Hyera menghentikan langkahnya tepat di depan sebuah restoran keluarga. Kerongkongannya terasa kering seolah dia baru saja melakukan marathon dari tempat mereka berkumpul sebelumnya. Setelah mempersiapkan seluruh keberaniannya, kakinya mulai melangkah memasuki restoran mewah itu.

Tepat masuk ke dalam ruangan, Hyera disambut ramah oleh seorang karyawan wanita. Setelah menyebutkan nama, karyawan itu langsung mengantar Hyera menuju lantai dua dimana ruangan VIP berada.

Ruang VIP bernomor 209 adalah penghentian terakhirnya dan Hyera terus mengumpulkan seluruh keberaniannya yang perlahan menghilang seolah terkikis di setiap langkah gadis itu. Bibirnya terus bergumam, memanggil nama pamannya, sepupunya bahkan mengabsen seluruh teman sekelasnya hanya untuk mengumpulkan seluruh keberanian.

Setelah cukup, gadis itu langsung menggeser pintu dan mendapati seorang pria paruhbaya duduk tepat menghadap ke arahnya. Seorang pria yang pernah menghubunginya saat dia dan teman-temannya berada di Pulau Jeju. Seorang pria yang selalu memberikan tatapan dingin yang tak mudah diartikan. Seorang pria yang seharusnya dia benci seumur hidupnya. Byun Seojoon.

"Ayah pikir kau tidak akan datang. Terima kasih sudah datang." Sapa Seojoon dengan senyum yang jarang dia tunjukkan. Kedua tangannya langsung meletakkan alat makannya yang sedari dipegangnya lalu bersiap untuk beranjak dari posisinya jika saja Hyera tidak bersuara.

"Duduk saja." ucapnya seraya menarik kursi lalu duduk tepat di hadapan sang ayah.

"Bagaimana liburanmu kemarin? Ayah dengar dari Daniel, ponselmu rusak. Ingin membeli ponsel baru?"

"Tidak perlu," balas Hyera dengan nada dinginnya yang khas, "aku menggunakan ponsel paman untuk sementara."

Seojoon hanya bisa mengangguk paham, memaklumi sifat dingin putrinya yang sudah diduganya. Jadi dia memutuskan untuk terus menatap putrinya seraya tersenyum.

"Ayah sudah melihat berita soal sekolahmu. Maafkan ayah karena tidak mengetahui apapun yang terjadi padamu. Ayah menyesal."

"Kau tidak perlu menyesal," ucap Hyera lalu memberanikan dirinya untuk menatap sang ayah, "kalian tidak merawatku sejak dulu jadi tidak perlu menyesalkan apa yang terjadi padaku tanpa kalian ketahui."

"Ayah benar-benar tidak bermaksud untuk menyerahkanmu pada pamanmu tapi keadaan sangat memaksa. Ayah dan ibumu~"

"Aku paham. Kalian tidak perlu menjelaskan apapun lagi. Aku kelewat paham karena harus lahir saat nama kalian berada di puncak kesuksesan. Setidaknya aku sedikit bersyukur karena kalian tidak membuangku ke sungai atau menyerahkanku ke panti asuhan."

Kalimat panjang itu baru saja menusuk Seojoon secara tak kasat mata. Hatinya sangat sakit mendengar kalimat-kalimat yang lebih seperti pedang yang baru diasah lalu menikam tubuhnya. Namun, sebisa mungkin Seojoon harus memakluminya karena ini juga merupakan salahnya. Kesalahan terbesar yang berhasil merenggut pandangan sang putri.

"Tidak ingin makan?"

Hyera menatap meja besar yang memisahkan jaraknya dan ayahnya lalu menggeleng. "Boleh aku pesan americano atau sejenisnya? Aku ingin minum kopi lagi."

Seojoon tersenyum lalu mengangguk. Tangan kirinya terangkat untuk memanggil seorang pelayan yang berada di sudut ruangan. Setelahnya dia membisikkan apa saja yang dibutuhkannya.

"Hanya kopi?"

Hyera mengangguk sebagai jawaban. Dia sungguh tak ingin hal lain selain kopi. Oh, ada satu lagi hal yang dia butuhkan. Jadi dia menatap sang ayah yang masih berbicara dengan pelayan. Menatap pria itu sepuas mungkin untuk mengobati rasa rindu yang sempat tersingkir oleh perasaan kecewanya selama ini.

