
Hyera menggeleng. Dia tidak tahu apa yang terjadi pada teman sebangkunya itu. Matanya melirik kedua tangan Yoongi yang tampak memucat dan bergetar.
"Ayo masuk!"
"Aku bodoh. Kenapa tidak menyadari semuanya? Padahal semuanya ada di depanku."
Hyera memejamkan matanya. Ah, perutnya sedikit perih karena belum menyantap makan malam. Niatnya menunggu Yoongi dan Daniel pulang ke rumah lalu makan malam bersama.
"Aku sangat menyedihkan."
Baiklah. Hyera berdecak kesal. Dia tidak bisa mengatakan apapun jika Yoongi terus meracau seperti ini perihal apa yang membuat pemuda berkulit pucat itu terus menyalahkan dirinya. Ditambah lagi tubuh keduanya sudah sangat jauh dari kata kering. Hyera ingin cepat masuk.
Jadi dia memutuskan untuk berjongkok dan memunggungi Yoongi lalu menarik kedua tangan pemuda itu dari belakang dan menggantungkannya di kedua bahunya. Gadis itu berdiri, memaksa Yoongi ikut berdiri lalu menyeret paksa pemuda yang tampak tak bertenaga itu masuk ke rumah. Walaupun tubuhnya tergolong kecil di antara seluruh teman-temannya, Hyera tetap memiliki kekuatan yang lumayan.
Entah dalam rangka apa tapi malam ini keempat pemuda itu sedang berkumpul di rumah Kim bersaudara. Seolah mereka benar-benar sudah berteman lama dan melupakan konflik yang pernah terjadi di antara mereka. Ditambah lagi aktivitas yang mereka lakukan sungguh diluar dugaan.
Hoseok dan Jungkook sedang bermain game di kamar Namjoon. Sedangkan pemilik kamar sedang berdiskusi kecil dengan sosok Jimin, ditambah lagi Seokjin dan Taehyung yang baru saja masuk membawa beberapa camilan.
"Sudah menghubungi Yoongi dan Hyera?"
"Argh!" pekikan frustasi dari Hoseok yang menjawab pertanyaan Seokjin. "Sialan, kenapa kau selalu menang?"
Jungkook hanya mengedikan bahunya acuh lalu tersenyum sombong. "Kau saja yang tak ahli bermain ini."
"Aku selalu menang saat melawan Taehyung." Hoseok beranjak dari posisinya lalu mendekati Seokjin dan Taehyung.
"Taehyung itu bukan anak yang hobinya bermain game. Dia itu campuran Yoongi dan Namjoon." Jimin menyahut sambil menyikut Namjoon yang duduk di sisi kanannya. "Tukang tidur dan kutu buku."
Namjoon hanya mendelik kesal ke arah Jimin sebelum akhirnya kembali mengalihkan pandangannya pada buku yang sedang dibacanya.
"Hei, aku bertanya." Seokjin menghempaskan tubuhnya tepat di samping kiri Namjoon. "Yoongi dan Hyera, mereka tidak kesini?"
Jungkook mengedikkan bahunya lalu melemparkan tubuhnya pada tempat tidur Namjoon tanpa permisi. "Aku menghubungi Yoongi tadi pagi dan dia menjawab iya. Setelah itu tidak lagi."
Taehyung mendudukkan dirinya di lantai yang beralaskan karpet. "Aku menghubungi mereka sejam yang lalu. Ponsel Yoongi tidak aktif dan Hyera, anak itu tidak menjawab."
"Kau seperti tidak tahu Hyera saja," Hoseok mendudukkan dirinya tepat di samping kanan Taehyung, "anak itu tidak terlalu peduli pada ponselnya."
"Yoongi, yang aku tahu dia sedang bekerja hari ini." Jimin menyahut sebelum akhirnya mengambil segelas minuman.
"Mungkin mereka sibuk." Namjoon menyahut lalu menutup bukunya.
Hoseok mengangguk setuju. "Apalagi diluar sedang hujan."
