Hyera menghentikan langkahnya ketika teringat akan sesuatu. Kedua tangannya merogoh saku jaket cokelat milik Taehyung yang sudah dikenakannya sampai akhirnya mendapatkan ponselnya di saku sebelah kanan. Dengan cepat tangannya menyalakan ponselnya lalu menggeser layarnya ke panggilan terakhir dan mendapati nama Yoongi paling atas.
Jarinya hampir menekan tombol hijau pada layar ponselnya saat dia merasa ada seseorang di belakangnya. Dia sedikit mengernyit karena jelas sekali seseorang sedang berdiri di belakangnya karena bayangan yang lebih panjang dari tubuhnya dari lampu jalan yang ada di belakangnya. Namun detik itu juga ponselnya terjatuh ke aspal bersamaan dengan hilangnya bayangan keduanya.
Ketujuh pemuda itu sudah mengisi bangku mereka seperti biasa dan sampai pelajaran hampir dimulai, Hyera masih belum menampakkan wujudnya. Yoongi menatap ketujuh temannya sampai terhenti pada Taehyung yang baru saja kembali dari toilet. Dengan cepat, tangan pucat itu menarik lengan Taehyung dan membuatnya duduk di kursi Hyera.
"Hyera dimana?" bisiknya.
Taehyung mengernyitkan keningnya lalu mengedikkan bahunya. "Kami berpisah di pusat perbelanjaan. Dia bilang akan ke bank. Aku dan Hoseok sudah menawarkan tumpangan tapi kau tahu sendiri bagaimana dia menolaknya. Kenapa?"
"Dia belum datang."
Taehyung menoleh ke arah pintu kelas yang tertutup bersamaan dengan masuknya Lee Jungshin, walikelas mereka. Kepalanya mendongak ke arah Yoongi untuk berbisik.
"Dia bilang hari ini ingin membolos. Mungkin dia sedang membolos."
Yoongi mengangguk lalu meraih ponselnya. Dia mengetik sesuatu dan membiarkan Taehyung melihatnya.
To : Kang Daniel
Apa kau sudah pulang?
Sedangkan di depan, Jungshin sedang mengamati muridnya satu persatu dan terhenti pada kursi kosong yang berada di samping Hoseok. Kemudian pandangannya beralih pada Yoongi dan Taehyung yang menundukkan kepalanya untuk melihat ke bawah meja.
"Dimana Hyera?"
Hoseok menjadi orang yang mengangkat tangannya lalu menjawab, "dia bilang hari ini ingin membolos, ssaem."
Jawaban itu membuat Jungshin menundukkan kepalanya lalu menghela nafas. Dia tidak terlalu ambil pusing dengan muridnya yang satu itu sampai akhirnya tiba-tiba saja Yoongi beranjak dari posisinya dan berjalan keluar diikuti Taehyung.
"Halo? Hyera, kau dimana?"
Sayangnya bukan suara Hyera yang menjawab, melainkan suara seorang pria. "Apa ini dengan Min Yoongi?"
"Ya, benar." Yoongi menjawab sambil melirik Taehyung yang berdiri di sebelahnya. "Dimana pemilik ponselnya?"
"Ah, jadi begini. Aku dari kantor polisi di dekat bank. Seseorang menemukan ponsel ini tergeletak di jalan jadi aku menghubungimu karena namamu ada di panggilan akhir."
"Jadi ponselnya ditemukan tanpa pemiliknya?"
"Iya. Aku menghubungimu karena ingin bertanya apa kau rekannya atau seseorang yang mengenal rekannya?"
"Aku saudaranya. Pulang sekolah aku akan mengambil ponselnya."
"Baiklah."
Yoongi menatap layar ponselnya lalu melirik Taehyung yang masih menatapnya dengan tatapan bertanya. "Dari polisi yang menemukan ponsel Hyera. Dia menjatuhkannya di dekat bank."
Taehyung menggigit bibir bawahnya. Entah kenapa perasaannya saat ini tengah bercampur aduk dengan tidak pasti.
"Hubungi Daniel. Dia pulang pagi ini, 'kan?"
