Waktu sudah hampir menunjukkan pukul 10 malam tapi ketiga orang yang ditunggunya belum juga tiba. Jimin dan Taehyung adalah dua orang yang terus berusaha menghubungi tiga orang yang mereka cari, sedangkan Seokjin, Jungkook dan Daniel bertugas membuat laporan kehilangan karena sekarang sudah genap 24 jam gadis itu menghilang tanpa kabar.

"Dimana mereka?" runtuk Jimin yang menatap ponselnya ketika suara operator yang kembali menjawab panggilannya. "Hoseok bilang dia sudah dekat tapi belum muncul sampai detik ini."

Taehyung memijat pangkal hidung. Sudah Hyera yang belum ditemukan, sekarang ketiga temannya menghilang tanpa kabar.

"Bagaimana?"

Itu Seokjin yang baru saja keluar dari kantor polisi.

Jimin menggelengkan kepalanya lalu memilih menyandarkan tubuhnya ke tiang penyangga yang terdapat di teras kantor polisi. "Hoseok dan Namjoon bilang mereka sudah sampai di parkiran sekitar dua jam yang lalu tapi mereka belum muncul sampai detik ini. Padahal jarak dari sana ke sini tidak sampai satu jam."

"Bagaimana dengan Yoongi?"

Kali ini pertanyaan Seokjin tertuju pada Taehyung yang masih terus mencoba untuk menghubungi Yoongi tidak peduli hasilnya tetap sama.

Taehyung menggeleng. Dia mengalah dan memutuskan untuk menyimpan ponselnya. Tak lama, pandangannya beralih pada Jungkook dan Daniel yang baru saja keluar.

"Polisi sedang memproses laporannya dan setelah ini mereka akan mulai mencari Hyera." Daniel membuka suara lalu melirik Taehyung yang sudah mendahului langkahnya. "Aku juga sudah membuat laporan tentang Hoseok, Namjoon dan Yoongi."

"Kau sudah menghubungi Paman Kang?" tanya Seokjin.

Daniel menggeleng. "Aku akan mengabarinya besok, saat dia tiba di Korea."


Hyera hanya bisa duduk dalam diam dengan seluruh tubuhnya yang mati rasa. Gumpalan uap dingin akan terlihat setiap nafasnya. Bibirnya juga kian membiru karena terlalu lama berada di tempat yang suhunya sangat rendah.

Entah tempat apa ini tapi Hyera cukup yakin tempat ini mampu membunuhnya secara perlahan. Suhu yang sangat rendah, entah berapa, Hyera merasa setiap mili tubuhnya menggigil. Dia sudah pasrah jika pada akhirnya akan mati membeku disini.

Kedua tangannya hanya bisa mempererat jaket cokelat pemberian Hoseok yang masih dikenakan walaupun tetap tidak akan bisa menghalau rasa dingin. Kedua kakinya hanya bisa saling merapat untuk mencari kehangatan. Sekedar mengingat saja jika dia masih mengenakan seragam sekolah dengan rok selutut yang tetap tidak akan mengubah apapun.

Suara pintu yang terbuka hanya bisa diabaikan. Seluruh tubuhnya terlalu sakit untuk bergerak sedikit saja atau mungkin akan retak karena getaran kecil dan berakhir dengan pecah menjadi kepingan es? Intinya Hyera kedinginan detik ini juga.

Saat yang sama, dua orang baru saja didorong paksa hingga tersungkur di lantai yang dingin. Keduanya saling menyumpahi orang yang mendorong tidak peduli jika wajah mereka babak belur akibat perkelahian tak seimbang. Setelahnya pintu kembali tertutup dan salah satu pemuda itu bangun lalu menendang pintu itu namun tak memberikan efek apapun.

"Hentikan, Seok! Kau hanya akan membuat patah tulangmu."

Satu orang lainnya memilih untuk beranjak dari posisinya kemudian berdiri, mengamati ruangan yang minim pencahayaan ini. Sumber pencahayaannya hanya berasal dari dua celah dimana dua buah exhaust fan berputar dan dari satu lampu kuning yang tergantung di tengah ruangan yang memiliki luas tidak lebih dari 10 meter persegi. Tidak menyinari seluruh ruangan.