"Hei, ponsel siapa ini?" tanya Jungkook sambil mengangkat sebuah ponsel yang ditimpanya saat berbaring.
Seokjin menoleh lalu melirik Taehyung yang sedang mengunyah camilannya. "Tae, ponselmu!"
Taehyung menoleh lalu mendongakkan kepalanya ke arah Jungkook. "Ada panggilan?"
Jungkook mengangguk lalu beranjak dari posisinya. "Tanpa nama." Liriknya pada layar ponsel Taehyung yang hanya menampilkan sebuah nomor tanpa keterangan yang berarti. "Dia menghubungi dari tadi, aku rasa."
Taehyung menerima ponselnya dari Jungkook lalu menatap layar ponselnya yang dipenuhi puluhan panggilan tak terjawab dari nomor yang sama serta beberapa pesan masuk yang belum sempat dibacanya. Belum sempat tangannya membuka pesan tersebut, sebuah panggilan dari nomor yang sama menghiasi layar ponselnya.
"Ini nomor rumah Hyera." Ucapnya yang kemudian menggeser tombol hijau. "Halo?!"
"Bagaimana dia bisa tahu hanya dengan melihat nomornya?" bisik Jimin.
"Dia bisa menghafal angka jadi jangan heran jika nomor kalian tidak tersimpan di ponselnya." Hoseok menjawab. Ah, dia juga sempat protes saat tahu Taehyung tak menyimpan nomornya. Namun lama kelamaan dia mulai paham. Taehyung sering merusak ponselnya jadi anak itu hampir sering mengganti ponselnya.
"Ta-tae, kau dimana?"
Taehyung mengernyit bingung. Dia tidak yakin itu suara Hyera yang biasa menghubunginya dengan nada cerewet dan berisik. Tapi sekarang, suara itu terdengar bergetar.
"Di rumah. Yang lain ada disini. Kau tidak kesini?"
"Ah, kalian sedang berkumpul ya?"
Ada jeda disana namun Taehyung yakin dia mendengar suara seseorang mendesis, seperti kedinginan.
"A-akh, aku ingin bertanya apa kau bisa datang ke rumahku?"
"Sekarang?"
Pertanyaan sukses mengundang kernyit heran dari kelima orang yang ada disana.
"Ya. Aku butuh bantuanmu sedikit."
"Bantuan apa?"
Hening selama beberapa saat. Taehyung melirik Jungkook yang baru saja menyikut punggungnya, bertanya tentang apa yang terjadi dengan ekspresinya dan Taehyung hanya mengedikkan bahunya.
"Yoongi, dia sepertinya terserang demam. Bibirnya terus meracau dan aku memiliki sedikit masalah disini."
"Yoongi? Aku akan kesana sekarang. Cukup dulu lalu cari obat penurun panas." Taehyung langsung melempar ponselnya lalu beranjak dari posisinya.
"Taehyung, ada apa? Hyera kenapa?"
Pertanyaan Namjoon berhasil menghentikan langkah Taehyung yang sudah berdiri di ambang pintu.
"Yoongi terserang demam." Setelah itu Taehyung benar-benar menghilang dari hadapan mereka.
"Kalau Yoongi demam, kenapa dia menghubungi Taehyung?"
Pertanyaan Seokjin baru saja mengundang perhatian dari keempat temannya yang lain. Kelimanya saling bertatapan seolah saling melemparkan pertanyaan dari tatapan mereka.
Sampai akhirnya Jimin tiba-tiba beranjak dari posisinya dan berhasil mengejutkan Namjoon yang duduk di sampingnya.
"Aish, kenapa kau?"
Jimin menatap keempat temannya satu persatu. "Hei, kalian tahukan Hyera hanya menelpon kita untuk mengocehkan hal tidak jelas? Tapi sampai membuat Taehyung terlihat khawatir? Aku jadi ingat Hyera sedang bersama Yoongi."