Yoongi mengangguk lalu segera mencari nama Daniel di kontaknya dan menekan tombol hijau.
"Oh, Yoongi? Ada apa? Hyera membuat masalah lagi?"
Yoongi menatap koridor yang kosong lalu memejamkan matanya. "Apa Hyera ada di rumah?"
"Hah? Apa maksudmu? Bukannya dia ada di sekolah sekarang?"
Taehyung yang juga mendengar jawaban Hyera langsung membisikkan sebuah kalimat pada Yoongi.
"Ah, benar. Itu dia. Dia sedang membolos. Aku tutup ya."
"Ah, i-iya."
"Hyera tidak ada di rumah."
Taehyung memijat pelipisnya lalu menghela nafas. "Oke. Kita tenang untuk sementara, masuk ke kelas dan tetap bertingkah seolah tidak ada apa-apa. Kita beritahu yang lain melalui grup."
Yoongi mengangguk. Dia berusaha untuk tenang walaupun pada dasarnya perasaan khawatir sedang menyelubungi hatinya.
Kembali ke kelas, dimana beberapa murid yang masih membicarakan soal Hyera membolos. Beberapa mereka hanya bisa tertawa kecil, memaklumi kelakukan salah satu teman mereka. Sedangkan para penghuni belakang, kepala mereka menunduk ke bawah meja untuk melihat pesan yang masuk ke ponsel mereka. Sampai beberapa saat pandangan ketujuhnya bertemu.
From : Kim Taehyung
Polisi bilang seseorang menemui ponsel Hyera di jalan dan ada kemungkinan Hyera tidak pulang ke rumah dari kemarin malam. Sebisa mungkin jangan panik, kita harus mengendalikan situasi agar tidak ada yang panik.
Pandangan Jungshin dan Taeyong bertemu. Jungshin mengernyitkan keningnya saat Taeyong menatapnya dengan tatapan yang tak bisa diartikan. Saat yang sama, ponselnya bergetar tanda ada sebuah pesan masuk dan membuat pandangan mereka terputus.
From : Lee Taeyong
Hyera sudah berada di tangan mereka.
Di ruangan yang gelap ini adalah tempat dimana Hyera berada saat ini. Tubuhnya terikat di kursi yang berada di tengan ruangan dengan cahaya yang menyilaukan terpancar langsung ke arahnya. Gadis itu masih belum membuka matanya sejak kurang lebih delapan jam yang lalu.
Seseorang baru saja mengguyur tubuhnya dengan seember air dingin dan sukses membuat tubuh gadis itu tersentak bangun. Hyera menggeliat kecil, belakang kepalanya terasa sangat sakit. Kedua tangan dan kakinya juga tidak bisa digerakannya lalu membuat matanya terbuka perlahan tapi cahaya menyilaukan yang terpancar ke arahnya sukses menyakitkan mata.
"Bagaimana tidurmu?"
Sebuah suara parau terdengar dari arah depannya dan Hyera tidak bisa membuka matanya karena terlalu silau.
"Siapa kau?"
"Bukan kau, tapi kalian."
Satu suara lain ikut terdengar. Dia juga orang yang menyiramkan air pada tubuh mungil Hyera tanpa pikir panjang.
"Terserah saja." Hyera membalas dengan nada jengah. Dia masih berusaha melepaskan dirinya yang masih terikat pada kursi.
"Gadis ini," erang pria dengan suara parau tadi lalu mencengkeram dagu Hyera, "tidak bisa bergerak masih saja sombong."
"Bukannya sombong," ucap Hyera yang masih memejamkan matanya, "tuan siapapun kalian, justru karena tubuhku tidak bisa bergerak maka mulutku yang berucap."
Sebuah tepuk tangan mengalihkan pandangan kedua orang yang diyakini pria itu. Pria yang mencengkeram dagu Hyera sudah melepaskan cengkeramannya lalu beralih pada seseorang yang sedang melangkah ke arah mereka.
"Kenapa kau tepuk tangan?"
