"Nona Rebecca Byun akan melakukan pemeriksaan terlebih dahulu-

"Aku keberatan. Aku meminta pemeriksaan dilakukan di rumah sakit lain." suara berat Chanyeol menyahuti petugas yang sebelumnya menjelaskan prosedur penjaminan kebebasan Baekhyun.

"But—"

"Tanyakkan pada atasanmu, aku sudah berbicara padanya." Chanyeol memotong ia bawa untuk duduk tepat disebelah Baekhyun dan Chelsea yang sedari tadi memperhatikan dirinya berdiri berbicara pada petugas kepolisian disana.

"Baekhyunnie.. apa mereka jahat pada Baekhyunnie?" Chelsea berbisik pelan pada Baekhyun.

Baekhyun menggeleng pelan, ia sendiri tidak tahu apa yang akan ia katakan pada Chelsea—anak kecil yang secara tiba - tiba bisa berada di kantor polisi bersama Daddy-nya—terlebih kondisi dirinya juga tidak memungkinkan untuk menjelaskan secara rinci mengingat ia sendiri yang tertangkap langsung oleh polisi.

"Mereka tidak jahat Princess.." Chanyeol yang memberikan jawaban pada puteri kecilnya.

"Lalu kenapa mereka menangkap Baekhyunnie?"

"Baekhyunnie mungkin melakukan kesalahan-"

Baekhyun menoleh kearah Chanyeol, ia jelas bisa mendengar jawaban apa yang diucapkan olehnya.

"—untuk itu para polisi ini membawa Baekhyun ke kantornya untuk dimintai keterangan apa Baekhyunnie benar bersalah atau tidak." Chelsea mengerutkan alisnya, nampaknya anak kecil itu masih berusaha mencerna jawaban yang dijelaskan padanya sementara kedua orang dewasa disampingnya saling memberikan tatapan sengit dalam keterdiaman mulut mereka.

"Richard." suara lain terdengar memanggil memecah keterdiaman disana. "So.. the hot guy came back hah." salah satu wanita yang mengenakkan seragam kepolisian formal menghampiri tempat dimana Chanyeol duduk.

"Hai, Nicky." Chanyeol bangkit berdiri dan melambaikan tangan sementara wanita polisi itu tengah siap memberikan pelukan pada Chanyeol.

"How are you handsome." dan mereka berdua saling memberikan pelukan tepat dihadapan Baekhyun dan Chelsea yang duduk dalam diam dan memperhatikan kedua orang disana. Chanyeol membalas pelukan dari polisi wanita yang dipanggil Nicky itu dan bahkan ia juga memberikan ciuman pada pipi—

"Daddy."Chelsea dengan sigap turun dan menghampiri Chanyeol, puteri-nya itu bahkan langsung memberikan pelukan pada pinggang Chanyeol dengan sangat posesif.

"And I see you have a beautiful little girl now, how's a surprise."

Baekhyun yang masih duduk ditempatnya hanya bisa menyaksikan tontonan dihadapannya dan juga memperhatikan bagaimana Chlesea yang masih posesif disana dan berusaha menjauhkan sang Daddy dari hadapan polisi wanita itu.

"Yes, I already have this little one." Chanyeol akhirnya menjelaskan, tangannya mengusap kepala Chelsea dengan sayang dan merangkula anak itu untuk tetap berada didekatnya. "Jadi.. nampaknya kau bukan lagi petugas polisi bawahan hah?" kini giliran Chanyeol yang melemparkan pertanyaan.

Wanita itu tersenyum lebar dan mengangguk, "Seperti yang kau lihat.. aku menjadi kepala kepolisian disini."

"Wow, that's amazing."

"And.. aku dengar namamu banyak dibicarakan malam ini, ada apa? Kau kembali membuat masalah atau—

"No—no—no. Itu bukan aku." bantahannya terdengar secara cepat. "Sepupu jauhku—" Chanyeol melihat kearah Baekhyun dan menunjukkan pada polisi itu, "Dia berada di saat yang tidak tepat malam ini dan terpaksa dibawa ke kantor polisi."

Petugas itu mengernyitkan alisnya, "Dia bersama dengan Archibald?"

"Yap." Chanyeol menjawab lagi.

