Irene tetap melanjutkan penjelasan dari hasil rapat yang baru saja selesai Chanyeol hadiri selang 20 menit yang lalu. Meskipun Chanyeol yang memintanya untuk berhenti tak melanjutkan dan menjawab pertanyaan darinya mengenai Baekhyun—bukan pekerjaan, tidak ia indahkan, ia tetap melanjutkan penjelasannya.
"Rapat selanjutnya, lusa, di London.. oh untuk ini mungkin aku akan meminta bantuan Sehun agar ia ikut serta menemanimu menghadiri meeting disana." Tangan Irene bergerak untuk menandakkan note tambahan pada ipad yang sedari tadi ia pegang.
"Jongin mengatakan ia akan ikut rapat projek di Seoul minggu depan bersama dengan Ayah, dia akan melaporkannya kembali nanti—"
"Aku tidak butuh penjelasan lebih luas mengenail hal itu Bae Joo-Hyun. Kau belum menjawab pertanyaanku tadi—" Chanyeol memotong kesal. Ia menunggu sepupunya bersuara memberikan jawaban namun Irene membalas tatapannya yang terlihat jelas rasa kesal pada sepupunya itu menumpuk sejak kemarin.
Irene membalasnya dengan lirikan sinis, bibirnya bahkan mencibir turut membalas kesal.
"Dengar Park Chanyeol." Nadanya mutlak, menunjukkan kemarahan pada level yang sama atau bahkan lebih dibandingkan dengan nada dari suara Chanyeol tadi.
"Kita berada di kantor dan hubungan antara kita saat ini adalah hubungan kerja. Setidaknya tunjukkan etika profesionalmu sebagai atasan dengan tidak memotong pekerjaanku yang baru saja aku lakukan."
Chanyeol mengusap wajahnya pasrah,ia sudah bosan menunggu jawaban dari Irene yang tak kunjung didapat serta sikap sepupunya itu yang tak lagi bermurah hati padanya terlebih menyangkut tentang Baekhyun.
Chanyeol seharusnya sadar, kesalahan yang ia lakukan serta kebodohannya adalah penyebab semuanya.
Kemarin, ia melakukan kesalahan terbesarnya, dan juga sumber permasalahan barunya. Saat Baekhyun pergi dan menangis seorang diri karena melihat Sanne keluar dari kamarnya. Disitulah ia menghancurkan hati Baekhyun karena perbuatannya, bahkan Chanyeol tak ada keinginan menahan dan mau memberanikan diri untuk mengejar, menjelaskan semuanya atau bahkan meminta maaf pada wanita itu setelahnya.
"Aku mau menemuinya.." lirihnya berucap memohon untuk kesekian kalinya pada Irene agar mau memberi tahu dimana Baekhyun berada saat ini.
Sejak kemarin, Chanyeol tidak melihat Baekhyun pergi, tapi ketika Chanyeol masuk kedalam Apartemen milik Baekhyun, pria itu juga tidak menemukan Baekhyun disana. Bertanya pada Chelsea untuk menanyakkan apakah Baekhyun menjemputnya disekolah atau sekedar menemuinya pun juga tak memberikan jawaban untuk Chanyeol.
Chanyeol benar - benar merasa bersalah sekarang. Ia dimusuhi oleh Ibu, Puterinya, sepupunya dan juga Baekhyun.
Bila Irene dan Chelsea enggan memberikan jawaban dari setiap pertanyaannya mengenai Baekhyun, Ibunya memperlakukan dirinya berbeda. Ibunya selalu menjelaskan mungkin saja Baekhyun kini tengah di London untuk tinggal bersama Sehun, atau mungkin di New York namun dengan pria lainnya. Atau mungkin wanita itu kembali ke Korea dan memilih menggugurkan anaknya dan kembali ke rumah Ibunya.
Chanyeol salah besar dalam memilih musuh saat ini.
"Please.. beri tahu aku dimana ia berada, aku yang akan menyusulnya sendiri dan mencari cara untuk berbicara dengannya."
"Untuk apa?" Ucap Irene dingin.
"Tentu saja u-untuk menjelaskan padanya apa yang terjadi kemarin.."
"Oh." Irene menyahut lagi, menahan tawa renyahnya yang sudah pasti untuk menyindir Chanyeol yang baginya tak tahu diri. "Maksudmu untuk menjelaskan seperti ini..." Irene mengubah posisinya menghampiri Chanyeol dan memperagakan bagaimana cara berdiri pria itu saat akan bicara.
"Baekhyun.." suaranya bahkan dibuat rendah untuk benar - benar terdengar seperti suara Chanyeol. "Aku akui malam itu aku dan Sanne melakukan seks yang sangat hebat, tapi aku tetap waspada agar ia tidak hamil."
"Bu-bukan itu.." sahut Chanyeol tak terima.
"Oh, atau.." Irene memotong. Masih dengan luapan kekesalannya terhadap apa yang sudah dilakukan sepupunya itu terhadap Baekhyun kemarin.
"Oh Baekhyun.. kau tak boleh marah pada apa yang aku lakukan. Kau bahkan menghancurkan hatiku sampai tak tersisa!"
"Bukan itu yang ingin aku katakan!" Teriakan Chanyeol frustasi serta kesal karena kali ini dia disudutkan oleh sebuah kesalah pahaman. Sejujurnya ini lebih menyiksa dirinya dibandingkan pada saat Baekhyun meninggalkannya kala itu.
Irene memandangi Chanyeol penuh tanya dari dalam hatinya. Mencoba memahami gerak sikap Chanyeol yang terlihat di matanya jelas frustasi.
"Aku tidak melakukan apapun malam itu dengan Sanne." Mulutnya akhirnya berani berucap mengenai kenyataan yang tak diketahui Irene, Baekhyun dan keluarganya.
"Aku tidur di kamar Chelsea, Sanne mabuk dan aku tidak mau memgantarkannya pulang karena aku pikir media New York akan lebih brutal memberitakan masalah itu. Aku bawa dia pulang, dia tidur di kamarku seorang diri. Sialnya untukku. Baekhyun datang esok paginya sementara Sanne baru akan beranjak pulang."
Chanyeol mengusap wajahnya kasar dan menghela nafas berat lalu menatap ke arah Irene yang masih sibuk dengan ipad ditangannya. Seakan - akan tak mendengarkan apa yang baru saja Chanyeol katakan.
