Kesadaran Baekhyun lebih dulu terbangun dari alam mimpi indah malamnya, kedua matanya sepenuhnya terbuka dan menikmati apa yang disuguhkan di hadapannya kali ini. Terbangun didalam dekapan seorang pria dewasa dengan wajah rupawan akan menjadi list nomor satu dalam hidupnya kali ini. Ya, pemandangan paginya masih disuguhkan dengan pria yang tengah menjalin sebuah hubungannya dengannya. Hubungan bercinta bila perlu dipersingkat.
Matanya masih terpusat pada wajah pria itu, memandangi seakan - akan ini adalah pemandangan terindah yang pernah ia lihat didalam hidupnya, ia bahkan enggan untuk merusak pemandangan ini secepat mungkin hingga berhati - hati untuk bergerak lebih mendekat dan juga mengusapkan tangannya pada belah bibir yang terlihat menggodanya.
"Apa aku pria pertama yang menjadi pemandangan pagimu?" gerak tangannya baru menyentuh bagian atas bibir pria itu, namun Chanyeol nyatanya berucap, merusak lamunan Baekhyun dan juga pemandangan damai nan indah untuknya karena mata tajam pria itu kini beradu dengan kedua mata Baekhyun.
"Hai cantik." Sapaan dan pujian itu diucapkan Chanyeol bersamaan dengan pergerakkan badannya yang tergeser untuk mendekat pada wanita yang baru saja merona karena ucapan pujiannya, ia menarik tangan Baekhyun dengan perlahan agar masuk dalam dekapan tubuhnya, Chanyeol bahkan tersenyum kecil hanya karena melihat wajah gugup Baekhyun yang masih nampak jelas diwajah wanita itu.
"K-kau sudah bangun?" Baekhyun menanyakkan dengan kikuk, merasakan gelisah karena Chanyeol benar - benar memeluk badannya dan bahkan menyerukkan wajahnya pada perpotongan leher Baekhyun disana, menciumnya aroma wanita itu dan memberikannya sedikit kecupan singkat. "Chan-mmhh." Baekhyun mengerang menahan diri untuk mendesahkan nama pria itu disaat ia melihat Chelsea berada diranjang yang sama dengan mereka dan nampak masih lelap dalam tidurnya.
Sementara Baekhyun dengan sekuat tenaga menahan setiap desahan dari mulutnya karena bukan hanya leher dan bahu yang menjadi santapan ciuman pagi dari Chanyeol, pria itu bahkan mulai mencium bibirnya dengan penuh bergairah dan tak luput pergerakkan tangannya yang mulai merayap masuk dibalik pakaian tidur Baekhyun hanya untuk bisa meremas dan membelai bongkahan sintal pada bagian dada wanita itu.
"Mmhh-mhh.." suara ciuman mereka yang semakin dalam jelas terdengar dan kini Baekhyun nampak sudah melupakan kehadiran Chelsea karena disaat Chanyeol menarik pakaian atasnya dan membuangnya kesembarang arah, ia melakukan hal yang sama dan kembali menuntut ciuman panas di bibirnya dengan hasrat bergairah panas.
Menyadari pergerakkan mereka tidak mungkin hanya berakhir dengan cumbuan panas diatas ranjang ini, Chanyeol mengangkat badan Baekhyun dalam gendongannya, melilitkan kaki wanita itu melingkar sempurna dipinggangnya sementara dirinya melangkah membawa badan mereka menuju kamar mandi, dimana itu adalah satu - satunya tempat teraman dari jangkauan puterinya saat ini.
Mereka masih berciuman dengan begitu panasnya dan juga diiringi dengan gerakkan tangan masing - masing yang menyentuh setiap bagian tubuh demi menghantarkan gelenyar penuh gairah. Baekhyun menggunakkan kesempatan dalam posisinya dimana ia didudukkan pada meja marmer disana. Ia menciumi bagian leher pria itu dan juga mengecapi bagian dada bidang Chanyeol, tentunya ia tak luput memainkan lidahnya pada puting pria itu yang mana membuat Chanyeol menahan erangannya dan mendongakkan kepalanya hanya karena perbuatan Baekhyun disana.
"Bagaimana? Kau menikmatinya?" Baekhyun menggoda, menciumi dagu leher dan dagu pria itu sementara tangannya mulai menyusup masuk dibalik celana hitam yang melingkupi kaki jenjang pria itu.
"Shhh.. Baekhyun." pria itu sudah sepenuhnya berada dibawah kendalinya dan Baekhyun tersenyum karena itu.
"Kenapa Chanyeol.." nada rendah erotisnya menanyakkan keadaan pria itu yang sebetulnya tengah melayang merasakan kenikmatan karena bagian bawahnya tengah dimanjakkan oleh kedua tangan Baekhyun dengan begitu lihainya belum lagi cumbuan lidah dan bibir wanita itu yang selalu menghujami bagian leher dan dadanya.
Baekhyun masih memberikan sentuhan semuanya demi menghadiahi sebuah pelepasan kenikmatan di pagi hari untuk pria itu tanpa melupakan pelepasan nafsu untuk dirinya pula, disaat Chanyeol mulai mengerang dengan begitu kerasnya merasakan ketegangan dan getaran dipangkal pahanya, Baekhyun ikut merasakan hal yang sama karena Chanyeol juga memainkan jari - jari tangannya pada bagian intim Baekhyun.
"Aaahh.. aahh.. Chanyeol.."
Desahan Baekhyun menjadi satu - satunya suara yang menggema diruangan kamar mandi itu, rintihan dalama desahannya bersahutan dengan ciuman mulut mereka yang semakin tidak karuan karena nafsu telah melubungi satu sama lain. Baekhyun semakin cepat memainkan milik Chanyeol yang sudah terbebas dari jeratan celana dan sebaliknya Chanyeol menyiksa Baekhyun dengan memberikan jari - jarinya melesak masuk memporak porandakkan lubang intimnya.
Kesenangan mereka seharusnya bisa dilanjutkan hingga keduanya mendapatkan pelepasan gairah yang tertahan sedari tadi, tapi lagi - lagi ada sosok kecil yang begitu menggemaskan tengah berteriak diluar ruangan mereka memanggil Daddy-nya berulang kali dan bahkan hampir terdengar akan menangis mendapati tidak ada siapapun yang berada didekatnya ketika mata kecilnya terbuka terbangun dari tidur malamnya.
"Dadddyyyy!" ketika teriakkan melengking begitu keras, kedua orang yang berada didalam kamar mandi sontak menghentikkan kegiatan mereka masing - masing. Chanyeol harus memaksakan dirinya untuk mengurusi ketegangan dibawah sana agar kembali tertidur sementara Baekhyun dengan sigap mencuci tangannya dan mengambil handuk yang ada didalam kamar mandi itu untuk menutupi badannya.
