"Aku tidak mau duduk bersebelahan denganmu." Ucapan Baekhyun terdengar aneh bagi Chanyeol tepat ketika seorang pelayan mengantarkan mereka pada meja makan di restoran Korea tepat di Korean Way tempat mereka saat ini. Tapi pria itu tidak bisa menolak, cukup sebuah helaan pasrah menerima segala penolakan dari kekasihnya. Chanyeol sudah terbiasa dengan semua penolakan dari Baekhyun terlebih ketika ia ingin menunjukkan rasa sayangnya pada wanita dihadapannya saat ini. Chanyeol bahkan sempat berpikir, mungkinkah ini karma karena dulu ia pernah menolak beberapa wanita yang ingin menjadi kekasihnya.

Mereka menyamankan diri ketika sudah mendaratkan bokong pada kursi masing – masing lalu disibukkan dengan membolak balik menu makanan untuk mencari pesanan yang ingin mereka nikmati saat itu.

Chanyeol memulai lebih dulu menyebutkan beberapa menu pesanan dan Baekhyun yang mendengarkan pun tak berniat membantah karena semua yang disebukan oleh pria itu memenuhi persyaratan sesuai dengan seleranya saat ini.

"Aku mau Soju." Setelah Chanyeol merincikan semua pesanan makanan dan minuman, Baekhyun menambahkan satu pesanan yang kemudian dilarang oleh Chanyeol sedetik kemudian dengan nada suara hangat.

"Tapi aku mau.."

"Tidak." Suara hangat Chanyeol berubah menjadi dingin dan terdengar tak ingin dibantah, tapi kali ini yang ada dihadapan Chanyeol adalah Baekhyun sang wanita keras kepala.

"Aku mau."

"Tidak. Cukup Baek." Chanyeol menatap, memberi penekanan bahwa apa yang ia katakan adalah larangan keras. "Terima Kasih, itu saja pesanan kami." Kini ia beralih pada sang pelayan yang masih bingung sehabis mendengarkan dan melihat dari sikap diantara Baekhyun dan Chanyeol.

"Kenapa aku tidak boleh minum Soju?!" Baekhyun memasang wajah kesal terhadap Chanyeol setelah sang pelayan melangkah pergi, wanita itu bahkan memberikan cubitan pada punggung tangan Chanyeol yang berada diatas meja dan tak bergerak.

"Perutmu bermasalah, ingat? Kau baru saja memuntahkan susu beberapa saat lalu dan mau meminum Soju? Kau mau muntah kembali disini?"

Baekhyun membeo mengingat – ingat kembali kejadian beberapa saat lalu di dalam apartemennya. "Tapi aku sudah tidak lama tidak minum Soju.." kini ia merengek, berharap jurus saktinya akan kembali mempan melawan Chanyeol yang galak saat ini namun apa adanya, pria dihadapannya menggeleng dan bahkan enggan untuk melihat wajahnya yang nampak merengut bertingkah imut layaknya gadis kecil seusia Chelsea.

"Nanti, setelah perutmu tidak bermasalah kita bisa meminum Soju bersama." Ucapan ajakan Chanyeol terdengar menjanjikan dan itu berhasil membuat Baekhyun menurut.

"Bisa tidak.. tidak usah mengusap punggung tanganku." Namun Baekhyun membalasnya dengan tatapan tajam setelah memperhatikan tangan Chanyeol bergerak pada tangannya. Dan pria itu membalas dengan cengiran lebar yang terlihat begitu konyol dan Baekhyun sungguh membenci raut wajah itu.

Sang pelayan kembali datang dengan membawakan satu per satu porsi makanan yang telah Chanyeol pesan, perhatian Baekhyun kembali teralihkan ketika melihat barisan irisan daging mentah yang siap dipanggang dekat mereka serta beberapa sayuran segar tersaji di meja makan mereka.

Chanyeol menjadi koki sesaat disana. Ia menugaskan dirinya sendiri untuk memanggang daging – daging tersebut sementara Baekhyun menjadi penikmat yang baik menyantap satu per satu daging yang tengah matang.

"Hmm~" gumaman kenikmatan ia lontarkan setelah segumpal bungkus daging dibalut daun selada masuk kedalam mulutnya untuk kesekian kalinya.

"Suapi aku." Ucapan Chanyeol setelahnya terdengar seperti sebuah perintah dan itu cukup untuk membuat Baekhyun berhenti mengunyah dan bahkan tubuhnya menegang layaknya ketakuta

"Kenapa? Tidak mau?" sejujurnya Chanyeol sudah memperkirakan jawaban yang ia dapat ketika meminta Baekhyun untuk menyuapkan makanan padanya. Penolakan akan ia dapatkan, tapi meskipun sudah mengetahui jawabannya, Chanyeol bersikeras mencoba.

Lantas sebuah senyuman terbentuk di wajah Chanyeol hanya untuk mengurangi sebuah rasa kecewa dan membuat Baekhyun untuk tidak terlalu memikirkan permintaannya.

"Biar aku saja yang menyuapimu, bolehkan?" gerak tangannya perlahan meletakkan beberapa pilihan makanan untuk terbungkus pada daun selada lalu setelahnya diarahkan langsung kearah mulut Baekhyun.

Wanita itu masih duduk dalam posisi kaku, matanya bahkan menatap Chanyeol tidak percaya dan juga seakan – akan takut akan pemikiran beberapa pasang mata yang ia bayangkan tengah melihat kearah mereka berdua saat ini.

"Tidak mau juga?" Chanyeol masih menuntut sebuah jawaban dari Baekhyun.

"A-a.." suara Baekhyun terbata. Tapi sebelum Baekhyun bisa menyelesaikan kalimat yang ingin ia katakana, Chanyeol lebih dulu membalasnya dengan gerak tangan pelan.