"Oh ya, aku tahu. Rebecca Byun right?" pandangan wanita itu kini tertuju pada Baekhyun yang masih dengan posisi yang sama disana. "He's hot, really." Baekhyun memperlihatkan wajah bingungnya mencoba mencerna kata 'He' yang diucapkan untuk mendeskripsikan Chanyeol atau Nate Archibald. "But, he's an asshole." Dan penjelasannya berikutnya bisa membuat Baekhyun paham apa yang mereka bicarakan saat ini adalah mengenai lelaki brengsek bernama Nate Archibald. "Well, aku akan mengecheck lagi masalah yang menerkaitkan Nona Byun—

"Aku meminta pemeriksaan urine dan darah dilakukan di rumah sakit lain, aku tidak mau dia melakukan pemeriksaan disini dengan dilihat oleh banyak orang." Chanyeol langsung menjelaskan permasalahannya dan polisi itu menyimak.

"Kami ingin hasilnya saat ini Richard."

"Aku tahu, aku akan membawanya langsung ke rumah sakit—Nicky, aku membawa anak kecil disini dan kau tahu betul kantor polisi bukan area bermain anak perempuan bukan?" Chanyeol mengatakannya dengan sebuah senyuman menggoda yang memperlihatkan bagaimana ia memang berniat untuk meluluhkan petugas polisi itu dengan alasan anaknya.

"You got me, Park." Polisi itu memukul dada Chanyeol dengan kepalan tangannya, dan sebelum ia melenggang keluar dari ruangan ia meminta Chanyeol untuk menunggu beberapa saat lagi.

"Daddy.. dia siapa?" tepat polisi wanita itu keluar, Chelsea secara langsung menanyakkan pada Chanyeol wanita itu.

"Dia teman Daddy, kenapa baby.. kau cemburu." Chanyeol tertawa kecil dan mengusak rambut Chelsea hingga berantakkan.

"Chelsea tidak suka! Dia mencium Daddy tanpa minta ijin." Nada tidak suka terdengar jelas namun dari apa yang diucapkan Chlesen namun Chanyeol hanya tertawa dan menggendong puteri kecilnya itu untuk duduk di pangkuannya.

"Dia teman Daddy sayang." Chanyeol meyakinkan lagi.

"Baekhyunnie teman Daddy, tapi dia tidak mencium Daddy." Rajuk Chelsea. "Iya kan Baekhyunnie? Baekhyunnie tidak mencium Daddy—

Belum selesai Chelsea menyelesaikan kalimatnya, Chanyeol lebih dulu mencium bibir Baekhyun dimana wanita itu sama sekali tidak siap dengan apa yang akan dilakukan oleh Chanyeol.

"Daddy yang mencium Baekhyunnie." Chanyeol menjelaskan dengan tanpa rasa bersalah sementara Baekhyun yang tengah menegang dengan mata yang telah tertutup karena ciuman yang mengejutkan Chanyeol lakukan baru saja masih terdiam kaku disana.

"Daddddyyyy!"


LOVELESS

Chapter 6

.

Chanyeol-Chelsea-Baekhyun

OC

Drama-Family-Romance

GS

.

.

You want a Love that consumes you, You want passion and adventure,

And even a little danger.

LJ Smith

.

.


Baekhyun..

Mmmhhh..

Pelan –pelan sayang..

Bisikannya terdengar pelan tapi suara beratnya sangat mengintimasi hingga seluruh bagian tubuhnya bergerak mengikuti apa yang ia katakan, sementara aku merasakan panas memuncak dari dalam tubuh dan seharusnya ini bisa dikeluarkan sesegera mungkin namun perintah yang ia katakan justru membuat aku mampu menahan puncak klimaks ini. Bergerak diatas perutnya dengan pelan, membawa penisnya yang tengah berada didalamku untuk menusuk tepat pada titik dimana kelemahanku berada dan miliknya semakin mengeras didalam sana.

Aku tidak akan bisa bertahan lebih lama lagi.

Ia bahkan mulai ikut bergerak mengangkat pinggulku untuk bergerak naik turun bersamaan dengan pinggulnya yang ia hentakkan dengan kasar—aku yakin ia juga merasakan klimaks yang semakin dekat. Erangan dan desahan yang aku suarakan sengaja aku perdengarkan tepat pada telinganya, dan ia ikut terhanyut dengan melumat payudaraku dan meremas kencang dengan tangan besarnya dimana membuatku semakin berteriak sementara badannku kembali bergerak cepat diatasnya untuk membuat kami berdua klimaks.