"Joon," bisik salah satu temannya yang sudah merapatkan dirinya, "apa kau tahu kita berada dimana?"

"Aku tidak yakin tapi ini seperti tempat pendingin daging yang biasa digunakan oleh supermarket atau sejenisnya. Suhunya, lampu dan juga penempatan exhaust fan."

"Dan mereka akan membiarkan kita mati membeku disini?"

Lawan bicaranya tak menjawab dan memilih untuk mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan sampai fokusnya tertuju pada satu titik di seberangnya. Kakinya melangkah ragu untuk mendekati apa yang baru saja tertangkap matanya dan dalam beberapa detik kedua matanya membulat.

"Hyera?!"

Pekikannya –atau sebut saja milik Kim Namjoon menyadarkan temannya dari kegiatan melamunnya dan berakhir untuk melihat objek yang berhasil membuatnya terkejut karena pekikan tak biasa milik temannya.

"Yak! Kang Hyera!"

Hyera hanya bisa mengangkat kepalanya perlahan saat sebuah kehangatan menyapa tubuhnya. Matanya sayup hampir tenggelam dalam kegelapan tapi sebisa mungkin untuk mengetahui siapa yang baru saja meneriakkan namanya.

"Hyer, sadarlah!" pinta Namjoon sambil menepuk pelan kedua pipi Hyera.

Hoseok yang masih berdiri di belakang Namjoon segera membuka jaket dan seragam yang dikenakannya, meninggalkan kaos hitam berlengan yang masih melekat di tubuhnya. Kemudian dia beralih ke samping Hyera, menutupi jaket dan membentangkan seragamnya di kaki Hyera.

"Sudah berapa lama kau ada disini?"

"Ah, Hoseok dan Namjoon, ya? Suaramu berisik sekali."

"Terserah kau saja!" protes Hoseok yang sekarang bingung harus melakukan apa. Tubuhnya saja sudah mulai menggigil saat ini apalagi Hyera yang entah sejak kapan ada disini. "Berapa suhu disini?"

"Sepertinya dibawah sepuluh atau bahkan lima derajat." Namjoon menjawab sambil menggeser tubuhnya ke samping Hyera. Kemudian kedua tangannya sibuk membuka jaket yang dikenakannya lalu melemparnya ke Hoseok. "Setidaknya pikirkan kondisimu dulu."

Hoseok memilih untuk diam kali ini. Dia menerima jaket Namjoon tapi hanya disampirkan ke bahunya lalu meraih kedua tangan Hyera untuk menghangatkannya. Saat yang sama, kepala gadis itu jatuh ke arah Namjoon dan membuat pemuda Kim itu langsung mendekapnya dengan erat.

"Hyera, kau harus tetap sadar!"

"Aku tidur sebentar, bolehkan? Setelah ini aku janji akan bangun. Aku mengantuk sekali." Hyera berucap pelan lalu menyamankan posisi kepalanya di dekapan Namjoon sedangkan Namjoon memilih untuk merengkuh tubuh yang sudah hampir sepenuhnya dingin itu, membagi kehangatan yang tersisa.


Pukul empat pagi, kabar tentang beberapa orang menemukan ponsel Namjoon dan Hoseok membuat Taehyung segera melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Dia tidak peduli lagi tentang keselamatannya, yang ada di otaknya detik ini adalah keadaan teman-temannya.

Mobil –milik Seokjin yang dikendarainya berhenti mendadak di depan sebuah bank yang dikunjungi Hyera sebelum gadis itu menghilang. Tidak peduli berbagai teguran beberapa orang yang ada disana karena memarkirkan kendaraannya sembarangan, Taehyung melesat keluar dari mobil dan berlari ke arah kerumunan polisi yang berada di depan sebuah gang.

"Dimana mereka?"

Polisi dengan nama Son Hyunwoo itu memisahkan diri dari rekannya untuk menghampiri Taehyung. Matanya beralih pada gang kecil yang saat ini sudah diberi garis polisi.

