Kembali ke beberapa hari yang lalu di basement.
"Apa maksudmu mereka berdelapan dalam masalah besar?" tanya Jungshin yang menatap tajam ke arah Minho.
Minho menatap ke arah Jungshin sekilas lalu mengulurkan selembar kertas. "Ini daftar murid-murid kelas F terdahulu. Tujuh puluh sampai delapan puluh persen dihuni oleh murid beasiswa."
Joonhyuk mengalihkan pandangannya pada tabel-tabel pada kertas yang dimaksud Minho lalu berkomentar, "kami juga tahu perihal itu. Bukannya bukti itu sudah diserahkan kepada polisi, kenapa membahasnya lagi?"
"Ini hanya untuk pembukaan, ssaem." Minho mencebik lalu beralih pada kertas lainnya. "Daftar donator dari tahun ke tahun, peringkat seluruh murid setiap tahun, daftar murid beasiswa, pembeli kursi kosong dan harganya. Ini semua hanya pelengkap saja."
"Jangan menunjukkan data yang sudah kami ketahui. Aku tidak suka basa-basi. Tinggal katakan masalah apa yang kau maksud?"
"Aku menyusun kata-kataku dari sana dulu sebelum ke sesuatu yang mungkin dapat membuat kalian merasa anak-anak itu dalam bahaya." Minho mengedikkan bahunya lalu mengambil lembaran lainnya. "Jika alasan pertama dan utama terbentuknya kelas F adalah untuk menyingkirkan murid beasiswa dan menjual kursi-kursi kosong yang tersisa kepada orang-orang atas."
"Alasan kedua, mendapatkan donatur-donatur terbesar yang mau menanamkan saham mereka ke sekolah. Dan untuk tahun ini ada satu alasan khusus yang berkaitan dengan salah satu donatur."
Joonhyuk memiringkan kepalanya sambil terus menatap lembaran kertas yang terletak di atas meja. "Alasan khusus?"
"Taeyong!"
Taeyong mengetikan sesuatu di layar komputernya lalu menampilkan satu artikel yang membuat Joonhyuk harus bergerak maju untuk membacanya. "Berita kecelakaan?"
"Lihat tahunnya, ssaem!" perintah Taeyong.
"Lee Nayoung, Ibu dari Baek Seojung. Murid kelas A yang menjadi penghuni peringkat pertama, menggantikan Kim Namjoon." Minho mengulurkan selembar kertas yang berisi sebuah profil seorang wanita yang mereka tahu sebagai Lee Nayoung. "Donatur terbesar di sekolah khusus tahun ini."
Jungshin menyipitkan matanya, menatap Minho untuk menuntut bukti lain yang bisa memperkuat argumennya. "Hubungannya?"
"Kecelakaan 12 tahun yang lalu?"
Minho mengangguk lalu kembali menatap Jungshin. "Kecelakaan 12 tahun yang lalu. Sebuah kecelakaan yang menewaskan satu keluarga di dalam mobil kecuali satu anak laki-laki."
"Oh, kasus itu ditutup dengan jalan damai, 'kan?" tanya Joonhyuk yang kembali membaca artikel itu.
Minho mengangguk. "Lee Nayoung adalah pelaku penabrakan itu. Dia membayar hakim dan pengacara korban. Membuat kasus itu ditutup melalui jalan damai tanpa mempertimbangkan apapun. Padahal kecelakaan itu mengakibatkan dua orang tewas. Anak laki-laki yang menjadi korban selamat menuntut karena tidak terima dan berakhir dengan dia menghilang sampai sekarang."
Joonhyuk memiringkan kepalanya tidak mengerti lalu menatap Taeyong. "Hmm, aku masih belum menangkap apa hubungan yang ada. Jadi, apa hubungannya dengan murid-murid kelas F?"
Taeyong mengubah tampilan komputernya menjadi delapan foto murid kelas 2-F yang sekaligus adalah teman sekelasnya.