Kami berciuman, mencumbu, mengigit dan menggerakkan pinggul bawah dengan tak beraturan hanya demi pencapaian bersama. Otot – otot perut dan lengannya menjadi sasaran cengkraman tanganku ketika aliran cairan orgasme mengalir membasahi miliknya didalamku, sementara ia masih terus menghujam miliknya didalam sana. Mengundang pencapaian klimaks lainnya secara bersama.

Dari semua pria yang telah melakukan seks denganku setiap malamnya baru kali ini aku pastikan bahwa dia adalah pria paling hebat diantara semuanya, suara beratnya yang memanggil dan mendesahkan namaku secara bersamaan adalah panggilan pengguncah gairah, tangan besarnya bahkan begitu lembut merangsangkan sentuhan diseluruh tubuhku dan aku akui, jari – jarinya bisa bermain sangat nakal dimanapun. Penisnya adalah senjata terhebat dari semuanya. Begitu besar dan panjang, dan... terasa nikmat ketika berada didalamku.

"Cum again baby..." suaranya bahkan masih bisa terdengar sangat erotis ketika ia bergerak dengan terengah – engah mengundangku untuk kembali klimaks. Isi kepala dan mulutku bahkan tak cukup cepat untuk merespon apa yang ia katakan karena badanku memegang penuh kendali kali ini untuk bergerak naik turun seirama dengan apa yang dilakukan olehnya.

"Faster babe.. faster—

Dia terus berbisik.

Sementara aku kini tengah kacau karena gelombang kenikmatan yang ia berikan dan juga mencari – cari pelampiasan akan kenikmatan semua ini. Otot – otot pahaku tengah menjepit pinggangnya dengan erat sementara tanganku meremas rambut hitam gelamnya, ia bahkan terus memancing libido dengan menciumi leher dan juga payudaraku.

"Chanyeol.."

Tunggu.

Bukan Chanyeol. Aku tidak sedang bercinta dengan Chanyeol.

"Chanyeol.. chan—

Tidak. Tidak. Tidak!

Aku tidak melakukan seks dengan Chanyeol! ini tidak nyata.. ini tidak nyata.. ini tidak nyata!

"Nooooo!" dan itu adalah teriakanku. Melengking keras memecah keheningan suasana pagi didalam kamar apartemenku setelah tersadar dari mimpi aneh yang aku alami. Mimpi berhubungan seks dengan seseorang yang bahkan saat ini menjadi orang nomor satu dalam list pria yang membenciku dengan sangat. Park Chanyeol.

"Shit!" dan kalimat itu adalah apa yang tepat aku ucapkan untuk suasana pagi ini, mimpi erotis dan mendapatkan diriku sepenuhnya mengalami orgasm yang nyata. Tidak hanya didalam mimpi. Tapi benar – benar dirasakan bahkan ketika aku sepenuhnya tengah terbangun. Sial.

Kalian tentu sudah tahu siapa Park Chanyeol itu, tidak perlu aku jelaskan lagi lebih detail terutama dengan visualisasi tentangnya. Dan tolong... lupakan apa yang aku jelaskan didalam mimpi tadi. Yang perlu kalian ingat adalah, dia sangat membenciku saat ini, dan aku juga seharusnya membenci diirnya beberapa waktu lalu.. tapi entahlah. Yang aku yakin, ia membenciku. Sangat. Mungkin Kalian masih bingung dengan apa yang aku katakan dan menanyakkan kenapa bisa seperti ini? Biar aku jelaskan.

Tentu kalian sudah tahu bagaimana aku membenci dirinya karena kejadian di bar dan juga segala sikap yang ia lakukan padaku. Aku kira wajar bila aku membenci dirinya dan menempatkan hot daddy—Park Chanyeol sebagai pria yang tidak akan pernah melakukan seks denganku. Seharusnya semua berjalan normal seperti biasanya dan seperti yang sudah – sudah terjadi selama beberapa waktu belakangan sejak kepindahannya. Tapi sejak malam itu, malam dimana ia datang dan menyatakan sebagai penjamin diriku sepenuhnya, malam ketika aku bertemu dengan pria tampan seksi lainnya selain Park Chanyeol tapi ternyata pria itu lebih brengsek dan jahat—Nate Archibald.

