Ini tidak akan mudah.
Chanyeol membatin sembari kembali melanjutkan pemikiran panjangnya bagaimana cara menjelaskan pada Baekhyun untuk meminta ijin pergi ke Korea untuk meminta restu dari Ibu kekasihnya agar mereka bisa menikah kelak.
Bukan hanya batinya yang mengingatkan bahwa semua ini tidak akan mudah, Ibu, Irene, Luhan, Jongin dan bahkan Ayah Baekhyun sendiri pun mengatakan padanya bahwa meminta restu serta ijin dari Ibu Baekhyun untuk menikahi puterinya tidak akan mudah.
Dan karena ucapan mereka itu, ada rasa tak percaya diri serta rasa ragu bergelung dalam hatinya berusaha menutupi keinginan kuatnya untuk lekas terbang ke Seoul dan menemui Ibu Baekhyun secepatnya. Hatinya mudah goyah hanya karena keraguan dalam batas ucapan lidah tak bertulang.
Lalu ada pemikiran lain yang singgah dalam pikirannya selagi hatinya masih meragu, kenapa ia tidak meminta restu dengan menelepon Ibu Baekhyun? Pikirnya, bukankah itu lebih mudah serta menghemat waktu.
Chanyeol kembali menimang pemikiran itu hingga jiwa malaikat dalam dirinya menghempas jauh – jauh pemikiran dari setan Chanyeol yang tak banyak membantu sedari tadi. Tidak, ia tidak boleh meragu. Tidak ada keraguan yang boleh singgah dalam hatinya meskipun sesaat mengenai pembahasan ini. Ini masalah serius, masalah masa depan, masalah hati dan juga cinta yang tak hanya harus diucapkan lewat kata – kata, tapi harus ada pembuktian kesungguhan dari hal itu.
Ya, Chanyeol harus melakukannya. Ia tetap harus menemui Ibu Baekhyun dan berjuang demi cintanya.
Selesai bergelung dalam perdebatan di hatinya ada masalah lain yang harus ia hadapi sebelum menghadapi masalah sesungguhnya.
Bagaimana menjelaskan pada Baekhyun mengenai kepergiannya?
LOVELESS
Chapter 25
-Love Fighter -
"Tidak mau!"
Chanyeol sudah memperkirakan jawaban dari Baekhyun ketika mendengar dirinya meminta ijin dan akan meninggalkan Baekhyun dalam beberapa hari nantinya.
"Baek.. hanya 3 hari.." lagi ia mencoba menjelaskan, memberikan keyakinan pada Baekhyun.
"Tidak mau! Kenapa kau harus datang kesana? Kan ada Jongin dan juga Ayah?"
Kali ini Baekhyun tidak salah. Chanyeol-lah yang tidak bisa mencari alasan lain untuk meminta ijin ke New York dengan mengatakan akan menghadiri meeting penting disana, Ia melupakan fakta masih ada Ayahnya dan juga Jongin yang bisa menggantikkan posisinya.
"Kita bertiga harus datang kesana Baekhyunnie.. ini meeting pentin. Bahkan kalau Sehun bisa, seharusnya ia ikut serta juga."
Baekhyun melihat kearahnya dengan wajah kesal dan juga emosi yang masih tertahan, tanpa lagi bersuara menyahut ucapan Chanyeol, Baekhyun lekas mengambil ponselnya dan melakukan panggilan telepon.
Ayah Chanyeol-lah yang dihubungi pertama kali.
"Halo, Ayah.."
"Ayah.. aku mau bertanya—Oh, aku baik, Baeboo juga baik – baik saja."
"Ah—Ayah! Aku mau bertanya, Kenapa Chanyeol harus ke Korea?"
Chanyeol menghela lega karena ia sempat membicarakan rencana ini bersama Ayah, Ibunya serta yang lainnya, Ia mensyukuri otak pintarnya yang cukup cepat mencari cara agar kebohongannya bisa dipercayai oleh Baekhyun.
"Kenapa harus sekarang?" kekasihnya masih menggerutu sebal, nampaknya Baekhyun benar – benar benci harus berjauhan dengan Chanyeol meskipun hanya beberapa hari.
Chanyeol masih membiarkan Baekhyun melakukan panggilan dan menanyakkan semua hal yang sedari tadi ia tanyakkan juga pada Chanyeol, selang beberapa menit kemudian panggilan telepon antara Ayahnya dan juga Baekhyun nampak usai, Baekhyun mendudukkan dirinya pada ranjang tidurnya dengan raut wajah sedih, jangan lupakan kerucut bibirnya yang sudah terlihat maju seperti bibir bebek meskipun nampak menggemaskan di wajahnya.
Chanyeol menunggu selang beberapa saat lalu kemudian ia memutuskan untuk menyusul duduk tepat disebelah Baekhyun. Ia bahkan tak mengulur waktu menggenggam tangan Baekhyun dan ia bawa pada tangannya yang lain.
"Hanya 3 hari.." Chanyeol mengingatkan lagi berapa lama Ia akan pergi meninggalkan Baekhyun. "Sebelum hari ketiga usai, aku mungkin sudah mendarat disini, memelukmu lagi dan menemanimu tidur malam." Chanyeol mencium punggung tangan Baekhyun lalu kembali mengusapnya.
