Baekhyun's


Kami berciuman.

Tuhan ampuni aku.

Kami.

Berciuman.

Aku dan Chanyeol.

Berciuman.

Sial.

Aku mencium seorang ayah yang telah mempunyai anak-tidak-tidak-dia hanya seseorang pria single yang memiliki anak. Dan aku tidak melakukan dosa besar bukan?

Aku tidak bisa menjelaskan bagaimana otakku saat ini bisa memerintahkan seluruh bagian tubuhku untuk mencium pria ini-Chanyeol. Hanya karena dua ciuman yang ia lakukan padaku sebelumnya, dan kini aku menginginkan lebih, bibirku menginginkan bibirnya untuk melumat lebih kasar dan panas, tubuhku menginginkan sentuhan dari tangan atau bahkan bibir dan lidahnya. Ini gila-whatever-aku menginginkannya.

Bibirku bergerak lebih dalam menjelajahi bibir dan mulutnya dan Chanyeol adalah pria yang mengerti dengan sangat baik apa yang aku maksudkan, ia bahkan terlihat membiarkan aku menjelajahi bagian mulutnya, membiarkan lidah kami saling beradu didalam hingga bahkan mungkin aku hampir melesak masuk kedalam tenggorokannya. Sementara tubuhku telah luluh dalam dekapannya, merasakan pergerakan tangannya yang membelai punggungku menuju leherku-aku melupakan bagaimana bisa aku kini berada didalam gendongannya. Oh? Kemana ia akan membawaku?

Sempat aku membuka mata hanya untuk melihat bagaimana bisa aku dan ia bergerak, ia melangkah masuk kedalam apartemenku, ku rasa. Tapi meskipun begitu, aku masih tetap mencium bibirnya, tak peduli kemana ia membawaku, rasa ciuman ini lebih memabukkan.

Ketika Chanyeol berhenti melangkah, ia masih membawaku dalam gendongannya, layaknya seorang koala, aku adalah koala yang berada dalam gendongannya ibu atau ayahnya. Kakiku melingkar sempurna dipinggangnya, tanganku masih berada di tekuk leher dan juga meremas rambutnya dikarenakan efek ciuman kami yang semakin memanas. Chanyeol menurunkan kakiku, dan juga badanku, hingga ia ikut menunduk karena aku belum juga menghentikkan ciuman kami, tangannya mengusap bagian pinggangku dan kini berpindah melesak masuk membelai perut menuju dua payudaraku yang tak dilindungi pakaian dalam.

Eluhan yang aku desahkan adalah hasil dari rasa geli dan nikmat yang Chanyeol berikan, karena bukan hanya membelai salah satu payudara dibalik kaos yang aku gunakkan, ia bahkan meremas dan juga memainkan putting yang tengah menegang disana. Dasar Pria!

Aku tidak tinggal diam membiarkan Chanyeol mengusai tubuhku tanpa ada perlawan untuknya, tanganku kini tak lagi berada di tekuk leher ataupun rambutnya, bagian pinggang belakangnya adalah apa yang tangan kiriku hampiri sedangkan tangan kananku bergerak melesak masuk dibalik kaosnya dan membelai otot - otot yang terbentuk di bagian perutnya. membelai, meremas dan bergerak naik, untuk mengisyaratkan dirinya agar membuka kaos yang ia pakai saat ini.

"Tidak sabaran." Chanyeol berbisik didepan bibirku yang membengkak yang baru saja ia lepaskan dari ciuman bibirnya. Ia mengerti apa yang aku mau dan membuka kaosnya dengan cepat dan kemudian kembali mencium bibirku sesaat dan berpindah mencumbui leher dan juga bagian dadaku.

"Ngh.. Chanyeol.." itu adalah lenguhan yang jelas aku ucapkan saat Chanyeol menggigit bagian leherku dan kemudian menciuminya lagi. Chanyeol menarik diri, memperhatikanku yang tengah terbuai akan sentuhannya dan mungkin terlihat berantakan saat ini.

"Oh gosh Baekhyun, kau membuatku gila!" dia berucap cepat dan kemudian mencium bibirku lagi bersamaan dengan tangannya yang memeluk tubuhku dan membantingnya diatas ranjang tidurku. Dan aku yakin seharusnya kami bisa melakukan hal yang melebihi batas selain ciuman, mencumbu atau apapun namanya. Seharusnya kami bercinta, dengan sangat panas atau gila hingga aku berteriak menyebut namanya dengan sangat intim, seharusnya. Tapi tidak. Pria ini meninggalkan di tengah - tengah kegiatan panas yang kami sudah mulai.

Kalian tidak percaya? Baiklah, aku ceritakan lebih jelasnya.

Setelah ia membantingku, membuat badan kami saling menindih diatas ranjang, aku menarik badannnya dan juga badanku untuk berada di ujung ranjang, sementara tanganku juga ikut bergerak cepat untuk membuka celana training yang aku kenakkan-lihatlah betapa agresifnya diriku dibawah kukungan badannya. Chanyeol bahkan tidak melarangku untuk itu, ia bahkan yang menarik celana dalamku dan melemparnya entah kemana. Seharusnya sudah jelas bukan ia mengingkan hal yang sama dengan apa yang aku inginkan.

