Yoongi dan Seokjin kembali setelah sekian lamanya mereka berpamitan untuk pergi belanja. Awalnya dua dari mereka siap mengajukan protes namun kehadiran Yook Sungjae dan Lee Taeyong menjadi penyelamat bagi dua orang itu.
"Kalian di Jeju?"
Jimin menjadi orang pertama yang mengajukan pertanyaan. Dia menatap Sungjae dan Taeyong secara bergantian sebelum menatap dua temannya yang sudah berlalu dengan belanjaan yang dibawa.
"Kami menjenguk nenek Sungjae." Taeyong menjawab lalu mengamati lima teman sekelasnya. "Rencananya akan kembali besok."
"Lalu, bagaimana kalian berdua bertemu mereka?" sahut Hoseok.
"Aku bertemu mereka di pasar sedang berbelanja. Jadi sekalian saja aku ajak ke rumah karena tidak jauh dari pasar." Sungjae menjawab lalu menatap Seokjin yang kembali membawa nampan yang berisi dua gelas jus jeruk. "Mereka mengajak kami kesini untuk ikut kalian barbecue."
Seokjin meletakkan kedua gelas itu di hadapan Sungjae dan Taeyong lalu duduk di antara Jimin dan Namjoon. "Hitung-hitung sudah memberi bahan makanan."
"Tidak masalah. Makin ramai makin seru." Jungkook berseru semangat.
"Bagaimana pemanggangnya?" tanya Seokjin.
"Namjoon dan Taehyung sudah mengurusnya sejak tadi." Jimin menjawab lalu beranjak dari posisinya. "Aku harus menghubungi Chanyeol-hyung, bisa-bisa dia datang kesini karena tidak ada kabar."
Namjoon ikut beranjak dari posisinya. "Aku juga harus mengurus sesuatu. Santai saja disini."
"Aku juga." Sahut Taehyung sambil beranjak dari posisinya.
"Hanya kalian berdelapan disini?" tanya Taeyong sambil mengamati penjuru rumah yang menjadi tempat penginapan temannya.
Hoseok mengangguk. "Hanya berdelapan tapi rasanya seperti puluhan orang tinggal disini."
"Mana Hyera dan Yoongi?" tanya Sungjae begitu sadar jika dua temannya itu tidak ada disana.
"Ah, mereka menyiapkan daging untuk nanti malam." Seokjin menjawab lalu merebahkan tubuhnya di sofa.
"Aku akan membantu mereka." Taeyong langsung beranjak dari posisinya lalu melangkah menuju dapur.
"Sudah mendapat informasi soal hasil ujian?" tanya Hoseok.
Sungjae menggeleng. "Tapi aku sangat optimis pada hasil kali ini."
"Aku juga. Semoga saja hasilnya tidak ditukar lagi." Seokjin menyahut lalu menguap.
"Ditukar apa?"
"Bodoh." Hoseok mengumpat pelan lalu melempar Seokjin dengan bantal. "Abaikan saja. Sepertinya dia sedikit bodoh karena meneriaki Hyera dan Namjoon setiap hari."
Sungjae hanya mengangguk paham lalu mengalihkan pandangannya. Sedangkan Seokjin, dia beberapa kali memukul mulutnya lalu melirik Hoseok yang berkali-kali mengatainya bodoh.
Taeyong menatap dua temannya yang sedang sibuk bercengkrama dengan daging-daging yang mereka beli. Dia bahkan tersenyum simpul lalu memutuskan untuk mencuci tangannya sebelum menghampiri keduanya.
"Ini akan disimpan kemana?"
Hyera menoleh dan mendapati Taeyong yang sudah berdiri di belakangnya. "Tidak perlu. Biar kami yang melakukannya. Kau duduk saja di ruang tengah, kalau perlu tidur saja sekalian."
"Tidak, tidak." Taeyong menggulung lengan bajunya lalu membantu Yoongi yang sedang memasukkan potongan daging ke dalam tempat. "Aku sudah lama ingin berkumpul seperti ini walaupun hanya dengan teman sekelas."
"Benarkah? Bagaimana dengan pesta setelah festival di rumahku? Kau tidak menikmatinya?"
Taeyong tersenyum simpul lalu menggeleng. "Tentu saja aku menikmatinya. Jujur saja itu pertama kalinya aku berkumpul bersama, selain dengan orang-orang di panti dan keluarga Sungjae."
