Nyatanya keresahan dan segala hal yang membuat Chanyeol frustasi akan Baekhyun mudah sirna begitu saja tatkala mereka berdua kembali bercumbu diatas ranjang. Sempat Chanyeol mengucap syukur kepada Tuhan karena apabila memang Baekhyun dinyatakan hamil, ia akan mengucapkan terima kasih karena kekasihnya begitu menggoda saat ini. Menggoda dirinya atau lebih tepatnya membangunkan dirinya yang sudah sempat tertidur terlena dalam mimpi indah hingga akhirnya mimpi itu berubah erotis karena Baekhyun menciumi dirinya sampai ia terbangun dan lantas menuruti keinginan kekasihnya.
Chanyeol mengerang menikmati mencumbu setiap bagian tubuh Baekhyun dimulai dari leher, bagian dada dan juga melahap rakus payudara wanita yang tengah berada diatas tubuhnya. Baekhyun tengah bergerak nyaman mencari kenikmatannya sendiri dengan kejantanan Chanyeol berada dalam dirinya.
Desahan mereka bersahutan satu sama lain dan peluh membasahi tubuh masing – masing bercampur dengan cairan kenikmatan yang keluar dari keintiman masing – masing. Baekhyun masih bertahan berada diatas badan Chanyeol, mengunci pergerakan pria itu. Wanita itu mencium bibir Chanyeol tanpa henti dan juga menggoda gairah pria itu dengan memainkan jemari – jemari tangannya menyentuh bagian leher, dada, punggung dan otot – oto pada lengan atau perutnya.
Merasa kurang puas berada dibawah, Chanyeol mencengkram pinggang Baekhyun dan lekas ia membalikkan tubuh wanita itu untuk kini berada dibawah tubuhnya.
"Giliranku." Ia sempat berucap menggoda dan sebelum Baekhyun melayangkan protest atau pun sahutan lainnya, ia lebih dulu mencium rakus bibir Baekhyun. Salah satu tangannya bergerak memberikan rangsangan , memainkan salah satu payudara wanita itu lalu berpindah cepat pada bagian intim Baekhyun dan bergerak menggoda dibawah sana hingga Baekhyun menjerit nikmat dengan desahan memohon untuk merasakan hal yang lebih.
Chanyeol melesakkan dua jarinya begitu saja untuk masuk ke dalam lubang Baekhyun dimana membuat wanita itu menjerit namun mendesah diakhirnya. Dan Chanyeol suka melihat Baekhyun menggeliat mengikuti gerakan jari tangannya yang keluar masuk di dalam keintimannya serta desahan merdu yang dikeluarkan kekasihnya itu.
"Ish, Chanyeol-ah." Protest Baekhyun saat Chanyeol menarik keluar jari tangannya dan kini menunduk mendekatkan wajahnya pada wajah Baekhyun.
"Wae." Sahut pria itu datar tanpa adanya rasa bersalah.
Baekhyun berdecak kesal, kedua tangannya menangkup wajah Chanyeol dan ia usap penuh sayang. "Mau dilanjutkan.. atau tidak?" bisiknya menggoda ketika jarak bibirnya dan bibir Chanyeol semakin sempit.
"Haruskah?" Chanyeol menjawab dengan santai lalu ia mencium bibir Baekhyun kembali, melumatnya dengan perlahan dan mulai melesakkan lidahnya masuk hingga ciuman mereka semakin mendalam dan bergairah.
Di sela – sela ciuman mereka, Chanyeol membuka lebar paha Baekhyun dan membawa kedua kaki wanita itu untuk melingkar sempurna di pinggangnya, setelahnya ia melesakkan kejantanannya yang sudah menegang masuk kedalam lubang Baekhyun dalam sekali hentakkan dan menimbulkan desahan dalam ciuman Baekhyun.
Mereka kembali memulai pergumulan panas untuk kesekian kalinya pada malam itu, desahan bersahut – sahutan diselingi dengan erangan dan deritan dari ranjang yang bergerak seirama dengan pergerakkan kedua insan diatasnya yang diselimuti gairah bercinta.
Loveless
Chapter 17
Baekhyun bersandar nyaman diatas dada Chanyeol, memeluk erat tubuh pria itu dan sesekali menciumi bagian dada dan juga dagu pria itu dengan gemas. Lain halnya dengan Chanyeol yang berbaring didekatnya membelai setiap helai rambut hitam kekasihnya, sesekali Chanyeol ikut menciumi pucuk kepala Baekhyun atau bila ia merasa gemas dengan kekasihnya yang masih menciumi bagian dadanya, Chanyeol akan mencium bibir Baekhyun dan tak jarang menggigit bibir tipis wanita itu.
"Hari ini aku mau mengajak Chelsea memakan gelato di dekat sekolahnya, toko itu baru buka kemarin." Baekhyun menaikkan badannya hingga wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Chanyeol . "Bolehkan?" ia bertanya kearah Chanyeol, menunggu ijin dari pria itu mengenai rencana yang akan ia lakukan bersama puteri kecilnya.
Chanyeol memperhatikan kekasihnya yang tengah merajuk memohon ijin darinya dan bila perlu diingat, ini adalah pertama kalinya Baekhyun meminta ijin darinya untuk melakukan sesuatu hal atau apa pun. Tangan Chanyeol tergerak merapikan helaian rambut Baekhyun yang terlihat kusut dan berantakkan lalu mencubit hidung mancung wanita itu hingga sang empunya merengek risih.
"Asalkan kau membelinya dengan uangku.. aku mengijinkan."
Mendengar jawaban dari Chanyeol, Baekhyun kembali menggigit bagian dada pria itu dan memukulnya pelan.
"Kenapa harus uangmu sih." Wanita itu menggerutu kesal.
Chanyeol sudah cukup sering meminta Baekhyun untuk berbelanja, jajan atau pun membeli barang – barang yang ia inginkan dengan menggunakkan uang pria itu, sementara dirinya menganggap hal itu tidak masuk akal dan juga penghinaan terhadap dirinya yang bisa dikatakan hanyalah karyawan freelance meskipun gaji yang ia terima lebih dari cukup untuk menghidupi kebutuhannya. Belum lagi dengan jawaban yang selalu Chanyeol gunakkan untuk melawan kalimat penolakannya, pria itu beranggapan kini Baekhyun adalah bagian dari tanggung jawabnya sebagai kekasih. Ia harus menghidupi Baekhyun bahkan sampai uang jajan sedikit pun itu harus menggunakkan uang Chanyeol.
"Aku sudah pernah menjelaskan kenapa harus dengan uangku." Chanyeol menggulingkan tubuh kekasihnya dan kini mereka terbaring miring menghadap satu sama lain. "Chelsea sudah pasti akan menggila saat memakan gelato.. jadi pakai uangku." Telunjuk pria itu menegaskan menyentuh hidung Baekhyun lalu kembali ia cium dengan penuh sayang.
Baekhyun menghela nafas pasrah mengiyakan, lalu kembali mendekatkan dirinya pada Chanyeol, memekul erat tubuh pria itu, mencium aroma keringat dan juga sisa-sisa percintaan mereka. Awalnya ia tidak begitu terganggu karena sejak beberapa waktu lalu, aroma tubuh Chanyeol termasuk aroma yang amat ia sukai. Namun untuk saat ini berbeda. Bau anyir dari cairan sperma dan juga cairan miliknya membuatnya mual hingga ia bergerak cepat melangkah lebar menuju kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya.
"Hoeeek—!"
Chanyeol yang bingun dengan apa yang terjadi ikut bangkit berdiri dan menyusul kedalam kamar mandi memastikan bahwa Baekhyun baik – baik saja.
