[ Untuk percakapan yang ditebalkan adalah dalam Bahasa Inggris ]
[ Bila tidak, berarti percakapan dalam bahasa Korea]
Baekhyun's Pov.
"Baekhyunnie!Aku mau pizza."
Well, ini sudah lewat 23menit dari apa yang dikatakan oleh Chelsea's Dad. Aku benar – benar menghitung berapa lama Chelsea akan menanyakkan mengenai pizzanya yang sudah aku letakkan di atas meja makanku. Sedari tadi aku duduk disana, memilih tempat duduk yang bisa melihat jelas bagaimana Chelsea menikmati waktu bermainnya seorang diri dan hanya dengan para boneka – boneka itu semua.
Chelsea menyusul ketempatku, ke meja dapur—sebelumnya ia sempat meminta ijin untuk mencuci tangannya—lalu kini ia mengeringkan tangannya dan berusaha duduk diseberangku.
"Yeay! Pizza!" ia membuka penutup kotak pizzanya, matanya bahkan terlihat berbinar dan bahagia melihat roti tipis dengan tumpukkan daging, paprika dan juga lelehan keju disana. "Selamat makan!" ia mengatakannya sambil berteriak. Tak lupa juga ia sempat memberikan aku potongan slice dan mengatakan ingin memakannya bersama – sama seperti apa yang biasa ia lakukan.
"Biasanya Daddy akan meminta Chelsea memakannya dilipat seperti ini." tangannya melipat bagain pizza itu dan kemudian ia memakannya dengan lahap untuk kedua kalinya.
"Beberapa orang memakan pizza seperti itu." Aku menjawab sambil memperhatikan anak itu yang benar – benar menikmati pizzanya. Ini sudah gigitan keempat dan dua gigitan lagi makan potongan pizza itu akan habis dalam sekejap. Anak ini benar – benar menyukai makan.
"Apa Baekhyunnie lahir di Korea?" –dan ia juga suka bicara.
"Hm, aku lahir di Korea."
"Kapan ulang tahun Baekhyunnie?"—ia sempat meminum seteguk cola dinginnya, mengambil potongan pizza lainnya dan bertanya padaku hal itu lalu menggigitnya lagi.
"Enam mei, kau?" aku berbalik bertanya padanya. Dan Chelsea terlihat berusaha keras menghabiskan kunyahan didalam mulutnya sebelum ia akan menjawab apa yang aku tanyakkan padanya. Mata bulatnya berkedip – kedip kearahku sementara pipi sebelah kirinya menggembung.
"Ulang tahunku sama seperti Daddy. 27 November. Karena Baekhyunnie menanyakkan ulang tahunku, Baekhyunnie harus menyiapkan hadiah nanti."
"OH?!" –Apa-apaan ini.
"Hm. Aunty Kyung mengatakan, setiap kita menanyakkan ulang tahun dan memberi tahu tanggal ulang tahun kita, maka kita harus mendapatkan hadiah nanti. Karena Chelsea belum bekerja, jadi nanti Chelsea akan meminta Daddy membelikan hadiah untuk Baekhyunnie."
Aku sungguh tak percaya Kyungsoo yang aku kenal bisa mengajarkan anak kecil seperti Chelsea mempercayai hal yang aneh seperti ini.
"Baekhyunnie bisa membelikan Chelsea boneka. Brown, Cony, atau mungkin boneka lainnya. Chelsea suka itu."
Bahkan anak ini menjelaskan apa yang ia inginkan untuk hadiahnya yang berjarak enam bulan dari sekarang.
"Baekhyunnie suka apa?"
Aku memandanginya dan mengambil potongan pizza lain untuk siap aku makan. "Aku masih suka boneka, tapi mungkin tidak akan mau memiliki boneka sebanyak dirimu." Tanganku bergerak cepat membersihkan saus tomat yang menempel pada pinggir bibir Chelsea, itu sangat risih untuk dilihat. "Dan juga karena aku sudah lebih dewasa jauh darimu, mungkin aku akan memohon untuk tidak kau hadiahi boneka – boneka." Aku mengedipkan mata kearahnya. Untuk menggoda maksudnya.
"Tenang saja, Daddy pandai memilih hadiah untuk para orang dewasa." Ia mulai mengigit bagian lain pizzanya. "Setiap Daddy memberikan hadiah, mereka pasti akan melompat, mencium dan memeluk Daddy ketika membuka hadiah yang diberikan."
Dan kini aku merasa aneh untuk melanjutkan topik pembicaraan ini. "Oh-oh.. okey."
"Pasti Baekhyunnie juga seperti itu nanti, tapi tidak apa. Chelsea ijinkan Baekhyunie melompat dan memeluk Daddy. Tidak boleh mencium!"
Bila aku mengatakan anak kecil ini menekankan kalimat larangan beserta jari telunjuk kecilnya terarah padaku, apa kalian percaya? Karena memang itulah yang ia lakukan.
"Karena yang boleh mencium Daddy hanya Chelsea, Halmeoni, Aunty Kyung, dan Irene—Baekhyunnie aku kenyang."
Wajahku masing memperhatikan Chelsea yang tak berhentinya berucap, jelas saja ia merasa kenyang. Empat potongan pizza ia lahap dengan cepat dan juga Cola Black Soda—coca –cola tapi Chelsea menyebutnya seperti itu. Ia kini merebahkan kepalanya pada meja dapur masih tetap memandangiku.