Chanyeol benar - benar membuatku terbuai, ciuman yang ia lakukan diseluruh bagian tubuhku bahkan terasa panas dan bagaikan candu karena aku menginginkannya terus menerus. Kami sempat saling bertukar tatap ketika ia meletakkan tanganku terkunci diatas kepala dengan salah satu tangannya yang menahan. Tatapannya terkunci menatap dalam dua manik mataku, tidak ada satu katapun yang ia ucapkan, dan setelahnya kami kembali saling melumat bibir lebih dan pada akhirnya ia bergerak turun mencumbu leher, dua payudaraku satu per satu mendapatkan ciumannya, pusar dan bagian perutku bahkan tidak ia abaikan dan aku tahu kemana tujuan akhir dari perjalanan panjang ciuman ini

Chanyeol membuka pahaku dengan pelan seakan - akan ia meminta ijin dariku lebih dulu, tentu saja aku mengijinkan. Dia itu terlalu lama menunggu.

Ia mencium pahaku, dimulai dari sebelah kanan dan kiri lalu setelahnya ia kini sudah berada tepat dihadapan lipatan dari vaginaku yang terlihat bersih dari bulu - bulu lebat yang menutupi.

Untung saja aku mengingat untuk mencukur bagian itu.

Jantungku bergerak tak beraturan menantikan sapuan lidahnya dibawah sana, dan Chanyeol masih terdiam, matanya menatapku dengan begitu dalam dan dengan perlahan - lahan ia bergerak mendekat, menciumnya dengan lembut, ia bahkan tidak mengalihkan pandangannya dariku ketika melakukannya, sementara diriku sudah terbuai karena sentuhannya, tidak memperdulikan apapun lagi ketika ia menjilati dan melesakkan lidahnya pada lubang intimku.

Teriakanku terdengar melengking memenuhi seluruh ruangan apartemen dan aku rasa itu semua karena apa yang Chanyeol lakukan padaku, dia benar - benar ahli memporak porandakan memberikan kenikmatan pada wanita hanya dengan mulutnya. Aku bahkan terbaring lemas dan tak berdaya karena untuk kedua kalinya ia membuatku klimaks hanya dengan lidah dan mulutnya. Dan ketika Chanyeol menyudahi dan ingin menciumi bagian pahaku, tanganku dengan cepat menarik badannya untuk berada dihadapanku dan kami kembali saling melumat bibir saling merasakan cairan yang aku keluarkan, ini menjijikkan-seharusnya-tapi entah kenapa terasa begitu panas dan nikmatnya ketika Chanyeol yang melakukannya.

"Giliranku.." aku berbisik menggodanya, tanganku bahkan mulai membelai perutnya untuk menuju miliknya yang aku rasa tengah tak sabar untuk dinikmati.

Chanyeol tidak melayangkan protest untuk apa yang akan aku lakukan, ketika aku membawa badannya untuk berada dibawah dan dalam kukungan badanku, ia masih menurut. Ia bahkan mendesahkan namaku ketika tanganku mulai meraba bagian luar celana jeans yang ia kenakkan karena miliknya sungguh sangat terasa mengeras dibaliknya.

Ia belum melontarkan penolakan ketika aku membuka kancing dan resleting celananya dan juga menarik lepas dari kaki panjangnya. Ia tahu apa yang akan aku lakukan, matanya memperhatikanku begitu rinci, mungkin ia merasa ragu apa aku bisa memuaskan miliknya sama seperti ia memuaskanku atau-

"Wow." Gumamam pelan itu adalah suaraku ketika mendapati milik Chanyeol yang tengah terbebas dari celana dalam yang ia kenakkan, miliknya sudah menegang sempurna dan nampak kokoh berdiri sempurna. Tanpa berpikir panjang, kedua tanganku menggenggam miliknya dan memainkannya seperti milik pria - pria lain yang pernah bercinta denganku. Adil bukan?

Tapi milik Chanyeol lebih baik dari segi bentuk dan juga kebersihannya, tidak ada rambut- rambut halus disekitarnya, dan untuk ukuran.. miliknya cukup besar dan panjang dibandingkan ukuran normal pria Asia lainnya. Ketika mulutku mulai mengecup pucuk kepala penisnya, Chanyeol menggeram dengan cepat dan ia mendesah dalam geramannya ketika setengah miliknya berada didalam mulutku.

Sebetulnya memberikan blow job sangat menjijikkan, namun pria menginginkan hal itu dan juga kita sebagai wanita seakan - akan dituntut untuk mampu melakukannya sebagai balasan dari apa yang mereka lakukan terhadap vaginamu.