"Jangan dipikirkan." Lalu pria itu melahap makanan yang ada di tangannya.

Chanyeol nampak biasa saja tapi tidak dengan Baekhyun yang memperhatikan dalam diam dan diliputi rasa bersalah setelahnya. Pria dihadapannya terlihat biasa saja dan menerima segala sikap yang Baekhyun tunjukkan sedari tadi.

"Maafkan aku." Baekhyun menundukkan kepalanya sedikit sementara tangannya memainkan beberapa butir nasi dimangkuknya dengan sumpit. "Ma-maaf karena aku belum bisa terlalu terbuka mengenai hubungan kita.."

Chanyeol perlahan – lahan mengurangi gerak mulutnya dalam mengunyah, meletakkan sumpitnya dengan pelan sembari menunduk dan menghela nafas.

"Meminta maaf lagi?"

"Hanya itu yang bisa aku lakukan." Baekhyun membalas dengan wajahnya masih menunduk enggan untuk menatap wajah kekasihnya.

Sebuah senyuman terbentuk diwajah Chanyeol lalu tangannya tergerak menyentuh tangan Baekhyun yang terkepal. Ia menarik kepalan itu dan menyatukan kedua tangan mereka dengan gerakkan cepat.

"Aku tidak marah masalah tadi.." Chanyeol memulai memberikan penjelasan demi meluruskan masalah kecil yang baru saja terjadi diantara mereka. "Itu hanya masalah kecil, dan aku tidak masalah karena kau belum terbiasa dengan itu.. jadi ya.. aku tidak marah."

Baekhyun mengangkat wajahnya, masih ragu untuk menatap Chanyeol. "T-tapi kau pasti benci melihat sikapku seperti ini terus.."

Lagi – lagi Chanyeol tersenyum kecil. "Mungkin.. tapi yang terpenting kau masih menjadi kekasihku."

Mereka saling menatap satu sama lain meskipun Baekhyun masih menunjukkan raut wajah sedihnya.

"Kita sepasang kekasih, dan aku akan menerima apapun hal yang kau sukai dan bahkan tidak kau sukai, sekalipun ketika kita tengah melakukan kencan seperti hari ini. Aku mengajakmu berkencan karena aku ingin menunjukkan bahwa hubungan kita tidak hanya sebatas hubungan diatas ranjang dan hanya saling memuaskan gairah sesaat. Aku ingin hubungan kita layaknya sepasang kekasih pada umumnya.. kau mengerti kan?"

Baekhyun mengangguk pelan.

"Mana senyumannya untukku?" Chanyeol menggodanya, mengusap pipi wajah Baekhyun lalu sedikit menarik sudut bibirnya agar terbentuk sebuah senyuman dan hanya karena hal kecil seperti itu Baekhyun luluh dibuatnya.

"Iihh~" suara mengelak Baekhyun terdengar karena mulai merasa risih ketika Chanyeol memainkan pipi wajahnya dengan cubitan gemas.

Setelah keadaan lebih tenang, mereka kembali menikmati acara makan siang meskipun tidak terlalu banyak pembicaraan yang dilakukan setelahnya.


LOVELESS

Chapter 16


"Terima kasih karena sudah mau menemaniku menjemput Chelsea." Chanyeol berucap sembari merangkul badan Baekhyun.

Mereka berdua tengah berada didepan gerbang sekolah Chelsea, bersandar pada badan mobil Chanyeol dengan mata keduanya terpaku pada sebuah pintu yang masih tertutup rapat.

Baekhyun tersenyum, memandang kearah Chanyeol lalu dengan nyaman menyandarkan kepalanya di dada pria itu. "Sebenarnya aku rindu masa – masa kecil seusia Chelsea, pergi sekolah, bermain, dan menunggu dengan perasaan gelisah ketika jam pulang sekolah karena pikiranku penuh dengan pertanyaan siapa yang akan menjemputku saat itu, Ibuku kah, atau Ayahku.. selalu salah satu dari mereka.."

"Dasar manja." Chanyeol menggoda dan Baekhyun membalas dengan memukul bagian dada pria itu.

"Itu menyenangkan asal kau tahu." Baekhyun memberikan pembenaran setelahnya. "Biasanya kami anak perempuan akan menanyakkan kepada teman yang lain, siapa yang menjemput, kemana setelah pulang sekolah, dan saat itu aku selalu bangga mengatakan siapapun yang menjemputku akan membawaku pergi makan siang lalu bermain di tempat bermain sebelum kita mengarah pulang."

Chanyeol mendengarkan dan turut berpikir apa yang dikatakan Baekhyun ada benarnya mengingat semua hal itu juga ia lakukan ketika dirinya menjemput Chelsea.

"Aku pikir itu adalah hal kecil dan biasa saja.."

"Aniya.. itu adalah hal paling bahagia bagi anak – anak seusia Chelsea." Baekhyun membenarkan lagi. "Karena ketika kita beranjak tumbuh lebih dewasa, masa sekolah menengah dan lebih lanjut ke jenjang perkuliahan. Kedua orang tuamu tidak mungkin akan menjemput dan mengajakmu bermain seperti saat kanak - kanak." Setelahnya suara Baekhyun terdengar lirih begitu juga dengan raut wajahnya yang nampak sendu.

"Well, aku akan menjemput Chelsea bahkan sampai dia kerja sekali pun." Chanyeol mengalihkan topik lainnya berusaha membuat Baekhyun melupakan kenangan masa lalu yang mungkin saja tidak baik untuk ia ingat saat ini.

"Ck! Dia sudah mempunyai pacar yang bisa menjemputnya Tuan Park."

Chanyeol menggeleng, "Aku bahkan belum bisa membayangkan mengenai hal itu.."

