"Ibu merubah semua dekorasi acara resepsi.. dan dia melakukannya tanpa memberitahuku atau pun Eric. Yang benar saja! Ini acara pernikahanku! Gosh!

Baekhyun menghela nafas serta menggelengkan kepalanya masih mendengarkan semua ocehan Seung-wan melalui ponselnya. Ini sudah hampir 15 menit lamanya dan adiknya belum juga memberikan waktu jeda sedikit pun untuk dirinya sekedar mengomentari permasalahan yan tengah ia hadapi di Korea sana.

"… aku sudah katakan padanya kalau Eric mendukungku untuk mengundang Ayah datang..dan sekarang Ibu membalasnya seperti ini—aku menyesal meminta dia membantuku mengerjakan semuanya! Astagaaa~ Baekhyunniee~ apa yang harus aku lakukan…"

Baekhyun mengambil ponselnya dan mematikan pilihan speaker disana, "Kau tidak perlu berbuat banyak Wendy-ah.. biarkan saja Mom melakukan yang dia mau.. setidaknya kau tidak perlu sampai batal mengundang Dad untuk datang. Ngomong – ngomong.. apa Dad benar – benar akan datang?"

"Dia membuat semua dekorasinya terlihat mahal!"

"Mom yang membayarkan semuanya bukan?"

"Iya sih.. tapi…"

"Tapi…?"

"Aku dan Eric tidak ingin seperti itu! Ini semua terlalu mewah.. kita berdua tidak menginginkan pernikahan kami seperti itu. Aku tidak mau menunjukkan status keluarga kami berdua didepan para undangan."

Baekhyun masih mendengarkan disela – sela dirinya mengerjakan beberapa tampilan design yang ada dilayar depan matanya. "Mom ingin menunjukkan status dirinya.. aku sarankan kau tetap membiarkan Mom seperti itu sebelum ia akhirnya memintamu untuk membatalkan undangan pada Dad. Oh! Apa Dad akan datang dengan wanitanya?"

"Haaaa…" Sang adik menghela nafas menyerah disana, "Dad tidak mengatakan padaku akan membawa istrinya atau tidak.. atau entahlah.. aku tidak peduli dia akan membawa wanitanya atau anaknya… yang penting aku sudah mengatakan padanya bahwa aku menyediakan dua kursi untuk dirinya di acara nanti. Ia malah menanyakkan mengenai dirimu.."

"Apa yang dia tanyakkan?" Baekhyun tertarik untuk mendengar lebih banyak, tangannya berhenti untuk bekerja, ia berpindah untuk bersandar di sofa tak jauh dari meja kerja di ruangan kamarnya.

"Tidak banyak.. hanya mengenai kabar tentangmu.. aku memberi tahu dirinya bahwa kau tengah menjadi seorang pengangguran—

"Wendy!"

"—aku tidak peduli! Lalu dia menanyakkan kapan kau akan pulang ke Korea.. mungkin Dad ingin mengajakmu untuk terbang pulang bersama – sama."

"No way! Aku lebih baik pulang seorang diri.."

"Ngomong – ngomong.. apa kau sudah mendapatkan pekerjaan? Dan bagaimana dengan tiket pulang?"

"Aku sudah memesan tiketnya jauh – jauh hari.. dan aku sudah mendapatkan pekerjaan."

"Benarkah! Selamat Baekhyunnie! Dimana kau bekerja sekarang?"

Baekhyun tersenyum mendengar suara sang adiknya disana yang nampak sangat bersemangat dan tentunya bahagia mendengar apa yang baru saja ia ucapkan.

"Aku masih freelance.. tapi di Perusahaan cukup ternama.."

"Kenapa freelance? Bagaimana dengan Interview yang waktu itu—"

"Aku bekerja di Perusahaan itu.. tapi masih sebatas Freelance.. karena bayarannya sangat cukup dan aku bisa memiliki waktu di rumah."

"Benarkah? Perusahaan apa? Kau belum memberi tahu namanya padaku Byun Baekhyun!"

Baekhyun tersenyum mendengar, dan senyumnya semakin melebar ketika melihat dari arah pintu masuk apartemennya sosok pria berukuran tinggi layaknya tiang listrik baru saja masuk. Pria itu masih mengenakkan pakaian kerjanya lengkap dengan jas. Dan seingat Baekhyun itu adalah setelan yang siapkan secara diam – diam tadi pagi ketika pria itu tengah mandi.

Sang pria baru akan membuka suara untuk memanggil nama Baekhyun atau mungkin panggilan lainnya yang pasti ditujukan pada Baekhyun disana namun dengan cepat wanita itu mengisyaratkan untuk diam dan menunjuk pada arah ponselnya didekat telinga.

"Wendy-ah.. aku akan menelepon lagi nanti." Baekhyun menutup cepat walaupun adiknya disana masih memprotest dan mengatakan belum selesai bercerita padanya.

Sang pria dengan cepat membaca situasi didepannya, kakinya bergerak melangkah untuk berada di belakang Baekhyun, tangannya mengusap bahu wanita itu dengan badan menunduk dan mencuri ciuman dari bibir tipis milik wanitanya.

"Kenapa sudah pulang?" Baekhyun bertanya pada pria disana dan kembali membalas ciuman dari bibir plum milik prianya yang nampak belum mau menyudahi acara ciuman selamat datang itu meskipun dalam posisi yang tidak nyaman.

"Adikmu menelepon?" Pria itu berucap seraya berpindah posisi untuk ikut duduk dengan Baekhyun diatas sofa namun badannya berada dibelakang Baekhyun, tangan bergelung memeluk wanita itu dan membawa kepalanya bersandar didada bidang miliknya

"Oh.. dia kesal dengan Mom.. dan juga bercerita tentang Dad.." berbeda dengan sebelum – sebelumnya kini Baekhyun nampak santai untuk menceritakan sebagian kecil mengenai keluarganya, lagipula pria dibelakangnya sudah mengetahui semua tentang keluarganya ketika ia bercerita beberapa minggu lalu pada saat liburan di Los Angeles bersama – sama.

"Dan kau belum menceritakan mengenai pria bernama Park Chanyeol ini?"sang pria mencium pipi Baekhyun dengan begitu gemasnya, mempererat pelukan tangannya pada Baekhyun hingga wanita itu risih dibuatnya.

Ya, pria itu Chanyeol. Tetangga apartemennya, pria berbadan tinggi dan sudah memiliki puteri kecil menggemaskan bernama Chelsea. Sosok tetangga yang membuat Baekhyun bersumpah tidak akan pernah mau untuk ia tiduri tapi nyatanya mereka sudah tidur bersama, bercinta dan berciuman sebanyak angka yang tak lagi bisa ia hitung karena sulit untuk diingat. Pria yang berhasil membuat dirinya untuk memulai sebuah hubungan meskipun diawalnya ia menolak sekuat tenaga.


LOVELESS

.

Chapter 14

.

Chanyeol-Chelsea-Baekhyun

OC

Drama-Family-Romance

GS

.

.

You want a Love that consumes you, You want passion and adventure,

And even a little danger.

LJ Smith

.

.

.


Tiga minggu sebelumnya..

Los Angeles.

Sudah lewat beberapa menit setelah Baekhyun mencurahkan isi hati dan juga gelisah risau di hatinya selama ini, ia masih berada didalam dekapan Chanyeol. Pria itu mendengarkan semuanya namun tidak ada komentar sedikit pun akan apa yang Baekhyun ceritakan padanya. Chanyeol memang hanya duduk diam dan mendengarkan tapi tangan dan gerak tubuhnya menenangkan Baekhyun disampingnya. Ia memberikan pelukan, usapan dan juga kecupan singkat di kepala Baekhyun selama wanita itu terisak dalam tangisnya.

"Aku tidak akan mengatakan padamu untuk tidak membencinya.." akhirnya Chanyeol bersuara setelah cukup lama isakan Baekhyun berhenti. "Aku juga tidak membenarkan apa yang Ayahmu lakukan dan juga bagaimana sikapmu terhadapnya.. itu adalah hakmu."

Mereka saling bertatap dalam kegelapan suasan malam tapi Baekhyun masih bisa melihat dengan jelas bagaimana tenangnya tatapan Chanyeol terhadapnya, senyuman kecilnya yangterlihat guna menghibur Baekhyun disana disela – sela gerak tangannya masih mengusap kepala Baekhyun dengan begitu lembut.

"Aku hanya ingin mengatakan.." Chanyeol mengusap air mata yang masih mengalir di pipi Baekhyun. "Apapun yang ia lakukan dan bagaimana ia saat ini.. Ia berhak mendapatkanya Baek.. tidak selamanya dua orang saling mencintai akan hidup bersama dalam satu keluarga utuh.."

