"Dia mengatakan seperti itu?"

"Well—Dia mengatakannya secara tidak langsung padaku. Tersirat dengan jelas bahwa aku adalah pria yang hanya ingin meniduri dan menikmati tubuhnya. This is unbelieveable."

"Oh, is it? Tapi bukankah kau memang membayangkan bagaimana tubuh indahnya berada dibawahmu atau diatasmu—

"It is before aku mengetahui sedikit cerita tentang dirinya."

"Sudah aku katakan padamu, dia adalah Queen Bitch. Dia tidak mudah disentuh—dalam artian hatinya. Kau sudah paham 'kan bahwa dia hanya menginginkan pria untuk melakukan seks dengannya bukan menjalin hubungan percintaan—ya kau tahulah bagaimana dirimu dan Yoora dulu.. anggaplah kau melihat refleksi Yoora pada dirinya."

"Permasalahannya adalah aku hanya mengundangnya makan malam karena aku pikir apa yang dikatakan oleh Eomma sebagai tanda terima kasih dan juga sambutan kepindahanku. Dan untuk ulang tahunnya, Kyung! Aku hanya membelikannya kue. Hanya sebuah kue dan juga sedikit nyanyian ucapan! Dan dia berpikir aku ingin menidurinya—oh c'mon! aku bisa menjadi bajingan lebih brengsek dari yang bisa ia pikirkan."

Chanyeol menghela nafas dan mengusap wajahnya dengan tangan kanannya, badannya masih bersandar pada sisi pintu mobil sedan mewah miliknya yang terparkir didepan gerbang sekolah Constance School. Sekolah khusus perempuan yang berada di Manhattan, New York sangat terkenal sebagai salah satu sekolah elite untuk kalangan atas. Selain itu sekolah ini memiliki fasilitas yang lengkap dan juga mewah untuk menunjang kegiatan pengajaran disana.

"Tapi kau memang ingin menidurinya kan?"

"Tidak dalam konteks menidurinya hanya untuk satu malam."

"Sama saja.. Oh, Mungkin kau harus menunjukkan sisi brengsekmu lebih dulu, supaya ia jelas tahu perbedaan mana sikapmu yang tulus dan sikapmu yang brengsek—dan bisa jadi Baekhyun lebih menyukai sifatmu yang brengsek."

"Entahlah.. aku belum tahu akan bersikap bagaimana lagi terhadap Baekhyun."

"Uuhh,, ada yang akan menyerah ternyata—

"Aku tidak menyerah! Hanya saja berbicara dengan Baekhyun akan selalu berakhir dengan kami berdua yang mengumpat nama satu sama lain—in a bad way. Rasanya akan lebih mudah bila usia dirinya adalah anak sekolah menengah sehingga mungkin aku bisa bersikap sama seperti aku dengan Chelsea. Ketika dia marah terhadapku, aku akan lebih marah dan menghukumnya. Easy right."

Suara tawa Kyungsoo jelas terdengar dari arah ponsel yang Chanyeol pegang. "Aku tidak tahu kalau kau masih memiliki pemikiran 'Sugar Daddy' –OMG! Ew Chanyeol! Jangan buat aku membayangkan kau dan Baekhyun nantinya akan bercinta liar seperti itu."

"Yaaa! Aku hanya mengatakan berharap Baekhyun adalah anak sekolahan kenapa kau memikirkan hingga menjadi Sugar Daddy! Dasar mesum." kini giliran Chanyeol yang membalas kesal.

"Mengenal dirimu dan Jongin adalah alasan utama kenapa aku jadi mesum! OH—Bagaimana hari pendaftaran sekolah Chelsea?" Kyungsoo melayangkan pertanyaan lain untuk mengalihkan pembicaraan yang sudah dipastikan dapat berlanjut lebih mesum dari sebelumnya. Dan menanyakkan masalah Chelsea adalah pengalihan yang tepat.

"Dia terlihat bersemangat ketika kami melakukan tur singkat melihat berbagai fasilitas didalamnya, Constance adalah sekolah khusus perempuan dan sangat ketat aku rasa Chelsea akan mendapatkan bimbingan yang bagus."

"Kau yakin dia benar – benar mau bersekolah disana? Aku sudah katakan jangan memaksakan dirinya Yeol.."

"Aku sudah menanyakkan masalah ini dengannya berkali – kali dan dia ingin masuk ke sekolah ini, Kau tenang saja. Aku tahu apa yang harus aku lakukan."

Kali ini suara Kyungsoo terdengar menghela berat. "Berjanjilah ketika ia merasa tidak nyaman disekolah kau akan memindahkannya ke sekolah lain atau lebih baik ia home schooling."

"Aku berjanji Park Kyungsoo.. dia anakku dan aku tahu apa yang harus aku lakukan, okey." Chanyeol meyakinkan jawabannya pada Kyungsoo.

"DADDDYYYYY!" suara Chelsea beteriak memanggilnya.

"Aku akan meneleponmu nanti, dia sudah selesai dari tur nya." Chanyeol mematikan sambungan teleponnya dan siap menyambut Chelsea yang kian mendekat sambil berlari kencang. Badan anak perempuan itu beradu dengan dada Chanyeol dan dibawa naik dalam gendongannya.

"Daddy! Chelsea suka sekolahnya! Chelsea mau disini! Daddy ayo kita beli seragam sekolah untuk Chelsea!" suara Chelsea terdengar tak berhenti berucap sementara tangannya terus memeluk badan Chanyeol berkali – kali.

"Wo—wo—wo.. tenang Princess.. kau baru saja menjadi rapper hah?" Chanyeol menurunkan badan Chelsea dan juga badannya hingga tinggi mereka menjadi seimbang karena Chanyeol kini tengah berlutut dengan salah satu kakinya yang tertekuk. "Kau menyukainya?" Chelsea mengangguk semangat.

"Mereka memiliki kolam renang yang sangat luas Dad! Dan ada ruangan khusus untuk latihan menari, ballet dan drama—mereka memiliki cermin seperti di kamar Chelsea! Oh—Oh ruangan kelasnya juga bagus. Chelsea akan punya loker sendiri nantinya—Daddy, Chelsea mau sekolah disini!"

Chanyeol memperhatikan puterinya yang masih bersemangat menjelaskan setiap kata menjadi kalimat panjang hanya untuk penggambaran bagaimana excited-nya dirinya melakukan tur keliling sekolah itu. Chanyeol membawa Chelsea masuk kedalam mobilnya dan masih menjadi pihak Daddy yang baik mendengarkan apapun yang dikatakan oleh sang puteri. Penggambaran ruangan kelas, kantin sekolah, ruangan musik dan juga ruangan perpustakaan yang bahkan bisa cukup menarik dijelaskan dari mulut Chelsea.

"...sangat luas dan mereka memiliki banyak buku Dad. Ada tempat untuk membaca dengan sofa yang sangat empuk tapi ada juga tempat duduk seperti di perpustakaan lainnya. Aku suka seragam sekolahnya, sangat bagus! aaahh Daddy.. Chelsea mau sekolah disana—ya-ya-ya-ya! Daddy ayo pesan dan beli seragam sekolahnya!"

Chanyeol masih terfokus menyetirkan mobilnya melewati ruas jalan hingga akhirya ia menepikan mobil miliknya tepat didepan toko pakaian yang menjahit seragam khusus sekolah – sekolah swasta disana.