Hal yang perlu diukur oleh para pria dalam melakukan blow job adalah bagaimana tanganmu mampu memompa dan memanjakkan milik mereka hingga semakin mengeras dan membuat mereka merasakan seperti tengah berada didalam vagina. Dan ketika penis pria berada didalam mulutmu, cukup hisap dan mainkan layaknya penis itu adalah sebauh es krim atau mungkin permen lollipop, karena mereka tidak memerlukan hal lainnya lagi selain kedua hal terpenting itu.

Dan terbukti, aku mampu membuat Chanyeol terbuai dan memberikan kenikmatan untuknya. Ia bahkan sudah berulang kali memanggil namaku dan menggeliat ketika tanganku dan mulutku bergantian menyesapi penisnya, dan ketika Chanyeol akan mencapai klimaks, ia menjauhkan badanku dengan cepat dan berlari menuju kamar mandiku.

Aku duduk terbengong dan bahkan hampir meledakkan suara tawa melihat dirinya seperti itu.

"Chan-yeol?" aku memanggil.

"Se-sebentar." Dia berteriak dari arah kamar mandi dan diakhiri dengan erangan rendah suaranya.

"Kau mengeluarkan-nya dikamar mandi?!" aku menanyakkan padanya.

"Menurutmu?" dia membalas lagi dan itu membuatku merasakan hal lucu. Biasanya para pria akan membiarkanku menelan habis cairan mereka, atau terkadang mereka mengeluarkannya pada bagian perutku atau mungkin badanku yang lainnya. "Jangan bilang kau memang sudah terbiasa menelan-nya?!" Chanyeol melanjutkan ucapannya.

"Tidak juga.. hanya saja kau adalah pria pertama yang menghempaskan badanku dan kemudian berlari cepat kekamar mandi hanya untuk melanjutkan proses keluarnya cairan itu dari penismu.." Aku menjelaskan tanpa henti dan Chanyeol kini telah berjalan kembali masuk kedalam kamarku dengan handuk yang melilit pinggangnya.

"Jangan pernah menelan sperma milik pria." Ia menghampiriku dan menunduk untuk memberikan ciuman singkat pada bibirku. "Dan mulai saat ini jangan harap kau bisa didekati pria manapun atau tidur dengan pria lainnya selain diriku." Kalimat terakhir ia ucapkan dengan nada mutlak dan terdengar tidak ada celah untuk menolaknya.

Aku menatapnya, menggelantungkan tanganku pada lehernya, mendekatkan wajahnya pada wajahku untuk bisa berbagi ciuman kembali. "Mungkin ya mungkin tidak.." aku sengaja menggodanya dan ia jelas menganggap itu semua adalah hal serius.

"Jangan pernah lakukan hal liar macam itu lagi Byun Baekhyun!" Chanyeol mengingatkan, suaranya bahkan terdengar marah.

Aku tersenyum kecil, kembali mencuri ciuman dari bibirnya. "Mungkin saja.. kalau kau tidak mau bercinta denganku.." aku menarik lepas lilitan handuknya, bergerak maju lebih mendekat padanya memancing dirinya untuk kembali melanjutkan kegiatan panas kami sebelumnya. Chanyeol terdiam menunggu, memperhatikanku yang menciumi bagian dada dan juga lehernya. Tangannya membawa wajahku mendekat dengan wajahnya dan ia melumat bibirku dengan sangat pelan, seakan - akan menginginkan merasakan ciuman kami berdua lebih lama dibandingkan sebelumnya,

"Aku akan bercinta denganmu.." Chanyeol berucap di sela - sela pergerakan ciuman kami. "..gosh aku bahkan menginginkannya sejak pertama kali melihatmu.." ia terus berucap dan menciumku kembali setelahnya.

"Ayo bercinta denganku... please.." aku membalasnya, ucapannya, menarik badannya hingga kami kembali berbaring diatas ranjang dan ia berada diatasku. Posisi kami bahkan sudah terlihat siap untuk melanjutkannya, Chanyeol hanya perlu mempersiapkan miliknya untuk masuk kedalamku tapi sayangnya itu tidak terjadi. Ia tidak melakukannya.

"Makan malam denganku."

Itu adalah kalimat yang ia katakan setelah menciumku, ia mengatakannya dengan badannya diatasku, kedua tangannya berada disisi kanan dan kiri kepalaku sementara tanganku bahkan menginginkan dirinya untuk bersiap menyetubuhiku.

Pria ini... sungguh menyebalkan.


LOVELESS

.

Chapter 8

.

Chanyeol-Chelsea-Baekhyun

OC

Drama-Family-Romance

GS

.

.

You want a Love that consumes you, You want passion and adventure,

And even a little danger.

-LJ Smith

.

.

.


"Kau menyebalkan!" Baekhyun mendorong badan Chanyeol hingga badan pria itu terbanting ke sisi ranjang disebelah badannya, setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Chanyeol, Baekhyun membalasnya dengan memukul dan mendorong dan kini wanita itu beranjak bangun,menarik handuk yang sebelumnya sempat dipakai oleh Chanyeol. "Kita sudah telanjang dan bahkan aku sudah memberikan blow job padamu dan kini kau meminta makan malam denganku?!" mulutnya masih melayangkan protes. Melemparkan pakaian dan celana miliki Chanyeol kearah pria itu sementara dirinya bergerak mencari pakaian miliknya juga yang berserakan di lantai.

