Luhan menatap penuh tanya pada sosok Chanyeol yang pada pagi ini kembali sudah datang mengunjungi Mal's disaat semua karyawan tengah sibuk menyiapkan restoran sebelum jam buka. Bukan hanya itu, kedatangan Chanyeol yang katanya baru saja berbelanja kebutuhan kulkas rumahnya, langsung memasuki area bar dan membantu sang bartender membersihkan gelas dan juga merapikan beberapa botol minuman.
Melihat hal itu seakan – akan Luhan kembali di waktu dimana Chanyeol bekerja disana.
Ia memilih membiarkan Chanyeol melakukan apa yang pria itu inginkan, tapi setelah dirinya selesai dengan pekerjaan intinya, lantas Ia menyusul dengan niat mengajak bicara pria itu dengan duduk pada kursi meja bar yang sangat tinggi. Chanyeol masih berada di balik bar, membersihkan gelas – gelas minum, bahkan ketika Luhan sudah berdeham memberikan sinyal kehadiran dirinya, pria itu masih tetap berkutat pada gelas kaca yang dipegangnya.
"Bukankah seharusnya kau tengah memasak di dapur rumahmu saat ini?" tanya Luhan yang meskipun demikian belum mendapatkan perhatian dari pria itu yang sekarang tengah meracik minuman dimana Luhan yakini minuman itu pasti untuk Chanyeol seorang diri.
"Jam buka bar kami jam 2 siang Tuan Park, mohon hargai dan hormati itu." Luhan mengoceh lagi dan nampaknya Chanyeol mendengar apa yang dikatakan olehnya karena pria itu menyeringai.
"Ada apa? Dua hari berturut – turut kau datang kemari, setiap pagi, apa ada masalah? Kau dan Baekhyun kembali bertengkar?"
"Aku tidak bertengkar dengannya." Akhirnya pria itu bersuara, memberikan dua gelas minuman hasil racikannya untuk Luhan dan untuk dirinya sendiri.
"Aku hanya butuh tempat untuk berpikir.. dan hanya Mal's yang bisa aku kunjungi saat ini."
"Berpikir untuk apa? Ada masalah serius?"
Chanyeol menggeleng, menikmati minumannya lebih dulu diikuti oleh Luhan.
"Selalu berhasil membuat minuman dengan rasa enak." Puji Luhan setelah merasakan minuman yang Chanyeol buat, bukan minuman beralkohol, hanya campuran jus dan minuman soda. Dan Luhan selalu mempertanyakkan darimana ide – ide kreatif itu didapat oleh Chanyeol untuk membuat minuman senikmat ini.
"Aku akan memberikan resepnya tapi kau harus membayarnya nanti."
Luhan mendengus kesal lalu menggeleng. "Jadi.. ada apa? Kalau kau bertengkar dengan Baekhyun atau kembali melakukan hal bodoh, akan aku seret kau keluar dan aku buang ke pantai."
"Kalau Sehun melamarmu, apa yang ada dalam bayanganmu?" dan setelahnya Luhan terbatuk cukup lama karena pertanyaan Chanyeol itu.
"Ma-maksudmu?"
"Aku hanya ingin tahu.. apa yang kau inginkan ketika Sehun melamarku kelak?"
Luhan sedikit gugup setelahnya. Bukan karena efek batuk yang baru saja ia derita tapi itu karena pertanyaan Chanyeol jelas sangat tiba – tiba dan tak pernah ia pikirkan sebelumnya, serta pertanyaan itu mengandung banyak arti dan susah untuk ia tangkap maksud dan alasannya.
"Se—sehun melamarku?" tanyanya, menginginkan kejelasan lebih dulu. "K—kau tahu 'kan hal itu masih sangat lama.. hahaha, kenapa kau menanyakkan hal yang belum terjadi—belum tentu terjadi." Gugupnya membuat Ia jelas berhati – hati berkata.
"Aku hanya bertanya, kalau kau tidak mau membayangkan adikku yang melamarmu—"
"Tentu saja aku membayangkan dia!" Luhan memotong dengan suara tingginya yang hanya diangguki oleh Chanyeol dengan senyuman yang cukup menjengkelkan untuk Luhan.
"Ke—kenapa kau menanyakkan hal itu?" selang sedetik setelahnya Luhan baru bertanya alasan Chanyeol bertanya.
"Aku bingung bagaimana harus melamar Baekhyun." kali Luhan tak lagi tersedak, tapi matanya membelak kaget serta garis senyuman di wajahnya terbentuk begitu lebar, tubuhnya bahkan bergerak cepat untuk memeluk Chanyeol yang masih berada dibalik meja bar.
"YA!" protes dari Chanyeol ketika Luhan langsung menyergap dirinya. "Aish! Aku butuh jawaban bukan pelukanmu! Nanti Baekhyun cemburu mencium parfummu!"
"Heol—sampai seperti itu?"
"Jangan tanya, dia saja masih marah karena Aku belum memberikan cincin untuknya."