Sejujurnya saat itu aku sangat – sangat berterima kasih padanya, sangat.. percayalah, aku benar – benar ingin mengatakan padanya aku sangat berterima kasih dan juga meminta maaf—tapi aku tidak melakukannya—dan aku juga merubah sikap dinginku padanya di keesokan harinya, aku malah melakukan hal bodoh. Sangat bodoh.

Di malam itu, ketika ia mengeluarkan aku dari ruangan dingin dan penuh cermin besar disana, aku mendengar ia berbicara dengan para petugas polisi dan dari itu semua itu yang aku tahu adalah ia penjaminku Surprise? Tentu saja. Pertama, ia bukan bagian dari keluarga terdekat ataupun keluarga jauhku tapi ia mengatakan bahwa aku sepupunya. Kedua, ia bahkan menandatangani dokumen dimana tertulis selama seratus hari kedepan aku berada dibawah jaminan dan tanggung jawabnya. Ketiga, ia membebaskan aku dengan memberikan uang jaminan sebesar 50,000 USD—ini bukanlah jumlah uang yang sedikit—dan Chanyeol memberikan uang itu hanya untuk membebaskan aku.

Ia bahkan meminta pemeriksaan yang akan dilakukan untuk urine dan juga darah padaku dilakukan di rumah sakit lain, dan ini bisa terjadi entah karena pembayaran uang jaminan yang cukup besar atau karena ada petugas polisi wanita yang ternyata sudah cukup dekat dengannya, mungkin mantan kekasihnya—entahlah. Intinya, aku berhasil keluar dari kantor polisi—thank's God—dan meskipun aku dan Chanyeol sempat terlibat adu mulut karena aku memprotest padanya karena dengan tanpa ijinya dia menciumku secara tiba – tiba dihadapan anaknya tapi akhirnya kami bisa duduk bersama dalam mobil mewahnya yang sangat seksi itu—Aston Martin—dimana aku harus memangku Chelsea karena mobil itu tidak memiliki kursi penumpang dibelakangnya.

Perjalanan menuju rumah sakit aman, sangat aman. Tidak ada ciuman secara tiba – tiba , tidak ada adu mulut antara aku dengan dirinya, Chelsea bahkan duduk manis dipangkuanku dengan nyamannya. Itu bagus.

Sayangnya, di rumah sakit lah semua itu terjadi.

Kami datang dan Chanyeol yang mengurusi segala pendaftaran dan bahkan berbicara pada suster di rumah sakit dengan begitu mudahnya hingga tanpa menunggu lama aku segera dibawa keruang laboratorium dan menjalankan prosedur yang diminta. Mudah bukan? Aku juga tidak tahu kenapa bisa seperti itu, mungkin karena pesona Park Chanyeol menjalar ke semua wanita yang ia temui—ini fakta.

Setelah memberikan sample darah dan urine pada pihak laboratorium, kami diminta menunggu di ruang tunggu rumah sakit, Chanyeo dan Chelsea masih menunggu disana. Chelsea sudah tertidur dengan paha ayahnya sebagai bantal ditutupi oleh kemeja luaran yang Chanyeol pakai sebelumnya.

"Mereka meminta aku menunggu hasilnya." Aku yang sudah berada didekat dimana Chanyeol dan Chelsea berada langsung berucap dan duduk pada bangku kosong lainnya. Cukup jauh dari dimana mereka duduk—yang mana aku sengaja lakukan.

"Berapa lama?"

"Mungkin hampir 1 jam. Aku tidak menanyakkan pada suster yang melakukan tadi." Aku menatap Chanyeol memperhatikan wajahnya yang tengah berpikir dan memperhatikan kondisi rumah sakit, tangannya mengusap kepala Chelsea yang berbaring di pahanya sementara anak itu tengah bermain dengan ponselnya.

"Chels, kau mau Daddy antarkan pulang terlebih dulu?"

Chelsea menjauhkan ponselnya dan melihat kearah Chanyeol.

"Daddy akan mengantarmu pulang lalu Daddy kembali kesini dan menemani Baekhyunnie menunggu hasil pemeriksaannya."

