LOVELESS


"Boleh aku menciummu?"

Chanyeol adalah pihak yang menanyakkan ijin pada Baekhyun, mempertanyakkan apakah pria itu boleh mencium bibir merah muda milik wanita itu sementara tangan dan gerak gerik badannya menunjukkan ia bahkan tidak peduli apabila Baekhyun tidak memberikan ijin padanya. Tangan Chanyeol telah berada pada perpotongan wajah dan leher Baekhyun, dengan jarak mereka begitu dekat—seketika Baekhyun mengatakan iya, maka sudah pasti Chanyeol akan menciumnya dalam hitungan detik.

Dan Baekhyun adalah penggoda.

Mengabaikan pria dihadapannya yang tengah frustasi menahan diri untuk menciumnya, wanita itu belum memberikan jawaban namun tubuhnya turut bergerak untuk menggoda, mengalirkan rangsangan gairah untuk semakin memicu hasrat dari pria dihadapannya. Tangannya menarik pinggang pria itu untuk semakin mendekat, mengusap punggung belakang, sementara wajahnya semakin ia dekatkan dan bahkan memberikan jarak pada bibir mereka dengan begitu dekat hingga kedua hidung mereka bergesekkan.

"Chanyeol.." suaranya bahkan terdengar mendesah, bernada pelan sirat akan rasa frustasi menunggu sebuah pelepasan dari keinginan yang terpendam.

"Kau menyiksaku Baek." Kedua tangan Chanyeol merengkuh wajah Baekhyun, menyampaikan rasa frustasi yang sudah tak bisa lagi ia pertahankan dan tanpa mendengarkan jawaban dari Baekhyun, bibir tebalnya lebih dulu ia sentuhkan pada bibir milik Baekhyun, mengecup singkat dan bergerak perlahan mengundang wanita itu untuk bermain dan menikmati sentuhannya.

Tangan Baekhyun semakin menarik pinggang Chanyeol lebih mendekat pada tubuhnya bersamaan dengan pria itu yang mendorong badan mereka berdua agar bersandar pada dahan pintu Apartemen Baekhyun yang tengah tertutup, badan yang terpojokkan dan gerakkan keduanya yang saling menggeliat satu sama lain adalah pemandangan bagi siapapun yang mungkin melihat keduanya saat ini.

Keduanya menikmati permainan bibir yang dilakukan oleh masing – masing, bahkan lidah mereka ikut berandil besar bergabung disana, dan si penggoda mungil bukanlah wanita pasif yang merasa terpuaskan hanya dengan sebuah ciuman. Tangannya bergerak membuka satu per satu kancing kemeja yang Chanyeol kenakkan, memainkan tangannya untuk menyentuh bagian leher dan juga dada bidang sang pria—memancing pria itu untuk melakukan hal yang lebih dari sebuah ciuman—tak peduli posisi mereka saat ini masihlah berada didepan pintu apartemen.

Chanyeol bahkan bukan lagi pria yang bisa menahan diri untuk tidak mencumbu Baekhyun kali ini, ciumannya tak lagi pada bibir wanita itu, ciumannya berpindah menuju leher, bahu, dan bersamaan dengan Baekhyun yang membuka kancing – kancing kemejanya, ia mengikuti dengan menarik restleting pada gaun malam yang Baekhyun kenakkan, menggerakkan tangannya untuk mengusap punggung wanita itu dan bahkan hampir menelanjangi wanitanya saat ini hanya agar bisa mencium bagian dada wanita itu hingga Baekhyun menggeliat mendekatkan badannya pada Chanyeol.

Mereka masih menikmati cumbuannya, hingga pada akhirnya Chanyeol membalikkan badan Baekhyun, mencium wanita itu di leher dan juga punggung belakang. Mendorong Baekhyun hingga wanita itu menahan dirinya dengan kedua tangan pada dahan pintu, dan Chanyeol kembali melanjutkan ciumannya pada bibir, menggigit leher Baekhyun atau pun daun telinganya, tangannya bermain bebas dengan salah satu payudara Baekhyun yang sudah hampir terlihat karena gaunnya bahkan hampir terlepas dari pinggangnya.

Tidak ada yang peduli dan ingat akan dimana mereka berada saat ini.

Baekhyun meremas rambut Chanyeol bermaksud menarik pria itu untuk tetap mencium bibirnya dengan menggila sementara tangan pria itu bermain dengan begitu lihai dan kurang ajarnya pada bagian dada dan perut Baekhyun. Ia bahkan mendesah dengan nada rendahnya ketika Chanyeol memberikan gigitan pada bahu dengan tangannya yang mulai bergerak menyingkap bagian bawah gaunnya hanya untuk menuju bagian intimnya.

"Kau membuatku gilaa.." Chanyeol mencium lagi, entah itu pada leher atau pun pipi wajah Baekhyun.

"aaahh—Chanyeol—"dan Baekhyun meneriakkan desahannya, merasakan remasan pada payudaranya sementara kakinya semakin mengapit ketika ia merasakan sentuhan tangan Chanyeol dibawah sana, kepala Baekhyun bahkan bersandar pada dada Chanyeol, memudahnya pria itu untuk menciumi lehernya.

