"Daddy, let me! Let me!"

Pagi ini, suasana dalam apartemen milik Chanyeol sudah dipenuhi dengan suara Chelsea yang tengah merengek memperhatikan bagaimana sang Daddy yang tengah memasakkan makanan untuk sarapan pagi mereka. Menghindari protes dari Chelsea karena terbangun dengan posisi tidur diabaikan oleh sang Daddy yang lebih nyaman tidur berpelukan dengan tamu mereka saat ini—Baekhyun—sang tetangga, Chanyeol memutuskan membawa puterinya untuk menemani pagi-nya di dapur.

Sebenarnya ia tahu, membawa Chelsea di dapur bersamanya adalah kesalahan besar, sudah sering kali dan menjadi kebiasaan anak itu ingin melakukan semuanya dengan alasan membantu namun yang terjadi pada akhirnya adalah sebuah kekacauan besar, dan saat ini anak itu tengah memaksa berulang kali hanya untuk memecahkan beberapa telur yang akan dimasak sebagai omelet nantinya.

"No." Chanyeol tetap melakukannya sendiri sementara Chelsea melanjutkan mencuci beberapa sayuran untuk salad mereka.

"Daddy selalu begitu." Bibir Chelsea mengerucut lancip kedepan dan memberikan suara merajuk namun Chanyeol tetap mengabaikan dan terus melakukan memecahkan beberapa telur dalam satu mangkuk dan langsung mengocoknya dengan sumpit yang sudah siap ditangannya.

"Kau tidak bisa Chels.. untuk melakukan ini, belum." Chanyeol memberitahu, "Bikinkan kopi untuk Daddy dan Baekhyunnie, lalu siapkan piring dan perlengkapan makan yang lainnya di meja makan, roti – rotinya disiapkan dalam satu tempat." Perintah lainnya ia ucapkan sebagai tugas Chelsea selanjutnya.

"Dadddddyyy..." Chelsea mengucapkan nada panjang. "Ini belum selesaiiii.."

Chanyeol yang sudah berpindah tempat hanya bisa tersenyum kecil melihat tingkah anaknya yang masih disibukkan dengan berbagai sayuran, ia menggelengkan kepala, mengabaikan dan membiarkan Chelsea menyelesaikan apa yang sudah ia perintahkan sebelumnya.

Rutinitas pagi yang selalu mereka lakukan bersama kurang lebih seperti itu, Chanyeol adalah Masterchef bagi Chelsea. Menyiapkan sarapan, makan siang hingga makan malam hampir setiap harinya—atau kadang ia mengajak Chelsea untuk makan malam di restoran pada hari dan saat – sata tertentu. Namun selama ia melakukan tugasnya memasak, Puterinya tidak pernah berada jauh karena ingin mencoba semua hal yang Chanyeol lakukan dengan alasan ingin membantu.

"Daddy!" teriak Chelsea kearah sang Daddy yang tengah berkonsentrasi pada hasil omelet-nya. "Chelsea sudah selesai." Anak itu melangkah turun dari tangga khusus yang dibuat untuk anak kecil seukuran dirinya yang berguna menjangkau temapt cucian dan juga beberapa lemari tinggi didapur. Ia meletakkan mangkuk besar berisi sayuran pada meja makan, dan melakukan perintah lainnya yang diberikan oleh Chanyeol sebelumnya, menyiapkan perlengkapan makan seperti piring, sendok, garpu dan juga gelas, lalu ia juga menyiapkan serbet makan disana, dan setelahnya ia beralih pada mesin pembuat kopi yang dimilik Ayahnya. Tanpa ada suara bicara dari mulutnya, tangannya telah melakukan pekerjaan lebih dulu dengan begitu yakin.

"Daddy.. seperti ini?" setelah memasukkan bubuk kopi, ia menanyakkan pada Daddynya, meyakinkan apakah yang ia lakukan sudah cukup benar.

Chanyeol menghentikkan apa yang ia lakukan saat ini dan beralih menghampiri Chelsea disana, melihat kadar bubuk kopi yang sudah disiapkan oleh puterinya, dan juga memastikkan kadar air yang sudah tersedia disana. "Hm, pintar." Chanyeol mengusap kepala Chelsea, menandakkan kebanggaannya akan apa yang dilakukan oleh puterinya dan Chelsea seketika memekik senang hanya karena perlakuan itu.

"Kopi, done." Ucapan Chelsea menjelaskan bagaimana ia menyelesaikan pekerjaannya untuk membuat kopi dan menekan tombol start pada mesin itu sebagai permulaan perkerjaan mesin pembuat kopi untuk memproses pengubahan bubuk – bubuk kopi didalam sana menjadi sajian minuman untuk Daddynya.

Chanyeol kembali beralih pada tugas pentingnya, memasak. Tugas yang sudah ia lakukan semenjak Chelsesa lahir hingga saat ini dan satu hal yang selalu membuatnya bangga karena kalimat pujian yang diberikan oleh puterinya selama ini, membanggakan masakan yang selalu ia buat, meskipun hanyalah hal sederhana seperti telur dadar.

"Dad..um..daddy.. ini..enak.." Chelsea mencuri potongan telur yang baru saja Chanyeol siapkan dalam piring, tidak ada protes darinya karena melihat wajah Chelsea yang menikmati makanan yang ia siapkan adalah apa yang ia inginkan selama ini.

"Enak?" Chanyeol menanyakkan yang sebenarnya menginginkan sebuah kepastian.

"Hm. Enak!" Chelsea menjawab yakin, dengan tangannya yang mengambil beberapa potongan dalam piring kecil, lalu setelahnya ia berlari menjauh dari area dapur sebelum Chanyeol menyadari berapa banyak potongan yang hilang. Chanyeol melirik keadaan piring dimana telur omellete yang telah ia berhasil masak kini menyisakan sedikit dari bagian yang sebelumnya ia siapkan, tak ada layangan protest karena ia bahkan hanya bisa tersenyum dengan kepalanya yang menggeleng, bahkan ia tidak berusaha mengejear sang pelaku pencuri kecil itu dimana tengah berhasil kabur masuk kembali ke kamar miliknya.


LOVELESS

.

Chapter 10

.

OC

Drama-Family-Romance

GS

.

.

You want a Love that consumes you, You want passion and adventure,

And even a little danger.

LJ Smith

.

.

.


Chelsea berhasil membawa satu piring kecil penuh berisikan telur gulung yang baru saja selesai dimasak oleh sang Ayah,, dan kini ia duduk diatas ranjang milik Chanyeol, dimana masih terbaring salah satu tamu mereka yang menginap semalam. Baekhyun.

Wanita itu masih terlihat tidur lelap dan bahkan terasa sangat nyaman berbaring di ranjang milik orang lain bahkan selimut tebal yang membungkus dirinya masih terbalut sempurna menutupi seluruh badannya dan hanya menyisakan wajah dan rambutnya disana.

Kehadiran Chelsea tidak mengganggu saat tidurnya. Anak itu lebih memilih menikmati telur di piringnya dan sesekali jemarinya bermain lincah pada ponsel yang ia pegang saat ini. Ia mengabadikan gambar telur yang ia bawa, atau ketika ia memakan bagian telur itu, dan kemudian beralih mengambil gambar sosok yang masih pulas tertidur disana.

"Baekhyunnie masih tidur.." bisiknya terdengar lirih takut suaranya akan membangunkan sosok itu. "Baekhyunnie cantik." Mulutnya memuji, mengambil gambar Baekhyun yang tengah tertidur lebih banyak dan tak luput ia juga mengambil gambar bersama dirinya yang saat ini sudah memposisikan diri terbaring tepat disebelah Baekhyun.

Suara kikikan dari Chelsea nyatanya mengusik ketenangan sosok yang masih menikmati waktu istirahatnya disana. Baekhyun secara perlahan menggeliat meskipun matanya masih terpejam erat, gerakkannya mencari posisi yang nyaman untuk kembali bisa melanjutkan lelapnya.

"Baekhyunnie! Baekhyunniee! Bangun!" Chelsea sigap membangunkan.

"Hm.." ada jawaban dari balik selimut yang meggulung badannya.

"Baekhyunnie bangun.. Baekhyunnie kan harus bekerja.." ocehan Chelsea disela – sela kesibukkan tangannya yang masih melihat – lihat hasil foto yang sebelumnya ia ambil.

"Hm.." dan jawaban dari balik gulungan selimut masih lah sama.

Chelsea tak lagi menyahut karena anak itu mengabaikannya dan memilih untuk kembali keluar kamar dengan sigap. Kembali menemui sang Daddy yang tengah menyiapkan makanan sarapan untuk semua orang yang ada, anak itu berlari menghampiri diakhiri dengan sebuah loncatan tepat disamping Chanyeol.

"Daddy!"

"Jangan melompat – lompat." Chanyeol lebih dulu memperingati sebelum lompatan kedua Chelsea lakukan.

"Daddy, Baekhyunnie tidak mau bangun!"

Chanyeol mendengarkan, namun tangan – tangannya masih menyiapkan semua makanan yang akan disajikan pada meja makan diruangannya.

"Chelsea sudah memanggil namanya.. tidak bangun." Anaknya kembali menjelaskan, dan meskipun Chanyeol tidak memperhatikan, ia tahu Chelsea tengah merengutkan bibirnya ketika ia duduk siap pada kursi yang sudah menjadi tempatnya selalu ketika duduk di kursi makan itu.

"Tidak mau bangun?" Chanyeol menanyakkan, memberikan tanggapan atas apa yang puterinya ceritakan.

"Uhm, tidak mau bangun.. Baekhyunnie masih tidur pulas digulungan selimut, like egg roll yang Daddy buat ini."