Raut wajah Baekhyun mulai kembali dingin dan badannya bahkan spontan bergerak lebih mundur dari dekat Chanyeol. "Ayahmu masih mencintaimu.. itu pasti. Aku tidak bisa membuktikan tapi bagaimanapun dia pasti mencintaimu karena kau adalah puterinya.. dan ia pasti juga berharap bahwa kau menginginkan dia bahagia dengan jalannya sendiri meskipun harus berpisah dari Ibumu.."

"Mereka bercerai Chanyeol! kata bahagia apa yang ada dalam keluarga yang bercerai!" Baekhyun kembali berteriak menyanggah ucapan Chanyeol.

"Mereka hanya berpisah—

"Ya! Berpisah! Meninggalkan aku sendiri.. meninggalkan Mom! Meninggalkan Wendy!"

Chanyeol kembali diam menunggu Baekhyun hingga kembali tenang namun emosi yang mengisi perasaan Baekhyun saat ini tidak mudah terkendali dibandingkan sebelumnya. Baekhyun beranjak bangun dari posisi duduknya dan begitu saja meninggalkan Chanyeol. Bukan Chanyeol namanya jika ia tidak ikut bergerak cepat, pria itu ikut bangkit dan menangkap tangan Baekhyun dengan mudahnya ketika langkahnya bergerak pada langkah kedua.

"Dengarkan aku!" suaranya sedikit meninggi dibandingkan sebelumnya.

"Lepas Chanyeol!" Baekhyun menatap kesal melihat cengkraman tangan Chanyeol di lengannya

"Jangan seperti ini.. kau belum mendengarkan apa yang akan aku ucapkan."

"Apa?!"

"Jangan berteriak kearahku." Chanyeol menatap tajam kearah Baekhyun yang entah bagaimana caranya sisi dominan didalam dirinya berhasil membuat Baekhyun terdiam berdiri dihadapannya. "Dengarkan aku dulu.." nada suaranya mulai lebih menurun dibandingkan sebelumnya. "Aku belum selesai mengatakan yang lainnya.."

"Cepat katakan.." Baekhyun melipat tangannya dengan tatapan yang ia buang kearah lain selain tatapan mata Chanyeol dihadapannya.

Chanyeol menunduk sesaat dan menghela nafas kecil sebelum akhirnya siap melanjutkan pembicaraan mereka. "Aku hanya ingin mengatakan bahwa bagaimana pun setiap keluarga tidak ada yang sempurna.." ia melihat kearah Baekhyun takut –takut wanita itu akan kembali berteriak atau mungkin meninggalkannya kembali. "Seperti keluargaku contohnya.. kita memiliki keluarga yang tidak sesempurna yang lainnya dan aku percaya bahwa itu juga alasan kita memiliki pemikiran bahwa semua pria atau mungkin Ayah diluar sana sama saja. Tapi tidak Baek.. tidak semua pria diluar sana sama seperti Ayahmu.."

"Apa bedanya?" Baekhyun menatap kearah Chanyeol dan berucap demikian. "Bukankah kalian semua sama saja? Brengsek." Kini ucapan wanita itu lebih terdengar kasar. "Kalian ingin mempunyai sebuah hubungan dan apa? Kalau kalian merasa tidak nyaman dan tidak merasa bahagia.. kalian bisa mencari wanita lain? Meninggalkan semua hal begitu saja?!"

"Ya.. banyak pria seperti itu.. tapi tidak semuanya Baek—

"Oh ya? Kenapa aku belum menemukan 'yang tidak semuanya seperti itu' ?"

"Karena—

"Karena tidak ada yang seperti itu." Baekhyun terus memotong dan kini Ia berucap dengan nada sedikit tegas penuh penekanan. "Semuanya seperti itu… even you Chanyeol-ah.." Baekhyun berucap lirih dan kemudian berbalik serta berlari cepat untuk kembali ke rumah menuju kamar dimana ia tidur selama beberapa hari belakangan.

Dan untuk kali ini Chanyeol tidak lagi menyusul dan menahan wanita itu untuk tetap berada didekatnya. Ia memejamkan matanya sesaat dan kemudian menghela nafas panjang, langkahnya tidak bergerak untuk ikut kemana arah Baekhyun berlari, ia membiarkan langkahnya membawa dirinya untuk kembali kearah bibir pantai dan kemudian terduduk disana seorang diri.

.

Keadaan canggung meliputi keduanya ketika pagi menjelang, Chelsea adalah pihak yang tidak tahu menahu mengenai permasalah yang tengah berada diantara sang Daddy dan juga Baekhyun disana, dan karena anak itu jugalah keadaan semakin canggung dibuatnya, terlebih untuk Baekhyun.

Meskipun semalam ia masih ingat dan masih merasa begitu nyata bagaimana Chanyeol mencium keningnya sebagai ucapan selamat tidur, tapi melihat sikap acuh pria itu di pagi harinya membuat Baekhyun mengurungkan diri untuk bertanya atau pun menyapa sosoknya.

Dan waktu terus berjalan cepat, hingga pada waktu mereka bertiga berkemas dan bersiap meninggalkan rumah pantai itu. Baekhyun lebih dulu selesai mengemasi barang – barangnya yang tak cukup banyak dibandingkan Chelsea. Puteri kecil Chanyeol itu memunguti semua boneka – bonekanya dan diletakkan didalam tas koper kecil yang memang dikhususkan untuk itu semua. Baekhyun ikut turun tangan membantu dan tak jarang ia ikut menyahut apapun yang Chelsea katakan tapi ketika Chanyeol ikut bergabung, keduanya kembali terdiam meninggalkan Chelsea seorang yang terus berbicara.

Seperti kedatangan mereka ke Los Angeles kala itu menggunakan pesawat pribadi milik perusahaan Chanyeol, kali ini mereka akan pulang pun demikian dengan menggunakkan pesawat itu, namun Chanyeol meminta waktu untuk singgah sebentar di Mal's dan tentunya menikmati santap siang disana. Chanyeol menanyakkan hal itu padanya dan Baekhyun membalasnya dengan sebuah anggukkan kepala sementara mulut terkunci rapat – rapat, ia bahkan enggan untuk menoleh kearah dimana Chanyeol duduk.

Chelsea kembali menjadi bintang tamu terpenting disana, beberapa karyawan Mal's menggiring anak itu untuk duduk pada meja yang mana khusus untuknya dengan Baekhyun mengikuti sementara Chanyeol menghilang masuk kedalam ruangan kantor di restoran itu. Chelsea memesan semua makanan yang ia inginkan begitu juga untuk makanan Chanyeol, Baekhyun hanya mengikuti. Moodnya kembali terombang ambing, meskipun ia hanya duduk diam tak bersuara, bisa diyakinkan semua orang disekitarnya tahu bahwa dirinya tidak dalam mood yang baik. Chelsea bahkan tak lagi bertanya banyak kearahnya dan memilih untuk ikut duduk dengan tenang dan sesekali melirik kearah Baekhyun disampingnya.

"Hey Chels.." Luhan menghampiri mereka dengan masih mengenakkan setelan santai, belum dengan pakaian yang menunjukkan dirinya seorang manager di restoran tersebut. "Hai Baekhyun.." ia juga menyapa Baekhyun yang nampak kaget melihat kehadirannya.

"Auntiieeee!" Chelsea bangkit berdiri, menyodorkan tangan dan badannya untuk bisa mendapatkan pelukan hangat dari Luhan disana.

"Hey Princess.. dimana Daddymu?" Luhan menghampiri, mencium pipi Chelsea dan mengusak rambut anak itu dengan begitu sayang. Luhan sempat menghadapi Baekhyun memperhatikan dirinya dan juga Chelsea namun wajahnya kembali menoleh ke tempat lain ketika kedua mata mereka saling bertatapan.

"Daddy bekerja.. didalam sana.." Chelsea menunjuk ruangan kerja itu.

"Ooowwhh.. Daddy giat bekerja kan.." Luhan memuji dan kemudian menunjuk kearah tempat es krim dan juga makanan manis yang mana Chelsea langsung berlari kearah sana.

Luhan berpindah duduk untuk berada dihadapan Baekhyun, sedikit memperhatikan wanita itu yang masih mencuri – curi pandang untuk melihat kearah Chelsea atau pun Chanyeol yang sesekali melewati meja mereka.

"Kalian akan pulang nanti?" Luhan membuka obrolan dan Baekhyun melihat kearahnya sesaat sebelum menganggukkan kepala.

