Toilet adalah tempat yang mereka tuju. Tidak memperdulikan beberapa pasang mata mungkin melihat dengan jelas pemandangan dua orang yang saling bercumbu ciuman satu sama lain, tidak pula peduli akan rasa sakit dan nyeri yang dirasakan ketika masing – masing punggung belakang mereka bersentuhan dengan kerasnya dinding toilet maupun pintu yang dengan begitu kasarnya dibuka dan ditutup sesuka hati demi sebuah waktu dan tempat untuk saling bercumbu, menyentuh dan sedikit luapan rasa cinta didalam hasrat yang menggebu.
Baekhyun lebih dulu disudutkan didalam salah satu bilik toilet, kedua tangan wanita itu dengan genggaman kedua tangannya, wajah mereka berada dalam jarak berdekatan dengan pandangan mata saling menatap satu sama lain yang bahkan bisa dikatakan terpaku satu sama lain, suara deru nafas Baekhyun adalah satu – satunya suara yang terdengar diantara keduanya dan setelahnya adalah suara – suara desahan yang terdengar dibalik bilik toilet yang mana mereka tengah berada saat ini.
Chanyeol memulai lagi.
Tangannya tak lagi mengunci tangan Baekhyun, kini tangannya bergerak menyentuh pipi wajah wanita itu dengan gerakkan sangat lembut dan penuh sayang, usapan jari – jarinya bahkan terasa menghipnotis Baekhyun hingga kedua mata wanita itu terpejam, dan Chanyeol melanjutkan pergerakkannya dengan mencium bibir Baekhyun, masih dengan lembut namun bergerak pasti melumat bibir wanita itu yang mana semakin membuat Baekhyun terbuai didekatnya. Kedua tangan Baekhyun bergerak memberikan balasan dengan mengusak rambut belakang Chanyeol dan juga pinggang belakang pria itu guna membuat tubuh Chanyeol semakin menekan badannya hingga mereka terlihat saling menyatu.
Hasrat mengusai keduanya, ciuman yang dilakukan tidak lagi bergerak lembut, bukan lagi hanya kedua belah bibir yang bergerak, bagian lidah mereka mulai saling bertarung dan dilumat satu sama lain bersamaan dengan pergerakkan tangan yang mengoyak pakaian untuk terlepas dari tubuh masing – masing. Chanyeol lebih dulu berhasil membebaskan Baekhyun dari pakaian yang menganggu kegiatan mereka. Gaun yang dipakai wanita itu sudah terbebas dari badannya dan kini berada dibawah kakinya, sementara pakaian dalamnya hanya tersisakan celana dalam berbentuk thong—itu pun sudah sedikit tersingkirkan karena tangan Chanyeol tengah berada dibalik celana dalamnya bermain – main dengan bagian intimnya yang mana tengah basah akibat apa yang dilakukan oleh Chanyeol.
Lain halnya dengan Chanyeol, konsentrasinya tengah dipermainkan oleh Baekhyun saat itu, bukan hanya karena pergerakkan tangan wanita itu yang bergerak menjamah seluruh badannya dan juga membuka kaos dan juga celana jeans yang ia kenakkan, tapi Baekhyun tak berhenti – hentinya mencium bibir, melumat lidahnya dan juga bagian tubuhnya, dada, perut dan berakhir pada bagian bawahnya yang mana kini semakin tersiksa karena permainan tangan Baekhyun yang meremas dan juga mengulur keintimannya yang mana membuat Chanyeol menggila karenanya.
Bibir mereka tak lagi bertautan dan melumat satu sama lain, Chanyeol merendahkan wajah dan badannya agar dirinya bisa membuai tubuh Baekhyun dengan melumta kedua payudara wanita itu sementara bagian bawahnya sengaja ia gesekkan dan dimainkan menyentuh milik Baekhyun, dan wanita itu hanya bisa menahan desahan dan juga erangannya dengan menutup rapat bibirnya, tangannya sedikit menjambak rambut Chanyeol atau bahu pria itu sebagai balasan karena rangsangan yang ia dapatkan.
"Ini akan selesai dengan cepat." Chanyeol berucap di sela – sela dirinya tengah menyiapkan miliknya untuk memasuki lubang Baekhyun, wanita itu menatapnya dengan sayu dan hanya bisa mengangguk singkat sebelum ia menarik wajah Chanyeol dan memberikan ciuman panas sebagai pengalihan dirinya untuk tidak merintih merasakan penuh dan sesak pada lubangnya.