"Kalau aku rindu bagaimana?"
Chanyeol mengulas senyum seraya gerangan kepalanya yang menggeleng, masih belum terbiasa dengan perubahan mood wanita hamil yang begitu ia cintai ini.
"Kita bisa video call.." sarannya.
Baekhyun kembali merengut, jawaban Chanyeol tidak salah hanya saja kenapa pria itu begitu memudahkan dan terasa tak berat meninggalkan dirinya selama tiga hari kedepan.
"Kalau Baeboo rindu?"
Keduanya saling bertatapan sesaat lalu Chanyeol merubah posisi duduknya, Ia berpindah duduk tepat dibelakang Baekhyun lalu memeluk tubuh wanita itu, menempatkan tangannya dan juga tangan Baekhyun pada perut buncit Baekhyun lalu mengusapnya perlahan.
Chanyeol mencium bahu Baekhyun berulang kali baik disebelah kanan dan kiri lalu setelah pria itu merasa cukup Ia mengeratkan pelukannya lalu menyandarkan wajahnya di bahu Baekhyun.
"Baeboo pasti merindukkan Aku, tapi Ia pasti tahu bahwa Daddynya juga pasti merindukkannya selama tiga hari nanti.."
Baekhyun mendengarkan dengan gelisah karena jantung berdebar begitu kencang dan tak mau Chanyeol bisa mendengarnya.
"Mommynya harus bisa menahan rindu.. karena dengan begitu.. Baeboo tidak akan rindu pada Daddynya."
Baekhyun bergerak cepat hendak menjaudhi Chanyeol, tapi dekapan pria itu begitu erat dan tetap menjaga tubuhnya tak bisa bergerak sedikit pun.
"Jadi, aku pergi ya." Chanyeol bertanya lagi dengan jarak yang cukup dekat hingga Baekhyun bahkan bisa merasakan deru nafas pria itu yang terasa berat.
"Kenapa tidak bertanya 'Jadi, aku boleh pergi kan?'.. jahat sekali! Kau memang ingin pergi meninggalkan aku ya!"
Chanyeol menghela nafas dengan berat, mungkin cobaan terberat hidupnya adalah menghadapi Baekhyun bukan Ibunya.
"B.. sayang.." Chanyeol mencoba lagi, "Ini untuk pekerjaan.." bohongnya sembari meminta ampun didalam lubuk hatinya. "Hanya tiga hari.." liriihnya memohon. "Kalau kau diperbolehkan dokter untuk ikut serta di pesawat berjam – jam Aku pasti sudah mengajakmu untuk ikut. Ibu bilang usia kandunganmu sudah tidak diperbolehkan berpergian naik pesawat."
Baekhyun terdiam seketika. Alasan yang Chanyeol katakan memang masuk akal dan memang dia pernah mendengar ada larangan untuk orang hamil untuk menaikki pesawat terbang dan melakukan perjalanan terbang dalam jangka waktu cukup lama. Kali ini Baekhyun tidak bisa lagi mengelak, Chanyeol memang harus pergi meninggalkan dirinya untuk urusan pekerjaan dan Baekyun tak bisa melarang untuk itu.
"Tiga hari." Baekhyun menyahut sembari bersandar manja pada badan Chanyeol lalu membawa jemari pria itu untuk ia genggam kembali. "Kalau hari ketiga kau belum pulang dan tidak ada saat aku tidur.. aku akan pergi dan tidak mau kembali lagi padamu!"
Chanyeol merasa tertohok dengan ancaman yang diberikan oleh Baekhyun, bagaimana tidak, ucapan wanita itu seakan – akan menjadi hari kiamat kecil untuknya. Dan oleh karena itu, Chanyeol tidak akan menyia – yiakan waktu yang ia punya dan juga tak ada waktu bermain – main disana.
Kepergiannya hanya untuk bertemu dengan Ibu Baekhyun lalu lekas kembali ke LA.
"Kau terdengar jahat mengatakan hal itu.." Chanyeol berbisik sembari mengubah posisi Baekhyun untuk menghadap kearahnya. Tangannya mengangkat wajah wanita itu lalu tanpa memohon ijin dan seperti biasanya, bibirnya lantas mencium dan melumat bibir Baekhyun.
Ciuman mereka terjadi lagi sama seperti sebelumnya, bergerak pelan namun dalam, bergairah namun masih tertahan dan tak ingin terlalu larut melewati batas, hingga satu suara kembali mengusik kebersamaan mereka.
Hanya ketukan pintu yang terdengar tapi Chanyeol nampaknya sudah tahu siapa pelakunya.
"Kenapa sayang?" tanya Chanyeol dengan wajahnya kini tengah melihat kearah pintu kamarnya menunggu sosok pelaku yang mengetuk pintu muncul.
Kepala Chelsea keluar dari balik pintu dengan memiringkan kepalanya sembari senyumnya yang menyengir lebar.
"Daddy kok tahu ini Chelsea?!"
