Ruangan kantor dimana Chanyeol berada saat ini nampak sunyi senyap meskipun sang pemilik ruangan masih terlihat berada didalamnya. Duduk termangu menatap layar komputer tepat dihadapannya wajahnya. Namun demikian raut wajahnya terlihat jelas tengah memikirkan hal serius lainnya, bukanlah pekerjaan yang harusnya ia kerjakan sejak seharian ini. Chanyeol lagi – lagi mengusap wajahnya, lalu menunduk pada kedua lengannya diatas meja kerjanya.
Bahkan ketika Irene masuk kedalam ruangannya dan berjalan mendekat kearah meja kerjanya, ia tidak berkutik dan mengabaikan sekretaris dan juga sepupunya yang tanpa ijin darinya berani masuk kedalam ruangannya.
"Seingatku, kau punya apartemen yang sangat nyaman untuk ditiduri kenapa sampai sekarang kau masih disini Boss?" Irene bertanya kearah Chanyeol sembari mencari kenyamanan duduk pada kursi kerja tepat berseberangan dengan posisi Chanyeol dibalik meja kerja pria itu.
"Mau lembur lagi?" tanyanya lagi. Dan Chanyeol masih berdiam diri bersembunyi dalam posisi menunduknya, mengacuhkan pertanyaan dari Irene.
Karena Chanyeol tak juga menjawab pertanyaan yang ia ucapkan sebelumnya, Irene bersandar santai, bermain – main dengan ponselnya berselancar dalam dunia sosial media sembari menunggu Boss besarnya kembali pada dunia nyata dan mau menghadapi kenyataan yang harus ia hadapi.
Irene sudah mengetahui semua hal yang membuat seorang Park Chanyeol resah dalam empat hari belakangan, bahkan ia sudah menyarankan langsung kepada sepupu kesayangannya itu untuk menemui Baekhyun secara lansgung.
Ya, Baekhyun meninggalkan Chanyeol begitu saja, tanpa ada pesan atau ucapan perpisahan. Wanita itu pergi tepat ketika ia dan Chanyeol mengetahui berita kehamilannya. Meskipun Chanyeol tidak tahu kemana perginya Baekhyun saat itu, esoknya ia mendapatkan informasi dari orang kepercayaan yang ditugaskan mencari Baekhyun. Namun setelah ia mengetahui dimana wanita itu berada, Chanyeol tetap berdiam diri di New York dan selama beberapa hari belakangan selalu bekerja lembur meninggalkan puterinya seorang diri dirumah.
Hampir setengah jam Irene menunggu pergerakkan dari Chanyeol tapi nyatanya sepupunya itu masih nyaman menyembunyikan wajahnya dan juga enggan memberikan jawaban. Dan itu membuatnya semakin gusar menunggu.
"Kau tahu.." Irene bersuara lagi, masih berusaha untuk membawa pulang sang empunya kantor dan memberikan saran akan permasalahan yang tengah dihadapi pria itu.
"Semakin lama kau menyembunyikan masalah ini, dia akan semakin sulit untuk kau pertahankan. Dia itu keras kepala. mungkin dia kabur dari sisimu.. dan entah apa yang akan ia lakukan—bahkan mungkin Tuhan tidak tahu apa yang dilakukan kekasihmu itu.. tapi, Pulanglah, temani Chelsea.. dia juga merasa kehilangan, bukan hanya dirimu saja. Dan juga temui Baekhyun.. beranilah membahas masalah ini dengannya." Tepat ketika Irene menyelesaikan kalimatnya, Chanyeol mengangkat wajahnya, membalas tatapan Irene lalu ia menunduk lesu.
"Aku bukan bersembunyi dari masalah ini.." Chanyeol berucap memberikan sedikit pembenaran dari apa yang ia lakukan. "A-aku hanya belum siap.."
Alis Irene dan tatapan matanya mengernyit tidak paham dengan apa yang ingin Chanyeol katakan.
"Aku takut. Aku takut kehilangan dia, aku takut kehilangan semuanya.."
Irene tidak menyahut, ia menunggu Chanyeol meluapkan isi hatinya.
"Katakan padaku, apa yang harus aku lakukan ketika menemui dirinya? Melamarnya? Membawanya ke hadapan pendeta untuk segera menikahkan kami berdua? Hah—" sepupunya itu mendengus kesal, mengusap wajahnya dengan kasar lalu kepalanya mendongak menatap kearah langit – langit ruangan kerjanya yang sama sekali tidak terlihat menarik namun setia mendengarkan keluh kesahnya.
"Dia pergi setelah ia tahu tengah hamil.. bukankah jelas ia tidak menginginkannya?" Chanyeol kembali memandang kearah Irene. "Seandainya ia menginginkan bayi itu.. ia akan menemuiku bukan? Kami akan berbicara, membicarakan masalah ini, membuat keputusan bersama—tapi dia memilih pergi begitu saja."