Minho meraih satu lembar kertas lain dan menunjukkan foto salah satu murid kelas F. "Min Yoongi. Anak laki-laki yang selamat dari kecelakaan itu."
Mata Joonhyuk membulat, tidak percaya pada yang baru saja didengarnya. "Maksudmu, Yoongi yang pucat itu?"
Minho mengangguk sebagai jawaban. "Hakim dan pengacaranya," dia mengambil dua lembar kertas lain yang menunjukkan dua foto murid kelas F. "Byun Seojoon dan Jung Haejun."
"Apa maksudmu? Kenapa ada Hyera disini?" Jungshin mengambil satu lembar kertas yang berisi profil Hyera lalu menatap tajam Minho. "Kau tidak lihat, nama depannya Kang."
Minho menggeleng. "Dia anak kedua Byun Seojoon yang dibuang oleh Ibunya sendiri, Kang Yoona. Hyera diserahkan kepada adik Ibunya dari dia lahir. Anak itu memiliki nama asli Byun Hyera."
"Jadi, maksudmu Ayah Hyera dan Ayah Hoseok terlibat dalam masalah ini? Maksudmu orang tua mereka berdua terlibat dalam kasus tabrak lari yang dialami keluarga Yoongi?"
Minho memilih mengangguk lalu beralih untuk menatap Jungshin yang sudah berubah ekspresinya. Dia tidak terkejut jika akhirnya Jungshin akan memasang ekspresi itu, sebuah ekspresi terkejut sekaligus tidak menyangka.
"Ini tidak sepenuhnya salah orang tua mereka, 'kan?" sahut Taeyong yang diam-diam juga mengamati Jungshin. "Keluarga Min Yoongi sendiri dibutakan oleh uang dan dengan teganya membiarkan dia hidup diluar. Aku dengar, mereka juga memperebutkan harta orang tuanya, 'kan? Sampai lupa bagaimana hancurnya dia saat itu."
Minho menatap Taeyong sekilas lalu menghela nafas. Dia kembali menatap Jungshin yang sudah mengepalkan tangannya, terlihat siap untuk memukul siapa saja saat ini.
"Aku paham." Joonhyuk mengangkat suaranya setelah berdiam selama beberapa saat. "Wanita itu ingin menyingkirkan barang bukti dan tidak ingin anak-anak itu mengetahui masalahnya?!" Dia melangkah untuk menghampiri meja Minho.
"Kurang lebih seperti itu." Minho mengambil lembar kertas yang berisi profil lainnya.
"Kim bersaudara juga terlibat?"
"Anak yang bernama Kim Seokjin tidak terlalu terlibat tapi jika menyangkut masalah keluarga Kim, maka dia termasuk." Minho bertumpu pada kedua tangannya lalu menatap Jungshin yang masih belum berkomentar. "Untuk Kim bersaudara, aku rasa ini lebih ke masalah pribadi yang berujung balas dendam. Ayah Namjoon dan Taehyung adalah mantan kekasih Nyonya Lee Nayoung. Bisa dikatakan sebagai efek dari patah hati."
Minho kembali mengambil dua kertas terakhir yang menunjukkan profil dua orang lainnya. "Mungkin Seokjin masuk ke daftar dimana dua orang lainnya berada. Orang tua Jeon Jungkook, Park Jimin dan Kim Seokjin menarik investasi saham mereka dari perusahaan Nyonya Lee Nayoung."
"Jadi mereka semua hanya jadi kedok balas dendam sekaligus?" Jungshin membuang rokoknya ke lantai lalu menginjaknya. "Apa yang akan dilakukan wanita itu?"
"Aku juga tidak tahu tapi ini menyangkut keselamatan anak-anak itu. Mungkin masalah diskriminasi sekolah sudah berakhir tapi keselamatan mereka masih terancam. Wanita itu ingin melenyapkan mereka."