Seharusnya mereka berpikir cepat untuk menghentikkan cumbuan panas itu hanya agar bisa masuk kedalam ruangan apartemen dan mungkin melanjutkannya kembali diatas ranjang, seharusnya… sebelum seseorang datang, melihat secara langsung kegiataan tidak senonoh yang mereka lakukan, apalagi jika seseorang itu adalah anak dibawah umur.

"Daddy?"

Chanyeol seketika kembali tersadar hanya karena merasa dirinya terpanggil oleh suara yang amat ia kenal, menghentikkan segala perbuatannya pada Baekhyun dan juga menutupi tubuh Baekhyun dalam dekapannya. Sama hal-nya dengan Baekhyun yang seketika menunduk, memejamkan matanya, berlindung dibalik tubuh besar Chanyeol.

"Daddy…" dan suara itu memanggil lagi.

"Katakan itu bukan suara Chelsea.." Chanyeol berbisik pada Baekhyun, dirinya belum siap menoleh pada arah suaranya itu berada.

"I-itu.." Baekhyun juga sama, membalas ucapan Chanyeol namun ia juga memilih memandangi dahan pintu apartemennya.

"Daddy… Baekhyunnieee…" suara roda dari tas koper yang ditarik dan juga langkah kaki yang berlari semakin terdengar mendekat, Chanyeol menundukkan kepalanya pada pundak Baekhyun, ia juga bergerak cepat memakaikan kembali bagian atas gaun Baekhyun yang hampir ia buka untuk menutupi pemandangan tidak pantas pada Chelsea, dan sebetulnya kali ini pikirannya mempertanyakkan kenapa anak itu bisa berada saat ini. Pada timing yang tidak tepat.


LOVELESS

.

Chapter 9

.

Chanyeol-Chelsea-Baekhyun

OC

Drama-Family-Romance

GS

.

.

You want a Love that consumes you, You want passion and adventure,

And even a little danger.

LJ Smith

.

.

.


Chelsea


Tidak ada acara makan malam, tidak ada acara kencan, dan bahkan cumbuan yang dilakukan Chanyeol pada Baekhyun harus berakhir secara mendadak karena sosok Princess kesayangan Chanyeol muncul secara tiba – tiba di luar perkiraannya. Mengabaikan pertanyaan anak itu yang mungkin saja merasakan keanehan melihat sang Daddy berada begitu dekat dengan seorang wanita dan bahkan bisa dikatakan mencium dan melakukan hal senonoh lainnya, anak itu lebih dulu dibawa masuk kedalam apartemen miliknya. Dan Baekhyun ikut masuk, hanya saja wanita itu duduk pada ruangan makan dimana terlihat beberapa hidangan yang sudah disiapkan oleh Chanyeol tersaji rapi dan nampak nikmat untuk disantap. Belum lagi dekorasi pada ruangan tamu dan juga lorong dekat pintu utama terdapat nyala lilin – lilin kecil, dan pikiran wanita itu tentu paham semua itu dipersiapkan Chanyeol untuk kencannya malam ini.

Tapi nyatanya, Chanyeol berakhir membawa Chelsea masuk didalam kamar anak itu dan memulai interogasinya mengenai kedatangan mengejutkan dari seorang gadis berusai 10tahun.

"Chelsea membeli tiket sendiri hehe.. dengan kartu hitam milik Daddy, igo.." anak itu menunjukkan black card milik Chanyeol dan juga bukti tiket pesawat didalam passport yang ia miliki.

Bukannya merasa bangga, Chanyeol kini menjadi sosok ayah yang mendadak tidak bisa berkata apapun mendengar penjelasan dari Puterinya.

"Chelsea.." ia berucap kesal. "Daddy sudah katakan padamu, untuk menunggu Irene menjemput, kenapa kau bisa pulang lebih dulu hah? Memesan tiket sendiri? Chels! Kau masih kecil." Dan saat ini suaranya terdengar menaik hampir mencapai nada tingginya.

"Chelsea bukan anak kecil Dad! Aku sudah sepuluh tahuuunnn! Chelsea ingin pulang karena Chelsea rindu dengan Daddy, tapi Daddy tidak menjemput Chelsea!" suara Chelsea terdengar berteriak membalas ucapan Chanyeol dan tentu saja itu mengejutkan bagi sang Daddy yang baru kali ini melihat puterinya berteriak.

"Chels.."

"Daddy jahat!" Chelsea keluar dari kamarnya dengan pintu yang terbanting keras, ia berlari menghampiri Baekhyun yang duduk di kursi makan, namun ia tidak mengatakan apapun pada wanita dewasa disebelahnya, Chelsea hanya duduk dengan kepalanya menunduk dan badan yang bergetar menahan tangisnya untuk tidak terpecah dalam isakan keras—seharusnya—namun merasakan ada tangan yang merangkul badannya, mengusap punggungnya pelan, jelas membuat anak itu membalas pelukan wanita itu dan menangis pada pangkuan paha Baekhyun setelahnya.

"…huuu.. Daddy ..." isakannya terdengar dimana bukan hanya Baekhyun yang mendengarnya dengan jelas melainkan Chanyeol yang baru akan menghampiri puterinya bisa mendengar keluhan dari puteri kesayangannya.