Setelahnya, ruangan menjadi hening. Tidak ada suara. Bahkan hanya pergerakan kecil yang tak berarti. Byun Seojoon hanya menatap potongan steak yang berada di piringnya lalu beralih pada Hyera yang hanya memandangi beberapa makanan yang terhidang di atas meja makan.

"Yakin tidak ingin makan?"

Hyera mengangguk sebagai jawaban. Perutnya sendiri terasa kenyang padahal dia hanya meminum beberapa gelas air mineral saat di rumah dan secangkir ekspreso di café tepat sebelum tubuhnya berada disini.

Secangkir americano hangat sampai tepat di hadapan Hyera, membuat gadis itu menghirup pelan aroma americano. Dia sempat sumringah dengan aroma kopi yang terhirup oleh indera penciumannya dan melupakan atensi sang ayah yang sedang tertawa melihatnya.

"Kau sangat menyukai kopi ya?"

"Sangat, lebih dari apapun." Hyera menjawab semangat. Seolah tersadar, dia langsung menutup mulut dengan kedua tangannya.

"Ayah banyak mendengar kabarmu dari Daniel. Bagaimana kau sangat menyukai kopi dan membenci susu. Bahkan Daniel sempat cerita jika dia cemburu."

Kening Hyera mengernyit bingung. "Daniel? Cemburu? Atas dasar siapa dan apa?"

Ah, sepertinya Seojoon sedikit bersyukur karena dia selalu menghubungi Daniel untuk menanyakan kabar putrinya secara diam-diam. Apalagi Hyera tampak sedikit terbuka untuk berbicara dengannya.

"Dia bilang ada temanmu yang tinggal di rumah dan dia merasa tersingkirkan karena kau lebih sering dengan temanmu."

"Ah, Yoongi. Ck! Salah dia yang selalu meninggalkanku di rumah sendirian. Aku senang Yoongi tinggal di rumah jadi aku tidak lagi kesepian apalagi saat paman dan Daniel pergi keluar kota." Hyera bersuara, lebih leluasa tak lupa dengan senyumannya.

"Oh ya? Bisa ceritakan bagaimana temanmu itu? Rasanya ayah perlu tahu alasan Daniel cemburu padanya."

"Hmm," Hyera tampak memasang wajah berpikir lalu mengangguk, "Yoongi itu baik, dia ada di peringkat kedua dan hebat dalam menghafal. Dia selalu menghafal soal ujian lalu menyalinnya di rumah untuk dipelajari lagi. Kelemahannya pada pelajaran bahasa Inggris dan sering membuatkanku makan malam. Yoongi juga hebat bermain piano. Oh, dia juga hebat menciptakan lagu. Aku saja sempat iri karena dia berhasil membuat melodi acak dalam waktu kurang dari 12 jam. Yoongi itu sudah seperti kakakku. Kadang, dia juga memarahiku."

"Oh ya?" Seojoon kembali tertawa. Sedikit lega karena sepertinya Hyera semakin terbuka untuk menceritakan hal-hal kecil. "Pantas saja Daniel cemburu pada Yoongi. Dia sangat hebat membuat putri ayah yang satu ini menurut. Daniel bahkan sempat marah pada ayah karena kau lebih mendengarkan ucapan Yoongi daripada dia."

"Daniel saja yang sering mempersulit. Aku juga tidak tahu tapi aku lebih suka menuruti perintah Yoongi walaupun kami harus bertengkar dulu. Oh, dan aku juga hanya mendengarkan ucapan Taehyung, terkadang Namjoon juga. Ugh, sisanya mereka sering memukul kepalaku jika aku sudah mengusulkan ide." Hyera memeluk dirinya, sedikit mengingat bagaimana ketujuh temannya, terutama Jungkook dan Jimin yang selalu memukul kepalanya dan mengatainya bodoh.

"Kenapa mereka memukul kepala putriku ini? Hmm, memangnya kau mengusulkan ide seperti apa?" tanya Seojoon penasaran. Dia gemas ketika Hyera menunjukkan wajah kesalnya dengan lucu.

"Hmm, mereka bilang aku sering mengusulkan ide bodoh yang tidak masuk akal."

"Pantas saja. Aduh, ayah jadi ingin tahu ide apa saja yang keluar darimu sampai mereka mengataimu bodoh." Seojoon tertawa kecil, mengundang decak sebal dari putrinya.

