"Jadi.. " Irene melipat tangannya dengan tatapan mata tajam melihat kearah Chanyeol, Baekhyun dan juga Chelsea yang bergabung ditengah – tengah mereka tengah berbaring di paha wanita itu.
"Siapa yang memulai?" Lanjutnya bertanya
"Chanyeol." Baekhyun lekas menjawab setelahnya, Chanyeol terbatuk dengan sengaja dan terdengar dipaksakan tanda tak setuju dengan jawaban yang baru saja dikatakan oleh wanita itu.
"Right.. kau pasti tidak mungkin memulai lebih dulu—Ya! Kau!" kini Irene menunjuk kearah Chanyeol.
"Daddy pasti rindu dengan Baekhyunnie.. makanya cium-cium.." Chelsea ikut menyahut memberikan komentar atas pemandangan yang tak layak didapati oleh matanya.
"Baeboo.. kakak disini, ayo tendang - tendang." Bisik gadis kecil itu, sedetik kemudian perhatiannya kembali pada kondisi perut Baekhyun.
Chanyeol tak memperdulikan tatapan kekesalan dari Irene, pandangannya teralihkan pada Chelsea dan juga Baekhyun yang begitu nyaman saling berbicara dengan suara pelan. Membicarakan keadaan Baeboo, apa yang tengah dilakukan bayi itu didalam kandungan Baekhyun saat ini.
"...kakak tidur dengan Aunty Irene semalam, dan bangun pagi - pagi sekali karena mau bertemu Baeboo. Baeboo senang ya tidur bersama Daddy.."
"Hey!" Irene menjetikkan jarinya kearah Chanyeol guna menyadarkan pria itu, lalu kepalanya bergerak mengarahkan ke arah luar.
Chanyeol lekas beranjak dari sofanya, Baekhyun sempat menahan tangannya dan bertanya 'kenapa' tapi Ia menggelengkan kepala dan hanya berucap santai tentang urusan pekerjaan. Padahal nyatanya Ia tahu, sangat tahu dan paham betul topik apa yang ingin dibicarakan Irene dengannya.
Chanyeol menutup rapat pintu kacanya dan menyusul Irene yang menunggunya dengan kedua tangan terlipat didepan dada.
"Kalian tidak melakukan hal - hal mesum selain cumbuan kan?" Komentar sepupunya setelah berbalik melihat kearahnya.
Chanyeol membalas dengan sentilan ringan di kening wanita itu, lalu memposisikan tubuhnya dengan tangan bersiku pada bagian pagar pembatas dari balkon rumahnya yang menghadap ke pantai.
"Kau sudah membelinya?" Tanyanya.
"Belum."
Lalu Chanyeol menolehkan wajahnya kearah Irene, dengan alis bertaut mempertanyakkan maksud dari jawaban wanita itu akan pertanyaanya tadi.
"Aku memang menyetujui, dan bersyukur niatmu terhadap Baekhyun masih sama seperti sebelumnya. Tapi aku ingin kau benar - benar yakin betul mengenail hal ini, kali ini.."
"Perasaanku masih sama Irene."
"Benarkah?"
Chanyeol mengangguk. "Kalau kau ikut mempertanyakkannya juga.. Aku tidak tahu harus menunjukkannya seperti apa. Aku pikir dengan lekas melamar dan menikahinya itu sudah cukup menjadi bukti bagaimana perasaanku padanya."
Irene mengunci mulutnya, ikut menoleh untuk melihat wajah Chanyeol yang saat ini lebih memilih untuk memandangi pantai dihadapannya.
"Perasaanku masih sama dan akan terus seperti itu atau mungkin akan bertambah.. Aku akan punya anak Irene.. dan bisa kau bayangkan betapa ajaibnya itu? Aku, laki - laki brengsek dan bahkan berdosa besar pada banyak wanita diluar sana dulu kini memikirkan pernikahan dan akan memiliki seorang anak dari wanita yang Ia cintai dalam beberapa bulan kedepan. Aku tidak mau menunggu lebih lama lagi.. Aku ingin menikahinya. Segera."
Irene tersenyum haru setelahnya. Semalam Ia turut memikirkan begitu serius ketika membaca pesan Chanyeol yang meminta tolong padanya untuk menyiapkan sebuah cincin. Ya, Chanyeol memintanya untuk memesan cincin di tempat yang sama saat pria itu membeli cincin untuk Baekhyun beberapa waktu lalu.
Tapi dirinya menahan diri mengingat pikirannya masih terbebani dan terus memgingat apa yang terjadi selama lima bulan belakangan. Ia masih belum bisa menerima pria itu dengan mudahnya kembali pada Baekhyun dan memulai hubungan yang telah lama renggang dengan begitu saja.
"Please.. Aku tidak bisa membuktikan apapun lagi selain sungguh - sungguh menikahinya.." Chanyeol berucap lagi, kali ini dengan suaranya memohon dengan sangat lirih. Irene bahkan bisa melihat binar mata yang sama ketika pria itu memohon pada dirinya untuk memberitahukan dimana Baekhyun berada kala itu.
Tanpa mengingat untuk meledek sepupunya itu, Irene menganggukkan kepala tanda setuju. Dan wanita itu tak bisa menahan senyumnya ketika melihat raut wajah Chanyeol yang nampak senang karenanya. Terlebih gerak tubuhnya yang secara langsung turut menunjukkan bagaimana bahagianya pria itu saat ini.
LOVELESS
"Ayolah Bu... Aku kan bisa jadi supir kalian."
