Semuanya terjadi begitu saja.
Chanyeol membubuhkan tanda tangan persetujuannya, meninggalkan Jongin yang sempat melayangkan protest dan bahkan menuntut sebuah penjelasan namun dirinya enggan untuk berdebat saat ini. Rasa sesak dihatinya terlalu pilu untuk diungkapkan. Irisan tajam ucapan Baekhyun bahkan melukainya begitu dalam dan meninggalkan bekas yang tak mungkin begitu saja bisa ia lupakan.
Ia melakukan sebuah dosa besar. Ingin memohon ampun namun malu berlutut pada Tuhan.
Jujur, ia tidak ingin membuang anaknya yang bahkan belum terbentuk sempurna di rahim Baekhyun. Tidak. Janin itu terlalu suci untuk ia bunuh menuruti kemauan ego dari sang Ibu. Tapi hanya dengan melakukan hal inilah ia bisa membalaskan penderitaan yang Baekhyun berikan padanya.—Menurut egonya—dan tak ada yang tahu Chanyeol menangis dalam diamnya menahan semua rasa sakit dan marah yang bercampur dalam hatinya.
Perjalanan pulangnya bahkan masih berjalan lancar hingga pria itu menapakkan kakinya di pintu rumah. Melenggang masuk begitu saja tanpa mengatakan satu kata pun pada Ayah dan Ibunya yang menyapa, dan mereka berdua merasakan sesuatu hal telah terjadi pada si sulung.
Sesampainya di kamarnya, Chelsea menyambutnya dengan senyuman hangat namun berubah seketika menjadi murung karena Sang Ayah membalasnya dengan air mata yang mengalir deras, bersimpuh pada lantai lalu terisak.
"D-daddy?" Ia turut menyusul kearah Daddy-nya, Chanyeol terisak dihadapan Chelsea. Meluapkan semua emosi sakit sedih siksa kondisi hatinya dihadapan puterinya yang bahkan belum ia beri tahu mengenai adiknya.
Chanyeol menundukkan wajahnya pada lutut untuk menutupi air matanya dan juga tangisnya. Lantas Chelsea semakin mendekat kearah Chanyeol langsung memeluk badan besar sang Daddy masuk dalam dekapan tangannya yang kecil.
"Daddy tidak boleh menangis.. nanti Chelsea sedih." Puterinya memberi tahu berusaha menghibur yang nyatanya gagal karena Chanyeol semakin menangis terisak.
"Da—daddy..." Chelsea sebenarnya sudah menahan air matanya untuk tak lagi mengalir tapi melihat Ayahnya bergelung menangis dihadapannya tentu membuatnya ikut merasakan kesedihan yang sama dan ia ikut menangis.
"Daddy..." Chelsea menarik - narik tangan Chanyeol untuk bisa ia peluk. Chanyeol mengangkat wajah sesaat, melihat tangis puterinya lalu ia memeluk badan Chelsea dan mereka berdua kembali menangis bersama saling memeluk satu sama lain.
"Daddy jangan menangis.. Chelsea ikut sedih melihatnya." Gumaman Chelsea hanya diangguki oleh Chanyeol dan meskipun demikian dirinya tetap menangis tak bisa menahan air matanya untuk berhenti mengalir.
Chanyeol rasa sudah ber-jam - jam lamanya ia dan Chelsea menangis bersama terkapar diatas lantai dan ia bahkan tidak ingat dengan jelas bagaimana bisa mereka berdua kini sudah berpindah ke atas ranjang. Chelsea terlelap tidur disampingnya, tak ada lagi air mata mengalir dari kelopak matanya yang terpejam. Sementara dirinya tak bisa memejamkan matanya untuk ikut lelap dalam dunia mimpi.
Ia memandangi langit - langit kamarmya berwarna putih yang sama sekali tak menarik untuk dipandangi. Gerak kepalanya bergerak gelisah sama seperti keadaan hatinya saat ini. Ia bahkan berharap penuh untuk bisa tertidur dan kemudian terbangun dan mendapati semua yang terjadi pada hari ini hanyalah mimpi belaka.
Nyatanya di hari esok mimpi buruk di realita hidupnya masih melekat kuat membuat luka terdalam di hati Chanyeol. Ia tak tidur semalaman, ingatan akan kejadian di hari kemarin dan juga di beberapa minggu sebelumnya ketika Baekhyun pergi meninggalkannya masih melekat begitu nyata.
Kata hancur mungkin tidak cukup menjelaskan keadaan dirinya saat ini.
Hatinya patah hingga bagian terkecil, belati dari ucapan Baekhyun menusuk jiwanya begitu dalam dan mampu membuat Chanyeol merasa kehilangan separuh hidupnya. Pagi yang cerah menyapa dan mencuri masuk dalam ruangan kamarnya bahkan tak mampu membuatnya mampu untuk terlepas dari larut lukanya.
Wajahnya masih terlihat rasa lelah dan juga kantuk yang tak ia temui semalam, kantung mata mulai terbentuk diwajahnya sementara wajahnya nampak pucat.
"Daddy.." Chelsea terbangun. Anak itu berguling mendekat ke arah Chanyeol lalu memeluk sang ayah yang telah membalas sapaan dengan senyuman paksaan dan usapan di punggungnya.
"Tidurmu nyenyak?" puterinya mengangguk meskipun sebenarnya anak itu masih bertanya - tanya apakah Ayahnya sendiri juga mengalami tidur yang nyenyak seperti dirinya? apakah sang ayah bermimpi indah semalam? dan kenapa wajah ayahnya terlihat lelah teramat suntuk seperti pagi ini teramat sibuk dan juga akan menghadapi pekerjaan menumpuk dari kantornya.
"Daddy bekerja?" Chanyeol menggeleng.
"Ke-kenapa?" kali ini mulutnya terkunci.
"Kita jalan - jalan saja.. bagaimana?" ajakan yang sebenarnya tidak ia pikirkan sebelumnya tapi Chanyeol membutuhkan dirinya terbebas dari pekerjaan atau pun ingatan mengenai kejadian semalam dan ia rasa membawa Chelsea berjalan - jalan bisa perlahan - lahan menyembuhkan keadaan hati dan jiwanya.
Chelsea tersenyum lebar, mengangguk setuju dan setelahnya Chanyeol meminta anak itu untuk mandi dan bersiap - siap. Sementara dirinya kembali berbaring, menatap langit - langit kamar dengan tatapan dan pikiran kosong.
LOVELESS
Chanyeol sudah berhasil melewati 4,5 jam sejak pagi hari tadi, terbebas dari obrolan dengan keluarganya saat sarapan bersama dengan topik 'Apa yang terjadi semalam?'. Sebenarnya ia sudah menyiapkan jawaban untuk memotong omongan kosong perhatian dari Ayah dan Ibunya, tapi sepertinya Jongin dan Kyungsoo sudah menceritakan apa yang terjadi sehingga mereka nampak biasa saja pagi ini ketika menyambut dirinya dan juga Chelsea di ruangan makan. Ayahnya bahkan tidak menanyakkan kenapa dirinya tidak berangkat bekerja, Jongin bahkan tidak mengucapkan kalimat lain kecuali kata hati - hati ketika ia dan Chelsea pamit pergi.