Entah apa maksud Jimin tapi tampaknya keempat temannya itu seorang mengerti dan langsung beranjak dari posisi mereka. Masing-masing dari mereka mengambil jaket lalu berlarian keluar dari kamar Namjoon dalam satu waktu.
Hyera mengikuti perintah yang diberikan Taehyung setelah dia menghubungi teman sekelasnnya itu. Setelah menyeret tubuh Yoongi ke dalam rumah, Hyera langsung membawa pemuda berkulit pucat itu ke kamar tamu yang ada di samping ruang musik. Kemudian berlari keluar, menuju kamar Yoongi lalu mengambil sembarang pakaian milik pemuda itu dan kembali lagi turun ke bawah untuk memaksa Yoongi mengganti pakaiannya yang basah.
Setelahnya lagi, Hyera langsung mendorong tubuh Yoongi agar berbaring dan memastikan suhu tubuh itu berkali-kali. Kemudian menutup tubuh itu dengan selimut tebal, menyalakan pemanas ruangan lalu berlari keluar untuk menelpon Taehyung dengan telepon rumah. Ah, bahkan dirinya sudah lupa untuk sekedar mengganti pakaiannya yang juga basah.
Sebenarnya Hyera tipe anak yang tidak terlalu ambil pusing, malah kelewat santai. Kepribadian utama yang sangat diketahui oleh seluruh teman-temannya. Dia bahkan sebisa mungkin untuk bertindak tenang saat ini walaupun perutnya semakin sakit karena terus menuntut untuk diisi oleh makanan. Dan entah kenapa, dari banyaknya orang yang dikenal, dia malah memutuskan untuk menghubungi Taehyung.
Hyera mengamati wajah Yoongi dengan lamat-lamat. Mata itu terpejam tapi mulutnya terus meracau. Memanggil nama kedua orang tuanya, meminta maaf dan menggumamkan kalimat-kalimat yang Hyera sendiri tidak mengerti.
"HYERA!"
Ah, itu suara Taehyung.
Kakinya melangkah cepat menuju pintu kamar yang terbuka kemudian berlari keluar menuju ruang tengah dimana Taehyung sedang berada dengan keadaan setengah basah.
"Tae," suaranya lirih namun tetap berhasil ditangkap oleh telinga Taehyung. "Yoongi terserang demam dan aku bingung."
Pemuda itu berlari cepat, hampir menubruk tubuh Hyera. "Hei, tenanglah! Dimana dia sekarang?"
Hyera hanya membalikkan badannya lalu menunjuk ke arah pintu yang terbuka. "Dia terus meracau, aku jadi takut."
"Tidak apa. Itu salah satu akibat dari demam. Ayo!"
Taehyung hanya bisa membiarkan gadis itu terus menarik ujung jaketnya bahkan saat mereka sampai di kamar. Matanya tertuju pada wajah Yoongi yang tampak lebih pucat dari biasanya. Dia akui, Yoongi benar-benar meracau disana.
"Kau juga istirahat. Aku akan membuatkan Yoongi bubur." Suruhnya sambil membawa tubuh Hyera ke arah sofa, mendudukkannya disana. "Panggil aku jika kau butuh sesuatu."
Seokjin menghela nafas lega kala mendapati mobilnya terparkir dengan aman tepat di depan rumah Hyera. Dia tadi sempat mengira mobilnya dibawa lari oleh seseorang walaupun Namjoon terus berkata jika mobilnya dibawa Taehyung.
"Salahmu meninggalkan kunci mobil di atas meja." Omel Namjoon yang langsung mendahului langkahnya memasuki rumah Hyera dan diikuti yang lain.
Keadaan rumah cukup hening saat mereka masuk ke dalam. Tidak ada tanda-tanda jika ada orang lain selain mereka disana. Sampai Jimin mendengar suara berisik dari arah dapur dan langsung melangkah kesana.
"Oi, Taehyung!" panggilnya ketika mendapati Taehyung yang baru saja menyalakan kompor. "Dimana Hyera?"