Irene dan Baekhyun menahan diri untuk tidak tertawa mendengar Chanyeol merengek pada Ibunya agar bisa menjadi supir untuk mengantar Sang Ibu, Baekhyun dan Chelsea untuk makan siang bersama.
Beberapa jam setelah Ibunya datang hingga saat ini, tidak ada celah bagi pria itu untuk mendekati Baekhyun. Bila sebelumnya dihadapan Irene dan Chelsea pria itu bebas mencium, memeluk dan bahkan memangku manja kekasihnya. Tapi setelah Ibunya datang hal itu adalah hal yang sangat dilarang keras.
Sambutan selamat datang darinya bahkan dibalas dengan satu pukulan keras di punggung Chanyeol. Belum lagi dengan segala teriakan kalimat panjang penuh umpatan serta kata kasar yang tak henti - hentinya diucapkan Ibunya yang jelas tertuju pada Chanyeol.
"Untuk apa? Kau menyusul saja dengan kekasihmu itu! Yang selalu pakai bikini."
Chanyeol menggeram menahan diri, "Bu, kekasihku itu duduk disamping Ibu sekarang."
Ibu Chanyeol menggeleng, "Ini menantuku.. kau tidak tahu dia akan menikah dengan Sehun?"
"BU!"
"Wae!" Teriakan Chanyeol dibalas dengan teriakan pula oleh Ibunya dengan suara lebih keras dari suara Chanyeol.
Irene dan Baekhyun yang duduk berdampingan dengan Chelsea sedari tadi terus memperhatikan satu - satunya anak dibawah umur diantara mereka, memegang penutup telinga yang telah terpasang pada kepala Chelsea dan mengawasi gadis kecil itu agar terus fokus dengan permainan di ponselnya.
Chelsea belum pantas mendengarkan obrolan orang - orang dewasa disekitarnya dengan bahasa kasar dan juga caci makian.
"Tidak Chanyeol. Jangan pikir bisa dengan semudah itu kata maaf memperbaiki semuanya yang telah kau lakukan—"
"Itu salah paham bu."
Ibu Chanyeol menggeleng, "kesalahpahaman yang kau ciptakan merugikan perasaan orang lain Chanyeol, menyakiti hati menantuku."
Chanyeol menyerah, badannya menunduk pasrah pada meja makan dimana Ia duduk saat ini dengan kepalanya bertumpu pada lengannya. Namun demikian pandangannya tetap tertuju pada Baekhyun, wanita itu tak menyadari pandangan mata Chanyeol terhadapnya karena tengah menunduk memainkan rambut Chelsea dimana gadis kecil itu tengah terbaring didekatnya.
"Ayo, kita berangkat." Ibu Chanyeol mengabaikan puteranya. Langkah wanita paruh baya itu bergerak menuju sofa dimana Baekhyun duduk, Ia membantu Baekhyun untuk bangkit dan juga melangkah bersama untuk keluar.
"Ya.. kalian benar – benar meninggalkanku disini?!" Chanyeol menatap semakin tak percaya terlebih ketika Chelse begitu menurut saat Irene menyiapkan tas kecil gadis itu lalu menggandengnya berjalan menuju pintu.
Ibu Chanyeol bahkan sudah membuka pintu dan mempersilahkan Baekhyun untuk melngkah lebih dulu dan segera masuk ke dalam mobil. Irene mengangkat bahunya dan mengabaikan pria itu dan tersisa puterinya yang menatap bingung.
"Daddy tidak ikut?" tanyanya polos dan sontak membuat Ibu Chanyeol dan Irene terkikik geli mendengarnya.
Chanyeol tidak bisa menyalahkan Chelsea untuk itu karena Ia tahu dengan jelas puterinya belum mengerti situasi memanas yang terjadi beberapa saat lalu disertai dengan umpatan – umpatan kasar dari Ibu-nya.
Langkahnya menyusul mendekat pada Chelsea yang berdiri menghadapnya. Pandangannya bukan hanya tertuju pada wajah gadis itu yang bertanya – tanya namun pada penampilan gadis itu. Chelsea dulu tak setinggi ini, Chanyeol masih ingat dengan jelas bagaimana kecinya tubuh Chelsea ketika berada digendongannya beberapa saat setelah lahir, bagaimana tangis bayi kecil itu dan juga isakannya ketika tak nyaman didekatnya.
Rasanya baru kemarin ia melihat puterinya merangkak dan melakukan langkah pertamanya, tapi kini Chelsea sudah tumbuh besar, tak lagi harus selalu berada di gendongannya, Puterinya bahkan bisa berpergian tanpa dirinya. Chanyeol rasa waktu bejalan begitu cepat hingga Ia bahkan tidak ingat bagaimana bayi kecilnya bisa terlihat begitu cantik seperti Yoora saat remaja.
"Kemarilah." Chanyeol menjulurkan tangannya kearah Chelsea dan puterinya lekas meraih tangan Chanyeol dan memekik senang ketika Ia bawa dalam gendongan tubuh besarnya.
Chanyeol mencium pipi Chelsea berulang kali dan bahkan mengusakkan wajahnya pada leher puterinya hingga Chelsea semakin tertawa geli, meskipun demikian enggan untuk melepaskan dan turun dari gendongan lengan Chanyeol.
"Puteri Daddy sudah sebesar ini eoh?" Chanyeol berucap pelan ke arah Chelsea tepat ketika wajah puterinya berada didekatnya.
"Eoh, Chelsea sudah besar. Chelsea sudah jadi kakak Daddy.." Chelsea ikut berbisik dan tertawa kecil membalas pertanyaan yang dilontarkan Ayahnya.
