Saat ini rumah Jeon Jungkook dalam keadaan lenggang. Sang tuan rumah dan tamunya kini memenuhi halaman samping dekat dengan kolam renang. Tiga dari mereka memilih untuk menikmati waktu tidur siang, sedangkan sisanya memilih untuk memainkan beberapa game kecil dengan camilan sebagai teman mereka. Oh, terkecuali untuk Jung Hoseok yang memilih untuk di pinggir kolam renang dengan sekaleng cola di tangannya.
Sebenarnya sejak pertemuan dengan Nayoung di depan gedung pengadilan tadi, Hoseok sedikit memikirkan apa maksud wanita itu. Bukannya meragukan hubungan mereka tapi Hoseok hanya penasaran. Dia ingat sekali selama beberapa bulan terakhir mereka sering menghabiskan waktu bersama, hanya Hyera yang tidak terlalu banyak menyinggung soal keluarganya.
Hoseok mengetahui sedikit tentang orang tua ketujuh temannya, termasuk orang tua Yoongi yang sudah meninggal karena kecelakaan, berdasarkan informasi dari Chanyeol waktu itu. Namun untuk Hyera, dia hanya ingat gadis itu mengatakan orang tuanya telah tidak ada. Setelahnya, mereka tidak mengungkinya kembali.
"Jika memang Hyera adalah putrinya Paman Byun tapi kenapa nama depannya Kang?" gumam Hoseok sambil menatap kosong ke permukaan kolam yang tenang. "Lalu bukannya Hyera sendiri yang mengatakan jika orang tuanya sudah meninggal?"
"Yak! Apa yang kau lakukan disini?"
Hoseok ingin mengumpat. Dia bersumpah jika sampai tubuhnya berendam di dalam kolam saat ini, dia akan mencelupkan kepala siapapun ke dalam kloset. Untung saja tidak sampai terjatuh.
"Kenapa kau diam saja?"
Itu Park Jimin, calon yang akan dicelupkannya ke dalam kloset.
Jimin mendudukkan dirinya di samping Hoseok lalu menelisik wajah bermarga Jung itu dengan khidmat. Keningnya berkenyit bingung, tidak mengerti dengan ekspresi Hoseok yang tidak seperti biasanya.
"Memikirkan apa?"
Hoseok menggelengkan kepalanya lalu menghela nafas. "Sesuatu yang harusnya tidak memusingkan kepalaku."
"Dan sesuatu apakah yang membuat wajahmu bertekuk sepanjang hari ini? Apa karena Hyera memukul kepalamu dengan panci?"
Ah, Hoseok jadi teringat kejadian beberapa jam yang lalu saat dia tiba di rumah Jungkook. Tepat pintu rumah terbuka, kepala dan telinga Hoseok langsung berdengung karena panci yang dipukulkan ke kepalanya. Pelakunya yang tak lain Kang Hyera juga menatapnya sebal karena datang terlambat.
"Atau kepalamu gegar otak karena panci tadi?" lanjut Jimin yang menutup mulutnya karena shock yang dibuat-buatnya.
Hoseok mendesis sebal. "Ingin kutenggelamkan kepalamu?"
"Bercanda saja." Jimin mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya sebagai tanda damai. "Ingin memberitahuku?"
"Soal Hyera," ucap Hoseok yang lalu melirik ke arah tiga orang yang masih terlelap di bawah pondok di seberangnya, "apa kau tahu soal orang tuanya?"
Jimin ikut melemparkan pandangannya ke objek yang sama. Dari tempatnya, mereka dapat melihat Namjoon yang menggeliat selama beberapa saat sebelum akhirnya bangun dan beranjak dari posisinya. Kini meninggalkan dua orang tukang tidur disana.
"Orang tuanya sudah tidak ada, 'kan? Makanya sekarang dia tinggal dengan pamannya."
Hoseok mengangguk sebagai pembenaran atas fakta yang dia sendiri tahu. Hanya saja kata-kata Nayoung terngiang di kepalanya.