"Kau yakin akan sekolah disana?" Chanyeol meyakinkan Chelsea sebelum mereka turun keluar dari mobil.

"Hm." Chelsea mengangguk. "Aku yakin."

"Daddy tidak menanyakkan keadaan fasilitas sekolah yang kau sukai disana, kau tahu kan?" pertanyaan lain ia lontarkan pada Chelsea demi meyakinkan puterinya itu.

Chelsea mengangguk lagi. "Aku yakin Dad, setidaknya mereka memiliki fasilitas yang bisa aku manfaatkan bila ada beberapa anak yang mengejekku." Raut wajah puterinya tidak lagi bersemangat tapi masih ada senyuman yang berusaha diperlihatkan kepada sang daddy. "Chelsea akan hanya fokus sekolah dan bermain, tidak akan terpengaruh ejekan siapapun lagi."

Chanyeol memandangi puterinya sesaat, menggenggam kedua tangan mungil itu dengan tangan besarnya dan juga mengusap punggung tangannya demi menghantarkan perasaan menenangkan. "Ingat apa yang Daddy selalu katakan padamu mengenai Mommy, dimana pun kau berada.. Chelsea selalu memilik Mommy, dia bukan meninggalkanmu karena keinginannya, okey? Kau masih memiliki Daddy dan aunty, halmeoni.. dan masih banyak orang yang menyayangimu." Dekapan hangat Chanyeol lakukan ketika melihat genangan air mata mulai memenuhi pelupuk mata Chelsea. "Jangan perdulikan omongan apapun yang berusaha mengejekmu Princess."

"Chelsea merindukan Mommy..."

"Daddy tahu sayang.."


LOVELESS

Chapter 5

.

You want a Love that consumes you, You want passion and adventure,

and even a little danger.

L.J Smith.

.

.


Baekhyun's Pov.

"Baek, kalau kau kira Chanyeol melakukan itu semua hanya untuk merasakan tubuhmu, kau salah besar Byun Baekhyun."

"Kau tidak usah membelanya Kyung! Aku sudah tahu pola pikir kakak iparmu itu pasti sama dengan pria – pria brengsek lainnya. Mengajak makan malam dan akan berakhir dengan aku yang tidur di ranjangnya dalam keadaan naked."

"Percayalah, Chanyeol tidak akan mau memberikan layanan kencan yang romantis seperti itu hanya untuk bisa menidurimu."

"Oh, benarkah? Lalu untuk apa semua itu—Kyungsoo, kau tidak tahu apapun tentang pria brengsek seperti kakak iparmu itu. Dan aku cukup banyak tahu segala jenis pria brengsek yang ada—termasuk kakak iparmu ada didalamnya."

"Terserah.. aku hanya sudah mengingatkan padamu untuk jangan salah menilai Chanyeol—karena ia kakak iparku dan aku tahu sisi brengsek dari Chanyeol adalah sifat yang tidak pernah kau temui."

Apalagi yang bisa aku katakan untuk membuat percakapan pada sambungan telepon ini berakhir selain mengiyakan apa yang Kyungsoo katakan. Wanita itu menganggu jam makan siangku hanya untuk menanyakkan apa yang telah aku lakukan terhadap kakak iparnya.—dasar pria pengadu.

"Terserah dirimulah, bagiku yang terpenting adalah kehadiran dirinya membuat weekendku sangat buruk dan aku harus menjalani 4 hari belakangan ini dengan masalah kantor yang sama menyebalkannya."

Sudah saatnya mengalihkan pembicaraan yang lebih penting dibandingkan membicarakan apa yang aku lakukan terhadap Chanyeol. Astaga aku benar – benar tidak percaya menjadi pihak yang disalahkan dengan apa yang aku katakan dan lakukan padanya beberapa hari yang lalu.

"Memangnya ada apa dengan pekerjaanmu?" Kyungsoo mulai me-normalkan suaranya seperti saat – saat kami berbicara dulu.

"Ada beberapa perubahan manajemen dan beredar gossip karyawan bahwa akan ada evaluasi kinerja karyawan yang dimana berujung dengan pemecatan. Banyak yang mengatakan perusahaanku ini telah mengalami kerugian sehingga ada beberapa pemangkasan biaya, tapi itu tidak bisa dipercaya bukan. Lagipula Waldorf adalah fashion."

"Meskipun Waldorf bergerak di bidang fashion tetap saja mereka memiliki pesaing bisnis Baekhyun, perusahaan apapun bisa mengalami pemangkasan biaya dan juga pengurangan tenaga kerja. Tapi tenang saja, kau kan bekerja sebagai Stylish Advisor dan tidak mungkin mereka akan melepasmu begitu saja."

Ucapan Kyungsoo setidaknya menenangkan pemikiranku yang sudah terkontaminasi dengan hal yang aku takutkan terjadi. Dalam dua hari belakangan sudah terhitung hampir 50 karyawan yang mengalami pemutusan hubungan kerja dan banyak dari mereka yang bekerja di bagian produksi, selebihnya beberapa pekerja di Head Office. Entah kenapa aku merasa mungkin saja aku akan menjadi salah satu dari karyawan berikutnya yang akan dirumahkan mengingat pekerjaanku tidak terlalu penting.

"Well.. ini sudah masuk jam malamku."

Dan aku melupakan perbedaan jam antara New York dan Seoul saat ini. "Oh astaga! Maafkan aku.. aku terlalu bersemangat berbicara denganmu sampai melupakan kalau kita sudah tak lagi berada dalam zona waktu yang sama."

Kyungsoo terdengar tertawa disana, dan itu cukup menyenangkan mendengar suara tawanya. "Kyungsoo aku merindukanmu sungguh."

"Aku tahu, semua orang merindukanku meskipun kalian mengatakan aku adalah teman yang cuek dan jahat.. hahaha aku juga merindukanmu Baek."

Bola mataku berputar cepat karena memang Kyungsoo adalah orang yang menyebalkan, terlalu cuek dan kadang bisa menjadi wanita yang kejam. Tapi terlepas dari itu semua, dia adalah pendengar yang baik dan teman yang sangat perhatian. "Jaga dirimu dan kabari aku bila kau mengalami kontraksi kehamilan!"

Entah apa yang ia katakan sebelum aku menutup sambungan telepon, dan aku tidak mau tahu itu.

Waktu jam makan siangku sudah habis, tersisa 20 menit dan masih cukup banyak waktu untuk memesan kopi Starbucks dan juga berjalan santai ke Gedung dimana kantorku berada. Dan aku memanfaatkannya dengan baik.

Berjalan sepanjangan jalan Manhattan adalah hal yang wajib dilakukan, jarak beberapa gedung dan gerai – gerai makanan hanya tidak terlalu jauh dan juga alasan utama adalah selain berjalan kaki apa yang bisa kau gunakkan untuk menuju satu tempat dengan tempat yang lainnya? Taksi? Jangan harap. Tarif taksi disini sangat mahal dan sangat susah untuk didapatkan di jam – jam tertentu. Kenapa tidak mengendarai mobil? Well, mobilku berada aman didalam parkirang gedung kantor dan akan tetap seperti itu sampai jam pulang nanti. Sulit mendapatkan parkiran mobil di sepanjangan jalan disini, dan sebelum mobilku diambil paksa oleh petugas jalanan, akan lebih baik aku tetap memarkirkan mobilku disana. Bila kalian memiliki kendaraan motor atau sepeda mungkin lebih baik, mudah mendapatkan area parkir dan juga hemat biaya dan energi. Sayangnya aku tidak memiliki motor—karena aku tidak bisa mengendarainya. Dan sepeda? Hmmm.. aku akan berpikir berulang kali untuk memilikinya.

