Daniel mendobrak pintu dengan kasar begitu kakinya sampai di rumah. Tidak peduli pada tubuh yang setengah basah karena hujan, otaknya hanya memproses apa yang terjadi pada dua orang yang dia tinggalkan di rumah.

Disusul Chanyeol yang ikut berlari ke dalam rumah, keduanya langsung mendapati Namjoon, Seokjin dan Jimin yang berkumpul di ruang tengah.

"Dimana Hyera?" tanya Daniel tanpa pikir panjang.

"Tenang sebentar!" jeda Seokjin sambil beranjak dari posisinya. "Dia sudah tidur di kamarnya setelah makan dan minum obatnya."

Daniel sedikit bernafas lega. Tidak, satu orang lagi.

"Yoongi?" Chanyeol menjadi orang yang mempertanyakan seorang lagi.

"Dia masih terlelap. Belum makan dan minum obat tapi setidaknya suhu tubuhnya mulai turun." Namjoon menjelaskan sedikit.

"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Daniel seraya melepaskan jaket yang dikenakannya. "Jimin bilang sesuatu terjadi."

"Ya, memang begitu." Jimin mengangguk lalu merebahkan tubuhnya di sofa. "Sesuatu terjadi dan mereka berdua terserang demam."

"Tidak ada yang tahu apa penyebabnya?"

Tiga remaja itu menggeleng sebagai jawaban atas pertanyaan Chanyeol.

"Hyera meminta bantuan Taehyung untuk datang kesini dan dengan begitulah kami sampai disini." Jimin bersuara malas. Mulutnya menguap karena hawa kantuk mulai menyerangnya.

"Tidak jelas." Daniel menyahut.

"Singkatnya seperti itu," sahut Seokjin yang memilih untuk meringkuk di sofa. "Sebaiknya kalian ganti pakaian. Aku tidak ingin menambah pasien lagi."

Daniel hanya melongos pergi. Kakinya setengah berlari untuk segera menuju ke lantai dua sedangkan Chanyeol memilih untuk melihat Yoongi.


Jungkook dan Hoseok sudah terlelap di kamar bersama Yoongi. Agaknya mereka sudah diserang kantuk sejak ketiga temannya keluar dari sana. Hoseok masih di tempat tidur, bersebelahan dengan Yoongi dan Jungkook lebih memilih berbaring di sofa.

Chanyeol hanya bisa mengamati wajah pucat yang sangat dikenalnya itu. Dia sangat khawatir jika pemuda itu sudah melakukan hal yang tidak diduga-duganya. Bahkan ingatannya kembali terlempar saat di café sore tadi. Dimana Yoongi yang tiba-tiba saja beranjak dari kursinya lalu berpamitan pulang dengan alasan dia memiliki pekerjaan yang lain di rumah.

Sedikit membingungkan karena Yoongi tidak akan bertindak tiba-tiba kecuali dia sangat mendesak. Chanyeol sangat mengenalnya sebagai sosok tak peduli dan bertingkah santai. Bahkan dia ingat saat paginya Yoongi mengatakan dia akan ada di café sampai malam dan Yoongi bukan tipe orang yang akan mengubah keputusannya sekali dia memutuskan.

"Lee Nayoung."

Pelan dan lirih tapi Chanyeol sangat yakin jika Yoongi baru saja menggumamkan sebuah nama yang agaknya tak asing bagi pemuda bermarga Park itu.

Kau sebenarnya kenapa, Yoongi?


"Tuntutan kepada Lee Nayoung dicabut karena keluarga korban memilih untuk berdamai. Kasus ditutup."

Yoongi tidak terlalu bodoh untuk ukuran seorang anak laki-laki berumur delapan tahun. Dia sangat paham arti dari ketukan palu yang dilakukan oleh jaksa. Matanya beralih pada sosok pengacara yang harusnya membela dirinya bersama keluarga orang tuanya. Mereka saling berjabat tangan lalu tersenyum.

"Bibi, kenapa dia pergi?" tanyanya sambil menunjuk wanita yang kini sedang berjabat tangan dengan hakim.

"Yoongi, dengar! Mereka sudah mengganti rugi. Jadi tidak ada yang akan dihukum lagi sekarang." Wanita yang disebut Yoongi sebagai bibi itu mengelus kepalanya.

"Lalu, bagaimana ayah dan ibu?"