Hyera menghentikan gerakan tangannya yang memotong daging lalu menatap Taeyong. "Memangnya kau tidak pernah mengikuti seperti ini sebelumnya? Maksudku kumpul dengan teman-temanmu."
"Untuk orang sepertiku yang seluruh hidupnya di panti asuhan, sangat sulit. Bersyukur saja Sungjae mau menerimaku sebagai temannya sampai sekarang. Kau tidak tahu, Hye, mayoritas anak-anak yatim seperti kami dipandang remeh."
"Sorry." Hyera menggigit bibir bawahnya, merasa bersalah atas pernyataannya.
"Bukan masalah. Aku sangat berterima kasih saat kalian mengajak kami untuk ikut barbeque disini." Taeyong tertawa kecil lalu menghela nafas.
"Sejak kapan kau tinggal di panti asuhan?" sahut Yoongi yang sedari tadi hanya terdiam. Dia berpindah untuk membersihkan udang.
"Dari lahir. Hanya nama Lee Taeyong yang aku miliki sampai detik ini." Taeyong menjawab lalu menghentikan sebentar kegiatannya untuk menatap Yoongi dan Hyera secara gantian. "Oh ya, maaf sebelumnya jika aku lancang, soal orang tua kalian. Dari kalian berdelapan, aku sama sekali tidak tahu tentang orang tua kalian. Maksudku, seperti orang tua Hoseok atau Namjoon dan Taehyung."
Hyera tampak berpikir lalu mengedikkan bahunya acuh. "Hmm, aku tidak tahu dimana mereka lagipula aku tidak peduli."
"Orang tuaku sudah meninggal 10 tahun yang lalu." Yoongi menjawab dengan santai, seolah tidak ada yang perlu dia sembunyikan lagi. Lagipula hal itu sudah menjadi cerita lama.
Taeyong mengangguk paham. "Jadi kau tinggal dengan keluargamu sekarang?"
Yoongi tertawa sarkas lalu menghela nafas. "Orang tuaku adalah satu-satunya keluarga yang kumiliki. Jika yang kau maksud keluarga orang tuaku, mereka ada tapi mana mau mengurus anak yatim piatu sepertiku. Hanya menyusahkan."
"Tawamu menyebalkan!" sindir Hyera yang sudah menyelesaikan pekerjaannya. "Selama ini dia tinggal dengan saudaranya Jimin, informasi saja."
"Ah, begitu." Taeyong melakukan pekerjaannya sampai selesai lalu melangkah mundur untuk mengamati punggung Yoongi.
Hei, ada satu orang yang sedang berusaha merajut hubungan baik denganmu disana, Yoon.
Malamnya, kesembilan remaja tersebut sudah melakukan kegiatan barbecue mereka. Semuanya sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing, misalnya Hoseok dan Seokjin yang sedang menyiapkan nasi dan ramyeon di dapur, Yoongi, Jungkook, Taeyong dan Jimin mengurus pemanggangan, Namjoon memilih untuk membaca buku karena tidak banyak membantu, Hyera, Taehyung dan Sungjae bertanggung jawab untuk mengurus minuman mereka.
Canda dan tawa tak luput dari mereka seolah tidak ada hal yang akan terjadi. Bahkan tanpa ragu mereka mentertawakan kebodohan yang mereka buat. Namun, mereka tidak tahu jika di sekolah sangat berbeda. Saat mereka sibuk tertawa disini, para guru mereka sedang sibuk menukar hasil ujian mereka.
"Ini hasil ujian seluruh murid kelas F. Nilai mereka sangat sempurna, bahkan lebih sempurna dari nilai kelas lainnya."
Seo Yeonha, wanita yang selalu memberi tugas yang tidak terkira kepada murid-murid kelas F itu tampak menatap beberapa lembar kertas yang baru saja tergeletak di mejanya selama beberapa saat sebelum akhirnya menatap rekan kerjanya yang akrab dipanggil Gaeun itu.
"Mana nilai yang akan ditukar?"
Yeonha segera membuka lacinya, mengeluarkan beberapa lembar kertas yang berisi daftar nama dan nilai yang ditandai warna merah.
"Nilai asli, serahkan saja pada Junmyeon-ssi untuk dibuang." Ucapnya sambil melirik rekan kerjanya yang ada di belakanya. "Apa kau bisa, Junmyeon-ssi?"
Pria berkacamata dengan nama lengkap Kim Junmyeon itu hanya mengangguk takut. Kepalanya tertunduk.