Baekhyun membiarkan Chelsea mengeluarkan keluh kesahnya dalam isakan tangis dan hal yang bisa ia lakukan hanyalah mengusap dan menenangkan anak itu dengan caranya sendiri, sementara Chanyeol, pria itu sempat meminta ijin untuk menelepon keluarganya di Korea untuk membicarakan mengenai keberadaan Chelsea saat ini.

"Jangan menangis lagi.." Baekhyun mengusap punggung Chelsea terus menerus untuk membuat Puteri Chanyeol itu kembali tenang,

"Daddy jahat, Baekhyunniee.." dan si kecil menjadi pengadu seketika mendapatkan ketenangan dari isakan tangisnya yang mulai mereda.

Entah kenapa Baekhyun tersenyum hanya karena mendengar curahan hati langsung dari Chelsea yang bahkan berani menyebutkan Daddy-nya jahat.

"Daddy tidak jahat sayang.." Baekhyun membalas, ia tersenyum memainkan rambut panjang milik Chelsea namun tetap mengusap kepala anak itu dan juga mengusap punggung milik Chelsea, "Daddy-mu hanya merasa khawatir karena Chelsea tiba – tiba pulang, membeli tiket sendiri dan bahkan tidak minta Daddy menjemput di bandara. Itu berbahaya.."

Chelsea mendengarkan, tidak membantah atau pun merengek terhadap apa yang dikatakan oleh Baekhyun padanya.

"Biasanya kan Daddy yang menjemput, mengantar, bahkan menemani Chelsea kemanapun.. mungkin Daddy merasa marah karena itu, Chelsea pergi sejauh itu.. bukan dalam hitungan jarak tapi melewati berbagai negara seorang diri.."

"Chelsea merindukan Daddy, Baekhyunie." Anak itu mengubah posisi bersandarnya pada pangkuan Baekhyun dan kini melihat wajah Baekhyun dari bawah, matanya yang sembab terlihat membengkak dan cairan air mata bahkan masih terlihat membasahi pipi anak itu.

"Daddy juga merindukanmu sayang." Jari tangan Baekhyun menjawil hidung Chelsea yang memerah, dan ia tidak menyadari bahwa panggilan yang ia sebutkan pada Chelsea di akhir ucapannya membuat sang anak merona bahagia.

"Baekhyunniee.." Chelsea memanggil namanya lagi, "Chelsea suka mendengar Baekhyunnie memanggil Chelsea sayang.." kali ini ada sebuah senyuman yang terbentuk pada wajah Chelsea yang masih berada dipangkuan Baekhyun, anak itu juga turut memainkan rambut Baekhyun yang tengah tergurai kebawah, "Chelsea membayangkan Mommy yang memanggil seperti itu.. hehe.." nada tawa yang terdengar bukanlah membuat Baekhyun ikut merasa tertawa melainkan hatinya terenyuh mengingat kenyataan bahwa anak itu tak pernah merasakan kasih sayang langsung dari sang Ibu sejak ia lahir.


Chanyeol


Sang Daddy menyudahi panggilan teleponnya dan bergabung kembali pada ruangan makan dimana Chelsea dan Baekhyun masih menikmati waktu berdua mereka, Chelsea masihlah sama merebahkan kepalanya pada paha Baekhyun namun anak itu tak lagi terisak menangis seperti sebelumnya, ada suara tawa yang terdengar sesekali diantara mereka berdua yang entah membicarakan hal apa.

"Uh-uhm.." Chanyeol berdeham, menunjukkan kehadiran dirinya sudah berada pada tempat yang sama dan membuat dua orang perempuan disana menghentikkan tawa dan apa yang tengah mereka lakukan. "Chelsea, duduk yang benar." Suaranya datar, tidak meninggi namun tak juga terdengar lembut diucapkan pada Chelsea.

Baekhyun membantu Chelsea untuk bangun dan duduk pada kursinya, sementara Chanyeol mulai menyiapkan piring tambahan untuk Chelsea dan juga mengeluarkan beberapa tambahan daging sebagai porsi makan puterinya.

Makan malam yang seharusnya menjadi kencan bagi Chanyeol dan Baekhyun sudah dipastikan gagal karena jelas kehadiran Chelsea adalah alasan utamanya, dan melihat mereka bertiga yang duduk bersama tanpa ada yang menbuka topik pembicaraan satu sama lain—jelas menggagalkan sebutan kencan. Sesekali Chanyeol mencuri pandang untuk melihat apa yang Chelsea lakukan dan juga apa yang dilakukan Baekhyun, dua perempuan itu terlihat lebih santai dan dekat satu sama lain saat ini dibandingkan dirinya dengan puterinya sendiri. Ketika Chelsea tiba – tiba tersedak contohnya, Baekhyun adalah orang yang lebih dulu memberikan air putih dibandingkan Chanyeol, Baekhyun bahkan meledek kearahnya yang terlalu lama bertindak.

"Pelan – pelan.." Chanyeol akhirnya bersuara, dengan nadanya yang lebih lembut dibandingkan sebelumya, Chelsea pun hanya mengangguk, belum berani melihat kearah sang Daddy.