"Well.. " Irene menggeser kursi tempat ia duduk kedepan agar dirinya bisa berbicara lebih dekat dengan Chanyeol. "Kita sama – sama tahu bahwa ia egois, ia tidak pernah berada dalam sebuah hubungan serius. Aku kira kau sudah mempersiapkan semuanya.. dan pilihan terbaik saat ini adalah menemuinya. Dengarkan apa yang ia inginkan.. lalu sampaikan semua keinginanmu—"
"Kalau dia berkata tidak?" Chanyeol memotong kalimat yang belum Irene selesaikan.
Dan sejujurnya, Irene tidak tahu lagi harus berkata apa. Saran terbaik yang ada didalam pikirannya namun tertahan diujung lidahnya adalah meminta Chanyeol untuk menyerah seandainya memang Baekhyun memilih untuk menolak tawaran dari Chanyeol. Itu adalah pilihan tepat menurutnya. Tapi ia rasa tidak tepat untuk sepupunya, Chanyeol akan merasa kosong, hatinya akan terasa patah berjuta – juta kali dengan rasa sakit yang susah untuk disembuhnya. Karena Baekhyun adalah cinta pertamanya, wanita yang ia sentuh dengan sepenuh hati, ia genggam dengan penuh cinta tapi pada akhirnya, wanita itu juga yang menghancurkan semuanya.
Loveless
.
Chapter 18
Sekeras apapun Baekhyun menutupi masalah kehamilannya ketika ia pulang ke rumahnya, pada akhirnya Ibu dan adiknya mengetahui. Ia menyalahkan pada rasa mual yang hampir setiap pagi terus menghantui dirinya dan juga keinginan memakan masakan tertentu namun tak cukup untuk mengisi keinginannya karena bayi yang ia kandung saat ini rupanya menginginkan masakan yang dimasak oleh sang Ayah. Chanyeol.
Baekhyun pikir keputusan meninggalkan pria itu akan memudahkan segalanya tapi tidak. Ia menderita dengan keputusan yang telah ia ambil. Chanyeol sudah mengisi kehidupannya, keseluruhannya. Untuk terlelap tidur saja ia selalu membayangkan pria itu memeluknya dengan erat, lalu ketika matanya terbuka yang ia ingat hanya tatapan mata dan juga senyuman lebar pria itu yang sering kali ia katakan sebagai senyuman bodoh.
Lalu semuanya semakin dipersulit ketika Ibu-nya mengambil keputusan untuk Baekhyun. Ia harus menggugurkan bayinya.
"Eomma!" Seung-wan menjadi orang pertama yang melayangkan protes keras atas usul dari sang Ibu.
Mereka tengah sarapan bersama pagi ini, membicarakan mengenai pernikaha Seung-wan dalam hitungan hari kedepan lalu membicarakan mengenai acara keluarga setelahnya. Dan seketika semuanya terdiam ketika sang Ibu membicarakan pilihan terbaik untuk puteri sulungnya yang mulai terlihat layaknya zombie.
"Kenapa? Kau tidak suka dengan usulku? Apa yang kau harapkan Byun Seung-wan, kakakmu hamil dan ia bahkan tidak tahu siapa yang menghamilinya!"
"Baekhyun mempunyai kekasih!" adiknya bersikeras memberikan pembelaan, sementara seseorang yang namanya tengah dibicarakan tetap terdiam, menunduk menatap cream soup yang lebih menarik perhatian pikiran dan hatinya.
"Baekhyun pergi bukan karena kekasihnya tidak bertanggung jawab!"
"Lalu dimana pria itu sekarang hah?! Walaupun dia akan bertanggung jawab! Setelah anak itu lahir, pria bodoh itu akan pergi meninggalkan kakakmu!"
"Eomma!" Seung-wan masih tidak terima dengan pemikiran Ibu-nya.
"Cukup." Sang Ibu membanting sendoknya, Seung-wan berjengit kaget lalu terdiam seketika, segala ucapan yang ingin ia katakan tertahan didalam mulutnya, sementara Baekhyun yang sedari tadi diam menunduk menahan air matanya yang akan terjatuh.
"Gugurkan kandunganmu Baekhyun. Itu keputusannya. Dan jangan pernah kembali ke New York dengan alasan pekerjaan atau apapun, kau akan bekerja di Perusahaan Keluarga. Kau mengerti?!" Nyonya Byun beranjak bangun, nafsu makanya meluap digantikan dengan emosi, ia melangkah angkuh meninggalkan kedua puterinya.
"Eonnie.." Seung-wan bergerak cepat berpindah duduk disebelah sang kakak yang masih menunduk dalam diam. Ia bisa mengerti bagaimana perasaan Baekhyun, terlebih setelah mendengar cerita mengenai hubungannya dengan Chanyeol, Seung-wan paham bahwa mereka berdua hanya butuh waktu untuk membicarakan hal ini.
"Jangan dengarkan apa kata Eomma.. ia hanya merasa kesal saat ini." Ucapnya mencoba menghibur namun tetap berharap Baekhyun tidak akan mengikuti ucapan sang Ibu. "A-apa Chanyeol sudah menghubungimu?" adiknya mengalihkan pertanyaan lain.
Tapi Baekhyun enggan untuk menceritakan lebih, Chanyeol memang menghubungin, berulang kali bahkan sampai pagi ini, pria itu masih terus mencoba menghubunginya. Entah sudah berapa ratus kali panggilan yang dilakukan oleh pria itu dan terus diabaikan oleh Baekhyun. Pesan – pesan yang dikirimkan bahkan sudah beratus kali Baekhyun hapus dari ponselnya.