"Selesaikan sendiri." Ia berucap pada Chanyeol sebelum dirinya beranjak keluar.
"Lagi?!" dan pria itu dengan kesalnya menyahut terlebih ketika melihat Baekhyun sedikit menjulurkan lidah padanya sebelum pintu kamar mandi benar - benar ditutup.
LOVELESS
.
Chapter 12
.
Chanyeol-Chelsea-Baekhyun
OC
Drama-Family-Romance
GS
.
.
You want a Love that consumes you, You want passion and adventure,
And even a little danger.
-LJ Smith
.
.
.
"Daddddddddyyyyyyyy!" Chelsea berteriak sekencang - kencangnya disana tanpa memperdulikan bisa saja suara akan hilang mengingat ia memaksakan diri hanya untuk berteriak memanggil Daddynya yang tengah disibukkan dengan kegiatan pagi yang panas.
"Hey..hey.." Baekhyun mendatangi anak itu dan memeluknya, "Baekhyunnie disini.." menunjukkan kehadirannya yang mana membuat puteri Chanyeol itu membalas pelukannya dan menangis meluapkan perasaan sedih didalam dirinya.
"Daddy tidak ada.. daddy meninggalkan Chelsea..hiks Baekhyunnie.." anak perempuan itu mengadu dan masih terus terisak yang belum diketahui sebabnya.
"No.. no.. Daddy sedang dikamar mandi sayang.. Daddy tidak meninggalkan Chelsea." Baekhyun mengusap punggung anak itu, membenarkan posisi duduk Chelsea dalam pangkuannya supaya anak itu nyaman berada didekatnya.
"Daddy tidak pergi?"
"Ani.. Daddy sedang dikamar mandi, kau pasti bermimpi."
Chelsea menjauhkan badannya dan membuka matanya yang masih berlinang air mata, kesadarannya baru sepenuhnya kembali dan melhat Baekhyun berada dihadapannya membuat dirinya lebih tenang dibandingkan sebelumnya.
"Chelsea bermimpi.." anak itu kembali akan terlihat menangis dan Baekhyun berusaha menahannya, mengusap pipi wajah Chelsea dan mengalihkannya dengan mengatakan pemandangan indah di pantai yang ada dihadapan mereka saat ini. Sontak mereka berdua benar - benar teralihkan dan memandangi pemandangan itu bersama - sama. Melihat bagaimana sinar matahati menyeruak dibalik garis cakrawala, awan - awan gelap kini perlahan - lahan berubah menjadi warna yang sama dengan sinar yang terpancar oleh sang mentari berhasil membuat pagi mereka kembali menjadi lebih tenang melupakan mimpi buruk yang dialami oleh puteri kecil Chanyeol disana.
Chelsea menikmati pemandangan itu dengan masih bersandar pada badan Baekhyun dan belum mau melepaskan pegangan tangan wanita itu. Isakan tangisnya tidak lagi terdengar disana semenjak mereka menyaksikan pemandangan.
"Siapa yang berteriak tadi?" tapi tepat ketika suara Chanyeol terdengar, anak itu bangkit membawa badannya untuk mencari sumber suara dan langsung menyergap menginginkan sebuah pelukan dari badan sang Daddy. "Sssst.. Daddy disini.. daddy tidak kemana-mana." Chelsea kembali menangis dipelukan Chanyeol, dan seakan - akan hal itu sudah menjadi hal yang biasa dilakukan, pria itu menggendong Chelsea dan membawa mereka berdua keluar dari ruangan kamar menuju pantai didepan sana.
Baekhyun tidak ikut berjalan bersama mereka, wanita itu hanya mengikuti sampai di balkon depan kamar dan memperhatikan kedua ayah dan anak itu yang masih saling berpelukan. Chelsea jelas masih menangis disana namun Chanyeol dengan segala caranya mengajak anak itu berbicara dan menunjukkan pemandangan di pagi hari sekitaran pantai disana.
Bunyi deringan dari ponsel miliknya pagi ini sangat merusak suasana, Baekhyun pada awalnya tidak berniat mengangkat panggilan itu, tapi nama adiknya yang tertera disana tentu tidak bisa ia abaikan.
"Wae." Suara sinisnya adalah sapaan yang harus didapat sang adik diseberang sana.
"Ya Byun Baekhyun! kenapa suaramu begitu!"
"Kenapa kau meneleponku pagi -pagi sekali eoh?" ia berbohong.
"Disini malam." Dan adiknya pintar untuk tidak mengikuti permainan Baekhyun.
"Kenapa kau menelepon?"
"Ya, sebagai kakak harusnya kau bersikap perhatian dan menanyakkan kabarku.."
"Ck. Jangan terlalu berlebihan!" Baekhyun tertawa disana menunjukkan Ia tengah menggoda adiknya dan sang adik juga membalas dengan suara tawa renyah.
"Kau harus memulai untuk memulai hubungan supaya kau tahu bagaimana caranya memberikan perhatian ketika tengah berada dalam hubungan jarak jauh!"
"Jangan membawa - bawa hubungan!" Baekhyun memperingati.
"Aku serius! Kau harus mencari pacar mulai sekarang karena dalam 3 bulan kedepan kau harus membawa pasangan untuk menjadi pengiringmu di acara pernikahanku nantinya."
"Hey! Apa-apaan dengan ide itu?"
"Kau akan menjadi salah satu pengiringku dan tentunya harus memiliki pasangan! Kalau tidak kau akan berjalan bersama dengan sepupu Erik yang masih berusia 19 tahun!"
Baekhyun jelas menolak ide itu dan menganggap adiknya sudah gila. "Terserah! Kita lihat saja nantinya-
"Baekhyuniieee! Mau berenang di pantai?" suara Chelsea berteriak kearahnya dan Baekhyun baru membalasnya dengan gerakkan tangan melambai.
"Kau sedang berlibur? Itu suara anak siapa?" adiknya kini teralih untuk menanyakkan mengenai suara Chelsea yang terdengar di panggilan telepon mereka.
"Kau ingat anak perempuan yang tinggal diseberang apartemenku?"
"Aah.. ya aku ingat. Ayahnya masuk dalam list pria yang tidak akan bercinta denganmu bukan?"
Baekhyun menghela nafas mendengarnya. Seung-wan memang mengetahui semua tentang diirnya termasuk cerita Chelsea dan juga Chanyeol yang pernah ia masukkan dalam list 'pria yang tidak akan bercinta dengannya' tapi Baekhyun harus segera mengkoreksi pernyataan itu karena terhitung sejak dua hari lalu mereka berada di rumah pantai ini, sudah lima kali mereka bercinta dan itu tidak termasuk dengan quickie yang entah berapa kali mereka lakukan setiap ada kesempatan.