"Baik, Yeonha-ssaem."
"Baiklah." Yeonha kembali melirik Gaeun yang sudah berkemas untuk pulang. "Aku percayakan semuanya padamu."
Setelahnya, Junmyeon hanya bisa menatap kedua wanita yang ditakutinya itu pergi meninggalkan ruang guru yang hanya meninggalkan dirinya sendiri. Tak ingin berlama-lama, Junmyeon segera meraih tumpukan kertas yang dimaksud oleh kedua wanita tadi. Sebelum benar-benar meraihnya, pria yang berstatus sebagai guru seni itu melepas kacamatanya lalu mengamati sekitarnya. Sekali lagi, memastikan jika dirinya benar-benar hanya sendirian disana.
Dalam hitungan detik, raut wajah lemah yang khas dengan ketakutan itu berubah menjadi sebuah senyum tipis seraya menatap tumpukan kertas yang sudah ada di kedua tangannya.
"Aku akan memastikan kertas-kertas ini sampai ditujuan yang sebenarnya."
Jimin menghempaskan tubuhnya ke sofa tepat kakinya melangkah masuk ke dalam rumah. Tubuhnya cukup lelah karena baru saja tiba dari Jeju. Bahkan Chanyeol sampai memaklumi adiknya itu dan memilih untuk membawakan ransel Jimin ke kamarnya.
"Hyung, apa ada makanan?"
"Ya ampun, Jim," teriak Chanyeol dari lantai atas, "kita baru selesai makan malam setengah jam yang lalu dan kau ingin makan lagi? Yang benar saja?!"
Jimin menepuk-nepuk perutnya. Chanyeol benar, mereka baru saja selesai makan malam tepat ketika mereka pulang dari bandara. Jimin mengeluh lapar sepanjang jalan dan Chanyeol memutuskan untuk singgah ke salah satu restoran di perjalanan mereka. Dan sekarang, Jimin kembali mengeluh lapar.
"Tapi aku masih lapar."
"Makan saja ramyeon. Aku tidak ada di rumah selama kau tidak ada." Ucap Chanyeol yang sudah menuruni tangga.
Jimin langsung beranjak dari posisinya dan menatap Chanyeol yang sudah duduk di seberangnya. "Kau diusir ibu lagi?"
Chanyeol menggeleng. "Bahkan dia tidak membuka mulut. Aku hanya sepi saja tidak ada kau di rumah jadi menyeret Daniel untuk menginap di studio."
"Maafkan aku, hyung." Jimin menundukkan kepalanya, merasa bersalah karena sudah meninggalkan sang kakak sendirian di rumah.
"Hei, santai saja."
Baru saja Jimin akan kembali berbaring saat suara ibunya menginterupsi.
"Park Jimin! Mulai minggu ini kau akan pindah ke sekolahmu yang baru." Nyonya Park mengulurkan beberapa berkas pindah tepat di wajah Jimin. "Sekolahmu yang sekarang lebih baik daripada Creighton."
"Ibu!" protes Jimin yang langsung beranjak dari posisinya. "Aku bilang aku tidak mau pindah sekolah, bu."
"Sampai kapan? Sampai aku dikeluarkan karena repustasimu semakin buruk?"
Jimin diam. Kepalanya tertunduk. Dia tidak suka ibunya seperti ini. Dia ingin ibunya kembali seperti dulu. Menjadi ibu yang terus mendengarkan keluh kesahnya, ibu yang selalu menanyakan kabarnya di sekolah. Dia merindukan sosok ibunya yang menghilang bersamaan dengan kepergian ayahnya.
"Jimin, ibu hanya tidak mau kau dicap buruk oleh sekolah lain hanya karena reputasimu di sekolah lama. Jadi pastikan minggu ini kau sudah memasuki sekolah barumu."
"Aku tidak mau, bu. Tidak akan sampai aku benar-benar tidak bisa sekolah disana lagi. Apa ibu tidak tahu betapa senangnya aku bersama teman-temanku yang sekarang? Oh, aku lupa. Ibu tidak akan pernah tahu apa yang aku lakukan selama ini. Ibu tidak tahu seberapa menyenangkannya kelasku yang sekarang."
"PARK JIMIN! Kau sudah hampir dikeluarkan dari sekolahmu. Ibu melakukan ini demi kebaikanmu."
Jimin tampak tidak mau kalah. Dia ikut bersuara tinggi, tidak peduli jika ibunya akan semakin marah.