Dan kini Chelsea melihat kearahku. "Baekhyunnie akan ditinggal sendiri disini?"

"Tidak apa.. aku mungkin bisa pulang sendiri dengan taksi nantinya—

"No! Baekhyunnie tidak boleh pulang sendiri." Chelsea bangkit bangun. "Daddy.. kita tunggu disini ya.. Chelsea tidak mau pulang." Anak itu merajuk pada Daddynya. Chanyeol yang melihat jelas hanya menggelengkan kepala dan mengusak rambut anaknya.

"Ne Princess. Now sit down." Chelsea mengangguk patuh, duduk tepat disebelah Chanyeol dan kembali fokus pada ponselnya. Bahkan sekarang ia sudah menambahkan earphone di telinganya dan entah menonton video apa dari benda persegi canggih itu.

Aku tidak banyak bicara saat itu, setelah melihat Chelsea sudah teralihkan oleh ponselnya, aku mengalihkan pandangan kembali kedepan. Duduk dengan tenang, sesekali memperhatikan apa yang terjadi disekitaran ruang tunggu, memperhatikan beberapa pasien berlalu lalang atau pun para petugas pelayanan rumah sakit disana. Hingga dalam satu jam kedepan.

Membosankan bukan? Sangat. Aku dan Chanyeol tidak banyak berkomunikasi sebetulnya, namun ketika Chelsea tengah tertidur, dan saat tu Chanyeol hendak pergi ke kamar kecil jadi ia menitipkan Chelsea padaku. Aku mengiyakan dan berpindah posisi untuk membiarkan pahaku menjadi bantal anak itu, dan Chanyeol juga berniat menanyakkan pada petugas mengenai bagaimana hasil dari pemeriksaan darah dan urine-ku setelahnya.

"Mereka belum mendapatkan hasilnya." Chanyeol berucap ketika ia telah kembali.

"Berapa lama lagi?"

"Mungkin 15 hingga 30 menit kemudian." Ia bersiap hendak memindahkan badan Chelsea berada di gendongannya.

"Biarkan saja," aku menahannya. "Ia terlihat sudah nyaman, kalau kau pindahkan ia akan terbangun nantinya." Aku mengatakan seperti itu karena menyadari dari posisi tidur Chelsea saat ini, anak itu sudah sangat nyaman dan bila Chanyeol memindahkan kepalanya lagi mungkin ia akan terbangun.

"Baiklah..katakan padaku bila pahamu mulai terasa kram." Ia duduk disebelah Chelsea, menopang kaki anak itu keatas pahanya.

"Kenapa aku harus mengatakannya?"

Chanyeol menoleh dengan wajah bingungnya, lalu ia tersenyum nakal kearahku. "Tentu saja agar aku memindahkan Chelsea untuk tidur di pahaku Baekhyun, jangan berpikir karena mungkin aku akan mengusap pahamu. Mungkin akan aku lakukan kalau kita sekarang berada di kamar."

Sejujurnya, bila otakku sangat waras. Mungkin aku akan mengumpat kesal dalam diam, mungkin menggelengkan kepala, mungkin juga memukul badannya karena membicarakan hal tak senonoh padaku. Seharusnya aku melakukan itu semua.. seharusnya. Hanya saja otakku saat itu dipenuhi dengan segala pikiran aneh entah karena apa hingga aku menjawab...

"Mengusap paha layaknya seorang pria yang akan memperkosa wanita."

Itu jawabanku. Bodoh. Tidak berkelas. Mengundang sarkatis diantara kami berdua.

"Apa maksudmu?" dan Chanyeol langsung menjawab dingin, ia bahkan bukan lagi memberikan tatapan bingung, tatapannya kali ini dingin dan tajam.

Dan jawabanku berikutnya masih sama bodohnya. "Ayolah Chanyeol.. kau tahu apa maksudku, pria – pria sepertimu pasti sangat ahli dalam membujuk para wanita hanya untuk bisa kau nikmati tubuhnya, apa kau pernah memperkosa wanita? Apa Chelsea salah satu hasil dari perbuatanmu dimalam – malam hina—

"Otakmu memang perlu dicuci Nona Byun!" Chanyeol mengeraskan suaranya. Dan dia benar, otakku sepertinya harus dicuci. "Dan kalau kau mengatakan aku pria yang mudah memperkosa wanita, seharusnya kau lebih pintar menilai pria – pria yang kau tiduri setiap malamnya! Pria brengsek tidak mengatakan ia brengsek secara langsung Byun!"