"Ayah dan ibumu sudah mati. Mereka tidak akan hidup lagi walaupun wanita itu di penjara."

Yoongi menggeleng lalu berlari ke arah hakim yang mengatakan pada jaksa jika kasus ini ditutup. Kedua tangannya menarik jubah besar yang dikenakan oleh hakim tersebut.

"Kenapa dia tidak dihukum? Hukum dia. Dia membunuh orang tuaku. Gara-gara dia, orang tuaku pergi."

Hakim itu menepuk puncak kepala Yoongi lalu tersenyum. "Nak, hal seperti ini akan membuang waktumu jadi ini adalah keputusan yang baik. Dengan begitu, kau bisa hidup dengan benar. Apalagi Lee Nayoung berjanji akan membayar uang ganti rugi kepada bibimu."

Yoongi mendongakkan kepalanya lalu memandangi sosok pria jangkung yang berstatus sebagai hakim itu. Kemudian beralih pada nama yang tersemat di dadanya.

"Byun Seojoon!"

Kepalanya beralih pada wanita yang sudah menghancurkan kebahagiannya, wanita yang sedang tertawa karena kata damai yang terhubung di antara mereka. Bersamaan itu, seorang pria yang dia ketahui sebagai pengacaranya tampak ikut tertawa.

"Lagipula keluarganya itu hanya melihat uang sejak awal. Memangnya mereka mau repot-repot mengantar anak yatim piatu seperti anak itu. Hanya menyusahkan."

"Hei, jangan seperti itu. Anak itu seumuran dengan anak kita." Si pengacara ikut bersuara. Matanya melirik sosok hakim yang menghampiri mereka.

"Terima kasih sudah menyelamatkanku, Seojoon-ah. Heejun, kau juga. Aku bersyukur saat tahu kau menjadi pengacara keluarga itu." wanita itu tertawa kecil lalu kembal tersenyum.

"Aku malah tidak menduga jika kau yang menabrak mati klienku. Kau tahu, aku berjuang setengah mati untuk mengamankanmu agar tidak terpenjara."

"Seojoon sendiri sesungguhnya baik. Aku tidak menyangka dia berhasil membujuk jaksa."

Yoongi yang masih terdiam disana hanya bisa menahan amarahnya. Orang dewasa sangat mengerikan di matanya. Tidak ada keadilan sejati seperti film yang pernah ditontonnya. Kebenaran yang selalu ada di balik kejahatan. Dan hari itu, Yoongi sudah menyerah pada hidupnya.


Matanya terbuka. Yoongi dapat merasakan kepalanya sedikit pening. Tubuhnya beranjak perlahan bersamaan dengan ringisan pelan karena rasa sakit di kepalanya semakin menyebar. Dia berusaha mengumpulkan seluruh kesadarannya sebelum beralih pada sosok Hoseok yang berbaring di sebelahnya.

"-seok," panggilnya hampir tidak terdengar. Tangannya terulur untuk menyentuh lengan Hoseok namun terurung ketika suara Taehyung menginterupsinya.

"Bagaimana keadaanmu?"

Yoongi menoleh lalu menggeleng. "Apa yang terjadi?"

"Tidak banyak selain kau hanya terserang demam." Taehyung melangkah mendekat lalu meletakkan punggung tangannya pada kening Yoongi. "Seokjin akan menyeretmu ke rumah sakit kalau panasmu semakin tinggi."

Yoongi terdiam, bahkan ketika Taehyung sudah menarik kembali tangannya dan menyelipkan keduanya ke saku celana panjangnya.

"Kau ingin makan?"

Yoongi menggeleng sebagai jawaban lalu mengalihkan atensinya pada pergerakan yang ada di sofa. Kemudian diiringi dengan erangan kecil sebelum hening menyapa kembali.

"Semuanya kumpul disini. Jadi tidak perlu khawatir menanyakan keberadaan mereka satu persatu."

Taehyung hendak keluar dari kamar saat suara Yoongi menyapa pendengarannya.

"Dimana Hyera?"


Dan disinilah Yoongi berakhir. Setelah mendapat jawaban dari Taehyung soaln Hyera, kakinya segera berlari keluar kamar, menaiki tangga dan masuk ke dalam kamar Hyera.

"Dia terserang demam juga?" tanyanya tanpa minat untuk menoleh ke arah Taehyung yang baru saja memasuki kamar Hyera.

