"Baekhyunnie kapan datang?" suara menggemaskan bernada riang dan juga penuh semangat terdengar jelas dari mulut Chelsea. Anak itu tengah memandang ke arah wanita dewasa dihadapannya yang masih mempertahankan senyumannya meskipun kini mereka sudah berpindah duduk bersama di café gelato tak jauh dari sekolah Chelsea.
"Baekhyunnie menginap dimana?" pertanyaan yang pertama belum dijawab oleh Baekhyun namun anak itu sudah menanyakkan lagi pertanyaan yang lain.
"Chels, makan dulu yang benar." bukan suara Baekhyun yang menginterupsi dua pertanyaan Chelsea, melainkan tantenya, Irene yang sudah ikut bergabung dengan mereka tak lama setelah pertemuan keduanya.
"Btw, aku kira minggu depan kau baru datang ke New York, Kyungsoo tidak menginformasikan padaku.."
Baekhyun tersenyum membalas ucapan Irene, tangannya bergerak lebih dulu membantu Chelsea yang kesulitan membersihkan sisa - sisa cokelat di seragamnya.
"Baekhyunnie baru datang dua hari yang lalu.. aku masih tinggal di apartemen yang lama." kini ia mengusak rambut Chelsea turut merapikan kunciran rambut anak itu yang berantakan. "Aku sengaja datang lebih cepat, kebetulan Ayahku kemarin juga pulang, jadi aku ikut." Baekhyun turut membalas pertanyaan dari Irene dan wanita itu mengangguk, membalas pandangan Baekhyun sebelum kembali dialihkan pada Chelsea yang berada ditengah - tengah mereka.
"Berarti nanti malam kita bisa makan malam bersama lagi kan? Baekhyunnie menginap di kamar Daddy lagi kan?" anak itu kembali bertanya dengan penuh harapan bahwa keadaan yang sudah berlalu lebih dari lima bulan bisa kembali seperti sedia kala, sebelum semuanya terjadi. Tapi tidak dengan dua wanita dewasa yang kini berbalas tatap penuh keraguan karena hanya mereka berdua yang tahu, semuanya tidak akan kembali semudah itu.
Baekhyun berusaha mempertahankan senyuman diwajahnya ketika ia beralih memandang kearah Chelsea. "Baekhyunnie harus mengurus beberapa urusan.. baru nanti akan bertemu Daddy setelahnya."
"Eung?" respons Chelsea terdengar tak setuju dengan jawaban dari Baekhyun. "Kenapa begitu? Irene bisa menelepon Daddy sekarang dan memberi tahu ada Baekhyunnie disini, pasti Daddy segera datang menjemput."
"Chels—" sahutan Irene terpotong oleh gerak tangan Baekhyun yang menggenggam lengan wanita itu serta gelengan kepalanya. Ada senyuman yang terpaksa diperlihatkan di wajah Baekhyun terhadap Chelsea yang tak memahami situasi sebenarnya.
"Chels, jangan beri tahu Daddy dulu ya kalau Baekhyunnie sudah kembali."
"Eoh~?"
Anak itu kembali menunjukkan ketidaksetujuannya.
"Baekhyunnie masih ada keperluan lain.. dan pula.. bukankah kita harus memberi kejutan untuk Daddy?" Jawabannya dan kedipan mata yang Baekhyun lakukan lekas disetujui oleh Chelsea dengan anggukan kepala dan juga tawa gemasnya.
Gadis kecil itu kembali teringat akan pertanyaannya mengenai mengapa Baekhyunnie memiliki balon di perutnya. Terlebih nyatanya balon yang dimaksud adalah adiknya.
LOVELESS
Flashback
"Kenapa kau masih belum menandatangani suratnya?!"
Suara dengan nada penuh kekesalan menyambut Ayah Baekhyun ketika dirinya baru saja melangkah masuk ruangan rawat inap puterinya dan kini langkahnya harus terhenti karena mantan istrinya itu menahannya dengan bertolak pinggang dan juga menatap marah kearahnya.
Tuan Byun menghela nafas dan menggeleng tak percaya, sosok Ibu dari Baekhyun begitu terburu - buru ingin membunuh cucunya sendiri.
"Tak bisakah kau tenang?!" lantangnya menjawab, kembali melangkah demi menghampiri Baekhyun yang tengah memperhatikan mereka sedari tadi.
"Aku sudah bertemu dengan kekasihmu."
Raut wajah Ibu Baekhyun menunjukkan rasa tidak percaya akan ucapan yang baru saja disampaikan suaminya pada Baekhyun.
"Kau?! Bertemu dengan Chanyeol? Untuk apa?! Mengemis cinta?"
Sejujurnya Tuan Byun menyesal datang disaat ini dan bertemu mantan istrinya, ia sudah mengira dan membayangkan penjelasan panjang mengenai hasil pertemuannya dengan Chanyeol kemarin tidak akan diterima oleh mantan istrinya.
"Ya, aku bertemu kekasih Baekhyun dan mendengarkan cerita lelaki itu yang mengemis cinta dari puterimu. Puas? Perlu kau ketahui, Chanyeol-lah yang mengemis cinta pada puteri-mu. Persis seperti yang kau lakukan 28 tahun yang lalu."
Baekhyun tertegun sesaat mencoba kembali mengulang memorinya dari apa yang baru saja ia dengar juga melihat bagaimana raut wajah Ibunya yang kembali terlihat kesal namun urung menyahuti ucapan Ayahnya.
"Pergilah, aku ingin berbicara dengan Baekhyun. Empat mata."
Terdengar dengusan kesal dari Ibu Baekhyun, "Aku tidak akan ke mana - mana, bicarakan saja apa yang ingin kau sampaikan. Aku akan tetap berada disini." mutlak ucapannya ditunjukkan dengan gerak angkuh tubuhnya yang berpindah duduk pada sofa di sudut ruangan itu.
Ayahnya menggeleng, masih tak percaya dirinya harus kembali berhadapan dengan mantan istrinya yang keras kepala dan juga egois seperti dulu.
"Aku bertemu dengannya, ia sudah menjelaskan semuanya." Ayahnya mulai menjelaskan dengan nada tenang tak tergesa - gesa. "Kau tahu apa yang masih ia pinta ketika aku memintanya memilih?"
Pertanyaannya tidak dijawab jelas oleh Baekhyun, puterinya masih mengunci mulutnya tapi tetap mendengarkan.
"Ia masih meminta kau untuk mempertahankan anak kalian."
Ibunya lagi - lagi mendengus meremehkan, lain halnya dengan Baekhyun. Wanita itu tertugu dengan matanya memerah menahan air mata yang tidak boleh terlihat sementara hatinya berdebar - debar meluap merasakan sedikit bahagia mendengar kesungguhan Chanyeol untuknya.
"Ia menitipkan ini." Tangan Ayahnya mengeluarkan satu kotak cincin berwarna biru ke arah Baekhyun, ia sodorkan pada tangan puterinya yang belum bergerak mau menerima uluran pemberiannya. Dan tanpa menunggu lama, sang ayah langsung menarik tangan Baekhyun agar anaknya menerima kotak itu.
"Itu milikmu, Chanyeol mengatakan demikian. Dan juga.. kami berbicara cukup lama mengenai keputusan Ibu-mu ini." Ayahnya sengaja menekankan kalimat diakhirnya sebagai pengingat bagi Baekhyun bahwa ia bisa memiliki keputusan lain dibandingkan menuruti kemauan Ibu-nya.
"Dia melamarmu?" Tanya Ayahnya tapi Baekhyun masih enggan untuk menjawab, kepalanya tengah menunduk memandangi kotak biru di tangannya. "Jujur, Ayah mengaku salah mengatakan dia pria brengsek, ternyata ia tidak demikian."
Tuan Byun memperhatikan seksama bagaimana Baekhyun masih diam memandangi kotak cincin di tangannya dan juga setitik bulir air mata yang terbentuk di kedua mata puterinya. Ia yakin, dari dalam lubuk hati puterinya ada rasa ingin mempertahankan bayi yang ia kandung dan juga rasa cinta yang sama seperti yang ia lihat di pandangan mata Chanyeol.
Pembicaraan kedua Ayah dan anak itu harus terhenti karena selang beberapa saat kemudian Dokter Jung masuk bergabung di kamar inap Baekhyun beserta satu perawat guna memeriksakan keadaan Baekhyun.
Ibunya kembali menuntut sang Ayah untuk segera menandatangani surat persetujuan sebelum kandungan Baekhyun berkembang lebih jauh. Tapi tekad Tuan Byun untuk mempertahankan bayi yang dikandung Baekhyun lebih besar dan ia pun akan mencoba berbagai cara agar Baekhyun ikut mendukungnya dan sama - sama melawan keinginan sang Ibu.
