LOVELESS
Sakit pada rasa hatinya mungkin tak sebanding dengan rasa sakit yang ia berikan pada Chanyeol kala itu, tapi nyatanya memang sesakit itu untuk dirasa. Menusuk hatinya tepat pada sasaran hingga selang berapa menit berlalu dari kepergian Chanyeol air matanya tetap mengalir keluar membasahi pipi wajahnya hingga bahkan mengalir sampai membasahi pakaiannya.
Lunglai tubuhnya ikut terasa, lemah tak berdaya akibat hatinya yang sakit.
Sama seperti Chanyeol kala itu. Bersimpuh memohon agar Baekhyun tak melukai hatinya.
Ada hati yang merasa tak terima dengan apa yang ia dapat. Ada penolakan yang cukup keras serta dirinya yang dianggap sebagai orang yang bisa mendapatkan senyuman atau bahkan perhatian dari Chanyeol.
Yang ia dapat hanya sebuah pertanggung jawaban tanpa hati.
Termenung dengan ingatan penyesalan menemani Baekhyun sedari tadi hingga bahkan mengabaikan dering telepon yang sedari tadi terdengar.
Hingga suara dering menyaring terdengar dari telepon apartemennya barulah ia menyadari panggilan itu mungkin berasal dari Ayah atau Ibu Chanyeol. Mereka selalu menelepon dirinya semenjak ia datang ke New York, untuk menanyakkan kabar dan juga perkembangan dirinya dengan Chanyeol.
Baekhyun menghela nafas panjang, bersusah payah untuk bangun dari posisi duduknya lalu melangkah pelan - pelan menuju letak telepon.
"Halo.." sahutnya dengan suara lemah berserak.
"Baekhyunniee!" –Ibu Chanyeol bersuara menyambut suara Baekhyun, dan sekarang ia menyesal mengapa suaranya terdengar sangat lemah . "Kenapa dengan suaramu? Kau sakit? Masih mual?" Baekhyun tersenyum kecil terhadap reaksi Ibu Chanyeol yang begitu perhatian terhadap dirinya, layaknya ia adalah puteri kandungnya sendiri.
"Aku tidak apa Ibu.." ia bahkan diwajibkan memanggilnya dengan panggilan Ibu karena kalau tidak teriakkan dan juga ceramah dari Ibu Chanyeol tidak akan selesai hanya dalam beberapa menit singkat.
"Kau yakin? Aku akan menelepon Irene untuk menemanimu ke Dokter nanti—"
"Aniya.. aku benar – benar tidak apa Bu, a—aku baru bangun tidur.. jadi suaraku terdengar seperti ini." Bohongnya meyakini Ibu Chanyeol untuk tidak terlalu khawatir dan bertanya lebih banyak.
"Aaah.. Ibu lupa kalau disana masih terlalu pagi—jam berapa disana?"
"Baru jam 10 lewat disini Bu.." jawabnya setelah meminum segelas air putih dan melangkah menuju sofa diruangan area tv-nya. Membaringkan tubuhnya setengah duduk guna menghilangkan rasa pegal pada kaki dan juga area punggungnya.
"Ah—pantas saja. Bagaimana keadaan cucuku hari ini? Dia sudah aktif bergerak?"
Baekhyun lagi – lagi terharu mendengarnya, Ibu Chanyeol yang mencurahkan segala perhatian padanya dan juga bayi yang ia kandung. Sejak hari pertama ia tinggal di rumah Chanyeol, ia tidak menyangka sambutan keluarga Chanyeol sangat hangat terhadapnya. Kyungsoo dan Jongin meluapkan kekesalan mereka lebih dulu namun selang beberapa menit memeluknya erta dan bahkan mengucapkan terima kasih sudah meletakkan kembali otak sehatnya didalam kepalanya.
Dan dirumah Chanyeol-lah, dia mendapatkan segala perhatian keluarga yang seharusnya.
"Baeboo baik – baik saja bu, dia aktif ketika mendengar suara kakaknya." Baeboo—panggilan untuk bayinya. Baekhyun sudah menceritakan pertemuannya dengan Chelsea ketika itu, dan Ibu Chanyeol bahkan menangis bahagia karena puteri kecil Chanyeol benar – benar terlihat menyayangi Baekhyun dan juga adiknya yang belum lahir.
"Kalau dia sudah mendengar suara Chelsea, kakinya mulai menendang – nendang, seperti mengajak bermain juga.." Baekhyun sendirinya merasa gemas kembali mengingat anaknya dikandungannya memang begitu aktif ketika Chelsea berada. Mendengar suaranya atau bahkan nyanyian Chelsea, bayinya akan bergerak aktif seakan – akan memang ikut bermain bersama.
"Aahhh.. aku ingin cepat – cepat menyusulmu kesana, Yeobo! Cepat selesaikan pekerjaanmu, kita harus menyusul Baekhyun—" senyum Baekhyun mengembang mendengar pembicaraan antara Ibu dan Ayah Chanyeol membahas keinginan mereka untuk lekas menyusul Baekhyun di New York.
Sejak awal ia memutuskan untuk terbang ke New York bukan hanya untuk menyelesaikan urusannya dengan Chanyeol, ia sesungguhnya sudah merencanakan untuk melahirkan anaknya di New York, bersama Ayahnya dan juga bersama dengan Chanyeol. Keinginannya. Meskipun sekarang ia pesimis apakah Chanyeol akan mau menemaninya saat melahirkan nanti mengingat pria itu sudah memperjelas hubungan mereka ke depannya.