Chanyeol mengulas senyum haru, kembali mengenang bagaimana proses tumbuh kembang puterinya semenjak anak itu lahir hingga saat ini. Chanyeol tidak melewatkannya sedikit pun. Ia berada momen – momen terpenting puterinya semenjak Chelsea lahir, dan Ia tidak akan melewatkan saat – saat berharga yang sama ketika anaknya bersama Baekhyun lahir kelak.
"Kakak Chelsea.." Chanyeol berbisik, memeluk badan Chelsea dengan erat lalu mencium kedua pipinya lagi.
"Eoh.. kakak Chelsea, nanti Baeboo akan memanggil Chelsea kakak juga." Senyum gemasnya kembali terbentuk lalu mencium pipi Chanyeol sebelum tangannya mengalung di leher Chanyeol sembari bersandar manja. "Baekhyunnie bilang juga akan memanggil Chelsea kakak.." kali ini Chelsea berbisik didekat telinga Ayahnya.
Chanyeol mencubit pipi Chelsea lalu membenarkan poni anak itu yang sedikit berantakkan. "Chels.." suara Chanyeol terdengar lebih berat dibandingkan percakapannya sebelumnya dan puterinya sudah tahu dan paham ketikan mendengar nada bicara Ayahnya demikian, maka ada pembicaraan penting yang harus ia dengarkan.
"Jangan memanggil Baekhyunnie dengan sebutan nama lagi ya.."
Chanyeol bisa melihat kedua kelopak mata bergerak berkedip cepat serta garis bibirnya yang sedetik kemudian tertarik mengulas senyum. Chanyeol sudah bisa pastikan Chelsea tahu apa yang dimaksud dari ucapannya.
"Chelsea boleh memanggil 'Mommy'? tanya anak itu dengan wajah bahagia yang tidak bisa disembunyikkan lagi, dan Chanyeol menjawabnya dengan anggukkan kepala.
Mereka kembali berpelukan, Chelsea memeluk erat leher Chanyeol dan juga mencium pipi Ayahnya berulang kali sembari mengucapkan kata 'thank you' yang tak dimengerti oleh Chanyeol, kenapa puterinya mengucapkan kata itu untuknya.
"Tapi.." Chanyeol masih menambahkan, "Chelsea harus membantu Daddy lagi.."
Anak itu mengangguk patuh, "Chelsea pasti membantu Daddy!"
"Tapi Chelsea tidak bisa membawa Daddy ikut makan siang.."
Chanyeol baru saja akan tersenyum bangga mendengar puterinya begitu senang dan bersemangat hendak membantunya, tapi kini ucapan Chelsea kembali menyakiti hatinya, senyumnya bahkan langsung menghilang dan tergantikan dengan wajah datar dan tatapan mata penuh kekesalan.
"Baekhyunnie bilang.. Baeboo mau makan dengan Halmeoni.. Daddy harus makan sendiri sekarang."
Mendengar itu, Chanyeol lekas menurunkan Chelsea dari gendongannya lalu memukul pelan pantat anak itu guna mengusirnya. "Pergilah..."
Chelsea melangah cepat menyusul Irene, Ibu Chanyeol dan juga Baekhyun yang sudah berada didalam mobil lalu melambaikan tangan pada Chanyeol yang sudah berdiri di depan pintu memandangi mobilnya yang tengah dikendarai Irene melaju membawa Baekhyun dan yang lainnya pergi untuk makan siang.
LOVELESS
"Jadi.. mereka meninggalkanmu untuk makan siang seorang diri? Malang sekali." Luhan mencibir sembari menyajikan beberapa piring yang menjadi pesanan Chanyeol saat ini.
Pria itu mengangguk lemah, Chanyeol bersandar pada meja disana dan memutar – mutar ponselnya sedari tadi.
Luhan tersenyum geli melihat bagaimana tingkah pria yang dulu dikenal sebagai Playboy kini bertekuk lutut dan bahkan bisa merajuk layaknya bocah kecil hanya karena satu orang wanita. Seusai ia mengantarkan makanan yang Chanyeol pesan, Ia ikut duduk dihadapan Chanyeol guna menemani pria itu menyantap makan siangnya.
"Ibuku berulang kali mengumpat, setiap aku berada didekatnya tangannya begitu ringan melayang memukul setiap badanku."
"pfftt—" Luhan tidak bisa menahan rasa ingin tertawanya mendengar ucapan Chanyeol dan juga turut membayangkan bagaimana Ibu pria itu benar – benar meluapkan rasa kekesalannya.
Chanyeol lekas menatap tajam ke arah Luhan dengan tetap melanjutkan menyantap makanannya.
"Ingatlah, Ibumu hanya kesal dan marah karena apa yang kau lakukan terhadap Baekhyun kemarin." Luhan berdeham lalu kembali serius siap mendengarkan keluh kesah pria itu.
Chanyeol mengangguk, lalu tersenyum sinis. "Ibuku mau menikahkan Baekhyun dengan Sehun, ngomong – ngomong."
"Wae! YAAA! Eommonim~"
Chanyeol tersenyum melihat Luhan yang merengek setelahnya.
"Ya! Kau kan tahu Sehun akan menikah denganku! Kenapa tidak melarangnya sih!"
Kali ini bahunya yang terangkat enggan untuk berkomentar.
"Ani—ani.. Ibumu pasti hanya ingin membuatmu merasa kesal mendengarnya." Luhan berucap lagi berusaha menenangkan dirinya sendiri.