Setelah menghabiskan waktu untuk berkeliling pusat - pusat pembelanjaan di sekitar Seoul, menikmati makan siang bersama dengan sang puteri dan tetap berusaha terlihat menikmati acara jalan - jalan mereka. Kini Chanyeol harus kembali menguatkan dirinya ketika mobilnya mulai memasuki parkiran area pemakaman dimana Yoora dimakamkan.
"Kita menemui Mommy?" Puterinya lebih dulu menengok kearah jalanan sekitar, merasa mengenal jelas kemana tujuannya sore ini. Chanyeol tidak memberikan jawaban jelas, ia membalasnya dengan senyuman lalu kembali kearah pandangan didepannya.
"Kita tidak membawa bunga.."
Chanyeol tersenyum lagi lalu mengusak rambut sang puteri. "Kita akan membelinya disini." dan hanya dengan jawaban itu Chelsea kembali memamerkan senyuman lebarnya.
Mereka berjalan dalam iringan langkah yang seirama, dengan Chelsea yang mengayunkan beberapa tangkai bunga dalam pegangan tangannya. Wajah sang anak nampak senang mengingat beberapa tempuh langkah ia bisa menemui pusara dimana ibunya dimakamkan. Lain halnya dengan wajah Chanyeol yang tak menunjukkan ekspresi apapun.
"Mommy, annyeong!" sapa anak itu tepat ketika mereka tiba di pusara bertuliskan nama Park Yoora. "Hari ini Chelsea bersama Daddy.. miss you mom." Chelsea memberikan ciuman dari bibir melalui tangannya dan ditempelkan dimana nama Yoora tertulis disana.
Chanyeol masih berdiam diri mendengarkan setiap celotehan Chelsea mengenai apa yang sudah ia lakukan selama beberapa waktu belakangan semenjak kunjungan terakhirnya.
"...Chelsea terpilih ikut pementasan Ballet, Daddy dan Baekhyunnie tidak percaya awalnya tapi setelah Chelsea berikan surat pengumumannya mereka baru percaya. Ish." gerutu anak itu dan Chanyeol kembali dibuat mengingat kenangannya bersama dengan Baekhyun saat itu.
"Mommy.. Baekhyunnie pergi."
Chanyeol menoleh kearah Chelsea yang duduk disampingnya, bergelayut memeluk lengannya mulai kembali bercerita dengan nada suaranya terdengar lebih lirih, puterinya tengah mengadu.
"Baekhyunnie tiba - tiba pergi.. Daddy tidak mau mencari Baekhyunnie.. sepertinya Daddy sudah tidak menyukai Baekhyunnie. Mommy kan bilang, Baekhyunnie cocok jadi Mommy Chelsea, tapi Daddy membiarkan dia pergi. Daddy jahat."
Chanyeol menatap pusara Yoora dengan matanya yang perih menahan air matanya untuk tidak mengalir mengikuti perasaannya yang ikut menangis. Ia berusaha keras untuk tetap kuat mendengar Chelsea kembali menangis sembari tetap menggumamkan semuanya.
Apa aku yang salah?
Aku tidak mempertahankanya.
Aku membiarkan dia pergi dan bahkan tidak lagi berusaha untuk mempertahankan dirinya.
Apa aku yang salah?
Ya. Aku yang salah. Aku bahkan dengan mudah menandatangani surat kematian anakku.
Kau tahu?
Dia mengandung anakku tapi dia tidak mau menerima darah dagingku tumbuh disana..
Aku jahat bukan?
Chanyeol mengutarakannya semuanya dalam diam diiringi air matanya mengalir secara perlahan. Chelsea pun masih melanjutkan cerita kisah kesehariannya, anak itu tak lagi berucap lirih kali ini, ada nada senang terlebih ketika ia mengetahui akan berada di Korea sampai dua minggu kedepan.
.
.
Selang 3 hari sejak hari itu, hari dimana mimpi buruk bagi Chanyeol—ia sudah kembali menyibukkan dirinya dengan pekerjaannya di Kantornya. Chelsea pun sudah tidak terlihat murung karena dirumah Ibunya ada Kyungsoo dan juga Taeoh yang bisa menghibur anak itu selama beberapa hari.
Masih tidak ada pembicaraan apapun di rumah keluarga Park mengenai kejadian hari itu.
"Jongin tidak mau menanyakkan kepada Chanyeol?" Nyonya Park berbisik pada menantunya. Kyungsoo. Mereka tengah menyiapkan buah-buahan untuk disantap bersama di ruang tengah dimana Chelsea dan Taeoh tengah berada saat ini, puteri Chanyeol tengah menjaga dan bermain bersama disana.
Kyungsoo menggeleng lalu menghela nafas berat.
"Dia pasti masih terpukul."
Nyonya Park terdiam memperhatikan bagaimana raut wajah Kyungsoo menunjukkan kegelisahan hatinya. "Aku juga tidak tahu harus berbuat apa dengan temanku itu bu. Dia keras kepala. Sangat keras kepala. Egois." Kesal yang sebelumnya sudah diluapkan pada Baekhyun kini kembali bersarang dihati wanitu itu.
"Temanmu hanya berpikir pendek.."
Kyungsoo menggeleng. "Tidak Bu. Dia memang seperti itu. Bahkan ketika aku menamparnya dua kali tidak ada rasa kesakitan. Ketika aku menceritakan hal yang harus dia ketahui, perasaanya pun tak tersentuh. Aku mengatakan padanya kalau dia tidak mau anak itu. Berikan pada Chanyeol. Setidaknya lahirkan anak itu. Itu anak mereka."
Nyonya Park mengangguk, berusaha menenangkan Kyungsoo yang kembali emosi. "Sudah.. sudah.."
Kyungsoo menghela nafas panjang lalu meminum air dingin yang cukup banyak untuk mendinginkan dirinya. Bertepatan dengan usainya menyiapkan buah untuk dua anak kecil di Keluarga itu, mereka berjalan bersama sembari membawa sajiannya.
Chelsea pun menyambutnya dengan tawa lebar dan tanpa menunggu lama anak itu sudah melahap begitu banyak buah dimulutnya. Menggoda bayi Taeoh yang hanya memperhatikan dirinya, lalu dirinya kembali mengoceh hal - hal lain sebagai teman ceritanya kepada Tante dan juga Neneknya.
Tak lama Jongin bergabung bersama mereka dengan begitu mendadak. Penunjuk waktu masih menunjukkan pukul 3 sore, dan ini pertama kalinya pria itu bisa pulang ke rumah pada jam tersebut.
"K-kau sudah pulang?" Kyungsoo menyambut dan bertanya - tanya melihat suaminya bergabung.
"Eoh." Singkatnya. Lalu raut wajahnya nampak berpikir dan meragu sejenak sebelum kembali berucap. "A-aku ingin mengajak Chelsea pergi."
"Oh. Kemana?" Tanya sang istri yang kini mulai mendekat kearah Jongin untuk mengambil tas kerja serta mantel pria itu.
"A-aku ingin membawa Chelsea menemui Baekhyun." Bisiknya pelan yang seketika membuat Kyungsoo membelakkan matanya lebar.
"YA!" sahut Kyungsoo.