"A-aku akan kembali ke kamar." Baekhyun meninggalkan Seung-wan begitu saja dengan langkah yang pelan untuk kembali ke kamarnya.
Meskipun nyatanya kembali ke kamar hanya membuat dirinya merasa semakin merindu. Ia rindu akan paginya di New York. Rindu akan suara Chelsea yang selalu manja terhadapnya, menciumnya penuh sayang. Ia rindu pada punggung yang selalu ia perhatikan memasak di dapur, ia merindukan semuanya namun sebagian hatinya berusaha untuk menyangkal dengan anggapan bahwa ia tidak akan bisa kembali ke masa itu. Hubungannya dengan Chanyeol tidak akan pernah sama, mereka tidak akan menikah hanya karena ia hamil, bayi yang akan ia kandung tidak akan menjadi alasan untuk mereka menikah.
Tangan Baekhyun mengusap air mata wajahnya dan lantas ia beralih pada ponselnya yang bergetar pelan menandakkan pesan masuk.
Jangan ragukan perasaanku padamu..
Aku mencintaimu dengan sepenuh hati Byun Baekhyun.
Hatinya menghangat hanya sekejap dan berubah kembali kelu karena ucapan sang Ibu kembali terngiang melintas di pikirannya.
Setelah anak itu lahir, ia akan meninggalkan kakakmu!
Dan hanya dalam sekejap, mengingat perkataan Ibunya, jari – jari tangan Baekhyun menghapus isi pesan itu, mematikan daya ponselnya lalu ia letakkan didalam laci nakas yang kemudian ia kunci dan meyakinkan dirinya untuk tak akan pernah membuka dan menyalakan ponselnya entah sampai kapan.
.
.
New York,
"Jongin sudah memerintahkan akan mengirim pesawat Park Inc untuk menjemput kalian berdua.. aku sudah mengkoordinasikan dengan Pihak Bandara agar memberikan ijin mendarat." Irene mengatakan semua hal yang telah ditugaskan padanya selama beberapa waktu belakangan. Mengaturkan jadwal penerbangan untuk Chanyeol dan juga Chelsea ke Korea hari esok, lalu juga mengalihkan semua rapat – rapat penting dengan Chanyeol menjadi Video Conference sesampainya pria itu di Negara asalnya.
"Aku sudah mengaturnya jadwal meeting VC-mu dengan kantor di Korea, mereka akan stand by bila ada masalah teknis nantinya. Agendamu sudah aku update, kau hanya perlu memeriksanya di ponsel atau laptop dan usahakan jangan mengabaikan telepon dariku." Kalimat terakhirnya penuh penekanan, karena lebih sering Chanyeol mengabaikan panggilannya dimana telepon itu adalah telepon penting mengenai pekerjaannya.
"Dan juga ini." Irene meletakkan kotak cincin berwarna biru gelap lalu menggesernya kearah dekat tangan Chanyeol. "Kau sudah berada di Korea, tidak ada salahnya menemui wanitamu dan membicarakan masalah kalian."
Gerak tangan Chanyeol yang akan menggoreskan tanda tangan pada dokumen pekerjaanya lantas terhenti ketika tatapan matanya menangkap kotak cincin yang pernah ia genggam penuh harap kala itu.
"Aku tahu, Park Chanyeol yang aku kenal adalah sosok pemberani mengambil keputusan dan juga bertanggung jawab. Ia bukan lagi pria brengsek yang menyukai selangkangan wanita jalang.." Irene menepuk bahu Chanyeol, memberikan senyuman manis sebagai tanda bagaimana ia menghargai dan juga menyayangi sepupunya ini.
Tapi nyatanya Chanyeol enggan membalas saran dan juga sedikit pujian teruntuk dirinya, tangannya kembali bergerak melanjutkan membubuhkan tanda tangan pada beberapa dokumen dan setelah semuanya selesai. Ia memberikan dokumen – dokumen tersebut kepada Irene. "Tolong siapkan mobilku." Perintahnya dan Irene mengangguk menuruti.
Chanyeol merapikan laptop serta beberapa lembar dokumen yang harus ia kerjakan di rumah dan juga ketika dirinya terbang ke Korea esok, setelah semuanya telah rapi didalam tas kerjanya, matanya kembali tertuju pada kotak biru yang sempat mengalihkan pikirannya sesaat. Ia menatap dalam diam seakan – akan menunggu jawaban dari si kotak untuk apa yang harus ia lakukan terhadapnya.
Matanya memanas menahan segala luapan kekesalan dan juga sebuah rasa yang sulit diungkapkan belakangan ini, ia bahkan mengigit bibirnya lalu memukul pelan kursi kerjanya sebagai ungkapan kegundahan. Sebelum akhirnya ia beranjak pergi meninggalkan ruangan kerjanya dalam diam membawa serta si kotak biru dalam kantung mantelnya lalu berharap keputusannya tidak salah.
