Baekhyun's


Hari - hariku masih-lah sama, hidup seorang pengangguran-tanpa ada pekerjaan-dan juga sebagai seorang wanita berusia yang akan mendekati 30an tanpa kekasih ataupun seseorang untuk melampiaskan hormone seksualitas.

Itu aku, Byun Baekhyun.

Masih mengalami mimpi erotis dengan tetangga depan apartemen namun semua itu hanya mimpi, bahkan di dunia nyata saat ini kami sudah tidak bertemu selama dua hari, 2x24 jam aku dan Chanyeol tidak bertemu, hebat bukan? Semenjak ia berciuman dengan wanita itu.. aku tidak mendengar ia kembali ke apartemen miliknya, mungkin mereka sedang berlibur bersama atau mungkin honeymoon.. ya siapa yang tahu. Hanya ia, mereka dan Tuhan yang tahu. Sementara aku, menghabiskan musim panas di New York seorang diri, sungguh menyedihkan.

Aku menghela nafas panjang, membalikkan potongan ayam yang tengah aku masak kali ini dan kemudian menyiapkan piring sebagai tempat untuk menyajikan ayam itu. Lihatlah, betapa menyedihkannya bukan? Makan malam seorang diri. Dan bahkan aku harus memasaknya sendiri!

Astagaaaa! Hidup macam apa ini!

Aku mematikan pematik api pada kompor gas itu dengan kasar dan memindahkan potongan bagian ayam pada piring putih yang sudah aku siapkan.

Makan malam telah siap Byun.

Dan sebagai teman menyantap makan malam seorang diri ini.. aku memilih acara Netflix yang akan menemaniku malam ini. Hari Jum'at malam banyak acara - acara yang ditayangkan pada website berbayar itu, dan sudah pasti semua tayangan memiliki rate untuk penonton berusia 18 tahun keatas dan tentu aku sudah melampaui batas usia itu.

Makan malam, mashed potato, chicken grilled dan beberapa potonan brokoli. Cukup nikmat meskipun sedikit hambar pada bagian mashed potato-aku membuatnya sendiri ngomong - ngomong. Seperti yang kukatakan, pengangguran, memiliki banyak waktu untuk mengerjakan semua hal.

Aku sudah berpindah duduk di depan layar televisi dan siap menikmati malam penyendiri, hingga beberap menit selanjutnya terdengar pecahan kaca atau semacamnya dari depan pintu apartemenku. Sontak aku mematikan layar televisi dan juga mengambil ponsel milikku untuk berjaga - jaga menelepon pihak keamanan gedung apartemen. Tak hanya itu, aku juga mengambil gagang sapu sebagai alat keamanan yang bisa aku pergunakkan untuk menjaga diri. Aku menahan nafas beberapa detik hanya untuk melihat kearah lubang pintu, tidak ada satu orang pun yang terlihat berada didepan sana, aku membuka kunci pintu secara perlahan dan masih siap siaga untuk melakukan menyerang siapapun yang aku temui, pintu aku buka perlahan - lahan.. dan apa yang aku lihat lebih mengejutkan kerja jantungku dibandingkan sebelumnya.

"Chanyeol?!"

Aku tidak salah ketika meneriakkan namanya.

Park Chanyeol, berada didepan pintu dengan penampilannya yang sangat - sangat berantakkan, tangannya terdapat pecahan kaca botol minuman yang mungkin ia jatuhkan dengan sengaja. Wajah tampannya bahkan terdapat beberapa luka yang entah ia dapatkan dari mana.

Aku membuang gagang sapu dan memasukkan ponselku kedalam kantung celana pendek yang aku kenakkan, membawa masuk Chanyeol adalah apa yang aku pikirkan saat ini. Dia memiliki badan yang besar, tinggi dan sudah pasti berat badannya adalah di sekitar 70 - 80kg, sementara aku? Tulang badanku bahkan bisa remuk bisa aku ditiban oleh badannya-well mungkin tidak bila aku berada di posisi bawah ketika kami bercinta.. oh okey-pikiran ini semakin menjadi kotor dan Chanyeol masih tergelatak tidak sadarkan diri di lantai.

Chanyeol, maafkan pikiranku.

Aku bertolak pinggang setelah membuka pintu apartemenku begitu lebar sebagai jalan masuk pria besar ini. Dan kalian ingin tahu bagaimana aku membawanya masuk? Tentu saja dengan menarik badannya layaknya karung beras. Jangan tertawa! Aku benar - benar melakukannya. Tidak mungkin aku menggendongnya atau memapahnya. Dia sungguh sangat berat! Bisa - bisa tulangku patah bila aku melakukannya. Badannya aku tarik dengan sekuat tenaga, dan itu membutuhkan waktu hampir tiga puluh menit lamanya hanya untuk memindahkan badannya menuju ranjangku berada. Ya ranjang, aku membawanya untuk tidur di ranjangku. Dan lihatlah, kakinya bahkan menggantung tidak muat berada di ranjangku yang kecil itu.

Wangi badannya bukan lagi wangi maskulin seperti sebelum - sebelumnya yang sangat dominan, kini wangi badannya perpaduan antara darah keringat dan juga minuman hingga membuatku hampir ingin muntah bila lama - lama berada didekatnya. Aku membuka bagian kaos yang ia kenakkan karena pakaian itu nampak tidak layak untuk ia pakai untuk tidur, dan kalian tahu apa yang aku dapatkan ketika kaosnya aku tanggalkan.

Otot - otot kekar yang ia miliki terpampang jelas dihadapanku dan mengingat posisiku yang berada di atas badannya.. ini seakan - akan memberikan kesempatan untuk mewujudkan apa yang selama ini aku impikan bersamanya. Tapi setidaknya aku masih memiliki kesadaran tinggi, dan cepat beralih untuk meninggalkan Chanyeol disana, melangkah lebar menuju dapur untuk mengambil air dingin-untuk aku minum. Lalu membawa air dingin lainnya yang berasal dari kran dan juga handuk kecil-ini untuk Chanyeol.