"Dengarkan dulu." Jongin menarik istrinya untuk menjauh lalu ia mulai menceritakan alasannya mengajak Chelsea menemui Baekhyun saat ini.
"Bayi mereka belum digugurkan." Ia memulai menjelaskan. "Aku mencoba mencari tahu berita tentang Baekhyun dan pihak dokter belum melakukan operasi untuk menggugurkan bayinya karena belum ada tanda tangan dari Ayah Baekhyun. Aku rasa Ibunya tidak akan mau meminta Ayahnya untuk menandatangi. Kau kan tahu bagaimana keluarga mereka."
Kyungsoo mengangguk mengerti. "Jadi.. kau mau menggunakkan Chelsea untuk membujuknya?"
Jongin mengangguk. "Tidak." Lalu Kyungsoo menolak idenya hanya selang beberapa detik.
Segala ide yang ada dipemikiran Jongin seakan-akan lenyap begitu saja karena penolakan Kyungsoo.
"Tidak ada salahnya mencoba." Sanggahnya.
"Memang tidak salah. Tapi apa kau tidak takut Chelsea akan semakin merasa tertekan. Kembali bisa bertemu Baekhyun lalu dipisahkan lagi."
Jongin terdiam.
"Dia baru saja sembuh melupakan kejadian malam itu.. jangan buat dia kembali merasa sedih. Cukup Chanyeol saja yang terlihat menyedihkan disini, jangan bawa Chelsea untuk kembali merasakannya."
Ucapan Kyungsoo membuat Jongin tidak bisa berkata apapun lagi dan ketika istrinya berbalik untuk kembali bergabung dengan yang lainnya ia tetap berada di tempatnya. Tangannya bersandar pada dinding dan kepalanya menunduk untuk kembali berpikir cara apa yang bisa ia gunakkan agar Baekhyun berubah pikiran.
Otaknya berputar – putar mencari cara lainnya sementara hatinya berharapa sang Kakak juga memikirkan hal yang dengannya. Bahkan ada doa yang ia rapalkan sipaya Ayah Baekhyun tidak ikut menandatangin ijin untuk menggugurkan bayi Baekhyun dan juga Chanyeol.
Ada usapan tangan yang mengagetkan Jongin, itu adalah usapan dari Ibunya yang tersenyum lalu menggandeng tangan anaknya untuk masuk kedalam ruangan kamar sang Ibu.
"Bagaimana keadaan Baekhyun?"
Jongin masih merasa aneh ketika mendengar Ibu-nya menyebutkan nama Baekhyun mengingat ia dan Kyungsoo baru menceritakan sebagian kisah percintaan mereka tiga hari yang lalu. Singkat penjelasannya mereka katakan dan Jongin bersyukur Ayah dan Ibu-nya tidak lagi bersikap seperti saat Yoora mengandung kala itu.
"Dia baik – baik saja? Bayi mereka belum digugurkan?"
"Eomma.." Jongin membawa Ibunya untuk duduk pada sofa didalam kamar disusul dirinya disamping kanan sang Ibu. "Baekhyun baik – baik saja.. hanya saja aku tidak tahu harus berbuat apa supaya keadaan mereka membaik. Chanyeol Hyung pasti juga tidak ingin melakukannya, hanya saja.. Baekhyun begitu keras kepala."
Nyonya Park menyambut genggaman tangan Jongin lalu menepuknya perlahan. "Antar Eomma menemuinya hm.. Eomma ingin melihat langsung wajah Baekhyun dan menengok cucu Eomma."
"Eomma—" Jongin bermaksud melarang namun Ibunya lebih dulu menepuk – nepuk tangannya seakan – akan menghukumnya karena sudah bertingkah nakal.
"Antarkan Eomma." Final ucapan Ibunya tidak bisa ia bantahkan terlebih kini ada sentilan di keningnya.
Jongin tidak bisa membantah permintaan dari Ibunya itu, tanpa ia katakan setuju pun sang Ibu sudah bersiap – siap lalu berpamitan pada Kyungsoo dan Chelsea dengan mengatakan mereka hanya akan pergi ke kantor.
"Eomma yakin?" Jongin bertanya ketika mobil mereka sudah memasuki area rumah sakit dan kini tengah menuju parkiran basement.
"Stt! Kau terlalu banyak bicara!" Ibunya memukul lengan Jongin lalu ia keluar tanpa menunggu lama dan sang Ibu bahkan melangkah lebih dulu meninggalkan Jongin dibelakangnya dan harus melangkah lebar menyusul.
Lantai 5 adalah dimana mereka berada saat ini, Jongin memimpin jalan sementara dibelakangnya sang Ibu mengikuti berharap – harap cemas membayangkan bagaimana perkenala antara dirinya dan Baekhyun nantinya.
"Ini kamarnya." Jongin menunjuk pintu yang masih tertutup namun ada plat nama Byun Baekhyun disana. "A-aku akan bertemu dengannya dulu.. baru Ibu setelahnya." Sang Ibu mengangguk setuju dan ketika Jongin masuk, ia memilih duduk ditempat ruang tunggunya.
Sekitar hampir 10 menit kemudian, Jongin keluar dari ruangan itu. "Ibu bisa masuk sekarang."
Sang Ibu menatapnya dalam diam, menganggukkan kepala lalu masuk kedalam ruangan itu. Langkahnya bergerak melangkah pelan cemas akan bagaimana reaksi dari Baekhyun dan juga dirinya nanti ketika pandangan mereka saling bertemu.
Dan akhirnya ia melihatnya. Melihat wanita yang berhasil membuat putera sulungnya mengalami patah hati begitu berat dalam sejarah hidupnya.
"Annyeong.." Nyonya Park menyapa lebih dulu sementara wanita didepan menunduk malu dari posisinya yang masih berbaring di ranjang lalu berusaha untuk bisa bangkit agar dapat membalas sapaan dari wanita yang lebih tua darinya. "Oh, tidak usah bangun. Kau bisa berbaring saja.." Nyonya Park melarang namun lekas mendekat guna membantu Baekhyun yang keras kepala tetap memaksakan dirinya untuk duduk diatas ranjang,
"A-annyeong haseyo.." Baekhyun membungkuk lebih hormat. Ia pikir ucapan Jongin yang mengatakan Ibunya datang untuk menjenguk dirinya hanya ucapan kosong. Tapi ternyata pria itu berkata jujur. Dan kini Baekhyun dibuat salah tingkah dan tak tahu harus melakukan apa. Ibu Chnanyeol datang, menjenguknya, memberikan sambutan hangat dan bahkan senyuman lebar tak henti terbentuk di wajahnya ketika mata wanita paruh baya itu melihat pada monitor yang menunjukkan keadaan kandungannya saat ini.
"Oh, aku datang disaat yang tepat. Kamu belum menggugurkannya." Nyonya Park menengok memperhatikan, dan bahkan mendekat guna menunjukkan jari – jarinya pada gambar buram disana. Kandungan Baekhyun masih begitu muda dan bahkan janinnya belum terlihat jelas seperti bentuk bayi pada umumnya.
"Berapa minggu?"