"Berapa umur Baekhyunnie? Apa sama dengan Irene?" Chelsea menyangga wajahnya, masih dengan mata yang berkedip – kedip pelan serta bibirnya yang bergerak mengerucut ataupun terlipat menunggu jawaban dariku.
"Siapa Irene?" aku bertanya dulu dengan salah satu nama yang masing asing dan jelas aku tidak tahu siapa dia itu.
"Mmm.. apa namanya ya.. sek-ske—ah—Sekssrestaris—
UHUK.
Aku tidak bercanda atau membuatnya terlihat berlebihan, tapi aku benar – benar tersedak hingga rasanya sulit untuk menelan masuk air soda atau kunyahan pizza yang masih berada di tenggorokkanku. Dan pada akhirnya semuanya mengalir dan keluar dari mulutku terbuang dengan air kran yang aku buka pada tempat cuci piring yang ada didapurku.
Pendengaranku bermasalah.—mungkin—entahlah. Aku yakin Chelsea mengatakan SEKSRESTARIS.
"Aaaahh.. secretary!" dan dia kembali berteriak mengoreksi apa yang telah ia ucapkan tadi dan hampir membunuhku karena mendengar sedikit kata yang sangat tidak pantas diucapkan oleh anak seusianya.
"Baekhyunnie okey?"
Tidak. Aku hampir mati kehabisan nafas.
Dan aku tidak mungkin mengatakan itu padanya. Aku hanya mengangguk, berusaha tersenyum meskipun begitu pahit karena tenggorokanku terasa nyeri.
"Irene cantik, tapi dia nakal."
Tuhan, tolong minta anak ini diam.
"Setiap aku ikut bekerja sama Daddy, pasti Irene mengangguku dan kemudian membawa Daddy pergi masuk keruangan besar, dia selalu ikut kemana Daddy pergi."
Jelas, dia secre-tary Daddymu, Chelsea. Astaga.
"Tapi terkadang Daddy memanggil Irene dengan panggilan Nanny. Katanya itu panggilan sayang Daddy untuk Irene setiap dia mengantar jemput Chelsea ke sekolah, atau menemani Chelsea berlatih. Irene akan kesal dan mengadu pada Halmeoni. Dia aneh."
Bukan. Daddy-mu yang kurang ajar menjadikan sekretarisnya sebagai Nanny.
"Dia tidak aneh Chels." Aku berusaha bersikap netral dan tidak mau memperpanjang penjelasan mengenai Irene dan juga siapapun itu. "Kau sudah mendaftar sekolah disini?" aku memulai topik pembicaraan yang lebih aman.
"Mmmmmmmmmm..." dan kini Chelsea yang berdiam diri dengan suara dengungan dari dalam mulutnya. "Chelsea mau bermain dengan Brown!" ia kabur. Kembali masuk kearea kamarku dan mengambil semua bonekanya satu persatu dan juga boneka milikku, dipindahkan pada sofa yang menghadap tv berukuran sedang milikku. Ia mengatur seluruh boneka untuk duduk disisi kiri dan kanan mengapit dirinya yang duduk manis dan memeluk salah satu boneka lainnya.
Mungkin dia tidak mau membicarakan masalah sekolah atau apapun itu, that's fine. Bukan masalah besar untukku, aku bukan Nanny atau pengawas dirinya.
"Kau mau menonton?" Aku menyusul dan menyalakan tv disana, duduk pada bagian sofa lainnya yang berukuran lebih kecil.
"Boleh Chelsea menonton kartun?" ia memperhatikan layar disana ketika aku mencari beberapa channel yang aman untuk ditonton olehnya.
"Hm, Disney Channel?"
"Iya—iya.. Disney." Posisi duduknya berubah lebih tegak dan kedua kakinya bergerak naik turun menyaksikan iklan – iklan yang ditayangkan dan pada akhirnya ia memekik bahagia melihat film Beauty and The Beast tengah ditayangkan saat ini.
Aku meninggalkan Chelsea untuk mengambil laptop dan ponselku dari dalam kamar dan ikut bergabung kembali dengan dirinya. Menonton film dan juga memeriksa segala pekerjaanku yang sempat tertunda.
LOVELESS
Chanyeol's Pov.
Menitipkan Chelsea dengan Baekhyun adalah keputusan tepat.
Pekerjaan renovasi bagian apartemen berjalan lancar tanpa hambatan apapun dan juga aku bisa memastikan Chelsea aman bermain didalam apartemen milik Baekhyun. Ketika aku mengatakan ia bukanlah aku anggap sebagai pengasuh atau apapun itu, aku berkata jujur. Tidak mungkin aku menganggapnya seperti itu, ia akan lebih baik aku anggap calon kekasih, calon istri—dan ya calon Ibu untuk Chelsea—haha—yang terakhir adalah harapan yang sangat jauh.
"Bos, kami sudah menyelesaikan pemasangan cerminya." Suara salah satu pekerja yang membantuku memanggil ketika aku masih disibukkan dengan pemasangan meja makan dan juga memikirkan sedikit tentang Chelsea dan Baekhyun.
Aku mengikutinya dan masuk kekamar Chelsea yang kini sudah dibatasi dengan cermin besar seperti yang ia inginkan. Kamarnya akan terlihat layaknya ruang latihan pada studio – studio penari atau pun modelling, meskipun sisi lainnya masih dipenuhi dengan rak – rak koleksi boneka – boneka dan juga serba – serbi anak perempuan lainnya.