"Ya! Aku hanya mengajakmu makan malam-

"Aku memintamu bercinta denganku Park Chanyeol! bukan 'makan malam'!" Baekhyun berteriak dari arah kamar mandi dimana dirinya berada saat ini.

Chanyeol menggelengkan kepala dengan sebuah senyuman kecil terbentuk diwajahnya, ia mengenakakkan kembali celananya dan menyusul Baekhyun yang berada di kamar mandi, sedikit mengintip melihat Baekhyun yang tengah membasahi tubuhnya.

"Jangan coba - coba masuk dan bergabung denganku disini kalau kau tidak berencana bercinta denganku disini!" lagi, sebuah protest diucapkan oleh wanita itu.

Chanyeol kembali tersenyum, bersandar pada daun pintu yang terbuka. "Aku yakin kita akan semakin panas bila melakukannya."

Baekhyun hanya sempat melirik kearahnya sesaat dengan wajah sinis tidak menyetujui apa yang dikatakan oleh pria itu. Bahkan ketika ia telah usah membasuh badan dan berpindah menuju cermin besar disana, ia tidak menyahut apa yang Chanyeol katakan padanya. Fokusnya terpusat pada dirinya untuk berdandan dan juga mengeringkan rambutnya.

"Aku lebih menyukaimu ketika kau tersenyum." Chanyeol berucap lagi, memancinng perhatian Baekhyun untuk tertuju padanya tapi wanita itu hanya menggeleng dan menambah suara diruangan kamar mandinya dengan hair dryer yang menyaring kencang. Chanyeol tidak tinggal diam dan masih berdiri disana, ia melangkah mendekat dan berdiri tepat di belakang Baekhyun, memperhatikan wanita itu dari pantulan cermin, menunggu hingga alat pengering itu selesai melakukan tugasnya.

"Kau membuatku seakan - akan memohon untuk diperkosa olehmu.." Baekhyun akhirnya berucap.

Chanyeol mengangguk. "Bukankah memang seperti itu?" tangannya memegang kedua bahu Baekhyun dan ia mengecup bahu kanan dan juga leher Baekhyun setelahnya. "Aku ingin bercinta denganmu, tidak perlu kau tanyakkan lagi, dan bahkan siapapun pasti tidak menolak bila kau memintanya-

"Dan kau adalah pria pertama yang menolakku!" Baekhyun menyahut ketus.

Chanyeol menghela nafas mendengarnya, ia merapatkan badannya pada Baekhyun, kedua tubuh telanjang mereka kembali bersentuhan. "Aku tidak menolakmu.." Chanyeol mencium leher Baekhyun, tangannya mengusap perut Baekhyun yang sudah terbebas dari lilitan handuknya. "Hanya saja.. aku tidak mau ini hanya untuk satu kali bercinta denganmu.." tangannya yang lain membelai lengan dan tangan Baekhyun hingga wanita itu terbuai, menyandarkan kepalanya pada dada Chanyeol, memudahkan pria itu untuk lebih mencumbu bagian leher dan juga bahu miliknya.

"Aku tidak bercinta tanpa sebuah kepastian Baekhyun." singkat katanya tegas dan sirat akan maksud yang Chanyeol ingin sampaikan, "Aku tidak bercinta tanpa sebuah perasaan dan kau harus merasakan hal yang sama denganku bila menginginkannya."

Baekhyun jelas paham apa yang dimaksudkan oleh Chanyeol dalam kalimat yang baru saja ia dengar, itulah yang menyebabkan dirinya tersadar dan kembali pada posisi sigap seperti sebelumnya. Mereka berdua kembali beradu pandang melalui cermin disana, "Makan malam denganku, miliki hubungan denganku, dan kita akan bercinta sebanyak yang kau inginkan.." Chanyeol memberikan senyuman yang ia paksakan sebelum mencium pipi Baekhyun dan berlalu pergi melangkah keluar dari kamar mandi, sementara Baekhyun masih berdiri memandangi pantulan cermin dihadapannya. Memikirkan apa yang Chanyeol ucapkan dan menanyakkan pada dirinya sendiri, bisakah ia memiliki perasaan yang sama dengan apa yang Chanyeol inginkan?


Chanyeol's


Seharusnya aku mengatakan iya.

Ajakan yang Baekhyun inginkan seharusnya tidaklah aku tolak dengan mudah bukan? Hanya pria gila dan tidak normal yang menolak ajakan bercinta dalam keadaan dua orang yang saling bertelanjang dan bahkan sudah mencumbu satu sama lain. Dan aku adalah pria itu. Menolak ajakan bercinta dari seorang wanita yang sudah memberikan blow job dan bahkan mengundang hasrat dalam sekejap.

