Pagi itu tidak ada perasaan aneh menjalar di hati Irene setelah ia mengantarkan Chelsea ke sekolah dan kini mengarahkan mobilnya untuk menuju kantornya. Perjalanannya bahkan begitu lancar, tak mengalami kendala seperti hari – hari biasanya hingga ia bisa menepikan mobilnya sesaat untuk membeli kopi dari toko kesukaannya, dan kemudian melanjutkan perjalanannya, membelah jalanan Kota New York menuju gedung perkantorannya.
Semua masih terasa aman dan damai baginya terlebih mengingat ia sudah membuang Chanyeol jauh dari Kota New York dan juga dari diri Baekhyun seperti yang ia katakan pada sambungan telepon dirinya dengan wanita itu selama ia berkendara. Ya, ia termasuk pada daftar wanita yang tengah menggaungkan perang dingin pada pria itu saat ini seperti Kyungsoo dan juga Ibu Chanyeol.
Wanita itu bahkan sudah memikirkan acara makan siangnya bisa ia nikmati bersama dengan teman – temannya serta menghabiskan lebih dari satu jam seperti waktu makan siang pada umumnya. Ia berencana akan menghabiskannya dengan berbelanja dan juga menyantap di restoran terkenal nantinya.
Irene begitu bersemangat membayangkan acara makan siangnya akan semenyenangkan itu, jari – jari tangannya bahkan mulai mengirimkan ajakan pada teman – temannya di grup chatnya dan tentu ajakannya tidak ada yang menolak mengingat begitu sulit dirinya bisa ikut makan siang bersama dengan mereka semua.
Senyumnya terus terbentuk diwajahnya hingga ia tiba di meja kerjanya, tidak ada Chanyeol hari ini hingga seminggu kedepan membuatnya lagi – lagi berucap syukur.
Lekas ia membawa beberapa dokumen yang kemarin sudah ia siapkan untuk hari ini, jam 10 nanti ia akan ikut meeting by video conference bersama dengan Chanyeol di London. Masih ada 15 menit sebelum meeting itu dimulai dan Irene pergunakkan untuk merapikan dandan make up wajahnya dan juga memindahkan kopi yang baru saja ia beli pada gelas cangkirnya.
Setelahnya ia melangkah menuju ruangan meeting yang sudah dibooking olehnya untuk tersambung dengan meeting di London saat ini.
Ia duduk pada kursinya bersama dengan beberapa manajer lainnya yang memang diundang untuk bisa ikut hadir pada meeting mengenai projek yang bekerja sama dengan Perusahaan di London.
Ketika layar dihadapan mereka semua menyala dan menampilkan beberapa orang yang tergabung dari kantor di London suasana semakin mendukung untuk terkesan serius fokus akan topic yang akan dibicarakan pada meeting antar dua kota beda Negara ini.
Irene mulai mengetikkan nama – nama pemimpin Perusahaan yang hadir dan terlihat oleh matanya di laptopnya, dan ketika ia mengetikkan nama Sehun disana, tangannya berhenti bergerak, ia baru tersadar bahwa nama Chanyeol belum ia ketik disana. Lalu ingatannya dan cara kerja otaknya tersadar, matanya belum menangkap sosok Chanyeol berada bergabung disana.
"Park William hadir disini sebagai perwakilan dari Park Inc sehubungan dengan Tuan Richard Park tidak bisa menghadiri karena ada urusan bisnis mendesak lainnya—"
Ucapan yang dikatakan oleh salah satu peserta meeting dari kantor di London sontak membuat Irene merasa geram ingin mengumpat pada Chanyeol namun senyumnya masih terlihat dan menjawab halus pada masing – masing Manajer yang bertanya kebenaraan informasi yang baru saja diungkapkan tepat sebelum meetingnya dimulai.
Irene tetap mengangkat wajahnya, memberikan senyuman manisnya lalu menyimak penjelasan awal sebelum meeting yang sebenarnya dimulai. Namun, tangannya ikut tergerak mengetikkan beberapa pesan yang tentunya ditujukkan pada Chanyeol.
YAA PARK BAJINGAN CHANYEOL!
