BAEKHYUN

pov


Terbentuk sebuah kesimpulan yang bisa aku dapatkan setelah memberanikan diri untuk pertama kalinya mencoba memulai sebuah hubungan percintaan dengan seseorang.

Contohnya adalah beberapa hal yang aku jelaskan pada kalian saat ini.

Setelah aku mengubah status antara aku dan Chanyeol sekitar beberapa bulan lalu, kami benar – benar memulainya dari awal. Aku dan Chanyeol melakukan pengenalan yang lebih formal dengan berjabat tangan dan saling menyebutkan nama masing – masing—ini terdengar aneh memang—tapi kami benar – benar melakukannya seperti itu. Chanyeol bahkan menjabarkan mengenai dirinya yang sudah memiliki puteri dan juga menceritakan sebagian kecil dari kehidupan keluarganya.

Aku juga melakukan demikian tapi tidak semuanya aku ceritakan padanya, setidaknya ia sudah mengenal sebagain dari diriku ini.

Setelah perkenalan itu, ia dan Chelsea kembali ke apartemennya dan aku kembali dengan ranjangku, untuk beberapa waktu karena tepat tengah malam, Pintu apartemen berbunyi dan ketika aku membukakan pintu itu, Chanyeol langsung menyergap tubuhku, menciumku penuh nafsu dan gairah hingga akhirnya kami berakhir pada lantai dapur dengan keadaan lengket karena keringat dan juga cairan – cairan percintaan. Tentu kalian sudah tahu apa yang kami lakukan bukan? Seperti biasa, mencurahkan segala kerinduan dan juga luapan gairah nafsu yang tertahan sebelumnya.

Entah dari kami berdua sesungguhnya siapa yang memiliki nafsu paling tinggi dalam urusan seks, yamg aku tahu kami berdua seakan – akan telah menemukan pasangan seks yang tepat untuk satu sama lain.

Oh! Kami tidak selalu menghabiskan malam – malam penuh desahan seperti yang kalian bayangkan. Karena terkadang Chelsea akan merengek untuk meminta kami bertiga tidur bersama dalam ranjang yang sama, di kamar Chanyeol. Dan saat itulah aku dan Chanyeol hanya berbagi cumbuan sesaat lalu tidur pada posisi masing – masih. Atau mungkin ketika Chanyeol tengah sibuk dengan pekerjaannya dan harus membuat ia lembur atau pun pergi ke luar kota untuk beberapa hari.

Aku menyukai perlakuan Chanyeol ketika ia harus lembur dan meninggalkan aku dengan Chelsea berdua di apartemennya. Karena ketika ia pulang, kami berdua sudah berada dalam dunia mimpi, terkadang aku terbangun hanya untuk melihat Chanyeol yang dengan penuh rasa sayangnya mencium keningku dan juga kening Chelsea sebelum ia ikut tidur dengan kami.

Aku baru menyadari rasanya diberikan perhatian penuh rasa sayang dan juga cinta seindah ini dan kini ada pengharapan dalam hatiku agar semua yang aku rasakan saat ini akan bertahan lama.


LOVELESS

Chapter 15

Chanyeol Chelsea – Baekhyun


Rasa syukur rasanya patut Chanyeol panjatkan kepada Tuhan karena mempertemukan dirinya dengan Baekhyun. Ia mengingat kembali bagaimana pertemuan mereka diawalnya, segala perdebatan dan perselisihan di awal terlebih keras kepala Baekhyun yang menolak untuk memulai hubungan bersamanya. Terlepas dari masalah masa lalu, kini Chanyeol mensyukuri semuanya.

Hubungannya dengan Baekhyun sudah memasuki babak baru sejak beberapa bulan yang lalu dan setiap harinya ia merasa semakin bahagia karena hal itu.

Bagaimana tidak? Wanita itu akan berada ketika ia membuka mata, kesehariannya akan dipenuhi dengan pesan – pesan singkat pada ponselnya, entah itu adalah pesan yang mengandung godaan seks, atau pun pesan yang menanyakkan apa yang dilakukan dirinya saat bekerja, meeting, makan siang, dan di setiap jam dalam kesehariannya. Ketika Chanyeol tiba di apartemennya pun, wanita itu akan menyambutnya, memberikan senyuman manis dan sebuah ciuman selamat datang, mereka akan makan malam bersama dan juga bercengkrama atau sekedar menggoda Chelsea, dan berakhir dengan tidur bersama diranjang milik Chanyeol. Tidak setiap malam mereka bercinta, tapi nyatanya Chanyeol tidak akan pernah mau membiarkan Baekhyun untuk tidur di unit apartemennya dengan alasan pria itu ingin memeluknya sepanjang malam.

Dan Baekhyun menjadi penurut kala itu, ia menurut untuk berada di apartemen Chanyeol setiap malam dan akan kembali keesokkan pagi harinya hanya untuk melakukan pekerjaan di apartemen miliknya.

"Ehm.." satu desahan lolos dari mulut Baekhyun yang tengah terbuka kecil ketika Chanyeol mencumbu bagian lehernya. Lumatan dan juga gigitan basah ia rasakan cukup menggelikan dan membangkitkan gairah seksualnya kembali meskipun baru beberapa saat lalu ia mengalami klimaks.

"Aaahh.." kali ini suaranya terdengar menjerit kecil. Chanyeol kembali memasukkan bagian intimnya kedalam lubang Baekhyun pada saat wanita itu begitu terbuai karena cumbuan di leher dan juga gerakkan tangan Chanyeol yang meremas bagian sintal di dada wanita tersebut.