"Come here.." Chanyeol memanggil dengan menggerakkan tangannya dan sang puteri berlari cepat menyusul lalu meloncat untuk duduk dipangkuan ayahnya. "Tentu saja! Siapa lagi yang mengganggu Daddy dan Mommy kalau bukan dirimu hm." Chanyeol menggelitiki dan membanting badan Chelsea dengan pelan pada sisi ranjang disampingnya hingga anak itu tertawa keras memohon ampun lalu berteriak meminta bantuan pada Baekhyun.
Tawa dan teriakan Chelsea bergema mengisi ruangan kamar mereka meninggalkan kesan bahagia yang akhirnya menyelimuti ketiganya meskipun masih terlihat samar tapi sudah terasa begitu nyata.
LOVELESS
Hari pertama kepergian Chanyeol dan pria itu sudah tiba di Seoul pada sore hari dan langsung meminta Jongin mengantarkannya pada tempat dimana ia sudah memiliki janji lebih dulu dengan adik Baekhyun, Seungwan.
Chanyeol harus berterima kasih pada Kyungsoo mengenai ini, karena wanita itulah yang menghubungi Seungwan lebih dulu lalu menyambungkannya dengan Chanyeol sesudahnya.
"Sum Café?" tanya Jongin setelah kemudiny abaru saja ia putar untuk masuk pada lahan parkir tempat itu.
"Yap!" Chanyeol menjawab santai, ia tahu adiknya pasti menanyakkan untuk apa dirinya bertemu dengan Seungwan di sebuah Café yang menjadi pusat utama para fans dunia per-idolan negerinya.
"K-kau bukannya ingin ikut audisi menjadi artis disini kan? Ini SM bro!"
"Shut up!" Chanyeol membentak lalu keluar dari mobilnya meninggalkan Jongin didalam sana.
Well, kali ini dia baru merasakan risih karena banyaknya pengunjung yang mayoritas adalah gadis – gadis muda yang mudah terhipnotis dengan pria berwajah tampan.
Lucky for Chanyeol, Seungwan sudah berada disana.
Chanyeol lekas menyusul guna menghindari tatapan – tatapan kagum para gadis yang ada disana, menarik kursi dihadapan Seungwan setelah menyapa wanita itu dan mencoba bersikap sewajarnya karena gugup serta cepatnya debaran jantung hatinya mulai kembali muncul.
"Kau ingin kopi atau semacamnya?" Seungwan menawarkan buku menu yang tentunya Chanyeol terima sebagai peralihan, berbasa – basi lebih dulu dengan calon adik iparnya menurutnya tidak apa dibandingkan mengabaikan dan hanya dilingkupi dengan gugup dalam benaknya.
Setelah membuang waktu untuk memesan kopi dan juga beberapa cemilan, suasana diantara mereka berdua kembali canggung. Chanyeol yang merasa malu menatap wajah Seungwan, sementara adik Baekhyun itu pun tak tahu bagaimana harus memulai pembicaraan dengan sosok kekasih kakaknya yang masih begitu asing ia kenal.
"Okey." Chanyeol menghela nafas dengan berat, melipat tangannya diatas meja serta menatap Seungwan dengan serius. "Aku akan melamar Baekhyun." singkatnya dengan kalimat yang cukup menyimpulkan semuanya.
Wajar bila Seungwan tertegun mendengar ucapan Chanyeol lalu tersenyum haru setelahnya.
"K-kau serius?"
Chanyeol mengangguk mantap dengan penuh keyakinan. "A-aku akan melamarnya, menikahinya segera bila diperlukan!"
"Oh My God!" pekik Seungwan dengan sedikit loncatan yang cukup kuat mengguncangkan meja duduk mereka dan bahkan membuat suara berisik dari gerakkan cangkir dan juga piring disana.
"Huwaaa!" reaksi dari Seungwan cukup meyakinkan Chanyeol ada satu restu lagi yang ia kantongi selain restu dari Ayah Baekhyun—yang lebih dulu ia tanyakkan meskipun hanya melalui panggilan telepon.
"Ka-kapan kau akan melamarnya? Sudah membeli cincin? A-aku bisa membantu mencarikan model atau kau butuh referensi lainnya? Kapan kalian akan menikah?—oh boleh aku menelepon Baekhyun sekarang?!"
Chanyeol tidak menyalahkan reaksi berlebihan dari adik Baekhyun, itu wajar. Kyungsoo bahkan juga melakukan hal yang sama kala itu.
"Ow—okey. Tentang itu, akan kita pertimbangkan nanti. Aku punya masalah lainnya." Seungwan termangu bingung.
"A-aku ingin bertemu dengan Ibumu, untuk meminta restu juga."
"Oh." Gerak tubuh Seungwan yang secara tiba – tiba melemah dan juga bersandar badan kursinya adalah gambaran yang Chanyeol sudah bayangkan sebelumnya.
Semua orang benar – benar menunjukkan pertemuannya dengan Ibu Baekhyun bukanlah hal mudah.
"A-aku tahu bertemu dengan Ibumu tidak akan mudah…" Chanyeol melanjutkan, memberikan gambaran bahwa dirinya sepenuhnya siap meskipun sedikit ragu untuk bertemu langsung dengan Ibu Baekhyun.