"IBU YANG HARUSNYA DENGARKAN AKU!" teriaknya putus asa. "Aku kesepian karena ibu terus mengurus pekerjaan ibu. Aku merasa semakin kosong apalagi setelah Chanyeol-hyung pergi. Aku hanya punya dua teman yang berarti, Jungkook dan dance. Hanya itu yang bisa mengalihkan betapa kecewanya aku pada kalian."
"Sekarang aku mendapat banyak teman baru. Sekarang Chanyeol-hyung sudah kembali. Aku sudah senang. Rasanya kebahagiaanku sudah ada di tangan. Aku tidak perlu khawatir hal lainnya. Tapi, melihat ibu yang semakin dingin, aku rasa kebagiaanku masih belum sempurna. Ibu semakin jauh tanpa tahu jika aku selama sepuluh tahun ini terpuruk. Aku~"
Tangan Chanyeol langsung menyentuh pundak Jimin, membuat adik kesayangannya itu segera menghentikan kalimatnya.
"Kau istirahat saja, Jim. Kau pasti lelah."
"Ini semua gara-gara kau!"
Nyonya Park langsung menunjuk wajah Chanyeol, tidak peduli jika anak tirinya itu tersentak karena suara dan tindakannya.
"Jika bukan karena kau, Jimin pasti tidak akan seperti ini!"
"IBU!"
"Maaf, nyonya. Aku rasa kau memerlukan sebuah cermin untuk mengetahui soal dirimu sendiri." Chanyeol berucap dingin. Tangan kanannya beralih untuk mengacak rambut Jimin dengan lembut. "Apa kau tahu selama ini Jimin menderita? Apa kau tahu selama ini Jimin tidak bisa tidur? Apa kau tahu selama ini Jimin mengonsumsi obat tidur hanya untuk membuatnya terlelap? Atau kau baru tahu sekarang?"
"Jimin~"
"Jangan berkata seolah kau yang paling tersakiti disini, nyonya. Apa kau tahu jika Jimin bermasalah hanya untuk mendapatkan perhatianmu? Tapi apa yang dia dapat? Sikap dinginmu dengan berkata kau sibuk mengurus perusahaan ayahku? Apa kau lupa jika kau memiliki satu putra yang membutuhkan perhatianmu?"
"Hyung~"
"Aku marah pada diriku sendiri. Harusnya aku tidak pernah mendengarkan ucapanmu untuk pergi dari rumah ini dan membuat Jimin menderita. Harusnya aku tidak meninggalkan Jimin. Harusnya aku bisa meyakinkan diriku jika Jimin sangat membutuhkanku. Jimin menderita, aku menyesal, dan kau? Tidak ada permintaan maaf? Pada putramu ini?"
Jimin mengepalkan kedua tangannya lalu menatap sang ibu yang tengah berkaca-kaca. "Aku tidak akan pindah sekolah. Selamat malam!"
Setelahnya, Jimin memutuskan untuk pergi. Meninggalkan Chanyeol dan sang ibu di ruang tengah, sedang bertarung dengan pikiran mereka.
Minho langsung melangkahkan kakinya menuju pintu apartemennya ketika mendengar suara bel. Bahkan kemejanya belum sempat terkancing ketika bel anarkis itu semakin terdengar. Saat pintu terbuka, tidak ada siapapun disana. Pria itu mendesah kesal dan hendak kembali menutup pintu apartemennya saat matanya menangkap sebuah paket di lantai.
"Apa ini?"
Kepalanya menatap sekitar untuk mencari sosok menyebalkan yang menekan bel apartemennya dengan anarkis dan mendapati paket. Tanpa pikir panjang, kedua tangannya bergerak untuk mengambil paket tersebut lalu membawanya masuk.
"Tidak mungkinkan Joonhyuk-ssaem mengirimnya?"
Matanya sibuk menelisik paket tersebut, mencari jejak pengirimnya lalu menutup pintu.
Begitu sampai di ruang makannya, kedua tangan Minho langsung bergerak untuk membuka paket tersebut dan mendapati kotak berwarna putih dengan lembaran kertas di dalamnya. Saat yang sama, sebuah catatan kecil muncul di antara lembaran kertas.
Ini hasil ujian kemarin. Mereka menukarnya lagi seperti tahun lalu. Aku percayakan ini pada kalian dan pastikan melakukan pengungkapan tepat di hari pengumuman di aula. Salam, kepala yayasan.