"YA! Kau tidak mendengarkan apa yang baru saja aku katakan?"
Irene mengangkat wajahnya, berkedip polos tanpa ada rasa bersalah. Ia bahkan menggeleng dengan santai lalu bertolak pinggang dihadapan Chanyeol.
"Untuk apa aku mendengarkanmu?" Sahutnya lantang. Badannya bergerak memutar dan setelahnya melangkah meninggalkan posisi sebelumnya. Irene melangkah pergi meninggalkan Chanyeol tanpa mengucapkan kata permisi pada Boss-nya.
"YA!" Chanyeol berteriak dengan tubuhnya yang terbangun efek dari rasa kesalnya melihat Irene begitu acuh padanya sedari tadi dan bahkan setelah ia mengungkapkan sedikit kata yang ada didalam hatinya, wanita itu malah melenggang pergi tanpa satu kata pun.
"A-aku belum selesai." kata - katanya yang terbata terucap nyatanya mampu membuat Irene menghentikkan langkahnya sebelum wanita itu menggapai daun pintu.
Irene berbalik, wajahnya dingin dan masih memendam rasa kesal untuk Chanyeol masih bisa dilihat pria itu tergambar jelas disana.
"Kata - katamu itu seharusnya untuk Baekhyun, bukan untuk aku dengarkan!" tangan wanita itu menunjuk ke arah Chanyeol.
"Seharusnya kau mengatakan itu pada Baekhyun setelah kejadian dia melihat Sanne keluar dari kamarmu! Bodoh! Aish Bajingan satu ini!" Irene mengusak rambutnya meluapkan rasa kesal lalu melanjutkan langkahnya untuk keluar dari ruangan Chanyeol, ia bahkan sengaja membanting pintu saat menutupnya tak peduli dengan pemilik ruangan yang akan terkena serangan jantung setelahnya atau bahkan menuntutnya ganti rugi apabila pintu itu rusak.
Peduli setan dengan itu—batin Irene.
LOVELESS
"Well.. kau yang memulai semuanya sedari awal."
Chanyeol menunggu dengan rasa takut dan juga penuh rasa bersalah yang menyelimuti dirinya saat ini ketika Ayah Baekhyun mulai berkomentar dengan pengakuan dosa yang baru saja dilakukan olehnya saat ini.
Ya. Ia menemui Ayah Baekhyun saat ini. Atau tepatnya, Chanyeol sengaja meminta waktu untuk bertemu dengan Ayah Chanyeol, untuk meminta saran dan juga permohonan maaf secara langsung dengan apa yang telah ia lakukan pada puteri pria paruh baya yang saat ini berada dihadapannya, mendengarkan semua penjelasannya dan juga dengan tenang menyesap kopi yang dipesan.
Ayah Baekhyun meletakkan cangkir kopinya, memandang ke arah Chanyeol dengan tatapan bijaksana tanpa ada siratan kekecewaan atau pun luapan rasa marah yang mungkin akan dilontarkan, jauh berbeda dengan Ibunya dan juga Irene. dan Chelsea.—ketiga mahluk Hawa itu benar - benar murka dengan apa yang telah ia perbuat pada Baekhyun.
"Dan sepertinya ini salahku."
Chanyeol mengernyit bingung, Kenapa menjadi kesalahan pria paruh baya itu?
"Seharusnya aku tak mengijinkan ia untuk kembali ke New York kemarin." Chanyeol memposisikan tubuhnya untuk duduk tegap lalu menunggu sampai Ayah Baekhyun menyelesaikan kalimatnya.
"Aku yang memberikan harapan, kau ingat dengan ucapan permohonanmu waktu itu?"
Chanyeol mengangguk. Jelas ia masih ingat.
"Aku mengatakan padanya apa yang kau katakan waktu itu padaku.." Ayah Baekhyun kembali menyesap kopinya dengan perlahan. "Aku bahkan memberikan kotak cincin yang kau titipkan padaku saat itu.."
Chanyeol termenung, tidak bisa mengelak ketika rasa bersalah semakin menyelimutinya teringat bagaimana Baekhyun menangis dan begitu hancur tersiksanya kemarin. Kini ia menyalahkan pada situasi kenapa Baekhyun harus datang pagi itu, kenapa Sanne harus mabuk berat pada malam sebelumnya, kenapa ia membawa Sanne pulang ke Apartemennya dan bahkan mengijinkan wanita itu untuk tidur di kamarnya.
Bodoh. Umpatnya untuk dirinya sendiri.
"Jadi.. katakan, Kau masih mau bersama Baekhyun atau tidak?"
Kembali Chanyeol dibuat bungkam dengan pertanyaan dari Ayah Baekhyun yang secara tiba - tiba melemparkan pertanyaan sementara sedari tadi ia siap mendengarkan pria paruh baya itu mengomel atau bahkan mengumpati akan sikapnya.
"Kalau kau sudah tidak ingin bersama anakku, aku akan membawanya pergi jauh dari kehidupannmu. Tidak perlu kau menyiksa dirinya seperti ini, membuatnya menangis dan bahkan menjatuhkan harga dirinya."
Chanyeol kembali merasakan dihujam oleh tajamnya lidah tak bertulang, umpatan dari Ibu, Irene atau Kyungsoo masih bisa ia toleransi, tapi tidak dengan ucapan yang baru saja dikatakan oleh Ayah Baekhyun baru saja.
"Dia masih puteriku Tuan Muda.."
Chanyeol semakin menunduk malu, merasakan rasa bersalah luar biasa atas apa yang ia lakukan, mengabaikan Baekhyun, menyakiti wanita itu hanya karena rasa dendam di hatinya ketika teringat dengan apa yang wanita itu lakukan padanya.
"Dan aku tidak mungkin berdiam diri membiarkan ia diperlakukan seperti itu olehmu. Cukup katakan kau tidak lagi mencintainya, kau tidak menginginkan dia di hidupmu.. aku akan membawa dia pergi. Tidak usah memikirkan tentang anak kalian.. aku bisa mencarikan pria yang cocok untuk menjadi suaminya dan tentunya anak dari bayi yang ia kandung."
Bila sebelumnya Chanyeol meragu dan bahkan mengenyahkan pilihan yang dikatakan oleh hatinya dengan beribu alasan, kini dengan mendengar ucapan Ayah Baekhyun, pikirannya dan hatinya mulai terbuka.