"Kau dapat informasi ini darimana?" tuding Jungshin yang terlihat meragukan pernyataan Minho. Setelah mendengarkan berbagai informasi yang dijelaskan ditambah lagi keberadaan Lee Taeyong, dia jadi ragu untuk mendengarkan lebih lanjut.
Taeyong tampak beranjak dari posisinya lalu berdiri di belakang Minho. "Seseorang terpercaya. Jika kami katakan pun kalian tidak akan mempercayainya. Intinya teman-temanku kemungkinan berada dalam masalah besar."
Joonhyuk menatap Taeyong dan Minho secara bergantian. Dia sama seperti Jungshin, meragukan pernyataan kedua pemuda di hadapan mereka.
"Kalau begitu, kenapa kau memberitahu kami? Kenapa tidak katakan pada polisi saja sekalian?"
Minho menepuk mejanya lalu menggigit bibir bawahnya. "Belum ada bukti fisik yang bisa ditunjukan kepada polisi. Ditambah lagi suaminya adalah salah satu orang yang berpengaruh di kepolisian."
"Jadi, ini hanya asumsi kalian saja?" tanya Joonhyuk lagi.
Minho mengumpat dalam hatinya. Dia hanya ingin meminta bantuan kedua gurunya untuk mengatasi masalah ini. Ditambah lagi pemuda ini baru saja mendapat masalah di pengadilan karena membongkar tempat dimana bukti yang dibutuhkannya tersimpan.
"Hyung," tegur Taeyong yang menatap ponselnya, "dia menghubungi kita."
Minho tersentak lalu tersenyum lega. "Angkat dan biarkan mereka mendengarnya langsung!"
Setidaknya masih ada satu bukti yang mungkin masih bisa meyakinkan kedua guru mereka. Minho membutuhkan orang lain yang bisa diajak kerjasama demi mendapatkan kepercayaan sahabatnya.
"Semoga dengan ini kau mempercayaiku. Aku mohon, kita harus menghentikan dia."
Baekhyun melempar ballpoint-nya ke atas meja lalu memijat pelipisnya. Kepalanya sedikit sakit beberapa hari ini karena terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Sebenarnya bukan hanya itu saja. Ingatannya terlempar pada kejadian beberapa hari yang lalu, entah kapan tepatnya, Baekhyun sendiri tidak ingat. Yang jelas, karena kejadian itupula kepalanya menjadi penuh akan segala pikiran. Ditambah lagi sudah beberapa minggu terakhir dia tidak bertemu adiknya, Hyera.
Soal Hyera, pikirannya kembali terbang ke ingatan itu. Ingatan yang ingin dia tampik. Dan karena itu pula, Baekhyun tidak ingin mempercayai temannya lagi. Tidak, setelah omong kosong yang dibicarakan oleh orang itu.
"Untuk kali ini, aku tidak mempercayaimu lagi."
Jungshin melangkahkan kakinya untuk memasuki kelas setelah beberapa hari ini meliburkan diri karena alasan, yang jelas dia tidak mengatakan soal pertemuannya dengan Minho. Bibirnya tersenyum tipis saat beberapa murid kelas lain menyapanya di sepanjang koridor hingga kakinya terhenti di depan kelas favoritnya, 2-F.
Tangannya menggeser pintu depan lalu melangkah masuk dan disambut oleh seruan-seruan hampir seluruh muridnya.
"Ssaem," panggil Sungjae yang sudah mengangkat tangan kanannya, "ssaem kemana? Kenapa tidak hadir selama tiga hari kemarin? Itu pertanyaan beberapa murid perempuan."
Jungshin tersenyum apalagi saat murid-muridnya tertawa dan mengejek lima murid perempuannya. Memang sejak kejadian terbongkarnya kedok sekolah, kelas ini kian menghangat. Tidak adalagi ketegangan setiap pengumuman hasil tugas ataupun ujian. Well, walaupun tidak merubah kehidupan di barisan belakang.