"Satu jam yang lalu, seseorang melapor telah menemukan sisa perkelahian disini. Beberapa anggota kepolisian pergi memeriksanya dan mendapatkan dua ponsel yang aku simpulkan adalah milik kedua temanmu. Makanya aku menghubungimu untuk memastikannya."

Seseorang berseragam polisi menghampiri mereka berdua lalu mengulurkan dua buah plastik yang berisikan ponsel. Hyunwoo menerima dua buah plastik tersebut lalu mengulurkannya kepada Taehyung.

Taehyung terdiam untuk mengamati kedua plastik tersebut. Di sebelah kanannya, sebuah ponsel silver berstiker kepala kuda berwarna biru, sedangkan di sebelah kirinya sebuah ponsel berwarna hitam dengan layar yang sudah retak. Ingin sekali dirinya menyangkal tapi pada kenyataannya adalah kedua ponsel itu memang milik Hoseok dan Namjoon.

Hyunwoo dapat melihat ekspresi khawatir dari wajah pucat Taehyung jadi dia kembali menyerahkan kedua plastik tersebut kepada rekannya. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku jaket kulit yang dikenakannya.

"Tidak ada yang melihat perkelahiannya karena dari jejak darah, balok kayu dan besi yang ditemukan sudah menjadi bukti yang cukup untuk menunjukkan jika itu semua adalah jejak perkelahian. Ditambah lagi dalam radius 100 meter, wilayah ini tidak memiliki kamera pengawas. Itu juga yang menjadi alasan kami tidak bisa menunjukkan kamera pengawas pada saat teman perempuan kalian yang menghilang."

Pandangan Taehyung jatuh pada sebuah mobil putih yang terparkir di seberangnya, sekitar 50 meter dari tempatnya berdiri. Kemudian pandangannya beralih kembali pada gang kecil.

"Taehyung-ssi? Apa kau mendengarku?"

Taehyung menatap Hyunwoo lalu mengangguk. Kedua matanya kembali beralih pada mobil putih lalu menunjuknya. "Mobil itu memiliki black box, 'kan?" tanyanya yang disusul dengan helaan nafas untuk menenangkan dirinya. Dia mencoba meyakinkan diri jika dia pernah melihat mobil itu sebelumnya. "Bisa periksa mobil itu? Aku yakin melihat mobil itu saat menuju kantor polisi kemarin malam."

Hyunwoo menatap Taehyung yang masih berfokus pada mobil yang ditunjuknya. Dia dapat melihat seberapa besar remaja di hadapannya itu untuk menemukan teman-temannya yang menghilang. Wajah pucat, rambut berantakan dengan lingkarang hitam yang menghiasi matanya. Hyunwoo jadi sedikit iba sekaligus salit pada persahabatan yang dianut oleh remaja-remaja itu.

Sedangkan Taehyung, dengan bibir pucatnya yang bergetar hebat tanpa sepengetahuan orang lain. Rasa takutnya kian menerkamnya dalam diam. Teman, saudara sampai orang yang disukainya, dia ingin menemukan mereka.

"Yoon, Seok, Hyer, Joon, aku harap kalian baik-baik saja."


Kepulan asap putih itu tercipta dari tiga remaja yang saat ini masih berjuang untuk menghangatkan tubuh mereka. Dinginnya udara berhasil mengunci pergerakan mereka. Hoseok yang terus mengusap kedua tangannya yang sudah memutih dan Namjoon ynag sedang berjuang untuk menghangatkan tubuhnya serta gadis yang masih dipelukkannya. Mereka tidak bisa menghitung berapa lama sudah mereka terperangkap di ruang dingin itu. Yang jelas, tubuh mereka mulai mati rasa karena hawa dingin.

"Aku rasa kita akan benar-benar mati kedinginan disini." Hoseok berucap sambil melirik Namjoon dengan wajahnya yang kian memucat.