Nyatanya nama Baekhyun memang masih melekat kuat dihatinya meskipun telah hancur, meskipun wanita itu pernah membuat luka, Chanyeol masih mencintainya.
"A-aku.." mulutnya baru akan berucap tapi tertahan karena pandangan mata Ayah Baekhyun yang secara langsung mengintimidasinya.
"Kau benar - benar berpacaran dengan model itu?"
Chanyeol mengeleng.
"Kau yakin?" Alis Ayah Baekhyun menukik tak percaya.
Chanyeol tersenyum kaku, mengingat kembali ucapan Irene sebelumnya kalau yang ia lakukan selama ini adalah sebuah drama untuk menunjukkan pada Baekhyun bahwa ia sudah move on.
"Aku memang dekat dengan Sanne.. tapi hanya sebatas itu."
"Sebatas?" tuntut Ayah Baekhyun.
"A-aku sengaja melakukannya.." akhirnya mulutnya berucap, mengungkapkan kejujuran dari kelemahan dan kerasnya hati Chanyeol yang tak pernah ia ungkapkan.
"Yang aku bayangkan setelah aku kembali ke New York adalah Baekhyun. Baekhyun yang meninggalkanku, bagaimana ia membuat sakit pada hatiku dan menimbulkan kesedihan pada puteriku.."
Ayah Baekhyun mengangguk, memahami setiap kata yang keluar dari mulut Chanyeol.
"Yang aku bayangkan adalah, anakku—anak kami sudah hilang.. aku menandatangani surat itu dan tentunya Baekhyun bisa hidup dengan nyaman tanpa ada beban dihidupnya karena kehamilannya. Ia bisa bebas. Dan sejujurnya aku benci akan pikiran itu. Aku benci pada keadaan dimana aku berpikir hanya aku yang menderita karena semuanya, aku menanggung semuanya, kehilangan, patah hati dan bahkan sebuah dosa besar.."
"Kau tidak pernah terpikirkan bahwa Baekhyun berubah dan mungkin merasakan rasa yang sama dengan apa yang kau rasakan saat itu?"
Chanyeol mengangguk dengan kesimpulan yang begitu cepat dipahami oleh Ayah Baekhyun.
"Kau bermaksud menunjukkn pada dia bahwa dirimu juga bisa melupakan semuanya dengan begitu saja.."
Chanyeol mengangguk lagi.
"Sungguh kekanakkan bukan?" cicitnya malu mengakui atas perilakunya sendiri dan Ayah Baekhyun tersenyum kecil membalasnya.
"You said it for yourself.."
Chanyeol mengangguk, malu pada dirinya sendiri.
"Aku tidak menidurinya malam itu.." pengakuan dosanya kembali berlanjut. "Dia mengajakku makan malam dan karena penat oleh meeting, Baekhyun dan hal semuanya.. aku mengiyakan. Kami makan malam bersama lalu aku bercerita mengenai Baekhyun, mengenai anakku yang masih hidup, finally. Aku bahkan menceritakan bahwa aku mengatakan akan bertanggung jawab hanya untuk anak yang aku kandung."
Chanyeol terdiam sesaat, memberikan rehat untuk dirinya sendiri dengan meminum beer yang ia pesan meskipun hari itu matahari masih terlihat menyinari langit.
"Aku menceritakan semuanya.. sampai akhirnya ia mabuk, aku tidak mungkin membawanya ke hotel dan juga ke apartemen wanita itu. Media akan melihatnya dan membuat gossip yang lebih panas."
"Yeah.. sudah pasti itu akan terjadi."
Chanyeol mengangguk, merasa sedikit tenang Ayah Baekhyun memahami posisinya saat itu.
"Aku masih cukup waras untuk memilih tidur di kamar yang terpisah dengan Sanne.. ia tidur di kamarku, sementara aku tidur bersama Chelsea, di kamar puteriku."
Lagi - lagi Ayah Baekhyun mengangguk, "Dan Baekhyun datang di esok paginya.."
Chanyeol mengangguk. "Kebetulan yang sangat merugikan posisiku."
"Itu salahmu." mulut pria paruh baya itu dengan mudahnya kembali menyalahkan Chanyeol yang tak bisa dielak oleh Chanyeol sendiri.
"Kau yang menahan - nahan diri untuk tidak memulai lebih dulu menunjukkan pada puteriku bahwa kau masih memiliki perasaan untuknya. Jadi ya.. seperti inilah.."
Chanyeol terdiam, tak bisa lagi mengungkapkan kata apapun dan menunggu Ayah Baekhyun bersuara kembali.
"Aku yakin seharusnya kau sudah tahu apa yang harus kau lakukan.. hanya saja aku ingatkan kembali padamu, sedari awal.. putuskan apa yang kau inginkan, aku sudah mengatakannya diawal.. kalau kau tidak mau melanjutkan hubunganmu dengan puteriku, katakan. Kita selesaikan saat itu juga."
"Aku mencintai Baekhyun, Sir."
"Well, kau tidak menunjukkan boy."
"A-aku ingin menemuinya.."
Ayah Baekhyun menggeleng. "Kau yakin? Apa yang akan kau lakukan ketika bertemu dengannya?"
"Me-mengatakan semuanya..."
Ada tawa renyah yang terdengar dari mulut Ayah Baekhyun, "Menurutmu.. Baekhyun akan memaafkanmu begitu saja? Dan mudah percaya dengan ucapanmu?"
Sejenak Chanyeol berpikir..lalu menggeleng.
"Mantapkan dulu keadaan hatimu, pikiranmu.. lalu berpikirlah lebih keras dimana kau bisa menemuinya. Aku tidak bisa membantumu lagi kali ini.. karena aku adalah Ayah yang juga ingin melihat perjuangan dan rasa tanggung jawab darimu untuk puteriku."
Ayah Baekhyun mulai beranjak dari kursinya, memakai kembali mantelnya, memandang Chanyeol sesaat dan berucap permisi meninggalkan pria itu namun setelah baru melangkah dua langkah, Ayah Baekhyun berbalik kembali melihat ke arah Chanyeol.
"Cincin yang kau berikan masih ia pakai, aku rasa kau harus tahu mengenai hal itu." lalu Ayah Baekhyun mulai melangkah kembali meninggalkan Chanyeol dan keluar dari cafe yang menjadi tempat mereka bertemu saat itu.