"Begitulah." Taehyung langsung duduk di ujung kaki Hyera yang masih terlelap. "Kalian darimana? Hujan-hujan sampai terserang demam seperti ini."

Yoongi mengernyitkan keningnya. Dia tidak terlalu ingat apa yang terjadi kemarin malam. Dia hanya ingat pulang berjalan kaki sendirian dan ya, menerobos hujan. Tapi tidak dengan Hyera. Ah, perihal kemarin, dia masih terlalu terkejut soal fakta Baekhyun yang selama ini dikenalnya adalah putra dari Byun Seojoon. Hakim yang dulu menjadi orang yang bertanggungjawab atas ketidakadilan orang tuanya.

Taehyung mengamati wajah Yoongi lamat-lamat. Dia tahu, pasti ada yang terjadi pada teman sekelasnya itu. Ditambah lagi, raut wajah Yoongi menampilkan sekilas emosi kekesalan namun segera berganti.

"Aku memang kehujanan di jalan. Soal Hyera," dia melirik Hyera sekilas lalu memejamkan matanya, "aku tidak terlalu ingat."

"Kau terlihat sangat putus asa." Taehyung berucap lalu mengalihkan pandangannya pada Hyera ketika Yoongi menatapnya. "Dia yang mengatakannya padaku. Kau duduk di depan rumah, berucap menyalahkan dirimu berulang kali."

Yoongi terdiam. Sampai akhirnya tubuh pucatnya sedikit tersentak tentang ingatan kemarin malam. Setiap kalimat, setiap detik hujan membasahi tubuhnya dan tarikan Hyera pada tubuhnya. Kemudian matanya beralih pada Hyera.

"Ya, mungkin hampir semua dari kita mengatakan jika anak ini keras kepala dan seenaknya." Taehyung kembali berucap lalu mengedikkan bahunya. "Tapi dia tetap orang yang punya kekhawatiran. Apalagi kau yang sudah dianggapnya sebagai saudara."

Taehyung tidak bohong. Dia sendiri pernah mendengar celotehan bahagia gadis itu saat awal-awal Yoongi tinggal bersamanya. Perasaan senangnya saat Yoongi menjadi temannya di rumah, apalagi saat Paman Kang dan Daniel tidak pulang ke rumah. Hyera bahkan mengatakan Yoongi lebih berharga daripada Daniel, tapi Paman Kang juga sangat berharga. Intinya, Hyera sangat bahagia saat Yoongi tinggal bersama mereka.

"Jadi, pastikan kau tidak memiliki alasan untuk membuatnya khawatir." Taehyung beranjak dari posisinya lalu menatap Yoongi. "Kata-kataku ambigu, 'kan? Entahlah. Aku hanya merasa ada hal yang akan terjadi."

Setelah itu, Yoongi hanya bisa menatap punggung Taehyung yang kian menjauh lalu menghilang di balik pintu.

Aku juga tidak mau.


Hari ini semuanya kembali seperti biasa. Hyera dan Yoongi sudah kembali bersekolah. Terhitung beberapa hari lagi ujian akan menyambut mereka dan kedelapan remaja ini sedang berkumpul di kantin. Sungguh sebuah pemandangan baru bagi seluruh murid-murid karena biasanya hanya beberapa dari mereka yang ke kantin dan itupun hanya membeli beberapa minuman lalu pergi. Sekarang, kedelapan orang itu malah dengan santainya duduk di meja yang berhadapan langsung dengan jendela. Beberapa bungkus snack dan minuman menjadi teman mereka.

"Apa sudah tidak ada surat lagi?"

Hoseok membuka suara. Menatap ketujuh teman sekelasnya satu persatu lalu beralih pada botol minuman yang ada di tangannya.

"Maksudmu, surat apa?" sahut Seokjin yang baru saja melempar sebutir kacang ke mulut Jimin yang duduk di hadapannya.

"Surat permintaan yang dikirimkan kepada kita, tentang kelas Fiapeless." Hoseok menjawab lalu menarik sebungkus keripik kentang yang ada di hadapan Jungkook.

"Ah, aku lupa soal itu." Jungkook bersuara lalu kembali menarik bungkus keripik kentang yang ditarik Hoseok beberapa detik yang lalu. "Tidak adalagi kiriman soal surat permintaan itu lagi. Apa mereka sudah menyerah?"