Salahkan lah ucapan Yoora yang selalu terngiang dalam otakku setiap kali aku melihat Baekhyun,

"Kau harus ingat, wanita itu berharga, ketika kau mencintainya.. tapi bila kau hanya menikmatinya, ia sama seperti barang daur ulang. Dinikmati setiap saat tapi tidak ada artinya."

Dan dari kalimat itu, Baekhyun bukanlah tidak ada artinya bukan? Dia sangat berarti dan akan menjadi bagian dari hidupku. Aku tidak menginginkan dirinya hanya untuk sementara waktu dan ketika aku tengah bosan terhadap dirinya bisa aku tinggalkan dia dengan mudah, No! Baekhyun sangat berarti dan aku menginginkan dia bersamaku selamanya.

Aku duduk pada ranjangnya, menunggu ia selesai berdandan dan juga berpakaian setelah menyelesaikan acara mandinya yang dipenuhi dengan perasaan kesal, tidak ada lagi tubuh bertelanjang diantara kami karena kini bagian tubuhku sudah kembali ditutupi oleh kaus. Dan Baekhyun kini sudah kembali memakai setelan rumahannya, kaos dan celana pendek.

"Apa yang kau katakan.." Baekhyun berjalan, memposisikan dirinya berada di ujung ranjang dan menghadap kearahku. "Aku.." ia menahan dirinya untuk melanjutkan kalimatnya. "Aku.. tidak pernah berada didalam sebuah hubungan-bila itu yang kau harapkan-" ia menjelaskan dengan cepat. "-aku tidak pernah berada didalam sebuah hubungan serius, in a real relationship." Dia menekankan kalimat akhirnya. "Dan kalau kau mengharapkan seperti itu.. itu berarti.." ia terlihat memikirkan kalimat yang tepat untuk menjelaskannya padaku, dan hanya melihatnya yang tengah gugup dan gelisah itu pun aku tahu apa yang akan ia katakan.

"Aku tidak memintamu untuk saat ini langsung memiliki real relationship denganku Baekhyun." Penjelasanku terucap tanpa menunggu ia yang mengatakan secara langsung. "Dan aku tahu.. kau tidak menginginkannya dan aku paham kalau kau tidak pernah memiliki sebuah hubungan yang serius.."

Baekhyun mengigit bibir bawahnya, "Chanyeol.." ia menyebutkan namaku dalam dengan suara lirihnya ketika aku sudah berada didekatnya menarik pinggangnya untuk bisa aku peluk.

"Aku tidak memaksa.. tapi pikirkan.. dan ketahuilah.. aku menginginkanmu lebih dari yang kau pikirkan, dan semua ini bukanlah untuk hal sementara. Aku menginginkanmu untuk hubungan jangka panjang."

Ia merengut mendengar apa yang aku katakan, tangannya menarik - narik kaos yang aku kenakkan sementara kepalanya bersandar didadaku.

"Khusus hari ini.. makan malam denganku.." Aku kembali mengingatkan ajakan yang aku sebutkan sebelumnya. "Makan malam biasa layaknya dua orang normal yang tengah mencoba mendekatkan diri-mungkin kita akan bercumbu lagi-" aku sengaja menyebutkan tujuan lain dari rencana yang aku sebutkan dan tawa Baekhyun kembali terdengar. "-tapi tidak sampai tahap touchdown hanya second base mungkin." Baekhyun memukul pinggangku.

"Jadi.. apa jawabanmu Nona Byun?" aku menuntut jawaban darinya.

Ia mendongakkan kepalanya untuk melihatku, keningnya aku cium sebelum Ia memberikan jawaban atas ajakanku.

"Aku tidak bisa menolak ajakan dari seorang Pria... Daddy.." ia berbisik dengan suara tawa kecilnya yang menggemaskan. Kami kembali berciuman, lembut, dalam dan terasa begitu menggairahkan hingga aku merasa badan Baekhyun terangkat karena aku menariknya naik.

"Malam ini, jam 8, aku jemput di depan pintu apartemenmu yang berjarak hanya lima langkah dari pintu apartemenku." Ia kembali tertawa, mengecup bibirku dua kali dan kakinya bergerak - gerak meminta untuk diturunkan.

"Jangan terlambat." Ia mengingatkan, "Aku tidak suka pria yang terlambat."

"Noted, Daddy tidak akan terlambat menjemputmu manis." Aku mengulang panggilan yang ia berikan padaku sebelumnya dan kami terkekeh bersamaan.

Ia mengantarkan aku kembali menuju pintu dan bahkan menunggu hingga aku benar - benar masuk kedalam ruangan apartemenku. Sungguh mengelikan sesungguhnya melihat tingkah kami berdua, tapi ini lebih baik dibandingkan sebelum - sebelumnya, ia bahkan selalu berucap ketus padaku dan kini mendengar ia tertawa dan bahkan berani menciumku lebih dulu.. bukankah itu sebuah kemajuan yang luar biasa. Dan semoga ini bisa berkembang lebih baik menuju sebuah hubungan yang serius.