"Hasil ujian? Kepala yayasan?"
Minho langsung mengambil salah satu lembaran kertas di dalam kotak lalu membacanya. Keningnya mengernyit lalu beralih pada kertas lainnya hanya untuk memastikan apa yang dilihatnya tidak salah.
"Aku rasa mereka berdua harus tahu soal ini."
Liburan sudah berakhir dua hari yang lalu dan kini semuanya kembali memasuki bangunan yang bernama sekolah. Tidak banyak perbedaan yang terjadi. Seluruh murid –yang bukan kelas F tampak sibuk tertawa, bercanda atau berbisik ketika mendapati satu atau dua murid kelas F yang memasuki areal sekolah. Ya, seperti biasa atau malah kelewat biasa.
Bisikan-bisikan nyaring kian memenuhi antreo sekolah saat dua mobil dan dua motor memasuki halaman sekolah. Siapapun pasti kenal empat kendaraan yang digunakan oleh para murid seperti mereka. Mobil merah yang biasa dikendarai Seokjin bersama Namjoon kini tak hanya digunakan oleh mereka berdua, melainkan bersama dua orang lainnya. Taehyung dan Jungkook. Sedangkan mobil hitam yang tak luput dari perhatian adalah dua orang yang kini keluar dengan sedikit cekcok kecil. Kemudian beralih pada dua motor yang terparkir bersebelahan, dimana Jimin tampak masih tertawa dengan Hoseok.
Pemandangan yang selalu tertangkap mata seluruh murid SMA Creighton ini masih menimbulkan tatapan kebingungan bagi sebagian besar murid. Hei, melihat kedelapan orang yang dulu bermasalah itu menjadi teman dekat bahkan ada yang menjadi saudara tetap saja menimbulkan teka-teki tersendiri. Bagaimana mereka bisa seakrab ini? Atau apa yang membuat mereka sedekat ini? Parahnya, bagaimana Hyera bisa menjadi salah satu dari delapan orang itu?
"Apa ada yang salah dengan penampilan kita?"
Namjoon melirik ke arah Hoseok yang sudah berdiri di belakangnya lalu menyahut, "apa maksudmu?"
Hoseok mengernyitkan keningnya lalu menatap puluhan murid yang sedang menatap mereka. "Lihatlah! Mereka melihat ke arah kita seolah baru saja ada alien yang tiba disini."
"Mereka hanya terpukau oleh penampilan kita." Seokjin menyahut seraya menutup pintu mobilnya. "Seraya orang tertampan ada bersama kalian."
"Ck! Kenapa saudaramu itu sangat percaya diri?" tanya Jimin seraya menyikut Jungkook.
"Mereka masih belum terbiasa melihat kita bersama." Taehyung menyahut lalu mendahului langkahnya untuk menghampiri Hyera dan Yoongi yang baru saja keluar dari mobil mereka.
"Kita bersama? Kita berdelapan?" tanya Hoseok sambil menunjuk dirinya.
"Kita berdelapan," timpal Jungkook yang memilih untuk merangkul Jimin, "ayo! Hari ini pengumuman hasil ujian."
"Ah, benar juga." Seokjin langsung berlari memasuki gedung, disusul Hoseok. "Aku yakin akan menghancurkan sekolah dengan nilaiku!"
Teriakan percaya diri Seokjin berubah seketika, bersamaan dengan raut kecewa dari enam belas teman mereka yang berada di kelas. Satu persatu memalingkan wajahnya. Bahkan beberapa siswi ada yang menangis.
"Kenapa?"
Namjoon menjadi orang pertama yang mengajukan pertanyaan kepada Sungjae.
"Seluruh kelas F, kita semua tidak lulus ujian kemarin."
"APA?"
Jimin, Hoseok dan Seokjin adalah tiga serangkai yang berteriak. Ketiganya langsung merampas selembar kertas yang terpajang di papan tulis kelas mereka.
"Hasil ini pasti salah." Hoseok meremas kertas tersebut lalu menatap seluruh teman sekelasnya. "Mereka pasti melakukannya lagi. Pasti!"
"Jung Hoseok!"
"Melakukan apa, Seok?"
Hoseok menatap Hyera yang meneriaki namanya lalu beralih pada Hyuna yang bertanya disusul tatapan bingung dari teman-temannya yang lain. Perasaannya sedang tidak baik apalagi ketika melihat namanya berada dalam sepuluh murid dengan nilai terendah di daftar tersebut. Dia ingin meneriaki kecurangan yang dilakukan sekolah kepada mereka namun matanya terus menatap Hyera yang terus menggelengkan kepalanya.
