Pulau Jeju, siapapun akan sangat senang berkunjung kesana apalagi free. Semua hal ditanggung langsung oleh Tuan Kim selaku ayah dari Namjoon dan Taehyung. Kendaraan, tiket pesawat, penginapan sampai kegiatan yang akan dilakukan kedelapan remaja itu, semuanya gratis. Bersyukurlah enam remaja itu mengenal kedua temannya sekarang jadi mereka tidak akan kehabisan akal untuk menikmati libur tiga hari yang diberikan sekolah.

Sekarang, kedelapannya sedang berkumpul di rumah Seokjin. Mereka memutuskan untuk menginap disana. Sebenarnya mereka akan berangkat siang hari tapi untuk menghindari kemungkinan-kemungkinan kecil yang bisa saja terjadi –teruntuk pada Namjoon dan Hyera yang sering melupakan sesuatu dan ini akan mempersingkat waktu karena mereka akan berangkat bersama jadi tidak ada kata terlambat atau menunggu.

"Jadi, apalagi yang diperlukan?" tanya Jimin yang sedari tadi sedang mencatat di ruang tengah.

"Jin, ibumu di rumah Paman Jeon ya?" sahut Namjoon yang baru saja menuruni tangga.

Seokjin mengangguk lalu menghela nafas. "Dia ada disana sejak kemarin dan mengatakan akan membantu Jungkook menyiapkan perbekalan untuk ke Jeju tapi tidak membantuku."

"Kau seperti anak kecil saja," cibir Jungkook yang kemudian beranjak dari posisi berbaringnya di sofa. "Lalu apa kabar ayahku yang sibuk mencarikanmu bekal?"

"Ck! Drama saudara yang menyedihkan." Hoseok berkomentar dari arah dapur.

"Yak! Aku dari tadi bertanya!" sahut Jimin. Dia berdecak sebal karena sedari tadi pertanyaannya hanya diabaikan. "Apa ada hal yang diperlukan lagi?"

"Maaf, Jim," ucap Seokjin sambil menepuk Jimin dari belakang, "aku rasa tidak ada. Sisanya kita bisa beli disana."

Jimin menghela nafas lalu menutup buku catatannya dan beranjak dari posisinya. "Aku duluan. Dimana mereka bertiga?"

Jungkook menatap Seokjin yang mengedikkan bahu lalu beralih pada Namjoon dan Hoseok yang berjalan mendekat.

"Aku rasa mereka belum keluar sejak tadi."

Hoseok menghempaskan dirinya ke sofa di depan Jungkook, sedangkan Namjoon memilih duduk di sebelah Jungkook tepatnya di belakang Seokjin.

"Mereka sedang menyelesaikan pekerjaan dari ibunya Seokjin di ruang kerjaku."

Seokjin mendongak ke arah sepupunya. "Kau?"

"Aku mendapatnya sebulan sebelum ujian jadi aku sudah menyelesaikannya sebelum ujian. Katanya mereka mendapatakannya saat ujian dan kalian tahu bagaimana akhirnya." Namjoon mengedikkan bahunya lalu bersandar pada sofa dan memejamkan matanya. "Karena banyak orang yang meragukan kemampuan kami jadi dia meminta untuk menunjukkan kualitas kami. Aku pass dan mereka masih dipertanyakan karena lagu pertama yang mereka selesaikan bukanlah lagu yang benar-benar mereka idekan."

Hoseok mengangguk paham lalu beralih menatap Jimin yang baru saja kembali dari dapur dengan segelas air dan entah sejak kapan pemuda bermarga Park itu menghilang dari sekitar mereka.

"Lalu, Taehyung?" sahut Jungkook.

"Yoongi dan Hyera sedang menantang diri untuk membuat lagu yang tepat untuk pemilik suara bariton milik Taehyung. Jadi mereka tidak akan melepaskan lagu yang satu ini dengan mudah." Namjoon menegakkan tubuhnya ketika merasakan pergerakan di sisi kanannya dan mendapati Jimin yang sudah berbaring di pahanya.

"Ck!" Hoseok menggelengkan kepalanya ketika mengingat tingkat optimis yang ada pada teman perempuannya. Hyera terus berteriak aneh seputar kekesalan pada orang ibunya Seokjin yang meragukan mereka. "Jadi, sudah sampai tahap mana?"