"Kau masih ingat tamparan Ibuku?" tanya Seungwan dengan raut wajahnya yang mengernyit seakan – akan ia pun tahu bagaimana sakitnya hal itu.
"Aku masih ingat." Jawab Chanyeol lesu.
"Mungkin Ibuku akan melakukannya lagi.. atau bahkan bisa lebih parah dari itu Park Chanyeol.." suara Seungwan terdengar lirih menyiratkan bayangan yang begitu menakutkan meskipun ia tak berniat untuk menurunkan semangat yang ada di dalam benak Chanyeol, tapi Ia adalah puteri Ibunya, dan seorang anak pasti lebih tahu bagaimana sikap sang Ibunya kelak.
"Baekhyun keras kepala, tapi Ibuku lebih darinya. Baekhyun mungkin egois.. dan Ibuku lebih dari itu. Kau bahkan tahu bahwa Baekhyun diusir dari rumah dan sudah tak dianggap sebagai puteri Ibuku bukan? Apa itu kurang untuk membayangkan bagaimana nantinya?"
Chanyeol menggeleng. "A-aku sudah tahu semuanya.. tapi rasanya tidak benar bila Aku tidak berhadapan dengan Ibunya membicarakan masalah ini.." Chanyeol mulai menjelaskan dengan suara yang lebih tenang dan nyaman.
"Aku mencintai Baekhyun, tapi itu tidak akan cukup bila hanya Baekhyun yang tahu bagaimana rasa cintaku padanya. Mungkin kalian juga bisa tahu dan membayangkannya kelak, tapi itu tidak akan cukup bila Ibumu tak mengetahuinya juga. Aku akan menikahi puterinya, puteri kandungnya, anak pertamanya.. sudah sepantasnnya Aku meminta ijin padanya, meskipun nantinya akan ia tolak mentah – mentah.. setidaknya ada pembuktian tanggung jawab dan juga sedikit bukti yang menunjukkan bahwa Aku memang serius dan juga sangat, sangat mencintainya Baekhyun."
Seungwan lagi – lagi tertegun tak tahu haru berkata dan bersikap apa lagi.
"Aku hanya ingin bertemu dan mengatakan pada Ibumu bahwa Aku akan menikahi Baekhyun, diterima atau tidaknya.." Chanyeol menggeleng hendak mengoreksi ucapannya. "Meskipun hasil pahit yang Aku terima nantinya, Aku tetap akan melamar kakakmu dan menikahinya."
Yang ada setelahnya hanyalah tatapan Chanyeol yang begitu dalam menatap kedua mata Seungwan yang jelas – jelas menunjukkan keraguan akan keinginan darinya, adik Baekhyun bahkan tak kunjung usai menyudahi menggigit bibirnya sendiri seperti apa yang dilakukan Baekhyun kala wanita itu meragu dan berpikir terlalu dalam mengenai sesuatu hal.
Dan selang beberapa detik setelahnya, Seungwan mengangguk menyatakan dirinya siap membawa Chanyeol ke rumahnya dan bertemu dengan Ibunya meskipun tatapan keraguan terhadap semuanya masih tersirat pada kedua matanya.
.
.
Lalu bagaikan di sebuah film action atau pun superhero yang sering kali ditonton oleh Chanyeol, kini Ia tahu bagaimana rasanya para superhero itu ketika berhadapan langsung dengan para musuh utamanya. Bedanya, tidak ada suara musik mendukung suasana tegang dan juga tidak ada kepastian dirinya akan menang, atau pun bila kalah, Ia bisa dimunculkan kembali di film berikutnya bagaimana pun caranya.
Sayangnya, ini dunia nyatanya, musuhnya kali ini bukanlah pertaruhan sebuah nyawa, bila ia kalah berhadapan dengan Ibu Baekhyun, mutlak yang ia terima adalah tidak ada restu dari wanita paruh baya itu.
"Wuah.. rumahmu lebih besar dari rumah keluarga kita." Jongin berkomentar setelah pintu gerbang kediaman Ibu Baekhyun terbuka mempersilahkan mobil yang ia kendari untuk masuk.
"Kenapa Ibumu tidak mau melepas nama Ayahmu?" Chanyeol melayangakan pertanyaan yang begitu random pada Seungwan selagi mereka belum tiba dihadapan kediaman Ibunya.
"Supaya Ayah tetap meningat bahwa Ibu adalah mantan Istrinya." Seungwang menyahut dengan nada kesalnya. "Dia tetap memakai namanya meskipun rasa bencinya lebih besar.. well.. itulah Ibuku."
Lantas Chanyeol hanya mengangguk setelah mendengarnya.
"Here we are!" Suara Seungwan berusaha keras terdengar bahagia guna memberikan semangat pada Chanyeol yang sedari tadi mulai mendesah pelan dan mengusap tangannya berulang kali.
"Kau pasti bisa Hyung!" Jongin ikut memberikan semangat yang hanya dibalas anggukkan oleh sosok kakaknya, lalu melelang begitu saja keluar dari mobil menyusuk Seungwan yang sudah lebih dulu berada di luar.