"Walaupun hanya berusaha membuatku kesal, kenapa harus berulang – ulang dia menyebutkan 'Baekhyun akan menikah dengan Sehun'." Luhan kembali tertawa melihat bagaimana Chanyeol menirukan logat Ibu-nya sendiri ketika menjelaskan.
Lalu Luhan mengangguk kembali menemukan alasan untuk dirinya kembali kesal karena cerita Chanyeol, "Tapi kenapa Ibumu harus membawa – bawa nama Sehun sih." Celetuknya dengan decakan kesal diakhir kalimatnya.
Lagi, Chanyeol mengangkat bahu tanda ia tak tahu harus menjawab apa. "Mungkin karena adikku lebih nyaman terus menerus belajar dibandingkan melamarmu."
Kali Luhan membalasnya dengan sentilan telak dikeningknya yang terasa begitu perih dan juga sakit.
"Aissshh! Aku benci jari – jarimu!"
"Rasakan!" Luhan beranjak bangun dari tempat duduk dihadapan Chanyeol lalu pergi memutuskan untuk kembali bekerja.
Chanyeol pun tak berniat menahan wanita itu untuk duduk dan mendengarkan ceritanya, Ia kembali menyantap makan siangnya lalu memeriksa ponselnya kembali melihat pada kolom chat bersama puterinya yang sedari tadi mengirimkan pesan disertai foto kegiatan apa yang mereka tengah lakukan saat ini.
Senyumnya kembali terulas ketika melihat foto yang baru saja Chelsea kirimkan, puterinya tengah berada di toko es krim disana, Chelsea mengirimkan foto selfienya bersama dengan Baekhyun saat itu.
"Harusnya kita foto bertiga.." Chanyeol bergumam, kembali meletakkan ponselnya lalu duduk termenung, mendengarkan alunan lagu yang tengah diputar disana sementara pemikirannya berputar memikirkan cara apa yang harus Ia lakukan untuk melamar Baekhyun nantinya.
Luhan tak menemani Chanyeol kala pria itu menyantap makan siangnya seorang diri. Wanita itu kembali melanjutkan pekerjaannya dan sesekali memperhatikan sosok pria yang sudah dikenalnya lebih dari 10 tahun itu.
Sedangkan Chanyeol pun tak rewel memaksa Luhan untuk menemaninya mengobrol. Ia menyantap makan siangnya dengan bertukar pesan bersama puterinya dan setelah makan siangnya selesai Chanyeol menyibukkan diri mencari lagu - lagu pada musicbox. Sejujurnya ia tak dapat menahan diri untuk tidak naik ke panggung dan mulai memainkan beberapa lagu dengan gitar yang terpajang diatas panggung, memanggil namanya untuk bisa dimainkan-pikirnya.
Lalu lamunannya kembali mengingat kala ia benar - benar hidup diatas panggung kecil itu.
Dimana tiap malamnya ia selalu menghabiskan waktu berjam-jam memainkan gitar, drum, bass dan bernyanyi disana sepanjang malam, menggoda kaum hawa hingga menggila meskipun ia hanya bernyanyi atau pun larut dalam musik bandnya.
Masa lalu yang tak begitu buruk, pikirnya. Kecuali urusannya dengan wanita - wanita. Garis bibirnya tertarik seraya gerak kepalanya yang menggeleng ketika pikirannya kembali larut pada kenangan kala itu.
Tuhan seharusnya tidak memberikan Chanyeol hadiah luar biasa seperti Chelsea dan Baekhyun. Seharusnya Tuhan menghukum Chanyeol karena perbuatannya pada sosok kaum hawa bisa dikatakan adalah dosa terberat. Ia harusnya sudah terbakar oleh api dan siksa neraka saat ini.
Lantas Chanyeol memohon ampun dalam hatinya lalu mengucapkan terima kasih pada Tuhan selang sekian detik kemudian.
Pusat otaknya kembali mengingatkan akan rencana kedepan yang harus ia lakukan.
Melamar Baekhyun, menikahi wanita itu,menantikan anaknya yang akan lahir, Chanyeol tak mau membuang waktu dan menyia-nyiakan anugerah terindah dalam hidupnya.
Chanyeol baru saja akan kembali bergelung dalam lamunannya namun Luhan lebih dulu menahan dirinya untuk tetap berpijak pada kenyataan saat itu.
"Dimana ponselmu?!"
"Eoh?" Kerja otaknya melambat mengingat sedari tadi Ia terlalu larut dalam lamunan dan juga membayangkan hal lainnya.
"Ponselmu. Kau tidak membawa ponselmu?" Luhan kembali bertanya dengan suaranya yang sedikit meninggi dibandingkan sebelumnya.
Chanyeol masih terlihat linglung tapi tangannya meraba – raba kantung celana dan kemudian teringat ponselnya ia tinggalkan di meja. Kini kakinya yang melangkah lebar untuk kembali ke meja yang sempat ia duduki, mengambil ponselnya dan ketika tangannya bergerak memeriksa, terdapat puluhan missed calls dari Chelsea, Irene dan juga Ibunya.
"Kenapa?" gumamnya lalu mencari nomor Irene untuk ia telepon kembali.
"Baekhyun menangis.."
Kini Chanyeol merasa khawatir.
"Dia mencarimu di rumah, kau tidak ada disana.. lalu dia menangis." Luhan menjelaskan secara singkat dan Chanyeol masih tidak mengerti penjelasan itu.
"Halo, kenapa? Baekhyun menangis?"
"YAAA! Cepat pulang! Kekasihmu menangis seperti orang kehilangan—Ya, Baekhyunnie.. ini Chanyeol menelepon—
"Chanyeol!"