"Terakhir aku lihat mereka mencoba untuk rekaman. Aku rasa sekarang sudah selesai." Namjoon kembali menyandarkan tubuhnya ketika mendapati Jimin yang mendengkur halus dalam hitungan detik.

"Ya sudah," Seokjin beranjak dari posisinya lalu menatap keempat temannya, "istirahatlah. Aku akan tidur duluan." Kemudian melangkah pergi.

"Aku juga." Tambah Jungkook yang ikut beranjak dari sana.

"Aku tidur disini saja." Hoseok merebahkan tubuhnya di sofa, melirik Namjoon dan Jimin sekilas lalu memejamkan matanya.

Sedangkan di ruang kerja Namjoon, ketiga remaja itu sudah terlelap sejak beberapa menit yang lalu. Yoongi yang bertumpu pada meja berbalut kertas, Hyera yang meringkuk di lantai beralaskan karpet dan Taehyung yang tersandar pada kursi di sudut ruangan. Tidak ada suara yang berarti selain deru pemanas ruangan dan dengkuran halus dari mereka bertiga.


Semuanya sudah siap. Dua jam lagi adalah jadwal keberangkatan mereka ke Jeju. Tidak banyak perlengkapan yang mereka bawa. Setiap orang membawa satu ransel berukuran sedang, cukup untuk kebutuhan tiga hari.

"Sudah siap?"

Suara berat Jeon Minsung, ayah Jeon Jungkook mengalihkan atensi kedelapan remaja itu. Oh, dia yang bertanggungjawab untuk mengantar kedua putranya beserta teman-temannya ke bandara.

"Ayah benar-benar akan mengantar kami?" tanya Jungkook yang sudah beranjak dari posisinya.

Minsung hanya mengangguk lalu mengamati teman putranya satu persatu dan terhenti pada Hyera yang sedang menahan nafas.

"Hanya kalian berdelapan?"

Seokjin menarik ranselnya lalu beranjak dari duduknya. "Hanya kami berdelapan."

Tuan Jeon membalikkan badannya dan mendahului langkahnya. "Ayo!"

"Kook, sepertinya ada yang belum terbiasa dengan ayahmu." Jimin menyahut sambil tertawa ketika melihat Hyera yang tampak menghela nafas lega sambil mengelus dadanya.

"Aku malah bersyukur dia memiliki satu orang yang ditakutkan walaupun itu adalah ayahku." Jungkook menjawab, menarik ransel miliknya dan milik Hyera. "Bawakan tas kameranya!"

Hyera tak menjawab. Dia segera mengambil dua tas kamera yang ada di atas meja lalu ikut beranjak.


Perjalanan ke Jeju harusnya tidak memakan waktu lama namun karena delay panjang yang mereka dapatkan saat di bandara, membuat kedelapannya harus tiba di Jeju saat sore hari. Belum lagi perjalanan menuju penginapan yang memakan waktu kurang lebih tiga puluh menit. Ayah Kim bersaudara juga menyiapkan dua mobil yang bisa digunakan oleh teman-teman putranya. Mobil pertama diisi oleh Namjoon, Seokjin, Jungkook dan Hoseok dan sisanya di mobil kedua.

"Ingin mengunjungi suatu tempat?" tanya Seokjin yang tengah menyetir mobil yang memang disediakan oleh pamannya.

"Aku hanya ingin sampai di penginapan." Jungkook menjawab dari kursi belakang.

"Kenapa tidak sekalian cari makan malam?" tanya Namjoon sambil melirik Jungkook yang sudah menguap dari spion.

"Ah, kau benar." Hoseok meregangkan tubuhnya lalu memajukan tubuhnya ke arah depan. "Jadi setelah ini kita istirahat saja."

"Tidak buruk juga." Seokjin mengangguk setuju lalu memfokuskan pandangannya pada jalanan. "Hubungi mereka berempat. Aku tahu satu tempat untuk makan malam yang tepat."