Baekhyun mengangguk. "Tenang saja.. itu masih sangat amat lama—ah aku ingin ke toilet." Baekhyun menjauhkan badannya lalu berjalan begitu saja untuk masuk kedalam gedung sekolah Chelsea untuk mencari dimana letak toiletnya.

Sementara Chanyeol masih mematung dalam diam memperhatikan punggung wanita itu yang semakin lama semakin menjauh dan hilang ketika pintu tertutup. Matanya seakan – akan enggan untuk berpaling kearah lain selagi pikirannya melayang jauh, hingga getaran ponsel yang berada didalam kantung celana jeansnya berhasil membuyarkan semuanya.

Kyungsoo.

Chanyeol menghela nafas sesaat sebelum niatan untuk mengangkat panggilan telepon itu.

Apa maksud pesanmu tadi?

Jari tangannya telah bergerak lebih dulu mengetikkan rentetan kalimat sebagai balasan dari pesan yang Kyungsoo kirimkan di ponselnya. Namun keadaan hati dan pikirannya tidak sejalan dengan baik hingga pada akhirnya ia memilih menghapus seluruh kalimat yang sudah diketik dan memilih untuk menelepon Kyungsoo setelahnya.

Dan panggilannya begitu cepat mendapatkan jawaban.

"Ada apa sebenarnya? Kenapa kau menanyakkan hal seperti itu?"

Tidak ada sahutan salam atau pun pertanyaan apa kabar mengenai dirinya, baik Chanyeol dan Kyungsoo bahkan sama – sama lebih mendahulukan pokok permasalahan yang sempat ditanyakkan pada Kyungsoo kemarin malam melalui pesan telepon.

"Menurutmu bagaimana?" Chanyeol menjawab asal. "Gejala yang aku sebutkan benar kan? Kau pasti merasakan hal yang sama? Yoora pun dulu demikian—

"Chanyeol, dengar. Kita membicarakan Baekhyun.. dan aku yakin pasti ia lebih menyadari perubahan yang terjadi pada dirinya—dia tidak hamil. Baekhyun tidak mungkin hamil anakmu. Dia pasti lebih hati – hati dalam hubungan bercinta. Dia lebih berpengalaman—"

Jawaban yang Kyungsoo berikan padanya nyatanya tidak cukup puas melawan pemikiran Chanyeol sejak beberapa hari belakangan mengenai perubahan pada tubuh kekasihnya dan juga segala gejala – gejala seperti nafsu makan yang bertambah, mual dan pusing di waktu yang berbeda. Terlebih ia merasakan sendiri bagaimana keadaan bagian perut bagian bawah tubuh Baekhyun yang lebih keras dibandingkan sebelumnya.

"Baekhyun pasti lebih pintar untuk menjaga semuanya.. dia tidak mungkin ceroboh sampai membuat dirinya hamil—"

"Bagaimana kalau iya Kyungsoo-ya? Bagaimana kalau Dokter mengatakan dia hamil hm?" Chanyeol langsung memotong tidak ingin mendengarkan penjelasan Kyungsoo lebih banyak yang pada akhirnya hanya menyimpulkan sebuah penolakan dan enggan menerima bila kenyataannya Baekhyun tengah hamil saat ini.

Suara Kyungsoo terdengar menghela nafas dengan pelan dan ada jeda keterdiaman sesaat sebelum akhirnya ia mulai berbicara kembali.

"Dengar.. maaf kalau aku sedari tadi menekankan ketidakmungkinan Baekhyun hamil anakmu—aku hanya melihat dari pengalaman dirinya sebelumnya yang sangat – sangat protektif mengenai hal ini saat bermain seks dengan banyak pria. Ia meminum pil kb, ia bahkan ke dokter untuk memasang alat didalam tubuhnya—

"Bisa saja dia lupa meminumnya!" nada kesal mulai terdengar dalam teriakan Chanyeol.

"Chanyeol.." Kyungsoo kembali berusaha menenangkan Chanyeol. "Boleh aku berbicara sampai selesai dulu?"

Tidak ada jawaban langsung dari mulut pria itu namun karena Kyungsoo didiamkan begitu saja maka wanita yang berada jauh berpuluh – puluh kilometer itu mulai melanjutkan. "Dulu ia melakukan segala pencegahan, intinya ia tidak memungkinkan sedikit pun membiarkan ada peluang untuk bisa membuatnya hamil. Dulu." Kyungsoo menekankan kata diakhirnya, berharap Chanyeol bisa memahami maksud dari perkataannya.

"Dan kalau kau memang menginginkan ia untuk melakukan test.. aku sangat menyarankan kau mengajaknya. Lakukan test bersama, datang ke rumah sakit atau mungkin kau akan menyeret dia langsung berhadapan dengan dokter kandungan atau apapun lakukan sebisamu, karena apa? Kalau kau membiarkan ia mengetahui kehamilannya seorang diri.. yang aku takutkan ia tidak akan pernah memberi tahu siapapun mengenai hal itu."

Chanyeol menutup matanya, kepalan menunduk sesaat lalu bergerak menghadap kearah langit – langit dimana gumpalan – gumpalan awan berada.

"Itu yang aku takutkan.." lirih suara Chanyeol terdengar seakan – akan ia tengah mengungkapkan kekhawatirannya.

Mengetahui perubahan dari tubuh kekasihnya dengan segala gejala – gejala yang pernah ia saksikan sendiri bagaimana hormone kehamilan mulai berkembang bersamaan dengan janin didalam tubuh kekasihnya, bayi mereka. Anak mereka.

"Tenangkan dirimu lebih dulu, aku tidak melarangmu untuk mencari tahu kebenarannya.. tapi aku juga tidak memintamu untuk gegabah. Tunggu sampai kau benar – benar tenang, lalu bicarakan masalah ini dengan Baekhyun, kalian berdua harus mengetahuinya bersama. Dan apapun yang terjadi nantinya.. itu urusan belakangan, kau mengerti?!" Kyungsoo mengingatkan, menekankan saran yang ia berikan berharap Chanyeol bisa melakukannya.

