Kata sabar sudah terngiang dengan jelas dan bahkan kini terpaku pada pendengaran dan juga pikiran Chanyeol. Kata itu benar - benar melekat pada dirinya mengingat Luhan telah mengatakan satu kata itu berulang kali semenjak ia mengantarkan Baekhyun kembali ke rumah wanita itu.
Ya, Chanyeol mengantarkan Baekhyun kembali ke rumah Luhan, bukan pulang ikut serta bersamanya ke rumahnya di LA.
Setelah acara berpelukan manis manja diserta dengan pukulan - pukulan pelampiasan kekesalan Baekhyun lalu ditutup dengan acara makan malam hanya mereka berdua saja, nyatanya wanita itu tetap enggan untuk ikut pulang dengan Chanyeol kerumahnya. Chanyeol bahkan hampir memiliki pemikiran untuk menculik wanita itu kelak Baekhyun tertidur.
Namun tentu saja ide gila itu hanya singgah di pemikirannya.
Chanyeol bahkan tak tahu harus mengucapkan terima kasih atau menggerutu kesal pada Luhan yang setia memintanya untuk bersabar sedari tadi.
"Kau seharusnya bersyukur dia masih mau bertemu dan memeluk badanmu." Kali ini Luhan mengakhiri sahutannya dengan memukul punggung Chanyeol cukup keras.
Kini Chanyeol tengah berdiri bersandar pada daun pintu kamar yang ditempati Baekhyun selama wanita itu menginap di rumah Luhan. Matanya memandangi dengan senyum lebarnya melihat setiap hal yang dilakukan Baekhyun hanya untuk siap menyambut dunia mimpi.
Baekhyun mengatur beberapa Boneka yang entah didapat darimana, seperti yang sering dilakukan Chelsea kala puteri Chanyeol itu ingin tidur. Beberapa Boneka ada yang sengaja ia letakkan di kepala dekat bantal atau sebagai guling tangannya.
"Kau benar - benar tidak mau tidur dirumah hm?" Chanyeol merengek, lagi. Ia masih tidak terima acara berbaikannya dengan Baekhyun berakhir tak sempurna karena Baekhyun tak mau ikut pulang dengannya ke rumah.
Baekhyun menggeleng, membaringkan badannya di ranjang dan bahkan menarik selimut lalu memeluk boneka berwarna putih yang Chanyeol berikan padanya.
"Sanne bisa menemanimu tidur." Ucap wanita itu dengan nada ketus atau bagi Chanyeol, sifat cemburu Baekhyun kembali terlihat.
Sebelumnya, mereka sempat makan malam bersama dan Chanyeol pikir kalimat Baekhyun yang menerangkan tak memaafkan Chanyeol hanyalah bualan saja untuk mempermainkan hatinya. Tapi nyatanya tidak. Baekhyun memang belum memaafkannya meskipun ia masih diijinkan untuk memeluk, mencium atau bahkan sekedar menggandeng tangannya. Sorot mata dan ucaoan wanita itu masih tersirat kekesalan akan apa yang ia perbuat kala itu.
Saat makan malam tadi pun tak banyak interaksi percakapan yang mereka lakukan kecuali Baekhyun yang memang lebih manja padanya. Meminta untuk disuapi lalu setelahnya badannya kembali dihadiahi pukulan ringan serta beberapa cubitan baik di lengan maupun perutnya.
"Kau tidak merindukan pelukanku saat tidur?" Pertanyaan Chanyeol dijawab Baekhyun dengan gerakkan kepala menggeleng cepat sementara bibirnya mengulum kedalam. Menyiratkan rasa ragu dari jawaban yang ia berikan.
"Baeboo?" Tanya Chanyeol lagi.
"Nope." Sahut Baekhyun.
Chanyeol bersandar malas masih memperhatikan Baekhyun bersiap - siap untuk tidur hingga wanita itu berbaring di ranjang, menarik selimut lalu memeluk boneka beruang putih yang kini menjadi teman tidurnya.