"Ssaem, kenapa diam saja?"
Senyuman Jungshin luntur saat mendapat Taeyong bertanya kepadanya. Sebenarnya dia sendiri tidak mau terlihat memikirkan sesuatu tapi melihat salah satu muridnya yang itu, Jungshin semakin sulit melupakan masalah besar yang mungkin saja terjadi dan menimpa mereka, penghuni barisan belakang.
"Baiklah, kita mulai pelajaran hari ini. Keluarkan buku kalian!"
Kedelapan remaja itu menatap guru olahraga mereka. Pasalnya sejak jam olahraga dimulai, mereka berdelapan belum mendapat giliran untuk praktik. Sedangkan yang lain, maksudnya teman sekelas mereka sudah menyelesaikan giliran mereka dan melanjutkan ke bagian lain.
"Nam-ssaem?!" tegur Hoseok sambil melambaikan tangan kirinya di depan wajah sang guru, Nam Joonhyuk. "Dia tidak merespon."
Kedelapannya saling bertatapan bingung saling menunjuk untuk membuyarkan lamunan sang guru.
Yoongi hanya menghela nafas saat dia yang terpilih. Jadi pemuda berkulit pucat itu menggosokkan kedua tangannya lalu menepuk kedua bahu Joonhyuk.
"Nam-ssaem?!"
Joonhyuk tersentak lalu menatap kedelapan muridnya. "Ah ya, ada apa?"
"Ssaem, kapan giliran kami?" sahut Jimin yang bertanya dengan nada ragu. "Tinggal kami yang belum mendapat giliran."
"Benarkah? Maafkan aku." Joonhyuk beranjak dari posisinya lalu menepuk pundak Taehyung dan Seokjin yang berdiri di hadapannya. "Aku sedang banyak pikiran."
"Tidak apa, ssaem. Jadi kapan giliran kami?" sahut Jungkook seraya melirik sang guru olahraga.
Joonhyuk tidak menjawab. Dia malah melangkah maju dan meniup peluitnya sebagai pertanda agar seluruh murid di lapangan menatap ke arahnya.
"Kita sudahi pertemuan hari ini. Mohon maaf tapi ssaem lupa ada hal penting yang harus dilakukan."
"Baik, ssaem!"
Setelah itu, Joonhyuk benar-benar pergi meninggalkan lapangan dan mengabaikan delapan muridnya yang saling bertatapan bingung.
"Lalu, bagaimana dengan nilai kita?" sahut Namjoon yang masih memandangi punggung Joonhyuk yang kian menjauh.
Hyera mengedikkan bahunya lalu menghela nafas. "Sepertinya dia dan Jungshin-ssaem sedang memiliki masalah."
Seokjin menjadi orang yang menatap Hyera. "Apa kali ini ada hubungannya denganmu?"
Hyera berdecak sebal lalu menendang kaki Seokjin. "Kenapa kalian selalu mencurigaiku?" ucapnya lalu melangkah pergi.
"Wah, anak itu kenapa sensitif sekali?" sahut Hoseok yang masih menatap Hyera sampai menghilang dari jangkauan mereka.
"Bagaimana? Apa kau percaya apa yang dikatakan orang itu?"
Jungshin menatap rekannya yang duduk di salah satu bangku dan sedang merokok. Dia heran sejak kapan rekannya itu suka menyentuh benda itu, padahal Joonhyuk adalah tipe yang akan sangat anti pada rokok.
"Aku tidak tahu harus percaya atau tidak." Joonhyuk mengisap kembali rokoknya lalu meniupkan asapnya ke udara. "Tapi jika yang dikatakan Minho benar, apa yang harus kita lakukan?"
Jungshin memijat pelipisnya. Dia juga bingung harus bertindak bagaimana. Dia sendiri ragu atas apa yang didengarnya. Lalu, bagaimana jika yang dikatakan Minho adalah benar? Artinya murid-muridnya dalam bahaya.