Sementara yang tengah diberikan penjelasan dan juga saran begitu panjang kembali terdiam, memikirkan kembali saran yang diberikan adik iparnya yang mana sudah mengenal Baekhyun lebih lama dibandingkan dirinya. Pikirannya pun mulai memikirkan kembali segala kemungkinan mengenai pilihan apa yang bisa ia ambil sebagai jawaban dari kecurigaannya saat ini.


LOVELESS


Baekhyun menyempatkan mengelilingi lingkungan sekolah Chelsea setelah ia selesai dari toilet, suasana sekolah swasta di Kota New York itu betul – betul mencerminkan kelas atas dilihat dari keadaan sekelilingnya labirin – labirin dan juga model ruangan kelas yang berada disana. Dirinya enggan mengintip lebih jauh untuk berkeliling lebih jauh hingga ke lantai empat, Baekhyun memutuskan untuk berkeliling hanya disekitar lantai satu dimana posisinya saat ini.

Sesuai melihat kondisi beberapa ruangan kelas, ia beralih untuk melihat beberapa ruangan laboratory yang berada tak jauh dari posisinya saat ini. Melihat – lihat informasi pengumuman yang tertempel di majalah dinding lalu langkahnya bergerak kearah ruangan laboratory.

"Memangnya ibu-mu bekerja sebagai apa, sampai ia tidak pernah menjemputmu di sekolah? Bukannya hanya ayahmu yang bekerja?" tanpa sengaja Baekhyun mendengar suara anak – anak yang tengah berbicara dengan temannya yang lain dari balik ruang ganti.

"Ibuku mengatakan Chelsea tidak mempunyai Ibu.. apa itu benar?" suara anak lain terdengar dan langkah Baekhyun benar – benar terhenti karena samar – samar ia mendengar nama Chelsea disebutkan.

"Kau tidak mempunyai Ibu? Kenapa? Kemana Ibumu?"

"Chelsea, Kenapa tidak mau jawab?"

"Ibu-ku sibuk.. dia bekerja dengan Daddy.. dan belum ada waktu.." dan Baekhyun semakin yakin bahwa puteri Chanyeol, Chelsea tengah berada ditengah – tengah perbincangan anak – anak lainnya. Itu suara Chelsa, dan puteri Chanyeol itu tengah berbohong kepada teman – temannya yang menuntut jawaban hanya karena Chelsea tidak pernah terlihat dijemput oleh Ibu-nya.

Inikah alasan Chelsea meminta ia datang menjemputnya?

Secara mengejutkan suara hatinya dan juga pikirannya mengatakan demikian dan nyatanya itu membuat Baekhyun merasa kesal dengan perilaku anak – anak didalam sana yang tengah menanyakkan hal kecil seperti itu terlebih itu adalah masalah pribadi.

Bunyi bel yang berdering nyaring mengejutkan Baekhyun dan tanpa berpikir panjang, ia memutuskan untuk menunggu Chelsea keluar dari ruangan gantinya. Menunggu gadis itu keluar dan juga untuk melihat siapa saja anak – anak yang sudah tidak sopan mengusik puteri Chanyeol itu. Dan seperti yang Baekhyun perkirakan, beberapa anak satu per satu mulai keluar dari ruangan ganti itu, Baekhyun mengawasi satu per satu bahkan matanya tidak berpaling sedikit pun meskipun keadaan lorong mulai dipenuhi beberapa siswa lainnya yang berlalu lalang.

"Chels!" Baekhyun memanggil, mengangkat salah satu tangannya guna melambai kearah anak itu dan tentunya disambut dengan senyuman lebar karena Chelsea jelas tidak menyangka sosok Baekhyun akan menjemput dan menunggunya didalam sekolah.

Anak itu tidak membalas memanggil, namun kakinya berlari cepat untuk bisa mendekap badan Baekhyun.

"Baekhyunnie datang.." lirih anak itu menahan tangisannya entah karena terlalu bahagia atau ia masih merasa begitu sedih mengingat beberapa saat lalu teman – temannya tengah memojokkan dirinya.

Baekhyun nampak menunduk, sedikit berjongkok untuk menyamakan dirinya dengan tinggi badan Chelsea, "Tentu saja.." ucapnya dengan senyuman berusaha untuk menghibur gadis kecil dihadapannya.

"Chels.." Baekhyun mendekatkan wajahnya lalu berbisik yang mana apa yang ia ucapkan kearah anak itu kini membuat tatapan tidak percaya dari Chelsea.

"Bo-bolehkah?" Chelsea bertanya ragu setelah Baekhyun selesai berbisik dan ucapannya dianggukki oleh Baekhyun.

"Chelsea?" selang beberapa detik, suara lain memanggil Chelsea dan Baekhyun yang melihat kearah pemilik suara memiliki pemikiran bahwa ketiga anak – anak yang tengah berdiri tak jauh dari posisinya dan memanggil nama Chelsea adalah ketiga anak yang mengganggu Chelsea, mempertanyakkan dimana Ibunya.

"Mereka temanmu, Princess?" Baekhyun menggandeng tangan Chelsea, mendekatkan anak itu untuk berada tepat disampingnya.

Dan Chelsea menjawab dengan menganggukkan kepalanya, melihat kearah Baekhyun lebih dulu lalu kearah ketiga temannya. "Um.. me-mereka teman Chelsea.. Mom." Satu kata singkat diakhirnya ia ucapkan dengan jelas dan berhasil membuat beberapa anak – anak lainnya terdiam tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.