Jimin mengalihkan pandangannya pada Hoseok yang sudah mencelupkan kedua kakinya ke dalam kolam. "Tumben bertanya soal anak itu. Ada apa?"
Hoseok menghela nafas. Dia sendiri bingung harus memulai darimana untuk menjelaskan kepada Jimin. Otaknya memutar memori-memori saat mereka bersama, menghabiskan waktu dengan bersantai atau bertengkar kecil, saling mengejek. Sampai ingatannya terlempar di hari mereka berkumpul di rumah Seokjin setelah kejadian Hyera menangis ketika tiba di café bersama Jimin.
"Kau bilang bertemu dengan Byun Seojoon saat di rumahnya. Kau yakin itu Byun Seojoon?"
Jimin mengenyit bingung sebelum akhirnya mengangguk. Ingatannya ikut terlempar pada kejadian hari itu. Jelas sekali dia menjadi saksi Hyera menangis walaupun dia sendiri tidak yakin apa yang membuat gadis menyebalkan itu menangis.
"Oh ya, aku ingat." Serunya seraya menatap ke sekeliling mereka, memastikan tidak ada orang lain. "Kau ingatkan saat kami tiba di café dan Hyera dalam keadaan menangis?"
Hoseok mengangguk lalu mendekatkan telinganya pada Jimin agar memperjelas bisikan pemuda itu.
"Sebenarnya Hyera bukan menangis karena kami taruhan apapun itu sejenisnya." Jimin menjeda kalimatnya lalu melirik dua orang yang masih setia pada kegiatan tidur mereka. "Aku yakin hari itu aku melihat Byun Seojoon, istrinya dan kedua anaknya disana. Mereka seperti membicarakan sesuatu yang serius dengan Daniel dan Paman Kang. Kau juga ingatkan saat dia memutuskan untuk menginap di rumah Seokjin?"
Hoseok mengangguk. Dia sangat ingat semuanya tanpa terkecuali. Jadi dia memutuskan untuk kembali menatap Jimin.
"Kau juga ingatkan waktu dia meminta kita berhenti untuk menyebut nama Byun Seojoon?"
Hoseok kembali mengangguk sebelum mengutarakan pertanyaan yang ada di kepalanya. "Apa hubungan Hyera dan Byun Seojoon?"
Jimin kembali menegakkan tubuhnya lalu mengedikkan bahu. "Aku rasa mereka keluarga dan Hyera tidak terlalu menyukai keluarga hakim Byun."
"Aku tidak tahu harus mengatakan ini padamu atau tidak," Hoseok mendekati Jimin untuk berbisik, "bagaimana jika Byun Seojoon adalah ayah kandung Hyera?"
"ASTAGA! ITU MUSTAHIL!"
Hoseok segera membungkam mulut Jimin yang memekik semaunya. Dia menatap ke arah empat temannya yang memberikan tatapan apa yang terjadi kepadanya.
"Aku juga meragukannya tapi seseorang mengatakannya padaku saat di gedung pengadilan. Dia bilang jika Kang Hyera adalah Byun Hyera, putri kedua Byun Seojoon yang diserahkan istrinya ke adik istrinya."
Jimin membulatkan matanya seraya menggelengkan kepalanya. "Bagaimana bisa seorang ibu membuang anak kandungnya sendiri?"
"Aku juga tidak tahu, Jim." Hoseok menggigit bibir bawahnya untuk beberapa saat. "Kau tahu siapa nama istrinya Byun Seojoon, 'kan?"
Jimin mengangguk lalu membuka mulutnya, "Kang Yoona."
Hoseok menjentikkan jarinya semangat. "Mungkin saja seperti ini. Kang Minhyuk, ayah Daniel-hyung sekaligus pamannya Hyera adalah adik Kang Yoona, istrinya Byun Seojoon."
Jimin menggeleng ragu. "Aku tidak tahu harus mengatakan apa tapi kita tidak tahu faktanya, Seok. Minimal kita harus mencari seseorang yang tahu semua dan bisa menjelaskannya kepada kita."