"Baekhyunnie!"

Dan kenapa aku mendengar suara Chelsea berteriak memanggil namaku.

"Baekhyunnie!"

Aku berhenti melangkah dan membalikkan badan kearah belakangku dan mencari sosok kecil, berambut panjang dengan senyuma lebar—tapi nyatanya tidak ada. Mungkin aku salah mendengar panggilan itu atau mungkin efek dari membicarakan Daddynya hingga membuatku membayangkan mendengar suara anaknya melayangkan protest dan terdengar memanggil terus sedari tadi.

"Baekhyunniiiiiieeee!"

Dan sosok yang aku pikirkan sedari tadi tiba – tiba muncul dihadapanku dengan memamerkan senyum lebar seperti biasanya. "Baekhyunnie mau kemana?"

Aku masih merasa bingung dan mencoba mencari tempat darimana ia muncul, sepanjang jalan ini hanya ada toko butik seragam sekolah, butik pakaian dan juga beberapa toko jam tangan, tidak ada toko anak – anak dan juga tidak ada taksi yang berhenti, hanya ada mobil sedan hitam merk Aston Martin berwarna hitam yang terparkir sedari tadi atau entah sejak kapan.

"Hei Chels.. kau darimana?" mulutku langsung berucap menanyakkan bagaimana dirinya bisa berada di jalanan Manhattan seorang diri tanpa ada sosok Daddy-nya.

"Chelsea membeli seragam." Dia mengangkat satu – satunya paper bag yang berada di tangannya. "Baekhyunnie, Chelsea akan bersekolah di Constance mulai minggu depan, Daddy sudah mendaftarkan aku tadi."

"O-oh wow. Selamat! Kau harus sekolah yang rajin." Aku membalasnya dengan senyuman 'aku turut senang kau masuk sekolah'.

"Kau membeli seragam sendiri atau—

"Chelsea bersama Daddy, tapi Daddy masih ada di.." dan kini anak itu tengah menengok kearah jalanan untuk mencari sosok Daddynya yang entah berada dimana. "Tadi Chelsea dan Daddy sedang membeli roti untuk dibawa pulang, karena Chelsea melihat Baekhyunnie.. aku langsung berlari mengejar Baekhyunnie.. hehe." Dan dia masih sempat untuk tertawa sementara aku mulai bergerak untuk menanyakkan pada Kyungsoo nomor telepon Chanyeol agar aku bisa memberikan informasi bahwa anaknya berada bersamaku. Di pinggir jalan Manhattan dan di depan toko seragam.

"Chelsea akan menelepon Daddy."

Apa yang dikatakan Chelsea sungguh membuatku membuang nafas panjang. Kenapa anak itu tidak melakukannya sedari tadi untuk menelepon Daddynya tanpa harus membiarkan aku berpikir mungkin saja Chanyeol kini tengah pusing mencari anaknya yang hilang.

Aku membawa Chelsea untuk menunggu dipinggir jalan, untuk mempermudah para pengguna jalan lainnya melewati jalanan yang hampir saja kami tutupi hanya untuk menunggu Chanyeol menjemput Chelsea, dan waktuku sudah habis selama 10 menit sedari tadi. Tidak ada coffe dan tidak ada jalan santai untuk kembali ke kantor karena setelah Chanyeol tiba aku akan langsung berlari secepat mungkin menuju kantorku yang berjarak 4 blok kedepan atau setara 3km jaraknya.

"Baekhyun?" dan suara milik Chanyeol terdengar.

"Daddy!" Chelsea lebih dulu menyambutnya. "Chelsea mengejar Baekhyunnie tadi.. maaf aku meninggalkan Daddy." Dan terima kasih karena ia juga menjelaskan kenapa aku bisa berada disini bersama puterinya.

"Hai. Aku tidak tahu kalau Chelsea mengikutiku—maaf." Aku ikut menjelaskan dan bahkan mengatakan kata maaf yang dimana aku tidak tahu untuk apa aku mengatakan itu padanya.

"Kau tidak boleh melakukan hal itu lagi Chels, kau membuat Daddy khawatir." Chanyeol tidak membalas apa yang aku katakan padanya dan juga tidak melihat kearahku atau memandangku sebentar seperti yang ia lakukan biasanya. Dan itu aneh. Dia seakan – akan menganggapku tidak ada ditengah – tengah antara dirinya dan Chelsea.

"Sorry Dad."

"Ayo, kita harus membeli perlengkapanmu yang lainnya." Chanyeol menggandeng tangan Chelsea dan mereka berjalan menuju mobil yang terparkir di pinggir jalan itu. Aston Martin berwarna hitam yang terparkir disana itu adalah mobil Chanyeol, dan bodohnya aku hanya terdiam nemeperhatikan mereka berdua yang melangkah pergi dan masuk kedalam mobil tanpa ada kata perpisahan untukku ataupun sepatah dua patah lainnya.

Ini menyebalkan. Aku benar – benar dianggap tidak ada oleh mereka berdua!—oh oleh Chanyeol mungkin. Aku yakin ini hanyalah permainan balas dendam darinya karena apa yang sudah aku katakan padanya tempo hari.

Aku mendengus kesal dan memperhatikan bagaimana mobil itu melaju kencang menjauh dari tempatku, setelahnya aku baru teringat. Jam makan siangku sudah habis.

Sialan.

Tadi aku sempat mengatakan akan berlari kembali ke kantorku bukan? Dan aku benar melakukannya. Melepaskan stiletto hitam yang aku kenakkan hari ini dan menguncir rambutku hingga menjadi layaknya ekor kuda, dan aku rasa aku berlari layaknya seekor kuda yang tengah beradu pacu.

Ini adalah waktu makan siang paling menyebalkan dalam sejarah hari – hariku.

Tidak peduli aku menjadi tontonan para warga Manhattan ataupun turis lainnya, karena yang aku pikirkan adalah datang tepat waktu sebelum bos – bosku duduk kembali di ruangan mereka. Tak peduli beberapa badan orang – orang yang aku tanpa sengaja atau mungkin secara sengaja aku tabrak, well—semoga mereka mengerti dan tidak mengumpatiku dengan bahasa kasar.

Dan semua usaha lari – lari membuang keringat dan juga menahan rasa malu akhirnya patut diberikan pujian.

Aku tiba dengan selamat dan tanpa ada kekurangan satu apapun di meja kerja tepat 10 menit sebelum para bos kembali dari waktu makan siang mereka. Thanks God! Bahkan aku masih bisa menstabilkan nafasku yang terengah – engah tidak karuan dan juga membersihkan sedikit keringat yang terlihat diatas kening dan juga bagian wajahku—oh tentu saja ada waktu untuk mengistrirahatkan kedua kakiku yang sudah aku paksakan berlari seperti kuda tadi.

"Hey Bec.. habis marathon hah?"

"O-oh.. kinda.." salah satu rekan kerjaku berjalan melewati meja kerja dan menyapaku. Dia perempuan, kalian tenang saja.

"Ow.. aku mendengar rumour akan ada hal buruk terjadi sepertinya." dan ternyata ia masih berada disekitarku dan kini mengajakku berbicara.