"—Ayahmu ini masih saja sok sibuk, padahal Jongin bisa menggantikan posisinya. Dengarlah Baekhyun, lihat dia beralasan saja sibuk—" Baekhyun menahan tawanya merasa gemas seorang diri mendengar kekesalan Ibu Chanyeol. "Awas saja! Aku akan menelepon Irene untuk mengirim pesawat perusahaan dan membawaku terbang lebih dulu ke New York."
Baekhyun mendengarkan namun pandangan matanya justru terarah pada tumpukan buku rekening Bank dan juga beberapa kartu yang tergelat pada meja makannya.
Apakah ia harus menceritakan apa yang terjadi pada Ibu Chanyeol saat ini?—tanyanya dalam hati dengan tak ada pilihan jawaban yang ada selain ke raguan yang ada.
"—Ngomong – ngomong, bagaimana perkembangan hubungan kalian hm? Kau belum bertemu Chanyeol?"
Baekhyun merutuk pada ruangan senyap di apartemen mengapa Ibu Chanyeol bisa membaca pikiran hatinya saat ini dan mempertanyakan masalah yang sejujurnya ia hindari.
"Jangan lama – lama menahan dirimu Baekhyun, Chanyeol harus tahu dan berhenti bermain – main dengan wanita kurus berpakaian dalam itu."
Baekhyun tertawa kecil sama seperti suara tawa yang terdengar dari arah panggilan telepon Ibu Chanyeol, ia yakin saat ini mereka tengah berkumpul bersama di ruang makan atau ruang tengah di rumahnya.
"Model Ibu—model." Suara Jongin terdengar membenarkan.
"—model pakaian dalam." Baekhyun tak bisa menahan suara tawanya mendengar ucapan Ibu Chanyeol yang berucap kesal dalam pembicaraan kekasih Chanyeol saat ini.
Bila Ibu dan Ayah Chanyeol tidak setuju puteranya memiliki hubungan dengan model papan atas itu, Kyungsoo dan Jongin bahkan tak berhenti – hentinya mengumpat pada Chanyeol sebagai pria yang jahat dan bodoh karena dengan mudahnya memiliki pasangan baru hanya dalam selang beberapa bulan. Lain halnya dengan Baekhyun, meskipun ia jelas merasa cemburu melihat bagaimana jejak – jejak kedekatan mereka berdua terlihat jelas di media massa dalam segala bentuk, namun ia bisa melihat dengan jelas, Chanyeol memang jatuh hati pada wanita itu. Pria itu tidak salah dalam memilih tambatan hati lain untuk memulihkan kehancuran yang sebelumnya Baekhyun ciptakan.
Sanne memang wanita cantik, sangat cantik terlepas dari dirinya memanglah seorang model.
Cemburu itu wajar bukan? Tapi bila ada rasa egois, bisakah ia merasa seperti itu? Bisakah ia merasa egois agar Chanyeol tidak bersama dengan wanita itu? Bisakah ia menjadi egois dan meminta Chanyeol kembali padanya, kembali pada hubungan mereka saat menjadi sepasang kekasih. Ia telah kembali, ingin memohon maaf dengan kesungguhan hatinya, ia ingin Chanyeol memberikannya satu kesempatan untuk memperbaiki semuanya, bisakah Chanyeol mengerti keadaannya?
Baekhyun tahu dan bahkan membenarkan ia pernah menjadi wanita bodoh, egois dan jahat ketika ia memutuskan hubungannya begitu saja, berbohong pada perasaanya sendiri dan dengan mudahnya mengatakan dengan jelas tak ada perasaan cinta untuk Chanyeol sedikit pun. Ia bahkan menjadi wanita paling jahat ketika memohon dengan sangat agar Chanyeol menuruti keinginannya untuk menggugurkan anak mereka. Ia tahu kesalahanya, tak bisakah Chanyeol memaafkannya?
Pikirannya mengingat kilas – kilas masa lalunya dan juga dengan apa yang terjadi beberapa saat lalu. Sesak dihatinya kembali meluap melingkupi dirinya, kembali teringiang semua ucapan Chanyeol menjelaskan status hubungan mereka yang tak lebih hanyalah sekedar rasa tanggung jawab pria itu terhadap anak yang ada dikandungannnya.
"Sayang.. kau tidak apa – apa?" suara tanya dari Ibu Chanyeol membuat dirinya kembali tersadar.
"E-e-eoh.. aku tidak apa – apa bu.." bohongnya menjawab, berusaha menyangkal beberapa menit belakangan dirinya terhanyut dalam keresahan.
Ada jeda sesaat sebelum Ibu Chanyeol kembali bersuara dalam keheningan disekitar suaranya, tidak ada suara Taeoh yang bergumam tidak jelas, tidak ada suara Jongin atau Kyungsoo yang ikut bertanya menanyakkan keadaan Baekhyun dan juga tidak ada celotehan Ayah Chanyeol dari setiap ucapan istrinya terhadap Baekhyun.
Ibu Chanyeol seakan – akan tengah berada didalam kamar untuk kembali melanjutkan pembicaraan teleponnya lebih tenang dengan Baekhyun saat ini.
"Ada apa? Aku bisa merasakah sesuatu telah terjadi sayang.. kau sudah bertemu dengan Chanyeol kan? Kalian sudah bicara? Apa yang ia katakan?" Ibu Chanyeol bertanya tanpa henti dan mendengarnya semakin membuat Baekhyun merasa bersalah bila ia tak menceritakannya.