"S-sudah 5 minggu.." jawab Baekhyun dengan suaranya yang teramat pelan. Gugup dan juga takut serta tidak siap bertemu secara langsung dengan Ibu dari kekasihnya—mantan kekasih tepatnya.
Nyonya Park tersenyum lalu kini berpindah untuk duduk pada kursi didekat ranjang Baekhyun. "I-ini kali kedua aku bisa melihat menantuku disaat hamil. Ketika mendiang puteriku hamil dulu, hanya Chanyeol yang menemani. Aku tidak tahu bagaimana keadaan kehamilannya sampai akhirnya Chelsea berusia 1,5 sampai 2 tahun. Kyungsoo pun demikian, mereka hanya mengabari kehamilannya lalu kembali setelah aku mengancam akan mencoret nama Jongin dari daftar keluarga kalau ia tidak membawa istrinya pulang untuk melahirkan disini."
Baekhyun mendengarkan lalu kembali teringat akan apa yang Luhan ceritakan dan juga Kyungsoo mengenai Ibu Chanyeol yang dulu menolak keras kehamilan Yoora namun pada akhirnya wanita paruh baya itu menyesalinya seumur hidup.
"Sepertinya mereka membalas dendam kepadaku.. ah, dan dirimu juga?" pandangan Nyonya Park dan Baekhyun kembali bertemu.
"A-aku tidak mencintai Chanyeol." Baekhyun mulai menjelaskan sebelum mendengarkan apa yang akan dikatakan Ibu Chanyeol. "A-aku tidak ingin mengandung anaknya." Singkatnya ia perjelas.
Nyonya Park mengangguk. "Lalu kenapa kalian bercinta hampir disetiap saat?" tanyanya berbalik. "Hanya untuk memenuhi kebutuhan nafsumu?"
Baekhyun tak bisa menjawab.
"Aku tahu puteraku itu brengsek." Ada gelengen kepala dan juga kikikan tawa dari mulut Nyonya Park, mengingat kembali bagaimana puteranya itu selalu membuat kepalanya pusing sejak jaman sekolah menengah pertama hingga atas. "Suamiku bahkan membuangnya ke luar negeri agar ia tidak membuat anak gadis di Korea atau pun wanita – wanita disini semakin menjerit –jerit karena tingkahnya. Tapi ketika dia di LA, sikap brengsek semakin brengsek." Nyonya Park lagi – lagi menggeleng.
"Ketika aku dan suamiku berkunjung ke kampusnya, semua wanita disana dan bahkan teman – teman prianya pun mengakui anakku itu brengsek. Meniduri wanita manapun, baik yang masih single atau pun bahkan yang sudah memiliki kekasih, dan juga suami. Dosennya pun ia tiduri."
Baekhyun tak berkomentar apapun selain mendengarkan dalam diam tapi air matanya mengalir secara perlahan membasahi pipinya.
"Dan ketika kami mengetahui dirinya bekerja di Bar, lalu mengurus bayi seorang diri. Dan bahkan teman sekampusnya menghina dirinya dengan kata – kata tidak pantas. Ia tetap menjaga Chelsea dan membesarkannya. Ia bahkan mau melanjutkan kuliahnya di jurusan lain agar kami bisa memaafkan dan mau menerima Chelsea.." kini giliran Nyonya Park yang menangis, mengusap pipinya dan menahan air matanya untuk tak lagi mengalir agar ia bisa melanjutkan ceritanya.
"Kami membawanya pulang ke Korea agar ia bisa fokus melanjutkan kuliahnya dan juga belajar di Perusahaan namun meskipun demikian ia tetap mencurahkan perhatiannya pada Chelsea, ia bahkan tidak mengijinkan aku memegang Chelsea sepenuhnya. Ia hanya menitipkan Chelsea ketika berangkat bekerja atau kuliah. Disitulah aku tahu, setiap manusia bisa berubah menjadi lebih baik bila ada sosok yang begitu ia cintai dihidupnya. Chanyeol mencintai dan menyayangi Yoora, dan ia pun merasakan yang sama terhadap Chelsea. Ia benar – benar menganggapnya sebagai puteri sendiri."
Air mata Baekhyun semakin mengalir mendengarnya. Egonya benar – benar berharap Nyonya Park berhenti bercerita mengenai Chanyeol namun hatinya merasa rindu ingin menanyakkan bagaimana keadaan pria itu saat ini.
"Aku yakin ia hancur saat ini." Seakan – akan Nyonya Park bisa membaca pikiran hatinya, wanita paruh baya itu kembali melanjutkan bercerita mengenai keadaan Chanyeol saat ini. "Dia baru saja menandatangi surat kematian anak kandungnya, anak yang dikandung oleh wanita yang ia cintai.. aku melihat ia hancur karenamu. Apa yang harus wanita tua ini lakukan supaya anaknya bisa merasa utuh kembali?"
Tangan Baekhyun mengusap cepat air matanya lalu menggeleng, tak tahu kalimat apa yang harus ia berikan sebagai jawaban kepada Ibu Chanyeol.
"Apa aku harus memohon padamu? Atau aku harus memohon langsung pada Ibu-mu? Katakan saja.. aku akan melakukannya—"
"T-tidak.. Anda tidak harus melakukannya—" Baekhyun melarang namun sedetik kemudian ia panik karena Nyonya Park lebih dulu berlutut dilantai dan bahkan mulai membungkuk hendak memohon agar Baekhyun mau mempertahankan bayinya.
"Anakku akan merawatnya, dia cucuku—"
"Ahjumma.. jangan seperti ini." Baekhyun hendak beranjak turun dari ranjang melarang Nyonya Park untuk berlutut dan memohon kepada dirinya, tapi Jongin lebih dulu masuk dan berteriak kearah sang Ibu.
"Ya! Eomma!" Jongin memegangi sang Ibu dan hendak membawanya untuk bangkit berdiri namun sang Ibu menolak dan tetap bersimpuh menghadap Baekhyun yang hampir beranjak turun.
"Biarkan cucuku hidup.. cucuku—"
"Eomma!" Jongin mengangkat paksa tubuh Ibunya lalu membawanya ke dekapannya. "Hentikkan Eomma, Baekhyun tidak pantas mendengar permohonannmu seperti ini." Ada rasa kesal terdengar diucapannya melihat apa yang Ibu-nya lakukan memohon pada Baekhyun demi cucunya, terlebih Baekhyun tidak melakukan apapun selain memperhatikan mereka berdua.
"Kau puas?!" Jongin membentak pada Baekhyun dan wanita itu tersentak. "Lihat apa yang kau lakukan! Kau—"
"Jongin-ah.. Eomma tidak apa – apa.." sang Ibu lebih dulu menahan emosi anaknya untuk tak menguar dan mengumpatkan kata – kata kasar. "Ayo, kita pulang. Baekhyun pasti kurang beristirahat.. kasihan cucu Eomma terganggu.."
Baekhyun kembali terhenyak pada ucapan Nyonya Park yang bahkan mengkhawatirkan cucunya meskipun dalam beberapa hari janin ini akan ia gugurkan.
Jongin mengeluh kasar dan tak lagi ingin mengumpat dihadapannya Ibunya, ia membawa sang Ibu melangkah keluar untuk kembali ke mobil dan rumah mereka.
LOVELESS
"Eomma menemuinya?"
