Lee Jungshin berulang kali mengumpat seiring dengan langkah kakinya. Pria itu tidak henti-hentinya memaki atas nama Minho, mantan murid mereka. Ah, dia bersama Joonhyuk yang tampak menikmati perjalanannya.
"Anak kurang ajar itu harusnya mencari tempat yang sedikit bagus daripada mengajak kita ke tempat sialan ini?! Memangnya hal penting apa yang ingin dikatakannya?"
Joonhyuk terkekeh. Dia tidak terlalu peduli akan ocehan rekannya itu. Sambil menghindari beceknya jalan, pria yang berstatus sebagai guru olahraga itu hanya bersiul kecil.
Hei, mereka sudah berjalan kurang lebih tiga puluh menit. Menyusuri gang demi gang kecil di pinggiran kota, menyisiri jalan yang dipenuhi bau busuk yang menyengat hidung hanya demi informasi berharga yang ditawarkan oleh mantan murid mereka.
"Lagipula informasi apa yang ditawarkan anak itu? Bukannya masalah ini sudah selesai?"
Joonhyuk hanya mengedikkan bahunya acuh dan kembali fokus untuk mengamati perjalanannya. Seraya bersiul seraya diiringi oleh makian Jungshin yang masih belum berhenti.
"Oh, Lee-ssaem! Nam-ssaem!"
Minho melambaikan tangannya dari ujung jalan sana. Bibirnya yang tampak tersenyum sumringah dibalas senyum tipis dari Joonhyuk dan umpatan kesal dari Jungshin.
"Bagaimana perjalanan kalian?"
Jungshin berniat memukul kepala Minho jika saja Joonhyuk tidak menghalanginya. "Aku bersumpah akan menguburmu hidup-hidup jika kau tidak memberikan informasi penting yang kau maksud."
Minho tertawa kecil lalu mengajak kedua gurunya itu masuk ke dalam sebuah rumah kecil yang ada di belakangnya. Tampak seperti rumah tak terpakai dengan berbagai tumbuhan liar dan tumpukan kardus-kardus yang tersebar di sekitarnya.
"Apa ini rumahmu?"
Minho menggeleng lalu berdecak kesal atas pertanyaan Jungshin. "Hyung, dengar! Apartemenku lebih keren daripada tempat ini."
"Lalu kenapa kita tidak bertemu di apartemenmu saja?" tanya Joonhyuk yang masih mengikuti langkah Minho. Langkah mereka terhenti di depan sebuah pintu besi yang ada di tengah ruangan.
"Ingin aku dibunuh atau masuk penjara?" sahut Minho seraya memasukkan pin pada pintu besi itu. "Aku masih ingin bernafas bebas dan menikmati pekerjaanku sebagai pengacara."
"Dibunuh apanya? Jika ada yang membunuhmu, orang itu adalah aku." Jungshin menyahut asal lalu kembali mengedarkan pandangannya untuk mengamati ruangan ini. Debu, gelap dan bau, benar-benar seperti rumah yang sudah tidak dihuni selama puluhan tahun.
Pintu besi itu terbuka dan memperlihatkan sebuah tangga menurun ke bawah. Kedua gurunya mengernyit heran lalu mengikuti Minho yang sudah mendahului langkahnya.
"Kalian akan mengetahuinya nanti."
Setelah menuruni tangga di lorong yang gelap itu, ketiganya kembali berhenti di depan sebuah pintu besi. Sedikit berbeda dengan pintu tadi, Minho harus menempelkan ibu jarinya di sebuah alat deteksi yang terpasang di bawah ganggang pintu sampai bunyi bip terdengar.
Pintu terbuka dan Minho kembali memimpin jalan. Sebuah basement terang menyambut mereka. Keadaan yang sangat berbeda dengan bagian rumah yang mereka masuki sebelumnya. Di bagian kanan terdapat beberapa komputer yang dibiarkan menyala lalu di seberangnya ada sebuah dinding tralis yang membatasi bagian ruangan tersebut dengan ruangan gelap di sebelahnya. Di tengah ruangan, tepat di bagian depan mereka terdapat sebuah meja besar dengan sebuah notebook yang dibiarkan menyala dan beberapa lembar kertas serta buku yang entah apa isinya.