Tepat ketika mereka menyatu dengan sempurna dan tentunya terasa amat erotis dan panas, saat itu juga Chanyeol bergerak menggila hanya demi menjemput sebuah pelepasan klimaksnya. Kedua kaki Baekhyun bahkan melingkar sempurna di pinggangnya dengan kedua tangannya terkait pada leher Chanyeol, wanita itu bahkan tidak lagi memikirkan dirinya yanga terombang ambing bergerak naik turun dan bergesekkan dengan dinding bilik toilet.
"Jangan berhenti.." Baekhyun memprotes ketika ada jeda disana, tangannya bahkan menarik – narik rambut Chanyeol dan pinggulnya bergerak secara naluriah mengikuti keinginan dalam dirinya demi meminta Chnayeol untuk menghujam lubangnya lebih keras dan dalam seperti beberapa menit sebelumnya. Baekhyun tengah berada dalam saat – saat penjemputan klimaksnya.
Chanyeol mengalihkannya dengan mencium kembali bibir Baekhyun, bergulat dengan lidah wanita itu sementara tangannya juga bergerak bermain dengan salah satu payudara Baekhyun yang mana semakin membuat Baekhyun terbang dalam buaiannya, mereka berdua tepatnya mulai terbuai dalam setiap perlakuan yang dilakukan saat itu. Desahan dan erangan yang tertahan bahkan mulai terdengar dan dilepaskan tanpa disadari, pergerakkan Chanyeol bahkan mulai bergerak cepat dan juga kasar tapi Baekhyun terus memohon pada pria itu untuk semakin menghujamnya dan ketika tiba waktunya klimaks mereka berdua berhasil dicapai dalam waktu bersamaan kedua mata mereka masing – masing terpejam dengan ciuman yang masih terus dilakukan. Chanyeol sempat meringis merasakan cengkraman kuku Baekhyun nampaknya akan membuat bekas luka pada bagian pundaknya.
"that was fast.." Baekhyun berucap pelan, masih berusaha menyatukan kesadarannya dan juga deru nafasnya.
Chanyeol tersenyum dan menggelengkan kepala, dengan sengaja menyatukan keningnya pada kening Baekhyun dan tentunya menahan diri untuk tidak tertawa keras disana. "Ini pertama kalinya aku melakukan quickie di toilet."
Baekhyun sedikit mendongak disertai dengan tatapan tidak percaya.
"Ngh.. yes baby.. fuck!"
Suara lain tedengar dan mereka berdua saling melempar tatapan kaget mendengar suara – suara lain yang mana terdengar erotis, erangan, desahan dan sedikit rintihan juga terdengar dibalik dinding bilik toiletnya. "I-itu.."
"Fungsi toilet pada sebuah bar." Chanyeol menjawab cepat mengerti apa yang akan diucapkan oleh Baekhyun meskipun wanita itu belum mengatakan semuanya.
"Oh." Baekhyun mencerna cepat memahami situasi yang tengah ia dapati dan tidak lagi berniat mengomentari dari mana sumber suara – suara tersebut mengingat dirinya dan Chanyeol beberapa menit yang lalu juga melakukan hal yang sama, ia mensyukurinya dirinya yang tidak terlalu berisik bila menyangkut dengan kegiatan seksual, begitu juga dengan Chanyeol.
.
.
LOVELESS
.
Chapter 13
.
Chanyeol-Chelsea-Baekhyun
OC
Drama-Family-Romance
GS
.
.
You want a Love that consumes you, You want passion and adventure,
And even a little danger.
—LJ Smith
.
.
.
Chelsea tak lagi duduk pada kursi dimana seharusnya ia duduki sambil menunggu sang Daddy dan juga Baekhyun kembali dari urusannya yang sangat mendesak secara tiba – tiba, puteri kecil Chanyeol itu tengah berada didekat mesin Music Box dan tengah memilih – milih sebuah lagu untuk ia putar ditemani salah satu pelayan yang tentunya sudah ia kenal.
"Aunty.." Chelsea menarik – narik rok pelayan itu. "Chelsea lupa judulnya.." ia mengeluh kesal melihat daftar judul lagu disana nampak tidak familiar dengan apa yang ia inginkan.
"Chelsea mencari lagu apa?" sang pelayan sedikit membungkuk menyamakan dengan tinggi badan anak itu dan juga melihat kearah yang sama, melihat daftar judul lagu yang terbaris rapi didalam mesin itu.
"Lagu yang biasa Daddy putar disini.." anak itu kian mendekatkan wajahya pada mesin music box itu dan melihat satu per satu list lagu yang ada disana hanya demi mencari nama lagu yang selalu diputar oleh sang Ayah ketika mereka berada direstoran tersebut dan sang pelayan yang mana ikut membantu mencarikan nama lagu tersebut.