Mau tahu sebodoh apa aku? aku masih bisa tertawa mendengar apa yang ia katakan, dan baru mulai menyadari ucapanku salah ketika ia mengangkat badan Chelsea menjauh dariku.

"K-kau mau kemana?" aku bangkit berdiri menyusul langkah Chanyeol yang berjalan membawa Chelsea pergi hingga ke pintu keluar rumah sakit. "Chanyeol! Kau mau kemana?!" aku berteriak padanya hingga ketika kami tiba dimana mobilnya terparkir.

"Aku membawa Chelsea pulang, kau bisa mengurus semuanya sendiri!" Dia menjawab dingin, dan tanpa melihat kearahku.

"Chanyeol?!"

"Jangan berteriak padaku!"

Disitulah aku sadar, Chanyeol marah atas semua yang aku katakan dan mungkin lakukan padanya, untuk pertama kalinya aku melihat sisi dingin dan marah dari wajah Chanyeo. "Kau tidak punya hak untuk mengatakan apapun padaku karena aku tidak ingin mendengar penjelasan pula darimu Byun." Ia bahkan tidak lagi memanggil nama panggiilanku. "Urus semua permasalahanmu sendiri dan semoga kau berhasil menemukan pria yang puas menikmati badan kotormu itu!" ia bahkan menunjuk kearahku.

Seingatku, aku hanya berdiri terdiam disana, mendengar dengan jelas ucapan Chanyeol yang merendahkan diriku dan memperhatikan pandangannya yang terlihat sangat enggan untuk melihat kearah wajahku. Dia benar – benar menganggapku sebagai wanita rendahan sekelas pelacur – pelacur dijalanan—mungkin. Untuk pertama kalinya seseorang pria berteriak padaku dan bahkan mengatai diriku seperti yang Chanyeol lakukan, aku bahkan tidak menyadari kapan mobilnya berlalu pergi, dan kapan aku tersungkur berlutut diparkiran rumah sakit.

So pathetic.

Aku kembali masuk kedalam rumah sakit masih dalam kebingungan dan kerja otak yang sangat tidak bekerja dengan baik, nafasku bahkan tersenggal – senggal mendengar ucapan Chanyeol yang masih terngiang – ngiang. Kalimatnya yang mengatakan bahwa tubuhku kotor dengan cepat membawa putaran masa dimalam aku melakukan hubungan seks kilat dengan para pria asing setiap malamnya. Ia benar – benar menganggap aku pelacur kan?

"Nona Rebecca Byun?" suara petugas rumah sakit menyadarkan aku, akhirnya. "Hasilmu sudah keluar, dokter ingin memberikan penjelasan mengenai hasilnya." Anggukkan kepala adalah yang bisa aku lakukan saat itu, ia menggiringku ke ruangan sang dokter dan jangan tanyakkan apa yang Dokter itu jelaskan padaku karena aku tidak ingat.

Sama sekali.

Singkatnya seperti itulah kejadian dimana aku memancing amarah Chanyeol hingga ia sangat membenciku hingga saat ini. Empat puluh lima hari semenjak malam dimana semuanya terjadi. Empat puluh lima hari juga tidak ada tukar pandang dan sapaan dengan dirinya atau pun si kecil Chelsea. Apartemennya selalu tertutup rapat seakan – akan tidak ada tanda – tanda kehidupan didalam sana. Aku tahu ia masih tinggal disana, karena aku sempat melihat beberapa tugas valley apartemen memarkirkan mobil miliknya.

Aku merasa bersalah, sangat – sangat merasa bersalah. Dan mengenai apa yang ia katakan mengenai tubuh kotorku ini.. berhasil membuatku merasa jijik dengan diriku sendiri dan juga bertobat dengan dunia malam serta seks – seks kotor itu. Bagus bukan? Tapi.. semenjak aku mulai memantapkan niat untuk tidak terjun kembali dalam dunia itu, aku memimpikan hal – hal kotor dengan Chanyeol. Sial. Sebeneranya apa yang Tuhan inginkan untukku sih?!