"Apa bisa dijelaskan bagaimana prosedurnya?" Pertanyaan Ayahnya kembali diprotest oleh Ibunya disertai cacian yang terdengar tidak begitu pantas mengingat ada oranv lain yang berada di dalam ruangan tersebut.
Dokter Jung sempat berdeham sebentar memecah kecanggungan lalu ia mulai menjelaskan secara garis besar. "Kandungan puteri Anda sudah berjalan 5-6 minggu, ukuran kandungannya masih kecil, ada dua prosedur yang bisa dilakukan. Dengan obat atau menggunakan alat yang biasa kita sebut Vakum Aspirasi."
"Vakum?" Ayahnya kembali bertanya, menuntut penjelasan dari pilihan yang dilontarkan karena ia merasa aneh mendengarnya.
"Kita memiliki alat medis seperti rupa vakum."
"Jadi prosesnya seperti alat vakum yang biasa kita pergunakkan untuk membersihkan debu-debu?"
Doktee Jung mengangguk. "Cara kerjanya tidak jauh berbeda."
Nyonya Byun mendengarkan acuh tak peduli karena yang ia pikirkan cara apapun yang akan Dokter sarankan harus memastikan kandungan di dalam rahim Baekhyun terangkat. Ia bahkan berkata sedemikian singkat tak memperdulikan penjelasan lainnya lalu berlalu meninggalkan mantan suaminya dan Baekhyun untuk mendengarkan rincian prosesnya lebih jelas.
Lain halnya dengan Baekhyun, ia masih menunduk memandangi kotak cincin di tangannya dan entah sejak kapan, jari - jarinya bergetar saling beradu bergesekkan dengan kotak berwarna biru itu.
"Kau yakin hal - hal semua tadi itu aman dilakukan? Obat dan vakum?! Jesus! Bagaimana keadaan puteriku ke depannya!"
Dokter Jung mengangguk, sikapnya tetap menunjukkan rasa tenang memberikan penjelasan pada Ayah pasiennya.
"Sebagai peringatan di awal, tidak ada yang melegalkan proses aborsi dengan cara apapun. Yang membedakan adalah dilakukan oleh Dokter Ahli atau Proses Ilegal. Dokter Ahli melakukannya dengan sedemikian rinci dan juga aman,obat dan alat yang dilakukan dijamin keamanannya dan kebersihannya. Sementara cara ilegal dilakukan dengan obat - obat yang belum tentu sudah diberikan ijin kesehatan dan juga alat - alat yang sudah pasti tidak terjamin."
Ayah Baekhyun mendengarkan dan menunggu kelanjutan penjelasan lainnya.
"Untuk itu kami meminta tanda tangan dari pihak keluarga, supaya apapun yang terjadi dalam proses hingga akhirnya nanti. Ada ikatan hukum yang bisa mengikat satu sama lain."
"Maksudnya?"
"Sebelum proses dilakukan, kami akan memastikan keadaan Nona Byun dalam keadaan stabil dan keadaan rahim serta bayinya sehat. Setelah itu, pasien berhak memilih metode apa yang akan dilakukan, kami melakukan metode yang diinginkan dengan prosedur yang sudah diinformasikan dengan jelas dan juga ada rekaman yang akan menunjukkan prosesnya bila pasien memilih untuk melakukan metode vakum. Ini untuk memastikan apabila ada kesalahan dari pohak dokter, maka dokter yang bertanggung jawab akan dicopot ijin kerjanya."
Tuan Byun lagi - lagi menggeleng tidak percaya membayangkan dua cara yang baru saja dijelaskan serta segala resikonya. Terlebih ini untuk puterinya. Puteri pertamanya.
"Tidak ada yang mengatakan proses aborsi adalah mudah." Dokter Jung melanjutkan, "Beberapa pasien yang tidak siap mentalnya akan lebih terguncang setelah mengetahui apa yang terjadi dalam prosesnya. Terlebih bila ada indikasi kegagalan saat pembersihan rahim.. banyak faktor yang merugikan untuk masa depan mereka selanjutnya. Dan kembali lagi saya ingatkan, inilah tujuan dari adanya surat persetujuan pengguguran kandungan."
Tuan Byun kembali mempertanyakkan rinci segala proses aborsi yang akan dilakukan nantinya. Dan Dokter Jung dengan tenang memberikan jawaban dari segala macam pertanyaan serta pilihan bijaksana untuk tetap mempertahankan kamdungan Baekhyun.
Sementara keduanya berbincang serius, seseorang yang tengah terdiam berharap tak berada di ruangan kamar itu masih terlihat menunduk memandangi hal yang sama sementara pikirannya tengah berusaha berada di tempat lain dengan berbagai pertanyaan.
Pilihan terbaik apa yang harus ia ambil untuk semuanya. Ada rasa takut bergelung dengan sebuah penyesalan. Ada rindu yang tertahan namun diselimuti ke egoisan hati yang dingin.
Chanyeol...
.
.
Baekhyun tenggelam dalam kilas balik ingatannya ketika ia berada di rumah sakit meskipun saat ini dirinya masih bersama dengan Irene dan Chelsea. Ia tidak begitu memperhatikan karena pikirannya kembali memutar beberapa kejadian yang sudah ia lewati dalam lima bulan belakangan.
Bagaimana ketakutan dirinya setelah menjelaskan penjelasan Dokter Jung ketika menceritakan lebih detail bagaimana proses pengguguran kandungannya. Apa saja yang akan dilakukan terhadap tubuhnya dan bagaimana janin di dalam perutnya dilenyapkan begitu saja.
Ia tidak menyalahkan Ayahnya atau Dokter Jung saat itu, mengingat mereka terus melanjutkan pembicaraan hingga akhirnya Sang Ayah memutuskan untuk menolak menandatangani surat persetujuannya karena Ayahnya tidak ingin Baekhyun mengalami hal mengerikan itu semua hanya karena ada bayi didalam kandungannya.
"Ayah bisa mengurusmu." Itu adalah yang Baekhyun ingat ketika Dokter Jung pamit undur diri lalu Ibu-nya kembali melontarkan ucapan protes.
"Ikut tinggal bersamaku. Ayah akan mengurusmu hingga kau melahirkan bayimu, Aku juga yang akan memberitahu Chanyeol atau pun keluarganya mengenai ini. Kalau kau memang tidak mau kembali bersama pria itu—itu pun tak masalah. Yang perlu kau ingat, aku tidak mau puteriku harus menghadapi dunia antar hidup dan mati hanya untuk membunuh bayi yang tak berdosa."
Setelah hari itu dunianya kembali berubah. Ibunya masih memaksa dirinya untuk ikut mencari dokter atau ahli kandungan lainnya yang bisa menggugurkan kandungannya dan bersamaan hal itu Ayahnya tetap bertahan membela dan memberikan pilihan lain untuk bisa melanjutkan hidupnya, hingga pada hari kedua setelahnya, Ibu Chanyeol kembali datang mengunjunginya.
Ia datang bersama Jongin, membawa beberapa makanan dan juga buah – buahan. Ayahnya yang tepat berada menjaga dirinya saat itu bahkan berulang kali mengucapkan terima kasih dan maaf diwaktu bersamaan karena menurutnya kedatangan Nyonya Park tidak perlu dilakukan mengingat hubungan antara mereka belum terjalin dengan begitu baik.
"Baekhyun sudah aku anggap calon menantuku." Nyonya Park berucap santai, menunjukkan makanan yang ia bawa dan bahkan menawarkannya pada Baekhyun agar dirinya bisa memilih apa yang ingin ia santap saat itu.
Baekhyun tersenyum kecil mengingat kembali bagaimana pandangan matanya saat itu berbinar melihat hidangan sosis dengan potongan paprika yang menjadi makanan favorit Chelsea dan juga dirinya.
"Itu resep dari Chanyeol." Bahkan sebelum Ibu Chanyeol memberi tahu, dirinya sudah mengetahuinya mengingat selama tinggal bersama dengan Chanyeol, pria itu memang sering membuatkan cemilan sosis itu untuk Chelsea dan juga dirinya.
Ayah Baekhyun menyambut hangat setiap kunjungan Nyonya Park di hari berikutnya, selain membawakan beberapa makanan tak jarang Ibu Chanyeol menyempatkan menanyakkan bagaimana keadaan cucunya di hari – hari kunjungannya.