"Sepertinya harus Aunty Luhan yang mencari nama lagunya.. sebentar aku akan memanggilkan Aunty ya.. Chelsea tunggu disini dulu." Sang pelayan memberikan perintah sebelum ia berlari kecil memanggil nama Luhan untuk bisa segera datang membantu sang anak emas itu mencari lagu disana.
"Lagu Daddy mana.. lagu Daddy mana.." Chelsea bergumam tanpa memperdulikan keadaan sekitarnya dan juga tidak peduli apakah ada orang lain yang tengah mengantri dibelakangnya. Sesungguhnya ada 3 antrian orang dewasa dibelakang anak itu yang tengah menunggunya selesai memilih lagu namun mereka tidak bisa melarang atau pun memperingati anak itu untuk segera menyudahi memilih lagu.
Menit – menit berlalu beberapa orang yang mengantri mulai tidak sabar menunggu, ada salah satu diantar mereka yang menghampiri Chelsea dan menanyakkan nama lagu atau artis yang tengah ia cari namun Chelsea hanya bisa memberikan jawaban 'Lagu Daddy' –ia tidak menyadari kalimat itu sama sekali tidak membantu mereka untuk bisa mencarikan lagu yang dimaksud. Ada juga beberapa orang yang menyerobot antrian dan meminta Chelsea mengijinkan dirinya untuk memilih lagu terlebih dahulu dan Chelsea tidak bisa menolak. Ia mengangguk memberi ijin dan hanya bisa memperhatikan orang – orang dewasa lainnya dengan mudahnya memilih lagu yang mereka inginkan.
"Chels!" akhirnya Luhan datang menolong.
"Aunnttiiiee! Chelsea tidak menemukan lagu Daddy!" dan dengan mudahnya Chelsea merengek dengan suara sendunya. "Nama lagu Daddy tidak ada disini.." tangannya menunjuk daftar urutan lagu disana."
"Yaa! Kau jangan mencari dengan nama Daddy-mu sayang.. dia belum berhasil membuat satu lagu menggunakkan namanya." Luhan sedikit memberikan penjelasan kepada anak itu mengingat puteri kecil dari Chanyeol itu sudah pasti mencari nama lagu dengan menggunakkan nama Chanyeol sebagai acuannya, bukan dengan nama artis sesungguhnya yang mana secara original membawakan lagu tersebut.
"Bon Jovi – Always." Luhan menyebutkan nama artis dan judul lagunya, ia juga menunjukkan pada Chelsea, membiarkan anak itu ber-Oh serta menganggukkan kepala menandakkan dirinya mulai paham apa arti sesungguhnya dari kata 'Lagu Daddy' yang sedari tadi ia katakan.
Intro lagu tersebut mulai terdengar dan beberapa orang yang menyadari lagu yang telah berhasil dipilih oleh sosok anak kecil tersebut adalah lagu yang sangat melegenda terutama rentang perbedaan tahun yang sangat signifikan mengingat sang artis yang menyanyikkan lagu tersebut sudah berada pada usia puluhan tahun—berbeda jauh dengan usia Chelsea saat ini.
This Romeo is bleeding, but you can't see his blood
It's nothing but some feelings
That this old dog kicked up
It's been raining since you left me
Now I'm drowning in the flood
You see I've always been a fighter
But without you I give up
Now I can't sing a love song
Like the way it's meant to be
Chelsea ikut menyanyikan beberapa lirik lagu bersama beberapa pengunjung disana, meskipun suaranya terdengar lebih nyaring terdengar. Ia bahkan tidak memperdulikan kesalahan dalm pelafalan lirik lagu tersebut.
Well, I guess I'm not that good anymore
But baby, that's just me
"...Yeaaahh! I will love you, baby.. Always and I'll be there forever and a day, always..I'll be there, till the stars don't shine!" Ia menyanyikkan dengan begitu semangat dan bahkan mengajak Luhan menuju panggung kecil yang terdapat di sudut restoran hanya agar ia bisa tampil disana dengan menggunakkan mic layaknya penyanyi sungguhan.
'Til the heavens burst and the words don't rhyme
I know when I die you'll be on my mind
And I'll love you, always
Chelsea menyanyikkannya dengan begitu lihai mengingat lagu ini selalu dinyanyikkan oleh sang Daddy bersama dirinya.