Hoseok mengangguk paham lalu menghela nafasnya untuk kesekian kali. "Aku akan bertanya pada Hyera langsung. Bukannya ingin merusak suasana, aku hanya penasaran."
"Well, mungkin tidak buruk. Coba saja nanti."
Pria itu menghentikan langkah kakinya tepat di depan salah satu gedung yang sudah lama tidak dia kunjungi. Bibirnya tersenyum tipis sebelum akhirnya melanjutkan langkah kakinya untuk masuk ke dalam gedung.
"Mari kita lihat seberapa rindu kau padaku."
Kaki itu terus melangkah masuk tanpa peduli dengan ramainya lobby oleh orang-orang yang berlalu lalang. Dia terus melangkah, menggunakan lift sampai ke satu lantai yang menjadi tujuannya sejak awal.
Sebuah koridor sepi dengan ujung sebuah pintu utama dimana sang pemimpin gedung ini berada. Kedua kakinya tetap melangkah tanpa ragu dan mengabaikan teguran dari seorang wanita yang berdiri di balik meja resepsionis.
"Tuan, anda ingin bertemu dengan siapa?"
Pria itu tidak menjawab dan malah tersenyum, melewati meja resepsionis dan menuju pintu utama yang ada di depannya.
Wanita yang berstatus sebagai sekretaris itu langsung beranjak dari tempatnya lalu mengejar pria itu. "Tuan, apa anda sudah membuat janji dengan sajangnim?"
Pria itu melirik si sekretaris sekilas lalu kembali menatap pintunya. "Kau diam saja disini!"
Sekretaris itu langsung menghentikan langkahnya. Dia tidak bisa berbuat banyak saat pria itu mendorong pintu itu sampai terbuka dan memperlihatkan atasannya sedang membahas sesuatu dengan rekannya.
"Sajang-nim, dia menerobos masuk! Maafkan aku."
"Lama tidak bertemu, Kim Jungra!"
"Dengan sangat terpaksa aku akan mengirimmu lagi ke Skotlandia untuk membahasnya. Tidak masalahkan?"
Minhyuk hanya bisa menghela nafas lalu melirik wanita yang berstatus sebagai atasannya itu sedang menatapnya dengan mata memohong. Bahkan kedua tangannya bertangkup di depan dada.
"Memangnya sejak kapan kau tidak terpaksa mengirimku keluar negeri?" acuhnya lalu mengalihkan pandangannya ke arah kertas-kertas yang memenuhi meja.
"Kang Minhyuk, harta berharga KSJ Group yang berharga!" wanita itu mengedipkan matanya bahagia. "Kau memang juniorku yang terbaik."
"Jangan memujiku saat ada maunya." Minhyuk mendengus sebal lalu tanpa segannya dia memukul kepala sang atasan dengan pulpen yang dipegangnya. "Berhenti bertingkah menjijikan, Jungra-ssi. Pantas saja Seokjin sering malas mendengarkan ucapanmu. Apa Minsung tahu jika kelakuanmu seperti ini?"
Jungra tidak tersindir. Dia malah semakin tersenyum lebar tanpa ragu. Sampai suara pintu terbuka mengalihkan pandangan mereka berdua. Seorang pria tengah tersenyum simpul dan sang sekretaris yang berwajah waswas berdiri sedikit di belakang si pria.
"Sajang-nim, dia menerobos masuk! Maafkan aku."
"Lama tidak bertemu, Kim Jungra!"
Minhyuk menjadi orang pertama yang berdiri. Wajahnya tampak terkejut dengan kehadiran pria itu namun hanya beberapa saat. Karena detik berikutnya dia kembali memasang wajah tidak senang akan kehadiran pria itu.
"Apa yang kau inginkan?"
"Oh, ada Kang Minhyuk ternyata. Sudah lama tidak bertemu."
Pria itu kembali melangkah untuk memasuki ruangan tanpa ragu. Matanya mengedarkan pandangan pada setiap bagian ruangan.