"Baekhyun.. tidak apa.. kau bisa menceritakannya sayang…" Ibu Chanyeol meyakinkan.
Baekhyun tak kuasa menahannya, ia mulai menceritakan semuanya. Bagaimana pertemuanya dengan Chanyeol, apa yang terjadi saat makan malam mereka juga menceritakan dengan rinci saat pria itu mendatanginya dan memberikan penjelasan status hubungan mereka.
Ia tak bohong saat mengatakan pada Ibu Chanyeol bagaimana sedih hatinya ketika kata 'mantan' terucap dari mulut pria itu. Sakit tajam lidah Chanyeol membuatnya hancur dan air matanya mengalir, terlebih ketika dengan jelas Chanyeol menunjukkan bahwa yang ia pedulikan hanyalah anaknya. Chanyeol berada saat itu hanya untuk anaknya, bukan untuk Baekhyun.
"Hubungan kita sudah berakhir Bu.. a-aku bahkan baru berucap maaf dan dia tidak mau mendengarkan aku.." Baekhyun mengadu dengan deraian isak tangis, dirinya begitu lemah bila sudah bercerita pada Ibu Chanyeol, wanita paruh baya itu seakan – akan bisa membaca pikiran dan hati Baekhyun hanya dengan mendengar suaranya.
"Oh my dear.. anakku memang brengsek." Suara tangisnya berganti dengan tawa renyah dengan mudah ketika mendengar Ibu Chanyeol mengumpati anaknya. "Dia itu—YAAA!" Baekhyun menjauhkan gagang teleponnya menghindari lengkingan suara Ibu Chanyeol yang menggelegar nyaring hampir merusak pendengarannya.
"—Wuah! Dia memang benar – benar ingin dicoret namanya dari daftar keluarga Park!" Baekhyun masih setia mendengarkan tanpa sempat kembali bercerita, Ibu Chanyeol benar – benar terdengar kesal setelah mendengarkan cerita Baekhyun mengenai pertemuan pertamanya kembali dengan Chanyeol.
"Oke, oke., aku akan memarahi anak itu—"
"Ibu.. jangan." Baekhyun menyahut mencegah Ibu Chanyeol berucap. "A-aku akan merasa perasaan Chanyeol terpaksa untuk memaafkanku dan juga terpaksa untuk menerimaku kembali—"
"Tapi dia memang seharusnya dimarahi atau bahkan dipukul kepalanya supaya otaknya kembali bekerja dengan benar Baekhyunnie. Bisa – bisanya dia hanya mengatakan bertanggung jawab! Dia harus diingatkan lagi bagaimana dia bahkan seperti orang tak memiliki tujuan hidup ketika kalian berpisah."
Baekhyun mengulum mulutnya, ya.. sejujurnya ia merindukan Chanyeol-nya seperti dulu, ketika perasaan cinta Chanyeol begitu besar padanya.
"Jangan terlalu pikirkan apa yang dikatakan anak bodoh itu, kau harus kuat dan bertahan disana.. buat dia kembali mengingat bagaimana awal pertemuan kalian.. bagaimana perasaan kalian saat itu.. Kau harus bisa menunjukkan rasa cintamu padanya Baekhyun, agar ia percaya bahwa kembalinya dirimu bukan hanya untuk sebuah pertanggung jawaban, tapi untuk perasaan cinta."
Ucapan Ibu Chanyeol seakan – akan menguatkan Baekhyun kembali. Ya, ia datang kembali bertahan sejauh ini bukan hanya untuk sebuah pertanggung jawaban, ia datang untuk cintanya pada Chanyeol, untuk hubungan mereka dan untuk masa depan mereka, dirinya, Chanyeol, Chelsea dan juga anak mereka nantinya.
Ia datang untuk membuktikan pada Ibu-nya bahwa ia bisa hidup dengan kata cinta.
.
.
Meeting panjang dan menghabiskan hampir setengah harinya membuatnya merasa suntuk dan juga lelah teramat sangat, lalu ketika pandangannya teralihka melihat kehadiran Irene yang berlalu lalang di luar ruang meetingnya, wanita itu jelas gelisah dan memperlihatkan dengan jelas ada hal yang tidak beres, jelas itu menggangu konsetrasi Chanyeol.
Dinner with me?
Bahkan pesan yang baru saja masuk dari Sanne terlihat di layar ponselnya hanya mengalihkan pandangannya sesaat, setelahnya ia tetap memperhatikan Irene yang kini sudah berkacak pinggang melayangkan tatapa marah padanya.
Ada yang salah dengan sepupunya.—batinnya.
Chanyeol memotong pembicaraan Manajer Proyek yang tengah menjabarkan rincian pekerjaan yang akan menghasilkan pundi – pundi dollar dan emas dalam rekeningnya begitu saja. Ia meminta rehat meeting selama 30 menit lalu melangkah lebar menyusul Irene.
"Ada apa?" tanyanya setelah berhasil menarik Irene pada tempat yang lebih sunyi jauh dari lalu lalang para pegawai lainnya.
"Ibu-mu menelepon, mengancam akan menarik sahammu dan bahkan menghilangkan namamu dari daftar keluarga Park." Ucapnya cepat yang tak mudah dipahami begitu saja oleh Chanyeol, raut wajah pria itu bahkan terlihat jelas kesulitan mencerna maksud ucapan Irene.
"Ibu-ku sedang stress mungkin." Ia menyimpulkan tidak mau mengambil ucapan Irene.