Namjoon memejamkan matanya untuk menetralisir rasa dingin yang kian menyeruak. Otak cerdasnya sudah tidak bisa berpikir apapun selain duduk, dan mungkin menunggu bantuan.

Ketika mereka sudah berlapang dada dengan keadaan sekarang, pintu kembali terbuka dan satu tubuh didorong masuk hingga tersungkur. Setelah kembali tertutup, tubuh yang masih setia memeluk dinginnya lantai itu sama sekali tidak menunjukkan pergerakan yang berarti.

"Seok, ambil alih Hyera." Namjoon berucap lalu mendorong tubuh Hyera untuk pindah ke pelukan Hoseok. Dia beranjak dari posisinya dengan susah payah karena seluruh tubuhnya yang hampir membeku. Perlahan kakinya terseok untuk mendekati tubuh yang masih tertungkup itu.

Sebuah tubuh berbalut jaket hitam dan celana kain hitam yang tak asing. Namjoon merendahkan diri yntuk menyentuh tubuh itu, memastikan jika tubuh itu bukan mayat. Masih hangat.

"Siapa?" tanya Hoseok dari tempatnya.

Namjoon menggeleng walaupun tidak yakin Hoseok dapat melihatnya atau tidak. Dia mengumpulkan kekuatannya untuk membalikkan tubuh itu. Bagian depan, tubuh itu mengenakan seragam sama seperti mereka. Nama kelima temannya terlintas begitu saja.

Butuh waktu sekian detik untuk memastikan memastikan siapa pemilik tubuh itu karena wajah yang penuuh luka dan darah –menurutnya, membuat Namjoon sedikit kesulitan. Ditambah lagi pencahayaan yang minim. Jadi dia meraba-raba tubuh itu dan merendahkan kepalanya untuk memastikan jika –semoga saja bukan temannya. Namun sialnya dia kenal pemilik tubuh berkulit pucat yang masih setia menutup mata itu.

"Min Yoongi?!"


Daniel masih mondar-mandir di teras rumahnya sejak sejam yang lalu dia tiba. Bahkan pemuda itu tampak enggan masuk ke dalam ruma hanya untuk menenangkan pikirannya.

Di sisi lain, Seokjin memilih duduk sebagai upaya menahan kantuk sambil sesekali menatap Daniel yang masih menghentikan aktivitasnya. Dia tidak tahu harus mengatakan apalagi agar sepupu temannya itu berhenti dengan kegiatannya.

"Niel, berhenti!"

Daniel mendelik tajam. "Aku lebih tua darimu!"

"Aku anak dari atasan Ayahmu!"

"Lalu kenapa? Memangnya kenapa kalau kau anak dari atasan Ayahku?"

Seokjin mendesis sebal. Padahal niatnya bergurau tapi Daniel malah membalasnya dengan sarkas.

"Bisa kau duduk dengan tenang sambil menunggu kedatangan Ayahmu?"

Daniel menghentikan langkahnya tepat di hadapan Seokjin. "Aku tidak bisa tenang. Hyera belum ada kabar sampai detik ini."

Sebuah taksi berhenti di depan pagar dan membuat jantung Daniel harus berpacu dua kali lipat dari sebelumnya. Apalagi saat Ayahnya keluar dari taksi lalu menarik kopernya untuk masuk ke rumah.

Bohong jika Seokjin tidak melakukan hal yang sama. Dia tak kalah tegang atas kehadiran Paman temannya itu. Kalimat yang disusunnya untuk menjelaskan situasi lenyap hanya dengan menatap Minhyuk yang kian mendekat.

"Eh? Kenapa kalian dia diluar? Seokjin juga kenapa ada disini? Menjemput Hyera?"

Seokjin langsung berdiri di samping Daniel lalu membungkuk hormat. Dia melirik Daniel yang sedang merapalkan manta penenang diri, entah apa itu dia sendiri tidak peduli.

Minhyuk melirik jam tangannya lalu kembali menatap Seokjin bingung. "Bukannya sekolah sudah dimulai sejam yang lalu?"

"Paman!"

"Ayah!"