Baekhyun berada di pangkuan Chanyeol, badannya bergerak seirama dengan gerakkan tangan Chanyeol yang sengaja menggerakkan pinggul wanita itu agar bermain – main dengan penyatuan intim mereka. Chanyeol merebahkan badannya diatas ranjang dan Baekhyun semakin menggila menungganginya. Ia bahkan mulai menggerakkan badannya naik turun secara perlahan, mengarahkan tangan Chanyeol untuk memegang kedua payudaranya sementara dirinya semakin tidak bisa mengendalikan diri ketika pria itu melakukannya. Tangan Baekhyun meremas otot – otot perut Chanyeol dan terus berusaha menggerakkan dirinya sendiri menuruti hasrat gairah dalam dirinya agar kembali mencapai puncak kenikmatan dari percintaan mereka di pagi hari ini.

Tapi sebelum Baekhyun kembali mendapatkannya, Chanyeol lebih dulu bangkit, menahan gerakkan Baekhyun dan membalikkan posisi dengan membawa badan wanita itu untuk berbaring di ranjang.

Desahan lainnya terdengar ketika Chanyeol menjadi pihak dominan yang melakukan semuanya, bukan hanya memberikan dorongan penuh dalam tumbukkan penuh seksual kepada Baekhyun, ia juga melumat ganas payudara dan juga bibir Baekhyun secara bergantian ketika segala nafsu dalam percintaan mulai kembali menguasi mereka berdua untuk mencapai sebuah pencapaian.

Chanyeol bergerak mendominasi, membuai badan Baekhyun dengan sentuhan tangannya yang berada pada setiap bagian tubuh wanita itu dan karenanya Baekhyun tak berhenti untuk mendesah merasakan nikmat akan hal itu. Tangannya mulai meremat bagian sprei ranjang bersamaan dengan semakin dalamnya bagian intim Chanyeol berada didalam dirinya.

Ciuman Chanyeol pada mulutnya bahkan tidak mau memendam suara jeritannya ketika ia rasa pencapaian pada dirinya semakin mendekat, tangannya berpindah memeluk leher pria yang berada diatasnya sementara kedua kakinya yang sedari tadi mengangkang lebar kini menekuk untuk memeluk tubuh Chanyeol. Mereka berdua kembali saling bergerak, berbagi desahan, ciuman, cumbuan hingga keduanya sama – sama mengerang di akhirnya dengan tubuh saling bergetar merasakan puncak pencapaian cinta.

Chanyeol menempelkan keningnya pada kening Baekhyun sesaat sebelum ia mencium wanita itu, mengatakan satu kalimat cinta dan kemudian melepaskan penyatuan intim keduanya, tapi tetap membawa badan Baekhyun dalam dekapannya ketika ia berpindah posisi. Dan Baekhyun pun menurut, memeluk pinggang Chanyeol dan juga mengelus dada pria itu yang nampak sedikit berkeringat karena kegiatan panas mereka, memberikan kecupan disana lalu mendongak ke arah Chanyeol yang tengah menciumi bagian keningnya.

"Chelsea pasti akan marah lagi kalau besok dia terbangun di kamarnya." Baekhyun membuka obrolan sementara mereka berdua masih saling mengatur nafas masing – masing. Chanyeol masih menciumi keningnya dan juga memainkan rambut panjangnya sembari memberikan usapan lembut.

Chanyeol tersenyum, kini ia memindahkan badan Baekhyun untuk tidur diatas badannya. "Apa kau menggunakan alasan Chelsea supaya aku tidak menyerangmu untuk ketiga kalinya?" Chanyeol mencubit hidung Baekhyun lalu menciumnya dan Baekhyun membalasnya dengan mengigit bagian dada Chanyeol dengan mulutnya.

"Chelsea merindukanmu." Baekhyun berucap, kedua tangannya bersimpul diatas dada Chanyeol dan memangku wajahnya. Sedangkan Chanyeol memperhatikan sembari mengusap rambut Baekhyun yang tergurai.

Percakapan mereka mengarah demikian mengingat Chanyeol baru saja kembali dari perjalanan bisnisnya, pria itu meninggalkan Baekhyun dengan Chelsea selama dua hari belakangan. Meskipun dalam dua hari Chanyeol selalu mengabsen dirinya dan juga Chelsea melalui video call atau sekedar telepon, Baekhyun merasa puteri kecil Chanyeol itu terlihat jelas merindukan sosok ayahnya.

"Kau tidak merindukanku?" Chanyeol berbalik bertanya sembari tersenyum kearah Baekhyun yang menatapnya dengan senyuman kecil.

Baekhyun mencium dada pria itu dan kemudian bangkit duduk diatas perut Chanyeol, "Kalau aku tidak merindukanmu.. kita tidak akan memiliki malam panas seperti tadi." Smirknya ia berikan lalu bangkit untuk berlalu menuju kamar mandi dengan tergesa – gesa menghindari Chanyeol yang sudah terbangun dan hndak menahan dirinya.

"Ganti spreinya!" Baekhyun sedikit berteriak dari dalam kamar mandi dan Chanyeol yang mendengarnya menggelengkan kepala sebelum ia kembali merebahkan badannya diatas ranjang.

Sementara Baekhyun menguasai kamar mandi miliknya untuk membersihkan diri, Chanyeol menuruti perintah wanita itu yang memintanya mengganti sprei ranjang yang mana berbentuk tak beraturan dan juga menyimpan aroma percintaan disana. Chanyeol mengenakkan lagi celana berwarna hitam yang sempat ia pakai sebelumnya, lalu menarik seluruh sprei dan selimut diatas ranjangnya untuk ia pindahkan ke keranjang pakaian kotor di sudut kamarnya.