Ada senyuman yang terbentuk pada wajah Chanyeol ketika mendengar suara gemas Chelsea menjelaskan keadaan tamu mereka disamakan dengan gulungan telur dadar yang tersaji di piring makan.

Chanyeol mencuci tangannya sebelum ia beralih meminta Chelsea untuk ikut mencuci tangan sebelum mereka akan mulai menyantap sarapan pagi hari ini, "Daddy akan membangunkan Baekhyunnie dulu." Chanyeol meninggalkan puterinya yang menyeutujui dan memberikan anggukan disana.

Langkahnya baru saja masuk kedalam kamarnya, dan benar seperti apa yang dikatakan puterinya, sang tamu terlihat layaknya telur gulung yang baru saja ia masak. Baekhyun berada didalam gulungan selimut dan masih nyaman tidur disana tidak memperdulikan waktu pagi hari itu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Chanyeol masuk dengan langkahnya penuh hati – hati, tertawa kecil memandangi pemandangan didepannya, dan tangannya menarik selimut tebal itu secara perlahan namun cukup kuat menarik badan Baekhyun untuk ikut terseret.

"Nggghhhh.." suara lenguhan terdengar dan itu bukanlah berasal dari Chanyeol, Baekhyun melenguh, menarik selimut berlawan dengan Chanyeol.

"Baekhyun.. bangun, Kau bilang ada panggilan interview!" Chanyeol berucap namun nadanya terdengar sedikit keras.

"Ngghh.." jawaban dari Baekhyun tetap sama, dan wanita itu kembali menyamankan tidurnya.

"Baekhyun.." Chanyeol memanggil namanya lagi, kali ini suaranya lebih lembut.

"Hmm.."

"Baek.."

"..."

"Baekhyun.."

"..."

Semakin lembut suara ia memanggil nama wanita itu nyatanya membuat Baekhyun kembali lelap tidur. Chanyeol menggelengkan kepala dan pikirannya mulai bekerja untuk mencari cara membangunkan wanita itu dengan cara halus dan lembut, ia bahkan menghela nafas sesaat ketika membandingkan membangunkan puterinya nyatanya lebih mudah dibandingkan membangunkan Baekhyun saat ini.

Chanyeol menyibak selimut yang menutupi badan Baekhyun, tidak terlalu kasar namun bisa menjauhkan selimut bagian atasnya dari tubuh Baekhyun, ia lalu menarik kedua kaki Baekhyun untuk berada dipinggir tempat tidur dimana kaki milik Chanyeol bersandar saat ini dan apa yang ia lakukan setidaknya sedikit berhasil agar wanita itu menggeliat dan mulai membuka matanya mengerjap pelan, Chanyeol menundukkan badannya tepat diatas Baekhyun, dengan kedua tangannya yang menyanggah badan besar miliknya—dari jarak saat itu jelas ia bisa melihat wanita dibawahnya tengah menguap pelan dan mengusap kedua matanya untuk bisa sepenuhnya sadar.

"Aaaahh ini masih pagi..." Baekhyun masih menggeliat berusaha mencari selimut, belum menyadari posisinya kini tengah terkunci dibawah Chanyeol.

"Bangun Baekhyun.." Chanyeol berucap, masih memperhatikan. Dengan keadaan mereka yang sangat dekat, seharusnya Baekhyun cukup sadar bahwa pria itu kini berada diatas badannya, tak berapa lama, Baekhyun terdiam kaku, membuka matanya pelan dan berkedip cepat ketika retinanya menangkap jelas wajah Chanyeol berada tak jauh dari wajahnya—dan ia perlu ingat.. ia baru saja memperlihatkan wajah bantalnya pada pria lain.

"KYYAAAAAAAAAAA!"


LOVELESS


Pada akhirnya acara 'mari membangunkan Baekhyun' berakhir dengan suara amukan dari Baekhyun yang merasa kaget karena Chanyeol berada tepat diatas badanya dan juga lenguhan Chanyeol karena ia tersungkur dengan sebuah tendangan hampir mendarat pada selangkangannya dan juga suara kikikan Chelsea yang terhibur melihat Baekhyun ketakutan diatas ranjangnya dan sang Daddy-nya tersungkur seorang diri diatas lantai, menahan sakit.

Tapi setidaknya.. Baekhyun terbangun. Dan menyadari waktu pada saat itu, ia bergegas masuk kekamar mandi yang baru ia sadari bukan kamar mandinya—tapi ia tetap tidak peduli.

Sementara Chanyeol, dibantu puterinya yang masih tertawa melihat dirinya kesakitan, akhirnya duduk pada kursi makan dengan sebuah pack es batu yang ia pegangi sedari tadi mengompres bagian pangkal pahanya.

"Daddy kenapa bisa jatuh..." Chelsea masih terkikik, anak itu sudah susah payah meredam suara tawanya ketika melihat wajah Chanyeol yang meringis kesakitan namun hal itu adalah pemandangan langka baginya dan tidak mungkin bisa dilewatkan sedikit pun.

Chanyeol tidak menjawab, masih berusaha fokus menghilangkan rasa sakitnya, tapi juga tetap mengatur sarapan buat Chelsea dan juga dirinya, sambil menunggu Baekhyun yang masih menikmati acara mandinya.

"Chelsea mau menunggu Baekhyunnie." Chelsea menyangga wajahnya, memperhatikan Chanyeol disana. "Daddy.. Baekhyunnie cantik tidak?" dan pertanyaan yang tiba – tiba ditanyakkan padanya jelas mengalihkan rasa sakit dari apa yang ia rasakan.

"Ke-kenapa?" Chanyeol gugup? Tidak. Ia tidak gugup. Ia hanya meringis menahan sakit dan juga dingin dari es batu yang ia pegang.

"Daddy lihat.." Chelsea memberikan ponselnya, menunjukkan foto dimana ia dan Baekhyun yang tengah tidur sebelumnya. "Chelsea dan Baekhyunnie.. wajah tidurnya lebih cantik mana? Chelsea atau Baekhyunnie?" anaknya menanyakkan lagi.

Dan sang Daddy disana terdiam dalam diam dan pandangan yang tidak terlepas dari foto yang Chelsea tunjukkan, foto kedekatan antara Chelsea dan Baekhyun dan bagaimana mereka yang saling memejamkan mata bersama adalah pemandangan yang belum pernah ia lihat sama sekali, dan keduanya nampak manis bersamaan.

"Dua – duanya cantik." Chanyeol menjawab adil, tidak mau puterinya akan merasa kalah hanya karena sebuah foto.

"Berarti Baekhyunnie cantik." Chelsea masih meminta sebuah jawaban pasti.

"Chelsea dan Baekhyunnie cantik." Lagi Chanyeol menjelaskan secara tersirat, inginnya menjawab kata iya tapi ia tetap memikirkan puterinya yang lebih baik dipuja saat ini dibandingkan mengungkapkan keinginan dalam hatinya.

"Baekhyunnie lebih cantik Daddy.." Chelsea menjawab masih dengan nada riang, ia menggeser layar ponselnya dan menunjukkan foto lain kali ini hanya Baekhyun seorang diri yang terlihat tidur disana, matanya terpejam rapat namun bibir merah muda yang berwarna alami adalah apa yang Chanyeol fokuskan saat ini. Dan Chanyeol tidak bisa lagi membantah karena dalam hatinya ia juga memiliki jawaban yang sama dengan Puterinya.

"Baekhyunnie!" suara teriakan Chelsea menyadarkan lamunan Chanyeol, pandangan matanya kini terpaku pada sosok Baekhyun yang terlihat lebih menawan dengan gaun formal berwarna pastel yang ia kenakan untuk interview pagi ini, wajah bantal yang Chanyeol pandangi sebelumnya bahkan sudah dihiasi dengan polesan riasan wajah dan kembali Chanyeol membatin bahwa Baekhyun memanglah cantik. Bukan hanya cantik dengan riasan, tapi Baekhyun memang cantik secara alami dan itu lah alasan jantungnya berderu menggebu hanya karena kehadiran Baekhyun di dekatnya.

"A-apa masih sakit?" Chanyeol bahkan tidak sadar sejak kapan Baekhyun sudah duduk dihadapannya saat ini.

"Daddy masih melenguh sakit.. kkkk~" Chelsea yang menyahut dan juga masih menertawai kearah ayahnya.

"M-maaf.." Baekhyun mencicit lagi, kali ini raut wajahnya nampak merasa bersalah karena apa yang ia perbuat.

Sementara Chanyeol masih terdiam kaku enggan untuk menjawab apapun karena yang ia rasakan bukan lagi rasa sakit nyeri karena tendangan Baekhyun, ada gelenyar aneh yang ia rasakan dibagian bawah sana, melihat senyuman Baekhyun dan suara wanita yang ada dihadapannya saat ini, belum lagi melihat langsung dalam jarak dekat bentuk tubuh yang dimiliki Baekhyun ketika wanita itu berjalan kesana kemari diarea dapurnya. Yang ada didalam pikirannya adalah, berapa lama ia bisa menahan hasrat dalam dirinya bila mendapati pemandangan menggoda seperti ini.

.

"Aku benar – benar bisa berangkat sendiri kesana—

"No Baekhyunnie! Kita akan mengantar Baekhyunnie untuk intraview—

"In-ter-view Chels.." Chanyeol yang sedari tadi mendengarkan perdebatan didalam mobilnya namun juga fokus mengemudi mengoreksi apa yang dikatakan oleh Chelsea.

"In.. tre..