"...jadi... kau berlibur dengannya atau sang Daddy seksi tampan itu ikut serta? Kenapa ini seakan - akan menjadi liburan keluarga untuk kalian?"
"Hey! Kau akan menikah Nona! Jangan menyebut pria-ku seksi dan tampan." Baekhyun meralat ucapan adiknya.
"Ah-Ha! Jadi dia sudah menjadi priamu hm? Bagus aku akan memasukkan namanya kedalam daftar buku tamu."
Baekhyun tidak bisa berkomentar lagi. "Aku tidak tahu.." suaranya semakin menghilang sementara kini pemandangan matanya kembali mencari dimana Chanyeol dan Chelsea berada dan tengah menikmati permainan mereka berdua. Chelsea mengejar Chanyeol kesana kemari dengan gelak tawa tanpa henti, mendorong Daddynya untuk masuk kedalam serangan ombak kecil sementara Chanyeol juga menggendong puterinya itu dan membawanya berenang lebih jauh.
"Aku tidak tahu apa yang aku rasakan ketika bersamanya, dia adalah pria sempurna. Tapi aku tidak yakin bahwa kami akan memiliki hubungan jangka panjang.. aku belum bisa memulainya."
"Well.. setiap hubungan harus dimulai lebih dulu baru kau bisa mengetahui kemana berjalannya hubungan itu-No jangan membantahku-" adiknya disana lebih dulu memperingati ketika suara terbata Baekhyun terdengar hendak menginterupsi ucapannya. "Bila kau tidak membuka hatimu untuk pria ini, kau tidak akan tahu sejauh mana kau dewasa dalam berhubungan. Jangan mengambil contoh hubungan Mom dan Dad. Mereka memang tidak ditakdirkan bersama, tapi lihatlah hubungan yang Dad miliki saat ini, ia bahagia bersama dengan wanitanya, Dad lebih bahagia dibandingkan dengan Mom dulu."
"Tetap saja ada sebuah perpisahan."
"Perpisahan itu wajar. Kau tidak akan menemukan takdirmu bila kau tidak mengalami perpisahan. Aku tidak akan bertemu dengan Erik bila aku masih memiliki hubungan dengan para mantanku."
Baekhyun terdiam dan masih mendengarkan apa yang coba dijelaskan oleh sang adik disana.
"Bila dia membuatmu menjadi wanita paling bahagia dengan cara yang ia miliki, cobalah untuk membuka hatimu untuknya. Tapi bila dia menjadikanmu wanita yang biasa saja.. lebih baik kau berhenti sebelum memulai lebih jauh dengannya."
"Aku tidak tahu kau sedewasa ini?" Baekhyun menggoda penggalan nasihat yang baru saja diucapkan oleh adiknya disana, mengingat usia mereka yang berjarak cukup jauh.
"Aku sudah mengalami putus cinta berulang kali Baek, sedangkan kau hanya sebatas desahan." dan kini Baekhyun kembali menyesal telah memuji adiknya. "Jadi.. siapa nama pria itu? Aku benar - benar akan memasukkan namanya dalam list undangan. Ingat kau harus membawanya kemari! Aku tidak menerima alasan apapun!"
"Baiklah.. baiklah! Aku akan menanyakkan padanya lebih dulu."
"Nama?" Seung-wan masih menuntut sebuah nama yang belum diucapkan oleh Baekhyun disana.
"Chanyeol. Park Chanyeol, aku tutup!" sesingkat dia menyebutkan nama Chanyeol kepada sang adik, dengan itu Baekhyun menutup panggilan telepon diantara keduanya, ia masih berdiri bersandar di balkon depan kamar rumah itu dengan pemandangan yang masih tertuju pada Chelsea dan Chanyeol yang masih menikmati waktu kebersamaan mereka dengan berjalan - jalan di pinggir pantai. Untuk kesekian kalinya Baekhyun melihat kebersamaan mereka dan untuk kesekian kalinya juga Baekhyun merasakan dibuai oleh pesona Chanyeol disana.
LOVELESS
Chanyeol's
"Udang! Chelsea mau udang!"
Perdebatan makan siang.
"No, kepiting lebih enak."
"Udang... Baekhyunnie harus mencoba udang yang dimasak Daddy. Sangat enak!"
Well.. mereka masih berdebat. Kami berada didapur, masih di rumah pantai dan saat ini menjelang makan siang dimana aku harus berkewajiban memasak dan menyiapkan makan siang untuk kedua perempuan-ku. Mereka milikku. Salah satunya, dan satu lagi masih dalam proses. Dan kini mereka berdua tengah berdebat mengenai sajian apa yang ingin ditambahkan sementara aku tengah membuatkan salad dan juga memasak Risotto sebagai makanan utama siang ini.
"Baekhyunnie mau mencoba kepiting buatan Daddy." Dan yang lebih tua-jauh lebih tua-dibandingkan Chelsea belum mau mengalah juga, terkadang aku membayangkan memperlakukan Baekhyun seperti Chelsea mungkin akan terlihat menggemaskan, dan pikiran ini akan berakhir dengan Daddy Kink ketika ia bersama denganku di ranjang-okey stop-ini harus dihentikkan!
"Tapi udang buatan Daddy lebih enak Baekhyunnie~" Yap, puteriku masih keras kepala dan mempertahankan keinginannya.
Bila kalian butuh bayangan lebih jelas dengan apa yang tengah mereka lakukan saat ini-sebentar aku melirik kebelakang-okey, mereka tidak beradu dengan peralatan makan atau mungkin bantal guling dan alat - alat rumah lainnya. Baekhyun duduk di kursi meja makan bersama Chelsea dan mereka masih mengerjakan tugas yang aku berikan yaitu menyiapkan sayuran yang akan menjadi salad nantinya. Jadi mereka beradu pendapat disana, masih dalam batas wajar namun suaranya saling bersahut - sahutan.
Kembali lagi aku berpikir seakan - akan memilki dua orang anak perempuan. Oh Tuhan!
"Daddy, kalau daddy memasukkan Udang di Risottonya.. Chelsea janji akan bermain didalam rumah hari ini."
Kalian mendengarnya? Puteriku melakukan penawaran lebih dulu dengan jaminan ia akan menjadi anak yang baik dan tidak bermain diluar rumah seperti biasanya. Itu permulaan yang bagus, tapi kalian harus mendengar penawaran yang diberikan oleh Baekhyun kepadaku. Dia tidak mengucapkan lantang seperti yang mana dilakukan oleh Chelsea, wanita itu menghampiriku dan memeluk pinggangku dengan perlahan, ia bahkan menambahkan sebuah ciuman di punggung sebelum wajahnya mendongak untuk melihat kearahku.