"Apa? Ayah juga mengejekku? Aku tidak bodoh, ayah. Aku hanya terlalu banyak ide sampai terlalu bodoh untuk didengar mereka." Hyera melipat kedua tangannya di depan dada lalu memalingkan wajahnya dan berhasil mengundang tawa gemas dari sang ayah. Hanya beberapa saat sampai dia tersadar pada realita perihal besarnya rasa kekecewaannya pada sang ayah.

Seojoon paham pada perubahan ekspresi sang putri lalu tersenyum. "Terima kasih karena sudah menceritakan hal kecil tentangmu pada ayah. Ayah tahu, pasti kau sangat membenci ayah. Ayah hanya bisa meminta maaf tanpa bisa menunjukkannya secara langsung."

"Aku tidak membenci ayah."

Seojoon tersentak atau pernyataan sang putri. Dia hendak tersenyum saat Hyera menatap wajahnya dengan tatapan lembut dan kecewa.

"Tapi bukan berarti aku sepenuhnya menyayangi ayah." Hyera memilih untuk menatap cangkir americanonya lalu memejamkan matanya untuk beberapa saat. "Aku kecewa pada ayah dan sangat membenci diriku karena tidak bisa membenci ayah, ibu, Baekhyunie dan Hani. Harusnya aku bisa membenci kalian tapi seberapa nyaringpun aku meneriakkan betapa aku membenci kalian, rasanya tidak akan sama."

Seojoon tidak tahu apakah dia harus tersenyum atau langsung merengkuh tubuh putrinya itu. Yang jelas, tubuhnya serasa terpaku disana dan sulit bergerak. Bahkan sepertinya pasokan oksigen di dalam ruangan ini semakin menipis.

Hyera menyeruput americanonya beberapa kali sebelum akhirnya menatap sang ayah lalu tersenyum. "Terima kasih sudah mendengarkan ceritaku. Aku akan berusaha sebisa mungkin untuk terbuka padamu, ayah."

"Ayah juga berterima kasih karena kau tidak membenci ayah. Jangan benci Baekhyun dan Hani. Mereka tidak sepantasnya mendapatkan kebencian darimu. Ini salah ayah dan ibumu karena tidak bisa menerima keberadaanmu dengan baik."

Hyera mengangguk paham lalu beranjak dari posisinya. "Aku harus pulang sebelum Yoongi membuat laporan kehilangan pada paman."

"Mau ayah antar?"

Hyera menggeleng sebagai jawaban. "Lakukan perlahan, ayah. Biarkan aku terbiasa." Ucapnya sebelum akhirnya menghilang di balik pintu.

"Terima kasih sudah memberi ayah kesempatan, Hyera."


Namjoon menghentikan langkahnya saat menyadari seorang wanita sedang berdiri di depan gedung kantor ayahnya. Wanita berpenampilan angkuh dan barang-barang mewah yang dikenakannya. Tak jauh dari sana, dia sempat melihat ayahnya sedang menatap marah ke arah wanita itu.

"Apa ayah mengenal Lee Nayoung?"

Dia hendak mendekati mereka namun sang ayah tampak benar-benar marah. Namjoon masih terdiam di posisinya, tidak tahu apa yang mereka bicarakan tapi dia sangat tahu jika ayahnya sangat marah saat ini apalagi saat wanita itu tersenyum penuh kemenangan.

Sebuah gestur pengusiran dilakukan oleh sang ayah, disusul beberapa petugas keamanan yang bersiap tak jauh dari sana. Wanita itu tertawa, mengucapkan sesuatu lalu melangkah pergi, menuju mobilnya yang terparkir tak jauh dari sana.

"Apa yang dilakukan wanita itu sampai ayah kelihatan sangat marah? Dan apa hubungan mereka?"

Berbagai pertanyaan saling tumpang tindih di kepala Namjoon. Tentang bagaimana ayahnya bisa mengenal wanita itu, lalu apa hubungan ayahnya dan wanita itu sampai apa yang dikatakan wanita itu kepada ayahnya. Namjoon harus mencaritahu semuanya tanpa terkecuali dan dia tidak ingin wanita itu mengganggu ayahnya bahkan sampai mengganggu keluarganya.