"Jadi.. apa kalian sudah bercinta?"

Pertanyaan itu dilontarkan Irene ketika aku sudah melangkah masuk, ia duduk di sofa dengan seamngkuk cereal milik Chelsea dimana ia nikmati seorang diri.

"Sejak kapan kau disini?" Aku melemparkan pertanyaan padanya, menyusul dimana Irene duduk.

Dia masih menyodorkan mangkuk itu bermaksud membaginya denganku, "Sejak wanita itu menciummu, dan kau membalasnya lalu kalian melangkah terburu - buru untuk masuk kedalam apartemennya.. dan hanya Tuhan yang tahu apa yang kalian lakukan didalam sana-tunggu aku tidak mendengar teriakan desahan, apa permainanmu kurang panas-aw." Irene melenguh sakit karena aku mendorong kepalanya hingga beradu dengan mangkuk yang ia pegang.

"Itu urusan pria!"

"Ck!" Irene mendecak. "Jadi.. dia cemburu setelah melihat kita berciuman? Berarti berhasil bukan? Jadi.. apa hubungan kalian saat ini?"

Aku terdiam dan memperhatikan dirinya yang masih menikmati cereal yang tersisa.

"Kenapa wajahmu begitu? Apa tadi itu hanya hubungan sesaat?" dia menuntu jawaban lagi.

Aku menggeleng, "Kita belum melakukannya."-Ppptthhh-Irene tersedak dan bahkan memuncratkan kunyahan cereal didalam mulutnya mengotori tangan dan kaos yang ia pakai. "Kau harus membersihkan itu semua." Aku menunjuk bagian - bagian yang ia kotori.

"Tunggu-iya Daddy-" Irene menjawab, menirukan suara Chelsea. "Lalu.. kalian melakukan apa? Hanya cium - cium dan mengotori tangan-aw." Lagi, ia mengaduh karena aku memukul kepalanya.

"Itu urusan pria Park Irene." Aku menjawab singkat dan melangkah masuk kedalam kamar berniat untuk mandi dan mungkin melanjutkan tidurku yang masih terasa kurang. "Kirim pesawat untuk Chelsea, dia sudah meminta untuk pulang." Aku memerintahkan padanya.

"Chelsea? Tumben sekali.."

"Hm."

"Dan kau harus menjemputnya, oh.. siapkan rumah pantai setelahnya, kami akan kesana setelah Chelsea pulang."

Irene bertepuk tangan semangat, ia mungkin sudah memikirkan kami akan ke rumah pantai bersama dengannya, "Kau tidak ikut serta untuk tahun ini." Aku langsung mengingatkan dan dia menyentak kakinya.

"Ya! Aku sudah lama tidak ke rumah pantai!"

"Nope, kau tidak ikut."

"Yaaaa! Park Chanyeol! Aku belum mendapatkan cuti!"

Aku menggeleng.

"Yaaaaa!"

"Jemput Chelsea, siapkan rumah pantai-bersihkan hasil perbuatanmu itu." Aku menunjuk lagi tempat dimana ia memuncratkan makanannya. "Dan.. menurutmu, dimana restoran untuk makan malam yang romantis disini?"

"Huh?"


Loveless


Setelah perdebatan dan juga ejekan Irene karena mendengar apa yang aku katakan padanya, ia masih tertawa keras, memukul - mukul bantal dan bahkan tidak mampu melihatku karena ia akan tertawa keras kembali.

"Seorang Park Chanyeol-hahhahaha-" dia tertawa lagi dan aku meninggalkan dia untuk mengganti baju, "Yaa! Kenapa kau perlu memikirkan tempat makan malam hanya untuk wanita seperti dirinya, bukankah kau bisa memperlakukan dia seperti wanita lainnya? Kau bisa-"

"Kita belum melakukannya, dan dia bukan wanita seperti yang lainnya." Aku menjelaskan lagi, menyusul dirinya yang sudah rapi duduk di tempat yang sama. "Aku menginginkan dia lebih dari hanya sebuah hubungan sementara."

"Jangan bilang kau masih mengingat apa yang Yoora katakan sebelum.." suaranya terdengar semakin lirih, menatapku takut - takut mengingat hari - hari belakangan adalah hari peringatan dimana Yoora meninggal.

"Hm." aku menjawab singkat.

"Yeol.." dia memindahkan posisi badannya, menghadap kearahku dan memperhatikan wajahku dengan cukup serius. "Kejadian Yoora sudah beberapa tahun lalu, dan.. kau bukanlah pria berusia dua puluh tahunan lagi.. Chelsea membutuhkan sosok Ibu-walaupun kau bisa mengurusnya sendiri, ya aku tahu-tapi dia tetap membutuhkan sosok Ibu, sosok wanita yang bisa menemani dia."