AKU AKAN MEMUKULMU KALAU KAU BERANI MENEMUI BAEKHYUN SEKARANG!
Dan selang sedetik kemudian, ia bahkan melupakan bagaimana menyenangkannya acara makan siangnya nanti.
.
LOVELESS
Chanyeol menggeleng tak percaya melihat isi pesan yang baru saja nampak pada layar ponselnya, pesan yang terkirim dari Irene. Wanita itu bahkan mengirimkan pesannya dengan huruf capital dan tanda seru cukup banyak serta beberapa kata umpatan setelahnya.
Fokusnya kembali teralih pada pemandangan jauh didepannya dimana Baekhyun tengah berdiri disana.
Ya, Chanyeol berada di Los Angeles saat ini. Ia memilih untuk kabur dari penerbangannya ke London dan beralih terbang ke Los Angeles agar bisa menemui Baekhyun. Kembali ia mengucapkan terima kasih pada Sanne karena memberi tahu dimana wanita yang telah ia cari selama lebih dari empat hari belakangan.
Dan mengetahui hal itu, tak menyulitkan Chanyeol untuk tahu dimana Baekhyun berada setelahnya. Ia sudah bisa pastikan Luhan pasti turut membantunya dan karena itu ia sempat mengunjungi rumah Luhan dan menemui wanita itu. Luhan menghadiahinya dengan pukulan telak pada perutnya yang jelas memberikan rasa sakit luar biasa untuk Chanyeol. Tapi itu memang pantas ia dapatkan, baik bagi Luhan atau pun Chanyeol sendiri.
Dengan rasa sakit yang sudah Chanyeol terima dari Luhan, ia diijinkan untuk menemui Baekhyun setelahnya meskipun harus memulainya dengan caranya sendiri, Meskipun demikian hal itu bahkan sudah disyukuri oleh Chanyeol, mengetahui dimana Baekhyun berada dan bahkan bisa melihat wanita itu dengan kedua matanya sendiri sudah cukup melegakan hatinya.
Chanyeol mengikuti Baekhyun sejak wanita itu berangkat dari rumah Luhan, ia mengikuti taksi yang Baekhyun tumpangi dengan jarak tak cukup dekat.
Hatinya kembali meringis antara sedih dan juga kesal setelah mengetahui kemana tujuan pertama yang Baekhyun kunjungi hari itu. Rumah Sakit. Chanyeol sempat ingin bergerak gegabah dengan turun keluar dari mobilnya dan menyusul Baekhyun masuk ke Rumah Sakit tersebut, tapi ia urungkan niatnya, ia belum siap menemui wanita itu.
Chanyeol menunggu hampir 3 jam lamanya didalam mobilnya dengan matanya yang terus fokus pada pintu rumah sakit, matanya bahkan mulai terasa perih karena terus menatap ke depan terus menerus. Ia sangat membutuhkan satu gelas kopi setelah ini.
Tapi penantiannya tak sia – sia karena selang beberapa menit setelahnya, senyumnya terbentuk diwajahnya tepat ketika matanya melihat Baekhyun keluar dengan senyuman manis mengembang diwajahnya.
Ada pertanyaan yang ingin Chanyeol tanyakkan pada wanita itu kenapa manis senyuman Baekhyun terbentuk tanpa ia ketahui. Lalu matanya menangkap lembaran yang berada di genggaman Baekhyun, wanita itu terus memandanginya dengan gerak tangan gemas menunjuk dan berputar – putar pada objek yang terlihat disana.
Lagi – lagi hati Chanyeol meringis karena pemandangan yang ia lihat. Chanyeol yakin Baekhyun baru saja selesai memeriksakan kandungannya dan foto yang dipegang oleh wanitai itu sudah pasti adalah hasil usg keadaan anak mereka.
Ada pertanyaan yang Chanyeol ingin katakan pada Baekhyun saat ini. Bagaimana kabarnya? Bagaimana keadaan anak mereka? Apakah Baekhyun masih mengidam? Apakah anaknya sudah mulai menendang? Apakah Baekhyun sudah tahu jenis kelamin anak mereka?
