Hari itu berakhir dengan dibubarkannya sekolah selama beberapa hari karena kekurangan tenaga pengajar. Kepala yayasan juga sudah memberikan penjelasannya kepada pihak media massa atas keterlibatan puluhan guru SMA Creighton atas penggelapan dana dan diskriminasi kepada murid.

Oh, tidak jauh berbeda dengan Hyera yang beberapa hari ini diteror oleh teman-teman sekolahnya perkara kejadian di sekolah kemarin. Bahkan mereka tidak segan untuk mengunjungi rumah gadis itu hanya untuk menuntut penjelasan. Walaupun sebagian kecil sudah dijelaskan oleh ketujuh temannya. Hanya sekedar fakta yang mereka dapatkan, tidak dengan kekacauan di aula.

"Jadi, bisa jelaskan detailnya?"

Hyera mendengus sebal lalu menatap Hoseok yang tidak berhenti memberinya tatapan mengintimidasi walaupun berakhir tidak mempan.

"Kami juga penasaran." Seokjin tak mau ketinggalan.

"Ceritanya sangat panjang tapi aku ringkas saja." Hyera menyerah. Dia sudah lelah karena diteror oleh ketujuh temannya ini dan menanyakan perihal yang sama.

"Siapa yang mengirim semua ini?" tanya Jungshin seraya menatap tumpukan kertas hasil ujian yang baru diterima Minho beberapa hari yang lalu.

Minho baru saja keluar dari salah satu ruangan dengan segelas kopi di tangan kanannya. "Oh, itu. Seseorang mengirimnya. Sepertinya dia dari pihak sekolah yang bekerjasama dengan pihak yayasan."

"Pihak yayasan?" tanya Jungshin sedikit ragu.

Minho mengangguk, melangkah menuju notebook-nya lalu mengetik sesuatu sampai sebuah profil muncul dan menunjukkannya kepada Jungshin. "Kim Junmyeon, guru bahasa Inggris ini salah satu suruhan kepala yayasan yang ditunjuk untuk menyelidiki sekolah kalian."

"Jadi, selama ini kepala yayasan sudah tahu? Kenapa dia tidak bertindak?"

"Gegabah sama saja kehancuran untuk rencana." Minho menutup notebook-nya lalu menatap Jungshin yang masih pada ekspresi tak mengertinya. "Aku juga baru tahu jika kepala yayasan terlibat. Dia mengetahui pergerakan kita selama beberapa minggu terakhir." Dia sudah berpindah posisi untuk duduk di depan komputer yang menyala, mengabaikan Jungshin yang masih menatap lembaran kertas hasil ujian muridnya.

"Kita harus menyelesaikan ini." Jungshin mengepalkan tangannya lalu memukulkannya pada sebuah buku tebal.

"Rasanya tidak seru hanya kita yang terlibat." Minho berseru sambil mengamati video-video yang berasal dari rekaman yang dipasang Joonhyuk. "Ingin libatkan salah satu dari murid kelas F?"

Tanpa pikir panjang, Jungshin langsung melempar mantan muridnya itu dengan sebuah buku tebal dan mengenai tepat kepala pemuda itu.

"Jangan melibatkan muridku, sialan!"

"Tapi, sepertinya itu ide yang bagus." Sahut Joonhyuk yang baru saja memasuki ruangan. "Paling tidak kita butuh satu orang untuk menjelaskan situasi ini kepada seluruh murid kelas F."

"Sudah kukatakan, aku akan melakukannya." Jungshin menatap tajam Joonhyuk yang hanya menghirup segelas kopinya. "Jangan libatkan mereka!"

"Kalau begitu, punya rekomendasi?" tanya Joonhyuk pada Minho, mengabaikan larangan dari rekannya.

"Tipikal keras kepala dan sangat membenci Pak Tua itu. Aku merekomendasikan delapan nama." Minho menyahut seraya menghentikan kegiatannya lalu menatap Joonhyuk. "Dari delapan nama, aku dapat satu nama yang pas. Keras kepala seperti Jungshin-hyung."

"Oh, sepertinya otak kita satu. Aku juga memikirkan satu nama." Joonhyuk menyahut dengan semangat.

"Sialan! Sudah kukatakan jangan melibatkan mereka." Jungshin memekik marah, merasa terkhianati oleh rekannya.

"Benarkah? Jangan katakan yang kau pikirkan adalah Kang Hyera?" tanya Minho, menyebut nama yang terlintas di kepalanya.