"Oh, temanmu sudah datang?"
Satu suara dari balik dinding tralis yang gelap terdengar diiringi langkah kaki yang kian mendekat. Siluet hitam muncul dari sana sambil mengapit sesuatu di ketiaknya.
Minho hanya melirik sekilas lalu memilih duduk di balik notebook yang ada di atas meja. "Hyung, silahkan duduk! Atau kalian ingin berdiri? Terserah saja."
Jungshin masih fokus pada siluet yang kian mendekat dan menampakkan seorang pemuda yang terlihat seumuran dengan Minho. Matanya menyipit untuk menatap wajah yang tertutupi hoodie putih itu.
"Letakkan disini!" ucap Minho yang terdengar seperti perintah. Sedangkan dirinya masih sibuk berkutat di depan notebook.
Pemuda itu meletakkan tumpukkan kertas yang diapitnya tadi ke atas meja dengan sedikit kasar. Kemudian melanjutkan langkahnya menuju komputer yang menyala.
"Sepertinya aku pernah mendengar suaranya." Joonhyuk berbisik pada Jungshin yang sudah duduk di seberang Minho. Matanya melirik ke arah pemuda yang sudah memunggungi mereka, membuka hoodie-nya yang dicat silver lalu berkutat pada komputer. Entah apa yang dilakukan, Joonhyuk tidak mengerti program komputernya.
"Minho," tegur Jungshin yang kini menatap mantan muridnya, "jika kau tidak berbicara dalam waktu 10 detik, aku akan membunuhmu sekarang juga."
Minho melirik Jungshin lalu mencebik. "Sabar, hyung! Aku harus mengirim laporan ke pengadilan. Tahan! 100 detik saja."
Jungshin menghela nafas dan memilih untuk melipat kedua tangannya di depan dada.
"Oi, jangan pura-pura misterius!" sahut Minho yang entah kepada siapa. "Basa-basi selagi aku mengirim laporan ini."
"Berisik!" komentar pemuda yang sedang berhadapan dengan komputer. Dia sedang mengakses sesuatu yang tidak dimengerti oleh Jungshin dan Joonhyuk. "Aku harus menyelesaikan ini."
Minho memejamkan matanya geram dan menutup notebook-nya sedikit kasar. Seratus detiknya sudah berakhir dengan pekikan lantang dari pemuda yang berambut silver dan mengundang decak sebal dari pemuda bermarga Choi itu.
"Yak!" teriak Minho yang sudah beranjak dari posisinya, melangkah menuju pemuda itu lalu memukul kepalanya. "Kau membobol apalagi kali ini, bocah brengsek?"
Pemuda itu mengusap kepalanya lalu memutar kursinya untuk menatap Minho yang berdiri di belakangnya. Wajahnya mencebik sebal namun mengundang keterkejutan dari dua orang dewasa yang sedang menyaksikan mereka.
"Kau…Lee Taeyong?!"
Iya, pemuda itu Lee Taeyong. Salah satu murid Sekolah Creighton yang berada di kelas 2-F atau sebut saja kelas bimbingan Jungshin.
Taeyong menendang tulang kering Minho sebelum beranjak dari posisinya dan menatap kedua gurunya yang masih terkejut. Bibirnya tersenyum canggung dengan tangan yang masih mengusap belakang kepalanya.
"Anyeong, ssaem!" sapanya.
Joonhyuk menutup mulutnya yang terbuka. Keadaan shock yang tidak bisa disembunyikan begitu menyadari jika pemuda berkepala silver itu adalah salah satu murid mereka.
"Kenapa kau ada disini?" tanya Jungshin yang masih setia di posisinya. Dia masih dalam keadaan terkejut –sama seperti rekannya. "Dan kau mengenal Minho?!"
Taeyong mengangguk lalu menunjuk wajah Minho. "Walaupun aku tidak mau tapi tetap saja aku dan dia saling mengenal."
Minho mencebik setelah menetralisir rasa sakit yang mendera di kaki kanannya. tangannya menarik hoodie Taeyong lalu menghampiri kedua guru mereka.