Aku kembali lagi menuju bagian kamar tidurku, tidak lagi duduk diatas perutnya. Aku belum segila itu untuk menyetubuhi pria tidak sadarkan diri dan tengah mabuk saat ini. Aku duduk ditepi ranjang yang masih tersisa disana, dan mulai membasuh wajah dan mukanya secara perlahan - lahan.-Lihatlah.. aku masih peduli dengannya kan.

Ia sama sekali tidak bergerak ketika aku mulai membasuh wajahnya, luka - lukanya lebih terlihat jelas dan terlihat sangat baru. Aku yakin ia mabuk berat dan terlihat perkelahian disalah satu bar, atau.. mungkin Ia berkelahi karena wanita yang ia cium kemarin?-aku menggeleng cepat, menyingkirkan pikiran buruk dari dalam pikiranku sebelum ada kejadian tidak mengenakkan hati lainnya terjadi.

Selesai dengan bagian wajanya, kini tanganku bergerak untuk membasuh bagian badannya. Dan ini cobaan terberat. Tuhan! Kenapa kau membiarkan hal ini terjadi! Lihatlah otot - otot lengan dan perutnya! Mereka seakan - akan mengatakan padaku untuk segera merasakan betapa kekarnya dan ingin kujilati-lagi -lagi aku menggelengkan kepala lebih dulu menyingkirkan pikiran jorok yang sempat singgah.

"Sial." Gumamanku terdengar cukup keras, namun sebelum kembali berpikiran jorok.. aku mulai mengusap bagian dada Chanyeol lebih dulu dengan sangat pelan takut akan membangunkan dirinya dan membuat suasana lebih canggung aneh diantara kami.

Sentuhan pertama berhasil aku lakukan tanpa ada pergerakan darinya, usapan perlahan - lahan aku lakukan masih dengan gerakkan sangat pelan, Chanyeol tidak bergerak sedikitpun. Aku yakin ia sangat mabuk hingga nampak seperti mayat hidup saat ini, seharusnya semua berjalan dengan lancar.. namun entah beberapa menit kemudian, Chanyeol bergerak. Badannya bergerak merasakan tidak nyaman dari posisi tidurnya, sekujur badannya nampak berkeringat dan itu membuatku semakin bingung karena seharunya ia tidak merasakan keringat mengingat pendingin ruanganku masih berfungsi dengan baik dan aku bahkan membasuhnya dengan air dingin. Dan Chanyeol tak hanya berkeringat, badannya bergemetar hebat diiringi suara gumaman pelan dari mulutnya memanggil satu nama yang tak pernah aku dengar.

Yoora.


LOVELESS

.

Chapter 7

.

Chanyeol-Chelsea-Baekhyun

OC

Drama-Family-Romance

GS

.

.

You want a Love that consumes you, You want passion and adventure,

And even a little danger.

-LJ Smith

.

.


Chanyeol masih bergumam memanggil nama wanita itu, ia bahkan menangis namun masih dalam posisi tertidurnya. Ini yang membuatku semakin panik. Apakah ia merasa sakit atau hanya mengalami mimpi buruk? Aku yang masih merasa bingung dan entah ingin melakukan apa untuk membantunya hanya bisa duduk di tepi ranjang dan memberikan sentuhan penenang pada bagian lengannya, mengusap dan menepuknya secara perlahan - lahan.

Chanyeol masih nampak gelisah, tapi suara gumamanya sedikit berkurang dan itu aku manfaatkan untuk membenarkan posisi tidurnya sambil terus mengusap badannya dengan air dingin. Ia nampak lebih tenang setelahnya, dan karena aku sudah selesai membasuh badannya, aku meninggalkan dirinya untuk tidur, menyelimuti badannya dengan selimut dan kemudian mematikan lampu tidur agar ia lebih lelap untuk beristirahat.

Aku berjalan kembali menuju dapur, membuang air dan mencuci handuk kecil yang aku gunakkan untuk membasuh wajah dan badan Chanyeol, entah berapa minuman yang ia habiskan dalam semalaman karena bau aroma minuman dan darah jelas tercium sangat kuat dari handuk ini.

Aku kembali untuk melihat keadaanya, ia masih tertidur pulas disana, masih pula menggumamkan nama yang sama.

Ada rasa ingin tahu yang kuat dalam diriku untuk mengetahui siapa nama yang ia gumamkan sedari tadi, mungkinkah mantan istrinya? Atau mungkin wanita yang ia cium beberapa hari yang lalu? Atau mungkin-ah entahlah. Aku tidak mau lagi memikirkan segala kemungkinan lainnya mengingat pengalaman kemarin cukup mengajarkanku hal penting untuk tidak ikut campur urusan Park Chanyeol sebelum ia kembali marah padamu.

Dan terima kasih pada siapapun yang meneleponku saat itu-ternyata Kyungsoo-karena aku berhasil teralihkan.

"Hey Kyung." Aku menyapa bersamaan dengan dia yang mengucapan sapaan memanggil namaku.

"Sombong sekali kau ini! Tidak lagi mengirimkan pesan dan bahkan menanyakkan kabarku eoh-" Dan dia marah? Apa salahku kali ini.

"Hoy Nyonya Park Jongin. Kau yang tidak membalas pesanku sejak beberapa hari yang lalu."-seingatku aku mengirimkan pesan padanya namun ia yang tak kunjung membalas pesanku kala itu.

"Oh? Benarkah? Aku tidak tahu ada pesan masuk untukku."

"Periksa kembali ponselmu dan lihat pada kolom chatku. Aku menanyakkan apa yang kau lakukan saat itu, kau tidak membalas-

"Sebentar, aku akan memeriksanya sekarang-apa yang sedang kau lakukan? Memikirkan tetanggamu yang seksi itu?" Dia tertawa. Menertawakan aku tepatnya.