"Lalu, kenapa kau pusing memikirkan cara melamarnya? Mudah bukan? Dia sudah tahu kau akan menikahinya, yang dia minta hanya cincin.. berikan saja." Jawab Luhan dengan santai.
Chanyeol menggeleng, menumpukkan tubuhnya pada meja bar dihadapannya. "Setiap wanita akan mengingat bagaimana pria yang kau nikahi melamarmu Luhan." Tangannya memukul ringan kening Luhan.
"Wanita akan selalu ingat pada The First Time, baik itu cinta pertamanya, ciuman pertamanya, pria pertamanya—"
"Seks pertamanya." Luhan menambahkan dengan seringain nakal dan Chanyeol mengangguk menyetujui.
"Dan tentunya.. lamaran, pernikahan.. itu hal – hal kecil dan terkesan sederhana, tapi mereka akan mengingatnya, kau akan mengingatnya dan tentu saja Baekhyun juga akan mengingatnya."
"Lalu?"
"Aku tidak tahu bagaimana melamar Baekhyun, disini, dirumah, atau di pantai? Atau apa aku harus menyewa Hollywood untuk melamarnya? Aku tidak tahu. Tidak ada ide bagus yang masuk dalam pikiranku selama dua hari belakangan ini."
Chanyeol menunduk diam sementara Luhan ikut terdiam turut berpikir mencari ide yang bisa ia bagi sebagai referensi untuk Chanyeol.
"Kenapa kau tidak mengajaknya makan malam.."
"Candle light dinner?" Luhan mengangguk.
"Itu sudah biasa." Tangan Chanyeol mengibas didepan wajah Luhan, menolak ide tersebut.
"Kenapa? Itu hal biasa, tapi kau harus melakukan hal lainnya yang tidak biasa, mungkin kau bisa memasak untuk makan malamnya, menghias sendiri latar tempat kalian makan malam—oh di rumahmu misalnya—"
"Aku mengajaknya makan malam di apartemenku, memasak sendiri makanannya saat aku ingin mendekatkan diri padanya, dan kau tahu apa? Chelsea ikut serta. Ingat?"
"Oh." Luhan mengerti dengan jawaban Chanyeol, ia pernah mendengar cerita itu. "Waktu itu ya.." ucapnya selagi raut wajahnya mengingat – ingat cerita Chanyeol mengenai kejadian makan malam pertamanya dengan Baekhyun.
"Hm.. aku tidak puny aide lainnya." Luhan berucap menyerah. "Seandainya Aku dilamar, aku ingin di kapal pesiar, di sebuah pulau—seperti Kyungsoo dan Jongin atu mungkin di depan Menara Eiffel, kalau Sehun mengajakku ke London, mungkin dilamar di London Eye bukan ide buruk."
"Kau takut ketinggian Luhan." Chanyeol meingatkan.
"Ya, dia bisa melamarku dibawahnya, dengan pemandangan London Eye.."
"Well, kau tidak cukup membantu." Chanyeol merapikan diri, membawa kembali kantungan belanja miliknya dan hendak pamit pergi.
"I am sorry.." Luhan berucap, tidak enak hati karena tak banyak membantu Chanyeol untuk memikirkan bagaimana melamar Baekhyun kelak. "Hey—aku yakin Baekhyun akan mengingat bagaimana pun caramu melamarnya, ia pasti akan bahagia juga. Kau mencintainya, jadi.. tunjukkan saja rasa cintamu padanya." Ucapnya sebelum Chanyeol mendorong pintu restoran untuk keluar.
"Thank you." Jawab Chanyeol sambil tersenyum lalu pergi dari Mal's, kembali mengendarai mobilnya.
LOVELESS
Will you marry me?
Chanyeol kembali ke rumahnya dan mendapat sambutan dari Chelsea yang baru saja bangun tidur, anak itu langsung berjalan tertatih pada Chanyeol meminta sebuah pelukan. Chanyeol mengangkat tubuh anak itu, mendekapnya, meskipun ia harus memindahkan beberapa bahan makanan yang baru saja dibelinya.
"Kenapa sudah bangun hm, ini baru jam 9." Tanyanya diselingi ciuman pada kening Chelsea.
"Habisnya Daddy pergi.." Chelsea menyerukkan wajahnya, menyamankan diri pada dada Ayahnya dengan mata terpejam.
Chanyeol terkekeh mendengarnya, Chelsea yang sudah sebesar ini nyatanya masih begitu manja padanya.
"Baekhyunnie masih tidur?" Chanyeol kembali bertanya setelah ia selesai menyusun bahan – bahan makanan didalam kulkas, melangkah dengan tetap menggendong Chelsea didekapannya.
Chelsea tak menjawab dengan suaranya, anak itu memukul dada Ayahnya lebih dulu.
"Mommy masih tidur." Ucapnya dengan nada galak seperti yang sering Baekhyun lakukan.
Chanyeol tertawa kecil, memeluk Chelsea semakin erat, mencium kepala anak itu lagi lalu kembali melangkah kesana kemari menyempati membuat kopi untuk dirinya lalu menyiapkan air panas guna membuat susu bukan hanya untuk Chelsea tapi juga Baekhyun.