Baekhyun bersyukur kali ini ia berpenampilan cukup wajar, meskipun hanya mengenakkan atasan putih dan juga rok jeans berwarna hitam.. setidaknya ia berpenampilan cukup sopan untuk berada di lingkungan sekolah.

"Hai.. kalian teman – teman Chelsea?" Baekhyun memulai aktingnya menjadi sosok Ibu dari Chelsea yang mana sudah ia pikirkan dengan matang beberapa waktu lalu untuk memberikan pelajaran bagi teman – teman Chelsea yang teramat kurang ajar—menurutnya.

Ketiga anak itu nampak begitu canggung dan juga tidak siap mendapatkan sambutan dari sosok wanita yang tengah dikenalkan sebagai sosok Ibu dari teman mereka.

"Ha-halo tante.." suara mereka serempak mengucapkan kata halo dan Baekhyun hanya membalas dengan senyum seadanya.

"Come on Chels, Daddy sudah menunggu didepan." Baekhyun menggenggam tangan Chelsea lalu mereka berdua melangkah beriringin sambil berbincang mengenai kegiatan kelas ballet yang baru saja selesai dilakukan oleh Chelsea.

Berbeda dengan Chanyeol yang nampak begitu khawatir karena Baekhyun tidak kunjung kembali setelah wanita itu ijin pergi ke toilet dan juga sosok puterinya belum terlihat pula sedangkan teman – teman dari kelas balletnya sudah banyak yang keluar dari sekolah mereka. Berulang kali ia mencoba menelepon ponsel Baekhyun tapi nyatanya wanita itu meninggalkan ponselnya didalam mobil.

Setelah menunggu sekitar sepuluh menit kemudian, barulah nampak Baekhyun dan Chelsea bergandengan tangan berjalan keluar dari pintu sekolahnya, menuruni tangga dan nampak puteri kecilnya lebih ceria dibandingkan sebelumnya. Bahkan ketika Chelsea melihat dimana Chanyeol berada, puterinya melepaskan pegangan tangan Baekhyun berlalu untuk berlari untuk menghampiri Chanyeol dan juga memeluk sosok sang ayah.

"Hey Princess.." Chanyeol mengusak kepala Baekhyun, menciumnya pucuk kepalanya lalu memperhatikan Baekhyun yang tengah berjalan kearahnya sambil terus memamerkan senyumannya.

"Hey you.." kini ia mengarahkan tangannya untuk merangkul Baekhyun, turut menciumnya pula dan mempertanyakkan kemana saja wanita itu dalam bisikan pelan yang ikut dibalas Baekhyun dengan nada berbisik akan menjelaskanya nanti.


.

.


"Daddy.. Baekhyunnie bilang mulai Senin besok dia mau menjemput Chelsea di sekolah." Ucapan yang baru saja dikatakan Chelsea membuat Chanyeol mengerutkan alisnya lalu menoleh kearah Baekhyun yang duduk disampingnya.

Mereka baru saja tiba di apartemen Chanyeol guna untuk beristirahat sebentar karena Chelsea harus berganti pakaian sebelum acara kencan antara Chanyeol dan Baekhyun kembali dilanjutkan.

"Kenapa begitu? Irene sudah memiliki tugas untuk menjemputmu setiap harinya.. Dan Daddy selalu berusaha menjemput kalau tidak ada pekerjaan, hm."

"Aniya.. Chelsea mau Baekhyunnie yang menjemput mulai Senin besok." Chelsea menekankan lagi permintaannya. "Baekhyunnie yang bilang seperti itu."

Dan kini Chanyeol mempertanyakkan kearah Baekhyun yang tengah duduk santai di sofa tengah memperhatikan perdebatan antara Ayah dan juga anak.

"Cuci muka, tangan dan kaki.. lalu ganti baju." Chanyeol mengalihkan, memerintahkan puterinya untuk membersihkan diri dan setelahnya menyusul duduk tepat dihadapan Baekhyun yang juga tengah memperhatikannya.

"Jadi.. kenapa bisa seperti itu?" Chanyeol lebih dulu memulai.

Baekhyun menarik tangan Chanyeol, diusap secara perlahan sedangkan dirinya tengah menarik nafas pelan sebelum kembali bernafas normal untuk memulai penjelasannya.

"Aku tidak sengaja mendengar teman – teman Chelsea tadi.. tengah menanyakkan kenapa puterimu tidak pernah dijemput oleh Ibunya." Baekhyun memberikan jeda agar Chanyeol mengerti maksud dari ucapannya.

"Oh."

Baekhyun mengangguk. "Aku tahu seharusnya aku membicarakan denganmu lebih dulu.. aku secara tidak sengaja mendengar bagaimana mereka memojokkan Chelsea dan juga terkesan mengejek puterimu, aku menunggu mereka selesai, dan ketika aku melihat Chelsea keluar dari ruangan gantinya aku berbisik kepadanya.. aku meminta ia mengenalkan aku sebagai Ibu-nya.." suara Baekhyun semakin terdengar menghilang diakhirnya ragu menunggu bagaimana tanggapan Chanyeol mengenai apa yang sudah ia lakukan tadi, ia bahkan menundukkan wajahnya enggan untuk melihat bagaiman raut wajah pria didepannya.

Sementara tanpa Baekhyun ketahui, Chanyeol tengah menahan dirinya untuk tidak terlihat bagaimana dirinya teramat senang mengetahui kekasihnya saat ini cukup berani mengorbankan dirinya dipanggil Ibu dihadapan teman – teman Chelsea.

"Jadi.." Chanyeol bergerak, mendekatkan dirinya untuk duduk begitu dekat dengan Baekhyun, tangan kanannya menompang kepalanya yang tengah menghadap ke Baekhyun. "Kau mau jadi Ibu dari Chelsea?" pertanyaan yang ia lontarkan seketika membuat wanita dihadapannya nampak gugup dan tak tahu menjawab apa.