Wanita itu menggeleng, "Dia benar – benar marah padamu, trust me Dude, sepertinya kali ini kau melakukan kesalahan fatal."
"Aku tidak melakukan apapun!" Chanyeol membela diri.
"Mungkin Ibu-mu tahu kalau kau sebenarnya sudah menyetubuhi Sanne."
"What!—Big no! kalau kami sudah bercinta pun Ibu-ku tidak akan peduli." Chanyeol menyanggah tuduhan Irene.
Irene memandangi Chanyeol tak percaya dan juga ikut kesal membayangkan kalau sepupunya kembali menjadi playboy brengsek pada masanya. Bayangan akan masa itu benar – benar membuat dirinya ingin mengumpat kotor dan bahkan menghabisi Chanyeol.
Irene baru saja ingin berkata agar Chanyeol menelepon Ibu-nya saat ini dan menanyakkan mengenai inti permasalahan dari ucapan yang dikatakan oleh wanita paruh baya itu, tapi sebelum mulutnya bahkan berucap, Chanyeol menunjukkan ponselnya pada Irene yang bergetar dengan panggilan telepon dari sang Ibu muncul dilayarnya.
"Panjang umur Bu.." Chanyeol terkekeh dalam guyonannya disambut dengan pukulan cukup keras dari Irene.
"Yes Mam." Ucapnya sembari melangkah menjauh dari Irene selagi ia mendengarkan ancaman Ibunya yang tak masuk akal.
"Kau benar – benar ingin ku kutuk ya!" Chanyeol mengernyit bingung.
"Okey—halo, apa kabar Ibu.."
"Tidak usah menanyakkan kabarku! Apa yang kau lakukan pada Baekhyun huh?"
Sedetik kemudian Chanyeol mengerti maksud dari segala umpatan ancaman yang Ibu-nya layangkan padanya. Chanyeol menundukkan kepala, menyalahkan dirinya karena tak mengabari masalah dirinya dan Baekhyun lebih dulu pada sang Ibu.
"O-okey.. apa yang salah dengan yang aku lakukan." Santainya menyahut kembali mendapatkan ungkapan kekesalan dari sang Ibu. Benaknya bertanya kenapa Ibu-nya bisa mengetahui kejadian yang baru terjadi beberapa jam yang lalu, ia bahkan belum bercerita pada Irene atau siapapun.
Chanyeol mendengarkan semua umpatan Ibunya, ia bersyukur hanya mendengarkan pada panggilan suara bukan langsung berhadapan dengan Ibunya saat ini.
"Kemarin kau menangis – nangis memohon pada Baekhyun, sekarang giliran dia kembali kau seenaknya saja menganggap semuanya sudah berakhir?! Kalau kau masih menjadi anak yang brengsek aku coret namamu dari daftar keluarga!"
Chanyeol menarik pangkal hidungnya untuk mengurangi rasa pening dari ocehan sang Ibu yang tak berkesudahan.
"Dia hamil Chanyeol! Hamil! Dan yang dikandung itu anakmu. Ya aku tahu Baekhyun salah waktu itu, tapi kau seharusnya tahu bagaimana perjalanan ia untuk akhirnya mempertahankan anakmu, dia bahkan menunggu lama untuk berani kembali ke New York untuk menemuimu! Astaga anak ini.."
"Bu, boleh aku bicara mengutarakan pendapatku?" Chanyeol meminta kesempatan selagi Ibunya menjelaskan pada Kyungsoo yang terdengar menanyakkan pada siapa wanita itu tengah mengamuk saat ini.
"Tidak! Mau apa kau?!" Chanyeol menggeleng, Ibunya benar – benar marah padanya dan ia tidak bisa melarang. Ia tahu apa yang ia lakukan, ia tahu apa yang ia katakan pada Baekhyun tadi pagi adalah sikap brengseknya sebagai pria. Tapi bukankah ia wajar melakukannya? Bukankah ia berhak mengambil keputusan itu mengingat Baekhyun pun pernah melakukannya yang lebih kejam dibandingkan dengan apa yang ia berikan pada wanita itu.
"Bukankah aku berhak melakukannya?" Chanyeol berucap meskipun Ibunya masih meluapkan kekesalannya. "Ia pernah menghancurkan hatiku Bu, Ia membuang semua kesempatan yang aku berikan agar kami bisa bersama, Ia mengatakan dengan jelas tidak menginginkan anakku, ia mengatakan dengan jelas tak ada cinta dari hatinya untukku—"
"Dan kau percaya?"
Chanyeol bergeming, menahan kalimatnya yang belum selesai ia utarakan.
"Chanyeol.. Baekhyun sejak awal kurang kasih sayang dari keluarganya. Ia tidak mudah percaya pada pria manapun karena sejak awal keluarganya tak sempurna.. dan ya, Aku tidak bisa menyalahkan dirinya ketika ia meninggalkanmu dan bahkan menurut pada perintah Ibunya untuk menggugurkan kandungannya."
"Kau pun tak berusaha keras untuk mempertahankan anakmu saat itu, kau hanya menuruti apa yang ia inginkan lalu pergi begitu saja—"
"Karena itu yang ia inginkan Bu!" Chanyeol menaikkan suaranya, merasa kesal mengingat pada saat itu memang ia tak berdaya dan bahkan tak berkeinginan memperjuangkan semuanya. "Aku tidak tahu harus melakukan apa lagi, saat itu ia bersungguh – sungguh dan bahkan memohon agar aku menyetujuinya. Ia mengatakan dengan jelas bahwa hubungan yang kita miliki dalam beberapa saat bukanlah cinta—"
"Dan kau percaya?"