Rentetan pertanyaan dalam hatinya nyatanya hanya kembali tersimpan dalam hatinya dan terabaikan karena Baekhyun kembali pergi menaiki taksi dan menghilang dari hadapannya. Chanyeol tak punya pilihan lain kembali mengikuti kemana taksi berwarna kuning itu pergi membawa Baekhyun menjauh darinya.
.
Chanyeol sudah mengira kemana arah tujuan taksi yang membawa Baekhyun saat ini didepannya ketika ia melihat tak asing dengan pemandangan jalanan yang tengah ia lalui. Chanyeol sangat yakin, tujuan Baekhyun nantinya adalag St Monica Pier. Namun demikian, ia tetap mengikuti taksi kuning yang membawa Baekhyun didepannya.
Sampai pada saat taksi itu mulai memasuki area jalanan kawasan St Monica Pier, Chanyeol melajukan mobilnya lebih cepat guna mencari area parkir yang mudah ia jangkau lalu menungggu Baekhyun disekitar pintu masuk menuju kawasan itu.
Ada rasa panik seketika dirasakan Chanyeol saat ia tak juga melihat Baekhyun selang beberapa menit berlalu. Matanya bergerak cepat memperhatikan taksi – taksi yang berlalu lalang berhenti dan menurunkan penumpang namun pandangannya belum menangkap sosok Baekhyun diantaranya.
Niatnya sudah ingin kembali ke mobilnya untuk meninggalkan kawasan itu namun baru beberapa langkah kakinya bergerak. Matanya melihat Baekhyun tengah berjalan ke arahnya, membawa satu mangkuk es krim di tangannya, wanita itu begitu menikmatinya dengan senyuman manis diwajahnya terbentuk setiap satu sendok suapannya masuk melebut dalam mulutnya.
Chanyeol membalikkan badannya begitu saja untuk tak bisa terlihat oleh Baekhyun, belum saatnya ia muncul dihadapan wanita itu.
Lantas kakinya kembali mengikuti kemana Baekhyun melangkah.
Ketika Baekhyun menghabiskan beberapa waktu untuk bermain dengan claw machine, Chanyeol setia menunggu sembari memperhatikan betapa gemas wajah wanita itu ketika tak juga berhasil mendapatkan boneka yang diinginkan. Chanyeol terus berada pada jarak aman memperhatikan Baekhyun ketika wanita itu mencoba permainan lainnya, lalu saat Baekhyun begitu menikmati memainkan koin – koin yang terbuang begitu saja pada mesin permainan yang menghasilkan tiket kertas, Chanyeol menunggu dari balik claw machine dan mencoba peruntungannya mengambil boneka berwarna putih yang sudah diinginkan Baekhyun sedari tadi.
Tepat ketika ia mendapatknya, Chanyeol ingin segera menunjukkan pada Baekhyun saat itu juga, namun sayang, wanita itu lebih dulu pergi keluar dari arena permainan dan berjalan – jalan kembali membeli beberapa cemilan lalu terus melangkah hingga akhinrya ia duduk pada kursi yang menghadap ke arah pantai.
Chanyeol melihat jelas bagaimana pandangan wanita itu bergerak memandangi beberapa pasangan dan juga beberapa anggota keluarga yang terlihat pergi bersama dan menghabiskan waktu mereka bersama – sama, Chanyeol yakin, Baekhyun pasti tengah membayangkan bagaimana kehidupannya nanti.
Saat itulah ia tidak bisa menahan dirinya untuk menunjukkan dirinya dihadapan Baekhyun, memohon maaf padanya dan meminta sebuah kesempatan yang sangat diragukan akan mudah didapatkan untuknya.
Jaraknya dengan Baekhyun mulai mengikis semakin dekat namun ia kembali harus memutar badannya begitu cepat dan menutupi wajahnya dengan topi karena nyatanya Baekhyun sudah beranjak dari posisi duduknya lalu melangkah lagi untuk pergi dari sana.