"Jungshin-ah," panggil Joonhyuk ketika tersadar jika rekannya itu sama sekali tak merespon ucapannya, "apa kau tidak bisa melakukan sesuatu? Maksudku lakukan sesuatu demi keponakanmu."
"Aku tahu," Jungshin memekik frustasi. Dia sangat tahu, kelewat tahu jika hal itu benar maka orang yang ingin dilindunginya saat ini sedang dalam bahaya.
Kedua pria dewasa itu melirik ke arah layar ponsel yang baru saja diletakkan Taeyong di atas meja. Sebuah nomor tanpa nama tertera pada layar.
"Password?"
"Lee Taeyong."
Minho menjadi orang yang menjawab panggilan itu. Kemudian hening untuk beberapa waktu hingga terdengar helaan nafas.
"Cepat atau lambat, pekerjaan ini akan terlaksana. Aku yakin kau sudah mendengarnya waktu itu, 'kan?"
"Bagaimana rencananya?"
"Aku tidak bisa memberi detailnya. Rencana ini mengalami perubahan karena Insung ingin melakukan sesuatu pada salah satu dari mereka dan aku tidak tahu apa itu."
Minho menggigit bibirnya lalu menatap dua pria di seberang mejanya. Ketiganya saling bertatapan dan Minho memberi isyarat agar kedua orang itu diam.
"Aku ingin memastikan satu hal." Lanjutnya lalu melirik Taeyong yang sudah melangkah maju. "Apa kau yakin mereka berdelapan terlibat?"
"Aku tidak suka pengulangan, Minho-ya. Semuanya kau dengar sendiri waktu itu. Foto yang aku kirim, itu foto mereka semua, 'kan?"
Taeyong melirik ke arah layar paling besar yang menampilkan sebuah foto yang berisi kedelapan temannya saat di Jeju. Dia sendiri ingat karena Sungjae yang mengambil gambar itu untuk mereka. Gambar yang diambil tepat mereka selesai barbeque.
"Taeyong, kau sudah memastikannya, 'kan?"
"Sudah, hyung. Itu memang mereka."
Hening selama beberapa saat.
"Kalian di basement, 'kan?"
"Memangnya dimana lagi?" sahut Minho yang kemudian menggigit bibir bawahnya.
"Aku bisa mendengar suara nafas orang lain. Apa ada orang lain yang bersama kalian?"
Dalam hitungan detik, keempat orang itu menegang. Tidak ada yang bersuara, bahkan mereka menarik kepala mereka menjauh dari meja.
"Taeyong-ah?! Jawab! Siapa dua orang itu?"
Taeyong menjilati bibirnya lalu melirik Minho yang menggangguk pasrah. "Guruku, Lee Jungshin dan Nam Joonhyuk."
Tidak ada jawaban yang keluar dari seberang telepon, semakin menambah ketegangan yang ada. 30 detik berlalu, sampai sebuah tembakan terdengar oleh keempatnya.
"Sorry, aku sedang latihan tembak. Lee Jungshin walikelasmu?"
"Iya, hyung."
"Dengar, Jungshin-ssi! Aku sudah tahu siapa kau dan tidak tahu kenapa Minho mempercayai kalian. Tapi, aku peringatkan untuk tidak menyebut diriku kepada siapapun. Atau, akan kupastikan seluruh muridmu berenang dengan darah. Oh, atau aku mengirim kepala keponakanmu saja?"
Jungshin mengepalkan kedua tangannya, tidak terima jika sang keponakan dijadikan bahan ancaman seperti ini. Tunggu, kenapa dia bisa tahu jika ada keponakannya disana?
"Aku tahu karena aku sudah menyelidikimu secara diam-diam. Benarkan, Minho-ya? Kalian berdua melakukan ini untuk mencapai tujuan masing-masing."