"Anak-anak," suara Jungshin menginterupsi pandangan mereka. Pria yang berstatus sebagai walikelas F itu sudah berdiri di depan pintu kelas sambil menatap iba seluruh anak muridnya, "berkumpullah di aula sekarang. Kepala sekolah ingin membicarakan sesuatu kepada seluruh murid."
"Pertama, selaku kepala sekola, aku ingin mengucapkan selamat kepada Baek Seojung karena berhasil mempertahankan peringkatnya."
Oh Handong, pria botak itu berdiri di atas panggung seraya menatap murid kebanggaannya yang berada di baris depan. Matanya beralih pada murid kelas F yang berada di barisan paling ujung.
"Dan, aku kecewa karena kelas F sama sekali tidak bisa berkembang seperti yang diharapkan. Padahal aku sangat berharap banyak pada mereka. Sungguh aku sangat kecewa sekali karena harus mempertahankan kalian seperti ini."
Nada sedih yang terkesan dibuat-buat itu bahkan mengundang tatapan menjengkelkan bagi seluruh murid yang ada. Mereka menatap, berbisik seolah kelas F benar-benar kelas tanpa harapan. Sedangkan murid kelas F, sebisa mungkin untuk menyembunyikan kesedihan mereka dengan kepala yang tertunduk.
"Memalukan. Harusnya mereka pergi saja dari sekolah ini."
"Tidak berguna."
"Keluarkan saja murid yang tidak tahu malu seperti mereka."
Di belakang barisan, dimana seorang pria tua dengan setelan hitam rapi sedang tersenyum tipis. Matanya melirik pria yang lebih muda yang berdiri sedikit di belakangnya.
"Mereka sudah ada diluar?"
Pria yang lebih muda mengangguk lalu membungkukkan badannya. "Semua telah dilakukan sesuai rencana."
Kepala sekolah sudah mengubah topik tentang betapa bangganya dia kepada murid-murid yang berada di peringkat tertinggi. Senyum arogan jelas tercetak di wajahnya bersamaan dengan sorak gembira dari murid-murid yang bangga pada diri mereka. Berbanding terbalik dengan seluruh murid kelas F yang tampak sudah tidak berminat untuk mendengarkan pidato pujian itu. Oh, tidak hanya murid kelas F tapi ada beberapa murid yang sedikit beruntung namun tetap saja menyedihkan. Beruntung dalam artian nama mereka berada di atas murid kelas F. Sedangkan kata menyedihkan itu berarti jika seluruh murid kelas F dikeluarkan berarti mereka akan berada di peringkat paling bawah.
Cukup lama kepala sekolah menyampaikan kalimat-kalimat pujian dan bangganya. Seolah melupakan sosok paling tinggi dari dirinya yang berada di aula dan melupakan jika kelas F tidak harusnya dikucilkan sebagai murid.
Detik waktu terus berganti sampai kata-kata penutup dan diakhiri dengan tepukan tangan meriah. Namun, pak tua bernama Oh Handong itu tampak enggan berpindah dari panggung dan memilih untuk menatap remeh dua guru yang berada di sisi kanan panggung bersama guru-guru lainnya.
Sedangkan Lee Jungshin dan Nam Joonhyuk, dua guru yang diamati oleh sang kepala sekolah hanya terdiam seraya membalas tatapan itu. Mereka sepakat, hari itu adalah hari terakhir mereka untuk mengakhiri ketidakadilan bagi seluruh murid kelas F.
Tiba-tiba saja lampu proyektor menyala tepat di wajah si kepala sekolah dan berhasil membuat pak tua itu melangkah ke samping untuk menghindari silaunya cahaya proyektor. Dia mengajukan protes kepada siapa saja yang menyalakan proyektor dan menyuruh guru kepercayaannya untuk memeriksa ruang dimana proyektor berada.
"Cepat matikan benda ini dan bawa siapapun yang menyalakannya!"
Hal pertama yang muncul dari proyektor adalah sebuah kalimat yang bisa disebut sebagai judul dengan latar foto SMA Creighton dan yang lebih mengejutkan adalah sebuah kalimat kecil di sudut kiri layar.