Akhirnya sekolah kembali beraktivitas seperti biasa setelah beberapa waktu mengalami libur panjang. Banyak wajah baru yang mengisi bagian-bagian kosong di sekolah, seperti guru, staff, bahkan petugas keamanan. Para murid juga kembali seperti mereka baru saja melewati libur panjang akhir semester.

Seluruh walikelas di Sekolah Creighton juga tampak ikut berganti. Oh, terkecuali untuk kelas 2-F tentu saja. Mereka masih di bawah tanggung jawab Lee Jungshin yang pada dasarnya menjadi satu-satunya walikelas yang tidak terlibat, bersama Nam Joonhyuk yang masih sebagai guru olahraga. Mereka berdua juga bertanggungjawab atas beberapa pergantian sistem sekolah.

Kang Hyera dapat melihat suasana sekolah mereka sudah berjalan sebagaimana mestinya. Tidak adalagi hinaan yang didapat olehnya, melihat teman-teman sekelasnya menangis atau tatapan-tatapan merendahkan. Justru, kebalikkannya. Dia menjadi orang-orang yang diagungkan seperti seorang dewa yang baru saja menyelamatkan dunia.

Menyedihkan.

"Lihatlah, pahlawan Creighton telah tiba!"

Tidak perlu dilihat, cukup tutup mata dan dengarkan secara khidmat siapa pemilik suara yang baru saja mencapai pendengarannya.

"Ya ampun, Jung Hoseok! Dia itu bukan sembarang pahlawan. Apa kau lupa bagaimana dia berjalan dengan angkuhnya, maju ke depan dan membongkar kejahatan yang selama ini tersembunyi?!"

Iya, suara pertama tadi milik Jung Hoseok yang duduk di atas mejanya. Pemuda bermarga Jung itu sudah mengubah warna rambutnya menjadi hitam tapi wajahnya tetap saja membuat Hyera berusaha menahan diri untuk tidak menyumpah. Jujur saja, dia akui, Jung Hoseok itu tampan. Tapi, karena pembawaan sikap yang menyebalkan, apalagi pada dirinya, Hyera harus menarik pengakuannya. Biarkan para fans seorang Jung Hoseok berkumandang.

Sedangkan yang kedua tadi adalah suara si pemilik surai merah muda yang sudah bertransformasi menjadi pemilik surai hitam tanpa poni. Bayangkan saja seberapa hebatnya perubahan mochi pink menjadi sesuatu yang tidak terbayangkan. Oke, cukup! Hyera akui orang itu jadi semakin tampan tapi dia tetap tidak akan sampai jatuh cinta pada orang yang menumpahkan cola ke dalam ranselnya, gila! Ini bukan drama Korea.

"Lihatlah! Kalian membuat putri kerajaan kelas Fiapeless tidak berani masuk ke tempatnya. Jangan sampai dia pindah ke kerajaan lain."

Hyera masih berdiri di ambang pintu dan pelajaran belum dimulai tapi kepalanya sudah sakit. Kenapa teman-temannya sedang berdrama pagi ini? Bahkan Jungkook sudah bernarasi tentang kerajaan.

"Oh, Tuan mayat hidup kita tidak pucat lagi!"

Jika sebelumnya Jungkook, kali ini suara Seokjin yang berasal dari bangku Jimin-Jungkook terdengar. Seokjin juga sudah mengganti warna rambutnya menjadi blonde dengan poni yang berbelah dua.

Kenapa ini? Kenapa teman-temannya masuk dengan penampilan baru? Padahal mereka baru tidak bertemu sekitar tiga sampai empat hari tapi transformasi teman-temannya sungguh luar biasa.

"Kenapa rambut putihmu? Sudah luntur?"

Hyera membalikkan badannya, mendapati Yoongi yang ikut berdiri di belakangnya. Gadis itu menghela nafas, teringat jika mereka berangkat bersama dari rumah.

Ngomong-ngomong warna dan model rambut Yoongi juga sudah berubah. Hilang sudah surai putih yang senada dengan kulitnya dan berganti menjadi cokelat terang. Model rambut biasanya kini berubah menjadi sedikit keriting dan memberi kesan berantakan.

"Kenapa kalian mengecat rambutnya kompak sekali?" sahut Hyunji yang menatap ke arah Namjoon yang sudah mengganti warna rambutnya dengan warna cokelat kehitaman. "Apa Taehyung juga?"

Namjoon mengangguk lalu menunjuk ke arah Yoongi, dimana Taehyung sudah berdiri disana dengan surai biru yang sudah berganti dengan warna hitam dan model keriting seperti Yoongi.