Ragu - ragu Chanyeol melangkah masuk, bergerak pelan selangkah demi selangkah takut akan ada sahutan penolakan dari Baekhyun akan kehadirannya yang menghampirinya.
Wanita itu memperhatikan, mata cantiknya berkedip pelan tertuju pada Chanyeol namun mulutnya masih terkunci dalam diam.
Chanyeol berdeham pelan, pura - pura mengalihkan diri dengan melihat - lihat sekeliling keadaan kamar yang ditempati Baekhyun lalu mendudukkan dirinya didekat tubuh Baekhyun. Ia pura - pura batuk belum berani menatap kearah Baekhyun yang masih memperhatikannya.
"Kamarnya cukup besar.." kalimat bualan tanpa arti terucap begitu saja. Wajahnya masih enggan untuk terarah memandan wajah Baekhyun karena wanita itu tengah memandangi Chanyeol tanpa teralihkan sedikit pun pada gerak gerik pria itu.
Chanyeol tak tahu sesungguhnya Baekhyun sedari tadi menahan diri untuk tertawa karena tingkah pria itu.
"A-apa selimutnya tebal? Tidak dingin?" Chanyeol mulai berani untuk menggerakkan tangannya menepuk - nepuk selimut yang menutupi badan Baekhyun, sedetik kemudian tangannya bahkan sudah berpindah ke tangan Baekhyun, menggenggam serta memberikan usapan lembut pada tangan halus wanita iu. Baekhyun tak lekas menjauhkan tangannya ketika Chanyeol menyentuh, menggenggam dan bahkan mulai nyaman mengusap.
Pria itu bahkan mulai nyaman untuk duduk didekat Baekhyun meskipun masih mencuri pandang melihat wajah Baekhyun sesekali lalu pada bentuk perut wanita itu.
"D-dia pasti sudah tidur.." gerak tangannya meragu, tergantung tak mampu untuk melanjutkan menyentuh perut Baekhyun.
Baekhyun tak menjawab, melainkan tetap menatap Chanyeol, menunggu pria itu membalas tatapannya.
Nyatanya, Chanyeol memang menjadi seorang pengecut bahkan hanya untuk membalas menatapnya.
Senyum kecil Baekhyun terbentuk diwajahnya. Ia tengah memainkan boneka ditangannya lantas menggeleng lalu meletakkan bonekanya tepat di cekungan antara perutnya dengan bagian dada bawahnya, boneka putih itu dibaringkan disana lalu tangannya menepuk - nepuk pelan sesuai dengan gerakkan tangan Baekhyun.
"Baru kalo ini Baeboo tidur nyaman.." satu kalimat tak tuntas dari Baekhyun memecah keheningan dan mampu membuat Chanyeol teralih melihat kearahnya.
"Biasanya dia masih aktif bergerak, berpindah - pindah posisi.. sampai kadang perutku tak nyaman. Dia aktif berenang bermain didalam sana." Lanjut Baekhyun menjelaskan, tangannya bersama tangan boneka beruang putih mengusap permukaan perutnya dengan perlahan - lahan. "Dia suka menendang - nendang.. terlebih kalau mendengar suara Chelsea.."
Kini pandangan Chanyeol mulai menatap sayu, rasa bersalah dan haru bercampur menjadi satu.
"Mungkin kali ini dia nyaman mendengar suaramu.. suara Ayahnya.." Baekhyun menarik tangan Chanyeol, mengarahkan pada perutnya, tangannya memandu tangan Chanyeol untuk bergerak mengusap perlahan – lahan.
Pandangan mata Baekhyun kembali melihat ke arah wajah Chanyeol yang tengah menunduk haru melihat kearah genggaman tangan Baekhyun—tangan mereka saling menyatu menyentuh perut Baekhyun merasakan kehadiran anak mereka didalam sana.