"Mungkin mereka sudah berpikir tidak akan terungkap." Namjoon menyahut dari balik buku yang sedang dibacanya. "Jadi, kita lihat saja bagaimana semuanya akan berakhir."

"Perlu bukti yang banyak tapi sejujurnya aku tidak ingin meninggalkan kelas itu." Jimin ikut bersuara, menarik gelas Jungkook lalu menyeruputnya.

"Aku juga." Hoseok menjawab.

"Daripada itu, apa kita tidak memikirkan soal ujian yang akan diadakan beberapa hari lagi?!"

Pernyataan Taehyung berhasil mengalihkan perhatian yang lain. Bahkan Namjoon sudah menutup bukunya.

"Soal ujian, aku bingung harus bagaimana. Apa nilai kita akan ditukar lagi?" tanya Seokjin yang sudah menopang dagunya.

Yoongi menyandarkan punggungnya lalu berseru pelan. "Pasti. Inti dari menyingkirkan adalah membuang semua fakta."

"Yoongi benar. Inti dari semuanya adalah menyingkirkan murid beasiswa dan murid berprestasi." Hyera menopang dagunya lalu menatap Hoseok dan Jimin yang sedang berbagi makanan di depannya kemudian beralih pada Jungkook dan Seokjin yang duduk di sisi kanannya. "Ngomong-ngomong, aku semakin lupa soal fakta kita pernah bermasalah."

Semua aktivitas terhenti seolah seseorang baru saja menekan tombol pause. Kini pandangan ketujuh pemuda itu tertuju pada satu-satunya gadis di antara mereka.

"Tapi ini lebih baik daripada harus merasa ada di kutub tiap kali kalian adu pandang." Hyera menegak air mineral miliknya lalu melirik Namjoon yang duduk di sisi kiri dan Taehyung di depannya. "Bahkan mereka sudah berbaikkan. Jungkook dan Seokjin juga, malah menjadi saudara."

"Kau tidak berusaha mengejek kami, 'kan?" seru Jimin yang mendadak jengkel.

Hyera menggeleng. "Senang melihat kalian seperti ini dan tentu saja ada aku yang sungguh sangat menyesali karena sudah tergabung dengan kalian."

"Tsk! Harusnya kau bersyukur di kelilingi orang tampan seperti kami." Jungkook menyahut lalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kantin dimana beberapa pandangan tertuju pada mereka. "Banyak yang ingin ada di posisimu."

"Kenapa kau sangat percaya diri sekali? Banyak bermain dengan Seokjin, ya?" sahut Namjoon yang hanya bisa menggelengkan kepalanya.

"Tapi aku akui ini," suara Taehyung langsung membuat yang lain mengalihkan pandangan pada dirinya, "seperti kotak pandora. Semua orang tahu bagaimana perselisihan kita dan terkejut karena kedekatan kita yang tergolong mendadak."

"Dan itu semua karena satu orang yang sangat keras kepala." Yoongi melempar sebutir kacang ke arah Hyera dan mengundang decak sebal dari gadis itu.

"Bukan keras kepala lagi, Yoon. Kepalanya memang terbuat dari batu." Hoseok menyahut.

"Aku anggap itu ungkapan terima kasih kalian." Hyera mengibaskan tangan kirinya, bertingkah seolah tidak peduli.


Mulai seminggu ke depan, seluruh kelas disibukkan dengan ujian. Perpustakaan juga mulai dipenuhi oleh murid-murid yang mencari materi tambahan atau sekedar mencari tempat untuk sekedar menenangkan diri sebelum menghadapi ujian. Padahal pada hari biasa, perpustakaan hanya akan dikunjungi oleh beberapa murid rajin –baca kutu buku.

Kelas Fiapeless tak luput dari kesibukkan menyiapkan diri untuk ujian. Hampir seluruh dari mereka melakukan kerja kelompok bahkan sepulang sekolah, mereka sekelas akan memutuskan belajar bersama untuk membahas materi yang tidak dipahami. Walikelas mereka –Lee Jungshin bahkan turut membimbing murid-murid kelasnya.

"Ssaem rasa hari ini sudah cukup. Kalian harus istirahat juga untuk persiapan. Ssaem yakin kalian semua bisa." Ucapnya seraya tersenyum sambil memandangi murid-muridnya sampai akhirnya tertuju pada delapan orang yang ada di barisan belakang. "Terutama untuk kalian berdelapan. Kalian selalu kompak tidak hadir karena suatu hal."