"Ter.." kini Baekhyun yang akhirnya mengoreksi, dan bukan lagi dengan suara memprotest seperti yang sudah ia katakan sepanjang perjalanan menuju lokasi dimana ia akan tuju. "In-ter-view." Baekhyun mengulang apa yang Chanyeol ucapkan tapi tidak penuh penekanan seperti yang pria itu katakan.

"In-ter-view?" Chelsea mengulang.

"Nah benar, ulangi dengan lengkap, Interview." Baekhyun menggurui.

"Interview." Chelsea bertepuk tangan memuji dirnya sendiri, dan mengulang – ngulang lagi satu kata baru yang ia dapatkan, Baekhyun bahkan melupakan keinginannya untuk memprotest karena lebih dulu terhipnotis dengan tingkah Chelsea yang riang disampingnya. Sementara bagi Chanyeol yang sedari tadi memperhatikan dan mendengarkan ditempatnya tak juga melepas senyuman kecilnya hanya karena melihat senyuman pada wajah puterinya.

"Apa nama perusahaan yang akan kau datangi?" Chanyeol memberanikan bertanya, sedikit menganggu momen Chelsea dan Baekhyun yang masih saling berbincang – bincang di kursi belakang mobilnya,

"O-oh?" dan Baekhyun tidak siap menjawab secepat yang Chanyeol inginkan.

"Nama perusahan yang akan kau datangi untuk Interview.. perusahaan apa?" Chanyeol mengulang, sedikit menoleh pada Baekhyun sesaat sebelum fokus pandangannya kembali ditujukan pada kondisi jalanan yang kembali mengijinkan mobilnya untuk melaju.

"Temanku hanya mengatakan untuk Interview di kantor head hunternya." Baekhyun menjelaskan.

"Dia tidak mengatakan perusahaan apa?" dan Chanyeol masih menjadi pihak ingin tahu.

"Interior." Baekhyun menjawab singkat. "Perusahaan ini sedang membutuhkan bagian konsultasi design interior.. dan temanku menyarankan diriku—

"Tunggu," Chanyeol kembali memotong. "Kau bekerja didalam dunia design? Kau lulusan design?"

"Hm." Baekhyun mengangguk dibelakang sana, sedikit tersenyum karena Chelsea disebelahnya ikut menyimak dengan kepalanya yang bergerak – gerak sesuai dengan arah suara yang terdengar. "Aku lulusan design, kenapa?" kini ia merasa aneh dengan Chanyeol yang menanyakkan mengenai keahliannya.

"Design Interior?" sementara Chanyeol masih mengucapkan pertanyaan – pertanyaan singkat.

"Sebenarnya aku mengambil fashion design, namun sepetinya aku bisa mencoba bekerja di perusahaan interior ini." Baekhyun menjawab santai tidak memperhatikan bagaimana Chanyeol mencuri pandang mendalam kearahnya.

Setelahnya tidak ada pembicaraan yang melibatkan Chanyeol dan juga Baekhyun, Chelsea kembali mendominasi Baekhyun untuk tetap berbicara dengannya mengenai banyak hal, tapi yang terutama adalah pembahasan mengenai rumah pantai yang akan mereka kunjungi setelah interview yang Baekhyun lakukan saat ini selesai.

Baekhyun sempat menolak kembali ajakan itu, tapi Chelsea adalah perayu cilik yang bahkan rela merengek dan menangis hanya karena Baekhyun berusaha menolak untuk kesekian kalinya, bahkan anak itu mampu mengancam akan mogok ke sekolah bila Baekhyun benar – benar tidak ikut kerumah pantai dan tentu saja hal ini melibatkan Chanyeol kembali didalam perbincangan mereka.

"Aku akan menculikmu untuk ikut dibandingkan menghadapi kenyataan Chelsea akan mogok sekolah." Kalimat final yang dikatakan Chanyeol pada akhirnya mampu membuat Baekhyun dengan berat hati mengiyakan ajakan rumah pantai itu tepat sebelum dirinya pamit untuk undur diri dari mobil menuju gedung yang menjadi lokasinya untuk interview saat ini.

Chanyeol mengatakan ia akan menunggu Baekhyun hingga selesai, pria itu membawa puterinya untuk menunggu disalah satu restoran tepat diseberang gedung dimana Baekhyun melangkah masuk kesana. Ada alasan lain mengapa Chanyeol berniat menunggu Baekhyun, pertama memang ia menginginkannya, kedua, ia memiliki pekerjaan yang harus ia selesaikan dan yang ketiga, ia hanya ingin memeriksan perusahaan mana yang tengah mewancarai Baekhyun saat ini, dan berhubungan dengan Interior Design, Chanyeol berharap penuh bahwa perusahaannya-lah yang tengah mencari kandidat seperti Baekhyun saat ini.

"Daddy.. kenapa Baekhyun tidak bekerja dengan Daddy. Seperti Irene.." bahkan puterinya bisa lebih pintar dibandingkan dirinya saat ini. Meskipun sedari tadi anak itu disibukkan dengan tayangan video pada ponselnya, tapi apa yang dikatakan oleh mulut kecilnya sudah pasti dianggap sebuah pemikiran cerdas oleh Chanyeol saat ini.

Chanyeol tidak bisa memberikan jawaban untuk pertanyaan itu, dirinya memilih diam dan memusatkan semua perhatiannya pada layar laptop dihadapannya—bekerja atau tidak? Siapa yang tahu.

.

Interview yang ia hadiri tidak memakan waktu begitu lama, suasana yang hangat dan bersahabat menjadikan waktu tiga jam lamanya tidak begitu dirasakan ketegangan seperti interview – interview sebelumnya yang pernah ia lakukan. Namun ada hal lain yang membuat ia merasa gundah saat ini, mengingat bahwa Chanyeol dan juga Chelsea benar – benar menunggu dirinya membuat langkah kakinya bergerak cepat menyusul dimana kedua orang itu berada, dan ia juga berharap penuh kedua orang itu tidak merasa bosan karena menunggunya.

Pada akhirnya, apa yang ia lihat berbeda jauh dengan apa yang dipikirkan Baekhyun, Chanyeol nampak terlihat serius memandangi layar laptopnya—sementara yang ia pikirkan dalam kepalanya, mungkin saja pria itu tengah menunggu dan larut dalam kebosanan. Hal itu juga berlaku dengan Chelsea, Baekhyun sempat berpikir mungkin anak kecil itu akan mengantuk dan nampak lelah menunggu tapi yang ia dapati adalah pemandangan gadis kecil itu tengah menikmati santapan es krim di mejanya, Chelsea bahkan nampak menikmati musik yang tengah didengarnya terlihat dengan earphone yang menggantung di lehernya.

Senyuman kelegaan nampak diwajahnya dan itu juga membuat langkahnya lebih santai menyusul dimana meja Chanyeol dan Chelsea berada saat ini.

"Hai.." Baekhyun menyapa lebih dulu, tepat ketika berada disebelah Chanyeol, mengusap bahu pria itu yang nampak tegang duduk disana dan juga memberikan senyuman hangatnya yang seketika membuat Chanyeol ikut membalas senyumnya.

"Hai, bagaimana—

"Baekhyunie!" Chelsea lebih dulu memotong sapaan Chanyeol, "Baekhyunnie sudah selesai?" anak itu melupakan es krimnya dan turun dari tempat duduknya untuk menghampiri Baekhyun.

"Um, sudah selesai." Baekhyun menyahut, mengusak rambut Chelsea dan membawa anak itu untuk duduk disebelahnya. "Tidak mau menghabiskan es krimnya?" Baekhyun mengingatkan pada Chelsea dan sontak anak itu nampak kaget karena sempat mengabaikan makanan kesukaannya, Chanyeol yang memperhatikan pun nampak tertawa sesaat dan memindahkan tempat es krim yang dipesan pada sisi dimana Chelsea duduk saat ini.

"Kau mau pesan sesuatu?" Chanyeol berucap tanpa lagi melihat keatrah Baekhyun yang tengah mencuri pandang kearah pria itu karena kini sosoknya tengah fokus pada layar laptop dihadapannya dan tak lagi memperhatikan dirinya. "Pesanlah apapun yang kau mau, aku masih ada pekerjaan." Chanyeol menjelaskan lebih lengkap dan Baekhyun mengiyakan dan langsung melihat pada buku menu yang sudah disodorkan oleh Chelsea.

"Baekhyunnie lapar? Milkshake strawberry-nya enak, Chelsea mau pesan lagi.." anak itu menunjukkan gambar – gambar disana membuat pandangan Baekhyun teralihan untuk tak lagi memperhatikan Chanyeol yang tengah serius disana.

Dan satu – satunya pria dewasa disana bahkan tak sedikitpun terusik oleh kicauan dua orang perempuan didekatnya karena menyelesaikan pekerjaan yang ia miliki lebih diutamakan dibandingkan ikut dalam perbincangan yang dimiliki oleh Chelsea dan Baekhyun.

Baekhyun tak lagi memiliki niatan untuk menanyakkan apakah Chanyeol sesibuk itu hingga pria itu bahkan tidak menikmati kopi yang dipesan dan juga chocolate mousee yang masih dalam keadaan utuh disamping tangannya, ia memilih menemani Chelsea yang asyik dengan tontonan film di ponselnya dan juga menikmati pesanan makanannya yang baru saja datang. Chicken steak dan juga milkshake strawberry—khusus untuk minuman ini ia akan menikmatinya dengan Chelsea, ya puteri Chanyeol satu itu nampaknya ketagihan dengan rasa minuman yang sudah ia habiskan sebelumnya.

"Baekhyunnie coba.." Chelsea memindahkan minumannya kearah dekat Baekhyun, mengambil sedotan yang lain dan mereka berdua meminumnya disaat bersamaan hingga keningnya mereka nampak bersentuhan. Dan keduanya saling tertawa kecil memperhatikan satu sama lain.