"Oh, benar. Dia orang yang sangat tepat." Joonhyuk langsung merangkul Minho. Keduanya benar-benar mengabaikan Jungshin yang sedang menyumpahi mereka.

"Kalau begitu, kita tinggal menghubunginya saja." Minho tertawa kecil lalu menatap Jungshin yang sudah berhenti menyumpahi mereka. "Baiklah. Jungshin-hyung, Hyera akan menjadi narator kita. Jadi aksi kita cukup sampai persiapan."

"Ck! Jika anak itu kenapa-kenapa, aku bersumpah akan membunuh kalian berdua." Jungshin menyalak geram.

"Haha," Joonhyuk tertawa ringan lalu menatap Jungshin yang sudah bersiap melempar mereka dengan notebook milik Minho. "Hei, disana banyak bukti kita. Jangan biarkan benda itu lecet."

"Ah, sial." Umpat Jungshin yang lalu dibalas oleh kekehan kecil dari Minho dan Joonhyuk.

"Baiklah, Minho-ssi. Aku rasa kau tahu aku tidak suka berhadapan dengan apapun yang berhubungan dengan hal basa-basi darimu."

Minho hanya bisa tertawa melihat sungutan sebal yang keluar dari mulut gadis di hadapannya ini. Dia bahkan gemas untuk tidak mencubiti pipi gadis yang sudah dikenalnya itu.

"Hold on!" ucapnya seraya menggapai secangkir kopi yang ada di hadapannya. "Bagaimana perjalanan kalian ke Jeju? Aku sempat mendengar cerita kalian sedang liburan."

"Minho, aku sudah mengatakan dari awal, bukan?"

"Baiklah, baiklah." Minho menyeruput kopinya lalu kembali menatap gadis yang duduk di hadapannya itu. "Aku langsung tutup poin saja. Hyera, jadilah narator untuk hari pengungkapan nanti."

"Pengungkapan apa? Pengungkapan jika kau resmi menjadi pengacara?" sahut Hyera yang mendengus sebal. Dia sungguh sangat tidak suka dengan Minho, karena tingkah Minho yang memang menyebalkan.

"Hei, hei. Ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan peresmian atau hakim apalagi pengacara." Minho menggeleng lalu menopang dagunya dengan tangan kiri. "Ini tentang kelas kalian. Fiapeless Class."

Hyera memincingkan matanya. Sedikit sensitif jika ada orang lain menyebut nama kelasnya. Bukannya apa, kelas mereka diperkenalkan dengan hal-hal yang bereputasi buruk.

"Ingin menyelamatkan kelasmu? Atau menyingkirkan guru-guru sialan yang tak menghargai kalian? Atau mereka yang menatap kalian dengan rendah? Atau melakukan semuanya dengan satu cara? Bagaimana?"

"Aku tidak mengerti maksudmu, Minho." Hyera memalingkan wajahnya, dia sangat malas berhadapan dengan Minho jujur dari hati yang paling dalam.

"Ayolah! Kalian mendapatkan surat-surat permintaan dan beberapa bukti, 'kan?" tanya Minho seraya menatap Hyera yang sudah menatapnya. "Tatapan itu berkata ya. Jadi, bagaimana? Mau bergabung? Bukan aku sendiri. Joonhyuk-seongsaengnim dan Jungshin-seongsaengnim juga ikut."

"Singkatnya, begitulah cerita bagaimana aku direkrut oleh mereka dan menjadi narator di hari pengumuman." Hyera mengakhiri ceritanya dengan meraih sebotol air mineral yang ada di depannya lalu meneguknya.

"Jadi mereka yang mengirim surat permintaan bertahan itu?" sahut Jungkook disela kegiatan memakannya.

"Well, yeah. Mereka hanya ingin kita sekedar tahu dan tidak ingin kita menyerah begitu saja. Faktanya kita bersikeras untuk bertahan di kelas itu."

"Aku tidak terlalu terkejut saat dia maju ke depan." Jimin menyahut lalu menyeruput minumannya. Kedua matanya tertuju pada televisi yang sedang menampilkan berita seputar kasus sekolah mereka.

"Anak itu memang penuh kejutan jadi aku tidak terlalu terkejut." Hoseok menimpali sambil menggerakkan tangan kanannya untuk mengambil camilan yang berada di tengah mereka. "Ayahku bilang seluruh murid kelas D, E dan F, tidak ada orang tua murid yang terlibat."