"Chayeon-ssi, kau bisa pergi!" ucap Jungra pada sekretarisnya.
Sang sekretaris membungkukkan badannya lalu menutup pintu sebelum akhirnya meninggalkan ketiga orang itu disini.
"Aku tanya padamu, Jo Insung. Apa yang kau inginkan?" ulang Minhyuk dengan nada tegasnya.
"Aku hanya ingin datang menyapa istriku, apakah salah?"
Jo Insung, pria dengan bekas luka bakar di pipi kanannya itu mendudukkan dirinya di kursi kerja Jungra. Dia mengamati setiap detail bagian meja kerja.
"Aku bukan istrimu lagi, Jo Insung-ssi. Lebih baik kau pergi sebelum aku panggil petugas keamanan." Jungra bersuara dingin. Dia memilih untuk mengalihkan pandangannya pada berkas-berkas yang sebelumnya dia bahas bersama Minhyuk.
"Ah, benar. Kau sudah menjadi istrinya Minsung." Insung masih bermain di kursi Jungra lalu beralih pada sebuah foto. "Putraku sudah tumbuh dengan baik, ya?"
Jungra sebisa mungkin untuk mengabaikan ucapan Insung. Dia memilih memejamkan matanya dan memekakkan telinganya.
"Kim Seokjin." Insung mengelus bingkai foto yang menampilkan putra sematawayang Jungra lalu tersenyum. "Aku ingin bertemu dengannya."
Sebuah gebrakan berhasil mengejutkan Minhyuk. Sedangkan Jungra sudah berdiri untuk menatap tajam Insung.
"Aku bersumpah tidak akan membiarkanmu melihat atau menyentuhnya. Jangan pernah dekati Seokjin karena dia juga membencimu!"
Insung meletakkan kembali bingkai foto ke tempat semula lalu beranjak dari posisinya. "Kau menanamkan kebencian pada putraku? Kau jahat, Kim Jungra!"
"Kau…kau yang membuatnya membenci dan memang sudah sepantasnya begitu. Jadi, aku harap kau segera pergi dari tempat ini sebelum aku benar-benar menghubungi polisi dan menyeretmu ke penjara."
"Aku tidak mau di penjara lagi." Insung berucap dengan nada takut. Kakinya melangkah untuk menghampiri Minhyuk. "Aku akan bertemu dengan Seokjin, cepat atau lambat. Oh, kudengar keponakanmu ada disana juga."
Minhyuk mengepalkan kedua tangannya dan membiarkan Insung melewati dirinya. Dia ingin memukul wajah pria itu tapi disatu sisi dia tidak ingin menimbulkan masalah lain.
"Kalau begitu, aku pergi. Sampaikan salamku pada Jeon Minsung, ya!"
Setelahnya pintu kembali tertutup bersamaan menghilangnya Jo Insung dari pandangan mereka.
"…sekian pelajaran hari ini. Oh ya, kumpulkan tugas miniatur bangunan kalian dua minggu lagi."
Sepergian guru itu, seisi kelas 2-F mendesah pasrah. Beberapa dari mereka juga berdecak sebal atas tugas kerajinan tangan yang diberikan. Sepertinya kesan dari perubahan sistem sekolah tidak merubah cara mengajar setiap guru pada umumnya. Guru tetaplah guru yang akan selalu memberikan tugas dengan atau tanpa keperimuridan.
"Jadi, siapa yang akan berbelanja alat dan bahan yang diperlukan?" tanya Seokjin disela kegiatannya mengemaskan buku-bukunya.
"Aku dan Hoseok." Taehyung menjawab dan diangguki oleh Hoseok yang lengkap dengan senyum cerahnya. "Dan juga Hyera."
"Hah? Aku? Kenapa?" seru Hyera yang merasa tidak terima. Seingatnya dia sama sekali tidak menawarkan diri. Matanya melirik tajam Taehyung yang hanya mengedikkan bahunya acuh.