"Sampai kapan kau akan berdiri di depan pintu?" sahut Taehyung yang sudah mendorong bahu Hyera menuju kursinya lalu dirinya berlanjut ke kursinya.

"Yo!"

Cempreng dan menyebalkan. Dua kata yang identik dengan seorang Park Jimin yang sudah duduk di atas meja Hyera dan Yoongi.

"Bagaimana hari libur kalian?"

Pertanyaan itu tertuju pada seluruh penghuni barisan belakang walaupun tertuju pada Hyera yang sedang memperbaiki posisi kursinya.

"Dua hari menjadi korban ibu, aku ingin terjun bebas dari pesawat rasanya." Jungkook menjadi orang pertama yang menjawab pertanyaan temannya. "Aku harus menghabiskan waktu empat hari untuk menemaninya liburan ke Jepang. Kalian bayangkan saja keliling negeri hanya dalam empat hari."

"Enak sekali keluar negeri," Hoseok menyahut sambil turun dari mejanya lalu duduk di kursinya, "aku hanya bolak-balik dari klub ke rumah lalu klub ke rumah."

"Masih mending," ucap Namjoon yang sudah menjatuhkan kepalanya ke atas meja, "aku harus mengurus berkas-berkas perusahaan. Aku bahkan sudah muak untuk kembali belajar."

"Bersyukurlah kalian karena masih memiliki kegiatan individu." Seokjin membuka suara lalu menunjuk ke arah Jungkook. "Ibuku hanya membawa dia pergi sedangkan aku disuruh mengurus perusahaannya. Menjadi presdir perusahaan selama empat hari yang sialnya terkena di waktu yang menyibukkan."

"Parahnya," lanjutnya kali ini beralih untuk menunjuk Yoongi dan Hyera, "aku harus berurusan dengan mereka yang setiap hari harus berada di ruangan dan mendiskusikan dengan hal yang aku saja tidak tahu apa."

"Kau melupakan Taehyung." Yoongi menyahut sebelum akhirnya menjatuhkan kepalanya ke atas meja untuk tidur.

"Ah, benar. Ada Taehyung juga walaupun aku tidak tahu kenapa anak itu ada disana." Seokjin melirik orang yang dimaksud lalu mengedikkan bahunya acuh.

"Berarti hanya aku yang menghabiskan waktu dengan normal." Jimin berucap sambil menuju kursinya. "Aku hanya tidur, bermain game, tidur lagi lalu main game. Tidak banyak yang aku lakukan. Bahkan aku tidak keluar rumah."

"Ya," Taehyung bersuara sedikit keras, "mau bagaimanapun sekarang kalian kembali ke sekolah."

"Well," Namjoon menyahut lalu kembali menegakkan tubuhnya, "mau pergi ke suatu tempat hari ini?"

"Hmm," Hoseok bergumam sambil mengangguk, "bagaimana ke café Yoongi?"

Mereka –kecuali Yoongi yang sudah tenggelam dalam mimpi, saling bertatapan sebelum akhirnya mengedikkan bahu lalu mengangguk.

"Oke, sudah diputuskan."


Ketiga pria itu berdiri tegak di hadapan Lee Nayoung, wanita yang menjadi atasan mereka saat ini. Nayoung sendiri sedang membolak-balikkan lembaran kertas yang menjadi hal penting dalam pekerjaannya. Setelah cukup, dia meletakkan kertas itu di atas mejanya dan mulai menatap tiga pria di hadapannya.

"Jadi singkirkan Min Yoongi apapun caranya! Aku sudah tidak tahan untuk menyingkirkannya dari dulu."

Suara itu terdengar sangat tegas tapi mengerikan. Seolah dibalik ucapan tegas itu dapat menyingkirkan siapapun yang mendengarnya.

Pria di tengah mengangguk paham lalu kembali menatap wanita di hadapannya. "Apa adalagi yang harus kami singkirkan?"

Wanita itu tampak berpikir sebelum akhirnya menyeringai. Tangan kanannya bergerak untuk mengambil sesuatu di laci mejanya lalu mengeluarkan selembar foto. "Fokus pada anak yang bernama Min Yoongi. Jika ada kesempatan, singkirkan dua orang ini karena mereka sudah merebut milikku."