Seharusnya dia bisa mengatakan nama Park Chanyeol, tapi dia tidak mau membayangkan kakak iparnya-lah yang aku bicarakan, jadi selama ini dia selalu menyebutnya 'tetangga yang seksi'.

"Aku berniat menghabiskan makan malamku dengan menonton Netflix tapi ada tetangga yang merusak momen itu dan kini ia terkapar diatas ranjang kecilku." Tanpa pikir panjang aku langsung menceritakan sedikit kesimpulan dari apa yang terjadi malam, dan semoga Kyungsoo dapat menyimpulkan dengan cepat bahwa aku tengah membicarakan kakak iparnya.

"Oh-sayang sekali. Astaga, aku baru lihat pesanmu benar sudah aku baca, aku yakin Chelsea membukanya namun lupa mengingatkanku tentang pesan darimu-tunggu tadi kau bicara apa?"

"Nah kan! Aku benar kali ini-tunggu Chelsea disana?"

Okey.. ini aneh. Kenapa Puteri Park Chanyeol berada di Korea sementara ayahnya berada di kamarku, dalam keadaan mabuk-dan setengah telanjang.

"Oh, iya dia ada disini. Kami memiliki peringatan yang harus dirayakan-sebentar." Suara Kyungsoo terdengar menghilang, entah apa yang Ia lakukan dan aku hanya menunggu hingga suaranya kembali terdengar.

"Baek, kau bisa mendengarku?"

"Ya.. aku mendengarmu."

"Chelsea ada disini, kami merayakan ulang tahunnya dan juga sebuah perayaan peringatan.." Kyungsoo menjelaskan, suaranya terdengar sangat hati - hati sementara aku seketika melihat pada tanggal kalender di meja terdekat.

"Ulang tahun Chelsea? Bukannya dia ulang tahun pada bulan November atau semacamnya?" ingatanku masih jelas mengingat dimana Chelsea mengatakan ulang tahunnya sama dengan ulang tahun Chanyeol bahkan Chelsea sudah memintaku akan memberikannya kado saat itu.

"Ternyata kau sudah tahu mengenai ulang tahunnya ya." Kyungsoo menghelas nafas disana dan ini semakin membuatku bingung.

"Kyung, kau mendengar apa yang aku katakan padamu sebelumnya?"

"Mengenai apa?"

Aku mengigit bibir bawahku berpikir sebentar dan melihat kearah ruangan kamarku, Chanyeol masih berbaring disana dan belum ada tanda - tanda dari dirinya akan bangun.

"Mengenai.." aku berbisik pelan. "Apa yang aku lakukan pada malam ini, aku mengatakan padamu tadi tapi mungkin kau tidak mendengarnya.. aku mengatakan tengah akan menikmati makan malam dan juga menonton tayangan Netflix namun tetanggaku merusak momen karena ia tergeletak didepan pintu apartemenku dalam keadaan mabuk."

Kyungsoo jelas menahan nafasnya dan entah mengatakan kalimat apa disana.

"Dia benar - benar mabuk, dan bahkan mendapat luka pukulan di wajahnya.. aku tidak tahu apa yang terjadi-

"Biarkan dia berada diapartemenmu untuk sekarang, jangan bangunkan dia dan kalau pun kau harus memukul wajahnya ketika ia ingin pergi dari tempatmu-lakukan saja."

Okey, ini semakin aneh.

"Kau serius?" Aku menanyakkan maksud dari kalimat yang ia katakan.

"Aku serius.. sesuatu terjadi.. maksudku.. kami disini bukan hanya merayakan perayaan ulang tahun Chelsea yang sesungguhnya, kemarin adalah hari peringatan meninggalnya dari Ibu Chelsea.. dan biasanya Chanyeol tidak pernah mau untuk ikut memperingatinya. Ia mengingat tanggalnya namun tidak mau kembali ke Korea hanya untuk mengikuti prosesi peringatan ini. Dan itu juga termasuk alasan ia tidak mengatakan pada Chelsea bahwa hari lahirnya adalah bertepatan dengan hari dimana Ibunya meninggal. Ia tidak mau Chelsea merayakan bersamaan dengan meninggalnya sang Ibu.."

Dan lagi - lagi.. aku dibuat tidak bisa berkata satu kata pun mendengar sebagian cerita dari kisah Park Chanyeol. Ini semakin membuatku merasa bersalah. Sangat.

"Jadi.. seperti itulah.. Chelsea hanya mengetahui hari dimana Ibu-nya meninggal-ia tidak tahu bahwa hari itu adalah hari dimana ia juga terlahir.. Chanyeol berpikir akan lebih baik Chelsea tidak tahu dan mungkin memudahkan anak ini untuk tidak merasa terbebani.."

"Aku setuju dengan Chanyeol.." Aku berucap lesu, perasaan bersalah semakin memenuhi ruang hatiku dan membuatku semakin tidak bisa berpikir jernih.

"Dan Chanyeol selalu melampiaskannya dengan minuman.. jadi aku mohon padamu untuk tetap bisa mengawasinya dalam satu atau dua hari kedepan. Ia tidak pernah larut berkepanjangan.. hanya saja please aku minta tolong padamu untuk mengawasi dia.."

"Kyung.. aku ingin mengatakan sesuatu padamu.."

"Apa? Kau ingin mengatakan apa?"

Tidak tahu apa yang aku pikirkan pada saat itu, tapi aku menceritakan semuanya pada Kyungsoo kejadian dimana aku membicarakan masalah mengenai Chelsea terlahir. Kyungsoo hampir sama marahnya dengan Chanyeol namun aku kembali menjelaskan bahwa saat itu aku mabuk dan juga merasa kesal karena keadaan dan juga factor lainnya.

"Kau benar - benar ingin kubunuh hah!" Kyungsoo yang marah adalah menyeramkan.

"Aku kelepasan bicara Kyung!" suaraku ikut meninggi.