Chanyeol menghela nafas dan menormalkan detak jantungnya, kembali mengikuti Baekhyun yang berjalan santai menikmati suasana ramai dari kawasan St Monica Pier. Chanyeol sempat panik melihat langkah Baekhyun mulai terburu – buru untuk melewati keramaian yang memadati jalan didepannya, ia bahkan hampir berteriak ketika melihat Baekhyun tersandung karena tali sepatunya yang terlepas—untung saja ia bisa menahan dirinya saat itu meskipun selang beberapa detik kemudian ia melangkah lebar melewati Baekhyun lalu berlutut dihadapan wanita itu, tanpa permisi dan tanpa bersuara satu kata pun, tangannya lebih dulu bergerak mengikatkan tali sepatu Baekhyun.
Chanyeol menahan kaki Baekhyun yang akan bergerak mundur ketika ia selesai mengikatkan tali sepatunya.
"T-thank you." Suara ciri khas Baekhyun nyatanya begitu cepat membuat rindu di hatinya meluap ingin segera menyapa wanita itu lalu memeluknya dengan begitu erat. Tapi nyatanya Chanyeol masih menahan dirinya sekuat tenaga, masih menunduk dan menyembunyikan wajahnya.
"Yo—you can leave now.." bahkan ketika Baekhyun kembali berbisik padanya, ia masih tak menyadari sesungguhnya posisi mereka berdua nampak tak nyaman dan mulai menjadi bahan pembicaraan orang lain yang berlalu lalang.
"Err.. you can get up now.." Baekhyun berbisik lagi dan disitulah Chanyeol mempertaruhkan harga dirinya.
Ia melepas topi hitam yang dikenakkan sedari tadi, wajahnya terangkat untuk mendongak ditujukan pada Baekhyun, sontak wanita itu membelakkan matanya melihat bahwa sosok yang selama ini dihindari oleh wanita itu kini berada tepat dihadapannya, berlutut didepannya.
Chanyeol membiarkan Baekhyun menatapnya begitu lama dalam diam. Ia bahkan masih enggan untuk beranjak dari posisinya, menunggu Baekhyun bertindak lebih dulu namun Chanyeol tetap bersiaga menahan wanita itu bila kemungkinan setelahnya Baekhyun memilih untuk beranjak pergi dari dekatnya.
LOVELESS
Sedari tadi Chanyeol mengucap syukur serta berterima kasih pada Tuhan karena kali ini berada dipihaknya tak membiarkan Baekhyun pergi ketika ia meminta waktu untuk berbicara. Mereka berdua tengah duduk pada kursi tak jauh dari posisi dimana ia dan Baekhyun bertemu sebelumnya, sesungguhnya Chanyeol tak bisa menahan perasaan bahagianya hanya karena Baekhyun menuruti dan bahkan mampu bertahan untuk duduk bersamanya meskipun ada jaak cukup besar diantara mereka.
Chanyeol menyodorkan boneka berwarna putih yang berhasil ia dapatkan di mesin permainan tadi ke arah Baekhyun tanpa ada kalimat yang keluar dari mulutnya.
Baekhyun menoleh ke arah boneka itu, ada rasa senang melihat boneka yang sedari tadi ia inginkan bisa ia ambil dan pegang namun otaknya mengingat bahwa dirinya tengah menjaga jarak dan juga membuat pertahanan untuk tak mudah luluh karena berada di dekat Chanyeol.
"Ambillah, kau menginginkannya kan." Suara berat pria itu terdengar dan mampu membuat pertahanannya goyah. Sejujurnya Baekhyun teramat merindukkan semua yang ada pada Chanyeol. Ia rindu mendengar suara pria itu, rindu akan sentuhan dan juga pelukan hangat dari Chanyeol, rindu akan aroma maskulin yang khas dari pria itu, Baekhyun merindukkan semuanya tapi bila mengingat apa yang Chnayeol lakukan kemarin, rasa sakit hatinya kembali terasa.
Chanyeol lekas mengikis jarak, menggeser tubunya untuk mendekat pada Baekhyun hingga tubuh mereka saling bertubrukkan.
"Dia lucu kan…" Chanyeol menunjukkan bagaimana boneka itu terlihat menggemaskan ketika tangannya digerakkan oleh Chanyeol naik turun. "Kau pintar memilih boneka yang menggemaskan.. untung saja tadi aku bisa mendapatkannya—"
"Apa yang kau lakukan disini." Baekhyun tak ingin membuang waktu duduk berdampingan dengan Chanyeol sebelum pertahanan dirinya runtuh lalu membuang harga dirinya untuk langsung memeluk pria itu.