Suara tawa yang menjawab pertanyaan pria yang menyiram tadi. "Dia gadis yang hebat dan memiliki semangat yang luar biasa. Aku suka. Mulutnya tetap lancar berbicara tanpa peduli situasi apa yang sedang dihadapinya."
Pria yang tadi mencengkeram dagu Hyera kini beralih mencengkeram kerah si pemilik tawa. "Apa masalahmu? Ingin merusak rencana yang sudah kita buat?"
"Wah, wah. Hold up, hyung!" balasnya lalu mengangkat kedua tangannya untuk menenangkan siatuasi. "Rencana tetaplah rencana dan tidak akan merubah fakta jika kita bukan rekan. Aku hanya mengincar seseorang disini."
"Jangan merusak targetku!" seru suara wanita yang berasal dari kegelapan. Langkah kakinya kian mendekat bersamaan tawa lepas yang terdengar dari Hyera.
Pria yang sebelumnya menyiram Hyera mengernyit bingung dengan kedua tangan yang tampak sibuk dengan bungkus rokoknya. "Kau gila ya karena disiram air dingin?"
"Haha, aku lelah tertawa."
Hyera ingin menyeka airmatanya yang mengalir karena terlalu banyak tertawa tapi saat yang sama dia teringat fakta kedua tangannya yang terikat ke belakang. Jadi gadis itu menundukkan kepalanya seraya mengurangi tawanya.
"Aku sempat bertanya-tanya apa alasan kalian membawaku. Aku pikir pamanku mempunyai musuh tapi aku mendengar suara wanita itu." Jedanya lalu menghela nafas. Kepalanya terangkat untuk menatap lantang ke arah wanita yang kini sudah berdiri di belakang lampu. "Ternyata Nyonya Lee Nayoung yang terhormat."
"Kau tahu aku rupanya." Wanita itu –Lee Nayoung melangkah maju, berdiri di belakang lampu agar Hyera dapat melihat wajahnya. "Nilai tambahan untuk gadis pintar sepertimu."
"Itu bukan nilai tambahan," ucap Hyera yang kini mendongakkan kepalanya untuk menatap Nayoung, "justru kesialan karena aku harus mengenal suaramu dari kejauhan. Rasanya ingin segera mengenyahkan segala hal tentangmu."
"Tunggu saja sampai waktumu tiba. Segalanya tentangku akan menghilang bersamaan dengan tubuhmu yang membeku disini." Nayoung menepuk pipi kanan Hyera lalu tersenyum. "Jadi apa kau tahu alasanmu berada disini?"
Hyera meregangkan lehernya lalu mendesah malas. "Poin kekuranganku karena terlalu pintar, aku juga bodoh di beberapa hal makanya aku berakhir di kelas Fiapeless. Jadi aku tidak tahu apa masalahmu sampai membuatku harus bertatap muka denganmu detik ini juga."
"Benarkah?" tanya Nayoung seolah dirinya terkejut. "Kau sama sekali tidak tahu apapun? Wah, apa ini dampak dibuang oleh ibumu?"
Hyera menyipitkan matanya untuk menatap Nayoung lalu kembali bersuara, "sejauh ingatanku melayang, tidak ada keluargaku yang terhubung padamu."
"Ddaeng! Kau salah, nak." Nayoung tersenyum lalu mengacak-acak surai Hyera. "Ayahmu adalah teman baikku. Dia pernah membantuku saat masih menjadi hakim."
"Benarkah? Rencana sial apa yang sampai melibatkan ayahku?"
"Oh? Kau sudah mengakuinya? Byun Seojoon, ayahmu?" seru Nayoung dengan ekspresi terkejut yang dibuatnya. "Bukankah itu pertanda buruk?"
"Apa maksudmu?" tanya Hyera yang seolah terpancing pada ucapan Nayoung.
Sedangkan Nayoung hanya menyeringai seraya membalikkan badannya. "Aku akan memberitahu semuanya saat ketujuh temanmu sudah ada disini. Masukkan dia ke ruangan itu!"
"YAK! LEE NAYOUNG SIALAN! JANGAN MEMBAWA TEMAN-TEMANKU DALAM MASALAH INI!"