"Apa yang harus aku lakukan untuk mengalahkan puterimu kali ini?" wajahnya merengut masam seakan - akan ia sudah mengetahui telah kalah melawan Chelsea.
Tanganku yang tengah mengaduk olahan Risotto terpaksa berhenti bekerja untuk membawa badan Baekhyun masih berada dalam dekapanku dan tentunya memudahkan kami untuk berciuman disana. "Dua ciuman saat ini, maka aku akan memilih kepiting sebagai menunya." Aku memberikan pilihan dan tentu Baekhyun melakukannya dengan senang hati. Ia menciumku tiga kali bahkan, seharusnya dia bisa memenangkan perdebatan kali ini melawan Chelsea, tapi tidak. Puteriku adalah petarung yang tangguh.
Mengetahui Baekhyun mendekatiku dan merayu supaya menu kepiting menjadi pilihan makan siang kali ini, terlebih ia mungkin sudah melihat bagaimana kami berciuman disana. Chelsea ikut menghampiri, namun tidak memeluk badanku seperti yang Baekhyun lakukan, ia duduk pada kaki dan memeluk kaki kiriku dengan begitu erat, "Daddy... Chelsea sayang Daddy.. Chelsea mau udang.." see! Kalian juga harus mendengar bagaimana suara merengeknya disana. Baekhyun bahkan menyerah meskipun ia masih memeluk badanku dan memperhatikan bagaimana aku memasak, ia bergumam berulang kali mengenai kekalahannya melawan Chelsea.
Aku mencium kepala Baekhyun sesaat sebelum menunduk dan membawa Chelsea dalam gendonganku, ini sangat sempurna! Baekhyun berada disamping kananku dan masih menciumi lengan atau kadang menggigit lenganku disana sementara pada sebelah kiriku Chelsea yang mana tengah aku gendong menggelut leherku dan menciumi pipiku berulang kali.
"Okey.. Daddy akan menentukkan siapa yang menang." Pada akhirnya setiap kompetisi harus ada seorang pemenang, dan kali ini.. ini sangat sulit ditentukkan. Keduanya adalah orang yang aku sayangi saat ini, aku mencintai Chelsea sama seperti aku mencintai Baekhyun-dengan cara yang berbeda.
"Daddy.." itu suara rengekkan mereka berdua, mereka berdua benar - benar mengetahui kelemahanku.
"Baiklaaahh.." aku menyerah. "Kita akan memasukkan udang dan kepiting pada Risottonya. Dan..." aku memberikan peraturan lainnya. "Tidak ada yang boleh menyisakan makanan siang ini." peringatan itu khusus ditujukan ada Chelsea yang sudah lebih dulu memamerkan senyum manisnya dengan kedua mata yang sengaja dipejamkan menghindari tatapan mataku.
"Chelsea sayang Daddy!" dia memberikanku kecupan di bibir, sementara Baekhyun langsung menambahi dengan sebuah lumatan begitu dalam sebelum ia kembali bersekutu dengan Chelsea merusak sajian salad disana yang masih belum juga selesai hingga aku menyelesaikan Risotto ini.
Akhirnya tersajilah tiga piring Risotto dengan tambahan udang dan juga kepiting hasil masakanku. Ini sungguh maha karya luar biasa. Membuat Risotto tidak semudah memakannya dan melihat kedua perempuan dihadapanku yang mana tengah memasang wajah begitu menanti untuk mencicipinya adalah hal luar biasa lainnya sebagai hadiah atas kerja keras berhasil memasak sesuatu makanan untuk mereka.
"Syarat lainnya.." Aku masih melanjutkan pembicaraan mengenai alasan memberikan pilihan makanan ini pada mereka. "Habiskan! Yang tidak menghabiskan makanan ini harus membersihkan dapur setelah ini-
"Baekhyunnie yang akan melakukannya." Chelsea menyahut lebih dulu setelah menerima piring makannya.
"Waaeeeee~?" Tentu saja dia menolak langsung. "Chelsea yang harus melakukannya." Dia berbalik menunjuk Chelsea.
"Aniya.. Baekhyunnie. Baekhyunnie kan wanita.. harus melakukannya, Chelsea kan sudah jadi anak baik hari ini." anakku kembali melanjutkan.
Dan aku rasa ini akan menjadi perdebatan panjang melebihi perdebatan mengenai udang dan kepiting sebelumnya.
"Ani. Chelsea kan puteri kesayangan Daddy, jadi Chelsea yang melakukannya. Baekhyunnie kan tamu special."
"Wae? Chelsea kan masih kecil.. Daddy pasti sayang sama Chelsea jadi tidak mau menyuruh Chelsea membersihkan dapur. Ya kan Daddy?"
"No! Daddy lebih sayang dengan Baekhyunnie!"
"NOOOO! Daddy sayang sama Chelsea!"
"Baekhyunie."
"Chelseeeeaaaaa!"
"Baekhyunie."
"Chelsea!"
"Baek-
"Daddddddyyyyyyyyyyyyyy! Baekhunnie jahat!"
.
.
Drama makan siang mereka telah berakhir dengan perdamaian yang mana kembali Chanyeol adalah penengah diantara keduanya, kedua perempuan berbeda usia yang cukup jauh itu benar - benar menikmati apa yang Chanyeol sajikan sebagai makan siang, meskipun mereka berdebat, Chelsea menangis dan merengek, Baekhyun yang tertawa begitu bahagia melihat puteri Chanyeol disana tak henti - hentinya mengatakan dirinya jahat, yang pada akhirnya mereka berdua kembali berdamai dan tentunya bersekutu kembali ketika Chanyeol memutuskan ia yang akan bertanggung jawab membereskan kekacauan hasil memasak dan makan siang mereka hari ini.
Chanyeol masih berada di area dapur guna melakukan kewajibannya yang lain-membersihkan area dapur didampingi oleh Baekhyun disana yang mana memaksakan dirinya untuk membantu mengingat ia masih berstatus tamu disana.
"Aku serius, kau tidak perlu membantuku.." Chanyeol masih berusaha menolak bantuan Baekhyun yang tengah memisahkan sisa - sisa makanan dari piring - piring disana.
"Dan aku serius ingin membantu." Baekhyun masih tetap keras kepala dan menyanggah lagi larangan Chanyeol. "Lagipula aku tidak membantu banyak sejak kita tiba disini, aku tamu. Ingat?" ia menyebutkan kembali statusnya.