Baekhyun tidak menjawab, tidak tahu menjawab apa sebenarnya. Dan Chanyeol menyeringai dihadapannya, tidak mengulang pertanyaannya dan juga tidak memaksakan jawaban dari Baekhyun saat ini.

"Daddy!" Chelsea berteriak menghampiri mereka dengan keduan tangannya yang membawa dua pakaian. "Daddy.. Baekhyunnie.. Chelsea lebih bagus pakai yang mana?" ia bertanya kearah kedua orang dewasa yang seketika terlihat canggung untuk bersikap satu sama lain.

Baik Chanyeol maupun Baekhyun nampak kaget melihat pilihan dari baju yang Chelsea tunjukkan saat ini, kedua jenis pakaian itu sama – sama berwarna putih dan hanya berbeda dari motif yang ada dan juga model pakaiannya.

"Kenapa putih?" Chanyeol bertanya, menggeser badannya kearah Chelsea yang berdiri tak jauh dari sofa yang mereka duduki.

"Daddy dan Baekhyunnie pakai putih.. jadi Chelsea harus pakai putih—biar kita seragam!" anak itu memekik girang hingga tanpa sadar sedikit melompat – lompat dari tempatnya.

"Bagus yang sebelah kanan." Baekhyun menunjuk pilihannya, membuat Chelsea mengangguk menurut dan bergegas masuk kembali ke kamarnya untuk berganti pakaian.

Chanyeol lagi – lagi tersenyum dan kini terkikik geli, membayangkan seandainya Baekhyun benar – benar menjadi istrinya, berperan sebagai Ibu bagi Chelsea tentu hidupnya lebih berwarna karena interaksi antara Ibu dan anak itu sangat menggemaskan.

"Kenapa kau tertawa?" lain halnya dengan Baekhyun yang nampak mengerut sebal melihat disampingnya Chanyeol terkikik seorang diri.

Ada yang menggeleng menahan diri untuk tidak menjelaskan isi dalam pikirannya namun nyatanya pertahanannya untuk berbohong terlalu lemah ketika melihat delikan mata tajam dari Baekhyun.

"Pasti ada hal aneh yang kau pikirkan!" tuduh Baekhyun dengan kesal dan Chanyeol menggeleng cepat menolak tuduhan seperti yang Baekhyun anggapkan.

"Aku berpikir hal – hal baik.."

"Bohong! Otakmu itu mesum Tuan Park!" kesimpulan Baekhyun lagi – lagi dibalas oleh gelak tawa Chanyeol. "Aku berbicara fakta!" Baekhyun menekankan lagi.

Chanyeol mengusap wajahnya karena jujur ia ingin sekali tertawa keras melihat tingkah laku Baekhyun dihadapannya yang teramat menggemaskan, terlebih wanita itu bersikeras menganggap dirinya mesum padahal ia tengah membayangkan hal lainnya.

"Aku membayangkan dirimu menjadi istriku." Chanyeol tidak menahan diri untuk menjelaskan apa yang sedari tadi ia pikirkan dan jujur ia tengah menunggu tanggapan Baekhyun setelahnya, entah itu marah atau pun merasa aneh mengenai pembahasannya.

"Bayangkan kita menikah, kau benar – benar menjadi seorang Istri dan juga sosok Ibu bagi Chelsea—

"Jangan dilanjutkan." Baekhyun memotong dengan wajahnya yang nampak datar tanpa ekspresi sedikit pun.

"Itu hanya bayanganku—"

"Jangan pernah membayangkan hal itu." Lagi suara Baekhyun terdengar datar. "Ki—kita tidak akan pernah berada di tahap itu..dan.. dan.. aku tidak akan menikah.." Baekhyun terlihat salah tingkah, nada bicaranya jelas menunjukkan ia sama sekali tidak ingin membahas kehidupannya dalam waktu jangka panjang.

Dan Chanyeol merasa terpukul setelahnya, ia mengingat percakapan dengan Kyungsoo bebersapa saat lalu mengenai kecurigaannya selama ini terhadap perubahan diri Baekhyun. Membayangkan ketika wanita itu mengetahui dirinya hamil dan juga niatan Chanyeol untuk menikahinya.

Sudah terlihat jelas Baekhyun akan memilih jalan lain dimana tidak akan ada pernikahan diantara mereka berdua.

"Daddy.. ayo!" ajakan Chelsea menyandarkan lamunan Chanyeol, ia bahkan tidak ingat bagaimana Chelsea dan Baekhyun kini sudah terlihat lebih siap ketimbang dirinya yang masih duduk termenung diatas sofa.


LOVELESS


"Sampai!"

Suara Chanyeol berusaha terdengar bersemangat, berusaha keras mengesampingkan pikiran lainnya mengenai kehamilan dan juga pernikahan yang rasanya tidak tepat ia pikirkan terlalu serius saat ini, mengingat ia tengah mengajak kekasihnya berkencan beserta puteri kecilnya.

"Daddy, kita akan bermain golf?" Chelsea bertanya ketika pintu mobil terbuka oleh sang Ayah. "Aku mau bersama Baekhyunnie.." dan ajakan tangan sang Ayah ditolak begitu saja setelah melihat Baekhyun berdiri disamping Ayahnya.

Chanyeol mulai merasa kesal karena belakangan sang puteri lebih terlihat manja dengan Baekhyun dibandingkan dirinya, namun tetap saja ia juga suka melihat kedekatan keduanya karena terlihat begitu menggemaskan.

Mereka bertiga tiba di Pier 25 Mini Golf yang terletak di dekat Sungai Hudson, alasan Chanyeol sengaja mengajak mereka bermain di tempat ini karena puteri kecilnya memiliki rasa penasaran dengan permainan ini dan alasan lainnya adalah karena dia sudah sejak lama membayangkan mengambil kesempatan untuk menggoda Baekhyun bila wanita itu tidak bisa bermain mini golf—mesum.