Ada getaran yang terjadi beberapa saat kemudian yang menuntun Chanyeol tersikap kaget lalu tersenyum bahagia.
"We miss you Daddy.."Baekhyun berbisik lirih.
Sesungguhnya sedari tadi ia ingin menangis bukan karena rasa sedihnya namun karena rasa bahagia yang ia rasakan sejak awal melihat Chanyeol menemuinya, bersimpuh dihadapannya, memohon maaf padanya—Chanyeol mengakui kesalahannya dan bahkan berharap mereka bisa kembali bersama.
Air mata Baekhyun mengalir begitu saja kembali membasahi pipinya, dan kali ini Chanyeol melihatnya, memberikan kekuatan padanya, tangan Chanyeol mengusap pipinya, mencium keningnya lalu kedua pipinya hingga seluruh bagian wajahnya dengan gumaman kata – kata sayang.
Hingga akhinya kedua belah bibir mereka bertemu, saling menyesap mengalirkan kata rindu serta luapan emosi yang tertahan selama lima bulan belakangan dimana mereka terpisahkan oleh jarak dan waktu.
LOVELESS
"Daddy dimana sih? Aunty Irene bilang Daddy kabur dari kantor. Is that true? Daddy kabur?"
Chanyeol merasa gemas melihat wajah Chelsea terlihat penuh di layar ponselnya dengan wajah bingung menuntut sebuah penjelasan darinya.
"Kenapa kau belum tidur sayang?" Chanyeol baru saja tiba dirumahnya saat Chelsea menelepon dan melakukan panggilan video call dengannya.
"Chelsea belum mau tidur.. Chelsea mau melihat Daddy dulu.. Daddy.. Daddy kabur?"
"Daddy tidak kabur, Daddy bekerja kok.. hanya bukan di London." Chanyeol menjelaskan secara singkat. Ia merebahkan tubuhnya pada sofa dan tetap memandangi layat ponselnya melihat wajah Chelsea yang semakin penasaran dimana ia berada saat ini, "Ayo tebak dimana Daddy sekarang.. kalau tebakam Chelsea benar… Princess boleh menyusul Daddy sekarang."
"Eohh.." ajakan yang baru saja dikatakn Chanyeol membuat binary di mata Chelsea terlihat jelas.
"Chelsea mau liat sekeliling Daddy.. kalau Cuma wajah Daddy saja Chelsea tidak bisa menebak.."
Chanyeol tertawa lebar lalu setelahnya ia merubah tampilan kamera di ponselnya ke mode kamera belakang dengan cepat lalu kembali ke fitur selfie mode. Hanya dengan itu pun Chelsea sudah memekik bahagia dan berteriak – teriak memberikan jawabannya.
"Daddy di rumah pantai! Daddy di rumah pantai!" Chanyeol mengangguk membenarkan.
"Besok minta Aunty Irene langsung mempersiapkan pesawatnya yaa.."
"Eoh! Aunty Irene!"
Chanyeol membiarkan Chelsea berteriak dan bahkan meninggalkan dirinya sesaat untuk memanggil Irene yang entah sedari tadi berada dimana. Lalu selang beberapa menit kemudian, Chelsea kembali muncul sembari tersenyum lebar dengan Irene dibelakangnya menatapnya dengan raut kesal.
"Apa?! Sudah puas kaburnya?" Sahut wanita itu disana, Irene telihat baru selesai mandi dengan masih mengenakkan baju handuk dan rambutnya yang basah dibalut handuk putih.
"Tidak ada masalah bukan.." Chanyeol menjawab santai, tanpa rasa bersalah sedikit pun, ucapannya malah memancing Irene untuk menggerutu kesal masih tak terima dirinya kabur dari meeting penting di London.
Chanyeol tak habis pikir mengapa sepupunya masih terlihat kesal padanya karena masalah itu.