Tujuh pemuda itu memutuskan untuk membolos disisa pelajaran. Mereka sepakat memutuskan untuk mencari keberadaan Hyera karena sejujurnya gadis itu belum menghubungi mereka. Ketujuhnya terbagi menjadi dua tim. Yoongi, Hoseok, Namjoon dan Jungkook memutuskan untuk ke rumah Hyera sedangkan Taehyung, Jimin dan Seokjin memilih untuk ke kantor polisi dimana ponsel Hyera ditemukan.
Daniel hanya bisa menatap heran keempat pemuda yang baru saja tiba di rumahnya. Apalagi saat keempatnya menampilkan wajah bingung dan khawatir. Sampai dia akhirnya teringat sesuatu.
"Dimana Hyera?"
Yoongi memejamkan matanya seraya melangkah masuk, Hoseok menelan ludahnya lalu membalikkan badannya, Jungkook mengusap belakang lehernya sedangkan Namjoon hanya bisa menghela nafas.
"Kau yakin Hyera berangkat ke sekolah?" tanya Namjoon.
Daniel mengangguk. "Saat pulang, rumah sudah dalam keadaan kosong. Lagipula jika anak itu membolos, pasti dia akan berguling di sofa ruang tengah."
"Argh," Hoseok mengacak rambutnya frustasi, "coba saja kami mengantarnya sampai rumah."
"Wow, wow. Tunggu dulu! Ada apa ini?" tanya Daniel yang semakin tidak mengerti. "Ceritakan satu persatu padaku."
"Hyera benar-benar tidak pulang." Yoongi menyahut sambil melangkahkan kakinya ke arah pintu masuk. "Jika pulang, pasti tempat tidurnya penuh kertas melodi."
"Yoon, apa yang terjadi?" tanya Daniel yang kini beralih pada Yoongi yang berdiri di sampingnya. "Memangnya Hyera kemana?"
"Aku juga tidak tahu. Kemarin malam dia ikut Taehyung dan Hoseok mencari bahan lalu dia memaksakan diri untuk pulang sendiri." Yoongi melirik Hoseok yang mengusap wajahnya gusar.
Namjoon melangkah mundur untuk menerima panggilan, meninggalkan keempat orang disana dalam keheningan. Tidak ada yang bersuara sampai Namjoon kembali menghampiri keempatnya.
"Dari Taehyung," ucapnya lalu menatap keempatnya satu persatu, "seseorang menemukan ponselnya sekitar 100 meter dari bank."
"Apa tidak ada saksi atau memeriksa CCTV?" sahut Jungkook yang mengetukkan kakinya ke lantai dengan gusar.
Namjoon menggelengkan kepalanya. "Seokjin mengajukan laporan kehilangan juga tidak bisa karena Hyera menghilang belum 24 jam."
Daniel memijat pelipisnya. Raut wajahnya sudah berubah menjadi khawatir. Hyera menghilang tidak seperti biasanya. Dia berusaha untuk berpikir jernih. Mencari tahu kemungkinan-kemungkinan yang tidak negatif.
"Oke, tenang!" ucapnya seraya menghela nafas. Tangan kanannya bergerak merogoh saku untuk mengambil ponselnya. "Aku akan coba tanya Ayah Hyera."
Keempatnya mengangguk sebelum akhirnya tersadar akan sesuatu. Mereka saling bertatapan lalu mengakhiri pada satu orang yang saat ini sedang menelpon seseorang.
"Paman, apa Hyera ada menemui paman? Tidak, tidak ada masalah. Dia sedang marah denganku jadi mungkin saja kabur menemui paman. Baiklah, aku akan tanya pada teman-temannya."
Daniel menatap keempat teman sepupunya lalu menggeleng. "Aku tidak mungkin bilang pada dia jika putrinya menghilang, 'kan? Bahkan ini masih belum jelas kemana dia menghilangnya."
"Baiklah," ucap Jungkook yang mencoba mengendalikan suasana, "kita berpencar dan cari di tempat-tempat yang mungkin didatanginya."