Chanyeo masih duduk pada tempatnya, meluangkan waktunya untuk berpikir apa yang harus ia lakukan dan bagaimana lagi mencari informasi dari keberadaan Baekhyun yang menghilang begitu saja tanpa ada kabar.
Ada rindu yang ia rasakan kembali namun kali ini susah untuk diungkapkan.
LOVELESS
Ibu-nya, Kyungsoo dan Irene mungkin memang mengirimkan sinyal perang dingin terhadap Chanyeol semenjak kejadian itu yang nyatanya mampu membuat dirinya sungguh merasa frustasi karena hal itu. Apa yang ia katakan dan tanyakan pada mereka tidak akan membuahkan hasil satu pun yang menerangkan jawaban, yang ada hanyalah sebuah umpatan, atau bahkan sindiran menyelekit hati atas apa yang Chanyeol lakukan terhadap Baekhyun hari itu.
Tapi meskipun demikian Chanyeol masih memiliki harapan, yaitu Chelsea.
Puterinya memang meluapkan kekesalan yang sama terhadapnya, tapi tidak sekejam dan separah apa yang dilakukan ketiga wanita dewasa lainnya. Anak itu hanya akan mengatakan dirinya jahat, tapi tentu saja.. tidak ada informasi yang diberikan oleh Chelsea untuk membantu dirinya.
Dan bagi Chanyeol, merayu Chelsea tentu lebih mudah dibandingkan yang lainnya. Oleh karena itu, siang ini ia mengosongkan jadwal meetingnya lalu membawa mobilnya untuk melaju ke arah sekolah Chelsea untuk menjemput sang puteri dengan harapan kali inu Chelsea akan luluh dan mau berpihak padanya.
Namun kenyataan memang selalu lebih pahit dibandingkan angannya.
"Daddy.. Chelsea tidak mau membantu Daddy."
Chanyeol menghela pasrah kembali mendengar penolakan dari Chelsea untuk berpihak padanya. Padahal kali ini Chanyeol membawa puterinya untuk berbelanja dan bahkan bermain seharian di Mall lalu makan malam bersama di sebuah restoran mahal.
"Ayolah Princess..." Chanyeol memohon, frustasi tak tahu harus meminta pertolongan pada siapa lagi hanya untuk mengetahui dimana Baekhyun berada saat ini.
Orang kepercayaan yang pernah ia bayar untuk mencari Baekhyun kala itu bahkan enggan membantunya kembali karena sudah dibayar mahal oleh Ibu dan Ayahnya. Chanyeol sempat tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh orang - orang itu namun ketika ia menanyakkan langsung pada sang Ibu, ia tidak bisa mengelak untuk tak percaya.
"No." Chelsea berucap lantang dengan wajah yang terangkat menunjukkan pendiriannya kuat untuk tak goyah hanya dengan sebuah sogokan mainan dan juga acara bermain sepuasnya.
Lagi, Chanyeol dibuat frustasi oleh semuanya.
"Daddy jahat pada Baekhyunnie.. Chelsea tidak mau melihat Baekhyunnie menangis lagi."
Dan dengan itu Chanyeol tak lagi membuka pembicaraan sembari memohon - mohon pada Chelsea untuk memberi tahukan keberadaan Baekhyun berada.
Puterinya bahkan bisa bersikap dewasa dan turut setuju menjauhkan wanita itu dari keberadaan Chanyeol.
Pikirnya kali ini dunia benar - benar membalaskan semua kebodohan sikapnya dengan sempurna. Tuhan bahkan tak mengijinkan siapapun untuk membantunya, semua pertolongan yang ada dalam pikirannya menolak untuk membantu dengan jawaban lantang tanpa ada rasa belas kasih.
Chanyeol menyandarkan badannya pada kursi dan memandangi dalam diam sosok puterinya yang tengah lahap menyantap makan malamnya. Berbeda dengan dirinya yang tengah berpikir memutar otaknya mencari cara, sebuah cara terbaik untuk menebus kesalahannya.
Entah sudah berapa gelas wine yang diminum oleh Chanyeol saat itu untuk membantunya mencari cara menemukan Baekhyun, bahkan ketika ia tiba di apartemennya, ia kembali membuka satu botol wine dari koleksi pribadinya. Meminumnya sembari melangkah menuju ruangan tak berpenghuni dari ruang apartemen Baekhyun yang menjadi tempat singgahnya setiap ia merindukan wanita itu.
Tubuhnya ia dudukan pada ranjang yang dulu selalu ia singgahi untuk menggoda Baekhyun, memeluk wanita itu, menciuminya begitu puas dan berakhir dengan sahutan desahan serta suara decit ranjang karena percintaan mereka.
Chanyeol menenggak botol winenya hingga cairan berwarna merah itu bahkan turut mengalir keluar dari mulutnya mengingat ia bersikeras meminumnya hingga habis setelahnya ia meletakkan botol itu di lantai. Lalu ia merebahkan tubuhbmnya dengan kasar pada ranjang Baekhyun, berguling ke sisi lainnya sambil memeluk guling milik Baekhyun.
Yang dibayangkan Chanyeol saat itu adalah sosok Baekhyun. Pikirannya dan pandangannya sama - sama terisi oleh Baekhyun.
Chanyeol mengenang beberapa kejadian yang pernah ia habiskan bersama Baekhyun di ranjang itu. Dimana ia memeluk wanita itu, menciuminya lalu mencumbunya. Ia bahkan masih bisa mengingat dengan jelas suara tawa geli dari Baekhyun yang begitu khas ketika tengah membayangkan dirinya menggelitiki bagian leher atau pinggang wanita itu.
Garis bibirnya terbentuk sebuah senyuman panjang namun matanya tengah membendung air mata yang ingin mengalir meluapkan sisi nyata isi hatinya.
Ya, rindu memang menguras hati dan pikiran, terlebih ketika sosok yang dirindukan tak bisa ia gapai.
Lagi, Chanyeol mengakui kesalahan dan kebodohannya.
Ia memejamkan matanya membiarkan air matanya mengalir dengan tangan yang memeluk guling begitu erat, merapalkan isi hatinya dan juga doa agar ia bisa menemukan Baekhyun secepatnya.
Seharusnya selang beberapa menit setelahnya Chanyeol bisa menjemput mimpi indahnya dan bertemu dengan bayangan Baekhyun di lelap tidurnya. Tapi nyatanya ia tak bisa mengabaikan suara getar ponselnya yang terus terjadi menandakkan sebuah panggilan yang tak berkesudahan.