Chanyeol menggeleng, tersenyum canggung disana dan Baekhyun jelas melihatnya. "Apa maksudnya dengan senyum itu." Ia menanyakkan, namun Chanyeol tidaklah memberikan jawaban langsung padanya. Pria itu beralih menuju meja makan dan membawa beberapa piring gelas kotor lainnya, dan Baekhyun masih terus menunggu hingga pria itu menjawab pertanyaannya.
"Kenapa? Kenapa dengan senyumanmu itu." Ia bahkan menghampiri dan mematikan aliran kran air pada tempat cuci piring, menggenggam tangan Chanyeol yang tengah tertupi sabun dan juga memegang spons disana.
"Kau mau tahu?" Chanyeol berbalik bertanya, melihat langsung bagaimana Baekhyun mengangguk cepat serta bagaimana pandangan wanita itu yang begitu penasaran kepadanya. Chanyeol melepaskan cengkraman tangan Baekhyun lebih dulu, meletakkan spons cucinya dan juga membasuh tangannya lebih dulu, ia bahkan langsung mengeringkannya dan kemudian merengkuh lengan Baekhyun, ia tarik untuk mendekatkan badan wanita itu dengan badannya. Perbedaan tinggi mereka bisa jelas terlihat disana, Baekhyun bahkan harus mendongakkan kepala untuk melihat kearah wajah pria itu dan mempertanyakkan apa yang tengah coba Chanyeol jelaskan kepadanya.
"Aku sudah bercinta denganmu lebih dari satu kali." Chanyeol memulai penjelasannya tanpa perlu memfilter kalimat yang ia gunakkan mengingat puterinya tengah berada di dalam kamar saat ini. "Kita bahkan sudah saling memandang tubuh telanjang masing - masing berulang kali, kau bahkan sudah melihat milikku dan aku melihat milikmu dengan jarak sangat dekat dan bahkan tepat dihadapan wajah-" kali ini Baekhyun yang mengumpat kesal terhadapa ucapan Chanyeol yang terlewat vulgar dan tentunya membuat ia malu setengah mati.
"Bisakah bahasamu lebih baik daripada ini?" Baekhyun memprotes kala Chanyeol tertawa kecil dan belum melanjutkan apa yang ia ingin ucapkan.
"Oh aku kira kita tidak perlu malu mengatakannya." Chanyeol mengusak pelan rambut Baekhyun dan mencium kening wanita itu secara tiba - tiba. "Yang ingin aku sampaikan adalah.." ia mensejajarkan wajahnya sama dengan wajah Baekhyun, memandangai wanita itu dengan sungguh - sungguh. "Aku sudah mengatakan kalimat 'aku mencintaimu' dengan begitu jelas, berulang kali, dan itu berarti aku bukan lagi menganggap dirimu tamu atau tetangga asing yang aku undang masuk kedalam rumahku, Byun Baekhyun." Chanyeol memberikan cubitan kecil pada hidung Baekhyun dan juga sebuah kecupan singkat guna menyadarkan wanita itu yang masih berusaha keras mencerna apa yang sudah ia ucapkan lebih jelas sebelumnya.
Chanyeol membiarkan Baekhyun disana, masih pada posisi termenung dan memikirkan ucapannya, sementara pria itu kembali melanjutkan kegiatan bersih - bersihnya.
Sementara Baekhyun, ia bukan hanya memikirkan apa yang coba Chanyeol ucapkan padanya, ia sudah dewasa, kapasitas otaknya bukanlah berada pada IQ rendah yang tidak tahu jawaban apa yang bisa ia dapat dari penjelasan pria itu. Ucapan Chanyeol dan adiknya bersahutan berputar diisi kepalanya memberikan jawaban yang seharusnya ia ucapkan, namun ego isi hatinya menahan rentetan kalimat itu dan mengucapkan pertanyaan yang lainnya.
"A-aku belum mengatakan balasan dari ucapan isi hatimu, bukankah itu masih bisa dianggap aku masih menganggapmu hanya sebatas tetangga?"
Chanyeol menyeringai disana, "Ego hatimu sulit ditaklukan hanya dengan beberapa malam bersamaku, Baekhyun sayang.. Kau memang tidak mengatakan hatimu luluh secara langsung.." Chanyeol kembali mendekatkan dirinya kearah Baekhyun, "Aku pria Baek.. dan aku cukup tahu bahwa tubuhmu bahkan lebih memilih berada dibawah kuasaku yang mana nantinya itu akan mengantarkan keluluhan hatimu."
Baekhyun menggeleng. "Hatiku terkunci untuk ditaklukan Chanyeol, jangan berharap banyak."
"Aku adalah kuncinya."
Tawa Baekhyun terdengar disana tepat ketika Chanyeol mengatakannya.
"Kau terlalu percaya diri."
Mereka berdua tertawa bersamaan dan tanpa disadari oleh Baekhyun, wanita itu bahkan menggengam tangan Chanyeol dan mengusapnya dengan lembut.
.
Tidak akan ada yang menolak untuk bersantai dan menikmati waktu kosong dengan menonotn fil ditemani dengan cemilan dan juga sofa yang empuk sebagai alas tidurnya. Mungkin itulah sebabnya ketiga orang yang tengah berada diruang santai rumah pantai milik Chanyeol itu masih berada pada posisinya tertidur disana menikmati tontona film yang tengah ditayangkan pada layar televisi yang cukup besar dan juga soundsystems yang mana mendukung suasana menonton.
Tayangan film itu memperlihatkan bagaian akhir dari film itu yang mana kini di layar televisi menyisakan beberapa nama yang mana ikut andil besar dalam penggarapan film tersebut, namun ketiga orang disana belum ada yang beranjak atau pun berucap satu katapun.
Chanyeol masih terfokus pada layar laptopnya bukan dengan layar televisi, sementara Chelsea dan Baekhyun masih melihat kearah layar itu dengan tangan dan mulut mereka yang sibuk mengunyah dan mengambil beberapa popcorn yang masih tersisa pada kotaknya.
"Daddy nanti kita makan malam di Mal's yaa..." Pernyataan Chelsea disana jelas membuat kedua orang dewasa yang nampak tengah tidak fokus itu memutar wajahnya untuk memastikan mereka melihat kearah anak perempuan kecil satu -satunya disana yang entah kenapa secara mengejutkan membicarakan mengenai rencana makan malam yang mana baru akan terjadi dalam lima jam kedepan.
"Ya, Daddy ya.. nanti kita makan di Mal's ya.. Chelsea mau disana.." Chelsea beranjak dari posisinya, menyusul Chanyeol dan tentunya dengan misi merayu sang Ayah disana untuk mengabulkan permintaannya ini. Baekhyun masih memperhatikan, wanita itu masih merasa begitu asing dengan nama tempat yang disebutkan dengan puteri Chanyeol itu.