"Seluruh area ini adalah lapangan golf?" Baekhyun memandangi sekelilingnya dimana nampak beberapa lapangan mini area golf dengan beraneka ragam bentuk tingkat kesulitan.

"Um.. kita akan bermain!"

"Yeay!" Chelsea menyusul Baekhyun turut melihat sekelilingnya dan juga nampak lebih semangat. "Baekhyunnie bisa bermain?" ia bertanya kearah wanita dibelakangnya.

"Umm.. molla.. aku pernah bermain sebelumnya.. tapi itu sudah lama sekali.."

Chelsea mengangguk, "Daddy bisa bermain golf.." ia menjelaskan dan Baekhyun pun hanya membalasnya dengan senyuman.

"Oke, saatnya kita bermain!" Chanyeol menyusul mereka, memberikan 2 stick golf kearah Baekhyun dan Chelsea. Lalu setelahnya mereka memulai perjalanan menuju pos – pos lapangan golf yang harus dimainkan.

Chanyeol terfokus untuk mengajari puterinya lebih dulu di awal – awal lapangan yang mereka kunjungi karena semuanya masih terlihat begitu mudah. Untungnya Chelsea lumayan pintar saat diajari olehnya dan mulai terbiasa bermain sendiri di pos lapangan lainnya. Setelah mereka selesai menelusuri lapangan di level – level ringan, Chelsea mulai enggan bermain karena mulai menemukan kesulitan memukul bola – bola golf itu untuk masuk kedalam lubang, terutama karena banyak terdapat berbagai macam halangan yang menyulitkan bola yang ia pukul masuk kedalam lubang permainan.

Lain halnnya dengan Chanyeol dan Baekhyun yang sedari tadi tengah saling merangkul satu sama lain di dan mengikuti Chelsea kemanapun anak itu berjalan.

"Daddy ini susah.." anak itu merengek, meminta pertolongan kearah Chanyeol.

Chanyeol sempat tertawa gemas kearah Chelsea, meminta ciuman di pipinya dari Chelsea sebagai syarat sebelum ia menolong puterinya untuk memasukkan bola golf pada lubang yang ada di area lapangan saat ini. Tentu saja Chelsea memberikan ciuman itu dengan segera, dua ciuman sekaligus mendarat di pipi sang ayah.

"Okey.. let'see." Chanyeol bersiap, gerak kakinya bersiap sebagai kuda – kuda. Tangannya menggenggam erat stick golf di tangannya sementara matanya menatap tajam kearah lubang bolanya yang berjarak cukup jauh dari tempatnya.

Perlahan – lahan ia bergerak siap mengayun namun masih dalam tahap perkiraan hingga pada saat ia cukup yakin, Chanyeol melayangkan sticknya pada bola putih itu membuatnya terdorong bergerak sedikit melengkung kearah lubang bola namun sayangnya bola itu tidak berhasil masuk dalam lubang.

"Daddy payah." Sedetik kemudian Chelsea menghujat dirinya begitu saja dengan nada kecewa, lain halnya dengan Baekhyun yang menahan tawanya karena melihat wajah Chanyeol yang nampak malu, kecewa dan juga merasa sedih puterinya baru saja mengatakan dirinya payah.

"Yaa… itu efek dari angin—"

"Ani!" Chelsea menggeleng, kedua tangannya terlipat didepan dada menunjukkan dirinya masih begitu kecewa sang ayah tidak terlihat begitu tangguh dihadapannya. "Daddy payah.." mulutnya mengulang lagi kini puteri Chanyeol itu mengerutkan bibirnya. Benar – benar menunjukkan kekecewaannya.

"Baekhyuniiee.." bahkan kini Chelsea menghampiri Baekhyun yang sedari tadi hanya memperhatikan interaksi ayah dan anak itu sembari menahan tawanya. Melihat wajah Chanyeol yang pasrah dianggap payah oleh puterinya dan juga malu. "Ayo kita ke lapangan lain.." tangan Chelsea mengajak Baekhyun untuk berjalan bersamanya menuju arena lapangan lainnya di level selanjutnya.

Chanyeol mengikuti dengan berjalan malas, menaikkin stick golfnya dibahunya.

Chelsea mencoba lagi untuk memukul bola namun lagi – lagi gagal, dan kali ini ia merajuk pada Baekhyun untuk mencoba. Bukan lagi kepada sang Ayah.

"Mana ciuman untukku." Baekhyun menyodorkan pipinya persis seperti apa yang dilakukan oleh Chanyeol beberapa waktu lalu dan tentunya Chelsea memberikannya dengan senang hati, dua ciuman yang sama seperti yang Chelsea lakukan kepada Chanyeol.

Akhirnya Baekhyun bersiap, ia sempat melihat kearah Chanyeol yang memperhatikan meskipun hati pria itu masih merasa sedih karena puterinya. "Mau mengajarkanku?" ucap Baekhyun kearah Chanyeol yang mana membuat kekasihnya nampak terkejut mendengar ajakannya.

Seringai Baekhyun adalah bentuk penawaran yang tidak mungkin ditolak Chanyeol begitu saja, meskipun Chelsea memekik tidak ingin Daddynya membantu Baekhyun, tapi tidak mungkin Chanyeol menolak begitu saja bukan.

Pria itu bergerak sigap berpindah posisi berada tepat dibelakang Baekhyun saat ini, tanpa permisi atau bahkan diberikan ijin oleh Baekhyun tangannya sudah merapat menggenggam tangan Baekhyun yang tengah menggenggam stick golfnya. Ketika badan Baekhyun sedikit membungkuk, Chanyeol pun turut melakukan hal yang sama. Pria itu bahkan dengan begitu bebasnya melesakkan wajahnya kearah cekuk leher Baekhyun untuk menggodanya dengan sebuah kecupan singkat.