"Aku ingat.. mendiang puteriku menuliskan bagaimana keadaan dia selama masa – masa kandungannya.." Ibu Chanyeol mulai berucap pada Baekhyun sembari memotongkan beberapa buah untuk disantap oleh dirinya. "Dia mengatakan sejujurnya merindukkan kehadiran diriku.." Baekhyun ingat ada senyuman kecil dengan sorot mata sendu ketika Ibu Chanyeol mulai bercerita. "Dia menuliskan bagaimana melihat Chanyeol mengurusnya, memasak untuknya, menyuapi atau bahkan memotong buah dan menyiapkan susu hamil untukya membuatnya merindukanku."
Saat itu Baekhyun hanya mendengarkan dalam diam, menerima beberapa kali suapan buah dari tangan Ibu Chanyeol langsung ke dalam mulutnya. "Mendiang puteriku bahkan mengatakan bahwa Chanyeol-lah yang tidak mengijinkannya untuk menggugurkan kandungannya saat itu. Putera sulungku berkata bayi yang dikandung Yoora adalah sebuah berkat, bukan kesalahan bayi itu tidak bersalah, biarkan bayi itu tumbuh dengan baik."
"Puteraku berubah menjadi pria paling tanggung jawab.. sementara sebelumnya ia bahkan dihujat menjadi pria paling brengsek karena bermain – main dengan semua wanita. Ckckkck." Ibu Chanyeol menggeleng dan tertawa kecil, tapi kemudian matanya berbinar menahan rasa haru. Gerak tangannya bahkan terhenti untuk menutup mulutnya agar tak terdengar isakan dari tangis yang ditahannya.
"Dan dia akan kembali menjadi Ayah.." Ibu Chanyeol kembali berucap. "Dia pasti akan jadi Ayah dan Suami yang baik untukmu.. Baekhyunie.."
Baekhyun ingat dengan jelas saat itu Ibu Chanyeol mengusap pipi wajahnya, memberikan senyuman paling hangat untuknya lalu mengusap tangan dan menggenggam tangannnya. Memohon dan juga memberikan Baekhyun keyakinan bahwa ada pilihan lebih baik yang bisa ia ambil selain membunuh anak yang ada didalam kandungannya saat ini.
Terlepas dari kunjungan Ibu Chanyeol dan juga Jongin, Ayahnya terus menjaga dirinya di rumah sakit meskipun harus bertengkar mulut dengan Ibunya hampir di setiap saat mempermasalahkan penolakan dari Ayahnya yang tak mengijinkan Baekhyun menggugurkan kandungannya. Baekhyun enggan untuk berucap atau bahkan meminta mereka untuk diam, yang ia lakukan ketika mereka beradu mulut hanya memasang earphone lalu mendengarkan lagu dengan volume yang cukup keras dan berbaring memejamkan matanya sementara tangannya berada diatas perutnya.
Hingga akhirnya, hati, tekad dan pikirannya berada pada satu jawaban yang sama. Pilihan yang ia ambil setelah semalaman berpikir panjang mengenai segala kemungkinan dan juga masa depannya.
"A-aku akan mempertahankan bayinya." Baekhyun menyampaikan hal itu lebih dulu pada Ibu Chanyeol tepat ketika wanita paruh baya itu kembali berkunjung dan kini membawakan beberapa susu Ibu hamil dan juga cemilan serta makan siang untuknya.
Pelukan erat dan gumaman terima kasih adalah apa yang Baekhyun dapat sebagai balasannya dari Ibu Chanyeol.
"Oh astaga.. aku menangis." Baekhyun tersenyum kecil membalas, sejujurnya ia juga menahan air matanya karena untuk pertama kalinya ia merasakan pelukan hangat dan perhatian penuh hanya untuk dirinya dari sosok seorang Ibu. Tapi bukan dari Ibu-nya sendiri.
Berita keputusannya menyebar cepat, Jongin dan Kyungsoo bahkan datang beberapa jam setelah Nyonya Park memberikan kabar itu. Ya, Ibu Chanyeol lekas mengabarkan kepada mereka berdua dan suaminya, tapi tidak dengan Chanyeol karena Baekhyun tidak ingin Chanyeol mengetahuinya bukan dari dirinya.
Ayahnya ia kabarkan setelahnya ketika pria itu kembali mengunjunginya, kembali ia mendapatkan pelukan. Pelukan pertama dari Ayahnya setelah bertahun – tahun lamanya ia tidak merasakan hal itu.
Hingga akhirnya, ketika Ibu-nya mengetahui keputusan Baekhyun, hanya sosok Ibu –nya lah yang menjawabnya dengan cacian dan makian. Baekhyun bersyukur karena Ayahnya masih berada didekatnya, karena Ayahnya lah yang membalas semua umpatan dan segala sumpah kutuk yang diucapkan dari mulut Ibu-nya untuk Baekhyun.
Dan karena kejadian ini dalam beberapa hari belakangan, Baekhyun baru menyadari bahwa selama ini Ibu-nya berada di pihak yang salah. Perceraian dari kedua orang tuanya kala itu pun semua karena kesalahan Ibu-nya.
Hari esoknya, Ayahnya meminta Dokter Jung untuk memperbolehkan Baekhyun pulang karena memang tidak ada lagi alasan untuk anaknya menetap berlama – lama dirumah sakit, Ayahnya berniat membawa Baekhyun untuk tinggal sementara di hotel sebelum keduanya kembali ke New York dan tinggal bersama di rumah sang Ayah. Tapi sebelum mereka sempat berangkat keluar dari rumah sakit, Kyungsoo dan Ibu Chanyeol kembali dan memaksa Baekhyun untuk sementara tinggal di rumahnya.
Kyungsoo memiliki andil besar sampai akhirnya Baekhyun menyetujui. Wanita itu mengatakan mereka sudah berpengalaman menghadapi kehamilan sebelumnya dan karena Ayah Baekhyun mengijinkan, alhasil mulai hari itu ia ikut pulang ke rumah Chanyeol, tinggal disana dan bahkan menempati kamar Chanyeol.
"Oh. Daddy menelepon!" pekikan dari Chelsea menarik Baekhyun kembali dan meninggalkan lamunannya. Badannya seketika menegang, bukan karena takut untuk mendengar suara Chanyeol. Bukan. Ia bahkan rindu pada suara pria itu, Karena sudah tiga hari belakangan ia tidak mendengarnya.
Ya, ketika ia tinggal di rumah keluarga Chanyeol, Jongin dan Ibu Chanyeol memang sengaja menelepon Chanyeol hanya untuk menanyakkan kabar pria itu, namun sebenarnya mereka sengaja melakukannya agar Baekhyun bisa mendengar suara Chanyeol.
"Angkat saja.. tapi jangan katakan Baekhyunnie ada disini." Irene lebih dulu berucap pada Chelsea membiarkan anak itu mengangkat panggilan telepon dari ayahnya.
Oh, Irene juga mengetahui kabar mengenai Baekhyun setelahnya. Jongin yang memberi tahu kabar itu, wanita itu bahkan cukup rajin memberikan kabar apa saja yang dilakukan Chanyeol dalam kesehariannya termasuk ketika pria itu mulai dekat dengan model Victoria's Secret.
Ya, Baekhyun sudah mengetahui itu.
Semuanya yang tinggal di rumah Chanyeol pun mengetahuinya karena Irene memang sengaja member tahukan kepada mereka meskipun ia tahu Chanyeol melarangnya. Ayah Chanyeol bahkan sempat marah dan mau mengambil keputusan membawa Baekhyun terbang ke New York pada saat itu juga.
Namun ia tidak mau dan mengatakan pada semuanya untuk tetap bersikap biasa saja. Ini adalah kesalahannya dan Chanyeol memang berhak untuk menjalin hubungan dengan wanita lain karena ia sudah membuat hancur hati pria itu.
"Chelsea sudah bersama Irene.."
Baekhyun kembali terfokus pada suara Chelsea yang tengah berbicara dengan Chanyeol di ponselnya.
"Chelsea di café gelato.." Irene mulai melirik ke arah Chelsea, menunggu ucapan lain dari anak itu.
"Iya.. iya.. Chelsea akan segera pulang. Eoh! I love you Daddy!"
"Daddy bawel sekali." Chelsea meletakkan kembali ponselnya di kantung seragamnya.
"Daddymu menanyakkan apa?" Rasa ingin tahu Irene mewakili perasaan Baekhyun yang sejujurnya juga ingin tahu apa saja yang dibincangkan oleh mereka berdua tadi.
"Hanya bertanya Chelsea sudah bertemu dengan Irene atau belum, sudah makan atau belum.. lalu meminta Chelsea tidak boleh main lama – lama dan harus cepat pulang." Anak itu menjawab malas karena diingatkan kembali untuk harus segera pulang.
"Aku rasa kita memang harus segera pulang." Baekhyun melihat ke arah jam di pergelangan tangannya dan baik Irene maupun Chelsea menyetujui ucapannya.