"Mal's? itu apa?" pertanyaan dilontarkan oleh Baekhyun yang mana tengah menatap penuh tanya kearah Chanyeol, pria itu membalas tatapannya namun belum memberikan jawaban.
"Restaurant." Chelsea lebih dulu menyahut dengan semangat, begitu lincahnya ia sudah berada di pangkuan Chanyeol dan siap menjelaskan lebih detail mengenai nama sebuah tempat yang mana snagat ingin ia kunjungi. "Disana makannya enak, Daddy pernah bekerja disana dulu.. Baekhyunnie kita bisa mendengarkan musik, Daddy juga terkadang bermain gitar disana., ya kan Daddy?"
Pandangan mata Baekhyun semakin mengerut mendengar penjelasan yang menyebutkan Chanyeol pernah bekerja direstorang tersebut.
"...pelayannya juga cantik - cantik dan tinggi. Daddy said they are like models." Kali ini alis milik Baekhyun yang menukik dan hampir saja ia ingin tersedak mendengar perkatan Chelsea yang menjelaskan mengenai hal itu.
Chanyeol bahkan tak lagi bisa membalas tatapan mata Baekhyun, ia kini beralih kembali pada layar laptopnya, memilih melanjutkan pekerjaannya disana.
"Daddy, apa Luhan masih bekerja disana?" Satu - satunya sosok yang masih berbicara dengan semangat hanyalah Chelsea disana. "Dia menyukai Daddy." Wajah Chelsea menoleh kearah Baekhyun seakan - akan anak kecil itu memberikan informasi yang sangat dibutuhkan wanita itu.
Kedua orang dewasa disana makin terdiam, Chanyeol tidak berani mengucapkan satu kata pun yang mana bisa saja menyangkal semua perkataan Chelsea.
"Daddy selalu menggoda Luhan."sementara Baekhyun mendengarkan setiap perkataan Chelsea, dengan raut wajah yang mulai terlihat berubah tidak senyaman seperti sebelumnya.
"Apa Luhan seksi?" pada akhirnya wanita itu menanggapi ucapan Chelsea.
"hmm. Ani.. Luhan tidak seksi." Chelsea menjawab, melihat kearah Chanyeol sesaat lalu melihat kearah Baekhyun.
"Dia cantik?"
"Baekhyunnie lebih cantik." Jawaban ini terdengar lebih cepat dengan nada begitu mantap, membuat pernyataan yang tidak bisa dibantahkan.
"Lalu, Chanyeol.. kenapa kau menggoda Luhan?" pertanyaan itu diucapkan langsung oleh Baekhyun, layaknya sebuah peluru yang ia lepaskan begitu saja tepat didepan kening kepala sang pria yang masih duduk terdiam disana atau mungkin tepatnya sebuah bom yang siap meledak tengah diberikan oleh Baekhyun kepada Chanyeol.
Chanyeol jelas butuh kalimat yang tepat dan luar biasa untuk menjelaskan semua itu.
Pria itu menutup layar laptopnya dan menurunkan Chelsea dari pangkuannya yang mana tentunya membuat sang anak berpindah tempat kembali menyusul Baekhyun yang masih pada posisi berbaring terlungkup, Chelsea mengikuti, hanya saja anak perempuan itu bersandar begitu dekat kearah Baekhyun. Mengikuti sikap Baekhyun disana yang tengah memangku wajahnya dengan kedua tangannya, memperhatikan Chanyeol yang duduk pada jarak tidak cukup jauh disana.
"Dia teman." Singkat dan tidak begitu jelas jawaban Chanyeol disana nampaknya membuat Baekhyun merasa cukup kesal.
Chanyeol tahu wanitanya disana tengah menunggu penjelasan lebih rinci dibandingkan kalimat 'dia teman' sementara yang tengah mereka bicarakan adalah wanita seksi yang mana selalu digoda dirinya dan wanita itu menyukai Chanyeol-menurut apa yang dikatakan Chelsea sebelumya.
"Oh." Baekyun menyahut, ia beranjak bangun, pandangan matanya tak lagi tertuju pada Chanyeol disana, "Come on Chels.." tangannya mengajak Chelsea untuk ikut beranjak bangun, "Kita harus bersiap untuk makan malam dan bertemu dengan teman Daddy yang seksi itu."
Ucapan sinis penuh dengan sirat kalimat dingin seakan - akan menghujam tepat pada hati Chanyeol saat ini, namun pria itu bukannya merasa sakit hati atau pun takut setelah mendengar perkataan Baekhyun, Chanyeol tersenyum lebar dan bahkan menggelengkan kepalanya berulang kali dengan tetap melihat bagaimana wanita itu berjalan tergesa - gesa dengan langkah diselimuti amarah serta puterinya yang mengikuti gaya berjalan Baekhyun disana, tapi sebelum dirinya masuk kedalam kamar, Chelsea menyempatkan diri berbalik dan menghadiahi Chanyeol juluran lidahnya.
LOVELESS
Mal's adalah restaurant yang telah berdiri cukup di lama kota Los Angeles, suasana café, bar dan restaurant keluarga menjadi satu dalam konsep restaurant itu sejak mereka berdiri. Pelayanan 24 jam setiap harinya adalah nilai lebih untuk mereka. Ketiga konsep yang disuguhkan pada restaurant itu terbagi dalam pembagian waktu yang teratur, pada pagi hari sajian makanan mereka ditujukan untuk para pengunjung yang ingin mendapatkan sajian Breakfast atau Brunch secara cepat hingga berlanjut untuk sajian pada waktu makan siang. Dan ketika sore hari dan menjelang malam hari, tema restaurant mereka akan disesuaikan untuk pengunjung yang ingin menyantap makan malam atau pun menghilangkan penat dengan berkumpul dan mendengarkan musik secara live dari restaurant tersebut atau mungkin memilih menikmati musik pada box musik yang sudah jarang didapati dimanapun, tapi Mal's memilikinya. Itu salah satu alasan utama banyak pengunjung yang masih terus berdatangan kembali setiap saat.
Termasuk Chanyeol dan juga Chelsea, atau kali ini ditambah dengan pengunjung baru, Baekhyun.
"Aku rasa penampilanmu terlalu terbuka." Chanyeol secaara tiba - tiba mengomentari bagaimana penampilan Baekhyun pada malam ini.
Baekhyun secara mengejutkan memperlihatkan penampilannya dengan pakaian gaun malam berwarna hitam yang mana berukuran sangat mini dan juga memperlihatkan punggung belakangnya begitu saja hingga bagian pinggulnya—yang entah kenapa pakaian itu bisa siapkan dalam tas kopernya saat ini.