SEBUAH FAKTA DIBALIK KETIDAKADILAN YANG DITERIMA OLEH KAMI
FROM : ALL STUDENTS OF FIAPELESS CLASS
Hampir seluruh penghuni sekolah langsung memberikan tatapan mengintimidasi kepada mereka yang berada di barisan kelas F. Mereka kembali berbisik, menghina dan memaki kelas F yang sendiri tampak bingung dengan apa yang ditampilkan di layar.
"SIAPAPUN YANG MELAKUKAN HAL INI, SILAHKAN MAJU KE DEPAN!"
Oh Handong menatap kelas F marah. Nadanya bahkan meninggi dan berhasil mengundang keterkejutan bagi seluruh murid.
Seluruh murid Fiapeless Class saling bertatapan. Saling bertanya soal siapa yang berani membuat kerusuhan seperti ini melalui tatapan mereka.
"CEPAT MAJU KE DEPAN! JIKA TETAP TIDAK INGIN MAJU, MAKA AKU AKAN MENGELUARKAN KALIAN SEMUA!"
Satu orang dibaris kelas F paling belakang mulai melangkah maju. Tidak ada ketakutan dari pemilik kaki yang berbalut sepatu snickers putih itu. Bahkan bibirnya tersenyum seolah yang akan dihadapinya hanyalah sebuah pertunjukan badut.
"Apa maksudnya?"
"Kenapa dia harus membuat masalah disaat seperti ini?"
"Seseorang tolong hentikan dia!"
"Kang Hyera?!"
Dia, Kang Hyera hanya menoleh ke arah Taeyong yang menyebut namanya. Senyum itu sama sekali tidak luntur.
"Aku sudah menduga jika kau adalah pelakunya. Bagus jika kau menyerahkan diri jadi aku masih akan memberi kesempatan kepada teman-temanmu yang lain."
"Ck! Oi, Pak Tua!" Hyera menghentikan langkahnya tepat di depan panggung, kepalanya mendongak angkuh ke arah sang kepala sekolah. "Tidak ada satupun dari kami yang akan keluar dari sekolah ini. Oh, tapi tidak berlaku untukmu dan seluruh pengikut setiamu. Hari ini akan menjadi hari terakhir kalian disini."
Layar berubah, menampilkan sebuah video yang mereka yakini adalah ruang kepala sekolah. Detik berlalu, video menampilkan sebuah adegan dimana seorang wanita berpenampilan mewah memasuki ruang kepala sekolah, tampak berbicara dengan Pak Tua itu. Mereka terlihat tertawa sampai sebuah amplop dikeluarkan wanita itu dan menyerahkannya kepada si kepala sekolah. Wanita itu pergi.
Video berubah namun masih menampilkan ruangan yang sama. Kali ini seorang pria menyerahkan sebuah amplop kepada si kepala sekolah, kemudian beralih pada seorang wanita. Singkatnya, video itu menunjukkan beberapa orang tua murid yang menyerahkan amplop berisi uang kepada sang kepala sekolah.
Hyera membalikkan badannya lalu menatap murid kelas lain yang ada disana. "Beberapa dari kalian pasti mengenal siapa saja orang-orang yang menyerahkan amplop uang itu kepada Pak Tua. Oh, atau aku perlu katakan mereka adalah orang tua salah satu di antara kalian?!"
Mata Hyera beralih pada sosok Seojung yang berada tepat di hadapannya. Gadis itu tampak memasang wajah marah kepada Hyera.
"Bagaimana kau yakin itu isinya uang? Hah, paling ini hanya salah satu permainanmu!" sahut salah satu di antara kerumunan murid kelas A sampai E. Hyera sendiri tidak yakin dan tidak peduli siapa pemilik suara itu.
"Lihat saja. Ini belum berakhir."
Layar gelap selama beberapa saat lalu menampilkan sebuah video jelas meja si kepala sekolah. Pria tua itu sedang tersenyum sambil menatap amplop yang tersusun di atas mejanya. Satu persatu tangannya bergerak untuk membuka amplop dan mengeluarkan sejumlah uang dari sana.
"Oh, aku sangat menyukai pekerjaan ini." Suara itu dari kepala sekolah yang ada di video. Matanya tampak berbinar begitu mendapati sejumlah uang disana.
"I..itu hanya editan!" sergah si kepala sekolah.