"Masalahnya dia tidak banyak mengunjungi tempat." Daniel menyahut lalu menggigit bibirnya.
"Aku tahu beberapa tempat yang pernah kita kunjungi jadi biar aku kirim daftar tempatnya." Yoongi mengeluarkan ponselnya lalu melangkah keluar rumah.
"Aku akan mengunjungi suatu tempat. Kabari aku jika kalian menemukan dia." Daniel masuk ke dalam rumah untuk mengambil jaket dan kunci motornya lalu menutup pintu rumah.
Mereka berlima mulai berpencar ke tempat tujuan yang dimaksud.
Taehyung mengetuk-ketukkan kakinya pada aspal jalanan. Sudah hampir lima menit dia seperti ini untuk menjernihkan pikirannya. Sesekali juga dia menyalahkan dirinya yang sudah meninggalkan Hyera sendirian kemarin malam.
"Argh, sial!"
Seokjin dan Jimin yang baru saja kembali harus tersentak ketika mendapati rekan mereka sedang menendang tempat sampah yang ada disana. Ngomong-ngomong mereka berada di salah satu gang kecil yang berada tak jauh dari tempat ponsel Hyera ditemukan.
"Hell, bro! Kau gila, ya?" sahut Jimin yang berusaha menarik kerah seragam Taehyung dari belakang. "Apa yang kau lakukan, huh?"
Taehyung menghentikan aksinya lalu menghela nafas. Dia menatap Seokjin yang sedang mengetik sesuatu di ponselnya lalu beralih pada Jimin yang masih mengomelinya.
"Bagaimana? Apa ada orang yang melihat Hyera?"
Jimin menggeleng lalu menyandarkan tubuhnya pada dinding pertokoan yang membatasi lebar gang kecil ini. "Tidak ada yang melihat Hyera ataupun yang mencurigakan lainnya."
"Karyawan bank bilang Hyera keluar seperti orang biasa. Tidak ada yang mencurigakan." Seokjin menyahut ketika menyadari gilirannya. Dia menyimpan ponselnya lalu menatap Taehyung dan Jimin. "Yang lain sedang mencari Hyera di tempat-tempat yang mungkin dikunjunginya."
"Astaga! Gadis menyebalkan itu berhasil membuat kita panik. Sebenarnya dia ada dimana?" gumam Jimin yang tidak bisa menutupi kekhawatirannya walaupun dia sedang kesal saat ini.
Taeyong memutuskan untuk menemui kedua gurunya di rooftop sekolah. Dia tidak bisa meninggalkan kelas begitu saja seperti ketujuh temannya yang menghilang tepat di pergantian jam. kedua tangannya sedang sibuk mengetik sesuatu di ponselnya untuk dikirim ke Minho yang saat ini sedang berada di kantornya.
Pintu rooftop terbuka dan memperlihatkan kedua gurunya sedang menghisap rokok mereka tanpa peduli dengan kehadiran Taeyong. Joonhyuk mengambil langkah mundur untuk memberi ruang pada Taeyong agar berdiri di tengah mereka.
"Menculik Hyera adalah pilihan yang tepat karena saat dia hilang, mereka bertujuh akan memencarkan diri untuk mencarinya." Taeyong mengetik sesuatu pada ponselnya sampai menampilkan satu peta. "Aku berhasil melacak ponsel Hyera dan mencari tahu siapa saja yang ada di sekitarnya. Titik merah itu adalah posisi Hyera sedangkan titik kuning lainnya adalah ponsel orang-orang yang berapapasan dengannya."
Jungshin dan Joonhyuk mengamati pergerakan pada titik merah lalu kembali menatap Taeyong yang tiba-tiba saja menghela nafas.
"Aku kesulitan melacak orang lain yang mengikutinya atau menbawanya. Kemungkinan besar orang itu tidak membawa ponsel yang bisa dilacak. Jadi aku hanya berhenti pada Hyera yang keluar dari bank."
"Apa kau tahu dimana mereka membawanya?" tanya Jungshin.
Taeyong menggelengkan kepalanya. "Dia belum menghubungi kami dan tidak bisa memberikan informasi untuk sementara."