"Daddy suka mengajak Chelsea meminum milkshake seperti itu.." Chelsea melebarkan senyumannya, dan Baekhyun tak bisa lagi menahan rasa ingin tertawanya karena melihat bibir gadis kecil dihadapannya penuh dengan white cream.

"Okey.. kau harus membersihkan mulutmu Princess." Baekhyun mengambil tissue dan langsung membersihkan sisa – sisa white cream disana, sementara Chelesea dengan senang membiarkan wanita dewasa itu membersihkan dan memberikan perhatian padanya karena ini pertama kalinya orang lain melakukan hal itu untuk dirinya—selain ayahnya.

Awalnya Chanyeol memang tidak memperdulikan apa yang dilakukan dua orang perempuan didekatnya, namun mendengar suara tawa riang Chelsea dan juga suara Baekhyun yang selalu menyahuti apapun yang ditanyakkan dan juga yang diminta oleh puterinya, perhatian kembali terpecah dan itu sulit untuk ia hindari hingga pada akhirnya pandangannya kini sedikit terarah pada mereka berdua yang tengah berbagi makanan.

Chanyeol paham puterinya memang dekat dengan Baekhyun karena mungkin hanya Baekhyun yang ia kenal sejak mereka tiba di New York, namun ia tidak mengira bahwa kedekatannya itu berhasil membuat Chelsea lebih bahagia dibandingkan sebelumnya.

Chelsea tidak pernah mau berbagi makanan atau pun menerima suapan makanan dari orang lain kecuali Kyungsoo dan neneknya, Irene bahkan perlu memohon berulang kali agar anak itu mau disuapi olehnya. Namun saat ini, tanpa harus memohon berulang kali, Chelsea mau menerima suapan makanan dari Baekhyun, dan itu bukan hanya sekali.

"Enak?" Baekhyun menanyakkan pada Chelsea dan anak itu mengangguk, memperhatikan bagaimana tangan – tangan cantik milik Baekhyun memotong bagian ayam lainnya dan siap untuk kembali disuapi padanya.

"Baekhyunniie..Chelsea mau ini." tanganya menunjuk pada bagian mashed potatoyang masih terlihat utuh disisi piring,

"Okey.. habiskan ini.. nanti Baekhyunnie suapi lagi." Baekhyun mengiyakan, siap memberikan suapaan garpu yang sudah terdapat potongan dagingnya, Chelsea mengangguk setuju, membuka mulutnya dengan lebar untuk menyambut suapan yang Baekhyun lakukan, dan mereka berdua tidak menyadari bahwa satu –satunya pria disana tengah memperhatikan dengan seringai senyuman di wajahnya.


LOVELESS


"Daddy apa masih lama?"

"Sebentar lagi.."

"Daddy menjawab seperti itu sedari tadi.. tapi tidak selesai – selesai."

"Iya sayang.. sebentar lagi.. daddy harus mengirimkan e-mail ini dan kita langsung pergi." Chanyeol meyakinkan kembali puterinya yang sudah mulai merasa bosan menunggu diirnya menyelesaikan satu pekerjaan yang ia kerjakan sedari tadi.

"Kita belum membeli pakaian renang baru untuk Chelsea.. Chelsea mau hari ini berangkat ke rumah pantainya! Daddy ayooo!" lagi, rengekkan puterinya terdengar, namun saat ini Chelsea sudah berada disampingnya guna menyusup keatas pangkuannya agar fokusnya teralihkan dan menutup layar laptop yang ia gunakkan.

"Chels.. sebentar lagi sayang." Chanyeol masih berusaha membujuk kesabaran puterinya, ia mengecup kening Chelsea dan membenarkan duduk puterinya itu agar tidak menghalangi pandangannya.

"Daddy.. ayo.. Chelsea mau pergi sekarang.." tapi usahanya jelas sia – sia karena keinginan Chelsea untuk pergi dari tempat itu lebih tinggi dibandingkan harus bersabar kembali menunggu. "Chelsea mau beli baju renang.. Daddy janji tadi.."

"Iya sayang.. sebentar lagi.. Daddy harus mengganti gambar ini dulu." Chanyeol masih sabar menyahuti dan terus melanjutkan pekerjaannya, tak terusik akan gerakkan badan Chelsea yang melompat – lompat dipangkuannya.

"Daddy! Ayo!"

"Chels—diam sebentar.. sayang." Chanyeol masih memberikan ciuman di kepala Chelsea, tapi kini tangannya melingkar pada perut anaknya guna menahan anak itu untuk kembali melompat – lompat seperti sebelumnya.

"Dadddyyyy~ ayo pergi—

"A-aku bisa mengantar Chelsea dulu untuk membeli baju renang." Suara Baekhyun yang sedari tadi tidak terdengar akhirnya bergabung diantara percakapan ayah dan anak itu. Chanyeol bahkan seketika menghentikkan kerja tangannya hanya untuk melihat kearah Baekhyun dan memastikan pendengarannya tidak salah.

"Daddy.. Chelsea pergi dengan Baekhyunnie ya!" dan sebelum Chanyeol merespon apa yang dikatakan oleh Baekhyun, puterinya lebih dulu menangkap maksud arti dari ucapan Baekhyun. "Daddy selesaikan pekerjaan Daddy disini.. Chelsea dan Baekhyunie pergi membeli baju renang." Anaknya bahkan bisa menjelaskan lebih rinci dengan baik.

Baekhyun bahkan tersenyum dan mengangkat bahu kearah Chanyeol karena pandangan pria itu jelas menanyakkan kembali kearahnya.

"Aku juga mulai bosan disini.. jadi lebih baik kami berdua pergi, untuk menghemat waktu."

"Baekhyun bosan dengan Daddy." Chelsea menyimpulkan singkat, dan kini menurunkan badannya untuk kembali kearah Baekhyun yang tengah berdiri, bersiap – siap untuk pergi.

"Okey okey.." Chanyeol menyahuti, merasa dirinya disindir secara langsung oleh anaknya, dan sedikit setuju dengan apa yang ditawarkan oleh Baekhyun. Pria itu mengeluarkan balck cardnya dan juga memberikan kunci mobilnya pada Baekhyun. "Pakai ini untuk berbelanja. Aku yakin puteriku akan meminta lebih dari baju renang.. dan kau juga bisa menggunakkan untuk membeli apapun yang kau mau."

Chelsea bertepuk tangan seorang diri disana, sementara Baekhyun menatap bingung kearah kartu hitam yang ada dihadapannya kini.

"A-aku membawa kartu atm." Ia menjawab singkat, bermaksud menolak dengan halus.

"Ya aku tahu, tapi Chelsea, puteriku dan itu berarti kewajibanku untuk membayar apa yang ia beli. Dan percayalah Baek, puteriku tahu bagaimana menghabiskan uang. Jadi, bawa kartu ini. untuk Chelsea dan untukmu." Chanyeol meyakinkan lagi, mengarahkan tangan Baekhyun untuk menerima black cardnya. "Mungkin kau bisa membeli bikini atau pakaian dalam yang seksi—aw!" bisikan Chanyeol belum selesai sepenuhnya diucapkan kearah Baekhyun, tapi pria itu lebih dulu mengeluh sakit karena cubitan pada perutnya.

"Come on Chels! Kita habiskan uang Daddy." Baekhyun mengabaikan Chanyeol dan langsung menarik tangan Chelsea untuk berjalan disampingnya, meninggalkan sang Daddy yang masih melenguh kesakitan ditengah suara tawa kecilnya hanya karena menyukai apa yang Baekhyun lakukan padanya.

..

Harus Baekhyun akui apa yang Chanyeol katakan mengenai puterinya sudah tahu bagaimana cara menghabiskan uang ayahnya adalah benar adanya. Chelsea memang membawa Baekhyun menuju toko yang menjual baju – baju renang, tapi anak itu tak hanya membeli satu baju renang, ia bahkan membeli 3 jenis baju renang dengan model dan warna yang berbeda dan Baekhyun tidak bisa melarangnya. Ia sempat menelepon Chanyeol menanyakkan apakah ayahnya itu mengijinkan dan jawaban yang ia dapati membuatnya memutar bola mata dan menyesal telah bertanya.

"Apapun yang puteriku inginkan, biarkan saja—kita tidak bisa melarangnya."

Dan Baekhyun semakin dibuat tidak percaya ketika ia melakukan pembayaran pada kasir, total dari tiga baju yang dibeli melebihi harga yang ia perkirakan.

"Baekhyunniee.. sekarang kita membeli hadiah untuk Baekyunnie." Belum selesai Baekhyun kembali tersadar, kini Chelsea lebih dulu menarik tangannya untuk keluar dari toko baju renang dan menuju toko – toko lain yang ada di dalam Mall dimana mereka datangi saat ini.

"Baekhyunie mau beli apa? Baekhyunie suka apa?"

"Chels—

"Chelsea mau lihat boneka Barbie!" dan kini Baekhyun lagi – lagi ditinggalkan hanya karena anak itu lebih memilih boneka Barbie dibandingkan mendengarkan dirinya berbicara. Merasa hal ini adalah hal yang salah, Baekhyun memilih menunggu pada salah satu sofa yang ada di mall tersebut dan membiarkan Chelsea masuk melihat – lihat didalam toko Barbie itu hingga anak itu menyadari dirinya tidak ada disana. Baekhyun tetap mengawasi dari tempat duduknya, ia jelas bisa melihat puteri Chanyeol itu memandangi salah satu boneka Barbie dan melihat – lihat pernak pernik hiasan lainnya, dan ada sebuah pemandangan yang membuatnya kembali terenyuh ketika Chelsea memperhatikan ada seseroang anak kecil sesusianya tengah mengajak Ibu-nya untuk mengambil boneka Barbie pada rak disana. Baekhyun bisa melihat wajah Chelsea seketika berubah datar dan langsung menolehkan wajahnya guna mencari dirinya.