"Kami menambahkan kayu besar dipojok dan sisi luarnya agar tidak merusak tembok disana." George menunjuk pada bagian ujung dimana tembok utama dari sisi kamar Chelsea dan juga pada batasan luarnya.
"Yeah, it's okey. Aku memang akan memasangnya seperti apa yang kau lakukan saat ini." Pundak George aku tepuk dan usap pelan menunjukkan apa yang ia lakukan sesuai dengan apa yang aku harapkan.
"Well, that's great! Oh, untuk bagian kamar yang lainnya." Ia menggiringku untuk melihat ruangan tepat disamping kamar Chelsea—kamarku. "Apa Anda memang memesan cermin dengan dua arah? Karena setelah kami memasang cermin ini, aku baru menyadari bahwa cermin ini—
George menunjukkan pemandangan cermin dari sisi kamarku dimana terlihat seisi bagian dari kamar Chelsea. "Aku memang memesannya."
Ya, aku memesannya. Aku hanya ingin memastikan puteri kecilku itu akan selalu bisa terawasi—agak aneh memang, tapi percayalah. Aku memesannya setelah memikirkan banyak pertimbangan.
"That's why, aku meminta kalian memasangkan gorden ini sebagai pembatas kamar." Aku menunjuk satu set gorden berada disana, George dan Matt—pekerja yang satunya memulai kembali bekerja untuk memasang gorden sebagai penutup cermin pada kamarku.
Dan terima kasih kepada siapapun yang menelepon ponselku saat ini hingga aku bisa menghindari pertanyaan yang lainnya dari mereka mengenai 'cermin'.
"Aku menelepon ponsel Chelsea, namun ia tidak mengangkat—apa kalian sedang keluar rumah atau—
"Hai, Ma. Anakmu ini baik – baik saja, dan sekarang tengah sibuk melakukan renovasi. Terima kasih."
Eomma-ku. Dan yang dia pedulikan hanyalah cucunya, bukan aku—anaknya.
"Aku menanyakkan Chelsea, Chanyeol. Cucuku, dia kemana?"
"Aku tahu, tapi setidaknya berbasa – basilah karena kau menelepon ke nomorku. Bukan nomor Chelsea."
"Oh, ayolah.. kau sudah cukup umur tak perlu lagi ada basa – basi, bahkan kau tak pernah menelepon Ibu-mu ini, Chanyeol."
Okey, she's right.
"Aku mencintaimu, Ma."
"Yeaahh, aku tahu itu sayang. Jadi dimana cucuku, Park Chanyeol?"
Aku menggelengkan kepala mendengar pertanyaannya lagi, Eomma-ku ini benar – benar hanya memperdulikan cucunya, bukan anaknya. Aku berjalan menuju bagian depan dari apartemenku dan memandangi ruangan apartemen Baekhyun yang sedikit terbuka.
"Chelsea sedang bersama Baekhyun."
"Oh? Baekhyun?"
"Yeah, tetangga yang dekat dengan Jongin dan Kyungsoo." Aku menjelaskan secara singkat.
"Tetangga yang sedang diincar oleh Park Chanyeol, ya! Hyung. Baekhyun tidak akan mau berkencan denganmu bila kau sudah berani meminta dia mengasuh anakmu!" –ini jelas bukanlah rentetan kalimat yang akan dikatakan oleh Eomma-ku. Jongin jelas adalah pelakunya, dan aku sedikit menyesal kenapa Eomma-ku selalu suka mengaktifkan mode speaker on ketika tengah menelepon.
"Ya, halo aku merindukanmu juga Jong. Oh astaga, apakah satu keluarga ini tidak pernah diajarkan cara menyapa dan berbasa – basi ketika menelepon?"
"Hhahahahaha, aku belajar dari Eomma. Kau tahu kan Hyung—aw!" aku bisa membayangkan Jongin saat ini mungkin tengah merasakan pukulan telak pada kepalanya, tapi biarlah. Itu urusannya.
"Jadi, Baekhyun?" dan kembali lagi suara Eomma-ku terdengar bertanya.
"Ya, kenapa dengan Baekhyun." aku sengaja berbalik bertanya padanya. Sementara kedua kakiku bergerak untuk masuk melihat keadaan Chelsea secara langsung yang sudah hampir lima jam bertahan bermain didalam apartemen milik Baekhyun dan ini adalah sebuah rekor anak itu bisa bertahan dalam ruangan yang sama bersama orang yang masih begitu asing.
"Oh, ayolah Chanyeol. Tidak perlu memutar balikkan pertanyaan."
"Chelsea menginginkan untuk main didalam apartemen Baekhyun sementara aku mengerjakan sebagian pekerjaan renovasi di apartemenku sendiri." Aku mengakhiri kalimat itu ketika Baekhyun menengok kearahku dan memintaku untuk diam, ia menunjuk kearah Chelsea yang tengah tertidur ditemani kesemua boneka miliknya dan juga milik Baekhyun. "Chelsea tidur Ma, mungkin nanti malam kau bisa meneleponnya." Aku kembali menjelaskan pada Eomma-ku disana."
"Baiklah, jaga cucuku Park Chanyeol! Dan setidaknya ucapkan terima kasih pada wanita manismu bernama Baekhyun itu karena mau menjaga anakmu, makan malam bersama atau apalah—kau kan lebih mengerti cara merayu wanita."