Seusai Baekhyun membersihkan diri, ia melangkah keluar dengan menggunakkan kaos berwarna abu – abu milik Chanyeol. Ia menyusul untuk membantu pria itu yang tengah sibuk memasang kembali sprei baru diatas ranjangnya, namun bantuan yang diberikan adalah tangan yang melingkar di pinggang itu dari arah belakang.

"Apa ini undangan untuk menyerangmu lagi?" Chanyeol mengusap lengan Baekhyun dan membalikkan badannya untuk bersitatap dengan Baekhyun yang tengah menggelengkan kepala.

"Stock pil-ku habis.. kau harus menahannya sampai aku membeli pil baru." Ada wajah yang merengut kesal mendengar jawaban Baekhyun.

"Kecuali.." Baekhyun melanjutkan lagi, mengalungkan kedua tangannya pada leher Chanyeol dan kakinya sedikit berjinjit untuk menyamakan tinggi badan pria itu. "Kau mau bersusah payah memakai kondom.." bisikannya terdengar menggoda terlebih ia juga sempat mencium bibir Chanyeol sesaat lalu setelahnya terkikik karena Chanyeol membawa badan mereka untuk kembali jatuh ke atas ranjang, dimulai dengan ciuman dalam bergairah dan berakhir dengan desahan panjang penuh kenikmatan karena malam panas bagi keduanya kembali berlanjut.

.

.

Hari Sabtu adalah waktu berkumpul untuk ketiganya, waktu pagi akan terlihat sibuk seperti biasanya karena Chanyeol akan sibuk memperingati puteri kecilnya yang memiliki kelas Ballet di jam 9 pagi itu.

"Chels! Baekhyunnie! Come on baby.. ini sudah jam 8." Chanyeol mengetuk pintu kamar mandinya dimana Chelsea dan Baekhyun tengah mandi berdua didalam sana. Ia sudah berusaha membuka pintunya tapi terkunci dari dalam.

Ia menghela nafas sebentar lalu memilih untuk kembali ke dapur untuk melanjutkan menyiapkan sarapan untuk ketiganya.

"Daddy berisik.." tak lama suara puterinya terdengar menggerutu, Chelsea sudah nampak rapi dengan setelan latihan balletnya, rambutnya terkuncir dengan tatanan yang rapi tidak seperti yang biasa Chanyeol lakukan ketika membuat kunciran di rambut puterinya.

"Ini sudah jam 8 Princess.. kau belum sarapan." Chanyeol membantu puterinya itu untuk duduk lalu mencuri ciuman di kedua pipi Chelsea yang kemudian membuat anaknya terkikik geli berusaha menghindar.

"Aaaahh Daddy nanti merusak kuncirannya!"

"Daddy!"

Chanyeol tidak mengindahkan teriakan Chelsea karena dia terus mencium pipi puterinya berulang kali.

"Daddy kan rindu padamu Princess." Chanyeol membawa badan Chelsea untuk duduk pada pangkuannya, mengusap kepala anak itu dan memperhatikan bahwa puterinya semakin hari bertumbuh dan bukan lagi bayi kecil yang merengek padanya.

"Daddy juga rindu dengan Baekhyunnie?" Chelsea mendongak kearah Chanyeol, gadis kecil itu menjulurkan lidahnya bermaksud menggoda sang ayah.

"Jangan beri tahu Baekhyunnie tentang itu." Chanyeol berbisik dan keduanya tersenyum saling memahami. "Habiskan sarapanmu. Daddy akan ganti baju dan kita berangkat setelahnya."

Chelsea mengangguk patuh, memposisikan dirinya untuk duduk dengan benar, ia menyempatkan diri berdoa sebelum akhirnya menyantap satu per satu sajian makanan untuk sarapannya yang sudah disiapkan oleh sang Ayah.

"Baekhyunnie.. Daddy merusak kuncirannya." Anak itu lekas berucap ketika melihat Baekhyun yang menyusul diirnya untuk duduk bersama. Wanita itu sempat tersenyum lalu berada di posisi belakangnya merapikan kembali kunciran yang sempat ia buat terhadap rambut Chelsea.

"Nah, sudah rapi lagi." Baekhyun mengusap kepala Chelsea dan ikut terduduk disamping anak itu.

"Daddy bilang.. Daddy merindukan Baekhyunnie.. hati – hati.. nanti kalau Daddy kembali pasti Daddy memeluk dan mencium Baekhyunnie." suara Chelsea berbisik kearah Baekhyun dan wanita itu tidak bisa menahan rasa tawanya mendengar apa yang telah diucapkan Chelsea padanya.

"Kalian membicarakan apa?" suara Chanyeol lebih dulu bergabung bersama keduanya. Chelsea nampak memasang wajah polosnya ketika melihat sang Daddy akan duduk pada kursi dihadapan Baekhyun.

"Daddy duduk disini!" suaranya sedikit berteriak dengan tangannya menunjuk kearah kursi yang ada dihadapannya.

"Kenapa begitu?"

"Chelsea masih merindukan Daddy.."

Chanyeol melihat tak percaya kearah puterinya itu lalu terarah pada sosok wanita yang tengah menahan senyuman dihadapannya.

"Baiklah." Suaranya menurut dan membuat sang anak kecil itu bertepuk tangan lalu melakukan tos dengan Baekhyun disampingnya. "Kalian merencanakan sesuatu." Lanjut Chanyeol sembari memperhatikan Chelsea dan Baekhyun secara bergantian yang mana keduanya kini memperlihatkan wajah tidak bersalah dan berpura – pura menikmati makanan sarapan mereka berdua.