"Apa kau yakin dia orang yang bisa dipercaya?" sahut Joonhyuk yang tampaknya masih meragukan orang yang memberitahu mereka tentang informasi ini.
"Entahlah tapi dia memang harusnya dipercaya." Taeyong mengedikkan bahunya lalu menghela nafas. "Aku masih tidak bisa memperkirakan kapan mereka akan beraksi lagi, ssaem."
Yoongi menghentikan langkahnya di jembatan yang pernah menjadi saksi dirinya dan Hyera lompat ke sungai. Dia merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan ponselnya yang berdering. Sebuah nomor tak dikenal tertera di layarnya.
"Halo!" serunya dingin.
"Min Yoongi-ssi, bagaimana? Apa temanmu sudah ditemukan?"
Yoongi mengernyitkan keningnya. Di satu sisi dia tidak mengerti kenapa orang yang menelponnya ini mengetahui namanya dan soal temannya yang menghilang. Ditambah lagi suara itu, Yoongi tidak bisa menebaknya pria atau wanita karena menggunakan perubah suara.
"Siapa kau?"
"Seseorang yang mengetahui segalanya tentangmu dan dimana temanmu berada."
"Dimana Hyera? Siapa kau? Beritahu aku dimana Hyera, sialan!"
"Wow, wow! Tenanglah! Aku akan mengirimimu sebuah alamat dan pastikan untuk datang sendiri atau sampai jumpa pada teman cantikmu."
"Yak! Tung~"
Panggilan putus secara sepihak. Yoongi mengerang sebal. Dia sendiri tidak tahu sedang berhadapan dengan apa dan siapa tapi kenapa Hyera terkena masalah?
Argh, sial!
Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam dan Namjoon hanya bisa memukul kasar setir mobilnya karena tidak bisa menemukan Hyera. Dia sudah mencari di dua tempat, pemakaman dan area peristirahatan yang pernah mereka kunjungi tapi sayangnya tidak ada Hyera disana. Dia harus menelan pahit, ditambah lagi saat teman-temannya yang lain memberi informasi jika mereka juga tidak menemukan Hyera.
"Aku yakin seseorang pasti menculiknya. Hyera tidak mungkin menghilang selama ini dan lagi, dia tidak betah jauh-jauh sendirian."
Perkataan Hoseok membuat Namjoon kembali menghela nafas kasar dan memilih melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Dia harus melampiaskan rasa khawatirnya pada sesuatu dan mungkin melaju di malam seperti ini akan mengurangi rasa khawatirnya.
Mobilnya terhenti di parkiran pusat perbelanjaan yang menjadi titik temu berdasarkan kesepakatan mereka. Sebenarnya mereka sepakat untuk bertemu di polsek yang menemukan ponsel Hyera tapi Namjoon memilih untuk memarkirkan mobilnya disini. Jarak polsek dengan pusat perbelanjaan lumayan jauh jika ditempuh hanya dengan jalan kaki tapi Namjoon tidak ingin melewatkan sesuatu. Mungkin saja dia menemukan sesuatu di jalan yang juga dilalui Hyera sebelum menghilang.
Langkah kakinya terhenti setelah sepuluh menit berjalan. Dia menatap bangunan bank yang ada di depannya dan meyakini jika Hyera menghilang setelah keluar dari bank.
"Astaga, Hyer! Kau berhasil membuat kami panik sampai detik ini."
Namjoon melanjutkan langkahnya untuk kembali menyusuri trotoar. Pikirannya saat ini hanya terfokus pada Hyera dan apapun itu tentang Hyera.
"Aku jadi menyesal karena tidak menyatakan perasaanku. Argh, sialan!"
Langkahnya terhenti saat merasa dirinya diikuti oleh seseorang. Namjoon tidak ingin membalikkan badannya begitu saja jadi dia memilih untuk memasuki gang kecil yang berada tak jauh dari posisinya.
Saat yang sama, kedua tangannya bergerak lincah untuk menarik orang yang mengikutinya dari belakang. Dia berhasil memojokkan orang itu sampai sebuah suara mengalihkan pandangannya.