Taehyung menoleh lalu menghela nafas. "Syukurlah kalian datang. Dia ada di kamar sana." Jawabnya sambil menunjuk ke arah pintu yang sedikit terbuka.
"Syukur apanya? Harusnya katakan sesuatu. Kami sampai harus mencerna situasi." Jungkook mengomel dari arah belakang Jimin.
"Aku terlalu panik." Taehyung menjawab dengan senyum tipis. "Ah, Jung, tolong carikan obat penurun panas. Seingatku kau pernah menjelajahi rumah ini."
Jungkook mendengus sebal. Baginya kata menjelajahi dari Taehyung itu terdengar seperti ejekan untuknya. Sejujurnya itu terjadi saat pertama kali mereka mengunjungi rumah Hyera untuk mengerjakan tugas kelompok pertama mereka. Agaknya kata jelajah harus diganti dengan kata tersesat untuk tepatnya. Dia tersesat saat mencari kamar mandi dan memasuki seluruh ruangan di lantai satu kecuali ruang musik yang saat itu terkunci.
"Jungkookie," panggil Jimin sambil menyikut perut sahabatnya.
"Iya, iya. Aku pergi." Jungkook menghela nafasnya sebelum akhirnya benar-benar pergi. Entahlah, dia sendiri tidak tahu harus mencari kemana, yang penting dia harus melaksanakan tugasnya.
"Yoongi, bagaimana dengannya?" tanya Namjoon yang sudah mendekati Taehyung.
"Dia tertidur tapi mulutnya terus meracaukan sesuatu." Taehyung menjawab lalu mengalihkan pandangannya pada bubur yang sedang dimasaknya.
Seokjin merangkul Hoseok lalu menendang kaki Jimin dari belakang. Berhasil membuat pemuda bermarga Park itu mendengus sebal sebelum mengerti maksud dari isyarat yang diberikan oleh dua pemuda itu.
"Kami temui mereka dulu, ya? Ayo, Jim!" ajak Hoseok yang langsung menarik kerah baju Jimin dari belakang lalu melangkah pergi.
Namjoon hanya mengangguk lalu menatap punggung Taehyung. Ah, rasanya kenapa canggung sekali? Padahal mereka tadi tampak biasa saja saat ada yang lain tapi kenapa sekarang rasanya seperti tikus yang ingin melarikan diri?
Taehyung menoleh ke arah Namjoon setelah sadar jika saudaranya itu terus memperhatikannya dalam diam.
"Ingin mengatakan sesuatu?"
Namjoon tersentak lalu sebisa mungkin mengalihkan pandangannya. "Tidak ada."
Taehyung hanya mengangguk paham lalu beralih untuk mematikan kompor. Kedua tangannya sedang sibuk untuk memindahkan bubur ke dalam mangkuk putih yang di pegangnya.
Namjoon kembali menatap Taehyung begitu sadar jika pemuda itu sudah mengalihkan pandangannya. Dia menggigit bibir bawahnya karena terlalu bingung harus bagaimana menghancurkan kecanggungan yang ada.
"Joon-ah, bisa ambilkan air minumnya?"
Entah sudah berapa kali Namjoon tersentak karena gerakan Taehyung ditambah lagi dengan suara Taehyung. Tanpa menjawab, dia langsung bergerak untuk mengambil dua gelas lalu berjalan menuju dispenser dan mengisi kedua gelas tersebut dengan air. Setelahnya, dia kembali mendekati Taehyung dan meletakkan kedua gelas itu di atas nampan dimana dua mangkuk bubur juga terletak.
Taehyung baru saja akan mengambil nampan itu dan membawanya saat tangan Namjoon mencegahnya.
"Biar aku yang bawa." Ucapnya sambil mengambil alih nampan tersebut dan membalikkan badannya.
Taehyung tersenyum sekilas lalu membuka mulutnya. "Terima kasih."