Chelsea yang melihat langsung bahkan menyentak kakinya dan menggerutu kesal sambil berteriak Daddynya tidak boleh mencium Baekhyunienya sembarangan. Namun hal itu tidak diperdulikan sang Ayah, karena nyatanya Chanyeol semakin mencium pipi Baekhyun berulang kali hingga wanita yang berada dalam dekapan tubuhnya terkikik geli.

Mereka kembali fokus kedalam permainan setelah Chelsea menghampiri serta memukul pelan kearah badan Chanyeol.

"Genggam sticknya.." Chanyeol berbisik, samar didengar oleh Baekhyun bagaikan bisikan erotis.

"Ayunkan perlahan.. pastikan kau memukul tepat pada bagian tengah bolanya supaya geraknya lurus kearah lubang.."

Sejujurnya Baekhyun bergidik panas hanya karena Chanyeol membisikkan semua kalimatnya didekat telinga dan bagian lehernya, pria itu bahkan cukup berani untuk memberikan kecupan basah tanpa ijin di ceruk leher Baekhyun.

"Sekarang.." dengan bantuan tangan Chanyeol, Baekhyun mengayunkan sticknya kearah bola golf didekat kakinya, tidak terlalu keras namun juga tidak terlalu pelan.

Mereka tetap berada dalam posisi berdekatan dan tangan Chanyeol tetap pada tangan Baekhyun, saling menggenggam meskipun kedua mata mereka tengah melihat kearah gerak bola putih yang meluncur mengenai beberapa bagian papan yang menghalangi jalannya sebelum akhirnya sampai didekat lubang dan bergerak masuk.

Chelsea satu – satunya yang memekik senang sedangkan Baekhyun hanya tersenyum lebar lain halnya dengan Chanyeol, pria itu hanya tersenyum kecil memperhatikan Baekhyun dari balik punggung wanita itu lalu kemudian ikut merayakan dengan cara memeluk tubuh Baekhyun begitu erat dari arah belakang disertai dengan bebeberapa kecupan di pipi kanan wannita itu.

.

.

Hari itu berlalu dengan begitu cepat, tanpa terasa durasi permainan mereka telah usai ketika langit gelap merayap mulai merubah warna biru dan juga jingga hingga keseluruhannya dikuasi oleh gelapnya hari. Mereka bertiga benar – benar terbuai dalam permaina golf itu bahkan begitu terbuainya hingga ketika penjaga counter di dekat pintu keluar memberikan dua buah boneka beruang berukuran besar, dua perempuan didekat Chanyeol yang memiliki perbedaan usia cukup jauh memekik senang penuh nada bahagia—bahkan mereka turut melompat – lompat bersama.

Sementara Chanyeol menatap datar menahan malu karena jelas apa yang dilakukan Chelsea dan Baekhyun didekatnya menjadi pemandangan banyak orang pengunjung disana.

Kini bukan hanya mereka bertiga yang melanjutkan perjalanan. Dua boneka besar turut dibawa menuju restoran kecil yang berada tak jauh dari tempat permainan golf mini itu. Baekhyun menggendong satu beruangannya, sementara milik Chelsea sudah diserahkan kepada ayahnya dengan alasan badan kecilnya tidak mampu untuk membawa boneka beruang sebesar dua kali badannya.

Chanyeol pun harus menebalkan mukanya selama di perjalanan dan juga ketika ia masuk kedalam restoran karena kali ini, dirinya yang menjadi pusat perhatian beberapa pengunjung restoran.

"Mommy.." rengekkan Baekhyun membuat suasana hening seketika sementara sebelumnya Chanyeol dan Baekhyun tengah saling berbicara mengenai makanan apa yang akan mereka pesan.

Chelsea masih memanfaatkan satu hari miliknya untuk memanggil Baekhyun dengan sebutan 'Mommy' namun kali ini puteri kecil Chanyeol itu tengah bersandar manja pada tubuh Baekhyun, memeluk pinggang wanita itu dengan erat dan mengusakkan kepalanya di perut Baekhyun.

Chanyeol tidak banyak bicara ketika melihatnya begitu pun Baekhyun. Tapi yang menjadi masalah bagi keduanya adalah sebuah pemikiran berbeda.

Baekhyun berpikir merasa bersalah karena memperbolehkan Chelsea memanggilnya dengan sebutan Mommy terlebih ia berniat meluangkan waktunya untuk bisa menjemput Chelsea mulai hari sekolah di minggu depan. Melihat sikap Chanyeol yang hanya diam dan juga menatap kearah Chelsea dengan raut wajah datar, sesekali pria itu memperlihatkan senyumannya namun hanya secarik garis bibir.

Namun Baekhyun pun tidak mengetahui keadaan sebenarnya tentang apa yang tengah dipikirkan Chanyeol saat ini. Ia bukan mempermasalahkan puterinya yang memanggil Baekhyun dengan sebutan Mommy—itu bukan masalah untuknya—sejujurnya ia merasa senang Baekhyun memperbolehkan puterinya memanggil seperti itu, untuk saat ini. Yang menjadi permasalahan dalam pikirannya dan juga resah hati sedari tadi adalah, bagaimana bila Baekhyun benar – benar terbukti memang hamil anaknya, anak mereka berdua. Apakah Baekhyun bersedia menikah dengannya dan menjadi Ibu bagi Chelsea dan calon anak mereka, atau mungkin Baekhyun akan memilih untuk meninggalkannya dan mungkin menggugurkan calon anak mereka—seperti yang dikatakan Kyungsoo.

.

.

Bersambung gengs…..

Tim belum tidur selamat membaca.