Loveless
Chanyeol tidak menyangka Kyungsoo dan juga Jongin menyambut mereka ketika langkah kakinya menapak tanah Negara yang sudah cukup lama tidak ia datangi. Dirinya baru saja keluar dari jalur kedatangan khusus dan melangkah menyusul lari kaki puterinya yang lebih dulu meninggalkan dirinya untuk memeluk Kyungsoo lalu larut dalam kesedihannya.
Jongin sempat melihat kearah dirinya dan menuntut penjelasan kenapa Chelsea memeluk Kyungsoo dan terisak begitu saja namun ia hanya membalasnya dengan gelengan tak ingin membahasnya saat ini.
Dan sesungguhnya Chanyeol tidak tahu harus menjelaskannya darimana. Sikap Chelsea berubah setelah anak itu mengetahui kepergian Baekhyun, hampir setiap malam puterinya menangis memanggil nama Baekhyun, pelukan dari Chanyeol bahkan tak cukup bisa menenangkan sang anak karena nyatanya Chelsea masih terlarut dalam kesedihannya. Rayuannya untuk membelikan mainan atau pun mengajaknya berlibur bahkan tidak cukup ampuh mengembalikan senyuman Chelsea.
Dan Chanyeol bisa menyimpulkan, bukan hanya dirinya yang hancur tetapi puterinya bahkan merasakan patah hati yang sama atau bahkan lebih parah karena Baekhyun.
Kyungsoo masih memeluk Chelsea penuh sayang dan berusaha keras mengajaknya berbicara dengan mengalihkan bercerita mengenai puteranya—Taeoh, yang telah lahir. Tapi hasilnya pun sama, Chelsea terus mengadu diamnya diiringi isak tangis.
Bahkan ketika mereka sudah tiba di rumah dengan suasana ramai karena Ayah dan Ibu Chanyeol bersemangat menyambut kedatangannya dan juga salah satu cucu kesayangan mereka, nyatanya Chelsea masih terlihat murung.
.
Jongin menyusul Chanyeol yang tengah duduk termangu memandangi kolam renang yang sebenarnya terlihat tidak begitu menarik kecuali ban berenang bergambarkan bebek tengah terapung kesana kemari diatas air.
"Chelsea sudah tidur?" ucapan basa – basi ia lontarkan sebagai permulaan menyapa sang kakak.
"Hm."
"Aku tidak menyangka.. dampaknya separah itu." Lantas ia menjelaskan maksud dari kedatangannya, siap membuka lebar telinga untuk menjadi tempat pencurahan hati sang kakak yang jelas terlihat merasakan patah hati yang sama dengan Chelsea.
"Aku rasa ini karma." Chanyeol mengangkat botol beernya lalu menenggaknya begitu saja tanpa henti sampai Jongin mengambil paksa lalu ikut meminumnya.
Chanyeol menyeringai sesaat lalu kembali memandang ke arah kolam. "Ketika aku menemukan cinta, ia memilih pergi. Menghancurkan hatiku begitu saja, meninggalkan kenangan yang sulit dilupakan, memberikan pengharapan yang tak dapat diraih dan yang tersisa adalah sebuah nama yang tak bisa membalas ketika aku memanggilnya."
Jongin terpaku. Seketika ia merasa bahwa yang saat ini duduk disampingnya bukanlah Park Chanyeol yang ia kenal, bukan kakaknya yang selalu mencemooh dirinya ketika mereka bercerita mengenai cinta.
"Aku berniat melamarnya malam itu." Lalu Chanyeol melanjutkan, mengeluarkan kotak cincin yang masih tersimpan aman dikantung mantelnya.
Dan hal itu cukup mengejutkan Jongin. Pikirnya Chanyeol hanya akan mengatakan untuk bertanggung jawab pada kehamilan Baekhyun dan mungkin menikahkan wanita itu nanti. Namun nyatanya Chanyeol telah lebih dulu bersedia menikahkan Baekhyun kapanpu wanita itu bersedia.
"Seharusnya aku melamarnya lebih dulu, tanpa perlu menunggu hasil dari pemeriksaan dokter, setidaknya ia tahu aku benar – benar mencintainya, iya kan? Irene bahkan mengatai aku bodoh saat itu." Chanyeol menoleh kearah Jongin yang masih setia mendengarkan curahan hatinya. "Nyatanya aku takut, takut untuk memulai, takut karena dia akan menolak lamaranku, takut ia akan meninggalkanku seperti sekarang.. nyatanya, aku hanya seorang pengecut."
Chanyeol mengenggak lagi botol beernya, lalu menyisakan sedikit cairan dari minuman tersebut untuk Jongin. Ia meninggalkan botol tersebut disamping kotak cincin, tangannya menepuk bahu Jongin lalu ia melangkah pergi begitu saja menuju kamarnya meninggalkan Jongin seorang diri yang belum sempat berucap satu kata pun terhadap Chanyeol.
.
"Apa maksudnya meminta tanda tangan dari Ayah dari bayi yang kau kandung?!"