Wanita itu tengah berlutut dengan kepala menunduk pada closet dan bersusah payah mengeluarkan muntahannya sembari menangis karena rasa pusing ikut terasa dikepalanya.
"K-kau baik – baik saja?" ragu – ragu Chanyeol menanyakkan, memijat pelan ceruk punggung leher Baekhyun guna membantu mengelurkan muntahan wanita itu.
"Hey.." Chanyeol membantu lagi menekan flush closet dan juga membersihkan bagian mulut Baekhyun.
"Pusing.." wanita itu merengek dan mulai terdengar isakan tangisnya.
Sejujurnya hal itu membuat Chanyeol ingin tertawa kecil, ini kedua kalinya ia melihat sisi manja Baekhyun yang lebih kekanakan dibandingkan Chelsea—puterinya.
Kali pertama adalah beberapa hari yang lalu, Chanyeol harus terpaksa bekerja lembur karena deadline projek yang ia kerjakan sedikit lagi akan selesai dan mulai dijalankan oleh bagian tim pelaksana, tapi nyatanya Baekhyun merengek padanya untuk pulang tepat waktu dengan ancaman ia tidak akan makan bila tidak disuapi olehnya. Dan tanpa berpikir panjang, Chanyeol mengiyakan, ia pulang tepat waktu, ikut makan malam bersama Chelsea dan Baekhyun dan juga menyuapi wanita itu bergantian dengan Chelsea karena puterinya merasa cemburu mengapa sang Ayah hanya menyuapi Baekhyun seorang.
Dan kali ini, Baekhyun kembali terlihat manja dihadapannya. Chanyeol memeluk wanita itu dan mencium pipi wajahnya. "Ayo, bersihkan badanmu dulu lalu aku akan membawakan obat pereda pusing, hm."
Baekhyun mengangguk, wajahnya menekuk masam dan matanya berkedip pelan. Ia menurut ketika Chanyeol meminta untuk mandi lalu mengeringkan badannya secepat mungkin. Bahkan untuk memakai baju tidur, Baekhyun bersandar manja pada Chanyeol dan meminta pria itu yang melakukannya untuk memakaikan pakaian tidur untuknya.
"Dasar manja." Chanyeol mencubit hidung Baekhyun dan ia mainkan berulang kali setelah membiarkan Baekhyun terbaring nyaman diatas kasur menyelimuti tubuh wanita itu.
"Aku akan mengambilkan obat, sebentar ya.." dan Baekhyun mengangguk masih memasang wajah cemberutnya entah karena Chanyeol meninggalkannya sendiri di dalam kamar untuk hanya beberapa menit atau karena rasa pusing dikepalanya.
Baekhyun bergelung memeluk selimut dan dibalik selimut sementara matanya terus melihat kearah pintu menunggu Chanyeol kembali masuk kedalam kamar dengan obat pereda pusing untuknya. Dan tak sampai sepuluh menit lamanya, pria itu sudah terlihat, membuka pintu dengan hati – hati, tangannya memegang segelas penuh air putih sementara bibirnya menekuk kedalam menggigit bungkusan obat. Baekhyun bersyukur Chanyeol sudah mengenakkan celana piyama tidur dan juga kaos berwarna putih di tubuhnya karena bila tidak, mungkin dia tidak perlu waktu berpikir lebih lama untuk segera bangkit dan menerjang pria itu untuk kembali bergelung penuh hasrat bersamanya.
Chanyeol meletakkan lebih dulu gelas di tangannya, lalu beralih membantu Baekhyun untuk kembali bangun duduk bersandar pada bantal – bantal dipunggungnya. "Ini minumlah." Pria itu memberikan satu tablet obat kearah Baekhyun, tetapi wanita itu lebih dulu membuka mulutnya sebagai isyarat agar Chanyeol langsung menyuapi obat itu kedalam mulutnya. Pria itu menurut sembari tertawa gemas, kepalanya menggeleng tidak percaya lantas memberikan gelas minum kepada Baekhyun.
"Terima kasih." Baekhyun berucap demikian lalu mencium pipi Chanyeol sebelum wanita itu terburu – buru bersembunyi dibalik selimut dan memejamkan matanya untuk pura – pura tidur.
Chanyeol lagi – lagi tertawa lebar melihat tingkah laku Baekhyun demikian, ia menganggakt tubuhnya sedikit untuk bisa mencium kening Baekhyun yang terlihat tak tertutupi selimut. "Sleep well baby.." bisiknya secara perlahan dan setelahnya Chanyeol meninggalkan Baekhyun tertidur seorang diri karena ia memilih melanjutkan pekerjaan di ruang tengah Apartemennya sembari berpikir panjang tentang keputusan yang akan ia ambil dalam beberapa waktu dekat.
.
.
"Jadi Daddy tidak ikut kami makan Gelato?"
"Tidak.. Daddy masih ada pekerjaan, tapi Daddy janji kita akan makan malam bersama malam ini, okey?" Chanyeol menjawab dan memberikan janji sebelum puterinya kembali mengomel karena belakangan dirinya jarang menyempatkan untuk makan malam bersama Chelsea dan juga Baekhyun.
"Daddy sok sibuk." Chelsea membalas dengan menjulurkan lidahnya dan Chanyeol membalasnya dengan cubitan sayang di pipi puterinya lalu melanjutkan kembali menyisir rambut anak itu.
"Baekhyunnie belum bangun?"
"Belum, kepala Baekhyunnie pusing jadi kita sarapan berdua saja ya."
"Eoh.. waeyo.." suara puterinya terdengar lirih merasa ikut sedih karena sosok dewasa yang begitu ia sayangi kini tengah sakit. "Chelsea boleh melihat Baekhyunnie?" anak itu mendongakkan kepalanya melihat kearah sang ayah dibelakangnya tengah berdiri masih menyisir rambut panjangnya.
"Jangan sampai Baekhyunnie terbangun." Peringatan Chanyeol terdengar mutlak membuat puterinya mengangguk patuh dalam diam. "Dan.. Princess Daddy harus sarapan dulu." Lagi Chanyeol memberikan perintah yang mana membuat puterinya mengangguk patuh untuk kedua kalinya.
"Come on.." Chanyeol memegang kedua tangan Chelsea dan membawa puterinya dalam gendongan tangannya. Langkah kakinya bergerak cepat menuju ruangan makan, lantas Chanyeol mendudukkan Chelsea pada kursi dimana puterinya biasa duduk, memberikan satu piring kecil berisikan masakan yang sudah ia siapkan untuk sarapan pagi ini. Chanyeol bahkan juga sudah menyiapkan bekal untuk dibawa Chelsea ke sekolah.
"Terima kasih Daddy! Selamat makan!" Chelsea memekik girang melihat sajian sarapannya hari ini.
"Selama makan Princess.." Chanyeol membalas dan setelahnya ia mulai kembali teralihkan pada ponselnya guna mengetikkan beberapa pesan dengan cepat, ia bahkan harus membagi fokusnya kearah ponsel dan juga sarapannya.
Aku akan membuatkan janji temunya, tapi mungkin baru bisa besok.
Ini sangat mendadak dan jadwal pemeriksaannya sudah penuh untuk hari ini.
Pesan yang baru saja ia baca membuat dirinya mendesah pelan. Lalu kembali terfokus pada waktu sarapan paginya.
"Enak?" tanyanya pada Chelsea yang begitu menikmati sarapannya dalam diam—dan hal ini tidaklah normal—karena biasanya anak itu akan berbicara terus menerus tentang apa pun.
"Enak. Daddy terbaik." Ada ibu jari yang disodorkan kearahnya menunjukkan sebuah kehebatan dari Park Chanyeol yang bisa membuat anaknya merasa bangga hanya karena sepiring waffle dengan buah strawberry segar sebagai toppingnya.