"Seingatku.. kalian berdua sangat dekat dan begitu panas semalam.. siapa yang berani mengusik keromantisan kalian berdua hingga sekarang saling acuh tak acuh seperti ini, hm?" Luhan memanfaatkan sifat dirinya yang selalu berani bertanya langsung tanpa memperdulikan keadaan dan perasaan orang lain. "Kalian bertengkar kan?" lagi ia mengucapkan tebakan yang ada dipikirannya sedari tadi. Sementara lawan bicaranya masih enggan untuk menjawab segala pertanyaannya.

"Aku tidak ingin membantu siapapun disini.. tapi dengan apa yang kulihat kemarin.. bagaimana Chanyeol memperlakukanmu dengan Chelsea.. bagaimana kalian berdua memanfaatkan waktu di bilik toilet.. aku tidak tahu apapun mengenai itu.. hanya menebak.." Luhan bergerak cepat mengklarifikasi ketika mendapati Baekhyun tengah menatap beribu tanya kearahnya. "Ini Pertama kalinya bagiku melihat Chanyeol bersikap demikian terhadap wanita.. setahuku.. dia hanya memperlakukan wanita seperti ia memperlakukan Yoora bila pria itu memiliki perasaan sayang berlebih terhadapnya." Luhan menutup kesimpulannya dan tentunya membawa nama Yoora membuat Baekhyun menatap dalam diam kearahnya.

"Aku yakin kau sudah tahu mengenai Chelsea.. benar?" Baekhyun mengangguk.

"Aku harus katakan bahwa kau adalah wanita beruntung mendapatkan Chanyeol.." Luhan melanjutkan lagi. "Kau bisa lihat disetiap foto yang ada di tempat ini jelas – jelas menyiratkan siapa Chanyeol sebenarnya saat dulu. Apa dia sudah mengatakan padamu bahwa dia pria paling brengsek yang pernah kau temui?" Luhan terkekeh mengucapkannya begitu juga dengan Baekhyun.

"Dia pernah mengatakan hal itu.."

"Sebaiknya kau percaya.. pria itu benar – benar brengsek.. sangat!" Luhan mengulangi lagi dan memberikan penekanan seakan – akan membujuk Baekhyun untuk mempercayai kata brengsek yang baru ia ucapkan untuk menggambarkan sifat Chanyeol saat itu. "Ruangan kantor itu dulu adalah tempat dia melakukan kebrengsekkannya..toilet.. belakang dapur.. dan bahkan ruangan kamar tidur ayahku pernah ia gunakkan hanya untuk seks kilat dengan wanita yang entah bagaimana bisa ia temui." Wajah Luhan menggambarkan sedikit jijik membayangkan perilaku Chanyeol yang tengah ia ceritakan kepada Baekhyun.

"Setidaknya dia tidak menghamili wanita manapun saat itu.. itu harus disyukuri.. tapi ia menghancurkan wanita dan juga para pria – pria.."

Baekhyun sempat mengernyitkan alisnya mendengar kata pria –pria disebutkan oleh Luhan yang mana butuh penjelasan lebih panjang sebelum artian yang ada dipikiran Baekhyun mulai merasuki dirinya.

"Oh.. maksudku ia menghancurkan pria – pria itu dengan berkelahi.." Luhan kembali menjelaskan. "Selain banyak meniduri wanita dia itu dulunya pemabuk dan suka berjudi.. anehnya.. meskipun Ia berasal dari keluarga berada.. ia tetap ikut berjudi dan nyatanya selalu menang. Aku rasa ia bisa menjadi jutawan hanya dengan berjudi." Luhan melihat kearah foto yang ada didekat mereka dimana Chanyeol ada disana berpose setelah memenangkan beberapa lembar uang.

"Tapi.. pada akhirnya dia berubah bukan?" Luhan tersenyum kecil melihat kearah Baekhyun dan juga kearah Chelsea disana yang tengah memilih rasa es krim. "Aku ingat dulu Chanyeol selalu tampil disini dengan tidak mau dibayar sedikit pun dan hanya meminta minuman.. tapi waktu itu ia datang menemui ayahku untuk memohon pekerjaan, ia akan tampil membawakan beberapa lagu dan meminta bayaran yang katanya cukup untuk membeli susu untuk ibu hamil.."

Baekhyun mendengarkan baik – baik disana sementara matanya mencari bukti – bukti foto yang terdapat wajah Yoora dan juga Chanyeol.

"Ayahku menanyakkan untuk apa ia memerlukan uang untuk Ibu hamil.. sementara kami tahu Chanyeol memiliki black card yang bisa membayar susu hamil sebanyak yang ia inginkan. Lalu Chanyeol menjelaskan semuanya.. kakaknya tingal bersama dirinya namun dalam keadaan hamil.. dan ia tidak mau menggunakkan black card miliknya karena pasti terdeteksi oleh Ayah dan Ibunya."

"Ayahku mengijinkan Chanyeol untuk bekerja.. bukan hanya sebagai penyanyi disini.. tapi juga sebagai bartender untuk menambah bayarannya. Semua wanita masih terus berusaha mendekatinya dan mengajak dirinya untuk bisa berkencan atau pun hanya sebatas teman satu malam.. tapi semenjak Yoora ada.. dan juga kandungannya itu.. Chanyeol menolak. Ia fokus pada kuliahnya, pekerjaanya, dan juga merawat Yoora.

Luhan memberikan jeda sesaat untuk melihat kearah Chelsea, "Dan harus aku akui.. aku begitu bangga dengan Chanyeol.." Luhan memberikan pujian, menatap Baekhyun dihadapannya yang masih diliputi tatapan kosong. "Aku tidak mencintainya.. tenang saja.. hanya saja aku memiliki kekaguman tersendiri kepadanya. Dia pria baik, brengsek namun baik." Luhan tetap mengulang kata brengsek dengan senyuman diwajahnya. "Aku tidak membayangkan ia akan menjadi sosok ayah yang begitu penyayang dan perhatian terhadap Chelsea.. sejujurnya demikian karena saat itu ia hanya fokus merawat Yoora dan juga kehamilannya.. tapi ketika.. dia tidak bisa diselamatkan.. dan tak ada nama yang bisa dituliskan pada akta kelahiran anak itu.. Chanyeol tanpa berpikir panjang mau mengambil jalan itu."

Baekhyun menundukkan wajahnya, menahan diri untuk tidak ikut larut begitu dalam pada apa yang diceritakan Luhan disana.

"Meskipun ia harus bertengkar dengan kedua orang tuanya.. apa Chanyeol pernah bercerita ia bahkan dibuang oleh Ayah dan Ibunya karena mereka menganggap Chelsea adalah anak haram yang dilahirkan dari wanita yang Chanyeol tiduri?"

Kepala Baekhyun terangkat dan melihat kearah Luhan yang nampak serius melihat kearahnya. "Dia belum bercerita padamu?" Baekhyun menggeleng.

"Well.. dia dibuang.. tidak ada kartu kredit.. tidak ada fasilitas apapun.. tidak ada rumah, mobil, bahkan ponsel. Ia benar – benar tidak memiliki apapun.. dan kami disini menerimanya dengan tangan terbuka. Chanyeol tetap bekerja disini saat malam hari.. namun pagi dan siang ia tetap pergi ke kampus. Terkadang bila tidak ada yang bisa menjaga Chelsea disini, Chanyeol mau tidak mau membawa anak itu untuk ikut ke kelasnya. Sungguh perjuangan yang menyedihkan baginya.." Luhan terharu mengingat – ingat lagi masa – masa Chanyeol saat itu.

"Ia bahkan membawa Chelsea disaat wisudanya.. itu fotonya.." Luhan menunjuk foto yang memperlihatkan Chanyeol tengah menggendong Chelsea yang terlihat masih bayi. "Teman – temannya dulu sempat mengejek dirinya.. namun pada akhirnya mereka membanggakan Chanyeol sesudahnya… dan akhirnya.. entah bagaimana bisa.. kedua orang tuanya tahu mengenai Chelsea.. bahwa dia adalah anak Yoora.. mereka datang menjemput Chanyeol dan juga Chelsea.. dan akhirnya beberapa tahun kemudian pria brengsek itu datang dengan status pengusaha." Senyuman lebar terpatri di wajah Luhan kala menyelesaikan obrolan panjangnya bersama Baekhyun dan juga melihat Chanyeol tengah menghampiri Chelsea dan membawa anak itu dalam gendongannya.

"Baekhyunnieee.. aku punya es krim.." anak itu memamerkan kearah Baekhyun yang sudah terlihat akan menangis disana.

"Kau baik – baik saja?" Chanyeol menanyakkan penuh khawatir.

"Kami habis bercerita panjang.." Luhan sedikit menginfokan, "Obrolan wanita." Matanya berkedip kearah Chanyeol namun pria itu membalasnya dengan bola mata yang berputar cepat.