Panggil mereka dengan kompak dan semakin mengundang kebingungan Minhyuk. Pria itu menatap kedua pemuda di hadapannya.

"Aku yang akan menjelaskannya." Daniel mengalihkan pandangan sang Ayah. "Ayah, soal Hyera, dia sudah menghilang sejak dua hari yang lalu."

"Menghilang? Maksudmu?"

Sepertinya efek jet lag masih menyerang seorang Kang Minhyuk makanya pria itu sedikit tidak paham arah pembicaraan putranya.

Daniel meneguk kasar ludahnya lalu melirik Seokjin yang sudah memejamkan matanya. "Maksudnya Hyera diculik oleh seseorang."

"Diculik? Bagaimana bisa?"

Daniel sudah menduga ini. Hyera adalah topik yang sensitif untuk keluarganya, termasuk Ayahnya, apalagi sepupunya itu diculik berdasarkan informasi yang mereka simpulkan saat ini."

"Maafkan kami, Paman, karena tidak bisa menjaga Hyera." Seokjin menyahut, memberanikan diri untuk menatap Minhyuk. "Sebenarnya Yoongi, Hoseok dan Namjoon juga ikut menghilang sejak kemarin malam. Mereka tidak bisa dihubungi. Sepertinya mereka diculik oleh orang yang sama dengan yang menculik Hyera."

"Mereka juga?" tanya Minhyuk yang segera melepaskan pegangan pada kopernya lalu meroggoh saku untuk mengambil ponselnya. "Apa kalian sudah melaporkan pada polisi?"

Keduanya mengangguk lalu menundukkan kepala mereka. Bersiap jika Minhyuk akan melontarkan kalimat kemarahan akan kelalaian mereka.

"Aku yakin ini ada hubungannya dengan Seojoon-hyung." Minhyuk kembali berucap dan berhasil membuat kepala putranya mendongak.

"Apa maksud Ayah?"

"Aku juga tidak yakin." Minhyuk mengambil kunci mobil yang sedari dipegang Daniel. "Kalian tetap di rumah dan jangan kemana-mana."

Setelah itu, Minhyuk pergi dari sana dan meninggalkan dua pemuda yang masih berusaha menangkap maksud dari pria tadi.

"Jadi? Bagaimana?" tanya Daniel sambil melirik Seokjin yang sudah merogoh sakunya.

"Aku harus memberitahu Ayah Namjoon dan Hoseok soal ini." Seokjin seraya berlari mendekati mobil Jungkook yang dibawanya. "Kau, ikut atau tidak?"

"Iya, iya. Aku ikut." Daniel segera menghampiri Seokjin. Lagipula bagaimana caranya dia masuk ke rumah jika kunci sudah dibawa Ayahnya.


Baekhyun tersentak ketika seseorang baru saja mendobrak pintu ruangannya. Sebelumnya dia bersikap biasa saja tapi saat melihat seseorang yang tidak dipercayainya muncul dengan nafas terengah-engah, Baekhyun berdecih.

"Apa yang kau inginkan? Membual lagi?"

Dia –Choi Minho menggelengkan kepalanya seraya mengatur nafasnya. Perlahan dia menghampiri meja kerja Baekhyun dan menatapnya.

"Aku hanya akan mengatakannya sekali dan kuharap kau mempercayainya."

Baekhyun menatap malas lalu menutup buku yang tengah dibacanya dengan sedikit kasar. "Apalagi yang harus aku percayai dari orang yang sudah menerobos masuk ke ruang bukti dan menuduh Ayahku menerima suap untuk menutupi sebuah kasus? Lebih baik kau pergi dari hadapanku. Aku tidak ingin mendengar omong kosongmu."

Minho menghela nafas. Dia sudah menduga jika orang yang dikenalnya selama ini akan memberikan respon dingin. "Kau akan tahu soal itu nanti. Sekarang, informasi penting yang perlu kau tahu adalah soal Hyera, adik kandungmu."

Baekhyun tercekat. Seingatnya dia tidak pernah mengaakan apapun soal Hyera kepada orang lain, termasuk kepada seorang Choi Minho. Seluruh orang tahunya jika Hyera adalah adik sepupu Baekhyun.