Chanyeol tidak memperpanjang masalah sebelumnya karena tepat ketika ia melihat jam tangan yang melingkar di tangannya, sudah menunjukkan pukul 8 lewat 30 menit, dan itu pertanda untuk Ia dan Chelsea harus lekan pergi menuju sekolah anak perempuannya.

Baekhyun memberikan sedikt bantuan dengan mengambil beberapa perlengkapan Chelsea lalu merapikan sedikit dandanan anak perempuan itu.

"Baekhyunnie tidak ikut?" rengekkan kembali terdengar setiap saat ia akan pergi berangkat sekolah atau pun kelas ballet, Baekhyun hanya akan membantunya bersiap dan membiarkan ia pergi dengan sang Daddy.

"Tidak sayang.. Baekhyunnie akan menunggu disini ya.." Baekhyun membelai pipi anak itu.

"Baekhyunnie ikut menjemput Chelsea yaa.." tapi hari ini tidak seperti biasanya. Chelsea lebih terlihat manja dan bahkan wajahnya nampak merenggut memohon kepada Baekhyun. Gadis itu bahkan memeluk pinggang Baekhyun dan terus mendongak agar wanita yang lebih dewasa darinya bisa mengerti keinginannya itu.

"Chels.. come on.."

"Daddy… Baekhyunnie boleh ikut menjemput Chelsea yaa..pleaseee.." kali ini ia merengek sembari melompat – lompat untuk menarik perhatian dua orang dewasa disana.

"Jangan melompat – lompat." Chanyeol sempat memperingati sebelum ia ikut memohon kearah Baekhyun untuk mengabulkan permintaan puterinya itu.

"Baekhyunnie pleaseeee.." kali ini anak perempuan itu memohon dengan kedua tangannya menyatu sempurna dengan badannya yang meliuk – liuk.

"Okey. Okey.. aku akan ikut menjemputmu nanti."

"Yesseeeuu! Daddy let's go."

Baekhyun kembali menggelengkan kepalanya melihat perubahan sikap Chelsea yang dengan mudahnya berubah ketika mendengar jawaban yang diberikan olehnya. Chanyeol bahkan ikut nampak tidak percaya dan tertawa sembari berlalu membawa puterinya dalam gandenga tangannya dan mereka berdua pamit pergi meninggalkan Baekhyun seorang diri dalam unit apartemennya.


LOVELESS


Setelah merapikan sisa – sisa sarapan dan juga sedikit kekacauan di kamar Chanyeol, Baekhyun membawa laptop dan juga bantal miliknya untuk kembali ke unit apartemennya. Ia meletakkan baju – baju kotornya, menyalakan mesin cuci untuk mengerjakan tumpukkan baju kotor didalamnya lalu merebahkan badannya untuk sekedar beristirahat sebelum ia kembali memulai mengerjakan pekerjaanya.

Menjadi karyawan freelance membuat Baekhyun memiliki waktu lebih banyak untuk bersantai dan tidak berpatokan pada waktu bekerja seperti karyawan kantoran lainnya. Biasanya ia akan menhabiskan waktu lebih panjang untuk mengerjakan semua projek design yang tengah ditawarkan padanya pada pagi hingga malam hari sampai Chanyeol pulang. Bahkan meskipun Chelsea tengah bersamanya, ia tetap bisa mengerjakan semua pekerjaanya.

Suara notifikasi terdengar dari ponselnya ketika ia masih menikmati merebahkan badannya diatas ranjang, pesan dari Seung-wan terihat nampak pada layarnya.

Kapan kau akan pulang ke Korea? Pernikahanku akan terjadi bulan depan!

Baekhyun tersenyum melihat pesan yang dikirimkan oleh adiknya lalu melihat pada kalender meja yang ada pada nakas didekat ranjangnya. Bulan depan adiknya akan menikah dan hal ini masih tidak bisa dipercaya oleh Baekhyun seorang.

Aku akan pulang seminggu sebelum pernikahanmu.

Ia mengetikkan balasannya dan segera mengirim pada kontak Seung-wan disana.

Dan seperti yang Baekhyun pikirkan, adiknya itu akan langsung melakukan panggilan telepon padanya.

"Kenapa?"

"Selalu seperti itu!" Seung-wan memprotest cara penyapaan yang Baekhyun lakukan setiap kali mereka melakukan panggilan telepon. "Tidakkah kau berubah? Yang aku ingat Baekhyunnieku sudah menjadi kekasih orang lain, kenapa dia masih sedingin ini kala adiknya menelepon."

Baekhyun nampak terbatuk kecil mendengar apa yang dikatakan oleh adiknya disana. "Apa maksudnya dengan ucapanmu itu?"

"Tapi aku benar kan?"

"Tidak." Baekhyun berguling pada ranjangnya sembari memeluk guling tidurnya.

"Aish. Oh, apa Chanyeol akan datang? Undangannya sudah aku kirimkan pada kantornya yang ada di Korea.."

Baekhyun menggigit bibirnya mendengar pertanyaan adiknya mengenai kedatangan Chanyeol pada acara pernikahan Seung-wan nantinya. "Haruskah ia datang? Maksudku.. haruskah aku datang bersama dengannya"

"Tentu saja!" Seung-wan berteriak disana. "Baekhyunnie.. dia adalah kekasihmu dan aku ingin melihat kalian berdua berada di pernikahanku. Oh bersama Chelsea juga—kyaaaa—ini akan menjadi pemandangan langka!"

"Tidak usah berteriak—aish!"

"Aaaahhh aku ingin cepat – cepat menikah!"

Mendengar teriakan adikya untuk kesekian kalinya membuat Baekhyun menggelengkan kepala lalu membuang ponselya ke sembarang arah demi menghindari pecahnya gendang telinganya karena sang adik selalu berteriak setiap saat padanya.