"Aku rasa tidak, para pelayan disana mungkin lebih seksi dibandingkan penampilanku malam ini." Baekhyun menjawab dingin dan singkat. Pandangannya masih tertuju pada jalanan didepannya seakan - akan ia tengah mengemudikan mobil yang ia tumpangi saat ini, sementara Chanyeol yang sebenarnya mengemudikan mobil itu melihat kearahnya, memperhatikan penampilan wanita itu, memujinya dalam hati namun memperlihatkan seringai diwajahnya dengan begitu lebar seakan - akan keadaan hatinya tengah bahagia saat ini.
"Daddy..?" anggota kecil diantara mereka bersuara setelah sedari tadi dirinya diacuhkan.
"Kenapa sayang?" Chanyeol menoleh, melihat kearah puterinya yang juga terlihat berdandan begitu cantik karena Baekhyun sengaja mendandani puteri kecilnya.
"Apa masih lama?"
Chanyeol mengangguk, "Hm, masih lama." Ia menginformasikan demikian namun tangannya membawa kemudi untuk berbelok menepi dan tepat berhenti pada lahan parkir disana. Ia berbohong.
"Daddy berbohong!" Chelsea berteriak disana, namun tertawa diakhirnya, beranjak bangun dari kursi penumpang yang ia duduki untuk berpindah tempat menyusul Chanyeol yang duduk dibangku depan. "Daddy berbohong!" Chelsea mengulang lagi, memukul tangan Chanyeol disana. "Baekhyunnie, Daddy berhutang pada kita, 5 dollar!" tangannya menunjukkan sejumlah angka yang ia sebutkan.
"No." Baekhyun menggeleng. "Sepuluh dollar karena Daddy berbohong pada kita berdua." wanita itu masih menunjukkan wajah dingin dan angkuhnya, dan berpaling untuk turun lebih dulu keluar dari mobil.
Chelsea menyetujui, memukul pelan tangan sang Daddy dan menurut ketika Chanyeol membawanya dalam gendongan dan mereka keluar dari dalam mobil. Ketiganya melengang masuk bersamaan, dengan Chelsea berada ditengah - tengah Chanyeol dan Baekhyun, kedua tangannya sama - sama digenggam erat oleh keduanya.
"Hai Richard!" salah satu pelayan yang bertugas didepan pintu masuk secara mengejutkan menyapa Chanyeol disana.
"Hai, baby!" Chanyeol membalasnya, memeluk pelayan wanita itu dan bahkan memberikan ciuman pada salah satu pipi pelayan itu.
Chelsea masih digenggam erat oleh Baekhyun saat itu, anak itu juga tidak berkomentar apapun melihat sang Daddy mencium wanita dewasa lain disana, hanya saja tak lama anak itu mendongak keatas untuk melihat bagaimana wajah Baekhyun yang menatap tajam kearah Chanyeol dan juga nampak tengah berdecak kesal.
"Hai Princess!" setelah pelayan itu bercengkrama sebentar dengan Chanyeol, ia menyapa Chelsea disana, memberikan lambaian tangan pada anak itu yang mana dibalas oleh Chelsea.
"Annyeong Aunty!" balasan Chelsea tentunya membuat Baekhyun mengernyitkan alisnya. Kini ia melihat kearah Chelsea dan anak itu membalasnya dengan senyuman lebar lalu kemudian membawa Baekhyun untuk melangkah masuk kedalam restaurant meninggalkan Chanyeol dan sang Pelayan yang mana masih berada didepan sana.
Semakin mereka berdua masuk kedalam restaurant dan mencari tempat duduk, itu semakin membuat Baekhyun nampak lebih bingung dan bahkan melupakan kekesalan yang sebelumnya sempat ia pikirkan. Pandangan matanya melihat dengan jelas bagaimana nuansa restaurant disana sama dengan apa yang ia bayangkan sebelumya, para pelayannya bahkan sesuai dengan apa yang dikatakan Chelsea, cantik-like a models-tapi yang membuatnya bingung dan mengejutkan adalah, beberapa foto yang dijadikan hiasan pada dinding restaurant tersebut banyak menampilkan foto Chanyeol bersama dengan beberapa anggota band, bahkan ia bisa melihat foto Chelsea disana tengah duduk diatas meja bar dengan sneyuman lebar tengah memegang sebotol coca cola.
"Ini tempat kita!" Chelsea berhenti pada salah satu meja dengan empat kursi kosong tersedia disekelilingnya. Puteri Chanyeol itu segera menempati posisi duduknya, sementara Baekhyun, wanita itu masih berdiri memandangi satu per satu foto hiasan disana.
"Baekhyunnie.. duduk sini.." Chelsea memanggil, yang mana bermaksud menginformasikan wanita itu untuk menempati kursi kosong disampingnya.
Ketika Chanyeol tiba dan bergabung dengan mereka dan duduk tepat didepan Chelsea, Baekhyun masih berdiri di pinggir meja, masih diselimuti rasa penasaran dan juga berbagai pertanyaan karena semakin lama ia memandangi foto - foto disana, semakin banyak pertanyaan dalam dirinya mengenai Restaurant tersebut dan juga kenangan Chanyeol disana, bukan hanya bersama Chelsea, namun juga bersama Yoora yang mana fotonya ketika hamil dipajang disana.
"Chanyeol-
"Hello Park's!" belum selesai Baekhyun berucap, suara lain bergabung disana.
"Aunty Luhan!" dan Chelsea tentunya memperkenalkan siapa pemilik suara itu dengan begitu semangatnya.
"Hai Lu." Chanyeol bahkan menyapa juga dan Baekhyun masih terdiam disana, ia sudah melihat dengan jelas bagaimana rupawan wanita itu, memang cantik dan penampilannya seksi sama seperti pelayan lainnya, namun yang membedakannya adalah seragam yang dimiliki wanita itu. Tidak lah sama dengan seragam putih yang dikenakkan para pelayan lainnya. Seragamnya berwarna hitam dengan setelan blazer formal dan tentunya kejelasan jabatan yang dimiliki oleh wanita itu. Xi Luhan, Manager.
"Hai." Luhan menyapa Baekhyun, memberikan tangannya untuk bisa disambut oleh Baekhyun layaknya dua orang yang ingin saling berkenalan. "Welcome to our restaurant." Singkatnya memberikan sambutan.
"Oh-oh. Hallo." Kikuk Baekhyun terdengar mengingat wanita itu masih belum bisa membaca situasi yang sebenarnya terjadi saat itu. Luhan pun membalas dengan senyuman sedikit kaku karena ia melihat Baekhyun memperhatikan dirinya dengan sangat rinci dan ketika pandangannya dialihkan pada
Chanyeol yang tengah duduk santai disana, pria tu memberikan senyuman lebar menggoda kearahnya.