Tepat ketika Chelsea melihat kehadiran dirinya tengah duduk di sofa, anak itu lekas berlari kecil, menyusul dimana ia berada dan memakskan senyuman untuk terlihat diwajahnya.

"Baekhyunnie lelah?" Chelsea langsung menanyakkan kearahnya dan Baekhyun menggeleng.

"Sudah melihat –lihat Barbie-nya?" ia menanyakkan,menahan diri untuk tidak membuat Chelsea mengingat pemandangan sebelumnya.

Anak itu mengangguk, menatap kearahnya dengan senyuman kecil, "Belum ada Barbie yang Chelsea suka."

"Chels.." Baekhyun mengusap rambut panjang anak itu dan menariknya untuk duduk lebih dekat dengan dirinya.

"Um."

"Daddy selalu membawamu berbelanja?"

"Um.. Daddy selalu mengajak Chelsea pergi, kita membeli banyak mainan." Chelsea menggerakkan tangannya untuk menggambarkan sebanyak apa mainan yang biasa mereka beli. "Chelsea suka berbelanja dengan Daddy, karena apapun yang Chelsea mau, Daddy pasti mengiyakan, Daddy tidak pernah berkata tidak, tapi kalau nilai Chelsea jelek.. Daddy tidak mengajak pergi Chelsea.." Baekhyun memperhatikan bagaimana raut wajah anak itu berubah menjadi merengut ketika mengingat hari dimana nilainya jelek dan Baekhyun tersenyum disana, memahami bahwa Chanyeol memang memanjakkan anaknya tapi masih ada batasan yang diberikan oleh pria itu.

"Kalau begitu nilai Chelsea jangan pernah jelek, supaya Daddy selalu mengajak Chelsea membeli hadiah." Baekhyun memainkan lagi surai rambut anak itu sebelum lengannya mendekap badan Chelsea dengan erat. Ada perasaan yang menyentuh hatinya untuk menghindari Chelsea mengingat kembali bahwa ia adalah anak yang tak memiliki Ibu dan bahkan tidak tahu bagaimana rasanya kasih sayang dari sang Ibu sejak lahir, dan itu mengingatkan Baekhyun kembali pada kondisi dirinya dan juga sang adikt tepat ketika orang tua mereka bercerai. Kurangnya kasih sayang dan juga merasa berbeda dari anak – anak yang lain adalah hal yang ia benci, dan melihat kondisi Chelsea saat ini, itu membuatnya semakin miris.

"Ayo! Kita belum menghabiskan uang Daddy!" Baekhyun menyudahi pemikiran dan perasaan sendunya, tujuannya yang ada didalam pikirannya adalah membuat Chelsea memiliki pengalaman bagaimana rasanya berbelanja dengan sosok Ibu seperti anak – anak lainnya, maka dari itu ia segera menggandeng tangan Chelsea dan membawa langkah mereka berdua untuk berkeliling dan mungkin berbelanja barang lainnya.

Mereka memasuki setiap toko yang menjual pakaian anak – anak atau bahkan pakaian dewasa, Chelesa bahkan tidak melupakan sedikit pun untuk membawa masuk ke toko – toko yang menjual mainan dan Baekhyun tetap setia mengikuti dan tentu saja hal itu membuat beberapa peugas disana menganggap mereka adalah Ibu dan anak. Chelsea sempat mendengar beberapa petugas memanggil Baekhyun sebagai Mommy-nya dan anak itu tersenyum lebar dengan pipi merona merah bahagian sementara Baekhyun masih merasa malu dan menahan dirinya untuk menyangkalnya.

"Baekhyunnie tidak marah?"

Baekhyun mengernyitkan alisnya mendengar pertanyaan Chelsea secara tiba – tiba kearahnya ketika mereka baru saja keluar dari toko pakaian anak – anak.

"Marah kenapa?" ia membalikkan pertanyaan.

"Um.. itu.. karena tadi.." Chelsea berjalan pelan – pelan, masih menggandeng tangan Baekhyun dan juag memainkan salah satu kantung belanjaan yang ada ditangannya. "Tadi.. mereka.." suaranya terputus – putus dan semakin terdengar seperti bisikkan. "Mereka.. memanggil Baekhyunnie..sebagai.. Mommy Chelsea.." kepalanya semakin menunduk, memilih untuk memperhatikan lantai mamer yang berwarna putih dibawahnya dibandingkan melihat bagaimana wajah Baekhyun yang sesungguhnya tengah tersenyum gemas sedari tadi.

"hmmm.." Baekhyun berdeham, ikut mengayunkan tangannya guna membuat Chelsea kembali memandang kearahnya. "Kenapa Baekhyunnie harus marah Chels?" sahutnya. Baekhyun mengambil langkah lebar dan memutar badannya, sedikit membungkuk agar dirinya bisa memandangi wajah puteri kecil Chanyeol disana, dan memperlihatkan senyuman miliknya supaya Chelsea ikut tersenyum karena sesungguhnya tidak ada hal yang membuatnya sedih. "Mereka tidak tahu apa – apa... jadi biarkan mereka menganggap Baekhyunnie adalah Mommy Chelsea. Arraseo?"

Ucapannya yang Baekhyun katakan tidaklah mendapatkan jawaban dari mulut Chelsea, anak itu lebih dulu memeluk badan Baekhyun dengan begitu erat dan menyembunyikan wajahnya dalam dekapan Baekhyun.

"Chelsea sayang Baekhyunnie.." dan meskipun Chelsea yang memeluk Baekhyun lebih dulu, nyatanya Baekhyun adalah sosok yang berlinang air mata merasakan pelukan erat Chelsea dan ucapan sayang yang sama sekali tidak pernah ia sangka akan diucapkan oleh anak kecil.

"Come on, Mommy butuh ke salon." Baekhyun berusaha tertawa ketika mengucapkannya dan itu menular pada Chelsea yang terkikik ketika mendengarnya.

"Chelsea belum pernah ke salon." Anak itu mengaku.

"Nah, tepat sekali.. ayo!" Baekhyun kembali bersemangat melangkah dan mencari salah satu salon yang ada di mall itu.

...

Ketika Baekhyun mengucapkan keinginannya ke salon saat itu, sesungguhnya ia hanya menginginkan layanan creambath dan juga manicure & pedicure tapi menyadari penampilannya yang terlihat sama sekali tidak fresh. Sontak ia mengatakan pada salah satu petugas salon untuk mengubah model rambutnya. Chelsea mengatakan hal yang sama, namun Baekhyun lebih dulu menolak dan mengatakan rambut anak itu masih terlihat bagus, dan hanya menyarankan supaya Chelsea merasakan layanan creambath dan tentu saja dengan masker rambut Strawberry yang langsung mendapatkan kata iya dengan lantang dari anak itu.

Waktu untuk menikmati di salon adalah waktu terlama bagi setiap wanita, tidak peduli hal apapun yang dilakukan ketika mengunjungi sebuah salon, waktu yang dibutuhkan akan lebih dari 1jam. Dan kali ini, Chanyeol adalah pihak yang menunggu kedua perempuan itu selesa menikmati waktunya disalon. Ia tidak menyusul dimana Baekhyun dan Chelsea berada, karena baginya lebih baik melihat – lihat model jam terbaru dari Rolex dibandingkan menunggu dalam diam di sebuah salon.

From: Baekhyunnie.

Kami sudah selesai, kau dimana?

Chanyeol melihat isi pesan yang masuk dalam ponselnya, tersenyum sesaat dan kemudian mengetikkan balasan dengan cepat.

To: Baekhyunnie.

Kemarilah, aku di toko Rolex.

Chanyeol kembali memandangi barisan jam – jam yang sudah ditawarkan oleh petugas penjual disana sembari menunggu kedatangan puterinya dan juga Baekhyun.

"Daddy eodiseo?"

"Hm, Daddy bilang menunggu di Toko Rolex." Baekhyun yang masih menyelesaikan pembayaran di meja kasir salon menyempati memberikan jawaban pada Chelsea yang tengah menanyakkan kehadiran Daddy.

Selesai proses pembayaran mereka berdua kembali bergandengan tangan sementara pandangan matanya mencari letak dimana toko rolex itu berada, Baekhyun sempat menanyakkan pada salah satu security, dan setelahnya mereka mempercepat gerak langkah demi menyusul dimana Chanyeol berada. Chelsea menjadi pihak yang paling bersemangat, karena ketika matanya mendapati nama toko yang disebutkan oleh Baekhyun sebelumnya, anak itu melepaskan genggaman tangan Baekhyun untuk berlari lebih dulu.

"Daddy!" tanpa memperdulikan orang lain yang berada didalam toko itu, Chelsea berteriak memanggil Chanyeol, masih berlari kecil dan memeluk badan pria itu untuk melepaskan rindu karena terpisah beberapa jam. Chanyeol bahkan tidak melayangkan protest akan apa yang dilakukan oleh puterinya, ia membawa Chelsea dalam gendongannya dan menunjukkan beberapa model jam yang sedang ia perhatikan.

"Rambutmu wangi." Chanyeol teralihkan ketika mencium aroma segar dari Strawberry pada rambut puterinya.