"Baekhyunnie.. waeyo.." si kecil menggemaskan menunjukkan rasa khawatirnya, menghambur ke pelukan Baekhyun dan juga menawarkan beberapa sendok es krim ke mulut Baekhyun.

"K-kau butuh sesuatu?" Chanyeol masih berdiri didekat meja mereka, matanya melihat kearah Baekhyun menunduk sambil memangku Chelsea.

"Peluk dia.." Luhan berbisik, menepuk bahu Chanyeol lalu pergi begitu saja meninggalkan mereka bertiga.

Mendengar ucapan dari Luhan sejujurnya Chanyeol memang ingin melakukan hal itu kepada Baekhyun, namun ia masih mengingat dengan jelas keras kepala dan dingin hati wanita itu yang membuat jarak diantara mereka berdua dengan benteng dinding es yang sulit untuk Chanyeol luluhkan. Tapi dia adalah pria, dan sesulit apapun halangan didekatnya, bagi Chanyeol tidak ada salahnya untuk mencoba.

Ia akhirnya duduk disamping Baekhyun, dengan ragu – ragu mengusap kepala wanita itu yang mana pada detik berikutnya Baekhyun beralih kearahnya dengan pelukan dan isakan yang lebih keras terdengar. Chelsea bahkan terlihat panik dibuatnya dan ikut menangis melihat Baekhyun disana. Dan tentunya hal itu membuat Chanyeol dbuat bingung seorang diri menghadapi dua perempuan berbeda usia tengah menangis didekatnya.


LOVELESS


New York,

Yang Baekhyun ingat dari perjalanan pulang mereka adalah rasa malu yang luar biasa, sesungguhnya Chanyeol tidak memperpanjang masalah kenapa Baekhyun menangis tiba – tiba di Mal's hanya saja Chelsea yang berulang kali menanyakkan apakah Baekhyun sudah merasa lebih baik. Memang tidak bisa disalahkan kenapa anak itu terus menanyakkan kepadanya dirinya, tapi Baekhyun semakin malu setiap Chelsea menanyakkan mengenai kondisinya.

Ucapan terima kasih sudah Baekhyun katakan kepada Chanyeol tepat ketika mereka berada didepan pintu apartemen masing – masing. Terlepas dari permasalahan menangis, Chanyeol masih bersikap acuh terhadapnya, pria itu memang memeluk Baekhyun ketika di Mal's tetapi ketika mereka sudah berada di pesawat dan juga kini di apartemen, Chanyeol hanya membalas ucapan Baekhyun dengan kata 'anytime' dan kemudian keduanya beranjak masuk kedalam ruangan.

Lima hari kemudian..

Butuh waktu selama itu untuk keduanya kembali bertemu dan itu pun Baekhyun harus berterima kasih kepada Chelsea yang mau membantunya dengan sengaja mempertemukannya dengan Chanyeol.

Berawal dari ulah Chelsea yang enggan untuk ikut kelas renang karena anak itu takut berenang tanpa ditemani sang Daddy, Chelsea pulang seorang diri ke apartemennya atau bisa dikatakan anak itu mulai mengenal kata membolos. Dan beruntungnya Baekhyun tengah berdiri didepan pintu apartemennya hanya untuk menatapi sebuah pintu didepannya demi menunggu sang empunya pulang dan ia bisa mengutarakan ucapan maaf dan juga sebuah rasa yang mulai sedikit – dikit ia rasakan.

"Baekhyunnie?" Chelsea melangkah pelan dengan takut – takut.

"Chels?" keheranan Baekhyun semakin besar karena melihat Chelsea berjinjit melangkah kearahnya dan kemudian menarik tangan Baekhyun untuk masuk kedalam apartemen wanita itu.

"Baekhyunnie melihat Daddy?" bahkan ketika mereka sudah berada didalam ruangan apartemen Baekhyun, suara anak itu masih berbisik dan melirik ke kanan dan ke kiri.

"Err.. aku rasa Daddymu belum pulang.. aku belum melihatnya sedari tadi.." Baekhyun menjawab dengan rasa ingin tahu melihat kearah Chelsea. "Bukannya kau masih harus berada di sekolah sekarang?"

Kedua mata anak itu membelak dan tanpa terdengar satu pun jawaban Chelsea berlari cepat menghindar dan mengalihkan pembicaraan karena ada tayangan kartun tengah mulai di layar televisi. "Baekhyunnie ada Bearbear.." kakinya berlari cepat untuk bisa berada di sofa depan televisi milik Baekhyun.

"Chels.." Baekhyun menyusul memburu jawaban dan kembali melihat kearah jam di tangannya menunjuk waktu yang benar dan tepat untuk menyalahkan keberadaan Chelsea saat ini. "Ini masih pukul 2 siang.. bukannya kau masih harus disekolah?"

Chelsea mengunci mulutnya, kakinya bergerak- gerak berusah menyamankan diri dan matanya masih takut untuk melihat kearah Baekhyun.

"Park Chelsea.." Baekhyun memanggil nama lengkap Chelsea, kedua tangannya bertolak dipinggangnya dan kini posisi badannya berada tepat didepan Chelsea menutupi tayangan televisi disana. "Kenapa kau sudah pulang?"

Chelsea tentu belum pernah melihat sisi Baekhyun yang dominan seperti itu dan kali ini dia merasa takut hingga akhirnya memberikan jawaban meskipun diiringi isak tangis kecilnya.

"Chelesatidakmauberenang…kolamnya gelaptemantemanChelseatidakadayangmembantuChelseaberenang…" adunya terdengar begitu cepat dan setelahnya ia memeluk kaki Baekhyun meminta tolong untuk jangan mengadukkannya pada sang Daddy yang masih berada di kantornya.

"Baekhyunnie jangan adukan ke Daddy ya..yayayayaya Baekhyunnie…. Chelsea takut dimarahi Daddy.. nanti Daddy bawa pulang Chelsea ke Halmeoni.."

Mau tidak mau Baekhyun menghela nafas pelan dan tanpa berpikir panjang menganggukkan kepala untuk setuju dengan apa yang Chelsea minta. Melihat Baekhyun menuruti permintaannya, Chelsea dengan cepat kembali lagi ceria dan duduk pada sofa yang menghadap kearah televisi melanjutkan menonton acara kartun yang ia sukai.

Baekhyun tak ingin memperpanjang permasalahan kenapa Chelsea membolos, ia ikut duduk di sofa lainnya dan menghadap ke layar laptopnya untuk memperbaharui resume dan juga pengalama kerja dirinya. Belum ada panggilan interview lainnya sejak terakhir ia mendatangi interview di perusahaan sebelumnya dan mengingat uang tabungan miliknya mulai sedikit demi sedikit berkurang maka dari itu Baekhyun lebih sering menggunakkan waktunya untuk mencari lowongan, memperbaharui resumenya dan juga mencari informasi mengenai tawaran bekerja Freelance.

"Baekhyunnie.. apa Baekhyunnie punya makanan?" Chelsea menanyakkan kepadanya dan anak itu melangkah ke temoat dimana Baekhyun duduk lalu melihat apa yang dilakukan olehnya. "Baekhyunnie sedang apa?" Chelsea melontarkan pertanyaan lain.

"Kau lapar?"

"Oh." Chelsea mengangguk, masih memperhatikan gerak tangan Baekhyun yang dengan cepat menari – nari diatas keyboard laptopnya. "Baekhyunnie seperti Daddy.. jari – jarinya cepat sekali bergerak."

Baekhyun tertawa kecil dan memutuskan untuk cepat – cepat menyelesaikan tulisan e-mail yang akan ia kirimkan kepadan salah satu link untuk melamar pekerjaan. "Kalau Chelsea sudah besar pasti jari – jarimu juga akan bergerak demikian cepat."

"Chelse tidak mau cepat besar.. nanti Daddy tidak sayang dengan Chelsea lagi.." anak itu menyahut polos, membawa kepalanya bersandar pada paha Baekhyun sembari memainkan rambut panjangnya. "Baekhyunnie.. Chelsea mau ramyeon.. Baekhyunnie punya?"

"Kau mau Ramyeon? Tidak mau yang lain?" Baekhyun bertanya karena sejujurnya ia ragu membiarkan Chelsea memakan makan instant seperti itu.

Anak itu mengangguk, "Aku dan Daddy biasanya makan Ramyeon kalau sedang hujan, karena kata Daddy lebih nikmat.."

Entah kenapa ucapan Chelsea bisa membuat Baekhyun tersenyum kecil namun di dalam hatinya ada rasa tercubit saat membayangkan seorang Chanyeol.

"Baiklah, aku akan mengirimkan email ini dan kita akan membuat ramyeon setelahnya."