Hari ini masih sama dengan hari – hari pengangguran yang telah aku jalani selama ini, terbangun dari memimpikan bercinta dengan Chanyeol, lalu mandi berendam begitu lamanya dan kemudian bersiap untuk menikmati Brunch atau Lunch setelahnya.


LOVELESS


Apartemennya masih sama, tertutup rapat.

Ini sudah pukul 4 sore, dan kali ini aku sengaja terdiam memandangi pintu itu dan berharap siapa pun membuka pintu dan muncul dihadapanku. Harapan yang selalu aku katakan dalam hati sejak empat puluh lima hari yang lalu. Tapi sepertinya kali ini pun akan sama seperti hari – hari sebelumnya, tidak ada yang muncul. Chanyeol tidak akan mau menampakkan dirinya padaku.

Klik.

Ada suara terdengar. Suara kunci yang terbuka.

Aku kembali berbalik, mencoba menajamkan pendengaran dimana aku yakin suara itu berasal dari pintu Apartemen Chanyeol.

Klik.

Dan memang benar. Itu suara dari pintunya.

"Aku sudah didalam apartemenmu, Chelsea belum kembali maka dari itu aku menggunakkan kunci duplikat untuk masuk—" dan suara wanita dewasa terdengar menyambar keluar. "Iya, cepatlah naik aku sudah berada didepan pintu. Oh kau tidak bersama Chelsea, baiklah.." wanita itu memiliki tinggi yang tak jauh beda dariku, rambut hitamnya tergurai panjang, ia bahkan mengenakkan setelan berwarna merah muda selutut, payudaranya bahkan tercetak jelas disana, dan untungnya.. menurutku ia memiliki bentuk badan yang cukup bagus, hanya saja terlalu kurus. Aku rasa ia masih keturunan Korea.

"Oh, halo." Dia menyapa kearahku, dan melambaikan tangannya.

"Hai." Suaraku membalas singkat.

"Aku baru datang dua jam yang lalu, aku teman Chanyeol." Great. Dia menjelaskan dia teman Chanyeol. Oh really? Teman memiliki kunci duplikat apartemennya? Pria itu benar – benar sangat lihai memanjakkan wanitanya.

"Hai, aku hanyalah tetangga Chanyeol. Dan welcome to New York." Percayalah suaraku sangat terdengar manis dan ramah menyapanya.

"Semoga Chanyeol dan Chelsea tidak merepotkan anda ketika mereka baru pindah disini ya.." aku tidak tahu apa yang ia maksudkan, tapi aku semakin kesal mendengarnya. Siapa dirinya mengucapkan kata – kata itu? Kalau dia adalah salah satu keluarga mungkin saja.. dan itu semakin membuatku berpikir mungkin saja dia adalah tunangan Chanyeol atau entahlah.. aku malas berpikir.

"Kau masih menunggu?" Chanyeol yang baru saja keluar dari lift langsung melontarkan suara melihat wanitanya tengah berbincang denganku.

"Oh hey Chan! Aku baru saja menyapa tetanggamu.. oh kita belum berkenalan." Dia melangkah mendekat untuk berjabat tangan denganku.

"Kau bisa memanggilku Baekhyun." Aku bersuara lebih dulu dan membalas jabat tangannya dimana terasa sangat lembut.

"Oh, kau ternyata orang Korea juga, aku—

"Aku sudah mengatakan untuk menunggu didalam." Chanyeol sudah berada dibelakang wanita itu, memeluknya dan bahkan memberikan ciuman pada pipi wanitanya. Pemandangan yang sangat tidak pantas untuk aku lihat.

"YA! Chanyeol-ah!" Wanita itu berteriak dan berbalik memukul badan Chanyeol, tapi lagi – lagi yang aku dapatkan adalah pemandangan yang tidak pantas untuk aku lihat.

Mereka berciuman. Ciuman bibir antara bibir, yang sangat dalam. Tangan Chanyeol bahkan membelai belakang lehernya dan juga punggung belakang wanita itu. Dan tanpa menunggu terlalu lama layaknya orang bodoh disana, aku masuk kedalam apartemenku dengan cepat, meuntup pintu perlahan agar mereka tidak terganggu untuk terus melakukannya didepan pintu.

Dan mood-ku terasa buruk. Sangat buruk.

Kenapa Chanyeol harus mencium wanita asing itu didepanku?! Menyebalkan!