Kedelapannya sepakat untuk makan malam di salah satu restoran pilihan Seokjin. Sebuah restoran keluarga yang berhadapan langsung dengan pantai adalah tempat yang pas bagi kedelapannya untuk mengurangi sedikit rasa lelah mereka. Sambil menunggu pesanan, Yoongi, Jungkook dan Jimin sudah menghilang dari restoran hanya untuk berburu foto pemandangan. Sedangkan yang lainnya memilih untuk berdiam diri di restoran.

"Apa rencana besok?" tanya Hoseok di tengah kesibukkannya bermain ponsel.

"Berbelanja untuk makan kita semua." Seokjin menjawab lalu mengangkat tangannya saat Namjoon hendak mengambil ponselnya. "Mereka bertiga sepakat untuk berburu foto dari pagi sampai sore."

"Lagipula di penginapan, aku yakin kalian tidak akan menyesali pemandangannya." Namjoon ikut berkomentar.

"Awas saja kau berbohong!" Hyera bertingkah seolah akan memukul Namjoon yang duduk di seberangnya.

"Hmm, aku ada satu ide." Hoseok meletakkan ponselnya lalu menatap keempat temannya satu persatu. "Bagaimana kita adakan barbecue?"

"Call!" seru Seokjin dan Hyera bersamaan.

"Panggil mereka! Makanan sudah tiba."

Hari pertama di Jeju berakhir dengan sorak kepuasan karena pemandangan penginapan mereka yang berada di pinggir pantai. Bersamaan dengan desah kelelahan akibat perjalanan panjang yang membuat mereka tiba di penginapan pada malam hari. Akhirnya, malam itu berakhir dengan kedelapannya terlelap di kamar masing-masing.


Pagi pertama di Jeju berawal dengan Yoongi dan Jungkook yang menghilang untuk berburu foto matahari terbit, Hoseok yang pindah lokasi tidur dari kamar ke ruang tengah, Jimin dan Seokjin yang masih bertarung dengan mimpi mereka, Namjoon yang sudah menikmati buku paginya, Taehyung yang memilih berolahraga pagi dan Hyera yang hanya berdiam diri di kamar sejak satu jam yang lalu.

Hyera tidak melepaskan pandangan dari layar ponselnya. Sekali benda itu gelap, dia kembali menyalakanya. Layarnya terus menampilkan beberapa pesan yang membuatnya harus memandangi benda persegi panjang itu beberapa kali.

From : Jangan Dijawab

Ayah dengar dari Daniel, kau pergi ke Jeju bersama teman-temanmu.

Bagaimana liburannya? Apakah menyenangkan?

Sepulang dari Jeju, ayah ingin bertemu denganmu.

"Tsk!"

Hyera terus seperti itu. Membaca pesan yang dikirim oleh seseorang yang menyebut dirinya ayahnya. Bukan, bukan karena Hyera sangat membenci orang itu tapi entah kenapa ayahnya ini tampak seperti berusaha menjalin hubungan baik dengan dirinya secara sepihak.

"Argh!"

Benda persegi panjang itu melayang, menabrak dinding tepat saat pintu kamar terbuka.

"Yak! Apa yang kau lakukan, huh?"

Itu Namjoon. Dia menatap sebal ke arah Hyera lalu beralih pada ponsel yang sudah tergeletak dan memungutnya.

Hyera agak tersentak saat mendengar suara Namjoon lalu menghela nafas sebelum beranjak dari posisinya.

"Maaf, aku sedang kesal."

Namjoon terlihat berusaha menyalakan ponsel itu namun berakhir sia-sia. "Layarnya rusak." Ucapnya seraya meletakkan ponsel tersebut ke atas meja yang berada di samping pintu. "Ayo, makan! Yang lain sudah menunggu."

"Mmm," Hyera hanya bergumam. Mengambil kemeja kotak-kotak berwarna merah lalu menghampiri Namjoon.


"Kenapa tidak membangunkanku, huh?" teriak Jimin pada Jungkook dan Yoongi yang baru saja meletakkan kamera mereka di atas meja. "Bukannya kemarin aku bilang ikut."

"Salahmu sulit dibangunkan." Balas Jungkook yang kemudian berlalu ke dapur. "Jin, ada yang perlu aku bantu?"