"Chelsea tidak bisa pakai pesawat Perusahaan.." wanita itu mulai berbicara dengan nada suara normal. "Ibumu akan datang." Lalu kemudian terlihat senyuman jahat dari wajah Irene.
"Dia datang?" dan kini Chanyeol yang merasa aneh dengan informasi yang baru saja dikatakan oleh sepupunya itu.
"Iya Daddy! Haelmoni mau datang, kan Baekhyunnie disini.. Haelmoni mau menjaga Baekhyuniee sampai Baeboo lahir.."
"Siap – siap saja menerima amukan dari Ibumu, dia masih menyimpan dendam padamu, seharusnya Kyungsoo ikut serta juga supaya kau menerima amukan dari dua orang itu—"
Pembicaraan mereka harus terpotong karena suara bel rumah Chanyeol terdengar.
"Kau menunggu seseorang? Siapa yang berkunjung jam segini?" Bukan hanya Irene yang merasa aneh dan bertanya – tanya setelah mendengar bunyi bel tersebut, Chanyeol bahkan juga tidak tahu siapa yang datang berkunjung mengingat saat ini penunjuk waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam.
"Wait.." Chanyeol meletakkan ponselnya di meja lalu melangkah cepat menuju pintu rumahnya, Ia sempat melihat dari layar dekat pintunya, Baekhyun dan Luhan terlihat berdiri di depan pintunya, untuk itu ia lekas membukakan pintunya menyambut mereka berdua.
Mulutnya belum berucap apapun saat sosoknya menyambut kedua wanita itu namun pelukan Baekhyun lebih dulu ia dapatkan.
"Dia merengek minta untuk diantarkan ke rumahmu." Luhan menjelaskan secara singkat dan Chanyeol tak tahu harus menjawab apa selain membalas pelukan Baekhyun.
"Okey, aku akan pulang." Lalu dengan begitu saja Luhan kembali kedalam mobilnya dan kemudian melaju meninggalkan rumah Chanyeol.
Baekhyun masih berada di pelukannya, bergelayut manja, menurut ketika Chanyeol membawanya masuk kedalam dan melangkah bersama – sama.
"Siapa tadi yang bersikeras tidak mau ikut pulang." Chanyeol bergumam bermaksud menggoda, tapi kemudian karena ucapannya itu ia harus mau bertahan mendapatkan cubitan di perutnya.
"Baeboo yang meminta.. ia terbangun lalu menanyakkan dirimu." Baekhyun menyahut, melepaskan pelukannya pada badan Chanyeol dan melangkah lebar seorang diri menuju satu – satunya kamar di rumah itu.
Chanyeol tak lekas mengikuti wanita itu, ia berbelok ke arah sofanya untuk mengambil ponselnya, Chelsea masih menunggu di panggilan videonya.
"Daddy., siapa yang datang?" Puterinya bertanya ketika wajah Chanyeol terlihat kembali memenuhi layarnya.
"Mau melihat kejutan lainnya?" Chanyeol bertanya, langkahnya ia bawa menyusul Baekhyun yang sudah masuk di kamarnya. Wanita itu sedang melepas mantelnya, mengeluarkan boneka beruang putih dari kantung mantelnya untuk dibawa menemani tidurnya lagi.
"Sini.." Ia bahkan tak mampu menahan tawanya ketika mendengar Baekhyun memintanya untuk lekas menemani wanita itu untuk tidur.
Hormone kehamilan Baekhyun benar – benar member keuntungan untuk dirinya saat ini.
"Daddy.. Daddy bersama siapa?" puterinya kembali mulai curiga karena mendengar suara Baekhyun sebelumnya yang samar – samar terdengar.
"Jangan bilang…" Irene bahkan mulai berspekulasi, namun nampaknya wanita itu bisa menebak suara siapa yang terdengar karena wajah Irene berubah malas melihat kearah layar ponselnya.