"Hal buruk apa?" Aku ikut menyahuti meskipun pandanganku masih tertuju pada layar computer di meja kerja untuk memperhatikan beberapa email yang masuk disana.

"Akan ada pengurangan karyawan hari ini dan para direksi serta manager tengah merapatkannya.. ada beberapa rumour mengatakan mungkin juga akan ada beberapa karyawan yang dimutasi atau entah dipindahkan ke divisi lainnya." Agnes—nama teman kerjaku yang berada di Divisi Marketing dan yang tengah berbicara saat ini.

"Well.. keadaan Kantor masih berada di situasi sulit.. apapun bisa terjadi." Aku agak enggan untuk membicarakan lebih lanjut mengenai masalah yang terjadi pada kantorku ini dan berharap aku tidak akan terlibat dalam pengurangan atau pun mutasi kerja. Apapun bisa terjadi dan aku berharap yang terjadi padaku adalah hal yang terbaik.

Setidaknya.

Tapi.

Tuhan memberikan jawaban lain.

"Kami memutuskan untuk memindahkanmu ke bagian Marketing dan bekerja sama dengan mereka untuk memasarkan produk ke beberapa bagian di Amerika—ini adalah kesempatanmu untuk belajar dan berkembang lebih baik dibandingkan menjadi Manager Stylish Advisor. Kami tahu kau memiliki basic dalam urusan design –dan akan sangat cocok dan membantu perusahaan lebih berkembang maju."

Itu adalah rentetan kalimat yang dijelaskan padaku ketika aku berada duduk dihadapan Manager Personalia saat ini. Mereka tidak memecatku memang.. tapi di mutasi ke bagian yang sangat tidak aku sukai dan harus menjual produk—oh astaga! Ini mimpi buruk! Aku tidak menyukai marketing dan apapun mengenai penjualan dan sekarang mereka memintaku belajar dan mengembangkan keahlian yang aku miliki? Seandainya mereka memutasiku pada bagian Business Development mungkin aku akan menjawab iya dengan cepat. Sudah pasti! Tapi tidak dengan tawaran yang mereka berikan kali ini.

"Bagaimana kalau aku menolak?" jawaban yang setidaknya cocok untuk aku katakan pada beliau saat ini.

"Well, Rebecca.. kau tahu situasi perkembangan pada Waldorf kali ini terus menurun.. dan kami mencoba mempertahankanmu disini.. karena kau memiliki kredibilitas kerja cukup baik dan berada di level teratas untuk semuanya—

"Kalian tidak ingin memecatku?" dengan cepat aku mengambil kesimpulan dari ucapan omong kosong yang ia katakan. Kredibilitas apanya? Jelas – jelas mereka melakukan pengurangan pekerja pada bagian pabrik dan staff – staff lainnya. Alasan masuk akal adalah mereka tidak ingin memecatku karena dengan begitu mereka harus menyiapkan uang pesangon dan membayar semua tunjangan lebih banyak yang harusnya aku dapatkan karena telah bekerja selama tiga tahun terakhir.

"Aku jelas menolak untuk dipindahkan, dan itu berarti aku mengundurkan diri dari Waldorf." Tanpa berpikir lebih panjang lagi aku memberikan jawaban final teruntuk sang Manajer dan ia jelas terlihat kaget mendengar apa yang aku katakan.

"Becca.. kami benar - benar ingin mempertahankanmu disini."

"Aku tahu Mam, tapi aku tidak yakin akan fokus dan semangatku bekerja bila aku dipaksa untuk bergabung dengan team Marketing.. aku tidak memiliki passion untuk itu." Usahaku untuk meyakinkan beliau masih terus berlanjut.

"Kami akan kehilangan salah satu pegawai terbaik Becca.." dia berucap dengan mudahnya seakan – akan aku akan tergiur dengan segala pujian itu.

Aku benar – benar tidak ingin dipindahkan pada divisi Marketing! Akan lebih baik aku menjadi penganggruran dan mencari pekerjaan lainnya dimana yang aku inginkan. Atau mungkin kembali mencoba peruntungan untuk menjadi salah satu stylish para artist – artist di Hollywood akan lebih baik dibandingkan menjadi Marketing Fashion - Designer.

"Aku benar – benar menolak menerima tawaran yang Anda ajukan padaku, Mam. Tapi mohon pahami juga bahwa aku bekerja menurut Passion yang ada pada diriku—dan itu membuatku lebih baik mengundurkan diri dari Waldorf."

Aku berharap Manajer Personalia satu ini bisa benar – benar mengerti dan menyerah untuk membujukku menerima tawarannya. Ia masih memandangku, menghela nafas pendek lalu menggenggam kedua tangannya diatas meja.

"Alright.. aku menghargai keputusanmu." Ucapannya benar – benar menenangkanku. "Mari kita membicarakan mengenai tunjangan yang masih kau miliki dan harus kami bayarkan setelah surat keputusan pengunduran dirimu ditanda tangani Direksi."

Aku mengangguk dan memajukan sedikit bagian dadaku mendekat kearah meja karena pembahasan mengenai salary dan total tunjangan yang aku miliki lebih penting saat ini dibandingkan hal lainnya.

Kalkulator dan juga beberapa dokumen yang berasa dari staff bagian divisi keuangan memenuhi meja dimana kami masih mendiskusikan masalah total pembayaran salary milikku. Jumlah yang aku dapat lebih dari apa yang aku harapkan tapi juga tidak akan membuatku aman selama enam bulan kedepan dan dimana artinya itu adalah aku harus segera mendapatkan pekerjaan baru setelah ini.

Selesai segala perbincangan mengenai salary , aku kembali ke meja kerja dan mulai merapikan segala perlengkapan milikku yang ada disana. Bagian kebersihan kantor membawakan satu dus berukuran sedang yang cukup untuk aku gunakkan guna membawa beberapa buku agenda, pot – pot kecil dan juga beberapa pernak – pernik lainnya yang berhasil membuatku bingung kenapa mereka semua berada di meja kerja kantorku. Bayangkan saja, aku menemukan kondom, permen, benang Wol dan beberapa mainan anak – anak dimana aku yakini itu semua aku dapatkan dari memesan Happy Meal dari McDonald's.

"So.. kau lebih dulu mendapatkan berita buruknya hah?"

Agnes kembali menghampiriku, tangannya dengan kurang ajar dan tanpa ijin melihat beberapa barang milikku yang sudah berada didalam kardus. "Aku berharap kau mau bergabung dengan team marketing tapi sepertinya kau tidak menyukai itu bukan?" ucapannya terdengar datar tanpa mengekspresikan apapun. Dan aku masih mengabaikan apapun yang ia katakan, hanya sebuah gerakkan mata dan alis yang entah terlihat seperti apa—karena bagiku itu adalah pertanda dalam artian 'Aku tidak ingin berbicara denganmu'.

"Semoga sukses Becca.. aku harap kita bisa bertemu di lain kesempatan lagi." dan pada akhirnya dia yang menyelesaikan sendiri percakapan satu arah itu. Sementara aku terus bergera merapikan barang – barangku agar bisa secepat mungkin keluar dari area kantor yang bukan lagi menjadi kantorku.

.

.