Baekhyun sedikt meloncat dari posisinya yang tengah berdiri menghadap pada sang Ibu, ia menyerahkan satu kertas yang berasal dari rumah sakit dimana sempat ia datangi untuk meminta proses menggugurkan kandungannya. Bukan hanya sang Ibu yang tidak percaya ketika mendapatkan informasi bahwa untuk menggugurkan kandungan di jaman saat ini, haruslah mendapatkan persetujuan keluarga dan juga Ayah dari bayi yang dikandung guna mencegah tuntutan hukum bilamana terdapat resiko di waktu yang akan datang.
Sang Ibu masih membaca satu per satu segala ketentuan dari dokumen yang kini ia pegang, "Kau sudah mendatangi rumah sakit lainnya?"
Baekhyun mengangguk memberikan dokumen lainnya dari rumah sakit yang lain.
"Aish!" sang Ibu menggerutu kesal. "Ini menyusahkan, beristirahatlah! Aku akan meminta orang lain untuk mencari solusinya.. bila perlu kita menggugurkan bayi itu di tempat lain asalkan ia bisa memberikan jaminan kau akan selamat dan tidak mengalami kesakitan setelahnya aku akan mengiyakan!"
Baekhyun mengangguk, mulutnya masih terkunci dan hanya mendengarkan setiap ucapan dari Ibu-nya. Melangkah pelan kembali dalam kamarnya yang terasa dingin dan sepi, tubuhnya dibawa berbaring pada ranjangnya, menarik selimut berharap mendapatkan kehangatan meskipun ia merindukan kehangatan yang lainnya, wajahnya menatap kosong pada pemandangan lemari dan juga dinding kamarnya. Sebelum matanya terpejam siap menjemput dunia mimpinya, mulutnya berucap lirih mengatakan selamt malam pada satu nama yang masih ia selipkan di rindu hatinya.
Selamat malam Chanyeol.
Loveless
Hari pernikahan Seung-wan telah tiba.
Semuanya anggota keluarga nampak begitu bahagia dan ikut merasakan gugup ketika melihat Seung-wan keluar dari kamar hotelnya mengenakkan gaun pengantin yang menjadi pilihannya. Rombongan keluarga Baekhyun lekas berangkat menuju Hotel yang menjadi tempat pemberkatan pernikahan Seung-wan secara beriring – iringan.
"Untung saja perutmu belum terlihat membuncit." Ibu Baekhyun bersuara sedikit ketus tak lama ketika Baekhyun turun dari mobil mereka dan bersama – sama masuk kedalam lobby hotel. Baekhyun kembali terdiam, hanya memamerkan senyum kecilnya pada setiap anggota keluarga lainnya yang tanpa sengaja melihat kearahnya.
Ia berharap acara ini cepat selesai.
Proses pemberkatan hingga acara resepsi tidak berlangsung terlalu lama karena susunan jadwal yang sudah diatur oleh pihak Wedding Organiser berlangsung lancer tanpa hambatan teknis sedikit pun. Acara mulai memasuki proses penutup dimana semua tamu diperbolehkan bergabung untuk berdansa dengan pasangan mereka masing – masing sebelum acara pelemparan bunga dari Seung-wan kepada para wanita yang belum menikah.
Baekhyun memilih duduk pada meja kursinya, memperhatikan semuanya dari posisinya dan sempat sedikit membayangkan bagaimana bila suatu saat ia menikah. Akankah dirinya sebahagian Seung-wan saat ini? Apakah pesta pernikahannya semeriah ini?
Dirinya tertawa kecil lalu lekas membuang jauh – jauh bayangan akan hal itu, dirinya baru saja akan beranjak bangun dari tempat duduknya namun tertahan karena tatap matanya menangkap sosok yang belakangan namanya ia sebutkan setiap malamnya.
Park Chanyeol.
Pria itu berdiri tak jauh dari tempat dimana dirinya duduk, menatap kearahnya dengan pandangan sendu. Dan Baekhyun merutuki dirinya karena masih saja terpesona oleh penampilan satu – satunnya pria yang pernah menjadi kekasihnya.
Mengapa Park Chanyeol terlihat begitu tampan malam ini?
"Bisa aku bicara denganmu?"
Lagi –lagi Baekhyun merutuk dalam diam. Pria itu berlutut dihadapannya, memohon padanya untuk berbicara.
Apa kau masih merindukannku?—satu kalimat pertanyaan itu sejujurnya ingin dikatakan. Tapi nyatanya yang terlontar dari mulut Baekhyun adalah kalimat lainnya.
"A-apa yang harus kita bicarakan?" bahkan nadanya mendingin sangat ingin menunjukkan dirinya tidak ingin melihat pria itu saat ini. Mulutnya berbohong sementara hatinya ingin berucap sebuah kejujuran.
"Kita." Singkatnya Chanyeol katakan dengan suara penuh harapan.
Lalu tanpa seucap balasan, Baekhyun beranjak bangun dari kursinya, melangkah dengan perlahan – lahan tapi tetap menengok untuk memastikan Chanyeol-nya mengikuti kemana dirinya melangkah. Baekhyun terus melangkah keluar dari Ballroom yang menjadi tempat pesta pernikahan Seung-wan sampai dirinya tiba di sudut lantai dimana memperlihatkana pemandangan Kota Seoul pada malam itu.