Awalnya ia ingin mengabaikan dan mengumpat pada esok hari tapi rupanya sang pelaku bersikeras memberikan teror telepon sampai selang beberapa menit setelahnya getaran ponsel Chanyeol tak kunjung berhenti.
Chanyeol beranjak bangkit, membanting guling yang ia peluk sebelumnya dan siap melontarkan kata umpatan bila saja matanya melihat ada nama Sehun atau Jongin yang tertera pada layar ponselnya. Tapi semua tertahan dan malah membuat dirinya bertanya - tanya ketika nama Sanne muncul disana.
Wanita itu bahkan terus meneleponnya tanpa henti hingga akhirnya rasa ingin tahu Chanyeol memerintahkan tangannya untuk mengangkat panggilan dari Sanne.
"Aku tahu aku mengganggu waktu tidurmu."
Chanyeol mengangguk tanpa suara menyahut.
"Tapi simpan dulu segala umpatan dari mulutmu itu karena aku punya berita penting! Kau akan berterima kasih padaku setelah ini."
Chanyeol mengernyit bingung, tak paham betul maksud dari ucapan wanita itu.
"Kau tahu aku berada dimana sekarang?" Tanya wanita itu.
"LA." Chanyeol menjawab singkat, kembali merebahkan badannya lalu memeluk guling Baekhyun serta memainkan beberapa boneka yang terpajang disana.
"Binggo." Sanne membenarkan, sementara Chanyeol merasa tak aneh akan hal itu untuk ia ketahui karena wanita itu mengatakan padanya sebelum dirinya berangkat kesana.
"Lalu?" Tanya Chanyeol, masih belum menemukan titik terang dari alasan yang harus membuatnya berterima kasih pada model itu.
"Kau tidak terpikirkan sesuatu atau hal apapun bisa ada di LA? Atau bahkan seseorang..." suara Sanne diakhir kalimatnya terdengar berbisik, menghipnotis Chanyeol untuk berpikir lebih luas maksud dari ucapannya.
"Mak-maksud..apa maksudmu.." Chanyeol sontak kembali duduk di ranjang. Berpikir begitu serius hingga otaknya bahkan hanya bisa mengingat satu nama yang terus menerus berputar didalam sana. Baekhyun.
"Aku bertemu Baekhyun." Ucapan syukur Chanyeol lapalkan didalam hati dengan tangan yang terkepal ikut bersyukur karena akhirnya Tuhan mau menunjukkan sedikit jalan baginya
"Thank you?" Sanne menagih ucapan dsri Chanyeol dengan nada menggoda.
"Uhm.." tapi yang ada hanyalah dehaman datar dengan harga diri yang masih dijunjunh tinggi. "K-kau bertemu dimana?" Lanjutnya suara Chanyeol bertanya menuntut cerita lebih panjang dari Sanne.
Wanita diseberang jauh sana tertawa gemas mendengar balasan dari Chanyeol namun setelahnya tetap mau melanjutkan tujuan dari panggilan teleponnya.
"Aku bertemu dengannya di Mals."
Chanyeol lagi - lagi merutuki kebodohannya karena ia tak terpikirkan tempat itu termasuk dalam tempat dimana kemungkinan dirinya berada. Ya, ia benar - benar bajingan bodoh.
"Dia disana.. lalu aku memperkenalkan diri.."
Sanne menunggu sahutan dan respons dari Chanyeol, tapi pria itu hanya terdiam tak menyahut apapun.
"Aku menjelaskan apa yang terjadi dengan kita, btw." Lanjutnya. "Aku menjelaskan padanya, mengenai semuanya, mengenai hubungan kita yang hanya sebuah gosip.. lalu mengenai malam itu. Aku pun meminta maaf bila kau mau tahu.. yeah aku menjelaskan semuanya. Oh, aku juga mengatakan pihak agensiku akan segera mengklarifikasi mengenai hubungan kita. That's all." Sanne selesai menjelaskan namun selang beberapa menit kemudian belum juga ada sahutan dari Chanyeol sebagai responsnya.
"Aku sudah membantumu sedikit disini.. dan seharusnya otakmu mulai berpikir menyusun rencana untuk menyusulnya.. iya kan?"
Chanyeol mengangguk, ia memang tengah memikirkan untuk lekas menyusul dan menjemput Baekhyun disana, tapi ia masih takut gegabah dari sikapnya hanya semakin membuat Baekhyun kembali melarikan diri darinya.
"D-dia.. bagaimana keadaanya?" Chanyeol kembali berbaring pada ranjang, tapi kini melihat kearah foto Baekhyun yabg berada di tepi nakas.
"All good I guess.. kelihatannya. Wajahnya sama cantik seperti foto yang kau pernah tunjukkan padaku." Chanyeol mendengarkan baik - baik cerita dari Sanne sembari membayangkan wajah Baekhyun. "Perutnya sudah terlihat buncit.. aku rasa anakmu perempuan." Chanyeol menggeleng dengan sikap sok tahu dari Sanne yang sudah ia ketahui sejak bertemu dengan model cantik itu. "Well, setidaknya ia mendengarkan penjelasanku dengan baik.. kami berkenalan dengan baik lalu juga berpamitan dengam baik. Dia memintaku untuk tidak memberitahumu mengenai pertemuan kita-tapi kau tahu aku tidak pernah menepati janji- akhirnya aku meneleponmu sekarang."
Chanyeol tersenyum. "Thank you.." mulutnya akhirnya berucap mengucapkan kata yang sedari tadi ingin didengar oleh Sanne.
"My pleasure.." kekehan dari wanita itu turut membuat Chanyeol tersenyum kecil.
"Kau harus bertemu dengannya, please.. segera gunakkan otak cerdas dan wajah tampanmu untuk memperbaiki semuanya! Aku tidak mau menahan malu dengan menyudahi gosip ini dengan hasil nihil!" Suara Sanne lalu terdengar menuntut. "Setidaknya biarkan hatiku berkorban untuk kebahagian kalian berdua." Tutupnya memohon yang berhasil membuat Chanyeol merasa bersalah lagi.