Joonhyuk menatap ke arah Minho tidak percaya, sedangkan yang ditatap hanya bisa mengulum bibirnya.
"Tenang saja. Selama kau menjamin keselamatanku, aku akan menjamin nyawanya dengan senang hati. Kau juga, Choi Minho."
"Baik."
"Oh, carikan aku tentang Jo Insung!"
Setelah itu panggilan terputus dan Joonhyuk menjadi orang pertama yang membuka suara. Matanya menelisik tajam ke arah dua pemuda yang saat ini sedang berusaha menetralisir rasa tegang yang baru saja berakhir.
"Siapa orang itu?"
Minho menatap kedua gurunya lalu menundukkan kepalanya. "Seseorang yang disewa Lee Nayoung untuk menghabisi mereka."
"Dia? Kau…bagaimana bisa kalian berhubungan dengan orang itu?" sahut Joonhyuk yang berusaha menahan amarahnya.
"Sekarang bukan masalah bagaimana kami berhubungan dengan orang itu," ucap Taeyong yang mengambil ponselnya kembali, menekan sesuatu lalu melemparnya ke tempat sampah. Dia menatap Joonhyuk lalu melirik Jungshin yang masih terdiam, "apa kalian sudah percaya pada kami?"
Joonhyuk menepuk pundak Jungshin lalu menghela nafas. "Aku tidak tahu jika salah satu dari mereka adalah keponakanmu. Pantas saja kau selalu memperjuangkan mereka."
"Maaf," gumam Jungshin yang menundukkan kepalanya. Hanya beberapa saat sampai dia kembali menatap Minho. "Jadi kau tahu siapa…keponakanku?"
Minho mengangguk lalu menatap Taeyong yang memilih untuk berbaring di sofa yang ada di sudut ruangan. "Sebenarnya aku sudah lama ingin mengacaukan sistem sekolah ditambah lagi saat aku tahu jika adikku, Lee Taeyong juga tercampak di kelas F. Jadi aku, kami sepakat untuk membongkarnya. Aku menyelidiki orang-orang luar yang terlibat sedangkan Taeyong bertugas untuk mencari tahu orang-orang dalam yang ikut menjadi dalang."
"Sampai kami tahu jika kalian berdua akan dikeluarkan karena menentang sistem sekolah." Taeyong melanjutkan penjelasan Minho sambil memejamkan matanya. "Tapi, untuk itu kami harus mencari latar belakang kalian untuk memastikan jika kalian bisa kami percayai. Awalnya aku juga pikir Jungshin-ssaem memperhatikan kelas karena peduli tapi saat tahu ada alasan lain, aku dapat menyimpulkannya."
"Aku saja baru tahu setelah pengungkapan. Dia tidak mengatakan apapun sampai aku mengajak kalian bekerja sama." Minho kembali membuka notebook-nya lalu menghela nafas. "Apalagi saat informasi tentang Lee Nayoung ingin menghabisi mereka, aku mulai mengetahui banyak hal yang tidak mungkin kalian duga. Kasus keponakanmu, hubungan orang tua mereka dengan Lee Nayoung, sampai fakta baru mereka dalam bahaya."
"Jadi apa yang ingin kalian lakukan?" tanya Jungshin yang mulai kembali menjadi dirinya yang keras.
"Wanita itu sangat gila. Bahkan akan melakukan apapun secara sempurna dan bersih. Misalnya saja pada kecelakaan orang tua Yoongi." Minho mengumpulkan lembaran-lembaran kertas itu menjadi satu lalu merapikannya. "Jadi, kita harus mencari cara agar mereka berdelapan tidak menjadi korban Lee Nayoung."
"Ssaem," panggil Taeyong yang masih pada posisinya, "aku tidak peduli soal kasus tabrak lari itu ada hubungannya dengan mereka tapi aku mohon jangan pandang mereka sama seperti orang tua mereka."