Apa – apaan dengan maksud merayu wanita.—"Okey, aku akan lakukan semuanya Ma. I love you." Sambungan telepon berakhir tanpa ada balasan kata –kata penutup untukku. Benar – benar orang tua itu.
"A-da apa?" Baekhyun sudah berdiri didekatku memperhatikan apa yang aku lakukan sedari tadi.
"Oh maaf, Ibu-ku menelepon dan menanyakkan Chelsea."
"Ah. Itu sebabnya ponselnya terus berdering sedari tadi, aku tidak mau mengangkatnya karena ku pikir itu mungkin teman atau salah satu dari keluargamu."
"Tidak apa." Aku mencoba untuk membuat Baekhyun merasa tidak bersalah dan membuang pandangan wajahku untuk melihat Chelsea yang tertidur dengan sangat tenang.
"Mungkin aku harus memindahkan Chelsea ke tempat tidurnya."
"Renovasimu sudah selesai?" dia bertanya. Tangannya melipat didepan dada seakan – akan menginterogasi mengenai tugasku yang ia berikan sudah seleseai atau belum—sangat bossy.
"Kenapa?"
"Kau mau Chelsea tidur didalam kamar yang berada diruangan dengan penuh peralatan renovasi? Aku akan memilih Chlesea tidur di sofaku dibandingkan didalam kamar itu." Ucapannya terdengar sinis, tapi aku suka. Astaga! Melihat Baekhyun yang menatap tajam lalu bibir kecil merah muda itu mengucap dengan sinis sangatlah menggoda.
"Well, aku hanya menyarankan. Lagipula ini apartemenmu dan aku tidak mau menganggu apa yang tengah kau lakukan jadi—
"Kau sudah menggangguku sejak tadi pagi, apa bedanya dengan mendapatkan gangguan darimu kali ini." ia melontarkan nada sinis lagi.
"Ho-ho.. ada yang merasa marah ternyata, kenapa kau semakin cantik kalau sedang marah." Aku mendekatkan dirinya kepadanya dan bersandar pada pinggir sofa tempat dimana Chelsea tertidur sementara ia memundurkan langkahnya untuk menjauhi.
"Dasar perayu."
"Aku tidak. Aku hanya mengatakan yang sebenarnya, kau cantik dan manis ketika tengah berdiam dan menatapku seperti saat ini, tapi ketika kau marah. Kau cantik. Dan juga semakin terlihat lebih seksi" Kedua tanganku terlipat dan masih memandang kearah Baekhyun sama seperti dirinya yang memandangiku. "Mengerti apa yang aku maksudkan?"
"Tidak." Dia menjawab cepat dan kembali duduk pada sofa yang berukuran lebih kecil, mengabaikanku dengan layar laptop yang ada pada pangkuannya.
"Aku akan membuatkan kalian makan malam. Ah-ah tidak ada penolakan—"aku lebih dulu melayangkan tangan ke udara meminta ia tidak memotong kalimat yang aku katakan. "Makan malam di apartemenku, anggaplah ucapan terima kasih karena kau telah menjaga Chelsea, dan juga sambutan karena kau memiliki tetangga baru yang seksi dan tampan ini."Kedua alisku terangkat berusaha menggoda dirinya, aku yakin Ia bahkan sudah siap melayangkan protestnya.
"Makan malam. Tidak ada penolakan. Kalau hadiah akan aku terima." Aku berbalik dan melangkah keluar dari apartemennya, Baekhyun tidak mengucapkan satu kata pun untuk membalas dan aku yakini itu sebagai jawaban 'ya' atas ajakanku.
LOVELESS
Author's Pov.
"Daddy.. sekarang tanggal berapa?"
"Hmm.. 10 Mei. Kenapa?" Chanyeol menjawabi namun dirinya masih tetap disibukkan dengan masakan yang kini ia tengah olah diatas kompor.
"Aaahh." Anaknya menyahut hanya dengan kata itu dan kemudian kembali disibukkan dengan layar ipad dimeja dapurnya. "Berarti ulang tahun Baekhyunnie sudah lewat empat hari... Daddy, apa tidak apa memberikan hadiah lewat dari ulang tahunnya?" kaki anak itu bergerak – gerak memperhatikan punggung sang Daddy yang masih memungguinya, belum ada jawaban dan juga kata sahutan yang terdengar mengenai pertanyaan yang diberikan.
Chanyeol menyelesaikan masakan dagingnya dan juga olahan kimbap nya, mengaturnya pada meja makan dan kemudian menyangga tangannya pada meja memandangi puterinya yang kini lebih memilih melihat betapa nikmatnya menu makan malam mereka.
"Daddy biarkan Chelsea mencuci sayuran!" anak itu meloncat dari kursi, menuju kulkas dan mulai mengeluarkan satu per satu jenis selada dan sayuran untuk bisa dinikmati dengan daging yang sudah disiapkan sebelumnya.
"Baekhyunnie ulang tahun?" Chanyeol kembali melanjutkan topik pembicaraan yang Chelsea katakan tadi.
"Hm. Chelsea menanyakkan ulang tahunnya hehe." Anaknya berucap tanpa merasa bersalah. "Baekhyunnie ulang tahun tanggal 5 Mei, lalu Baekhyunnie menanyakkan kapan ulang tahun Chelsea."
"Dan kau pasti meminta hadiah darinya."
"Yap. Daddy benar." Chelsea mengacungkan ibu jarinya pada Chanyeol yang sedang disibukkan dengan menyiapkan salad.