Now your picture's that you left behind
Are just memories of a different life
Some that made us laugh
Some that made us cry
One that made you have to say goodbye
Beberapa pengunjung yang menyaksikan pun ikut bernyanyi dan bahkan mengabadikan bagaimana anak kecil itu melenggak lenggok berusaha menghayati setiap lirik yang ia nyanyikkan mengikuti suara asli dari sang penyanyi lagu.
..
..
Chanyeol masih menunggu disamping wastafel didalam toilet pria, ia sudah selesai lebih dulu membersihkan diri dari sisa- sisa hasil quickie yang baru saja ia dan Baekhyun lakukan dibalik bilik toilet disana, dan kini dirinya tengah menunggu sang wanita itu selesai merapikan dandanan dan juga tampilan dirinya. Beberapa pasangan yang berlalu lalang ia hiraukan mengingat bukan hanya dirinya yang menggunakkan fasilitas toilet disan sebagai ruangan untuk melakukan percintaan kilat.
Ketika pintu terbuka sedikit dikarenakkan ada pasangan yang baru saja masuk, ia bisa mendengar suara lantunan lagu yang mana sangat ia kenal, namun pikirannya tidak tertuju pada sang puteri yang memesankan lagu itu untukknya.
"Apa aku membuatmu menunggu lama?" fokusnya teralihkan karena Baekhyun kini sudah selesai dan keluar dari bilik toilet dengan tampilan yang lebih baik dibandingkan sebelumnya.
Chanyeol menggeleng. "Belum mengalahkan waktu mandimu." Ejekannya ia ucapkan kembali mengingat waktu mandi yang Baekhyun butuhkan bisa menghabiskan waktu hampir 1.5 jam.
Baekhyun seketika mempoutkan bibirnya dan kemudian berjalan seorang diri tanpa mengaja Chanyeol untuk melangkah bersamanya.
"Ya.. jangan tinggalkan aku.." Chanyeol merengek dan menyusul, menyergap badan Baekhyun dengan memeluknya dari belakang dan ikut melangkah beriringan.
Chanyeol merangkul Baekhyun dengan lengannya dan bahkan memberikan beberapa kali ciuman singkat pada pipi dan bahu wanita itu dengan begitu leluasanya dan Baekhyun tidak melarang. Suatu kemajuan positif dari hubungan mereka mengingat sebelum – sebelumnya Baekhyun akan selalu menjaga jarak dan bahkan menolak untuk melakukan itu semua, namun kini wanita itu diam dan membiarkan Chanyeol melakukannya.
I know when I die you'll be on my mind
And I'll love you, always
Suara Chelsea yang tengah menyanyikkan penggalan lagu tersebut terdengar dan Chanyeol jelas snagat hapal suara yang ia dengar saat ini adalah suara dari puterinya.
"Chelsea?" Baekhyun menjadi satu – satunya yang tengah terkejut disana mendapati puteri kecil Chanyeol tengah berada diatas panggung dengan sebuah mic di tangannya dan tentunya tengah bernyanyi dan banyak pengunjung yang menonton aksi anak itu yang tak luput pula mengabadikannya dengan kamera disetiap masing – masing tangan mereka.
Chanyeol sempat tak percaya melihat bagaimana puterinya mampu kembali bernyanyi diatas panggung seperti sebelum – sebelumnya terlebih ia tengah menyanyikkan sebuah lagu yang mana menyimpan begitu kenangan. Chanyeol membawa Baekhyun untuk bergegas kembali ke meja mereka, memohon wanita itu untuk duduk seorang diri sementara dirinya terus melanjutkan langkahnya menghampiri Chelsea dan juga mengambil mic dan juga gitar listrik yang ada di atas panggung.
"Yeaaayy Daddy!" sang puteri yang mengetahui ayahnya akan menemani dirinya menyanyi dan juga bermain gitar disana secara otomatis teralihkan melupakan lirik lagu yang masih harus ia nyanyikkan.
"When he holds you close, when he pulls you near, when he says the words.." kali ini hanya suara Chanyeol yang menyanyikan setiap kata dan Chelsea kini beralih menjadi penikmat lagu tersebut meskipun dirinya masih berada diatas panggung bersebelahan dengan sang ayah.
"You've been needing to hear, I'll wish I was him.. 'Cause these words are mine, to say to you..'Til the end of time.."
Baekhyun menyaksikan dengan jelas dan melihat bagaimana begitu cerianya Chelsea diatas panggung sana terpesona melihat aksi sang Daddy, ia turut merasakannya. Terlebih ketika Chanyeol begitu piawai memainkan senar – senar dari gitar listrik yang tengah ia mainkan.