"Dia bilang kau terlihat sangat lelah," ucap Yoongi yang kemudian duduk di sofa, "jadi dia tidak ingin mengganggumu. Dia juga sangat lega saat melihat kau tidur dengan nyenyak. Katanya kau tidak pernah tidur senyenyak itu sejak sepuluh tahun yang lalu."

Jimin melunak. Dia bisa melihat punggung Jungkook yang sedang sibuk bertengkar dengan Hoseok di dapur entah karena perihal tidak penting apa.

Yoongi menatap Jimin. Dia ingat setiap detail hal yang dicerikan Jungkook kepadanya. Hampir seluruhnya tentang Park Jimin. Bagaimana khawatirnya pemuda Jeon itu pada sahabatnya, bagaimana Jungkook terus memaksanya untuk tidur walaupun berakhir dengan mengonsumsi obat.

"Ayo, makan!" ajak Taehyung yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Aku disini saja." Hyera menyandarkan tubuhnya lalu menarik bantal sofa dan memeluknya. "Aku sama sekali tidak berminat untuk keluar hari ini."

"Kau memang pemalas." Jungkook ingin memukul kepala gadis itu, sayangnya posisi duduknya cukup jauh dari Hyera.

"Aku juga." Hoseok yang baru saja tiba dari dapur langsung mendudukkan dirinya di samping Jungkook. "Rasanya aku ingin tidur saja hari ini."

"Kalian?" tanya Seokjin pada Jimin, Taehyung dan Namjoon yang duduk bersebelahan. "Pergi kemana?"

"Aku dan Jungkook akan ke pantai." Jimin menjawab lalu melirik Jungkook yang mengangguk.

"Aku akan mengunjungi makam ayah Taehyung, kebetulan kami disini." Namjoon menyahut.

"Jadi, hanya aku dan Yoongi saja yang berbelanja?" tanya Seokjin lagi.

Taehyung mengangguk. "Maaf ya. Padahal Namjoon bisa tinggal tapi dia memaksa ikut."

"Tidak masalah." Yoongi beranjak dari posisinya lalu menatap Seokjin. "Buat daftar belanjaannya. Aku mandi dulu."

Seokjin menghela nafas lalu mengangguk. Setelahnya, Yoongi benar-benar pergi dari sana.


Siang itu, mereka berpencar sesuai rencana. Hanya Hyera dan Hoseok yang berdiam diri di rumah. Hoseok benar-benar menyampaikan niatnya untuk tidur di sofa tanpa peduli pada Hyera yang sedang sibuk bermain rubrik di sofa sebelahnya. Tidak ada kegiatan yang berarti selama beberapa saat sampai akhirnya Hyera memutuskan untuk menyusul Hoseok ke dunia mimpi.

Waktu sudah menunjukkan pukul tiga lebih sepuluh menit sore saat keduanya kembali terbangun. Cukup lama keduanya tertidur sejak pukul sebelas namun keenam teman mereka masih belum kembali. Hyera menjadi orang pertama yang terbangun karena dering ponsel Hoseok di atas meja. Dengan wajah yang masih setengah sadar, Hyera beranjak dari posisinya dan mendekati Hoseok yang masih menutup wajahnya dengan bantal sofa.

"Seok, ponselmu. Ada telepon." Ucapnya sambil menggoyang lengan Hoseok lalu menyingkirkan bantal dari wajah temannya itu. "Hei, sepertinya itu penting."

Hoseok mengeram pelan sebelum akhirnya membuka matanya dan menatap Hyera. "Apa?"

Hyera meraih ponsel tersebut lalu mengarahkan layarnya pada Hoseok. "Ponselmu, ada panggilan dari tadi. Sepertinya penting."

Hoseok beranjak dari posisinya ketika ponselnya kembali berdering, mengamati nama penelpon sebelum akhirnya meraih ponselnya.

Hyera langsung beranjak dari posisinya dan pergi dari sana. Dia tidak terlalu peduli pada percakapan apa yang sedang dibicarakan Hoseok dan penelponnya. Walaupun dia tahu jika penelpon tersebut adalah salah satu dari orang tua Hoseok.

"Pasti dia tidak pamitan ke Jeju."