"Deal." Chelsea setuju, ia bangkit berdiri dan kembali berpindah ke sofa sebelumnya, kembali melanjutkan acara menontonnya, sementara Baekhyun melanjutkan pengetikkan draft email di laptopnya.

Baekhyun menepti janjinya. Setelah ia menyelesaikan mengirima email, dirinya bergegas pindah menuju area dapur dan menyiapka segala bahan untuk memasak dua porsi ramyeon untuk dirinya dan juga Chelsea. Ia tidak memanggil gadis kecil itu untuk mengikutinya karena ia bisa liat anak itu masih menikmati tontonan kartunnya.

Baekhyun sebenarnya tidak begitu pandai memasaka tapi ia tahu bagaimana cara memasak khususnya hanya memasak sebuah ramyeon.

"Baekhyunniee.." ada suara kecil merengek dan juga langkah kaki kecil yang berjinjit cepat menyusul kearahnya.

"Hey.. duduklah." Baekhyun menunjuk bangku di meja makannya dan Chelsea patuh menuruti.

"Baekhyunnie butuh bantuan?" pertanyaan itu membuat Baekhyun tersenyum kecil di wajahnya mengingat yang berucap demikian adalah gadis berusia 11 tahun dan masih duduk di sekolah dasar.

"No need sayang.." Baekhyun menjawab santun, sedikit menoleh untuk melihat apa yang dilakukan puteri Chanyeol itu dan kemudian ia melanjutkan proses pembuatan ramyeon untuk keduanya.

Selagi Baekhyun sibuk memasak, Chelsea tetap duduk, terkadang ia mulai mempertanyakkan banyak hal kepada Baekhyun seputar pertanyaan yang ada di kepalanya dan terkadang pertanyaan random itu membuat Baekhyun kesulitan mencari jawaban yang tepat untuk ia berikan. Seperti contohnya, 'Kenapa Baekhyun tinggal sendiri?', 'Baekhyunnie kenapa tidak bekerja bersama Daddy?'

"Nah! Sudah matang!" Baekhyun memekik senang membawa dua mangkuk berisikan ramyeon panas, ia tak lupa membawakan kimchi dari dalam kulkasnya dan juga minuman dingin.

"Yeaaayy! Ramyeon!" Chelsea ikut memekik senang melihat satu porsi mangkuk ramyeon disodorkan kearahnya. "Ini pertama kalinya Chelsea makan ramyeon sendiri.. biasanya Chelsea selalu makan satu mangkuk berdua dengan Daddy." Anak itu menyempati bercerita mengenai kebiasannya.

"Ramyeon tidak baik untuk anak kecil Chels.. semoga setelah ini Daddymu tidak memarahiku." Baekhyun memicingkan matanya karena Chelsea nampaknya sengaja tidak memberikan informasi penting itu kepada dirinya sebelum ia memasak ramyeon untuk mereka makan.

Dan anak itu tertawa lebar dengan begitu puas. "Daddy tidak mungkin marah dengan Baekhyunnie.. Daddy pasti mencium Baekhyunnie lagi." ucapan asal yang Chelsea katakan nyatanya kembali membuat Baekhyun mengingat dengan kesalahan kedua yang ia lakukan kepada Chanyeol beberapa waktu lalu, dan rasa bersalahnya kembali mengisi kondisi hatinya.

Tidak seperti Chelsea yang begitu menikmati memakan ramyeon buatannya, Baekhyun menunduk sendu, menikmati sehelai demi sehelai sajian mie itu dan menyantapnya dengan malas hingga bunyi dering telepon ponselnya berdering terdengar membuyarkan lamunannya.

Nama Kyungsoo tertera disana dan tanpa berpikir panjang Baekhyun dengan semangat mengangkat panggilan itu.

"Halo~"

"Baek… kau sibuk?" Suara Kyungsoo terdengar tegas dan ada nada tergesa – gesa di setiap kata yang ia ucapkan.

"Tidak begitu, kenapa?" Baekhyun menjawab meyakinkan, menunjuk kearah Chelsea yang sempat melihat kearahnya untuk tetap melanjutkan acara makannya.

"Boleh aku minta tolong? Chelsea tidak ada disekolah.. Irene seharusnya menjemput anak itu tapi Guru sekolahnya mengatakan Chelsea sudah ijin pulang lebih cepat karena ia sakit.. Irene bingung harus mengatakan apa kepada Chanyeol karena kalau Ia tidak menemukan Chelsea, mungkin Chanyeol akan marah dan panik—"

Baekhyun tidak berniat memotong kalimat apa yang diucapakn Kyungsoo disana, namun ia berbalik untuk melihat kearah Chelsea yang dengan begitu nyamannya masih menikmati makanannya. Maka dari itu Baekhyun memutuskan untuk berpindah menuju kamar mandi dan menutup pintu itu untuk bisa berbicara banyak dengan Kyungsoo tanpa didengar Chelsea.

"—aku takut ada hal yang tidak – tidak terjadi—"

"Kyung.. Chelsea ada di tempatku."

"A-apa? Bagaimana bisa?" Kyungsoo masih terdengar panik.

"Dia pulang lebih awal karena ia tidak mau ikut kelas berenang—dia membolos." Baekhyun membuat kesimpulan cepat karena tidak mau Kyungsoo berpikir yang aneh dan macam – macam.

"Oh astaga.. keponakanku.. dia masih berada di tempatmu?"

"Masih, dia sedang menyantap ramen.."

"Haa.. syukurlah.. aku akan memberi tahukan Irene supaya ia bisa melaporkan pada Chanyeol.."

Mendengar nama Chanyeol disebutkan seketika Baekhyun memiliki pemikiran sendiri agar ia bisa berkomunikasi kembali dengan pria itu dan mungkin saja pada akhirnya ia bisa meminta maaf untuk kesekian kalinya pada Chanyeol.

"Kyung… mungkin lebih baik aku yang akan menelepon Chanyeol.. supaya ia lebih percaya dan tidak panik.. ya kau tahu kan.."

"Hm." Kyungsoo tidak menjawab panjang seperti sebelumnya. "Apa ada masalah lagi diantara kalian?"

Baekhyun seharusnya bisa menebak bahwa Kyungsoo akan mudah mengetahui perubahan sikapnya terlebih menyangkut nama Chanyeol.

"Apa yang terjadi? Bukannya kalian baru saja pulang dari acara honeymoon?" Baekhyun belum memberikan jawaban selain bibir yang ia gigit ragu untuk memulai namun Kyungsoo sudah melemparkan pertanyaan lainnya.

Baekhyun ragu dan tidak tahu harus memulai dari mana tapi ia harus mengatakan sesuatu kepada Kyungsoo sebelum temannya itu menanyakkan langsung kepada Chanyeol. "Aku melakukan kesalahan lagi.."

"Haaa.." Kyungsoo menghela nafas berat dan terdengar nada kekecewaan dari wanita jauh diseberang sana.

"Tapi aku tahu .. aku melakukan kesalahan fatal.. lagi.. dan makanya aku berpikir mungkin aku harus memulai lebih dulu berbicara dengan Chanyeol untuk meluruskan masalah ini."

Kyungsoo tidak langsung bersuara disana, ada keheningan yang terbuat layaknya ia tengah berpikir panjang sebelum kembali memberikan jawaban kepada Baekhyun.

"Baek.. aku tidak tahu ada masalah apa denganmu dan entah kenapa kau begitu takut memulai hubungn dengannyaa.. tapi aku sarankan..kalau kau tidak menginginkan Chanyeol berada di dekatmu dan memiliki sebuah hubungan denganmu.. lebih baik kau jauhi dia mulai sekarang.. aku tidak mau kau merasa dilukai dan terlebih aku tidak mau Chanyeol kau anggap seorang laki – laki brengsek.. aku tahu Chanyeol seperti apa dan karena itu.. aku rasa kau harus mengambil keputusan dan berpikir lebih dalam mengenai semuanya."

"Aku membutuhkannya.." Baekhyun menjawab cepat, ia sudah mengerti dengan baik apa yang coba dikatakan oleh Kyungsoo. "A-aku mungkin menyukainya.." meski dalam nada ragu, Baekhyun cukup berani mengatakan hal itu dan kembali membuat keterdiaman di sisi Kyungsoo.

"Aku mungkin akan mencoba memulai hubungan dengannya Kyung.." Baekhyun menjelaskan lagi dan belum ada suara jawaban terdengar dari Kyungsoo.

"Kau serius?"

Baekhyun mengangguk, "Oh.. aku pikir ini patut dicoba.."

"Sebaiknya kau pikirkan lagi.."

Baekhyun menggeleng, "Aku merasa hampa dan kosong beberapa hari belakangan terlebih karena kakak iparmu mengacuhkanku.. dan jujur.. aku merindukkan suaranya." Baekhyun menggeleng dan tersenyum malu menceritakan apa yang ia alami selama beberapa hari belakangan.