"Aku teman Chanyeol,btw, fyi." Luhan sesegera mungkin memperjelas status dirinya, ia cukup pintar untuk mendapati jawaban dari pandangan Chanyeol disana dan juga tentunya ini adalah pertama kalinya ia melihat pria itu dan puterinya datang berkunjung dengan salah satu wanita lain.
Baekhyun berkedip cepat. "Oh-a-aku tidak bermaksud untuk—"
Luhan tertawa setelahnya."Apapun yang Chelsea katakan mengenai diriku sudah aku pastikan tidak benar. Pasti puteri kecilmu mengarang cerita lagi bukan?" Luhan berucap pada Chanyeol, tapi pandangan matanya cepat beralih pada Chelsea yang tengah memangku wajahnya dan tersenyum manis yang mana seakan-akan menunjukkan dirinya tidak bersalah dan melakukan hal salah apapun.
Baekhyun pun ikut menoleh, menatap kedua orang disana. Sang Ayah dan juga puterinya.
"A-apa maksudnya?" kebingungan Baekhyun semakin bertambah.
"Dia pasti mengatakan ada wanita bernama Luhan yang menggoda Daddy-nya setiap kali mereka makan disini, atau mungkin ia mengatakan bahwa aku seksi dan juga cantik.." setiap perkataan Luhan terasa déjà vu dan mengingatkan Baekhyun akan ucapan Chelsea pada waktu siang sebelumnya.
Ketika ia mencoba menyimak namun memandangi wajah Chelsea disana, ia seharusnya cukup tahu dan sadar diri bahwa dirinya dengan mudah dibohongi oleh anak kecil itu.
"Aaahh.. dia memang mengatakan demikian." Baekhyun menganggukkan kepala, memberikan tatapan kesal pada Chelsea namun tak lama ia mengalihkannya pada Chanyeol disana.
"Ya! Princess, kenapa kau selalu mengatakan demikian!" Luhan tidak bermaksud memarahi, namun suaranya tengah melengking tinggi. Tapi meskipun demikian, Chelsea yang duduk dengan wajahnya yang tertutupi kedua tangannya tedengar terkikik geli karena usahanya untuk menggoda Baekhyun berhasil meskipun sudah diketahui sepenuhnya oleh Luhan dan juga Chanyeol disana.
Luhan menghampiri Chelsea disana, menggelitik badannya dan juga sedikit menanyakkan kabar gadis kecil itu, sementara Baekhyun yang masih mencoba me-normalkan pemikirannya dan juga menarik kesimpulan mengenai apa yang tengah terjadi saat itu, perlahan - lahania melangkah untuk duduk tepat disebelah Chanyeol yang sedari tadi memperhatikan dirinya.
"Apa aku pernah mengatakan melihatmu cemburu adalah salah satu hal paling lucu?" Chanyeol membuka suara, merengkuh bahu Baekhyun untuk berada dekat dekapannya, ia bahkan memberikan ciuman pada bahu wanita itu.
Baekhyun membalas pandangannya, kali ini bukan pandangan kekesalan seperti sebelumnya. Pandangannya terpaku pada setiap bagian wajah pria itu, diiringi dengan luapan dari dalam hati dan juga bagaimana gairah dibadannya semakin meningkat hebat hanya dengan sentuhan kecil yang diberikan Chanyeol disana, ciuman pada bahu telanjangnya seakan - akan menjadi pemicu gelonjakkan gairahnya. Belum lagi ketika Chanyeol memberikan usapan pada genggaman tangan dan juga lengannya, hal yang Baekhyun pikirkan adalah bagaimana caranya memohon pada pria ini untuk bisa menyentuhnya diseluruh bagian tubuhnya, saat itu juga.
"Chanyeol..." nafasnya semakin memburu disana, ia bahkan semakin mabuk ketika mencium aroma pria itu pada jarak yang begitu dekat, bisikannya bahkan ia usahakan tak begitu keras agar hanya dirinya dan juga pria itu yang mendengar suaranya.
Chanyeol tidak memberikan jawaban ketika mendengar dengan jelas suara Baekhyun menyebutkan namanya, ia bahkan mengenal dengan jelas bagaimana nada itu selalu ia dengar ketika dirinya tengah bercinta dengan wanita itu. Pandanganya matanya membalas kearah Baekhyun disana seakan - akan mencari kebenaran dari jawaban yang sudah ia pikirkan, ia ingin mempertanyakkan hal itu tapi apa yang dilakukan Baekhyun pada bagian pangkal pahanya bisa dianggap sebagai jawaban yang ia cari.
Mereka masih saling memandang satu sama lain dengan jarak begitu dekat, tapi tangan Baekhyun lebih dulu memulai memberikan isyarat permulaan dari apa yang ia inginkan saat itu. Chanyeol bahkan harus bertahan untuk tidak terpengaruh dan menenangkan diri mengingat didepan mereka, Luhan dan Chelsea masih berada disana.
"Please Chanyeol.." lagi bisikan rendah Baekhyun memohon dan apa yang bisa Chanyeol lakukan hanyalah menggenggam erat tangan Baekhyun dibawah sana untuk berhenti mengusap kejantanannya sebelum ia terbangun, Chabyeol beranjak bangkit dan membawa wanita disebelahnya melangkah bersamanya menuju tempat yang bisa merekan gunakkan untuk meluapkan nafsu dan gairah masing - masing.
Chanyeol bahkan melupakan ucapan pamit sesaat kepada puterinya disana.
"Daddy mau kemana! Baekhyunniee!"
"No, Chels!" Luhan dengan sigap menahan anak itu untuk menyusul. "Daddy hanya mengantar Baekhyunnie." kebohongannya cepat terucap guna menahan anak itu melangkah untuk menyusul.
"Mengantar kemana?" tanyanya.
"Toilet, Daddy mengantar Baekhyunnie ke toilet." Kebohongannya terus berlanjut sementara dalam hatinya merutuki dua orang dewasa disana yang jelas tidak bisa menahan diri hanya untuk bercinta. Luhan tidak bodoh, ia tentunya sudah paham apa yang akan dilakukan dua orang itu sejak mereka duduk bersama dan saling memandang satu sama lain dengan tatapan penuh cintanya, belum lagi telinganya jelas menangkap jelas bagaimana suara Baekhyun memanggil nama Chanyeol dan bahkan tangannya yang bergerak menyimpang, meskipun terhalang pandangan meja, ia sudah pasti bisa menebak apa yang dilakukan oleh tangan wanita itu hingga membuat Chanyeol menegang disana.
Dasar mesum!
Tbc.