Aku mendengarkan apa yang ia katakan, tapi tidak membalas menatap pandangan matanya. "Semakin ia tumbuh dewasa, sosok Ibu dibutuhkan Yeol.. kau mungkin bisa mengurusnya sejak bayi hingga saat ini.. tapi ada kebutuhan ajaran yang hanya bisa disampaikan oleh sosok wanita padanya, kau tidak mungkin bisa menjelaskan mengenai proses perkembangan hormone - hormone wanita padanya kan?" Irene menyipitkan matanya, "Pikirkanlah untuk anakmu, apa yang kau lakukan untuk Chelsea aku rasa sudah cukup, lebih dari cukup bahkan dan untuk ketakutanmu, selama kau masih bermain aman-ah kau sudah tahu lah apa yang perlu kau lakukan. Hanya saja, jangan lagi merasa takut untuk memulai sebuah hubungan, Chelsea pasti menginginkan sosok wanita dewasa yang bisa ia panggil Ibu." Irene mengulangi lagi kalimat yang sama yang Ia katakan sebelumnya.

"Aku juga memikirkan hal yang sama,hanya saja.. Baekhyun berbeda dengan wanita yang lainnya. Ia sama seperti Yoora.. dan aku tidak mau ia mengalami hal yang sama seperti yang Yoora alami."

"Chanyeol-ah.. setiap wanita berbeda.. dan tidak semuanya mengalami hal yang seperti yang Yoora alami."

"Dia tidak menginginkan sebuah hubungan."

Irene seketika terdiam, kembali menatapku dengan banyak pertanyaan. "Mak-sudmu?"

"Dia memiliki kehidupan malam yang diselingi dengan para pria hanya untuk one night stand-

"WHAT! Wow! Daebak!" entah sahutan Irene bisa dikatakan terpukau atau ia merasa terkejut dan tidak percaya mendengarnya.

"-dan aku menawarkan sebuah hubungan padanya dimana ia langsung terdiam dan tidak memberikan jawaban setelahnya, kami menginginkan satu sama lain, gosh aku bahkan memimpikan dirinya disetiap malam mendesahkan namaku." Irene bergerak menjauh dari duduknya, menghindariku dan sontak aku melemparkan bantal sofa kearahnya. "Ya! Aku tidak mungkin membayangkanmu mendesahkan namaku bodoh!"

"Ya.. siapa tahu kau sangat depresi hingga hanya bisa membayangkanku-aaahhh!" Irene berteriak kesakitan karena badannya sudah aku tarik dan berada dikukungan tanganku. "Ampun.. ampun.. sakit!" ia meminta maaf memohon ampun.

"Jadi.." aku melanjutkan lagi, kembali pada topik sebelumnya. "Aku menginginkan ia untuk diriku, bukan hanya untuk sementara layaknya one night stand seperti yang biasa ia lakukan, aku ingin dia.. bersamaku dan mungkin menikah bersamanya."

"Tapi.." Irene memulai, mencari kalimat untuk membalas ucapanku. "Apa dia meng-iyakan?"

Aku menggeleng, "Ia mengatakan tidak pernah menjalani hubungan yang serius dan mungkin tidak mau memiliki hubungan sama seperti yang aku inginkan.. hanya saja.. wanita butuh pelampiasan seksual kan?" aku mendekati Irene, berbisik rendah di telinganya dan dia menggidik geli mendengarkan.

"Bajingan!" Ia memukul badannku. "Kau memang brengsek." Ia tentu paham dan mengerti apa yang aku katakan padanya mengenai pelampiasan seksual yang aku maksudkan. "Jadi.. kau menyiksa dia, memanfaatkan haus seksual yang selalu ia inginkan, dan mau tidak mau ia bisa menyerah padamu? Betul?"

Aku mengangguk, "Secara garis besarnya seperti itu. Mencumbu tidak dilarang."

"Brengsek."Irene mengumpat lagi. "Dan.. maksudmu dengan makan malam? Kau ingin mengajaknya kencan atau apa?"

Aku mengangguk lagi. "Harus romantis, suasana mendukung untuk kita bercinta.." Irene mengumpat lagi tapi tidak ia lontarkan dengan lantang, ia sibuk mencari tempat yang aku inginkan di mesin pencari pada ponselnya.

"Dibandingkan mencari tempat dan membayar mahal untuk semalam, ditambah dengan uang tambahan untuk membiarkan para pelayan pergi jauh tepat ketika kau mulai bermain panas dengannya, mungkin lebih baik kau memperlihatkan sisi romantismu dengan memasak disini, mengubah apartemenmu ini menjadi lounge yang indah dan romantis."

Aku menatapnya, memberikan senyuman manis lebar milik Park Chanyeol dan wajahnya berubah malas karena ia sudah tahu dari tatapan itu adalah aku menggoda dirinya dan memberikan ciuman pada kedua pipinya. "Kau terbaik!"

"Ewww!" dia melenguh meronta menghapus jejak - jejak ciuman bibirku pada pipinya dan setelahnya aku beranjak masuk menuju kamar mengambil dompet dan juga kunci mobil untuk membelanjakkan perlengkapan untuk makan malam romantis dengan Baekhyun.