"Tunggu, tunggu!" Joonhyuk mengetuk meja beberapa kali untuk menarik perhatian ketiganya. "Jadi siapa keponakanmu, Lee Jungshin?"
"Dia…"
Hoseok menghentikan langkahnya di depan gedung pengadilan. Beberapa menit yang lalu dia baru saja menyaksikan bagaimana hebatnya sang ayah memenangkan kasus yang di tanganinya. Dia juga tidak henti-hentinya berseru kagum bahkan ketika memutuskan keluar dari ruang sidang.
Setelah hubungannya dengan kedua orang tuanya membaik, Hoseok jadi sering mengunjungi keduanya. Entah saat ayahnya membela di ruang sidang atau saat ibunya sibuk mengurus butik yang ada diluar kota.
Kembali ke detik-detik dia masih tersenyum lebar karena sudah menyaksikan betapa kerennya sang ayah, Hoseok menatap layar ponselnya. Dia ingat, setelah ini dia harus ke rumah Jungkook karena teman-temannya sepakat untuk mengisi hari ini dengan berkumpul di rumah itu. Sebenarnya mereka berencana untuk di rumahnya tapi Hoseok tidak ingin rumah kesayangannya diobrak-abrik oleh tujuh orang aneh itu.
Baru saja kakinya akan kembali melangkah saat sebuah suara menginterupsinya. Sebuah suara asing yang pernah dia dengar sebelumnya memanggil namanya.
"Jung Hoseok!"
Hoseok membalikkan badannya dan mendapati seorang wanita berpakaian mewah, sama seperti yang terakhir kali dia lihat. Langkah angkuhnya kian mendekat dan mengundang tatapan muak dari pemuda bermarga Jung itu.
"Oh, ternyata dugaanku benar. Jung Hoseok, putra Jung Haejun."
Serius, Hoseok muak. Dia bahkan berusaha menahan diri agar tidak menendang wanita itu. Lee Nayoung, ibu dari Baek Seojung yang masih menetap di kelas 2-A Sekolah Creighton dengan tanpa malunya.
"Bagaimana? Apa ayahmu memenangkan sidang kali ini?"
Hoseok memutar bola matanya jengah. Dia tidak berminat untuk menjawab.
"Pasti menang. Dia salah satu orang hebat yang aku kenal."
"Bagaimana kau mengenal ayahku?" tanya Hoseok dengan nada tidak berminat. Ditambah lagi rasa tidak suka saat wanita itu dengan santainya berbicara seolah mengenal baik ayahnya.
Nayoung tersenyum. "Aku dan ayahmu, kami berteman. Dia bahkan pernah membantuku menyelesaikan satu masalah dengan bersih. Sungguh, ayahmu orang paling hebat."
Hoseok mengernyit bingung. Ayahnya berteman dengan wanita ini?
"Sebenarnya bukan hanya dia saja. Jika kau tahu Byun Seojoon, dia juga turut andil membantuku bersama ayahmu. Mereka adalah orang-orang hebat."
Byun Seojoon? Ayolah, Hoseok mengenal pria yang kini menjabat sebagai anggota parlemen itu. Seojoon mantan hakim di tempat ayahnya bekerja dan merupakan teman sekolah ayahnya bahkan sampai sekarang.
"Kau pasti membuat masalah besar." Komentarnya dengan nada menyindir.
Wanita itu mengedikkan bahunya lalu tersenyum. "Tidak terlalu besar. Mereka berdua hanya membantuku menyelesaikan masalah. Aku masih berhutang pada mereka."
Hoseok menghela nafas lalu memejamkan matanya. "Jika merasa berhutang, setidaknya lunasi hutangmu. Aku sedikit terkejut kau berteman dengan ayahku dan Paman Byun."
"Soal Byun Seojoon, bukannya kau berteman dengan anaknya. Aku dengar kalian sangat akrab di sekolah."