"Suaranya atau sentuhannya?" Kyungsoo menggoda disana dengan suara kikikan pelan.

"Kalau aku mengatakan keduaya. Apa yang akan kau lakukan?"

"Well.. kau sudah terjerat oleh pesona Park Chanyeol kalau memang begitu adanya.. tapi serius Baek.. aku mohon.." suara Kyungsoo kembali dengan nada datar dan serius penuh penekanan. "Aku tidak mau melihat Chanyeol terluka dan begitu juga dirimu, kalau kau belum – belum yakin ingin mencoba sebuah hubungan.. lebih baik kau mundur sekarang sebelum kalian berdua merasa saling tersakiti lebih dalam."

Baekhyun mencerna semua ucapan Kyungsoo dan ia kembali larut dalam pemikiran terdalam di benaknya. Ada jalan yang mudah untuk menghilangkan rasa resah dan gundah dalam hatinya beberapa hari ini, cukup mengabaikan Chanyeol dan juga Chelsea maka ia bisa kembali menikmati kehidupan sebelumnya. Namun ada juga jalan penuh rintangan dan memiliki rasa berbeda bila Baekhyun memilih untuk meluruskan semuanya dan berani memulai dari awal dengan Chanyeol.

.

.

Kesibukkan pekerjaannya membuat Chanyeol tidak dapat memeriksa ponsel miliknya sendiri sejak emapt jam yang lalu, dan itu menjadi hal pertama yang ia lakukan ketika meeting telah usai dan segala deadline project sudah selesai dibicarakan. Kerutan pada keningnya terbentuk hanya karena melihat notifikasi yang nampak di layar ponselnya kebanyakan panggilan dari wanita yang belakangan tengah ia coba untuk acuhkan, Baekhyun.

Chanyeol berpikir mungkin wanita itu hanya iseng dan salah menghubungi nomornya dan dengan mudah ia abaikan begitu saja, tapi ketika melihat pesan yang Irene kirimkan padanya mengenai keberadaan Chelsea dan bahkan sekretarisnya itu meminta dirinya menghubungi Baekhyun membuat kepanikan menguasai dirinya.

"Halo.." jujur saja mendengar sapaan lembut dari wanita itu membuat suasan hati Chanyeol terasa begitu damai namun juga tersiksa.

"Kau menelepon?" pertanyaan basa basi dan tidak penting itu ia katakan selagi pikirannya mencari jalan untuk bekerja dengan baik dan benar.

"Oh.. apakah kau sibuk? Kalau memang sibuk aku akan mengirimkan pesan singkat—

"Aku sudah tidak sibuk.. ada apa? Irene mengatakan Chelsea bersamamu.."

"Irene sudah mengatakannya?" kali ini Chanyeol tersenyum lebar mendengar nada cemburu yang selalu Baekhyun ciptakan ketika ia menyebut nama Irene diantara perbincangan mereka.

"Dia mengatakan Chelsea bersamamu dan ada yang ingin kau katakan padaku.." ada sedikit kebohongan yang Chanyeol ucapkan disana, Irene tidak mengatakan ada sesuatu hal yang ingin Baekhyun katakan padanya, kalimat terakhir itu sengaja Chanyeol ucapkan mengingat mereka berdua sebelumnya tengah memiliki masalah kecil.

"Chelsea bersamaku." Baekhyun menjawab singkat, terdengar sedikit kesal. "Dia bolos dari kelas renangnya karena teman - temannya menggoda mengetahui ia begitu takut berenang seorang diri.."

Perasaan Chanyeol kembali diliputi rasa bersalah mengingat lagi – lagi Chelsea mulai kembali diejek oleh teman – teman sekolahnya karena satu hal yang ia takuti. "Apa dia baik – baik saja? Boleh aku bicara dengannya?"

"Dia tidak apa – apa Chan.. dia sudah terlelap tidur di kamarku.." Baekhyun menjawab memberikan ketenangan disana dan Chanyeol merasa ia merindukkan suara Baekhyun yang begitu halus dan lembut.

Chanyeol duduk di kursi kerjanya dan terdiam disana menunggu Baekhyun mengucapkan hal lainnya, tapi Baekhyun ternyata ikut terdiam disana dan sama – sama saling menunggu untuk berucap.

"Chan.."

Chanyeol tidak menyahut ketika mendengar namanya disebutkan oleh Baekhyun dengan sangat lembut, pikiran dan perasaannya terbawa hanyut karena sejujurnya ia sangat merindukkan wanita itu. Merindukkan bagaimana suaranya memanggil nama Chanyeol serta merindukkan menyentuh wanita itu.

"Aku ingin minta maaf.." Chanyeol mendesah pelan lagi – lagi merasa bersalah karena sejak awal ia mengenal Baekhyun sudah terhitung dua kali mereka terlibat perselisihan adu pendapat dan berhujung Baekhyun yang selalu meminta maaf padanya.

"Aku merindukanmu.." dan pada kalimat selanjutnya Chanyeol benar – benar terdiam bergeming mencoba untuk mendengarkan kembali apa yang telah Baekhyun katakan.

"Ka-katakan lagi.." Chanyeol ragu – ragu meminta Baekhyun untuk mengulang apa yang sudah diucapkan oleh wanita itu.

"Boss! Airy sudah datang." Irene tiba – tiba datang dan melesak masuk begitu saja dengan membawa beberapa dokumen yang mana itu akan dibutuhkan Chanyeol untuk meeting selanjutnya. "Mereka datang bertiga dan aku sudah meminta mereka menunggu di ruang meeting." Sekretarisnya itu dengan sigap membuka dokumen – dokumen yang ia bawa dan kemudian berdiri di dekat Chanyeol, melihat Boss dihadapannya masih terdiam sembari memegang ponsel didekat telinganya dan menatap kesal kearahnya.

"Sepertinya kau sibuk.. aku akan menutup teleponnya." Chanyeol belum menjawab apapun kearah suara Baekhyun di ponselnya, namun wanita itu sudah memutuskan sambungan teleponnya begitu saja.

Chanyeol berdecak kesal, membuang ponselnya keatas meja masih menatap kesal kearah Irene yang nampaknya menganggap tatapan matanya itu biasa saja dan bukan untuk dirinya.

"Kenapa?" Irene dengan polosnya bertanya pada Chanyeol yang masih enggan membuka dokumen – dokumennya.

"Aku mau pulang." Chanyeol mengungkapkan keinginannya dengan sesuka hati layaknya anak berusia sepuluh tahun yang merengek kepada orang tuanya. Lain halnya dengan Irene yang terkesan jijik mendengar nada bicara Chanyeol seperti itu.

"Kau boleh pulang.. kalau jam kerjanya sudah selesai Boss." Irene mengingatkan, mengetukkan jari – jarinya pada dokumen diatas meja Chanyeol sebagai isyarat untuk segera dibaca.

"Tidak mau. Aku mau pulang." Kali ini suara Chanyeol terdengar serius ditambah raut wajah yang memperlihatkan kekesalan, Irene bahkan melihat dengan jelas pria yang lebih tua dihadapannya itu yang juga memiliki jabatan lebih tinggi darinya menekuk bibirnya kesal layaknya anak kecil.

Irene yang melihat itu ingin sekali mengumpat kesal dan juga memukul Boss-nya yang sungguh tidak lagi cocok dalam merajuk layaknya anak kecil.

"Kalau kau pulang, bagaimana meeting dengan Airy?" Irene masih bernada sabar menanyakkan mengenai urusan pekerjaan yang akan ditinggalkan Chanyeol.

"Biar bagian project yang melanjutkan dan kirimkan laporan hasil meeting ke e-mailku setelahnya. Aku mau pulang." Chanyeol menjawab asal sembari dirinya merapikan barang bawaan yang akan ia bawa pulang, dan setelah ia rasa sudah lengkap tanpa berpamitan dengan Irene dirinya melenggang begitu saja keluar dari ruangan kerjanya tanpa merasa bersalah sedikit pun.


LOVELESS


Baekhyun merutuki malu untuk dirinya sendiri karena dengan mudahnya ia mengatakan tengah merindukkan Chanyeol melalui telepon tadi. Kepalanya sudah berulang kali ia pukuli dengan tangannya sendiri dalam gerakkan pelan. Ia bahkan sudah menenggak habis beberapa botol air dingin untuk mengembalikan kewarasannya.