"Hey.. lihat siapa yang rindu denganmu.." setelah Chanyeol ikut masuk kedalam selimut, duduk didekat Baekhyun yang kembali bergelayut manja didekatnya, Chanyeol mengarahkan ponselnya kearah wajah wanita itu.
"Baekhyunnieee!" puterinya sontak berteriak girang.
"Kenapa belum tidur hm.." Baekhyun bertanya hal yang sama dengan apa yang ditanyakkan Chanyeol sebelumnya.
"Baekhyunnieee.." Anak itu tak menjawab tapi merajuk manja setelahnya. "Aunty! Aunty.. ayo kita ke rumah pantai!"
"Ya! Kenapa kau mau tidur bersamanya!"
Chanyeol sudah enggan untuk membalas dan ikut serta dengan percakapan mereka bertiga, ia membiarkan Baekhyun memegang ponselnya sementara ia memeluk wanita itu, dan kepalanya bersandar pada lengan Baekhyun, isengaja menunjukkan kemesraan dirinya dan Baekhyun pada Irene.
"Yaa! Jauh – jauh dari Baekhyun!"
"Daddy.. Daddy sudah berbaikan?!"
Keduanya berucap kalimat yang berbeda menanggapi pemandangan yang terlihat di layar ponsel mereka.
"Umm tentu saja.." Chanyeol menjawab lebih dulu, setelah mencium pipi Baekhyun.
Lain halnya dengan Baekhyun yang menggeleng cepat, gerakkannya itu kembali mengundang pertanyaan lain dari Chelsea dan juga Irene.
"Bagus, Baek, kau tidak boleh begitu saja memaafkan Chanyeol.. si breng—" Irene menutup mulutnya, wanita itu masih ingat ada Chelsea didekatnya.
"Aku belum memaafkannya.. ini karena Baeboo terbangun minta kembali ditemani Ayahnya." Baekhyun menyahut lebih dulu.
"Baeboo! Kakak rindu.." Chelsea bersuara lagi, bukan hanya Chanyeol yang merasa gemas mendengar suaranya dan juga ucapan yang baru saja dikatakan puterinya itu, Baekhyun dan Irene pun berhasil dibuat gemas olehnya.
"Kakak lekas tidur.. besok kita menyusul Baeboo bertemu Baekhyunnie dan Daddy." Irene mengusak rambut Chelsea.
"Chels.. tidur ya.." Chanyeol ikut meminta puterinya untuk tidur.
"Baeboo sudah tidur.. Chelsea juga tidur ya, supaya kita cepat bertemu besok." Baekhyun menambahkan.
Chelsea menurut setelahnya ia melambaikan tangannya dan bahkan memberikan flying kiss kearah layar ponselnya sebelum mematikan sambungan video callnya.
Baekhyun meletakkan ponsel Chanyeol di sisi ranjang, lalu membalikkan badannya untuk melihat kearah pria itu yang masih memeluknya.
"Aku mau tidur." Ia bergumam pelan dengan matanya yang terpejam, menyerukkan wajahnya di dada Chanyeol lalu memeluk pria itu dengan erat.
"Tidurlah.." Chanyeol mengusap rambut Baekhyun dengan lembut, sementara tangannya yang lain mengusap lengan Baekhyun yang memeluk pinggangnya dengan begitu erat.
"Selamat tidur Chanyeol." Baekhyun masih bersuara, tapi kali in Chanyeol tidak menyahut satu kalimat yang Baekhyun ucapkan.
Kaku pada sekujur tubuhnya terasa begitu saja hanya karena ucapan Baekhyun, kalimat yang dulu sering ia setiap malamnya, satu kalimat yang dalam beberapa bulan belakangan tak mengisi malam – malamnya kini kembali ia dengar.