Nyonya Park terduduk lemas dan tak bisa menyangkal apa yang ditanyakkan oleh Chanyeol kepadanya.
"Eoh.."
"Eomma!" anaknya berteriak marah.
"Dengarkan Eomma dulu." Nyonya Park lebih dulu menghampiri Chanyeol dan menenangkan anaknya yang terlihat benar – benar marah karena apa yang ia lakukan hari ini. "Kau tidak mengijinkan Eomma bertemu Baekhyun dan juga cucunya?"
"Eomma!"
"Ssst! Kalian ini sama saja semuanya." Ibunya memprotest Chanyeol dan juga mengingat lagi akan Jongin yang selalu memotong ucapannya dan juga berteriak kesal. "Eomma hanya ingin bertemu dan melihat wanita yang sudah menghancurkan anak tampan Eomma, tidak boleh?"
Chanyeol menhgela nafas enggan beradu mulut dengan Ibunya disaat dirinya lelah akan pekerjaan dan juga suasana hatinya yang belum sembuh dari luka yang diciptakan Baekhyun.
"Eomma hanya membantu sedikit.. dan juga ingin bertemu langsung dengan Baekhyun." Nyonya Park mengusap punggung anaknya lalu membawa mereka untuk duduk pada sofa.
"Dia cantik. Sangat manis.." pujanya mengomentari bagaimana kesannya ketika bertemu Baekhyun. "Eomma yakin anak kalian pasti akan sangat cantik dan tampan nantinya.."
Chanyeol menggeleng dan tertawa menyindir pada dirinya sendiri. "Anakku tidak akan lahir Eomma, jangan membayangkan hal yang tidak akan menjadi nyata.."
Nyonya Park tersenyum, mengusap lembut lengan Chanyeol. "Percayalah pada Ibu Chanyeol-ah.. meskipun Baekhyun keras kepala, tapi dia tetap wanita yang mudah rapuh hatinya."
Chanyeol menggeleng. "Ibu beristirahatlah.. jangan terlalu memikirkannya." Ia beranjak bangun lalu kembali ke kamarnya.
Chelsea menyambutnya dengan senyuma lebar sembari menunjukkan boneka Barbie barunya yang memakai baju berwarna pink.
"Daddy! Jongin samchon membelikannya untuk Chelsea."
Chanyeol membalasnya dengan senyuman lebar. Puterinya lebih dulu sembuh dari luka yang diakibatkan Baekhyun dan ia tidak mungkin membuatnya kembali terluka larut dalam kesedihan dengan mendengar cerita Chanyeol mengenai apa yang terjadi dengan Baekhyun. Chanyeol membaringkan tubuhnya dan turut membawa Chelsea pada pelukannya dan tentu saja puterinya itu memberontak karena ayahnya menciumi pipinya berulang kali dan membuatnya risih.
"Aaaaahhh—Daddy geli!"
.
.
"Keadaanmu sudah lebih baik, Aku akan meminta perawat untuk melepaskan infuse-nya." Dokter Jung yang menangani Baekhyu selama beberapa hari berucap demikian setelah melakukan pemeriksaan terhadap kondisi Baekhyun.
"Kami masih menunggu tanda tangan persetujuan dari Pihak Keluargamu Nona Byun." Lanjutnya setelah melihat surat persetujuan mengenai rencana pengangkatan janin Baekhyun belum lengkap karena belum ada tanda tangan dari Ayah Baekhyun.
"A-aku akan menghubungi Ibuku mengenai hal ini."
Dokter Jung mengangguk lalu pamit meninggalkan Baekhyun kembali seorang diri di ruangan inapnya. Sudah mau memasuki hari kelima dan ia selalu dibiarkan seorang diri disana. Seung-wan dipaksa Ibunya untuk tetap pergi berbulan madu meskipun adiknya itu bersikeras menunda dan memilih menemani Baekhyun, tapi Baekhyun juga tidak mau membiarkan adiknya melewatkan liburan bulan madunya begitu saja. Ia ikut memaksa Seung-wan pergi.
Pikirnya Sang Ibu akan menggantikan Seung –wan menemaninya dirinya di rumah sakit, tapi tidak. Sang Ibu lebih memilih tetap bekerja dan bahkan datang sesekali hanya untuk menanyakkan apakah Ayahnya sudah menandatangi surat persetujuannya atau belum.
Baekhyun menunduk dalam posisi duduknya, memikirkan hidupnya yang terasa sepi sedari dulu dan bahkan ketika dirinya terpuruk saat ini. Ia dengan ragu – ragu mengusap perutnya merasakan bagaimana keadaan dialam sana yang terdapat kehidupan namun dalam waktu dekat bayinya akan pergi.
"Mianhe.." ia berucap masih menunduk memandangi perutnya.
"Mianhe.."
"Mianhe.."
Berulang kali Baekhyun mengucapkan satu kata itu sembari menunduk hingga air matanya mengalir dan sesak hatinya kembali terasa.
"Kamu meminta maaf untuk siapa?" ada suara yang terdengar bergabung dengan dirinya, Ayahnya. Tuan Byun melangkah mendekat dan lekas duduk pada sofa yang berada didekat jendela ruangan inap Baekhyun.
"Jadi kamu benar – benar hamil?" Sang Ayah bertanya menunggu jawaban pasti dari puterinya yang membalas tatapannya.
"Aku pikir Ibumu berkata hal yang tidak masuk akal memaksaku datang dan menandatangi surat persetujuan untuk ijin menggugurkan bayimu." Ada kekehan dan juga gelengan kepala dari Sang Ayah.
"Tanda tangani saja surat itu dan lekas kembali ke New York." Jawabnya dingin , merubah posisinya untuk kembali berbaring memunggungi Ayahnya.
Ada keterdiaman cukup lama dan Baekhyun enggan mencari tahu apa yang dilakukan Ayahnya dengan duduk berdiam tanpa ada sahutan untuk mengiyakan menandatangi surat persetujuan ijinya.
"Dimana kekasihmu?" Ayahnya bertanya lagi dan Baekhyun mengunci mulutnya untuk menjawab. "Kenapa dia dengan mudahnya memberikan ijin hm?"
"Kami tidak menginginkannya." Ketus suaranya terdengar menjawab pertanyaan dari Ayahnya.
"Kami? Atau itu hanya keinginan Ibumu?"
"Kalau Ayah hanya ingin berbicara omong kosong, sebaiknya pergi dan tanda tangani suratnya."
Sang Ayah menghela nafas dan menggeleng, puterinya belum berubah sama sekali. Dingin dan cuek.
"Hanya pria brengsek yang mau menandatangi surat persetujuan ini Baekhyun-ah.." Ayahnya kembali berucap dan suaranya terdengar lebih dekat. "Kenapa kau mau dihamili oleh pria brengsek hm? Bukannya dirimu tidak mau berpacaran dan memiliki hubungan serius? Kenapa malah akhirnya kamu hamil dan sekarang akan membunuh anakmu sendiri?"
Baekhyun bangkit dari posisinya lalu menatap marah pada sang Ayah didekatnya.
"Untung apa Ayah peduli?!" kesalnya menjawab.