Namjoon mengurungkan niatnya untuk melangkahkan kakinya lalu menoleh ke arah Taehyung dan mengernyit bingung.
"Untuk apa?"
Taehyung mengedikkan bahunya lalu mengalihkan pandangannya. "Untuk semuanya. Terima kasih karena sudah menerimaku dan ibuku."
Namjoon kembali mengalihkan pandangannya ke arah depan lalu melangkahkan kakinya. Daripada membalas ucapan Taehyung, dia memilih untuk tersenyum.
Terima kasih sudah menjadi saudaraku.
"Panasnya cukup tinggi." Komentar Seokjin tepat saat Namjoon dan Taehyung masuk ke dalam kamar.
"Pantas saja dia terus meracau." Hoseok menyahut. Dia duduk di ujung kaki Yoongi sambil melirik pemilik kulit pucat itu.
"Kalau besok panasnya tambah tinggi, pastikan untuk membawanya ke rumah sakit." Seokjin menambahkan lalu beralih pada Hyera yang sedang menatap mereka dari kejauhan.
Namjoon meletakkan nampan tepat di atas meja di hadapan Hyera lalu melirik gadis itu. Jelas sekali Hyera tak melepaskan pandangannya dari Yoongi.
"Dia kenapa?" tanya Jimin yang ikut memandangi Hyera.
Taehyung mendekati teman perempuannya itu lalu duduk di sebelahnya. "Hyera hanya dilanda bingung, aku rasa."
Jimin melangkah mundur saat merasakan getaran di saku jaketnya. Kemudian segera mengeluarkan ponselnya dan semakin undur diri saat membaca nama penelpon yang tertera pada layar ponselnya.
Langkah kakinya terhenti diluar kamar, tepat di sebelah pintu masuk lalu menggeser tombol hijau.
"Halo, Chan-hyung. Ada apa?"
"Apa kau masih di rumah Taehyung?"
Jimin melirik ke arah ruang tengah yang kosong. "Hmm, tidak juga. Kenapa?"
"Aku sedang bersama Daniel, dia bertanya apa kalian bersama Hyera dan Yoongi? Mereka tidak menjawab telepon daritadi, bahkan nomor Yoongi tidak bisa dihubungi."
"Soal itu," Jimin mengintip ke dalam ruangan dimana temannya berkumpul, "kami di rumah Hyera saat ini."
"Benarkah? Bisa berikan kepada mereka?"
"Maaf, hyung, sesuatu terjadi. Katakan pada Daniel untuk segera pulang."
"Terjadi? Apa kalian bertengkar lagi?"
Jimin menggeleng walaupun sadar Chanyeol tidak akan melihat pergerakannya. "Bukan begitu. Yoongi terserang demam dan Hyera, sedang khawatir disini."
"Oke. Kalian tetap disana. Aku dan Daniel akan segera pulang."
Panggilan terputus. Jimin menghela nafas sebelum akhirnya menyimpan kembali ponselnya lalu masuk ke dalam.
"Daniel dalam perjalanan pulang."
Seluruh atensi langsung tertuju pada Jimin yang masih berdiri di depan pintu.
"Aku pikir Daniel tidak pulang lagi." Hoseok menghela nafas lega. Dia melirik Hyera yang masih enggan menolak bubur yang dibuat Taehyung. "Dia masih tidak mau makan."
"Perasaanku atau memang baju anak ini lembab?"
Seruan Namjoon berhasil mengundang atensi yang lain, sedangkan pemuda itu masih memegangi pundak Hyera dari belakang gadis itu.
Seokjin langsung beranjak dari posisinya dan segera mendekati Hyera. Kedua tangannya bergerak untuk menyentuh rambut Hyera lalu turun ke wajahnya. "Sial." Makinya pelan lalu menatap Taehyung dan Namjoon secara bergantian. "Dia juga terserang demam."
"Ya ampun, aku pikir dia hanya takut saja." Jungkook langsung beranjak dari posisinya untuk mendekati keempat temannya. "Bajunya masih basah?"