Chanyeol kembali bergeming, pertanyaan Ibunya tepat pada hatinya, hatinya paling dalam.
"Kau percaya dia tidak memiliki perasaan cinta padamu?" tanya Ibunya lagi karena Chanyeol masih belum mengeluarkan sahutan apapun.
"Kau adalah pria pertama yang bisa membuatnya memulai sebuah hubungan, kalian bukan hanya melakukan seks singkat, tapi kalian bercinta setiap waktu dan kau anggap itu hanyalah sebuah permainan? Kau tidak menyadari bahwa Baekhyun sesungguhnya memang mencintaimu kan? Wanita itu terlalu malu untuk mengakuinya Chanyeol.. dia malu untuk mengakuinya dirinya sudah mencintaimu sejak lama, dan kau pun juga tidak menyadarinya. Ketika ada masalah ini, kau hanya memikirkan ia begitu egois mengambil keputusan sementara kau pun tidak melakukan usaha keras untuk mempertahankannya."
Ucapan Ibu-nya tidak salah, Chanyeol akui itu. Ia memang tidak menyadari selama ini Baekhyun sudah jatuh hati padanya, Baekhyun bersedia menjadi kekasihnya, mereka bahkan tinggal bersama, menghabiskan waktu bersama layaknya sepasang kekasih. Chanyeol bahkan tak menyadari kecanggungan Baekhyun ketika mereka berpergian bersama – sama bukan karena wanita itu enggan untuk berada didekatnya, tapi karena wanita itu tidak pernah tahu bagaimana menunjukkan kasih sayang pada orang yang ia sayangi sebagai sepasang kekasih.
Ia baru ingat dalam beberapa kesempatan, Baekhyun sering memandangi sepasang kekasih lainnya, saat itu Chanyeol berpikir Baekhyun merasa aneh melihat sepasang kekasih berlalu lalang dengan begitu romantisnya, ia tak berpikir bahwa Baekhyun mungkin saja memiliki perasaan iri pada sosok wanitanya karena mereka bisa memiliki kisah cinta yang begitu indah—tak seperti dirinya yang tak mengenal kata cinta sejak awal.
"Apa kau tahu bagaimana Baekhyun bisa memutuskan untuk tak menggugurkan kandungannya?"
Chanyeol menggeleng dalam diam.
"Apa kau tahu Baekhyun diusir oleh Ibu-nya dihadapan Ayah dan juga orang banyak saat ia di rumah sakit?"
Chanyeol lagi – lagi menggeleng, hanya saja kini ada rasa sesak terasa di hatinya yang begitu sakit hingga terasa begitu perih.
"Kau tidak tahu kan selama ini dia tidur dikamarmu, memakai semua kaosmu setiap malam karena bayi didalam kandungannya tidak bisa tidur kalau Baekhyun tidak memakainya, ia bahkan menciumi kaosmu setiap saat hanya untuk mengingat aroma tubuhmu."
Air matanya Chanyeol mengalir begitu saja membayangkan apa yang Ibunya ucapkan padanya.
"Dia bahkan pernah memintaku memasak nasi goreng kimchi.. tapi karena rasanya tidak sama seperti masakanmu, ia tidak memakannya.."
Chanyeol masih belum ingin mengatakan apapun pada Ibunya meskipun saat ini Ibunya tengah terisak setelah bercerita cukup panjang padanya.
"Jangan seperti ini nak.. kau tega melakukannya pada anakmu sendiri hm? Kau bisa memperlakukan Yoora begitu perhatian dan penuh kasih sayang.. kenapa kau tidak bisa melakukannya untuk anakmu sendiri hm? Bayangkan kalau Yoora yang diperlakukan seperti Baekhyun saat ini.. apa kau tidak marah?"
Chanyeol memutuskan panggilan telepon Ibunya begitu saja, hatinya berdenyut membayangkan mendiang kakaknya dan bahkan kali ini ia merutuki dirinya sendiri setelah mendengarkan ucapan Ibunya.
Ia ingin egois, sejujurnya. Membuat Baekhyun merasakan bagaimana dirinya hancur ketika wanita itu melukai hatinya, Chanyeol ingin membalaskan semuanya, tapi nyatanya hati memang tidak bisa dibohongi.
Perasaannya tidak bisa ikut berkompromi dengan pikiran egoisnya.
Chanyeol mengusap kasar wajahnya, tidak ingin memperlihatkan jejak air mata yang sempat membasahi pipinya. Ia baru saja berbalik dan hendak melangkah untuk kembali pada ruangan meetingnya namun langkahnya terhenti karena Irene tengah mengarah padanya dengan langkah lebar.
Ada apa? Tanyanya dalam hati.
Mulutnya baru akan berucap ingin bertanya tapi Irene lebih dulu melayangkan tamparan cukup keras dipipinya dengan rasa nyeri dan panas yang luar biasa.
"Kau memang masihlah Chanyeol yang brengsek." Irene berucap kesal.
"Tanggung jawab? Kau bertanggung jawab hanya dengan memberikan uang? Kau pikir hanya dengan uang kau bisa memberikan bukti tanggung jawabmu padanya? Kalau aku jadi Baekhyun, aku tidak akan menerima uangmu sedikit pun! Aku akan menyesal dengan sangat karena mau mempertahankan bayimu! Kalau aku jadi Baekhyun, lebih baik aku tetap memilih menggugurkan bayimu dan tak pernah kembali padamu!" telunjuk Irene terarah tepat dihadapan wajah Chanyeol.