"Chels.. apa yang Daddy bilang jangan pernah meminta hadiah pada orang lain."
"Tapi kan Chelsea suka hadiah, lagipula Daddy akan memberikan hadiah pada Baekhyunnie, jadi tidak apa Chelsea meminta hadiah nantinya." Anaknya bertepuk tangan seorang diri memekik senang mengabaikan sayuran – sayurannya yang sudah terlalu lama ia siapkna.
Chanyeol hanya bisa menggeleng kepala dan melanjutkan kembali menyiapkan hidangan salad sebelum jam makan malam yang ia katakan pada Baekhyun. "Chels, bersiaplah, rapikan meja makan dan jemput Baekhyunnie di depan pintu."
"Ay Ay, Capt!"
Chanyeol menyelesaikan semuanya, mengatur kembali hidangan yang sudah ia siapkan dan juga memerikan perlengkapan makan yang Chelsea telah siapkan sebelumnya, setelah merasa semua sudah sesuai dengan apa yang ia harapkan kini giliran dirinya yang membersihkan diri sebelum siap menyantap makan malam.
.
"Baekhyunniieee!" Chelsea meneriakkan nama Baekhyun ketika membukakan pintu apartemennya, menyambut wanita itu dan menarik tangannya untuk segera masuk menuju ruangan makannya yang mana sudah penuh dengan sajian makanan.
"Baekhyunnie membawa apa itu?" Chelsea menunjuk pada sebuah botol berukuran sedang berwarna merah gelap.
"Oh, ini untuk Daddy." Baekhyun menjelaskan. "Dan, ini untukmu." Ia menyerahkan satu kotak cokelat kepada Chelsea. "Selamat datang di New York!" Baekhyun berucap girang mengucapkan kata sambutan pada Chelsea.
"Yeaaayy! New York!" anak itu membalas dan meletakkan kotak cokelatnya di meja makan. "Terima kasih Baekhyunnie." tak lupa ia mengucapkan terima kasih dan meminta Baekhyun untuk duduk disalah satu kursi yang ada.
"Daddy akan duduk disana, jadi Baekhyunnie tidak apa duduk disini, disamping Chelsea."
"Kau sudah datang." Suara Chanyeol terdengar dan sontak membuat Baekhyun menoleh untuk melihat pria itu yang tengah mengenakkan kaos santai berwarna abu – abu dan juga celana jeans hitamnya.
"Hm, aku datang. Dan membawakan ini." Baekhyun menyerahkan botol minuman itu kepadan Chanyeol.
"Wine hah?" Chanyeol menerimanya dan sedikit melihat tulisan merk yang tertera disana. "Seleramu bagus juga." entah itu pujian atau sindiran, nyatanya Baekhyun hanya mengedikkan bahu dan nampak tidak peduli.
"Aku dapat cokelat ini Dad." Chelsea menunjukkan juga hadiahnya. "Ini untuk Chelsea dan Daddy tidak boleh memakannya."
Baekhyun tersenyum mendengarnya sementara Chanyeol yang sudah terbiasa dengan sikap anaknya memandan malas dan melangkah menjauh untuk menyimpan botol wine yang diberikan Baekhyun pada lemari pendingin yang ia miliki dimana memang dikhususkan untuk penyimpanan minuman sejenisnya.
"Wow. Kau punya penyimpanan khusus hah." Baekhyun memperhatikan dan berdecak kagum.
"Aku pria yang menyukai minuman Nona Byun, dan sudah pasti aku memiliki penyimpanan untuk mereka." Chanyeol menyahut dan mempersilahkan Baekhyun untuk duduk pada kursinya di meja dapur
"Aku harap kau masih menyukai makanan Korea."
"Chelsea suka makanan Korea." Yang menjawab pernyataannya adalah sang Puteri yang merasa terabaikan oleh Daddy dan tamu-nya.
"Daddy tahu kau suka makanan Korea sayang, hey kenapa kau duduk disebelah Baekhyun?" Chanyeol baru menyadari puterinya itu duduk bukanlah ditempat yang biasanya.
"Chelsea ingin duduk dengan Baekhyunnie, aku bosan duduk dengan Daddy terus."
Baekhyun tertawa mendengarnya dan memperhatikan Chanyeol yang merajuk kesal mendengar jawaban apa yang dikatakan puterinya.
"Selamat makan!" teriakan dari suara Chelsea menandakkan acara makan malam bersama mereka dimulai.
Tidak banyak pembicaraan yang dimulai diantara ketiganya, hanya beberapa kalimat sanjungan dari Baekhyun yang memuji setiap masakan yang dihidangkan disana yang mengingatkan dirinya akan masakan Kyungsoo. Chanyeol hanya membalas singkat dan Chelsea mengambil alih semua topik pembicaraan dengan Baekhyun. Menceritakan mengenai dirinya dengan Kyungsoo sebagai tantenya dan juga menceritakan ketika mereka tinggal di Korea, anak itu bahkan menanyakkan mengenai sekolah di lingkungan sekitar New York yang mungkin Baekhyun ketahui adalah sekolah yang terbaik.
"Constance School lumayan bagus, itu sekolah khusus perempuan." Baekhyun berucap dan memandang kearah Chelsea dan menyempatkan menatap Chanyeol untuk meyakinkan.