Mulut Chanyeol tertahan untuk bergerak, gugup ia rasakan dan juga takut untk berucap salah kata terlebih Baekhyun tengah menatapnya sinis. Tangannya meletakkan boneka itu di pangkuan Baekhyun, lalu ia beranjak bangun dari posisi duduknya, berdiri tepat dihadapan Baekhyun lalu kembali berlutut disana yang mana membuat Baekhyun kembali membelakkan matanya merasa terkejut dengan apa yang Chanyeol lakukan.
"Chan—" Baekhyun bermaksud melarang, tapi tangan pria itu lebih dulu menahan kakinya untuk bergerak.
Chanyeol menundukkan kepalanya, kakinya berlutut simpuh di tanah dan rerumputan, tangannya menggenggam erat tangan Baekhyun tak ingin wanitanya itu kembali pergi dari hadapannya.
"Maafkan aku." Meski diawal mulutnya kaku untuk berucap namun nyatanya Chanyeol mampu bersuara, mengucapkan kata maaf seperti yang sudah ia latih setiap saat jikalau ia bertemu dengan Baekhyun.
"Aku tahu aku pria brengsek, egois, dan bahkan menyebalkan.." lanjutnya bersuara, tak ada lagi rasa gugup seperti yang ia bayangkan sebelumnya. "Maafkan aku karena membuatmu tersakiti.. aku tidak berpikir mengenai perasaanmu dan bagaimana kondisimu saat itu.. yang aku ingat hanya rasa sakit yang kau ciptakan ketika dirimu pergi.."
Chanyeol memberanikan diri mengangkat wajahnya dan melihat ke arah Baekhyun, nyatanya ia salah untuk lekas memberanikan diri melihat ke arah wanita itu karena Baekhyun melihatnya dengan tatapan marah, matanya sudah memerah menahan air mata. Dan lagi – lagi Chanyeol yang menyebabkan itu semua.
"Ke—kenapa kau disini." Datar suara Baekhyun jelas membuat hati Chanyeol kembali meringis. Ucapan permintaan maaf dan penjelasannya seakan – akan tidak diperdulikan oleh Baekhyun.
"Maafkan aku.."
"Shireo."
Seharusnya Chanyeol merasa sedih atau mungkin kembali tersiksa karena Baekhyun menolak permintaan maafnya mentah – mentah, tapi wajah wanita itu yang merengut kesal sembari menahan tangsi malah membuat Chanyeol gemas dibuatnya.
"Aku benar – benar minta maaf karena kejadian kemarin." Chanyeol mulai menjelaskan lebih panjang, masih menahan diri untuk tak memegang wajah Baekhyun atau bahkan memeluk wanita itu dan menciumnya. Baekhyun terlalu menggemaskan ketika terlihat marah dengan api cemburu yang terbinar dikedua matanya.
"Maafkan aku ya.. Baeboo mau memaafkan Daddy kan?" Chanyeol menggigit bibirya ketika ia mengucapkan panggilan untuk bayi mereka—ya, Chanyeol harus berterima kasih pada Chelsea untuk hal itu karena puterinya mau memberi tahu nama panggilan untuk anak yang dikandung Baekhyun.
Wajah marah menggemaskan yang Baekhyun masih tunjukkan padanya nyatanya jelas membuat Chanyeol turut merasa gemas dan tak mampu lagi untuk tak memeluk wanita itu. Lalu Chanyeol bergerak tanpa menunggu persetujuan dari Baekhyun, tubuh besarnya mendekap tubuh Baekhyun, ada penolakan dari Bakehyun diawalnya namun tenaga wanita itu tak mampu untuk menjauhkan badan Chanyeol yang lebih dominan.
Chanyeol mendekap tubuh Baekhyun, mencium kepala wanita itu sambil terus menggumamkan kata maaf sementara Baekhyun pun juga tak kuasa menahan air matanya, ia menangis dalam pelukan Chanyeol. Egonya ingin menjauhkan Chanyeol darinya, melepaskan pelukan pria itu dan berlari sejauh mungkin tapi hatinya menolak untuk semuanya itu.