Suara Baekhyun yang berteriak memanggil namanya melengking terdengar dan begitu menyakitkan dipendengarannya. Luhan bahkan yang berada didekatnya bisa mendengar suara wanita itu berteriak memanggil nama Chanyeol disana.
"A-aku disini.. Aku di Mal's.." Chanyeol menjelaskan menenangkan supaya Baekhyun tidak kembali menangis.
"Kau tidak bilang mau ke Mal's! Seharusnya kau makan saja di rumah! Kenapa tidak bilang! Kenapa pergi tanpa memberi kabar!"
Luhan tak bisa menahan diri untuk tak tertawa mendengar suara Bakehyun yang merengek dan tetap menyalahkan Chanyeol karena pergi makan siang begitu saja tanpa memberi kabar, sementara menurut cerita yang dikatakan Chanyeol, Baekhyunlah yang tak mau mengajak pria itu makan siang bersamanya dan juga tak member tahu nomor ponselnya sejak kemarin. Luhan hanya tahu Chelsea-lah yang menjadi lintas komunikasi dan informasi mengenai kegiatan Baekhyun sedari tadi.
'Maafkan aku yaa.. aku akan pulang sekarang.. mau menitip apa? Mau ice krim? Atau mau Cheeseburger?"
" …cepat pulang.." Luhan menggeleng tak percaya, ia bahkan tak bisa berkomentar apapun saat melihat wajah Chanyeol yang merona menahan malu dan memutuskan panggilan teleponnya dalam diam.
"Ehm.. a-aku akan pulang." Pria itu bahkan berpamitan dengan canggung, melangkah cepat meninggalkan Luhan menuju pintu Restoran, untung saja pria itu tak melupakan membayarkan tagihan dari makanannya, kalau tidak mungkin giliran Luhan yang meneror Chanyeol untuk kembali dan membayar bill makanannya.
LOVELESS
Ketika mobil Chanyeol memasuki area rumahnya, ia bisa melihat tidak ada mobil Ibunya disana, hanya ada mobil milik Irene dan itu cukup melegakan hatinya. Ia tak lagi harus mendapatkan pukulan dari Sang Ibu atau pun ceramah panjang yang tak berkesudahan. Gerak tangannya dengan lihai membawa kemudi mobilnya untuk memarkirkan mobilnya dengan sempurna, lalu sebelum tangannya mematikan mesin mobil, Chanyeol menyempatkan menekan klackson mobilnya hanya untuk memberikan kode bahwa dirinya sudah tiba. Lantas ia lekas turun dari mobil besarnya dan berlari kecil menuju pintu rumahnya.
Chelsea sudah disana, menyambut dirinya dengan senyuman lebar.
"Daddy cepat sekali datangnya!" anak itu sudah kembali berada di gendongannya, dan Chanyeol bawa ke dalam bersama dirinya yang melangkah lebar.
"Tentu saja, Baeboo merindukan Daddy." Chanyeol mencium pipi Chelsea dan menurunkan gadis itu untuk duduk bersama Irene yang tengah menyibukkan diri memotong beberapa buah apel di tangannya.
"Dimana Baekhyun?" tanya Chanyeol pada Irene.
"Dia di kamar, setelah Ibumu pulang, dia masih menangis dan tidak mau keluar dari kamar." Irene menyahut sembari menunjukkan kearah kamar Chanyeol dengan pisau yang ia gunakkan untuk memotong buah apel.
Chanyeol meninggalkan Chelsea dengan Irene dan tanpa satu kata pun menyahut ucapan Irene, Ia memilih melangkah menuju kamarnya, membuka pintunya dengan perlahan – lahan serta menggerakkan kepalanya untuk mengintip sesaat melihat keadaan kamarnya.
Baekhyun ada disana, dibalik selimut tebal sembari memeluk guling, wajahnya tidak terlihat karena tertutup oleh selimut tebalnya.
"Boleh aku masuk?" Chanyeol bertanya dengan suara pelan meskipun kenyataannya pria itu sudah berada di dalam kamarnya, langkahnya bahkan tengah bergerak menapaki lantai menuju ranjang dimana Baekhyun tengah terbaring saat ini.
Baekhyun menyibak selimutnya, membawa tubunya untuk bangun duduk diatas ranjang, lalu membentangkan tangannya, dalam diam dan hanya air mata yang mengalir wanita itu meminta Chanyeol untuk memeluknya. Dan tentunya hal itu tidak disia – siakan oleh Chanyeol begitu saja.
Mereka saling berpelukan diiringi isak tangis Baekhyun yang semakin terdengar keras.
Dasar hormone kehamilan. Batin Chanyeol.
"Aku tidak pergi jauh.." ucap Chanyeol menenangkan seraya gerak tangan pria itu yang mengusap lembut rambut Baekhyun dan juga punggung wanita itu. "Aku hanya pergi ke Mal's, makan siang disana dan menghabiskan waktu—aku kira kau pasti akan pergi lama bersama Ibu." Chanyeol menambahkan ciuman di kepala wanita itu agar membuat Baekhyun lebih nyaman didekatnya.
"Kau tidak bilang padaku.." tapi nyatanya Baekhyun masih merasa sedih akan kejadian itu. "Kau tidak mengabari Ibumu, juga pada Irene, kau hanya mengabari Chelsea.."
Chanyeol tak tahu lagi harus menjawab apa, karena memang ia tak terpikirkan untuk mengabari Ibu dan juga Irene hanya untuk pergi makan siang di Mal's.