Chanyeol tertawa kecil melihat puterinya itu terkadang suka bersikap berlebihan dengan apa yang ia lakukan.
"Daddy.. nanti malam Chelsea mau Cheese cake.. boleh ya.."
Chanyeol baru saja akan mengucap syukur tidak mendengar rengekkan dari puterinya di meja makan namun belum juga ia berucap, puterinya sudah lebih dulu mengoceh.
"Tidak janji." Chanyeol menjawab singkat.
"Waeyo?!" suara tanya puterinya terdengar menggemaskan dan bahkan ketika Chanyeol melihat wajah sang puteri semakin membuatnya gemas ingin mencubit pipi yang menggembung dan juga kedua bibir yang mengerucut maju.
Chanyeol meletakkan garpu makannya dan juga menegak air minumnya sebelum berpindah tempat duduk disebelah kursi Chelsea. "Pulang sekolah tidak ada acara bermain." Perintahnya kembali terdengar untuk dipatuhi oleh sang puteri.
"Tapi kan Baekhyunnie dan Chelsea akan jajan Gelato.."
Kali ini Chanyeol salah. "Maksudnya, setelah jajan Gelato, langsung pulang, mengerjakan pr, tidur siang. Tidak ada acara menonton tv dan juga bermain Barbie dengan Baekhyunnie."
"Err.." Chelsea menyengir lebar mendapati salah satu dosa kecil yang selama ini Ia lakukan bersama Baekhyun.
Belakangan setelah Baekhyun menjemputnya pulang sekolah, mereka akan kembali pulang dan Chelsea tidak melakukan perintah – perintah Chanyeol seperti sebelumnya, hari – harinya dipenuhi dengan mengajak Baekhyun bermain bersamanya, yang mana lebih sering bermain Barbie bersama dengan Baekhyun.
"Lihat siapa yang selama ini berbohong.." Chanyeol mencubit hidung Chelsea sebagai hukumannya. "Jangan pernah berbohong lagi Princess, Daddy tidak suka."
Chelsea mengangguk, memeluk leher sang ayah dan menciumnya berulang kali. "Mianhe Daddy.. Chelsea janji tidak berbohong lagi." Kecupan dalam dan lama Chelsea lakukan di pipi kanan Chanyeol hingga menimbulkan bunyi bibir.
"Bagaimana kalau Chelsea berbohong lagi?"
"Eoh?" anak itu kembali berpikir lama mencari jawaban yang tidak terlalu menggangu waktu bermain dan juga kehilangan beberapa bonekanya dari dalam kamar. "Chelsea akan membantu Daddy memasak!" tawarnya sebagai janji bila ia berbohong lagi.
"Hanya memasak?"
"Eoohhhhhhh..." Chelsea berucap panjang sembari memikirkan janji apa yang harus ia tawarkan lagi. "Chelsea akan merapikan kamar Chelsea setiap hari." Anak itu mengangguk meyakinkan.
"Hm." Chanyeol memangku tangannya berpikir apakah harus mengiyakan atau tidak. Chelsea lebih dulu merayu sang ayah untuk mengiyakan apa yang ia tawarkan.
"Ya Daddy ya.. " rajuknya bergelayut manja terhadap sang daddy. "Chelsea janji tidak akan berbohong lagi. Janji!" tekadnya berjanji ditunjukkan kearah Chanyeol yang tak kuasa luluh karena rayuan menggemaskan dari puterinya.
"Oke." Singkat jawabnya dengan anggukkan kepala lalu meminta sebuah ciuman di pipinya yang nyatanya gagal didapatkan karena Chelsea lebih dulu kabur memilih untuk melihat sosok lain yang belum ia lihat pagi ini.
"Baekhyunnie~"
Chanyeol menghela pasrah, kembali berkutat untuk membereskan beberapa piring dan perlengkapan makan yang kotor, lalu menyiapkan sarapan untuk Baekhyun yang ia rasa akan segera terbangun.
Satu mangkuk bubur dan juga kuah kaldu ayam ia siapkan pada baki lalu ia bawa dengan begitu hati – hati menuju kamarnya.
"Baekhyunnie kenapa bisa sakit.." sendu suara Chelsea terdengar di pendengaran Chanyeol seketika ia masuk kedalam kamarnya.
"Daddy.. Baekhyunnie sakit." Adu Chelsea kearahnya.
"Aku tidak apa – apa Chels.. hanya sedikit pusing." Baekhyun yang akhirnya sudah sepenuhnya terbangun memaksa dirinya untuk sedikit bangun, duduk dan bersandar pada belakang ranjang membalas menatap Chelsea yang mengerut sedih melihat kearahnya.
"Masih pusing?" Chanyeol bergabung duduk di tepi ranjang berseberangan dengan Chelsea, "Makanlah dulu.. lalu minum obatnya lagi." Tangannya membawakan baki makanannya tepat di pangkuan Baekhyun, wanita itu mengangguk menurut karena raganya tak kuasa untuk menolak mengingat kondisinya yang memang masih merasa pusing yang amat menyiksa.
"Beristirahatlah dulu, aku akan meminta Irene yang menjemput Chelsea hari ini." Perintah Chanyeol yang mana kali ini tidak dibantah baik oleh Baekhyun maupun Chelsea.
"Chelsea mau merawat Baekhyunnie!"
Chanyeol mengiyakan, ia dan Baekhyun sama – sama mengangguk gemas mengiyakan keinginan satu – satu anak kecil yang nampak menggemaskan didepan mereka.
"Tapi sekarang.. kau harus sekolah. Come on, Irene sudah berada di lobby." Chanyeol lekas bangkit mengarahkan kedua tangannya siap menggendong sang puterinya yang beranjak meloncat kearahnya setelah member ciuman di pipi Baekhyun.
"Bye Baekhyunnie.. Chelsea akan merawat Baekhyunnie setelah pulang sekolah!" anak itu berseru mengingatkan, melambiakan tangannya pada Baekhyun hingga dirinya menghilang dari balik pintu kamar Chanyeol.
Tepat saat Chanyeol membuka pintu apartemennya, Irene sudah tiba didepannya.
"Tepat waktu." Pujian Chanyeol namun terdengar seperti menyindir gadis itu.
"Irene annyeong!" Chelsea mencium pipi Chanyeol lalu melompat turun dari gendongan sang ayah, berpindah di samping Irene dan menggandeng tangan tante dan juga anak buah Chanyeol itu.
"Jadi—"
"Nanti kita bicarakan." Chanyeol menutup pembicaraan menyambung pesan yang sempat ia kirimkan saat dirinya meminta sepupunya itu mengantar jemput Chelsea ke sekolah dan juga membuat janji temu dengan dokter untuk memeriksakan keadaan Baekhyun hari ini.
Ini saatnya. Mengingat gejala – gejala dalam waktu belakangan memang menunjukkan jelas indikasi kehamilan Baekhyun, perubahan sikap wanita itu, nafsu makan dan juga perubahan bentuk badannya bisa dikatakan wanita itu benar- benar hamil. Namun Chanyeol tak ingin semua itu hanya sebuah perkiraan dirinya. Ia ingin Baekhyun mengetahuinya, bersamanya, dan Chanyeol akan siap untuk melanjutkan hubungan mereka pada jenjang pernikahan sebelum bayi mereka lahir.
Irene mengangguk tanpa memberikan jawaban sepatah kata apapun dan lekas membawa Chelsea melangkah bersamanya menuju sekolah si kecil.