Ya, Sanne memang memiliki perasaan padanya meskipun dari awal Chanyeol mengatakan bahwa ia tidak tertarik untuk menjalin hubungan yang serius dengan wanita itu. Sanne cukup dewasa menghormati keputusan hati Chanyeol, wanita itu tetap dekat dengannya namun ingat akan batas - batas yang tidak bisa ia lewati. Memang ada cumbuan yang mereka lakukan sebagai sebuah pelampiasan ketika otak mereka sedang tak waras—kesalahan lain yang harus Chanyeol akui nantinya—tapi hanya sebatas itu. Hanya cumbuan dua belah bibir yang haus akan gairah.
"Fighting Chanyeol-ah.." Sanne menyemangati sembari pamit menyudahi panggilan teleponnya mengingat waktu malam semakin berjalan cepat.
"Hum. Thank you so much." Chanyeol menyahut dan kembali berterima kasih pada Sanne, wanita itu masih menyahut menjawabnya dengan suara tawa terpaksa lalu memutuskan sambungan teleponnya.
Selesainya panggilan telepon itu tak lantas membuat Chanyeol melanjutkan tidurnya begitu saja meskipun ia sudah nyaman berbaring sembari memeluk guling. Pikiranya dipenuhi dengan segala remcana dan kemungkinan dari hasilnya bila ia berbuat demikian rupa saat menemui Baekhyun, lagi - lagi ia juga mengingatkan bahwa semuanya tak boleh gegabah dan melibatkan emosi. Ia harus sepenuhnya meminta maaf, menjelaskan kesalahpahaman dan juga menunjukkan cintanya pada Baekhyun agar wanita itu bisa kembali pada dirinya.
Pulang pada hatinya yang merindukkan sosok wanita itu.
LOVELESS
"Kau betul - betul tidak melakukan tindak kekerasan pada Sanne bukan?" Suara Kyungsoo yang terdengar dari suara speaker ponselnya berhasil membuat Luhan dan Baekhyun terkikik geli.
Baekhyun tengah menikmati sarapanya ditemani oleh Luhan dan juga Kyungsoo yang bergabung via panggilan telepon, dan juga Irene yang tersambung oleh video call dari ponsel Luhan.
"Serius.. aku sebenarnya menantikkan kabar kau mungkin menjambak atau menampar model pakaian dalam itu!" Irene ikut menyahut.
Baekhyun menggeleng sembari mengunyah suapan salad yang tengah ia lahap.
"Mereka bicara baik - baik kemarin.." Luhan angkat bicara mewakili Baekhyun menyahut pertanyaan dari dua orang di ponsel yang berbeda.
"Aku tidak yakin Chanyeol belum tahu mengenai ini.." Kyungsoo bersuara lagi. Setelah mendengar cerita lengkap mengenai pertemuan Baekhyun dan Sanne diluar perkiraan mereka.
"Tenang saja.. Aku sudah membuang pria bodoh itu ke London tadi pagi."
Baekhyun menggigit bibirnya dan gerakkannya tertahan untuk kembali menyuapkan salad dari tangannya.
"D-dia pergi?" Tanya lirih.
"Uhm.. Baeboo jangan rindu dengan Daddy dulu ya.." Irene menyahut manja seolah - olah ia tengah berbicara lamgsung dengan bayi Baekhyun dihadapannya. "Daddymu harus dihukum dulu.."
"Kalau bukan karena Mommy-nya yang masih mau bertahan.. Daddy-mu mungkin sudah terkapar di rumah sakit Baeboo-ah.." Kyungsoo ikut menimpali ucapan Irene dan langsung dibantah oleh Baekhyun agar wanita itu menjaga ucapannya.
"Chanyeol terbang ke London tadi pagi.. Aku dan Chelsea akan ke LA mungkin lusa, karena Chelsea tidak bisa bolos sekolah." Irene menginformasikan dan Baekhyun berterima kasih dalam hatinya karena sepupu Chanyeol itu cukup peka dan tahu keinginan hatinya tanpa harus ia ungkapkan.
Luhan hanya tersenyum - senyum melihat Baekhyun disana. Melihat bagaimana wanita itu masih berusaha untuk terlihat biasa saja meskipun kemarin malam ia baru saja bertemu dengan sosok wanita yang dikabarkan dekat dengan pria yang dicintainya lalu mendengarkan sebagian obrolan yang sedari tadi dilakukan terus membicarakan Chanyeol sedari awal.
"Kau benar baik - baik saja?" Luhan angkat bicara setelah Kyungsoo dan Irene menyudahi panggilan mereka dengan Baekhyun.
Baekhyun mengangguk, berusaha memberikan senyumannya meskipun jelas bisa Luhan lihat senyuman itu terpaksa dibuat olehnya.
"Aku bukan bermaksud membela Chanyeol.. tapi tidak ada salahnya kalau kalian kembali bertemu dan bicara.. apalagi ternyata yang kau lihat saat itu adalah salah paham."
Baekhyun menundukkan kepalanya, tak ingin memperlihatkan air matanya yang akan mengalir tanpa komando disaat ia terlibat pembicaraan mengenai Chanyeol.
"Tidak usah terburu - buru.." Luhan menggenggam salah satu tangan Baekhyun dan mengusapnya dengan lembut. "Kau berhak menikmati waktu untuk menenangkan dirimu.. Chanyeol juga harus diberi pelajaran agar kesulitan mencari keberadaanmu." Luhan berkedip menggoda kearah Baekhyun ketika wajah wanita hamil itu telah terangkat membalas menatap mata Luhan.
.
Hari itu bisa dihitung menjadi hari keempat Baekhyun berada di Los Angeles. Hari pertama ia habiskan untuk mendekam di kamar hotel seorang diri, meratapi kesedihannya sepanjang malam dan bahkan sau hari setelahnya ingatannya masih dipenuhi dengan wajah Chanyeol dan juga Sanne. Sesak di hatinya tak juga mereda sampai pada hari berikutnya Ia baru bisa menjelaskan pada Ibu Chanyeol, Ayahnya dan juga Kyungsoo.
Irene sebenarnya sudah memberi tahu mereka secara jelas mengenai apa yang terjadi padanya mengingat ia menghubungi Irene sesudah isak tamgisnya dan rasa nyeri pada perutnya mereda kala dirinya terkapar seorang diri di Apartemennya.
Sakit hatinya masih terasa saat dirinya mengingat Chanyeol tak memberikan penjelasan apapun dari apa yang telah pria itu lakukan.