Keduanya melangkah bersamaan meninggalkan Jongin yang menunggu didalam mobil, memperhatikan Seungwan dan Chanyeol melangkah masuk kedalam rumah besar bercat putih lalu menghilang ketika pintu rumah yang berukuran cukup besar itu tertutup.
Seungwan menyapa salah satu pelayan rumahnya dan meminta salah satu dari mereka memanggilkan Ibunya guna menyampaikan kedatangan dirinya dan juga seorang tamu penting. Lalu setelah itu Chanyeol dipersilahkan untuk menunggu di ruang tamu yang berhadapan langsung dengan tangga besar yang mengarah langsung ke arah lantai dua rumah itu.
"Kamar Baekhyun di lantai tiga." Entah kenapa Seungwan memberi tahu hal itu padanya, "Selesai ini.. bila Ibuku memberikan restu.. mungkin Aku bisa mengantarmu untuk berkeliling dan melihat kamarnya." Lanjutnya sembari berbisik.
"Nyonya akan turun beberapa menit lagi.." salah satu pelayan yang Seungwan perintahkan kembali berucap pada Seungwan sembari membawakan minuman untuk Chanyeol disana.
"Terima kasih." Chanyeol berucap sopan lalu menyesap sedikit air dingin yang baru saja disajikan untuknya.
"Mau minuman yang lain? Kami punya kopi atau jus bila kau mau.."
Chanyeol menggeleng. "Itu semua tidak cukup membantu menghilangkan suasana tegang saat ini." Ia menjawab dengan tangannya yang masih bergerak gelisah saling mengusap satu sama lain.
Dan tak lama, suasan tegang yang Chanyeol maksudkan tadi semakin begitu terasa ketika suara Nyonya besar di kediaman itu mulai terdengar menanyakkan dimana puterinya berada, belum lagi suara langkah dari sepatu heels yang dikenakan wanita itu terdengar bagaikan ketukan detik waktu menghitung mundur hingga tiba waktu eksekusi bagi dirinya.
"Wendy! Kenapa tiba – tiba datang, mana Eric?" suara Ibu Chanyeol sudah terdengar didekat Chanyeol yang membawa dirinya serta Seungwan lekas bangkit berdiri berbalik menunjukkan diri pada wanita paruh baya itu.
Sontak keterkejutan jelas terlihat dari raut wajah Ibu Baekhyun dengan dua matanya yang terbelak lebar, belum lagi tatapan itu berbuah menjadi sinis seakan – akan siap melemparkan segala umpatan pada Chanyeol pada detik setelahnya.
"Apa yang dia lakukan disini." Nyaring datar suara Ibu Chanyeol memecah keheningan ruangan tamu rumah itu dan Seungwan mulai takut Ibunya akan bertindak tak wajar, wanita itu lekas menyusul Ibunya dan menahan tangan sang Ibu selagi ia menjelaskan maksud kedatangan Chanyeol disana.
"I—ibu.. Chanyeol ingin membicarakan sesuatu.. aku mohon tolong dengarkan dulu yaa.."
"Membicarakan apa?!" ucapan Seungwan dibalas dengan nada yang sama, seakan – akan wanita paruh baya itu tak bisa meluangkan sedikit waktunya hanya untuk bertemu dengan Chanyeol dan pula enggan untuk mendengarkan suara pria itu.
"Bu.. tahan dulu emosimu.. ingat jantung—"
"A-aku ingin membicarakan mengenai Baekhyun." Chanyeol memotong ucapan Seungwan lalu kembali menunduk dengan maksud memohon dalam hormat. "Ada yang ingin saya bicarakan mengenai Baekhyun." kembali ia berucap dengan nada lebih sopan.
"Bu.." Seungwan memohon, "Please.."
"Masuk ke kamarmu."
"A-aku harus ada disini.." Seungwan memaksa
"Kalau kau ada disini, Aku tidak mau berbicara dengannya." Perintah mutlak tak bisa dibantah oleh Seungwan terlebih ketika Chanyeol mengangguk sebagai tanda bahwa ia akan baik – baik saja ditinggal dan berbicara dengan Ibunya disana.
Selepas Seungwan pamit pergi dari ruangan tamu dan memilih masuk pada ruangan yang tak jauh darisana, Ibu Baekhyun tak urung untuk duduk di salah sofa disana. Nyonya Besar pemilik rumah itu tetap berdiri angkuh dengan kedua tangannya yang terlipat diatas perut, wajahnya terangkat menunjukkan sikap dinginya yang tak mudah goyah meskipun Chanyeol telah bertekuk lutut dan bersimpuh dilantai rumahnya.
"Aku meminta ijin dan restu darimu Nyonya Byun untuk menikahi Baekhyun." ucapan yang dikatakan oleh Chanyeol dengan sungguh – sungguh meskpun terdengarn terlalu cepat dilontarkan hanya dibalas dengan tawa renyah yang terdengar meremehkan niatan dari lubuk hatinya.
"Kau berani – beraninya menginjak kaki di kediamanku untuk meminta restu?"
"Aku melakukan ini untuk kekasihku dan juga anakku." Chanyeol menjawab, berusaha keras menahan rasa takutnya meskipun kedua tangganya sudah mengepal guna membuat dirinya lebih tenang.