Loveless
Chanyeol kembali ke kamarnya dan langsung dihadapkan dengan pemandangan ranjangnya yang kosong namun terdengar suara Baekhyun yang meringis kembali memuntahkan isi perutnya. Langkah kakinya pun bergerak cepat menyusul kekasihnya, kembali membantu memijat punggung leher dan juga membersihkan semuanya.
Dan hatinya merasa teriris karena lagi – lagi Baekhyun menangis mengeluh rasa pusing dan mual yang tak lagi bisa ia bendung.
"Pusing?" tanyanya pada Baekhyun yang lekas dibalas dengan kepala yang mengangguk.
Chanyeol kembali menggendong Baekhyun yang membaringkan wanita itu diatas ranjang secara perlahan – lahan.
"Minum obatnya ya.." ia menyondorkan obat yang belum diminum Baekhyun, dan wanita itu menurut. "Aku sudah meminta Irene memanggilkan dokter untuk memeriksa keadaanmu.. tidurlah dulu, kita akan berangkat setelah kau cukup kuat." Lagi wanita itu mengangguk menurut.
Baekhyun tak memiliki pilihan lain selain menuruti apa yang Chanyeol katakan mengingat kondisi tubuhnya yang begitu lemas dan juga rasa pusing di kepalanya.
"Kau tidak ke kantor?" tanya Baekhyun kearah Chanyeol yang tengah merapikan baki makanan yang tak lagi ingin Baekhyun santap.
Pria itu menggeleng, "Aku akan bekerja dari rumah.." bohongnya karena sesungguhnya hari ini ia memiliki janji temu dengan klien penting namun Chanyeol membatalkannya karena tak mau melewatkan kesempatan untuk mengetahui kejelasan dari rasa gelisah di hatinya sejak beberapa waktu lalu.
"Kau memiliki meeting penting bukan.." Baekhyun kembali berucap meskipun tubuhnya sudah terlihat tak bertenaga sepenuhnya.
Chanyeol ikut bergabung dengan Baekhyun berbaring di ranjang, tangannya lantas melingkarkan di pinggang Baekhyun lalu membawa badan wanita itu untuk memeluk dirinya.
"Itu bisa ditunda.. aku tidak akan fokus bekerja melihatmu sakit seperti ini." Gumam Chanyeol, memeluk erat tubuh Baekhyunm tangannya melingkar di pinggang wanita itu dan secara berhati – hati mencoba untuk bisa merasakan keadaan perut Baekhyun untuk menebak – nebak apakah keadaan bayi mereka di dalam kandungannya bisa ia rasakan.
"Beristirahatlah.." ucapnya lagi.
Baekhyun mengangguk menurut, mencari kenyamanan dalam dekapan pria itu lalu keduanya larut lelap dalam dunia mimpi bersama.
.
.
Rasanya Chanyeol sudah cukup tertidur begitu lama bersama dengan Baekhyun pagi itu, tapi setelah ia melihat petunjuk waktu pada pergelangan tangannya, nyatanya ia hanya tertidur tak sampai satu jam lamanya. Bunyi getaran ponselnya yang ia letakkan diatas nakas samping ranjang tidurnya adalah apa yang membuatnya terbangun.
Irene.
Nama sepupunya tertera dilayar dan sebelum Chanyeol mengucap segala rutukan, ia lebih dulu mengumpulkan nyawanya yang masih terlena di dalam mimpi tidur singkatnya tadi. Dan setelah terasa cukup terkumpul dan membuatnya tersadar sepenuhnya, Chanyeol menggeser tombol menjawab panggilan lalu melangkah pelan keluar dari kamarnya.
"Wae.." ia menjawab dengan nada kesal diawalnya.
Aku sudah memeriksa jadwalnya, kalian baru bisa memeriksakan kandungannya besok.. tidak ada jadwal kosong hari ini..
Chanyeol menghela lesu, "Tidak adakah dokter lainnya?"
Ada, tapi bukan specialis kandungan.. ia hanya dokter umum tapi dipercaya bisa mengetahui indikasi kehamilan. Dia menawarkan pemeriksaan darah atau urine untuk dibawa ke lab rumah sakitnya. Bagaimana?
Tanpa menunggu untuk berpikir terlalu lama Chanyeol segera mengiyakan tawaran Irene untuk memanggilkan dokter umum dan melakukan pemeriksaan pada Baekhyun hari ini.
"Dia bisa datang hari ini?" tanyanya menunggu konfirmasi dari Irene.
Aku akan meneleponnya lagi dan menanyakkan jam berapa kira – kira dia bisa datang.
Anggukkan kepala Chanyeol jelas tidak bisa lihat dilihat oleh Irene, "Kabari aku." Singkat ucapannya sebelum menutup panggilan telepon Irene.
Chanyeol berpindah pada sofa diruang tengah apartemennya, ia memilih bersandar nyaman sementara pikirannya kembali mulai bekerja memikirkan hal – hal apa saja yang harus ia lakukan nantinya saat dokter memberikan kepastian kehamilan Baekhyun.
Bagaimana bila apa yang Kyungsoo katakan sebelumnya benar – benar terjadi? Bagaimana kalau Baekhyun tidak menginginkan bayinya? Bagaimana bila Baekhyun meninggalkannya? Segala kemungkinan yang bisa ia bayangkan mulai berkecamuk di dalam pikirannya, berputar – putar memberikan jawaban dan juga bayangan – bayangan kejadiannya.
Hingga semuanya teralihkan oleh lingkaran tangan kecil yang bergelayut memeluk lehernya, hembusan nafas pelan dan juga aroma wangi tubuh Baekhyun menguar mengalihkan perhatiannya.
"Kau meninggalkan aku.." wnaita itu berbisik bermaksud mengadu karena apa yang telah Chanyeol baru saja lakukan.
Chanyeol membalas, mencium lengan yang masih melingkar lalu menepuk pangkuannya meminta Baekhyun berpindah duduk disana. Wanita itu menurut. Berjinjit dengan cepat lalu menyamankan diri di pangkuan Chanyeol, memeluk leher pria itu dengan kepalanya bersanda pada dada pria itu.
"Masih pusing?" Baekhyun menggeleng.
"Sudah tidak.. sekarang aku lapar.." ada yang mengadu dan merengek sayang padanya.
"Irene sedang memanggilkan dokter untuk memeriksa keadaanmu.."
Baekhyun mendengarkan dengan kedua matanya berkedip pelan sembari memperhatikan wajah Chanyeol yang begitu dekat dengannya. Ia sering kali mengatakan bahwa kekasihnya itu memanglah sangat tampan, lebih tampan dari siapapun pria yang pernah ia kenal dan tahu, tapi baru kali ini ia merasa Chanyeol terlihat beribu – ribu lebih tampan hingga membuat dirinya begitu nyaman memperhatikan setiap lekuk bentuk wajah pria itu, bagaimana kedua belah bibir berucap melontarkan setiap kata – kata yang sama sekali tidak dihiraukan olehnya. Bagaimana rambut – rambut halus terlihat mencuat diatas bibir dan juga dagu pria itu—kekasihnya pasti belum bercukur.
"Hey.." Chanyeol menarik wajah Baekhyun lebih dekat dengannya dengan maksud menyadarkan kekasihnya dari lamunan yang sedari tadi dilakukan oleh Baekhyun dan tak mendengarkan apa yang ia bicarakan. "Terpersona olehku ya.." percaya diri Chanyeol mengira apa yang membuat Baekhyun melamun memandangi wajahnya dan wanita itu tak berkutik untuk menjawab melainkan memukul pelan pipi wajahnya kanannya.
"Kamu mau makan apa hm.." ucapnya sayang lalu memeluk badan Baekhyun seakan – akan wanita itu adalah boneka kesayangannya. Dan sosok yang dipeluk ikut membalas semakin mengeratkan tubuh satu sama lain, mengusakkan wajahnya tenggelam dalam dekapan Chanyeol menikmati aroma maskulin kekasihnya yang sudah seperti candu baginya.