"Yeah I, will love you, baby.. Always and I'll be there.. Forever and a day, always.." kali ini bukan hanya suara Chelsea dan Chanyeol yang bernyanyi keras dan lantang, semua pengunjung dan karyawan restoran ikut serta bernyanyi dan membuat suasana semakin haru dalam keramaian.
If you told me to cry for you, I could
If you told me to die for you, I would
Ada yang terpesona melihat bagaimana sang pria yang baru saja bersama dengannya berbagi desahan dan juga erangan kini terlihat begitu mempesona diatas panggung menyanyikkan penggalan lirik lagu dan juga memainkan gitar listrik seorang diri disana.
Take a look at my face
There's no price I won't pay
To say these words to you
Chanyeol menyanyikkan dengan penuh penghayatan dan Baekhyun yakin ada cerita dibalik kenapa pria itu sungguh – sungguh mendalaminya.
"Daddy!" Chelsea berteriak ketika Chanyeol menampilkan intro pada lagu itu dengan menunjukkan permainan gitarnya lagi, para pengunjung yang didominasi oleh para wanita di barisan depan panggung kecil itu pun sontak bergemuruh terpukau karena bagaimana pun juga ketampanan yang dimiliki oleh pria itu mempesona siapapun.
Well, there ain't no luck in these loaded dice
But baby, if you give me just one more try
We can pack up our old dreams, and our old lives,
We'll find a place, where the sun still shines
Ada gambaran suasana sakit ketika Chanyeol menyanyikan bait lagu ini, dan Baekhyun rasa hanya dia yang bisa mengetahuinya secara jelas.
Yeah I, will love you, baby
Always and I'll be there
Forever and a day, always
I'll be there, till the stars don't shine
'Til the heavens burst and the words don't rhyme
I know when I die you'll be on my mind
And I'll love you, always
Always
Chanyeol menutupnya dengan memberikan tampilan apik permainan gitarnya dan Chelsea ikut bernyanyi diakhirnya dan ikut berteriak – teriak mengikuti alunan lirik lagunya.
LOVELESS
"Baekhyunnie.." sang puteri kecil Chanyeol merengek meminta sebuah pelukan untuk menghantarnya menjemput dunia mimpi. "Apa Baekhyunnie senang kita berlibur di Rumah Pantai?" Pertanyaan Chelsea merujuk pada hari esok dimana mereka akan kembali ke New York, dan tentunya kembali pada aktifitas masing – masing.
"Um." Baekhyun mengangguk, memberikan senyuman bahagia mengingat beberapa hari ia habiskan berlibur bersama Chelsea dan Chanyeol jelas menghiburnya, terlebih ingatannya akan kedekatan intim diantara Ia dan Chanyeol lebih banyak dihabiskan di rumah ini. Dan juga bilik toilet Restoran. "Ini adalah liburan terbaik." Tidak ada kebohongan ketika Baekhyun mengucapkan kalimat itu pada Chelsea.
"Really?" anak itu berkedip tidak percaya.
"Um." Baekhyun mengangguk lagi. "Aku belum pernah berlibur.." Baekhyun ragu untuk bercerita sebenarnya mengingat kata liburan yang ada didalam kamus hidupnya adalah menunjuk pada saat waktu dimana ia pulang ke Korea yang mana hanya menghabiskan waktu dirumah bersama dengan Ibu dan Adiknya, atau ketika ia pulang ke Rumah Ayahnya yang mana ia akan bertemu dengan sang Ayah dan juga istri keduanya. Dan dari itu ia bisa menyimpulkan dengan yakin bahwa tidak ada liburan yang begitu menyenangkan dibandingkan liburan singkatnya kali ini bersama Chanyeol dan juga Chelsea.
"Waeyo?" lagi – lagi anak itu berkedip, menunggu Baekhyun melanjutkan ceritanya meskipun pada wajah dan gerakkan mata Chelsea jelas terlihat rasa mengantuk yang sudah teramat tidak bisa ia tahan.
"A-aku sibuk bekerja.." Baekhyun mengambil kesimpulan lain. "Tidak bisa mendapatkan liburan panjang dan bepergian jauh dengan mudah."
Chelsea menggerakkan badannya menyamping agar bisa melihat Baekhyun lebih jelas, "Daddy sibuk bekerja juga..tapi Daddy selalu bisa berlibur dengan Chelsea."
Baekhyun tertawa kecil, Daddy-mu seorang pengusaha sayang. Ingin batinnya mengucapkan hal itu pada Chelsea namun ia urungkan mengingat anak itu pasti belum bisa memikirkan apa yang ia ucapkan.