"Apa kau akan mengatakan pada Dad and Mom mengenai ini?" adikku, Byun Seung-wan menanyakkan langsung ketika aku mengatakan padanya bahwa beberapa menit yang lalu aku resign dari kantor tempatku bekerja. Aku sudah berada didalam Apartemenku, pada pukul tiga sore dan ini terasa aneh mengingat aku tidak pernah berada di ruangan ini pada jam saat ini.

"Aku rasa tidak.. mereka tidak perlu tahu.. dan kau tidak perlu mengatakan apapun juga!" ucapannku jelas terdengar seperti perintah untuknya.

"Baiklah.. aku akan menjaga mulutku tetap aman. Lalu, apa rencanamu? Apa uang tunjangan yang kau dapatkan cukup membiayai pembayaran apartemen dan hidupmu disana?" ia bertanya lagi, sungguh sangat perhatian.

"Untuk enam bulan kedepan aku masih bisa hidup layaknya Millionaire." Aku tertawa kecil di akhirnya dan Seung-wan ikut terdengar mengikutiku suara tertawaku.

"Bagus.. kau tidak akan kelaparan selama itu.. Ngomong – ngomong.. aku tidak tahu akan mengundang Dad dan istrinya pada pernikahanku. Bagaimana menurutmu?"

Pertanyaan yang sangat sensitive dan aku sebenarnya bukanlah orang yang tepat untuk memberikan jawaban yang bijak pada adikku. Dalam lubuk hatiku jelas aku tidak mau mengundang Dad dan istrinya. Tidak akan. Ini adalah acara keluarga kami, acara keluarga yang seharusnya. Dad, Mom, aku dan Seung-wan yang seharusnya berkumpul bersama beserta keluarga besar Eric. Bukan dengan penambahan istri kedua yang Dad miliki.

Adikku masih terdiam disana dan menunggu apapun yang akan aku katakan, dan tidak mungkin aku tidak memberikan jawaban pada dirinya untuk masalah ini.

"Lakukan apapun yang menurutmu dan Eric adalah hal terbaik, apapun itu aku akan mendukungmu. Bila kau ingin Dad datang, aku akan bantu membicarakkanya dengan Mom."

Aku benar – benar mengatakan hal itu pada Seung- wan. Sungguh sangat bijaksana Byun Baekhyun—aku berucap pada diri sendiri. Mendengar Seung-wan yang cukup bahagia mendengar apa yang telah aku katakan padanya tadi membuatku lebih tenang. Setidaknya ia akan mengerti dan aku akan selalu mendukungnya, dia adikku. Kesayangannku.

Setelah cukup lama berbincang dengan Seung-wan ditelepon, aku bahkan tidak menyadari bahwa kini langit tengah menunjukkan perpaduan warna jingga dan warna langit gelap mulai terlihat. Pemikiran mengenai tidak adanya acara kerja di hari esok membuatku sedikit merasakan kesenangan tersendiri dan tentu ini harus dirayakan. Dimana dalam kamus kehidupanku, perayaan adalah saatnya untuk berpesta—di sebuah klub.

.

NOIR Bar telah pindah ke tempat lebih baik dan terlihat lebih sempurna dibandingkan sebelumnya, Bar terbaik yang berada di Pusat Kota dikelilingi dengan tempat tinggal para kaum Elite sudah pasti menjadikan NOIR Bar dipadati pengunjung melebihi biasanya meskipun hari ini masih terhitung hari kerja. Kamis malam dan nyatanya terlihat layaknya Jum'at malam, seluruh kursi terlihat dipenuhi beberapa orang duduk dan menikmati minuman mereka, bahkan kursi – kursi di bar juga terlihat hampir semuanya terisi, beberapa orang yang tidak mendapatkan duduk memilih menikmati lantai dansa dan menyaksikan sang Dj bereaksi.

Pemandangan yang aku dapatkan ketika turun dari taksi tepat di pintu masuk Bar ini sudah menunjukkan perbedaan dibandingkan ketika Noir masih berada tak jauh dari area dimana aku tinggal.

Security menjaga pintu masuk dan bahkan melakukan pemeriksaan body checking, ketika aku berhasil melewati pemeriksaan pemandangan lain yang aku dapatkan ketika berada di lorong adalah suara musik EDM ciri khas mereka sudah terdengar dan itu tentu saja menambah semangat adrenalin dalam diriku. Langkahku semakin dipercepat dan kini dihadapkan dengan pemandangan dari ruangan utama pada klub ini. Bila sebelumnya Noir memiliki dua lantai yang dimana dibedakan lantai untuk clubbing dan lounge, kali ini perbedaan lantai itu masih ada namun semua orang yang berada di longue lantai dua bisa menikmati pemandangan beberapa orang yang melakukan clubbing pada lantai dansa dibawahnya. Ini adalah design terbaik menurutku.

Interior yang ada terlihat lebih simple dan minimalis namun masih tetap membawa sentuhan hiasan yang menjadi ciri khas Noir Bar sebelumnya. Dan yang paling terpenting adalah, beberapa karyawan mereka masih sama seperti sebelumnya dan mungkin ada beberapa wajah baru yang bisa terlihat oleh mataku.

"Well.. well.. lihat siapa yang akhirnya berkunjung."

Aku membalikkan badan melihat siapa orang yang berani menyapaku seceptanya ini, dan Four berada di hadapanku. Mengenakkan seragam bartender berwarna hitam dan masih dengan model rambut yang sama, berwarna pirang dengan poni rapi pada keningnya.

"Hai." Aku menyapa singkat dan bahkan melakukan gerakkan tangan menyapa untuknya.

"Oh come on girl! Lets find a seat for you!" Four sudah merangkulku lebih dulu dan membawaku menuju bar, ia bahkan tak ragu – ragu untuk mengusir beberapa pengunjung yang terlihat sudah menyelesaikan minumannya hanya agar aku bisa mendapatkan tempat duduk.

"So... Seperti biasa hah?"

Aku mengangguk menyetujui apa yang ia tanyakkan mengenai minuman karena meskipun mulutnya yang berucap, kedua tangannya dengan sigap menyiapkan minuman dry martini seperti yang biasa aku pesan. Minumanku bahkan disajikan diatas meja lebih cepat dibandingkan yang aku duga, ia menawarkan dan tanpa ragu – ragu aku segera menikmatinya karena tujuan utamaku adalah berpesta, melepas penat dan melupakan kejadian bagaimana aku resign dari tempat kerja—ini jelas harus dirayakan—dan mungkin bila beruntung.. aku akan mendapatkan teman bercinta untuk malam ini. Who knows right?

"Noir lebih padat dibandingkan sebelumnya." Four berbicara padaku lagi ketika ia telah menyelesaikan beberapa pesanan yang datang tak lama setelah membuatkan aku minuman. "Lebih padat, berbahaya dan lebih banyak rahasia." Aku mengernyitkan alis mendengarnya.

"Kenapa?"

"Terlalu banyak orang – orang dengan setelan mewah dan mereka datang bukan hanya untuk minum - minum, bukan juga untuk bercinta. Terlalu banyak transaksi yang terjadi."