"Daddy.. kapan kita pulang?" Chelsea bersuara lagi, bertanya padanya.
Mendengar pertanyaan itu, Chanyeol tertawa kecil lalu mengusap kepala Chelsea. "Tumben sekali, biasanya kakak tidak mau pulang."
Ada yang tersenyum gemas dan malu – malu mendengar sebutan baru untuk dirinya, Chelsea semakin memeluk Ayahnya dengan erat serta memberikan ciuman di pipinya.
"Lusa kita pulang.. setelah Daddy melamar Mommy." Bisik Chanyeol di telinga Chelsea yang mana membuat anak itu mengangkat wajahnya penuh tanya mendengar kata yang masih begitu asing untuk didengar.
Menganggap puterinya sudah tersadar penuh dari keinginan untuk tidur, Chanyeol mendudukkan Chelsea pada meja dapur, masih menyiapkan air panas dan juga beberapa gelas lalu setelahnya ia kembali berdiri di hadapan puterinya.
"Daddy mau melamar Baekhyunnie.."
"Mommy."
Chanyeol mengangguk dan tertawa, menggoda Chelsea untuk membenarkan kata 'Baekhyunnie' dari setiap ucapannya adalah hobi baru baginya belakangan ini.
"Iya, jadi Daddy mau melamar—"
"Mommy. Melamar itu apa?" Chelsea lebih dulu menyambungkan kata yang seharusnya Chanyeol ucapkan meskipun anak itu belum mengerti betul maksudnya.
"Daddy mau meminta Baekhyunnie untuk menikah dengan Daddy, supaya Chelsea bisa memanggilnya Mommy, supaya Baeboo bisa memanggilnya Mommy, supaya kita bisa tinggal bersama – sama."
"Oh, haruskah?"
"Tentu saja.. itu kewajiban yang harus dilakukan setiap pria dewasa." Jawabnya meyakinkan.
"Berarti Jongin samchon juga melamar Aunty Kyungie?"
Chanyeol mengangguk.
"Sehunnie juga?"
"Tentu saja."
Chelsea mengangguk, meskipun Chanyeol tak paham anak itu mengerti sepenuhnya atau tidak.
"Nah, Chelsea harus membantu Daddy nanti." Ajaknya yang lantas membuat puterinya tersenyum lebar seakan – akan hal itu adalah hal kesukaannya.
"Baekhyunnie—" Chanyeol menahan kalimatnya karena kembali mendapatkan decakan kesal dari Chelsea mendengar sebutan Baekhyunnie. "Mommy harus pergi dengan Irene dan Halmeonie, seharian ini , nah, Chelsea dan Daddy.. kita disini, harus menyiapkan kejutan untuknya."
Chelsea mendengarkan dengan anggukkan kepala sembari membenarkan duduknya menjadi lebih tegak dengan kedua kakinya tertekuk dalam posisi bersila.
"Seperti ulang tahun." Tanyanya yang dibalas dengan anggukkan kepala oleh sang Ayah.
"Hm, seperti ulang tahun, call?"
"Call!" teriaknya tanda setuju, lalu meminta kembali digendong oleh Chanyeol, kembali bergelayut manja sembari memperhatikan apa yang Ayahnya lakukan.
"Sudah jadi kakak masih manja dengan Daddy." Chanyeol mencubit ujung hidung Chelsea selesai ia membuatkan susu untuk anak itu.
"Kata Irene kalau Baeboo sudah lahir.. Chelsea tidak bisa bermanja – manja lagi."
"Irene berbohong, jangan dengarkan katanya."
"Irene jahat." Ucapan Chelsea setelahnya.
"Betul." Dan Chanyeol membenarkan.
Chanyeol menyesap kopinya sementara Chelsea sudah kembali duduk di meja dapuar, menikmati segelas susu strawberry kesukaannya.
"Daddy, mau omelet."
"Omelet, tidak mau waffle?"
"Omelet dulu.. baru waffle!" Chanyeol tersenyum sembari mengangguk.
"Habiskan susunya, nanti akan Daddy buatkan."
Chelsea kembali mengangguk, menurut apa yang diperintahkan padanya sembari kembali memperhatikan Ayahnya tengah menyiapkan sarapan seperti yang diminta.
"Chanyeol.." lalu suara rengekkan manja lain terdengar dari pintu kamar mereka, Baekhyun membuka pintu itu, merengek memanggil nama Chanyeol dengan usakan pada matanya sembari ia melangkah.
"Mommy!" Chelsea lebih dulu menyahut, meminta Chanyeol menurunkan dirinya lalu berlari memeluk Baekhyun yang belum sepenuhnya sadar.
"Kakak sudah bangun?"
Bukan hanya Chelsea yang tersipu malu mendengar Baekhyun memanggil Chelsea dengan sebutan kakak, Chanyeol pun tersipu malu saat mendengarnya.