"Aku masih Ayahmu Byun Baekhyun, kesalahanmu adalah tanggung jawabku. Kau lihat? Bahkan untuk membunuh bayimu saja aku harus datang dan bertanggung jawab."
Ucapan sang Ayah membuat dirinya merasa kesal karena harus berurusan dengan Ayahnya disaat seperti ini. Dipermalukan didepan Ayahnya.
"Jangan keras kepala seperti Ibumu." Ucapan Ayahnya terdengar datar namun raut wajahnya menunjukkan rasa marah. "Ini hidupmu, kamu yang seharusnya menjalani semuanya, mengambil keputusan dan juga menikmatinya dengan caramu, bukan cara Ibumu."
"Ini keputusanku!" jawab Baekhyun dengan suara tinggi.
"Keputusannmu? Membunuh anakmu sendiri?"
Baekhyun seketika terdiam bergeming lagi tidak tahu harus membalas apa atas pertanyaan Ayahnya.
"Ayah akan mencari nama kekasihmu ini dan bertanya langsung padanya, setelah itu baru akan aku pertimbangkan apa perlu menandatanganinya atau tidak." Tanpa mendengar jawaban puterinya, Tuan Byun melangkah berlalu begitu saja meninggalkan Baekhyun kembali seorang diri.
Ia merutuki dirinya kenapa harus berada dirumah sakit, ia merutuki kenapa proses menggugurkan bayinya begitu memakan waktu, ia merasa kesal akan semuanya terlebih pada dirinya sendiri dan lagi – lagi air matanya mengalir membasahi pipinya.
.
.
Chanyeol merasa gugup sejak 30 menit yang lalu ketika dirinya tiba pada sebuah café yang menjadi tempat janji temunya bersama sosok Ayah Baekhyun. Berulang kali ia mengingatkan untuk tetap tenang dan juga menghapal kata – kata perkenalan untuk memberikan kesan baik terhadap kekasih Ayahnya, tak lupa ia pun menyiapkan permohonan maaf yang cukup panjang mengingat dirinya sudah menghamili puteri sulung keluarga Byun.
"Park Chanyeol benar?"gugupnya semakin menguar diiringi mulutnya yang kaku untuk membalas sapaan dari sosok paruh baya yang tengah menyodorkan tangannya untuk disambut hangat.
"N-ne. Park Chanyeol imnida…" Chanyeol menyambut tangan Tuan Byun dan sedikit membungkuk bermaksud memberikan hormat.
Tuan Byun tersenyum lalu mempersilahkan Chanyeol kembali duduk namun ternyata Chanyeol bergerak cepat untuk memundurkan kursi dihadapannya dan mempersilahkan Tuan Byun untuk duduk lebih dulu baru setelahnya ia kembali duduk. Mereka saling berhadapan dan kembali canggung dalam diam sejenak.
"Kamu sudah memesan minuman?" Tuan Byun sekilas melihat kearah Chanyeol yang mengangguk.
"Sa-saya sudah memesan Americano.."
Tuan Byun mengangguk, lalu ia memanggil salah satu pelayan dan memesan minuman untuk dirinya. Setelah sang pelayan pergi, mereka kembali diam satu sama lain. Melihat Tuan Byun belum akan berucap satu kata pun terhadapannya, Chanyeol memberanikan diri untuk bangkit lalu kembali membungkuk dan bahkan berlutut dilantai sembari mengarahkan tangannya untuk memohon ampun.
"Ma-maafkan atas apa yang saya lakukan terhadap puteri Anda Tuan." Chanyeol menunduk, membungkuk sebanyak tiga kali dan terus meminta maaf.
Sejujurnya Tuan Byun tidak berharap pria yang diketahui sebagai kekasih Baekhyun ini akan melakukan hal demikian karena yang ia ingat, pria itu sudah menandatangani dokumen persetujuannya. Karena merasa risih dan juga malu melihat Chanyeol dihadapannya melakukah hal itu.
Nyatanya, Park Chanyeol tidak brengsek seperti yang ada di bayangannya.
"B-bangunlah." Tuan Byun berbisik kearah Chanyeol dan juga membawa badan besar pria itu untuk bangkit. "Kau membuatku malu disini.." kekehnya yang disambut dengan tatapan bingung dari pria itu.
"M-maafkan saya." Chanyeol membungkuk lagi.
Mereka kembali terdiam, salah satu pelayan membawakan minuman yang dipesan oleh Tuan Byun ke meja dimana mereka duduk dan keduanya masih mengunci mulut satu sama lain.
Tuan Byun mulai menyesap kopi yang ia pesan lalu memandang kearah Chanyeol yang mengikutinya, menyesap kopi milinya sendiri dan tetap menunduk menunggu dirinya untuk mulai angkat bicara.
"Aku memintamu datang karena ingin menanyakkan mengenai Baekhyun." Tuan Byun memulai.
"Kenapa mudah sekali untukmu menandatangi surat itu?" tanyanya membalas tatapan Chanyeol kearahnya.
"Bo-boleh saya berkata jujur?" Chanyeol meminta ijin dan Tuan Byun mengangguk pasti.
"Sa-saya tidak ingin bayi kami digugurkan."
Tuan Byun terus memperhatikan bagaimana sosok pria muda dihadapannya berbicara begitu yakin meskipun ada gugup terlihat dari wajahnya.
"Saya mencintai puteri Anda, dengan tulus. Dan sejak awal kami bertemu.. saya ingin memilikinya, seutuhnya, menikah dengannya dan membangun rumah tangan bersama. Tapi setelah kejadian dimana Baekhyun diketahui tengah hamil, ia memilih pergi kabur dari apartemen dan ketika saya bertemunya disini, ia mengatakan ingin menggugurkan anak kami. Ia tidak menginginkan ada darah daging saya tertanam dirahimnya, ia tidak menginginkan bayi itu tumbuh berkembang ditubuhnya."
Tuan Byun mendengarkan , menyesap minumannya lalu mulai berucap kata lain terhadap Chanyeol.
"Dan kau semudah itu mengiyakan?"
Chanyeol mengangguk.
"Nyonya Byun memberikan peringatan dan puteri Anda memohon kepada saya dengan sungguh – sungguh. Mereka memiliki keyakinan bahwa hubungan kami kedepannya tidak akan seindah yang dibayangkan.. jadi aku membebaskannya daripada ia terus menderita merasa terpaksa untuk mau menikahiku nantinya."
"Menikah?"
"Ne, saya sempat melamar Baekhyun di hari pernikahan Seung-wan kala itu.. tapi dia menolak." Chanyeol memaksakan senyumnya terbentuk diwajahnya seakan – akan hal itu adalah hal yang lucu buatnya.
"Lalu?"
Chanyeol menatap bingung. "La-lu maksudnya?"
"Hanya itu saja usahamu?"
Chanyeol merasa tertohok mendengar apa yang ditanyakkan Tuan Byun untuknya, kembali ada rasa bersalah dari dirinya yang begitu mudah mengabulkan apa yang Baekhyun inginkan saat itu, tapi ia juga tidak bisa menahan dirinya melihat wanita yang begitu Ia cintai sepenuh hati memohon dengan sangat padanya.