"Tenang Baekhyun.. tenangkan dirimu." Ia berucap seorang diri dengan maksud menenangkan dirinya sendiri namun yang ada detakan jantungnya semakin berdebar kencang ditambah dengan kedua pipinya yang terasa begitu memanas merah. "Aish.." Baekhyun menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

Ponselnya ia buang begitu saja keatas sofa begitu juga dirinya yang dengan cepat duduk dengan kasarnya pada sofa. Ia mengusap wajahnya pelan lalu memilih bersandar pada lengan sofa dengan kondisi badan meringkuk memikirkan kembali apa yang harus Ia lakukan ketika berhadapan dengan Chanyeol nantinya.

"Baekhyunniee.." selagi dirinya terhanyut dalam lamunan, suara serak lembut memanggil dan itu adalah Chelsea yang sudah terbangun dari tidurnya dan tengah melangkah pelan – pelan menyusuk dimana Baekhyun berada.

"Chelsea sudah bangun.." ia mengutarakan kalimat itu dengan tangan sigap menyambut puteri kecil Chanyeol yang masih terlihat linglung belum tersadar betul dari alam mimpinya. Chelsea bersandar dibadan Baekhyun, memeluk wanita itu layaknya Ibu dan anak. "Mandi ya.." Baekhyun mengajak anak itu mengingat hari sudah sore.

"Chelsea tidak punya baju disini.."

"Oh iya.." Baekhyun membenarkan, ia sempat berpikir sembari mengusap helai demi helai rambut anak itu. "Bagaimana kalau pakai baju Baekhyunnie dulu.." Ia menawarkan, membuat Chelsea mendongak melihat wajahnya nampak berpikir apa yang ditawarkan oleh Baekhyun.

"Baju Baekhyunnie besar – besar.."

"Aniya.. pasti ada yang muat dengan Chelsea. Nanti kalau Daddy pulang dan tahu Chelsea belum mandi.. pasti Daddy semakin marah.." Baekhyun tidak bermaksud menakut – nakuti anak itu, tapi mendengar kata Daddy terucap di kalimat Baekhyun sontak Chelsea bangkit menjauh dari pelukan Baekhyun dan berteriak siap untuk mandi.

"Chelsea mandi sendiri!" dan seakan – akan ia sudah berada di rumahnya sendiri, Chelsea melangkah cepat menuju kamar mandi yang ada di apartemen Baekhyun, sementara sang empunya tempat tinggal hanya bisa tersenyum mengikuti langkah anak itu guna mencari pakaian yang bisa digunakkan sebagai pakaian ganti Chelsea nantinya.

.

"Daddy tidak tentu pulang kerjanya.." Chelsea menceritakan kebiasaan waktu pulang dari Chanyeol kearah Baekhyun yang tengah merias diri seusai mandi. Setelah Chelsea memanfaatkan waktu mandinya, anak itu menyuruh Baekhyun mandi setelahnya dengan alasan yang sama seperti yang dikatakan Baekhyun sebelumnya.

"Kalau Baekhyunnie tidak mandi.. nanti Daddy marah."

"Bisanya kalau Daddy akan lembur.. Irene akan menjemput Chelsea.. kita makan malam diluar bersama, Chelsea boleh main ke kantor Daddy.. nanti Chelsea tertidur disana.. dan besok pagi bangun – bangun sudah ada di kamar." Anak itu tersenyum lebar menandakan kebahagian kecil dari rutinitas yang sudah biasa mereka berdua lakukan.

"Kalau Daddy tidak lembur?" Baekhyun bertanya lagi.

Chelsea nampak mengingat – ingat kebiasannya sembari menyisir rambut panjangnya, "Daddy akan membawakan makan malam.. apapun! biasanya Daddy menelepon apa yang Chelsea mau.." anak itu tersenyum lebar lagi. "Tapi hari ini Chelsea mematikan ponsel Chelsea. Daddy pasti marah.." senyuman lebar itu tergantikan dengan bibir yang mengerucut maju dan wajah sedih.

Tidak ada yang bisa Baekhyun lakukan selain tertawa kecil melihat betapa gemasnya tingkah laku dari Chelsea disana.

"Daddy tidak akan marah.." Baekhyun berpindah posisi, ia bergabung dengan Chelsea untuk duduk diatas ranjangnya, mengambil alih sisir di tangan anak kecil itu dan kini giliran dirinya yang menyisir lembut rambut Chelsea.

"Daddy pasti marah.." Chelsea mengulang lagi ucapannya. "Nanti kalau Daddy datang.. Chelsea akan berpura – pura tidur.. Baekhyunnie bantu Chelsea ya.."

Baekhyun lagi – lagi dibuattakjub dengan pemikiran Chelsea, apa yang dikatakn anak itu sontak membuat dirinya tertawa lebar. "Membantu apa?" ia menanyakkan lagi.

"Bekhyunnie harus bilang Chelsea tidur, jadi kalau Daddy pulang nanti.. Daddy tidak akan memarahi Chelsea malam ini.."

Baekhyun mengangguk takjub, "Baiklah.. apa hadiah buat Baekhyunnie karena membantu Chelsea?"

Anak itu menoleh kearah Baekhyun dan menatap penuh tanya, kerutan alisnya terbentuk seakan – akan ia tengah berpikir keras untuk pertanyaan yang baru saja Baekhyun tanyakkan. "Hadiahnya.. pizza!" Chelsea memekik keras dan bersamaan dengan itu bunyi bel pada pintu Baekhyun berbunyi. "Itu pizza-nya datang!" Chelsea bersemangat mengingat mereka berdua tengah menunggu pizza yang sudah sedari tadi dipesan oleh Baekhyun.

"Curang!" Baekhyun mencubit sayang hidung Chelsea dan dengan tergesa – gesa mengambil uang yang sudah ia siapkan lalu berlari kecil menuju pintu apartemennya. Chelsea mengikuti dari belakang karena anak itu sejujurnya sudah sangat lapar dan sedari tadi membayangkan betapa nikmatnya memakan pizza seorang diri.

Keduanya terlalu fokus pada pizza dan sesungguhnya tidak berpikir dan menantikkan kedatangan sosok lain, karena itu ketika pintu apartemen terbuka dan terlihat Chanyeol-lah yang berdiri disana dengan satu tangannya membawa bungkusan makanan, Baekhyun sontak terdiam kaget dan kembali jantungnya berdetak tidak normal, sementara Chelsea memekik takut dan berlari cepat menuju kekamar Baekhyun guna menjalankan aksinya untuk berpura – pura tidur.

"Hai." Chanyeol membuyarkan keheningan Baekhyun yang masih berdiri menahan pintu terbuka.

"H-hai." Baekhyun tidak bisa menahan suara gugupnya kembali salah tingkah dan tidak tahu harus berbuat apa ketika dirinya benar – benar dihadapkan oleh Chanyeol kembali setelah hampir beberapa hari mereka tidak bertemu sapa.

"A-aku boleh masuk?" Chanyeol pun juga sama, kepercayaan dirinya seakan – akan menghilang begitu saja ketika melihat Baekhyun yang begitu kaget dan gugup berada didepannya.

Baekhyun mengangguk ragu, mempersilahkan Chanyeol untuk masuk, ia bahkan menutup pintunya secara perlahan – lahan takut akan menimbulkan suara.

"Aku membawa ayam goreng dan juga kentang.." Chanyeol mengangkat bungkusan makanan yang sedari tadi ia pegang guna mencari bahan pembicaraan diantara dirinya dan Baekhyun.

"Aku sudah memesan pizza." Baekhyun bermaksud menginformasikan mengenai pizza yang Ia pesan untuk disantap bersama, namun nyatanya ucapan itu malah membuat keterdiaman lagi antara dirinya dan Chanyeol.

"Kita bisa memakan semuanya nanti.. pizza dan ayam goreng.." ia meluruskan melanjutkan bersuara. "Dan kentang goreng.."

"Ide bagus.." Chanyeol menyetujui.

Baekhyun menawarkan diri untuk mengambil bungkusan itu dan ia tata pada meja makannnya berserta perlengkapan makan lainnya sementara Chanyeol hanya memperhatikan sambil berdiri canggung.

"Chelsea ada dikamarku.. ia hanya berpura – pura tidur karena takut kau pasti akan marah kepadanya.." mengesampingkan rasa gugupnya, Baekhyun perlahan – lahan berani berucap panjang kearah Chanyeol yang masih canggung didekatnya.

"A-aku akan berbicara dengannya nanti.." Chanyeol menjawab dengan pelan, dan kini langkahnya mulai berani untuk mengikis jarak dengan posisi Baekhyun yang tak jauh dari tempatnya.

"Kau tidak marah sungguhan dengannya kan?" Baekhyun bertanya tanpa melihat kearah Chanyeol.

"Tidak tahu.."