"Um. Kakak Chelsea sudah bangun, hai adik Baeboo sayang.. semalam tidur nyenyak kan." Chelsea memeluk perut perut Baekhyun dan bertanya tepat pada bentuk buncit dimana Baeboo berada didalamnya.
"Eoh.. Baeboo tidur nyenyak karena kakak memeluk Baeboo semalaman." Baekhyun mengusak kepala Chelsea dengan sayang lalu setelahnya mereka berdua melangkah mendekat pada Chanyeol yang kini sudah menyodorkan satu gelas susu hamil untuk Baekhyun.
"Tidurmu nyenyak?"
Baekhyun mengangguk, meminum susunya dengan tetap memperhatikan pria itu yang kembali berkutat menyiapkan sarapan untuk mereka. Hal yang biasa Chanyeol lakukan sejak ia mengenalnya.
"Kau masak apa?" Baekhyun meletakkan gelas yang sudah kosong ditempatnya lalu menyusul mendekat pada Chanyeol.
"Omelet dan waffle, kau mau kan?" tanya Chanyeol dan Baekhyun mengangguk menyetujui.
"Aku mau peluk.." bisik Baekhyun sembari menarik kaos yang dikenakkan Chanyeol.
Tanpa ada penolakan tentu saja Chanyeol mengiyakan setelah dirinya mencuci tangan, pelukan yang ia lakukan disertai pula dengan ciuman pada bibir Baekhyun dan juga kening wanita itu, terlihat mesra dan penuh kasih sayang hingga Chelsea yang melihatnya sejenak lantas menutup matanya karena malu, namun tidak bagi Baekhyun yang kemudian berdecak kesal lalu menatap sinis pada Chanyeol.
"Bau badanmu aneh! Pasti bertemu wanita!"
Chanyeol mengumpat menyebut nama Luhan didalam hatinya. "A-aku bertemu Luhan tadi."
"Ish! Minggir sana!" usir Baekhyun pada Chanyeol meskipun nyatanya Baekhyunlah yang menjauh mengajak Chelsea untuk duduk di sofa sembari memakan beberapa buah menunggu sarapan mereka siap.
"Mommy, Daddy bilang hari ini Haelmeoni dan Irene akan mengajak Mommy pergi."
"Eoh, benarkah?" Baekhyun menatap bingung lalu melihat ke arah Chanyeol, "Eomma mengajakku pergi?" tanyanya.
"E-eoh! Mereka bilang ingin mengajakmu berbelanja dan ke salon."
Baekhyun menatap diam sembari berpikir, "Tumben sekali."
"Mommy harus belanja yang banyak." Chelsea berbisik dan Baekhyun tertawa dibuatnya.
"Chelsea tidak ikut?"
Chanyeol mendengar pertanyaan itu namun sebelum ia ingin mengatakan kalimatnya, puterinya lebih dulu dengan pintar memberikan jawaban yang cukup meyakinkan.
"Ani, Chelsea mau bersama Daddy disini."
Baekhyun pun hanya mengangguk mengiyakan, kembali menyuapi anak itu dengan potongan buah.
"Baeboo temani Mommy ya, jangan nakal."
Chanyeol memperhatikan dengan senyuman yang terpatri diwajahnya, bukan karena apa yang dilakukan Chelsea saat itu untuk membantunya hanya untuk mengalihkan perhatian Baekhyun selagi ia mempersiapkan kejutan lamaran, tapi pada nyatanya, anak itu membantunya sejak awal perkenalannya dengan Baekhyun.
Bagaimana sayangnya Chelsea pada Baekhyun, perhatian anak itu pada semua hal yang menyangkut Baekhyun dan juga keinginan anak itu sejak Chelsea mengenal Baekhyun.
Chanyeol kembali teringat dimana untuk pertama kalinya Chelsea mengatakan akan mimpinya untuk memiliki sosok Ibu di hidupnya serta segala ucapan anak itu di masa suram percintaannya dengan Baekhyuni.
"Daddy tidak memiliki Mommy baru untuk Chelsea?"
"Daddy, Chelsea bantu mencari ya?"
"Daddy.. kalau Chelsea.. menginginkan Mommy barunya adalah… Baekhyunnie.. apa Daddy setuju?"
"Chelsea menyukainya.."
"Mommy.. Baekhyunnie pergi.."
"…Daddy membiarkan Baekhyunni pergi.. Daddy jahat."
"Daddy.. Baekhyunnie itu Mommy Chelsea di sekolah, jadi aku tidak mau membantu tante model itu yang menjemput."
"Daddy, Baekhyunnie datang.."
"Daddy jahat pada Baekhyunnie.. Chelsea tidak mau melihat Baekhyunnie menangis lagi."
LOVELESS
Tidak sulit ketika Chanyeol meminta bantuan Ibunya dan juga Irene untuk membawa Baekhyun pergi dari rumah dan menghabiskan waktu selagi ia menyiapkan segala keperluan untuk acara melamar Baekhyun nanti malam, asalkan satu kartu ajaib berwarna hitam ia serahkan pada kedua wanita, semuanya akan berjalan lancer.