"Oh! Ngomong – ngomong kau harus menjaga pola makanmu."

"Kenapa begitu?"

"Gaunmu sudah jadi sesuai dengan ukuran contoh gaun yang kau kirimkan tiga bulan lalu, dan itu berarti ukuran badanmu harus sama dengan ukuran badanmu tiga bulan lalu. Ingat! Diet!"

Ingin rasanya Baekhyun memukul kepalanya karena dirinya ikut terlibat dalam acara pernikahan adiknya sedari awal ditambah ia sendiri pun harus mengikuti Seung-wan untuk melakukan diet demi menjaga ukuran badannya.

"Lalu kalau berat badanku bertambah kenapa?"

"Ya tidak boleh!"

Baekhyun menggeleng tidak percaya.

"Tidak ada gaun cadangan dengan ukuran lebih besar untuk dirimu.. maka dari itu saat kau tiba dan gaunya tidak sesuai berarti kau harus puasa sampai berat badanmu turun!"

"Itu penyiksaan namanya!"

"Itulah mengapa ada diet Baekhyunniee~ sudah, aku mau tidur! Diet Baekhyunniee~ saranghae!"

Baekhyun tidak membalas ucapan Seung-wan dan memilih untuk beranjak dari ranjang tidurnya karena rasa lapar yang sudah ia rasakan meskipun baru beberapa jam yang lalu ia menyantap sarapan yang Chanyeol buatkan.

"Diet apanya.. setiap dua jam aku sudah merasa lapar." Ia bergumam seorang diri, tangannya dengan sangat telaten mengoleskan selai strawberry dan juga selai kacang pada roti tawar gandum yang selalu ia sediakan di dapur apartemennya.

Selain roti lapis dengan selai strawberry dan kacang, Baekhyun juga menyiapkan sereal jagung dan juga susu dingin sebagai makanan keduanya. Semuanya nampak begitu nikmat ketika tersaji didepannya, gigitan pertama dan suapan dari roti lapis dan juga sereal sudah dilakukan dan kini bercampur menjadi satu rasa dalam mulut Baekhyun.

Seharusnya rasa yang ia rasakan dalam mulutnya akan terasan nikmat dan membuatnya ketagihan untuk terus memakannya, tapi kali ini ada rasa aneh yang ia rasakan dan mau tak mau dirinya berlari cepat menuju kamar mandi untuk memuntahkan kembali makanannya.

Bukan hanya rasa aneh dalam mulutnya yang kini terasa tapi pusing dan penat sedikit terasa di kepalanya sehingga dirinya harus duduk sesaat pada lantai kamar mandi.

Dan Chanyeol datang tepat pada waktunya.

Pria itu sudah berada didalam unit apartemen Baekhyun, meletakkan kunci apartemen beserta kunci mobilnya di meja dapur dimana tersajikan roti lapis dan juga sereal yang terlihat masih dalam porsi yang banyak namun ia tidak menemukan Baekhyun disana. Langkahnya dibawa untuk melihat kondisi kamar Baekhyun yang terlihat kosong juga tapi telinganya mendengar suara lenguhan dan juga flush toilet dan itu memandu Chanyeol untuk masuk kedalam kamar mandi.

"Hey.." wajahnya nampak panik melihat Baekhyun yang nampak begitu pucat dan terduduk lemas di lantai kamar mandi. "Ke-kenapa? Kau sakit?" tangan Chanyeol merangkul dan memegang badan Baekhyun dengan erat, ia membawa wanitanya untuk berpindah ke tempat tidur. Mendudukkan Baekhyun disana lalu berlari cepat untuk mengambil air minum kepada Baekhyun.

"Kenapa? Apa yang terjadi?" rasa khawatirnya masih terlihat jelas pada pria itu dan Baekhyun hampir tertawa hanya karena melihat wajah Chanyeol yang tengah menatap kearahnya. Pria itu tengah berlutut dibawah Baekhyun, menggengam salah satu tangannya dan memberikan usapan lembut disana.

"Wajahmu terlihat lucu sekarang." Baekhyun meledeknya sesaat dan itu membuat Chanyeol merenggut kesal. "Aku baik – baik saja.. mungkin susunya sudah tidak bagus jadi membuatku mual." Mereka berdua melihat kearah mangkuk sereal yang masih terletak diatas meja makan.

"Kau yakin?"

Baekhyun mengangguk lagi. "Bisa tolong ambilkan roti lapisnya, aku masih merasa lapar.." tangan Baekhyun mengusap pipi wajah Chanyeol dan memainkannya layaknya mainan squishy milik Chelsea dan pria itu tidak bisa menolak ketika Baekhyun melakukannya.

Chanyeol bangkit berdiri lagi dan kemudian membawakan roti lapis yang nampak baru mendapatkan satu gigitan kecil dari Baekhyun. Ia memberikan roti itu dan Baekhyun langsung menerima dan memberikan gigitan lainnya.

"Kau masih lapar?"

Baekhyun mengangguk. "Belakangan perutku selalu ingin makan terus."

"Bagus, pipimu semakin berisi." Tangan Chanyeol mencubit pipi Baekhyun yang nampak menggembung karena wanita disampingnya tengah mencoba mengunyah makanan didalam mulutnya.

"Ish." Baekhyun memberikan tatapan tidak suka dan juga memukul tangan Chanyeol yang belum berhenti menjauh dari pipinya.

"Aku tadi sempat memikirkan sesuatu." Wajah Chanyeol berubah serius tetapi pandangannya terus memperhatikan Baekhyun yang tetap melanjutkan menikmati roti lapisnya.