"Jangan marah padanya.. anakmu punya alasan kenapa—" belum selesai Baekhyun menyelesaikan ucapannya, suaranya terputus karena rasa kaget mendapati tangan Chanyeol tengah memeluk dirinya dari belakang. Bahkan kepala pria itu sudah berada di ceruk lehernya mencium dan mengusak lembut menunjukkan sedikit perasaan yang tengah ia alami.

"Katakan lagi.." Chanyeol berucap pelan sementara Baekhyun mendengarkan dalam posisi kaku.

"A-apa?"

"Katakan lagi yang tadi kau ucapkan di telepon.." Chanyeol membawa badan Baekhyun memutar agar bisa berada menghadap kearahnya, mengusap lembut kepala Baekhyun dan bahkan menyelipkan beberapa helai rambut yang nampak tidak rapi. "Aku ingin mendengarnya lagi.." Chanyeol berucap menambahkan sementara Baekhyun masih berusaha menormalkan detak jantungnya dan juga mengingat – ingat lagi segala latihan kata – kata yang ingin ia sampaikan kepada Chanyeol.

Kedua mata mereka saling menatap satu sama lain dan percikan yang ada pada pandangan keduanya nampaklah sama. Percikan saling memuja dengan penuh kasih sayang.

"A-aku minta maaf.." Baekhyun berucap pelan dan Chanyeol lekas menggeleng.

"Tidak perlu minta maaf.." kedua tangannya mengusap pipi Baekhyun dan memegang wajah wanita itu dengan begitu sayang.

Baekhyun memberikan senyumannya kearah Chanyeol dan setelahnya ia mendekap badan tinggi pria itu dalam pelukannya meskipun harus susah payah berjinjit mengingat tinggi badannya berbeda jauh dengan Chanyeol. "Aku merindukanmu."

Chanyeol tersenyum senang dan ikut membalas pelukan Baekhyun dengan semakin erat memeluknya serta mencium kepala Baekhyun. "Aku juga merindukanmu.. sangat sangat merindukanmu.."

Tidak ada dalam rencana di kepala Baekhyun ia akan berakhir dengan isakan tangis karena mendengar balasan dari ucapan Chanyeol yang nyatanya juga merindukan dirinya, tapi aliran air matanya bergerak turun begitu saja membasahi pipinya dan itu semakin membuat ia merasa bersalah karena selama itu terlalu egois mengabaikan perasaan yang dimiliki pria itu sedari awal.

"Maaf karena aku begitu egois.." Baekhyun berucap hati – hati guna tidak menunjukkan suara serak karena tangisnya. "Maaf selama ini aku mengabaikan perasaanmu.."

"Ssshh.." Chanyeol menenangkan ketika telinganya menangkap suara isakan tangis Baekhyun. "Meskipun kau mengabaikanku pun aku masih menyayangimu Baekhyunnie.." Chanyeol memberikan ketenangan, mengusap bagian kepala Baekhyun dan juga punggungnya. "Aku sudah terlalu mencintaimu begitu dalam.." Chanyeol menjabarkan lagi perasaannya dan Baekhyun merasa semakin bersalah karena itu.

"Maaf aku mengacuhkanmu.." kini giliran Chanyeol yang meminta maaf dan Baekhyun menggelengkan kepalanya.

"Kau pasti marah karena apa yang aku ucapkan." Wanita itu membenarkan dan Chanyeol ikut setuju dengan kepalanya mengangguk.

"Aku memang kesal karena ucapanmu waktu itu.. tapi setelah aku ingat – ingat lagi kau memang berhak mengatakan demikian." Mereka kembali saling bertatap dalam diam. Chanyeol mengusap pelan air mata Baekhyun yang mengalir di pipinya, mengusap wajah wanita itu dan bahkan memberikan ciuman kecil di kening, pipi dan kemudian bibir wanita itu.

"Apa tawaranmu masih berlaku?" Baekhyun berucap demikian setelah wajah Chanyeol menjauh dari wajahnya setelah ciuman singkat di bibirnya.

"Tawaran?"

"Tawaranmu.." Baekhyun memeluk pinggang lelaki itu dan dengan begitu menggemaskannya memasang wajah menggoda yang mana semakin membuat Chanyeol menatap tidak percaya. "Tawaran untuk menjadi kekasihmu.." Baekhyun menjelaskan dengan nada tertawa, lalu mencium bibir Chanyeol dengan lumatan yang dalam.

Ciumannya dibalas oleh Chanyeol dengan lebih dalam serta lebih menggairahkan karena sejujurnya Chanyeol teramat sangat merindukan hal itu. Lidah mereka saling mengesap sementara bibir masing – masing saling melumat satu sama lain yang seakan – akan menjelaskan betapa kata rindu sangatlah berpengaruh terhadap keduanya. Tangan Chanyeol tidak terhenti hanya memeluk badan dan pinggang Baekhyun disana, usapan lembut menjelajahi punggung wanit itu hingga mengalirkan debaran lebih dirasakan di sekujur tubuhnya.

Teeettt!

Bunyi bel di depan pintu menjadi penyudah cumbuan itu, sontak kaget terlihat pada wajah keduanya karena demi apapun bel yang Baekhyun miliki cukup memekik telinga keduanya.

"Itu pizzanya." Baekhyun mengartikan demikian dan Chanyeol hanya bisa mengangguk pasrah. "Aku akan mengambil pizzanya dan kau menemui Chelsea." Ada kecupan singkat Baekhyun berikan kepada Chanyeol sebelum pria itu melirik kearah kamar Baekhyun disana.

"Jangan memarahinya.." Baekhyun memperingati lagi ketika tangannya menarik wajah Chanyeol agar ia bisa melihat jelas wajah pria itu dan kemudian memberikan ciuman cukup dalam sebelum akhirnya ia benar – benar melangkah cepat menuju pintu apartemennya.

Chanyeol tersenyum bahagia disana dan melangkah santai menuju kamar Baekhyun. Puterinya terbaring disana, menutupi wajahnya dengan boneka yang Baekhyun miliki namun pergerakan nafasnya terlihat tidak begitu teratur damai. Chanyeol tidak ingin membangunkan Chelsea disana, ia juga tidak berminat menanyakkan lebih jelas alasan kenapa puterinya membolos karena sejujurnya Kyungsoo sudah menjelaskan lebih dulu kepadanya saat di perjalanan tadi. Maka dari itu Chanyeol memilih untuk membaringkan badanya tepat disamping puterinya itu, memberikan pelukan hangat dan kemudian mencium pipi Chelsea disana sambil berujar pelan.

"Daddy tidak marah.. kita makan ya.. Daddy membawa ayam goreng kesukaan Chelsea dan juga kentang goreng.. kita makan bersama – sama dengan pizzanya ya." Chanyeol membujuk puterinya, membawa wajah Chelsea untuk melihat kearahnya dan dengan jelas Chanyeol bisa melihat kedua mata yang pura – pura terpejam takut.

"Daddy tidak marah.. tadi Auntie Kyungsoo sudah menjelaskan pada Daddy kenapa Chelsea membolos.. Baekhyunnie juga sudah memberi tahu Daddy tadi.." Chanyeol mengusap wajah puterinya dan memberikan ciuman di kedua pipi anak itu.

"Daddy janji.." Chelsea menjawab memeluk leher Chanyeol dengan kedua tangannya meskipun matanya masih terpejam erat.

"Janji sayang.. tapi jangan diulangi lagi ya. Kalau Chelsea tidak mau berenang, telepon Daddy, biar Daddy yang jemput, jangan pulang sendiri lagi seperti ini.. kalau tidak ada Baekhyunnie bagaimana hm?"

Chanyeol membawa Chelsea dalam gendongannya, membawa wajah anak itu untuk bisa Ia lihat dengan jelas, mengusap kedua pipinya dan juga merapikan rambut puterinya yang terlihat berantakkan.

Chelsea mengangguk mengerti apa yang dimaksudkan oleh Chanyeol, anak itu masih bertahan dalam gendongan Daddynya, mencium pipi Chanyeol sesekali lalu nampak semangat ketika Baekhyun berteriak kearah mereka bahwa pizza yang sudah ditunggu – tunggu sudah datang.

Mereka bertiga berkumpul di meja makan, Chelsea masih duduk dipangkuan Chanyeol, menimati semua makanannya dan juga bercerita mengenai aktifitas sekolah termasuk ketika ia memilih untuk membolos. Chanyeol sesekali mengomentari dan mengajarkan anaknya itu tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan nantinya. Sementara Baekhyun menjadi pendengar dan penonton memperhatikan tingkah laku ayah dan puteri kecil itu, sesekali ia mendapatkan Chanyeol menatapnya dan untuk saat itu ia hanya bisa membalas dengan senyuman bahagia dan membiarkan tangannya digenggam atau pun diusap lembut oleh Chanyeol.

Tbc.

Happy Chanbaek Day