Hoseok mengernyit bingung. Tunggu, dia tahunya anak pertama Seojoon adalah seorang hakim sedangkan anak bungsunya sekolah diluar negeri, jadi Hoseok tidak ingat ada anak Seojoon di sekolahnya. Lalu akrab? Kenal saja tidak. Syukur-syukur dia mengenal Byun Seojoon yang merupakan teman ayahnya.
"Oh, apa aku salah? Putri kedua Byun Seojoon juga ada di kelas 2-F, sama sepertimu." Nayoung tampak berpikir lalu melirik Hoseok.
"Maaf, Nyonya Lee Nayoung yang terhormat. Aku tahu Paman Byun memiliki dua anak. Satunya sudah menjadi hakim dan putri bungsunya sekolah diluar negeri."
"Ah, aku paham." Nayoung memperbaiki posisi coat yang dikenakannya. "Orang-orang tidak tahu jika Seojoon memiliki tiga anak. Byun Baekhyun, putra pertamanya lalu Byun Hyeyon, putri bungsunya dan Byun Hyera, putri keduanya."
"Aku tidak kenal."
"Benarkah? Tapi wajar saja jika kau merasa sangat asing dengan namanya. Tidak ada nama Byun Hyera di sekolahmu tapi Kang Hyera. Benarkan? Aku dengar Byun Hyera dibuang ibunya dan dirawat oleh adik ibunya maka namanya berubah menjadi Kang Hyera."
Sekarang Hoseok semakin tidak terima saat nama temannya disebutkan oleh wanita itu. Dia sendiri tidak tahu kemana arah pembicaraan ini.
"Berhenti membuang-buang waktumu, Nyonya Lee. Sebaiknya kau pergi dari sini."
"Sepertinya benar kau tidak tahu soal Kang Hyera padahal aku kira kalian saling mengetahui satu sama lain. Atau Hyera menyembunyikan identitasnya dengan baik? Wah, apa itu yang dinamakan teman?"
Hoseok memejamkan matanya sebelum membukanya kembali untuk menatap Nayoung. Mulutnya sudah gatal untuk menghentikan ocehan tidak jelas wanita itu.
"Dengar, Lee Nayoung-ssi! Aku tidak tahu apa masalahmu padaku, Hyera atau temanku yang lain. Informasi saja, selama sebuah pertemanan terjalin tulus tanpa pengkhianatan, aku tidak masalah jika ada satu atau dua atau bahkan seluruhnya menyembunyikan identitas mereka. Entah akhirnya mereka anak hakim, anggota parlemen, seorang yatim piatu atau sebagainya, aku tidak peduli. Jadi, jika ini caramu untuk balas dendam karena sudah mempermalukanmu dan putrimu, aku harus mengatakan maaf karena ini tidak mempan bagiku."
Nayoung mengangguk paham lalu menyeringai. Dia membalikkan badannya, bersiap untuk melangkah pergi.
"Jika kau menanyakan hal itu pada Hyera, pastikan Min Yoongi ikut mendengarkannya. Karena dengan itu, kalian pasti akan tahu siapa yang mengkhianati siapa."
Hoseok menggelengkan kepalanya tidak paham atas maksud wanita itu. Apalagi membawa nama Yoongi. Jadi dia memutuskan untuk segera melangkahkan kakinya karena sudah terlambat. Hyera juga terus mengiriminya pesan karena dirinya belum juga tiba.
Next chapter
"Aku tidak tahu harus mengatakan ini padamu atau tidak, bagaimana jika Byun Seojoon adalah ayah kandung Hyera?"
"Sajang-nim, dia menerobos masuk! Maafkan aku."
"Aku bersumpah tidak akan membiarkanmu melihat atau menyentuhnya. Jangan pernah dekati Seokjin karena dia juga membencimu!"
"Soal orang tuamu, apa benar kau…"
Gawat! Aku baru saja membangunkan singa.