"Bagaimana aku tahu? Ceritanya sangat panjang. Adikmu dalam bahaya sekarang. Dia diculik."

Baekhyun menggebrak meja kerjanya lalu menatap tajam Minho. "Omong kosong apalagi yang kau bawa?"

Saat yang sama, ponsel Baekhyun berdering dan nama ayahnya tertera di layar. Pemuda bermarga Byun itu melirik tajam ke arah Minho sebelum akhirnya menjawab panggilan tersebut.

"Baekhyun-ah, Hyera diculik oleh orang tak dikenal."


Lee Taeyong baru saja menghentikan langkahnya tepat di depan kantor polisi. Entah hantu mana yang baru saja merasuki dirinya sampai harus nekad meninggalkan kelas untuk hari ini. Jadi tanpa pikir panjang, remaja itu langsung menerobos masuk tidak peduli pada beberapa polisi yang ditabraknya dan sempat memberikan beberapa teguran.

"Taehyung! Kim Taehyung!"

"Hei, nak! Apa yang kau lakukan? Tolong jangan membuat keributan."

Taeyong tidak peduli dan memilih untuk segera menghampiri salah satu polisi yang duduk di balik meja jaga. "Apa temanku ada disini. Dia mengenakan seragam yang sama denganku."

Polisi itu mengamati Taeyong cukup lama sebelum akhirnya mengangguk. "Dia berada di ruang monitor. Kau bisa tung~"

Taeyong tidak mendengarkan kelanjutan kalimat polisi tersebut dan memutuskan untuk langsung berlari ke arah yang ditunjuk si polisi yang berjaga sebelumnya. Tepat ke arah sebuah pintu yang berada di sisi kiri kantor polisi.

Di dalam sana, beberapa polisi dan Taehyung sedang mengamati sebuah video hasil rekaman black box yang ditemukan pada mobil putih sebelumnya. Saat yang sama, pintu ruangan dibuka paksa dan Taeyong berdiri disana dengan wajah yang agak kacau.

"Apa yang kau lakukan disini, nak? Keluarlah!" perintah salah satu polisi yang berusaha menghentikan langkah Taeyong, sedangkan yang dihentikan sedang memberontak.

"Ini soal Min Yoongi!" teriak Taeyong tanpa peduli jika dia bisa saja langsung ditembak mati disana.

Son Hyunwoo memberi perintah pada polisi yang menahan Taeyong agar melepaskan remaja itu. "Ada apa?"

Taeyong tidak percaya dan memilih untuk segera membuka ranselnya lalu mengeluarkan notebook dari dalam sana. Remaja itu langsung meletakkan notebook-nya ke sembarang tempat di atas meja tanpa permisi. Tangannya dengan cekatan menyalakan notebook-nya, mengetik sesuatu disana sampai akhirnya menunjukkan satu peta satelit.

"Aku melacak ponsel Yoongi dan lokasi terakhirnya berada di hutan pinggir kota. Ponselnya sempat aktif selama 15 menit disana sebelum menghilang."

Taehyung mendekati Taeyong, menatap teman sekelasnya itu dengan tatapan tak percaya. "Bagaimana~"

"Aku akan menjelaskannya nanti." Taeyong melirik ke arah Taehyung sekilas sebelum akhirnya menatap ke arah layar proyektor yang masih menampilkan video yang sama. "Ini apa?"

"Rekaman black box dari sebuah mobil dari lokasi dua teman kalian menghilang."

Kini seisi ruangan terfokus pada layar yang sudah menampilkan apa yang mereka cari. Namjoon dan Hoseok masuk ke dalam kecil yang tidak lama kemudian kerumunan orang-orang berpakaian hitam masuk ke tempat yang sama. Setelah itu tidak ada yang terjadi apa-apa sampai akhirnya video dipercepat selama beberapa detik sampai di suatu adegan Namjoon dan Hoseok yang tak berdaya dengan tubuh penuh luka. Mereka berdua diseret untuk memasuki sebuah mobil van hitam yang berhenti di depan gang. Van tersebut melaju dan video berakhir dengan orang-orang berpakaian hitam itu pergi.