"Sesekali salah satu dari kami harus menyuruhmu." Jimin menyahut lalu mengacak surai Hyera yang sudah berubah warna menjadi biru gelap. "Ayo ke kantin!"
"Tunggu, Tae!" cegah Hoseok yang sukses menghentikan pergerakan ketujuh temannya. "Bukannya hari ini giliran kita mendapat kelas malam?!"
"Ah, sial." Jungkook menjadi orang pertama yang mendesis sebal. Dia juga teringat jika kelompok mereka mendapat jadwal kelas malam hari ini bersama kelompok kelas lainnya.
"Padahal aku ingin main game hari ini." Jimin menyahut sambil menatap ketujuh temannya satu persatu yang kemudian terhenti pada Yoongi. "Kau jadi menginap di rumahku, 'kan?"
Yoongi mengangguk lalu beranjak dari posisinya. "Kau tahu sendiri jika keinginan tiang listrik itu tidak terpenuhi."
Jimin menggelengkan kepalanya sebagai tidak kepahaman atas kelakuan saudaranya, Park Chanyeol. Apalagi saat kemarin malam merengek seperti bocah dua tahun yang belum mendapatkan susu. Jimin sempat berpikir dua kali lipat sebenarnya apa yang salah dengan saudaranya itu.
"Tiang listrik? Chanyeol itu?" sahut Namjoon yang sudah berdiri di ambang pintu.
"Tentu saja. Memangnya siapa lagi?" balas Jimin yang masih sebal pada kejadian kemarin malam. "Dia merengek padaku untuk membawa Yoongi ke rumah hari ini. Bahkan menelpon Yoongi tengah malam hanya untuk memintanya menginap malam ini."
"Nanti saja bicaranya," ucap Jungkook yang sudah merangkul Hyera, "aku lapar."
"Dasar kelinci buntal!" sahut Seokjin yang mengekor di belakang Namjoon.
"Berisik!"
Waktu menunjukkan pukul enam lebih lima belas menit malam saat kedelapannya keluar dari gedung sekolah. Masing-masing dari mereka memisahkan diri untuk pulang ke rumah, meninggalkan tiga orang yang masih berkumpul di depan mobil Seokjin yang diambil alih oleh mereka.
"Daftarnya sudah lengkap?"
Hoseok hanya mengangguk atas pertanyaan Taehyung. Dia terlalu sibuk mengamati daftar hal-hal apa saja yang mereka perlukan. Sedangkan penanya langsung masuk ke dalam mobil.
Hyera masih setia menunggu Hoseok yang tampak khidmat dengan catatan mereka. "Kita hanya belanja bukannya tes masuk universitas."
"Oke." Hoseok berucap kemudian berlalu memasuki mobil bagian belakang, meninggalkan Hyera yang hanya bisa menghela nafas.
Untung saja gadis itu sedang dalam mode lelah dan tidak bertenaga untuk menendang Hoseok. Jadi dia memutuskan untuk segera masuk ke dalam mobil dan duduk di depan, tepat di samping Taehyung yang menyetir.
"Rasanya besok aku ingin membolos. Ada yang mau ikut?" tanyanya seraya mengenakan sabuk pengaman.
"Membolos saja mengajak orang lain." Hoseok menyahut dari belakang. "Aku dan Taehyung harus cari aman, kehadiran kami berdua sangat kurang. Bukannya kau juga."
"Tepatnya kita berdelapan." Taehyung meralat seraya melajukan mobil.
"Ah, benar." Hoseok teringat lalu menghela nafas. "Kita sering membolos bersama selama beberapa hari karena salah satu atau dua dari kalian."
"Bilang saja sebagian masalah karena aku." Hyera menyahut lalu menatap ponselnya yang tiba-tiba berdering. Nama Yoongi tertera di layarnya. "Apa?"
Hoseok memilih untuk memainkan ponselnya sedangkan Taehyung memilih fokus pada jalanan yang cukup padat malam ini.
"Lagi? Ya ampun, tidakkah kalian kasihan padaku?"