"Yak Byun Baekhyun! Kau benar - benar harus mengurangi minum - minum dan juga menghabiskan malam dengan para pria - pria aneh disana sebelum otakmu semakin tidak bisa bekerja dengan baik-untung saja Chanyeol tidak menampar wajahmu itu bodoh!"

"Yaa!"

"Aku serius. Banyak orang - orang yang sudah ia tampar hanya karena bicara sembarangan mengenai Ibu Chelsea, dan aku harap kau tidak termasuk dalam list orang - orang tersebut. Aku tidak bisa menjelaskan panjang mengenai semuanya, hanya saja jangan pernah mengungkit bahwa Chelsea adalah anak yang tidak diinginkan atau ia adalah anak haram dan sebagainya-cukup kau ketahui bahwa Chelsea adalah Puteri Chanyeol. itu saja."

"O-oh.. baiklah."

"Aku serius Baek, jangan buat Chanyeol marah padamu karena kau tidak akan menyukainya. Itu menyakitkan." Kyungsoo memperingati lagi.

"A-aku paham."

"Baguslah.."

"Oh, aku mau menanyakkan satu hal padamu.. apa kau mengenal nama Yoora?"


LOVELESS


Dunia malam tidaklah selalu indah seperti yang dibicarakan oleh kebanyakkan para penikmatnya, minuman, musik, wanita, dan juga para pria - pria yang menghiasi setiap detik di malam - malam itu memanglah selalu terlihat memukau dan menawa tapi ketika kau sudah larut dan terikat didalamnya. Tidak ada lagi kenikmatan yang bisa kau rasakan, perasaan sakit dan juga hina adalah apa yang tersisa.

Saat dirimu menikmati sebuah minuman yang membangkitkan gairah, sedikit sentuhan akan sangat terasa begitu memabukkan dan ketika kau meminta lebih banya sentuhan, kenikmatan berlipat ganda akan didapatkan termasuk sebuah desahan dan juga rasa sakit pada bagian terdalam dan dihari berikutnya yang bisa kau ingat adalah dirimu terbaring lemah, dengan aroma minuman dan seks yang menguar kuat tersisa diseluruh tubuhmu.

"Kau melakukannya?"

Pertanyaan itu tidak bisa dijawab pasti, karena ingatannya bahkan terasa samar hanya untuk mengingat jelas awal mula ia berada di tempat itu.

"Yoora.. katakan padaku siapa yang melakukannya.."

Wajahnya berubah takut karena sekuat apapun ia mengingat, yang ada hanyalah bayangan dirinya tengah menikmati apa yang telah ia perbuat malam itu.

Adiknya tidak bisa berbuat apa - apa, sebuah pelukan adalah perwakilan dari apa yang tidak bisa ia katakan untuk kakaknya.

"It's okey.. aku disini.. tidak akan terjadi apa - apa."

Harapan dan doanya juga sama. Semoga tidak terjadi apa - apa..namun pada bulan berikutnya sebuah pertanda akan hasil dari apa yang ia lakukan malam itu merubah semuanya, tidak ada lagi perasaan tenang karena semaunya telah terlupakan, muntahan yang ia keluarkan dengan rasa pahit dan juga tamu bulanan yang tak kunjung datang menjadi jawaban semuanya. Dan ketika ia memberanikan diri melihat garis dari satu alat yang dipercaya mampu memberikan jawaban yang akurat, dua garis adalah jawaban semuanya.

"Chanyeol.. Ibu pasti akan membunuhku.. ia akan menggugurkan bayiku kan? Aku.. takut.."

Apa yang bisa dilakukan olehnya adalah pergi dari rumah keluarganya, menghindari kedua orang tuanya yang selalu mengawasi apa yang ia lakukan, tinggal bersama sang adik yang berada jauh dari negara kelahirannya adalah pilihan terbaik saat itu.

Chanyeol adalah adik terbaik baginya. Pria itu bahkan merelakan malam - malam pesta hanya untuk menemani sang kakak yang tengah mengalami apa yang dinamakan dengan mengidam. Tidak ada lagi malam dengan minuman beralkohol, tidak ada lagi malam - malam penuh desahan karena ia telah melihat dengan kedua matanya sendiri hasil dari segala sikap brengsek yang dilakukan oleh para pria bajingan seperti dirinya. Malam - malam dimana adiknya seharusnya mengerjakan tugas kuliah dan juga persiapan ujian , harus rela terbagi hanya untuk memberikan pijatan pada kaki sang kakak yang terlihat membengkak.

Tidak ada musik - musik bergenre yang disukai pria itu, karena semuanya telah berubah menjadi alunan musik piano klasik yang dianggap bagus untuk sang bayi yang berada dikandungan. Tidak ada lagi video - video porno yang bisa ia tonton karena melihat bagaimana perubahan badan yangYoora perlihatkan secara langsung menghilangkan semua hasrat gairah yang dimiliki oleh kelakiannya.

Moment dimana mereka seharusnya menjadi kakak adik yang harmonis bahkan harus dikalahkan karena sang bayi yang berada di kandungannya menendang begitu keras seakan - akan ingin menunjukkan bahwa dirinya berada diantara mereka berdua.

Dan Chanyeol merasakan bagaimana kebahagiaan dirinya kelak bila menjadi seorang ayah diusianya yang masih terbilang sangat muda, ia bahkan baru genap 20 tahun saat itu namun ia telah merasakan bagaimana rasanya melihat kondisi bayi didalam kandungan seorang wanita dan tengah bergerak - gerak aktif didalam sana.

Kelahiran sang bayi tentu saja dinantikkan, bukan oleh seluruh bagian keluarganya. Hanya Chanyeol dan Yoora yang menantikkan karena kedua orang tua mereka serta adik - adik yang lainnya bahkan tidak ada yang mengetahui keberadaan sang bayi.