Tak jarang hatinya pernah memilih untuk menyerah dari Chanyeol. Ia tak ingin hanya menjadi beban bagi pria itu hanya karena ada anak dalam kandungannya. Ya, ia sempat berpikir demikian. Beruntung dirinya dikelilingi oleh orang - orang yang bijaksana dan mampu memberikan kekuatan pda hati dan juga keadaannya.
Ibu Chanyeol dan Ayahnya berperan penting dalam hal itu. Merekalah yang memberikan kekuatan untuk Baekhyun bisa mampu bertahan menunggu Chanyeol menyudahi sikap balas dendamnya yang bagi keduanya sangat kekanakkan. Tak jarang Ibu Chanyeol mengumpati beberapa kata kasar terhadap sikap anaknya itu tapi ia juga terus mengingatkan Baekhyun bahwa Chanyeol hanya tengah dalam masa labil seperti remaja - remaja pria seharusnya.
Sementara untuk Ayahnya, Baekhyun baru menyadari sikap perhatian sang ayah nyatanya cukup besar. Sosok Ayahbyang selama ini ia benci ternyata bersikap penuh kasih sayang padanya, hampir tiap saat Ayahnya menelepon menanyakkan kabar dirinya, kabar Baeboo, bahkan selalu mengingatkan Baekhyun untuk tak meminum susu, vitamin dan makanan sehat agar kandungannya terjamin.
Setelah semua yamg terjadi, Baekhyun baru percaya dengan ungkapan selalu ada hikmah dibalik sebuah kejadian. Dan ya hikmah yang bisa ia dapat nyatanya membuka mata dan pikirannya untuk melihat dan berpikir lebih bijaksana dibandingkan sebelumnya.
Hati yang dulu sekeras dan sedingin es kini lebih terasa hangat. Begitu juga pemikirannya yang terlalu sempit kini bisa lebih luas dalam berpikir dan membuat tindakkannya lebih mawas diri.
Selain Irene, Ibu Chanyeol dan Ayahnya, Kyumgsoo dan Luhan memiliki bagian tersendiri didalam kesehariannya. Kyungsoo selalu mengingatkan hal - hal yang boleh dan dilarang keras bagi Ibu hamil. Berdasarkan dari pengalaman wanita itu dan tentunya Ibu Chanyeol juga. Sementara Luhan, wanita itu menugaskan dirinya untuk menjaga dan menemani Baekhyun ketika dirinya ingin berjalan - jalan menikmati waktu kosongnya yang mana hampir seharian penuh tidak ada kegiatan.
Hingga karena terlalu bosan tanpa kegiatan, Baekhyun mengajukan dirinya untuk bisa ikut membantu bekerja di Mal's, Luhan melarang keras sejujurnya karena pada kenyataannya bekerja di Mal's sangat melelahkan meskipun hanya mencatat pesanan dan juga mengantarkan minuman.
Tapi bukan Baekhyun namanya kalau wanita itu tidak bersikeras tetap pada keinginannya tak mau berdiam diri di kamar hotel atau berjalan – jalan di daerah sekitarnya. Luhan tak bisa menolak lagi terlebih ketika Ayahnya mengatakan mungkin saja itu adalah keinginan dari anak dikandungan Baekhyun. Meskipun pada akhirnya Baekhyun dibuat menyesal karena memilih Mal's sebagai tempat dirinya berada malam itu, Sanne berada disana. Wanita itu bahkan memperkenalkan diri dan meminta waktu untuk bicara pada Baekhyun yang tak mungkin bisa ia tolak dengan kasar mengingat mereka tengah berada dikeramaian.
Baekhyun menghela nafas berat mengingat lagi bagaimana saat ia dan Sanne bertemu, berbicara cukup lama yang tentunya menguras emosi hatinya.
"Kau yakin tidak ingin aku temani?" Luhan memecah lamunan Baekhyun.
"Hm?" sahutnya tak fokus.
Luhan tersenyum lalu menghampiri sembari mengambil jaket dan juga tas yang akan dibawa olehnya. Ia sudah siap menuju Mal's namun masih ragu meninggalkan Baekhyun terlebih ketika hari ini adalah hari pemeriksaan kandungan Baekhyun.
"Kau yakin tidak ingin aku temani ke dokter?" ucapnya lagi setelah ia mendarat tepat duduk disebelah Baekhyun yang tengah berbaring nyaman di sofa sembari mengusap perutnya berulang kali.
Baekhyun menggeleng, "Aku bisa pergi sendiri.." Luhan mengangguk lalu ia pamit dan mengingatkan Baekhyun untuk berhati – hati nantinya sebelum tangannya menutup pintu rumahnya.
LOVELESS
Senyum diwajah Baekhyun mengembang tak kunjung sirna ketika melihat bagaimana rupa anak didalam kandungannya terlihat samar pada foto hasil usg yang baru saja ia dapat setelah menjalankan pemeriksaannya. Ia sudah berada di luar area rumah sakit dan seharusnya lekas menaiki taksi untuk pergi dari sana namun fokusnya masih tertuju pada kertas foto kecil di tangannya. Ini pertama kalinya ia mendapatkan foto hasil usgnya yang memperlihatkan bagaimana Baeboo didalam sana. Lagi - lagi, senyumnya mengembang lebar dan gemas tangannya mengusak foto itu.
Salah satu security di area rumah sakit bahkan harus menghampiri Baekhyun dan mengingatkan dirinya untuk lekas masuk pada taksi lain yang kembali menghampiri Baekhyun di area tunggu disana.
Baekhyun tersenyum malu, menunduk sembari mengucapkan terima kasih lalu masuk kedalam taksi dan menyebutkan tujuan lainnya.
St Monica Pier. –tempat penuh kenangan bersama Chanyeol kala itu kembali ingin ia datangi memanfaatkan waktu kosong yang ia miliki sebelum berkunjung ke Mal's nanti malam.
Baekhyun sengaja meminta supir taksi menepikan mobilnya jauh dari pintu masuk agar ia bisa menikmati berjalan kaki sembari melihat – lihat makanan yang dijual di pinggir jalan. Matanya menangkap sekerumpulan orang – orang yang berkumpul mengerumuni penjual es krim tepat sebelum ia berbelok untuk masuk ke wilayan St Monica Pier. Baekhyun melangkah cepat lalu mulai bergabung pada antrian beberapa orang didepannya.
Beberapa anak – anak yang berlarian untuk ikut mengantri berada didekatnya, bukan membuat dirinya merengut kesal tapi justru ada senyuman yang mengembang membayangkan anaknya kelak akan seperti itu nantinya.