"Aku pemakan segala.." Baekhyun menyombongkan diri dan kalimat yang ia ucapkan membuat Chanyeol ikut terkekeh.
"Tentu saja.. Baekhyunnie sang penggoda." Chanyeol mencium pucuk kepala Baekhyun lalu menggelitik bagian pinggang Baekhyun hingga wanita itu tertawa geli sembari memohon ampun. Tapi Chanyeol bukanlah sosok pria lemah yang mudah begitu saja melepaskan Baekhyun, layaknya seorang dominan yang menginginkan submissivenya menuruti apa yang ia inginkan. Chanyeol terus menggelitik hingga Baekhyun menggeliat berusaha menghindar, mereka berdua terguling keatas karpet lantai apartemen lalu berpelukan kembali setelah nafas mereka mulai tersenggal lelah karena tawa dan juga usaha keras saling menyerang satu sama lain.
Chanyeol masih memeluk Baekhyun diatas badannya, menggulingkan tubuh wanita itu kesamping kanannya lalu mengusap keringat yang terlihat disekitaran wajah Baekhyun.
"Mandilah dulu.. aku akan memasak makan siang untuk kita." Ia berucap pelan dituruti oleh anggukkan kepala Baekhyun.
Wanita itu lebih dulu beranjak bangun disusul Chanyeol kemudian, mereka berpisah diantara pintu kamar Chanyeol dan juga area dapur.
Loveless
Baekhyun akui masakan Chanyeol menjadi makanan terbaik selain masakan Kyungsoo yang selama beberapa tahun terakhir menjadi masakan favoritnya selama wanita itu tinggal di New York. Aroma masakan yang tengah dimasak oleh pria itu sudah tercium olehnya selagi dirinya memilih pakaian di lemari Chanyeol. Baekhyun memilah beberapa pakaian milik pria itu yang semuanya terlihat kebesara dibadannya. Alhasil ia memilih satu kaos berwarna hitam bertuliskan Rock n Roll terpampang dibagian dadanya.
Setelahnya ia berlari kecil menyusul Chanyeol yang tengah sibuk memotong macam – macam sayuran dan bahkan enggan untuk berbalik ketika Baekhyun memanggilnya.
Akhirnya Baekhyun memilih menyusul disamping Chanyeol, memperhatikan langsung bagaimana tangan kekar pria itu begitu cekatan tengah memotong jamur. "Memasak apa?" tanyanya pelan.
Chanyeol melirik sebentar lalu mencium pipi Baekhyun dengan tiba – tiba. "Cream soup."
Baekhyun mengangguk sebagai tanda ia setuju dengan menu yang dimasak pria itu karena mau menolak pun nantinya ia akan tergiur dengan rasa dari masakan Chanyeol.
"Aku memakai kaosmu.." ucap Baekhyun lagi terdengar ada nada menggoda kearah Chanyeol.
Chanyeol sempat tersenyum, menahan diri untuk membalas godaan Baekhyun mengingat masakannya saat ini lebih dulu menunggu perhatian darinya. Setelah ia berdamai dengan kuah sup dan juga segala bumbu – bumbu, serta tak lupa mencuci tangannya. Barulah ia beralih menghampir Baekhyun, menarik tubuh wanita itu yang sedari sudah duduk dalam diam meperhatikan dirinya kini berpindah pada pangkuan Chanyeol.
"Ini sudah hal biasa bukan?" Chanyeol sengaja menarik bagian kaso bawah yang dikenakan Baekhyun, lalu memasukkan tangannya dibalik kaos itu, membelai bagian perut Baekhyun bergerak naik dan mempertemukannya dengan gundukkan yang selalu menjadi candu baginya untuk disentuh.
"Nakal." Tangan Baekhyun menarik tangan Chanyeol dari balik kaosnya, memukul tangan pria itu tapi kemudian ia memeluk leher pria itu dan memberikan ciuman panas yang dalam. Mereka kembali terbuai dalam ciuman itu, Baekhyun yang memulai dan ia juga yang mengakhirinya secara sepihak. Ia bahkan tak bisa menahan tawanya melihat Chanyeol yang mengeram kesal melepaskan ciuman bibirnya.
"Kembali memasak.. aku mau mengambil beberapa baju dari kamarku." Baekhyun menahan badan Chanyeol yang hendak mendekat kearahnya untuk melanjutkan ciumannya.
"Ck. Sudah aku bilang bawa semua bajumu kemari."
Baekhyun membalas dengan memberikan juluran lidah kearah Chanyeol sebelum ia benar – benar keluar meninggalkan Chanyeol kembali berkutat di dapur.
Baekhyun masih mengingat kapan terakhir kalinya ia masuk kedalam apartemennya hanya untuk mengambil beberapa pakaian bersih, lalu meninggalkannya di lemari Chanyeol. Selalu seperti itu semenjak ia dan Chanyeol memulai hubungan. Langkah kakinya berhenti pada ranjang yang terlihat dingin dan begitu rapi mengingat tak pernah lagi ia tidur seorang diri disana setiap malamnya. Tanpa berlama – lama mengingat – ingat mengenai keadaan kamarnya yang tak banyak berubah kecuali sang pemilik yang tak menempati dalam waktu belakangan, Baekhyun beralih menuju lemarinya, memilih beberapa baju yang akan ia bawa pindah kedalam lemari Chanyeol.
Ia bahkan lekas memakai celana olahraga yang ketat untuk menyelimuti kakinya mengingat sedari tadi ia tak mengenakkan bawahan apapun selain celana dalamnya. Dirinya terpagut memandang kearah cermin didekat lemarinya, menelisik setiap bagian tubuhnya hingga ia menyadari satu hal.
Tubuhnya berbeda.
Lekukkan tubuh S-Line-nya tak lagi terlihat seperti dulu, seperti beberapa bulan sebelum ia berhubungan intim dengan Chanyeol hampir setiap malamnya. Baekhyun menahan nafasnya, melangkah mendekat pada cermin hingga lebih jelas terlihat bayangan tubuhnya. Ia mengangkat bagian kaos Chanyeol sebatas dada, lalu memiringkan tubuhnya. Matanya terpaku pada bagian perut bawahnya yang sedikit menonjol. Langkahnya bergerak mundur seiring dengan rasa takut dan terkejut dengan apa yang baru saja ia bayangkan dalam pikirannya.
Lantas kakinya berlari cepat menuju kamar mandi, lekas mencari sebuah alat yang selama ini ia simpan untuk memeriksakan sesuatu hal yang sejak lama ia yakini tak akan pernah terjadi dalam hidupnya. Ketika tangannya menemukan ketiga alat pemeriksa kehamilan dari beberapa merk, Baekhyun lekas membuka ketiga bungkus itu dengan tangannya yang bergetar.
Dalam hatinya ia mengucapkan terima kasih pada Kyungsoo sebagai pemberi ketiga alat itu di hari ulang tahunya tahun lalu. Namun kemudian ia menyelipkan doa agar apa yang ia pikirkan tidak terjadi, tidak ada garis dua terpampang di alat itu nantinya.
Tapi Tuhan tidak mendengar doanya.
Dua garis bitu terlihat jelas di ketiga alat yang Baekhyun gunakkan dari pemeriksaan urinya. Tangannya yang bergetar ketakutan tergerak cepat membuat ketiga alat itu berjatuhan ke atas lantai. Dirinya bahkan terperosot di lantai masih dengan mulut terkunci namun matanya tak bisa menutupi apa yang tengah bergejolak dalam dirinya.