Ibu dan Irene datang tak lama setelah mereka menikmati sarapan dan setelah itu mereka bertiga pun lekas beranjak dengan mengatakan banyak hal yang harus dilakukan untuk menghabiskan uang milik Chanyeol.
Dan kini, hanya ada Chelsea dan juga Chanyeol dirumah.
"Daddy.. apa yang harus kita lakukan?" Chelsea mendongak pada Ayahnya yang tengah berdiri mematung sembari bertolak pinggang memperhatikan seisi ruangan di area rumahnya.
"Okey, ayo kita mulai." Dengan penuh keyakinan Chanyeol berucap mengajak Chelsea dalam genggaman tangannya, memulai mempersiapkan kejutan yang seharusnya bisa membuat Baekhyun berkesan.
Hal pertama yang mereka lakukan tentu saja membersihkan keadaan rumah, Chanyeol menjalankan vacuum otomatis untuk berkeliling setiap penjuru di lantai 1 rumahnya, sementara Chelsea membantu dengan merapikan beberapa mainan dan bonekanya yang telah berserakan dimana – mana.
Beruntungnya Chanyeol telah lebih dulu memesan rangkaian bungan dan dekorasi dari toko yang ia kenal. Dan ketika mereka tiba, Chanyeol lekas memberikan arahan dimana saja dekorasi bunga – bunga tersebut harus diletakkan.
"Daddy, bunganya cantik." Chelsea menjadi satu – satunya anak kecil yang ada di antara orang dewasa disana dan mengomentari ketika ia melihat bagaimana hasil rangkaian petugas bunga yang dipesan oleh Ayahnya.
"Huwaaaa.." ia bahkan ikut takjub ketika petugas lainnya selesai menata riasan dari meja makan dengan warna taplak putih dan rangkaian bunga serta lilin – lilin berwarna merah muda dan ungu berada disana.
"Daddy ada balon!" anak itu kembali memekik setelah melihat beberapa balon huruf dan balon hiasan berwarna pink serta ungu mulai memasuki area rumahnya dan dipasangkan pada dinding yang sudah dilapisin kain putih sebagai latarnya.
"Daddy! Ini cantik!" anak itu berlari dengan riang menyusul Chanyeol yang sudah selesai berbicara dengan petugas dekorasi.
"Cantik?" tanya Chanyeol setelah berhasil menggedong puterinya pada lengannya. "Menurutmu Mommy suka?"
"Eoh! Mommy pasti langsung mencium Daddy lagi!" ucapnya cukup keras hingga terdengar oleh beberapa orang yang masih bekerja disana dan mereka tersenyum malu – malu, sementara Chanyeol turut menahan malu dengan wajahnya menunduk.
Tim dekorasi dan petugas bunga yang bekerja selesai mengerjakan tugas mereka selama tiga jam lamanya dan hasilnya tentu kembali memukau bukan hanya untuk Chelsea, tapi Chanyeol pun merasakan yang sama.
Pilihannya tidak salah untuk melamar Baekhyun di rumahnya dengan hiasan seperti itu.
Chanyeol mengambil foto hasil akhirnya dan mengirimkannya pada Luhan, Kyungsoo, Irene serta Ibunya untuk mendengar tanggapan mereka semua, dan betapa bahagia dirinya ketika respons jawaban dari mereka cukup membuat kepercayaan dirinya naik seketika.
"Tuan Park.." salah satu petugas dekorasi kembali menghampiri Chanyeol yang tengah sibuk mengirimkan beberapa pesan balasan.
"Yes?!" Chanyeol menatap kikuk.
"Kami sudah selesai, apakah masih ada yang kurang?" tanya petugas itu dan Chanyeol kembali melihat kesekeliling ruangan tamu dan area dapurnya yang sudah terlihat sangat cantik penuh dengan bunga dan balon – balon hiasan serta balon huruf yang disusun hingga membentu kalimat permohon yang akan ia tanyakkan kelak pada Baekhyun.
"All done, looks amazing. Thank you!" Chanyeol memberikan pujian dan menjawab tangan pada petugas itu dan setelah mereka semua pamit undur diri.
"Daddy! Ayo panggil Mommy pulang!" Chelsea kembali bersemangat dan tak bisa menunggu bagaimana reaksi dari Baekhyun ketika melihat ini semua.
Chanyeo tersenyum lebar lalu kembali mengangkat Chelsea pada gendongannya. "Nanti dulu, kita harus memasak untuk Mommy."
"Eoh, memasak? Daddy yang memasak kan."
"Tentu saja, tapi kali ini kakak harus membantu." Chanyeol mengusakkan ujung hidungnya pada ujung hidung Chelsea.
"Call!"
.
.
"Chanyeol akan melamarku, sekarang?" Baekhyun nampak tak percaya ketika Irene akhirnya buka suara mengapa wanita itu memaksa Baekhyun untuk berdandan dan mengganti pakaian menjadi gaun malam yang nampak begitu indah untuk dipakai olehnya.