LOVELESS
Sudah lewat empat hari semenjak kedatangan Baekhyun kembali pada kota yang dijuluki Big Apple itu namun tak banyak yang dilakukan wanita itu selain membersihkan unit apartemennya, menemani ke seharian Chelsea setelah anak itu pulang sekolah hingga waktu kepulangan Ayahnya dan juga duduk seorang diri sembari memikirkan bagaimana caranya untuk bertemu dengan Chanyeol, meminta maaf pada pria itu dan bahkan menunjukkan bahwa ia masih mengandung anak mereka.
Kyungsoo dan Jongin berulang kali mengingatkan Baekhyun untuk segera mengabarkan semenjak ia tinggal di rumah Chanyeol, namun Baekhyun selalu menolak karena ia ingin melakukannya sendiri, ia terlalu lama mengulur waktu hingga akhirnya Irene mengabarkan bahwa Chanyeol dekat dengan wanita lain. lagi – lagi Kyungsoo dan Jongin-lah yang terlihat lebih panik, kembali memaksa Baekhyun untuk segera menghubungi Chanyeol.
Baekhyun tetap bersikeras mengatakan belum saatnya saat itu. Ia memang belum siap. Dirinya masih begitu takut membayangkan bagaimana sirat emosi masih ada di binar mata Chanyeol sama seperti ketika mereka bertemu untuk terakhir kalinya di rumah sakit. Baekhyun masih belum siap kembali diingatkan bagaimana hancurnya pria itu hanya karena ucapannya.
Dan sekarang, meskipun ia sudah bertekad kembali ke New York dan meyakinkan dirinya mampu bertatap langsung dengan Chanyeol, nyatanya ia masih menahan diri mengulur waktu hingga hari ini.
"Baekhyunnie.. besok setelah pulang dari les ballet, Chelsea boleh bermain disini kan?" Ia dan Chelsea tengah berbaring nyaman di ranjangnya. Chelsea membawa sebagian boneka untuk bisa ia ajak main meskipun anak itu selalu diingatkan untuk belajar dan bahkan beristirahat setelah jam pulang sekolahnya.
"Tentu saja.. tapi jangan sampai Daddy tahu ya.." Baekhyun lagi – lagi mengingatkan anak itu untuk belum bisa memberi tahu keberadaan dirinya.
Chelsea mengangguk, setelah ia menguap lebar, mata anak itu sudah terlihat mengantuk namun dirinya masih ingin bermain dengan para bonekanya dan juga sesekali menanyakkan mengenai kondisi adiknya yang ada di dalam perut Baekhyun.
"Baekhyunnie.. Kapan adik bayinya lahir?" Chelsea memeluk lengan Baekhyun, merebahkan kepalanya di lengan wanita itu.
"Kurang lebih.. tiga bulan lagi. Waeyo?"
Chelsea menggeleng, memeluk lengan Baekhyun dan menyamankan diri dengan matanya yang terpejam hendak menjemput dunia mimpi di waktu menjelang sore.
"Chelsea rindu Baekhyunnie bersama Daddy.." anak itu kembali berucap, terdengar berbisik namun penuh arti yang mendalam. Baekhyun tidak bisa menjawab ucapan itu, ia memilih diam, memainkan boneka teddy bear dengan kedua tangannya dan kini ia biarkan berbaring pada perut buncitnya.
Ia tak bisa lagi bersembunyi dan hanya berdiam diri. Ia harus segera bertemu dengan Chanyeol. Batinnya berkata demikian.
Lain halnya dengan pikirannya yang kembali berputar mencari cara yang memungkinkan untuk sekedar menyapa pria itu lalu kemudian meminta maaf dan mulai berani memberikan alasan mengapa dirinya kembali. Baekhyun mulai merangkai satu per satu kata menjadi sebuah kalimat untuk ia ingat dan katakan ketika bertemu Chanyeol nantinya.
Ada doa yang ia harapkan didalam hatinya agar Tuhan mempermudah jalannnya untuk kembali bersama dengan Chanyeol.
.
.
Irene nampak tak sibuk petang itu ketika jarum jam menunjukkan waktu berakhir jam kerjanya, ia lekas merapikan beberapa dokumen di mejanya, menutup laptopnya dan memasukkan didalam tas lalu kembali melihat pada ipad-nya untuk memeriksa jadwal kerja Chanyeol di hari esok sembari ia berjalan ke arah ruangan kerja Chanyeol, melenggang begitu saja tanpa mengetuk pintu dan berucap permisi untuk masuk.
"Boss, jadwalmu untuk besok cukup padat." Chanyeol membiarkan Irene begitu saja tanpa melayangkan protest seperti biasanya karena pikirannya tengah terpusat pada satu foto yang nampak di layar ponselnya.
"Apa aku harus mengatur jadwal ulang untuk meetingmu?" Irene pun tak memperdulikan Chanyeol yang tengah memandang serius ponselnya karena ia pikir Chanyeol lagi – lagi sibuk dengan pacar modelnya itu.
"Aku ingin bertanya padamu."
"Hm, kenapa?" Irene menjawab santai, duduk pada kursi dihadapan meja Chanyeol.
Chanyeol menunjukkan layar ponselnya pada Irene tanpa ada suara tanya dari pria itu, Irene pun hanya terdiam dengan kedua bola matanya yang melebar setelah pandangan matanya menangkap foto yang terpampang jelas di layar ponsel Chanyeol.
Foto Baekhyun bersama dengan Chelsea bergandengan tangan bersama.
"Selama ini kau tahu?"
Seketika Irene kehilangan kosa kata dan tak tahu bagaimana menjelaskannya, seharusnya bukan ia yang disudutkan disini. Ia hanya menjadi perantara berbagi informasi bagi Baekhyun dan juga keluarga Chanyeol jadi kemungkinan untuk menyalahkan dirinya adalah hal yang tidak mungkin.
Irene memilih untuk mengangguk sebagai jawaban diawalnya. "Aku sudah tahu.. dan bahkan keluargamu tahu." Otaknya mulai bekerja untuk mengurutkan segala kejadian yang terjadi lima bulan yang lalu, ucapannya di akhir cukup membuat Chanyeol menatap kosong ke arahnya tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Irene.
"Ayah Baekhyun tidak sepenuhnya bohong ketika ia mengatakan kandungan Baekhyun akan digugurkan oleh dokter lainnya secara illegal, Ibunya memang akan melakukannya. Tapi Ibu-mu bersikeras datang membujuk Baekhyun dan aku tidak tahu secara detailnya, Baekhyun akhirnya memutuskan untuk tidak menggugurkan kandungannya. Ia bahkan mau saat keluargamu mengajaknya untuk tinggal bersama selama ini." Sambungnya menjelaskan ke arah Chanyeol yang masih menatapnya dalam diam dengan pandangan mata tajam, sementara bibirnya mulai terlihat ia gigit. Sikap yang sudah Irene pahami ketika Chanyeol membutuhkan waktu untuk berpikir panjang.
"Dari awal kami semua sudah meminta Baekhyun untuk memberi tahumu mengenai ini.." Irene mulai berlanjut menjelaskan karena nampaknya Chanyeol tak melarangnya untuk kembali berbicara. "Tapi.. ya kau tahu Baekhyun, kekasihmu itu ingin dia yang menceritakannya langsung padamu.
"Mantan."
Mulut Irene tertahan untuk melanjutkan ketika mendengar Chanyeol mengoreksi satu kata pada kalimatnya. "Hubungan kami sudah berakhir saat itu, tidak ada yang berubah meskipun ia tetap mempertahankan kandungannya. Bayi itu akan lahir menjadi anakku tapi itu tidak akan merubah status hubungan kami."
Irene mengulum mulutnya, memikirkan ucapan Baekhyun pada saat itu bahwa hubungan mereka memang tidak mungkin akan kembali pada sedia kala hanya karena dirinya mempertahankan anak di dalam kandungannya.
"Dia ada di apartemennya, Chelsea biasanya akan bermain disana setelah aku mengantarkannya pulang." Tak mau berpikir lebih jauh, Irene kembali melanjutkan. "Dan.. mungkin dia akan pindah ke rumah Ayahnya mengingat ia sudah diusir dari rumah Ibu-nya di Korea." Irene rasa Chanyeol berhak tahu mengenai apa yang terjadi dengan Baekhyun dan keluarganya, maka itu ia menceritakan sedikit informasinya.
"Dan.." ragu – ragu Irene berucap. "Ia sudah tahu mengenai Sanne." Sambungnya singkat.
Chanyeol mengangguk, tersenyum kecil sesaat. "Seharusnya itu sudah cukup menjelaskan keadaanku bukan?"
Irene tak menjawab, wajahnya kembali terlihat dingin ke arah Chanyeol.