"Saat ia lahir.. apa dokter akan menanyakkan siapa nama ayahnya?"

"Mungkin."

"Apa yang harus aku katakan?"

Chanyeol tidak menjawab, ia tidak punya jawaban untuk pertanyaan yang ditanyakkan oleh Yoora padanya.

"Mungkin aku akan mengatakan, ayahnya tengah mengikuti masa militer sehingga tidak bisa menemaniku dalam proses lahiran, bagaimana? Cukup meyakinkan bukan?" senyuman terakhir yang Chanyeol ingat terpampang jelas diwajah kakaknya karena pada jam - jam berikutnya pemandangan dari wajah bahagia Yoora lenyap dengan ringisan kesakitan dan juga tangisan hanya untuk melahirkan seorang bayi yang selama ini dikandung olehnya.

Lagi, Chanyeol merasakan kebahagiaan menjadi seorang Ayah pada waktu yang belum tepat.

Melihat bayi perempuan itu terlahir, mendengar lengkingan tangisannya, dan juga menggendongnya untuk pertama kali. Merasakan bagaimana badan mungil dan rapuh itu menggeliat dalam gendongannya, merasakan sentuhan jari - jari kecil yang bergerak tak beraturan hanya karena mendengar suara Chanyeol memanggil 'baby' disana.

Namun detik - detik bahagia mengharukan itu harus ia tinggalkan, karena ketika ruangan persalinan membunyikan tanda kritis, Chanyeol baru teringat bahwa Yoora masih berada disana dan belum terdengar sapaan dari kakaknya itu.

Dokter dan perawat menarik Chanyeol keluar, sang bayi melengking menangis keras bersamaan dengan iringan bunyi panjang pada sebuah alat pendeteksi disana.

Ia masih belum paham apa yang terjadi, sampai tiba ketika bayinya diambil alih untuk disusui bukan dari Ibunya, dan ketika Dokter mengucapkan dengan lantang bahwa di menit dan detik tersebut, kakaknya tidak terselematkan.

"Kau harus ingat, wanita itu berharga, ketika kau mencintainya.. tapi bila kau hanya menikmatinya, ia sama seperti barang daur ulang. Dinikmati setiap saat tapi tidak ada artinya."

Satu kalimat panjang yang selalu menjadi peringatan keras bagi Chanyeol dan akan ia ingat untuk selama - lamanya. Satu kalimat yang Yoora katakan padanya sebelum wanita itu melahirkan puterinya dan menjemput ajal setelahnya.


Chanyeol's


Rasanya aku sudah tertidur cukup lama hingga rasanya kedua mataku bahkan sulit untuk dibuka hanya untuk memastikan pukul berasa saat ini. Ada rasa nyeri yang aku rasakan di seluruh wajah dan beberapa bagian badanku, dan entah kenapa rasanya tangan kiriku tidak bisa digerakkan karena ada kepala seseorang yang dengan seenaknya menjadikan lenganku sebagai bantalnya.

Sudah pasti Irene.

Aku membatin dengan sangat yakin,

Dengan penuh kesabaran dan juga gerakkan perlahan, nampaklah pemandangan dari sebuah kamar dimana aku berbaring saat ini. Langit - langit kamar yang berwarna putih pudar adalah pemandangan yang aku dapat dengan bentuk lampu yang menghiasi tergantung disana. Jelas itu membuatku mengerutkan alis karena seingatku, langit apartemen dikamarku tidaklah memiliki jenis lampu gantung seperti itu.

Hal lain yang aku lakukan sesudahnya adalah menyingkirkan kepala Irenale yang berada dilenganku, biasanya aku dengan mudah mengangkat tangan dan ia pasti akan terjungkal dan jatuh lalu terbangun, tapi tidak kali ini, kakinya bahkan terlihat berada diatas perutku-dan aku baru menyadari bahwa aku tengah bertelanjang dada.

Selanjutnya, sebuah pemandangan lain yang sama sekali tidak pernah aku bayangkan akan didapatkan pada pagi ini. Tepat sebelum aku menyingkirkan paha ramping putih mulus itu dari atas perutku, pandangan mataku ingin menyakinkan sekali lagi bahwa wanita yang berada disebelahku seharusnya adalah Irene, Park Irene. Irene sepupuku. Tapi nyatanya yang nampak terbaring tidur dengan begitu tenangnya adalah Baekhyun, Byun Baekhyun. Tetanggaku, wanita mungil, seksi, dan sungguh sangat keras kepala tapi demi Tuhan aku menginginkan dirinya.. sial. Okey, cukup, aku harus bangun dan pergi secepat mungkin berada jauh dari dekatnya.

Seharusnya, aku bangkit bangun, mengambil kaos lalu pergi meninggalkan ruangan apartemen Baekhyun dan kembali ke apartemen milikku lalu memikirkan bagaimana bisa aku tidak bersama Irene dan berakhir dalam ranjang yang sama dengan Baekhyun, didalam apartemennya. Seharusnya seperti itu. Namun karena cara kerja otakku kali ini sangat lambat, yang aku lakukan adalah berbaring kembali, memposisikan diriku tidur disamping wajahnya, melihat bagaimana tenang dan damai melihat Baekhyun tertidur pulas disana, mengabaikan bahwa sebelumnya kami berdua bahkan tengah berada dalam perang dingin hanya karena ucapannya yang sangat tidak aku sukai.

Aku bertahan disana cukup lama, menghabiskan menit hingga jam - jam kemudian hanya untuk meliat bagaimana seorang Byun Baekhyun tertidur. Bibir kecil nan tipisnya bergerak - gerak sesekali menggumamkan kalimat entah apa, dia bahkan memiliki kebiasaan yang sama dengan Chelsea, mencari bantal guling sebagai tempat untuk kakinya dan kali ini badanku lagi - lagi menjadi sasarannya.