Pria paling kanan bergerak untuk mengambil foto yang dimaksud lalu melihatnya bersama kedua temannya. Sebuah foto dengan delapan orang sedang tertawa disana. Dua di antaranya sudah dilingkari dengan spidol merah.

Pria di sebelah kiri menyeringai, "tidak semuanya sekalian?"

"Tunggu dulu!" seru wanita itu tiba-tiba menadahkan tangannya untuk meminta kembali foto itu. "Kalian sedang tidak ada kerjaankan? Bagaimana jika aku memberikan bonus untuk kalian bertiga?"

Pria yang mengambil foto tadi langsung menyerahkan kembali lembaran foto itu kepada Nayoung lalu kembali ke posisinya.

"Hmm," wanita itu menyeringai seraya menandai orang-orang yang ada di foto tadi. Setelahnya dia berseru dengan nada mengerikan. "Target utama kalian tetap pada Min Yoongi dan aku akan menghargainya tiga kali lipat dari kesepakatan kita."

Ketiga pria itu terkejut namun segera tertawa. Pria paling kiri mengambil foto dari Nayoung tanpa permisi.

"Kau benar-benar mengerikan, Nyonya Lee."

Nayoung hanya tersenyum manis lalu menyandarkan tubuhnya. "Dua orang tadi berharga setengahnya."

"Keduanya atau perorang?"sahut pria yang berdiri di tengah.

"Kepada kalian aku berikan perorang tapi itu jika kalian berhasil memusnahkan keduanya." Nayoung menjilati bibir bawahnya lalu kembali tersenyum. "Sisanya aku berikan harga awal kesepakatan kita. Bagaimana?"

"Oh, tenang saja, Nyonya Lee." Pria paling kiri terkekeh lalu melipat kedua tangannya di depan dada. "Setidaknya kau harus menyiapkan narasi spesialmu untuk mereka."

"Ah, kau benar. Aku harus menyapa Yoongi sebelum dia bertemu dengan orang tuanya." Nayoung menepuk tangannya sekali lalu tertawa. "Terima kasih sudah memberikanku ide."

"Sebelumnya, boleh aku meminta sesuatu?" Pria paling kiri tersenyum penuh arti entah apa maksudnya.

Nayoung tersenyum masam. Dia tidak suka jika ada orang yang meminta padanya, apalagi menyangkut hal ini. "Apa? Tambahan uang?"

Pria paling kiri menggeleng. "Biarkan anak ini menjadi milikku." Lanjutnya sambil menunjuk seorang pemuda berbaju ungu yang berdiri di belakang dua orang yang dilingkari spidol merah. "Aku ingin bermain-main dengannya."

"Ah, putranya Jungra?" Nayoung menatap pria paling kiri itu lalu terkekeh. "Ups, aku lupa. Baiklah, silahkan bermain dengannya sepuasmu."

"Bagaimana dengan gadis ini?" sahut pria paling kanan sambil menatap satu-satunya orang yang tidak diberi tanda di foto. "Apa kau tidak ingin menyingkirkannya?"

"Untuk anak yang dibuang keluarganya, aku ingin memberikan sesuatu yang spesial. Harganya dua kali lipat dari kesepakatan kita."

"Wah," pria paling tengah menarik foto tadi lalu menatap gadis yang dimaksud oleh mereka. Matanya melirik Nayoung dengan licik, "sepertinya dia sangat spesial?"

"Dia adalah gadis favoritku dari semua teman-teman Seojung yang aku kenal dan dia juga anak dari hakim yang menyelamatkanku sepuluh tahun yang lalu." Nayoung kembali menyeringai lalu melipat kedua tangannya di atas meja. "Dia lebih spesial karena dia juga mengingatkanku pada kejadian itu. Terlalu spesial sampai rasanya aku ingin mencekik lehernya dengan kedua tanganku."

Pria paling tengah memilih untuk memasukkan salah satu tangannya ke saku celananya lalu menggenggam sesuatu. Dia tersenyum tipis sambil menyaksikan wanita itu terus mengoceh tentang informasi target mereka kali ini.


Next chapter

"Kau…Lee Taeyong?!"

"Ayah Hyera masih hidup?"

"Aku rindu Ayah, hyung. Kemarin malam aku memimpikannya. Dia memelukku."

"Astaga! Kenapa tidak sekalian saja pertemukan mereka semua disini?!"

"Ayo, sebelum suaranya menyebabkan keretakan bumi!"