"Aku tidak yakin." Hyera menyahut lalu membalikkan badannya untuk menatap si kepala sekolah. Detik berikutnya beralih pada layar yang sudah berubah menampilkan daftar sejumlah nama. "Ini, hmm, bagaimana ya aku menjelaskannya? Ini daftar guru yang terlibat dengan penggelapan dana. Dari puluhan guru hanya tiga nama yang tidak ada disana karena mereka akan dikeluarkan bersama murid kelas F." Matanya kembali beralih pada dua guru yang sedang tersenyum ke arahnya lalu bergeser pada satu guru berkacamata yang pernah menjadi guru kelas tambahannya saat tahun pertama.
"Jangan terkejut! Belum berakhir."
Kini layar menampilkan daftar nilai murid kelas F saat tahun pertama. Nilai yang membuktikan jika dulu, mereka merupakan murid terbaik di sekolah.
"Aku merindukan daftar itu tapi sepertinya banyak guru yang dibutakan."
Layar kembali berganti dengan daftar nilai murid kelas F yang membuat mereka harus berada di kelas tanpa harapan itu. Di sampingnya, ada nilai yang menunjukkan jika kelas F merupakan pemilik nilai tertinggi di sekolah.
"Sebelah kiri adalah hasil kerja keras para pengikut Oh Handong dan kanan adalah hasil kerja keras kami. Lihat perbedaannya!" Hyera meninggikan suaranya. Telunjuknya terarah tepat di wajah Seojung. "Lihat dan sadari dimana kau berada, sialan! Namamu bahkan tidak ada di daftar seratus murid terbaik. Kau! Kau! Kau juga! Dan kau! Serta kalian yang merasa nilai kalian lebih baik! Bahkan nilai asli Kim Namjoon lebih baik dari nilaimu, Baek Seojung!"
"Permainan kotor yang dilakukan oleh orang tua kalian. Apa kalian tidak sadar? Kalian pikir nilai ujian kalian baik? Lihat baik-baik!" telunjuknya beralih pada layar yang masih menampilkan hal yang sama. "Perbandingan nilai kelas kami sangat jauh daripada nilai kalian yang ada di kelas A."
Layar berganti. Kali ini hasil ujian mereka yang baru saja berakhir beberapa minggu yang lalu.
"See? Ini bukan manipulasi. Kami mempunyai bukti fisik yang sudah diserahkan kepada polisi jadi jangan ragukan keasliannya." Hyera tersenyum, menatap teman-teman kelasnya lalu mengedipkan mata kanannya. "Aku berterima kasih kepada orang yang sudah mengirim bukti aslinya kepada Minho-sunbaenim. Berkat dia, kami mendapat hasil aslinya. Bagaimana menurutmu, Oh Handong-ssi?"
Oh Handong menatap barisan guru, dimana guru-guru yang menjadi pengikutnya tampak gelisah. "Gaeun-ssi!"
"Aku menyerahkannya kepada Junmyeon-seongsaengnim." Tuding wanita itu pada Kim Junmyeon yang sedang tersenyum di sampingnya.
Kim Junmyeon tersenyum lalu membuka kacamatanya. "Aku sudah melakukan tugasku dengan baik. Terima kasih, Jungshin-ssi dan Joonhyuk-ssi. Berkat bukti tambahan kalian, aku bisa membantu kepala yayasan untuk mengungkapkan hal ini. Hyera-ssi juga. Oh, Minhoo-ssi!" ucapnya yang lalu melambaikan tangan ke arah pemuda yang sedang berdiri di lantai dua, duduk santai di bangku penonton.
"Kepala yayasan?"
Mata sang kepala sekolah beralih pada si kepala yayasan yang sudah tersenyum lalu membalikkan badannya, bersamaan dengan puluhan polisi yang sudah menerobos masuk dan mengerumuni setiap sisi panggung sambil mengacungkan senjata mereka.
"Lee Jungshin-ssi, untuk sementara keputusan sekolah ini kepala yayasan serahkan kepadamu. Dan juga, untuk daftar orang tua murid yang terlibat, serahkan kepada kami. Terima kasih."
Itu asisten si kepala yayasan. Pria muda dengan kacamata itu membungkukkan badannya lalu segera menyusul kepala yayasan yang sudah keluar dari ruangan.
Next chapter
"Kau sangat menyukai kopi ya?"
"Apa ayah mengenal Lee Nayoung?"
"Bagaimana hari libur kalian?"
"Jadi singkirkan Min Yoongi apapun caranya! Aku sudah tidak tahan untuk menyingkirkannya dari dulu."
"Bagaimana dengan gadis ini? Apa kau tidak ingin menyingkirkannya?"