"Lembab." Seokjin menjawab lalu menatap kelima temannya satu persatu. "Bujuk dia untuk mengganti bajunya!"
Hyera menggeleng. "Aku baik-baik saja."
Taehyung membalas dengan gelengan. "Setidaknya ganti bajumu dulu."
Hyera kembali menggeleng. Matanya masih tertuju pada Yoongi yang sudah tidak meracau kembali. Sepertinya pemuda berkulit pucat itu sudah terlelap.
"Hei, dengarkan aku! Yoongi hanya terserang demam. Sekarang dia sudah tidur. Sekarang giliranmu. Ganti pakaianmu lalu istirahatlah."
Hyera terdiam sambil menatap Seokjin yang terus membujuknya dengan lembut. Ah, dia baru tersadar jika tubuhnya sudah kedinginan bahkan pakaiannya sudah mulai kering di badannya. Ditambah lagi perut dan kepalanya yang sedang dalam keadaan yang tidak baik.
"Siapa yang akan menjaga Yoongi?"
"Ya ampun, anak ini." Hoseok sangat gemas dan ingin mengguncang tubuh itu. "Kau tidak lihat berapa banyak orang disini? Satu pergi juga tidak masalah yang penting kau harus segera memikirkan keadaanmu."
"Baiklah." Hyera beranjak dari posisinya, sedikit terhuyung jika saja tidak ditahan oleh Seokjin. Matanya kembali melirik ke arah Yoongi yang terlelap lalu menatap Hoseok dan Jungkook yang berada didekat pemuda berkulit pucat itu. "Aku titip Yoongi ya."
"Pergi saja sana! Yoongi tidak akan pergi kemana-mana." Jungkook mendesis sebal.
"Tae, sebaiknya kau temani dia. Aku takut anak itu akan kenapa-kenapa." Namjoon menepuk pundak saudaranya.
"Hanya memastikan. Kau jangan mengintipnya!" sahut Jimin.
"Hei, Park! Sahabatku bukan Namjoon." Hoseok menyahut, membela sahabatnya.
"Apa maksudmu?" tanya Namjoon tidak terima.
Taehyung beranjak dari posisinya lalu mulai melangkah keluar untuk menyusul Hyera yang sudah menghilang dari hadapan mereka.
"Aku heran, kenapa akhir-akhir ini kita selalu berkumpul saat ada yang sakit?" sahut Jimin yang lalu mengantarkan dirinya untuk duduk di samping Seokjin yang sudah menghantarkan tubuhnya disana.
"Selalu ada Hyera dan yang menjadi salah satunya." Jungkook ikut menambahkan.
"Maksudmu?" tanya Seokjin yang tampak tidak mengerti.
"Maksudnya," Jungkook melirik Hoseok yang sudah duduk di belakangnya, "saat anak itu ada masalah dan berakhir di rumah Kim bersaudara. Taehyung juga terserang demam. Sejujurnya aku tidak mengerti keadaan dia saat itu. Kemudian saat Yoongi dan dia masuk rumah sakit karena hipotermia sesudah lompat dari jembatan saat tengah malam."
"Terlalu banyak hal mengejutkan yang ada padanya." Hoseok menimpali lalu merebahkan tubuhnya di samping Yoongi.
"Seperti magnet," Namjoon menjatuhkan dirinya di antara Seokjin dan Jimin. Berhasil membuat dua pemuda itu mendengus sebal. "Dia berhasil menarik kita ke satu titik dimana pada akhirnya hanya ada kita disana."
"Hyera dan segala ketidakdugaan kita kepadanya." Seokjin mengedikkan bahunya.
Next chapter
"Sebenarnya apa yang terjadi?"
Kau sebenarnya kenapa, Yoongi?
"Bagaimana keadaanmu?"
"Apa sudah tidak ada surat lagi?"
"Ingin pergi ke suatu tempat? Maksudku sebagai liburan setelah ujian. Hanya kita berdelapan saja."
Gli.