Irene benar – benar meluapkan kemarahannya.
"Kau memang brengsek." Chanyeol melihat jelas sorot mata Irene yang tertuju padanya menyimpan segala amarah yang siap meluap kapan saja. "Kau ingin ia merasakan sakit seperti yang kau rasakan saat itu? Well, Park Chanyeol.. yang kau lakukan saat ini padanya lebih jahat dibandingkan yang ia lakukan."
"Lebih jahat katamu?" Chanyeol merasa tak terima.
"Ya."
"Dia memintaku untuk menandatangani surat pembunuhan bayi! Kau bilang aku yang lebih jahat?"
Irene berdecih kesal, "Ya, kau lebih jahat. Kau tahu kenapa? Karena kau melakukannya. Ia hanya meminta.. dan kau tak melakukan apapun untuk menolaknya. Ibumu lah yang mempertahankan cucunya sendiri, Ayah Baekhyun-lah yang yang memberikan kekuatan pada mantanmu itu untuk tetap bertahan. Kau tidak melakukan apapun selain menangis, berlutut dan juga memohon pada takdir. Ya, kau memang brengsek. Aku berharap kali ini Baekhyun sudah pergi meninggalkanmu lagi!" Irene berbalik lalu melangkah lebar meninggalkan Chanyeol yang baru saja akan kembali melayangkan protest terhadap ucapannya.
Chanyeol menghela nafas panjang merasa kesal lagi – lagi ia disudutkan dalam masalah ini.
Dirinya tak menyadari bahwa baik ia maupun Baekhyun sama – sama egois merasa malu untuk saling mengakui perasaanya masing – masing.
LOVELESS
Baekhyun memandangi beberapa buku tabungan milik Chanyeol yang masih tergeletak di meja makannya serta beberapa kartu berwarna hitam dan emas yang juga berada disana. Sudah dua hari berselang sejak pertemuan mereka kembali dan memang keadaan tak ada yang berubah. Bakehyun ingat jelas apa yang dikatakan oleh Chanyeol sepenuhnya, hubungannya dengan Chanyeol sudah berakhir dan yang mereka miliki hanyalah rasa tanggung jawab karena anak yang dikandung Baekhyun.
Dan bagi Baekhyun, ia kembali ke New York bukan hanya untuk sebuah rasa tanggung jawab dari Chanyeol. Apa yang dikatakan oleh Ibu Chanyeol dan juga Irene kemarin semakin menguatkan dirinya untuk mencoba berbagai cara agar hubungan mereka kembali seperti sebelumnya.
Baekhyun bahkan tak sependapat ketika Irene bercerita bahwa Chanyeol menjadi pihak paling jahat diantara keduanya. Baginya, Dia adalah pihak yang patut disalahkan untuk semuanya. Baekhyun yang memulai, menarik benang saat ia memulai hubungannya dengan Chanyeol untuk dililitkan begitu rumit pada pria itu hingag membuat jalan yang mereka lalui berliku – liku dan sulit untuk mencari jalan keluarnya.
Dan hari ini, ia bertekad untuk memulainya dari awal.
Melangkah mundur kembali pada awal pertemuanya dengan Chanyeol, membawa benang hubungan mereka untuk tertarik lurus hingga tak ada kesalah pahaman atau bahkan ego dari keras hati yang menghalanginya.
Baekhyun mengusap perutnya dengan lembut, menepuk – nepuk perutnya—Ia tengah berbicara dari hati ke hati pada penghuni kandungannya yang nampaknya ikut bersemangat dengan rencana yang akan Baekhyun mulai pada saat ini.
"Let's go to meet Daddy…" itulah yang ia gumamkan dalam benaknya ketika membuka pintu lalu melangkah secara bertahap sembari menghitung langkahnya. Hitungan dan gerak langkahnya terhenti pada angka 10 tepat ketika kakinya tiba didekat pintu unit apartemen Chanyeol.
Ada senyum kecil yang terbentu diwajahnya setelah itu, Ia kembali menoleh untuk memandangi pintu apartemennya, mengingat kembali kenangan dirinya dan Chanyeol kala itu hanya karena mempermasalahkan perbedaan langkah kaki mereka.
Baekhyun menegakkan tubuhnya, membenarkan tatanan rambutnya agar tak terlihat terlalu rapi namun juga tak terlalu berantakkan layaknya wanita cantik baru saja terbangun dari tidurnya. Itulah gambaran yang ingin ia perlihatkan apda Chanyeol pagi ini.
Pukul 6.45, pagi.
Baekhyun mulai mengetuk pintu unit Apartemen Chanyeol, ketukan pelan sebanyak tiga kali ia lakukan lebih dulu lalu menunggu pergerakkan balasan dari empunya apartemen. Belum ada pergerakkan sebagai balasan dari ketukannya, mulutnya mengulum kedalam mulai tak yakin pilihan pertamanya untuk mencoba kembali memperbaiki hubungannya.
Kepalanya menunduk sebagai tanda keinginan menyerah, matanya melihat pada pergerakkan perutnya yang berdetak, dan itu ia simpulkan untuk sebagai ajakan mencoba mengetuk kembali. Baekhyun melakukannya lagi, ketukkan sebanyak lima kali dengan jeda cepat ia lakukan, bukan ketukan pelan seperti sebelumnya.
Dan akhirnya ada jawaban yang ia dapatkan.