"Hm." Lagi, tawa renyah itu terdengar sebagai sahutan dari ucapannya.
"Anak? Anak haram maksudmu?"
Chanyeol menahan diri sekuat tenaga untuk tidak ikut emosi akan ucapan itu. "Aku sudah memintamu untuk menggugurkannya sebagai tanda maafmu, tapi puteriku termakan oleh nasihat bijak keluargamu dan bahkan rela meninggalkan Ibunya sendiri hanya untuk menjaga anak harammu, dan kini kau meminta ijin restu dariku?"
Chanyeol masih menunduk mendengarkan semuanya.
"Pernikahan..huh." lagi – lagi Ibu Baekhyun terdengar meremehkan kata itu. "Berapa lama kontrak pernikahan yang akan kau buat hm? Menunggu anak harammu lahir? Atau menunggu sampai dia bisa berjalan dan mengenal dirimu sebagai ayahnya? Atau mungkin kau bisa menunggu sampai anak haram itu—"
"Anakku bukan anak haram." Chanyeol mengangkat wajahnya dan membalas tatapan tajam sinis Ibu Baekhyun. "Anak yang dikandung oleh Baekhyun adalan anak kami, anakku, anak Baekhyun, bukan anak haram." Chanyeol menjelaskan dengan tenang meskipun didalam benaknya ada rasa kesal bercampur emosi yang begitu membara tak terima akan ucapan yang dikatakan oleh Ibu Baekhyun sedari tadi.
"Dia anak haram Park Chanyeol, terbuat dari sebuah kesalahan yang akan terus kau rajut sampai pada akhirnya akan kau tinggalkan begitu—"
"Aku tidak akan meninggalkannya!" Chanyeol menaikkan suaranya memotong ucapan Ibu Baekhyun.
"Hm." Namun suaranya yang tersirat emosi tak cukup kuat membuat Ibu Baekhyun mundur sedikit pun. "Kau lupa? Baekhyun adalah anak haram.. dia ditinggalkan oleh sosok yang mengaku Ayahnya.. perlu aku ingatkan?"
Chanyeol menggeleng. "Baekhyun bukan anak haram Nyonya—"
"Lalu apa? Baekhyun adalah kesalahan—"
"Tidak ada kesalahan ketika kalian melakukannya karena cinta." Chanyeol memotong dengan cepat, matanya mulai memanas karena menahan air mata yang tak ingin Ia tunjukkan begitu saja pada Ibu Baekhyun karena akan dianggap sebuah kelemahan.
"Tidak ada cinta Park Chanyeol, yang ada hanyalah sebuah nafsu dan obsesi sesaat untuk sekedar memiliki." Ibu Baekhyun menjawab dengan santai. "Semua itu hanyalah rasa semu sesaat yang kau miliki dalam hatimu karena sebuah euphoria bahwa ada sebuah kehidupan yang kalian anggap sebagai hadiah tanda cinta, tanda yang mempersatukan perasaan kalian.." Ibu Baekhyun melangkah selangkah demi selangkah mendekat ke arah Chanyeol sambil terus berucap. "Tapi pada akhirnya, kalian baru tersadar.. nyatanya itu adalah sebuah kesalahan."
Keduanya kembali saling bersitatap dalam diam namun memancarkan sirat emosi yang terpendam didalam benak masing – masing.
"Waktumu sudah habis, aku tidak mau membuang waktu hanya untuk membahas hal yang tidak penting ini." Langkah Ibu Baekhyun bergerak selangkah mundur menunjukkan saatnya Chanyeol untuk pergi dari hadapannya.
Nyatanya pria itu kembali menunduk dalam waktu cukup lama lalu beranjak bangun dari posisi sebelumnya dan tentunya cukup meyakinkan Ibu Baekhyun bahwa dirinya akan segera pergi dari sana, tapi ketika Chanyeol mengangkat kembali wajahnya dan menatap Ibu Baekhyun dengan tatapan sinis, mereka berdua sama – sama tahu, pembicaraan ini akan terdengar lebih serius dan penuh emosi dibandingkan sebelumnya.
"Kenapa Anda tidak mau mengakui, kesalahan yang Anda lakukan selama ini adalah karena tidak mengakui adanya cinta yang nyata dari hubungan Anda dengan Tuan Byun?"
"Kau." Ibu Baekhyun menggeram kesal.
"Anda begitu mencintai Tuan Byun begitu dalam namun yang membekas hanyalah rasa sakit karena Anda tidak mengakui rasa cinta itu bukan?"
Ibu Baekhyun menatap kesal, tangannya bahkan tak lagi terlipat diatas perutnya melainkan kini tergulai dengan kepalan kuat disamping sisi tubuhnya.
"Kalau memang Baekhyun kesalahan, apakah Seungwan juga kesalahan?"
"Bukankah seharusnya kita tidak melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya?"
"Bukankah seharusnya Anda tidak tunduk pada gairah yang bisa membuat sebuah kesalahan untuk kedua kalinya—plak.
Chanyeol tak sempat menyelesaikan ucapannya karena tamparan yang dilayangkan oleh tangan Ibu Baekhyun mendarat telak kembali di pipinya menghantarkan rasa sakit yang sama seperti kala itu.