"Ayahmu tahu darimana?" sahut Seokjin penasaran.

"Ayahku pengacara. Dia salah satu orang yang menangani masalah ini." Jawab Hoseok lalu menyeruput minumannya seraya melirik Yoongi yang menatapnya seolah terkejut. "Kau kenapa?"

"Ayahmu pengacara?" tanya Yoongi, seolah ingin memastikan jika pendengarannya tidak salah.

Hoseok mengangguk. "Dia pengacara yang cukup terkenal dan aku bukan ingin melebihkannya tapi dia memang terkenal."

Apa ayahnya mengenal pria itu?

"Oh ya, aku harus pergi." Namjoon menyahut secara tiba-tiba. Pemuda itu terlalu sibuk dengan ponselnya sampai tidak terlalu peduli pada percakapan teman-temannya. "Tae, kau pulang dengan Seokjin, ya?! Aku harus ke kantor ayah untuk membantunya menyusun berkas."

Merasa terpanggil, Seokjin langsung menatap Taehyung yang sedari terdiam karena tidur. "Aku akan mengantarnya pulang, tenang saja. Pergilah!"

Namjoon beranjak dari posisinya lalu menatap teman-temannya dan berakhir pada Taehyung. "Dia marathon Run! BTS kemarin malam. Aku pergi!"

"Hati-hati, Namjoonie!" Hyera berteriak sambil melambaikan kedua tangannya dan berhadiah tatapan jijik dari lima temannya. "Apa?"

"Kau semakin menjijikan, serius!" Jungkook menyahut seraya menggeser kursinya yang berada tepat di samping kanan Hyera.

Hyera mendengus sebelum akhirnya dia menatap jam tangannya. "Ah, benar. Aku juga harus pergi." Ucapnya seraya beranjak dari posisinya, mengambil ponselnya di atas meja lalu menepuk pundak Yoongi. "Aku akan pulang terlambat. Jadi, sampai jumpa!"

"Dia aneh." Komentar Jimin disela bibirnya yang masih menggigiti sedotan. "Kalian lihatkan, wajahnya sedikit berekspresi."

"Jadi, maksudmu dia tidak pandai berekspresi?" sahut Hoseok yang langsung menyikut Jimin.

"Dengarkan aku!" Jimin mendengus sebal lalu melepaskan sedotan. "Kalian semua tahukan anak itu selalu kesal, menyebalkan, manja dan semuanya terpancar jelas diekspresinya."

"Lalu, apa bedanya dengan sekarang?" sahut Seokjin. Dia merasa kelakuan dan ekspresi Hyera tadi sama saja.

Sampai helaan nafas kasar keluar dari Yoongi mengalihkan perhatian keempat temannya. Pemuda berkulit pucat itu sudah mengubah posisinya dengan menopang lehernya.

"Ekspresinya tidak bisa ditebak. Antara kecewa, takut, marah dan sedikit bahagia."

"Setuju." Seru Jimin tiba-tiba setelah mendengar kalimat yang terucap dari Yoongi. "Dia seperti khawatir akan sesuatu."

"Baiklah, Tuan-Tuan Pengamat." Hoseok menjeda kalimatnya lalu menatap Taehyung yang baru saja menguap. "Bisa kita pergi makan siang, karena sejujurnya aku lapar."

"Aku juga." Jungkook menyahut seraya mengangkat tangannya. "Berhubung Taehyung telah kembali dari perjalanan panjangnya, mari kita isi perut dengan tenang."

"Ke rumahku saja. Ibu sedang memasak banyak. Aku lupa mengatakannya tapi melihat mereka berdua ada disini, tidak menutup kemungkinan untuk menghabiskan makanannya." Seokjin meraih ponselnya lalu menatap Jimin dan Jungkook yang sudah menatap seperti anjing kelaparan.

"Kenapa kau tidak mengatakan dari tadi?" protes Jungkook yang sudah beranjak dari posisinya, bersiap melangkah pergi.

"Makanya pulang ke rumah. Jangan menginap di rumah Jimin, marah hanya karena ayah membelikanku paket pizza. Kekanakkan sekali." Seokjin mencibir lalu menepuk Taehyung agar segera berdiri.

Jungkook mencibir. Tak ingin mempermalukan diri lebih lama, pemuda itu lebih memilih untuk berjalan keluar café.