"Aku dan Taeyong satu panti asuhan." Ucapnya lalu mendorong Taeyong ke arah Joonhyuk. "Jadi kami sudah kenal sejak lama."
Jungshin ingat, kedua muridnya yang ada di hadapannya saat ini adalah yatim piatu dan merupakan murid beasiswa. Namun, dia tidak menyangka jika keduanya saling mengenal.
"Uwah, negara ini memang sempit sekali." Joonhyuk berdecak kagum lalu beralih pada Minho yang sudah membuka lembaran kertas yang dibawa Taeyong sebelumnya. "Lalu, kenapa kau ada disini?"
"Hah, hyung." Minho menghela nafas lalu menatap Joonhyuk. "Sebenarnya dia ini orang tidak berakal yang tidak sengaja masuk Creighton."
Taeyong berdesis sebal. Ingin sekali dirinya memukul kepala orang yang lebih tua darinya itu. "Kalau aku tidak berakal, lalu kau apa? Orang gila yang tak berotak?"
"Oke, oke." Joonhyuk menepuk pundak Taeyong untuk menenangkannya. "Begini saja, apa yang sudah kau lakukan tadi?"
"Meretas sebuah bank."
"Kau pencuri?" pekik Joonhyuk yang seakan keterkejutan mudah sekali menghantuinya.
"Bukan," sanggah Taeyong seraya menggelengkan kepalanya, "aku hanya melakukannya untuk kesenangan saja. Merusak sistem keamanan lalu membuat keributan. Aku bersumpah tidak pernah mencuri. Tapi kadang membantu Minho-hyung untuk melakukan pekerjaannya."
"Kau memanfaatkan anak kecil, Minho." Joonhyuk menatap tajam Minho yang terlihat tidak peduli.
"Memanfaatkan apanya? Kau tidak tahu apa saja yang dilakukan bocah sialan ini. Dia hampir membuat aku gagal di sidang akhirku karena meretas komputerku dan menghilangkan dokumen."
"Tapi sudah aku kembalikan."
"Lalu bagaimana dengan perusahaan game kecil yang bangkrut tahun lalu?"
"Hanya kecelakaan. Lagipula mereka saja yang tidak ahli."
"Oh ya? Bagaimana dengan hampir mengacaukan kantor pengadilan karena virus buatanmu?"
"Itukan hampir dan tidak benar-benar terjadi. Lagipula sudah diperbaiki lagi, 'kan?"
Joonhyuk menatap Taeyong ngeri. Dia tidak menduga jika salah satu murid dari kelas favoritnya bisa berbuat mengerikan seperti itu.
"Choi Minho!" panggil Jungshin yang tampak hilang kesabaran. Dia sendiri tidak peduli lagi dengan keberadaan Taeyong karena tujuannya datang ke tempat ini adalah untuk mendengarkan penjelasan Minho.
"Ah, maaf, hyung. Jadi, kita mulai saja." Minho menghela nafas lalu meletakkan selembar foto dimana delapan orang remaja ada di dalamnya. "Aku rasa masalah sekolah kemarin belum sepenuhnya berakhir."
Jungshin dan Joonhyuk menatap foto itu selama beberapa saat. Mereka mengabsen setiap wajah yang dikenal sebelum akhirnya beralih pada Taeyong yang bergerak menuju komputernya.
"Mereka berdelapan dalam masalah besar."
"Paman Seojoon menghubungiku," ucap Daniel seraya menatap sang ayah yang duduk di balik meja kerjanya. "Hubungannya dan Hyera mulai membaik. Hyera sendiri mulai sering menghubungi ayahnya."
Minhyuk mengangguk paham. Jari-jarinya masih sibuk menari di atas keyboard komputer yang ada di hadapannya, sedangkan matanya fokus pada layar komputer.
"Syukurlah. Setidaknya dia mulai menerima ayahnya."
Daniel tersadar jika ayahnya berhenti mengetik. Dia beranjak dari posisinya lalu menggigit bibir bawahnya. "Ayah, sebenarnya aku tidak tahu kenapa tapi perasaanku tidak nyaman beberapa hari ini. Aku takut, dengan membaiknya hubungan Hyera dan ayahnya akan ada masalah baru yang timbul. Apa semuanya akan baik-baik saja?"