"Kami hanya membolos bersama, ssaem." Jimin mengangkat kedua tangannya untuk merenggangkan tubuhnya.

Jungshin hanya tersenyum mendengarnya namun detik berikutnya dia teringat sesuatu. "Perhatian semuanya," ucapnya sambil memukul pelan meja sebanyak tiga kali, "ssaem ingin kalian menganggap ujian kali ini sebagai perjuangan terakhir kalian. Jadi berusahalah semaksimal mungkin. Jangan pikirkan tentang apa yang terjadi ke depannya, hanya fokus saja pada ujian kalian dan ssaem akan membantu kalian sekuat mungkin."

Seluruh murid –tak terkecuali kedelapan yang duduk di barisan belakang langsung merespon dengan anggukan dan senyuman. Keyakinan mereka untuk bertahan di kelas ini sangat kuat karena ujian ini adalah ajang penentu apakah mereka akan bertahan atau tidak. Namun satu hal yang tak mereka ketahui adalah bahwa pihak sekolah sudah menyiapkan kejutan untuk mereka.


Ujian demi ujian sudah terlewati. Beberapa dari mereka –para murid kelas Fiapeless sudah menghela nafas lega. Adapula sebagian dari mereka yang mengulang soal-soal yang mereka ingat. Contohnya kedelapan orang yang saat ini sudah berkumpul di kantin. Bukan makanan atau minuman yang menemani mereka, melainkan lembaran kertas dan alat tulis.

"Kau yakin ini semua soalnya?" tanya Hoseok ragu, kedua tangannya sedang sibuk memegang lembaran kertas yang berisi coretan soal. "Kau, kepalamu itu mesin fotokopi ya?"

Oh, pertanyaan itu tertuju pada Yoongi yang saat ini sedang sibuk menulis soal ujian terakhir yang mereka kerjakan.

"Namjoon saja, walaupun pintar tapi ingatannya tidak setajam itu." Seokjin menyahut, entah pujian atau sindiran sepertinya kalimat itu sama sekali tidak berpengaruh pada Namjoon yang sedang mengerjakan soal lain yang ditulis Yoongi.

"Aku paham dan ingat soalnya, Jin, tapi bukan berarti aku ingat detail soalnya." Namjoon mengklarifikasi saat mengetahui Jimin yang akan angkat bicara.

"Barusaja aku ingin menyindir," gumam Jimin yang lalu menopang dagu dengan kedua tangannya.

"Aku hanya menyalin tujuh puluh persen soal bahasa inggris dan beberapa soal matematika." Hyera menyahut sambil mengeluarkan beberapa lembar kertas dari dalam tasnya.

"Tidak buruk juga. Sisanya kau tidak ingat?" tanya Jungkook sambil mengamati lembar kertas yang baru saja dikeluarkan oleh Hyera.

Hyera menggeleng lalu menopang dagu dengan tangan kirinya untuk menatap Yoongi dan Taehyung yang sedang berdiskusi di sisi kanannya. "Aku hanya malas menulisnya."

"Tsk!" Jungkook mencibir lalu bergumam sebal. "Kau, ya ampun, aku bingung ingin mengatakan apa."

"Setelah ini, apa kalian ada jadwal?"

Ketujuh kepala itu langsung menatap ke satu sumber suara. Kim Taehyung menatap tujuh temannya satu persatu untuk menanti jawaban.

"Kau, kenapa?" tanya Seokjin yang tampak bingung.

"Maksudnya?"

"Menanyakan jadwal kami. Terlalu tiba-tiba." Jimin menambahkan, lengkap dengan ekspresi bingungnya.

Taehyung menghela nafas. Sebenarnya dia tidak terlalu kepikiran tentang bagaimana respon teman-temannya. Namun Taehyung tetap saja akan menyampaikan isi kepalanya walaupun mendapat tatapan aneh dari tujuh orang itu.

"Ingin pergi ke suatu tempat? Maksudku sebagai liburan setelah ujian. Hanya kita berdelapan saja."

"Hmm," Hyera tampak berpikir, begitu juga yang lain walaupun sebelumnya mereka sedikit terkejut tentang ajakan mendadak seorang Kim Taehyung.

"Bagaimana?" tanya Taehyung sambil menatap ketujuh temannya.