Seokjin dan Yoongi masih belum menunjukkan wujud mereka bahkan ketika empat lainnya sudah tiba di rumah tiga puluh menit yang lalu. Jungkook dan Jimin sedang sibuk membahas foto yang mereka dapatkan, sedangkan Namjoon dan Taehyung tampak sibuk membicarakan soal keluarga mereka. Beda Hyera dan Hoseok yang memilih untuk bercengkrama di dapur, mencuci peralatan makan yang belum mereka cuci sejak tadi.

"Bagaimana?" tanya Hyera disela membilas piring sebagai cucian terakhirnya lalu menyerahkannya pada Hoseok.

"Bagaimana apanya?"

"Orang tuamu. Mereka masih sering bertengkar?"

"Hmm," Hoseok menatap piring putih yang masih di tangannya lalu menggeleng kemudian menyimpan piring yang sudah dicuci mereka ke rak. "Mereka baik-baik saja. Mereka juga sudah minta maaf padaku karena kejadian hari itu. Ya, walaupun sedikit banyaknya aku jadi menyesal karena membentak mereka. Telepon tadi, mereka memarahiku karena pergi ke Jeju tanpa kabar padahal mereka ingin menyiapkan perbekalan untukku."

Hyera tersenyum tipis lalu membalikkan badannya untuk melihat aktivitas keempat temannya di ruang tengah. "Mereka juga sepertinya baik-baik saja walaupun sepenuhnya tidak aku ketahui tentang mereka tapi kelihatannya mereka baik-baik saja."

Hoseok ikut melihat objek yang saat ini menjadi pengamatan Hyera lalu mengangguk setuju. "Sedikit banyaknya, keterlibatanmu juga mempengaruhi perubahan mereka. Hei, seluruh penjuru sekolah tahu bagaimana perselisihan di antara kami. Hubungan Namjoon dan Taehyung, permusuhan aku dengan Jimin dan Jungkook, hubungan Seokjin dan Jungkook, bahkan Yoongi juga. Kau membuat kami yang selalu menampilkan perang dingin menjadi teman. Awalnya aku pikir semuanya lucu apalagi ketika kau memutuskan untuk menggabungkan kami bertujuh dalam festival, sungguh ide gila."

"Tapi, berkat itu kita semua disini." Hyera melipat kedua tangannya di depan dada. Kedua matanya masih tidak berhenti untuk mengamati setiap pergerakan keempat temannya saat ini. "Setidaknya tidak ada penyesalan karena aku pernah bermasalah di sekolah."

Hoseok menoleh lalu menghela nafas. "Berbicara masalah, aku ingin minta maaf soal kejadian baseball saat tahun pertama."

"Tidak masalah. Justru karena hal ini aku jadi bisa melihatmu meminta maaf padaku sekarang." Hyera menatap Hoseok lalu tertawa kecil.

"Ck! Seketika aku menyesal karena meminta maaf padamu." Hoseok menggelengkan kepalanya, menahan diri untuk tidak kesal pada gadis yang saat ini masih menertawakannya dan keadaan. Namun ada satu ingatan yang terlintas di kepalanya. Sebuah ingatan yang membuatnya dapat melihat sosok Jung Hana, adiknya pada diri Hyera. Soal bagaimana tingkah menyebalkan adik kecilnya itu.

"Kau mengingatkanku pada adikku." Ucapnya seraya menepuk puncak kepala Hyera.

"Kalau begitu, kau boleh menganggapku sebagai adikmu."

"Bagaimana kalau lebih dari itu?" tanya Hoseok seraya tersenyum jahil.

Hyera memiringkan kepalanya. Dia sedang di posisi dimana kepalanya sama sekali tidak memahami maksud dari Hoseok.

"Maksudnya?"

"Lupakan saja!"


Next Chapter

Hei, ada satu orang yang sedang berusaha merajut hubungan baik denganmu disana, Yoon.

"Aku akan memastikan kertas-kertas ini sampai ditujuan yang sebenarnya."

"PARK JIMIN! Kau sudah hampir dikeluarkan dari sekolahmu. Ibu melakukan ini demi kebaikanmu."

"Aku rasa mereka berdua harus tahu soal ini."

"CEPAT MAJU KE DEPAN! JIKA TETAP TIDAK INGIN MAJU, MAKA AKU AKAN MENGELUARKAN KALIAN SEMUA!"