"Karena Daddy menyayangimu.. untuk itu Ia selalu meluangkan waktunya untuk berlibur bersama Chelsea." Baekhyun menjawab asal.
"Oh.."
Chelsea tidak lagi memberikan pertanyaan lainnya ketika mendengar jawaban dari Baekhyun, tapi keduanya masih bergelung dibawah selimut yang sama dan saling berhadapan dalam diam.
"Baekhyunnie.." Chelsea memanggil lagi.
"Hm?"
"A-apa Baekhyunnie menyukai Daddy?"
Ada yang terdiam dengan begitu cepat dan bahkan melupakan caranya berkedip seketika mendengar pertanyaan yang mana terlontar dari mulut gadis kecil yang akan sudah memasuki umur Sembilan tahun itu.
"Err... kenapa kau menanyakkan itu?" Baekhyun mempertanyakkan mengapa secara tiba – tiba Chelsea menanyakkan mengenai hubungannya bersama Chanyeol. Ia memang tidak bisa melupakan mengenai anak itu yang bisa saja sudah mengeti mengenai sebuah hubungan tapi pertanyaan mengenai mengapa dirinya menyukai sang Ayah jelas mengusik keadaan hatinya mengingat Ia bahhkan belum memberikan jawaban akan pertanyaan hati Chanyeol sejak beberapa hari lalu.
"Daddy 'kan menyukai Baekhyunnie.. kalian bahkan berciuman." Ada suara kikik tawa yang terdengar dari mulut Chelsea. "Daddy dan Aunty Kyungsoo pernah mengatakan kalau dua orang yang saling menyayangi dan mencintai... pasti mereka menunjukkannya dengan berciuman. Dibibir.." tangannya menunjuk bagian – bagian yang ingin ia sebutkan, "Dikening.. dipipi.. dihidung.. atau ditangan.."
"Oh—" ada yang terpukau mendengar penjelasan Chelsea, membayangkan anak seusianya sudah bisa memahami bagaimana menunjukkan rasa kasih sayang dan cinta. Dan itu sangat berbanding terbalik dengan Baekhyun ketika ia seusia Chelsea kala itu.
"Jadi.. Baekhyunnie menyukai Daddy?" lagi, Chelsea mengulang pertanyaannya.
Namun bukanlah sebuah jawaban yang terucap dari mulut Baekhyun setelahnya, wanita yang lebih dewasa itu memilih diam dengan perasaan yang terombang ambing mendapati bahwa pendiriannya selama ini mengenai sebuah hubungan harus ia pertaruhkan dihadapan anak kecil. Ada sebuah pertentangan tengah bergejolak didalam dirinya tapi ada sebuah perhatian dan juga kehangatan yang ingin terus ia dapatkan yang mana baru bisa ia dapatkan setelah dirinya bertemu dengan Chanyeol dan juga Chelsea. Sebuah hubungan, penyaluran kasih sayang dan rasa perhatian selalu ada diantara mereka bertiga selama beberapa waktu belakangan.
Chanyeol memberikan semua pengalaman mengenai hubungan bercinta pada level yang berbeda, bukan hanya sekedar sebuah hubungan seksualitas , pria itu mampu menunjukkan sedikit gambaran mengenai hubungan percintaan yang melibatkan emosi dan juga perasaan. Berbagi cinta dan kasih dan juga dunia mereka sepenuhnya sama – sama dipenuhi oleh keduanya.
Sementara Chelsea, meskipun anak itu masih berada diusia dini dan tidak beruntungnya tak mengenal kasih dari seorang Ibu yang merawatnya sedari ia dilahirkan, tapi ia mampu menunjukkan pada Baekhyun bahwa dia masih memiliki seorang Daddy yang begitu sempurna melengkapi hari – harinya, dan sesungguhnya Baekhyun iri akan hal itu.
"Baekhyunnie marah?" gumaman Chelsea yang terdengar ragu membuyarkan lamunan Baekhyun. "Baekhyunnie jangan marah..." kini anak itu terdengar merasa sangat bersalah dan Baekhyun merutuki dirinya sendiri yang tidak mau berkomentar apapun untuk menjawab pertanyaan Chelsea sedari tadi.
"No..." ia menghela nafas sesaat, "Baekhyunnie tidak marah Chels.. hanya saja..." ia menahan ucapannya, mengusap pipi wajah Chelsea dengan lembut dan kemudian memberikan senyuman hangat untuk membantu anak itu merasa tenang. "Hanya saja.. Baekhyunnie belum tahu mengenai ini semua.." ia mengucapkan secara tersirat yang mana tidak dimengerti oleh anak itu.