Langit nampak cerah hingga memudahkan dirinya melihat deretan lampu – lampu jalan dan juga gedung – gedung yang nampak indah.
"Apa yang ingin kau bicarakan?" ucapannya masih terdengar dingin, ia bahkan sekuat tenaga menahan kemauan dirinya untuk bersitatap dengan Chanyeol yang berada tepat dibelakangnya. Dan karena ia enggan untuk berbalik, Chanyeol memindahkan posisi dirinya dan kini berada disamping Baekhyun. Masih menjaga jarak antara satu sama lain. Mereka berdua terlihat telah melupakan kemesraan yang dulu pernah saling tercipta dan bahkan tak membiarkan jarak menjadi pemisah diantaranya.
"Bagaimana kabarmu?" satu pertanyaan lolos dari mulut Chanyeol. Sebuah pertanyaan yang terdengar dipaksakan karena ia tak tahu harus memulai darimana untuk memulai sebuah percakapan dengan wanita yang ia yakini masih menjadi kekasihnya saat ini.
Baekhyun menahan wajahnya tetap terangkat, menatap pada bayangan kilauan lampu – lampu diluar jendela gedung.
"Aku baik."
Lalu keduanya sama – sama terdiam, melempar pandangan pada pemandangan dihadapan mata mereka tak berani saling beradu tatap. Mereka melupakan masa dimana saling memandang satu sama lain sebelum menjemput mimpi adalah hal yang paling disukai kala itu.
"A-aku tahu dirimu hamil Baekhyun.." akhirnya Chanyeol memberanikan diri mengucapkan inti dari hal yang ingin ia bicarakan. "A-aku sudah mencurigainya sebelum Dokter James memeriksakan keadaanmu." Ucapnya lagi diiringi dengan satu langkah kakinya bergerak mendekati kearah Baekhyun.
"Aku bahkan ingin melamarmu malam itu." Ada hati yang terasa lega ketika kalimat itu terlontar dari mulutnya. Chanyeol menghela lega, ia berhasil mengungkapkannya. "A-aku ingin melamarmu, menikahimu.." kali ini tangannya bergerak ragu ingin menggenggam tangan Baekhyun tapi terurung karena Baekhyun menjauhkan dirinya.
Wanita itu menggeser badannya kesamping memberikan jarak lebih lebar antara dirinya dan Chanyeol. Hatinya ingin berteriak mendengar sebuah pernikahan yang Chanyeol akan tawarkan padanya namun ucapan sang Ibu dan juga ego hatinya mengingat apa yang akan terjadi pada sebuah pernikahan yang tidak diharapkan atau pada pernikahan yang dipaksakan tak akan membuat dirinya bahagia menjadi penghalang keinginan hatinya.
Chanyeol tidak bersungguh – sungguh. Itu-lah yang kini dibenamkan dihatinya.
Dengan egonya yang menguatkan, Baekhyun semakin mendongakkan wajahnya, egonya memberikan kekuatan untuk berani menatap wajah Chanyeol. Menahan sekuat tenaga untuk tetap terlihat tegar dipandangan pria itu sementara jauh didalam hatinya, keadaan begitu lemah. Mengharap sebauh pelukan dan mendengar ucapan sayang, berharap pria itu menyentuhnya kembali dengan begitu sayang.
"Kau tidak perlu melakukannya." Baekhyun berucap. Nafasnya tertahan dengan tangannya menggenggam erat batas pinggir jendela. Ia berharap pembicaraan ini cepat selesai.
"Ini bukan anakmu." Satu kata ia lontarkan cukup berani dihadapan Chanyeol membuat pria itu goyah pada posisinya.
Maafkan aku. Meskipun Baekhyun berucap dingin menyangkal tapi didalam lubuk hatinya ia menangis memohon maaf karena melukai setonggok hati yang begitu mencintainya begitu dalam.
"A-aku bermain dengan pria lainnya—ketika kau bekerja—"
Chanyeol menatap marah kearahnya. "Katakan sekali lagi!" tangan pria itu bahkan mencengkram kuat pergelangan tangannya, menatap mata Baekhyun mencari sebuah kebohongan dari apa yang baru saja dikatakan wanita itu.
"I-ini bukan—akh." Baekhyun meringis, tangannya terlalu kuat dicengkram oleh Chanyeol. "Chanyeol lepaskan! Ini sakit—akh."
Chanyeol melepaskannya, sekuat tenaga menahan amarah dan juga rasa tidak percaya ia baru saja akan melamar Baekhyun lagi malan ini dan yang ia dapat adalah penjelasan bahwa anak yang tengah dikandung bukan anak darinya. Bukan darah dagingnya.
"Kau berbohong." Hatinya masih menolak dan berusaha mendapatkan sebuah kejujuran.
"Kau tidak mungkin melakukannya dengan orang lain."
"A-aku—"
Chanyeol membalik badannya kembali melihat kearah Baekhyun yang tengah menahan air matanya entah karena rasa sakit karena pergelangan tangannya atau hal lainnya.
"Ini anakku Baekhyun, kau mengandung anakku.." suara lirih Chanyeol semakin terdengar dan Baekhyun tak menyangka pria yang sempat terlihat marah dihadapannya kini bersimpuh pada lututnya, menggenggam kedua tangannya lalu menyandarkan kepalanya pada perut Baekhyun.