"Awalnya aku ingin mempertahankan, memperjuangkan anak kami.. tapi aku kembali teringat dengan apa yang Baekhyun alami saat Anda memutuskan berpisah dengan Nyonya Byun. Anda memberikannya kebebasan pada Nyonya Byun meskipun itu menyakiti kedua puteri Anda, Anda memberikan pilihan yang Nyonya Byun inginkan, move on dan memilih hidup baru tak lagi terikat dengan Nyonya Byun."
Tuan Byun tersenyum kecil. "Aku sejujurnya berharap dia akan bahagia dengan segala egonya." Sahutnya mengenai ucapan Chanyeol tentang diriya dan mantan istrinya kala itu. "Tapi ternyata ia menderita. Kedua puteriku menderita dan bahkan salah satunya memelihara dendam hingga saat ini."
Chanyeol menyimak semuanya.
"Terkadang menuruti apa yang diinginkan orang yang kita cintai untuk melepasnya adalah pilihan salah."
Chanyeo mengangguk.
"Kau setuju dengan ucapanku?" Tuan Byun kembali bertanya dan Chanyeol mengangguk lagi.
"Terkadang ego bisa mengalahkan hati semudah itu." Chanyeol menyahut mengambil kesimpulannya dari perbincangan ini.
"Hati wanita itu susah untuk diajak berpikir jernih." Kekeh Tuan Byun sembari ia menyesap kopinya untuk kesekian kalinya. "Jadi? Apa yang harus aku lakukan? Membiarkanmu kembali berjuang atau mengikuti ego mantan istri dan puteriku?"
Chanyeol menatap pandangan mata Tuan Byun begitu dalam, dirinya kembali bertanya pada lubuh hatinya yang mungkin hanya ada bagian kecil yang tersisa disana bila mencari nama Baekhyun. Pikirannya berputar mencari segala alasan yang cukup kuat untuk memberikan jawaban, perasaanya kembali terombang ambing layaknya kapal yang tengah beradu dengan ombak dan badai di tengah laut. Berusaha tetap kokoh tak goyah atau terbalik hancur saat menunggu langit baru nan cerah menyambutnya dengan hangat.
LOVELESS
Lima Bulan kemudian,
Tidak ada yang berubah dengan rutinitas dari Chanyeol meskipun ia sudah melalui lima bulan semenjak kepulangannya dari Seoul waktu itu. Mengurus Chelsea, mengantar puterinya ke sekolah lalu kembali bekerja dan malamnya pun diisi dengan keseharian bersama Chelsea, sama seperti waktu ketika ia belum bertemu dengan Baekhyun atau kini sedikit berbeda. Hanya sedikit.
"Chelsss! Come on! Ini sudah setengah delapan!" Chanyeol berteriak dari arah dapur, berkutat dengan sarapan untuk disantap oleh keduanya sementara Chelsea masih belum selesai juga bersiap – siap di kamarnya.
"Chelsss!" Chanyeol kembali berteriak memanggil.
"Iya Daddy iyaa.." puterinya menyusul, kesulitan membawa tas dan juga beberapa buku pelajarannya dan juga mantelnya. Rambutnya masih terlihat berantakkan karena kunciran yang ia bentuk tidak bisa sesuai seperti yang ia inginkan.
"Ini sudah jam berapa Princess.." suara berat milik Ayahnya melembut sementara tangan – tangannya bersigap menyiapkan sarapan di meja makan pada area dapur mereka. "Makanlah." Chanyeol menyodorkan sandwich dengan isian daging tipis dan beberapa sayuran serta beberapa potongan buah pada piring lainnya.
"Rambut Chelsea berantakkan, tidak cantik." Anaknya mengeluh, mulutnya merengut tak suka dan Chanyeol sudah mengerti apa yang harus ia lakukan setelahnya
Chanyeol lekas berpindah untuk berdiri dibelakang puterinya yang tengah duduk, tangan dan jarinya mulai menyisir rambut puterinya dan kemudian mengikatnya dengan kunciran bergambar buah strawberry disana.
"Sudah. Sekarang sudah cantik." Chanyeol mengusap rambut puterinya, menciumnya dengan sayang lalu ikut menyantap sarapan.
Chelsea sesekali melihat tampilannya dan cukup puas dengan tatanan kunciran yang baru saja dilakukan oleh sang ayah.
"Daddy tidak menjemput ya, Daddy ada meeting saat makan siang nanti." Chanyeol mengingatkan akan pembicaraan dengan Chelsea pada malam kemarin yang mengatakan ia akan sangat sibuk hari ini dan tidak bisa menjemput atau mungkin pulang tepat waktu nantinya.
"Irene yang menjemput Chelsea?" anak itu bertanya.
"Tentu saja."
"Bukan tante model itu kan?" Chelsea melirik kesal kearah Chanyeol yang tak menjawab langsung pertanyaannya.
"Chels—"
"Daddy, Baekhyunnie itu Mommy Chelsea disekolah, jadi aku tidak mau tante model itu yang menjemput." Chelsea berucap seakan – akan anak itu tengah memberikan pelajaran penting kepada Ayahnya.
"Chelsea tidak suka!" lagi Chelsea memperingati.
Chanyeol menghela berat mengingat lagi bagaimana anaknya itu marah dan bahkan membanting pintu kamar ketika ia membawa tante model bernama Sanne Vloet untuk mampir ketika mereka akan berangkat pada jamuan makan malam untuk acara brand dari rumah mode dimana perusahaan Chanyeol ikut andil dalam pembangunannya.
"Daddy kenapa jahat sih. Baekhyunnie tidak ada lalu Daddy bisa pergi berkencan dengan tante model itu." Chanyeol mau tak mau kembali mendengarkan segala keluh kesal dari puterinya yang bahkan memiliki sifat pencemburu sama seperti Baekhyun.
"Chels.. Baekhyunnie sudah pergi dari hidup kita—"
"Ani! Baekhyunnie tidak pergi, tapi Daddy yang tidak mau membawanya pulang." Puterinya kembali menjawab dan ia yakin pembicaraan ini akan memakan waktu cukup panjang dan ia enggan untuk melanjutkannya saat ini mengingat masih ada meeting dan juga dokumen – dokumen mengenai bangunan yang akan dibangun harus ia periksa dalam beberapa waktu kedepan.
"Habiskan sarapanmu." Tutupnya lalu melenggang untuk mengambil jas dan juga mantelnya.
Tidak ada pembicaraan lebih lanjut mengenai topik yang sempat dibicarakan ketika mereka berada diruang makan tadi. Chelsea menyibukkan diri dengan ponsel miliknya sementara Chanyeol fokus dengan jalanan yang sudah begitu padat di pagi ini. Bahkan ketika mobil Chanyeol tiba di sekolah Chelsea, puterinya lekas keluar dari mobil tanpa berpamitan dan mencium pipi Ayahnya seperti sebelum – sebelumnya.
Lagi – lagi Chanyeol menghela nafas berat lalu membawa mobilnya untuk bisa segera sampai di kantor dan menemui permasalah yang bisa ia atasi dengan lebih mudah dibandingkan dengan puterinya.
Irene menyambutnya tepat ketika ia keluar dari lift yang langsung menuju dimana ruangannya berada, sepupunya itu tersenyum sinis dengan menunjukkan satu kotak kecil berwarna hitam dan terdapat kartu ucapan disana.