Kali ini Chelsea harus memutar cara kerja otaknya untuk bisa memahami jawaban yang Baekhyun lontarkan. Matanya berkedip cepat membalas tatapan mata sayu wanita itu.
"Tidur ya.." satu perintah Baekhyun ucapkan , seujurnya itu adalah cara pengalihan yang sengaja ia lontarkan untuk membuat Chelsea tidak melanjutkan rasa ingin tahunya.
Anak itu hanya mengangguk menurut, mendekatkan diri kearah Baekhyun sembari memeluk dua boneka tidur nya. "Selamat malam Baekhyunnie.. Chelsea sayang Baekhyunnie." Bukan hanya ucapan selamat malam yang Baekhyun dapatkan saat itu, kecupan dari bibir Chelsea adalah hadiah lainnya. "Selamat tidur Mommy." Chelsea berucap lirih dengan matanya yang terpejam erat.
Baekhyun sempat berpikir ucapan itu ditujukkan untuk mendiang Ibu-nya, namun pada nyatanya.. Chelsea memang mengucapkan kalimat itu untuk Baekhyun seorang namun ia takut Baekhyun tidak akan mengijinkanya untuk memanggilnya kembali sebagai Mommy mengingat panggilan itu hanya mereka gunakkan ketika berbelanja bersama beberapa waktu lalu.
Baekhyun mengusap pucuk kepala Chelsea dan juga memberikan kecupan singkat pada keningnya, ia bahkan menutupi dengan begitu rapat badan mungil milik Chelsea dengan selimut sebelum ia beranjak pergi keluar dari kamar untuk mencari udara segar dan menenangkan pikirannya sejenak sebelum dirinya kembali bertatap dan menghabiskan malam bersama Chanyeol setelahnya. Baekhyun sempat merasa lega mengingat pria itu tengah membersihkan badan sedari tadi dan tidak keluar dari kamar mandi disaat puterinya memberikan pertanyaan yang membuat keadaan hari Baekhyun terguncang sesaat.
.
.
.
Ketika Chanyeol keluar dari kamar mandi dengan keadan lebih segar dari sebelumnya dan dibalut dengan kaos lengan buntung berwarna gelap serta celana training dibagain kakinya, ia mendapati puterinya tengah terlelap seorang diri di ranjang kamar itu dan mendapatkan kekosongan dari kehadiran wanita dewasa satunya. Chanyeol menyempatkan mencium kening Chelsea dengan cepat sebelum langkah kakinya beranjak untuk mencari wanitanya yang secara tiba – tiba menghilang dari kamarnya.
Chanyeol melangkah cepat untuk mencari sosok Baekhyun di dalam rumahnya, ruang tengah, dapur dan juga balkon di lantai dua, namun Baekhyun tidak berada disana. Helaan lega ia lakukan ketika pandangan matanya tertuju pada sosok yang ia cari ternyata berada di pinggir pantai, duduk seorang diri tengah menikmati suara desiran ombak dan juga sapuan dari angin malam di sana. Chanyeol tentu saja menyusul dengan cepat dan tanpa ada suara memanggil nama Baekhyun dan ijin wanita itu, dirinya memutuskan untuk duduk di samping Baekhyun.
"Aku kira kau kabur." Satu kalimat Chanyeol ucapkan dengan maksud menyindir Baekhyun, pandangannya tetap tertuju pada wajah sendu wanit itu yang belum menoleh kearahnya dan bahkan melontarkan protes karena keberadaannya secara tiba – tiba.
Chanyeol tidak berniat untuk melanjutkan topik pembicaraan basa – basinya, ia memilih diam dan mengikuti Baekhyun menatap pada pergerakan desiran ombak didepannya yang nampak sangat gelap.
"Dulu ayahku selalu mengajakku ke pantai." Chanyeol menoleh kearah Baekhyun dan melihat wanita disampingnya masih menatap kosong kearah gelapnya pantai, ucapannya masih terhenti dan belum dilanjutkan, hingga selang beberapa menit Baekhyun mulai berucap lagi.
"Saat kami masih di Korea, hampir setiap minggu ia mengajak kami sekeluarga untuk berpergian ke Pantai. Hanya pantai – pantai kecil di pinggir kota.. kami bermain seharian disana dan kemudian tidur di penginapan kecil, keesokkan harinya kami akan bangun di pagi hari untuk melihat matahari terbit. Makan siang disana sebelum kami kembali pulang."