"Kenapa?"

"Ini pikiranku saja.. dan aku pikir bila membicarakannya denganmu akan terdengar lucu."

Baekhyun mengernyit bingung, "Kenapa sih?" mulutnya masih mengunyah dengan begitu nikmat dan membuat Chanyeol semakin ingin tertawa karena hal itu.

"Habiskan dulu makananmu." Perintahnya ia ucapkan dan Baekhyun nampak tidak peduli dengan raut wajahn Chanyeol, yang ia pikirkan hanyalah roti lapisnya hari ini lebih nikmat dari kemarin yang Ia makan.

"Sudah habis." Baekhyun memberi tahukan, menyodorkan piring kosong bekas makanannya kepada Chanyeol lalu bersandar pada lengan pria itu untuk merayu agar Chanyeol mau mengambilkan minuman untuknya. "Tolong yaa~" nada manjanya terdengar dan sangat ampuh membuat Chanyeol menuruti apa pun ucapannya.

"Terima kasih!" ia berucap riang dan setelah menenggak habis setengah isi gelas, Baekhyun memberikannya lagi kepada Chanyeol. "Jadi.. apa yang tadi kau pikirkan."

Chanyeol meletakkan lebih dulu gelas yang Baekhyun minum lalu membersihkan sisa remahan roti dan selai yang ada di sekitar mulut Baekhyun. "Tadi aku berpikir.. bahwa selama kita berpacaran—

Baekhyun merenggut merasa aneh mendengar kata berpacaran yang menunjukkan status keduanya. Dan Chanyeol tertawa langsung begitu melihat perubahan wajah Baekhyun disana.

"—selama dua atau tiga bulan belakangan ini.. aku belum pernah mengajamu berkencan."

Kini wajah Baekhyun nampak terkejut mendengar ucapan Chanyeol namun terlihat tidak tahu harus memberikan jawaban apa.

"Berkencan layaknya sepasang kekasih.." Chanyeol memperjelas dan ucapannya sama sekali tidak membantu Baekhyun untuk terlihat tenang.

"Ma-maksudmu?" gagap dari suara Baekhyun jelas mengartikan bahwa wanita itu sama sekali tidak memikirkan apapun yang akan terjadi nantinya.

"Maksudku—dengarkan aku.." Chanyeol menggenggam kedua tangan Baekhyun, mengusap dengan lembut sementara dirinya bersitatap dengan sang pemilik tangan. "Aku ingin mengajakmu berkencan, seperti pasangan pada umumnya—

"Chanyeol aku—

"Aku tahu kau tidak terbiasa dengan hal itu atau bahkan belum pernah melakukannya. Aku pun juga begitu. Kencan yang aku ingat hanyalah melakukan seks kilat di toilet bar setiap malamnya—ingat?"

Mendengar kalimat itu Baekhyun terkikik geli dan Chanyeol pun ikut serta tertawa setelahnya.

"Aku belum pernah mengalami kencan dengan wanita mana pun, kencan pada umumnya, begitu juga dengan dirimu.. karena itu.. sebelum kita menjemput Chelsea, mungkin ada baiknya kita berdua melakukan kencan singkat hari ini. Bagaimana?"

Baekhyun mengigit bibirnya tidak yakin dengan ide yang Chanyeol tawarkan untuk rencana hari Sabtu kali ini. Karena biasanya mereka akan menikmati waktu berdua diatas ranjang, bercumbu sebentar lalu tiba waktunya Chanyeol menjemput Chelsea dan mereka bertiga akan menonton film bersama hingga waktu makan malam tiba.

"Kita akan berkencan sesuai dengan apa yang kau inginkan." Chanyeol memberikan kalimat bujukan lainnya agar rencana yang ia inginkan bisa terlaksan. "Hanya kencan biasa, jalan – jalan atau mungkin menonton bioskop—aku dengar Avengers akan direlease ulang hari ini."

Ada senyuman kecil terbentuk di wajah Baekhyun dan akhirnya wanita itu mengangguk menyetujui ajakan Chanyeol.

"Yes!"

"Tidak ada bunga." Pekikan bahagia Chanyeol harus terpotong ketika Baekhyun menyebutkan kalimat sebuah larangan di kegiatan kencan mereka kali ini. "Aku tidak terlalu menyukai hal – hal terlalu romantis karena itu jangan membelikan aku bunga."

Chanyeol nampak mengingat – ingat ucapan Baekhyun lalu mengangguk patuh. "Okey, tidak ada bunga.."

"Dan jangan memaksaku untuk bergandengan tangan denganmu ketika kita berjalan.. aku terlalu risih bila banyak orang yang melihatnya—

"Tapi aku boleh merangkulmu." Chanyeol memotong cepat. "Tidak bisa ditolak, karena kau bisa saja hilang di keramaian kalau aku tidak berada disampingmu untuk merangkul badanmu."

Kali ini Baekhyun yang tidak bisa menolak, setidaknya rangkulan yang Chanyeol lakukan bisa saja dilakukan oleh siapapun.

"Jangan menciumku di sembarang tempat." Baekhyun berucap lagi melanjutkan.

"Tidak. Aku boleh menciummu dimana saja."

"Chanyeol.." Baekhyun mengeluarkan jurus merajuknya.

"Tidak."

Baekhyun masih merenggut dihadapannya layaknya Chelsea yang tengah merajuk tapi Chanyeol memantapkan hatinya untuk tidak luluh akan permintaan Baekhyun yang satu ini.

"Tidak. Kau kekasihku, aku bebas menciummu kapan pun dan dimana pun." Chanyeol mempertegas ucapannya.