"Daddy ingin Chelsea sekolah di Trinity School." Chelsea menyahut lagi lalu melahap suapan daging sayuran dan nasi kedalam mulutnya.
"Kau memiliki tiga pilihan sekolah dan itu adalah sekolah terbaik yang ada di Manhattan, apa yang membuatmu susah sekali menentukkan nya." Chanyeol berucap datar, memperhatikan Chelsea yang masih kesulitan mengunyah makanan di mulutnya.
Mereka melanjutkan acara makan malamnya kembali dengan dua orang dewasa yang ada disana hanya duduk dan mendengarkan apa yang dibicarakan oleh Chelsea. Ballet, para boneka – bonekanya dan juga hal yang ia ingin lakukan sebelum kegiatan sekolah dimulai.
"Terima kasih atas makan malamnya."
Chanyeol memandangi Baekhyun yang mengucapkan kalimat itu, wanita diseberangnya kini melihat kearah Chelsea dan dirinya lalu mengalihkan pandangannya dengan meminum segelas air yang ada.
"Terima kasih Daddy makan malamnya! Besok Chelsea mau pasta dan steak." Chelsea berucap dengan suara memohon.
Chanyeol menggelengkan kepala dan mengatur beberapa piring sisa makannya disana. "Apapun untukmu Princess."
"Yeay! Chelsea akan merapikan ini."
"No, biarkan aku." Baekhyun lebih dulu mengambil beberapa piring yang akan Chelsea bawa ketika beranjak berdiri.
"Tidak apa Baekhyunnie.. ini tugas Chelsea."
"No, aku tamu hari ini untuk itu aku akan membantu." Baekhyun memaksa lagi, sementara Chanyeol masih memandangi kedua perempuan dihadapannya sebagai tontonan yang tidak bisa ia lewatkan.
"Baekhyunnie duduk saja."
"Chelsea, kau yang duduk dan biarkan aku yang membersihkannya."
"Chelsea tidak mau—
Chanyeol meletakkan gelasnya yang sengaja ia letakkan dengan suara keras. "Okey, stop." Dan cukup berhasil membuat kedua orang disana terdiam beralih memandangi Chanyeol. "Chelsea, letakkan piring – piringmu dan bawa Baekhyunnie duduk di sofa ruang tamu. Tidak ada bantahan, tidak ada alasan apapun, lakukan sekarang. Dan berlaku untukmu juga Baekhyunnie, kau tamu dan silahkan ikuti anakku ke ruang tamu." Ucapan final yang dikatakan Chanyeol tidak dapat dibantah oleh keduanya. Yang lebih kecil mengangguk dan bergerak pelan undur diri dari meja makannya diikuti oleh yang lebih besar namun masih terlihat mungil bergerak kikuk mengikuti yang lebih keci duduk di sofa ruang tamu diruangan itu yang tak jauh dari meja makannya.
Chanyeol menghela nafas setelahnya dan mulai merapikan segala kekacauan makan malam mereka tanpa mengucapkan satu kata pun.
Meskipun Baekhyun tetap duduk diam di sofanya, pandangan matanya sesekali memandangi kearah Chanyeol yang sudah disibukkan meletakkan piring – piring kotor pada tempat cucian piringnya.
"Baekhyunnie.. mau melihat kamar Chelsea?" ajakan yang Chelsea lontarkan jelas tidak bisa ia tolak, Chelsea menggandeng dirinya melangkah masuk kedalam kamarnya dan memperlihatkan cermin baru yang baru saja dipasang disana. Ia juga memperlihatkan rak – rak pajangan dimana tempat menyimpan para boneka mainannya.
"Daddy yang memasangkan cermin ini, Daddy hebat kan." Chelsea berucap dengan bangga.
"Hm, sepertinya aku menginginkan cermin yang sama untuk dipajang di dinding kamarku."
"Baekhyunnie bisa minta Daddy yang memasangkan." Lagi Chelsea memekik memaksa.
Ting Tong
Bunyi bel pintu yang terdengar membuat Chelsea dan Baekhyun terdiam sesaat lalu kedua mata mereka mengikuti arah dimana Chanyeol melangkah untuk melihat siapa yang berkunjung ke apartemennya. Baekhyun mencoba mencuri dengar suara percakapan yang dilakukan oleh Chanyeol dengan sang tamu namun tidak mendapatkan apapun, sementara Chelsea terlihat tidak peduli. Namun ketika panggilan dari suara Chanyeol memanggil namanya, ia menjawab dengan cepat dan menyusul.
"Kenapa Dad?"
"Bisa kau bantu membawakan ini."
"Yeay, Chelsea bisa."
Baekhyun mulai terasa aneh ditinggalkan sendirian dikamar Chelsea, dan memilih untuk menyusul kedua anggota tetangga barunya. Ketika langkahnya akan membuka pintu kamar milik Chelsea, Chanyeol lebih dulu membukanya dengan Chelsea berada disampingnya. Membawakan kue ulang tahun dengan beberapa lilin yang telah menyala.
"Happy Birthday to you.. Happy Birthday to you.. Happy Birthday.. Happy Birthday.. Happy Birthday to you... Happy Birthday Baekhyunnie!" suara Chelsea terdengar lebih mendominasi dibandingkan suara Chanyeol yang sebenarnya ikut bernyanyi. Chelsea menjadi pihak yang bersemangat dan memaksakan Baekhyun untuk segera meniup lilinya—sementara pihak yang diminta sebenarnya masih merasa kaget dan bingung dengan apa yang dilakukan oleh dua orang Ayah dan anak dihadapannya.