"Jangan menilaiku seperti itu. Aku hanya melakukan apa yang biasa dilakukan pria lainya. Move on."
Irene menggeleng, jelas tidak setuju dengan ucapan Chanyeol yang baru saja dikatakan pria itu. "Move on? Kau bahkan hanya pergi berkencan dengannya sesekali, mengajak makan malam serta makan siang dan itu di restoran, dimana kau memang sengaja ingin menunjukkan pada semua orang kalau dirimu tengah dekat dengan seorang wanita." Irene tertawa renyah, mengejek Chanyeol yang baru saja menyombongkan diri berbohong pada perasaanya sendiri. "Kau bahkan mencumbu wanita itu dengan jelas di tempat terbuka, membiarkan beberapa wartawan menangkap foto kalian. Kau membawanya ke apartemenmu sekali dan karena Chelsea marah akhirnya kau tak pernah mengajaknya lagi. Itu membuktikan dirimu memang tak sepenuhnya move on Park."
Chanyeol tidak menyahut langsung pandangan matanya menatap Irene memendam rasa kesal.
"Apa perlu aku tanya sudahkah kau meniduri Sanne? Aku berani bertaruh. Kau belum dpernah sekali pun menidurinya."
Irene tersenyum puas, ia tahu betul bagaimana raut wajah Chanyeol ketika pria itu telah kalah telak karena segala yang dilakukannya mudah terbaca begitu saja oleh orang lain.
"Aku tidak akan menasehatimu panjang lebar untuk masalah yang kau miliki, kau sudah tahu harus melakukan apa. Aku hanya ingin mengingatkan, jangan bohongi perasaanmu." Selesai berucap, Irene beranjak bangun dan tanpa permisi wanita itu melenggang pergi dari ruangan Chanyeol, meninggalkan pria itu dalam keterdiaman selagi berpikir panjang.
.
.
Chanyeol akhirnya memilih pulang setelah hampir tiga puluh menit lamanya ia berpikir di ruangan kantornya. Memikirkan pertemuannya kembali dengan Baekhyun tidak akan mudah seperti pertemuan dua orang teman lama yang terpisah beberapa bulan. Ya, ia tahu tidak akan semudah itu. Tidak akan ada sapaan ramah, tidak ada pelukan hangat untuk saling melepas rindu yang terpendam. Chanyeol yakin, teramat yakin, tidak akan seperti itu. Ia bahkan ragu apakah mulutnya bisa berucap untuk sekedar menanyakkan kabar wanita yang pernah mengisi hatinya.
Pernah? Atau masih? Batinnya saja meragu kuat untuk memastikannya.
Pikirannya mengenai segala hal tentang bagaimana bila ia bertemu Baekhyun ia enyahkan begitu saja ketika langkahnya mulai menapaki lantai dimana unit apartemennya berada. Kepalanya sempat menoleh pada pintu yang tertutup rapat tepat diseberang pintu apartemennya. Chanyeol memandangi sesaat daun pintu yang tertutup rapat mengingat kembali beberapa bulan sebelumnya ia pernah memandang dalam diam ke arah pintu itu dan berharap pintu itu terbuka dan memperlihatkan sosok wanita dengan senyuman manis yang menjadi senyuman kesukaannya saat itu.
Chanyeol kembali berbalik, mengeluarkan kunci unitnya dan lekas melangkah masuk ketika pintu itu terbuka. Biasanya ada Chelsea yang memekik bahagia menyambutnya, lalu menanyakkan makan malam apa yang ia bawa saat ini. Tapi kali ini tidak ada sambutan itu hingga Chanyeol mengernyit bingung mendapati suasana yang tak biasanya.
"Chels?" Chanyeol memanggil puterinya sembari melepaskan mantel dan juga sepatunya lalu berganti dengan sandal rumahnya. "Chelsea?!" Chanyeol memanggil lebih keras, mulai melangkah masuk.
"Daddy!" tepat ketika posisi Chanyeol memasuki area dapurnya, Chelsea baru menyambutnya bersama dengan sosok lain yang ternyata berkunjung ke apartemennya. Sosok wanita yang baru saja masuk dalam pikirannya hingga membuat hatinya kembali mengingat bagaimana sakit dan hancurnya di pertemuan terakhir mereka.
"Daddy, Baekhyunnie datang." Chelsea tidak salah dalam menjelaskan keadaannya, hanya saja kedua orang dewasa yang tengah saling melemparkan pandangan dalam pemikiran berbeda tidak perlu diingatkan kembali pada kenyataan saat ini.
"Daddy membawa makan malam? Baekhyunnie kita bisa makan malam bersama!" satu –satunya sosok yang menganggap pertemuan antara Chanyeol dan Baekhyun adalah hal paling bahagia hanyalah Chelsea seorang. Anak itu kini beranjak mendekat ke arah Chanyeol lalu memeluk erat pinggang sang ayah. Seakan – akan ingin mengungkapkan bahwa suasana hatinya tengah bahagia saat ini.
Chanyeol tak tahu harus berbuat apa sama seperti Baekhyun yang hanya ikut berdiri menghadap ke arah Chanyeol dengan begitu canggung. Chanyeol sempat melihat bagaimana ber-isinya tubuh wanita itu saat ini meskipun ia tidak bisa melihat dengan jelas perut buncitnya karena Baekhyun menutupinya dengan mantel yang tebal—mungkin disengaja oleh Baekhyun, pikir Chanyeol demikian.
"Boleh bantu Daddy untuk meletakkan ini di meja makan?" Chanyeol akhirnya bersuara, mengusap rambut Chelsea ketika anak itu mengiyakan apa yang ia minta. Setelahnya ia melenggang masuk ke dalam kamar tanpa berucap satu kata pun ke arah Baekhyun yang masih menunggu dalam diam.
Chanyeol kembali keluar dari kamarnya dengan setelah berganti pakaian santai. Ia menyusul ke arah Chelsea yang terlihat mulai berinisiatif mengatur tata letak piring dan bahkan mengeluarkan bungkusan makanan yang Chanyeol bawa.
"Let me, Chelsea temani Baekhyunnie saja." Chanyeol mengambil alih, ia tak sempat melihat senyuman manis Chelsea ketika mendengar Ayahnya mengucapkan nama Baekhyun seperti sebelumnya.
Chelsea kembali melangkah riang ke arah Baekhyun, anak itu meminta Baekhyun untuk duduk pada sofanya seperti sebelumnya dan Baekhyun menurut dengan memaksakan senyuman ke arah Chelsea menutupi rasa gugup dan takutnya yang kini ia rasakan. Ingatan tentang apa yang harus ia katakan pada Chanyeol bahkan telah lenyap menghilang dari otaknya dan itu membuat Baekhyun semakin frustasi dibuatnya.
"Chels, ayo makan." Chanyeol memanggil Chelsea kembali, dan Baekhyun dibuat terkejut karena Chelsea menarik tangannya begitu saja untuk mengikuti anak itu melangkah menuju meja makan.
"Baekhyunnie duduk disini." Chanyeol tak ingin melarang puterinya begitu bahagia karena keberadaan Baekhyun kembali berada di apartemen mereka. Ia bahkan tak mau menghilangkan senyuman lebar di wajah Chelsea dengan melarang Baekhyun ikut makan malam bersama dengannya.
Tidak, ia tidak sejahat itu. Lagi pula tidak ada yang salah dengan mengajak Baekhyun makan malam bersama mengingat wanita itu tengah bertamu ke tempatnya.
Ya, tamu. Chanyeol membatin menekankan kata – kata itu, sementara ingatannya kembali teringat pada saat dirinya bahkan melarang Baekhyun memakai kata itu ketika mereka tengan berlibur bersama di LA beberapa waktu lalu.
Chanyeol sudah duduk pada kursinya. Kursi yang sama setiap mereka bertiga makan bersama, Chelsea bahkan meminta Baekhyun menduduki kembali kursi yang dulu menjadi tempat khusus untuknya. Disebelah kiri Chelsea dan dekat dengan Chanyeol yang duduk seorang diri di ujung tengah – tengah meja makan.
"Selamat makan Daddy! Selamat makan Baekhyunnie!" ucap riang Chelsea tak mampu membuat suasana diantara Chanyeol dan bahkan Baekhyun menghangat. Keduanya sama – sama menahan diri dengan menutup mulut masing – masing untuk tak saling berucap atau bahkan sekedar berbasa – basi mengingat mereka baru kembali bertemu setelah lima bulan berselang.
"Daddy, hari Sabtu besok jemput Chelsea ya.. kan Baekhyunnie sudah datang.." Chelsea melanjutkan perannya sebagai ice breaker diantara keterdiaman Chanyeol serta Baekhyun.