Aku masih mendengarkan dan mulai memperhatikan sekelilingku. Padat, sesak, dan ramai. Sewajarnya sebuah klub harus ramai tapi tidak seperti ini, tidak seperti stadion yang penuh sesak karena sebuah konser. Ini hanya sebuah bar dan kepadatan ini tidak wajar. Four menunjukkan dengan dagu wajahnya yang diarahkan pada kumpulan anak – anak muda yang tengah berpesta entah karena acara apa dan mataku bisa menangkap dua dari mereka saling bertukar bungkusa. Putih dan cokelat. Dan aku bukanlah anak kecil yang tidak tahu apa yang mereka lakukan, mereka jelas melakukan transaksi jenis obat – obatan yang tidak perlu lagi dipertanyakkan kenapa hal itu bisa terjadi di sebuah kota besar seperti New York.

"Too bad hah." Aku menyahut padanya.

"Yeah.. tapi Bos Besar sudah meminta pihak keamanan mengambil tindakan, kami menginginkan Noir tetap bersih dari hal – hal seperti itu." Dan apa yang ia katakan kini membuatku mengerti alasan dari security yang berjaga didepan namun tetap mengundang pertanyaan kenapa masih ada beberapa yang bisa lolos dari pemeriksaannya. "Aku sarankan kau datang hanya untuk minum Bec, disini belum aman untuk mencari pria – pria yang bisa membawamu pulang untuk bercinta."

Thanks Four.. kau baik sekali. Aku berucap dalam hati namun kepalaku mengangguk menyetujui apa yang ia katakan, meskipun tidak dengan dalam hatiku. Karena apa yang mataku dapati adalah sosok pria kira – kira berusia lebih muda dariku kini tengah memandangiku dan juga ketika kami saling bertemu pandang, ia mengangkat gelas minumannya sebagai sapaan 'halo'. Dan aku tidak mungkin melewatkannya.

"Aku akan berkeliling sebentar." Alasan yang aku ucapkan pada Four tidaklah bohong, aku memang berniat berkeliling, namun juga memancing pria disana untuk mengikutiku dan mungkin kita bisa sedikit berbasa – basi diawalnya sebelum melanjutkan ke tahap yang lebih panas.

Aku membawa gelas minumanku dan melangkah langsung menuju lantai dua dimana loungenya berada. Berdiri dipinggir pembatas lantai disana dan memandangi pemandangan dibawah dimana orang – orang tengah meliukkan badan mereka menikmati apa yang dimainkan oleh sang DJ—dan juga, mengamati sosok pria yang sebelumnya memperhatikanku. Ia tengah memesan minuman di meja bar namun kini melangkah naik dan aku sangat yakin ia akan menghampiriku.

"Kau mendapatkan tempat terbaik untuk mencari pemandangan menarik hah?"

See.. dia sudah berada disampingku sekarang.

"Menunggu teman atau kau tengah mencari teman?"

Dan dia sangat agressive.

"Siapapun itu.. I am pretty sure is not you, Sir." Percayalah, aku mengatakan ini hanya untuk menjaga imej diriku supaya tidak terlihat mudah ia dekati, padahal didalam hatiku jelas ingin segera merasakan bagaimana pemandangan indah dibalik setelan yang ia kenakkan saat ini. Nakal memang.

"Ouch." Ia menjawab singkat dan masih memperhatikanku. "Bila aku membelikanmu minuman, apa aku bisa mendaftar menjadi temanmu?"

"Tergantung."

Dia tersenyum kecut mendengar apa yang aku katakan.

"Minuman apa yang akan kau belikan untukku." dan aku dengan bodohnya menjawab pasrah. Jelas ia tersenyum lebar dan segera mengangkat tangannya mengisyaratkan pada salah satu waitress untuk menghampiri dirinya. Tak lama ia berbisik pada sang waitress dan juga kami digiring menuju sofa pada salah satu longue disana. Dia adalah pria yang akan bercinta denganku mala mini.

Berawal dari saling memandang, lalu ia membelikanku minuman, kami pindah ke sofa yang lebih private dan mulai membicarakan hal – hal untuk menarik satu sama lain. Proses itu tidak akan memakan waktu hingga lima jam kedepan, hanya obrolan singkat dan gerak tubuhnya sudah memperlihatkan bahwa gairah didalam dirinya tidak mungkin bisa bertahan lebih lama untuk tidak menyerang dan menelanjangi diriku. Pria ini memang sangat menarik, tinggi badannya lebih tinggi beberapa senti dari padaku dan itu cukup ideal, rambutnya berwarna blonde ciri khas American dan ia mengerti cara berpakaian rapi dan terlihat menarik untuk datang ke sebuah klub. Setelan kerja masih ia kenakkan namun terlihat lebih santai dengan beberapa kancing atas yang mungkin sengaja ia buka beberapa serta menggulung lengannya hingga ke siku.

Okey, memandanginya membuatku ingin segera membawanya pulang.

"Hm.. Well Becca.. let's get out of here." Dan ini adalah kata – kata yang aku tunggu karena dalam artian yang sesungguhnya adalah.. Ayo kita cari tempat untuk bercinta.

Pria ini—oh namanya Nate, ia membayar semua minuman yang kami pesan lalu ia membawaku menuju pintu keluar bar dimana saat ini kami tengah menunggu mobilnya diantarkan oleh petugas Vallet. Tangannya sudah mengusap punggung belakangku berulang kali dimana sialnya itu membuatku ingin segera menelanjanginya juga. Semakin ia menggerakkan tangannya semakin aku ingin berteriak dan membawanya dalam cumbuan—tapi ternyata Nate lebih dulu membaca pikiranku. Ia menarik badan kecilku masuk dalam dekapannya dan segera memberikan ciuman kasar pada bibirku, tanganku secara otomatis mengalung pada lehernya dan mengeratkan badan kami hingga menempel tanpa celah. Aku sangat yakin sesuatu yang menegang dan mengusik perut bawahku adalah miliknya yang sudah menegang sepenuhnya.

"Aku ingin segera memasukimu." Ia sempat berbisik padaku sebelum kembali melumat kasar bibir kecilku. Aku menganggukkan kepala dan meremas rambut belakangnya mengisyaratkan bahwa kita berdua menginginkan hal yang sama dan berharap secepat mungkin semua itu bisa terealisasikan.

Tapi harapan dan kenyataan tidak berjalan sesuai malam ini. Ciuman kami masih berlanjut, tapi suasana disekitar semakin ricuh karena suara adu mulut dan juga dorongan – dorongan dari beberapa orang yang terlibat. Nate menyelesaikan ciumannya dan membawa badanku mendekap berusaha menjauhi area itu. Security Noir terlihat menggiring mereka dan merelainya, namun ada beberapa orang yang berteriak – teriak dan juga mulai rusuh karena ada dari mereka yang melayangkan pukulan dan mengenai orang – orang disekitar. Dan keadaan semakin tidak terkendali.

Aku membenci pemandangan ini dan hanya berharap Nate bisa membawaku segera pergi dengan mobilnya, namun entah kenapa mobil miliknya tak kunjung datang sementara keadaan disekitar kami semakin ricuh. Nate berada dibelakangku untuk menghalangi kerusuhan di belakang badannya, aku bersyukur pria ini tidak terpancing dan memilih untuk melindungiku dibandingkan ikut kericuhan disana—hingga pada akhirnya kami berdua terdorong dan membuat badanku jatuh berhadapan dengan jalanan, dan ini memicu kemarahan Nate. Tanpa membantuku untuk bangun ia lebih dulu memberikan pukulan pada dua orang disana. Memukul wajahnya dan juga bahkan menendangnya dengan keras, ia terlibat masuk dalam pergulatan disana dan aku hanya bisa meneriakkan namanya untuk berhenti tapi tidak ia dengarkan hingga pada akhirnya suara tembakkan terdengar dilayangkan entah oleh siapa tapi ketika mataku melihat keadaan sekeliling, pihak keamanan dan juga kepolisian sudah berada mengepung area pergulatan itu, dan aku bahkan tidak tahu sejak kapan mereka berada disini.