Jangan salahkan wajahku yang nampak menikmati semua ini karena aku benar - benar berterima kasih dengan apa yang aku lakukan tadi malam-yang tidak aku ingat-namun mendapatkan kesempatan pagi ini yang sangat luar biasa.

Terbangun di ranjang yang sama dengan Baekhyun.

What a morning gift.

Entah saat ini jam tengah menunjukkan pukul berapa namun aku yakin bahwa hari ini adalah hari sabtu atau minggu dan itu berarti tidak ada kewajiban bagi kami berdua untuk berangkat ke kantor, dan itu berarti.. aku bisa menikmati momen ini lebih lama. Tanpa menunggu lama, aku membawa kepala Baekhyun untuk kembali bersandar pada lenganku, menarik badannya agar lebih mendekat dan bahkan mengarahkan kakinya untuk tepat berada diatas perutku dan juga tangannya melingkar diatas dadaku. Kenapa aku melakukannya? Hanya ingin. Dan jangan berkomentar apapun! Tidak mungkin aku mendapatkan pengalaman seperti ini di hari - hari berikutnya.

Singkatnya, kami bertahan dalam posisi seperti itu hingga aku terlelap kembali. Aku rasa aku benar - benar mabuk berat beberapa hari belakangan ini.

Lalu, seperti yang dikatakan oleh orang kebanyakkan, terbangun dari mimpi indah hal yang menyakitkan. Aku mendapatkannya. Entah siapa yang terbangun lebih dulu, namun ketika aku mengusakkan wajahku pada rambut Baekhyun, pukulan pelan namun cukup terasa aku rasakan dan tentu saja itu adalah tangannya.

"YAAAA!" dan juga teriakkannya. "Kenapa aku bisa tidur disampingmu!" ia masih berteriak dan malah semakin membuat kepalaku sakit setelahnya. Dan kalian harus liat bagaimana paniknya seorang Byun Baekhyun seakan - akan tengah menyadari dirinya yang polos itu baru saja tidur dengan pria asing, ia menarik selimut dan menutupi bagian tubuhnya-ia masih berpakaian lengkap untuk diperjelas, seharusnya aku lah yang menarik selimut dan menutupi bagian tubuhku yang sama sekali tidak berpakaian. Ck. Apa -apaan ini.

"Apa yang kau lihat?" Baekhyun menanyakkan padaku karena aku memandanginya, posisiku kini tengah duduk diatas ranjangnya sementara dia berada jauh dihadapanku berdiri disana.

Aku tersenyum padanya. "Kepalaku pusing mendengar kau berteriak dan asal kau tahu, aku bahkan tidak ingat bagaimana kau bisa berada disini dan kau tidur disampingku. tunggu, kita hanya tidur? Tidakkah kita melakukan hal lainnya? Apa kau memperkosaku-
Dia melempar kaos hitam yang aku tahu itu adalah milikku.

"Otakmu kotor Tuan Park." Dia bergumam dan melangkah pergi, meninggalkan selimutnya dan entah berjalan kemana sementara aku tertawa menikmati semuanya.

"Bereskan ranjangku! Dan cuci selimut serta spreinya di apartemenmu! Aku yakin keringat dan bekas minuman yang kau minum sudah bercampur disana!" ia berteriak dari entah ruangan mana, dan aku baru tersadar. Minuman? Tunggu.. Bagaimana aku bisa berada didalam apartemennya?

"Baek?"

"Hm."

"Kenapa aku bisa berada di apartemenmu?" Aku mulai bangun, mengikuti apa yang ia perintahkan sebelumnya, melepaskan kain sprei dan juga selimutnya untuk aku cuci-dan dia benar. Wangi minuman sudah bercampur disana.

Baekhyun menghampiriku lagi dengan sikat gigi yang berada dimulutnya, "Kau mabuk, pingsan dan kau memecahkan botol minuman didepan pintu apartemenku dan aku berbaik hati membawamu masuk kedalam dan tidur di ranjangku." Setelahnya dia melangkah pergi dan masuk kedalam kamar mandinya, melanjutkan menyikat gigi.

Aku mengikutinya, hanya penasaran melihat rutinitas dan sisi Baekhyun yang belum pernah aku temui.

"Apa aku datang seorang diri? Kau tidak melihatku berada dipelukan wanita lain atau mungkin tengah mencumbu wanita sebelum aku terkapar pingsan didepan pintu-mu-" tatapan matanya adalah apa yang tidak mau aku lihat, ia sudah selesai menggosok gigi dan mengikat rambutnya, belum menjawab apa yang aku tanyakkan padanya karena ia lebih dulu berbalik dan mendekat kearahku.

"Kalau kau mau mandi atau membersihkan diri disini, silahkan. Anggap aku tengah berbaik hati mengijinkan pria asing yang tengah mabuk. Jangan menggunakkan handuk dan sabunku!" Dia menunjuk tangannya lalu melangkah keluar dari area kamar mandi dan aku menuruti lagi apa yang ia katakan.

Menggunakkan kamar mandinya untuk membersihkan diri, menggunakkan sabunnya tapi tidak dengan handuknya karena ia sudah menyiapkan handuk dan juga kaos yang bisa aku gunakkan entah itu miliki siapa dan kapan dia meletakkannya didalam kamar mandi?

Aku keluar dari kamar mandi miliknya dengan hawa badannya yang lebih segar dibandingkan sebelumnya dan kini disambut dengan aroma masakan dari arah dapurnya.

"Duduklah." Baekhyun menunjuk salah satu kursi di meja makannya ketika ia tengah menyelesaikan meletakkan satu buah mangkuk berisikan sup dan juga mangkuk nasi. Aku sempat berpikir, apa ini untukku? Dia melakukannya untukku.. ah.. sungguh dia manis sekali bukan-

"Anggap ini ucapan terima kasih dan juga permohonan maaf dariku." -akhirnya dia menjelaskan maksud dari apa yang ia lakukan pagi ini. "Terima kasih karena memberikan uang jaminan untuk membebaskanku dan juga maaf mengenai.. Chelsea." Nadanya semakin menghilang ketika ia mengucapkan nama Chelsea dan sejujurnya aku sudah tidak peduli karena perutku lebih dulu menguasai fokus pikiran karena rasa lapar yang aku miliki.