Gerak tangan Baekhyun terhenti setelah mendengar ucapan dari Chelsea berbeda dengan Chanyeol yang tetap melanjutkan suapan makannya dan belum menyahut satu kata pun.
"Nanti kita bermain lagi.. eoh—atau kita ke rumah pantai! Minggu depan sekolah Chelsea kan libur—Baekhyunnie kita bermain lagi—"
"Hari Sabtu Daddy sudah ada janji." Chanyeol akhirnya menjawab, nadanya terdengar datar dan bagi Baekhyun yang mendengarnya, ia bisa merasakan perbedaan sikap Chanyeol padanya.
Ya, iya tahu semuanya ini tidak akan mudah untuk bisa kembali pada waktu mereka bersama. Terlebih kali ini Chanyeol sudah memiliki kekasih lainnya, meskipun ia masih mengandung anaknya—anak mereka, tapi keadaanya tidak akan sama. Ia hanya akan menjadi orang asing bagi Chanyeol.
Baekhyun menunduk, bibirnya mengulum tergigit pelan untuk menahan diri tak menangis saat itu. Ia yakin bahkan saat ini matanya mulai memerah berlinang air mata yang enggan dibiarkan mengalir. Dirinya bahkan tidak mendengar dengan jelas bagaimana Chelsea melayangkan protest dan membawa nama Sanne dipembicaraan mereka.
"Cukup Chels!" sontak ucapan Chanyeol yang terdengar meninggi membuat Baekhyun terhentak sama seperti puteri kecil Chanyeol yang lalu beranjak bangun dengan kasar melarikan diri ke kamarnya lalu menutup pintu dengan sangat keras menandakkan dirinya teramat marah.
Baekhyun masih pada posisinya dan lagi – lagi ia merasa bersalah. Seharusnya ia tidak perlu muncul kembali dihadapan Chanyeol atau pun Chelsea. Seharusnya sejak awal ia tidak menghancurkan hati keduanya. Seharusnya, sejak awal ia tidak egois.
"M-maaf.." mulutnya berucap lirih dengan kepalanya yang masih menunduk menatap piring makannya. Tangannya terlihat bergetar seakan – akan menunjukkan keadaan dalam dirinya yang penuh ketakutan meskipun hanya berucap satu kata.
Chanyeol meletakkan peralatan makannya dengan kasar lalu menenggak minumannya sebelum ia beralih bangkit berdiri memilih untuk memunggui Baekhyun.
"Kembali ke apartemenmu. Kita bicara disana." Dingin datar suaranya berucap lalu tanpa melihat sedikit pun ke arah Baekhyun ia melenggang begitu saja meninggalkan Baekhyun seorang diri disana untuk kembali ke kamarnya.
Dan Baekhyun baru saja mendapatkan balasan yang cukup telak. Chanyeol mengacuhkannya, pria itu dengan jelas menunjukkan kehadirannya bukan lagi menjadi hal yang dinantikan. Kenangan yang mereka miliki dalam waktu singkat jelas tak meninggalkan bekas di hati pria itu mengingat kesalahan yang Baekhyun miliki telah menghancurkan hati pria itu tak tersisa.
Ini pertama kalinya Baekhyun melihat jelas bagaimana kemarahan Chanyeol terhadapnya terlihat begitu asing. Seingatnya, dulu meskipun Chanyeol marah, masih ada suara hangat yang terdengar di nada suara pria itu, tatapannya yang diberikan masih terbinar rasa cinta yang memang ada untuk Baekhyun. Dan kini, Baekhyun amat yakin semuanya telah menghilang.
Ia beranjak bangun dengan ragu, merapikan piring – piring makan baik miliknya, Chelsea dan juga milik Chanyeol ia rapikan dan letakkan pada tempat pencucian piring didapur Chanyeol. Langkahnya sempat meragu ketika ia hendak akan kembali ke unit apartemennya, wajahnya menoleh sesaat pada daun pintu yang tertutup rapat dimana sempat tertutup keras oleh Chelsea.
Haruskah ia masuk? –hatinya bertanya berulang kali menimbang apakah dirinya diijinkan untuk menemui anak itu? Apakah Chanyeol akan marah kembali mengetahui dirinya begitu lancang masuk kedalam kamar anaknya. Berbagai pertanyaan dan kemungkinan muncul di pikiran Baekhyun namun hatinya lebih menguatkan karena ia tak tega mengingat bagaimana reaksi anak itu tadi menahan emosinya pada Chanyeol.
Dengan keberanian dan keyakinan hatinya, Baekhyun melangkah mendekat pada pintu kamar anak itu. Ia mengetuknya pelan, meraih knop pintu dan bahkan membukanya perlahan – lahan lalu mengintip sekilas melihat keadaan Chelsea didalam sana. Gadis kecil itu setengah duduk pada posisinya di ranjang dengan selimut menutup hampir seluruh tubuhnya, memeluk boneka kesukaannya. Brown.
Baekhyun tersenyum kecut, rasa bersalah dalam hatinya semakin melebar hingga terasa sesak mengiringi air matanya ingin mengalir sebagai bukti kuat bahwa ia pun merasa bersalah dan ikut merasakan kesedihan yang sama besarnya.
Langkahnya bergerak pelan menunggu apakah sang pemilik kamar mengijinkannya untuk sekedar menengok atau tidak.
"Ba-baekhyunnie?" cicit suara dengan isakan terdengar dari balik selimut, kepala Chelsea terangkat dari balik selimutnya. Menyambut Baekhyun yang sudah berada didalam kamarnya dengan tangan yang terbentang berharap akan sebuah pelukan sayang nan hangat yang ia rindukan.
Baekhyun kembali terharu ketika mendapati kehadirannya ternyata masih dibutuhkan oleh anak menggemaskan yang teramat ia sayangi. Tanpa meragu, Baekhyun menghampiri, memeluk Chelsea dalam dekapannya, mengusap sayang kepala anak itu dan bahkan melantunkan kalimat penenang bagi si kecil yang tengah mengadu isi hatinya.
Mereka berdua terlarut dalam posisinya saling mendengarkan dan berusaha saling memahami. Tidak menyadari ada sosok yang sedari tadi memperhatikan keduanya dan kini memiliki rasa bersalah begitu besar merayap dalam benaknya.
LOVELESS
Salahkan pengendalian diri Chanyeol yang begitu rentan karena memang cara kerja otak dan hatinya tak lagi bisa ia atur seirama dalam satu keinginan.
Setelah ia masuk ke dalam kamarnya rasa bersalah jelas ia rasakan karena meluapkan sedikit kekesalan pada puterinya yang bahkan tidak mengerti akar permasalah antara dirinya dan juga Baekhyun. Chelsea masihlah anak - anak polos seusianya, ia bebas berekspresi dan bahkan mengatakan hal - hal apapun yang ada didalam isi kepalanya terlebih bila itu menyangkut dengan hal yang ia inginkan. Anak itu hanya berharap penuh agar bisa terkabul.
Helaan nafas berat serta tangan yang mengusap kasar dan juga rambutnya tak cukup menghilangkan ke resahan hatinya terlebih ia harus menghadapi Baekhyun. Membicarakan hal yang harus mereka bicarakan dan meluruskan semuanya. Atau mungkin bagi Chanyeol, menjelaskan hubungannya.
Chanyeol mengeluarkan beberapa buku tabungan yang ada dari brankasnya dan juga beberapa kartu kredit serta debitnya. Ia bahkan mengeluarkan buku cek atas namanya lalu semua hal tersebut masuk dalam amplop cokelat berukuran sedang.
Keputusannya sudah bulat. Dan menurutnya itu adalah hal terbaik untuk ia, Baekhyun dan bayi mereka. Yang beruntungnya akan bisa ia lihat tumbuh kembangnya setelah anak itu lahir.
Chanyeol baru saja berbalik dan hendak menyusul ke unit apartemen Baekhyun sebelum matanya diperlihatkan pemandangan paling mengharukan dan kembali membuat hatinya teriris dan berdebar disaat bersamaan.
Ia ingin mengumpat pada horden pembatas di dinding kaca yang tak tertutup rapat tapi mensyukuri pemandangan yang kini bisa ia pertontonkan tanpa perlu sedikit pun menurunkan ego hatinya. Dan meskipun sempat mempertanyakkan kenapa ia mencetuskan memasang kaca dua sisi itu di kamarnya, lagi -lagi ia berucap terima kasih pada si penemu benda itu.
Chanyeol mengurungkan niatnya untuk mengusik kehangatan dua perempuan berbeda usia itu. Matanya melohat dengan jelas bagaimana puterinya menangis mengadu pada sosok yang lebih dewasa. Mengadu tentang apa yang baru saja ia lakukan mungkin-pikirnya.