Ia hamil, dirinya hamil dan bayi yang ia kandung adalah anaknya bersama Chanyeol.
.
.
Baekhyun berdiam diri cukup lama di dalam kamar mandi, masih memandangi ketiga alat yang menunjukkan dengan jelas dirinya tengah hamil sementara pikirannya mengingat – ingat dengan jelas dirinya tidak pernah melupakan kesempatan sedikit pun untuk meminum pil pencegah kehamilan. Ia bahkan sudah melakukannya sejak lama meskipun dulu ia dan pria – pria asing yeng melakukan seks selalu menggunakan kondom selama berhubungan.
Helaan nafas berat keluar dari mulutnya, lalu ia menunduk dengan kedua kakinya yang tertekuk untuk didekap dalam pelukan Baekhyun.
Ini salah. Ia tidak seharusnya hamil. Ia tidak akan hamil anak Chanyeol dan tak mungkin dirinya akan menikah dengan pria itu hanya karena dirinya hamil. Pikirannya berputar – putar demikian meyakinkan kesalahan yang baru saja ia ketahui.
"Baekhyun.." dirinya terkejut begitu saja dan terlihat panik mendengar suara Chanyeol berada dibalik pintu kamar mandinya.
"Baek.. kau baik – baik saja?" ada ketukan yang terdengar pada pintu itu dan Baekhyun bersyukur ia sempat mengunci pintu kamar mandinya tadi.
Gerak tangannya dengan cepat membawa ketiga alat yang tidak boleh dilihat oleh Chanyeol untuk digulung di dalam tissue yang ia lilitkan lalu dibuang begitu saja pada tempat sampa di sudut kamar mandinya. Ia pun segera mengikat kantung sampah itu dengan ketat, merapikan tampilan dirinya dan juga mengingatkan akan dirinya sendiri untuk tidak terlihat mencurigakan dihadapan Chanyeol nantinya.
"Hey—kau baik – baik saja?" dirinya baru saja muncul dari balik pintu dengan tangan kirinya yang membawa kantung sampah berwarna hitam.
Baekhyun mengangguk dengan senyum yang ia paksakan terlihat manis di hadapan Chanyeol.
"A-aku baru membersihkan kamar mandi dan.. mau membuang sampah ini." Ia menunjukkan tangannya yang memegang plastik sampah.
"Pantas saja.. kenapa kau lama sekali disini.." Baekhyun masih membalasnya dengan senyuman.
"Ayo, sup nya sudah siap." Ajak Chanyeol, pria itu lekas membawa satu tas koper yang nampak berisikan beberapa pakaian Baekhyun lalu menunggu wanita itu untuk membuang sampah dan mereka kembali masuk kedalam apartemen Chanyeol.
Makan siang mereka terlihat biasa saja, sikap Baekhyun masih berusaha terlihat sama seperti beberapa saat sebelum dirinya tahu mengenai kehamilannya. Dan kesungguhan Baekhyun untuk menutupi hal itu dari Chanyeol patut diacungi dua ibu jari karena dihadapan Chanyeol, wanita itu bisa berakting begitu sempurna. Dirinya masih bisa menggoda pria itu dengan cumbuan dan juga bahkan bergelut manja pada pria itu setelah mereka kembali di kamar.
Tapi ketakutan dalam dirinya kembali ia rasakan tak lama ketika Chanyeol mendapatkan telepon dari Irene yang mengatakan dokter yang akan memeriksa keadaanya tengah dalam perjalan menuju apartemennya.
"Dokternya sedang dijalan.. mungkin 20 menit lagi tiba." Chanyeol merincikan dan Baekhyun tetap menunjukkan bakat actingnya.
"A-aku sudah tidak apa – apa sebenarnya." Ucapnya santai bermaksud membujuk Chanyeol untuk membatalkan kedatangan dokter tersebut meskipun hasilnya nihil karena kekasihnya itu bersikeras menginginkan dirinya diperiksa.
Yang tidak diketahui Baekhyun adalah Chanyeol juga ingin mendapatkan hasil mengenai kebenaran dari kecurigaan mengenai kehamilan Baekhyun.
Dokter bernama James tiba tak lama dari perkiraan Chanyeol. Pria itu segera mengantarkan kedalam kamarnya.
"Apa saja yang kau rasakan Nona Byun?" sang dokter bertanya selagi tengah memeriksakan tensi darah Baekhyun.
"Hanya pusing dan mual." Jawabnya tenang sembari memperhatikan Chanyeol yang begitu serius memperhatikan proses pemeriksaan dirinya.
"Pola makanmu teratur?"
"Teratur.."
"Dia lebih banyak makan belakangan ini." Chanyeol menambahkan dan Dokter itu mengangguk kembali fokus pada pemeriksaan tensi darah Baekhyun.
"Tensimu sedikit rendah dari batas normal."
"Lalu?" Chanyeol aktif menuntut penjelasan.
"Mungkin hanya karena terlalu lelah dan kurang beristirahat.." sang dokter kembali menjawab lalu mengambil stetoskop untuk pemeriksaan lanjutnya. Dokter James meminta ijin untuk memeriksa detak jantung dan setelah semenit berlalu gerak tangan yang memegang bagian stetoskopnya berpindah pada bagian perut Baekhyun. Hal ini cukup membuat Baekhyun maupun Chanyeol sama – sama menahan nafas meskipun satu sama lain memiliki ketakutan dan pemikiran yang berbeda.
Setelah cukup melakukan pemeriksaan dalam dengan stetoskop-nya, Dokter James merapikan perlengkapannya lalu terddiam sesaat, tangannya bergerak memegang perlahan bagian perut Baekhyun, menekannya tak terlalu dalam lalu memperhatikan raut wajah Baekhyun.
"Apakah sakit?" tanya sang dokter pada Baekhyun dan dijawab dengan kepala Baekhyun yang menggeleng.
"Tapi.." Baekhyun mengangkat badannya untuk kembali ke posisi duduknya, ia menatap mata sang Dokter lalu berpindah kearah Chanyeol yang tengah berdiri di sebelah kanan ranjangnya dengan tangan terlipat didepan dada.
"Chanyeol-ah.. boleh beri aku sedikit privasi.." ia memohon pada Chanyeol yang mana membuat kekasihnya itu mengerutkan alisnya merasa aneh. "A-aku ingin menanyakkan mengenai masalah sakit ketika haid.. aku tidak mau kamu mendengarnya. Ini memalukan.." Baekhyun berbicara dengan bahasa Korea kearah Chanyeol menjelaskan maksud dari dirinya meminta privasi untuk berkonsultasi.
"A-aah.." sahut Chanyeol setelahnya berusaha mengerti alasan Baekhyun yang sejujurnya ia mulai merasa janggal karena selama ini ia tak pernah mendengar Baekhyun mengeluhkan rasa sakit saat mendapatkan haid. Atau seingat Chanyeol, beberapa bulan belangan bahkan Baekhyun belum mendapatkan tamu bulanannya.
Tak lama setelah Chanyeol menutup pintu kamarnya, Baekhyun kembali bersitatap dengan Dokter James yang menunggu keluhan lainnya dari wanita itu.
"Se—sepertinya aku hamil." Ucapnya dengan suara yang menghilang diakhir kalimatnya dan tentu membuat raut wajah Dokter James berubah.
"A-aku sudah memeriksanya dengan testpack." Lanjut Baekhyun.
"Dilihat dari kondisi keadaan perutmu.." Dokter James menunjuk kearah perut Baekhyun lalu meminta melakukan pemeriksaan menggunakkan stetoskop kembali dan Baekhyun pun mengijinkan. "Bisa dikatakan memang benar dirimu hamil Nona Byun.. tapi mungkin untuk pemeriksaan lebih lanjut.. saya akan memeriksa dari test darah Anda."