"Yes! Sepupuku akhirnya akan melamarmu dengan sungguh – sungguh, malam ini, ketika kau tiba di rumah." Irene menjelaskan lebih rinci.
"Eoh." Sahut Baekhyun terdengar biasa saja namun pipi wanita itu merona setelah mendengarnya.
"Sudah, cepat sana.. mereka sudah siap membuatmu lebih cantik hingga Chanyeol bertekuk lutut nantinya." Ibu Chanyeol menggeret Baekhyun menuju kursi di salon kecantikkan yang mereka datangi. "Tolong buat dia sangat cantik.." mohon Ibu Chanyeol pada perias yang akan menangani Baekhyun disana.
LOVELESS
Dan waktu berputar cukup cepat ditengah kesibukkan dan juga rasa gugup yang melanda bukan hanya untuk Chanyeol tapi juga untuk Baekhyun dikedua tempat yang berbeda.
Chanyeol masih disibukkan dengan sentuhan terakhirnya pada hidangan yang akan disajikan untuk makan malamnya bersama Baekhyun nanti, sementara Chelsea kini sudah berdandan rapi, mengenakkan gaun putih yang sudah disiapkan sang Ayahnya untuknya.
"Daddy.. Chelsea sudah cantik?" anak itu menghampiri Chanyeol yang masih berkutat didepan oven.
"Eoh—" baru saja Chanyeol menoleh untuk melihat bagaimana penampilan Chelsea dan dibuat kagum setelahnya. Gaun putih yang Chanyeol pilihkan untuknya terlihat begitu sesuai ditubuh anak itu, dan meskipun tidak ada riasan wajah yang digunakkan pada wajah puterinya, nyatanya Chelsea tetap terlihat manis adanya. Wajah polos dengan kulit sehat serta bibir merah muda yang alami dimilikinya tercetak dengan begitu sempurna.
Dan Chanyeol kembali teringat pada mendiang Yoora di saat masa kecil mereka.
"Wuaah.. ini puteri Daddy?" Chanyeol menghampiri Chelsea, merapikan sedikit bentuk gaun anak itu yang terlihat berantakkan, "Kenapa cantik sekali?" pujinya, tersenyum lebar meskipun nyatanya ia ingin menangis hanya karena melihat wajah Chelsea dihadapannya.
"Chelsea kan Princess Daddy." Ujar anak itu dengan bahagianya. "Jadi pasti cantik."
Chanyeol mengangguk setuju, ucapan Chelsea adalah perkataannya setiap hari pada anak itu semenjak usia puterinya lima tahun hingga saat ini. "Kalau begitu Daddy boleh dapat cium dari Princess cantik sekarang." Jarinya menunjuk pipi kanannya yang mana setelahnya mendapatkan kecupan basah dari Chelsea berulang kali.
"Chelsea sayang Daddy."
"Eoh—jangan peluk Daddy dulu.. Daddy bau masakan." Chanyeol lebih dulu menahan puterinya untuk berpelukan mengingat dirinya belum membersihkan badan setelah usai memasak.
"Ish, Daddy bau."
Chanyeol menggelengkan kepala mendengar kalimat yang tak asing dipendengarannya, terlebih ketika cara berucap serta intonasi suara Chelsea saat mengucapkannya persis seperti Baekhyun berucap.
"Okey, Daddy akan mandi, Chelsea disini ya, duduk di sofa.. ingat jangan mendekat ke meja makan." Chanyeol memperingati sebelum akhirnya ia melangkah tergesa – gesa untuk membersihkan badan dan bersiap – siap berburu dengan waktu sebelum Baekhyun kembali.
.
.
"Wajahmu terlihat sangat tegang Baekhyunnie.." Ibu Chanyeol berucap melihat wajah Baekhyun disampingnya.
Ketiga wanita berbeda usia itu tengah berada di mobil yang mana kini mulai memasuki jalan perumahan menuju rumah Chanyeol, dan Ibu Chanyeol bisa melihat ketegangan dari calon menantunya sedari tadi. Kedua tangan yang meremas dan bergerak gelisah, gerakkan bibirnya yang mengigit sedari tadi, serta cara duduknya yang tak nyaman.
"Kau hanya harus menjawab Iya dan menikmati apa yang ia suguhkan padamu.. nikmati malam ini." Ucap Ibu Chanyeol kembali seraya mengusap lengan Baekhyun.
"Wuaah.. dia terlihat sempurna." Irene bergumam, memuji seseorang yang baru ia lihat dan itu bukan untuk Baekhyun.
Baekhyun dan Ibu Chanyeol kemudian melihat pemandangan yang sama yang dilihat oleh Irene saat ini tepat ketika mobil mereka mulai bergerak masuk ke halaman rumah pria itu. Chanyeol berada disana, mengenakkan kemeja dan jas hitam serta celana hitam yang membalut kaki panjangnya. Berdiri tepat di pintu masuk rumahnya dengan kedua tangan yang bersembunyi di belakang punggungnya.