"Ini anakku Baekhyun-ah.." bahkan suara lirihnya berubah menjadi isakan tangis yang semakin melemahkan hati Baekhyun dan juga kesadarannya.
Perutnya terasa sakit luar biasa dan rasa pening di kepalanya kembali muncul yang sontak membuat keseimbangannya tidak stabil. Chanyeol yang merasakan tubuh Baekhyun terhuyung bahkan lekas bangun dan sigap menahan badan Baekhyun didekapnya. Dan yang ia dapati adalah kesadaran Baekhyun yang menghilang dengan kedua mata gadis itu yang tertutup, tubuhnya bahkan terasa lemah tak berdaya.
Chanyeol berteriak panik meminta pertolongan namun ia juga sigap membawa Baekhyun dalam gendongannya lalu berlari seketika membawa mereka berdua pada rumah sakit.
.
.
Plak!
Satu tamparan keras mendarat pada wajahnya tepat ketika Chanyeol bertemu dengan sosok Ibu Baekhyun.
Jongin, Kyungsoo dan juga Seung-wan serta suaminya yang melihat kejadian itu bahkan bersama – sama memekik tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi dihadapan mereka.
"Eomma.." Seung-wan menahan tangan Ibunya yang akan melayangkan tamparan lainnya namun tak bisa ia cegah sepenuhnya karena Ibunya tetap melayangkan tamparan lainnya dengan menggunakan tangan kiri yang tak digenggam Seung-wan.
"Berani – beraninya kau datang menemui puteriku!" suara tegas Nyonya Byun terlayangkan untuk Chanyeol yang masih terdiam menunduk merasakan perih pada dua bagian wajahnya yang baru saja dihadiahi sebuah tamparan.
"Maafkan aku Nyonya Byun.." Chanyeol membungkuk berulang kali berharap ada maaf yang ia dapat dari Ibu kekasihnya.
"Cih."
"Eomma.. tenang dulu." Seung-wan berusaha mengalihkan perhatian Ibunya. Tatapan marah sang Ibu masih terlihat jelas tertuju hanya pada Chanyeol yang masih membungkuk meminta maaf.
"Kau ingin maaf dariku?!" suara Nyonya Byun seketika memekik, "Tanda tangani persetujuanmu untuk menggugurkan janin darah dagingmu yang ada didalam tubuh Baekhyun sekarang!"
"Eomma!" dengan sekuat tenaga Seung-wan menarik badan Ibunya dan beruntung suaminya mulai menyadari sudah saatnya mereka meninggalkan Chanyeol serta yang lainnya sebelumnya Ibu Baekhyun semakin membuat keributan di area rumah sakit.
Jongin menyusul dan membawa badan Chanyeol untuk kembali berdiri setelah ia berbisik memberi tahu tak perlu lagi ia membungkuk karena Ibu Baekhyun sudah tidak ada dihadapannya. Setelahnya, Jongin hanya bisa menemani Chanyeol menunggu di ruang tunggu tepat dihadapan pintu ruangan Baekhyun. Ia dan Kyungsoo duduk disamping kanan dan kiri Chanyeol, menemani pria itu yang menatap kosong kearah pintu.
"A-apa kalian sudah bicara?"
Chanyeol menoleh sesaat kearah Kyungsoo yang mengajaknya bicara namun raut wajah wanita itu terlihat sedih melihat keadaan dirinya saat ini.
"D-dia mau menikah denganmu kan?" lagi Kyungsoo bertanya hal lainnya.
"Hyung.." kali ini Jongin ikut bersuara.
Chanyeol menepuk paha masing – masing lalu menyandarkan kepalanya pada dinding dibelakang tubuhnya.
"Dia mengatakan bayi yang dikandung bukan anakku." Dan ucapannya mengejutkan Jongin dan juga Kyungsoo.
"Tidak!"
"Aku percaya Baekhyun tidak mungkin seperti itu!"
Chanyeol tersenyum melihat kedua orang disampingnya bereaksi sama seperti dirinya saat mendengar pertama kali Baekhyun mengucapka hal demikian.
"Tenang saja.. aku tidak percaya dengannya." Senyum kecilnya sengaja diperlihatkan untuk menenangkan keduanya. "Tapi aku sudah mengatakannya akan menikahinya dirinya dan dia membalasku dengan kalimat tadi."
Jongin dan Kyungsoo sama – sama terdiam mendengarkan.
"Mungkin memang Tuhan tidak mengijinjkan kami untuk hidup bersama dengan saling mencintai.."
"Chanyeol! Kau belum meyakinkan dirinya, kau harus membicarakannya lagi—"
"Permisi." Kyungsoo belum menyelesaikan kalimatnya karena salah satu perawat menghampiri mereka dan melihat kearah Chanyeol yang dikenalnya sebagai orang pertama yang membawa Baekhyun masuk kedalam UGD dan juga memproses administrasi rumah sakit.
"Nyonya Byun Baekhyun sudah sadar, saya akan memanggilkan dokter untuk memeriksa keadaanya dan mungkin saat ini bisa ada yang menjaganya didalam ruangan." Perawat ini membungkuk mohon ijin.