Minhyuk menatap putranya lalu tersenyum. "Perasaan tidak nyamanmu mungkin berasal dari kelelahan karena jadwal latihan. Untuk sementara, beristirahatlah! Hyera dan Yoongi terus menanyakan keberadaanmu."
Daniel mengangguk lalu menundukkan kepalanya. "Sebenarnya aku merindukan ibu."
"Kalau begitu, besok kita akan mengunjunginya. Ajak Hyera dan Yoongi juga. Sesekali kita mengunjunginya bersama."
"Ayah Hyera masih hidup?"
Namjoon menghela nafas lalu menatap pintu bercat cokelat di depannya. Sudah hampir setengah jam dia berdiri disana dengan perasaan ragu. Padahal sejak beberapa hari ini dia meyakinkan dirinya untuk menanyakan sesuatu pada sang ayah.
"Sampai kapan kau akan berdiri disana?"
Namjoon menoleh ke sumber suara dan mendapati Taehyung, saudara tirinya sedang berdiri di belakangnya.
"Kau…ragu-ragu?"
Pernyataan itu membuat Namjoon mengalihkan pandangannya kembali untuk menatap pintu. "Sangat ragu sampai berbagai pikiran negatif memenuhi kepalaku."
Taehyung menghela nafas lalu menepuk pundak saudaranya itu. "Keraguan dapat menghancurkan kepercayaan diri seseorang. Ragu-ragumu hanya akan membuatmu tidak bisa berpikir logis."
"Aku tahu itu." Namjoon menggigit bibirnya selama beberapa saat lalu membalikkan badannya untuk menatap Taehyung. "Aku harus menghilangkan keraguan ini sebelum bertemu Ayah."
"Besok ikut aku! Aku akan membantumu untuk menghilangkan keraguannya."
Malam ini Chanyeol hanya bisa menyaksikan sang adik yang terlihat uring-uringan di tempat tidurnya sejak pulang sekolah. Dia sendiri tidak tahu kenapa adiknya itu terlihat seperti gadis patah hati. Jimin tiba-tiba datang ke kamarnya, melempar ransel dan sepatunya ke sembarang arah lalu menghempaskan diri ke tempat tidurnya.
"Kau kenapa?"
Hanya pertanyaan seperti itu yang bisa diajukan Chanyeol sejak tadi tapi tak ada jawaban dari sang adik, selain gumaman entah apa maksudnya.
"Kau bertengkar dengan Jungkook?"
Lagi, bahkan tidak ada jawaban berubah gelengan atau anggukan. Jimin bahkan terus memunggungi Chanyeol yang berusaha untuk melihat wajahnya
"Yak!"
Chanyeol sudah menyerah. Bahkan karena adiknya itu, dia harus melewatkan makan malam. Sebenarnya bisa saja dia meminta bantuan ibu mereka tapi respon ibunya sungguh diluar akal.
"Mungkin Jimin sedang terserang penyakit bulanan."
Apa-apaan jawaban itu? Memangnya adik mochi-nya itu perempuan? Walaupun Jimin termasuk tipe yang sensitif –misalnya dikatai pendek.
Pemuda tinggi itu sudah menyatakan perang. Dia tidak suka saat Jimin mengabaikannya seperti ini. Mirip Yoongi. Jadi dia memutuskan untuk menghampiri sang adik, menarik tubuh Jimin agar berbalik ke arahnya.
"Ji…min?"
Tidak, tunggu! Apa dia mengatakan sesuatu yang salah? Atau apa teman-temannya mengerjai adiknya? Kenapa adiknya menangis?
Wajah Jimin sudah sembab dan memerah. Dia bahkan menarik bantal untuk menutupi wajahnya yang memalukan.
"Pergi, hyung!"
"Tidak!" Chanyeol menarik bantal yang menutupi wajah adiknya lalu menatap wajah itu. "Siapa yang mengganggumu? Apa yang membuatmu menangis? Apa Hyera mengganggumu?"