Rindu akan hangat dekapan Chanyeol dan juga wangi tubuh pria itu membuatnya tetap bertahan, terlebih ketika bayi dikandungannya ikut bergerak diantara keduanya seakan – akan ingin mengingatkan pada dua orang dewasa selaku ayah dan ibunya untuk tak melupakan kehadirannya disitu.
.
"Aku tidak mau memaafkanmu." Baekhyun bergumam dengan nada kesal, namun meskipun ia bersuara seperti itu, tangannya masih mendekap tubuh menjulang Chanyeol, enggan untuk melepaskan pria itu jauh dari dekapannya.
Lagi – lagi Chanyeol merasa gemas dibuatnya, ia menyahut dalam suara dehaman beratnya, memperat tangannya untuk tetap mendekap Baekhyun.
"Aku masih marah." Baekhyun lagi bersuara.
"Hm hm."
"Aku belum memaafkanmu."
"Hm hm." Chanyeol membalas lagi dengan singkat, sungguh menggemaskan menurutnya mendengarkan Baekhyun meluapkan kekesalannya tapi tangannya masih mendekap badan Chanyeol serta mengusakkan wajahnya mencari kenyamanan dalam dekapannya.
"A-aku tidak mau melihatmu bersama Sanne lagi."
"Tidak akan."
"Aku tidak mau datang ke Apartemenmu lagi."
Ucapan Baekhyun kali ini membuatnya mengernyit bingung, tidak ada alasan masuk akal baginya sampai Baekhyun enggan datang ke Apartemennya.
"Kenapa begitu?" Chanyeol melonggarkan dekapannya agar ia bisa melihat wajah Baekhyun ketika menjelaskan alasan dari wanita itu enggan untuk datang ke tempatnya. Tapi Baekhyun tetap mengeratkan pelukannya dan Chanyeol lagi – lagi dibuat gemas oleh tingkah wanita itu. "Kenapa hm.." tangannya mengusap rambut Baekhyun lalu turun ke punggung wanita itu.
"Sanne tidur disana.. aku tidak mau ada di tempat tidurmu dimana bekas ia tiduri juga.."
Refleknya, Chanyeol ingin tertawa mendengar penjelasan Baekhyun namun ia tahan sekuat tenaga sebelum wanita itu kembali merasa kesal karena sikapnya. Ia masih harus berhati – hati untuk berbicara dan bahkan bersikap pada Baekhyun sebelum alarm perang dingin kembali dilayangkan oleh wanita itu.
"Katamu belum mau memaafkanku.." Chanyeol berbisik sembari menggoda Baekhyun yang sudah mengambil keputusan begitu jauh sementar diawal ia bahkan mengatakan belum memaafkan Chanyeol.
Satu pukulan telak Bakehyun layangkan pada perut Chanyeol, lalu pukulan lainnya menyusul ketika pelukan dari tangannya dan juga Chanyeol terlepas. Mereka kembali saling menghadap dengan jarak yang tercipta hanya beberapa sentimeter saja.
"Kau menyebalkan!" Chanyeol memaklumi celotehan kesal Baekhyun yang disertai pukulan di tubuhnya terus dilayangkan berulang kali hingga ia kembali menarik wanita itu pada dekapannya, menciumi pipi Baekhyun bergantian, wanita itu bahkan menurut dan membiarkan Chanyeol puas menciuminya.
Chanyeol mungkin harus berterima kasih juga pada hormone kehamilan Baekhyun yang menguntungkan pria itu meskipun ia juga harus bersiap karena setelah Baekhyun bermanja – manja dan menurut akan setiap ucapannya, saat Baekhyun sadar dan mengingat kesalahannya, wanita itu akan kembali memukuli badannya terus menerus.
Tbc.
Huehehehehe, gemesh.
Bukan mau double update, Cuma kemarin bener – bener stuck pas part itu.. makanya Cuma kasih tanda ?—karena ga tau mau tbc atau gimana :D
Semoga idenya untuk Loveless terus mengalir berputar dikepala ya.. karena kalau engga ya aku akan cari ide lain dan melanjutkan FF yang lainnya.
Ada 5 weh FF yang on-going .
See you!
Thank you, Love,
Viel.