Tubuhnya ia bawa duduk pada ranjang. Hatinya kembali memilih untuk ikut menyaksikan secara sembunyi - sembunyi pemandangan yang telah lama sirna dari kehidupannya.
Chanyeol tak berkutik dalam empat puluh lima menit menyaksikan semuanya. Bagaimana Baekhyun memeluk Chelsea, mencium kepala anak itu dan bahkan mengusapnya berulang kali, bermain dengan boneka - boneka hingga akhirnya senyuman lebar Chelsea kembali terlihat. Chanyeol melihat semuanya hingga saat Baekhyun menyelimuti tubuh Chelsea untuk memastikan anak itu terlindungi dari hawa dingin selama ia tertidur kemudian memberikan kecupan selamat malam sebelum akhirnya Baekhyun melangkah keluar dengan langkah bergerak pelan tak ingin kehadirannya bisa didengar oleh Chanyeol.
Pendengarannya ia dorong kuat untuk bisa mendengar suara gerak dari balik pintu kamarnya yang tertutup rapat, ketika ia mendengar pintu unitnya tertutup dan bunyi alarm kunci otomatisnya terdengar.
Lantas badannya ia rebahkan dengan kasar ke atas ranjang. Lelah bukan bekerja bukan menjadi alasannya, pikiran dan hatinya-lah yang terasa lelah terombang ambing dihempaskan ombak cinta yang mengapa rasanya tak kunjung usai.
Matanya memandangi langit - langit kamarnya dalam beberapa saat, lalu terpejam dengan anggapan akan ada jawaban yang bisa ia dapati seperti yang sering dikatakan Ibu-nya.
Disaat kau merasa ragu dengan apa yang harus kau pilih didalam hidupmu. Pejamkan matamu untuk beberapa saat dan lihat hal apa yang bisa kau lihat disana. Bisa jadi itu adalah petunjuk dari jawaban pertanyaan hati dan pikiranmu.
Persetan dengan takhayul atau hal - hal bodoh lainnya. Chanyeol mencobanya, memejamkan matanya, mengatur nafasnya untuk lebih tenang serta melemaskan otot - otot tubuhnya untuk lebih rileks selagi matanya terpejam mencari sebuah jawaban pertanyaan hatinya.
.
.
Rasa gugup dengan takut menyelimuti perasaan Baekhyun saat ini ketika ia sudah kembali ke kamar. Menunggu gelisah sembari tetap melihat ke arah pintu unitnya menanti ketukan pintu dari Chanyeol segera terdengar namun ia meragu karena seingatnya, ketika ia keluar dari kamar Chelsea, pintu kamar Chanyeol tertutup rapat, terlebih ia tidak berpamitan saat pamit kembali ke unitnya.
Baekhyun masih bertahan pada posisi berdirinya, tangannya saling berkaitan bergerak gelisah menunggu kedatangan Chanyeol. Mereka akan kembali berhadapan dan berbicara satu sama lain untuk pertama kalinya semenjak kejadian di rumah sakit, lima bulan yang lalu. Resah adalah apa yang Baekhyun rasakan, menguasai seluruh dirinya hingga membuat ia tak tahu harus berbuat apa selain menunggu dan menantikkan kedatangan Chanyeol.
Sudah lebih dari setengah jam ia menunggu dalam duduk, berdiri atau bahkan melangkah mondar - mandir mengelilingi area pintu dan juga dapurnya. Baekhyun kembali duduk pada kursi meja makannya, Ia berusaha kerasa mengabaikan rasa kantuk di matanya menunggu kedatangan Chanyeol sampai pada menit – menit selanjutnya. Baekhyun meyerah pada rasa kantuknya. Matanya terpejam rapat dengan kesadaran sepenuhnya bergelung dalam dunia mimpi, merasa teramat nyaman meskipun ia harus tertidur dalam posisi duduk dengan bantal kepala beralaskan tangannya yang menjadi penopang.
Rasa lelah yang ia rasakan dan juga bunga mimpi yang menyelingkupi Baekhyun membawanya pada tidur malam yang begitu lelap, hingga tak terganggu pada kedatangan Chanyeol saat penunjuk waktu menunjukkan pukul 11 malam lewat. Chanyeol mendatanginya, pria itu mengetuk pintu berkali – kali dalam ketukan pelan hingga rasa ingin tahu mengapa Baekhyun tak juga membukakan pintu apartemen wanita itu untuknya mendorong Chanyeol untuk mengambil kunci cadangan unit Baekhyun yang masih ia simpan.
Dengan tanpa ijin ia masuk dan mendapat sambutan pemandangan wanita yang melukai dan juga menghancurkan hatinya tengah terlelap dengan keadaan yang begitu menyiksa. Langkah Chanyeol tergerak perlahan – lahan dengan harapan gerak langkahnya tidak membuat wanita itu terbangun nantinya. Ia menghampiri, memandangi lelap wajah Baekhyun dalam diam. Lalu dorongan kuat dalam benaknya memilih membiarkannya untuk bertahan disana dalam waktu yang cukup lama.
Chanyeol duduk pada kursi disamping Baekhyun, ia ikut menopang wajahnya memandangi wajah Baekhyun yang terlihat begitu damai terlelap tidur. Ia kembali teringat pada waktu dimana pemandangan ini ia bisa lihat sehari – harinya, gemas senyumnya bahkan mudah terbentuk begitu saja ketika melihat bagaimana bibir Baekhyun bergumam dengan matanya yang terpejam. Chanyeol bahkan menggendong tubuh Baekhyun untuk ia pindahkan pada ranjang di kamar Baekhyun, menyelimuti tubuh wanita itu, dan kalah pada rasa manis pada bibir Baekhyun yang tak bisa ia elak untuk kembali dicium.
Manis rasanya masih sama seperti kala itu. Candunya pun demikian, tapi untuk saat ini pertahanan Chanyeol belum runtuh sepenuhnya hingga ia bisa menghentikkan gerakan lumatan pada bibir Baekhyun sebelum berlanjut lebih dalam dan panas. Chanyeol duduk pada tepi ranjang, memilih untuk melanjutkan memandangi Baekhyun tertidur hingga matanya teralihkan ketika tangan Baekhyun tergerak mengusap perutnya dan berpindah tidur dengan posisi menyamping.
Rasa penasaran Chanyeol meluap untuk ingin ikut mengusap keadaan perut Baekhyun yang kini terlihat membuncit dengan jelas oleh pandangan matanya. Lagi, geraknya perlahan – lahan terarah pada perut Baekhyun, gugupnya semakin ia rasakan sembari dengan penuh ke hati – hatianya hingga tangannya menyentuh tepat perut Baekhyun.
Ada gerakan halus dari dalam kandungan Baekhyun yang membalas ketika tangannya bersentuhan.
Lalu akhirnya Chanyeol ikut mengusap pelan, menggantikan tangan Baekhyun yang kini tergulai lemas disamping tubuh wanita itu. Senyumnya kembali merekah dan juga kepalanya yang menggeleng masih tak percaya, anaknya benar – benar hidup di kandungan Baekhyun.
Cukup lama Chanyeol bertahan duduk di tepi ranjang Baekhyun dan hanya memandangi wanita itu tertidur dengan tangannya yang masih mengusap pelan perut Baekhyun. Ia bahkan menghabiskan dua jam lamanya sampai akhirnya tersadar akan jarum jam yang kini sudah melewati waktu tengah. Ia menyempatkan diri untuk mencium kening Baekhyun lagi sebelum akhirnya melangkah pelan kembali keluar dari unit apartemen Baekhyun.
.
Perasaan Chanyeol terasa lebih tenang dan lega pada pagi menjelang, dengan tidurnya yang terasa lelap dengan bunga mimpi yang cukup menghibur. Ia bahkan membangunkan Chelsea dengan ciuman di kedua pipi anak itu berulang kali, dengan kata maaf terdengar berbisik di telinga puterinya.
"Ayo bangun.. Daddy membuatkan sarapan kesukaanmu." Goda Chanyeol yang mana cukup ampuh membuat Chelsea bangkit bangun, duduk pada ranjang lalu memeluk ayahnya dengan begitu erat.
"Daddy membuat pancakes?" tanyanya
"Um." Chanyeol mengangguk, tangannya bergerak mengangkat tubuh Chelsea dan kini menjadi didalam dekapan gendongannya, membawa langkahnya menuju dapur dan memperlihatkan menu sarapan yang rasanya begitu special ia masak untuk puterinya hari ini.
"Strawberry!" pekikan Chelsea diiringi dengan lompatan untuk turun pada kursi duduknya, Chanyeol tertawa gemas melihat binar kedua mata puterinya begitu bahagia hanya dengan sajian pancakes disertai dengan potongan buah strawberry diatasnya.