Baekhyun mengangguk mempersilahkan Dokter James untuk mengambil beberapa ml dari darahnya untuk diperiksa.
"A-apa aku boleh mengetahui hasilnya lebih dulu sebelum Tuan Park?" ragu – ragu Baekhyun berucap sementara Dokter James tetap mendengarkan meskipun tangannya tengah disibukkan merapikan perlengkapannya seusai mengambil sample darah Baekhyun. "Aku ingin memberikan kejutan.. " Baekhyun melanjutkan, berharap penuh ia bisa mendapatkan hasilnya lebih dulu sebelum Chanyeol.
Dokter James tersenyum kearah Baekhyun lalu mengangguk, "Tentu saja, saya akan menghubungi Anda setelah hasilnya keluar."
Baekhyun tersenyum lebar lalu menuliskan nomor ponselnya dan juga alamat e-mail pada Dokter James.
Sang Dokter berpamitan kepada Baekhyun lalu melangkah keluar, dan ketika bertemu dengan Chanyeol yang menunggu diluar kamarnya, Dokter James menginformasikan bahwa ia sudah mengambil sample darah Baekhyun dan akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut setelah hasilnya keluar. Baekhyun sedikit menguping karena takut dokter itu akan mengatakan mengenai kehamilannya namun nyatanya tidak, Dokter James hanya mengatakan akan menunggu hasilnya terlebih dahulu dan mengabari Chanyeol lebih lanjut setelahnya.
Baekhyun menghela nafas lega. Chanyeol tidak boleh mengetahui kehamilannya.
Loveless
Dua hari Baekhyun terus memperhatikan ponsel dan juga memeriksa emailnya berulang kali berharap penuh ia segera mendapatkan kabar mengenai hasil dari test pada sample darahnya, namun nyatanya nihil. Sampai siang ini dirinya belum mendapatkan kabar apapun.
Ia bahkan sudah menanyakkan pada Chanyeol apakah pria itu sudah lebih dulu dihubungi oleh Dokter James atau tidak dan nyatanya sama, Chanyeol belum mendapatkan kabar apapun.
Baekhyun menggigit bibirnya frustasi.
Ia bahkan tak bisa melanjutkan pekerjaan menyelesaikan satu design yang sudah lama ia kerjakan dan harusnya ia sudah menyelesaikannya saat ini mengingat besok ada batas waktu pengerjaan projek designnya itu.
Fokusnya lebih tercurahkan pada ponsel dan juga kolom email di layar laptopnya. Berulang kali bahkan Baekhyun mencoba menelepon rumah sakit tempat dimana Dokter James bertugas namun tangannya berulang kali menghapus nomor yang sudah ia ketikkan. Keraguannya lebih mendominasi.
Saat matanya menangkap jarum jam yang menunjukkan keterangan waktu saat itu, Baekhyun mendapatkan pemikiran lain untuk mencoba langsung berkunjung ke rumah sakit dan menemui langsun Dokter James, menanyakkan hasilnya atau mungkin lebih baiknya ia langsung memeriksakan keadaan kandungannya.
Tangannya menutup laptopnya dan lantas langkahnya bergegas bersiap – siap, mengambil mantel dan juga tas kecil miliknya. Sebelum Baekhyun menarik daun pintu, Ia melihat lagi kearah penunjuk waktu mengira – ngira waktu yang ia butuhkan untuk ke rumah sakit lalu setelahnya menjemput Chelsea di sekolah.
.
.
Langkah kakinya meragu menghampiri meja receptionist di rumah sakit dimana Dokter James bertugas. Batinya bergejolak apakah ia sduah siap mendengar pernyataan kehamilannya yang sudah pasti akurat atau ia harus memilih beranggapan tidak tahu akan adanya bayi di dalam kandungannnya. Setelah selang beberapa menit meyakinkan dirinya, langkah kembali tergerak pasti.
Kini ia sudah menunggu di ruang tunggu didekat ruangan dengan pintu tertutup bertuliskan nama Dokter James.
Baekhyun merasa beruntung karena jadwal pasien yang akan diperiksa oleh dokter tidak sebanyak yang Ia kira dan karena itulah kini ia masuk dalam antrian tunggu untuk menemui dokter tersebut.
Namun demikian, hatinya masih merasa gelisah. Akankah ia mengatakan yang sejujurnya pada Chanyeol bila ia dinyatakan memang hamil?
Ditemani dengan segala kegelisahannya, Baekhyun tidak menyadari bahwa kini gilirannya lah menemui Dokter James. Ia memaksakan senyumnya pada salah satu perawat yang memanggil namanya dan mempersilahkan untuk masuk ke dalam ruangan.
"Nona Byun.." sapa Dokter James, langsung mengenali wajahnya begitu dirinya masuk. Baekhyun dipersilahkan duduk tepat dihadapan Dokter James dan tak lama sang dokter menanyakkan mengenai keperluan apa yang sangat mendesak hingga Baekhyun mendatangi dirinya.
"A-aku ingin menanyakkan hasil test kemarin, apakah sudah ada?"
"Oh." Sontak Dokter James teringat. Matanya menatap pada tumpukkan dokumen map bertuliskan nama rumah sakit dimana mereka berdua berada saat ini, sementara tangannya mengangkat satu per satu map itu untuk mencari nama Baekhyun disana. "Harusnya sudah ada diantara tumpukkan ini, maafkan aku.. ini masih jadwal pemeriksaan pasien jadi aku tidak memeriksanya—"
"Ah—tidak apa. A-aku hanya terlalu penasaran dan ingin mengetahui hasilnya terlalu cepat—" elaknya dengan tawa renyah.
"Tidak apa, aku tahu pasti Anda sudah tidak sabar memberi tahu pasangan Anda bukan?" apa yang dikatakan Dokter James tidaklah sepuhnya salah. Baekhyun memang ingin cepat mengetahui hasilnya namun bukan ia tak yakin harus member tahu Chanyeol atau tidak setelahnya.
"Nah!" pekik seru Dokter itu membuat jantung Baekhyun berdebar hebat, tangannya bahkan tak berhenti saling meremas satu sama lain, dan semakin tak terkendali saat sang Dokter belum juga mengatakan apapun karena masih terus melihat hasil yang tertera di balik map tersebut.
Dan ketika Dokter James menjelaskan semuanya, raut wajah Baekhyun berubah seketika, debaran jantungnya tetap berdebar hebat, remasan tangannya semakin menguat. Dunianya terasa terhenti dengan amat sunyi dan hanya dikelilingi oleh suara debaran jantungnya yang semulai berdebar kencang perlahan – lahan mulai meredup kembali normal.
.
.
Pasien Rebecca, Byun dinyatakan hamil.
Usia kandungannya memasuki usia 4 minggu saat ini.
Chanyeol lekas beranjak bangun dan bahkan memekik kaget bahagia membaca satu pesan yang baru saja terlihat pada layar laptopnya. Pesan yang dikirimkan oleh Dokter James telah berhasil membuyarkan konsentrasinya di tengah – tengah rapat yang masih berlangsung saat ini. Dan sontak membuat semua yang hadir disana memandangai Chanyeol dengan tatapan penuh tanya.
"Ah—maafkan aku." Ia membungkuk meminta maaf lalu meminta presentasi yang sempat terputus kembali dilanjutkan, meskipun dirinya tetap tidak terfokus mendengarkan semuanya.