Sial.

"Bawa mereka semua ke kantor!"

Teriakkan dari salah satu polisi membuatku panik karena semua mulai bergerak menangkap beberapa pria yang terlibat dan itu termasuk Nate. Aku ingin menanyakkan kenapa ia ikut dibawa tapi tak sempat terucap karena salah satu polisi wanita mendekati dan menarik lenganku dengan cepat.

"Kau juga ikut Young Lady."

"Ke—kenapa?"

"Semua akan jelas saat kami menginterogasimu di Kantor."

"Tunggu—aku tidak tahu siapa mereka—hey!"

.

.

Chanyeol's Pov.

Setelah hampir seharian aku bersama Chelsea berbelanja kebutuhan untuk sekolahnya dan juga mainan baru untuknya, kami berakhir menikmati makan malam pada restoran keluarga yang berada di Pusat Kota. Menu makanan ala Italia menjadi pilihan kami malam ini dan memang karena Chelsea sudah terbisa menikmati jenis masakannya, ia tidak melayangkan protes apapun ketika aku memesannya.

"Daddy.. nanti Chelsea boleh bermain dengan mainan baru kan?" Chelsea tengah memangku wajahnya yang menghadap kearahku, matanya berkedip – kedip untuk merayu daddy-nya. "Chelsea belum mulai sekolah, jadi tidak apa tidur agak malam.. kan Chelsea hanya bermain didalam kamar.. tidak main diluar dan bersama teman yang lain." Bibirnya sudah mengerucut karena aku tidak kunjung menjawab apa yang ia tanyakkan sebelumnya.

"Daddy... boleh ya.." Usahanya masih terus berlanjut.

"Daddy.."

"Daddy tampan.. Chelsea akan jadi anak penurut kalau Daddy mengijinkan."

"Aaaahh.. Dadddyyyy... Say yes pleaseeeee..."

"Aaaahh... Daddy pleaseeee..."

Chelsea bahkan tidak peduli bahwa kami berdua masih berada di restorannya dan bukannya didalam rumah, ia dengan tanpa malunya merengek dengan badannya yang bergerak karena kakinya aku yakin menendang –nendang tanpa arah.

"Daddy.. Daddy pleaseeee..."

"Dad.."

"Daddy.."

Suaranya mulai terdengar lesu, dan untungnya ia berhenti ketika beberapa makanan yang aku pesan mulai diantarkan. Chelsea masih merengut kesal namun juga memperhatikanku sesekali ketika ia bersiap menyantap makananya.

"Habiskan makananmu dan Daddy akan pertimbangkan acara bermain malammu." Aku berucap pelan kearahnya dan hanya dengan kata – kata yang aku ucapkan, kerucut pada bibirnya berubah menjadi sebuah senyuman. Matanya melebar senang dengan badannya yang ikut duduk lebih tegak.

"Selamat makan!" Chelsea masih sempat mengucapkan kalimat itu sebelum mulutnya dipenuhi dengan cream dari soup yang aku pesankan untuknya.

Chelsea terkadang bisa sangat diam ketika makan, atau kadang bisa cerewet dalam suatu waktu. Semua tergantung dengan apa yang ada didalam otaknya dan juga mood dalam dirinya, dan untuk kali ini.. mungkin dia lebih memilih menikmati makan malamnya dibandingkan harus melontarkan beberapa topik pembicaraan.

"Apa rasanya enak?" Aku lebih dulu menanyakkan padanya karena sudah beberapa sata Chelsea tidak bersuara sedikit pun. Ia hanya mengangguk dan melanjutkan makannya, mengambil beberapa potong roti dengan tangannya sendiri dan menyobek menjadi berukuran kecil untuk ia taburi diatas Soup –nya.

"Masih lebih enak buatan Daddy.. tapi karena Daddy tidak mau mengijinkan Chelsea bermain mala mini, Soup restoran ini lebih nikmat." Ucapannya diakhiri dengan lidah kecilnya yang menjulur kearahku, bahkan wajahnya sengaja ditampakkan wajah kesal dan enggan untuk melihat kearahku yang ada dihadapannya.

Aku mengangguk dan membiarkan ia melanjutkan suapan lainnya. "Jadi.. lebih enak buatan restoran ini? Daddy tidak akan membuatkanmu Soup yang sama kalau begitu—

"IHHHHH! Daddy curang!" ia langsung berteriak, matanya terlihat kesal dan bibirnya kembali mengerucut sempurna. "Daddy jahat!" ia menjelaskan lagi. Aku mengedikkan bahu dan kembali melanjutkan menghabiskan Steak daging yang masih tersisa diatas piring makanku. Chelsea juga tidak membantah ataupun berbicara sedikitpun, ia masih merasa kesal dan tetap melanjutkan makannya. Aku tahu dalam hatinya jelas ia merasa kesal berlipat – lipat.

Tapi meskipun ia merasa kesal karena-ku, ketika aku menawarkan dessert sebagai penutupnya, wajahnya mulai terlihat cerah kembali dengan senyuman kecilnya—yang dimana kini berubah tersenyum lebar ketika Chocolate Mousse sudah berada dihadapannya.

"Daddy, boleh kita membawa pulang Chocolate Mousse-nya?" ia menanyakkan padaku. Seluruh bagian bibirnya sudah dipenuhi dengan cream cokelat disekelilingnya. "Daddy pasti tidak mengijinkan lagi, jahat sekali. Chelsea tidak mau bangun pagi, Chelsea tidak mau membangunkan Daddy.. Chelsea tidak mau jadi anak baik untuk Daddy lagi."

"Oh benarkah?" Aku menanyakkan padanya dengan wajah serius meskipun susah payah ingin tertawa melihat raut wajah Chelsea yang menggemaskan.

"Iya, Chelsea tidak mau menurut dengan Daddy lagi.. Daddy jahat—

Ucapannya terpotong karena ponsel miliknya berdering mendapatkan panggilan dari Kyungsoo disana.

"Angkatlah, Aunty-mu pasti merindukanmu."

Chelsea langsung menuruti. "Halo, Aunty! Chelsea rindu!"

...

"Aunty.. Daddy jahat! Daddy tidak mengijinkan Chels bermain dengan mainan yang baru dibeli."

Aku menggelengkan kepala mendengar belum ada satu menit Kyungsoo menelepon, ia sudah mengadu akan hal yang baru saja terjadi dan melupakan bahwa mainan yang ia miliki adalah pemberianku.

"Ah.. Daddy yang membelikannya." Ia berucap menunduk dan enggan untuk melihat kearahku yang saat ini tengah tertawa karena mendengar apa yang ia ucapkan pada Kyungsoo disana.

"Tapi kan Chelsea mau bermain—oh baiklah.. Chelsea akan memberikan ponselnya pada Daddy." Aku memperhatikan dengan bingung namun menerima ponsel Chelsea dan mendekatkannya pada telingaku.

"Kenapa?"