Dari balik pintu Apartemen Chanyeol terdengar suara kunci yang terbuka, Baekhyun menahan senyuman untuk tak terbentuk diwajahnya meskipun ia sangat ingin melakukannya. Langkahnya tergerak mundur seiring dengan gerak pintu yang terbuka perlahan. Lain halnya dengan debaran pada hatinya yang bergerak begitu cepat berharap untuk bisa melihat Chanyeol pagi itu dan menyambutnya dengan senyuman hangat.
"H—hai.." Baekhyun menyapa, melambaikan tangannya kaku pada Chanyeol yang tengah bersandar pada dinding dan melihat ke arah Baekhyun dengan wajah bantalnya. Rambut Chanyeol terlihat berantakkan khas orang baru bangun tidur, pria itu bahkan hanya mengenakkan baju handuk untuk menutupi tubuhnya.
"Baekhyun?" Chanyeol memastikan dengan menyebut namanya sembari mengusap matanya, masih tak yakin wanita yang itu mengetuk pintu Apartemennya sepagi ini.
"Ma—maaf aku mengganggumu.. a-aku ingin minta tolong.." mulutnya berusaha mengucapkan kalimat minta tolong yang sejak semalam sudah ia rencanakan.
Alis Chanyeol mengernyit tak pernah terpikirkan bahwa Baekhyun akan datang menemuinya sepagi ini untuk meminta sebuah pertolongan.
"A—apa aku boleh meminjam mesin pemanggang roti?"
Chanyeol menatap Baekhyun masih mencari kesadaran dan juga coba mendengarkan permintaan tolong dari wanita itu.
"Mesin pemanggangku rusak.. dan .. aku ingin makan roti panggang.." lirihnya terdengar ia ucapkan dengan nada sedih guna membuat Chanyeol percaya.
Pria itu menatapnya masih dengan rasa kantuk yang menjalar, belum mengucapkan satu kata pun untuk membalas permintaan Baekhyun. Mereka kembali saling menatap dalam diam sesaat sebelum akhirnya tangan Chanyeol membuka pintu apartemennya, kepalanya bergerak mengajak Baekhyun untuk masuk ke dalam tempatnya.
Lantas tentu saja hati Baekhyun bertepuk tangan bahagia berpikir masih ada kesempatan untuk dirinya kembali memperbaiki hubungannya dengan Chanyeol.
"Duduklah." Chanyeol menarik satu kursi—kursi yang biasa diduduki oleh Baekhyun selama wanita itu berada di apartemennya.
Baekhyun menurut, duduk dengan tenang sembari memperhatikan Chanyeol yang mulai mondar – mandir menyiapkan sarapan roti panggang yang Baekhyun inginkan.
"Strawberry?" Chanyeol bertanya padanya dengan posisi memunggui.
"Eoh."
Chanyeol mulai memanggang roti, membuat jus dan juga mengeluarkan beberapa potongan buha dari dalam kulkas, kemudian ia sajikan pada meja makannya. Setelah semuanya siap, Chanyeol mempersilahkan Baekhyun untuk memakannya lebih dulu.
"Makanlah."
"K-kau tidak ikut makan?" Baekhyun berbasa – basi yang sebenarnya ia berharap Chanyeol mau menemaninya untuk duduk dan menikmati sarapan bersama dengannya.
"Ada yang harus aku lakukan.." kali ini Baekhyun yang merasa aneh mendengar jawaban Chanyeol, suara pria itu terdengar lirih seakan – akan merasa bersalah pada sesuatu hal.
Baekhyun mengangguk, tak ingin rasa ingin tahunya begitu mencolok didepan Chanyeol. Pria itu kembali ke kamarnya dan Baekhyun memulai menikmati sarapannya. Sarapan pertamanya di apartemen Chanyeol dan juga dimasak serta disiapkan langsung oleh pria itu. Chanyeol bahkan membuatkan dirinya susu yang khusus untuk Ibu hamil—Baekhyun sempat mempertanyakkan kenapa pria itu memiliki merek susu yang sama seperti yang ia miliki namun rasa lapar dan juga bahagia keadaan hatinya menahan pemikiran itu didalam benaknya.
Meskipun ia berpura – pura memulai awal pagi ini dengan rasa lapar yang di tak disengaja, nyatanya Baekhyun benar – benar melahap sarapan yang disiapkan Chanyeol hampir tak tersisa. Roti panggang dengan selai strawberry sudah ia habiskan sebanyak tiga lembar, potongan buah strawberry dalam satu mangkuk pun kini sedikit demi sedikit ia lahap hingga menyisakan beberapa potong kecil.
Lama menunggu seorang diri membuat Baekhyun melihat sekeliling area apartemen Chanyeol dan juga memperhatikan pintu kamar pria itu yang masih tertutup rapat. Baekhyun baru saja akan menenggak gelas susu-nya hingga pandangannya menangkap satu mantel berwarna merah muda tergeletak diatas sofa panjang didekat meja tv milik Chanyeol.
Fokusnya langsung terarah pada mantel merah muda itu menerka – nerka apakah milik Irene atau mungkin milik Chelsea.
Ia bawa tubuhnya untuk beranjak dari kursi lalu melangkah perlahan sembari menyesap gelas susunya. Ketika langkahnya terhenti tepat di sofa panjang itu, tangan Baekhyun mulai bergerak meraih bagian dari mantel dan lalu ia angkat tinggi dengan maksud dipindahkan pada stand hanger milik Chanyeol yang berada disudut ruangan.