"Terima kasih Daddy!" Chelsea bangkit berdiri pada kursinya, memeluk Chanyeol lalu memberikan kecupan sebanyak dua kali di pipi kanan dan kiri Daddy-nya.
Chanyeol tertawa lebar, merasa gemas karena tingkah puterinya sendiri. Ia mengusap kepala Chelsea lalu mencium kepala puterinya.
"Sarapan atau mandi dulu?" Tanyanya.
Chelsea memperlihatkan senyum lebarnya lalu berbisik manja. "Sarapan dulu yaa..."
Chanyeol lagi - lagi kalah oleh senyuman puterinya, ia mengangguk, membantu menyiapkan piring dan perlengkapan lainnya, kemudian ikut sarapan bersama dengan Chelsea.
LOVELESS
Baekhyun sangat yakin Chanyeol tidak datang semalam.
Ya, Ia sangat yakin karena rasa mimpi yang dialaminya semalam begitu terasa nyaman tanpa ada gangguan dari suara atau pun kedatangan pria itu. Hanya saja ia mempertanyakkan bagaimana bisa saat ini ia terbangun dari ranjangnya dengan selimut tebal yang menutupi tubuhnya dan kenapa ada sarapan yang tersedia di meja makannya ketika ia baru saja terbangun.
Mungkinkah Chanyeol?—pikirnya dengan hati penuh harapan akan hal baik menyambut pertemuan mereka nantinya yang sampai saat ini belum terwujud.
Kita bicara setelah aku mengantarkan Chelsea.
Ada sebuah pesan tertulis tertinggal di dekat piring makan, Baekhyun meraih kertas itu, bibirnya tergigit secara spontan begitu juga hatinya yang berdebar – debar dalam sekejap. Matanya kembali teralih pada beberapa pancakes yang tersaji diatas piring dengan syrup strawberry dan juga potongan buah strawberry serta satu gelas susu berwarna putih yang mana selama beberapa waktu belakangan menjadi minuman wajibnya. Susu kehamilan.
Chanyeol menyiapkan semuanya? batinnya masih bertanya bahkan ketika ia mulai duduk di kursi meja makan. Matanya merekam semua sarapan yang tersedia di meja makannya. Lalu dengan gejolak perut yang mulai terasa lapar, Baekhyun menyantap semuanya secara perlahan - lahan, ingin menikmati dan juga membayangkan, Chanyeol bisa melakukan semuanya bahkan ketika ia sudah menghancurkan hati pria itu.
Baekhyun baru saja akan bergerak untuk meletakkan piring - piring makan serta perlengkapan lainnya agar bisa ia cuci, tapi suara ketukan dari arah pintu Apartemennya membuat ia meletakkan semuanya kembali lalu melangkah cepat guna membuka pintu untuk menyambut Chanyeol.
Ia bahkan sempat merutuki dirinya yang bahkan belum sempat berdandan setelah sempat melirik pada kaca panjang yang berada di dekat pintunya.
Nafasnya ia atur untuk lebih tenang lalu merapikan helaian rambutnya dengan cepat dan lantas ia memutar kunci pintunya dan membukakannya untuk Chanyeol.
Ya, kali ini ia tidak salah. Chanyeol memang benar berada di depan pintunya. Pria itu nampak rapi sudah siap akan berangkat bekerja dengan atasan kemeja biru dan juga celana panjang hitam yang membalut kaki panjangnya.
Prianya tetap terlihat tampan.
Baekhyun merutuk, mengumpat untuk dirinya sendiri karena dengan bodohnya membiarkan pria setampan Chanyeol rela dihancurkan hatinya oleh seorang wanita seperti dirinya.
"Aku boleh masuk?" Baekhyun mengangguk, mengulum bibirnya lalu melangkah pelan memberikan jalan untuk Chanyeol masuk ke dalam Apartemennya.
Mereka masih terlihat menahan mulutnya untuk bersuara hingga tiba di ruangan tengah, Chanyeol melirik sebentar ke arah meja makan milik Baekhyun lalu tersenyum kecil dan berusaha keras untuk ia tutupi dengan suara dehaman yang tidak masuk akan untuk dilakukannya.
"Semalam aku ketiduran." Chanyeol memulai, menjelaskan alasanya kenapa tidak datang menemui Baekhyun setelah acara makan malam mereka.
"E-eoh." Baekhyun menyahut singkat.
Mereka masih saling berhadapan dalam posisi berdiri meskipun ada jarak yang begitu lebar terlihat jelas diantara keduanya.
Chanyeol tidak sanggup harus berada dalam kecanggungan ini untuk waktu yang lama, pria itu mengetuk - ngetukkan jarinya pada meja makan Baekhyun guna mengalihkan fokusnya untuk tak memandangi wanita itu lebih lama.
"I-ini untukmu." Chanyeol mengeluarkan beberapa buku rekening bank dan juga kartu - kartu dari balik kantung jas yang ia bawa di pergelangan tangannya sedari tadi. Semuanya ia urutkan pada meja makan lalu memberikannya ke arah Baekhyun.
Chanyeol melihat jelas sorotan bingung dan tak paham dengan apa yang dilakukan olehnya serta maksud dari ucapannya ketika pandangan matanya bersitatap dengan Baekhyun.
"Ini untukmu." Chanyeol mengulang lagi ucapannya. "Kau menjadi tanggung jawabku mulai sekarang, ini untukmu dan juga anakku kelak." Chanyeol terdiam sesaat ketika ia menjelaskan kata anak-ku di kalimatnya.
"Meskipun kau membantah dan menolaknya pun aku akan tetap meninggalkan ini semua untukmu. Kau bebas mempergunakkannya untuk apa. Aku tidak ada wewenang untuk melarangmu, hanya saja ketika kau mencelakai anakku yang kau kandung. Ini semua akan aku hilangkan saat itu juga."
Sedetik setelahnya raut wajah dan sorot mata Baekhyun berubah, matanya mulai memerah dan wanita itu terus mengigit bibirnya. Chanyeol bahkan bisa melihat jelas bagaimana jari - jari tangan Baekhyun saling bergesekkan satu sama lain memperlihatkan keresahan dari dalam hatinya.
"Kau bisa kembali pulang ke Korea dan tinggal bersama Ibu-ku sampai waktu melahirkan nanti." Chanyeol melanjutkan semua yang ingin ia ucapkan pada Baekhyun. "Aku akan meminta pesawat Perusahaan membawamu-"
"Aku minta maaf." Baekhyun memotong ucapannnya, air mata Baekhyun mulai mengalir perlahan - lahan turun ke pipinya. "A-aku minta maaf karena menghancurkanmu.. meninggalkanmu.. meninggalkan Chelsea.. dan.. dan aku-"
"Simpan maafmu." Chanyeol menyahut datar. "A-ku datang bukan untuk mendengarkan permintaan maafmu atau hal lainnya. Aku hanya ingin mengatakan bahwa aku disini hanya bertanggung jawab pada anakku yang ada didalam kandunganmu Baekhyun." datar suara Chanyeol namun dengan nada penuh penekanan disetiap kalimatnya jelas berhasil membuat Baekhyun merasa disudutkan atas apa yang terjadi di kehidupan Chanyeol beberapa waktu lalu.
Baekhyun bukan hanya menghancurkan hati milik pria itu, ia benar - benar kehilangan semuanya. Tak ada lagi Chanyeol yang begitu hangat terhadapnya. Tidak ada nada penuh sayang yang akan ia dengar ketika bertemu Chanyeol, tidak ada lagi perhatian yang penuh terhadap dirinya.
"Hubungan kita sudah selesai Baekhyun. Tepat ketika kau meninggalkan aku dan ketika aku menandatangani surat itu-"
Baekhyun menggeleng, mengigit bibirnya keras menolak mendengar penjelasan lainnya dari Chanyeol.
"Semuanya berakhir. Tidak ada hubungan diantara kita setelahnya. Aku hanya akan bertanggung jawab membiayai hidupmu dan juga anakku yang akan lahir nantinya."
Hal yang bisa Baekhyun lakukan hanyalah menangis tanpa bisa menjawab kalimat lain yang Chanyeol katakan padanya. Ia bahkan tidak mendengar apa yamg dikatakan pria itu sebelum akhirnya melangkah pergi.
Ya, Chanyeol meninggalkannya begitu saja. Tanpa ada usapan pada dirinya untuk menenangkan seperti sedia kala, tidak ada pelukan kenyamanan agar Baekhyun berhenti menangis.
Pertemuan mereka kembali hari itu menjelaskan akhir hubungan keduanya.
Tbc.
Alle gute zum geburstag V!
-Selamat pagi~ semoga pada nangis biar aku seneng :D