Oh, ayolah! Walaupun Hyera bermulut tajam dan selalu mengatai Jimin, tapi gadis itu tidak ada hubungannya dengan tangisan Jimin malam ini.
"Hyera akan mencekikmu jika dia mendengarnya."
Suara terdengar Jimin serak karena sudah terlalu lama menangis. Kedua tangannya sibuk mengusap airmatanya yang terus mengalir.
Chanyeol menangkup pipi Jimin lalu menatapnya lekat-lekat. "Lalu, kenapa? Apa yang membuat anak itik ini menangis?"
Jimin geram. Padahal tadi jelas sekali wajah Chanyeol khawatir tapi kenapa mulutnya jadi menghina? Kedua tangannya gatal untuk menjambak rambut Chanyeol sampai sang kakak melepaskan pipinya.
"Aw, aw. Sakit, Jim!"
Jimin melepaskan rambut Chanyeol lalu berakhir dengan memukul bahu sang kakak sampai ringisan memekakkan telinga terdengar.
"Oke. Aku serius kali ini." Chanyeol menghela nafas lalu menahan kedua tangan Jimin yang mungkin saja akan menyiksanya lagi. "Apa yang membuat adik kecilku ini menangis?"
Jimin menggelengkan kepalanya lalu menunduk. "Aku baik-baik saja."
"Oh, tidak. Wajahmu tidak menunjukkan jika kau baik-baik saja, Jim. Katakan padaku apa yang membuatmu menangis?"
"Aku rindu Ayah, hyung. Kemarin malam aku memimpikannya. Dia memelukku."
Chanyeol paham apa yang dibicarakan sang adik. Jadi dia mengangkat kedua tangannya lalu merengkuh tubuh Jimin dan memeluknya dengan erat.
"Kenapa tidak katakan dari tadi, bodoh? Besok kita mengunjungi dia. Jangan menangis lagi."
Hoseok menyimpan buket bunga yang dibawanya tepat di atas gundukkan tanah yang ada di hadapannya. Bibirnya tidak henti-hentinya tersenyum seraya menatap nisan yang bertuliskan Jung Hana, adik perempuan tersayangnya. Rasanya sudah lama dia tidak mengunjungi tempat ini, apalagi sejak kedua orang tuanya bertengkar hebat.
"Maaf karena oppa baru mengunjungimu. Banyak hal yang terjadi selama ini."
Pemuda bermarga Jung itu membungkukkan badannya selama beberapa saat untuk mengusap nisan sang adik lalu tersenyum. Setelahnya dia kembali berdiri tegak.
"Sebenarnya banyak hal yang ingin oppa ceritakan padamu," ucapnya seraya menghela nafas lalu menatap ke depannya, "tapi ada mereka berdua disini jadi lain kali saja ya."
Dua pemuda dengan setelan semiformal berdiri di hadapan Hoseok. Pemuda dengan long coat cokelat menatap sekelilingnya sedangkan pemuda dengan coat hitam menatap ke arahnya.
"Lagipula, kenapa kalian kesini?"
"Tentu saja mengunjungi adikmu. Memangnya apalagi?" jawab pemuda dengan coat hitam dengan nada berisik yang jarang ditunjukkannya.
"Aku tahu itu, Kim Taehyung." Hoseok mengerang sebal lalu mengalihkan pandangannya pada pemuda dengan coat cokelat yang sudah menatapnya. "Kau harusnya membawa dia mengunjungi ibumu tapi kenapa kau membawanya kesini, Kim Namjoon."
Yang dipanggil Namjoon hanya mengedikkan bahunya. "Aku sudah mengunjungi ibuku lalu Taehyung melihatmu disini jadi sekalian mampir saja."
Hoseok memijat kepalanya yang mendadak pusing lalu menghela nafasnya dengan kasar. "Tidak bisakah kita tidak bertemu di hari libur? Rasanya setiap hariku dihantui oleh kalian."
"Aku juga maunya seperti itu." Taehyung meletakkan setangkai bunga yang dikeluarkannya dari balik coat hitamnya lalu meletakkannya di atas makam adik Hoseok. "Tapi sepertinya takdir harus mempertemukan kita walaupun tidak sengaja."