Lantas Chanyeol segera bangkit berdiri masuk ke dalam ruangan dimana kini Baekhyun terbaring dengan selang infuse ditangannya.
Kehadirannya lekas mendapatkan perhatian wanita yang tengah berbaring disana. Tidak ada senyuman atau ucapan sapaan, yang ada hanya kedua matanya yang memperhatikan kehadiran Chanyeol disana.
"Aku sudah bertemu Ibu-mu.." ucap Chanyeol dan Baekhyun mendengarkan masih memusatkan pandangannya pada pria itu.
"Dia menamparku. Dua kali." Channyeol mengadu lagi, berharap Baekhyun akan menawarkan sebuah pelukan atau mengusap wajahnya yang masih terasa perih saat ini tapi yang bisa ia dapatkan hanyalah pandangan Baekhyun yang beralih pada jendela di sisi kirinya.
Chanyeol berharap bening air mata yang tertahan di kedua mata Baekhyun adalah untuknya, dia berharap Baekhyun ikut merasakan sakit yang kini ia rasa. Tapi mendengar apa yang Baekhyun ucapkan setelahnya membuat harapannya terbuang sia – sia.
"Aku akan menggugurkan."
"Aku akan menggugurkan janin ini." Dua kali Chanyeol mendengarnya, tidak ada nada yang berubah dari suara Baekhyun ketika mengucapkannya. "Aku tidak menginginkannya, aku tidak ingin menikah denganmu dan membiarkan janin ini tumbuh."
"Kenapa?" tanya Chanyeol dengan kaki yang terasa begitu lemah menopang tubuhnya yang baru saja diserang dengan panah menembuh kulitnya dengan kalimat yang baru saja Baekhyun ucapkan.
Baekhyun terdiam menahan air matanya. Ia bisa melihat Chanyeol-nya terluka karenanya. "Aku tidak mencintaimu.." mulutnya berbohong dan hatinya menangis kalah akan sebuah kebohongan yang baru ia ucapkan namun air matanya menunjukkan rasa sakit dari hatinya yang ikut teriris seperti keadaan hati Chanyeol yang baru saja Ia lukai.
Dan Baekhyun bisa melihatnya. Chanyeol menangis dihadapannya.
"Aku tidak mencintaimu seperti yang kau pikirkan selama ini." Baekhyun melanjutkan dari perasaannya yang baru saja ia bohongi. "Aku tidak mau menikah denganmu, aku tidak ingin memiliki anak darimu. Aku tidak mau janin ini tumbuh didalam—"
"Bayi, Baekhyun." Chanyeol mengoreksi. "Bayi yang ada didalam tubuhmu.. bayi yang tengah kau kandung adalah anakku, anakmu, anak kita!" dan suaranya berteriak diakhir kalimat, tangannya memukul bagian ranjang Baekhyun.
"A-aku tidak menginginkannya Chanyeol.. aku mohon.." kepala Baekhyun menunduk. Sesungguhnya wanita itu menutupi kesedihannya karena harus melepaskan seseorang yang terlihat begitu mencintainya, ia tidak ingin Chanyeol harus bersamanya yang bahkan belum siap menerima dirinya dengan sepenuh hati.
Tapi Chanyeol yang melihat semuanya, mendengar bagaimana wanita itu memohon dengan sekuat hati untuk menggugurkan darah dagingnya pada akhirnya ia menyerah.
Chanyeol tidak mengatakan apapun kepada Baekhyun yang masih menunduk sambil menangis, dalam diamnya Chanyeol melangkah keluar dan terus berjalan meninggalkan Baekhyun. Kyungsoo dan Jongin yang melihat hal itu sempat menanyakkan apa yang terjadi namun Chanyeol tidak memberikan jawaban.
Jongin meminta Kyungsoo menemani Baekhyun didalam ruangan inapnya sementara ia menyamakan langkahnya mengikuti Chanyeol yang terlihat menuju pusat informasi. Jongin memperhatikan dan mendengarkan ketika Channyeol menanyakkan mengenai dimana dokter kandungan yang menangani Baekhyun. Lalu matanya menatap tak percaya ketika mendengar bahwa Chanyeol menyetujui proses pengguguran kandungan Baekhyun.
"Hyung!" Jongin berteriak berharap Chanyeol sadar dengan apa yang ia tengah lakukan.
Tapi kakaknya seakan – akan tuli dan membubuhkan tanda tangannya begitu saja pada form yang sudah dikembalikan pada suster disana.
"Tidak—suster—ini kesalahan." Jongin berusaha menahan dokumen itu untuk dibawa oleh sang suster namun lengan Chanyeol menahannya.
Ia bisa melihat Chanyeol menahan semuanya dari raut wajah pria itu yang bahkan sudah tak kuat untuk menjelaskan mengapa ia mengambil keputusan paling bodoh itu. Tanpa mengatakan satu kata pun, Chanyeol melangkah lebar meninggalkan Jongin disana yang merasa kecewa dan juga tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Ia berharap semua ini hanya mimpi buruk yang ia dapati.
TBC.