Kata Rindu memang kadang sejahat itu. Bila tak bertemu atau bahkan tak mendengar suara dan wajahnya rindu meluap dan menyisakan sedih yang tak berkesudahan. Namun kala rindu itu teratasi, masih ada perasaan yang tersisa yaitu takut akan kehilangan perasaan itu kembali. Chanyeol ingin rindunya terhadap Baekhyun selalu ia rasakan—bukan kehilangan wanita itu seperti kejadian yang lalu hanya saja Chanyeol ingin rasa itu ada dihatinya setiap saat.
Rindu akan senyuman, suara, dan melihat wajah wanita itu meskipun jarak yang memisahkan merekan hanya antara rumah dan kantor. Chanyeol inginkan hal itu, rindu yang begitu manis dan membahagiakan, bukan rindu yang menyiksa dan menyakitkan.
"Selamat malam Baekhyun.." Chanyeol mencium kening Baekhyun dengan begitu lembut takut membangunkan wanita itu yang sudah terlelap karena suara – suara kecil yang mulai terdengar, sebuah kebiasaan dari tidur Baekhyun yang juga ia rindukkan.
"Selamat malam Baeboo.." satu kalimat penutupnya tertuju pada gerakkan didekat perutnya yang berasal dari sosok yang ada ditengah – tengah mereka saat ini.
LOVELESS
Chanyeol baru saja berpendapat didalam hatinya bahwa tidur malamnya kemarin adalah tidur malam ternyenyak yang pernah ia dapatkan sepanjang hidupnya. Tidak ada gangguan yang mengganggu indah mimpinya. Dan hal indah lainnya adalah ketika Ia terbangun, ada sosok wanita yang Ia cintai masih berada dalam dekapannya, ada tangan melingkar yang memeluk posesif seakan – akan tak ingin dirinya beranjak pergi meninggalkan ranjang.
Baekhyun masih terlelap begitu nyaman disampingnya.
Chanyeol tak ingin mengganggu kenyaman itu namun Ia juga tak bisa menahan dirinya untuk tak menyentuh Baekhyun selagi menganggumi betapa cantiknya sosok wanita yang kini tengah mengandung anaknya. Tangannya bergerak mengurai surai hitam dari Baekhyun yang tergurai berantakkan di sisi wajah wanita itu.
Pikirannya kembali melayang jauh berandai – andai pada masa yang akan datang, berharap hal kecil yang terlalu indah ini bisa ia dapatkan pada hari kedepan seterusnya, menemani dirinya menghadapi kehidupan yang tak menentu.
Chanyeol masih ingin berpikir panjang dalam lamunannya, namun gerakkan tubuh Baekhyun memecah keheningan dan juga suara wanita itu yang terdengar merengek mengeluhkan rasa nyeri di perutnya.
"Hey.." Lantas kepanikkan menerjang diri Chanyeol. "Hey.. kau baik – baik saja?" Ia beranjak duduk membantu Baekhyun untuk membenarkan posisi tidurnya.
"Sa—sakit.." Baekhyun mengeluh sementara tangannya bergerak menyentuh bagian perut bawahnya.
Chanyeol turut menyentuh perut Baekhyun dan memberi usapan dengan gumaman pelan. "Baeboo pasti sudah bangun ya.." entah Ia bertanya atau hanya sekedar berucap tapi untuk Chanyeol hal itu luar biasa membuat hatinya berdebar. Sama seperti kala itu Ia mengusap perut Yoora dan merasakan getaran dari dalam kandungan kakaknya.
Bakehyun tersenyum dalam menahan rasa nyerinya tapi kemudian air matanya mengalir yang mana semakin membuat Chanyeol dilanda kepanikkan.
Chanyeol lekas mengambil ponselnya dan menekan angka 3 dari tombol panggilan yang mana langsung memanggil nomor Ibunya.
"Baekhyun mengeluh sakit bu, dia memegang perutnya—sebentar, Baek, sayang.. ini Ibu.. katakan apa yang kau rasakan."
Baekhyun mengangguk lalu mulai menjelaskan rasa sakit yang Ia rasakan dan Chanyeol berdiri didekatnya dengan wajah panik meskipun pria itu tak mengatakan secara jelas, Baekhyun bisa melihat kepanikan tercetak jelas pada wajahnya.