Makan malam mereka kemabali dilanjutkan dalam keterdiamana, Baekhyun bahkan berulang kali menatap Chanyeol mengodekan pria itu untuk berkata sesuatu pada puterinya namun sia – sia karena Chanyeol membalas menggeleng dan lebih memilih memperhatikan Baekhyun bergantian dengan Chelsea. Hingga pada akhirnya mereka bertiga usai menyantap segala hidangan yang tersedia, Baekhyun adalah pihak pertama yang mengucapkan terima kasih dan berkomentar akan masakan Chanyeol—namun niatnya untuk membuka topik pembicaraan kembali gagal.

"Chelsea suka dagingnya?" Baekhyun melanjutkan, kembali menjadi pihak yang berisik diantara ketiganya.

Tapi jawaban yang diterima hanyalah anggukkan kepala sementara anak itu masih menundukkan kepala. Sementara Chanyeol, pria itu lebih memilih menyibukkan dirinya membersihkan piring – piring kotor dan bahkan langsung mencucinya secara langsung. Mengabaikan kencan malamnya dan juga anaknya yang masih merajuk.

Chelsea akhirnya memilih pergi, kembali masuk kedalam kamarnya tanpa mengucapkan apapun pada Baekhyun, terlebih pada Chanyeol. Dan Baekhyun akhirnya bangkit menyusul Chanyeol yang tengah disibukkan didapurnya, memberanikan diri memeluk pria itu dari belakang dan juga memberikan ciuman pada punggungnya.

"Ini adalah kencan yang terburuk.." Baekhyun menginformasikan, bermaksud meledek Chanyeol dan juga membuat mood pria itu kembali seperti sebelumnya. Pelukan tangannya semakin erat melingkar pada perut Chanyeol dan pria itu menghentikkan kegiatannya saat itu juga untuk membalas walau hanya sekedar mengusap tangan Baekhyun.

"Maaf." Chanyeol berucap. Badannya berbalik untuk bisa memandangi wajah Baekhyun yang tengah memeluknya, satu ciuman ia daratkan pada bibir wanita itu secara tiba- tiba. "Aku hanya kaget dan tidak percaya.. ia bisa pulang dengan membeli tiket seorang diri dan bahkan tidak memintaku untuk menjemputnya—keluargaku bahkan tidak ada yang mengetahui bahwa dia pergi dan pulang ke New York seorang diri—"

"Hei.." Baekhyun menenangkan lagi, mengusap wajah Chanyeol, memberikan ciuman pada bibir pria itu dan tersenyum disana, berharap pria dihadapannya bisa menangkan diri dan tidak lagi diselimuti perasaan kesal, marah dan khawatir yang berlebih. "Chelsea sudah tiba, dengan selamat dan seharusnya dirimu memberikan sedikit pujian pada keberaniannya untuk pulang hanya karena merindukkan Ayahnya.. aku bahkan tidak pernah melakukan hal itu untuk Ayahku.. lagipula.. aku rasa ia hanya ingin menunjukkan kemandiriannya, kepeduliannya pada Daddy-nya meskipun caranya salah." Baekhyun mendekatkan dirinya lagi pada Chanyeol, mencium leher pria itu dan mengulangi berbisik kata Daddy yang sengaja ia tekankan lebih jelas agar Chanyeol bisa mendengarnya.

Dan ada yang tertawa kecil menggemaskan melihat tingkah apa yang dilakukan Baekhyun padanya, tangan Chanyeol menjepit dagu wanita itu dan menariknya untuk bisa ia cium lebih dalam dan lebih intenst dibandingkan ciuman yang Baekhyun lakukan, kali ini terulang lagi, perpaduan bibir mereka yang sama – sama mendominasi dan juga gerakkan tangan yang tak lagi sekedar berpelukan pada tubuh lawan masing – masing. Namun kewaspadaan saat ini diingat oleh Baekhyun, ia menjadi pihak yang menyudahi ciuman dalam basah dari Chanyeol sebelum panggilan 'Daddy' terdengar bukan dari mulutnya.

"Kau harus menemui Chelsea.." Baekhyun mengatakan alasannya karena Chanyeol memberikan wajah pertanyaan tidak terima kegiatan mereka kembali terputus. Dan alasan yang ia berikan mendapat anggukan setuju dari pria itu yang kembali menunduk lemas pada pundaknya, membutuhkan sedikit semangat untuk menghadapi sang Puteri yang merajuk dikamarnya.

"Kau mau membantuku?" Chanyeol berbisik.

"Hm?"

Baekhyun menoleh, menanyakkan apa maksud Chanyeol meminta bantuan padanya.

"Tolong belikan Strawberry cake di toko roti ujung jalan."

"Oh?"


Chelsea


Chelsea tak tertidur ketika dirinya memilih masuk kedalam kamar, alasan utamanya adalah menghindari omelan dari sang Daddy meskipun sebenarnya dirinya ingin berlama – lama berada bersama Baekhyunnie yang tengah bermain di apartemennya. Badannya ia rebahkan pada ranjang yang diselimuti selimut berwarna pink dengan motif bunga – bunga, ditemani dengan segala boneka miliknya yang ia tahu semua itu adalah hadiah dari Sang Daddy—yang baru saja ia sebut sebagai Daddy yang jahat.