"Maafkan aku ya.. aku tidak tahu.." Chanyeol memohon ampun, wajahnya bahkan sudah terlihat pasrah dan merasa tak enak hati terlebih Baekhyun masih terus menerus menangis.
"Lain kali aku pasti mengabarimu, hm.. maafkan aku ya.. Baeboo pasti sedih yaa.."
Baekhyun melepaskan pelukannya, kedua tangannya mengusap kasar aliran air matanya lalu setelahnya tatapan matanya bertemu dengan teduh pandangan mata Chanyeol.
"K-kau tidak menciumku?" dan keheningan diantara mereka harus terpecahkan karena ucapan tanya Baekhyun dan juga suara batuk Chanyeol yany dibuat – buat.
"Biasanya setiap kau pulang, menciumku, lalu memelukku.. sekarang tidak." Baekhyun kembali melayangkan protest, air matanya kembali mengalir, bibirnya bahkan mengerucut kesal.
Chanyeol lagi – lagi merutuki hormone kehamilan sebagai penyebab semaunya.
"Kemari.." Chanyeol menepuk pangkuannya sebagai isyarat agar Baekhyun duduk disana, wnaita itu menurut, tersenyum kecil dan berpindah duduk pada pangkuan Chanyeol, tangannya memeluk leher pria itu guna mengikis jarak antara mereka berdua.
Tapi Chanyeol tak lekas mencium bibir Baekhyun seperti yang diinginkan wanita itu, Chanyeol membiarkan Baekhyun duduk nyaman dipangkuannya, mengusap pipi wnaita itu yang lebih berisi dan bahkan memberikan cubitan gemas disana, lalu dihidung dan juga bibir wanita itu yang masih mengerucut kedepan sebagai tanda kekesalannya. Setelahnya, Chanyeol merapikan beberapa anak rambut Baekhyun yang terlihat berantakkan.
"Bagaimana makan siangmu… Baeboo makan banyak 'kan tadi?" tanyanya.
Baekhyun mengangguk, "Aku makan salad, pasta, buah, lalu es krim."
"Tidak mual?"
Baekhyun menggeleng. "Cium." Kali ini wanita itu semakin mendekatkan wajahnya, dengan mata yang berkedip pelan menunggu Chanyeol mencium bibirnya.
"Tidak sabaran." Chanyeol bergumam, menggesekkan hidungnya dengan hidung Baekhyun hingga wanita itu tertawa gemas dan selang beberapa detik kemudian dua belah bibir mereka bertemu berbagi kehangatan. Chanyeol tak lantas melumat ganas bibir Baekhyun seperti sebelumnya, Ia bergerak pelan, melumat secara perlahan dan tak terburu – buru, bahkan ketika Baekhyun semakin mengeratkan kaitan tangan di lehernya, Chanyeol mampu menahan diri untuk tak larut bergerak lebih cepat seperti yang diinginkan wanita itu.
Belah bibir terus saling melumat dengan gerakkan yang tak seirama, Baekhyun melumat dengan kasar dan tidak sabaran dan bahkan mengigir bibir Chanyeol, sementara pria itu masih tetap tenang, mencium Baekhyun dengan lembut dan perlahan – lahan menyesap setiap bagian dengan sabar.
.
.
Pikir Chanyeol, setelah mereka berciuman, lalu menikmati waktu siang menjelang sore dengan begitu damai berdua saja didalam kamar cukup mampu membuat Baekhyun tenang, Nyatanya, tidak.
Chanyeol merutuki dirinya yang kembali membicarakan Mal's dan acara makan sianganya, karena setelah ia usai menceritakan makanan apa yang ia santap dan juga kegiatan apa yang ia lakukan disana, Baekhyun memberikan pertanyaan yang tak mampu ia jawab.
"Kau tidak membelikan Cheeseburger?"
"Tadi kau menawariku Cheeseburger.."
Chanyeol merutuki dirinya sendiri kenapa ia menyempati menawarikan Baekhyun Cheeseburger dan tak membawa makanan itu dengannya.
Tanpa mau berdebat dan melihat Baekhyun kembali merengek dan menangis, Ia beranjak bangun dan siap melangkah lebar namun sebelum itu, langkahnya terhenti tepat sebelum ia menggenggam knop pintu kamarnya. Chanyeol berbalik, kembali menghampiri Baekhyun, mencium kening wanita itu dan juga bibirnya lalu berucap.
"Aku pergi dulu ya, kau mau berapa banyak Cheeseburger?" tanyanya pada Baekhyun.
"Dua.. dengan kentang goreng.. lalu pizza." Sahut Baekhyun dan Chanyeol mengangguk meskipun merasa ragu apakah Baekhyun mampu menghabiskan semuanya atau tidak.
"Baiklah, aku pergi dulu, jangan menangis lagi." Ia mengingatkan dan Baekhyun membalas mengangguk patuh.
"Sana pergi." Wanita itu malah memukul bahunya dan mengusirnya,
Chanyeol menggeleng tak percaya tapi tetap melangkah keluar dari kamarnya dan kemudian mengajak Chelsea untuk ikut serta bersamanya. Irene sempat mempertanyakkan kemana dirinya akan pergi, dan setelah mendengar penjelasannya, wanita itu malah menambahkan pesanan yang harus dibeli Chanyeol nantinya.
"Ayam goreng dan juga saladnya! Jangan lupa saus dan mayonya terpisah!"
Mau tak mau Chanyeol tetap membeli semua itu.
Luhan bahkan tertawa keras terlebih dulu ketika menyambut dirinya kembali di Mal's, merasa heran karena jumlah pesanan yang begitu banyak dan ketika Chanyeol menceritakan, wanita itu tertawa keras, mengingatkan diirnya untuk bersabar dan juga kuat menghadapi semuanya sampai Baekhyun melahirkan nanti.