"I-ibu mengatakan apa?" Chanyeol bertanya ketika Baekhyun meletakkan ponselnya lalu hendak bangkit dari posisi berbaringnya.
"A-aku harus melihat apakah ada bercak darah atau tidak.."
"Oh?" Chanyeol menyahut, sebenarnya Ia tak mengerti namun tetap membantu Baekhyun ketika wanita itu bangkit berdiri dan melangkah menuju kamar mandi. Dan ketika Baekhyun melepas celana panjangnya secara tiba – tiba lalu wanita itu duduk pada dudukan closet, Chanyeol berbalik seakan – akan malu karena melihat hal itu untuk pertama kalinya.
Ada yang lekas tertawa gemas melihat hal itu meskipu Ia sendiri tengah merasa cemas mengingat Ia hatu melihat apakah ada bercak darah pada celana dalamnya atau tidak. Lalu Baekhyun menghela lega sedetik kemudian karena tak ada bercak apapun di celana dalamnya.
Lantas Ia lekas kembali mengenakkan celana panjangnya lalu mendekat pada Chanyeol yang masih berdiri kaku memungguinya.
"Su—sudah?" gagap Chanyeol berucap dan Baekhyun hanya mengangguk, menggenggam tangan Chanyeol kembali untuk menemaninya berjalan kembali menuju ranjang.
"A-apakah masih sakit? A-apa ada bercak darah?" Chanyeol melemparkan pertanyaan ketika Baekhyun sudah berbaring nyaman di ranjang lalu mengambil ponsel Chanyeol, mencari kontak Ibu pria itu dan menunggu panggilannya terangkat.
"Kemarilah.." Baekhyun berbisik menjulurkan tangannya untuk diraih Chanyeol yang tentunya dituruti oleh pria itu. Mereka kembali saling berpelukan, Baekhyun menunggu panggilannya mendapatkan jawaban dari Ibu Chanyeol sementara Chanyeol sendiri masih belum merasa tenang begitu saja terlebih ketika Ia melihat bagaimana wajah Baekhyun meringis kesakitan.
"Bu.." Baekhyun bersuara, dan Chanyeol lekas mendekatkan pendengarannya pada ponselnya yang berada didekat telinga Baekhyun. "Tidak ada bercak darah, apakah itu bagus?"
"Tentu saja.. kau mungkin hanya merasa lelah dan stress karena anakku mengganggumu lagi.." Baekhyun tersenyum sementara Chanyeol mengerutkan alisnya merasa tidak terima dengan ucapan dari mulut Ibunya
"Ya! Anakmu berada disini!"
"Aku tidak peduli! Kau, jangan macam – macam dengan menantu dan juga cucuku, Aku sudah berada di Bandara dan dalam beberapa jam kau akan kena amukanku Park Chanyeol!—Baekhyunnie, sayang.. tenang saja. Itu hanya efek nyeri biasa, jangan terlalu stress dan memikirkan Chanyeol, biarkan saja dia menangis – nangis dan memohon. Jangan lupa makan dan minum susu serta vitaminmu, okey."
"Baiklah Bu.. hati – hati di jalan." Jawaban itu terucap dari mulut Baekhyun karena Chanyeol nyatanya lebih memilih diam, merenggut kesal dan bersandar pada kepala Baekhyun.
"Mungkin Baeboo merasa lelah karena kemarin aku berjalan – jalan terlalu lama.." membalikkan badannya, meninggalkan ponsel Chanyeol dengan sembarang lalu kedua tangannya melingkar pada pinggang pria itu. Baekhyun bahkan memberikan kecupan pada dada pria itu sebelum ia mencari kenyamanan selagi menyerukkan wajahnya disana.
"Kau wangi.." lagi – lagi Chanyeol mengernyit, lagi – lagi ia menghadapi hormone kehamilan yang begitu menggemaskan.