Hyera berteriak membuat Taehyung sedikit melirik temannya itu selama beberapa saat sebelum akhirnya kembali terfokus pada jalan.
"Tidak, tidak. Kau diam saja disana. Lagipula ini bukan pertama kalinya." Ada jeda sedikit di percakapan itu sampai Hyera menghela nafas. "Baiklah."
"Kenapa?" tanya Hoseok langsung. Dari belakang sana, dia penasaran kenapa temannya itu berteriak beberapa saat yang lalu.
"Yoongi bilang Daniel pergi ke Busan untuk klubnya dan akan pulang besok pagi. Jadi kemungkinan besar aku akan di rumah sendirian malam ini."
"Ya sudah. Ikut menginap di rumah Jimin saja."
"Tidak, terima kasih. Aku masih tidak terbiasa mendengar ocehan tengah malam Chanyeol."
Hyera menggelengkan kepalanya saat teringat setiap detail Chanyeol menginap di rumahnya. Dulu, setiap Chanyeol menginap di rumahnya –sebelum kejadian mengetahui fakta Park bersaudara dan Yoongi- Hyera harus tersadar tengah malam hanya karena pemuda itu mengetuk pintu kamarnya. Saat ditanya, pemuda itu mengocehkan beberapa kalimat lalu pergi. Entah kenapa setiap dia bangun karena mengigau, selalu berakhir dengan mengetuk pintu kamar Hyera, bergumam kalimat-kalimat yang tidak dimengerti kemudian pergi.
"Bagaimana dengan rumah Jungkook?"
Hyera membulatkan matanya, sedikit terkejut lalu menatap Taehyung yang baru saja menghentikan mobil mereka karena lampu merah. "Kau ingin aku mati tidak bergerak karena melihat Ayah Jungkook?" serunya lalu menggelengkan kepalanya. Dia jadi terbayang wajah Jeon Minsung, Ayah Jungkook yang selalu menampilkan wajah datar dan dingin, memberi kesan negatif pada otak Hyera untuk takut pada pria itu padahal Tuan Jeon tidak melakukan apapun.
"Berlebihan sekali. Paman Jeon tidak semenakutkan yang kau pikir, Kang."
Hyera menggeleng tidak setuju atas pernyataan Hoseok. Sekalipun menurut seluruh teman-temannya Ayah Jungkook adalah orang yang baik tapi Hyera tetap takut padanya.
Ketiganya mengitari salah satu toko alat tulis yang ada di pusat perbelanjaan. Dengan mendorong sebuah troli, Hyera menemani Hoseok yang sibuk mencari barang-barang yang mereka perlukan. Sedangkan Taehyung memilih untuk mencari ke tempat lain.
"Tali yang dibutuhkan seperti apa?" tanya Hoseok yang baru saja memasukkan dua kaleng lem berukuran kecil ke troli mereka. Dia menatap Hyera yang menopang seluruh tubuhnya di troli.
"Taehyung yang mencarinya."
Hoseok hanya mengusap wajahnya ketika mendengar jawaban temannya itu yang mirip seperti anjing kecil yang menginginkan sesuatu tapi takut menyampaikannya. Jadi dia memutuskan untuk menarik troli itu dari depan, bersamaan dengan tubuh Hyera yang tidak bertenaga.
"Tadi kau ingin mencari apa?"
"Taehyung yang mencarinya."
"Bagaimana titipan yang lain?"
"Taehyung yang mencarinya."
"Tidak adalagi yang ingin kau cari?"
"Taehyung yang mencarinya."
Baiklah, cukup sudah.
Hoseok menghentikan langkahnya bersamaan dengan berhentinya troli. Dia menatap Hyera yang sekarang mirip dengan kucing yang sekarat karena kelaparan.
"Kau itu kenapa? Lapar atau apa?"
Hyera mengangkat kepalanya yang hampir tidak bertenaga itu untuk menatap Hoseok lalu kembali menjatuhkannya ke pegangan troli. "Aku mengantuk. Yang-ssaem tidak membiarkanku tidur disisa jam malam."