"Hana-ya, maafkan oppa-mu ini. Dia memang selalu berisik dimanapun berada." Namjoon merendahkan badannya, seolah-olah sedang membisikkan sesuatu kepada seseorang.
"Astaga! Kenapa tidak sekalian saja pertemukan mereka semua disini?!"
Oh, haruskah Hoseok merasa ucapan putus asanya seperti kutukan? Karena saat ini dia –mereka bertiga mendapati dua pasang saudara yang juga baru keluar dari areal pemakaman bersama-sama. Empat orang yang memuakkan sedang menyapa dirinya dan Kim bersaudara saat ini.
"Wah, Jung! Apa kau peramal?" sahut Namjoon yang masih tidak menyangka karena bertemu dengan empat orang yang dikenalnya sekaligus. "Ucapanmu baru saja menjadi kenyataan."
"Argh!"
Hoseok berteriak frustasi dan mengundang kebingungan dari empat orang yang ada di depan mereka. Sedangkan Kim bersaudara baru saja tertawa lepas.
"Hei, Seok! Kau kerasukan apa?" sahut Park Jimin yang mengambil langkah mundur, takut-takut yang dikatakannya benar terjadi.
"Dia hanya menyesali ucapannya." Taehyung menjawab lalu menatap ke arah orang yang berstatus sebagai sepupunya bersama saudara tirinya. "Kalian mengunjungi siapa?"
Seokjin merangkul Jungkook yang berada di sampingnya. "Mengunjungi ibu Jungkook. Kebetulan makamnya berada di samping makam ibunya Chanyeol-hyung."
Merasa terpanggil, Chanyeol hanya mengangkat tangan kanannya sambil tersenyum. Matanya beralih pada Hoseok yang masih meruntuki ucapannya.
"Kau mengunjungi Hana, ya?"
Hoseok mengangkat kepalanya lalu mengangguk. Namun matanya mendelik ke arah Kim bersaudara yang berada sedikit di belakangnya. "Sialnya aku bertemu mereka berdua dan kalian."
"Hoho, hati-hati atas ucapanmu, sobat." Jungkook menepuk pundak Hoseok lalu tersenyum. "Berbahagialah karena bertemu dengan kami."
"Untung saja mereka berdua tidak ada."
"Oh, kalian ada disini?"
Anggaplah Hoseok baru saja mengucapkan mantra yang mengakibatkan empat orang lainnya datang dari arah seberang jalan. Seluruh kepala langsung menatap ke arah sumber suara.
"Kalian ada disini juga?" sahut Namjoon yang sedikit tidak terkejut. Dia menatap Hoseok yang berusaha mengatur nafasnya. "Lain kali, jaga ucapanmu, Seok."
"Ada Paman Kang juga?" seru Chanyeol yang langsung berlari ke arah empat orang tadi. Kedua tangannya terulur untuk memeluk orang yang dipanggilnya.
Kang Minhyuk membalas pelukan Chanyeol diiringi tawa ringan lalu menatap teman putranya itu. "Mengunjungi ayah dan ibumu?"
Chanyeol mengangguk semangat lalu tersenyum. "Rasanya sudah lama tidak mengunjungi Paman."
"Kau juga tidak pernah main ke rumah lagi." Minhyuk menepuk punggung pemuda itu lalu kembali mengedarkan pandangannya pada enam pemuda yang ada di depannya. "Bersama temanmu?"
Chanyeol mengangguk. "Tepatnya teman adik-adikku. Adikku yang mengenakan jas hitam." Tangan kanannya menunjuk ke arah Jimin yang mengenakan turtleneck hitam berbalut jas hitam yang dibiarkan terbuka.
"Paman Kang!" sapa Seokjin yang baru tersadar akan keberadaan Minhyuk. Dia terlalu fokus pada Hoseok yang sedang berjongkok.
"Ah, ada Seokjin juga." Minhyuk tersenyum lalu melanjutkan langkahnya mendekati enam pemuda yang ada disana.