Ketukan pada pintunya terdengar namun ia tak berminat untuk menanyakkan siapa yang mengetuk, hanya saja ia berharap itu bukanlah sang Ayah.

"Chels.." tapi suara yang didengar seketika membuat dirinya menarik selimut untuk menutupi badannya seolah – olah ia tengah tertidur.

"Princess Daddy masih marah?" suara sang Ayah makin terdengar jelas dipendengarannya, langkah kakinya bahkan bisa ia pastikan mengarah pada ranjang dimana ia berbaring dan tekanan pada sisi ranjangnya ia tahu bahwa kini sang Ayah tengah duduk didekatnya.

"Maaf Daddy membentakmu tadi.." ada tangan yang terusap memainkan rambutnya yang masih terlihat dibalik selimut. "Daddy hanya.. khawatir.. dan juga marah membayangkan kau pulang seorang diri, tanpa ada yang mengawasi.. dan bahkan menggunakan pesawat komersil yang dipenuhi dengan orang asing…"

Chanyeol jelas berusaha keras untuk membuat puterinya mau kembali berbicara padanya, dan usaha yang ia lakukan kali ini belum sepenuhnya maksimal.

Kali ini ia mencoba ikut berbaring tepat disebelah Chelsea, membawa badan puterinya dalam pelukan dirinya meskipun ada gerakkan penolakkan diawalnya, namun pada akhirnya Chelsea luluh dan menyamankan dirinya dalam balik selimut.

"Maafkan Daddy ya.." lagi Chanyeol memohon maaf dari puterinya. "Kalau Chelsea mengatakan akan pulang hari ini.. pastinya Daddy akan memberikan kejutan untuk Chelsea, mungkin Daddy akan menyiapkan masakan kesukaan Chelsea.. atau mungkin.. apa ya.." Chanyeol mengulur waktu memancing puterinya untuk bisa termakan rayuannya. "Chelsea suka apa ya.."suaranya berandai – andai seakan – akan ia tengah berpikir meskipun pada kenyataannya ia menunggu Chelsea memberikan jawaban yang ia inginkan.

"Strawberry.." dan pada akhirnya suaranya puterinya terdengar meskipun dalam berbisik pelan tapi Chanyeol jelas mendengar suaranya.

"Aaaahhh! Strawberry!" ia bersemangat, "Kalau Chelsea mengatakan akan pulang.. sudah pasti Daddy akan siapkan strawberry." Chanyeol menahan dirinya untuk tidak langsung menarik selimut dan memeluk puterinya, "Chelsea mau memaafkan Daddy? Seandainya Daddy belikan strawberry sekarang?"

Tidak ada jawaban yang terdengar, dan Chanyeol hampir saja kembali berbaring lemas menunggu sahutan dari Chelsea akan apa yang ia pertanyakkan.

"…."

Masih belum ada jawaban, namun kaki anak itu mulai bergerak – gerak dan tangannya bahkan menarik selimut yang menutupi wajahnya mencoba mencuri pandang pada sang Daddy yang tengah terbaring memeluk dirinya.

"Strawberry cake.." lagi bisikan Chelsea terdengar oleh pendengaran Chanyeol, pria itu sontak kembali bersemangat, mendekatkan dirinya pada Chelsea dan mencari wajah puterinya itu yang tengah menekuk dengan bibir mengerucut gemas.

"Strawberry cake?" Chanyeol meyakinkan dan mendapatkan balasan anggukan kepala dari Chelsea yang masih menyembunyikan wajahnya.

"D-dad-daddy.." Chelsea memanggil Daddynya masih dengan takut – takut, namun ayahnya itu masih berada disampingnya, membawa anak itu pada pelukan diatas badannya dengan begitu mudah dan mencium sayang keningnya tanpa mengucapkan apapun.

"I am sorry baby." Chanyeol memeluk lebih erat, menunjukkan rasa sayang dan juga penyesalannya akan apa yang ia lakukan pada Chelsea beberapa waktu lalu.

"I am sorry too Daddy.." Chelsea membalas, meraup wajah sang Daddy untuk bisa menghujami wajah tampan milik sang Daddy dengan ciuman dari bibir kecilnya. "Chelsea sayang Daddy.." ia menyatakan dengan lantang sebelum memberikan ciuman diakhirnya pada bibir Daddynya dan Chanyeol tertawa setelahnya membalas ucapan sayang puterinya dan beranjak bangun, membawa Chelsea dalam gendongannya menuju ruangan didepan kamarnya Chelsea, dimana Baekhyun sudah duduk disana, dengan satu buah Strawberry Cake berukuran sedang dan juga minuman soda sebagai pendampingnya.


LOVELESS


"Baekhyunnie.. kue ini untuk kita berdua kan? Baekhyunnie harus memakan yang banyak!" suara riang Chelsea kembali memenuhi ruangan apartemen milik Chanyeol, bukan lagi isakan tangis dari puterinya saat ini dan dengan berakhirnya rajukan dari Chelsea membuat Chanyeol bersyukur ia tidak perlu waktu lama membuat anaknya itu kembali menjadi periang dan bawel seperti saat ini.