"Cinta tidak melakukan kesalahakan Nyonya Byun.." Chanyeol melanjutkan meskipun pada akhirnya ia kembali mendapatkan tamparan kembali pada bagian pipinya yang lain.
"Manusianyalah yang melakukan kesalahan dan menodai nama cinta—"
Tamparan lainnya mendarat di pipinya lalu Ibu Baekhyun berteriak memanggil seluruh pelayan guna membawa Chanyeol pergi dari hadapannya.
"A-aku akan tetap menikahi Baekhyun meskipun tanpa restumu Nyonya." Chanyeol tetap kembali berucap meskipun dirinya tengah ditarik untuk keluar oleh dua penjaga rumah Baekhyun dengan badan yang cukup tegap dan berotot sebagaimana petugas pengamanan semestinya. "Dan akan Aku pastikan Anda tidak akan pernah mendapatkan surat perceraian diantara kami berdua."
"Bawa dia pergiii!" teriakan Ibu Baekhyun menutup pembicaraan keduanya dan Chanyeol menurut lalu berbalik membiarkan tubuhnya dibawa pergi keluar dari rumah itu meskipun tak berhasil mengantongi satu kata restu dari Ibu Baekhyun.
LOVELESS
Chanyeol tak menceritakan keseluruhan hal yang terjadi antara dirinya dan Ibu Baekhyun pada siapapun, termasuk Jongin yang sedari awal ketika ia keluar dari rumah Baekhyun sudah menanyakkan apa dan bagaimana kejadiannya. Dan jawaban yang Chanyeol katakan hanyalah ia tidak mendapatkan restu seperti yang sduah diperkirakan oleh semuanya.
Begitu pun ketika Ayahnya dan Ayah Baekhyun menelepon, jawaban yang ia berikan sama dan tidak ada rincian kejadian yang terjadi. Chanyeol enggan menceritakan, ia tidak mau mengenang saat – saat penuh emosi itu pada siapapun. Cukup dirinya, Ibu Baekhyun dan juga Seungwan yang ia temui berada dibalik dinding tak berpintu didekat ruang tamu mereka saat itu.
Chanyeol cukup mampu membawa diri dan juga tak menunjukkan rasa sakit hati dan juga perih yang ia rasakan karena ucapan Ibu Baekhyun bahkan ketika ia kembali disambut oleh senyuman manis Baekhyun yang begitu bahagia menyambut dirinya di bandara pada saat kepulangannya di LA.
"Tepat waktu." Wanitu itu memuji karena Chanyeol menepati janjinya.
"Tentu saja.." topeng yang Chanyeol kenakkan tertutup rapat menyembunyikan perasaan yang sesungguhnya. Senyum palsunya terbentuk sempurna dengan sedikit bumbu drama romantis yang ia lakukan guna mengobati sedikit demi sedikit luka yang kembali terbuka di hatinya.
"Tidak mau menciumku?" dan ketika kekasihnya menuntut sebuah ciuman pun Chanyeol tetap bersikap seperti biasanya, memberikan ciuman terbaiknya, dengan pelukan hangat disertai dengan buaian manis yang terkadang terlalu mesum namun demikian mampu membuat Baekhyun larut dalam tawa kecil yang menggemaskan.
Beberapa jam setelahnya pun topeng yang Chanyeol kenakkan masih melekat menutupi wajahnya sedihnya. Acara makan malam bersama dengan Ibunya, Irene dan Luhan, Chelsea dan Baekhyun berjalan seperti biasanya, dimana Ia akan menjadi bahan untuk segala candaan diantara semuanya. Chanyeol bahkan masih bisa bertahan ketika Chelsea mempertanyakan dimana oleh – olehnya dan bercanda bersamanya, memaksanya bercerita sebelum waktu tidurnya hingga anak itu terlelap dalam dunia mimpinya.
Selanjutn
ya hanyalah tinggal Baekhyun yang Chanyeol harus hadapi sebelum harinya berakhir.
Sikap manjanya dengan berbagai cerita mengenai keinginan Baeboo memaksa Chanyeol tetap bertahan memasang topengnya.
Hingga pada akhirnya, ketahanan yang Ia miliki runtuh, topengnya tak lagi mampu bertahan menemani dirinya lebih lama karena hening dan damainya malam yang telah membawa dua sosok yang ia cintai kini telah lelap begitu nyaman pada dunia mimpi.
Chanyeol harus menunduk kalah pada kesedihan dan sakit hatinya malam itu, dan ia memilih mencurahkan semuanya pada suara deru ombak dihadapannya yang siap mendengarkan namun tak bisa memberikan jawaban.
Ia memilih duduk di pinggir pantai tak jauh dari rumahnya dengan berbekal dua botol beer, mengadu dalam diam dengan hanya membawa aliran air mata sebagai bukti dari sedih dan sakit hatinya, cukup lama ia bergelung menyendiri hingga akhirnya ada sebuah pelukan hangat menemaninya.
"Hey.." lembut suara Baekhyun yang menyapa dan memberikan kehangatan menambah sedih hatinya dan Chanyeol tak mampu memasang topeng senyuman bahagianya kembali.