Tangannya baru selesai meletakkan mantel berwarna pink yang berukuran tubuh wanita dewasa, lalu ia berbalik dengan pemikiran ia harus mengingatkan pada Irene karena mantel wanita itu tertinggal di apartemen Chanyeol.
Suara bunyi pintu kamar yang terbuka membawanya melangkah cepat untuk menyambut Chanyeol, keinginan untuk mengucapkan terima kasih siap ia lontarkan. Namun apa daya, langkah terhenti dan sulit digerakkan ketika Chanyeol melangkah keluar diikuti dengan sosok wanita berambut pirang dibelakangnya.
Sanne.
Lantas seketikan tulang dan otot Baekhyun tergerak lunglai begitu saja hingga menyebabkan gelas yang ia pegang jatuh dari pegangan tangannya. Mulutnya bahkan terasa kaku hanya untuk mengucapkan kata maaf atau bahkan membalas sapaan dari wanita model cantik yang berdiri dibelakang Chanyeol.
"Sorry..I don't mean to surprise you.." Model itu menyapa Baekhyun ketika ia melangkah menuju stand hanger untuk mengambil mantel berwarna pink yang baru saja Baekhyun letakkan disana.
"Thank you for tonight.." lalu Sanne berbisik pada Chanyeol, "Let me know later okey.." Chanyeol mengangguk, lalu mengantarkan ke arah pintu dan setelahnya kembali mengunci dan menutup rapat pintunya.
Yang ia dapati setelahnya adalah Baekhyun yang tengah bersimpuh di lantai apartemennya, menunduk sementara tangannya memunguti satu per satu pecahan dari gelas yang terlepas tadi.
"Biar aku saja.." Chanyeol berucap pelan, salah satu kakinya berlutut menahan tubuhnya sementara tangannya meraih tangan Baekhyun untuk menghentikan wanita itu memunguti setiap pecahan gelasnya.
Disitulah Chanyeol melihat jelas bagaimana tangan Baekhyun bergetar karena wanita itu menangis dalam diam namun air matanya terlihat deras mengalir dari matanya. Kedua belah bibir Baekhyun bahkan bergetar meskipun Chanyeol tahu wanita itu tengah menggigit bibirnya begitu keras.
"Bangunlah.." Chanyeol berusaha mengangkat badan Baekhyun agar bisa ia pindahkan pada tempat lain untuk menghindari luka yang bisa saja tercipta mengingat Baekhyun berada didekat serpihan pecahan – pecahan kecil maupun besar.
"Baek—" Chanyeol bersuara lagi, ia tidak bisa menatap ke arah Baekhyun karena wanita itu menunduk menahan dirinya agar tidak bersitatap dengan mata Chanyeol.
"A-apa aku tidak bisa mendapatkan maafmu?" lalu Baekhyun berucap diiringi isakan tangisnya. Wajahnya terangkat membalas pandangan sendu Chanyeol, memperlihatkan matanya yang memerah dan juga aliran matanya serta betapa hancurnya dia saat ini.
"Aku salah Chanyeol! Aku tahu! Tapi haruskah sampai seperti ini!" kini suaranya terdengar sedikit berteriak, seakan – akan segala perasaan yang terpendam didalam perasaanya ikut tercurahkan pada saat itu.
"Aku salah meninggalkamu! Aku salah memintamu menandatangi surat itu! Aku salah atas semuanya! Tapi tidakkah kau mau memberiku kesempatan lain!" Baekhyun memukul dada Chanyeol lalu berusaha menarik tangannya yang tercengkram genggaman tangan pria itu.
"Kau jahat!" ia memberontak, berusaha memukul dada Chanyeol dengan segala usahanya.
"Kau jahat…" usaha lainnya Baekhyun lakukan sampai akhirnya tenaganya tak cukup kuat untuk terbebas dari genggam tangan Chanyeol. Ia memilih untuk menangis lebih keras dan bahkan mengumpati segala kekesalannya dihadapan Chanyeol sampai pria itu melepaskan cengkraman pada pergelangan tangannya. Lantas Baekhyun beranjak bangun secara tiba – tiba, kakinya berlari cepat keluar dari apartemen Chanyeol dan masuk ke dalam apartemennya, mengunci rapat – rapat pintu itu.
Tidak ada yang Chanyeol lakukan selain masih bersimpuh di lantai namun kini memeluk kedua kakinya. Pria itu terdiam disana, menatap pintu apartemennya yang terbuka lalu memandangi pintu apartemen Baekhyun dalam diam.
Sementara didalam apartemennya, Baekhyun kembali menangis dengan hatinya yang terasa sakit begitu menyiksa hingga bahkan sulit baginya untuk bernafas. Ia meremas dadanya yang terasa nyeri dan juga perutnya yang terasa sakit bersamaan dengan dirinya yang tak bisa menghentikan tangisannya.
Tak pernah terpikirkan sedetik pun ia akan melihat Chanyeol bersama dengan wanita lain tepat dihadapannya. Dan itu memberikan Baekhyun sedikit gambaran bahwa benang kusut yang Ia coba ingin luruskan nyatanya tak sanggup ia benahi karena semuanya tak mudah seperti yang ia bayangkan. Mungkin kata menyerah akan segera Ia ucapkan dan memilih memotong benang lainnya dan memulai merajut kehidupannya yang baru.
Tbc.
Masih berlanjut penyiksaannya…
Semoga terpuaskan ya. Semoga kali ini kalian tidak menangis :)