"Baekhyunnie menginap ya?" pertanyaan yang dilontarkan Chelsea membuat dua orang dewasa yang ada disana sama – sama terdiam secara spontan. "Kita kan mau pergi ke rumah pantai, jadi Baekhyunnie menginap disini ya!—Daddy, Baekhyunnie menginap ya." Chelsea meminta ijin pada Sang Daddy yang tengah menahan kegugupanya.

"E-eh.. mungkin lain kali." Baekhyun lebih dulu menjawab. "Besok aku memiliki pekerjaan, jadi mungkin hari setelahnya hm, bagaimana?" dan bukan hanya Chanyeol, Baekhyun bahkan kesulitan menjawab ajakan yang Chelsea lontarkan padanya.

"Waeyo?" Chelsea jelas tidak menyukai jawaaban yang diberikan Baekhyun atas apa yang ia tanyakkan. "Daddy boleh menginap dirumah Baekhyunnie kemarin, kenapa dengan Chelsea tidak mau." lagi, puteri Chanyeol itu merajuk dan memperlihatkan wajah tidak setujunya pada Baekhyun.

"Tadi juga Daddy memeluk mencium Baekhyunniee.." ucapannya kali ini secara langsung membuat dua orang dewasa yang ia maksudkan tersedak dan salah tingkah dibuatnya. Chanyeol lebih dulu membawa badannya bangkit menjauh dari tempat itu menuju dapur hanya untuk mengambil air minuman dingin untuknya, lain halnya dengan Baekhyun yang hanya bisa berpindah posisi dan membiarkan dirinya diperhatikan oleh Chelsea. "Baekhyunniee aneh.." Chelsea berucap lagi dan kali ini Baekhyun benar – benar kehabisan akal untuk memberikan jawaban pada Chelsea.

Chanyeol kembali datang bergabung dengan Baekhyun dan Chelsea, ia menjadi pihak yang menyudahi kegiatan pada saat itu dengan mengingatkan jam malam sebagai waktunya Chelsea untuk tidur. Tapi keinginan puterinya untuk mengajak Baekhyun menginap masihlah diperdebatkan, Chelsea kini bahkan sudah berpindah berada disamping Baekhyun, memeluk badan wanita itu dan menariknya menuju kamar miliknya.

"Baekhyunnie menginap ya.. yayayayayaya… Baekhyunnie yaaa..pleaseeeeeee…." Rayuannya ia ucapkan pada Baekhyun berulang kali mengabaikan ucapan Daddynya yang melarang padanya untuk terus merayu Baekhyun.

"Chels.. besok Baekhyunnie akan bekerja.."

"Daddy juga bekerja, Baekhyunnie bisa berangkat bersama Daddy besok—ya Baekhyunnie.. Baekhyunnie pleaseee…." Tubuhnya dibawa bergoyang kekanan dan kekiri karena Chelsea menarik – narik tangannya berulang kali.

Dan ia bahkan sudah tidak lagi bisa berpikir untuk mengatakan penolakan apa yang akan ia katakan pada Chelsea selain anggukkan kepala untuk mengiyakan ajakan dari Chelsea dan tentu saja jawban itu membuat sang anak berteriak bahagia hingga melompat – lompat diatas sofanya berbeda dengan Chanyeol yang tak berkedip memperhatikan Baekhyun disampingnya—tak percaya ia mendapatkan jawaban 'ya' dari apa yang Chelsea tawarkan.

Chanyeol benar – benar masih tidak percaya bahwa Baekhyun akan menginap dan tidur bersama puterinya saat ini dalam kamar yang sama, bukan dengan dirinya, melainkan dengan puterinya. Chelsea bahkan masih terlihat bersemangat dan lekas menyiapkan kasur tambahan pada lantai dikamarnya sebagai tempat untuk dirinya dan Baekhyun tidur bersama, dan Chanyeol menjadi pihak yang bertugas menyiapkan semuanya, membawakan matras lipat dan juga beberapa selimut sebagai alas.

"Daddy.. Daddy.. bawakan Teddy dan Cony.." Chelsea menunjuk boneka – bonekanya untuk bergabung pada matras disana, dan Chanyeol.. dengan besar hati menyiapkan semuanya.

Sementara Baekhyun, wanita itu tengah kembali ke apartemennya untuk menganti pakaian tidur dan juga membawa berbagai perlengkapan mandi miliknya dan beberapa pakaian untuk keperluan dirnya besok berangkat kerja—interview lebih tepatnya—mengingat status dirinya kali ini masihlah menjadi seorang pengangguran.

"Daddy.. daddy.. Baekhyunnie nanti tidur disini.. jadi Teddy yang disini.." Chelsea masih meributkan boneka – boneka apa yang akan bergabung dengan mereka saat tidur dan Chanyeol semakin pusing dibuatnya.