Chanyeol's


"Brengsek! Brengsek! Bajingan! Menyebalkan! Kau adalah sepupuku paling menyebalkan yang pernah hidup!"

Ini sudah pukulan kelima—kalau aku tidak salah menghitung. Dan umpatannya adalah yang entah keberapa kali ia umpatkan dengan sangat jelas. Dan aku akan menagihkan uang umpatan berlipat ganda padanya.

"Playboy brengsek! YA PARK CHANYEOL!"dan kini ia mulai berteriak ketika aku melangkah jauh dari sampingnya. "Kau mendengar apa yang aku katakan kan? Aku yakin dia adalah targetmu kan?" dan dia masih Irene sepupuku yang agresif-berpikir cepat dan juga cukup berisik.

"Pastikan kau memasukkan uang kedalam toples umpatan sesuai dengan setiap kata yang kau ucapkan tadi." Aku menunjuk salah satu toples didekatnya dan dia memutar mata mengabaikan ucapanku.

"Kau yang membayarnya Boss. Kau penyebab semua umpatan itu."

Aku mengangkat bahu, mengambil dua kaleng beer dari dalam kulkas dan kembali untuk duduk disampingnya. "Kau masih sangat menyebalkan meskipun beberapa bulan kita tidak bertemu."

Dia memukul lenganku—lagi.

"Aku yakin kau berhasil memancing kecemburuannya bukan?"

"Hmm." Mulutku tidak mengeluarkan suara untuk memberikan jawaban padanya karena lebih dulu terisi oleh cairan dari kaleng beer.

Irene kembali memberikan tatapan dingin mengintimidasi. "Kalau dia tidak cemburu berarti dia tidak memiliki perasaan padamu Tuan Park-Playboy-Chanyeol."

"Hmm."

Dan kali ini Irene mencubit tanganku dengan jari – jari runcingnya yang terlihat seperti jari – jari serigala. Bentuk kukunya berwarna merah namun terlihat runcing diujungnya. Sangat menyeramkan.

"Dia terlihat agak takut melihatmu, apa yang kau lakukan padanya? Jangan katakan padaku kau sudah berbuat cabul padanya?" dan Irene si penghujat kembali ke permukaan.

Pikiranku kembali mengingat malam dimana awal mulai permasalahan yang terjadi diantara aku dan Baekhyun.

"It's complicated."

Irene tertawa kecil mengejek setelah mendengar apa yang aku katakan. "Kau mengalami status aneh itu dalam percintaanmu? Not Park Chanyeol's style."

Dan kali ini aku setuju. Tidak pernah dalam kasus percintaan yang aku jalani mengalami fase complicated.

"Jadi.. kau mau menceritakannya sebelum aku dan Chelsea pergi atau menunggu masa berkabung ini berakhir?"

"Mungkin menunggu hingga masa berkabung berakhir, I'm not in the mood right now."

Irene mengangguk. "Of course you are.."

Dan kini fokus pikiranku kembali bercabang. Mengingat kembali permasalahan yang terjadi dengan Baekhyun dan juga masa berkabung yang akan aku lewatkan hingga tiga minggu kedepan.

"So.. dimana koper Chelsea? Dia tidak akan kembali ke apartemen dulu kan?"

Chanyeol menggeleng. "Kita akan menjemputnya di sekolah lalu langsung menuju ke Bandara, kopernya sudah berada dimobilku."

"Oh, lalu kenapa kau minta aku datang ke apartemenmu dulu?"

Chanyeol mengangkat bahunya,

"Aaahh.. kau memang berniat untuk membuatnya cemburu ya?" Irene melontarkan nada menggodanya. "Benar kan?"

Kini Chanyeol menggeleng.

"Oh ayolah, trik apalagi yang belum aku ketahui tentang dirimu Tuan Park."

"Diamlah," Chanyeol bangkit berdiri melangkah masuk menuju kamarnya. "Aku akan ganti baju dan kemudian kita akan berangkat menjemput Chelsea di sekolahnya."

"Baiklah, tapi aku lebih suka kau bertelanjang dada nanti saat keluar.. mungkin dia akan merasa lebih cemburu melihat kita—aw!" lemparan bantal kecil yang Chanyeol arahkan pada Irene tepat mengenai kepala wanita itu.