Jung Hoseok itu anak yang sabar jadi dia memutuskan untuk menahan diri untuk tidak mendorong troli itu dan menabrak menara buku yang ada tak jauh dari mereka. Tubuhnya hendak berbalik saat teringat sesuatu.
"Hyera, aku ingin bertanya sesuatu?"
Hyera hanya melirik lalu menatap dengan tatapan bertanya dan tidak berminat.
"Soal orang tuamu, apa benar kau…"
"Sudah menemukan semuanya?"
Suara itu menghentikan kalimat Hoseok bersamaan dengan datangnya Taehyung dari belakang keduanya.
"Tidak semuanya. Ada beberapa yang perlu dicari di tempat lain." Hyera segera berdiri, membantu Taehyung memasukkan barang-barang yang penuh di kedua tangannya ke dalam troli. "Sudah semua?"
Taehyung mengangguk lalu menatap troli mereka yang rata-rata dipenuhi oleh buku-buku pesanan Namjoon. "Sebenarnya belanjaan kita tidak sebanyak ini tapi karena pesanan…begitulah."
Hoseok mengangguk setuju lalu mengambil salah satu buku yang dibawa Taehyung sebelumnya. "Namjoon benar-benar menekuni bisnis?"
"Sepertinya. Dia sudah mulai mengisi rak-rak buku dengan segala hal berbau bisnis. Aku saja sampai muak sendiri."
"Oh iya, Seok, kau tadi ingin bertanya apa?" sahut Hyera yang masih menatap Hoseok, sebenarnya tadi dia antara mendengar dengan tidak ditambah lagi Hoseok belum menyelesaikan pertanyaannya.
"Besok saja, sekalian dengan Yoongi." Hoseok menghela nafas, lagipula dia sedikit tidak nyaman menanyakan di tempat seperti ini. "Tidak adalagi, 'kan? Ayo bayar!"
Ketiganya memasukkan kantong-kantong belanjaan ke bagian belakang mobil, menyusunnya sedemikian mungkin untuk menghindari kemungkinan rusaknya barang-barang yang mereka beli. Ditambah lagi pesanan berharga Namjoon yang harus sampai di tangannya tanpa lecet.
Taehyung menutup pintu belakang lalu menghampiri Hyera yang memperbaiki ranselnya. "Kau yakin? Kami bisa mengantarmu dulu."
Hyera menggeleng lalu menarik nafasnya dan tersenyum. "Aku bisa pulang sendiri, tenang saja. Aku juga harus mampir ke bank untuk mengambil titipan Daniel."
"Ya ampun, ayolah! Mumpung mobil Seokjin disini." Hoseok menyikut Hyera dengan nada mengejek. "Kapan lagi mendengar Seokjin mengikhlaskan mobilnya digunakan kita?!"
Hyera hanya tertawa kecil lalu menepuk pundak kedua temannya. "Lagian arah rumahku dan rumah Seokjin berlawanan, kalian harus memutar dua kali lipat. Aku bisa pulang dengan bus."
Taehyung menggigit bibir bawahnya ragu sebelum akhirnya mengangguk. "Jika ada masalah, kabari kami!"
"Ayey, captain!" ucap Hyera dengan hormat lalu mengedipkan sebelah matanya. "Pulang sana!"
Hoseok membuka pintu depan yang sebelumnya diduduki Hyera lalu meraih jaket cokelat Taehyung yang terletak disana dan menyerahkannya pada gadis itu. "Pakailah! Kau hanya pakai seragam hari ini."
Hyera menerimanya lalu mendorong Hoseok agar segera masuk ke dalam mobil. "Pergi sana! Kenapa kalian sangat mengkhawatirkanku? Aku akan baik-baik saja."
"Hanya memastikan kau tidak membuat masalah saja. Kau itu pembuat masalah ulung."
"Yak! Cepat enyah dari pandanganku sebelum kutendang kau, Jung Hoseok!"