"Makanlah, baru kau boleh pergi kembali ke apartemenmu yang hanya berjarak sepuluh langkah." Dia berucap datar, tapi jujur. Aku ingin tertawa mendengarnya.

"Aku kira kau tidak menginginkanku untuk kembali ke apartemenku, kita bisa melanjutkan acara tidur pagi dan juga-

"Makan. Tidak baik bicara saat makan Tuan, anakmu bahkan lebih pintar." Baekhyun menunjukku dengan sumpit, ia terlihat seperti guru memerintahkan anak muridnya untuk fokus pada buku pelajaran saat ini.

Aku tidak lagi melontarkan bantahan karena memilih untuk menikmati sarapan ini sebelum Baekhyun berubah pikiran dan mungkin langsung menendangku keluar dari apartemennya, ia juga ikut makan bersamaku hanya saja ia tidak memakan supnya, hanya potongan telur dadar dan juga irisan daging.

"Kau tidak memakan nasi?" aku mencoba mencari bahan pembicaraan dengannya.

Dia menggeleng, mulutnya sibuk mengunyah namun tangannya tak berhenti bermain dengan ponselnya.

"Diet?" aku bertanya lagi.

Dia masih menggeleng. "Aku tidak terbiasa makan nasi ketika sarapan." Setidaknya kali ini dia menjawab pertanyaanku, tapi tangannya masih bermain dengan ponselnya dan bahkan ia tertawa meihat sesuatu disana.

"Hm." Aku tidak lagi memiliki pertanyaan untuknya, ditambah dirinya lebih memilih memandangi ponsel ditangannya dibandingkan memandangi wajah tampanku ini.

Kami kembali ditemani dengan keheningan, aku memikirkan bagaimana caranya bersikap normal menghabiskan sarapan yang disiapkan oleh Baekhyun dan juga bersikap biasa saja melihat wanita itu lebih bahagia bersama ponselnya dibandingkan denganku. Awalnya seperti itu, hingga kemudian Baekhyun menanyakkan dimana ponselku karena Chelsea mencoba menelepon tapi tidak bisa tersambung.

"Mungkin aku tinggalkan didalam mobil.." aku masih menjawab dengan nada santai sambil mencari di kantung celana yang aku kenakkan tanpa menyadari bahwa sedari tadi Baekhyun dan Chelsea tengah saling berbalas pesan. "Tunggu, kenapa Chelsea bisa menanyakkannya padamu?" Dan disitulah aku baru menaruh rasa curiga padanya.

"Kyungsoo memberi tahu pada anakmu kalau kau berada di apartemenku, aku mengirimkan kabar padanya." Baekhyun menjawab santai, matanya berkedip teratur sambil menyuapkan potongan telur dadar di mulutnya.

"Kau sedari tadi berbalas pesan dengan anakku?" Dia mengangguk.

Dan aku tertawa dalam hati, karena sejujurnya aku sempat mengira ia tengah berbalas pesan dengan pria lain atau entah siapa dan tidak terpikir itu adalah Chelsea.

"Kau mau menelepon Chelsea? Dia mengatakan akan pergi tidur namun mau mendengar suaramu lebih dulu?" Baekhyun memberikan ponselnya padaku dan terlihat berapa banyak chat yang sudah ia kirimkan sedari tadi dengan Chelsea, anakku itu bahkan mengirimkan selfie dirinya ketika berbaring di ranjang dengan boneka - boneka miliknya. Aku yang merasa gemas melihatnya kemudian menekan tombol pilihan video call disana dan menunggu Chelsea mengangkatnya.

"Daddddyyyy!" ia berteriak disana, ketika mendapati wajahku terpampang jelas. "Daddy! Chelsea rindu!" bibirnya kini mengerucut kedepan mengharapkan sebuah ciuman seperti biasa.

"Hai Princess, daddy juga rindu dirimu sayang. Kapan kau mau pulang hm?" Aku menanyakkan padanya, memperlihatkan diriku yang tengah berada diruang makan Baekhyun dan juga menyorot Baekhyun yang duduk dibelakangku tengah melambaikan tangannya pada Chelsea.

"Daddy menginap di tempat Baekhyunnie? Chelsea juga maauu!"

"Hm, Daddy menginap di tempat Baekyunnie.. Ey, kalau dirimu ikut tidak akan muat sayang.."

"Muat! Daddy harus membawa Baekhyunnie ke rumah pantai.. Baekhyunnie, ayo kita ke rumah pantai.. Daddy punya kamar yang luas disana. Kita bisa tidur bersama disana! ya kan Dad?"

Aku pernah mengatakan Chelsea anak pintar bukan? Dan memang ia pintar, mengerti bahwa Daddy-nya ini butuh kesempatan membawa Baekhyun untuk pergi berkencan, mungkin.

"Kita akan pergi kesana, ketika kau kembali pulang, okey?" Aku memberikan harapan, sementara Baekhyun memukul lenganku entah maksudnya apa.

"Yeay! Apa Chelsea bisa pulang besok? Daddy bisa mengirimkan pesawat Daddy untuk menjemput Chelsea.. yayayyayyayayyaya... ya Daddy ya.." Chelsea merengek memohon, dan itu membuat aku dan Baekhyun yang melihat tertawa karena ia begitu menggemaskan.

"Sekarang tidur, Daddy akan menanyakkan pada Irene untuk kepulanganmu."

"Oh. Okey. Chelsea tidur. Bye Daddy.. bye Baekhyunnie.. muach!" Chelsea melambaikan tangan dan juga memberikan flying kiss mungkin untukku, mungkin juga untuk Baekhyun. Tidak tahu pasti, tapi setidaknya apa yang ia lakukan jelas membuat kami berdua disani mengembangkan senyum dalam artian yang sama.