Satu mangkuk strawberry bercampur vanilla ia dapatkan, Baekhyun memakannya secara perlahan sesuai dengan langkahnya yang terus bergerak mulai memasuki keramaian disekitar tempat itu. Matanya memandangi satu per satu arena mainan dan juga beberapa tempat makan yang ia lewati, langkahnya terus berjalan sampai pada tempat dimana ia pernah datangi bersama Chelsea kala itu.
Claw mesin.
Fokus mata Baekhyun tertuju pada boneka berwarna putih yang terlihat didalam kotak kaca itu, cukup lama ia memandangi dan membiarkan beberapa orang bermain pada mesin permainan yang nyatanya gagal untuk membawa pulang satu boneka dari sana. Baekhyun mengeluarkan koin permainannya lalu mulai memasukkan kedalam kotak mesin koin.
Capitnya ia arahkan tepat diatas boneka putih yang sedari tadi sudah ia incar, dengan sangat yakin ia menekan tombol berwarna merah lalu membiarkan mesin capit itu bergerak turun untuk meraih boneka incarannya dan nyatanya tak cukup tepat meraih bagian dari boneka putih incaran Baekhyun.
Ia menghela nafas kecewa. Lalu tanpa ingiin mencoba untuk kedua kalinya, Baekhyun melangkah pergi menuju tempat bermain lainnya, cukup lama ia berkeliling mengitari arena permainan tanpa berniat untuk ikut bergabung. Langkahnya terus bergerak hingga ujung tempat St Monica Pier dimana pemandangan pantai adalah apa yang tersaji didepan matanya.
Baekhyun berdiam diri cukup lama sembari duduk di kursi yang menghadap kea rah pantai sambil memakan Nachos dan juga beberapa kentang yang sempat ia beli dari penjual disekitar area sana. Meskipun ia tengah duduk disana, pandangan matanya terus bergerak melihat sekitarnya dan memandangi beberapa pasangan atau bahkan sekelompok keluarga yang berkunjung disana.
Ada iri yang menyelimuti hatinya melihat kebahagian dari pasangan yang tengah berkencan atau bahkan sepasang suami istri yang tengah menemani putera puteri mereka bermain.
Bisakah ia seperti itu dengan Chanyeol kelak?—batinya kembali bertanya dalam pergejolakan sakit hati dan juga keinginannya dari lubuk hati paling dalam.
Demi menghindari rasa malu karena ia ingin menangis di tempat umum, Baekhyun menyudahi istirahatnya, membawa langkahnya kembali menelusuri area permainan itu hingga kepalanya terasa pusing karena mulai banyak pengunjung yang memadati tempat itu dan rasa sesak mulai Baekhyun rasakan mengingat ia sudah cukup banyak berjalan dan kesulitan bernafas karena ramai orang yang berkunjung disana.
Lantas Baekhyun memilih untuk menyudahi acara bermainnya, ia kembali melangkah keluar berjalan pelan sembari menunggu taksi yang lewat dan bisa mengantarkan ia ke Mal's. Langkahnya harus terhenti ketika ia sudah berjalan cukup jauh karena tali sepatunya terlepas dan terinjak oleh sepatunya sendiri. Beruntung Baekhyun tak sampai tersungkur karenanya.
Karena sulit baginya untuk membenarkan dan mengikat tali sepatunya mengingat dirinya tengah hamil, Baekhyun bermaksud untuk melangkah ke arah tempat duduk yang ia lihat tak jauh dari posisinya saat ini. Langkahnya baru akan tergerak melangkah sampai akhirnya ada sosok pria tinggi melewati dirinya dari arah samping kiri lalu berlutut dihadapannya, menunduk dan memegang kaki Baekhyun.
"Oh!" Baekhyun sontak menjauhkan langkahnya namun pria yang tengah menunduk itu sudah menahan kakinya dan kemudian mengikatkan tali sepatunya.
Baekhyun melihat dengan rasa malu serta tak enak hati terlebih pria itu tak ia kenali, kakinya bergerak mundur setelah pria itu usai mengikatkan tali sepatunya.
"T-thank you." Ucapnya sambil membungkuk meskipun pria yang baru saja membantunya itu masih menunduk menyembunyikkan wajahnya. Gugup dengan rasa tak enak hati masih Baekhyun rasakan terlebih pria itu belum juga bangkit dari posisinya. "Yo—you can leave now.." bisiknya bukan dengan maksud mengusir pria itu, hanya saja Baekhyun mulai tak nyaman karena beberapa orang berlalu lalang mulai memperhatikan dirinya karena pria itu masih berlutut menunduk didepannya.
"Err.. you can get up now.." Baekhyun berbisik membungkuk pada pria itu, bibirnya tergigit menahan malu yang mulai risih ia rasakan.
Tapi nyatanya semuanya menguar begitu saja ketika pria yang sudah membantunya dan terus menundukkan menyembunyikan wajahnya kini memperlihatkan sosoknya, dia adalah Chanyeol. Sosok pria yang belakangan tak ingin ia temui meskipun hatinya mengatakan rindu, sosok pria yang setiap malam selalu Baekhyun rapalkan agar dirinya bisa tidur nyenyak, sosok yang membuat Baekhyun jatuh cinta, patah hati dan rindu bercampur aduk didalam lubuk hatinya yang paling dalam.
Lantas Baekhyun merasa dunia tak lagi sedang berputar, ia bahkan sangat yakin waktu telah terhenti untuk berdetak namun jantungnya tetap berdebar kencang didalam tubuhnya. Mengalirkan luapan perasaan yang sulit untuk diartikan karena untuk berucap atau bahkan bergerakkan pun Baekhyun tak ingin lakukan.
Matanya masih terus memandangi mata Chanyeol yang juga menatap ke arahnya, sementara kedua mulut mereka saling terkunci satu sama lain tak berniat merusak momen kali ini yang tak pernah terbayangkan akan terjadi pada hari itu.
?
Selamat menikmati cemilan malam minggu..
Udah kan.. ga nyesek2 lagi, ga mewek2 lagi :p tim Baekhyun dan tim Chanyeol selamat berdamai! Wakakaka..eh tapi masih mau ramein commentnya ga nih?
Semoga suka sama akhir dari klimaks Loveless ini yaa~
Selamat membaca!
Love,
Viel.
Ps:see you!