Tak hanya itu, baru berselang beberapa menit dirinya tiba di Mal's, menunggu pesananya siap dibawa pulang, Baekhyun sudah meneleponnya berulang kali menanyakkan apakah dirinya sudah dijalan arah rumah atau belum, ketika Chanyeol mengatakan belum, Baekhyun akan mempertanyakkan lagi kenapa begitu lama ia dan Chelsea berada disana, dan ketika Chanyeol mengatakan sudah dijalan pulang, Baekhyun akan memarahinya kenapa mengangkat panggilan teleponnya.
Chelsea bahkan ikut tertawa dan merasa kasihan pada Ayahnya hingga anak itu yang mengambil alih ponsel Chanyeol, menjelaskan posisi mereka dan bagaiman perjalanan mereka saat itu.
Yang membuat Chanyeol kembali tak percaya, ketika dirinya sudah tiba di rumah, yang disambut oleh Baekhyun lebih dulu adalah kantung makanannya dan juga Chelsea, bukan dirinya. Baekhyun bahkan meminta Irene yang menyiapkan semuanya di meja makan, wanita itu bahkan tak memperdulikan Chanyeol dan juga apa yang harus dimakan oleh pria itu setelahnya. Baekhyun sudah sibuk tenggelam menikmati semua makanan yang dibelikan oleh Chanyeol.
Irene tertawa terus menerus ketika melihat Chanyeol berusaha mencari perhatian pada Baekhyun yang lebih memilih Cheeseburger dan juga kentang goreng, namun demikian, Ia juga tidak percaya ketika Baekhyun usai menikmati semuanya, wanita itu akan memanggil Chanyeol dengan suara manjanya, meminta pria itu memeluk badannya dan membawanya ke kamar untuk menemaninya tidur.
Chanyeol tak punya pilihan lain selain mengiyakan dan menuruti setiap kemauan dari Baekhyun.
Baekhyun tertidur tak lama setelah ia membawanya kedalam kamar, wanita itu sempat meminta Baekhyun memeluk tubuhnya dari belakang dan mengusap perutnya hingga Ia tertidur. Chelsea ikut bergabung beberapa jam setelahnya karena anak itu pun juga merasakan kantuk yang luar biasa. Chanyeol menidurkan Chelsea tepat disebelah Baekhyun, membiarkan satu guling menjadi pemisah keduanya, lalu menyelimutinya sebelum ia keluar dari kamar meninggalkan mereka berdua.
Irene masih berada di rumahnya ketika ia keluar dari kamar.
"Dia sudah tidur?" tanya wanita itu padanya sembari merapikan beberapa sampah makanan.
Chanyeol tak menjawab langsung, pria itu menyusul ke dapur dan mengambil satu botol air dingin untuk ia tenggak, entah rasa hausnya karena apa.
Setelahnya bahkan ada helaan nafas panjang darinya yang keluar begitu saja.
"Ini belum seberapa." Irene kembali menyambung pertanyaan yang belum dijawab oleh Chanyeol. "Sejak dia tinggal di rumah Ibumu, Jongin menjadi pihak yang disulitkan untuk menuruti kemauan bayimu dan juga Baekhyun."
Chanyeol menoleh, tertarik untuk mendengarkan lebih jelas. "Baekhyun meminta segala hal makanan yang kau sukai, dia awalnya meminta Ibumu menceritakan tentang masa kecilmu sampai sebelum kau pergi kuliah di LA, kau bisa bayangkan betapa panjangnya cerita itu dan menghabiskan waktu berhar- hari, karena setiap Ibumu menceritakan sesuatu hal, Baekhyun meminta untuk melihat dan merasakannya."
Chanyeol tak percaya.
"Kau ingat toko tteobokki saat sekolah dulu?"
Chanyeol mengangguk, "Nah, Baekhyun meminta diantarkan kesana dan membeli makanan itu, saat tengah malam."
"Hah?"
"Aku serius.. bahkan ketika Ayah tanpa sengaja menceritakan restoran Cina tempat biasa kita makan bersama – sama, Baekhyun meminta untuk bisa makan disana."
Chanyeol menggeleng namun tersenyum lebar setelahnya.
"Jangan senang dulu, mereka bahkan membawa Baekhyun ke Jeju, ke Villa kita karena Jongin tak sengaja bercerita sudah lama tidak makan kerang dan udang dengan memancing lebih dulu. Mereka pergi kesana, Ayah dan Jongin yang memancing dan Baekhyun ikut bermain air disana, tertawa bahagia melihat Jongin kesulitan memancing."
"Wow.." Chanyeol berkomentar dengan bayangannya yang turut membayangkan ucapan Irene padanya.
"Jadi.. bersabarlah." Wanita itu menepuk pundak Chanyeol. "Aku akan pulang ke Hotel menyusul Ibumu, telepon aku kalau kau butuh sesuatu. Besok pagi kami akan datang lagi."
Chanyeol mengangguk, membiarkan sepupunya pergi dan setelahnya ia memilih untuk merebahkan badannya pada kursi panjang di balkon belakang, menikmati pemandangan senja yang tersaji dihadapannya.
Ada satu hal yang terlewat yang belum sempat Chanyeol lakukan hari ini, saat hal itu kembali teringat pada pikirannya, Chanyeol lekas mengeluarkan ponselnya dan mencari nomor Ibunya dan meneleponnya tanpa menunggu lama.