"Lalu Daddy dimana?" ia merebahkan tubuhnya pada matras itu dan Chelsea berkedip bingung dibuatnya. "Baekhyunnie disini, Chelsea disini.. lalu Daddy?" tangannya menunjua bagian sisi matras dimana Baekhyun dan Chelsea akan tidur dan itu sudah cukup dalam satu matras besar, dan kali ini ia menanyakkan dimana posisi akan bergabung untuk tidur bersama mereka, yang Chelsea tidak pernah pikirkan Daddy-nya bergabung dalam acara menginap—tidur bersama Baekhyun.

"Daddy.." Chelsea berkedip, melihat kondisi kamarnya. "Daddy tidur di kamar Daddy.."

Sontak suara tawa Baekhyun adalah pertama yang terdengar merespons apa yang dikatakan oleh Chelsea, dan Chanyeol membalikkan badannya untuk menyatu pada matras dan menutupi wajahnya dengan boneka – boneka yang berada disana.

"Badan Daddy besar! Kamar Chelsea kecil…" anaknya lagi – lagi memberikan penjelasan masuk akal sebagai alasan kenapa Chanyeol harus tidur dikamarnya seorang diri.

Chanyeol menggeleng kepala, tak percaya anaknya begitu pintar mencari alasan agar dirinya tak dapat bergabung dengan mereka berdua dalam kamar yang sama.

"E-oh.." namun Chelsea masih melanjutkan.. wajahnya berpikir sejenak, memperhatikan Baekhyun yang baru saja meletakkan tas nya di lantai dan juga sang Daddy yang masih dalamposisi terlungkup disampingnya.

"Daddy.." Chelsea memanggil.

"Hm." dan Chanyeol membalas dengan malas karena ia berpikir sudah waktunya untuk pindah dan tidur pada ranjangnya seorang diri—

"Kita tidur di kamar Daddy!"—tapi apa yang diteriakkan Chelsea padanya membuat dirinya bangkit dengan semangat dengan senyuman mengembang bahagia, ia melangkah untuk memeluk Baekhyun yang semakin tidak percaya dirinya kembali dijebak oleh Ayah dan anak dalam waktu berdekatan. Chelsea bahkan ikut memeluk Baekhyun dengan membawa beberapa bonekanya, dan menarik tangan wanita itu untuk berpindah masuk kedalam kamar Chanyeol yang berada tepat disebelah kamar anak itu.

Lagi, Chelsea yang mengatur posisi tidurnya. Dan bagi Chanyeol itu tidak masalah asalkan ia bisa tidur dalam satu kamar yang sama dengan Baekhyun.

"Chelsea di tengah, Teddy bersama Baekhyunnie.. Cony bersama Daddy.." ia juga mengatur dimana posisi para boneka tidurnya. "Baekhyunniiee.. sinii.." tangannya menunjuk pada sisi ranjang disebelah kirinya, dan itu berarti Chanyeol berada disebelah kanannya. Dan pria itu bahkan sudah bersemangat lebih dulu berada disana, meskipun dipenuhi oleh boneka – boneka, ia masih bisa memperhatikan Baekhyun yang masuk bergabung dalam selimut dan tidur menghadap kearah langit – langit.

"Selamat malam Baekhyunniee.." ucapan untuk menjemput mimpi dikatakan oleh Chelsea, dan Baekhyun membalasnya dengan ucapannya yang sama, lain halnya dengan Chanyeol yang membalasnya dengan sebuah kecupan pada kening Chelsea dan anak itu beralih tidur dengan memeluk sang Daddy.

Baekhyun berpaling memilih untuk menyampingkan badannya dan berhadapan dengan kain gorden yang menjadi pemandangan tidurnya kali ini, matanya berusaha terpejam lebih cepat namun suara bisikkan dari percakapan Chelsea dibaliknya yang tengah berbicara dengan Chanyeol jelas menarik perhatianya.

"Daddy…"

"Hm.."

"Chelsea semalam memimpikan Mommy.."

Chanyeol tidak menyahut, dan Baekhyun masih mencuri dengar.

"..Mommy bilang.. Daddy sedih.." suara bisikan Chelsea semakin terdengar lebih jelas.

"Daddy tidak sedih sayang.." Chanyeol menjawab ucapan anaknya.

"Ani.. tapi Mommy bilang begitu.. Daddy sedih.. Daddy merindukkan Mommy sama seperti Chelsea.."

Chanyeol tidak lagi terdengar suaranya, dan Chelsea masih terus bercerita akan mimpinya.

"Daddy.. Daddy tidak mau memiliki.. hm.. apa namanya.." anaknya itu kini memiliki topik pembicaraan yang lain.

"Apa sayang.."

"Itu.. seperti yang teman – teman Chelsea bilang.."

"Apa?"

"hm.. Daddy tidak mau memiliki Mommy baru untuk Chelsea?"

Baekhyun yang mendengar secara langsung bahkan tidak bisa lagi untuk bernafas dengan normal mendengar pertanyaan yang Chelsea katakan, dan ia bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana dengan Chanyeol saat ini yang secara langsung adalah berstatus ayah dari Chelsea namun bukan sebagai ayah kandungnya.