"Aku bingung menjelaskannya padamu bagaimana, karena aku juga tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Baekhyun saat ini—

"Kenapa? Apa dia sakit atau mengalami kejadian buruk?" aku langsung mempertanyakkan pada Kyungsoo untuk menjelaskan lebih banyak mengenia apa yang terjadi dengan Baekhyun.

"Dia berada di Kantor Polisi New York karena berada didekat perkelahian di Bar, mereka menahannya karena ingin melakukan test narkoba pada dirinya dan juga alasan yang lain—

Kyungsoo masih menjelaskan lebih jauh apa yang ia ketahui apa yang terjadi disana, test Narkoba dan juga terlibat perkelahian, mengenai uang jaminan dan orang terdekat yang bisa dihubungi oleh Baekhyun untuk hadir di Kantor Polisi sebagai walinya. Baekhyun tidak mungkin menelepon Ayahnya, dan aku tahu itu. Kyungsoo pun tahu kenapa ia menjadi pihak yang Baekhyun telepon tapi yang bisa datang sebagai walinya tentu saja bukan Kyungsoo.

Aku sudah membawa Chelsea untuk masuk kedalam mobil dan memasang sabuk pengamannya tanpa memberikan penjelasan pada puteri kecilku kemana tujuan yang akan kami sambangi, dan ia juga tidak bertanya banyak. Duduk diam pada kursi penumpangnya dengan memeluk bantal tangan berbentuk kucing disana, sementara aku fokus pada jalanan malam ini agar bisa secepatnya tiba di kantor polisi dimana Baekhyun berada.

Chanyeol's Pov End.

.

Author's Pov.

Tempat yang sangat tidak menyenangkan meskipun banyak orang berada disekitarnya, ataupun banyak berkunjung datang adalah Kantor Polisi. Sebanyak apapun orang yang berada disana, suasana tetap mencekam dan hawa dingin sangat terasa, dan ketika tidak ada satu orang pun yang berkumpul itu lebih terasa mencekam seakan – akan tengah memasuki wilayah dunia lain atau mungkin berada di waktu yang berbeda.

Namun Baekhyun untuk pertama kalinya berada didalam ruangan interogasi Kantor Polisi New York dan saat ini dirinya mendapatkan giliran berhadapan dengan para penyidik disana.

"Kau orang Korea?" Penyidik yang bernama Caroline duduk dengan tenang dan melihat profil data dengan nama Baekhyun disana. "Usiamu 26 tahun? Belum menikah?" ucapannya berlanjut dan Baekhyun masih duduk dengan tegang dihadapannya. "Apa kau sudah menghubungi walimu?" kali ini Baekhyun memberikan jawaban dengan anggukkan kepalanya. "Baiklah, aku akan menanyakkan beberapa hal padamu dan aku harap kau mengingat dengan jelas kejadian yang baru saja terjadi didekatmu tadi, aku butuh jawaban jujur dan bukan jawaban yang hanya akan membebaskanmu dengan mudah saat ini namun pada akhirnya kau akan kembali karena pernyataanmu adalah bohong. Itu akan memberikanmu hukuman lebih berat." Suara tegas petugas penyidik jelas mengintimidasi dan mau tak mau Baekhyun hanya mengangguk dengan cepat dan menelan ludah dengan susah payah.

Sebenarnya pertanyaan yang diberikan hanyalah ingin mengetahui bagaimana awal mula Baekhyun berada disana, perkiraan ia datang dan apa saja yang ia lakukan, lalu penjelasan lebih detail ketika Baekhyun berada didepan pintu masuk klub kemudian mengapa ia masih berada disana ketika ia tahu disekitarnya tengah terjadi perkelahian.

"Kenapa kau masih berada disana?"

"Aku dan Nate menunggu mobilnya yang tak kunjung datang, kami sama sekali tidak tahu apa yang terjadi dan alasan perkelahian itu. Nate bergabung karena beberapa orang terdorong kearah kami dan salah satu dari mereka hendak memukul Nate, ia melawan namun tertarik ke tengah – tengah perkelahian." Baekhyun mulai lebih tenang menjelaskan dan tanpa ada suara gugup yang terdengar, penjelasannya bisa dianggap sebagai penjelasan yang rinci dan tanpa ada unsur hal yang ditutupi.

"Apa hubunganmu dengan pria yang bernama Nate?"

"Aku mengenalnya didalam, dan hanya berniat pulang untuk mungkin bercinta atau melakukan hal pribadi yang tidak mungkin aku jelaskan padamu."

Sang penyidik tersenyum kecil dan memperhatikan dandanan Baekhyun yang mungkin bisa ia pikirkan seperti beberapa wanita malam yang ditemukan di pinggir jalan tak jauh dari tempat – tempat clubbing. Tubuh putih pucatnya hanya ditutupi setelan mini dress berwarna hitam ketat menutupi bagian dada hingga sebatas paha atasnya.

"Penjelasan darimu kurasa sudah cukup, kami hanya butuh test urine dan juga darahmu."

Baekhyun membelak bingung karena ia sempat mendengar bahwa beberapa pria saja yang harus melakukan test Narkoba dan kini ia harus ikut serta sementara dalam hatinya sangat yakin tidak ada satupun Narkoba yang masuk dalam tubuhnya. Hanya alcohol yang mungkin berada didalam kandungan darahnya. Ia sangat yakin.

"Aku tidak mengkonsumsi Narkoba apapun dan kalian bahkan sudah memeriksa isi tasku dan tidak ada benda atau hal aneh apapun disana." Baekhyun mempertanyakkan dan berharap ada kesalahan yang mungkin penyelidik wanita itu lupakan.

"Kami memang tidak menemukan narkoba atau apapun didalam tasmu, tapi mungkin didalam tubuhmu Nona. Kau menghabiskan malam dengan salah satu bandar Narkoba di New York dan aku harus memastikan tubuhmu bersih dari Narkoba dan sejenisnya." Ucapan yang dikatakan penyidik jelas tidak lagi membuat Baekhyun membelak bingung, kini ia merasa kaget dan juga butuh penjelasan lebih lengkap akan apa yang ia dengar. Badannya kembali duduk pada kursi didalam ruang Interogasi dan menatap diam kearah dinding disana, mencoba memahami dan menahan segala kekesalan atas hal bodoh yang ia lakukan malam ini.

Baekhyun kembali ditinggalkan seorang diri dalam ruangan itu, setidaknya meskipun dingin dan sepi dirinya masih ditemani secangkir kopi hangat dimejanya yang sangat enggan untuk ia minum, duduk termenung seorang diri didalam ruangan itu cukup menyiksa dirinya dan dengan secangkir kopi rasanya sangat tidak ampuh untuk mengusir perasaan takut dan gelisah akan test yang akan ia jalani. Bertemu dengan salah satu bandar Narkoba dan hampir saja menghabiskan malam bersama lelaki brengsek itu jelas membuat dirinya merasa malu dan juag kesal akan kebodohannya.

Badannya tersentak kaget ketika pintu ruangan kembali dibuka secara cepat, penyidik yang bernama Caroline kembali masuk namun kini tak sendiri. Ada sosok pria dibelakangnya dan ketika pandangan Baekhyun menangkap jelas sosok yang berdiri disana, bibirnya bergetar dan air matanya mulai turun diluar kendalinya. Seketika pemikiran dalam kepalanya meyakinkan dirinya bahwa penyelamatnya telah datang, ia akan bebas da tak perlu merasa takut akan apapun lagi setelah ini.

"Chan—chanyeol."