Baekhyun nampak menimang – nimang keputusannya lalu memilih untuk mengalah terhadap pria dihadapanny. "Baiklah."

"Good. Sekarang bersiaplah, aku akan mengganti baju lagi.." Chanyeol mencium bibir Baekhyun dengan cepat sebelum ia kemudian melangkah berlalu keluar apartemen menuju unit apartemennya.


LOVELESS


Sejujurnya Baekhyun tidak tahu harus mengenakkan apa untuk acara kencan perdananya, tidak ada baju yang menurutnya special harus digunakkan untuk moment bersejarah dan langka seperti ini. Namun pada akhirnya baju yang ia pilih adalah kaos berwarna putih dengan sedikit renda pada bagian lehernya lalu memadukan dengan rok jeans berwarna hitam, serta sepatu santai bertali pada kakinya.

Ia sempat melihat pada cermin dikamarnya dan mengangguk memberikan persetujuan mengenai penampilannya sebelum kakinya melangkah cepat menyusul Chanyeol yang sudah menungu didepan pintu apartemennya.

Tepat ketika ia membuka pintu, Chanyeol tengah berdiri disana, mengenakkan kemeja berwarna hitam pada luaran badannya sementara kaos putih ia kenakkan didalamnya serta celana panjang hitam yang sedikit nampak robek pada kedua lututnya.

"Apa kita melakukan telepati dalam memilih baju kali ini?" Chanyeol menggoda melangkah lebih dekat kearah Baekhyun dengan kedua tangan berada di balik punggungnya.

"Ini," kedua tangannya terulur kearah Baekhyun dan wanita itu dibuat tertawa seketika ketika melihat selai strawberry dan juga bungkusan roti ada di tangan Chanyeol. "Kau menolak bunga, maka aku memberikanmu ini supaya perutmu tidak kelaparan saat kita dijalan.

"Wow." Baekhyun nampak tidak percaya dan cukup terhibur dibuatnya. Senyuman tidak hilang dari wajahnya dan itu membuat Chanyeol merasa gemas hingga mendorong dirinya untuk mencium bibir Baekhyun.

"Kau cantik." Ia memuji dan Baekhyun membalasnya dengan pukulan ringan di perut Chanyeol.

"Ayo." Salah satu tangannya terarah pada Baekhyun untuk mengajaknya pergi tapi yang ia dapatkan adalah juluran lidah dari Baekhyun dan kemudian wanita itu melangkah dengan santai memimpin jalan di depan Chanyeol.

"Ada ide kita akan kemana?" Chanyeol menanyakkan ketika mereka berdua sudah berada didalam mobil dan tengah berada di jalanan Kota New York.

"Kau yang mengajakku ngomong – ngomong.." Baekhyun mengingatkan dengan tatapan bercanda kearah pria itu.

Chanyeol mendengus kesal, melampiaskan dengan mencubit pipi Baekhyun lalu kembali fokus kearah jalanan dan akhirnya ia kembali mengemudikan mobilnya untuk menuju tempat pertama yang akan mereka kunjungi dalam kencan perdana untuk keduanya.

Selama di perjalanan mereka berdua terlibat pembicaraan mengenai berbagai hal, termasuk pengalaman – pengalaman ketika mereka berdua berada di bangku kuliah atau pun mengenai pengalaman Chanyeol selama merawat dan menjaga Chelsea sampai saat ini.

"Aku masih ingat dengan jelas setiap hari aku membawa Chelsea ke rumah sakit hanya untuk mengambil donor asi." Chanyeol mulai bercerita dan Baekhyun tidak bisa menahan wajahnya untuk terlihat teramat antusias mendengarkan. "Suster di rumah sakit itu sudah sangat hapal dengan kami dan ada salah satu dari mereka yang aku pikir mungkin dia menyukaiku atau entahlah—

"Kau terlalu percaya diri." Baekhyun mencubit lengan Chanyeol dan pria itu pura – pura meringis kesakitan menghindari.

"Aku serius, sepertinya ia menyukaiku. Karena setiap aku datang, ia akan menyambut kami berdua, ia menggendong Chelsea lalu memintaku menunggu di depan ruangan. Ia bahkan memberikan nomor ponselnya padaku untuk berjaga – jaga kalau ada sesuatu terjadi pada Chelsea dan aku tidak tahu apa sebabnya."

"Kau pernah tidur dengannya?"

Chanyeol menggeleng dengan pandangannya masih terfokus kedepan.

"Bohong."

"Sungguhan." Ia membalas melihat kearah Baekhyun, "Ia tidak ada dalam hitungan wanita yang pernah aku setubuhi."

"Kenapa kau tidak mau menyetubuhinya?"

Tangan Chanyeol menepuk – nepuk pahanya seakan – akan tengah membuat suara musiknya yang sama dengan lagu yang tengah berputar pada pemutar musik didalam mobilnya.

"Aku berhenti menyetubuhi wanita ketika usia kehamilan Yoora menginjak umur 5 atau 6 bulan.."

Baekhyun nampak bingung diawalnya namun masih setia mendengarkan.

"Perutnya sudah membuncit dan ia selalu mengeluh sakit dia area pinggangnya, bahkan ada saat dimana ia tidak bisa bangun dari posisi tidurnya dan aku rasa itu adalah pemandangan paling menyakitkan buatku. Ia hamil dan menderita."

"Lalu.."

"Disitu aku berpikir, bila aku mengalami kesalahan. Kesalahan yang sama dengan apa yang dilakukan pria brengsek itu terhadap Yoora, wanita itu akn merasa kesakitan dan penderitaan yang sama dengan apa yang Yoora rasakan. Aku belum siap untuk hal itu dan tidak mau mengalaminya saat itu. Melihat Yoora menderita seperti itu cukup membuatku panik, kau bisa bayangkan bila aku harus mengurus dua wanita disaat bersamaan?"