"..Mommy bilang Daddy harusnya mencari pengganti Mommy.. Mommy untuk Chelsea.." anak itu masih melanjutkan ceritanya, memainkan tangan – tangan bonekanya untuk menepuk – nepuk dada Chanyeol.

"Daddy belum mencari.." Chanyeol menjawab santai dan Baekhyun hampir dibuat tertawa malas mendengarnya sementara Chelsea terkekeh pelan dibalik punggungnya seakan – akan hal yang Chanyeol katakan adalah hal yang lucu baginya.

"Daddy.. Chelsea bantu mencari yaa.." kini Chanyeol ikut tertawa.

"Hm. Carikan yang cantik seperti Mommy hm.." Chanyeol mencium kening puterinya lagi dan mengusap punggung Chelsea sebagai tanda penghantar tidur bagi puterinya, suara menguap dari anak itu bahkan sudah mulai terdengar berulang kali namun nampaknya mulutnya belum mau menyudahi pembicaraan dengan Daddynya.

"Daddy.. kalau Chelsea.. menginginkan Mommy barunya adalah—"

Baekhyun jelas tidak bisa mendengar kalimat yang Chelsea ucapkan berikutnya karena sebenarnya anak itu tengah membisikkan hal itu pada telinga Chanyeol.

"—apa Daddy setuju?" kini suaranya kembali terdengar, lain halnya dengan Chanyeol yang belum terdengar sahutan balasan.

"Chelsea menyukainya?"

"Eoh."

"Asalkan Chelsea menyukainya.. Daddy juga akan menyukainya."

"Yes!" anak itu masih bersemangat dan nampak lebih bahagia setelahnya,

"Sekarang tidur ya.." Chanyeol memperingatkan dan setelahnya mereka diliputi keheningan menyambut malam dan juga menjemput alam mimpi pada dunia masing – masing. Tapi tidak dengan Baekhyun, pikirannya akan apa yang diceritakan oleh Kyungsoo mengenai siapa Ibu dari Chelsea masih ia ingat dengan jelas, terlebih lagi kali ini mendengarkan apa yang diinginkan anak itu entah kenapa menjadi beban baginya karena memikirkan apakah sosok yang diinginkan Chelsea memang terbaik untuk anak itu dan Chanyeol?

Ia masih memikirkan semuanya, menatapi tirai gorden disana sebagai pemandangan yang lebih indah dibandingkan memejamkan matanya—hingga pergerakan tangan menarik badannya, membawa dirinya berbalik bukan lagi menatap sang tirai melainkan kini Chanyeol berada dihadapannya.

"Chan—"

"Sstt." Mata Chanyeol terpejam, ia mengisyaratkan bibir Baekhyun untuk tidak bersuara mengingat Chelsea—yang baru saja ia pindahkan pada sisi ranjang tempatnya kini terlelap tidur.

"Aku kira kau sudah tidur?" Chanyeol berbisik, memeluk badan Baekhyun lebih erat disampingnya.

"A-aku tidak bisa tidur.." Baekhyun membalas ikut berbisik. Menyamankan kepalanya pada lengan Chanyeol yang kin menjadi bantalnya.

"Kenapa?"

Posisi Baekhyun kali ini sudah berhadapan dengan Chanyeol, merapatkan tubuhnya pada tubuh pria itu hingga ia bersandar pada dada milik Chanyeol dimana tentu pergerakkannya membuat Chanyeol memiliki pertanyaan besar dalam hatinya. Baekhyun berbeda. Tidak sedingin seperti biasa.

"Hey.. ini bukan hantu manis yang berada di dalam tubuh Baekhyun kan?" Chanyeol menarik wajah Baekhyun untuk ia lihat lebih jelas, dan ucapannya itu mendapatkan pukulan pelan tepat pada wajahnya yang tentu saja dilayangkan oleh Baekhyun karena mendengar ucapan tidak masuk akal pria itu. "Oh—kau masih tetap Baekhyun." lagi Baekhyun memberikan tatapan tajam dan kini cubitan pada perut Chanyeol, namun bukan eluhan sakit yang Chanyeol sahutkan padanya, melainkan sebuah senyuman manis dan juga ciuman pada kening Baekhyun.

"Tidurlah Baek.. jangan buat aku menderita malam ini.." Chanyeol mengeluh, memperingatkan sebenernya karena dirinya masih membentengi pertahanan dalam dirinya untuk tidak melakukan 'hal lebih' pada Baekhyun sebelum wanita itu memiliki perasaan yang sama untuknya. Meskipun begitu, ia tetap membawa Baekhyun dalam dekapannya dan menarik tangan Chelsea agar anak itu tidur berada disisinya yang lain. Mata Chanyeol terpejam lebih dulu, wajahnya didekatkan pada Baekhyun yang entah mengapa itu membuat Baekhyun merasakan dirinya dilindungi dan juga berada dalam perhatian penuh dari Chanyeol, dan meskipun pikirannya dipenuhi segala pertanyaan serta tengah mencari jawaban mengenai perasaanya sendiri, ada sebuah kehangatan melingkupi dirinya hingga tanpa ia sadari, pejaman matanya bergerak senyaman mungkin menyusul Chelsea dan Chanyeol untuk terlelap pada malam itu.

Tbc.