"Dia sungguh menggemaskan." Baekhyun berucap, menerima kembali ponsel miliknya yang baru saja aku kembalikan di tangannya.

"She is."

Aku menjawab dengan kikuk karena kini tidak ada lagi kesempatan untuk menghabiskan waktu lebih lama di tempatnya , sarapan yang ia sajikan sudah aku habiskan dan juga kesempatan untuk berbicara dengan Chelsea sudah selesai karena anak itu akan tidur di waktu malamnya.

"Terima kasih." Aku berucap lagi, "Untuk tempat tidur, kamar mandi dan juga sarapanmu ini." aku menyebutkan semuanya dan juga tak lupa membawa sprei dan selimutnya yang harus aku cuci

"Sama - sama." Baekhyun membalas dengan anggukan kepalanya.

Aku melangkah menuju pintu ruangannya, dia mengikuti.. membukakan pintu untukku.

"Kau yakin jarak antara apartemenmu dan apartemenku hanya sepuluh langkah?" Aku menanyakkan padanya, kami berdua tengah berdiri berdampingan tepat di ujung daun pintunya, sama - sama menatap kearah pintu apartemenku yang tertutup rapat.

"Mungkin, kalau langkah kakimu mungkin hanya 4 atau 5 langkah." Baekhyun menimbang - nimbang nampak ikut berpikir serius sementara aku berusaha menahan tawa melihat dirinya.

"Baiklah, akan kucoba." Aku menawarkan diri. "Bila dengan langkah kakiku.." aku bergerak, mengambil langkah yang cukup lebar satu langkah pelan dan kemudian disusul dengan langkah lainnya. Terhitung hanya empat langkah dan aku sudah berada di ujung pintu, aku berbalik melihat kearahnya dimana ia masih begitu serius memperhatikan.

"Kakimu terlalu panjang!" dia menggerutu. Dan entah kenapa kini ia mengikuti, mengambil langkah pelan dan pendek, Baekhyun bahkan menghitung setiap langkah yang ia ambil dan tiba tepat dihadapanku pada hitungan langkahnya yang kelima. Aku memeluk pinggangnya dengan cepat sebelum ia berbalik dan mundur menjauh. Dan suasana diantara kami kembali kikuk, aku bisa merasakan Baekhyun bahkan mulai gugup berada dengan jarak begitu dekat denganku.

"Li-lima langkah dengan kakiku." ia menjelaskan.

Aku mengangguk dan menatap kedua matanya begitu dalam. "Kau mengatakan sepuluh sebelumnya.."

"Per-perhitungan-ku salah.." suaranya lebih terdengar seakan - akan berbisik.

Tanganku masih mencengkram pinggangnya, sungguh ini terasa sangat sesuai dalam genggaman tanganku sama seperti yang aku pernah pikirkan sebelumnya.

"Mungkin.." aku menjawab.. mendekatkan tubuhnya lebih dekat kearahku dan sedikit menunduk mendekatkan wajahnya-atau lebih tepatnya mendekatkan bibirnya dengan bibirku, seharusnya ia menolak, atau mungkin menampar wajahku, tapi ia tidak melakukannya dan aku sangat berterima kasih untuk itu. Ia mengijinkan aku untuk menciumnya bukan? Ia tahu aku akan menciumnya, karena itu ia gugup, tapi ia tidak menolak sampai pada akhirnya bibir kami saling bersentuhan dengan begitu lembut.

Aku rasa ini seperti ciuman pertama kami berdua, atau mungkin ciuman pertama untukku-aku tidak ingat. Matanya masih berkedip cepat, sedikit membelak lebar namun ia tidak menolak, tidak ada gerakkan dari tubuhnya yang menuntut penolakan.

"Ini sebagai ganti uang jaminanmu." Aku berbisik masih dekat dengan bibirnya yang mulai sedikit terbuka, dan kemudian ciuman kedua aku lakukan kembali, kali ini lebih dalam dengan durasi lebih lama dibandingkan sebelumnya.

Kembali, tidak ada penolakan. Matanya kini mulai terpejam menikmati sentuhan bibirku yang sedikit demi sedikit mulai bermain untuk menyesap rasa bibirnya yang manis. Tanganku bahkan mulai bergerak naik menuju tengkuk lehernya, sementara yang lain masih berada dibelakang pinggangnya.

"Ini untuk permintaan maafmu.." lagi aku mengucapkan alasan dari ciuman yang sebenarnya bukan alasan sejujurnya.

Posisi kami masih bertahan disana, masih dengan bibir yang bersentuhan dengan tanganku yang masih berada di leher dan juga pinggangnya sementara kini tangan Baekhyun mulai bergerak meremas bagian kaos didadaku, nafasnya jelas terdengar memburu entah karena memang dia ingin melanjutkan ciuman kami atau ia ingin mencoba melepaskan diri dari kukungan tanganku. aku tidak mengerti karena apa yang aku lihat hanyalah wajahnya yang berada dekat denanku saat ini.

Hingga pada akhirnya, tangan kecilnya menarik bagian kaos diikuti dengan dirinya yang berjinjit hanya untuk bisa mencium bibirku lebih dulu, ia tidak mengatakan alasannya untuk apa seperti yang aku katakan padanya sebelum dua ciuman yang aku lakukan, tapi kali ini jelas lebih terasa begitu nyata, bibir kami saling bergerak satu sama lain, menyesapi setiap bagian dan bahkan ia membiarkan lidahku membasahi keseluruhannya, dan kalian ingin tahu apa yang membuat ciuman ini terasa manis?

Baekhyun yang memulai, ia menciumku lebih dulu, tanpa sebuah alasan yang dibuat - buat. Apa lagi uang lebih indah dibandingkan dengan dua orang yang saling melumat bibir. Penuh gairah.
.

.

To be continued...