Baekhyun melihat Chanyeol dengan tatapan dalam seakan – akan ia tengah memuja bagaimana pria itu yang mampu berubah hanya karena seorang wanita yang teramat ia sayangi.

"Kenapa? Kau mengagumiku?" tapi Chanyeol tetaplah Chanyeol yang akan selalu menggoda Baekhyun dimanapun dan kapan pun. "Kita sampai." Ia berucap demikian ketika membawa mobilnya masuk dalam basement parkir sebuah gedung. Mobilnya bergerak mencari salah satu tempat parkir yang tersedia dan setelahnya mereka berdua memasuki lift dan Chanyeol langsung menekan angka lantai 102.

"Ki-kita di Empire State?" Baekhyun nampak melihat informasi yang berada di lift tersebut dan tepat ketika lift bergerak naik, ia mendekatkan dirinya pada Chanyeol lalu memeluk lengan pria tersebut. Chanyeol memanfaatkan saat itu dengan menggenggam erat tangan Baekhyun sampai mereka tiba di lantai yang dituju.

"Empire State Building!" suaranya terdengar nampak bahagia meskipun wanita disampingnya menunduk takut dan tidak mau berjauhan dari Chanyeol.

"Kenapa kau membawa kita kesini?!" Baekhyu melayangkan protest karena sejujurnya ia memiliki phobia terhadap ketinggian.

"Untuk melihat pemandangan." Dan Chanyeol yang tidak tahu menahu mengenai Phobia Baekhyun menjawab dengan suara tenang serta wajah tak bersalahnya.

"Aku takut ketinggian." Baekhyun merenggut sedih dan kini giliran Chanyeol terserang kepanikan mulai merasa bersalah.

"A-aku tidak tahu.. Maafkan aku.." suara Chanyeol terdengar nampak bersalah. "Kita pergi ke tempat lain ya."

Chanyeol sudah siap merangkul badan Baekhyun dan membawa wanita itu untuk masuk kedalam lift dan turun menuju lantai basement. Tapi Baekhyun nampak ragu. Ia melihat sekelilingnya bagaimana antusias para wisatawan lainnya menikmati pemandangan menggunakan teropong yang sudah disiapkan. Baekhyun berusaha meyakinkan dirinya untuk melanjutkan langkahnya menuju teropong yang berada sekitar 10 langkah darinya. Ia sudah berada diatas gedung tertinggi di New York dan tidak mungkin ia harus mundur hanya karena tidak mampu menggerakkan kakinya melangkah untuk melihat bagaimana pemandangan indah kota New York dilihat dari atas.

"Jangan jauh – jauh dariku." Ia memperingati Chanyeol yang masih memeluk pinggangnya dari samping.

"Tidak akan." Pria itu tersenyum bahagia disana dan mereka berdua akhirnya melangkah bersama menuju salah teropong yang terdekat dan bergantian melihat pemandangan yang tersaji dari puncak gedung Empire State.


LOVELESS


"Ini pertama kalinya dan aku tidak mau kembali lagi ke lantai itu." Baekhyun masih membayangkan ketinggian yang ia rasakan dan juga bagaimana pemandangan kota New York setelah ia melihat langsung dari puncak tertinggi gedung itu." Seung-wan bahkan gagal mengajakku kesana."

"Maafkan aku.. aku benar – benar tidak tahu kau takut akan ketinggian."

Mereka berdua masih memperdebatkan masalah ketakutkan Baekhyun diselingin dengan rasa takjub melihat sebagian kota New York terlihat dari posisi tadi.

"Kita mendapatkan fotonya kan?"

Chanyeol mengangguk. "Ada di ponselku."

Baekhyun nampak lega dan tersenyum senang setelahnya, "Aku akan menunjukan pada Seung-wan nantinya, dia pasti tidak percaya aku mendapatkan foto kota New York langsung dari Empire State."

"Berarti tempat kencan pertama kita tidak gagal bukan?" Chanyeol menyandarkan kepalanya melihat kearah Baekhun yang juga tengah bersandar pada kursi mobil.

Wanita itu menggeleng dan tersenyum sebagai balasannya dan Chanyeol tidak bisa lagi menahan untuk tidak mencium Baekhyun disana. Ciuman singkat ia lakukan dengan begitu dalam lalu kembali terfokuskan pada jalanan dihadapannya.

"Kemana lagi tujuan kita?" kini Baekhyun nampak lebih antusias melanjutkan acara kencan mereka.

"Tidak ada lagi ketinggian." Chanyeol mengingatkan dirinya sendiri. "Dan kau sudah merasa lapar."

"Betul sekali!" Baekhyun membalas riang dan tertawa kecil.

"Kita akan makan siang kalau begitu."

"Yes! Go go!"

Rasanya cukup wajar kalau Chanyeol tidak berhentinya tersenyum dan tertawa melihat tingkah laku Baekhyun yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Bagaimana kepribadian wanita itu yang sesungguhnya amatlah polos dan juga sangat menyenangkan dibandingkan dengan sikap dingin yang selama ini diperlihatkan.

"Korea Way?"Baekhyun mengucapkan salah satu petunjuk jalan dan tepat dimana Chanyeol membawa mobilnya berbelok kearah tersebut lalu masuk kembali pada area basement sebuah gedung untuk memarkirkan mobilnya.

Tbc.

.

.

File sambungannya dicari dulu yaa.

Secepatnya akan update bagian keduanya 🙂

Terima kasih yg masih nunggu update ff ini. See you soon!