"Tidak buruk juga." Jimin menjadi orang pertama yang menjawab. "Sudah lama kita tidak berkumpul."

"Hei, kita sekarang sedang berkumpul. Lengkap, semuanya." Hoseok memukul kepala Jimin dengan lembaran kertas yang ada di tangannya.

Jimin berdecak sebal sebelum melanjutkan kalimatnya. "Maksudku berkumpul diluar. Ya, terakhir hari ulang tahun Hyera. Itupun dua orang yang berakhir mengalami hipotermia karena berenang di sungai." Pernyataan barusan tertuju pada dua orang yang duduk bersebelahan di depannya.

"Ck! Kalimatmu seolah kami akan melakukannya kembali." Hyera berdecak lalu memalingkan wajahnya.

"Jadi, bagaimana?" sahut Taehyung yang tampak ingin mendengarkan kelanjutan dari keputusan teman-temannya.

"Jin, kau ikut tidak?" tanya Jungkook pada Seokjin yang duduk di depannya.

"Sekarang Jungkook tidak pernah menanyakan pendapatku lagi." Jimin merengut, mengeluarkan nada sedih yang dibuat-buat. "Dia lebih sering dengan Seokjin padahal aku kesepian."

"Jim, kita senasib." Hoseok mengelus punggung Jimin lalu ikut dalam drama sedih yang teman sebelahnya buat. "Taehyung juga sekarang lebih sering menghabiskan waktunya dengan Namjoon untuk ke perpustakaan kota."

"Ya sudah, kalian berdua berteman saja. Jadi semuanya punya pasangan." Seokjin menyahut kesal akan drama yang dibuat oleh kedua temannya.

"Jadiiiiii…" Yoongi memotong perdebatan itu. Oh, tangannya sudah berhenti menulis sejak beberapa detik yang lalu. "Kalian ikut atau tidak? Kalau tidak, biar kami berempat yang pergi."

"Hah?"

Keempat kepala itu langsung menoleh ke arah Yoongi, menatap Taehyung lalu beralih pada Hyera dan berakhir pada Namjoon yang sedang tadi hanya berdiam diri.

"Tunggu-tunggu!" Jimin mengacungkan kedua tangannya ke depan. "Kalian sudah merencanakannya?"

"Seminggu yang lalu, sebelum ujian hari pertama." Hyera menjawab dengan santai.

"Dan baru membicarakannya dengan kami?" seru Seokjin yang tampak tidak terima.

Namjoon menutup bukunya lalu menatap Seokjin, "kalau tidak mau, ya sudah."

"Ck! Mereka berempat cocok sekali jika disatukan." Hoseok berkomentar, tepatnya berbisik pada Jimin dan mempeloreh sebuah anggukan sebagai persetujuan pendapat.

"Kapan? Kemana?" tanya Jungkook yang tidak sabar.

"Hanya refreshing di pantai akhir minggu ini. Ayahku sudah menyiapkan penginapan disana." Namjoon menopang dagunya dengan tangan kirinya lalu menatap Jungkook yang duduk paling ujung.

"Menginap?" tanya Jimin.

"Jeju, tiga hari. Ayah Kim bersaudara yang menanggung semuanya." Hyera bersuara sebagai jawaban.

"Heol. Kalian sangat mempersiapkan ini ya?" sahut Hoseok lagi.

"Yoongi dan Taehyung berdebat hampir dua jam hanya untuk memutuskan menginap atau tidak. Namjoon dan ayahnya berdebat hampir seharian hanya untuk memutuskan lokasinya." Hyera ingat, dia dan Yoongi berkunjung ke rumah Kim bersaudara saat pertengahan ujian untuk mengambil bahan materi pada Namjoon. Namun berujung pada perdebatan untuk memutuskan masalah liburan mereka dan berakhir pada keduanya pulang tepat saat matahari terbit.

"Dan kau?"

"Menjadi penonton bayaran. Lumayan, mengisi perut."

"Jadi, keputusannya?" sahut Yoongi.

"Tentu saja ikut." Teriak keempatnya dengan kompak.


Next chapter

"Hanya kalian berdelapan?"

"Panggil mereka! Makanan sudah tiba."

"Yak! Apa yang kau lakukan, huh?"

"Pasti dia tidak pamitan ke Jeju."

"Kalau begitu, kau boleh menganggapku sebagai adikmu."


Gli.