Sementara ada yang tersenyum bangga karena ucapannya, Chelsea menggerak –gerakkan rambutnya disekitar Chanyeol. "Mommy mengajak Chelsea ke salon." dan kini Chanyeol yang dibuat mengernyitkan alisnya merasa aneh mendengar Chelsea menyebut kata 'mommy' dengan raut wajahnya yang biasa saja. "Baekhyunnie hari ini menjadi Mommy Chelsea.." dan puterinya kembali berbisik lebih dekat agar orang lain tidak mendengar apa yang ia katakan.

Chanyeol menggeleng pada awalnya, dan kemudian ia mengangguk menyetujui apa yang Chelsea bisikkan padanya mengingat puterinya tengah tersenyum lebar dihadapannya.

"Hm, dimana Mommy sekarang? Kenapa kau ada disini sendirian hm?"

"Oh?" Chelsea menoleh kebelakang dan mencari sosok Baekhyun yang belum juga muncul bersamanya, Chanyeol mengusak rambut anak itu dan hendak kembali memilih jam yang akan ia beli, tapi pada akhirnya pandangan matanya lebih menginginkan melihat sosok Baekhyun yang baru saja ia tangkap masuk kedalam toko jam tersebut dengan penampilan yang berbeda seperti sebelumnya. Wanita itu tidak lagi bermahkotakan rambut cokelat pirang seperi perempuan – perempuan New York lainnya, warna cokelat gelap kini menutupi kepirangan itu semua dan dengan potongan rambut yang lebih tidak terlalu pendek, dan bagi Chanyeol, saat ini Baekhyun lebih terlihat original dibandingkan sebelumnya.

"Belum selesai?" Baekhyun menjadi pihak pertama yang menyapa, berdiri disamping Chanyeol dan melihat pemandangan jam – jam mahal tersebut sementara sang pria yang ia ajak bicara kini masih memandangi dirinya.

"Mommy cantik 'kan Dad?" suara Chelsea yang menjelaskan keadaan Chanyeol disana, menggoda ayahnya yang masih membuka mulutnya memandangi Baekhyun. Sementara wanita yang dipandangi masih menahan diri menahan tawa dan malu dan juga enggan untuk memperlihatkan wajahnya pada pria disampingnya.

"Hm.. Mommy cantik." Chanyeol menjawab yakin, mencium pipi Chelsea sebentar dan meminta petugas penjual untuk membungkus dua jam yang ia pilih dengan cepat.

Baekhyun masih menjaga jarak dengan Chanyeol, namun ia menyodorkan kembali black card milik Chanyeol pada pria itu sebagai maksud mengembalikan dan juga agar Chanyeol bisa membayar jam tangan yang baru saja dibeli olehnya.

Namun pria itu menahan tangan Baekhyun, "Pegang dulu." Tolaknya dengan suara berat nan lembut sebagai ciri khasnya, "itu untuk Chelsea dan.." pandangannya terkunci pada wajah Baekhyun. "dirimu."

Kini mereka saling memandang satu sama lain dan Chanyeol menyeringai melihat wajah bingung Baekhyun dihadapannya dan juga keinginan dalam hatinya untuk bisa mencium bibir merah muda yang tengah terbuka sedikit disana menahan kalimat sahutan akan apa yang Chanyeol ucapkan sebelumnya.

"Ya—apa maksud—mu." Chanyeol lebih dulu meninggalkan dirinya dan melangkah ke sisi lain hendak membayar dua jam tangan yang baru ia beli, Chelsea tak mengikuti dan Baekhyun seakan – akan dibuat bingung karena ia masih ingin menanyakkan kejelasan dari apa yang Chanyeol katakan namun juga tidak mau meninggalkan Chelsea seorang diri dengan barisan jam tangan yang masih berada diatas laci kaca disana.

Chelsea mengajak Baekhyun bicara mengenai mengapa bentuk jam – jam yang ada disana hampir sama, dan mau tak mau pikiran Baekhyun teralihkan oleh suara anak itu sampai Chanyeol menghampiri mereka dan mengajaknya untuk keluar dari toko tersebut.


LOVELESS


"Aku suka rambutmu sekarang." Chanyeol memuji penampilan Baekhyun yang kini memiliki rambut berwarna hitam.

Ia berniat memulai pembicaraan diantara mereka, mengingat semenjak mereka melangkah keluar dari toko Rolex, pembicaraan yang terjadi hanya melibatkan Chelsea dan Chanyeol atau Chelsea dan Baekhyun, sementara dua orang dewasa lainnya hanya saling memandangi satu sama lain dan tidak ada yang berani untuk memulai untuk berucap lebih dulu hingga akhirnya mereka ada di mobil yang melaju menuju kembali ke apartemen.

"Daddy.. sekarang Baekhyunnie lebih cantik 'kan?" Chelsea lagi – lagi menjadi pihak yang aktif menyahuti.

"Hm, Baekhyuniie lebih cantik." Chanyeol menyetujui, menoleh kearah Baekhyun yang masih diam dan hanya memandangi Chanyeol atau Chelsea secara bergantian.

"Chelsea juga cantik 'kan?"

Chanyeol tertawa kecil sebentar dan kemudian menoleh pada puterinyan yang duduk di kursi belakang dan tengah menikmati cheesestick yang ia minta sebelum mereka kembali pulang.

"Hm.. Chelsea cantik, tapi Baekhyunnie lebih cantik." Chanyeol menggoda kedua perempuan disana, Chelsea merengut kesal mendengar jawabannya sementara Baekhyun mengumpat dalam gerak mulutnya karena Chanyeol tak hanya mengatakan kalimat itu, jari pria itu juga turut andil bergerak menyubit pipi Baekhyun.

"Ya.. kau belum menjawab tadi, ini.." Baekhyun menyerahkan lagi black card milik Chanyeol dan ia langsung memberikannya pada tangan Chanyeol. "Aku kembalikan. Aku tidak mau menggunakkannya lagi." penjelasannya singkat serta tangannya yang bergerak cepat saling menyilang hingga tak bisa untuk menerima kembali kartu itu ditangannya.

Chanyeol pun tidak langsung mengamankan kartu miliknya, ia hanya menoleh pada Baekhyun sesaat dan menyeringai memperhatikan Baekhyun kini tengah mengacuhkannya.

"Apa saja yang kau beli hari ini?" pertanyaan lainnya ia tanyakkan.

Merasa Chanyeol tidak lagi memaksa dirinya menyimpan kartu itu, wajahnya kini kembali melihat kearah Chanyeol, memperhatikan pria itu yang tengah serius mengemudi namun tetap bisa melihat kearahnya meskipun hanya sebentar.

"Chelsea membeli baju renang. 3." Baekhyun memberikan perincian, "Lalu dia membeli beberapa pakaian baru, dan juga tas untuk sekolahnya." Baekhyun melihat kearah Chelsea yang mendengarkan dibelakang dan kini tengah tersenyum lebar ketika Chanyeol ikut melihat. "Dia membeli beberapa mainan—oh—aku membeli pakaian yang serupa dengan Chelsea. Dan selebihnya kami ke salon."

"Hanya itu?"

"Hm."

"Kau tidak membeli hadiah untukmu?"

Baekhyun menggeleng.

"Baekhyunnie tidak mau Dad." suara anaknya yang menyahut.

"Kenapa?" Chanyeol memburu jawaban sementara Baekhyun tengah menggigit bibirnya, memikirkan penjelasan yang akan ia katakan sebagai jawaban kepada Chanyeol.

"Aku tidak tahu membeli apa.." singkat jawaban yang ia berikan justru semakin membuat Chanyeol merasa aneh dan menganggap itu bukanlah jawaban yang ia dengar.

"Berarti kau tidak membeli bikini?" Chanyeol bergurau, menyeringai menggoda wanita disampingnya kini dan menyempati mencubit pipi Baekhyun meskipun harus susah payah karena Baekhyun lebih dulu menghindari tangan Chanyeol disana.

Tanpa terasa mobil yang mereka kendarai tiab didepan gedung apartemen dan teriakkan Chelsea mengenai rencana ke rumah pantai terdengar lebih nyaring terdengar sebelum Chanyeol mengatakan agar anak itu merapikan boneka mainan yang akan dibawanya. Puterinya itu juga telah menarik Baekhyun untuk melangkah lebih cepat meninggalkan Chanyeol dibelakang sana membawa barang – barang belanjaan.

Keinginan Chelsea untuk membawa Baekhyun kerumah pantai benar – benar dianggap serius, karena anak itu bukan hanya menarik Baekhyun untuk segera bersiap membereskan barang – barang milik wanita itu yang akan dibawa, Chelsea juga berjaga dan menemani Baekhyun wanita itu menyiapkan semuanya sementara anak itu duduk manis diatas ranjang dan memperhatikan barang apa saja yang akan dibawa oleh Baekhyun pada tas travellnya. Dan meskipun Baekhyun mengatakan pada anak itu untuk kembali dan mempersiapkan barang – barangnya miliknya, Chelsea tetap menolak dan mengatakan bahwa Daddy-nya yang akan menyiapkan semuanya.

Baekhyun tidak bisa lagi membantah bukan?

Tapi apa yang dikatakan Chelsea memang benar. Semua keperluan anak itu memang disiapkan langsung oleh Chanyeol, ketika Baekhyun telah selesai menyiapkan barang – barangnya dan menyusul Chanyeol keapartemen pria itu, ia jelas melihat segala perlengkapan Chelsea sudah berada dalam tas tersendiri. Dan anak perempuannya hanya masuk kamar untuk mengambil boneka apa yang akan ia bawa untuk berpergian kali ini.