"Hei, Kim Namjoon! Ini aku, oke? Jung Hoseok!"
Nyaris, nyaris sekali kepalan tangan kekar itu menyapa wajah Hoseok yang terpojok. Namjoon mengernyit bingung lalu melepaskan tangannya setelah menyadari jika yang saat ini di pojokkannya ada Hoseok.
"Sialan! Aku pikir orang lain."
Hoseok meraup oksigen sebanyak mungkin setelah hampir tercekik mati oleh tangan Namjoon. "Ah, aku pikir akan mati."
"Kau, kenapa berjalan di belakangku?"
"Aku juga memarkirkan mobil di pusat perbelanjaan dan mengikutimu tapi malah berakhir hampir mati." Hoseok mencibir lalu menatap Namjoon yang masih menatap ke arahnya. "Apa?"
Namjoon segera menggeleng dan memutuskan untuk melanjutkan langkahnya. Namun langkah kakinya harus terhenti saat beberapa orang berpakaian hitam berdiri di hadapannya.
"Kau tunggu apalagi? Ayo!" ajak Hoseok yang masih berdiri di belakang Namjoon.
"Seok, sepertinya orang-orang ini berhubungan dengan hilangnya Hyera." Namjoon berucap, kakinya melangkah mundur.
Hoseok menatap objek yang dimaksud oleh Namjoon lalu menarik temannya itu agar mundur. Masalahnya bisa saja mereka langsung menerobos kumpulan orang itu tapi sangat tidak mungkin jika pisau-pisau mengkilap karena cahaya lampu dan besi-besi panjang ikut ada di hadapan mereka.
"Pastikan hidungmu masih bisa menghirup oksigen yang banyak, Seok."
Hoseok tersenyum miring. "Harusnya kau mengatakan itu pada dirimu agar bisa menyatakan perasaanmu pada Hyera."
"Sial."
Perkelahian tidak bisa dihindari lagi. Belasan orang berpakaian hitam itu menyerang keduanya dengan membabi buta. Hoseok dan Namjoon hanya perlu berharap mereka masih bisa membuka mata sudah cukup.
Yoongi menghentikan langkahnya di depan gedung tua di pinggiran kota. Dia yakin jika ini adalah tempat yang tertera pada alamat yang diterimanya. Gelapnya suasana tidak menghentikan langkah Yoongi untuk memasuki area gedung.
"Hyera, kau dimana?" teriaknya tanpa peduli jika bisa saja ada hewan buas yang keluar dari segala arah jika mengingat gedung ini di kelilingi hutan lebat.
"Aku tidak menyangka kau menyerahkan dirimu semudah itu, Tuan Min."
Sebuah suara berhasil menghentikan langkah Yoongi, dia tidak yakin dari mana arah suara itu karena gemaan yang didengarnya.
"Mencariku? Tidak akan semudah itu."
Yoongi menatap sekelilingnya, berusaha mencari sumber suara yang dia yakini seorang pria. "Dimana Hyera?"
"Hmm, kau harusnya mengkhawatirkan dirimu daripada gadis yang sudah setengah mati itu. Mungkin dia hanya memiliki waktu beberapa jam lagi."
Yoongi berdecak. "Apa yang akan kau lakukan padanya? Lepaskan dia!"
"Tidak bisa. Bagaimana jika aku membawamu kesana agar kalian bisa bertukar fakta pahit sebelum akhirnya mati bersama?"
Yoongi meringis saat tubuhnya ditabrak oleh seseorang dari belakang. Dia hendak melawan jika saja saput tangan itu tidak dihirupnya dan membuatnya kehilangan kesadaran.
"Cepat bawa dia dan tinggalkan tempat ini!"
Next chapter
"Dan mereka akan membiarkan kita mati membeku disini?"
"Min Yoongi?!"
"Aku yakin ini ada hubungannya dengan Seojoon-hyung."
"Omong kosong apalagi yang kau bawa?"
"Plat itu tidak terdaftar tapi sempat beberapa kali terekam kamera pengawas sebelum kejadian itu."