Baekhyun's


Jam 8.

Apa yang dikatakan Chanyeol mengenai ajakannya nyatanya memang benar - benar ia lakukan, bahkan menit di mesin penunjuk waktu belum menunjukkan waktu genap jam delapan tapi pria itu sudah mengetuk pintu apartemen milik Baekhyun sebagai tanda ia tengah menunggu wanita-nya muncul menunjukkan kesiapannya.

Bunyi derit pintu yang dibuka sama dengan detak jantung Chanyeol yang semakin berdetak menggebu menunggu kemunculan Baekhyun, apakah se-seksi yang ia bayangkan? Gaun apa yang Baekhyun pilih untuk ia kenakkan malam ini ? apakah ia bisa melihat kembali senyuman manis darinya? Semuanya Chanyeol harapkan seindah dengan apa yang ia bayangkan, menyiapkan seikat bunga mawar merah di balik genggamannya sebagai pengalih rasa gugup yang ia miliki.

"Oh, hai Dude!"

Namun sapaan dan sosok yang muncul dihadapannya sangatlah jauh dari yang ia harapkan. Sosok pria asing berada dihadapannya, masih berpakaian lengkap-untungnya, namun Chanyeol pasti sudah mengetahui maksdu tujuan sang pria ini berada di apartemen milik Baekhyun.

"is Rebecca there?" Chanyeol bertanya pada pria itu.

"Jake! I have a date tonight, so you better get out now!" suara Baekhyun terdengar dari arah kamar wanita itu, dan pria yang dipanggil bernama Jake hanya bisa tertawa pada Chanyeol bermaksud mengisyaratkan dirinya lah yang dimaksudkan oleh Baekhyun.

"I am Jake btw.." dia memperkenalkan diri pada Chanyeol, memberikan tangannya namun tak dibalaskan oleh Chanyeol karena pria itu tengah memberikan tatapan dingin sebagai balasannya. "I guess you are Becca's date for tonight?" lagi, ia memancing topik pembicaraan namun Chanyeol masih tidak menampakkan wajah bersahabat, "Okey, Dude.. we just friend. Really just friend. And I just came here because I heard Becca need a new job so.. we don't have a thing like you thought right now-

"Chanyeol.."

Kedua pria itu kini beralih memandangi Baekhyun dalam balutan gaun berwarna hitam ketat melekat pada tubuhnya, rambutnya yang nampak selesai di blow terurai secara rapi dan polesan riasan wajah yang ia kenakkan nampak sangat natural dan terkesan tidak berlebihan.

"Let me get out of here right now." Jake pamit undur diri dengan sigap secepatnya, dan meninggalkan Baekhyun serta Chanyeol yang masih saling memandang satu sama lain menunggu salah satu diantara mereka untuk berucap lebih dulu.

"Dia hanya teman.." Baekhyun menyerah lebih dulu, ia membuka penjelasan pada Chanyeol, menghampiri pria itu yang masih berdiri dengan wajah kaku dan dingin. "Please katakan sesuatu.." takut suaranya terdengar berharap Chanyeol tidak marah hanya karena melihat seorang pria membukakan pintu di apartemen miliknya dan berpikir bahwa pria itu adalah salah satu teman pria one night stand dengannya.

"Chanyeol.." Baekhyun melangkah mendekat pada Chanyeol dengan jarak yang lebih dekat, berusaha meraih kemeja yang Chanyeol kenakkan,

"Kalau dia tidak menjelaskan siapa dirinya, mungkin aku sudah memukul pria itu dan pada akhirnya kencan kita akan batal untuk selama - lamanya." Chanyeol menghela nafas, meraih pinggang Baekhyun dalam pelukannya dan mencium pucuk kepala Baekhyun sebagai pertanda dirinya sudah merasa lebih baik dan bukan lagi Chanyeol berwajah dingin.

Baekhyun bahkan menghela nafas lega setelahnya, rasa takut membayangkan Chanyeol akan marah pada dirinya adalah ketakutan sedari tadi yang ia pikirkan dan tidak siap bila itu terjadi mengingat mereka baru saja menyelesaiakan perang dingin sebelumnya.

"Apa kau setakut itu?" Chanyeol menanyakkan, dan Baekhyun mengangguk. "Kau cantik." Chanyeol memuji, dengan maksud mencairkan suasana dingin diantara mereka.

"Jadi.. makan malam kita tetap jadi?" Baekhyun mendongak, memandangi Chanyeol.

Sebuah senyuman Chanyeol berikan, pelukannya Ia lepas dan ada yang merasa bingung dibuatnya. "Untukmu." Satu ikatan bunga mawar merah diberikan Chanyeol untuk Baekhyun dan wanita itu merasa tersanjung karenanya, "Dan.. makan malam kita tetap jadi.. dengan satu syarat." Kini Baekhyun kembali dibuat menunggu apa yang ingin Chanyeol katakan.

"Boleh aku menciummu?"