Mereka kembali turun menuju mobil dengan tujuan kali ini adalah bandara, sempat Baekhyun berpikir kenapa mereka harus ke bandara karena ia hanya berpikir mungkin rumah pantai yang Chelsea bicarakan adalah di Hamptons—masih terjangkau dengan mobil dari New York. Namun ketika Chanyeol menjelaskan bahwa rumah pantai miliknya adalah di Los Angeles, iya hanya mengangguk paham dan kembali menanyakkan mengenai tiket pesawat untuk kesana—melupakan kenyataan bahwa kini ia tengah berbicara dengan seorang pemilik sebuah perusahaan.

"Ini pesawatmu?" Baekhyun menatap takjub melihat pemandangan pesawat yang tengah terparkir didalam garasi pesawat di Bandara JFK New York.

"Ani.. ini pesawat kantor Daddy." Puteri Chanyeol lebih dulu menyahut dan Chanyeol? pria itu hanya tersenyum kecil mengabaikan tatapan Baekhyun yang tengah memperhatikan dirinya dengan wajah yang penuh dengan pertanyaan.

"Simpan dulu pertanyaanmu, dan lekaslah naik kepesawat itu." Chanyeol menggerakkan kepalanya, mengisyaratkan wanita itu untuk turun dari mobilnya.

Dan lagi – lagi Baekhyun dibuat takjub dengan kondisi didalam pesawat itu, jelas ia tahu model pesawat pribadi seperti yang Chanyeol miliki—Perusahaan miliki adalah jenis pesawat mahal, dilihat dari bentuk kursi pesawat yang nampak sangat nyaman bila ia duduki dan juga interior didalam ruangan itu, menunjukkan betapa mahalnya harga pesawat ini.

Chelsea membawa Baekhyun untuk duduk di kursi sebelahnya, anak itu bahkan menunjukkan fasilitas yang ada pada kursi mereka, mengatur kemiringan untuk membuat nyaman wanita itu dan juga meminta berbagai makan dan minuman pada pramugari yang bertugas saat itu. Dan untuk Chanyeol? pria itu memilih duduk seorang diri, membuka kembali laptopnya untuk melanjutkan pekerjaannya dan juga mencuri dengar percakapanan antara anaknya dan Baekhyun serta sesekali memperhatikan gerak gerik wanita itu.

...

Baekhyun tak menghitung berapa lama perjalanan yang ditempuh dengan pesawat mewah itu karena yang ia tahu, ia baru saja menyamankan duduk di kursi pesawat tersebut namun kini sudah terdengar panggilan dari pilot pesawat bahwa mereka akan segera mendarat di bandara LAX Los Angeles. Perlu diketahui Baekhyun sempat menempuh pendidikan di salah kota itu, dan ia cukup pintar untuk mengingat berapa lama waktu yang seharusnya ditempuh dari New York menuju Los Angeles. Tak hanya itu, Ia bahkan masih bisa mengingat perjalanan yang tengah ia lalui saat ini dengan mobil Chanyeol adalah menuju kawasan perumahan elite yang memiliki akses langsung dengan Pantai di Los Angeles—dan ingatannya tidak salah.

Ketika mobil Chanyeol mulai melewati beberapa kawasan perumahan, matanya bahkan bisa melihat jelas secara langsung garis pantai yang nampak jelas dari dalam mobilnya dan Chanyeol memang mengarahkan mobilnya pada salah satu rumah yang kini berada tak jauh didepannya.

"Rumah Pantai!" Chelsea lebih dulu berteriak, mengangkat badannya untuk bisa berdiri di mobil jeep yang mereka naiki saat ini.

"Sampai." Chanyeol berucap disaat ia mematikan mesin mobilnya dan bersiap untuk turun sementara Baekhyun masih tercengang karena apa yang ia pandangi. Rumah berjenis villa dengan sepenuhnya interior luar nampak penuh dengan kaca – kaca besar dan bisa ia pastikan rumah yang ada dihadapannya saat ini adalah rumah berukuran paling besar dibandingkan rumah – rumah lain yang ada didalam satu komplek elite ini.

Chanyeol lagi – lagi tersenyum melihat Baekhyun yang tengah melamun memandangi keadaaan rumah pantai-nya.

"Masuklah, lebih indah memandanginya dari dalam." Ajakannya membawa tangan Baekhyun untuk turun dari atas mobil dan mereka berdua melangkah bersama menyusul Chelsea yang lebih dulu merasakan kegirangan karena bisa kembali menikmati waktu menginap dirumah ini.

"Baekhyunniee.. look look.. kita punya pantai sendiri!" anak itu menunjuk kearah teras dari belakang rumah ini dan benar – benar memiliki akses masuk ke pantai disana, Chelsea segera melepas sepatu dan juga pakaiannya dan menggantinya dengan pakaian renang yang baru ia beli, berlari meninggalkan Chanyeol dan juga Baekhyun yang masih berdiri dan hanya memperhatikan satu sama lain.

"Welcome home!" Chanyeol memberikan ucapan selamat datang masih menyeringai kearah Baekhyun dan membawa barang – barang milik mereka menuju satu kamar yang hanya memang tersedia satu di rumah itu.

Baekhyun belum mau menanyakkan banyak hal karena keinginan untuk mengelilingi rumah yang dimiliki Chanyeol saat ini lebih meluap dalam hasratnya.

"Kau benar – benar pemilik rumah ini?" Baekhyun memastikan, dann Chanyeol menjawab dengan anggukkan. "Ini rumah pertama yang aku bangun." Ia menjelaskan lebih panjang.

"Kau membangun rumah ini?" lagi Baekhyun tercengang dibuatnya, dan Chanyeol masih menjadi pihak yang tertawa lebar memperhatikan bagaimana Baekhyun dibuat heran karena letak rumah dan juga bangunan yang dimiliki dari 'rumah pantai' yang ia miliki.

"Kakakku menyukai LA, ketika aku berkuliah disini dia mengatakan agar suatu saat aku bisa membeli salah satu rumah dikawasan elite ini.. dan ya.. aku membelinya lalu membuatkan rumah untuknya seperti ini." Chanyeol menunjuk sekelilingnya.

"Kakakmu?" suara Baekhyun terdengar ragu untuk menanyakkannya.

"Ya.. kakakku."

Chelsea's mom.

Baekhyun seketika terdiam, ingin mulutnya berucap untuk menanyakkan hal lain namun ia ragu Chanyeol mengijinkan dirinya mengetahui lebih banyak hal mengenai masalah mereka. "A-apa ia menyukai.. rumah ini?" Baekhyun mengalihkan pertanyaan lainnya namun yang ia dapati Chanyeol berdiri dalam diam dan memandang kosong kearahnya. Dan seketika suasana kembali menjadi canggung karena Baekhyun tak tahu harus mengatakan hal apa lagi untuk membuat suasana kembali normal.

"Daddy!" suara Chelsea akhinrya memecah keheningan mereka, "Daddy kolam air panasnya tidak bisa.." anak itu merengek dan menunjuk kolam kecil yang ternyata dimiliki oleh rumah itu, dan itu tepat berada diteras mereka.

Chanyeol mengalihkan suasana dan menyusul Chelsea pada kolam itu, memeriksa bagian power dari kolam itu dan juga memastikan air yang ada dikolam itu kini berubah menghangat seperti apa yang menjadi fungsinya. "Nah, sudah. Jangan lama – lama berendam, kita baru datang disini." Chanyeol menggendong Chelsea dan membawa anak itu untuk masuk kedalam kolam Jacuzzi dan sesudahnya melengang masuk untuk mengganti pakainnya.

Baekhyun masih merasa canggung karena pembicaraan terakhir yang ia dan Chanyeol lakukan, dan kini dirinya memilih menyusul Chelsea dan menonton bagaimana anak itu menikmati acara berendam didalam Jacuzzi lalu setelahnya menarik tangannya untuk keluar dari rumah itu menuju pantai yang terpampang dekat dibelakang rumah itu.

"Baekhyunniieee ayo bermain didalam air!" Puteri Chanyeol itu meninggalkan Baekhyun dibelakangnya sementara dirinya berlari cepat untuk menerjang ombak kecil yang tengah menuju kearahnya.

Baekhyun memperhatikan gerak gerik gemas dari apa yang Chelsea lakukan bermain di pantai, membiarkan badannya terguling ombak atau terdorong hingga tersungkur dipasir. Memandangi Chelsea disana membuatnya pemikirannya mengenai mendiang Yoora dan juga bagaimana perasaan Chanyeol terhadapat itu semua sirna.

Tanpa membuang waktu lama atau pun memperdulikan tatapan mata orang lain disekitarnya, perlahan dan pasti Baekhyun menanggalkan satu per satu pakaian dan juga setelan celana yang ia kenakkan menyisakan pakaian dalamnya. Langkah kakinya bergerak cepat menyusul dimana Chelsea menikmati bermain dengan air pantai disana.

...

Chanyeol tengah memikirkan mengatur tempat tidur dalam ruangan kamar yang hanya satu – satunya berada dirumah itu. Ia memang sengaja membuatnya demikian karena tidak pernah membayangkan akan membawa seseorang wanita lain—atau siapapun—kedalam rumah pantai ini.

Tapi pada akhirnya ada satu wanita yang berada disini, saat ini.

Masih berada didalam ruangan kamar yang menampakkan pemandangan langsung pantai disana nyatanya tidak cukup mengalihkan fokus Chanyeol mempersiapkan segala selimut dan juga bantal tambahan pada ranjang yang memang berukuran cukup besar dan nampaknya bisa ditiduri hampir 4 orang dewasa. Fokusnya bisa dialihkan ketika mendengar lengkingan tawa suara wanita yang ia kenal dan juga kikikan teriakan Chelsea diluar sana yang dianggap Chanyeol adalah hal yang tidak wajar karena itu adalah pertama kalinya ia mendengar suara Chelsea seperti itu.