"Bu, aku butuh bantuan." Ucapnya saat Ibunya baru saja mengatakan kata sapaan dengan sopan.
"Ya! Kau menelepon secara tiba – tiba lalu tidak menyapa Ibumu, dasar anak kurang ajar!"
Chanyeol terkekeh tak percaya Ibunya tumben sekali memperdulikan sapaan di sambungan telepon mereka.
"Ada apa? Kau membuat masalah lagi?" tanya Ibunya diseberang sana,nada serius dari Ibunya mampu membuat Chanyeol bangkit dari posisi berbaring ke posisi duduk dan senyuman lebar sebelumnya bahkan menghilang dari wajahnya.
"A-aku mau minta tolong.." ucapnya pelan mulai meragu.
"Apa?"
"Berapa lama Ibu disini?" Chanyeol bertanya lebih dulu.
"Kenapa? Kau mau mengusir Ibumu?"
"Bukan karena itu.. aku bahkan berharap Ibu lebih lama berada disini, sampai Baekhyun melahirkan." Chanyeol menyanggah langsung hingga Ibunya menyahut heran.
"Lalu kenapa? Ibu memang akan berada disini sampai Baekhyun melahirkan.."
Chanyeol membuang nafas lega.
"Kenapa?"
Chanyeol terdiam sesaat mengumpulkan lagi niat dan kesungguhannya dan meyakinkan apa yang akan ia katakan nanti adalah hal yang tepat untuk dilakukan.
"Aku mau melamar Baekhyun." ucapnya dengan sangat yakin, sementara dari seberang panggilannya bersama sang Ibu tidak terdengar suara atau pun sahutan sebagai respons dari ucapannya.
"Aku akan melamar Baekhyun bu." Chanyeol mengulang, membayangkan mungkin Ibunya tengah melamun dan juga terkejut atas keputusannya sama seperti Irene kala itu.
"Kau yakin?" tapi setelah mendengar kalimat tanya dari Ibunya, Chanyeol merasa lesu, sama seperti Irene, Ibunya bahkan tak yakin akan keinginan hati Chanyeol kali ini.
"Ke—kenapa Ibu bertanya demikian?" tanyanya kembali.
Chanyeol mendengar suara Ibunya mendesah ragu untuk menjelaskan dari pertanyaan yang sempat dilontarkan.
"Kenapa bu?" tuntutnya.
"Chanyeol.." suara Ibunya terdengar lebih rendah, tak ada emosi kesal atau bahkan nada marah terdengar disana, suara Ibunya lebih tenang. "Ibu tidak melarang atau pun tak percaya kalau kau ingin melamarnya, hanya saja.. Baekhyun.."
"Kenapa dengan Baekhyun?" Chanyeol semakin kalut dibuatnya terlebih Ibunya membawa nama Baekhyun dan tak juga menjelakan inti dari percakapan mereka.
"Kau yakin menikahi Baekhyun karena mencintainya?" Chanyeol sempat tak percaya Ibunya kembali mempertanyakan rasa cintanya pada wanita itu.
"Kau benar – benar yakin, akan mencintai Baekhyun dan hidup bersama – sama selamanya?"
"Bu, aku benar – benar mencintainya!" Chanyeol memberikan jawaban dengan suaranya yang melengking, rasa kesalnya kembali meluap karena semua orang terus menanyakkan masalah keyakinan hatinya sementara ia pun tak diberi kesempatan untuk menunjukkannya.
"Mudah mengatakan cinta Chanyeol, tapi sulit untuk membuktikannya."
Chanyeol tertohok dengan ucapan Ibunya, kalimat yang baru saja dikatakan oleh sang Ibu ada benarnya.
"Dan untuk Baekhyun, bukan hanya pada wanita itu kau harus menunjukkan rasa cintamu.. bukan hanya dengan pertanggung jawabanmu pada anak yang ia kandung kau bisa membuktikkannya, tapi juga pada keluarganya, pada Ibu Baekhyun." dan saat itulah Chanyeol teringat akan satu hal, Baekhyun sudah diusir oleh Ibunya sendiri.
Ibunya yang sedari awal tidak percaya bahwa Chanyeol memang mencintai puterinya dan bahkan akan bertanggung jawab penuh pada puterinya, Ibunya yang sedari awal ingin memisahkan puterinya dan juga Chanyeol, dan bahkan dengan mudahnya menginginkan bayi mereka digugurkan.
"Kau memang harus menikahi Baekhyun, segera, tapi sebelum itu, kau harus menunjukkan rasa tanggung jawabmu dan juga sebesar apa cintamu pada Baekhyun kepada Ibunya. Karena sedari awal, Ibunya lah yang tak mau puterinya dipermainkan seperti dirinya kala itu. Dia tidak mau Baekhyun akan ditinggalkan begitu saja setelahnya hanya karena sebuah rasa tanggung jawab dan rasa cinta yang sesaat."
Chanyeol memutuskan panggilan telepon itu, meletakkan ponselnya kembali disembarang tempat sementara ia menatap jauh kedepan, duduk termenung berpikir panjang tanpa memperdulikan matahari yang sedikit demi sedikit tenggelam dalam garis pantai.
.
.
tbc.
Perjuangan Daddy ternyata tak mudah~ mangat Pak! Aku bantu dengan ciuman :)
Selamat hari Senin, stay safe gengs. Jaga kesehatan, jangan lupa makan, minum air putih, vitamin, olahraga, jangan baca ff mulu :D
Oh lupa, buat kamu yang waktu itu ulang tahun.. maaf kadonya telat :)
semoga suka dengan chapter ini!
Thank you,
Love, Viel.