Taehyung membunyikan klakson sebelum akhirnya melajukan mobilnya dan Hyera hanya melambaikan tangannya sambil tersenyum.
"Kau benar-benar menyukai Hyera, ya?"
Taehyung mendelik tajam ke arah Hoseok yang sedang tertawa di sampingnya. "Apa maksudmu?"
"Jaketnya sudah aku serahkan pada Hyera." Hoseok berucap kembali lalu merogoh saku celananya untuk mengambil ponselnya. "Jelas sekali kalian menyukai Hyera tapi sayang saja anak itu terlihat sangat polos."
Taehyung baru tersadar jika jaketnya tidak ada disana kemudian kembali memincingkan matanya pada Hoseok. "Apa maksudmu kalian?"
"Ho, ayolah, Kim Taehyung!" Hoseok memutar badannya untuk menatap sahabatnya yang sedang menyetir lalu tersenyum lebar. "Kau, Namjoon, Seokjin, Jimin, Jungkook, Yoongi bahkan aku. Kita semua menyukai Hyera, kau tidak tahu itu?"
Saat itu juga Hoseok merasa tubuhnya terlempar ke samping karena tidak mengenakan sabuk pengaman. Bahu kirinya membentur dasbor depan dengan bokong yang meluncur ke lantai mobil. Delikan tajam langsung diberikan pada sahabatnya yang sedang bersiul.
"Lampu merah tiba-tiba jadi aku juga mengerem tiba-tiba." Taehyung berucap lalu melirik Hoseok yang masih pada posisi sialnya. "Kau kenapa disitu? Sedang mencari sesuatu?"
"Orang cemburu itu berbeda, ya?" sindir Hoseok seraya kembali ke posisinya, mengenakan sabuk pengaman untuk mencegah kejadian yang sama terulang lagi. "Kalau kau cemburu padaku, maka kau salah orang. Aku menyukai Hyera karena dia lucu, polos dan lugu, mirip adikku. Dia juga mengajukan diri menjadi adikku."
Taehyung berdesis sebal lalu kembali melajukan mobilnya. "Bagaimana dengan yang lain?"
"Untuk Yoongi, dia lebih mengganggap Hyera sebagai adiknya. Seokjin juga. Namjoon menyukainya dengan caranya sendiri. Jimin, aku dengar Hyera tidak akan menyukai dia hanya karena Jimin benar-benar menyebalkan. Jungkook," Hoseok melirik Taehyung yang kini masih fokus pada jalanan, "yakin ingin mendengarnya?"
"Tentu saja. Katakan!"
Hoseok menghela nafas lalu mengangguk. "Sepertinya Jungkook akan menjadi saingan beratmu karena dia pernah mencium pipi Hyera."
Sekali lagi, pemuda bermarga Jung itu sudah menduga jika kejadian yang sama akan terulang. Untung saja dia mengenakan sabuk pengaman jadi tidak perlu menabrak dasbor lagi. Namun dia harus menahan tawa begitu melihat Taehyung dengan raut kesal sekaligus, apa namanya cemburu?
"Tenang saja, aku hanya dengar gosip anak-anak yang lain. Mungkin saja itu tidak benar."
"Atau mungkin saja itu benar." Taehyung kembali melajukan mobilnya dengan tatapan yang sama. Jelas sekali itu tatapan cemburu.
Gawat! Aku baru saja membangunkan singa.
Next chapter
"Aku akan memberitahu semuanya saat ketujuh temanmu sudah ada disini. Masukkan dia ke ruangan itu!"
"Aku akan mengunjungi suatu tempat. Kabari aku jika kalian menemukan dia."
"Astaga! Gadis menyebalkan itu berhasil membuat kita panik. Sebenarnya dia ada dimana?"
"Wow, wow! Tenanglah! Aku akan mengirimimu sebuah alamat dan pastikan untuk datang sendiri atau sampai jumpa pada teman cantikmu."
"Harusnya kau mengatakan itu pada dirimu agar bisa menyatakan perasaanmu pada Hyera."