"Baekhyunnie ayo potong kuenya!" Chelsea lagi – lagi bersemangat. Berlalri ke meja makan dan menyiapkan pisau kue untuk segera dipotong.
Baekhyun sempat melirik kearah Chanyeol yang memperhatikan namun pria itu juga malah menyuruh Baekhyun dengan gerakkan kepalanya untuk menyusul kemana Chelsea telah berada.
"Baekhyunnie ini pisaunya, ayo potong!"
"Okey, okey.." Baekhyun berucap mencoba menenangkan anak itu.
"Daddy apa ini strawberry?" Chelsea bertanya kearah Chanyeol yang tengah menyusul dan membawa beberapa piring kecil serta garpu kecil.
"Hm, Cheesecake Strawberry."Jawaban yang Chanyeol katakan didengar dengan Baekhyun hingga membuat wanita itu mengigit bibirnya. "Aku tidak tahu apa kesukaanmu dan tidak sempat menanyakkan pada Kyungsoo atau Jongin mengenai ini, dan kebetulan mereka hanya memiliki jenis kue ini yang bisa diantarkan sesegera mungkin. Aku harap kau menyukainya." Chanyeol menatap takut kearah Baekhyun, berharapa wanita itu tidak memiliki alergi terhadap Strawberry seperti dirinya.
"A-aku.." Baekhyun merasakan bingung akan menjawab apa karena jelas ia menyukai Strawberry. Sangat. Tapi yang menjadi alasan hingga ia susah berkata – kata adalah kenapa Chanyeol menyiapkan ini semua untuk dirinya. "Aku menyukai Strawberry." Baekhyun menjawab, menahan segala pertanyaan dari dirinya terhadap sikap Chanyeol.
"Baekhyunnie kita memiliki kesamaan!" Chelsea kembali memekik bahagia. "Tapi Daddy tidak bisa memakan strawberynya." Anak itu mengerucut bibirnya yang kecil sementara pandangan matanya memperhatikan bagaimana tangan Baekhyun memotong dan meletakkan kue itu pada piringnya.
"Nah, Princess.. ini untukmu." Baekhyun memberikan potongan pertamanya pada Chelsea.
"Yeay! Terima kasih Baekhyunnie." tanpa menunggu lama Chelsea langsung melahap kue itu dan mempelihatkan betapa nikmatnya rasa kue itu berbaur didalam mulutnya. "Daddy, ini enak! Aku mau memakan ini setiap hari!"
"Ya.. ya.. kita akan membelinya lagi besok. Terima kasih." Chanyeol mengucapkan kalimat terakhirnya tertuju pada Baekhyun yang memberikan potongan kue tanpa ada strawberry diatasnya dan juga bagian selai strawberry.
"Baekhyunnie, apa menurutmu ini enak?" Chelsea menanyakkan pada Baekhyun yang baru melahap potongan kue dari sendoknya.
"Chels.. makan yang benar." Chanyeol lebih dulu bersuara melihat beberapa cream kue menghiasi pinggir mulut anak itu.
Baekhyun dengan cepat membersihkan jejak cream itu dan menjawab apa yang ditanyakkan padanya sebelumnya.
"Ini enak sungguh." Baekhyun meyakinkan kearah Chanyeol yang memandangi dirinya menuntut sebuah jawaban yang jujur. "Aku tidak tahu toko ini memiliki rasa kue yang enak." Baekhyun meyakinkan lagi.
"Kau sudah tinggal lebih lama dariku, tapi kau bahkan tidak tahu mereka memiliki kue yang enak."
"Ya. Aku tidak tahu. Aku tidak pernah membeli kue ulang tahun untuk siapapun, bahkan untuk diriku sendiri." Baekhyun menjelaskan singkat dan Chanyeol bisa melihat jelas wanita dihadapannya telah kembali dalam ice mode.
"Baekhyunnie. Daddy janji akan membelikan hadiah." Chelsea yang tidak tahu apa yang telah terjadi diantara Baekhyun dan Chanyeol kembali menjadi pihak yang paling antusias berbicara dan juga menikmati memakan kue yang ada dihadapannya. "Baekhyunnie menginginkan sesuatu? Daddy bisa membelikan apapun."
Chanyeol hanya bisa menggelengkan kepala dan mengusap kepalanya mendengar apa yang dikatakan oleh anaknya terhadap Baekhyun.
"Oh, benarkah?" Baekhyun menyahut. Pandangan wajahnya ia alihkan untuk memperhatikan Chelsea dibandingkan memperhatikan Chanyeol yang jelas ada dihadapannya.
"Hm, Daddy bisa membelikan apapun. Apa yang Baekhyunnie mau?"
"Akan aku pikirkan." Baekhyun menjawab singkat, yang sebenarnya bermaksud ia enggan untuk melanjutkan pembicaraan ini lagi.
Mereka kembali melanjutkan acara memakan kue bersama namun sebenarnya hanya Chelsea yang menikmati betul bagaimana kenikmatan kue ulang tahun itu. Para orang dewasa yang ada disana, Chanyeol dan Baekhyun terlihat sama sekali tidak menikmatinya. Chanyeol yang sesekali memperhatikan Baekhyun dan Chelsea secara bergantian, sementara Baekhyun hanya memakan sedikit demi sedikit dengan wajah menunduk dan terkadang ikut memperhatikan Chelsea yang masih bersemangat menceritakan apapun yang ada didalam pikirannya.