Tangannya mengetikkan pesan balasan terima kasih dan juga meminta tolong hal lainnya untuk membuatkan janji dengan dokter kandungan. Setelahnya Chanyeol mengirimkan pesan pada Baekhyun agar wanita itu menunggunya di apartemen, mengundanganya makan malam di restoran. Semuanya Chanyeol lakukan saat itu dimana seharusnya ia mendengarkan dengan baik mengenai presentasi projek pembangunan sebuah gedung dengan harga asset milyaran.
Bahkan selepas meeting yang mana belum ia setujui karena menggunakkan alasan perlu ia tinjau kembali, Chanyeol langsung meminta Irene untuk pergi pada toko perhiasan, mengambil pesanan miliknya sesegera mungkin. Irene cukup pintar memahami tujuan Chanyeol mengambil pesananan dari toko perhiasan ternama, terlebih itu adalah sebuah cincin berhiaskan diamond yang terlihat sangat elegan. Yang menjadi pertanyaannya darinya adalah sejak kapan Boss dan sepupunya ini menyiapkan semuanya?
Hari itu Chanyeol pulang dari kantornya lebih awal, tanpa menunggu jam kantor usai, tanpa menitipkan pekerjaan lainnya untuk para anak buahnya, bahkan tak meminta mereka mengirimkan hasil pekerjaan atau pun deadline yang seharusnya diterima olehnya pada hari itu. Seperti yang sering dikatakan, orang yang tengah bahagia tidak akan memikirkan hal lain selain apa yang membuat ia bahagia. Dan itulah yang tengah terjadi pada Chanyeol.
Ia bahkan tidak mengumpat pada jalanan Kota New York yang menjebaknya pada kemacetan, senyumnya bahkan terhias begitu menawan ketika dirinya memesan satu bucket aneka bunga berwarna cantik yang tentunya membuat sang pemilik toko begitu terpesona dan ikut merasa bahagia ketika Chanyeol mengatakan bunga itu untuk calon istrinya. Begitu pula ketika ia berhenti untuk membeli satu cheese cake strawberry dengan menuliskan kalimat I Love You diatasnya, membuat semua orang ikut tertawa melihat dirinya yang tengah dimabuk sebuah kebahagiaan.
Dirinya terlihat begitu bahagia, teramat bahagia dengan bodohnya hingga satu panggilan dari Chelsea berhasil membuyarkan semuanya.
Puterinya menjerit dalam isakan tangis mengatakan Baekhyun tidak menjemput dirinya di sekolah dan semakin membuat Chanyeol panik saat Chelsea mengatakan wanita itu tidak ada di apartemen mereka.
Pikirannya berkecamuk dalam kekhawatiran dan juga ketakutan seperti apa yang pernah ia pikirkan sebelumnya, Baekhyunnya pergi meninggalkan dirinya.
Lantas kakinya menekan pedal gas sedalam mungkin sementara tangannya menekan klackson berulang kali sembari mengumpat pada pengguna jalan yang menghalangi gerak mobilnya. Hanya beberapa blok lagi dan ia sudah tidak bisa menahan kesabaran untuk melihat secara langsung keadaan apartemennya. Chanyeol bahkan tidak memperdulikan keadaan mobilnya ketika ia melemparkan kunci pada petugas valley begitu saja karena kakinya lebih memilih untuk lekas berlari secepat mungkin.
"Dadddyyy!" nyatanya yang menyambut dirinya saat memasuki apartemen adalah tangisan Chelsea, puterinya terisak penuh kesedihan mengingatkan Chanyeol pada saat dimana Chelsea menangis karena mengingat dirinya tidak memiliki seorang Ibu.
"Baekhyunnie tidak ada.." adunya terdengar tidak jelas karena anak itu tetap menangis kencang. Chanyeol memeluk Chelsea dalam dekapannaya, menenangkan puterinya dan seketika mengabaikan bucket bunga, kue serta kotak cincin yang ia bawa.
"Baekhyunnie pergi? Baekhyunie kemana Daddy!" anak itu masih menuntut jawaban dan Chanyeol tak tahu harus menjawab apa.
"Baekhyunnie tidak menjemput Chelsea.."
"Chelsea telepon—hiks—tapi tidak diangkat.. Chelsea ke apartemen Baekhyunnie.. menunggu di depan—hiks—Baekhyunnie tidak ada—Daddy…" anak itu menjelaskan semuanya tentang apa yang sudah ia lakukan untuk membantu sosok yang seharusnya mengisi harinya seperti biasa. Dan Chanyeol semakin dibuat kelu dengan apa yang Chelsea katakan.
"Chels.. baby.. tenangkan dirimu dulu.." Chanyeol membawa Chelsea di gendongannya, mengusap kepala anak itu agar Chelsea berhenti menangis sementara kakinya melangkah pada pintu yang tertutup rapat. Ia mengeluarkan kunci dari dalam kantung celananya, membuka pintu itu dan berharap sosok yang ia ingin temui tengah berada disana tapi kenyataan tidak berpihak pada keinginan hatinya.
Ruangan apartemen Baekhyun nampak begitu kosong, tidak ada tanda – tanda wanita itu menjejakkan kakinya disana. Chanyeol lekas kembali pada apartemennya dengan isakan tangis Chelsea yang belum berhenti.
Masih dengan menggendong Chelsea, ia melangkah masuk kedalam kamarnya, membuka lemari pakaian miliknya dan barulah ia merasa yakin. Kekasihnya telah pergi. Tak ada lagi pakaian milik Baekhyun tergantung bersama pakaian dirinya, tidak ada lagi tas koper berwarna hitam yang menjadi milik wanita itu disana.
Helaan nfasnya terlalu berat untuk dilakukan karena seiring dengan isakan tangis Chelsea, hatinya pun menjerit sesak karena sebuah rasa sakit ditinggalkan oleh seseorang yang ia sayangi terlebih tengah mengandung anaknya. Anak mereka.
t-b-c
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Kepulangan Baekhyun ke Korea mengejutkan adik dan juga Sang Ibu, mereka tidak mengira Baekhyun datang lebih cepat dari waktu yang ia infokan sebelumnya. Dan yang semakin membuat mereka merasa aneh serta penasaran adalah keterdiaman dari sosok diri Baekhyun setelah beberapa hari tiba dirumahnya. Tidak ada canda tawa atau pun candaan darinya terhadap sang adik atau pun para sepupunya yang tengah datang membantu persiapan pernikah sang adik.
Seung-wan bahkan tidak berani menanyakkan apa yang tengah terjadi pada sang kakak meskipun kini mereka tengah berada dalam satu ruangan.
"Ayah akan datang, kemarin ia menelepon." Seung-wan berucap mencoba memecah keterdiaman diantara mereka.
"Hm." Baekhyun menjawab singkat dengan mulut tetap terkunci rapat.
Seung-wan tidak tahan melihatnya, ia meletakkan gaun yang baru saja ia ingin coba pakai lalu melangkah lekas memeluk badan Baekhyun yang mana tetap terasa kaku ketika ia peluk.
"Katakan ada apa.. kenapa kau menjadi pendiam seperti ini.. apa yang terjadi?" adiknya terus berusaha mencoba mengajak sang kakak untuk terbuka padanya tapi nyatanya Baekhyun malah terisak dalam diam dan semakin menangis keras dengan mulutnya yang masih terkunci.
Seung-wan semakin mengeratkan pelukannya dan berusaha keras menenangkan sang kakak meskipun ia masih belum mengerti dengan apa yang telah terjadi pada Baekhyun.
"Ssstt.. tidak apa..kau sudah pulang.. kau sudah dirumah.." ucapnya mencoba menenangkan walaupun suaranya kalah oleh isakan tangis Baekhyun.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Selamat tahun baru 2020!
selamat hari Minggu, selamat menikmati cemilan siangnya :p
see you next chapter!
love,
Viel