"Ya, aku tak heran dia memiliki banyak wanita dulu." Ucap Ibu Chanyeol dengan masih memperhatikan puteranya tengah gagah berdiri menunggu wanita yang dicintainya datang.
Irene menghentikkan mobilnya tepat dihadapan Chanyeol dan tanpa menunggu dirinya untuk turun, Chanyeol lebih dulu menyusul pada sisi pintu penumpang yang dengan sangat yakin disanalah Baekhyun berada.
"H—hai." Gugup Chanyeol mendapati Baekhyun melihat ke arahnya tepat ketika pintu mobilnya ia buka.
"Hai." Baekhyun membalas dengan senyuman, menerima uluran tangan Chanyeol guna membantu dirinya keluar dari mobil.
"Have a good night!" Irene dan Ibunya sama – sama berucap demikian sebelum Chanyeol menutup pintu mobil dan membawa Baekhyun melangkah disampingnya.
Chanyeol mengalungkan tangan Baekhyun pada lengannya saat mereka melangkah bersama – sama secara perlahan – lahan, mengingat Baekhyun tengah memakai gaun pada kondisinya yang hamil saat ini.
"Menikmati acara berbelanja tadi?" Chanyeol membuka obrolan santai selagi mereka masih di luar.
Baekhyun mengangguk gugup. "Menghabiskan uangmu ternyata menyenangkan."
"Tentu saja.." Chanyeol mengangguk bangga lalu kembali gugup ketika mereka sudah berada tepat di depan pintu.
Baekhyun pun merasakan hal yang sama, gugupnya cukup menyiksa sementara ia juga tak sabar karena bayangan akan bagaimana Chanyeol melamarnya berputar – putar di pikirannya semakin membuat ia penasaran.
"Kau tahu aku akan melamarmu kan."
Baekhyun mengangguk atas bisikan Chanyeol yang bertanya padanya disampingnya.
"Okey.. now or never." Ketika hati Chanyeol kembali mantap, ia membuka pintu rumahnya, membawa Baekhyun masuk ke dalam untuk melihat semua yang telah ia siapkan sejak siang hari tadi.
Chelsea menyambut mereka dengan satu bouquet bunga berwarna senada dikelilingi warna pink dan ungu, senyuman lebar anak itu membuat Baekhyun ikut tersenyum kepadanya.
"Baekhyunnie annyeong.." anak itu menyambut dan membuat Baekhyun merasa aneh karena kembali dipanggil dengan panggilan namanya, bukan lagi dengan panggilan 'Mommy'.
Selagi mereka melangkah masuk menyusul Chelsea di tempatnya, Baekhyun mulai menyadari lantai rumah Chanyeol kini beralaskan kelopak – kelopak bunga mawar berwarna putih dan pink. Dinding sekitarnya pun kini berlapis kain putih yang menjuntai dan langit – langit atap rumahnya beterbangan balon – balon dengan warna senada seperti warna bunga – bunga yang menjadi alas lantainya.
"Wow.." Bakehyun bergumam kagum dan Chanyeol tentu mendengarnya merasa senang karena ia berhasil membuatnya terkesan setelah mengambil bouquet bunga yang sebelumnya dipegang oleh Chelsea.
Chanyeol membawa Baekhyun kembali masuk hingga mereka kini berada didekat meja makan uyang terlihat berbeda di pandangan Baekhyun.
"K—kau benar – benar merencanakan ini semua untuk melamarku?" Baekhyun kembali dibuat kagum dan takjub atas semuanya. Seluruh dekorasi dan suasana yang ada di rumah Chanyeol saat ini membuat dirinya tak berada di rumah, seakan – akan Chanyeol membawanya pada restoran bintang lima dengan nuansa romantis seperti yang sering ia ketahui sebagai tempat yang cocok untuk melamar wanita.
"Tentu saja. Aku tidak bisa membawamu ke Paris, Roma atau London.. atau kemanapun tempat romantic yang kau inginkan sebagai tempat aku melamarmu sekarang, jadi.. aku membawanya untukmu." Chanyeol menjelaskan kenapa di dinding – dinding rumahnya juga terdapat beberapa sticker sebagai lambang tempat – tempat yang ia sebutkan tadi.
Chelsea dengan lincah melangkah menuju alat pemutar musik untuk memutar lagu - lagu yang sudah disiapkan untuk mendukung suasana diantara mereka malam ini, lalu Chanyeol meminta Baekhyun untuk duduk pada kursi yang sudah dihias dengan rangkaian bunga.
Chanyeol melangkah berada disamping Chelsea menghadap pada Baekhyun yang mulai bingung melihat keduanya berdiri dengan begitu gugup.
"Baekhyunnie.." Chelsea yang berucap lebih dulu. "Terima kasih sudah sayang sama Chelsea selama ini, meskipun Chelsea nakal.. tapi Baekhyunnie masih sayang dan perhatian dengan Chelsea." Anak itu berucap dengan manis dan menangis setelahnya.