.
LOVELESS
.
Baekhyun berpamitan dan mengucapkan terima kasih pada Chanyeol dan juga Chelsea atas hidangan makan malam dan juga sedikit acara ulang tahun dan memakan kue bersama. Chelsea masih bersemangat ingin mengajak Baekhyun untuk lebih lama di kamarnya, namun mengingat jam malam waktu tidurnya dan juga Chanyeol bisa melihat kalau Baekhyun sudah tidak mungkin bisa dipaksakan untuk terus berada diruangan apartemennya, maka mau tak mau ia mengingatkan Chelsea dan berkata masih ada hari esok untuk dirinya bermain.
Meskipun jarak ruangan mereka hanyalah sebatas beberapa langkah, Chanyeol bersikeras mengantarkan Baekhyun hingga sampai pintu masuk apartemen wanita itu.
"Kau tahu ini terasa aneh melihatmu mengantarku sampai pintu masuk apartemen, sementara rumahmu hanyalah berjarak kurang lebih 10 langkah dari tempatku."
Baekhyun berdiri dihadapan Chanyeol dengan kedua tangannya terlipat, mendongakkan wajahnya yang tidak terlihat sebuah senyuman sedikit pun disana.
"Aku tengah bersikap layaknya pria gentleman dan kau menganggapnya aneh? Ada apa denganmu sebenarnya?" Chanyeol berbalik menanyakkan kepada Baekhyun.
"Aku? Tidak ada yang salah denganku." Baekhyun menjawab acuh, bahunya ia angkat dan menatap kearah Chanyeol tanpa beban apapun.
"Ada apa denganmu dan kue ulang tahun?" Chanyeol mengulang bertanya kembali dengan kalimat yang berbeda.
"Tidak ada. Hanya saja mungkin kau terlihat berlebihan karena kau mengundangku untuk makan malam sebagai ucapan terima kasih dan juga sambutan atas kepindahanmu. Tidak ada yang salah. Semua baik – baik saja."
"Kau kira aku tidak bisa membaca perubahan sikapmu?" Chanyeol menekankan lagi. "Dan kau anggap ini berlebihan? Ya, aku mengundangmu makan malam, dank arena Chelsea mengatakan tentang ulang tahunmu aku menyiapkan kue sebagai tanda aku ikut senang karena beberapa waktu lalu kau berulang tahun. Dimana letak berlebihannya?"
"Jelas berlebihan." Baekhyun menatap tajam kearah Chanyeol. "Kita hanya makan malam, dan aku datang ke tempatmu karena aku merasa kau sungguh baik mengucapkan terima kasih dengan cara makan malam. Kita tidak cukup dekat untuk saling merayakan ulang tahun dan juga menyiapkan kue serta nyanyian ulang tahun." Baekhyun menekankan satu per satu kata yang ia ucapkan kepada Chanyeol yang masih memandanganya dengan bingung dan aneh.
"Kita bukan teman Park Chanyeol. Dan kalau kau kira menyiapkan ini semua supaya kau bisa mengenalku lebih dekat atau mungkin kau bisa membuatku memiliki ketertarikan untuk bisa tidur denganmu, maaf. Kau termasuk dalam daftar pria yang tidak akan pernah aku tiduri seumur hidup." Baekhyun menahan luapan emosinya sehingga nafasnya terlihat sedikit tak beraturan. Sementara Chanyeol yang mendengar apa yang ia katakan masih terdiam dihadapannya entah ia merasa marah atau pun tersinggung dengan apa yang Baekhyun katakan.
Chanyeol melangkah mendekati Baekhyun hingga wanita itu tersudut pada pintu ruangan apartemennya.
"Kalau kau berani menciumku saat ini, aku pastikan menamparmu dengan cukup keras."
Chanyeol tidak memperdulikan apa yang dikatakan Baekhyun, ia semakin menundukkan wajahnya mendekat kearah Baekhyun dan sontak membuat Baekhyun menahan dada Chanyeol dengan kedua tangannya.
"Dengarkan aku baik – baik." Pandangan tajam mata Chanyeol menangkap mata Baekhyun seakan – akan menghipnotis wanita itu untuk tetap memandang kearahnya. "Kalau kau menganggap apa yang aku lakukan tadi adalah sebagian rencanaku untuk membuat tertarik dirimu padaku, kau salah Sweetheart. Aku pernah mengatakan padamu bahwa aku akan susah kau dapatkan, tapi akan mudah untukku mendapatkanmu. Aku tidak akan melayani wanitaku dengan membuatkan makan malam hanya untuk sebuah percintaan singkat " Chanyeol menyeringai nakal. "Oh, dan perlu kau ketahui. Memberikan kue ulang tahun hanya untuk bisa bercinta denganmu? Itu adalah permainan anak 17 tahun sayang, kalau aku ingin bercinta denganmu seharusnya aku sudah melakukannya ketik kau mabuk dan tak sadarkan diri saat di Bar!" Chanyeol melangkah mundur, berbalik meninggalkan Baekhyun tanpa sempat melihatnya sedikitpun, hanya bunyi pintu yang terbanting keras yang ia tinggalkan ketika menutup pintu apartemennya.
Sementara Baekhyun masih terdiam ditempatnya, mencoba mencerna setiap perkataan yang dikatakan Chanyeol padanya, terutama pada barisan terakhir.