"Aku belum mandi.."
"Tapi kau wangi.. aku suka."
Chanyeol semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Baekhyun, mencium kening dan pipi Baekhyun yang mana membuat wanita itu terkikik gemas karenanya namun enggan untuk menjauh. Malah Baekhyun semakin mendongakkan kepalanya agar Chanyeol lebih leluasa mencium pipinya.
Tentu saja Chanyeol enggan untuk menyudahi moment itu, keinginannya untuk terus mencium Baekhyun semakin meluap dan tanpa henti ia melakukannya hingga akhirnya kedua belah bibir mereka saling bergesekkan. Chanyeol menahan diri untuk tak lekas melumat belah bibir Baekhyun, tangannya mengusap pipi wanita itu dengan lembut menunjukkan rasa sayangnya bukanlah hanya sebatas gairah yang membara untuk sesaat.
"Aku mencintaimu.. you know that right?" Chanyeol berbisik, memegang wajah Baekhyun untuk terarah padanya agar wanita itu bisa melihat kesungguhan yang jelas terlihat di binar matanya. "Aku minta maaf untuk semuanya.. dan akan menunggumu sampai kau mau memaafkan aku sepnuhnya, tapi jangan pergi dariku, jangan menjauh dariku, tetap berada disisiku meski apapun yang terjadi.. karena jauh darimu sungguh teramat menyiksaku."
Baekhyun tak menjawab, mulutnya tak mampu bergerak untuk memberikan sahutan, tapi tangannya melepaskan pelukan pada pinggang Chanyeol dan berpindah melingkar pada leher pria itu.
"I hate you.." Baekhyun berbisik tepat didekat belah bibir Chanyeol yang masih terbuka, "I hate you now.. but.." lalu selang beberapa detik kemudian bibirnya menyentuh bibir Chanyeol, dalam gerakkan pelan namun terjadi begitu cepat hingga Chanyeol bahkan tak menyadari Baekhyun baru saja menciumnya lebih dulu.
"I love you too.." lalu Baekhyun mencium Chanyeol kembali, kali ini bergerak terlalu tergesa – gesa tidak seperti sebelumnya. Bibirnya bergerak melumat kasar, tangannya bahkan menekan belakang kepala Chanyeol agar pria itu tak menyudahi ciuman darinya begitu saja. Nyatanya Chanyeol memang enggan untuk menyudahinya, satu gerakkan dilakukan Chanyeol—tangannya memegang ceruk leher Baekhyun dengan maksud yang sama.
Dan keduanya larut pada gairah didalam ciuman yang panas dan membara, seakan – akan kembali meluapkan rasa cinta yang terpendam lama. Ciuman mereka kali ini berbeda dengan ciuman di malam kemarin yang hanyalah sebatas penghilang rasa rindu, kali ini semua rasa bercampur meluap menjadi satu, rindu, cinta, gairah semuanya bercampur tertumpah pada gerakan bibir masing – masing.
Nyatanya semua itu tak berlangsung lama.
Saat Chanyeol membawa tubuh Baekhyun berpindah untuk diatas tubuhnya dan mulai mencium leher Baekhyun, tangannya bahkan mulai bergerak nakal menjama bagian dada Baekhyun, mengusap punggung wanita itu seperti yang sering Ia lakukan. Gerak nafas keduanya mulai tak beraturan tapi mereka pun belum ada yang mau menyudahi ciuman sampai suara Chelsea berteriak memanggil serta suara Irene memekik setelahnya.
"Daddy!"
"YAAAAAA!"
tbc
Happy Valentines Day fellas~
Semoga merasa gemas karena cemilan singkat ini.. dan mari bersiap untuk menemui kata "end" di beberapa chapter lagi.
Semoga idenya juga mengalir deras jadi bisa buat chapter yang menarik untuk dibaca.
Thank you,
Love,
V