Chanyeol berniat mendengarkan lebih dulu tanpa memikirkan kalimat apa yang akan ia ucapkan nantiya.
"Setelah adikku lahir, kami juga masih melakukan hal seperti itu, dan itu terasa lebih ramai dan luar biasa menyenangkan. Hanya ke pantai itu bisa membuatku merasa bahwa keluargaku adalah keluarga paling bahagia diantara yang lainnya."
"Anak – anak menyukai pantai." Chanyeol menyahut dengan kekehan yang terdengar dipaksa.
"Hm." Baekhyun menjawab dengan suara dehaman, "Suatu hari Ayahku membawaku dan Wendy kembali ke Pantai kembali.. kami sudah bertahun – tahun tidak pergi ke Pantai itu dan hari itu Ayah mengajak kami kembali, hanya aku dan adikku. Mom tidak ikut serta dan Ayahku tidak mengatakan alasannya. Aku ingat, aku masih sekolah dasar, adikku mungkin baru menginjak usia 4 atau 5 tahun. Ayah mengajak kami, ia kembali menjadi sosok yang aku rindukkan, sosok pria yang mana dulu aku sayangi, ia mengajak kami berenang, bermain dengan pasir – pasir.. bahkan membangun istana pasir.. hm.."
Chanyeol bisa melihat wanita disampingnya tengah menahan senyum dan juga haru akan ingatan yang tengah diceritakan padanya.
"..aku ingat membawa pulang beberapa batu pantai dan juga kerang – kerang laut.. aku dan Wendy mengumpulkan itu semua sebagai kenang – kenangan karena aku berpikir.. hari itu tidak akan terulang kembali."
Baekhyun menoleh kearah Chanyeol, memandangi pria itu yang tengah menyimak sebagian cerita dari kisah hidupnya. "Kau tahu apa yang terjadi di hari berikutnya?" pria itu menggeleng.
"Mom mengamuk."
Cahnyeol tersingkap mendengarnya, ia tidak membayangkan akan kejadian di hari berikutnya seperti yang Baekhyun baru jelaskan secara singkat.
"Ia mabuk berat, kacau, marah, kecewa.. semua luapannya ia uatarakan dengan begitu emosionalnya ketika kami kembali ke rumah."
Baekhyun terdiam lagi, memberi jeda untuk melanjutkan ceritanya, sementara Chanyeol masih terdiam kaku menatap Baekhyun menanti kelanjutan.
"Ada alasan kenapa Ayahku tidak pernah membawa kami ke pantai seperti sebelum – sebelumnya, dan ada alasan juga kenapa ia tiba – tiba mengajakku dan adikku kesana tanpa Mom. Hubungan mereka tidaklah sama seperti sebelum – sebelumnya. Dan keputusan perceraian adalah akhirnya. Ia memberikan surat keputusan bercerai pada Mom lalu membawa puterinya ke Pantai sebagai hadiah terakhir atau mungkin kenang – kenangan terakhir untuk kami berdua."
"Hari berikutnya, dia sudah pergi dari rumah dan kami tidak bisa bertemu dengannya.. Mom juga melarang keras untuk itu. Ia bahkan berucap kasar mengenai ayahku—dan itu membuatku sangat amat membencinya."
Baekhyun sempat terisak tak lama setelahnya namun cepat – cepat ia mengusap aliran air mata diwajahnya.
"Aku membencinya.." ia melihat kearah Chanyeol, mengucapkan kalimat itu dengan begitu lantang dan menjelaskan kebencian dalam hatinya yang amat terluka. "Aku membenci dirinya yang meninggalkan kami.. aku membenci dirinya karena ia pergi dan memilih wanita lain.. memiliki kehidupan lain.. bukan bersamaku, bukan bersama Mom—" Isakan tangisnya lebih mendominasi membuat kalimat apa yang akan ia ucapkan tertahan, Chanyeol pun masih membiarkan namun kini ia sudah membawa Baekhyun dalam dekapan badannya, memeluk wanita itu dan mengusap bagian kepala dan juga punggungnya.
"—ia dengan mudahnya meninggalkan kami—hiks—"
"—aku membencinya—"
Chanyeol masih belum memberikan sanggahan atau pun mengucapkan satu kata pun terhadap apa yang tengah Baekhyun coba curahkan padanya, ia hanya menenangkan dalam diam, mencium kepala Baekhyun, mengusap punggungnya dan tidak pernah melepaskan pelukannya yang mana semakin ia eratkan setiap Baekhyun mengeram meneriakkan kebencian dari dalam hatinya.
Tbc.