Gerak tangannya ia hentikkan, langkahnya bergerak menuju pintu jendela diujung kamar itu untuk terbuka dan membawa dirinya keluar untuk melihat secara langsung dan lebih jelas apa yang tengah dilakukan oleh kedua perempuan berbeda usia disana.

Senyumannya terlihat pada wajahnya ketika mendapati pemandangan wanita dewasa yang mengenakkan pakaian dalamnya tengah semangat berlari hanya karena puteri kecilnya bersemangat mengejar disana. Chanyeol bahkan tidak sadar bahwa dirinya ikut tertawa keras mendapati Chelsea tersungkur karena tersandung disana dan kembali berlari dengan wajah dan badan penuh dengan pasir.

"Baekhyunniiiiiiiieeeeeee!" Chanyeol bahkan tidak berniat menolong Chelsea yang tengah berteriak keras namun dengan teriakan tawa diakhirnya saat Baekhyun membawa badan puterinya terhempas diombak.

Ia benar – benar menikmati pemandangan itu dengan seksama dan bahkan tidak menyadari ketika puterinya dan juga wanita yang tengah ia perhatikan sedari itu tengah berjalan kembali untuk masuk kerumah,

"Daddy!" lamunan pandangannya seketika sirna mendapati puterinya tengah bertolak pinggang masih dengan badan penuh pasir. "Daddy tidak menolong Chelsea!" Chelsea merenggut kecewa, memukul badan Chanyeol sebelum ia melangkah marah masuk kedalam guna membersihkan diri, dan Chanyeol masih bisa tertawa disana, hingga ketika Baekhyun melangkah melewatinya senyuman diwajahnya tertahan karena hasrat yang ia miliki semakin kuat melihat lebih dekat bagaimana tubuh wanita yang selama ini ia inginkan berada dalam jarak begitu dekat.

"Apa ada kamar mandi yang bisa aku gunakkan?" tanpa rasa bersalah atau pun merasa canggung Baekhyun menanyakkan kearah Chanyeol, meskipun pandangannya enggan bertatap langsung dengan pria yang tengah memandanginya.

Chanyeol tidak menjawab dibelakang sana, ia masih memusatkan pemandangannya menelusuri setiap bagian dari lekuk tubuh Baekhyun yang tengah memunggunginya saat ini.

"Tidak ada kamar mandi.. lain disini."

"Oh." Baekhyun mengangguk, bergerak canggung mengambil satu handuk yang berada diatas ranjang dengan gerak cepat menutupi bagian tubuhnya. "A-aku akan menunggu Chelsea selesai.. di luar.." kepalanya menoleh sedikit, sementara langkahnya bergerak pelan menjauh sedikit demi sedikit dari langkah Chanyeol yang bergerak lebar menuju tempat berada.

"Kau bisa menunggu.. disini.." Chanyeol lebih dulu menangkan bagian handuk yang mellit di tubuh Baekhyun dan sontak membuat Baekhyun terdiam disana tak berniat untuk melanjutkan langkahnya.

Canggung wajah dan rasa gugupnya Baekhyun tahan sekuat tenaga ketika mendapati aroma maskulin Chanyeol jelas tercium berada dibelakangnya, pegangan erat pada ikatan handuknya semakin kuat bersamaan dengan deru nafas Chanyeol dibelakang sana yang terasa pada bagian leher belakangnya.

"Kau bisa berendam di Jacuzzi.." bisikkan rendah pria itu terdengar menggoda disamping telinganya, salahkan hasrat seksualitas yang Baekhyun miliki saat ini karena meskipun ia tidak menjawab apa yang Chanyeol katakan dengan suara sensual, pergerakkan kepalanya yang mendongak membiarkan leher dan bahunya dijamah oleh bibir Chanyeol bisa dianggap sebagai 'ijin' bagi pria itu untuk melakukan hal yang lebih.

Lalu pada detik berikutnya, kedua mulut mereka tak lagi berucap ungkapan omong kosong. Gerakkan melumat adalah apa yang dilakukan mulut Chanyeol sementara Baekhyun berusah mengikuti pergerakkan pria dominannya diselingi dengan desahan kecil hanya karena sebuah gerakkan pelan pada bagian dadanya dimana ada sebuah tangan yang kurang ajar bergerak melepaskan pakaian dalam yang masih ia kenakkan.

Tapi permasalahannya, Baekhyun menyukai apa yang tengah dilakukan oleh tangan itu.

Chanyeol bahkan tak perlu ragu lagi untuk menarik badan Baekhyun hingga kini berada dihadapannya dengan sempurna, membuat dirinya lebih mudah untuk mencium bibir tipis milik wanita itu dan juga menjamah seluruh lekuk tubuh yang kini sudah berada dijangkauan tangannya. Kali ini ia berharap bahwa puterinya didalam sana menikmati waktu mandi lebih lama seperti biasanya karena apa yang ia butuhkan hanyalah waktu berdua dengan Baekhyun untuk menuntaskan hasrat seksual mereka berdua yang diyakini tak lagi bisa ditahan untuk kesekian kalinya.

"Umm.." desahan kecil jelas terdengar dan itu bersumber dari Baekhyun yang tengah menggeliat membiarkan Chanyeol membuka pakaian dalam yang menutupi bagain intim bawahnya dengan gerakkan tangan yang sangat lihai dibandingkan pria – pria lainnya. Ciuman Chanyeol bahkan sungguh membuatnya terbuai begitu cepat dan tak menyadari mereka berdua kini tengah terbaring diatas ranjang dan tentu saja Chanyeol berada diatasnya, mencumbu bagian tubuh Baekhyun dengan menggila namun tetap bekerja cepat menanggalkan celana yang ia kenakan.

"Chelsea bisa keluar kapan saja." Baekhyun bermaksud memperingati, tapi ucapannya berbanding terbalik dengan apa yang ia lakukan. Merangsang Chanyeol dengan tangannya yang memompa terburu – buru kejantanan pria itu agar siap untuk memasuki dirinya dan juga tak berhenti mencium bibir tebal Chanyeol.

"Berdoa ia sibuk bermain dengan air." Chanyeol membalas singkat, kembali mencium, mencumbu atau bahkan menjilati bagian dada wanita itu hanya untuk membuat Baekhyun terangsang olehnya.

Baekhyun menggeliat dengan desahan yang tertahan dalam ciuman Chanyeol ketika merasakan milik Chanyeol sudah melesak masuk kedalam miliknya secara tiba – tiba. Chanyeol tidak langsung bergerak untuk melesakkan miliknya lebih dalam, ia bahkan tidak mencium Baekhyun disana, pandangannya matanya tertuju pada wajah Baekhyun hanya untuk memastikan wanita yang tengah berada dibawah gairahnya kini adalah sosok nyata.

"Ke—kenapa." Baekhyun melupakan rasa penuh dibawahnya, menatap bingung dan juga ragu pada Chanyeol dihadapannya.

"A-aku akan bercinta denganmu.. sekarang.." kalimatnya terbata diucapkan, dan itu membuat Baekhyun tertawa kecil mendengarnya.

"Belum tentu." Baekhyun menjawab cepat, dengan wajahnya berubah angkuh. "Kalau kau hanya memasukkan dan tidak membuatku mendesah akan kenikmatan dibawah sana.. kita belum bercinta..." kedua tangannya melingkar pada leher Chanyeol, menariknya untuk mendekat untuk memberikan sebuah ciuman – ciuman lembut pada bibir pria itu. "Bergerak sekarang, Daddy.." cicit Baekhyun menggoda pria itu yang hampir saja tersedak karena mendengar apa yang Baekhyun katakan.

Dan tanpa membalas apa yang Baekhyun ucapkan padanya, Chanyeol bergerak dengan cepat dan tepat, dorongan pertamanya bahkan terasa pas karena bisa membuat Baekhyun mendesah seketika, dan pada dorongan dan pergerakkan badan berikutnya mereka semakin menggila hingga desahan yang sebelumnya tertahan kini terlepas begitu saja. Chanyeol bahkan harus menutup mulut Baekhyun dengan salah satu tangannya atau terkadang mencium bibir wanita itu dengan menggila hanya untuk meredam desahan yang keluar dari mulut Baekhyun.

Tapi sebenarnya bukan hanya desahan Baekhyun yang harus diredam terus menerus, ketika Chanyeol merasakan dirinya akan meledak didalam Baekhyun, erangannya terdengar begitu erotis dan cukup kencang dan kini Baekhyun yang harus menyumpal mulut pria itu meskipun ia juga berusaha menahan desahannya dimulutnya. Chanyeol mengalihkannya dengan memberikan gigitan pada leher atau pun bahu Baekhyun disana sama halnya dengan Baekhyun yang melakukan hal sama ditambah dengan cakaran pada punggung Chanyeol ketika pria itu memberikan kenikmatan surgawi yang tidak pernah bisa ia jelaskan disaat bercinta.

Tubuhnya tergelak tak berdaya merengkuh badan Chanyeol yang tengah menegang bergetar hebat meledakkan cairannya didalam organ intimnya, tanpa menyadari bahwa ada sesuatu hal yang mereka lupakan saat itu dan mungkin akan diingat suatu hari nanti, karena tepat ketika Chanyeol berusaha memulihkan kesadarannya dan juga ketika Baekhyun tengah berusaha menormalkan kembali deru nafasnya, suara milik Chelsea lebih dulu membuat mereka kembali menegang kaku menatap satu sama lain merasa takut untuk sekedar memastikan dimana sumber suara yang bertanya kearah mereka saat ini.

"Daddy.. sedang apa?"

.

.

.

.

.

To

Be

Continued