"Welcome Boss, ada hadiah untukmu pagi ini. Lagi." Sindirnya memberikan kotak itu pada Chanyeol dengan kasar.
Sama seperti Chelsea, Irene juga kini lebih posesif dan cemburu akan apa yang ia lakukan dalam waktu beberapa bulan belakangan.
Sebenarnya ia tidak sepenuhnya salah. Ia hanya berusaha move on seperti yang dilakukan para pria lainnya yang pernah mengalami patah hati atau kehancuran dalam dunia percintaan. Kalau boleh untuk diceritakan ulang, semenjak ia bertemu dengan Tuan Byun lima bulan yang lalu, ia sudah berusaha untuk mempertahankan hubungan dan juga anaknya, namun nyatanya. Baekhyun tak ingin untuk diperjuangkan seperti itu. Tuan Byun menyampaikan bahwa ia sudah berusaha namun Nyonya Byun tetap meminta Dokter lain atau lebih tepatnya proses illegal untuk menggugurkan kandungan Baekhyun.
Dan semenjak itu, Chanyeol perlahan - lahan berusaha untuk melupakan Baekhyun, melupakan segala kenangan yang pernah mereka alami bersama dengan mencoba membuka dan menyusun keadaan hatinya untuk wanita lain. Hingga akhirnya ia bertemu dengan Sanne, model Victoria's Secret yang tanpa sengaja bertemu dengannya ketika ia tengah disibukkan pada proyek pengerjaan rumah mode di New York.
Perkenalannya tidak serumit perkenalan dirinya dengan Baekhyun, mereka saling bersalaman, bertukar nama, nomor ponsel, lalu dengan mudahnya dimulai dengan makan siang bersama, berlanjut dengan mudahnya pada acara makan malam lalu sedikit cumbuan mesra. Hingga akhirnya Chanyeol membawa wanita itu ke apartemennya untuk bertemu langsung dengan Chelsea sebelum acara makan malam besar untuk proyeknya, berharap puterinya mau menerima seperti ketika ia menerima Baekhyun, tapi yang didapat adalah pintu kamar yang tertutup keras.
Chanyeol tetap berusaha mengajak Sanne untuk masuk lebih jauh di hidupnya, membawa wanita itu untuk menjemput Chelsea disekolah, masih berharap dan membayangkan puterinya akan menerima. Sama seperti ketika ia membawa Baekhyun ke sekolah puterinya. Namun lagi – lagi penolakan yang didapat. Puterinya bahkan memilih berjalan kaki dibandingkan berada dalam satu mobil yang sama dengan Ayah serta kekasihnya.
Semuanya begitu terasa rumit dan sulit untuk dilanjutkan namun ia tetap bertahan karena Sanne pun mengerti hubungan mereka tidak akan mudah.
"Apa itu hadiah untuk membujukmu bergelung dalam percintaan panas?" sindir sepupunya dan Chanyeol cukup kuat untuk tidak ikut berkomentar atas ucapan Irene.
Ya, Irene pun juga melakukan protes keras mengenai hubungannya dengan Sanne. Bila Chelsea memprotest dengan gebrakan pintu, mendorong Sanne atau pun menolak berada dalam satu tempat yang sama dengan kekasihnya itu. Irene lebih kejam dan menggila dalam melakukannya mengingat wanita ini lebih dewasa dan cukup matang dibandingkan puterinya.
Sindiran, tumpahan minuman, atau pun setiap kegagalan dari kencannya bersama Sanne adalah ulah dari Irene keseluruhannya. Chanyeol bahkan selalu ngeri membayangkan bila Chelsea dan juga Irene bersatu melawan dirinya.
"Apa jadwalku pagi ini?" ia menghempaskan segala bayangan buruk gabungan kekuatan Irene dan Chelsea jauh – jauh dan memilih untuk fokus ke pekerjaannya hari ini.
"Tentu saja bukan berkencan Boss, apakah Anda tidak bisa melihat notifikasi agenda di ponsel Anda? Saya sarankan Anda tidak terus sexting dengan kekasih Anda saat bekerja supaya bisa lebih fokus."
See. Irene dengan mulut pedasnya sudah menyambutnya mengajak perang.
"Ingatkan aku bahwa kau sepupuku dan juga bawahanku." Chanyeol bermaksud memperingati akan sikap Irene terhadap dirinya.
"Anda juga perlu ingat, saya adalah sepupu dan tante dari puteri Anda dan juga satu – satunya yang bisa membongkar percintaan tidak sehat yang Anda lakukan kepada kedua orang tua Anda." Irene membalas ketus lalu kembali duduk dan mulai berkutat pada pekerjaannya.
Chanyeol menggeleng menyerah lalu masuk kedalam ruangannya mencari pengalihan dengan bekerja.
.
.
Chelsea menunggu gusar sembari melihat ke kanan dan ke kiri mencari kemungkinan keberadaan dari Irene yang seharusnya sudah menjemputnya sejak 20 menit yang lalu. Lingkungan sekolahnya bahkan sudah mulai sepi dan hanya tersisa beberapa siswa dan siswi disekitarnya yang mana mereka tengah menunggu kelas tambahan. Ia juga terus memeriksa pada kolom chat di ponselnya menunggu balasan dari Irene yang tak kunjung menjawab. Chelsea kembali untuk duduk pada kursi yang berada di dekat halte sekolahnya masih memeriksa sekelilingnya berjaga – jaga bila dalam waktu dekat Irene menjemput.
Baru beberapa saat ia kembali memainkan ponselnya, sosok yang tiba – tiba duduk pada tempat kosong disampingnya membuatnya teralihkan dan rasa penasarannya menguar tinggi hingga wajahnya menoleh, ingin melihat siapa yang berada disampingnya.
Seiring dengan pandangan matanya yang menangkap sosok wanita itu, raut wajahnya berubah sendu meskipun hatinya terasa sangat bahagia karena rindu yang selama ini tertahan dan tidak mendapatkan jawaban, kini terjawab.
"Annyeong." Suaranya bahkan masih sama merdunya seperti yang selama ini ia rindukan.
Mulutnya tak sempat menjawab karena air matanya lebih dulu mengalir karena luapan bahagia bersamaan dengan gerak tangannya yang langsung mendekap tubuh wanita itu dengannya.
Tangisnya pecah dengan begitu mudah disertai segala luapan kata yang selama ini ia tahan. Dan bukan hanya Chelsea yang bersikap demikian, Baekhyun pun merasakan hal yang sama. Ia ikut menangis, membalas pelukan Chelsea layaknya Ibu yang sudah lama dipisahkan dari sang anak. Ini salahnya, menunggu hingga lima bulan untuk berani kembali menemui bagian hatinya yang sempat ia kecewakan dan hancurkan begitu dalam.
Mendapati Chelsea menyambutnya dengan begitu hangat, ia berharap pria yang telah ia hancurkan hatinya bisa menyambutnya sama seperti yang Chelsea lakukan, mengingat ada bagian kecil dari dirinya yang juga harus disambut kembali dalam kehidupan mereka.
.
.
Tbc.
.
.
.
.
.
Hohohoho~ mari biarkan Daddy move on dulu