"Baekhyunnie.. Baekhyunnie mau kan jadi Mommy Chelsea? Chelsea janji jadi kakak yang baik, jadi Princess yang baik dan sayang sama Baekhyunnie sampai nanti."
"Selamanya.." Chanyeol mengoreksi dengan berbisik, Baekhyun yang sudah ikut menangis pun sempat tersenyum geli melihat Ayah dan anak itu.
"Oh.. selamanya.. Chelsea akan menyayangi Baekhyunnie selamanya!" anak itu kembali berucap dengan tersenyum lalu menghapus sisa – sisa air matanya.
"Baekhyunnie.. mau kan?" anak itu bertanya lagi, menatap penuh harapan pada sosok Baekhyun dihadapanya yang ternyata menangis cukup deras setelah mendengar ucapan anak itu.
Baekhyun mengangguk cepat, membuka lengannya sebagai isyarat ingin memeluk Chelsea yang masih berdiri tak jauh darinya.
Lantas anak itu melangkah lebar menyambut pelukan dari Baekhyun. "Chelsea sayang Mommy.." ucap anak itu ketika Baekhyun semakin mendekapnya dan mencium pucuk kepalanya dan kedua pipinya,
"Mommy juga sayang dengan kakak.." tangis Baekhyun kembali pecah membuatnya suaranya menjadi lirih terisak.
Lalu tiba saatnya Chanyeol bergabung diantara mereka, tepat berlutut dihadapan Baekhyun, menunjukkan satu tempat cincin berwarna putih dan berbentuk persegi panjang, berbeda dengan kotak – kotak cincin pada umumnya.
"A-aku sudah mengatakan ingin menikahimu sejak awal pertemuan kita, kau ingat?"
Baekhyun yang masih terisak karena Chelsea susah payah mengatur nafas dan juga isakan tangisnya, dan Chanyeol ikut mengusap pipi wajahnya guna menghapus jejak air mata di pipi wanita itu.
"Aku mengatakan hubungan kita bukan hanya hubungan sesaat yang hanya melibatkan nafsu adanya, tapi aku menginginkanmu seutuhnya, hatimu, bukan hanya untukku, tapi untuk Chelsea juga."
Baekhyun mengangguk, sebagai jawaban dari pertanyaan Chanyeol sebelumnya.
"Maafkan aku karena pernah menyakiti hatimu, aku berjanji tidak akan pernah melakukannya lagi atau bahkan memikirkan untuk berbuat demikian di lain hari."
"Maafkan aku juga…" Baekhyun membalas selagi Chanyeol terdiam sesaat memandangi wajah Baekhyun disana.
"Aku mencintaimu.. sangat, aku ingin dirimu ada dihidupku bukan hanya untuk diriku, tapi untuk Chelsea, untuk Baeboo.. aku menginginkan dirimu karena aku mencintaimu sepenuhnya. Byun Baekhyun, marry me please." Chanyeol tak mau lagi berbicara omong kosong yang mengulur waktu, dan saat itulah dirinya membuka kotak cincin yang memperlihatkan sebuah kunci rumah dengan nama Mommy tertera disana dan ada pula satu cincin berlapis emas putih dengan permata indahnya diatasnya yang bersinar indah ketika terpantulkan cahaya lampu.
"Kau adalah rumahku sekarang." Ucap Chanyeol ketika menunjukkan kunci rumah yang tertera nama Mommy disana. "Kau rumah bagiku, Chelsea dan Baeboo.. kami memilikimu dan kau memiliki kami."
Tangan Chanyeol terulur meminta jari manis Baekhyun yang tentunya Baekhyun mengulurkannya tanpa berpikir panjang dan menunggu lama. Chanyeol menyematkan cincin itu di jari Baekhyun, terlihat pas dengan ukurannya dan semakin indah terlihat disana. Baekhyun juga menerima kunci rumah itu dan tersenyum melihat tulisan itu disana.
"Aku tidak akan membukakan pintu kalau kau pulang terlambat." Ucapnya dengan nada tawa sebelum tangannya terulur menarik wajah Chanyeol untuk bisa ia cium.
Chelsea yang berada disana tak lantas menutup mata seperti sebelumnya, kali ini anak itu mengeluarkan ponsel miliknya dan mengabadikan momen itu guna menyebarkan berita pada Kakek – Neneknya dan juga para Om serta tantenya.
"Boleh kita makan sekarang? Aku lapar.." Baekhyun lebih dulu menyudahi ciuman bibirnya dengan Chanyeol dan setelahnya berbisik pada pria yang sudah sah akan menjadi suaminya nanti.
Bukan hanya Chanyeol yang tertawa mendengar hal itu, Chelsea pun ikut tersenyum lalu ikut merengek lapar mengikuti apa yang Baekhyun lakukan.
Ketiganya kemudian berpindah pada meja makan, menikmati menu makan malam yang sudah Chanyeol siapkan dengan cukup special mengingat hari itu adalah permulaan bagi mereka sebagai keluarga baru.