"Lacak plat mobil ya~"

"Plat itu tidak terdaftar tapi sempat beberapa kali terekam kamera pengawas sebelum kejadian itu."

Seluruh orang disana hanya bisa terdiam dan menatap tidak percaya ke arah Taeyong yang kini sudah menampilkan berbagai rekaman kamera pengawas di layar notebook-nya. Sialnya, remaja bermarga Lee itu baru tersadar jika dirinya baru saja membuka kartunya sendiri. Dia meruntuki betapa cerobohnya dia yang sudah meretas sistem keamanan pusat di kantor polisi dan di hadapan beberapa polisi. Sekali lagi, polisi.

"Nak, kau pasti tahukan bagaimana hukuman karena sudah meretas sistem keamanan negara?" sahut salah satu polisi yang ada disana.

"Tapi ini membantukan?" potong Taeyong yang memberikan tatapan polosnya. Berharap polisi disana melepaskan dirinya.

"Baiklah. Hukumanmu bisa kita tunda sampai masalah ini selesai." Hyunwoo berseru lalu menepuk pundak Taeyong dan tanpa sadar sudah membuat remaja itu menegang. "Kirim tim untuk memeriksa lokasi terakhir Min Yoongi dan periksa kamera pengawas di jalanan yang mungkin dilalui mereka setelah membawa kedua remaja itu. Jangan lupakan untuk memeriksa setiap hal yang mencurigakan."

"Siap!"

Seluruh polisi yang disana segera membubarkan diri. Hanya meninggalkan Hyunwoo dan kedua remaja yang seumuran.

Keheningan melanda mereka untuk beberapa saat sampai akhirnya pandangan mereka harus tertuju pada Taehyung yang tiba-tiba hilang keseimbangan dan jatuh terduduk.

"Taehyung!" pekik Taeyong yang segera beranjak dari posisinya dan mengulurkan tangannya pada Taehyung.

"Aku baik-baik saja." Taehyung berucap sambil menerima uluran tangan temannya itu dan kembali berdiri. "Hanya sedikit pusing."

Hyunwoo menarik kursi lalu mendorongnya ke arah Taehyung agar pemuda itu duduk. Sejenak dia menghela nafas pendek sebelum akhirnya kembali bersuara.

"Aku belum sempat bertanya pada kalian," ucapnya lalu menatap Taehyung yang sudah mengangkat kepalanya, "apa kalian tahu atau ingat orang-orang yang mungkin pernah memiliki masalah dengan teman-teman kalian yang menghilang?"

Taehyung melirik Taeyong yang menundukkan kepalanya lalu menggeleng. "Kecuali pihak sekolah jika kalian ingat kasus Sekolah Creighton. Lagipula yang terlibat sudah diadili dan rasanya tidak ada masalah lagi."

Hyunwoo mengangguk. Bohong jika dia tidak mengetahui masalah besar itu. Kasus korupsi dan penyalahgunaan wewenang yang sempat memperkeruh sistem pendidikan di negaranya beberapa bulan yang lalu.

Tanpa sepengetahuan mereka, diam-diam Taeyong menggigit bibirnya. Dia bisa saja mengatakan segala hal yang diketahuinya tapi entah kenapa rasanya sangat berat. Datang kesini saja hanya berdasarkan naluri tanpa rencana.


Next chapter

"Aku yakin ini ada hubungannya dengan Seojoon-hyung."

"Aku mendapatkan ini dari sumber terpercaya dan bukti yang sudah kami kumpulkan. Kau boleh meragukannya tapi yang jelas, teman-temanmu, termasuk kau sedang dalam bahaya."

"Kalian mempermainkanku? KALIAN SENGAJA MEMPERMAINKANKU?"

"Kau berniat menculikku atau tidak? Kenapa tidak menghabisiku?"

"Lee Taeyong, aku bersumpah jika mereka terluka, kau yang akan aku gantung!"