"It's okay.. I am here.." Baekhyun menguatkan meskipun ucapannya semakin membuat Chanyeol menangis lebih kencang.
"It's okay.. kau sudah melakukan yang terbaik." Baekhyun mengusap punggung Chanyeol dan juga mencium pipi pria itu sebagai penguat bahwa semuanya akan baik – baik saja.
Adanya Baekhyun membuat rasa sesak di hatinya terluap begitu saja dalam tangisannya dan wanita itu setia menemani dan bahkan menenangkan dengan kata – katanya hingga akhirnya Chanyeol kembali tenang setelah meluapkan semuanya.
"Seungwan menceritakannya padamu?" Chanyeol bertanya, Ia masih memeluk Baekhyun dan belum mau menatap langsung wajah wanita itu.
Baekhyun membalasnya dengan mengangguk lalu kembali mencium pipi Chanyeol.
"Maafkan aku."
Baekhyun menggeleng, "Kau tidak salah.."
Kini Chanyeol yang menggeleng lalu melepaskan pelukannya, mereka kembali duduk berhadapan dengan tangan Chanyeol yang menggenggam tangan Baekhyun dan mengusapnya dengan lembut. "Maafkan aku karena berbohong saat pergi kesana.." Chanyeol menjelaskan alasan kenapa ia meminta maaf pada Baekhyun.
"Ish." Dan karena hal itu Baekhyun teringat kejadian beberapa hari lalu kenapa Ia enggan mengijinkan Chanyeol untuk pergi meninggalkannya. "Berarti aku benar kan, seharusnya kau tidak usah pergi." Wanita itu memukul tangan Chanyeol tapi kemudian menciumnya.
Mereka kembali bersitatap dalam diam sampai pada akhirnya Chanyeol menarik Baekhyun kembali pada pelukannya, mencium pipi wanita itu dan menyatakan cintanya berulang kali. Baekhyun ikut membalas dan bahkan membalas ciuman Chanyeol pada pipi pria itu, ketika Chanyeol mencium bibirnya, mengecupnya berulang kali, Baekhyun akan melakukan hal yang sama, mereka larut pada cumbuan yang menggemaskan hingga akhirnya kembali terdiam pada pelukan yang hangat.
"Chanyeol.." Baekhyun bersuara ketika mereka tengah saling bergelung berpelukan hangat ditemani deru ombak.
"Hm?"
"Kau tidak melamarku sekarang?" Pertanyaan itu membuat Chanyeol terpaksa harus terbatuk berulang kali dan melepaskan pelukannya pada badan Baekhyun.
Pikirannya tak lagi mengingat bagaimana kejadianya dengan Ibu Baekhyun melainkan kelalaiannya karena tak mengingat untuk mampir di toko perhiasaan dan membelikan cincin yang baru untuk ia tunjukkan saat dirinya melamar Baekhyun kelak, bukan saat ini.
"Err.." selebihnya Chanyeol terdiam menunduk malu.
"Chanyeol.." Baekhyun menuntut jawaban.
"I am sorry.." permintaan maafnya mengundang tatapan kesal Baekhyun serta bentuk bibir yang mengerucut menandakan kekesalan hatinya. "Tapi kita akan menikah sayang.. ya, besok kita beli cincinya." Chanyeol menekankan kata menikah yang sejujurnya tak cukup kuat untuk membuat Baekhyun tersenyum.
"Ish, menyebalkan." Baekhyun memukul badan Chanyeol berulang kali lalu melangkah lebar dengan kaki kecilnya untuk kembali ke dalam rumah. "Kau tidur diluar!" teriak wanita itu saat tahu Chanyeol menyusulnya dan terus mengucap kata maaf.
"Aku mau tidur dengan Baeboo.." Chanyeol membujuk.
"Baeboo tidak mau!" Baekhyun masih membalas sembari melangkah menuju kamarnya.
"Aku mau tidur denganmu."
"Aku tidak mau! Tidur saja diluar!" Baekhyun menutup pintu lalu menguncinya, membiarkan Chanyeol tidur seorang diri di sofa ditemani dengan dinginnya angin malam.
Well, Perjuangan Chanyeol memang tidak mudah.
Countdown to the end…
.
.
Jangan pernah menyebut seorang anak adalah kesalahan
Mereka begitu suci dan kelahirannya selalu disambut oleh para malaikat.
Sebuah kesalahan hanya akan dilakukan oleh manusia dewasa dan merekalah yang pantas menyandang kata itu ketika melakukan kesalahan dalam hidupnya.
Terima kasih bagi kalian yang sudah setia membaca Loveless sedari awal hingga sekarang, atau pun kalian – kalian yang baru membacanya di waktu belakangan ini.
Terima kasih untuk dukungan, semangatnya, doanya, dan semuanya yang kalian lakukan untuk mengapresiasi cerita ini. Mohon maaf kalau masih ada kekuarangan bagi penulisan atau terbatasnya ide yang ada.
Terima kasih
Semoga suka dengan chapter ini dan setia menunggu lagi untuk chapter berikutnya.
Maafkan aku terlalu baper setelah buat chapter ini, wakakaka lebay memang.
See you on the next final chapter ;)
Thank you,
Love,
Viel.