"Oi, Jung Hoseok! Apa yang kau lakukan?" tegur Hyera yang sedang menendang pelan kaki Hoseok yang masih berjongkok.
Sedangkan Taehyung memberi isyarat agar mendekatkan dirinya lalu membisikkan sesuatu pada gadis itu. Hyera membulatkan mulutnya seraya mengangguk paham lalu kembali menatap Hoseok yang sudah kembali berdiri.
"Oh ya, Ayah. Perkenalkan, mereka teman-teman sekolah Hyera dan Yoongi. Ah, mereka juga sekelas." Daniel menyahut, memperkenalkan enam teman sepupunya.
"Ah, apa mereka yang sering memukul kepala Hyera?!"
Keenam orang itu bungkam dalam hitungan detik. Masing-masing dari mereka mengalihkan pandangan seraya tersenyum kikuk.
"Benar, Paman. Mereka yang sering memukul kepalaku." Hyera menyahut untuk memprovokasi lalu menunjuk Jimin dan Jungkook yang bersebelahan. "Mereka berdua yang paling sering!"
Minhyuk mengangguk paham lalu menepuk puncak kepala Hyera. "Syukurlah."
Satu kata Minhyuk mengartikan tanda tanya besar di kepala sembilan pemuda dan satu gadis yang ada di depannya. Bahkan bibirnya tersenyum sedangkan tangannya mengacak-acak rambut Hyera.
"Paman bersyukur kepalaku dipukul?"
Minhyuk mengangguk lalu melirik keponakannya itu. "Kepalamu itu memang pantas dipukul agar bisa berpikir jernih. Otak orang sepertimu sangat keras dan butuh pukulan untuk menyadarkannya."
Kesembilan pemuda disana menghela nafas lega. Mereka pikir akan mendapat semprotan dari Minhyuk.
"Ayah, lihat jam tanganmu!" bisik Daniel tiba-tiba sedangkan Minhyuk langsung mengikuti bisikan putranya.
"Astaga! Aku lupa harus ke kantor." Minhyuk merogoh kunci mobil di sakunya lalu menatap Hyera, Yoongi dan Daniel. "Bawa mobilnya! Biar aku pakai taksi."
"Jangan!" seru Chanyeol tiba-tiba. "Paman bawa saja mobilnya biar aku mengantar mereka ke rumah."
Minhyuk melirik Chanyeol lalu menatap tiga remaja yang menjadi tanggung jawabnya. "Tidak masalah?"
"Paman pergi saja. Tenang saja, akan kupastikan mereka bertiga sampai di tempat tujuan dengan aman." Seokjin menyahut, berusaha meyakinkan orang kepercayaan ibunya itu.
"Baiklah. Kalian hati-hati." Minhyuk segera berlari ke parkiran yang tak jauh dari lokasi mereka berkumpul lalu masuk ke mobilnya.
"Jadi," Namjoon bersuara lalu melirik kesembilan orang yang ada di sekitarnya, "langsung pulang?"
"Makan siang. Aku lapar." Hyera bersuara sambil menggandeng tangan kanan Yoongi yang sedari tadi terdiam kemudian berlalu menuju parkiran.
Namjoon menghela nafas. Dia teringat pertanyaan Minhyuk soal memukul kepala keponakannya. Sejujurnya dia takut juga akan dimarahi oleh paman temannya itu karena dia sendiri juga sering memukul kepala Hyera.
"YAK! CEPATLAH! AKU LAPAR!"
Kedelapan pemuda itu harus menghela nafas ketika teriakan Hyera menggema. Tidak peduli jika mereka berada di pemakaman.
Taehyung mendahului langkahnya. "Ayo, sebelum suaranya menyebabkan keretakan bumi!"
Next chapter
"Kecelakaan 12 tahun yang lalu?"
"Untuk kali ini, aku tidak mempercayaimu lagi."
"Aku bisa mendengar suara nafas orang lain. Apa ada orang lain yang bersama kalian?"
"Dia…"
"Jika kau menanyakan hal itu pada Hyera, pastikan Min Yoongi ikut mendengarkannya. Karena dengan itu, kalian pasti akan tahu siapa yang mengkhianati siapa."
